• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Alat dan Bahan Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "B. Alat dan Bahan Penelitian"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

10

III. MATERI METODE A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan Oktober 2019 di Kandang Percobaan Jatikuwung Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret di Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar dan Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makan Ternak, Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Alat dan Bahan Penelitian 1. Ayam Broiler

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam broiler jantan berumur sehari (Day Old Chick) strain Lohman MB 202 dengan rata rata bobot badan 37 g. Penelitian ini menerapkan 4 perlakuan 7 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 8 ekor sehingga jumlah keseluruhan 224 ekor ayam. Sebanyak 2 ekor ayam untuk setiap ulangan (total 56 ekor) diambil dan dipotong untuk evaluasi karkas.

2. Ransum

Kandungan nutrient bahan pakan dan ransum perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Kandungan nutrien bahan pakan penelitian (% BK)

Bahan Baku Protein

kasar

Metabolisme Energi (kcal/kg)

Kalsium Phospor tersedia

Serat kasar

Lemak kasar

Jagung kuning1) 8,92) 3321 0,02 0,08 2,2 4

Bungkil kedelai1) 41,32) 2216 0,29 0,27 5,3 4,9

Minyak kelapa 0 83305) 0 0 0 0

Bekatul1) 12 2887 0,07 0,22 5,2 10,7

Metionin 0 0 0 0 0 0

Mineral B123) 0 0 48,00 14 0 0

Topmix4) 0 0 32,50 22 0 0

NaCl 0 0 0 0 0 0

Tepung Telur Infertil6)

29,24 5263,622) 0,21 0,18 1,52 27.74 Sumber data : 1) Hartadi et al. (2005), 2) Berdasar Perhitungan Rumus Sibbald (1980) ME = 3951 + (54,4 x LK) – (88,7 x SK) – (40,8 x K. Abu), 3) Label PT Eka Farma, 4) Label PT Medion Bandung, 5) Baiao dan Lara (2005), 6) Hasil Analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2019).

(2)

11

Tabel 3. Susunan dan kandungan nutrien ransum basal starter dan finisher

Bahan Pakan Starter (%) Finisher (%)

Jagung kuning 52,65 51,50

Bekatul 0,00 6,29

Bungkil kedelai 40,00 35,20

Minyak kelapa 5,00 5,00

Metionin 0,15 0,16

Mineral B12 1,80 1,45

Topmix 0,20 0,20

Garam dapur (NaCl) 0,20 0,20

Total 100 100

Kandungan Nutrien

Energi termetabolis (kcal/kg) 3051,41 3088,44

Protein Kasar (%) 21,21 19,88

Serat Kasar (%) 3,28 3,33

Lemak Kasar (%) 4,07 4,46

Kalsium (%) 1,09 0,94

Fosfor (%) 0,43 0,38

*)

Dihitung berdasarkan kandungan nutrien bahan pakan pada tabel 2.

Tabel 4. Susunan dan kandungan nutrien ransum perlakuan fase starter

*)

Komponen Perlakuan

P0 P1 P2 P3

Ransum Basal (%) 100 96 94 92

Ransum Perlakuan

Suplementasi Tepung Telur (%)

0 4 6 8

Kandungan Nutrient

Energi Metabolis (kcal/kg) 3051,41 3139,90 3184,14 3228,38

Protein Kasar (%) 21,21 21,53 21,69 21,80

Serat Kasar (%) 3,28 3,21 3,17 3,14

Lemak Kasar (%) 4,07 5,62 5,49 5,96

Kalsium (%) 1.09 1.05 1.04 1.02

P tersedia (%) 0.43 0.42 0.42 0.41

*)

Dihitung berdasarkan kandungan nutrien bahan pakan pada tabel 2 dan 3.

(3)

12

Tabel 5. Susunan dan kandungan nutrien ransum perlakuan fase finisher*)

Komponen Perlakuan

P0 P1 P2 P3

Ransum Basal (%) 100 96 94 92

Ransum Perlakuan

Suplementasi Tepung Telur (%)

0 4 6 8

Kandungan Nutrient

Energi Metabolis (kcal/kg) 3088.44 3175.45 3218.95 3262.45

Protein Kasar (%) 19.88 20.25 20.44 20.63

Serat Kasar (%) 3.33 3.25 3.22 3.18

Lemak Kasar (%) 4.46 5.39 5.86 6.32

Kalsium (%) 0.90 1.05 1.04 1.02

P tersedia (%) 0.38 0.42 0.42 0.41

*)

Dihitung berdasarkan kandungan nutrien bahan pakan pada tabel 2 dan 3.

3. Kandang

Penelitian ini menggunakan kandang koloni dengan panjang 1 m dan lebar 1,5 m. Peralatan yang digunakan adalah:

a. Tempat pakan dan minum

Tempat pakan dan minum yang digunakan sebanyak 28 buah untuk 8 ekor yang ditempatkan pada setiap petak kandang masing-masing satu buah.

b. Timbangan

Timbangan yang digunakan adalah timbangan digital merk Camry dengan kapasitas 5 kg dengan kepekaan 1 g serta timbangan digital dengan kepekaan 0,01 g untuk menimbang lemak abdominal.

c. Lampu pijar

Lampu pijar 60 watt sebanyak 2 buah yang ditempatkan pada tengan area kandang. Lampu kandang dinyalakan dari jam 5 sore hingga jam 6 pagi.

Lampu ini berfungsi sebagai penghangat dan penerangan pada malam hari.

d. Obat-obatan, vitamin dan vaksin

Vaksin yang diberikan dalam penelitian ini adalah ND B1, ND La Sota

dan Gumboro. Vitamin yang diberikan pada penelitian ini adalah vita stress

dan vita chick.

(4)

13

e. Alat karkasing

Peralatan karkasing meliputi pisau bedah, gunting bedah, talenan, nampan, tissue dan timbangan. Timbangan yang digunakan adalah timbangan digital merk Camry dengan kapasitas 5 kg dengan kepekaan 1 g serta timbangan digital dengan kepekaan 0,01 g untuk menimbang lemak abdominal.

C. Desain Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (P0, P1, P2, P3) dan tujuh ulangan (setiap ulangan terdiri dari delapan ekor ayam sebagai ulangan).

Perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut:

P0: 100% ransum basal + 0% tepung telur infertil P1: 96% ransum basal + 4% tepung telur infertil P2: 94% ransum basal + 6% tepung telur infertil P3: 92% ransum basal + 8% tepung telur infertil

D. Metode Penelitian 1. Tahap persiapan

Tahap persiapan meliputi pembuatan kandang koloni yang akan digunakan, melakukan desinfektan dan pengapuran terhadap kandang. Pencucian peralatan seperti tempat pakan dan tempat minum dilakukan dengan merendamnya dalam larutan desinfektan dengan dosis 12,5 ml per 1 liter air dan mengeringkannya dibawah sinar matahari.

2. Persiapan ayam

DOC yang baru datang ditimbang secara sampling dan setelah itu dimasukkan ke dalam brooder selama 10 hari. Fungsi brooding adalah untuk menyediakan lingkungan yang nyaman agar DOC tumbuh secara optimal. Setelah 10 hari ayam dipindahkan ke kandang postal dengan masing masing petak berisi 8 ekor ayam.

3. Penentuan petak kandang

Penentuan petak kandang dilakukan secara acak menggunakan 28 petak

kandang. Kandang kemudian diberikan identitas atau penomoran berdasarkan

perlakuan dan ulangan untuk memudahkan dalam pengamatan.

(5)

14

4. Pembuatan ransum

Pakan penelitian disusun dan diformulasi secara manual dimulai dari proporsi bahan pakan terbesar disusun terlebih dahulu kemudian dicampurkan dengan proporsi bahan pakan terkecil sehingga membentuk lapisan per bahan pakan dan dicampur sampai homogen. Pembuatan tepung telur infertil dilakukan dengan cara telur infertil diambil bagian putih telur dan kuning telurnya sebanyak 1 kg, kemudian dicampur dengan 10 g tepung gandum serta 10 g minyak, diaduk hingga homogen kemudian dioven pada suhu 64℃ dan dikeringkan dengan sinar matahari hingga tak terasa basah baru kemudian digiling menjadi tepung (Mahmud et al., 2015).

5. Tahap perlakuan

Masa adaptasi ayam dilakukan pada umur 1-10 hari sebelum pengambilan data. Selama adaptasi ayam diberikan ransum BR1 dari PT. Japfa Comfeed sebanyak dua kali dalam sehari. Pengadaan air minum selama pemeliharaan diberikan secara ad libitum. Selama adaptasi ayam diletakkan pada brooder dan diberi pemanas serta lampu untuk menjaga suhu agar tetap hangat. Pakan perlakuan mulai diberikan pada umur 11 hari setelah lepas dari brooder. Ayam broiler pada tahap perlakuan diberikan ransum sesuai dengan kode perlakuannya. Pemberian ransum dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari yaitu pagi pada jam 07.00 WIB dan sore hari pukul 14.30 WIB. Pencahayaan kandang pada pukul 06.00 hingga 17.00 menggunakan cahaya matahari, sedangkan pada pukul 18.00 hingga 06.00 menggunakan lampu pijar (60 watt) sebanyak 2 buah (Renden et al., 1996).

6. Tahap penyembelihan

Penyembelihan dilakukan pada saat ayam broiler berumur 5 minggu.

Penyembelihan menggunakan sampel sebanyak 2 ekor setiap ulangan sehingga keseluruhan ayam broiler yang dipotong berjumlah 56 ekor. Penyembelihan ayam broiler mulai dengan pemuasaan selama 12 jam untuk mengosongkan makanan dalam saluran pencernaan. Ayam diistirahatkan sekitar 30 menit sebelum dipotong tergantung iklim, jarak dari asal ayam dengan rumah potong dan jenis transportasi.

Pengistirahatan dimaksudkan agar ayam tidak stres, darah dapat keluar sebanyak

mungkin saat dipotong dan cukup energi sehingga proses rigor mortis berlangsung

secara sempurna (Soeparno, 2005).

(6)

15

Proses penyembelihan ayam broiler dilakukan dengan memotong arteri carotis, vena jugularis, trachea, dan oeashopagus. Setelah proses penyembelihan selesai dilanjutkan dengan perendaman dan pencabutan bulu (scalding). Proses pencabutan bulu sangat dipengaruhi oleh temperatur air rendaman. Perendaman air hangat (scalding) dilakukan pada suhu 52,7

o

C selama 60 detik atau disebut juga dengan semi scalding (Soeparno, 2005).

7. Pengeluaran jeroan

Eviserasi merupakan proses pengeluaran organ dalam pada ayam setelah disembelih (Tumanggor, 2020). Pemengambilan lemak perut (abdominal) dilakukan sebelum pengeluaran organ dalam dan ditimbang menggunakan timbangan analitik.

8. Karkasing

Karkasing merupakan proses parting karkas ayam broiler menjadi 8 bagian.

Dimulai dari memotong bagian sayap, paha atas (thigh), paha bawah (drumstick) dan dada.

E. Peubah Penelitian 1. Bobot potong

Bobot potong (g) diperoleh dari hasil penimbangan ayam sebelum dipotong dan setelah dipuasakan selama 9 jam. Penimbangan ayam dilakukan pada akhir penelitian untuk mengetahui berat badan akhir. Berat potong sangat erat kaitannya dengan berat badan akhir, bahwa berat potong yang didapat setara dengan berat akhir, semakin tinggi berat akhir maka tinggi pula berat potong yang didapat (Jaelani et al., 2014).

2. Bobot karkas

Bobot karkas diperoleh dengan menimbang ternak yang telah dipotong yang telah dikurangi bagian bulu, kepala, leher, kaki sebatas sendi antara ceker dan paha bawah dan organ dalam (viscera) (Sibarani, 2014). Karkas dapat dibagi menjadi 8 bagian yaitu 2 paha bawah, 2 paha atas, 2 sayap, bagian dada dan bagian punggung (Genchev, 2008).

3. Persentase karkas

Menurut Soeparno (1994), berat karkas ayam broiler dapat diperoleh

dengan cara memisahkan kaki, kepala, bulu dan mengeluarkan organ dalam serta

(7)

16

darah kemudian menimbangnya. Persentase bobot karkas diperoleh dari membagi bobot karkas ayam dengan bobot potong kemudian dikalikan seratus persen (Sembiring dan Tri, 2005).

Persentase karkas =

Bobot karkas

Bobot potong

x100%

4. Lemak abdominal

Pengukuran bobot lemak abdominal dilakukan dengan cara menimbang lemak yang didapat dari lemak yang berada pada sekeliling gizzard dan lapisan yang menempel antara otot abdomen serta usus dan selanjutnya ditimbang.

Persentase lemak abdomen diperoleh dengan membandingkan bobot lemak abdomen dengan bobot hidup dikalikan dengan seratus persen (Witantra, 2011)

Persentase Lemak Abdominal =

Bobot lemak abdomen (g)

Bobot hidup (g)

x 100%

F. Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis variansi berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati. Model matematika yang digunakan adalah sebagai berikut:

Yij = µ + τi + εij Keterangan:

Yij = nilai pengamatan pada penggunaan tepung telur infertil ke-i ulangan ke-j µ = Nilai tengah kualitas karkas ayam broiler

ti = Pengaruh perlakuan ayam broiler dengan penggunaan ransum tepung telur infertil ke-i terhadap kualitas karkas ayam broiler

€ij = kesalahan (galat) percobaan pada perlakuan ke-i ulangan ke-j

Apabila hasil analisis data yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak

Berganda Duncan’s (Duncan’s Multiple Range Test/DMRT) untuk mengetahui

perbedaan antara empat perlakuan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari serangkaian percobaan dapat disimpulkan bahwa spesfifikasi teknis hasil rancang bangun antena rectangular microstrip slot telah memenuhi persyaratan teknis untuk

Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997) membedakan simpang atas simpang bersinyal ( traffic signal ) dan simpang tak bersinyal ( non traffic signal ). Simpang tak

PcngatLiran Gizi Seimbang Bagi Penderita Hipertensi (Cerika Rismayanthi)... Pengaturan Gizi Seimbang Bagi Penderita Hipertensi

Kesimpulan hasil penelitian yang telah dilakukan atas variabel Persepsi Peran Etika dan Tanggung Jawab Sosial, Sifat Machiavellian, dan Preferensi Risiko, dan

Posisi Bakpia Pathok 25 berdekatan dengan Bakpia 75 dari segi atribut variasi rasa karena dinilai memiliki variasi rasa yang sedikit oleh konsumen.. Secara keseluruhan Bakpia

Penelitian ini menggunakan metode desain, realisasi kemudian diimplentasikan dan dilakukan pengujian dan pengukuran sehingga menghasilkan suatu Antena Bowtie pada

Pendekatan fenomenologi menggunakan pola pikir subjektivisme yang tidak hanya memandang masalah dari suatu gejala yang tampak, akan tetapi juga berusaha menggali makna

Pegadaian (Persero) cabang Gorontalo Utara telah melaksanakan pengelolaan terhadap para karyawannya dengan baik, dimana manajemen perusahaan mampu untuk melakukan pembinaan dalam