• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Tempe adalah warisan budaya Indonesia yang saat ini juga populer di dunia.

Tidak seperti makanan kedelai tradisional lainnya yang biasanya berasal dari China dan Jepang, tempe asli berasal dari Indonesia (Huang, 2000). Tempe merupakan produk fermentasi kedelai oleh Rhizopus, terutama Rhizopus oligosporus dan melibatkan mikroorganisme lainnya (Huang, 2000). Tempe adalah makanan yang sangat cepat pertumbuhannya di Indonesia karena adanya nutrisi yang sangat tinggi dalam makanan yang sangat dibutuhkan manusia.

Menurut data Survei Ekonomi Nasional (2015), tempe dikonsumsi oleh 32,1%

rumah tangga di Indonesia, sedangkan tahu dikonsumsi sebesar 32,6%. Sehingga tempe merupakan makanan berbahan dasar tempe ke-2 terbesar di Indonesia.

Tempe adalah produk fermentasi oleh Rhizopus Sp., Khususnya Rhizopus oligoporus yang melibatkan mikroorganisme lain seperti bakteri dan ragi (Azeke, dkk. 2007). Berdasarkan proses produksi, lantai produksi pada produksi tempe dibagi menjadi 2 area, yaitu area kering dan area basah. Area basah terdiri dari pemilahan, perebusan, perendaman, pembelahan, pemisahan kulit, pemisahan tunas dan pencucian. Sedangkan daerah kering terdiri dari pengeringan, peragian, dan packaging. Ada perbedaan yang signifikan antara area kering dan area basah, yaitu area basah membutuhkan banyak air untuk menyelesaikan proses di setiap area kerja, dan area kering merupakan area dimana pekerjaan tidak membutuhkan bantuan air. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap user dari Rumah Tempe Indonesia, dibutuhkan pengurangan waktu siklus pada area basah karena berdampak terhadap pengunaan air dan biaya dari penggunaan listrik.

Area basah adalah area yang melibatkan air untuk melakukan setiap aktivitas produksi. Proses pertama di daerah basah adalah proses perendaman kedelai selama 24 jam sehingga kandungan air akan meningkat sekitar 62% - 65%.

Setelah itu, butiran kedelai akan di pecah menjadi 2 bagian dalam proses pembelahan kemudian kulit kedelai akan dipisahkan dalam proses pemisahan kulit

(2)

dengan media air. Akhir dari area basah adalah proses pencucian dengan menggunakan air panas yang sebelumnya dilakukan pembuangan tunas kacang kedelai terlebih dahulu. Pembagian area pada proses pembuatan tempe dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Flow Chart dari Produksi Tempe (Rumah Tempe Indonesia, 2017) Area pemisahan kulit merupakan area yang bertujuan untuk memisahkan kulit dengan kacang kedelai. Pada area ini, operator memisahkan kulit ari kedelai dengan cara menempatkan kacang kedelai dan air dalam sebuah tabung lalu air tersebut diputar dengan kecepatan putaran 60 rpm menggunakan ayakan.

Setelah itu, kulit akan naik ke permukaan air, lalu operator akan mengarahkan ayakan untuk menangkap kulit yang ada di permukaan air dan mengumpulkannya di ayakan. Proses pemisahan kulit kedelai dapat dilihat pada Gambar 1.2. Setelah kacang kedelai dipisahkan dari kulitnya, selanjutnya kacang akan masuk ke area pemisahan tunas dan pencucian.

Gambar 1.2 Proses pemisahan kulit ari kedelai

(3)

Waktu siklus merupakan faktor yang utama dalam meningkatkan produktivitas dari produksi tempe, karena waktu yang dibutuhkan di area basah sangat lama yaitu 115,7 menit. Setelah dilakukan perhitungan waktu siklus di area basah dengan 3 area kerja, yaitu area pemisahan kulit, area pemisahan tunas, dan area pengadukan, didapatkan bahwa area pemisahan kulit merupakan area kerja yang memiliki waktu siklus terbesar yaitu 45,59 menit untuk satu siklus produksi.

Sedangkan area pemisahan tunas memiliki waktu siklus sebesar 21,23 menit dengan empat elemen kerja dan area pengadukan memiliki waktu siklus sebesar 43,62 menit. Dari ketiga proses tersebut, seorang operator membutuhkan waktu jeda sesuai dengan kebutuhannya. Rekap perhitungan waktu siklus pada area basah dapat dilihat pada Tabel 1.1. Dengan waktu siklus yang demikian, besarnya volume air yang dibutuhkan dan biaya listrik untuk produksi tempe yaitu 1.836,9 liter dan Rp 47.659,-/bulan.

Tabel 1.1 Waktu siklus pada area basah No Area Kerja Waktu Siklus

(menit) Persentase 1 Pemisahan Kulit 45,59 39%

2 Pemisahan Tunas 21,23 18%

3 Pengadukan 43,62 38%

4 Jeda 5,34 5%

Total 115,77

Dalam proses pemisahan kulit, waktu siklus merupakan faktor yang paling besar, sehingga dibutuhkan efisiensi waktu siklus pada proses ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengurangi waktu siklus dengan mengembangkan alat produksi melalui analisis terhadap elemen kerja sehingga akan berdampak pada penggunaan air dan biaya listrik di area basah. Metode reverse engineering adalah salah satu metode untuk mengembangakan produk khususnya untuk melakukan perancangan ulang sebuah produk dengan pertimbangan user needs (Hadid, 2017). Pada penelitian yang dilakukan oleh Hadid (2017), reverse engineering dimulai dengan cara pencarian user needs. Pencarian ini dilakukan dengan cara wawancara, yang kesimpulanya adalah dibutuhkannya perancangan ulang bak penampung bahan pakan ternak sehingga resiko kerja dapat dikurangi. Dalam penelitian tersebut, rancangan produk baru dihasilkan dari tabel morfologi yang di

(4)

seleksi oleh concept scoring dan screening sehingga menghasilkan rancangan yang memiliki nilai resiko kerja lebih rendah daripada proses eksisting.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Fahruddin (2017), proses pencarian user needs dilakukan dengan cara wawancara. Hasil wawancara menunjukan dibutuhkannya otomasi pada proses punching kartu jacquard agar operator dapat diberdayakan pada area kerja lain. Setelah didapatkan user needs, selanjutnya dilakukan dekomposisi produk dan penambahan fitur berdasarkan user needs.

Setelah itu dilakukan pemilihan konsep terbaik dengan concept scoring dan screening, sehingga didapatkan sebuah rancangan baru yang dapat mengurangi peran operator dan berdampak pada pengurangan waktu siklus. Dengan reverse engineering, proses yang selama ini digunakan dalam proses perancangan dan pembuatan suatu produk bisa dibalik sehingga model rancangan didapatkan dari physical part (Tjandra, dkk. 2012)

Berdasarkan penjelasan diatas, maka penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode reverse engineering dengan tahap wawancara untuk menentukan user needs dan pemilihan konsep terbaik akan dilakukan dengan concept scoring dan screening. Metode reverse engineering digunakan untuk produk yang telah ada untuk dikembangkan sesuai kebutuhan (Nadhra, 2016).

Dengan pengunaan metode reverse engineering, maka penelitian ini akan menghasilkan sebuah rancangan baru dari wadah pemisah kulit kedelai sehingga waktu siklus dapat lebih cepat dibandingkan dengan proses kerja eksisting.

I.2 Rumusan Masalah

Pada bagian ini rumusan penelitian diuraikan dalam pertanyaan penelitian.

Rumusan masalahnya adalah: Bagaimana rancangan wadah pemisah kulit ari kedelai untuk mengurangi waktu siklus pada produksi tempe di Rumah Tempe Indonesia, Bogor?

I.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, dapat ditentukan tujuan dari penelitian ini adalah usulan rancangan wadah pemisah kulit ari kedelai untuk mengurangi waktu siklus pada produksi tempe di Rumah Tempe Indonesia, Bogor.

(5)

I.4 Batasan Penelitian

Penelitian ini memiliki batasan yang akan menjadi fokus pada penelitian ini.

Adapun Batasan-batasannya adalah sebagai berikut:

1. Penelitian hanya dilakukan di Rumah Tempe Indonesia (RTI), Bogor.

2. Keluaran dari pengembangan produk ini berupa prototipe yang hanya dilakukan satu kali pengujian di Rumah Tempe Indonesia.

I.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat penelitian untuk penulis adalah; untuk menerapkan pengetahuan tentang pengembangan produk yang telah dipelajari ke dalam kehidupan nyata dan dapat mengevaluasi kelebihan dan kekurangan pengembangan produk yang dilakukan oleh penulis.

2. Manfaat untuk Rumah Tempe Indonesia, Bogor adalah; perusahaan dapat menggunakan wadah pemisah kulit ari kedelai yang dikembangkan sehingga dapat mengurangi waktu siklus.

3. Manfaat bagi pengusaha tempe di Indonesia adalah; Semua pengusaha tempe dapat menggunakan pengembangan wadah pemisah kulit ari kedelai sebagai alat untuk mengurangi waktu siklus pada produksi tempe di Indonesia.

I.6 Sistematika Penulisan

Penelitian ini dijelaskan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Pada bab ini berisi penjelasan latar belakang dalam penelitian ini dimana masalah proses pemisahan kulit menghabiskan banyak waktu dan energi. Penelitian dilakukan di Rumah Tempe Indonesia (RTI) untuk mengurangi waktu siklus pada produksi tempe. Kemudian dilanjutkan dengan perumusan masalah yang menjadi acuan penulis dalam membuat tujuan penelitian untuk merancang wadah pemisah kedelai, dengan Batasan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

(6)

BAB II Landasan Teori

Dalam bab ini berisi uraian tentang literatur atau teori-teori yang sesuai dengan metode penelitian reverse engineering untuk mengembangkan wadah pemisah kedelai, proses produksi tempe, standarisasi kandungan yang terdapat dalam tempe, dan referensi dari penelitian yang telah dilakukan..

BAB III Metode Penelitian

Dalam bab ini berisi langkah-langkah penelitian secara rinci.

Langkah-langkah yang diambil meliputi: mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis penelitian, melakukan pengambilan data, identifikasi kebutuhan pengguna dan pengolahan, melakukan uji usulan produk, dan diakhiri dengan membuat kesimpulan dan saran untuk perbaikan di masa depan.

BAB IV Pengumpulan dan Pengolahan Data

Pada bab ini berisi tentang bagaimana penulis mengolah data menggunakan metode yang telah ditentukan, dengan menampilkan hasil data yang diperoleh dari perusahaan, maka data akan dianalisis untuk mendapatkan desain terbaik dan konsep disain alternatif. Setelah itu konsep dibuat sesuai standar yang ada dan dilakukan pengujian.

BAB V Analisis

Bab ini berisi analisis hasil pengolahan data dari Bab IV tentang perancangan alat bantu produksi dan perbandingan waktu siklus setelah dan sebelum menggunakan wadah pemisah kulit ari kedelai.

BAB VI Kesimpulan dan Saran

Pada bab ini akan diberikan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, beserta saran yang diberikan kepada perusahaan sebagai studi untuk perbaikan dan penelitian di masa depan.

Gambar

Gambar 1.1 Flow Chart dari Produksi Tempe (Rumah Tempe Indonesia, 2017)  Area pemisahan kulit merupakan area yang bertujuan untuk memisahkan kulit  dengan  kacang  kedelai
Tabel 1.1 Waktu siklus pada area basah  No  Area Kerja  Waktu Siklus

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

Sehubungan dengan Surat Penawaran Saudara pada Paket Pekerjaan Pengadaan Bahan Bangunan di Kecamatan Sei Menggaris pada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan

Diisi dengan bidang ilmu yang ditekuni dosen yang bersangkutan pada

[r]

Hasil penelitian untuk faktor permintaan secara simultan ada pengaruh nyata antara tingkat pendapatan, selera, jumlah tanggungan dan harapan masa yang akan datang

Jenis pengendap juga berpengaruh terhadap rendemen karaginan yang dihasilkan,rendemen yang dihasilkan dengan pengendap jenis etanol lebih besar dibanding pengendap jenis

Variabel reliability (X 2 ), yang meliputi indikator petugas memberikan pelayanan yang tepat, petugas memberikan pelayanan yang cepat, petugas memberikan pelayanan