Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
P U T U S A N
Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata khusus tentang keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen pada tingkat kasasi memutus sebagai berikut dalam perkara antara:
SUPONO, bertempat tinggal di Jalan Sangnawaluh, Gang Silean, Kelurahan Pematang Simalungun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun,
sebagai Pemohon Kasasi dahulu Termohon Keberatan;
L a w a n
PT Bank Pundi Indonesia, Tbk. (“Bank Pundi”), yang diwakili oleh Direktur Lungguk Gultom dan Taufik Hakim, berkedudukan pusat di Jalan RS. Fatmawati Nomor 12 Jakarta Selatan, melalui Kantor Cabang Pembantu Pematang Siantar, beralamat di Jalan Kapten MH. Sitorus Nomor 7C Kelurahan Timbang Galung, Kecamatam Siantar Barat, Kota Pematang Siantar, dalam hal ini memberi kuasa kepada Muhammad Rizal Saputra, dan kawan- kawan, Karyawan PT Bank Pundi Indonesia, Tbk., Kantor Cabang Pematang Siantar, beralamat di Jalan Sutomo Nomor 5, Pematang Siantar, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 12 Agustus 2016, sebagai Termohon Kasasi dahulu Pemohon Keberatan;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata sekarang Termohon Kasasi dahulu sebagai Pemohon Keberatan telah mengajukan keberatan terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor 197/Arbitrase/BPSK/
BB/II/2016, tanggal 5 Agustus 2016 yang amarnya sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Konsumen seluruhnya;
2. Menyatakan ada kerugian di pihak Konsumen;
3. Menyatakan Pelaku Usaha tidak pernah menghadiri persidangan yang secara patut dipanggil menurut peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di Wilayah Negara Republik Indonesia sebagaimana yang telah terwujud dan dikehendaki dalam Pasal 54 ayat (4) Undang-Undang Nomor
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
08 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen juncto Pasal 43 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia;
4. Menyatakan Pelaku Usaha yang tidak memberikan dokumen salinan/
fotocopy perjanjian yang mengikat diri antara Konsumen dengan Pelaku Usaha seperti: Akta Perjanjian Kredit, Polis Asuransi, dan Akta Pemberian Hak Tanggungan maupun lainnya adalah merupakan perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 08 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
5. Menyatakan Perjanjian Kredit sebagaimana yang telah dibuat dan ditandatangani bersama antara Konsumen dengan Pelaku Usaha adalah batal demi hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat;
6. Menyatakan Pelaku Usaha yang akan dan/atau telah melakukan Lelang Eksekusi Hak Tanggungan di muka umum atas agunan yang menjadi jaminan guna untuk pembayaran kembali atas fasilitas pinjaman kredit yang telah diberikan oleh Pelaku Usaha kepada Konsumen dengan melalui perantara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Pematang Siantar, yaitu berupa:
- Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun, berupa sebidang tanah seluas 330 m
2(tiga ratus tiga puluh meter persegi), berikut segala yang ada di atasnya, terletak di:
Provinsi Sumatera Utara;
Kabupaten/Kota Simalungun;
Kecamatan Siantar;
Desa/Kelurahan Pematang Simalungun;
Lebih jauh diuraikan dalam Surat Ukur Nomor 249/Pematang Simalungun/2010 tertanggal 6 April 2010. Sertifikat yang dikeluarkan/
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun tertanggal 14 April 2010. Nama Pemegang Hak Tertulis/terdaftar atas nama Jhonny Aritonang;
Dan saat ini telah dibalik namakan berdasarkan Akta Jual Beli/AJB Nomor 225/2010 tanggal 28 April 2010, Ester Dina Sinaga, S.H., selaku PPAT, Sertifikat yang diperiksa dan didaftarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun, Nama Pemegang Hak Tertulis/
terdaftar saat ini atas nama Supono;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
- Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 593 Desa/Kel. Pematang Simalungun, berupa sebidang tanah seluas 396 m
2(tiga ratus sembilan puluh enam meter persegi), berikut segala yang ada di atasnya, terletak di:
Provinsi Sumatera Utara;
Kabupaten/Kota Simalungun;
Kecamatan Siantar;
Desa/Kelurahan Pematang Simalungun;
Lebih jauh diuraikan dalam Surat Ukur Nomor 248/Pematang Simalungun/2010 tertanggal 6 April 2010. Sertifikat yang dikeluarkan/
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun tertanggal 14 April 2010. Nama Pemegang Hak Tertulis/terdaftar atas nama Jhonny Aritonang;
Dan saat ini telah dibalik namakan berdasarkan Akta Jual Beli/AJB Nomor 328/2010 tanggal 29 Juni 2010, Ester Dina Sinaga, S.H., selaku PPAT, Sertifikat yang diperiksa dan didaftarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun, Nama Pemegang Hak Tertulis/
terdaftar saat ini atas nama Herlina;
Adalah perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan:
1. Bertentangan dengan Pasal 26 Undang-Undang Hak Tanggungan Nomor 4 Tahun 1996 yang mengharuskan Eksekusi Hak Tanggungan menggunakan Pasal 224 HIR/258 RBG yang mengharuskan ikut campur Ketua Pengadilan Negeri (bukan Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 93/PMK.06/2010 juncto Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 106/PMK.06.2013);
2. Bertentangan dengan angka 9 tentang penjelasan umum Undang- Undang Hak Tanggungan (UU HT) Nomor 4 Tahun 1996 yang menyatakan bahwa “agar ada kesatuan pengertian dan kepastian penggunaan ketentuan tersebut”. Maka ditegaskan lebih lanjut dalam undang-undang ini, bahwa sebelum ada peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, maka peraturan mengenai eksekusi hypotek yang diatur dalam HIR/RBG berlaku terhadap Eksekusi Hak Tanggungan;
3. Bertentangan dengan Pasal 1211 KUHPerdata yang mengharuskan lelang melalui Pegawai Umum Pengadilan Negeri;
4. Bertentangan dengan Pasal 200 ayat (1) HIR yang mewajibkan Ketua Pengadilan Negeri (dalam perkara a quo Pengadilan Negeri Simalungun) untuk memerintahkan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
(KPKNL) Pematang Siantar untuk menjualnya (bukan Pelaku Usaha yang meminta kepada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang/
KPKNL Pematang Siantar);
5. Bertentangan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor 3210 K/PDT/1984 tertanggal 30 Januari 1986 yang menyatakan bahwa
“Pelaksanaan pelelangan yang tidak dilaksanakan atas penetapan/fiat Ketua Pengadilan Negeri, maka lelang umum tersebut telah bertentangan dengan Pasal 224 HIR/258 RBG. Sehingga tidak sah, sehingga pelaksanaan parate eksekusi harus melalui fiat Ketua Pengadilan Negeri;
6. Bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan yang menyebutkan jenis, hierarki peraturan perundang-undangan adalah:
1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945;
2) Ketetapan MPR;
3) Undang-Undang/Perpu;
4) Peraturan Pemerintah;
5) Peraturan Presiden;
6) Peraturan Daerah Provinsi;
7) Peraturan Daerah;
Sedangkan Peraturan Menteri Keungan RI (in cassu) Nomor 93/PMK.06/
2010 juncto Peraturan Menteri Keungan RI Nomor 106/PMK.06/2013 tidak termasuk jenis peraturan perundang-undangan. Apalagi Pasal 26 Undang- Undang Hak Tanggungan (UUHT) Nomor 4 Tahun 1996 tidak ada memerintahkan bahwa peraturan pelaksanaannya adalah Peraturan Menteri Keuangan;
7. Menyatakan tidak sah dan batal demi hukum:
A. Permintaan Lelang yang akan dan/atau telah dilakukan Pelaku Usaha kepada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Pematang Siantar terhadap agunan yang menjadi jaminan Konsumen kepada Pelaku Usaha, yaitu berupa:
- Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun, berupa sebidang tanah seluas 330 m
2(tiga ratus tiga puluh meter persegi), berikut segala yang ada di atasnya, terletak di:
Provinsi Sumatera Utara;
Kabupaten/Kota Simalungun;
Kecamatan Siantar;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Desa/Kelurahan Pematang Simalungun;
Lebih jauh diuraikan dalam Surat Ukur Nomor 249/Pematang Simalungun/2010 tertanggal 6 April 2010. Sertifikat yang dikeluarkan/
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun tertanggal 14 April 2010. Nama Pemegang Hak Tertulis/
terdaftar atas nama Jhonny Aritonang;
Dan saat ini telah dibalik namakan berdasarkan Akta Jual Beli/AJB Nomor 225/2010 tanggal 28 April 2010, Ester Dina Sinaga, S.H., selaku PPAT, Sertifikat yang diperiksa dan didaftarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun, Nama Pemegang Hak Tertulis/ terdaftar saat ini atas nama Supono;
- Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 593 Desa/Kel. Pematang Simalungun, berupa sebidang tanah seluas 396 m
2(tiga ratus sembilan puluh enam meter persegi), berikut segala yang ada di atasnya, terletak di:
Provinsi Sumatera Utara;
Kabupaten/Kota Simalungun;
Kecamatan Siantar;
Desa/Kelurahan Pematang Simalungun;
Lebih jauh diuraikan dalam Surat Ukur Nomor 248/Pematang Simalungun/2010 tertanggal 6 April 2010. Sertifikat yang dikeluarkan/
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun tertanggal 14 April 2010. Nama Pemegang Hak Tertulis/
terdaftar atas nama Jhonny Aritonang;
Dan saat ini telah dibalik namakan berdasarkan Akta Jual Beli/AJB Nomor 328/2010 tanggal 29 Juni 2010, Ester Dina Sinaga, S.H., selaku PPAT, Sertifikat yang diperiksa dan didaftarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun, Nama Pemegang Hak Tertulis/ terdaftar saat ini atas nama Herlina;
B. Lelang yang akan dan/atau telah dilakukan oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Pematang Siantar atas permintaan dari Pelaku Usaha terhadap agunan yang menjadi jaminan Konsumen kepada Pelaku Usaha, yaitu berupa:
- Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun, berupa sebidang tanah seluas 330 m
2(tiga ratus tiga puluh meter persegi), berikut segala yang ada di atasnya, terletak di:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Provinsi Sumatera Utara;
Kabupaten/Kota Simalungun;
Kecamatan Siantar;
Desa/Kelurahan Pematang Simalungun;
Lebih jauh diuraikan dalam Surat Ukur Nomor 249/Pematang Simalungun/2010 tertanggal 6 April 2010. Sertifikat yang dikeluarkan/
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun tertanggal 14 April 2010. Nama Pemegang Hak Tertulis/
terdaftar atas nama Jhonny Aritonang;
Dan saat ini telah dibalik namakan berdasarkan Akta Jual Beli/AJB Nomor 225/2010 tanggal 28 April 2010, Ester Dina Sinaga, S.H., selaku PPAT, Sertifikat yang diperiksa dan didaftarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun, Nama Pemegang Hak Tertulis/ terdaftar saat ini atas nama Supono;
- Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 593 Desa/Kel. Pematang Simalungun, berupa sebidang tanah seluas 396 m
2(tiga ratus sembilan puluh enam meter persegi), berikut segala yang ada di atasnya, terletak di:
Provinsi Sumatera Utara;
Kabupaten/Kota Simalungun;
Kecamatan Siantar;
Desa/Kelurahan Pematang Simalungun;
Lebih jauh diuraikan dalam Surat Ukur Nomor 248/Pematang Simalungun/2010 tertanggal 6 April 2010. Sertifikat yang dikeluarkan/
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun tertanggal 14 April 2010. Nama Pemegang Hak Tertulis/
terdaftar atas nama Jhonny Aritonang;
Dan saat ini telah dibalik namakan berdasarkan Akta Jual Beli/AJB Nomor 328/2010 tanggal 29 Juni 2010, Ester Dina Sinaga, S.H., selaku PPAT, Sertifikat yang diperiksa dan didaftarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun, Nama Pemegang Hak Tertulis/terdaftar saat ini atas nama Herlina;
C. Akibat hukum yang timbul karena lelang yang akan dan/atau telah dilakukan oleh Pelaku Usaha melalui perantara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Pematang Siantar, adalah seperti/antara lain:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
- Membaliknamakan ke atas nama orang lain atau menerbitkan Sertifikat Hak Milik (SHM) ke atas nama orang lain;
- Apabila tanah, rumah dan kebun yang menjadi sengketa dalam perkara a quo dikuasai dan/atau dimiliki oleh orang lain;
8. Menghukum Pelaku Usaha untuk membatalkan lelang yang akan dan/atau telah dilakukan secara Lelang Eksekusi Hak Tanggungan di muka umum atas agunan yang menjadi jaminan pembayaran kembali atas fasilitas pinjaman kredit yang telah diberikan oleh Pelaku Usaha kepada Konsumen dengan melalui perantara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Pematang Siantar, yaitu berupa:
- Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun, berupa sebidang tanah seluas 330 m
2(tiga ratus tiga puluh meter persegi), berikut segala yang ada di atasnya, terletak di:
Provinsi Sumatera Utara;
Kabupaten/Kota Simalungun;
Kecamatan Siantar;
Desa/Kelurahan Pematang Simalungun;
Lebih jauh diuraikan dalam Surat Ukur Nomor 249/Pematang Simalungun/2010 tertanggal 6 April 2010. Sertifikat yang dikeluarkan/
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun tertanggal 14 April 2010. Nama Pemegang Hak Tertulis/terdaftar atas nama Jhonny Aritonang;
Dan saat ini telah dibalik namakan berdasarkan Akta Jual Beli/AJB Nomor 225/2010 tanggal 28 April 2010, Ester Dina Sinaga, S.H., selaku PPAT, Sertifikat yang diperiksa dan didaftarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun, Nama Pemegang Hak Tertulis/
terdaftar saat ini atas nama Supono;
- Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 593 Desa/Kel. Pematang Simalungun, berupa sebidang tanah seluas 396 m
2(tiga ratus sembilan puluh enam meter persegi), berikut segala yang ada di atasnya, terletak di:
Provinsi Sumatera Utara;
Kabupaten/Kota Simalungun;
Kecamatan Siantar;
Desa/Kelurahan Pematang Simalungun;
Lebih jauh diuraikan dalam Surat Ukur Nomor 248/Pematang Simalungun/2010 tertanggal 6 April 2010. Sertifikat yang dikeluarkan/
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun tertanggal 14 April 2010. Nama Pemegang Hak Tertulis/ terdaftar atas nama Jhonny Aritonang;
Dan saat ini telah dibalik namakan berdasarkan Akta Jual Beli/AJB Nomor 328/2010 tanggal 29 Juni 2010, Ester Dina Sinaga, S.H., selaku PPAT, Sertifikat yang diperiksa dan didaftarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Simalungun, Nama Pemegang Hak Tertulis/
terdaftar saat ini atas nama Herlina;
9. Menghukum Pelaku Usaha untuk menghapus biaya denda tunggakan yang menjadi akibat keterlambatan pembayaran angsuran perbulannya, pinalti, bunga berjalan maupun lainnya yang bertentangan dengan peraturan;
10. Menghukum Pelaku Usaha untuk membayar uang denda sebesar Rp1.000.000,- (satu juta rupiah) setiap harinya, apabila lalai atau tidak mau mematuhi keputusan pada butir 8 (delapan) dan 9 (sembilan) tersebut di atas, terhitung sejak keputusan ini berkekuatan hukum tetap (in kracht);
Bahwa, terhadap amar putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen tersebut, Pemohon Keberatan telah mengajukan keberatan di depan persidangan Pengadilan Negeri Simalungun yang pada pokoknya sebagai berikut:
Perlu Pemohon Keberatan sampaikan bahwa dasar pengajuan keberatan atas putusan arbitrase diatur pada ketetuan Pasal 6 Perma Nomor 1 Tahun 2006 sebagai berikut:
a. Adanya alasan yang diatur Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa;
Berpegang pada ketentuan Pasal 6 ayat (3) Perma Nomor 1 Tahun 2006 berbunyi sebagai berikut:
“Keberatan terhadap putusan arbitrase BPSK dapat diajukan apabila memenuhi persyaratan pembatalan putusan arbitrase sebagaimana diatur dalam Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yaitu:
a. Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan diajukan, diakui palsu atau dinyatakan palsu;
b. Setelah putusan arbitrase BPSK diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan yang disembunyikan oleh pihak lawan; atau c. Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah
satu pihak dalam pemeriksaan sengketa;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
b. Adanya alasan di luar dari alasan yang diatur Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999;
Berpegang pada ketentuan Pasal 6 ayat (5) Perma Nomor 1 Tahun 2006 berbunyi sebagai berikut:
“Dalam hal keberatan diajukan atas dasar alasan lain, di luar ketentuan sebagaimana diatur ayat (3), Majelis Hakim dapat mengadili sendiri sengketa konsumen yang bersangkutan”;
Adapun dalam keberatan perkara a quo, Pemohon Keberatan mendasarkan karena alasan lain di luar dari alasan yang diatur Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999 sebagai berikut:
a. PT Bank Pundi Indonesia, Tbk., sebagai Pelaku Usaha Jasa Keuangan (“PUJK”) tidak tunduk pada putusan BPSK;
Majelis Hakim Yang Terhormat,
Pemohon Keberatan sebagai PUJK tidak tunduk kepada keputusan BPSK, berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“POJK”) Nomor 1/
POJK.07/2013 tanggal 6 Agustus 2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan juncto Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/
POJK.07/2014 tanggal 23 Januari 2014 tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan;
Pasal 1 angka 1 POJK Nomor 1/POJK.07/2013 tanggal 6 Agustus 2013 menyatakan: “Pelaku Usaha Jasa Keuangan adalah Bank Umum, Bank Perkreditan Rakyat, Perusahaan Efek, Penasihat Investasi, Bank Kustodian, Dana Pensiun, Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Gadai dan Perusahaan Penjaminan, baik yang melaksanakan usahanya secara konvensional maupun secara syariah”;
Pasal 1 angka 2 POJK Nomor 1/POJK.07/2013 tanggal 6 Agustus 2013 menyatakan: “Konsumen adalah pihak-pihak yang menempatkan dananya dan/atau memanfaatkan pelayanan yang tersedia di Lembaga Jasa Keuangan antara lain nasabah pada Perbankan, pemodal di Pasar Modal, pemegang polis pada perasuransian, dan peserta pada Dana Pensiunan, berdasarkan perundang-undangan di sektor jasa keuangan”;
Sedangkan Perlindungan Konsumen adalah perlindungan terhadap konsumen dengan cakupan perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (Pasal 1 angka 2 POJK Nomor 1/POJK.07/2013 tanggal 6 Agustus 2013);
Berdasarkan peraturan hukum tersebut di atas jelaslah bahwa Pemohon Keberatan sebagai PUJK berlaku ketentuan khusus tentang Perlindungan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Konsumen Sektor Jasa Keuangan dan Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“POJK”) Nomor 1/POJK.07/2013 tanggal 6 Agustus 2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan juncto Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2014 tanggal 23 Januari 2014 tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan.
Dengan demikian, Pemohon Keberatan tidak tunduk pada putusan BPSK yang bernaung dibawah Departemen Perindustrian dan Perdagangan karena penyelesaian sengketa konsumen sektor jasa keuangan hanya tunduk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Peraturan Bank Indonesia bukan dibawah pengawasan Departemen Perindustrian dan Perdagangan;
b. BPSK Kabupaten Batu Bara tidak memiliki kompetensi untuk memeriksa dan memutus perkara a quo karena para pihak in casu Pelaku Usaha dan Konsumen telah sepakat memilih domisili hukum pada Pengadilan Negeri Pematang Siantar atau Pengadilan Negeri lain dalam Wilayah Hukum Indonesia;
Majelis Hakim Yang Terhormat,
Pemohon Keberatan berpendapat bahwa BPSK Kabupaten Batu Bara tidak memiliki kewenangan untuk memeriksa perkara a quo karena Para Pihak in casu Pelaku Usaha dan Konsumen telah sepakat untuk memilih domisili hukum dalam pelaksaaan Perjanjian Kredit ini pada Pengadilan Negeri Pematang Siantar namun tidak mengurangi hak dan wewenang Bank (in casu Pemohon Keberatan) untuk memohon pelaksanaan eksekusi atau mengajukan tuntutan/gugatan hukum kepada Debitur (in casu Termohon Keberatan) berdasarkan Perjanjian ini di muka Pengadilan lain dalam wilayah Republik Indonesia;
Berdasarkan Perjanjian Kredit Nomor Add-001/T/820-P8/03/13-P/KM101 tanggal 6 Maret 2013 yang telah dirubah berdasarkan Perubahan Perjanjian Kredit Nomor A0027/F/820-B7/10/13-B82001083 tanggal 18 Oktober 2013 Pasal 6 dinyatakan sebagai berikut:
“Mengenai Perubahan Perjanjian ini dan segala akibatnya, Debitur memilih tempat tinggal yang tetap dan seumumnya di kantor Pengadilan Negeri Pematang Siantar di Jalan Sutomo Nomor 15, namun tidak mengurangi hak dan wewenang Bank untuk memohon pelaksanaan (eksekusi) atau mengajukan tuntutan/gugatan hukum terhadap Debitur
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
berdasarkan Perubahan Perjanjian ini di muka Pengadilan lain dalam wilayah Republik Indonesia”;
Bahwa fakta hukumnya adalah Para Pihak (in casu Konsumen dan Pelaku Usaha) telah bersepakat dalam menandatangani Perjanjian Kredit a quo dan Para Pihak cakap bertindak dalam hukum sehingga syarat subyektif suatu perjanjian telah terpenuhi;
Demikian pula tentang syarat objektifnya yaitu suatu hal tertentu dan sebab yang halal telah terpenuhi sehingga Perjanjian Kredit a quo telah sah secara hukum dan mengikat Para Pihak dengan itikad baik untuk melaksanakan perjanjian tersebut, karena berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata dinyatakan bahwa: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya”;
Oleh karena Para Pihak telah memilih domisili hukum yang tetap di Pengadilan Negeri Pematang Siantar maka secara yuridis BPSK Kabupaten Batu Bara tidak memiliki kompetensi untuk memeriksa dan memutus perkara a quo;
c. Pengaduan yang dilaporkan oleh Konsumen (in casu Debitur) merupakan murni sengketa keperdataan yang timbul antara Debitur dengan Kreditur sehingga seharusnya perkara ini diperiksa oleh Lembaga Peradilan yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan bukan diperiksa melalui BPSK Kabupaten Batu Bara;
Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (“UU Perlindungan Konsumen”), telah diatur mengenai perbuatan-perbuatan Pelaku Usaha yang dilarang dan apabila dilakukan maka perbuatan tersebut dianggap sebagai perbuatan melawan hukum. Namun demikian, tidak ada satupun dalil Konsumen yang menyatakan bahwa Pelaku Usaha telah melakukan perbuatan yang melanggar dari ketentuan UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999;
Adapun hubungan hukum antara Konsumen (in casu Termohon Keberatan) dengan Pelaku Usaha (in casu Pemohon Keberatan) adalah berdasarkan Perjanjian Kredit Nomor Add-001/T/820-P8/03/13-P/KM101 tanggal 6 Maret 2013 yang telah dirubah berdasarkan Perubahan Perjanjian Kredit Nomor A0027/F/820-B7/10/13-B82001083 tanggal 18 Oktober 2013, sehingga kedudukan hukum masing-masing pihak secara berturut-turut adalah Debitur dan Kreditur;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Oleh karena itu, sesungguhnya pengaduan yang dilaporkan oleh Konsumen (in casu Debitur) merupakan murni sengketa keperdataan yang timbul sebagai akibat wanprestasi Debitur kepada Kreditur (in casu Pelaku Usaha) untuk memenuhi seluruh angsuran kreditnya sesuai dengan Perjanjian Kredit dan daftar angsuran yang telah disepakatinya. Sehingga dengan terbukti wanprestasinya Debitur untuk memenuhi kewajiban hutangnya maka berdasarkan kewenangan Undang-Undang Hak Tanggungan, Pemohon Keberatan memiliki hak dan kewenangan melakukan lelang eksekusi jaminan untuk pelunasan seluruh hutang Debitur;
Selanjutnya, bertititk tolak dari amar/petitum Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 197/Arbitrase/BPSK/BB/II/2016 tanggal 5 Agustus 2016 yang antara lain memutuskan:
- Menyatakan Perjanjian Kredit sebagaimana yang telah dibuat dan ditandatangani bersama antara konsumen dengan pelaku usaha adalah batal demi hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat;
- Menyatakan lelang eksekusi Hak Tanggungan di muka umum atas agunan melalui perantara KPKNL Pematang Siantar berupa SHM Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun dan SHM Nomor 593 Desa/
Kel. Pematang Simalungun adalah perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan Pasal 26 UU Hak Tanggungan, angka 9 Penjelasan umum UU Hak Tanggungan, Pasal 1211 KUHPerdata, Pasal 200 ayat (1) HIR, Yurisprudensi MA RI Nomor 3210 K/PDT1984 tanggal 30 Januari 1986 dan UU Nomor 12 Tahun 2011;
- Menyatakan tidak sah dan batal demi hukum permintaan lelang yang akan dan/atau telah dilakukan Pelaku Usaha kepada KPKNL Pematang Siantar terhadap agunan berupa SHM Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun dan SHM Nomor 593 Desa/Kel. Pematang Simalungun berikut akibat hukumnya;
- Menghukum Pelaku Usaha untuk membatalkan lelang yang akan dan/atau telah dilakukan secara lelang eksekusi Hak Tanggungan di muka umum atas agunan melalui perantara KPKNL Pematang Siantar berupa SHM Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun dan SHM Nomor 593 Desa/Kel. Pematang Simalungun;
- Menghukum Pelaku Usaha untuk menghapuskan biaya denda tunggakan yang menjadi akibat keterlambatan pembayaran angsuran perbulannya,
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
pinalty, bunga berjalan maupun lainnya yang bertentangan dengan peraturan;
Senyatanya, amar putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara tersebut di atas bukanlah merupakan kewenangan BPSK berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Oleh karena itu berdasarkan Pasal 17 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tanggal 10 Desember 2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, BPSK Kabupaten Batu Bara seharusnya tidak memeriksa perkara a quo dengan tetap berpegang pada ketentuan Pasal 17 tersebut di atas yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
Ketua BPSK menolak permohonan penyelesaian sengketa konsumen apabila:
a. Permohonan tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, dan;
b. Permohonan gugatan bukan merupakan kewenangan BPSK;
Pembatalan suatu perikatan wajib diajukan pembatalan kepada Hakim atau Majelis Hakim di Pengadilan Negeri sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 1266 KUHPerdata;
Berdasarkan fakta dan dasar hukum tersebut pada poin a, b, dan c di atas, Pemohon Keberatan mohon kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun yang memeriksa perkara a quo untuk membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 197/Arbitrase/BPSK/BB/II/
2016 tanggal 5 Agustus 2016;
d. Pemilihan Forum Penyelesaian dengan Arbitrase oleh BPSK Kabupaten Batu Bara tidak memiliki kekuatan hukum mengikat karena pemilihan forum arbitrase tidak berdasarkan kesepakatan Para Pihak;
Berdasarkan ketentuan Pasal 4 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen menegaskan bahwa setiap penyelesaian sengketa baik melalui konsiliasi, mediasi atau arbitrase dilakukan berdasarkan atas dasar pilihan para pihak, ketentuan dimaksud selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
(1) Penyelesaian sengketa konsumen oleh BPSK melalui Konsiliasi atau Mediasi atau Arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a,
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
dilakukan atas dasar pilihan dan persetujuan para pihak yang bersangkutan;
(2) Penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bukan merupakan proses penyelesaian sengketa secara berjenjang;
Faktanya bahwa pemeriksaan perkara a quo dengan cara Arbitrase hanya berdasarkan permohonan sepihak dari Termohon Keberatan semata (vide Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 197/Arbitrase/BPSK/
BB/II/2016 tanggal 5 Agustus 2016 halaman 1) namun ternyata BPSK Kabupaten Batu Bara tetap memaksakan pemeriksaan perkara ini dengan forum arbitrase, jelas-jelas betentangan dengan Pasal 4 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen karena pilihan tersebut tidak didasarkan kepada persetujuan Para Pihak sehingga beralasan hukum Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 197/Arbitrase/BPSK/BB/II/2016 tanggal 5 Agustus 2016 untuk dibatalkan;
e. Mohon dicatat dalam Berita Acara Sidang mengenai pengakuan Termohon Keberatan dalam gugatannya melalui BPSK Batu Bara;
Majelis Hakim Yang Terhormat,
Berpegang pada dalil Termohon Keberatan dalam surat gugatannya yang ditujukan kepada BPSK Batu Bara, jelas dan nyata telah mengakui hal-hal sebagai berikut:
Termohon Keberatan mengakui bahwa sebagai konsumen (in casu Debitur) telah mendapatkan fasilitas pinjaman kredit (vide dalil gugat halaman 1 sampai dengan halaman 3) dengan rincian:
- Konsumen diberi/menerima pinjaman dari Pelaku Usaha (in casu Pemohon Keberatan) sejumlah Rp350.000.000,- (tiga ratus lima puluh juta rupiah);
- Angsuran setiap perbulannya atas fasilitas pinjaman kredit yang telah diberikan oleh Pelaku Usaha kepada Konsumen adalah sebesar Rp9.000.000,- (sembilan juta rupiah) selama 84 bulan kali angsuran/
7 tahun;
- Angsuran yang telah dibayar oleh Konsumen kepada Pelaku Usaha adalah sebanyak 6 bulan angsuran atau setara dengan Rp54.000.000,- (lima puluh empat juta rupiah);
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
- Konsumen melakukan permohonan peringanan pembayaran angsuran setiap perbulannya kepada Pelaku Usaha dan Pelaku Usaha memberikan peringanan pembayaran (restruktur) menjadi Rp4.000.000,- (empat juta rupiah) ……..;
- Agunan yang menjadi jaminan atas fasilitas pinjaman kredit tersebut yang telah diberikan oleh Pelaku Usaha kepada Konsumen sebagaimana yang telah tertuang dalam Perjanjian Kredit yang dibuat dan ditandatangani bersama antara Konsumen dengan Pelaku Usaha serta telah disepakati bersama, berupa SHM Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun terdaftar atas nama Supono dan SHM Nomor 593 Desa/Kel. Pematang Simalungun terdaftar atas nama Herlina;
- Bahwa fasilitas pinjaman kredit Konsumen tersebut yang telah diberikan oleh Pelaku Usaha kepada Konsumen sebagaimana dalam Perjanjian Kredit yang telah dibuat dan ditandatangani serta telah disepakati bersama;
Terhadap pengakuan Termohon Keberatan tersebut di atas adalah bukti yang sempurna sesuai ketentuan Pasal 1925 KUHPerdata juncto Pasal 174 HIR/Pasal 311 RBg. Terhadap dalil yang diakui Termohon Keberatan tersebut tidak perlu dibuktikan lagi secara hukum karena telah mempunyai kekuatan bukti yang sempurna dan merupakan salah satu persangkaan undang-undang (vide: Pasal 1925 juncto Pasal 1921 KUHPerdata dan vide:
Hukum Acara Perdata, M. Yahya Harahap, S.H., halaman 728 huruf b tentang Nilai Kekuatan Pembuktian dan vide: Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek, Ny. Retnowulan Sutantio, S.H., dan Iskandar Oeripkartawinata, S.H., halaman 80-81);
Apa yang diakui pihak lawan dianggap terbukti secara sah (Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1055 K/Sip/1973 tanggal 13 Agustus 1974).
Suatu dalil yang dikemukakan oleh salah satu pihak dalam suatu perkara apabila telah diakui atau tidak disangkal dari pihak lain, maka dalil yang dikemukakannya itu dianggap telah terbukti (Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 32 K/Sip/1971 tanggal 24 Maret 1971);
f. Pemohon Keberatan menolak dalil Termohon Keberatan yang menyatakan bahwa Permohonan Lelang Eksekusi Hak Tanggungan melalui perantara KPKNL Pematang Siantar adalah cacat hukum, tidak sah dan merupakan perbuatan melawan hukum;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Pemohon Keberatan menolak dalil Termohon Keberatan dalam dalil gugatannya yang menyatakan bahwa permohonan lelang eksekusi Hak Tanggungan melalui perantara kantor KPKNL Pematang Siantar adalah cacat hukum, tidak sah dan merupakan perbuatan melawan hukum (vide dalil gugat yang termuat dalam Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 197/Arbitrase/BPSK/BB/II/2016 tanggal 5 Agustus 2016 halaman 5, 6, 7) yang selanjutnya diambil alih menjadi pertimbangan hukum Majelis Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara (vide halaman 25, 26, 27 putusan) merupakan dalil dan pertimbangan hukum keliru dan tidak tepat;
Majelis Hakim Yang Terhormat,
Dalam Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-benda yang berkaitan dengan Tanah (“Undang-Undang Hak Tanggungan”) angka 4 menyatakan:
“Hak Tanggungan adalah hak jaminan atas tanah untuk pelunasan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lainnya. Dalam arti bahwa jika Debitur cidera janji, Kreditur pemegang Hak Tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, dengan hak mendahulu dari pada kreditur-kreditur yang lain”;
- Berdasarkan ketentuan Pasal 6 juncto Pasal 14 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-benda yang berkaitan dengan Tanah (”selanjutnya disebut UU Hak Tangungan”) dinyatakan sebagai berikut:
”Apabila debitur cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut”;
- Penjelasan Pasal 6 menyatakan bahwa:
”Hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri merupakan salah satu perwujudan dari kedudukan diutamakan yang dipunyai oleh pemegang Hak Tanggungan atau pemegang Hak Tanggungan pertama dalam hal terdapat lebih dari satu pemegang Hak Tanggungan. Hak tersebut didasarkan pada
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
janji yang diberikan oleh pemberi Hak Tanggungan bahwa apabila debitur cidera janji, pemegang Hak Tanggungan berhak untuk menjual obyek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum tanpa memerlukan persetujuan lagi dari pemberi Hak Tanggungan ...”;
- Pasal 14 (2):
”Sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat irah-irah dengan kata-kata ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”;
- Pasal 14 (3):
”Sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan berlaku sebagai pengganti grosse acte hypotheek sepanjang mengenai hak atas tanah”;
Menurut Prof. Dr. ST. Remy Sjahdeini, S.H., dalam bukunya yang berjudul Hak Tanggungan, Asas-asas, Ketentuan-ketentuan Pokok dan Masalah yang dihadapi oleh Perbankan (suatu kajian mengenai Undang- Undang Hak Tanggungan) Penerbit Alumni/1999/Bandung, halaman 46, menyatakan bahwa:
”Pasal 6 UU Hak Tanggungan itu memberikan hak bagi pemegang Hak Tanggungan untuk melakukan parate eksekusi. Artinya pemegang Hak Tanggungan tidak perlu bukan saja memperoleh persetujuan dari pemberi Hak Tanggungan, tetapi juga tidak perlu meminta penetapan dari pengadilan setempat apabila akan melakukan eksekusi atas Hak Tanggungan yang menjadi jaminan utang debitur dalam hal debitur cidera janji. Pemegang Hak Tanggungan dapat langsung datang dan meminta kepada Kepala Kantor Lelang untuk melakukan pelelangan atas obyek Hak Tanggungan yang bersangkutan”;
g. Pemohon Keberatan menolak dalil Termohon Keberatan yang menyatakan Pihak Pengusaha tidak memberikan Akta Perjanjian Kredit, Polis Asuransi karena dalil Termohon Keberatan sangat kontradiktif;
Mengacu kepada dalil Termohon Keberatan (vide halaman 20 putusan alenia 2) yang menyatakan bahwa:
Konsumen tidak pernah diberikan/dilayani dengan salinan/photocopy perjanjian yang mengikat antara Konsumen dengan Pelaku Usaha
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
seperti Akta Perjanjian Kredit, Polis Asuransi dan Akta Pemberian Hak Tanggungan adalah merupakan perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, sedangkan perjanjian tersebut sangat diperlukan konsumen untuk menentukan dan mengetahui berapa besar denda yang ditentukan seperti seberapa besar biaya denda tunggakan angsuran perbulannya yang apabila konsumen telat membayar angsuran perbulannya dan semuanya itu hanya Pelaku Usaha yang mengetahuinya walaupun telah diminta oleh Konsumen adalah unsur kesengajaan terhadap penegakan Hukum Perlindungan Konsumen tentang Klausula baku khususnya pada Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pada ayat (2) yang menyatakan: “Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak dan bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas atau pengungkapannya sulit dimengerti”;
Dan selanjutnya pada ayat (3) menyatakan pula: “bahwa setiap klausula baku yang ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dinyatakan batal demi hukum”;
Pemohon Keberatan menolak dalil Termohon Keberatan tersebut di atas dengan uraian sebagai berikut:
- Tidak benar Pemohon Keberatan selaku Pengusaha tidak memberikan atau menghalang-halangi keinginan konsumen untuk mendapatkan salinan Akta Perjanjian Kredit, Polis Asuransi dan Akta Pemberian Hak Tanggungan, hal tersebut terbukti bahwa Termohon Keberatan sudah sangat mengerti tentang kewajiban angsuran kredit perbulan berdasarkan Perjanjian Kredit Nomor Add-001/T/820-P8/03/13-P/KM101 tanggal 6 Maret 2013 yang telah dirubah berdasarkan Perubahan Perjanjian Kredit Nomor A0027/F/820-B7/10/13-B82001083 tanggal 18 Oktober 2013, dimana masing-masing pihak telah membubuhkan paraf pada masing-masing halaman Perjanjanjian sebagai bukti telah membaca dan mengerti serta membubuhkan tanda tangan sebagai bukti persetujuannya;
- Dalil Termohon Keberatan tersebut di atas bertentangan/kontradiktif dengan pengakuannya sendiri yang menyatakan bahwa, fasilitas pinjaman kredit Konsumen tersebut yang telah diberikan oleh Pelaku
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Usaha kepada Konsumen sebagaimana dalam Perjanjian Kredit yang telah dibuat dan ditandatangani serta telah disepakati bersama (vide dalil gugat alenia 1 halaman 3 putusan);
Berdasarkan fakta hukum tersebut di atas tidak terbukti adanya klausula baku dalam Perjanjian Kredit sebagaimana pengakuan Konsumen sendiri (in casu Debitur/Termohon Keberatan) karena Perjanjian Kredit dibuat dan ditandatangani serta telah disepakati bersama;
h. Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 197/Arbitrase/BPSK/
BB/II/2016 tanggal 5 Agustus 2016 mengandung kontradiktif/pertentangan dalam pertimbangan hukum dan tidak berdasar;
Majelis Hakim Yang Terhormat,
Mengacu pada Pertimbangan Hukum pada alenia 1 halaman 25 Putusan berbunyi sebagai berikut:
“Menimbang bahwa berdasarkan pemeriksaan berkas yang diberikan oleh Konsumen kepada Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dan keterangannya walaupun ada menandatanganinya, Konsumen hanya disodorkan/diberikan saja oleh Pelaku Usaha tanpa ada penjelasan secara terperinci apa maksud tujuan isi surat perjanjian dan dokumen lainnya. Apalagi huruf dan bentuknya kecil-kecil sehingga perbuatan Pelaku Usaha yang menyodorkan saja dengan tidak ada memberikan penjelasan atas perjanjian tersebut adalah merupakan bukti bahwa Pelaku Usaha tidak beritikad baik (te kwarder trow) dalam membuat surat perjanjian tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1338 KUH Perdata dan atau Pelaku Usaha tidak beritikad baik (te kwarder trow) dalam membuat surat perjanjian tersebut”;
Pemohon Keberatan menolak pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara karena kontradiktif dan tidak berdasar, dengan penjelasan sebagai berikut:
- Setelah meneliti dengan cermat pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dalam putusannya, dikaitkan dengan dalil gugat Konsumen (in casu Termohon Keberatan) ternyata tidak satupun ditemukan dalil konsumen yang menyatakan hal demikian didalam dalil gugatnya yang menjadi dasar pertimbangan Majelis BPSK. Tidak berdasar hukum, apa yang tidak pernah didalilkan oleh Konsumen dipertimbangkan dalam pertimbangan hukum Majelis BPSK;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
- Pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara tersebut di atas bertentangan/kontradiktif dengan pengakuan Konsumen sendiri (in casu Termohon Keberatan) yang menyatakan bahwa, fasilitas pinjaman kredit Konsumen tersebut yang telah diberikan oleh Pelaku Usaha kepada Konsumen sebagaimana dalam Perjanjian Kredit yang telah dibuat dan ditandatangani serta telah disepakati bersama (vide dalil gugat alenia 1 halaman 3 putusan);
- Dalam SOP Pemohon Keberatan diatur secara jelas dan profesional bahwa setiap dokumen perjanjian (in casu termasuk Perjanjian Kredit a quo) selalu dijelaskan secara detail mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak (in casu Kreditur dan Debitur) sebelum dilakukan proses penandatanganan dan pada akhirnya ditanyakan kembali apakah para pihak sudah mengerti mengenai hak dan kewajibannya, setelah itu baru dilakukan penandatangan perjanjian dengan membubuhkan paraf pada masing-masing halaman yang telah dibaca dan membubuhkan tanda tangan sebagai tanda telah mengerti dan sepakat dengan isi perjanjian kredit;
Bahwa Perjanjian Kredit Nomor Add-001/T/820-P8/03/13-P/KM101 tanggal 6 Maret 2013 yang telah dirubah berdasarkan Perubahan Perjanjian Kredit Nomor A0027/F/820-B7/10/13-B82001083 tanggal 18 Oktober 2013 dibuat atas dasar kesepakatan dengan kemauan bebas antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan tanpa kekhilafan ataupun paksaan ataupun tipuan (Pasal 1320 KUHPerdata), Para Pihak telah cakap hukum (Pasal 1329 KUHPerdata), serta merupakan suatu hal tertentu (Pasal 1333 dan Pasal 1332 KUHPerdata) dan sebab yang halal (Pasal 1337 KUH Perdata). Oleh karena itu syarat subyektif maupun syarat obyektif perjanjian telah terpenuhi, maka Perjanjian Kredit tersebut sah secara hukum dan mengikat baik terhadap Pemohon Keberatan maupun terhadap Termohon Keberatan (Pasal 1338 KUHPerdata);
Berdasarkan fakta hukum tersebut di atas, Pemohon Keberatan dapat buktikan bahwa putusan arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara mengandung kontradiktif/pertentangan dalam pertimbangan hukumnya dan tidak berdasar;
i. Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara keliru dalam menafsirkan pokok perkara a quo dengan penerapan Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen dalam permasalahan terkait dengan pelaksanaan Perjanjian Kredit sehingga pemeriksaan dan pertimbangan hukumnya tidak tepat;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 21 dari 37 hal. Put. Nomor 291 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Kekeliruan penafsiran pokok perkara oleh Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara terkait dengan penerapan Pasal 4 UU Perlindungan Konsumen tentang hak dan kewajiban Pelaku Usaha terhadap Konsumen, selengkapnya dapat Pemohon Keberatan uraikan sebagai berikut:
- Objek dalam Perjanjian Kredit adalah pemberian fasilitas kredit oleh Kreditur (in casu Pemohon Keberatan) kepada Debitur (in casu Konsumen/Termohon Keberatan);
- Pada saat fasilitas kredit telah ditarik/dicairkan oleh Debitur, berarti Kreditur (in casu Pemohon Keberatan) telah melaksanakan kewajibannya untuk memberikan fasilitas kredit kepada Debitur sebaliknya Debitur telah mengambil haknya dengan menarik/mencairkan fasilitas kreditnya.
Dalam waktu yang sama muncul hak Kreditur untuk menerima angsuran setiap bulannya sebagimana yang telah disepakati dan telah diperjanjian dalam Perjanjian Kredit dan merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh konsumen selaku Debitur sampai seluruh hutangnya lunas;
- Untuk menjamin kelancaran pelunasan hutang tersebut maka Debitur secara sukarela menyerahkan jaminan berupa harta kekayaannya, sesuai dengan ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata menyatakan bahwa;
segala kebendaan si berhutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan;
- Terhadap jaminan kredit berupa sebidang tanah berikut bangunan dengan bukti kepemilikan SHM Nomor 594 Desa/Kel. Pematang Simalungun terdaftar atas nama Supono dan SHM Nomor 593 Desa/Kel.
Pematang Simalungun terdaftar atas nama Herlina, telah pula dibebani dengan Hak Tangungan Peringkat I sebesar Rp437.500.000,- (empat ratus tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah) sesuai dengan Sertifikat Hak Tanggungan Nomor 1221/2014 tanggal 1 Agustus 2014;
Berdasarkan fakta hukum tersebut di atas jelaslah bahwa Pelaku Usaha telah melaksanakan seluruh kewajibannya dengan memberikan fasilitas kredit kepada Debitur/Konsumen namun dilain sisi Konsumen tidak memiliki itikad baik untuk memenuhi kewajibannya membayar angsuran kredit sesuai dengan Perjanjian Kredit dan Daftar Angsuran yang telah disepakatinya sehingga 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebagaimana pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara halaman 19 dan 20 menjadi tidak tepat karena senyatanya
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21