• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Deskriptif

Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui faktor-faktor yang memiliki pengaruh terhadap keberhasilan strategic purchasing dan melihat pengaruh strategic purchasing pada kinerja resto dan café di Surabaya. Adapun responden dalam penelitian ini adalah para karyawan atau staff departemen purchasing atau orang atau karyawan yang bertugas melakukan kegiatan pembelian atau pengadaan barang pada resto dan café tersebut. Alasan memilih kriteria responden di atas dikarenakan para responden itulah yang mengetahui dengan jelas seluk beluk keadaan purchasing pada resto dan café mereka sehingga sangat membantu peneliti dalam mengumpulkan data. Dalam pembahasan selanjutnya peneliti membaginya menjadi dua jenis pembahasan yaitu deksriptif dan pembahasan kausalistik. Pembahasan deskriptif adalah pembahasan lebih mengarah pada respon responden terhadap indikator-indikator yang ada pada masing-masing variabel dalam penelitian ini. Sedangkan pembahasan kausalistik adalah pembahasan tentang pengaruh antar variabel seperti Supplier Selection, Supplier Relationship, dan Information Technology terhadap Strategic Purchasing dan Strategic Purchasing terhadap Firm Performance pada resto dan café di Surabaya.

4.1.1 Analisa Deskriptif Resto dan Café

Sub bab ini menjelaskan tentang gambaran objek di dalam penelitian ini,

yaitu gambaran mengenai resto dan café di Surabaya. Gambaran yang dimaksud

adalah gambaran mengenai keadaan purchasing yang terdapat di resto dan café

Surabaya seperti ada atau tidaknya divisi atau departemen purchasing dan asal

bahan baku atau asal supplier yang digunakan oleh resto dan café di Surabaya.

(2)

4.1.1.1 Profil Resto dan Café di Surabaya Berdasarkan Ada Tidaknya Departemen Purchasing

Tabel 4.1 di bawah ini menggambarkan keadaan resto dan café di Surabaya berdasarkan ada tidaknya departemen purchasing di dalam struktur organisasi mereka. Berikut adalah data lapangan yang telah diolah peneliti:

Tabel 4.1 Gambaran Resto dan Cafe Berdasarkan Departemen Purchasing No Departemen Purchasing Jumlah Presentase

1 Ada 36 41%

2 Tidak Ada 51 59%

Total 87 100%

Sumber: Data primer diolah (2015)

Berdasarkan data tabel 4.1 di atas maka dapat digambarkan bahwa resto dan café di Surabaya tidak memiliki departemen atau divisi khusus dalam mengelola kegiatan purchasing di dalam aktivitas sehari-hari mereka. Tidak adanya divisi atau departemen khusus purchasing dalam struktur organisasai mereka dikarenakan pihak manajemen resto dan café masih berasumsi bahwa divisi atau departemen purchasing tidak memiliki cukup peran penting dan dapat dikerjakan oleh divisi lain dalam struktur organisasi mereka lainnya.

4.1.1.2 Profil Resto dan Café di Surabaya Berdasarkan Asal Usul Bahan Baku Atau Supplier

Tabel 4.2 di bawah ini menggambarkan keadaan resto dan café di

Surabaya berdasarkan asal usul bahan atau supplier yang digunakan untuk

melengkapi stok bahan baku mereka.

(3)

Tabel 4.2 Gambaran Resto dan Cafe Berdasarkan Asal Usul Bahan Baku/Supplier No Sumber Bahan Baku Jumlah Presentase

1 Lokal 52 60%

2 Import 10 11%

3 Keduanya 25 29

Total 87 100%

Sumber: Data primer diolah (2015)

Berdasarkan data tabel 4.2 di atas dapat digambarkan bahwa resto dan café di Surabaya masih menggunakan supplier atau pemasok lokal dalam memenuhi kebutuhan gudang ataupun kebutuhan bahan baku mereka. Hal ini menjelaskan bahwa pihak manajemen resto dan café di Surabaya masih mempercayai produk-produk lokal atau dalam negeri sebagai sumber bahan baku mereka sehari-harinya. Selain itu, data tersebut dapat menjelaskan pula bahwa dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari lokal atau dalam negeri dapat menekan beberapa biaya produksi atau operasional dibandingkan dengan menggunakan supplier atau pemasok import.

4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

Suatu instrumen penelitian dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Suatu indikator atau instrumen di dalam penelitian ini dikatakan valid jika memenuhi syarat nilai dari r-hitung lebih besar dari r-tabel, dimana r-tabel dalam penelitian ini bernilai 0.2108. Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan uji cronbach alpha, dimana suatu instrumen dikatakan reliable diterima jika nilai cronbach alpha di antara 0.6-0.8 sedangkan jika nilai cronbach alpha diantara 0.8- 1.0 maka instrumen penelitian dikategorikan baik. Pengujian validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan alat statistic SPSS.

Hasil uji validitas instrumen penelitian dari supplier selection sebagai

pengaruh terhadap keberhasilan strategic purchasing dapat dilihat pada tabel 4.3

dibawah ini:

(4)

Tabel 4.3 Validitas dan Reliabilitas Supplier Selection

No Indikator

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach’s Alpha 1 Kualitas bahan yang ditawarkan menjadi

pertimbangan memilih supplier 0.578

0.767 2 Biaya bahan yang ditawarkan menjadi

pertimbangan memilih supplier 0.523

3 Lama pengiriman bahan menjadi pertimbangan

memilih supplier 0.547

4 Fleksibilitas supplier dalam memenuhi kebutuhan

bahan menjadi pertimbangan memilih supplier 0.424 5 Respon supplier dalam menyediakan bahan

menjadi pertimbangan memilih supplier 0.624 Sumber: Data primer diolah (2015)

Berdasarkan data tabel di atas dapat dijelaskan bahwa setiap indikator di dalam variabel supplier selection dapat mengukur dan mengungkapkan data dari variabel supplier selection. Dikatakan dapat mengukur dan mengungkapkan data dari variabel supplier selection karena pada nilai total korelasi dari masing-masing pernyataan menunjukkan besaran nilai lebih besar dari r-tabel, dimana r-tabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0.2108. Pernyataan SS1 menunjukkan nilai 0.578, SS2 menunjukkan nilai 0.523, SS3 menunjukkan nilai 0.547, SS4 menunjukkan nilai 0.424, dan SS5 menunjukkan nilai 0.624. Oleh karena itu, seluruh instrumen untuk pengukuran variabel supplier selection dalam penelitian ini dikatakan valid.

Pada tabel 4.3 di atas pula ditemukan bahwa nilai dari cronbach’s alpha untuk variabel supplier selection sebesar 0.767. Data tersebut dapat diartikan bahwa variabel supplier selection dalam penelitian ini sifatnya reliable dan dapat digunakan dalam penelitian kali ini. Sehingga untuk instrumen penelitian supplier selection dalam penelitian ini memiliki indikator yang valid dan reliable untuk digunakan sebagai alat ukur.

Hasil pengujian validitas berikutnya dilakukan terhadap instrumen

penelitian supplier relationship, dan hasil analisanya dapat dilihat pada tabel 4.4

di bawah ini:

(5)

Tabel 4.4 Validitas dan Reliabilitas Supplier Relationship

No Indikator

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach’s Alpha 1 Sudah ada ikatan kontrak/kerjasama antara pihak

resto dan café dengan supplier 0.563

0.698 2 Pihak resto dan café dan supplier saling percaya 0.406

3 Pihak resto dan café dan supplier saling

memahami 0.489

4 Pihak resto dan café dan supplier melakukan

tindakan saling menguntungkan 0.473

Sumber: Data primer diolah (2015)

Berdasarkan data tabel 4.4 di atas dapat dijelaskan bahwa masing-masing indikator dalam variabel supplier relationship memenuhi syarat valid atau syarat instrumen dapat memberikan jawaban pada variabel supplier relationship. Total korelasi pada masing-masing indikator supplier relationship di atas menunjukkan nilai di atas nilai r-tabel, yaitu 0.2108. Pada indikator SR1 bernilai 0.563, indikator SR2 bernilai 0.406, indikator SR3 bernilai 0.489 dan pada indikator SR4 bernilai 0.473.

Tabel 4.4 juga memberikan data nilai cronbach’s alpha dari variabel supplier relationship sebesar 0.698. Data tersebut dapat dideskripsikan bahwa variabel supplier relationship dalam penelitian kali ini memiliki nilai lolos kualifikasi uji reliabilitas instrumen penelitian, yaitu lebih besar dari 0.6. Oleh karena itu, keseluruhan bagian instrumen penelitian supplier relationship dalam penelitian ini memiliki masing-masing indikator yang valid dan reliable digunakan sebagai alat ukur.

Uji validitas selanjutnya dilakukan pada instrumen variabel Information

Technology (IT). Berikut adalah data hasil analis uji validitas yang dilakukan

dengan bantuan alat statistik SPSS pada tabel 4.5 di bawah ini.

(6)

Tabel 4.5 Validitas dan Reliabilitas Information Technology

No Indikator

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach’s Alpha 1 Software dan hardware yang ada mendukung

kegiatan pembelian/pengadaan barang 0.531

0.788 2 Koneksi internet tersedia untuk mendukung

kegiatan pembelian/pengadaan barang 0.639 3 Personil pembelian/pengadaan paham

menggunakan software dan hardware yang ada 0.562 4 Akses data/informasi perihal

pembelian/pengadaan mudah 0.654

Sumber: Data primer diolah (2015)

Menurut data tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa nilai korelasi dari indikator pembentuk variabel Information Technology pada penelitian ini memenuhi kualifikasi standar atau syarat untuk dapat digunakan menjawab atau memberikan penjelasan pada variabel IT. Dapat dilihat pada indikator IT1 memiliki besaran nilai 0.531, IT2 bernilai 0.639, IT3 bernilai 0.562 dan IT4 bernilai 0.654. Keempat nilai tersebut lebih besar dari r-tabel yaitu 0.2108, sehingga keempat indikator tersebut bersifat valid dan dapat digunakan untuk menjawab variabel Information Technology pada penelitian ini.

Tabel 4.5 di atas juga menunjukkan besaran nilai cronbach’s alpha sebesar 0.788 yang memiliki arti bahwa variabel Information Technology (IT) dalam penelitian ini adalah reliable. Sehingga semua bagian dari Information Technolgy (IT) dalam penelitian ini adalah valid dan reliable. Variabel ini dapat digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian ini.

Uji validitas selanjutnya dilakukan pada variabel strategic purchasing

dengan data statistik dibawah ini:

(7)

Tabel 4.6 Validitas dan Reliabilitas Strategi Purchasing

No Indikator

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach’s Alpha 1 Kerjasama dengan pihak supplier berjalan lancar

dan efesien 0.697

0.830 2 Terjalin hubungan baik antara pihak supplier

dengan pihak resto dan café 0.721

3 Wewenang diberikan kepada bagian personil

pembelian/pengadaan 0.575

4 Strategi pembelian/pengadaan sesuai dengan

strategi perusahaan 0.649

Sumber: Data primer diolah (2015)

Sama halnya dengan pembahasan pada uji validitas pada variabel- variabel sebelumnya, indikator dikatakan valid jika masing-masing memiki nilai r-hitung > r-tabel. Pada indikator SP1 memiliki r-hitung 0.697, SP2 memiliki nilai 0.721, SP3 memiliki nilai 0.575, dan SP4 memiliki nilai 0.649. Keempat nilai r- hitung di atas bernilai lebih besar dari r-tabel, sehingga indikator-indikator tersebut dapat digunakan untuk mengungkapkan variabel strategic purchasing dalam penelitian ini. Selain itu, pada tabel tersebut ditemukan besaran nilai cronach’s alpha sebesar 0.830 yang memiliki arti bahwa variabel strategic purchasing dalam penelitian ini dikatakan reliable dan dapat digunakan sebagai alat ukur selanjutnya.

Uji validitas terakhir dilakukan pada variabel firm performance, dengan data tabel analisa uji validitas sebagai berikut:

Tabel 4.7 Validitas dan Reliabilitas Firm Performance

No Indikator

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach’s Alpha 1 Kecepatan proses pemesanan sesuai dengan target 0.932

0.978 2 Kecepatan pengiriman pesanan sesuai dengan

target 0.953

3 Produk resto dan café sesuai dengan kebutuhan

konsumen 0.953

4 Biaya operasional sudah sesuai dengan target 0.932 Sumber: Data primer di olah (2015)

Tabel di atas menjelaskan bahwa nilai korelasi dari indikator FP1 hingga

FP4 memiliki standar kualifikasi di atas r-tabel. Sehingga dapat dikatakan bahwa

(8)

masing-masing indikator dalam variabel firm performance dapat menjawab atau memberikan gambaran pada variabelnya. Sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa semua indikator yang digunakan bersifat valid dan dapat dapat digunakan sebagai alat ukur yang tepat dalam penelitian ini berdasarkan dari hasil uji validitas di atas. Tak hanya itu, pada tabel 4.7 tersebut terdapat nilai cronbach’s alpha sebesar 0.978 yang berarti variabel firm performance pada penelitian ini adalah reliable dan dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian.

4.3 Deskripsi Variabel Penelitian

Pada penelitian ini terdiri dari 5 variabel yaitu supplier selection, supplier relationship, Information Technology (IT), strategic purchasing dan firm performance. Dalam pengukurannya, peneliti menggunakan jawaban tertutup dengan skala likert 1-5. Pada kuesioner yang telah di desain oleh peneliti, responden diminta untuk memberikan penilaian dari Sangat Tidak Setuju hingga Setuju pada masing-masing pernyataan yang disediakan dan disesuaikan dengan keadaan sesungguhnya yang terjadi pada resto dan café mereka. Deskripsi setiap variabel dilakukan terhadap semua item pernyataan dengan menggunakan nilai mean, standar deviasi, top two boxes dan bottom two boxes.

4.3.1 Analisa Deskriptif Supplier Selection

Supplier selection merupakan suatu variabel yang diukur dengan lima

indikator yang setiap indikator memiliki nilai berbeda. Berikut adalah tabel

analisis deskriptif dari variabel supplier selection.

(9)

Tabel 4.8 Data Deskriptif Supplier Selection

No Indikator BTB TTB Mean SD

1 Kualitas bahan yang ditawarkan menjadi

pertimbangan memilih supplier 0 93% 4.47 0.626 2 Biaya bahan yang ditawarkan menjadi

pertimbangan memilih supplier 0 86% 4.18 0.656 3 Lama pengiriman bahan menjadi

pertimbangan memilih supplier 0 90% 4.23 0.604 4 Fleksibilitas supplier dalam memenuhi

kebutuhan bahan menjadi pertimbangan memilih supplier

0 100% 4.52 0.503

5 Respon supplier dalam menyediakan bahan

menjadi pertimbangan memilih supplier 0 96% 4.55 0.566

Average 4.39 0.591

Sumber: Data primer diolah (2015)

Tabel 4.8 di atas merupakan data deskriptif dari instrumen penelitian supplier selection yang digunakan dalam penelitian ini. Data tabel tersebut menjelaskan bahwa sebanyak 93% dari total responden cenderung menyatakan setuju bahwa kualitas bahan yang ditawarkan oleh supplier menjadi salah satu bahan pertimbangan menentukan supplier mana yang digunakan dalam memenuhi kebutuhan bahan baku resto dan café. Kualitas bahan yang baik, yang ditawarkan supplier menjadi pertimbangan manajemen resto dan café dalam memutuskannya.

Tentunya pihak resto dan café di Surabaya telah memiliki standar-standar tertentu dalam menentukan bahan yang diinginkannya dan standar disebut disesuaikan dengan yang ditawarkan oleh supplier.

Pada pernyataan kedua dalam tabel di atas dapat menggambarkan 86%

resto dan café di Surabaya setuju bahwa penawaran biaya yang diberikan supplier kepada manajemen resto dan café menjadi salah satu faktor dalam memilih supplier atau pemasok mereka. Biaya dan kualitas merupakan dua hal berbeda namun saling berhubungan satu dengan lainnya. Penawaran biaya yang diberikan dari supplier kepada manajemen resto dan café memiliki hubungan berbanding lurus dengan kualitas bahan yang ditawarkan. Semakin tinggi standar kualitas yang diinginkan maka semakin tinggi penawaran biayanya. Biasanya pihak manajemen meminta kualitas tinggi dengan biaya rendah pada supplier mereka.

Oleh karena itu, penentuan biaya bahan yang ditawarkan supplier menjadi salah

satu faktor dalam menentukan pemasok atau supplier mereka.

(10)

Pernyataan ketiga pada tabel di atas menggambarkan 90% resto dan café di Surabaya setuju bahwa lama pengiriman barang dari supplier hingga ke tangan manajemen menjadi bahan pertimbangan dalam memilih supplier. Pihak resto dan café setuju bahwa lama pengiriman bahan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan supplier. Hal tersebut didasari dengan pertimbangan manajemen resto dan café menjaga ketahanan bahan baku mereka yang biasanya terdiri dari bahan alam seperti hasil laut, hasil pertanian ataupun perkebunan yang tidak memiliki umur panjang dalam masalah daya simpannya. Sehingga manajemen resto dan café memberikan perhatian khusus dalam masalah ini untuk menentukan supplier yang dipilih.

Pernyataan keempat pada tabel di atas menggambarkan data deskriptif 100% atau keseluruhan resto dan café di Surabaya setuju dengan fleksibilitas supplier dalam menanggapi permintaan manajemen menjadi salah satu faktor dalam menentukan supplier. Fleksibilitas disini adalah kesanggupan supplier dalam memenuhi kebutuhan resto dan café dalam masa-masa tertentu seperti kebutuhan stok barang yang mendesak dan lain sebagainya. Semakin fleksibel supplier dalam mendukung ketersedian barang yang diminta oleh manajemen resto dan café semakin membuat supplier tersebut masuk dalam kategori pemilihan supplier pihak manajemen resto dan café.

Indikator terakhir dalam variabel supplier selection ini berbicara tentang

respon supplier dalam menyediakan bahan baku yang diminta oleh manajemen

resto dan café di Surabaya. Menurut data lapangan yang ada dan yang telah di

olah oleh peneliti menunjukkan bahwa variabel ini memiliki nilai BTB sebesar 0,

nilai TTB sebesar 0.96, dengan nilai mean 4.55 dan nilai standar deviasi sebesar

0.566. Data tersebut dapat di deskripsikan, 96% dari total responden memilih

setuju dan sangat setuju dalam menanggapi pernyataan tersebut. Respon supplier

dalam menjawab atau menanggapi permintaan supplier dianggap penting oleh

maajemen resto dan café karena bila supplier ramah, baik dan cepat dalam

menanggapi permintaan maka semakin besar peluang supplier tersebut masuk

dalam daftar supplier resto dan café mereka.

(11)

4.3.2 Analisa Deskriptif Supplier Relationship

Supplier relationship merupakan salah satu variabel yang digunakan dalam penelitian ini dan diukur dengan empat indikator yang setiap indikator memiliki nilai berbeda. Berikut adalah tabel analisis deskriptif dari variabel supplier relationsip yang telah diolah peneliti dengan menggunakan bantuan alat statistik SPSS.

Tabel 4.9 Data Deskriptif Supplier Relationship

No Indikator BTB TTB Mean SD

1 Sudah ada ikatan kontrak/kerjasama antara

pihak resto dan café dengan supplier 0 97% 4.44 0.543 2 Pihak resto dan café dan supplier saling

percaya 0 99% 4.48 0.525

3 Pihak resto dan café dan supplier saling

memahami 0 97% 4.36 0.528

4 Pihak resto dan café dan supplier melakukan

tindakan saling menguntungkan 0 100% 4.55 0.500

Average 4.46 0.524

Sumber: Data primer diolah (2015)

Dengan melihat data tabel di atas dapat dijelaskan analisa deskriptif tentang variabel supplier relationship sebagai berikut:

Pernyataan pertama memiliki nilai TTB sebesar 97% dengan nilai mean 4,44 dan nilai standar deviasi sebesar 0,543. Pernyataan tersebut dapat diartikan sebanyak 97% responden dalam penelitian ini telah memiliki ikatan kontrak atau kerjasama dengan supplier mereka. 3% responden lainnya masih rancu apakah mereka telah memiliki kontrak atau kerjasama dengan supplier yang dipakai sekarang ini. Memiliki ikatan kontrak atau kerjasama dengan supplier sangat membantu untuk menjalin hubungan baik dengan supplier.

Pernyataan kedua pada tabel di atas menggambarkan 99% dari total

responden setuju dengan rasa saling percaya antara supplier dengan manajemen

resto dan café merupakan salah satu cara untuk menjaga dan atau menjalin

hubungan baik di antara kedua belah pihak. Sedangkan 1% lainnya merasa bahwa

dengan adanya rasa saling percaya di antara kedua belah pihak saja tidak

membuat hubungan baik dengan supplier, menurut mereka banyak hal lain yang

menjadi penunjang hubungan baik dengan mereka selain rasa saling percaya.

(12)

Pernyataan ketiga pada tabel di atas menjelaskan bahwa sebanyak 97%

resto dan café di Surabaya merasa bahwa dengan adanya rasa saling memahami antara supplier dengan manajemen resto dan café memberikan dampak pada terciptanya hubungan baik di antara mereka. Rasa saling memahami ini bisa diartikan sebagai adanya rasa saling mengerti antara kedua belah pihak, baik mengerti tentang kebutuhan resto dan café pada supplier tersebut maupun sebaliknya.

Sedangkan pada pernyataan terakhir pada tabel di atas menjelaskan bahwa seluruh resto dan café di Surabaya setuju bahwa dengan adanya tindakan saling menguntungkan dari kedua belah pihak secara otomatis menciptakan hubungan baik dengan supplier ataupun dengan pihak manajemen resto dan café.

Tindakan saling menguntungkan disini dapat berupa dengan menjaga nama baik kedua belah pihak, selain itu banyak tindakan menguntungkan lainnya seperti menepati segala tindakan yang telah diatur dan disepakati di dalam kontrak kerjasama yang dibuat.

4.3.3 Analisa Deskriptif Information Technology

Information Technology merupakan salah satu variabel yang digunakan dalam penelitian ini dan diukur dengan empat indikator yang setiap indikator memiliki nilai berbeda. Berikut adalah tabel analisis deskriptif dari variabel Information Technology yang telah diolah peneliti dengan menggunakan bantuan alat statistik SPSS.

Tabel 4.10 Data Deskriptif Information Technology

No Indikator BTB TTB Mean SD

1 Software dan hardware yang ada mendukung

kegiatan pembelian/pengadaan barang 0 100% 4.56 0.499 2 Koneksi internet tersedia untuk mendukung

kegiatan pembelian/pengadaan barang 0 100% 4.45 0.500 3 Personil pembelian/pengadaan paham

menggunakan software dan hardware yang ada

0 100% 4.59 0.495

4 Akses data/informasi perihal

pembelian/pengadaan mudah 0 100% 4.47 0.502

Average 4.51 0.500

Sumber: Data primer diolah (2015)

(13)

Angka atau nilai pada tabel 4.10 di atas dapat menjelaskan bahwa seluruh resto dan café di Surabaya setuju bahwa dengan adanya software dan hardware yang memadai, koneksi internet yang lancar, pahamnya personil dalam menggunakan software dan hardware yang disediakan, dan mudahnya akses data menjadi faktor dalam salah satu syarat pengaplikasian IT dalam suatu proses pembelian atau pengadaan yang efektif.

Akan tetapi data tabel di atas memiliki nilai standar deviasi yang dikategorikan biasa karena tidak adanya variasi jawaban dari responden. Hampir semua responden dalam penelitian ini memiliki kecenderungan untuk menjawab setuju dan sangat setuju secara keseluruhan. Hal ini menyebabkan kurangnya variasi data untuk mendeskripsikan variabel penelitian ini. Akan tetapi ada nilai lain yang dapat membantu mendeskripsikan data tabel di atas, yaitu besaran nilai mean. Masing-masing indikator memiliki nilai mean yang berbeda-beda, indikator yang memiliki nilai mean terbesar ditemukan pada pernyataan personil paham dengan hardware dan software yang digunakan berhubungan dengan purchasing atau kegiatan pengadaan barang. Resto dan café di Surabaya berharap bahwa personil atau orang-orang yang bertugas terhadap aktivitas purchasing mengerti dan paham dengan software dan hardware yang ada. Dengan pahamnya personil mereka, efesiensi dari kegiatan purchasing meningkat dan mendukung strategi purchasing yang direncanakan atau diaplikasikan.

4.3.4 Analisa Deskriptif Strategic Purchasing

Strategic purchasing merupakan salah satu variabel yang digunakan

dalam penelitian ini dan diukur dengan empat indikator yang setiap indikator

memiliki nilai berbeda. Berikut adalah tabel analisis deskriptif dari variabel

strategic purchasing yang telah diolah peneliti dengan menggunakan bantuan alat

statistik SPSS.

(14)

Tabel 4.11 Data Deskriptif Strategi Purchasing

No Indikator BTB TTB Mean SD

1 Kerjasama dengan pihak supplier berjalan

lancar dan efesien 0 91% 4.30 0.612

2 Terjalin hubungan baik antara pihak supplier

dengan pihak resto dan café 0 95% 4.37 0.573

3 Wewenang diberikan kepada bagian personil

pembelian/pengadaan 0 100% 4.49 0.503

4 Strategi pembelian/pengadaan sesuai dengan

strategi perusahaan 0 99% 4.46 0.524

Average 4.40 0.553

Sumber: Data primer diolah (2015)

Berdasarkan data tabel 4.11 di atas menggambarkan data deskriptif tentang variabel strategic purchasing sebagai berikut:

Pada pernyataan pertama, 91% resto dan café di Surabaya mengatakan bahwa terjalinnya kerjasama yang lancar dan efesien dalam arti tidak ada unsur merusak hubungan kerjasama menjadi salah satu pengaruh dalam menentukan strategi purchasing. Sedangkan 9% resto dan cafe di Surabaya masih meragukan atau kurang setuju bahwa dengan adanya kerjasama yang lancar dan efesien mempengaruhi strategi purchasing resto dan cafe mereka.

Pada pernyataan kedua, 95% resto dan cafe di Surabaya telah memiliki hubungan baik dengan supplier mereka. Hubungan baik di sini adalah tidak adanya tindakan saling merugikan kedua belah pihak dan terciptanya rasa saling percaya diantara kedua belah pihak. Sedangkan sebanyak 5% resto dan café lainnya beranggapan bahwa hubungan antara supplier dengan manajemen resto dan café tidak berjalan dengan baik atau ada beberapa pihak yang merasa dirugikan ataupun adanya tindakan yang membuat salah satu di antara kedua belah pihak tersebut merasa tidak nyaman.

Pada pernyataan ketiga, peneliti menemukan bahwa seluruh resto dan

café di Surabaya telah memberikan wewenang sepenuhnya kepada personil

purchasing mereka. Berdasarkan dari data table di atas, dapat dijelaskan bahwa

pemberian wewenang sepenuhnya kepada personil atau orang yang

bertanggungjawab dengan aktivitas purchasing secara tidak langsung menjadikan

(15)

strategi purchasing yang mereka terapkan menjadi lebih efesien dan berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan.

Pada pernyataan terakhir pada variable ini menggambarkan bahwa 99%

resto dan café di Surabaya telah menjalankan strategi purchasing mereka sesuai dengan strategi perusahaan yang ada. Sedangkan 1% resto dan café lainnya tidak menjalankan strategi purchasing sesuai dengan strategi perusahaan. Dalam hal ini menjelaskan bahwa sebanyak 99% resto dan café di Surabaya menyesuaikan strategi purchasing mereka dengan strategi perusahaan yang ada dan yang sudah diterapkan dari awal.

4.3.5 Analisa Deskriptif Firm Performance

Firm performance merupakan variabel terakhir yang digunakan dalam penelitian ini dan diukur dengan empat indikator yang setiap indikator memiliki nilai berbeda. Berikut adalah tabel analisis deskriptif dari variabel firm performance yang telah diolah peneliti dengan menggunakan bantuan alat statistik SPSS.

Tabel 4.12 Data Deskriptif Firm Performance

No Indikator BTB TTB Mean SD

1 Kecepatan proses pemesanan sesuai dengan

target 0 100% 4.49 0.503

2 Kecepatan pengiriman pesanan sesuai dengan

target 0 100% 4.48 0.503

3 Produk resto dan café sesuai dengan

kebutuhan konsumen 0 100% 4.50 0.503

4 Biaya operasional sudah sesuai dengan target 0 100% 4.48 0.503

Average 4.48 0.503

Sumber: Data primer diolah (2015)

Dengan melihat data table 4.12 di atas, maka peneliti dapat menjelaskan data deskriptif tersebut sebagai berikut:

Berdasarkan dengan data lapangan yang ada dan yang telah diolah

peneliti, maka seluruh resto dan café di Surabaya setuju bahwa kecepatan proses,

penyajian atau pengiriman dan produk yang disajikan oleh manajemen resto dan

café telah sesuai dan menjawab kebutuhan konsumen. Selain itu, seluruh resto dan

(16)

café di Surabaya telah mengeluarkan biaya operasional sesuai dengan target yang direncanakan pada strategi perusahaan untuk mencapai tujuan akhir perusahaan.

Akan tetapi, sama seperti dengan pembahasan implementasi IT di atas, nilai mean dalam data tersebut dapat menjelaskan bahwa diantara keempat indikator tersebut ada satu indikator yang menarik, yaitu pernyataan produk resto dan café di Surabaya yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pada pernyataan itu, nilai mean terbesar adalah 4.50 yang dapat menjelaskan bahwa factor penting dalam menentukan firm performance salah satunya adalah kesesuaian produk resto dan café dengan target konsumen mereka. Produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen secara tidak langsung membuat resto dan café tersebut meningkatkan performanya dan menjadi nilai tambah untuk resto dan café mereka bertahan di antara persaingan yang ada di Surabaya.

4.4 Model Penelitian

Berikut adalah model penelitian yang digunakan pada penelitian ini setelah instrumen penelitian telah melewati uji validitas dan reliabilitas di atas, model di dapat dengan bantuan alat statistik PLS.

Gambar 4.1 Model Penelitian

Sumber: Diagram PLS

(17)

4.5 Analisis Data

Pada sub bab ini, peneliti melakukan analisis data-data lapangan yang ada dengan bantuan alat statistik PLS. Analisis dilakukan untuk membantu menganalisis kelima hipotesis yang ada dalam penelitian ini. Dalam analisis data ini ditampilkan beberapa hasil pengujian kesesuaian model penelitian di atas berdasarkan kriteria-kriteria tertentu seperti uji convergent validity dan discriminat validity untuk uji outer model. Sedangkan untuk uji inner model digunakan uji r-square, path coefficients dan t-statistic.

4.5.1 Goodness of Fit-Outer Model

Menurut Ghozali (2006) suatu indikator dari sebuah variabel dikatakan

valid dan dapat digunakan dalam penelitian jika nilai loading factor lebih besar

dari 0.50, dan memiliki nilai AVE pada masing-masing variabel yang digunakan

lebih besar dari 0.50. Sedangkan untuk menguji model penelitian layak digunakan

pada penelitian ini adalah dengan menggunakan uji composite reliability dimana

nilai yang dihasilkan harus lebih besar dari 0.70, dan berikut adalah data hasil

analisis data lapangan yang di dapat oleh peneliti.

(18)

Tabel 4.13 Hasil Loading Factor

Variabel Indikator

Original Sample Estimate

t-statistic

Supplier Selection

SS1 0.738 11.232

SS2 0.700 9.902

SS3 0.707 10.139

SS4 0.678 10.044

SS5 0.771 14.666

Supplier Relationship

SR1 0.764 12.989

SR2 0.549 4.252

SR3 0.758 12.825

SR4 0.786 13.669

Information Technology

IT1 0.599 7.139

IT2 0.907 29.284

IT3 0.637 8.070

IT4 0.915 32.322

Strategic Purchasing

SP1 0.771 11.655

SP2 0.785 12.853

SP3 0.827 22.013

SP4 0.855 25.906

Firm Performance

FP1 0.963 64.394

FP2 0.975 78.776

FP3 0.974 82.577

FP4 0.960 52.553

Sumber: Data primer diolah (2015)

Berdasarkan data tabel 4.13 di atas diperoleh hasil nilai loading factor

untuk tiap-tiap indikator yang digunakan dalam penelitian ini. Dari hasil tersebut,

terlihat bahwa nilai loading factor tiap-tiap indikator menunjukkan nilai lebih

besar dari 0.50. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa

indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini sifatnya valid dan dapat

digunkan untuk mengukur ataupun menjawab variabel-variabel yang ada. Selain

itu, pada masing-masing indikator memiliki nilai t-statistic lebih besar dari 1.96

yang membuktikan bahwa ada korelasi yang kuat pada indikator tersebut untuk

menjelaskan variabel sehingga indikator-indikator tersebut layak untuk digunakan

dalam penelitian ini.

(19)

Tabel 4.14 Hasil AVE dan Composite Reliability

No Variabel Composite

Reliability AVE

1 Supplier Selection 0.843 0.518

2 Supplier Relationship 0.809 0.519

3 Information Technology 0.856 0.606

4 Strategic Purchasing 0.884 0.656

5 Firm Performance 0.983 0.937

Sumber: Data primer diolah (2015)

Berdasarkan data tabel 4.14 di atas, ditemukan bahwa nilai composite reliability pada kelima variabel yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan nilai lebih dari 0.70, yaitu variabel supplier selection (0.843), supplier relationship (0.809), Information Technology (0.856), strategic purchasing (0.884), dan firm performance (0.983). Sedangkan pada nilai AVE, kelima variabel yang digunakan dalam penelitian ini juga menunjukkan nilai lebih besar dari 0.50 dan dikatakan memenuhi syarat valid, yaitu supplier selection (0.518), supplier relationship (0.519), Information Technology (0.606), strategic purchasing (0.656), dan firm performance (0.937).

Oleh karena itu, dengan melihat hasil olah data di atas dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel dan model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terpercaya dan dapat digunakan untuk analisa selanjutnya, yaitu menjawab hipotesis penelitian.

4.5.2 Goodness of Fit-Inner Model

Inner model pada penelitian ini diukur dengan menggunakan r-square

untuk menjelaskan tentang besarnya pengaruh variabel yang satu dengan variabel

lainnya. Berikut adalah tabel yang menunjukkan besarnya nilai r-square pada

variabel yang digunakan dalam penelitian ini:

(20)

Tabel 4.15 Hasil R-Square Variabel R-Square Supplier Selection

Supplier Relationship Information Technology

Strategic Purchasing 0.697 Firm Performance 0.321 Sumber: Data primer diolah (2015)

Berdasarkan data tabel 4.15 di atas terlihat nilai r-square dari variabel strategic purchasing menunjukkan nilai 0.697 yang memiliki arti bahwa kemampuan variabel bebas untuk menjelaskan variabel strategic purchasing dalam penelitian ini adalah sebesar 69.7% dan sisanya 30.3% dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak termasuk dalam pembahasan dalam penelitian ini.

Sedangkan pada variabel firm performance menunjukkan nilai 0.321 yang memiliki arti bahwa kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel firm performance dalam penelitian ini adalah sebesar 32.1% dan sisanya 67.9%

dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak termasuk dalam persamaan pembahasan di dalam penelitian ini.

Sedangkan untuk mengetahui model penelitian yang telah dibuat layak atau tidak untuk digunakan menjawab hipotesis penelitian digunakan uji q-square.

Jika besaran nilai uji q-square > 0, maka model penelitian termasuk dalam kategori predictive relevance atau layak digunakan, sedangkan jika nilai uji q- square < 0, maka model penelitian tidak layak digunakan untuk analisis atau menjawab hipotesis penelitian. Berikut adalah hasil uji q-square:

Q

2

= 1 – (1 – R

12

) (1 – R

22

) = 1 – (1 – 0.697

2

) (1 – 0.321

2

) = 0.539

Dari hasil uji q-square di atas menghasilkan nilai q-square sebesar 0.539

dan nilai tersebut lebih besar dari 0 (nol) sehingga model penelitian dalam

penelitian ini memiliki predictive relevance dan layak digunakan untuk menjawab

hipotesis penelitian.

(21)

Selanjutnya peneliti menampilkan olahan data PLS untuk memaparkan besarnya nilai koefisien jalur atau besarnya hubungan konstruk laten yang ada dalam penelitian ini.

Tabel 4.16 Path Coefficients

Hipotesis

Original Sample Estimate

Mean of Subsamples

Standard

Deviaton t-statistic Supplier Selection -

Strategic Purchasing 0.408 0.420 0.085 4.788 Supplier Relationship -

Strategic Purchasing 0.336 0.333 0.073 4.626 Information

Technology - Strategic Purchasing

0.230 0.227 0.058 3.931

Strategic Purchasing -

Firm Performance 0.415 0.413 0.110 3.793

Information Technology - Firm Performance

0.202 0.204 0.102 1.980

Sumber: Data primer diolah (2015)

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa besarnya pengaruh atau hubungan antara konstruk yang satu dengan konstruk lainnya adalah hubungan antara supplier selection dengan strategic purchasing (0.408), hubungan antara supplier relationship dengan strategic purchasing (0.336), hubungan antara Information Technology dengan strategic purchasing (0.230), hubungan antara strategic purchasing dengan firm performance (0.415), dan hubungan antara information technology dengan firm performance (0.202). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa variabel yang memiliki pengaruh paling besar terhadap strategic purchasing adalah variabel supplier selection, karena nilai pengaruhnya 0.4078 lebih besar dibandingkan dua variabel pembentuk strategic purchasing lainnya.

Selain itu, pada tabel 4.16 juga ditunjukkan bahwa nilai t-statistic pada

masing-masing hubungan variabel yang satu dengan variabel lainnya lebih besar

dari t-tabel (1.96). Data tersebut dapat diartikan sebagai hubungan antar variabel

tersebut signifikan dan berpengaruh terhadap variabel lainnya.

(22)

4.6 Uji Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis penelitian diterima atau ditolak adalah mengacu pada nilai t-statistic yang telah digambarkan pada tabel 4.16 di atas. Hipotesis penelitian diterima jika t-hitung > t-tabel, dan hipotesis penelitian ditolak jika t- hitung < t-tabel dimana t-tabel bernilai 1.96. Berikut adalah hasil uji hipotesis penelitian berdasarkan data tabel 4.16 di atas:

Hipotesis pertama dalam penelitian ini (H1) “Apakah ada pengaruh antara supplier selection terhadap strategic purchasing?” Seperti ilustrasi di atas, hipotesis di terima jika nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel, dalam tabel 4.16 di atas nilai t-hitung (4.788) dan lebih besar dari t-tabel. Oleh karena itu, untuk hipotesis pertama atau H1 dalam penelitian ini adalah di terima. Sehingga bunyi dari H1 adalah terdapat pengaruh antara supplier selection dengan strategic purchasing.

Hipotesis kedua dalam penelitian ini (H2) “Apakah supplier relationship berpengaruh terhadap strategic purchasing?’ Berdasarkan data tabel 4.16 di atas, nilai dari t-hitung (4.626) dan lebih besar dari t-tabel 1.96 sehingga H2 dalam penelitian ini diterima. Oleh karena itu bunyi dari H2 adalah terdapat pengaruh antara supplier relationship dengan strategic purchasing.

Uji hipotesis ketiga (H3) “Apakah implementation Information Technology berpengaruh terhadap strategic purchasing?” Pada tabel 4.16 terlihat bahwa nilai t-statistic atau t-hitung (3.931) lebih besar dari t-tabel. Hal ini berarti bahwa hipotesis kedua (H3) diterima, yaitu terdapat pengaruh antara implementation Information Technology dengan strategic purchasing.

Sedangkan pada uji hipotesis keempat (H4) “Apakah strategic purchasing berpengaruh terhadap firm performance pada resto dan café?” Pada tabel 4.16 terlihat bahwa nilai t-statistic atau t-hitung adalah 3.793 lebih besar dari t-tabel 1.96. Hal ini berarti bahwa hipotesis keempat (H4) diterima, yaitu terdapat pengaruh antara strategic purchasing dengan firm performance pada resto dan café.

Hipotesis terakhir dalam penelitian ini (H5) adalah “Apakah

implementation IT berpengaruh terhadap firm performance?” Berdasarkan data

tabel 4.16 di atas, H5 diterima karena memiliki nilai t-statistic lebih besar

(23)

dibandingkan dengan t-tabel, yaitu 1.96. Nilai dari t-statistic untuk H5 adalah sebesar 1.980, sehingga hipotesis berubah menjadi terdapat pengaruh antara implementation IT dengan firm performance. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai hasil uji hipotesis penelitian dijelaskan pada sub bab 4.7 di bawah ini.

4.7 Pembahasan Penelitian

Dalam sub bab ini akan dibahas mengenai pembahasan tentang uji hipotesis yang telah di lakukan pada sub bab 4.4 di atas secara detail dan pada sub bab ini pula merupakan hasil analisa dari data-data yang telah dicantumkan di atas secara keseluruhan.

4.7.1 Pengaruh Supplier Selection Terhadap Strategic Purchasing

Berdasarkan data uji hipotesis penelitian di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal mengenai pengaruh supplier selection terhadap strategic purchasing, sebagai berikut:

Hipotesis pertama (H1) memiliki besaran nilai t-statistic lebih besar dari 1.96 dan jika dilihat dari kolom nilai path coefficients-nya bernilai positif (0.408).

Data ini memiliki arti bahwa terdapat pengaruh positif antara supplier selection

dengan strategic purchasing pada industri resto dan café di Surabaya. Hipotesis

tersebut diartikan sebagai faktor keberhasilan dari strategic purchasing pada resto

dan café di Surabaya salah satunya ditentukan oleh supplier selection atau

pemilihan pemasok. Supplier selection disini adalah memilih supplier atau

pemasok dengan kriteria-kriteria tertentu guna meningkatkan kualitas dan faktor

keberhasilan strategic purchasing. Salah satu faktor memilih supplier pada

industri resto dan café adalah pertimbangan kualitas barang atau bahan yang

dimiliki oleh supplier terhadap bahan yang diinginkan oleh perusahaan. Faktor

biaya juga menjadi faktor penting dalam memilih supplier selain dari melihat

kualitas barang atau bahan yang ditawarkan. Apabila biaya yang ditawarkan tidak

sesuai dengan kualitas yang diharapkan juga menjadi bahan pertimbangan dalam

menentukan supplier mana yang akan digunakan oleh pihak resto dan café. Faktor

kualitas bahan dan besarnya biaya merupakan faktor yang saling berhubungan

satu sama lainnya.

(24)

Fakor lainnya dalam menentukan supplier adalah proses lama pengiriman barang dari supplier ke pihak resto dan café. Faktor ini menjadi salah satu alasan pihak resto dan café menentukan supplier karena bahan yang mereka minta biasanya memiliki umur yang singkat dan dibutuhkan bahan yang masih fresh untuk mempertahankan kualitas produk mereka. Sedangkan faktor lain yang menentukan pemilihan supplier lainnya adalah faktor fleksibilitas dan respon supplier dalam menjawab dan menyediakan kebutuhan juga menjadi salah satu alasan pihak resto dan café menentukan supplier mereka.

Dari kelima kriteria di atas ada satu kriteria yang sangat memiliki pengaruh dalam menentukan supplier selection pada penelitian ini, yaitu indikator kualitas bahan. Kualitas bahan menjadi kriteria paling penting dalam penelitian ini karena memiliki nilai loading factor sebesar 0.738 dan lebih besar dibandingkan empat faktor lainnya. Berdasarkan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa resto dan café di Surabaya dalam memilih supplier lebih melihat kualitas bahan yang ditawarkan oleh supplier dibandingkan dengan faktor lainnya. Adapun alasan pelaku purchasing resto dan café mementingkan kualitas bahan sebagai acuan dalam memilih supplier adalah dengan mendapatkan bahan baku yang berkualitas tinggi maka secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas dari produk mereka yaitu makanan dan minuman.

Ternyata, hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian yang pernah

dilakukan oleh oleh Tracey dan Tan (2001) pada peruashaan manufaktur di

Amerika yang menyimpulkan bahwa dengan melakukan pemilihan terhadap

supplier atau pemasok seperti mempertimbangkan kualitas bahan, proses

pengiriman bahan dengan mempertimbangkan waktu dapat secara tidak langsung

mempengaruhi tingkat kepuasaan konsumen dan tercapainya strategic

purchasing. Sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tidak hanya

perusahaan manufaktur saja yang menerapkan pemilihan supplier dalam

meningkatkan strategic purchasing melainkan pada industri jasa yang menjual

makanan dan minuman resto dan café pun juga menerapkan pemilihan supplier

dalam meningkatkan strategic purchasing.

(25)

4.7.2 Pengaruh Supplier Relationship Terhadap Strategic Purchasing Hipotesis kedua (H2) memiliki besaran nilai t-statistic (4.626) lebih besar dari 1.96 dan jika dilihat dari kolom nilai path coefficients-nya bernilai positif (0.336). Data ini memiliki arti bahwa terdapat pengaruh positif antara supplier relationship dengan strategic purchasing pada industri resto dan café di Surabaya.

Data tersebut memiliki arti bahwa terdapat pengaruh positif antara supplier relationship dengan strategic purchasing pada industri resto dan café di Surabaya.

Hipotesis tersebut diartikan sebagai faktor keberhasilan dari strategic purchasing pada resto dan café di Surabaya salah satunya ditentukan oleh faktor supplier relationship atau tingkat hubungan supplier dengan manajemen resto dan café.

Banyak cara untuk menjaga hubungan atau relasi baik dengan supplier, salah satunya adalah dengan adanya ikatan kontrak/kerjasama antara kedua belah pihak.

Faktor ini menjelaskan bahwa untuk menjaga hubungan baik antar supplier dengan pihak resto dan café diperlukan adanya ikatan kerjasama/kontrak yang telah dibuat dan disepakati bersama. Ikatan kontrak/kerjasama ini biasanya berisi kesepakatan-kesepakatan yang bersifat mengikat tugas atau aktivitas antara supplier dengan pihak resto dan café.

Faktor lainnya yang mendukung terjadinya hubungan baik antara supplier dengan pihak resto dan café adalah adanya rasa saling percaya dan saling memahami antara supplier dengan pihak resto dan café. Saling percaya disini dalam topik ini lebih mengarah pada suatu keyakinan antara supplier dengan pihak resto dan café menepati janji-janji mereka di dalam surat kontrak/kerjasama yang telah dibuat tadi dan membuat suatu tindakan yang dapat meningkatkan rasa percaya terhadap kedua belah pihak. Sedangkan yang dimaksud dengan menciptakan hubungan baik dengan cara saling memahami adalah kedua belah pihak dapat membaca situasi dan kondisi yang sedang terjadi dalam proses pengadaan barang sehingga kedua belah pihak baik pihak supplier atau pihak manajemen resto dan café dapat menyesuaikan sesuai dengan situasi atau kondisi yang tertentu yang terjadi di luar kuasa kedua belah pihak.

Faktor terakhir dalam membentuk atau membina hubungan baik dengan

supplier adalah dengan cara melakukan tindakan yang saling menguntungkan satu

dengan lainnya. Faktor ini menjadi salah satu faktor terpenting di antara faktor

(26)

pembentuk lain dalam menciptakan hubungan yang baik dengan supplier, hal ini di dapat berdasarkan data lapangan dimana nilai dari faktor melakukan tindakan saling menguntungkan pada loading factor adalah 0.786. Melakukan tindakan saling menguntungkan disini adalah kedua belah pihak baik supplier dan pihak resto dan café saling memberikan support atau dukungan atas tindakan atau keputusan yang dilakukan atau diambil oleh salah satu pihak.

Dengan adanya ikatan kontrak/kerjasama yang jelas, adanya rasa saling percaya dan memahami diantara kedua belah pihak dan adanya tindakan saling menguntungkan sangat membantu pihak manajemen resto dan café menjalin hubungan baik dengan supplier mereka. Jika hubungan baik antar supplier sudah sesuai dengan yang diharapkan pihak manajemen, maka secara tidak langsung mempengaruhi pembentukan strategic purchasing resto dan café guna meningkatkan beberapa aspek lainnya.

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Charles R. Noland (2005) dimana Charles menemukan bahwa perusahaan-perusahaan yang menerapkan SRM (Supplier Relationship Management) khususnya pada perusahaan manufaktur memiliki peluang besar untuk meningkatkan suksesnya pengaplikasian strategic purchasing pada perusahaan mereka. Hal tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada perusahaan manufaktur saja, perusahaan jasa dan produk seperti resto dan cafe khususnya di Surabaya juga ditemukan bahwa menjalin hubungan baik dengan supplier secara tidak langsung berpengaruh terhadap bagaimana strategic purchasing yang harus direncanakan atau diterapkan kedepannya.

4.7.3 Pengaruh Implementasi Information Technology (IT) Terhadap Strategic Purchasing

Hipotesis ketiga (H3) “Terdapat pengaruh antara implementation

Information Technolgy (IT) dengan strategic purchasing memiliki besaran nilai t-

statistic (3.931) dan lebih besar dari 1.96, dan jika dilihat dari kolom nilai path

coefficients-nya bernilai positif (0.230). Sehingga kumpulan informasi tersebut

dapat diartikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan faktor kesuksesan

(27)

strategic purchasing pada industri resto dan café di Surabaya adalah dengan melaukan penerapan IT pada sistem purchasing mereka.

Ada 4 (empat) faktor yang mendukung terbentuknya sistem IT yang terkendali dan terorganisir, yaitu adanya software dan hardware yang mendukung kinerja atau aktivitas purchasing, koneksi internet yang mendukung dan stabil, kemampuan personil dalam mengoperasikan software dan hardware yang ada dan keleluasaan akses data/informasi perihal pengadaan/pembelian. Jika berbicara IT secara otomatis mengarah pada suatu sistem jaringan komunikasi dan penggunaan software dan hardware yang ada pada perusahaan tersebut. Pada industri resto dan café di Surabaya rata-rata setuju dengan adanya software dan hardware yang memadai atau up to date mempermudah melakukan aktivitas purchasing. Banyak software yang dapat digunakan untuk menunjang aktivitas terebut dan dapat di unduh baik secara free maupun berbayar.

Software-software tersebut biasanya ada yang menggunakan koneksi internet dan ada yang tidak menggunakan internet dalam menjalankan aplikasinya. Oleh karena itu, koneksi internet juga menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang implementasi IT pada industri resto dan café. Karena pada zaman yang sudah maju seperti ini, kehadiran internet menjadi sangat penting dalam dunia kerja maupun untuk berkomunikasi baik berkomunikasi dengan lintas divisi ataupun dengan supplier mereka masing-masing. Faktor lainnya adalah harus ada personil atau user yang mampu menggunakan software, hardware dan koneksi internet yang sudah disediakan oleh resto dan café tersebut.

User disini adalah pelaku kegiatan atau aktivita pembelian/pengadaan di resto dan café tersebut. User yang paham dengan software purchasing dan hardware yang tersedia semakin menciptakan efesiensi sistem IT di dalam resto dan café tersebut.

Setelah adanya personil atau user yang menguasai software dan

hardware maka diperlukan adanya kemudahan akses data/informasi yang bakal

digunakan dalam proses olah data stok bahan baku. Menurut hasil penemuan data

di lapangan, resto dan café di Surabaya memberikan akses yang mudah bagi

personil atau user purchasing untuk mendapatkan data/informasi yang

dibutuhkan. Hal tersebut terlihat dengan rata-rata responden resto dan café di

Surabaya lebih condong pada pernyataan setuju dengan adanya kemudahan akses

(28)

data/informasi yang mudah berdasarkan data lapangan. Faktor terakhir ini pulalah yang menurut data lapangan memiliki pengaruh paling besar dibandingkan dengan faktor lainnya dalam menetapkan sistem IT di resto dan café di Surabaya. Dengan adanya penerapan atau pengaplikasian sistem IT pada industri resto dan café yang baik mempengaruhi kesuksesan strategic purchasing. Salah satunya adalah mempengaruhi penekanan biaya komunikasi yang dapat dialihkan pada biaya operasional ataupun pada biaya lainnya dan semakin mempermudah pihak manajemen resto dan café memantau stok bahan baku mereka.

Hasil penelitian serupa pernah dilakukan oleh Endang Hariningsih (2012) dan hasil penelitiannya adalah penerapan IT di dalam suatu perusahaan khususnya dalam SCM memiliki beberapa peranan penting seperti membantu meningkatkan hubungan antar supplier, pengembangan dan komersialisasi produk hingga pada tahap manajemen retur produk, dan manajemen permintaan/pengadaan. Selain itu, peneliti Hans Bjornsson (2004) dan Handfield dan Nochols (1999) juga melakukan penelitian terhadap implementasi IT pada purchasing dan memberikan hasil sebagai penerapan IT meningatkan efektivitas strategic purchasing dengan cara menekan biaya komunikasi antar supplier sehingga biaya komunikasi dapat dialihkan kepada sektor lain yang membutuhkan.

Dua peneliti sebelumnya melakukan penelitian kepada perusahaan manufaktur dan pada industri retail. Bedanya dengan penelitian ini adalah implementasi IT mempengaruhi strategic purchasing bila personil atau orang di dalam resto dan cafe di Surabaya paham dan mengetahui hardware dan software yang telah disediakan. Kepahaman personil atau user dalam penelitian ini menjadi kunci penting dalam menentukan berhasil tidaknya implementasi IT terhadap strategic purchasing. Alasannya adalah jika user di suatu resto dan cafe di Surabaya memahami software dan hardware yang digunakan, maka secara otomatis resto dan cafe mereka telah melakukan efesiensi aktivitas purchasing dan meningkatkan kemungkinan faktor keberhasilan penerapan strategi purchasing.

4.7.4 Pengaruh Strategic Purchasing Terhadap Firm Performance

Hipotesis keempat (H4) “Terdapat pengaruh antara strategic purchasing

dengan firm performance memiliki besaran nilai t-statistic (3.793) dan lebih besar

(29)

dari 1.96, dan jika dilihat dari kolom nilai path coefficients-nya bernilai positif (0.415). Sehingga dapat diartikan sebagai dalam hal meningkatkan performa resto dan café di Surabaya maka diperlukan strategic purchasing yang terencana dan efektivitas.

Salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas dari strategic purchasing adalah dengan menjaga hubungan baik dengan supplier, adanya kerjasama yang efesien dan efektif dengan supplier, diberinya wewenang yang cukup untuk personil pengadaan/pembelian barang dan selarasnya strategi purchasing dengan strategi perusahaan. Menjaga hubungan baik dengan supplier sama dengan pembahasan yang telah dijelaskan peneliti di atas sebelumnya tentang pengaruh supplier relationship terhadap strategic purchasing. Dengan menjalin dan menjaga hubungan yang baik maka akan secara tidak langsung mempengaruhi efektivitas strategic purchasing, jika hubungan terjalin dengan baik maka akan mempengaruhi bentuk kerjasama di antara kedua belah pihak juga.

Faktor lain yang mempengaruhi efektivitas dari suatu strategic purchasing pada industri resto dan café di Surabaya adalah adanya pemberian wewenang pada personil pengadaan/pembelian dalam mengambil suatu keputusan. Personil pengadaan/pembelian jika diberikan wewenang khusus dalam mengambil keputusan perihal purchasing sangat membantu mempersingkat waktu kerja mereka saat melakukan pemesanan bahan baku sehingga lama pengiriman barang akan menjadi lebih singkat pula.

Faktor lainnya adalah adanya keselarasan antara strategic purchasing dengan strategi perusahaan. Indikator ini menjadi salah satu indikator yang paling memberikan pengaruh dalam meningkatkan efektivitas strategic purchasing.

Pernyataan tersebut di dapat berdasarkan data lapangan yang ada, yaitu nilai

pengaruh indikator keselarasan strategic purchasing dengan strategi perusahaan

memiliki nilai loading factor yang lebih besar dibandingkan dengan indikator

lainnya, yaitu 0.855. Strategic purchasing yang sesuai dengan strategi perusahaan

seccara garis besar akan memberikan dampak pada pengembangan perusahaan

kedepanya, memberikan nilai lebih pada perusahaan dan meningkatkan performa

perusahaan tersebut, dalam penelitian ini meningkatkan peforma resto dan café di

Surabaya.

(30)

Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Christobal Sanchez dan David (2013) yang menemukan bahwa dengan menerapkan strategic purchasing memberikan pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan sekaligus meningkatkan business performance. Akan tetapi, melalui hasil penelitian ini juga ditemukan faktor-faktor lain yang mempengaruhi firm performance selain dari strategic purchasing antara lain kecepatan proses pemesanan dan pengiriman produk ke tangan konsumen sesuai dengan SOP, produk resto dan café menjawab kebutuhan konsumen dan biaya operasional yang dikeluarkan oleh resto dan café.

4.7.5 Pengaruh Implementation IT Terhadap Firm Performance

Hipotesis kelima (H5) “Terdapat pengaruh antara implementation IT dengan firm performance.” Nilai t-statistic pada hipotesis ini adalah sebesar 1.980 dengan nilai orginial sample estimate sebesar 0.202. Nilai-nilai tersebut dapat diartikan pengaruh implementation IT terhadap firm performance adalah pengaruh yang bersifat positif. Pengaruh positif disini dapat diartikan sebagai salah satu faktor dalam meningkatkan performa perusahaan khususnya pada industri resto dan cafe di Surabaya adalah dengan cara memaksimalkan penggunaan IT di dalam setiap aktivitas purchasing maupun aktivitas lainnya.

Banyak cara untuk memaksimalkan IT di dalam resto dan cafe di Surabaya ini, salah satu caranya adalah dengan menggunakan alat komunikasi yang ada sekarang ini. Penggunaan alat komunikasi seiring dengan kemajuan teknologi sangat membantu perusahaan dalam hal biaya komunikasi. Banyak aplikasi seperti BBM, Line, WhatsApp dan lain-lainnya yang dapat digunakan oleh user dalam menjalin komunikasi dengan supplier mereka. Dengan kemajuan teknologi tersebut maka biaya komunikasi dapat sedikit lebih di tekan dan dapat dialihkan pada biaya lainnya seperti biaya operasional atau biaya produksi.

Selain itu, dengan pahamnya user terhadap software maupun hardware

yang digunakan oleh resto dan cafe dalam aktivitasnya ternyata memberikan

dampak terhadap firm performance. Salah satu dampaknya adalah mempersingkat

proses pengerjaan dan menjadikannya lebih efesiensi. Efesiensi proses kerja ini

sangat membantu resto dan cafe memangkas waktu dan beberapa hal lain yang

(31)

sekiranya dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan memberikan nilai tambah pada resto dan cafe mereka.

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh beberapa peneliti seperti Mukhopadhjay (1996) yang menemukan bahwa penggunaan teknologi informasi pada United States Portal Services memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan. Selain itu, peneliti Mirma (2004) yang menemukan bahwa penggunaan atau pengaplikasian IT pada industri perbankan di Jawa Tengah memiliki dampak positif terhadap kinerja perusahaan dengan memanfaatkan Sumber Daya Manusianya. Sedangkan pada penelitian ini ditemukan bahwa industri resto dan cafe di Surabaya juga memberikan dampak positif dengan mengaplikasikan IT untuk meningkatkan kinerja resto dan cafenya.

Bedanya adalah pada IT yang digunakan lebih pada memanfaatkan teknologi

untuk berkomunikasi dengan supplier dan memadatkan proses aktivitas untuk

memangkas beberapa biaya yang dianggap kurang penting seperti biaya

transportasi untuk cek kualitas atau survey harga.

Referensi

Dokumen terkait

Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah polong bernas per tanaman berbeda antara varietas, dimana jumlah polong bernas yang dihasilkan oleh varietas Kaba dan Wilis dua kali

adalah benar sebagai lembaga yang memiliki kredibilitas dan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan pendidikan masyarakat, dan dianggap layak mengajukan dana bantuan

Komentar atau ungkapan sinis biasanya terlontar jika pemilik watak sinis melihat keberhasilan orang lain, atau kemunculan fenomena yang mengundang kagum banyak

Adapun alasan yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian di SD Negeri Banyuanyar I adalah mengingat sekolah tersebut berfungsi untuk membantu keberhasilan

Pemda - Bojong Depok Baru III Karadenan - Cibinong SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI DEWANTARA.. Terakreditasi B -BAN PT Depdiknas RI

Guna mengatasi kejadian artefak, ada beberapa cara yang dapat dilakukan yakni ; saat dilakukan perekaman EKG sebaiknya bersihkan dada klien dari kotoran dengan menggunakan

No. Penelusuran lebih lanjut atas 93 Kekayaan Intelektual tersebut pada SIMAK BMN dan website https://ki.bppt.go.id menunjukkan bahwa hanya 4 Kekayaan Intelektual yang

Merancang/mengga mbar sistem kontrol sistem AC kendaraan dengan berbagai macam pengendalian sikuit kelistrikan Mengidentifikasi tipe sistem AC dan Komponen sistem AC kendaraan