• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK ANALISIS HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCABULAN ANAK YANG DILAKUKAN SECARA BERLANJUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRAK ANALISIS HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCABULAN ANAK YANG DILAKUKAN SECARA BERLANJUT"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

ANAK YANG DILAKUKAN SECARA BERLANJUT

(PutusanPengadilanNegeriLubukPakamNomor 1162/Pid.B/2018/PN Lbp) Ricky SusantoPangaribuan*

YasmirahMandasariSaragih. S.H, M.H**

SuciRamadani, S.H., M.H**

Anak adalah penerus cita-cita perjuangan suatu bangsa. Selain itu, anak merupakan harapan orang tua, harapan bangsa dan negara yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan serta memiliki peran strategis, mempunyai ciri atau sifat khusus yang akan menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.Pencabulan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang didorong oleh keinginan seksual untuk melakukan hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu, sehingga menimbulkan kepuasan pada dirinya. Berdasarkan hal ini maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Pengaturan Hukum Tindak Pidana Pencabulan Anak Dibawah Umur Di Indonesia, Tinjauan umum mengenai perbuatan tindak pidana pencabulan anak dibawah umur, Penerapan Hukum Pidana Pada Pelaku Pencabul Terhadap Anak Dibawah Umur Pada Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Dengan Nomor Perkara 1162/Pid. B/2018/PnLbp

Sifat penelitian ini adalah deskriptif, dengan menggunakan tipe penelitian kuantitatif, dan menggunakan jenis penelitian normatif, adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian pustaka dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah primer dan sekunder.

HasilpenelitianmenunjukanbahwaPengaturanhukumtentangtindakpidanapencabulan anak (sodomi) dibawahumur, antara lain: a) KitabUndang-UndangHukumPidana (KUHP) Pasal 289, 290, 292, 293, 294, 295 dan 296tentangpencabulan. b) Undang- UndangNomor 35 Tahun 2014 TentangPerubahanAtasUndang-UndangNomor 23 Tahun 2002 tentangPerlindunganAnak

Ada pun kesimpulan agar para masyarakat dan orang tua pada khususnya lebih waspada dalam perhatian dan penjagaan anak-anaknya agar tidak ikut menjadi korban dari sebuah tindak pidana pencabulan anak dibawah umur, dengan memberikan pengatahuan dan pembelajaran yang sesuai dan yang benar.dan Hendaknya pihak aparat penegak hukum lebih mengutamakan hak-hak korban tindak pidana pencabulan dengan memberikan hukuman yang seberat-beratnya mengingat akibat tersebut sangat besar bagi korban dan umumnya bagi masyarakat.

Kata Kunci :Analisis Hukum, Tindak Pidana Pencabulan, Anak Secara Berlanjut.

*MahasiswaFakultasSosialSains Prodi IlmuHukum UNPAB Medan

**DosenPembimbing I & II FakultasSosialSains Prodi IlmuHukum UNPAB Medan

(3)

v

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Keaslian Penelitian ... 6

F. Tinjauan Pustaka ... 11

G. Metode Penelitian ... 15

H. Sistematika Penulisan... 17

BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG TINDAK PIDANA PENCABULAN ANAK ... 19

A. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) ... 19

B. Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak. ... 21

C. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban ... 23

BAB III TINJAUAN UMUM TINDAK PIDANA PENCABULAN TERHADAP ANAK... 27

(4)

vi

C. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Pencabulan Terhadap

Anak ... 32

BAB IV ANALISIS HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCABULAN ANAK YANG DILAKUKAN SECARA BERLANJUT PADA PUTUSAN PENGADILAN NEGERI LUBUK PAKAM DENGAN NOMOR PERKARA 1162/PID. B/2018/PN LBP ... 39

A. Kasus Posisi ... 39

B. Dasar Hukum Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Dalam Menjatuhkan Putusan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencabulan Anak Yang Dilakukan Secara Berlanjut Pada Putusan Perkara Pidana Nomor 1162/Pid.B/2018/PN Lbp ... 45

C. Legal Opini Penganalisis Putusan Hakim Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dengan Nomor Perkara 1162/Pid.B/2018/PN Lbp ... 54

BAB V PENUTUP ... 58

A. Kesimpulan ... 58

B. Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 63 LAMPIRAN ...

(5)

1 A. Latar Belakang

Dalam konteks Indonesia, anak adalah penerus cita-cita perjuangan suatu bangsa.

Selain itu, anak merupakan harapan orang tua, harapan bangsa dan negara yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan serta memiliki peran strategis, mempunyai ciri atau sifat khusus yang akan menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Oleh karena itu, setiap anak harus mendapatkan pembinaan sejak dini, anak perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial. Terlebih lagi bahwa masa kanak-kanak merupakan periode pembentukan watak, kepribadian dan karakter diri seorang manusia, agar kehidupan mereka memiliki kekuatan dan kemampuan serta berdiri tegar dalam meneliti kehidupan.1

Kejahatan sebagai salah satu bentuk tingkah laku manusia yang sangat merugikan masyarakat, karena mengancam norma-norma yang mendasari kehidupan atau keteraturan sosial dapat menimbulkan ketegangan individual, maupun ketegangan- ketegangan sosial. Alasan pengakuan terhadap eksistensi kejahatan tersebut karena kejahatan merupakan bentuk tingkah laku manusia yang sangat merugikan masyarakat, seperti kejahatan kesusilaan yang meliputi pemerkosaan, pencabulan, pelecehan seksual dan lain-lain. Kejahatan kesusilaan (misdrijven tegen de zeden) merupakan kejahatan

1 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2009, hal. 1.

(6)

yang cukup mendapat perhatian dikalangan masyarakat, terlihat dari seringnya diberitakan tindak pidana pemerkosaan dan pencabulan di media-media elektronik dan cetak.

Perkembangan teknologi yang demikian pesat menimbulkan problem baru bagi pembentuk Undang-undang tentang bagaimana caranya melindungi masyarakat secara efektif dan efesien terhadap bahaya penurunan moral bangsa akibat arus globalisasi (demorilisasi) sebagai akibat dari masuknya pandangan dan kebiasaan budaya barat mengenai kehidupan seksual di negara masing-masing. Masuknya pandangan dan kebiasaan budaya barat ke Indonesia, dapat menimbulkan masalah bagi pemerintah dalam usahanya untuk memelihara keamanan umum dan mempertahankan ketertiban umum dalam masyarakat yang tidak mungkin dapat mempengaruhi secara negatif usaha bangsa Indonesia dalam memelihara ketahanan Nasional mereka.2

Salah satu bentuk tindak pidana yang sangat mengganggu keamanan dan ketertiban hidup masyarakat yakni tindak pidana pencabulan. Pencabulan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang didorong oleh keinginan seksual untuk melakukan hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu, sehingga menimbulkan kepuasan pada dirinya. Tindak pidana pencabulan terus berkembang hingga sekarang.

Pencabulan terhadap orang yang tidak berdaya seperti anak, baik pria maupun wanita, merupakan salah satu masalah sosial yang sangat meresahkan masyarakat. Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih

2 P.A.F Lamintang dan Theo Lamintang, Delik-delik Khusus Melanggar Norma Kesusilaan dan Norma Kepatuhan, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, hal. 1.

(7)

dalam kandungan. Anak adalah bagian dari generasi penerus yang akan datang, baik buruknya masa depan bangsa tergantung pada baik buruknya kondisi anak tersebut.3

Anak adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, di mana kata “anak”

merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa. Menurut psikologi, anak adalah periode perkembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun sekolah dasar. Walaupun begitu istilah ini juga sering merujuk pada perkembangan mental seseorang, walaupun usianya secara biologis dan kronologis seseorang sudah termasuk dewasa, namun apabila perkembangan mentalnya ataukah urutan umurnya maka seseorang dapat saja diasosiasikan dengan istilah “anak”.4

Pencabulan merupakan suatu tindak kejahatan yang sangat keji, amoral, tercela dan melanggar norma dimana yang menjadi korban adalah perempuan baik dewasa maupun anak di bawah umur. Pencabulan termasuk dalam penggolongan jenis tindak pidana kesusilaan dimana hal tersebut diatur dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 290 ayat (2) dan (3) yaitu:

“Dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun,

(2) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin;

3 M Nasir Djamil, Anak Bukan Untuk di Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hal. 11.

4 Mohammad Taufik Makarao, Weny Bukamo, dan Syaiful Azri, Hukum Perlindungan Anak dan Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga , PT Rineka Cipta, Jakarta, 2013, hal. 15-16.

(8)

(3) Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.”

Pengadilan sebagai pilar utama dalam penegakan hukum dan keadilan serta proses pembangunan peradaban bangsa. Tegaknya hukum dan keadilan serta penghormatan terhadap keluhuran nilai kemanusiaan menjadi prasyarat tegaknya martabat dan integritas negara. Dan hakim sebagai aktor utama atau figur sentral dalam proses peradilan senantiasa dituntut untuk mengasah kepekaan nurani, memelihara integritas, kecerdasan moral dan meningkatkan profesionalisme dalam menegakan hukum dan keadilan bagi masyarakat banyak. Wewenang dan tugas hakim yang sangat besar menuntut tanggung jawab yang tinggi, sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” menunjukan kewajiban menegakan hukum, kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia, dan secara vertikal dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.5

Kaitannya dengan tindak pidana Pencabulan Anak di Bawah Umur terdapat pada Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 1162/Pid.B/2018/PN Lbp. Dalam perkara tersebut telah terjadi perbuatan pencabulan yang berakhir pada persetubuhan yang dilakukan oleh terdakwa Ebneezer Tarigan yang membujuk korbannya yaitu seseorang anak perempuan bernama Tia Novita Br Sembiring dengan alasan akan bertanggungjawab terhadap tindakan pencabulan yang dilakukan terdakwa Ebneezer kepada korban. Oleh karenanya perbuatan terdakwa terbukti memenuhi dakwaan pada

5 Jimly Asshidiqie, Pradilan Etika dan Etika Konstitusi, Sinar Grafika, Jakarta, 2014, hal. 158.

(9)

Pasal 293 Kitab Undang–undang Hukum Pidana (KUHP) Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP dalam Dakwaan Tunggal dan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ebenezer Tarigan dengan pidana Penjara selama 2 (dua) Tahun dan 6 (enam) Bulan penajara.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan menungkannya dalam bentuk Skripsi dengan Judul: “ANALISIS HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCABULAN ANAK DI YANG DILAKUKAN SECARA BERLANJUT (Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 1162/Pid.B/2018/PN Lbp)”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar belakang yang telah di uraikan di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Pengaturan Hukum Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak ? 2. Bagaimana Tinjauan Umum Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak ?

3. Bagaimana Analisis Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencabulan Anak Dalam Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dengan Nomor Perkara 1162/Pid.B/2018/Pn.Lbp. ?

C. Tujuan Penelitian

1. Menganalisis Pengaturan Hukum Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak 2. Tinjauan Umum Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak

(10)

3. Bagaimana Analisis Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencabulan Anak Dalam Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dengan Nomor Perkara 1162/Pid.B/2018/Pn.Lbp.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Akademik

Manfaat akademik merupakan syarat dalam menyelesaikan program Pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Pembangunan Panca Budi Medan.

2. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis bersifat pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan serta meningkatkan mutu pengetahuan.

3. Manfaat Praktis

Manfaat praktis diharapkan dapat diambil oleh pembuat kebijakan hukum dan masyarakat secara keseluruhan, yang artinya bahwah penelitian dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran dan informasi tentang keaslian penelitian yang dilakukan, belum ada penelitian secara spesifik mengenai Analisis Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencabulan Anak Yang dilakukan secara Berlanjut, namun ada beberapa penelitian yang mendekati judul dan rumusan masalah, antara lain:

(11)

1. Febrianty Br. Naibaho,6 UNPAB Npm: 131600146, dengan judul skripsi,

“Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Anak (Analisis Putusan No. 1840/Pid.B/2014/PN.Mdn”), dengan rumusan masalah:

1) Apakah Faktor Penyebab Pelaku Melakukan Kejahatan Seksual Terhadap Anak.?

2) Bagaimana Sanksi Pidana Bagi Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Anak.?

3) Bagaimana Pertimbangan Hukum Majelis Hakim dalam Putusan Nomor 1840/Pid.B/2014/PN.Mdn.?

Dengan Kesimpulan Skripsi yaitu:

1) Faktor penyebab terjadinya tindak pidana pencabulan yakni faktor pendidikan yang rendah, faktor ekonomi yang rendah, dan faktor biologis si pelaku

2) Tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau bujuk rayu demi memenuhi hasrat seksual pelaku terhadap anak yang menjadi korbannya dalam hal ini pelaku dapat diancam dengan pasal 81 ayat (2) yaitu minimal 3 (tiga) tahun penjara dan maksimal 15 (lima belas) tahun penjara.

3) Putusan hakim menjatuhkan pidana penjara selama 12 (dua belas) tahun dan denda sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah),

6 Febrianty Br. Naibaho, Skripsi, Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Anak (Analisis Putusan No. 1840/Pid.B/2014/PN.Mdn”),UNPAB, Medan, 2018.

(12)

dengan ketentuan jika denda tidak dibayar maka digantikan dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan, belum tepat karena bahwa pertimbangan pada alasan ini tidak dapat dinilai sebagai alasan yang dapat dibenarkan.

2. Lukas Sinulingga,7 UNPAB, Npm: 1216000087, dengan judul skripsi,

“Penerapan sanksi Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencabulan Anak Berdasarkan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindugan Anak (Analisis Putusan Nomor 229/Pid.Sus/2015/PN.Bnj)”, dengan rumusan masalah yaitu:

1) Bagaimana faktor penyebab terjadinya tindak pidana pencabulan terhadap anak.?

2) Bagaimana tindak pidana dan sanksi pidana pencabulan terhadap anak di bawah umur dalam Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.?

3) Bagaimana penerapan sanksi terhadap pelaku pencabulan anak (Putusan Nomor 229/Pid.Sus/2015/PN.Bnj).?

Dengan Kesimpulan skripsi yaitu :

1) Faktor penyebab pelaku melakukan kejahatan seksual terhadap anak terdiri dari 2 (dua) faktor yakni faktor intern yang berasal dari dalam diri si pelaku yang meliputi faktor kejiwaan, bioogis, dan moralitas si

7 Lukas Sinulingga, Skripsi, Penerapan sanksi Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencabulan Anak Berdasarkan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindugan Anak (Analisis Putusan Nomor 229/Pid.Sus/2015/PN.Bnj), UNPAB, Medan, 2017.

(13)

pelaku dan faktor ekstern yaitu faktor yang berasal dari luar diri si pelaku yaitu faktor pergaulan bebas yang berkembang dikalangan remaja dan penyimpangan budaya.

2) Sanksi pidana yang diberikan kepada pelaku kejahatan terhadap anak adalah sanksi pidana yang diatur dalam pasal 10 KUHP, yang terdiri dari pidana pokok dan tambahan.

3) Pertimbangan hukum majelis hakim dalam putusan nomor 229/Pid.Sus/2015/PN.Bnj, pertama hakim harus mempertimbangkan kemampuan bertanggungjawab dari si pelaku, kemudian majelis hakim mempertimbangkan unsur-unsur pidana yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap terdakwa, yang dalam hal ini adalah unur pidana pasal 81 ayat (2) undang-undang Perlindungan Anak.

3. Hartati Silitonga,8 UNPAB, Npm: 1416000230, dengan judul skripsi,

“Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Pencabulan Terhadap Anak (Analisis Putusan Nomor: 580/Pid.Sus/2016/PN.Stb)”, dengan rumusan masalah yaitu:

1) Apa faktor penyebab terjadinya pencabulan terhadap anak.?

2) Bagaimana pengaturan hukum positif tindak pidana pencabulan terhadap anak.?

3) Bagaimana analisis putusan perkara pidana Nomor 580/Pid.Sus/2016/PN.Stb.?

8 Hartati Sinulingga, Skripsi, Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Pencabulan Terhadap Anak (Analisis Putusan Nomor: 580/Pid.Sus/2016/PN.Stb), UNPAB, Medan, 2017.

(14)

Dengan kesimpulan skripsi yaitu:

1) Faktor penyebab terjadinya pencabulan terhadap anak disebabkan karena lemahnya kontrol diri, lemahnya kondisi psikologis seseorang, lemahnya ekonomi dan serta lingkungan sosial seperti adanya kesempatan.

2) Sanksi pidana pelaku pencabulan terhadap anak terdapat dalam pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak yang berbunyii sebagai berikut: Setiap oramg yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banya Rp.

5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)

3) Berdasarkan analisis putusan Nomor 580/Pid.Sus/2016/PN.Stb, majelis hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Adapun hal-hal yang memberatkan terdakwa, yaitu perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan melanggar norma-norma baik agama maupun kesusilaan dan perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah yang sedang giatnya menghapus tindak pidana terhadap anak.

Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas, maka penelitian hukum dengan judul,

“Analisis Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencabulan Anak Di Bawah Umur

(15)

(Analisis Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 1162/Pid.B/2018/Pn Lbp)”, belum pernah dilakukan dan memiliki perbedaan signifikan dengan penulisan hukum sebelumnya, dengan demikian penulisan Hukum mengenai Keaslian Penelitian ini adalah Asli.

F. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Analisis Hukum

Analisis adalah kegiatan merangkum sejumlah data besar yang masih mentah kemudian mengekelompokan atau memisahkan komponen-komponen serta bagian- bagian yang relevan untuk kemudian mengaitkan data yang dihimpun untuk menjawab permasalahan. Analisis merupakan usaha untuk menggambarkan pola-pola secara konsisten dalam data sehingga hasil analisis dapat dipelajari dan diterjemahkan dan memiliki arti.9

Dalam penelitian ini yang dimaksud oleh penulis sebagai analisis Hukum adalah kegiatan untuk mencari dan memecah komponen-komponen dari suatu permasalahan untuk dikaji lebih dalam serta kemudian menghubungkannya dengan hukum, kaidah hukum serta norma hukum yang berlaku sebagai pemecahan permasalahannya. Kegiatan analisis Hukum adalah mengumpulkan data dan dasar lainnya yang relevan untuk kemudian mengambil kesimpulan sebagai jalan keluar atau jawaban atas permasalahan.10

9 Surayin, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Analisis, Yrama Widya, Bandung, 2008, hal. 10

10 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2008. Hlm.

83-88.

(16)

2. Pengertian Pelaku Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan melakukan suatu kejahatan atau pelanggaran pidana yang merugikan kepentingan orang lain atau merugikan kepentingan umum. Menurut Vos, tindak pidana adalah suatu kelakuan manusia diancam pidana oleh peraturan-peraturan undang-undang, jadi suatu kelakuan pada umumnya dilarang dengan ancaman pidana.11

Pelaku adalah orang yang melakukan tindak pidana yang bersangkutan, dalam arti orang yang dengan suatu kesengajaan atau suatu tidak sengajaan seperti yang diisyaratkan oleh Undang-Undang telah menimbulkan suatu akibat yang tidak dikehendaki oleh Undang-Undang, baik itu merupakan unsur-unsur subjektif maupun unsur-unsur obyektif, tanpa memandang apakah keputusan untuk melakukan tindak pidana tersebut timbul dari dirinya sendiri atau tidak karena gerakkan oleh pihak ketiga12

3. Pengertian Tindak Pidana Pencabulan

Pencabulan merupakan kecenderungan untuk melakukan aktivitas seksual dengan orang yang tidak berdaya seperti anak, baik pria maupun wanita, dengan kekerasan maupun tanpa kekerasan. Selanjutnya dalam Kamus Hukum pencabulan adalah berbuat mesum dan atau bersetubuh dengan seseorang yang dianggap merusak kesopanan dimuka umum adalah bercabul.13

11 Tri Andrisman, Asas-asas dan Dasar Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia, Universitas Lampung, Lampung, 2009, hal. 70.

12 Barda Nawawi Arif, Sari Kuliah Hukum Pidana II, Fakultas Hukum Undip, 2008, hal. 37.

13 Soesilo Prajogo, Kamus Hukum, Wacana Intelektual, Jakarta, 2008, hal 73.

(17)

Pengertian perbuatan cabul (ontuchtige handeligen) adalah segala macam wujud perbuatan, baik yang dilakukan pada diri sendiri maupun dilakukan pada orang lain mengenai dan yang berhubungan dengan alat kelamin atau bagian tubuh lainnya yang dapat merangsang nafsu seksual. Misalnya, mengelus-elus atau menggosok-gosok penis atau vagina, memegang buah dada mencium mulut seorang perempuan dan sebagainya14

Hoge Raad memberikan penjelasan terhadap perbuatan cabul yaitu seorang laki-laki merabai badan seseorang anak perempuan dan kemudian membuka kancing baju anak tersebut untuk dapat mengelus payudaranya dan menciumnya. Pelaku melakukan hal tersebut untuk memuaskan nafsu birahinya15.

Selain itu menurut Djubaidah dalam buku nya yang berjudul Perzinahan menerangkan bahwah larangan perbuatan cabul dan penghukuman kepada pelaku adalah ditunjukkan untuk memelihara penyalahgunaan hubungan tertentu, atau kekuasaan tertentu, misalnya orang tua kandung, orang tua tiri, wali, majikan dan orang-orang yang menjadi pengasuh, pendidik, atau penjaga anak-anak yang belum dewasa yang dipercayakan dan menjadi tanggungjawabnya.16

Berdasarkan penjelasan tersebut penulis menarik kesimpulan mengenai perbuatan cabul yaitu segala tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang didorong oleh keinginan seksual yang melanggar kesusilaan untuk melakukan hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu birahi kelamin sehingga menimbulkan kepuasan pada dirinya. Dasar hukum

14Adam Chazawi, Tindak Pidana Mengenai Kesopanan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, hal. 80.

15 Tri Andrisman, Hukum Pidana, Asas-asas dan Dasar Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia, Universitas Lampung, 2009. Hal. 9.

16 Neng Djubaidah, Perzinahan, Kencana Prenada Group, Jakarta, 2010, hal. 75.

(18)

yang mengatur mengenai perbuatan cabul dalam KUHP terdapat dalam Pasal 289, 290, 292, 293, 294, 295 dan 296.17

4. Pengertian Anak

A. Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Pradilan Pidana Anak

Anak merupakan seseorang yang dilahirkan dari sebuah hubungan antara pria dan wanita. Hubungan antara pria dan wanita ini jika terikat dalam suatu ikatan perkawinan lazimnya disebut sebagai suami istri.18

Sedangkan menurut Undang-undang Sistem Pradilan Anak disebutkan Pada Pasal 1 angka 3, 4, dan 5, yang disebut anak adalah seseorang yang telah mencapai umur 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.

B. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Menurut Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, anak adalah setiap manusia yang berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.

17 Lamintang, Dasar-dasar Untuk Mempelajari Hukum Pidana yang Berlaku di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2013. hal. 51

18 Abu Huraerah, Kekerasan Terhadap Anak, Nuansa, Bandung, 2009. hal. 36.

(19)

C. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Sementara Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Dengan demikian maka pengertian anak (juvenile) pada umumnya adalah seorang yang masih di bawah umur tertentu, yang belum dewasa dan belum pernah kawin. Pada beberapa peratuaran perundang–undangan di Indonesia mengenai batasan umur berbeda- beda. 19 Perbedaan tersebut bergantung dari sudut manakah pengertian anak dilihat dan ditafsirkan. Hal ini tentu ada pertimbangan aspek psikis yang menyangkut kematangan jiwa seseorang.20

G. Metode Penelitian 1. Sifat Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gelaja atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan, atau menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat.

19 Andika Wijaya, Wida Peace Ananta, Darurat Kejahatan Seksual , Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hal. 91.

20 Abintoro Prakoso, Hukum Perlindungan Anak, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, 2016, hal.

42-43.

(20)

Menurut Husein Umar deskriptif adalah “menggambarkan sifat sesuatu yang berlangsung pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu”.21

2. Jenis Penelitian

Penelitian ini akan disusun dengan menggunakan Jenis penelitian normatif, yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif.22

3. Metode Pengumpulan Data

Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian Pustaka (Library Research), yaitu Metode kepustakaan digunakan ketika calon peneliti mencari jawaban rumusan masalah pada sumber bacaan (refrensi), seperti literatur buku, majalah, jurnal, internet dan sumber lainnya.

4. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Bahan Hukum Primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif atinya mempunyai otoritas Bahan-bahan hukum primer tediri dari Perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan Undang-undang dan Putusan-putusan hakim. Dalam penelitian ini baham hukum primernya yaitu, kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP),

21 Husein Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009, hal. 22.

22 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media Publishing, Malang, 2008, Hal. 295

(21)

Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak, dan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) b. Bahan Hukum Sekunder, bahan yang diperoleh dari buku-buku, dokumen- dokumen, tulisan ilmiah dan internet yang berkaitan dengan objek penelitian.

c. Bahan Hukum Tersier, adalah bahan hukum yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan memberikan pemahaman dan pengertian atas bahan hukum lainnya. Bahan hukum yang dipergunakan oleh penulis adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Hukum

5. Analisis Data

Dalam proses menganalisis data pada penelitian ini digunakan analisis kualitatif, dimana cara menganalisis data yang bersumber dari bahan hukum yang berdasarkan konsep, teori, peraturan perundang-undangan, dan pendapat pakar atau pandangan peneliti sendiri.

H. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari 5 (lima) Bab dan terdiri dari beberapa sub bab yang memaparkan tentang permasalahan dan pembahasan. Adapun sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I : Berisikan pendahuluan yang didalamnya memaparkan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tujuan penelitian, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Terdiri dari Pengaturan Hukum Tentang Bagaimana Pengaturan Hukum Tentang Tindak Pidana Pencabulan terhadap Anak, bab ini secara khusus menguraikan

(22)

pengaturan hukum menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana, menurut Undang- undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dan menurut Undang-undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

BAB III: Terdiri dari Tinjauan umum Tindak Pidana Pencabulan terhadap anak, pada bab ini secara khusus ingin membahas bentuk-bentuk kejahatan pencabulan terhadap anak, jenis-jenis tindak pidana pencabulan, dan faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana pencabulan terhadap anak

BAB IV: Terdiri dari, Analisis Hukum Terhadap Pelaku tindak pidana Pencabulan Anak yang dilakukan secara berlanjut Dalam Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor Perkara 1162/Pid.B/2018/Pn.Lbp, Bab Ini Secara Khusus Ingin Mengetahui Bagaimana Posisi Kasus Dalam Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Dengan Nomor Perkara 1162/Pid.B/2018/Pn.Lbp, Serta Ingin Mengetahui dasar hukum pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dalam menjatuhkan Putusan Terhadap pelaku Tindak Pidana Pencabulan anak, dan analisis hukum terhadap putusan Hakim Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dengan nomor perkara 1162/Pid.B/2018/Pn.Lbp.

BAB V : Berisikan Penutup, Terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

(23)

19

A. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)

Dalam KUHP, landasan yuridis mengenai pencabulan terhadap anak diatur dalam pasal 290 ayat (2) dan (3), pasal 292, pasal 293, pasal 294 ayat (1) dan pasal 295 KUHP.

Pasal 290 ayat (2) dan (3) Berbunyi :

Dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun

(2)Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk kawin.

(3)Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas yang bersangkutan belum waktunya untuk kawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.

Pasal 292 berbunyi :

Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatuhnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun,

Pasal 293 berbunyi :

(1)Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakan seorang belum dewasa dan baik tingkahlakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum kedewasaannya, diketahui atau selayaknya harus diduganya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun

(2)Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan kejahatan itu.

(3)Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini adalah masing- masing sembilan bulan dan dua belas bulan.

Pasal 294 ayat (1) berbunyi :

(24)

(1)Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak dibawah pengawasannya yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikannya, penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan pembantunya atau bawahannya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.

Pasal 295 berbunyi : (1)Diancam :

1. Dengan pidana penjara paling lama 5 tahun barangsiapa yang dalam hal anaknya, anak tirinya, anak angkatnya atau di bawah pengawasannya, atau orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh pembantunya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan sengaja menyebabkan dan mempermudah dilakukan perbuatan cabul dengannya.

2. Dengan pidana penjara paling lama 4 tahun barangsiapa yang dalam hal dilakukanya perbuatan cabul oleh orang selain yang disebutkan dalam butir 1 diatas yang diketahui yang sepatutnya harus didugannya belum dewasa dengan orang lain, dengan sengaja menyebabkan atau memudahka dilakukannya perbuatan cabul tersebut.

3. Jika yang bersalah melakukan kejahatan itu sebagai pencaharian atau kebiasaan, maka pidana dapat ditambah sepertiga.

Berdasarkan pendapat Lilik Mulyadi apabila ditinjau dari aspek yuridis, maka pengertian anak dimata hukum positif Indonesia lazim diartikan sebagai orang yang belum dewasa. Orang yang dibawah umur/keadaan dibawah umur (miderjangheid/inferiority) atau kerap juga disebut sebagai anak yang dibawah pengawasan wali, maka dengan bertitik tolak kepada aspek tersebut di atas ternyata hukum positif Indonesia tidak mengatur adanya unifikasi hukum yang baku dan berlaku universal untuk menentukan kreteria batasan umur bagi seorang anak.23

Menurut Erna Dewi, pemberian pidana atau pemidanaan bertujuan pada satu pihak merupakan pencegahan yang umum (general prevention) dan pada pihak lainnya adalah

23 Lilik Mulyadi, Pengadilan Anak di Indonesia, Teori, Praktik, dan Permasalahanya , Mandar Maju, Bandung, 2009, hal. 4.

(25)

pencegahan khusus (special prevention). Pencegahan umum dimaksudkan, bahwa dengan adanya pemidanaan akan mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku orang lain yaitu pembuat potensial dan warga masyarakat yang taat pada hukum. Pencegahan khusus adalah pengaruh langsung dari pemidanaan yang dirasakan oleh diri terpidana (baik lahir maupun batin) dan ia akan menjadi warga masyarakat yang lebih baik dari pada sebelumnya atau dengan kata lain, bahwa dengan adanya pemidanaan diharapkan tidak akan terjadi lagi pengulangan perbuatan kejahatan oleh diri terpidana.24

B. Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.

Pengaturan lebih khusus mengenai perlindungan hukum terhadap anak tertuang dalam Undang-undang Nomor. 23 tahun 2002, lalu dirubah menjadi Undang-undang nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak. Pembentukan Undang-undang Nomor. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak didasarkan pada pertimbangan bahwa perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan landasan yuridis dan bagian kegiatan pembangunan nasional, khususnya dalam mewujudkan kehidupan anak dalam berbangsa dan bernegara. Lahirnya Undang-Undang Perlindungan Anak ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak anak. Draf pertama Rancangan Undang-Undang Perlindungan Anak ini tersusun pada tahun 1998 dalam kondisi politik dan keamanan Indonesia yang kurang menguntungkan serta krisis ekonomi yang begitu mengkhawatirkan.

24 Erna Dewi, Sistem Minimum Khusus dalam Hukum Pidana Sebagai Salah Satu Usaha Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia, Pustaka Megister, Semarang, 2013, hal. 9.

(26)

Dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang- undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Pencabulan terhadap anak diatur dalam pasal 81 jo. Pasal 76C Undang-undang Perlindungan anak 2014 dan pasal 82 Jo. Pasal 76E Undang-undang perlindungan anak 2014.

Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 menyebutkan :

“setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) Tahun 6 (enam) Bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72. 000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah)”.

Sedangkan, bunyi pasal 82 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 adalah :

“Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). (2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orangtua, Wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”.

Undang-undang Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014 tidak memberikan penjelasan mengenai pengertian perbuatan cabul. Dalam undang-undang perlindungan anak yang lama ancaman pelaku kejahatan seksual hanya diancam dengan pidana maksimal 15 belas tahun, minimal 3 tahun dan denda maksimal Rp. 300.000.000. (tiga ratus juta) dan minimal Rp. 60.000.000. (enam puluh juta rupiah), sedangkan dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 diubah dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun, minimal 5 tahun dan denda maksimal sebanyak Rp. 5.000.000.000 (lima miliar Rupiah). Yang lebih khusus dalam Undang-undang ini adalah jika pelaku pemerkosaan atau pencabulan dilakukan oleh orang tua atau wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga pendidik maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga)

(27)

Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak ini mulai efektif berlaku pertanggal 18 Oktober 2014 dan banyak mengalami perubahan paradigma hukum, diantaranya memberikan tanggung jawab dan kewajiban kepada Negara, Pemerintah Daerah, masyarakat, keluarga dan orang tua atau wali dalam hal penyelenggaraan perlindungan anak, serta dinaikannya ketentuan pidana minimal bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak, serta diperkenalkannya sistem hukum baru yakni adanya hak restitusi.25

C. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban

Perlindungan terhadap korban tindak pidana pencabulan adalah suatu kegiatan pengembangan hak asasi manusia dan kewajiban hak asasi manusia. Perhatian dan perlindungan terhadap korban tindak pidana pencabulan harus diperhatikan karena mereka sangat peka terhadap berbagai macam ancaman gangguan mental, fisik , dan sosial. Selain itu, kerap kali mereka tidak mempunyai kemampuan untuk memelihara, membela serta mempertahankan dirinya.26

Perlindungan yang diberikan pada korban atau saksi dapat diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atau pemeriksaan di sidang pengadilan, atas

25 Sheila Masyita M, Skripsi, Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pencabulan Secara Berlanjut Terhadap Anak, Universitas Hasanuddin, Makasar, 2016, hal. 45.

26 Arif Gosita, Bunga Rampai Viktimisasi, PT. Eresco, Bandung, 2010, hal. 136.

(28)

dasar inisiatif dari aparat penegak hukum, aparat keamanan, dan atau dari permohonan yang disampaikan oleh korban.27

Perlindungan terhadap korban tindak pidana pencabulan tidak lepas dari akibat yang dialami korban setelah pencabulan. Korban tidak saja mengalami penderitaan secara fisik tetapi juga mengalami penderitaan secara psikis. Adapun penderitaan yang diderita korban sebagai dampak dari pencabulan dapat dibedakan menjadi :

1. Dampak secara fisik 2. Dampak secara mental

3. Dampak dalam kehidupan sehari-hari, Pribadi dan Sosial.

Usaha dalam perlindungan terhadap anak dari tindak pidana pencabulan tersebut terkandung didalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 jo. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Melarang orang melakukan perbuatan persetubuhan dengan anak dengan cara Kekerasan ataupun ancaman kekerasan yang terkandung didalam pasal 81 ayat (1)

2. Melarang orang melakukan perbuatan persetubuhan dengan anak dengan cara apapun, misalnya membujuk, merayu, menipu, serta mengiming-imingi anak untuk diajak bersetubuh yang diatur dalam Pasal 81 ayat (2)

3. Melarang orang melakukan perbuatan cabul dengan anak dan dengan cara apapun, misalnya dengan cara kekerasan, ancaman kekerasan

27 Muhadar, Perlindungan Saksi dan Korban Dalam Sistem Pradilan Pidana, PMN, Surabaya, 2010, hal. 69.

(29)

membujuk,menipu dan sebagainya dengan maksud agar anak dapat dilakukan pencabulan yang diatur dalam Pasal 82.

4. Melarang orang memperdagangkan anak atau mengeksploitasi anak agar dapat menggantungkan dirinya sendiri atau orang lain diatur dalam pasal 88.

Bentuk perlindungan terhadap anak diatas merupakan suatu bentuk atau usaha yang diberikan oleh KUHP dan Undang-Undang Perlindungan Anak kepada anak agar anak tidak menjadi korban dari suatu tindak pidana, maka usaha yang dilakukan menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 jo.Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak Pasal 64 ayat (2) yang pada dasarnya memuat tentang segala upaya yang diberikan pemerintah dalam hal melindungi anak yang menjadi korban tindak pidana meliputi:

1. Upaya Rehabilitasi yang dilakukan dalam suatu lembaga maupun diluar lembaga, usaha tersebut dilakukan untuk memuilihkan kondisi mental, fisik, dan lain sebagainya setelah mengalami trauma yang sangat mendaalam akibat suatu pristiwa pidana yang di alaminya

2. Upaya perlindungan pada identitas korban dari publik, usaha tersebut, diupayakan agar identitas anak yang menjadi korban ataupun keluarga korban tidak diketahui oleh orang lain yang bertujuan untuk nama baik korban dan keluarga korban tidak tercemar.

3. Upaya memberikan jaminan keselamatan hidup terhadap saksi dan korban yaitu anak dan saksi ahli baik fisik maupun mental.

(30)

4. Pemberian aksebilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkaranya, hal ini diupayakan pihak korban dan keluarga mengetahui perkembangan perkaranya.

Upaya perlindungan terhadap anak perlu secara terus-menerus di upayakan demi tetap terpeliharanya kesejahteraan anak, mengingat anak merupakan salah satu aset berharga bagi kemajuan suatu bangsa dikemudian hari. Kualitas perlindungan terhadap anak hendaknya memiliki derajat atau tingkat yang sama dengan perlindungan terhadap orang-orang yang berusia dewasa, dikarenakan setiap orang mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum (equality before the law). Oleh karena itu, negara bersama-sama dengan segenap masyarakat saling bekerja sama dalam memberikan perlindungan yang memadai kepada anak-anak dan berbagai bentuk kekerasan dan manipulasi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan anak-anak sebagai wahana kejahatannya, agar anak sebagai generasi penerus bangsa dapat berdiri dengan kokoh dalam memasuki kehidupan yang semakin keras dimasa yang akan datang.

(31)

27

TINJAUAN UMUM TINDAK PIDANA PENCABULAN TERHADAP ANAK

A. Bentuk-bentuk Tindak Pidana Pencabulan

Pencabulan berasal dari kata cabul yakni segala macam wujud perbuatan, baik yang dilakukan pada diri sendiri maupun dilakukan pada orang lain mengenai yang berhubungan dengan alat kelamin atau bagian tubuh lainnya yang dapat merangsang nafsu seksual. Misalnya mengelus-elus atau menggosok-gosok penis atau vagina, memegang buah dada, mencium mulut seorang perempuan dan sebagainya. KUHP belum mendefinisikan dengan jelas maksud perbuatan cabul itu sendiri dan terkesan mencampur arti kata persetubuhan maupun perkosaan. Dalam rancangan KUHP sudah terdapat penambahan kata “Persetubuhan” disamping kata perbuatan cabul. Tetapi pengertian perbuatan cabul itu sendiri lebih luas dari pengertian bersetubuh, karena persetubuhan berarti perpaduan alat kelamin laki-laki dan perempuan, yang disyaratkan maksudnya penis ke dalam liang vagina, kemudian venis mengeluarkan sperma sebagaimana biasanya membuahkan kehamilan. Sementara itu, apabila tidak memenuhi salah satu syarat saja, misalnya penis belum masuk spermanya sudah keluar kejadian ini bukan persetubuhan namanya, tetapi perbuatan cabul.28

Tindak pidana Pencabulan terhadap anak merupakan kejahatan kemanusiaan, anak merupakan bagian dari generasi muda yang meruapakan potensi penerus cita-cita

28 Hamzah Hazan, Kejahatan Kesusilaan Perspektif Hukum Pidana Islam, Cetakan, 1, Alauddin University Press, 2012, hal. 184.

(32)

perjuangan bangsa yang memiliki peranan yang sanagat strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus, memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan fisik, mental dan sosial secara utuh, serasi, selaras dan seimbang sehingga perlu dilindungi secara maksimal oleh negara.29

Perlindungan Hak Asasi anak adalah melekatkan hak anak kedalam status sosial anak dalam kehidupan masyarakat, sebagai bentuk perlindungan terhadap kepentingan- kepentingan anak yang mengalami masalah sosial.30

Dalam hal bentuk-bentuk kejahatan mengenai Pencabulan dikenal ada beberap jenis ny yaitu:

1. Kejahatan Mengenai Perbuatan Menyerang Kehormatan Kesusilaa.

Hal ini dirumuskan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dalam Pasal 289 yang berbunyi:

“barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan atau membiarkan dilakukanya perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”.

2. Perbuatan Cabul Terhadap Orang Pingsan, Orang Belum Berumur Lima Belas Tahun Dan Lain-Lain.

Hal ini dirumuskan dalam Kitab Undang-undang hukum Pidana pada pasal 290 yang berisi:

Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

29 Laden Marpaung, Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan masalah Prevensinya, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 31.

30 Maulana Hassan Wadong, Advokasi dan Hukum Perlindungan Anak, Grasindo, Jakarta, 2008, hal. 36.

(33)

a. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, padahal diketahuinya bahwah orang itu pingsan atau tidak berdaya.

b. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahuinya atau harus diduganya, bahwah umurnya belum lima belas tahun atau umurnya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya kawin.

c. Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawinkan, untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, atau bersetubuh diluar perkawinan dengan orang lain.

3. Perbuatan Cabul Sesama Kelamin (Homoseksual)

Hal ini di rumuskan dalam KUHP pasal 292 yang merumuskan sebagai berikut:

“Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”.

4. Menggerakan Orang Yang Belum Dewasa Untuk Melakukan Perbuatan Cabul Kejahatan ini drumuskan dalam pasal 293 KUHP yang merumuskan sebagai berikut:

a. Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan perbawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakan seorang belum dewasa dan baik tingkah lakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum dewasanya, diketahui atau selayaknya harus didugannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

b. Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang terhadap dirinya dilakukan kejhatan itu.

c. Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini adalah masing-masing sembilan bulan dan dua belas bulan.

5. Kejahatan Memudahkan Perbuatan Cabul Oleh Anaknya, Anak Tirinya, Anak Angkatnya, Dan Lainnya Yang Belum Dewasa.

(34)

Hal ini dirumuskan dalam pasal 295 KUHP, sebagai berikut:

a. Diancam :

1) Dengan pidana penjara paling lama lima tahun barang siapa yang dalam hal anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, atau anak dibawah pengawasannya yang belum dewasa, atau orang yang belum dewasa, yang pemeliharaannya, pendidikannya atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh pembantunya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan sengaja menyebabkan dan mempermudah perbuatan cabul dengannya.

2) Dengan pidana penjara paling lama empat tahun barang siapa yang dalam dilakukannya perbuatan cabul oleh orang lain yang disebutkan dalam butir I tersebut di atas yang diketahuinya atau sepatutnya harus didugannya belum dewasa dengan orang lain, dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul tersebut.

b. Jika yang bersalah melakukan kejahatan itu sebagai pencaharian atau kebiasaan, maka dapat ditambah sepertiga.

B. Jenis-Jenis Tindak Pidana Pencabulan

Didalam mengklasifikasi pencabulan dapat terbagi melalui beberapa jenis pencabulan yang antara lain sebagai berikut :

1. Sadistic Rape

Jenis Pencabulan ini artinya, pada tipe ini seksualitas dan agresif berpadu dalam bentuk yang merusak. Pelaku pencabulan telah nampak menikmati

(35)

kesenangan erotik bukan melalui hubungan seks nya, melainkan melalui serangan yang mengerikan atau alat kelamin dan tubuh korban.31

2. Angea Rape

Yakni sebuah penganiayaan seksual yang bercirikan seksualitas menjadi sarana untuk menyatakan dan melampiaskan perasaan geram dan marah yang tertahan.

Disini tubuh korban seakan-akan merupakan objek terhadap siapa pelaku yang memproyeksikan pemecahan atas prustasi-prustasi, kelemahan, kesulitan dan kekecewaan hidupnya.

3. Dononation Rape

Yakni sebuah pencabulan yang terjadi seketika pelaku mencoba untuk gigih atas kekuasaan dan superioritas terhadap korbannya. Tujuannya adalah penaklukan seksual, pelaku menyakiti korban, namun tetap memilki keinginan berhubungan seksual.

4. Seduktive Rape

Sesuatu perbuatan pencabulan yang terjadi pada situasi-situasi yang merangsang, yang tercipta oleh kedua belah pihak. Pada mulanya korban memutuskan bahwah keintiman personal harus dibatasi tidak sampai sejauh kesenggaman. Pelaku pada umumnya mempunyai keyakinan membutuhkan paksaaan, oleh karna tanpa itu tak mempunyai rasa bersalah yang menyangkut seks.

5. Victim Precipitatied Rape

31 Abdul Wahid, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual (Advokasi Atas Hak Asasi Perempuan), Refika Aditama, Bandung, 2008, hal. 46.

(36)

Yakni pencabulan yang terjadi (berlangsung) dengan menempatkan korban sebagai pencetusnya.

6. Exploitation Rape

Yakni sebuah tindakan pencabulan yang menunjukan bahwa pada setiap kesempatan melakukan hubungan seksual yang diperoleh oleh laki-laki dengan mengambil keuntungan yang berlawanan dengan posisi wanita tergantung padanya secara ekonomis dan sosial.

C. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak

Dalam hal mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana pencabulan terhadap anak di bawah umur, dapat dimulai dengan mengetahui peningkatan, hubungan pelaku sampai modus operandi dari kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur, dalam hal ini Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia yang berkaitan dengan masalah perlindungan anak, menentukan tiga jenis kekerasan terhadap anak yang diklasifikasikan sebagai kejahatan yang meresahkan anak dan masyarakat yang diantaranya ialah kekerasan fisik, kekerasan seksual dan kekerasan psikis. Pelaku tindak pidana pencabulan terhadap anak di bawah umur dalam melakukan suatu tindak pidananya dilakukan dengan berbagai macam cara untuk pemenuhan atau pencapaian

(37)

hasrat seksualnya, tidak hanya anak-anak yang menjadi korban akan tetapi anak terkadang dapat menjadi seorang pelaku pencabulan.

Dalam hal pencabulan terhadap anak dibawah umur dapat dilakukan dengan berbagai macam modus, disini penulis akan mencoba menguraikan secara singkat beberapa macam modus yang sering digunakan pelaku kejahatan seksual terhadap anak untuk melakukan kejahatan nya sebagai berikut:

1. Modus ke 1

Pelaku melakukan tindakan pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur dengan cara pelaku mengajak korban kerumahnya, setelah itu pelaku mengiming- ingimingkan uang terhadap korban.

2. Modus ke 2

Pelaku melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur dengan cara atau modus memberikan minuman yang dimana minuman tersebut bisa membuat anak mabok/tidak sadarkan diri sehingga pingsan.

3. Modus ke 3

Pelaku melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur dengan cara pelaku mengajak berkenalan dengan anak yang akan menjadi korbannya, lalu pelaku menawarkan sesuatu seperti mengantarkannya pulang ataupun menjanjikan sesuatu. Setelah korban menerima tawaran tersebut pelaku melakukan pencabulan.

Faktor-faktor yang mempenaruhi terjadinya sebuh tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur ialah sbagai berikut:

(38)

1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung terjadinya tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur. Hal ini dapat terjadi dikarenakan situasi dan keadaan dari lingkungan tempat tinggal yang mendukun memberi kesempatan untuk suatu tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur, yan antara lain sebagai berikut :

a. Pergaulan di lingkungan masyarakat sekitar yang terkadang sering kali melanggar norma-norma yang berlaku seperti perkumpulan atau tongkrongan yang sering kali berprilaku yang tidak sopan seperti mengganggu wanita, minum-minuman keras sehinga mabok dan lain sebagainnya.

b. Lingkungan tempat tinggal yang cenderung terjadinya kejahatan, seperti lampu penerangan jalanan yang tidak memadai sehingga menimbulkan daerah tersebut menjadi gelap, dan sepi yang dimana hal tersebut dapat mendukung terjadinya tindak pidana pencabulan.

c. Kurang efisiennya sistem pengamanan dari suatu daerah oleh masyarakat maupun aparat keamanan setempat sehingga menyebabkan daerah tersebut rawan dan sering timbul kejahatan.

d. Keadaan dilingkungan keluarga yaitu kurang efisiennya antisipasi keluarga terhadap anak seperti seorang anak dibiarkan bermain atau berpergian sendirian sehingga tanpa pendamping dan pengawasan secara intensif

(39)

sehingga anak dapat diawasi dengan baik, dengan siapa anak bermain ataupun dengan siapa teman baru anak kenal dan diketahui.

e. Keadaan dilingkungan pendidikan dapat juga mempengaruhi dikarenakan dilingkungan pendidikan juga harus di waspadai sebab kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang pengajar ataupun teman sekolahnya yang disebabkan oleh kurangnya moralitas dan mentalitas dari pelaku sehingga membuat pelaku tidak mengontrol nafsu atau prilakunya.

2. Faktor kebudayaan

Kebudayaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur yang dalam hubungannya dengan masalah ini merupakan suatu hasil karya yang diciptakan dan secara terus menerus diperbaruhi oleh sekelompok masyarakat tertentu atau dengan kata lain perkembangan suatu ciri khas masyarakat pada suatu daerah seperti gaya hidup manusia atau masyarakat. Di sebagian negara yang berkembang khususnya Indonesia yang memiliki beragam kebudayaan mulai dari yang tradisional sampai modern yang semakin lama semakin berkembang. Menurut Koentjaraningrat ada tiga wujud kebudayaan yang antara lain sebagai berikut :

a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainnya.

b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

(40)

Ketiga wujud tersebut diatas, berupa wujud dari suatu kebudayaan yang dimana jika dikaitkan dengan permasalahan pencabulan, terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya pencabulan terhadap anak-anak yaitu dengan berkembangnya kebudayaan tersebut dapat mengarah pada keterbukaan dalam bentuk seksual, seperti gaya berpakaian terutama kaum wanita dan ditiru oleh anak- anak, semakin bebasnya pergaulan terutama dalam hal seksual bebas lain-lain yang mengarah kepada perbuatan melangar kesusilaan dan norma-norma yang berlaku di Indonesia.32

3. Faktor Ekonomi

Ekonomi merupakan suatu penunjang kehidupan setiap manusia, ekonomi atau keuanan dapat merupakan faktor yang dapat mempenaruhi terjadinya suatu tindakan pencabulan terhadap anak dibawah umur. Dalam hal ini yang dimaksud ialah apabila seseorang mengalami himpitan atau kesusahan dalam bidang ekonomi, hal tersebut dapat menganggu akal pikirannya dan dapat mengakibatkan orang tersebut akan mengalami stress berat, sehingga dapat membuat orang tersebut dapat melakukan sesuatu hal yang tidak bisa terkontrol oleh dirinya sendiri. Hal ini cenderung di kehidupan berkeluarga dan pengangguran yang dapat melakukan tindakan apa saja yang tidak bisa dikontrol oleh dirinya sendiri akibat dari kemerosotan perekonomian dalam kehidupannya.

32 Koentjaraninrat, Pengantar Ilmu Antropoloi, Rineka Cipta, Jakarta, 2009, hal. 186.

(41)

4. Faktor Kejiwaan atau Psikologi

Faktor kejiwaan dalam hal ini dapat mempengaruhi terjadinya tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur. Beberapa dokter ahli jiwa mengemukakan pendapat bahwah “perbuatan kejahatan itu selalu disebabkan oleh beberapa ciri-ciri atau sifat-sifat seseorang yang merupakan pembawaan dari suatu penyakit jiwa”.

Terkadang para pelaku pencabulan mempunyai kejiwaan yang terganggu akbiat beberapa penyakit jiwa yang berhubungan dengan pelaku melakukan kejahatan.

Yang antara lain sebagai berikut:

a. Epilepsi, penyakit yang tampak nyata maupun uang tidak mudah diletahui, yang datangnya tiba-tiba. Si penderita bila penyakitnya kambuh tidak mampu menguasi dirinya, sehingga dalam keadaan tersebut yang bersangkutan dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayahkan diluar kesadarannya, antara lain perbuatan yang bertentangan dengan hukum.

b. Gejala Sosiapatik, ciri-cirinya adalah bahwah si penderita hampir-hampir tidak mengenal norma, tidak dapat membedakan perbuatan mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak, akibatnya si penderita hampir selalu berurusan dengan hukum, karena ada diantara perbuatannya diluar keinginannya yang merupakan kejahatan.

c. Schizophrenic, suatu penyakit jiwa yang menyebabkan si penderita hidup dalam keadaan jiwa yang terbelah, dimana yang bersangkutan sering dalam

(42)

kehidupan khayal, yang suatu saat khayalannya dianap kenyataan yang dihadapin.33

Bagi pelaku pencabulan terhadap anak dibawah umur ini sering disebut dengan istilah Pedofilia yaitu suatu istilah dari ilmu kejiwaan yaitu pedofil yang artinya dapat disimpulkan ialah melampiaskan hasrat seksual kepada anak-anak. Pada faktor kejiwaan yang menyimpang inilah yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur.

Penyebab penyeakit Pedofilia ini sangat berpariasi ada yang berupa trauma seaktu kecil akibat pernah disodomi atupun ketidaksukaan terhadap orang dewasa akan tetapi lebih menyukai anak-anak dibawah umur dalam hal hubungan seksualnya.

33 Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan, Akademi Prassindo, Jakarta, 2008, hal. 53.

(43)

39

ANAK YANG DILAKUKAN SECARA BERLANJUT PADA PUTUSAN PENGADILAN NEGERI LUBUK PAKAM DENGAN NOMOR PERKARA

1162/PID. B/2018/PN LBP

A. Kasus Posisi

1. Identitas Terdakwa

Hakim telah memeriksa perkara pidana, berupaya mencari dan membuktikan kebeneran materil berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan dan memegang teguh pada surat dakwaan yang dirumuskan oleh Penuntut Umum, oleh karena itu penulis terlebih dahulu membahas mengenai uraian posisi kasus dalam putusan Pengadilan Lubuk Pakam dengan nomor perkara 1162/Pid.B/2018/PN Lbp.

Nama Lengkap : Ebnezer Tarigan Tempat Lahir : Bangun Mulia Umur/Tnggal Lahir : 21/ 7 Agustus 1996 Jenis Kelamin : Laki-laki

Kebangsaan : Indonesia

Tempat Tinggal : Jl. Binjai Dusun IX Bangun Mulia Ds. Medan Krio Kec. Sunggal Kab. Deli Serdang.

Agama : Kristen

Pekerjaan : Supir Grab

(44)

2. Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Bahwa Terdakwa Ebnezer Tarigan pada hari senin tanggal 12 Februari 2018 sekira pukul 14.30 WIB, pada hari senin tanggal 19 Februari 2018 sekira pukul 14.30 WIB, dan pada hari jumat tanggal 23 Februari 2018 sekira pukul 13.30 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam bulan Februari tahun 2018 bertempat di Hotel Ariani Tuntungan Melati I yang berada di Dsn. II Penungkiran Ds. Durin Jangak Kec Pancur Batu Kab Deli Serdang dan di sebuah hotel yang berada di Ds Tanjung Selamat Kec Sunggal Kab. Deli Serdang, atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah Hukum Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgubakan perbawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakan seorang belum dewasa dan baik tingkah lakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum kedewasaannya diketahui atau selayaknya harus didugannya, yang dilakukan secara berkelanjutan, yakni terhadap saksi Tia Novita Br Sembiring.

Bahwah Bermula pada hari senin tanggal 12 Februari 2018 sekitar pukul 14.30 WIB terdakwa datang dengan menggunakan sepeda motor merk Honda Beat warna hitam menjemput sanksi Tia Novita Br Sembiring di depan pintu gerbang SMA Negeri 1 Sunggal untuk mengajak sanksi berjalan-jalan, lalu terdakawa bersama- sama Sanksi Tia Novita Br Sembiring pergi menuju hotal Ariani Tuntungan Melati 1 yang berada di Dusun II Penungkiran Desa Durin Jangak Kec Pancur Batu Kab Deli Serdang dan sesampainya di hotel tersebut lalu terdakawa memesan kamar

(45)

dengan membayar biaya kamar sebesar Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah), kemudian terdakwa membawa masuk saksi Tia Novita Br Sembiring ke dalam kamar nomor 23 dan berbincang-bincang dengan sanksi Tia Novita Br Sembiring diatas tempat tidur kamar tersebut, lalu terdakawa mencium bibir saksi diatas tempat tidur tersebut sambil mengatakan “aku sayang sama Ndu, aku beruntung kali punya kam, aku janji aku tanggung jawab”, kemudian terdakawa membuka resleting rok saksi Tia Novita Br Sembiring dan membuka celana dalam saksi Tia Novita Br Sembiring lalu terdakwa menidurkan saksi diatas tempat tidur, selanjutnya terdakwa membuka celana yang dikenakan terdakwa lalu mengangkangkan kedua paha saksi Tia Novita Br Sembiring dan kemudian terdakwa memasukan penis terdakwa yang telah mengeras kedalam vegina saksi dan menggoyang-goyakangkan pantatnya di atas tubuh saksi Tia Novita Br Sembiring sambil mencium wajah, leher dan payudara saksi Tia Novita Br Sembiring selama kurang lebih 15 (lima belas) menit lamanya hingga terdakwa merasa puas dan mengeluarkan cairan sperma di sela-sela pangkal paha saksi Tia Novita Br Sembiring dan selanjutnya terdakwa dan saksi memakai kembali pakaian merak masing-masing.

Bahwa kemudia pada hari jumat tanggal 23 Februari 2018 sekitar pukul 13.30 WIB terdakwa menjemput kembali saksi Tia Novita Br Sembiring dirumah teman saksi dengan mengatakan “Ayok min kita pergi, kam gak pengen kin sayang” dan sanksi Tia Novita Br Sembiring menjawab “mau kemana kin kam bawak” lalu terdakwa membawa saksi pergi ke sebuah hotel yang tidak diketahui nama nya yang

Referensi

Dokumen terkait

Pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana pencabulan yang dilakukan perempuan terhadap anak laki-laki didasarkan dengan adanya unsur kesalahan dan kesengajaan

Penerapan pidana terhadap pelaku tindak pidana pencabulan terhadap anak dalam putusan Nomor 7/Pid.Sus/2015/PN.MTR, hakim memutus terdakwa bersalah telah

Tujuan penulis adalah untuk menganalisis akurasi putusan Mahkamah Agung yang menyatakan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terdakwa adalah suatu perbuatan

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta hukum sebagaimana telah di uraikan dalam pertimbangan diatas, terdakwa-terdakwa telah melakukan perbuatan persetubuhan dengan Desty

Faktor perundang-undangan (substansi hukum) yang tidak menjadi penghambat perlindungan hukum terhadap anak korban tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh ayah kandung,

Hambatan utama Kepolisian dalam penyidikan untuk menyelesaikan perkara tindak pidana pencabulan adalah mencari saksi terhadap tindak pidana pencabulan ini, yang

Apabila pencabulan itu dilakukan oleh anak atau korban dari pencabulan itu adalah anak, maka ada Undang-undang tersendiri yang mengatur yaitu Undang-undang Nomor

Mei 2014 sekira pukul 13.00 wib saksi bersama dengan saksi Bayu Minggi dan saksi Dani Sembiring melaksanakan patroli operasi penambangan emas tanpa ijin di arah sungai baung Sarolangun,