▸ Baca selengkapnya: kliping tentang makanan khas daerah
(2) MAKANAN KHAS TRADISIONAL PADA UPACARA ADAT BATAK SIMALUNGUN : KAJIAN SEMIOTIK. Skripsi : Dikerjakan oleh : DODI ALFAYED SIBARANI NIM. 130703031. Disetujui Oleh : Pembimbing :. Drs. RamlanDamanik, M.Hum. NIP.196302021991031004. Diketahui Oleh : Program Studi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara Ketua,. Drs. WarismanSinaga, M.Hum. NIP.196207161988031002. Universitas Sumatera Utara.(3) ABSTRAK. Skripsi ini berjudul Makanan Khas Tradsional Pada Upacara Adat Batak Simalungun : Kajian Semiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis makanan khas tradisional Batak Simalungun, tahapan-tahapan proses pembuatan makanan tradisional Batak Simalungun, fungsi, dan makna yang terkandung pada makanan khas tradisional Batak Simalungun. Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah : (1) terdapat 6 jenis makanan khas tradsional yang digunakan pada upacara adat Batak Simalungun, (2) masing-masing makanan khas memiliki fungsi tersendiri pada upacara adat Batak Simalungun (4) masing-masing makanan khas memiliki makna yang diberikan oleh masyarakat Batak Simalung pada masing-masing makanan khas tradisional.. Kata Kunci : Makanan Tradisional, Semiotika, Batak Simalungun. i. Universitas Sumatera Utara.
(4) KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang maha Esa atas kasih dan. karunia-Nya,. penulis. diberikan. kesehatan. sehingga. penulis. dapat. menyelesaikan skripsi ini. Judul skripsi ini adalah “Makanan Khas Tradisional pada Upacara Adat Batak Simalungun: Kajian Semiotik” Agar lebih mudah memahami skripsi ini, penulis memaparkan rincian sistematika penulisan skripsi sebagai berikut : BAB I pendahuluan yang mecakup latar belakang masalah, rumusan masalah , tujuan penelitian dan manfaat penelitian. BAB II Tinjauan Pustaka yang mencakup kepustakaan yang relevan dan teori yang digunakana. BAB III metode penelitian yang mencakup metode dasar, lokasi penelitian, sumber data penelitian, Intrumen penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data. BAB IV pembahasan. BAB V Kesimpulan dan Saran. Pada penlisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pada pembaca guna menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi kita semua terima kasih.. Medan,. September 2020. Penulis,. Dodi Alfayed Sibarani NIM : 130703031. ii. Universitas Sumatera Utara.
(5) HATA PARLOBEI Diatei tupa hubami naibata na marhasangapon, na dop mambere idop ni uhur ompa pasu-pasi ni hubami panurat boi mansaloseihon skripsi on aima “Makanan Khas Tradisional pada Upacara Adat Batak Simalungun : Kajian Semiotik” Ase boi urah pangarusion isi ni skipsi on, panurat mambagi majadi lima bagian aima bindu sada panduhuluan : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, pakon manfaat penelitian. Bindu dua tinjauan pustaka : kepustakaan yang relevan, pakon teori yang digunakan. Bindu tolu metode penelitian : metode dasar, lokasi penelitian, sumber data penelitian, Intrumen penelitian, metode pengumpulan data, pakon metode analisis data. Bindu opat Pmebahasan. Bindu lima Kesimpulan pakon Saran. Bani panuraton skripsi on, panurat mangahaphon skripsi on lang tarlopa hubani haganup hahurangon, halani ai panurat mangharaphon kritik pakon saran na boi mambangun humbani pambase ase boi dear skripsi on. I pudini hata panurat mangharaphon skripsi on marguna hubanta haganupan, diatei tupa. Medan,. September 2020. Panurat,. Dodi Alfayed Sibarani NIM : 130703031. iii. Universitas Sumatera Utara.
(6) Kt pr. -e lobei. DiateiTpKbminibtnmr- ks<pn- ndop- mmbereIdponiUKr- am- ppSpSniKbmipNrt- boimsloseihno- sk- rpi- siano- JDl- sk- rpi- sianoaImmknn- kh- as- t- rdisiaonl- pdUpsradtbtk- simL>n- kjian- semiaotki- aseboiUrhp<Rsiano- Isinisk- rpi- siano- pNrt- mm- bgimnjdilimbgian- aImbni- Dsdpne- dKwn- ltrbelk^mslhTJan- penelitian- pknomn- patpenelitian- bni- DDwtni- jwn- Ps- tkkePs- tkany^relepn- pkon- teaoriy^diGnkn- bniDtoLmetodepenelitian- metodedsr- loksipenelitianSm- bre- dtpenelitian- In- s- t- Rmne- penelitianmetodepe>m- Pln- dtpkno- metodeanlissi- dtbniDaopt- pme- bhsn- bni- Dlimkesmi- Pln- pkno- srnbnipNrto- sk- rpi- siano- pNrt- m<kp- kno- skrpi- siano- l^tr- lops- KbnikgNp- kKt<onklniaIpNrt- m^krp- hno- kri- tki- pkon- srnnboimm- b>n- Km- bnipm- bseasboidear- sk- rpisiano- IPdiniktpNrt- m^krp- hno- sk- rpi- sianomr- GnKbn- tgNpn- diyteITp. medn- spe- tme- bre- 2020 pNrt-. dodiale- pyde-e sibrni nim- 130703031 iv. Universitas Sumatera Utara.
(7) UCAPAN TERIMA KASIH Pertama sekali penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Selanjutnya ucapan terima kasih penulis tujukan kepada bapak dan ibu dosen Sastra Batak serta semua pihak yang sudah banyak memberikan arahan, motivasi, bimbingan dan semangat maupun saran yang penulis terima sehingga setiap kesulitan yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik selama proses penulisan skripsi ini. Pada kesempatan ini, dengan penuh ketulusan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU, Bapak Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II, Pembantu Dekan III, serta seluruh staf dan pegawai dijajaran Fakultas Ilmu Budaya USU. 2. Bapak Drs. Warisman Sinaga, M.Hum, selaku ketua prodi Bahasa dan Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU, dan juga sebagai dosen penguji I yang telah banyak memberikan kritik dan saran kepada penulis hingga skripsi ini dapat selesai. 3. Bapak Drs. Flansius Tampubolon, M.Hum, selaku sekretaris prodi Bahasa dan Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. 4. Seluruh Dosen Program Studi Sastra Batak yang telah banyak memberikan ilmu, masukan dan dukungan kepada penulis. v. Universitas Sumatera Utara.
(8) 5. Bapak Drs. Ramlan Damanik, M.Hum, selaku dosen Pembimbing Akademik serta Pembimbing Skripsi yang sudah banyak mengorbankan waktu dan tenaga untuk membimbing dan memberikan motivasi dalam pengerjaan skripsi ini. 6. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda St. Kondar Bernike Sibarani dan Ibunda Lufian Dermawan Simanjuntak yang penulis hormati dan sayangi yang telah mencurahkan segala kasih sayang yang tulus yang tidak akan pernah terbalas dengan harta dunia, hanya doa yang sanggup penulis panjatkan untuk kalian. 7. Saudara-saudara penulis, keluarga Abang Chompey Sibarani / br. Purba, Abang Ekolem Sibarani / br. Simanjuntak, Kakak Veriati Sibarani / R.Marpaung, serta adik penulis Lihardon Sibarani yang selalu mendukung dan memberikan nasehatnasehat serta motivasi kepada penulis selama dalam perkuliahan. 8. Keluarga Besar Amangboru P. Sitanggang / T. br Sibarani, yang penulis hormati dan sayangi yang telah memberikan kasih sayang yang tulus dan nasehat yang sangat berarti sampai penulis menyelesaikan perkuliahan, 9. Sahabat-sahabat penulis stambuk 2013 : Dewasa Silalahi, Richardo Nadeak, Sesil Sitompul, Darmila Andriyani, Wendi Harahap, Theo Purba, Novendri Dadik, Dedi Rovindo Capah, Wulan Nainggolan, dan seluruh teman satu stambuk yang tak tersebut namanya. 10. Keluarga Besar Gemapala FIB USU yang selalu memberi dukungan serta memberi semangat kepada penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini. Terima kasih atas rasa kekeluargaan yang penulis rasakan dalam organisasi ini.. vi. Universitas Sumatera Utara.
(9) 11. Abangda dan Kakanda Alumni Sastra Batak FIB USU : Togar Sibuea, Risdo Saragih, Jan Butar-butar, Frans Manalu, Fitri Sinaga, Girson Tarigan, Breken Bancin, Sanop Simanjuntak, Daniel Pasaribu, Willy Pardede, serta seluruh abangda dan kakanda yang tidak tersebut namanya. 12. Seluruh adik-adik junior Sastra Batak FIB USU yang selalu mempertanyakan kapan wisuda. 13. Kekasih tercinta Rosida Verawati Nainggolan, S. Kom, yang tidak bosannya memberi semangat kepada penulis, sejuta kata tidak akan pernah cukup untuk ungkapkan segala rasa sayang padamu. 14. Saudara-saudara di Punguan Naposo Sipartano Naiborngin Se-kota Medan yang selalu memberikan semangat dan motivasi-motivasi agar penulis tetap semangat untuk menyelesaikan perkuliahan. 15. Teman-teman seperjuangan di Gerakan Mahasiswa Karya Tapanuli Utara serta dongan sahuta di Karang Taruna Hutanagodang yang selalu mendukung penulis selama dibangku perkuliahan. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga segenap kasih sayang, perhatian, dukungan, dan motivasi serta bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa. Sekali lagi penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga.. vii. Universitas Sumatera Utara.
(10) DAFTAR ISI ABSTRAK.................................................................................................. i KATA PENGANTAR ............................................................................... ii HATA PARLOBEI .................................................................................. iii. Kt pr. -e lobei ........................................................................ ...iv. UCAPAN TERIMA KASIH ..................................................................... v DAFTAR ISI .......................................................................................... viii BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1 1.1.Latar Belakang Masalah ........................................................................ 1 1.2.Rumusan Masalah ................................................................................. 6 1.3.Tujuan Penelitian .................................................................................. 6 1.4.Manfaat Penelitian ................................................................................ 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 8 2.1.Kepustakaan yang Relevan.................................................................... 8 2.2.Teori yang Digunakan ........................................................................... 9 2.3.Pengertian Makanan Khas Tradisional ................................................ 15 BAB III METODE PENELITIAN ......................................................... 17 3.1.Metode Dasar ...................................................................................... 17 3.2.Lokasi Penelitian................................................................................. 18 3.3.Sumber Data Penelitian ....................................................................... 18 viii. Universitas Sumatera Utara.
(11) 3.4.Instrumen Penelitian ........................................................................... 19 3.5.Metode Pengumpulan Data ................................................................. 19 3.6.Metode Analisis Data .......................................................................... 20 BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................ 22 4.1.Jenis Makanan Tradisional Pada Upacara Adat Batak Simalungun ...... 22 4.1.1.Dayok Nabinatur .............................................................................. 23 4.1.2.Nitak Gabur-Gabur........................................................................... 26 4.1.3.Nitak Siang-Siang ............................................................................ 27 4.1.4. Niloppah Naidurung / Dekke Sayur ................................................. 28 4.1.5.Namalum ......................................................................................... 30 4.1.6.Hinasumba ....................................................................................... 31 4.2.Tahapan-Tahapan (Proses) Pembuatan Makanan Khas Tradsional Pada Upacara adat Simalungun ......................................................................... 32 4.2.1.Dayok Nabinatur .............................................................................. 33 4.2.2.Nitak Gabur-Gabur........................................................................... 35 4.2.3.Nitak Siang-Siang ............................................................................ 37 4.2.4. Niloppah Naidurung / Dekke Sayur ................................................. 38 4.2.5.Namalum ......................................................................................... 40 4.2.6.Hinasumba ....................................................................................... 42 4.3.Fungsi Makanan Tradisional Batak Simalungun .................................. 44 ix. Universitas Sumatera Utara.
(12) 4.3.1.Fungsi Dayok Nabinatur................................................................... 45 4.3.2.Fungsi Nitak Gabur-Gabur ............................................................... 46 4.3.3.Fungsi Nitak Siang-Siang ................................................................. 46 4.3.4. Fungsi Niloppah Naidurung / Dekke Sayur...................................... 47 4.3.5.Fungsi Namalum .............................................................................. 48 4.3.6.Fungsi Hinasumba............................................................................ 49 4.4.Makna Pada Makanan Tradsional Batak Simalungun .......................... 50 4.4.1.Makna Dayok Nabinatur .................................................................. 51 4.4.2.Makna Nitak Gabur-Gabur ............................................................... 52 4.4.3.Makna Nitak Siang-Siang................................................................. 53 4.4.4. Makna Niloppah Naidurung / Dekke Sayur ..................................... 53 4.4.5.Makna Namalum .............................................................................. 55 4.4.6.Makna Hinasumba ........................................................................... 56 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 58 5.1.Kesimpulan ......................................................................................... 58 5.2.Saran................................................................................................... 58 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 60. x. Universitas Sumatera Utara.
(13) BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat. terpisahkan, sebab manusia merupakan pendukung kebudayaan. Sekalipun manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan untuk keturunannya, demikian seterusnya. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai halhal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Dapat diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. (Sitepu 2015:1) Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok manusia dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, makanan, bangunan, dan karya seni. Kebudayaan dapat didefenisikan sebagai suatu sistem, di mana sistem itu terbentuk dari perilaku, baik itu perilaku badan maupun pikiran. Hal ini berkaitan erat dengan adanya gerak dari masyarakat, di mana pergerakan yang dinamis dan dalam kurun waktu tertentu akan menghasilkan sebuah tatanan ataupun sistem tersendiri dalam kumpulan masyarakat. 1. Universitas Sumatera Utara.
(14) Di Indonesia, terdiri dari berbagai macam suku yang menghasilkan budaya yang beraneka ragam. Salah satu nya suku Batak, suku Batak terdiri atas 5 sub etnis. yakni. :. Batak. Toba,. Batak. Simalungun,. Batak. Karo,. Batak. Angkola/Mandailing, Batak Pakpak. Suku ini memiliki latar belakang budaya yang masih terpelihara dengan baik. Masyarakat Batak umumnya memiliki bahasa dan adat-istiadat, serta makanan khas tradisional yang berbeda-beda tapi perbedaan tersebut tidak menjadikan perpecahan diantara Masyarakat Batak Etnik Batak Simalungun adalah salah satu dari lima subetnik Batak yang sudah memiliki kebudayaan sendiri sejak dahulu, kebudayaan itu juga mencakup upacara adat, ritual adat dan pesta rakyat ketiga kebudayaan itu tidak terlepas dari peran makanan khas tradisional yang mengambil peran penting dalam pelaksanaan kebudayaan tersebut. Makanan tradisional ini merupakan sebuah syarat yang harus dilakukan dan sudah disepakati oleh leluhur masyarakat etnik Batak Simalungun yang diturunkan secaran turun-temurun. Daerah persebaran Etnik Batak Siamlungun terletak di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara dan sekitarnya. Ragam budaya serta adat istiadatnya maupun makanan khas tradisional nya membuat etnik Batak Simalungun dikenal di berbagai daerah di Indonesia bahkan di dunia. Kebudayaan sebagai ciptaan atau warisan hidup bermasyarakat adalah hasil daya cipta atau kreativitas para pendukungnya dalam rangka berinteraksi dengan ekologinya (alam sekitar), yaitu untuk memenuhi keperluan biologi dan kelangsungan hidupnya sehingga ia mampu tetap survival (bertahan hidup). Untuk itu, manusia telah mempergunakan segala sumber yang ada di sekitarnya secara teratur dan tersusun dalam menciptakan peralatan dan teknik-teknik untuk 2. Universitas Sumatera Utara.
(15) membantu menghasilkan atau memproses Sumber Daya Alam demi kelangsungan hidupnya. Seiring dengan perkembangan zaman sekarang ini, yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan zaman yang kita alami sekarang ini sangat berdampak besar terhadap kehidupan bangsa Indonesia. Salah satu dampak dari perkembangan zaman sekarang ini adalah pada kebudayaan. Kebudayaan bangsa Indonesia telah banyak tergilas oleh perkembangan zaman, sehingga kebudayaan itu perlahan-lahan terkikis. Perkembangan budaya seiring dengan modernitas memberikan berbagai pengaruh terhadap perkembangan dan penerimaan kebudayaan salah satunya adalah makanan khas tradisional oleh masyarakat terutama pada generasi millenial. Pembauran budaya antar suku serta membaiknya keadaan ekonomi meningkatkan variasi penyajian makanan selain makanan tradisional. Namun seiring perkembangan zaman peran Makanan khas tradisional etnik Batak Simalungun pada upacara adat sudah hampir terlupakan oleh generasi sekarang. bahkan generasi milenial Batak Simalungun sendiri pun sudah banyak yang tidak mengetahui tentang makanan khas suku mereka serta fungsi dan maknanya dalam setiap upacara adat Batak Simalungun. Keadaan ini lah yang mengakibatkan berkurangnya beberapa peran makanan khas tradisional yang mengarah pada proses kepunahan. Jarang di praktekkannya ritual kebudayaan untuk acara keluarga mendorong semakin tidak dikenalnya lagi makanan khas tradisional yang terkait dengan budaya oleh kalangan generasi milenial jaman sekarang. Padahal makanan tradisional tersebut perlu kita lestarikan sebagai warisan budaya dari leluhur, agar kita selalu menghidangkan makanan-makanan tersebut dalam setiap upacara-upacara adat maupun dalam 3. Universitas Sumatera Utara.
(16) acara ritual kebudayaan dalam acara keluarga seperti yang sudah dilaksanakan para leluhur yang terdahulu. Oleh karena itu penulis sangat perihatin terhadap hal tersebut sehingga sangat baik untuk diteliti. Cassirer dalam (Chaer, 2012:39) mengatakan manusia adalah mahluk bersimbol (Animal Symbolicum), setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia hampir seluruhnya menggunkan simbol sebagai media pendukung. Sebagai contoh, ide atau konsep untuk menyatakan kematian seorang pemerintah negara di Indonesia maka bendera merah putih akan diturunkan setengan tiang, demikian juga ide atau konsep untuk menyatakan penghormatan kepada orang tua dalam pelaksanaan upacara adat etnik Batak Simalungun dengan memberikan makanan khas tradisional pada suatu upacara adat sebagai sebuah simbol penghormatan. Memberikan makna tertentu pada lembaga, gagasan, atau orang adalah realitas sosial budaya yang sudah ada dan tumbuh sejak lama dalam kehidupan sehari-hari, gejala ini disebut gejala sosial budaya (Hoed, 2011 : 175). Dalam hal ini makna yang dikonveksikan dengan simbol tertentu banyak juga didapati dalam upacara adat etnik Batak Simalungun yang memang sebagian besar acaranya banyak menggunakan simbol dan tanda yang memiliki makna yang berbeda pada setiap daerah. Untuk memahami simbol ini peneliti ingin mengkaji tentang makanan khas tradisional yang digunakan pada saat pelaksanaan upacara adat etnik batak Simalungun yang digunakan sebagai media pendukung terjadinya sebuah komunikasi yang bersifat simbolis. Dalam penelitian ini akan dijelaskan tentang bagaimana tahapan dan proses pembuatan serta fungsi dan makna simbol yang terkandung pada makanan 4. Universitas Sumatera Utara.
(17) khas tradisional yang digunkana pada saat pelaksanaan upacara adat etnik Batak Simalungun. Penelitian terhadap makanan tradisional etnik batak Simalungun ini sangat minim meskipun selama ini banyak ahli budaya yang meneliti tentang upacara adat etnik Batak Simalungun namun hanya sebatas deskripsi upacara adat tidak mengkaji simbol makanan yang terdapat pada upacara adat tersebut. oleh karena itu penulis tertarik umtuk melakukan penelitian dan mengkaji tentang apa saja makanan khas tradisional etnik Batak Simalungun yang dipakai pada saat pelaksanaan upacara adat etnik Batak Simalungun yang mencakup tahapan dan proses pembuatan, fungsi dan makna pada simbol makanan tradisional tersebut. penulis akan mengkaji simbol makanan tradisional etnik Batak Simalungun dari segi semiotika, karena penulis merasa tertarik untuk mengetahui tentang apa saja makanan khas tradisional yang dipakai pada saat pelaksanaan upacara adat etnik Batak Simalungun, bagaimana tahapan dan proses pembuatan makanan tradisional tersebut serta apa fungsi dan makna yang terkandung pada makanan khas tradisonal etnik Batak Simalungun.. 5. Universitas Sumatera Utara.
(18) 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis membuat rumusan masalah. pada proposal skripsi ini adalah sebagai berikut: 1.. Apa saja jenis-jenis makanan khas Batak Simalungun ?. 2.. Bagaimanakah tahapan-tahapan (proses) pembuatan makanan-makanan khas Batak Simalungun?. 3.. Apa fungsi makanan-makanan khas Batak Simalungun tersebut?. 4.. Apa makna yang terkandung dalam setiap makanan-makanan khas Batak Simalungun?. 1.3. Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:. 1. Mendeskripsikan Jenis-jenis makanan khas Batak Simalungun. 2. Mendeskripsikan tahapan-tahapan (proses) pembuatan makanan khas Batak Simalungun. 3. Mendeskripsikan fungsi apa yang terkandung dalam setiap makanan khas Batak Simalungun. 4. Mendeskripsikan makna apa yang terkandung dalam setiap makanan khas Batak Simalungun.. 6. Universitas Sumatera Utara.
(19) 1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitan ini diharapkan bermanfaat bagi semua pembaca.. Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah dijelaskan di atas maka manfaat penelitian ini adalah: 1.. Memberikan pemahaman kepada etnik Batak Simalungun pada umumnya dan juga kepada pembaca tentang begitu pentingnya peninggalan budaya itu supaya tetap dijaga kelestariannya.. 2.. Mengungkapkan makna dan fungsi yang terdapat pada setiap makananmakanan khas Batak Simalungun.. 3.. Menjadi arsip di Departemen Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk dibaca oleh mahasiswa Sastra Batak dan agar dapat dijadikan sebagai sumber penelitian bagi ilmu lainnya.. 4.. Menambah wawasan penulis dan pembaca tentang kaya nya adat istiadat kebudayan etnik Batak Simalungun.. 7. Universitas Sumatera Utara.
(20) BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Kepustakaan yang Relevan Kepustakaan yang relevan atau sering juga disebut tinjauan pustaka ialah. salah satu cara untuk mendapatkan bahan referensi yang lebih tepat dan sempurna tentang informasi/data yang ingin kita teliti. Karena dalam kajian pustaka itulah terdapat paparan konsep-konsep yang mendukung pemecahan masalah dalam penelitian, paparan konsep-konsep itu bersumber dari pendapat para ahli, emperisme (pengalaman peneliti), dokumentasi, dan nalar peneliti yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Salah satu kesulitan dalam penelitian tentang Kebudayaan Batak, khususnya Makanan Tradisional Simalungun ini adalah pencarian kepustakaan yang relevan dengan objek penelitian atau kajian. Tetapi tinjauan pustaka sangat diperlukan dalam penulisan karya ilmiah. Dalam penulisan proposal skripsi ini juga tidak terlepas dari buku-buku pendukung yang relevan dengan judul proposal skripsi ini. Buku-buku yang digunakan dalam pengkajian ini adalah buku-buku tentang Kajian Semiotik serta buku-buku tentang Budaya Simalungun, yaitu :. 1. St. Drs. Japiten Sumbayak, dalam bukunya yang berjudul Refleksi Habonaron do Bona dalam Adat Budaya Simalungun. Buku ini banyak menjelaskan tentang adat istiadat etnik Batak Simalungun, dalam buku ini juga terdapat pembahasan tentang beberapa makanan khas Batak Simalungun. 8. Universitas Sumatera Utara.
(21) 2. Laporan Penelitian Pengabdian Budaya Batak (PPBB). Mahasiswa Program studi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, 2015. Laporan ini berisi tentang penelitian situs-situs peninggalan budaya etnik Batak Simalungun, Makanan tradisional serta permainan- permainan tradisional masyarakat Batak Simalungun. 3. Rutkaya Simanungkalit,2008. Dalam judul skripsi Inventarisasi Makanan Tradisional Khas Toba Samosir dan Strategi Pengembangan Tipa-tipa di Toba Samosir.. 2.2. Teori yang Digunakan Semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda. dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda. Menurut Charles Sander Peirce (1958:1), tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan dan lain-lain. Hal yang dapat menjadi tanda bukan hanya bahasa, melainkan berbagai hal yang dapat melingkupi kehidupan di sekitar kita. Tanda dapat berupa bentuk tulisan, karya seni, sastra, lukisan, dan patung. Representasi tanda menyangkut hubungan antara representamen dan objeknya. Dalam teori semiotik Peirce, representasi tanda tidak sama kadarnya. Sama dengan pendapat Danesi dan Perron (1996: 68-70) dalam buku Benny H. Hoed yang berjudul Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya yang mengatakan bahwa penelitian semiotik mencakup tiga ranah yang berkaitan dengan apa yang diserap manusia dari lingkungannya (the world), yakni yang bersangkutan dengan 9. Universitas Sumatera Utara.
(22) “tubuh”-nya, “pikiran”-nya, dan “kebudayaan”-nya. Semisis pada dasarnya menyangkut. segi. “tubuh”. (fisik),. setidak. tidaknya. pada. tahap. awal.. Kemudianmelalui representasi berkembang kegiatan di dalam “pikiran” dan selanjutnya, bila dilakukan dalam rangka kehidupan sosial, menjadi sesuatu yang hidup dalam “kebudayaan” sebagai signifying order. Dari sini, kita akan memahami bahwa ada hubungan yang erat antara “semiosis”, “representasi”, dan “signifying order”, yakni antara kemampuan sejak lahir manusia untuk memproduksi dan memahami tanda (semiosis), kegiatan dalam kognisi manusia untuk mengaitkan representamen dengan pengetahuan dan pengalamannya (representasi), serta sistem tanda yang hidup dan diketahui bersama kebudayaan masyarakatnya (signifying order). Pada tahap awal, tanda baru hanya dilihat sifatnya saja yakni bahwa itu adalah tanda-dan disebut “qualisign”. Pandangan Danesi dan Perron ini bersangkutan dengan “tubuh” atau “sesiosis dasar”. Kemudian pada tahap yang lebih lanjut, representasi tanda sudah berlaku untuk tempat dan waktu tertentu, misalnya, menunjukkan sesuatu dengan jari: disini, disana) yang disebut “sin(gular) sign”. Dalam pandangan Danesi dan Perron ini sudah berkaitan dengan “pikiran” manusia. Akhirnya sejumlah tanda berfungsi berdasarkan konvensi dalam suatu masyarakat yang disebut dengan “legisign”. Yang terakhir ini disebut oleh Danesi dan Perron sebagai “the signifiying order”. Proses pemaknaan tanda sudah berlaku secara sosial. Dalam melihat kebudayaan sebagai signifiying order, kita dapat membedakan empat faktor yang berkaitan satu sama lain dan perlu diperhatikan, yaitu : 10. Universitas Sumatera Utara.
(23) 1. Jenis tanda (ikon, indeks, dan lambang); 2. Jenis sistem tanda (bahasa, musik, gerakan tubuh, dan lukisan); 3. Jenis teks (percakapan, grafik, lagu/lirik, komik, dan lukisan), dan 4. Jenis konteks/situasi yang mempengaruhi makna tanda (psikologis, sosial, historis, dan kultural). Jenis- jenis Tanda Ditinjau dari relasinya, Charles Sanders Peirce dalam buku Benny H. Hoed (2011:24) membedakan tanda sebagai berikut : 1.. Ikon (icon), adalah tanda yang ada sedemikian rupa sebagai kemungkinan, tanpatergantung pada adanya sebuah denotatum (penanda), tetapi dapat dikaitkan dengannya atas dasar suatu persamaan yang secara potensial dimilikinya. Definisi ini mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan ikon, karena semua yang ada dalam kenyataan dapat dikaitkan dengan suatu yang lain. Sehinga dapat dipahami ikon juga merupakan tanda yang menyerupai objek (benda) yang diwakilinya atau tanda yang menggunakan kesamaan ciri-ciri yang sama dengan yang dimaksudkan.. 2.. Indeks (index), adalah sebuah tanda yang dalam hal corak tandanya tergantung dari adanya sebuah denotatum (penanda). Dengan kata lain tanda yang sifatnya tergantung pada keberadaan suatu penanda. Tanda ini memiliki kaitan sebab-akibat dengan apa yang diwakilinya.. 3.. Simbol/ Lambang (symbol), adalah tanda dimana hubungan antara tanda dengan denotatum (penanda) ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum atau kesepakatan bersama (konvensi). Tanda bahasa dan. 11. Universitas Sumatera Utara.
(24) matematika merupakan contoh simbol. Simbol juga dapat menggambarkan suatu ide abstrak dimana tidak ada kemiripan antara bentuk tanda dan arti.(http//googleweblight.2014.catatadkv.blogshop.com).. Kajian ini dilihat berdasarkan penandaan dan pemaknaan di mana penandaan (konsep Charles Sanders Peirce) dikaji lewat jenis ikon, indeks, dan simbol. Sedangkan berdasarkan konsep Roland Barthes, pemaknaan tanda yang dikaji dengan menggunakan : 1.Makna Denotatif Kata denotatif berasal dari kata denotasi (denostation) yang berarti tanda, petunjuk atau menunjukkan ataupun arti/makna yang langsung dari suatu tanda, yang telah disepakati bersama atau sudah menjadi pengertian yang sama. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, tanda yang dimaksud adalah tanda-tanda visual, baik yang non-verbal (garis, bidang, warna, tekstur, dan lain-lain), maupun bersifat verbal atau sudah berwujud (menggambarkan manusia, binatang, dan bentuk representatif lainnya). 2. Makna Konotatif Kata konotatif berasal dari kata konotasi (connotation) yang berarti pengertian tambahan atau arti kedua yang tersirat diluar arti denotatif tadi. Serta konotasi adalah merupakan istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca (subjek) serta nilai-nilai dari kebudayaannya. (http//googleweblight.2014.arifbudi.lecture.ub.ac.id). 12. Universitas Sumatera Utara.
(25) Berdasarkan skripsi ini, maka teori yang digunakan untuk mengkaji Makanan Tradisional Khas Simalungun pada masyarakat Batak Simalungun adalah teori semiotika Charles Sander Peirce. Berdasarkan objeknya Peirce merumuskan suatu tanda selalu merujuk pada suatu acuan. Setiap tanda selalu memiliki fungsi dan memiliki makna yang sesuai dengan tanda itu sediri. Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan Poerwadarminta menyebutkan simbol atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang menyatakan sesuatau hal, atau mengandung maksud tertentu. Misalnya, warna putih melambangkan kesucian, warna merah melambangkan keberanian, dan padi melambangkan kemakmuran. Dengan demikian, dalam konsep Peirce simbol diartikan sebagai tanda yang mengacu pada objek tertentu di luar tanda itu sendiri. Hubungan antara simbol sebagai penanda dengan sesuatu yang ditandakan (petanda) yang sifatnya konvensional. Berdasarkan konvensi itu pula masyarakat pemakainya dapat menafsirkan ciri dan hubungan antara simbol dengan objek yang diacu dan menafsirkan maknanya. Peirce juga membagi klasifikasi simbol menjadi tiga jenis yaitu : 1. Rhematic symbol atau Symbolik rheme. 2. Dicent symbol atau proposition (proposisi). 3. Argumen. 1.. Rhematic symbol atau Symbolic rheme, yakni tanda yang dihubungkan dengan objeknya melalui asosiasi nilai umum. Misalnya, di jalan kita. 13. Universitas Sumatera Utara.
(26) melihat lampu merah lantas kita katakan berhenti. Mengapa kita katakan demikian, ini terjadi karena adanya asosiasi dengan benda yang kita lihat. 2.. Dicent symbol atau proposition (proposisi) adalah tanda yang langsung menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak. Kalau seseorang mengatakan “Pergi!” penafsiran kita langsung berasosiasi pada otak dan serta merta kita pergi. Padahal dari ungkapan tersebut yang kita kenal hanya kata. Kata-kata yang kita gunakan membentuk kalimat, semuanya adalah proposisi yang mengandung makna yang berasosiasi dalam otak. Otak secara otomatis dan cepat menafsirkan proposisi itu dan seseorang segera dapat menitipkan pilihan atau sikap.. 3.. Argumen yakni tanda yang merupakan kesamaan seseorang terhadap sesuatu berdasarkan alasan tertentu.(http//googleweblight.2014klasifikasi symbol blog shop.com) Untuk mendeskripsikan makanan khas tradisional Batak Simalungun. penulis menggunakan teori semiotika. Karena dalam teori ini nantinya penulis akan membahas tanda ataupun makna simbolis yang terdapat dalam makananmakanan khas tradisional Simalungun yang dipakai dalam setiap upacara adat Batak Simalungun. 2.3. Pengertian Makanan Khas Tradisional Makanan tradisional adalah makanan yang biasa dikonsumsi oleh. masyarakat golongan etnik dan wilayah yang spesifik, diolah dari resep yang dikenal oleh masyarakat yang bahan-bahannya diperoleh dari sumber lokal dan memiliki rasa yang relatif sesuai dengan selera masyarakat setempat. Menurut 14. Universitas Sumatera Utara.
(27) beberapa ahli berpendapat bahwa makanan tradisional merupakan makanan yang paling banyak memiliki ciri-ciri dimana seseorang yang dilahirkan atau tumbuh (Winarno, 1994). Menurutu Marwanti (2000: 122), makanan tradisional mempunyai pengertian makanan rakyat sehari-hari, baik yang berupa makananan pokok, makanan selingan atau sajian khusus yang sudah turun-temurun dari zaman nenek moyang. Cara pengolahan pada resep makanan tradisional dan cita rasa yang umunya sudah bersifat turun-temurun sehingga makanan tradisional disetiap tempat atau daerah berbeda-beda. Makanan tradisional juga dapat diartikan sebagai makanan dan minuman termasuk makanan jajan serta bahan campuran yang digunakan secara tradisional. Pada umumnya makanan tradisional lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang menjadi daerah asal makanan tradisional tersebut kemudian diperkenalkan kepada orang lain atau pendatang. Bahan-bahan untuk membuat makanan tradisional bisa dikatakan mudah untuk didapatkan karena pada dasarnya bahanbahan tersebut dapat dan mudah dibeli dipasar daerah penghasil makanan tradisional tersebut. namun dibeberapa daerah dan dibeberapa makanan tradisional terdapat juga bahan untuk membuat makanan tradisional yang terbilang sulit didapatkan hal ini dikeranakan bahan tersebut hanya ada pada daerah tersebut sehingga sangat jarang dijumpai dipasar tradisional pada umunya. Hal ini yang membuat beberapa makanan tradisonal sangat dianggap istimewa oleh masyarakat karna memiliki ciri dan bahan yang hanya ditemukan didaerah tersbut. Berbicara mengenai makanan tradisional akan berkaitan dengan cita rasa yang khas. Bagi masyarakat Indonesia umumnya amat diyakini khasiat dari aneka pangan tradisional yang bahan-bahannya diperoleh dari sumber lokal karena 15. Universitas Sumatera Utara.
(28) bahan-bahan tersebut masih alami, bergizi tinggi, sehat dan aman, murah dan mudah didapat, sesuai dengan selera masyarakat sehingga diyakini punya potensi yang baik sebagai makanan yang sehat. Makanan tradisional Indonesia dipengaruhi oleh kebiasaan makan masyarakat dan menyatu didalam sistem sosial budaya berbagai golongan etnik di daerah-daerah. Makanan tersebut disukai karena rasa, tekstur dan aroma nya sesuai dengan selera masyarakat setempat. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki banyak suku, otomatis sangat banyak juga makanan tradisional yang ada di Indonesia. Makanan tradisional di Indonesia sangat unik dari rasa, tekstur, bentuk, dan aromanya (Pusat Kajian Makanan Tradisional, 2003). Setiap suku daerah di Indonesia memiliki makanan khas dan biasanya setiap makanan khas memiliki nilai historisnya masing-masing termasuk suku Batak Simalungun. Makanan tradisional etnik Batak Simalungun ini sudah dikenal diberbagai daerah di Indonesia, selain cita rasanya yang khas juga fungsi dan maknanya dalam setiap upacara adat membuat penulis tertarik untuk menelitinya.. 16. Universitas Sumatera Utara.
(29) BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah tata cara yang harus dilakukan dalam suatu penelitian. Metode untuk merumuskan ide dan pikiran yang didasarkan pada pendekatan ilmiah ini berarti bahwa metode penelitian diperlukan dalam mencapai suatu sasaran penelitian. Metodologi penelitian mencakup enam aspek yaitu: metode dasar, lokasi penelitian, sumber data penelitian, instrument penelitian, metode pengumpulan data, metode analisis data.. 3.1. Metode Dasar Metode dasar adalah metode yang digunakan dalam hal proses. pengumpulan data, sampai tahap analisa dengan mengaplikasikan pada pokok permasalahan untuk mendapatkan suatu hasil yang baik, sesuai dengan apa yang diharapkan. Metode dasar yang digunakan penulis dalam penyelesaian skripsi ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data yang ada, juga menyajikan data dan menginterpresikan data. Dalam proposal skripsi ini penulis menerangkan jenis-jenis makanan khas tradisional Batak Simalungun serta fungsi dan makna nya dalam setiap upacara adat Batak Simalungun.. 17. Universitas Sumatera Utara.
(30) 3.2. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian adalah di Kecamatan Raya, Kabupaten. Simalungun. Lokasi ini dianggap tepat oleh penulis sebagai lokasi penelitian karena di daerah inilah yang masih tetap terjaga upacara adat nya yang tidak lepas dari makanan khas Tradisional Simalungun serta rumah-rumah makan nya juga banyak yang masih menyediakan makanan-makanan khas tradisional Batak Simalungun. Dibandingkan dengan daerah lain di Kabupaten Simalungun, di lokasi tersebut paling banyak dijumpai makanan khas Batak Simalungun dan di lokasi inilah mayoritas penduduknya masih menghargai adat istiadat serta kearifan-kearifan lokal yang masih ada, sedangkan di daerah lain sudah banyak yang mengalami degradasi oleh perubahan zaman yang terus berubah. Di daerah ini juga masih banyak tokoh adat Batak Simalungun atau penatua-penatua yang dijadikan sebagai informan sehingga lebih memudahkan penulis dalam melakukan pengumpulan data penelitian sesuai objek yang diteliti.. 3.3. Sumber Data Penelitian Arikunto (2010:265) mengemukakan bahwa sumber data dalam suatu. penelitian adalah subjek darimana data dapat diperoleh. Secara umum sumber data dapat diklarifikasi menjadi tiga bagian yaitu : 1. Person (orang) adalah tempat peneliti bertanya mengenai variabel yang diteliti. 2. Paper (kertas) adalah berupa dokumen, warkat, keterangan arsip, pedoman, surat keputusan(SK), dan sebagainya.. 18. Universitas Sumatera Utara.
(31) 3. Place (tempat) adalah sumber data keadaan di tempat berlangsungnya suatu kegiatan yang berhubungan dengan penelitian. 3.4. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:. 1.. Alat perekam (tape recorder) yang digunakan untuk mewawancarai informan saat pengumpulan data yang sesuai dengan objek penelitian.. 2.. Kamera yang digunakan untuk mengambil gambar dari objek penelitian apabila saat melakukan penelitian ada pelaksanaan upacara adat tersebut.. 3.. Alat tulis dan kertas yang digunakan untuk mencatat segala hal yang dianggap penting yang diterima dari informan dan berhubungan dengan objek penelitian guna menunjang kelengkapan data dalam penyelesaian skripsi ini.. 3.5. Metode Pengumpulan Data Subagyo,. (1991:39). mengatakan. bahwa. secara. umum. metode. pengumpulan data dapat dibagi atas beberapa jenis yaitu : 1. Metode observasi atau metode pengamatan. 2. Metode wawancara atau metode pengajuan pertanyaan langsung. 3. Metode kepustakaan (library research) Maka metode yang digunakan penulis dalam pengumpulan data lapangan antara lain : 1.. Metode observasi yaitu penulis langsung ke lapangan melakukan pengamatan terhadap objek penelitian. Metode observasi digunakan oleh peneliti untuk. 19. Universitas Sumatera Utara.
(32) mengamati. bagaimana. bentuk. dari. makanan-makanan. khas. Batak. Simalungun. 2.. Metode wawancara (Deptth interview) digunakan untuk memperoleh data atau mengumpulkan data-data tentang makanan-makanan khas Simalungun dan apa saja fungsi dan maknanya dalam setiap upacara adat Batak Simalungun. Metode wawancara ini akan dilakukan kepada kepala desa, tokoh-tokoh. adat,. tokoh-tokoh. masyarakat,. dan. masyarakat. umum.. Wawancara ini juga akan menggunakan pedoman wawancara yang telah dipersiapkan dan disusun terlebih dahulu. 3.. Metode kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data melalui buku-buku yang berhubungan dan berkaitan erat dengan penelitian tersebut. Metode ini dilakukan untuk mendapatkan sumber acuan penelitian, agar data yang didapatkan dari lapangan dapat diolah semaksimal mungkin sesuai dengan tujuan yang digariskan. Dalam metode ini penulis mencari buku-buku pendukung yang berkaitan dengan masalah penelitian.. 3.6. Metode Analisis Data Metode analisis data merupakan cara dalam pengolahan data, fakta, atau. fenomena yang sifatnya mentah dan belum dianalisis. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis sehingga menjadi data yang cermat, akurat, dan ilmiah. Metode. analisis. data. juga. merupakan. proses. pengaturan. data,. mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dari suatu uraian dasar. Pada dasarnya analisis adalah kegiatan untuk memanfaatkan data sehingga data diperoleh untuk mendapat kebenaran yang diperlukan dalam pengolahan hasil 20. Universitas Sumatera Utara.
(33) penelitian. Di mana dalam penelitian diperlukan imajinasi dan kreatifitas sehingga dapat diuji kemampuan peneliti dalam mengkaji sesuatu. Adapun langkah-langkah metode analisis data ini adalah sebagai berikut : 1. Data diklasifikasikan sesuai dengan objek pengkajian. 2. Setelah data diklasifikasikan, data-data dianalisis sesuai dengan kajian yang ditetapkan yaitu apa saja fungsi dan makna makanan-makanan khas Batak Simalungun dalam upacara adat Batak Simalungun. 3. Menginterpretasikan hasil analisis dalam bentuk tulisan yang sistematis sehingga semua data dipaparkan dengan baik.. 21. Universitas Sumatera Utara.
(34) BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Jenis-Jenis Makanan Khas Tradisional Pada Upacara Adat Batak Simalungun. Terdapat banyak upacara adat atau ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat Batak Simalungun dalam kehidpuan sehari-hari upacara adat itu mencakup upacara adat suka cita, upacara adat duka cita, pesta rakyat dan ritual adat dalam hal kepercayaan tradisional masyarakt Batak Simalungun. Upacara adat dan ritual adat ini tidak terlepas dengan peran makanan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Batak simalungun dengan maksud dan tujuan yang berbeda adapun maksud dan tujuannya antara lain : (1) penyampaian pesan, (2) wujud rasa hormat, (3) media pemberi berkat dan sebagainya. Berdasarkan hasil yang ditemukan dari penelitian lapangan ada 6 Makanan Khas Tradisional Batak Simalungun yang sering digunakan pada saat upacara adat Batak Simalungun. Keenam makanan khas tradisional itu yaitu sebagai berikut :. 22. Universitas Sumatera Utara.
(35) 4.1.1 Dayok nabinatur. Dalam bahasa Batak Simalungun, dayok artinya ayam, sedangkan nabinatur artiya yang diatur. Jika diterjemahkan dayok nabinatur berarti ayam yang dimasak dan disajikan secara teratur seperti ayam yang masih utuh. Dayok nabinatur adalah lambang makanan adat Batak Simalungun karena masyarakat Batak Simalungun percaya dayok nabinatur menjadi sarana menyampaikan doa berkat. Di zaman Kerajaan Simalungun, makanan khas tradisional yang satu ini disajikan hanya untuk raja-raja Simalungun dan kaum bangsawan. Kokinya juga harus laki-laki. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, makanan ini kini sudah bisa dinikmati oleh rakyat jelata. Dan perempuan pun sudah bisa meraciknya. Maka hingga sampai saat ini, masyarakat Simalungun terus 23. Universitas Sumatera Utara.
(36) mewariskan makanan khas tradisional yang satu ini dari generasi ke generasi. Sehingga, orang-orang Simalungun yang berdiam di perantauan umumnya masih tahu cara menyajikan dayok nabinatur dan paham petuah-petuahnya. Ada banyak filosofi dari dayok nabinatur yang dipercayai masyarakat Simalungun sebagai petuah-petuah dalam kehidupan, antara lain : 1. Saat induk ayam mengeram telornya : penuh ketekunan dan disiplin, menahan panas, dingin, lapar, dan serangan semut kecil demi keberhasilan generasinya. 2. Saat induk ayam mengasuh anaknya yang masih kecil (maranak poso) tidak henti-hentinya menangis untuk mencari makanan anaknya. Kalau didapat cacing dibagi-bagi oleh anaknya. Bekerja keras dan menahankan lapar untuk generasinya. Saat hujan, malam, sayapnya dikembangkan tempat anaknya berlindung. Kalau musuhnya datang mengganggu terus diserangnya sampai titik darah penghabisan demi keselamatan anaknya. 3. Kalau anaknya dianggap sudah saatnya mandiri, dia akan menghindar atau mematuk anaknya memaksa anaknya mandiri.. 4. Kalau ayam sedang minum, kepalanya akan ditundukkan kebawah dan kemudiaan diangkat keatas, artinya dari filosofi ini masyarakat Simalungun mempercayai suatu pesan yang memiliki arti jangan lupa pada Tuhan mu yang memberikan engkau nafas kehidupan. 5. jam tiga pagi ayam jantan selalu berkokok (martahuak) yang memiliki filosofi bahwa waktu itu adalah uang, sehingga masyarakat Simalungun percaya akan. 24. Universitas Sumatera Utara.
(37) pesan yang disampaikan dari filosofi ini agar mereka selalu mempergunakan waktu itu sebaik-baiknya. 6. Kalau ayam jantan berkokok (martahuak) kepalanya diangkat keatasyang memiliki arti lihat dan usahakan lah untuk hari esokmu yang jauh lebih cerah. 7. Ayam pada umumnya menjadi makanan umum dari umat beragama. Tapi dari filosofi itu masyarakat Simalungun juga percaya ada sifat ayam yang harus dihindari, yaitu : 1. Perkelahian ayam jantan, dimana ayam jantan ini asal jumpa sesama jantan lainnya pasti selalu berkelahi atau bertarung, ayam jantan ini tidak dapat mengendalikan emosi nya, dia menganggap dirinya yang selalu super tidak kenal mengalah. 2. Anak ayam setelah mandiri akan lupa pada induknya. Ini menggambarkan sikap yang tidak perlu ditiru sikap yang hanya mementingkan diri, tidak kenal berterimakasih terutama kepada Tuhan dan orang tua. 3. Sikap ayam yang di sebut pepatah : Tading gargar na marisi tungou. Pepatah ini mengartikan bahwa ayam itu seringkali melupakan bagaimana ia di bina oleh induknya. Makanan khas tradisional dayok nabinatur ini memiliki petuah-petuah yang sangat berharga dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menurut keyakinan masyarakat Batak Simalungun.. 25. Universitas Sumatera Utara.
(38) 4.1.2 Nitak Gabur-Gabur. Nitak Gabur-Gabur merupakan salah satu makanan khas tradisional masyarakat Batak Simalungun yang sering dipakai atau kita jumpai. dalam. pelakasanaa upacara adat. Makanan khas tradisional Nitak ini dibuat dengan cara yang sangat sederhana dan hanya terbuat dari beras dan bahan lainnya. Makanan khas tradisional nitak ini biasanya disajikan pada kegiatan bersifat upacara adat seperti perkawinan, kematian, menempati rumah baru, memberangkatkan seorang anak ke perantauannya. Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan makanan khas tradisional ini juga sering dipakai atau disajikan oleh masyarakat. 26. Universitas Sumatera Utara.
(39) Batak Simalungun sebagai santapan sehari-hari dalam kehidupan masayarkat Batak Simalungun.. 4.1.3 Nitak Siang-siang.. Nitak siang-siang merupakan makanan tradisional masyarakat Batak simalungun yang juga sering digunakan dalam berbagai upacara dan ritual adat didalam kehidupan masayarakat Batak Simalungun. Nitak siang-siang terbuat dari berbagai bahan antara lain, tepung beras, kelapa gongseng, gula Batak dan lada. Semua bahan ini kemudian di campurkan menjadi satu dengan cara ditumbuk.. 27. Universitas Sumatera Utara.
(40) 4.1.4 Niloppah Naidurung / Dekke Sayur. Niloppah Naidurung atau sering juga disebut Dekke Sayur adalah makanan khas etnik Batak Simalungun. Makanan ini sangat sering digunakan untuk sarana doa pada saat upacara adat Batak Simalungun khusus nya pada upacara adat pernikahan. Bahan utama makanan ini adalah ikan mas yang dimasak karena dalam budaya masyarakat etnik Batak Simalungun ikan mas termasuk sebuah lambang penghormatan. Dalam sebuah pesta pernikahan, Dekke Sayur yang dimasak hingga sampai berwarna kuning keemasan ini diberikan kepada pengantin yang ditata diatas sebuah nampan besar berisikan nasi putih. Ikan mas diberdirikan diatas nasi tersebut berikut sayur-sayuran yang turut dimasak. Dan ketika ikan mas ini akan diberikan kepada pengantin pada acara 28. Universitas Sumatera Utara.
(41) pernikahan, Pihak orangtua pengantin pihak perempuan (hula-hula) mendatangi pengantin dan menyodorkan Dekke Sayur yang sudah ditata rapi dalam sebuah nampan agar kedua pengantin turut memegang ujung nampan dekke sayur. Setelah ujung nampan dipegang maka pihak orangtua pengantin akan mengucapkan doa berkat serta harapan-harapan yang baik untuk kedua mempelai. Begitu juga pada saat seorang anak bila hendak merantau maka dia akan meminta diberkati dari orang tuanya agar sukses di tanah perantauannya. maka orang tua dari sianak harus memasak Niloppah Naidurung / Dekke Sayur setelah itu orang tua tersebut menata nya dalam sebuah nampah yang berisikan nasi putih dan menyodorkan kepada sianak agar sama-sama memegang nampan untuk menyampaikan doa berkat ataupun harapan yang baik kepada anak yang hendak merantau agar selalu sehat dan sukses dan tetap dalam lindungan Tuhan. Setelah doa disampaikan maka orang tua sianak mengambil bagian yang paling enak untuk disuapkan kepada anak dan anak pun harus membalas nya kepada orang tua.. Demikianlah makanan khas Niloppah Naidurung / Dekke Sayur. digunakan sebagai sarana yang wajib untuk tanda hormat dan berkat dalam sebuah upacara adat etnik Batak Simalungun.. 29. Universitas Sumatera Utara.
(42) 4.1.5 Namalum. Namalum adalah makanan khas tradisional Batak Simalungun yang biasanya ditemukan pada saat pelaksanaan upacara adat atau acara adat masyarakat Batak Simalungung sehingga namalum sangat jarang dijumpai dikehidupan sehari-hari . Namalum adalah olahan daging berkuah yang dicampur dengan tepung beras. Dahulu namalum dibuat dengan menggunakan daging babi namun seiring perkembangan zaman dan karena terpengaruh oleh persebaran agama. Sekarang daging babi sudah dapat digantikan dengan menggunakan daging kerbau dengan bahan dan cara memasak yang sama.. 30. Universitas Sumatera Utara.
(43) Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat namalum adalah bahan-bahan yang sederhana yang masih mudah untuk didapatkan, bahan-bahan akan dihaluskan lalu akan dicampurkan dengan daging ketika memasak. Namalum biasa dijumpai pada upacara adat sulang-sulang pahompu. Karna menu makanan ini adalah makanan yang harus atua wajib di sediakan pada saat pelaksanaan upacara adat sulang-sulang pahompu yang dilaksanakan oleh masyarakat Batak Simalungun.. 4.1.6 Hinasumba. Hinasumba. merupakan. makanan. khas. tradisional. Batak. Simalungun yang biasanya dijumpai dalam berbagai upacara adat. Hinasumba memiliki bahan dasar yaitu daging ayam yang direbus setengah matang dan 31. Universitas Sumatera Utara.
(44) dicincang hingga halus lalu dicampurkan dengan bumbu rempah rempah yang sudah haluskan. Hinasumba merupakan makanan khas Batak Simalungun yang sulit untuk dibuat karna memiliki satu bahan yang khas yaitu air sikkam dan memiliki warna yang khas sehingga tidak semua orang bisa membuatnya. Air sikkam merupakan perasaan kulit pohon pohon sikkam yang dipercaya oleh masyarakat Batak Simalungun dapat melezatkan daging tanpa melalui proses memasak hingga matang. Namun saat ini hinasumba sudah sangat jarang dijumpai pada upacara adat dan masyarakat Batak Simalungun juga sudah banyak yang tidak mau mengkonsumsi makanan khas tradisional ini. Hal ini dikarenan banyak orang yang berpendapat makanan khas Batak Simalungun ini membawa penyakit karna tidak dimasak sampai matang. Hal ini menyebabkan sebagain masyarakat Batak Simalungun tidak lagi mengkonsumsi hinasumba. 4.2 Tahapan-tahapan (proses) pembuatan Makanan Khas Tradisional Pada Upacara Adat Simalungun. Setiap makanan tradisional pada masyakat Batak Simalugun memiliki tahapan pembuatan juga bahan yang berbeda pada masing masing msakan. Hal ini sudah ditentukan berdasarkan adat yang sudah diwariskan turuntemurun dari generasi-kegeranasi masyarakat Batak Simalungun. Terdapat persyaratan adat dalam pemilihan bahan makanan juga terdapat tahapan-tahapan yang sudah di ataur berdasarkan adat masyarakat Batak Simalungun. Pada tahapan pemnuatan inilah maka akan ditemukan bagaimana cara pembuatan masakah khas tradisional masyarakat Batak Simalaung dan apa saja bahan yang digunakan untuk membuat makanan khas Batak Simalungun tersebut. 32. Universitas Sumatera Utara.
(45) Untuk mejelaskan hal diatas berikut penulis akan mendeskripsikan tahapan-tahapan (proses) pembuatan keenam makanan khas tradisional pada upacara adat Batak Simalungun. 4.2.1 Dayok nabinatur Bahan-bahan untuk membuat Dayok nabinatur ini diperoleh dari sumber lokal, yaitu : 1. Ayam kampung jantan 1 ekor 2. Halawas / Lengkuas 2-3 cm 3. Sangge-sangge / Serai 5 batang 4. Poge / Jahe 1-2 cm 5. Bawang merah 5 siung 6. Bawang Putih 2 siung 7. Boras sinanggar (beras yang di gonseng) 8. kelapa 1 buah 9. Lada Hitam dan lada putih secukupnya 10. Cabe merah / cabe rawit secukupnya 11. Daun salam 12. Sikkam 13. Garam secukupnya 33. Universitas Sumatera Utara.
(46) Adapun tahapan-tahapan (proses) pembuatan makanan khas Dayok nabinatur ini adalah sebagai berikut : 1. Potong ayam sesuai petunjuk adat Simalungun 2. Lengkuas, Jahe, Bawang merah, Bawang putih, Lada di gelek (digiling) sampai halus kecuali serai cukup di memarkan saja. 3. Boras sinanggar digonseng sampai warnanya merah lalu ditumbuk sampai halus. 4. Kelapa di parut dan ditambahkan sedikit air lalu diperas untuk mengambil santannya. 5. Sikkam di kikis atau di bersihkan lalu di tumbuk sampai halus lalu diperas agar getah nya keluar. 6. Tumis bumbu yang telah dihaluskan lalu masukkan batang serai yang sudah dimemarkan bersama daun salam kedalam kuali kemudian masukkan potongan daging ayam beserta bagian dalam nya yang telah dibersihkan.. 7. Masukkan santan dan boras sinaggar yang sudah dihaluskan kedalam kuali agar menyatu dengan bumbu dan ayam, lalu masukkan perasan getah sikkam tadi sampai terlihat kental lalu masukkan garam secukupnya kedalam kuali. 8. Kemudian sangrai kurang lebih 30 menit sampai ayam nya terlihat matang, lalu. 34. Universitas Sumatera Utara.
(47) angkat. 9. Setelah matang, susunlah ayam sesuai petunjuk adat Batak Simalungun di sebuah piring lonjong mulai dari kepala, bagian dalam, sayap, paha, dan sampai ekor ayam. 4.2.2 Nitak Gabur-Gabur Bahan-bahan untuk membuat makanan khas tradisional Nitak, yaitu :. 1. Beras 2. Gula merah secukupnya 3. Jahe merah secukupnya 4. Lada hitam secukupnya 5. Kencur 6. Garam secukupnya 7. Kelapa 2 buah Adapun tahapan-tahapan (proses) pembuatan makanan khas Nitak. ini adalah sebagai berikut : 1. Pembuatan makanan khas tradisional Nitak diawali dengan memilih beras terbaik. 2. Kemudian rendam beras kurang lebih selama setengah jam kemudian tumbuk. 35. Universitas Sumatera Utara.
(48) hingga menjadi tepung. 3. Iris sampai halus gula merah yang sudah disediakan. 4. Haluskan lada beserta garam secukupnya. 5. Sangrai 1 buah kelapa yang sudah diparut. 6. Kemudian satukan tepung beras, lada hitam, kencur, jahe merah, kelapa mentah yang sudah di parut, kelapa yang telah di sangrai dan gula merah kedalam sebuah lesung, lalu tumbuk sampai lengket-lengket menjadi sebuah adonan yang padat. 7. Setelah itu dibelah-belah menggunakan tangan dengan ukuran 3-4 cm atau sesuai dengan selera. 8. Makanan khas tradisional Nitak siap untuk disajikan. 4.2.3 Nitak Siang Siang. Bahan-bahan untuk membuat makanan khas tradisional Nitak Siang-siang tidak jauh berbeda dengan bahan yang digunakan dalam pembuatan Nitak Gabur-Gabur. Yang berbeda adalah jika pada nitak Gabur-Gabur tidak menggunakan kelapa gongseng, pada nitak siang-siang kelapa gongseng digunakan sehingga nitak siang-siang lebih berwarna coklat dari nitak GaburGabur yaitu : 1. Beras. 36. Universitas Sumatera Utara.
(49) 2. Gula merah secukupnya 3. Jahe merah secukupnya 4. Lada hitam secukupnya 5. Kencur 6. Garam secukupnya 7. Kelapa 2 buah 8. Kelapa Gongseng Adapun tahapan-tahapan (proses) pembuatan makanan khas Nitak ini adalah sebagai berikut : 1. Pembuatan makanan khas tradisional Nitak diawali dengan memilih beras terbaik. 2. Kemudian rendam beras kurang lebih selama setengah jam kemudian tumbuk hingga menjadi tepung. 3. Iris sampai halus gula merah yang sudah disediakan. 4. Haluskan lada beserta garam secukupnya. 5. Sangrai 1 buah kelapa yang sudah diparut. 6. Kemudian satukan tepung beras, lada hitam, kencur, jahe merah, kelapa mentah yang sudah di parut, kelapa yang telah di sangrai dan gula merah kedalam. 37. Universitas Sumatera Utara.
(50) sebuah lesung, lalu tumbuk sampai lengket-lengket menjadi sebuah adonan yang padat. 7. Setelah itu dibelah-belah menggunakan tangan dengan ukuran 3-4 cm atau sesuai dengan selera. 8. Makanan khas tradisional Nitak siap untuk disajikan. 4.2.4 Niloppah Naidurung / Dekke sayur Bahan-bahan untuk membuat makanan khas tradisional Dekke Sayur ini adalah sebagai berikut : 1. Ikan Mas 2. Andaliman secukupnya 3. Cabai merah dan cabai rawit secukupnya 4. Bawang merah 8 siung 5. Bawang putih 5 siung 6. Jahe 3-5 cm 7. Lengkuas 3-5 cm 8. Kunyit secukupnya 9. Kemiri secukupnya 10. Serai 3-4 batang 38. Universitas Sumatera Utara.
(51) 11.Kincung (kecombrang) 2 buah 12. Kacang panjang 13. Bawang Batak 14. Asam cekala 10 buah 15. Garam secukupnya Adapun tahapan-tahapan (proses) pembuatan makanan khas Dekke sayur ini adalah sebagai berikut : 1. Pilih terlebih dahulu ikan mas yang segar. 2. Kemudian cuci ikan mas sampai bersih. 3. Haluskan sampai halus cabai merah,cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas, andaliman, dan kemiri. 4. tumbuk atau memarkan serai dan asam cekala. 5. Potong-potong kacang panjang sekitar 5 cm. 6. Bersihkan bawang Batak dari daun-daunan yang kering, biarkan panjangpanjang tanpa dipotong. 7. Susun semua serai, asam cekala, bawang Batak, kecombrang dan kacang panjang dalam sebuah kuali. 8. Lalu taruh diatas ikan mas yang sudah dibersihkan bersama bumbu yang sudah. 39. Universitas Sumatera Utara.
(52) dihaluskan. 9. Kemudian masukkan air hingga ikan terendam, lalu tambahkan garam secukupnya sesuai selera. 10. masak hingga airnya hampir kering, setelah airnya hampir kering lalu angkat dan sajikan. 4.2.5 Namalum Bahan-bahan untuk membuat makanan khas tradisional Namalum ini adalah sebagai berikut : 1. 1 Kilogram Daging ( Babi/Kerbau) 2. Kecombrang / Rias 2 batang 3. Cabai merah dan cabai rawit secukupnya 4. Lada secukupnya 5. Kemiri 15 biji 6. Jahe 1 ruas 3-4 cm 7. Bawang Merah 5 siung 8. Bawang putih 2 siung 9. Air 3 cangkir 10. Beras 1 muk 40. Universitas Sumatera Utara.
(53) 11. Garam secukupnya Adapun tahapan-tahapan (proses) pembuatan makanan khas Namalum ini adalah sebagai berikut : 1. Ayam kampung di bersihkan lalu di potong kecil-kecil agar orang tua mudah untuk memakan nya setelah matang. 2. Batang honje dibakar lalu dipukul-pukul sampai lembek kemudian diperas untuk mengambil airnya. 3. Cabai merah dan cabai rawit, Lada, Jahe, Bawang merah, Bawang putih digiling sampai halus. 4. Kemiri dibakar lalu ditumbuk atau dihaluskan. 5. Beras 1 muk, di gongseng (digoreng tanpa minyak) kemudian di tumbuk atau digiling sampai halus. 6. Kemudian rebus ayam yang sudah dipotong dengan air sekitar 3 cangkir lalu campurkan semua bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan tadi. 7. Masukkan garam secukupnya lalu masak sekitar 20-30 menit sampai ayam matang.. 41. Universitas Sumatera Utara.
(54) 4.2.6 Hinasumba 1. 1 Kilogram Daging Ayam 2. Lengkuas 3. Sangge – Sangge ( Batang Serai ) 4. Kelapa Gongseng 5. Kelapa Muda diparut 6. Beras 7. Kulit Pohon Sikkam 8. Garam 9. Lada Adapun tahapan-tahapan (proses) pembuatan makanan khas Namalum ini adalah sebagai berikut : 1. Pertama-tama Daging dibersihkan dengan air, lalu direbus hanya sampai setengah matang. 2. Setelah daging direbus maka akan dipersiapkan bahan- bahan yang akan dipakai untuk membuat hinasumba. 3. Lengkuas dan sangge-sangge digiling hingga halus, setelah digiling halus kedua bahan ini diletakan didalam wadah. 4. Siapkan lada halus dan garam halus. 42. Universitas Sumatera Utara.
(55) 5. Siapkan tepung beras. 6. Siapakan air sikkam, pengambilan air sikkam dilakukan dengan menghaluskan batang kulit kayu sikkam lalu dicampur dengan air, kemudian disaring menggunkan kain. Airnya ini yang akan digunakan untuk membuat hinasumba. 7. Setelah semua bahan disiapkan, maka proses pembuatan hinasumba dapat dimulai, pertama-tama pisahkan daging yang sudah direbus setengah matang dari tulang dan dimasukan kedalam wadah baskom kemudia dimasukan bahanbahan secara bergantian. 8. Campurkan lada dan garam, kemudian diaduk hingga merata. 9. Setelah diaduk merata masukan sangge-sangge dan lengkuas kemuan diaduk lagi hingga merata. 10. Setelah itu masukan kelapa gongseng lalu diaduk hingga merata. 11. Setelah kelapa gonseng dimasukan dan diadukhingga merata kemudian dimasukan kelapa muda dicampur dan diaduk lagi hingga merata. 12. Yang terakhir masukan perasaan air sikkam kemudian diaduk hingga merata setelah itu masukan tepung beras dan diaduk hingga mengeleuarkan aroma sedan. 13. Hinasumba siap dihidangkan 4.3 Fungsi Makanan Tradisional Batak Simalungun. Makanan tradisional merupakan simbol yang terdapat pada upacara adat atau ritual ada yang dilaukan oleh masyarakat Batak Simalungun. 43. Universitas Sumatera Utara.
(56) Masyarakat Batak Simalungun juga memberikan fungsi Pada masing-masing simbol yang terdapat pada upacara adat masyrakat Simalungun termasuk makanan khas tradisional yang dipakai pada saat melaksanakan upacara adat. Berdasarkan hasil penelitian diatas yang dimana ditemukan 6 makanan khas trasional yang sering digunakan oleh masyarakat Batak Simalungun pada melaksanakan upacara adat. Ditemukan juga fungsi-fungsi makanan khas trasional tersebut yang diberikan oleh masyarakat Batak Simalungun. Adapun fungsi makanan tradsional yang sering digunakan pada upacara adat tersebut adalah sebagai berikut : 4.3.1 Fungsi Dayok nabinatur Makanan tradisional dayok nabinatur sering digunakan dalam berbagai upacara adat besar masayarakat Batak Simalungun. Masayarakat Batak Simalungun percaya bahwa dayok nabinatur dapat digunakan sebagai media penyampaian doa dan pemberi berkat kepada orang yang diberikan makanan khas ini. Dayok nabinatur biasanya digunakan dalam upacara adat besar seperti upacara adat pernikahan, upacara adat dalam konteks mengucap syukur , upacara adat Sulang-sulang pahompu, pesta rakyat dan sebagainya. Pada upacara adat pernikahan dayok nabinatur akan diberikanoleh orang tua mempelai kepada kedua mempelai yang menikah untuk dimakan bersama hal ini bertujuan sebagai doa dan harapan baik kedua orang tua mempelai 44. Universitas Sumatera Utara.
(57) agar setelah dilangsungkan pernikahan keluarga baru tersebut akan tetap utuh, dayok nabinatur juga merupakan berkat bai kedua mempelai yang melangsungkan pernikahan. Dalam upacar adat pesta rakyat dan ucapan syukur dayok nabinatur adalah makanan khas yang akan di makan bersama oleh masyarakat simalungun sebagai wujud rasa syukur. Berbeda dengan kedua hal diatas dalam uapcara adat Sulang-sulang pahompu dayok nabinatur akan diberikan kepada keduda orang tua yang akan diberikan tungkot dan duda-duda yang akan di suapkan oleh cucu. Dayok nabinatu juga akan dibagikan kepada anak sesaui dengan peraruran adat yang sudah ditentukan oleh pemuka adat masyarakat Batak Simalungun. 4.3.2 Fungsi Nitak Gabur-Gabur Nitak Gabur-Gabur juga sering digunakan dalam berbagai upacara adat masyarakat Batak Simalungun. Selain dalam upacara adat Nitak GaburGabur juga sering digunakan sebagai makanan sehari-sehari. Pada pelaksanaan upacara adat Nitak Gabur-Gabur digunakan sebagai makanan cemilan bagi tamu dan sebagai makanan pengiring atau pelengkap pada saat akan menghidangkan dayok nabinatur. Nitak Gabur-Gabur akan dihidangkan didalam sebuah kantong yang terbuat dari anyaman pandan kering yang disebut sebagai bahul-bahul oleh masyarakat Batak Simalungun. Masyarakat Batak simalungu percaya jika nitak dimasukan kedalam bahul-bahul maka nitak tersebut tidak cepat basi.. 45. Universitas Sumatera Utara.
(58) 4.3.3 Fungsi Nitak Siang-siang Sama halnya dengan nitak Gabur-Gabur, nitak siang-siang juga sering digunakan pada berbagai upacara adat ndalam kehidupan masyarakat Batak Simalungun. Pengunaan atau fungsi nitak siang-siang juga tidak jauh berbeda dengan fungsi nitak Gabur-Gabur. Nitak siang-siang juga digunakan sebagai makanan cemilan dalam beberapa upacara adat Batak Simalungung, selain itu nitak siang-siang juga digunakan sebagai makanan pendamping atau pelengkapan pada saat akan menhidangkan dayok nabinatur. Ini merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Batak Simalungun pada saat menghidangkankan dayok nabinatur makan harus dilengkapi dengan nitak Gabur-Gabur atau nitak siang-siang. Sama dengan nitak Gabur-Gabur. Nitak siang-siang akan dihidangkan didalam sebuah kantong anyaman pandan kering yang biasa disebut dengan bahul-bahul oleh masyarakat Batak Simalungun. Masyarakat Batak Simalungun percaya bahwa bahul-bahul dapat membuat nitak Gabur-Gabur atau niatk siang-siang tidak cepat basi. Sehingga ketika akan menghidangkan nitaknitak tersebut harus menggunakan bahul-bahul. Nitak-nitak tersebut akan dihidangkan beriringan dengan dengan dayok nabinatur yang akan diberikan kepada salah satu pihak pada saat melaksanakan suatu upacara adat.. 46. Universitas Sumatera Utara.
(59) 4.3.4 Fungsi Niloppah Naidurung / Dekke Sayur Dekke Sayur merupakan makanan tradisional masyarakat Batak Simalungun yang sering digunakan dalam berbagai upacara adat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Simalungun. Dekke Sayur digunakan dalam beberapa upacara adat sebagai hidangan utama atau sebagai media penyampaian doa dan pemberian berkat kepada pihak yang akan menerima Dekke Sayur tersebut. dalam beberapa upacar adat Dekke Sayur akan diberikan oleh pihak orang tua atau pihak keluarga yang akan memebrikan doa seperti pada upacara adat pernikahan pada masyarakat simalungun dekke sayur akan diberikan oleh orang tua kepada kedua mempelai yang sedang melangsungkan pernikahan hal ini bertujuan untuk menyampaiakan doa, harapan dan berkat untuk kedua mempelai yang sedang melangsungkan pernikahan. Dalam beberapa upacara adat lainnya Dekke Sayur merupakan hidangan atau makanan tradisional pelengkap yang akan di hidangkan pada saat melaksanakan upacara adat. Seperti upacar adat sulang—sulang pahompu. Dalam upacar adat Sulang-sulang pahompu Dekke Sayur akan dihidangkan kepada para keluarga sebagai hidangan pendamping pada saat melakukan upacara adat. Dekke Sayur juga sering digunakan oleh masyarakat. Batak. Simalungun sebagai makanan sehari-hari didalam kehidupan masyarakat Batak simalungun, Dekke Sayur juga sering dihidangkan untuk kerabat atau saudara yang pulang ke kampung halaman atau juga sering dihidangkan untuk diberikan kepada tamu penting yang datang kerumah masyarakat Batak Simalungun.. 47. Universitas Sumatera Utara.
(60) 4.3.5 Fungsi Namalum Namalum adalah makanan tradisional khas Batak Simalungun yang biasanya dijumpai pada upacara adat sulang-sulang pahompu yang dilakukan oleh masyarakat Batak Simalungun. Pada upacara adat sulang-sulang pahompu namalum adalah hidangan utama atau hidangan wajib yang akan di pakai pada saat melaksanakan upacara adat Sulang-sulang pahompu. Hal ini dilakukan karena namalum memiliki tekstur yang lembut dan mudah untuk dikonsumsi oleh orang yang sudah lanjut usia sehingga makanan khas inilah yang digunakan pada saat melakukan upacara adat Sulang-sulang pahompu. Pemilihan makanan ini juga sudah ditentukan berdasarkan kebudayaan yang ada dalam masayrakat Batak Simalungun yang sudah diturunkkan terun-temurun dari generasi-ke generasi. Namalum nantinya akan dihidangkan ditengah tengah pelaksaan upacara adat Sulang-sulang pahompu. Dan pada saat acara puncak namalum akan disuapkan oleh masing-masing cucu kepada oppung mereka secara bergantian . hal ini bertujuan untuk menunjukan rasa hormat dan sebagai ucapan terima kasih yang dilakukan oleh cucu. Namalum juga merupakan makanan adat yang baik untuk kesehatan karena dicampur dengan rebusan sup yang diracik dari berbagai tumbuhan dan rempah yang memiliki khasiat baik untuk kesehatan tubuh. 4.3.6 Fungsi Hinasumba Hinasumba sering dijumpai pada berbagai upacara adat sebagai makanan khas tradisional yang digunakan sebagai pendamping dayok nabinatur. Namun sekarang hinasumba sudah sangat jarang dijumpai atau sudah jarang dipakai oleh masyarakat Batak Simalungun dikarenakan hinasumba adalah 48. Universitas Sumatera Utara.
(61) makanan yang dibuat tidak melalui proses memasak hingga matang. Hinasumba hanya direbus hingga setengah matang lalu dicampur dengan bahan-bahan lainnya. Pada upacara adat masyarakat Batak Simalungun hinasumba akan dihidangkan berdampingan dengan dayok nabinatur. Hinasumba akan diletakan disamping kiri atau samping kanan dayok nabinatur lalu dihidangkan dalam satu wadah yang sama. Hinasumba berfungsi sebagai makanan khas pelengkap dalam menghidangkan dayok nabinatur. 4.4 Makna Pada Makanan Tradsional Batak Simalungun. Masyarakat Batak Simalungu memberikan makan pada masing masing simbol yang digunakan pada upacara adat ataupun didalam kehidupan sehari hari masyarakata Batak Simalung. Makanan khas trasional juga di pakai dalam berbagai upacara adat sehingga makanan khas merupakan simbol yang terdapat padad upacara adat ataupun kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Simalungun. Masayarakat Batak Simalungun juga memberikan makna pada masing-masing makanan khas trasional yang dipakai pada saat pelaksanaan upacara adat Batak Simalungun. Berdasarkan hasil penelitian diatas ditemukan lima makanan khas tradisional yang sering digunakan pada upacara adat Batak Simalungun, sehingga ditemukan juga makna yang diberian oleh masyarakat Batak Simalungun pada masing-masing makanan khas tradisional yang dipakai pada upacara adat masyarakat Batak Simalungun.. 49. Universitas Sumatera Utara.
(62) Adapun makna yang terkandung pada makanan khas tradisional yang dipakai pada upacara adat masyarakat Batak Simalungun adalah sebagai berikut : 4.4.1 Makna Dayok nabinatur Masyarakat Batak Simalungun memberikan makna yang berbeda untuk Dayok nabinatur pada beberapa upacara adat. Seperti dalam konteks pernikahan atau keluarga dayok nabinatur memiliki makan keteraturan hidup seperti sususan potongan daging ayam yang disusun rapi layaknya ayam yang masih utuh. Dalam konteks ucapan syukur dayok nabinatur memiliki makan sebagai ucapan terma kasih atas ebuah pencapaian atau karna sudah mendapat nasib baik. Berbeda dengan kedua hal diatas dalam konteks upacara adat sulang-sulang pahompu masyarakat Batak Simalungun memaknai dayok nabinatur sebagai wujud rasa terima kasih,suka cita serta harapan agar orang tua dan anak dapat meneladani sifat ayam betina yang selalau setia menghopkop anakanaknya hingga mampu mencari makan sendiri. Manghopkop dalam bahasa Batak Simalungun berarti melindungi dan menjaga anak dari kecil hingga mampu mandiri). Dan juga meneladani sifat ayam jantan yang selalu tepat waktu untuk berkokok dipagi hari menandakan hari sudah mulai terang dan menegur anak yang lupa diri dan berkelahi dengan saudaranya. Berdasarkan makna diatas maka dayok nabinatur dianggap makanan khas tradisional yang istimewa bagi masyarakat Batak Simalungun sehingga jarang dimasak atau dihidangkan sebagau lauk sehari-hari. Dayok 50. Universitas Sumatera Utara.
(63) nabinatur hanya akan dihidangkan pada saat pelaksanaan. upacara adat dan. syukuran. 4.4.2 Makna Nitak Gabur-Gabur. Bagi masyarakat Batak Simalungun nitak gabur-gabur memiliki makna tentang kemudahan hidup. Dalam berbagai konteks upacara adat nitak gabur-gabur akan dihidangkan sebagai makanan pelengkap yang akan dihidangkan untuk tamu dan untuk penyelenggara upacara adat tersebut. Masayrakat Batak Simalungun percaya nitak gabur-gabur dapat memberikan harapan agar perjaalanan hidup akan segembur nitak gabur-gabur yang artinya segala sesuatu didalam kehiupan akan senatiasa diselesaikan dengan mudah dalam bahasa. Batak Simalungun sering disebut dengan gaburma. pansarian. Hal ini merupakan arti dari sifat atau tekstus nitak gabur-gabur itu sendiri yang dimana nitak gabur-gabur bersifat atau bertekstur gembur. Sehingga masyarakat Batak Simalungun menggambarkan makna harapan kehidupan bagi yang memakan nitak gabur-gabur seperti teksturnya yang sangat gembur tersebut. Dalam konteks upacara adat sulang-sulang pahompu atau upacara adat yang bersifat. mengucap syukur lainnya msayarakat Batak Simalungun. percaya dengan memakan nitak gabur-gabur dapat memberikan kemudahan hidup dalam menjalani kehidupan dikemudian hari seperti kemudahan mendapat rejeki, kemudahan dalam menyelesaikan masalah.. 51. Universitas Sumatera Utara.
(64) 4.4.3 Makna Nitak Siang-Siang. Nitak siang-siang memiliki makna pengharapan bagi siapapun yang memakan atau menerimanya akan mendapatkan harapan kehidpuan yang terang, dan rejeki yang tampak jelas. Dalam berbagai konteks upacara adat masyarakat Batak Simalungun. Nitak siang-siang juga sering dipakai sebagai bahan. makanan. pelengkap. yang. dihidangkan. untuk. tamu. dan. untuk. penyelenggara upacara adat tersebut. Masayarakat Batak Siamalungun percaya bagi setiap orang memakan nitak siang-siang akan mendapat pikiran yang positif ( siangma paruhuran artinya teranglah pemikira) dalam menyelesaikan suatu masalah atau memiliki pikiran yang positif dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain dari hal itu masyarakat Batak Simalungun juga percaya dengan memakan nitak siangsiang maka ada harapan tentang rejeki yang jelas dalam menjalani kehidupan sehari-hari, rejeki yang dimaksud disini adalah rejeki pada kehidupan sehari-hari seperti mudah mendapat pekerjaan, kelancaran dalam berusaha. 4.4.4 Makna Niloppah Naidurung / Dekke Sayur Niloppah Naidurung / Dekke Sayur bagi masyarakat Batak Simalungun memiliki makna pengharapan, rasa terima kasih juga doa atau berkat. Atas semua dukungan dan kerja keras. Niloppah Naidurung / Dekke Sayur ini biasanyan diberikan kepada pihak boru yang senantiasa memberi dukungan dan kerja keras dalam membantu segala keperluan atau dalam pelaksanaan suatu upacara adat. Hal ini dilakukan dengan maksud sebagai ucapan terima kasih. 52. Universitas Sumatera Utara.