POLA RUANG KAMPUNG BALI CIPTA DARMA
SKRIPSI
OLEH:
EMHADE ARMAN ERHAQIM 130406091
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ABSTRAK
Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 telah menciptakan terjadinya transmigrasi besar-besaran keluar pulau Bali, adapun sebagian diantaranya di kontrak bekerja selama 6 tahun dengan Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) di Sumatera Utara. Di akhir kontraknya, sebagian dari masyarakat Bali yang ada memilih untuk menetap di Sumatera Utara, sehingga didapatkan sebuah lahan pada tanah negara bebas yang berada di Kabupaten Langkat dan kemudian dikenal dengan nama Kampung Bali Cipta Darma. Setelah beberapa tahun menetap di perkampungan tersebut, satu persatu masyarakat dari suku-suku lain ikut bergabung kedalam perkampungan, sehingga menciptakan percampuran budaya serta batasan norma-norma kehidupan yang baru bagi masyarakat Bali.
Kemampuan adaptasi budaya Hindu-Bali terhadap tanah tempat tinggal yang baru telah menciptakan sebuah budaya yang berbeda dengan budaya asal, adaptasi ini juga telah menyebabkan berkurangnya praktek dan penerapan norma-norma dalam budaya Hindu-Bali yang dapat diterapkan di tanah leluhur yang baru.
Kata Kunci: Kampung, Budaya, Hindu-Bali, Transmigrasi, Sumatera Utara.
ABSTRACT
The eruption of Mount Agung in 1963 has created massive transmigration out of the island of Bali, some of them were in contracts with the Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) for 6 years in Sumatera Utara. In the end of the contract, some of the Balinese choose to settle in Sumatera Utara, and they acquired a land on free state land located in Langkat Regency and later known as Kampung Bali Cipta Darma. After several years of settling in, one by one from the other tribes joined the village, thus creating a mixture of cultures and create the limits of new norms of life for the Balinese. The adaptability of Hindu-Balinese culture to new residential land has created a culture that is different from its origin, this adaptation has also led to a reduction in the practice and application of Hindu- Balinese culture norms that can be applied in the new ancestral lands.
Keywords: Kampung, Culture, Hindu-Bali, Transmigration, Sumatera Utara.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberi kekuatan, kemampuan, jalan keluar, serta ridha-Nya selama berlangsungnya pengerjaan skripsi ini.
Pada kesempatan ini, dengan tulus dan kerendahan hati penulis menyampaikan rasa hormat dan terimakasih serta penghargaan sebesar-besarnya kepada pembimbing skripsi yang juga merupakan pembimbing perwalian sejak pertama kuliah Ibu Dr. Wahyu Utami, ST. MT., atas kesediaannya untuk meluangkan waktu, memberikan arahan, bimbingan, masukan dan motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan pengerjaan skripsi ini.
Rasa hormat dan terimakasih yang sama juga penulis tujukan kepada:
1. Kedua Orangtua penulis yang tecinta, Ibu dan Abah atas segala doa, dukungan, kesabaran, dan segala pengorbanan yang tidak akan bisa penulis balas dan sampaikan.
2. Ibu Dr. Ir. Dwira N.Aulia, MSC. IPM., selaku Ketua Jurusan Jurusan Arsitektur USU dan selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan dan masukannya selama proses pengerjaan skripsi ini.
3. Bapak Ir. Rudolf sitorus, MLA., yang telah memberikan masukan dan bimbingan selama menjadi dosen penguji.
4. Ibu Beny.O.Y Marpaung, ST, MT, PhD., selaku Sekretaris Jurusan Arsitektur USU.
5. Ibu dan Bapak dosen serta staff Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
6. Kedua adik penulis yang tersayang, Hilmy dan Isdi, serta seluruh keluarga besar yang telah memberikan dukungan dan doa yang tiada habisnya.
7. Warga Kampung Bali Cipta Darma Kabupaten Langkat yang telah menerima penulis dan banyak membantu dalam penulisan skripsi ini.
8. Teman-teman sepermainan yang telah menjadi sahabat yang penulis butuhkan, serta memberikan motivasi dalam melewati masa-masa sulit yang tidak bisa penulis tuliskan satu persatu.
9. Teman-teman seperjuangan diluar dan didalam kampus yang telah bersama-sama berbagi motivasi dan jalan keluar dari permasalahan yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
10. Teman-teman angkatan 2013 Departemen Arsitektur USU yang telah menjadi sumber motivasi dan semangat selama berkuliah, dan hingga selesainya pengerjaan skripsi ini.
11. UKM Panahan ATC USU, yang telah menjadi keluarga, sahabat dan memberikan pelajaran serta teman-teman baru.
12. Abang, kakak, dan adik-adik Departemen Arsitektur USU yang telah membantu dalam proses pengerjaan skripsi ini, serta bantuan dalam pengerjaan dan pembelajaran selama perkuliahan.
Penulis sungguh menyadari bahwa tugas akhir ini masih mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis membuka diri terhadapa kritikan dan saran bagi penyempurnaan tugas akhir ini. Dan akhirnya penulis berharap tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di lingkungan Departemen Arsitektur USU.
Medan, 15 Maret 2019 Hormat saya,
Emhade Arman Erhaqim NIM. 130406091
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian... 4
1.4. Manfaat Penelitian... 5
BAB II ... 6
TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1. Pola Ruang Masyarakat Hindu di Pulau Bali ... 6
2.1.1.Pemahaman terhadap Konsep-Konsep Hindu... 9
2.1.2. Asta Kosala Kosali ... 13
2.1.3. Bentuk Pola Pedesaan di Bali ... 20
2.2. Letak Geografis dan Kondisi Alam Kampung Bali ... 24
2.3. Latar Belakang Historis Kampung Bali ... 29
2.3.1.Masyarakat Bali Sebelum di Kampung Bali ... 29
2.3.2.Proses Terbentuknya Kampung Bali ... 34
2.4. Awal Kehidupan Masyarakat Kampung Bali ... 38
2.4.1.Agama ... 40
2.4.2.Mata Pencaharian ... 42
2.4.3.Pendidikan ... 43
2.5. Masuknya Masyarakat dari Suku Lain ... 45
BAB III ... 46
METODE PENELITIAN ... 46
3.1. Jenis Penelitian ... 46
3.2. Metode Pengumpulan Data ... 49
3.3. Kawasan Penelitian ... 50
3.4. Tahapan Analisa Data ... 51
BAB IV ... 52
KAMPUNG BALI ... 52
4.1. Lokasi Penelitian ... 52
4.1.1.Deskripsi Kecamatan Wampu ... 52
Kecamatan Wampu terletak di wilayah Timur Kabupaten langkat... 52
4.2. Dusun VI Kampung Bali Desa Paya Tusam ... 54
4.2.1.Kondisi Sosial Budaya dan Perekonomian Masyarakat Bali ... 54
4.3. Pola Permukiman Masyarakat Kampung Bali ... 63
4.3.1.Photo Mapping Permukiman Masyarakat Kampung Bali Berdasarkan Suku .. 63
4.3.2.Photo Mapping Permukiman Masyarakat Kampung Bali Berdasarkan Agama ... 66
4.3.3.Photo Mapping Permukiman Masyarakat Kampung Bali Berdasarkan Tahun Pembangunan Rumah ... 68
4.3.4.Photo Mapping Permukiman Masyarakat Bali yang memiliki Sanggahan ... 70
4.3.5.Photo Mapping Permukiman Masyarakat Bali yang memasang Kain Kuning 72 4.3.6.Perkembangan Pola Permukiman Masyarakat Kampung Bali ... 74
4.4. Pola Permukiman dan Orientasi Rumah Penduduk ... 78
4.5. Material Bangunan ... 80
4.6. Sarana dan Prasarana Lingkungan ... 83
BAB V ... 85
KESIMPULAN DAN SARAN ... 85
5.1. Kesimpulan ... 85
5.2. Saran ... 89
DAFTAR PUSTAKA ... 91
DAFTAR TABEL
2.1. Jumlah dan arah tujuan transmigran Bali. (Charras. 1997)……...18
4.1. Tabel Persentase Masyarakat Berdasarkan Suku………...36
4.2. Tabel Persentase Masyarakat Berdasarkan Agama………...38
4.3. Tabel Persentase Rumah Masyarakat Berdasarkan Tahun Pembangunan Rumah………...40
4.4. Tabel Persentase Tabel Permukiman Masyarakat Bali yang Memiliki Sanggahan……….……...………..42
4.5. Tabel Persentase Permukiman Masyarakat Bali yang Memasang Kain Kuning………44
DAFTAR GAMBAR
2.1. Klasifikasi Perkembangan Masyarakat Hindu di Bali Berdasarkan
Zaman.(Mulyadi. 2003)…….………...8
2.2. Konsep Orientasi. (Mulyadi. 2003)………..………..10
2.3. Jenis-jenis Pengukuran dalam Budaya Bali………..12
2.4. Pembagian Rumah Bali……….13
2.5. Tipikal Perkampungan Bali………16
2.6. Pola Tipikal Pempatan Agung kampung Bali………17
2.7. Lokasi Kampung Bali Cipta Darma pada peta……….……….18
2.8. Gambaran Peta Pemilihan Letak Kampung Bali Cipta Darma dengan Citra Satelit ………25
2.9. Foto SD Negeri 057752, Kampung Bali………..………..28
3.1. Kerangka Berpikir …...………...30
3.2. Peta Lokasi Kampung Bali Cipta Darma...……….32
4.1. Peta Kabupaten Langkat…….………..33
4.2. Peta Lokasi Kampung Bali Cipta Darma…….……….35
4.3. Sudut kedai salah satu warga & kedai milik warga lainnya.………36
4.4. Lahan Perkebunan Kelapa Sawit & Karet milik warga……….………....36
4.5. Hasil Photo Mapping & Tabel Masyarakat Masyarakat Berdasarkan
Suku………40
4.6. Tumpukkan kayu bakar dan sepeda motor warga yang dimodifikasi untuk dipakai beraktifitas sehari-hari.………..41
4.7. Hasil Photo Mapping & Tabel Masyarakat Berdasarkan Agama ……….42
4.8. Masjid Nur Iman dan Pura Penataran Agung Widya Loka Nata, Kampung Bali, Desa Paya Tusam, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat Sumatera Utara ……….43
4.9. Hasil Photo Mapping & Tabel Masyarakat Berdasarkan Tahun Pembangunan Rumah……….…………...44
4.10. Hasil Photo Mapping & Tabel Permukiman Masyarakat Bali yang Memiliki Sanggahan .………....45
4.11. Orientasi permukiman Masyarakat Bali……….47
4.12. Hasil Photo Mapping & Tabel Permukiman Masyarakat Bali yang Memasang Kain Kuning………...48
4.13. Permukiman Masyarakat Bali yang Memasang Kain Kuning ………….49
4.14. Pola Kampung Bali Tahun 1970-1985 ……….50
4.15. Pola Kampung Bali Tahun 1985-2000...……….……..51
4.16. Rumah Masyarakat yang terletak dibelakang rumah warga yang lainnya………...52
4.17. Orientasi permukiman Masyarakat Bali ……..………53
4.18. Rumah warga dengan bahan batu bata .………..…….54
4.19. Rumah warga dengan bahan kayu...………..…...54
4.20. Rumah semi permanen warga ……….……..55
4.21. Meteran listrik pada rumah warga………..……....56
4.22. Parit dan Sungai di Kampung Bali...………..56
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Letusan Gunung Agung yang terjadi pada tahun 1963 memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat disekitarnya. Selain menelan korban jiwa, bencana alam letusan Gunung Agung juga merusak segi kehidupan masyarakat, seperti lahan pertanian, perekonomian, dan bidang kehidupan lainnya.
Selama terjadinya letusan, masyarakat yang berada disekitar Gunung Agung diungsikan ke Kota Denpasar sebagai tempat yang lebih aman dibandingkan beberapa wilayah di sekitar Gunung Agung. Selama dua bulan di pengungsian, korban bencana alam meletusnya Gunung Agung, hanya hidup dari bantuan pemerintah dan masyarakat. Harta dan perlengkapan yang mereka miliki semuanya tidak dapat digunakan lagi. Keadaan ini membuat pemerintah dan juga masyarakat yang diungsikan, berfikir keras untuk mencari cara bagi para pengungsi untuk dapat melanjutkan kehidupan mereka kembali seperti semula (wawancara dengan Wayan Wite, 2018).
Pemerintah akhirnya membuat program untuk pengungsi yang masih berada di tempat pengungsian. Pada awalnya mereka (pengungsi) akan ditransmigrasikan,
kedua daerah yaitu Sulawesi, dan Kalimantan. ebelum para pengungsi diberangkatkan ke daerah tujuan transmigrasi, sebuah perusahaan perkebunan (Perusahaan Negara Perkebunan) menawarkan pekerjaan kepada pengungsi melalui pemerintah. Perusahaan ini memberikan kontrak selama 6 tahun. Fasilitas yang disediakan PNP ialah rumah kecil sederhana dengan dua buah kamar tidur dan dilengkapi dengan perlengkapan rumah tangga (wawancara dengan Wayan Wite, 2018).
Setelah kontrak pertama selama 6 tahun selesai, sebagian masyarakat Bali yang tinggal di perkebunan Bandar Selamat, memohon untuk mundur dengan hormat sebagai buruh perkebunan, dan kembali ke tanah leluhurnya di Bali. Sementara sebagian yang ingin terus menetap di Sumatera, berencana untuk membentuk suatu perkampungan Bali, masyarakat Bali perantauan ini dapat melakukan ritus dan budayanya persis seperti di Bali dengan sesama masyarakat Bali lainnya.
Maka melalui organisasi Parisada Hindu, masyarakat Bali ini diperbantukan untuk dicarikan sebuah lahan kosong yang dapat ditempati oleh masyarakat Bali.
Akhirnya pilihan tersebut jatuh ke wilayah hutan belantara yang berstatus tanah negara bebas. Masyarakat Bali yang akan mendiami wilayah ini diharuskan membayar ganti tanah tersebut sebesar Rp.15.000 sebagai milik warga, yang dapat mereka olah sebagai kebun pribadi (wawancara dengan Wayan Wite, 2018).
Keberadaan kampung Bali Cipta Darma di tengah-tengah masyarakat Langkat menambahkan keberagaman suku dan budaya yang ada, walaupun mereka sudah tidak menjadi suku yang dominan di kampung tersebut, hal ini disebabkan oleh
Masuknya suku lain ke dalam perkampungan Bali Cipta Darma, tidaklah menciptakan perpecahan dan permusuhan antar suku, hal ini bisa dilihat dari kemampuan masyarakat untuk hidup rukun dan damai selama bertahun-tahun.
Perbedaan budaya di perkampungan ini, menciptakan percampuran budaya yang secara langsung bisa dilihat secara kasat mata, seperti mampunya masyarakat baik itu suku Bali ataupun Jawa untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Bali.
Adapun yang terjadi di tengah-tengah masyarakat suku Bali adalah berkurangnya kemampuan generasi penerus mereka untuk melestarikan budaya mereka sendiri, hal sederhana yang bisa dilihat ialah kemampuan beberapa dari anak-anak mereka sudah tidak mampu lagi untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Asli mereka.
Bekerja sebagai petani tidaklah muda bagi masyarakat Bali, besarnya lahan yang harus dikelola ditambah tidak stabilnya harga karet menyebabkan masyarakat mengalami krisis yang berkesinambungan. Beberapa memilih untuk beralih menanam sawit, hal ini tidaklah membuat masalah yang ada menjadi terselesaikan, dikarenakan pohon sawit memasuki usia produktif di tahun ke-3 penanaman, sehingga para masyarakat harus bersabar untuk menunggu hingga tanaman sawit mampu menghasilkan keuntungan bagi mereka. Tidak stabilnya ekonomi masyarakat Bali yang ada di perkampungan ini membuat mereka untuk pasrah dan sabar dalam menjalani kehidupan.
Selain permasalahan ekonomi dan budaya, masyarakat Bali Kampung Cipta Darma juga mengalami permasalahan di bidang pendidikan dan infrastruktur,
jauhnya jarak sekolah dari perkampungan dan buruknya infrastruktur jalan yang ada, mengharuskan warga untuk memodifikasi sepeda motornya agar mampu melewati jalan yang licin dan bergelombang untuk mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan beberapa dari mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya keluar daerah sehingga anak-anak mereka harus tinggal bersama kerabat keluarga yang ada disana.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah yang ada adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang dan sejarah kedatangan Masyarakat Bali di Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat Sumatera Utara?
2. Bagaimana kehidupan sosial budaya Masyarakat Bali di Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat Sumatera Utara?
3. Bagaimana awal pola ruang kampung Bali dan sekarang?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini, yakni sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui latar belakang dan sejarah Masyarakat Bali yang menetap di Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat Sumatera Utara.
2. Untuk mengetahui fenomena sosial budaya dn tatanan fisik ruang yang terjadi di Kampung Bali Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat Sumatera Utara
3. Untuk mencari tahu pola awal permukiman.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan sosial budaya yang terkait perkembangan fisik ruang perkampungan bali di Kecampatan Wampu Kabupaten Langkat Sumatera Utara.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pola Ruang Masyarakat Hindu di Pulau Bali
Masyarakat Bali percaya bahwa tempat yang tinggi merupakan untuk Tuhan, dunia tengah merupakan tempat manusia, dan tempat yang rendah adalah tempat roh jahat. Sudah hal yang wajar bagi masyarakat Bali yang hidup di bumi untuk menganugerahkan alam dengan sihir dan signifikasi spiritual. (Eko Budihardjo, 1986)
Pada awal mulanya, orang-orang Bali telah memahami gagasan tentang alam semesta yang tertata yang membentang dari langit di atas gunung hingga ke kedalaman laut. Segala sesuatu yang ada di alam, mereka sangat percaya, memiliki arah, pangkat dan tempat. Semua yang suci di asosiasikan dengan ketinggian, pegunungan dan arah aliran keatas menuju Gunung Agung, tempat paling sakral dan gunung berapi tertinggi di Bali (3.192 m dari permukaan laut).
Semua yang mengancam dan berbahaya merupakan kekuatan dari bumi bagian bawah, lautan yang tidak dapat dipahami dan semua aliran kebawah menuju lautan. Tempat tinggal orang-orang adalah di ruang perantara: dataran subur antara pegunungan dan lautan. (Eko Budihardjo, 1986)
Konsep dasar bagi masyarakat Bali yang sedikit berhubungan dengan mendesain dan perancangan arsitektural, konsep ini disebut Tri Angga, penurunan utama dari Tri Hita Karana. Konsep Tri Angga membagi segalanya menjadi 3 komponen atau zona: Nista (rendah, tidak murni, kaki), Madya (tinggi, murni, kepala). (Eko Budihardjo, 1986)
Pengartian dari konsep ini menjadi bentuk fisik, hal ini dapat dilihat melalui perencanaan dari perkotaan, dan pedesaan, dan desain pura-pura, perumahan dan bangunan-bangunan lainnya, merupakan hasil dari di setiap divisi dari setiap elemen menjadi 3 bagian dengan arah mata angin gunung-lautan. Sebagai contoh, bagian sakral dari rumah – area untuk ritual agama – diletakkan di bagian arah Timur Laut mengarah ke gunung; tempat tinggal dan area bekerja berada di tengah; dan area yang paling kotor seperti pintu masuk, dapur, dan kandang babi berada di arah barat daya mengarah ke laut.
Selain itu, terdapat juga konsep orientasi berdasarkan kepercayaan bahwa arah timur, arah tempat matahari terbit setiap harinya, di pertimbangkan sebagai arah yang menguntungkan; sementara arah barat, dan tempat matahari terbenam merupakan bagian yang tidak menguntungkan. Tetapi arah mata angina timur- barat ini kurang berpengaruh dibandingkan dengan konsep arah mata angin gunung-laut. Arah ideal orientasi mata angin spiritual dari kosmologi Bali ini dikenal dengan nama Nawa Sangah (sembilan arah) terdiri dari 8 arah mata angina dan 1 Puseh (titik tengah).
Lalu Mulyadi (2003) dalam penelitiannya yang berjudul Pola Grid Kota Cakranegara, mengklasifikasikan perkembangan masyarakat Hindu di pulau Bali kedalam beberapa zaman, yaitu: zaman pra-sejarah, zaman Bali Kuno, dan zaman pengaruh Majapahit.
Gambar 2.1. Klasifikasi Perkembangan Masyarakat Hindu di Bali Berdasarkan Zaman.
Sumber: Mulyadi, L. 2003. Pola Grid Kota Cakranegara, Malang.
2.1.1. Pemahaman terhadap Konsep-Konsep Hindu
1. Konsep Orientasi Kosmologi
Arsitektur vernakular mempunyai ciri yang kuat pada adanya kosmologi dalam penataan lingkungan permukiman, orientasi kosmologi ini dapat ditandai dengan adanya orientasi yang bersifat sakral (sacred) dan orientasi yang bersifat profan (profane) (Rapoport, 1969). Orang-orang Hindu menganggap bahwa dunia sebagai sebuah kosmos yang teratur. Mereka berorientasi pada suatu prinsip memelihara hubungan harmonis antara bhuana agung atau makro kosmos dengan bhuana alit atau mikro kosmos. Tata hubungan ini didasarkan pada falsafah tat twam asi (aku adalah kau), dan falsafah rwa bhinneda (rekonsiliasi dua kutub atau nilai-nilai yang bertentangan), yang menjadi dasar hubungan dialektik (kesadaran tingkat rohani), baik antara benda dengan benda, manusia dengan benda, manusia dengan makhluk hidup lainnya, dan manusia dengan Tuhan (Mulyadi, 2003).
Falsafah rekonsiliasi dua kutub inilah bagi masyarakat agama Hindu sangat berpengaruh pada konsep orientasi, seperti hal-hal yang bersifat keramat diletakkan pada arah Gunung. Gunung merupakan pusat orientasi yang bernilai sakral (sacred value) sebagai arah utama dan mempunyai konotasi kesucian religius yang disebut kaja. Sebaliknya hal-hal yang biasa dan tak keramat diletakkan pada arah laut. Laut adalah arah nista yang memiliki nilai profan (profane value) yang disebut kelod. Klasifikasi dualistis yang demikian ini tercermin dimulai dari tata ruang rumah tinggal, tata ruang permukimannya,
dan tata ruang sebuah Kota. Demikian misalnya ditandai dengan : pada arah Gunung diletakkan tempat pemujaan yang disebut pura puseh dan pura desa, sedangkan pada arah laut di letakkan tempat pemujaan disebut pura dalem(kuil yang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian) (Mulyadi, 2003).
Selain ke arah Gunung dan laut konsep ini juga berorientasi ke arah timur matahari terbit, arah timur merupakan arah utama, dan ke arah barat matahari terbenam, arah barat merupakan arah nista. Penjelasan konsep mengenai arah seperti tersebut di atas ditunjukkan dalam gambar dibawah ini.
Gambar. 2.2. Konsep Orientasi. Ilustrasi oleh: Lalu Mulyadi, 2003, Pola Grid Kota Cakranegara, Malang.
2. Konsep Pempatan Agung
Pempatan agung adalah merupakan salah satu ruang terbuka yang menjadi pusat orientasi dari suatu kawasan/ Kota/ permukiman. Disebut dengan nyatur
terbuka pempatan agung merupakan pengejawantahan dari wujud pertemuan akasa atau langit dengan pertiwi atau tanah, yang merupakan simbolisasi dari konsepsi kesuburan yang tercipta dari adanya pertemuan purusha atau kekuatan laki-laki dengan pradhana atau kekuatan perempuan.
Pempatan agung yang merupakan perpotongan dua ruas jalan utama dalam suatu kawasan, memiliki orientasi utara-selatan (kaja-kelod) dan orientasi timur-barat (kangin-kauh).Masyarakat Hindu terutama di Bali mempercayai bahwa pada pertemuan ruas jalan tersebut terdapat kekuatan-kekuatan yang dahsyat di luar kekuatan manusia, sehingga perempatan jalan dianggap sebagai pusat aktivitas kehidupan dan secara ritual keagamaan, sehingga lokasi ini selalu diadakan upacara ritual diantaranya adalah upacara tawur agung (Mulyadi, 2003).
3. Konsep ikatan dalam masyarakat Hindu
Dalam komunitas masyarakat desa-desa terutama di Bali terdapat tiga bentuk organisasi sosial yang cukup penting peranannya, yaitu: organisasi subak, organisasi sekehe, dan organisasi banjar. Ketiga bentuk organisasi tersebut dapat dilihat dari aktivitas-aktivitas kehidupan yang dilakukan masyarakat desa (Mulyadi, 2003).
Organisasi subak adalah merupakan organisasi para pemilik ataupun penggarap sawah yang menerima air dari suatu irigasi bendungan tertentu. Kegiatannya di bidang pertanian baik berkaitan dengan ekonomi maupun dengan spiritual.
Pimpinan organisasi subak pada tingkat banjar disebut klian subak yang
dibantu oleh Sinoman sebagai juru bicara (pemberi informasi). Pimpinan ini pada tingkat desa disebut Pekasih, pada tingkat kecamatan disebut sedahan agung.
Organisasi sekehe adalah merupakan suatu organisasi atau kesatuan sosial yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Dasar keanggotaannya adalah sukarela.
Ikatan suatu sekehe terbina oleh adanya tujuan bersama dan norma yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Eksistensi sekehe bisa permanen maupun sementara. Beberapa contoh sekehe adalah: sekehe barong, sekehe gong, sekehe taruna-taruni, sekehe memula, sekehe ngerabin, sekehe manyi, dan lain sebagainya.
Organisasi banjar adalah merupakan suatu organisasi atau kesatuan sosial atas dasar ikatan wilayah dalam suatu desa. Pada umumnya desa-desa di Bali memiliki banjar adat yang dipimpin oleh kalian adat yang menguasai bidang adat dan agama, dan banjar dinas yang dipimpin oleh kalian dinas yang mengurusi bidang administrasi dan pembangunan dalam suatu banjar. Tujuan dari banjar adalah menciptakan suatu kerjasama di antara anggotanya dalam kehidupan seperti perkawinan, kematian, pembakaran jenazah atau ngaben dan sebagainya. Keangotaan banjar bersifat suatu keharusan atau wajib bagi masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah teritorial banjar, terutama bagi anggota masyarakat yang sudah menikah.
2.1.2. Asta Kosala Kosali
Asta Kosala Kosali merupakan sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. Penataan Bangunan biasanya menggunakan anatomi tubuh manusia. Pengukuran didasarkan pada ukuran tubuh, tidak menggunakan meter. Jenis-jenis pengukurannya sebagai berikut: (Sumber:
Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi, 2012.
http://www.babadbali.com/astakosalakosali/astakosala.htm)
Gambar. 2.3. Jenis-jenis Pengukuran dalam Budaya Bali (Sumber:
http://www.babadbali.com/astakosalakosali/astakosala.htm).
a. Musti (ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas),
b. Hasta (ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka)
c. Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan)
Konsep penataan Rumah di Bali juga didasarkan oleh Buana Agung (Makrokosmos) dan Buana Alit (Mikrokosmos). Yaitu sebagai berikut:
a. Bhur, alam nista yang menjadi simbolis keberadaan setan dan nafsu yang selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari dharma.alam semesta,
b. Bwah, alam manusia dan kehidupan keseharian yang penuh dengan godaan duniawi, yang berhubungan dengan materialisme
c. Swah, Sorga alam dewa-dewi dan Brahman, alam yang dihuni oleh jiwa- jiwa (atman) yang bathinnya bersih dan suci serta hidupnya penuh welas asih dan dharma kebaikan.
Selain itu, Asta Kosala Kosali juga berpatokan pada Nawa Sanga (9 mata angin). Setiap bangunan itu memiliki tempat sendiri. Seperti misalnya:
a. Dapur, karena berhubungan dengan Api maka Dapur ditempatkan di Selatan,
b. Tempat Sembahyang karena berhubungan dengan menyembah akan di tempatkan di Timur tempat matahari Terbit.
c. Karena Sumur menjadi sumber Air maka ditempatkan di Utara sebagai Gunung berada.
Warna merupakan sistem hirarki, di Bali Hirarkial itu juga berpengaruh terhadap tata ruang bangunan rumahnya. Dalam pembuatan rumah, rumah dibagi menjadi beberapa bagian:
a. Jaba untuk bagian paling luar bangunan.
b. Jaba Jero untuk mendifinisikan bagian ruang antara luar dan dalam, atau ruang tengah.
c. Nista menggambarkan hirarki paling bawah dari sebuah bangunan, diwujudkan dengan pondasi rumah atau bawah rumah sebagai penyangga rumah. bahannya pun biasanya terbuat dari Batu bata atau Batu Gunung.
d. Madya adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela dan pintu. Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia.
e. Utama adalah simbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal. Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.
Gambar. 2.4. Pembagian Rumah Bali (Sumber: Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi, 2012.
https://www.babadbali.com/astakosalakosali/astakosala.htm)
Berikut merupakan penjelasan bagian-bagian dari rumah Bali:
1. Pamerajan adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga mempunyai pamerajan yang letaknya di Timur Laut pada sembilan petak pola ruang
2. Umah Meten yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat
3. Bale Sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anakanak atau anggota keluarga lain yang masih junior.
4. Bale tiang sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu 5. Bale Dangin biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat bendabenda
seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya.
6. Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.
7. Paon (Dapur) yaitu tempat memasak bagi keluarga.
8. Aling-aling adalah bagian entrance yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam.
9. Angkul-angkul yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk.
1. Pemilihan Tanah Untuk Membangun
Tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara, pelemahan datar (asah), pelemahan inang, pelemahan marubu lalah (berbau pedas). (Bhagawan Dwija, 2012)
Tanah yang patut dihindari sebagai tanah lokasi membangun perumahan adalah:
a. karang karubuhan (tumbak rurung/ jalan),
b. karang sandang lawe (pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan),
c. karang sulanyapi (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan)
d. karang buta kabanda (karang yang diapit lorong/ jalan), e. karang teledu nginyah (karang tumbak tukad),
f. karang gerah (karang di hulu Kahyangan), g. karang tenget,
h. karang buta salah wetu,
i. karang boros wong (dua pintu masuk berdampingan sama tinggi), j. karang suduk angga, karang manyeleking dan yang paling buruk adalah k. tanah yang berwarna hitam- legam, berbau “bengualid” (busuk)
Tanah- tanah yang tidak baik (ala) tersebut di atas, dapat difungsikan sebagai lokasi membangun permukiman jika disertai dengan upacara/ upakara agama yang ditentukan, serta dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara/
upakara pamarisuda.
2. Perumahan Dengan Pekarangan Sempit, bertingkat dan Rumah Susun.
Dengan sempitnya pekarangan, penataan pekarangan sesuai dengan ketentuan Asta Bumi sulit dilakukan. Untuk itu jiwa konsepsi Tri Mandala sejauh mungkin hendaknya tercermin (tempat pemujaan, bangunan perumahan, tempat pembuangan (alam bhuta).
Karena keterbatasan pekarangan tempat pemujaan diatur sesuai konsep tersebut di atas dengan membuat tempat pemujaan minimal Kemulan/ Rong Tiga atau Padma, Penunggun Karang dan Natar.
Untuk rumah bertingkat, bila tidak memungkinkan membangun tempat pemujaan di hulu halaman bawah boleh membuat tempat pemujaan di bagian hulu lantai teratas.
Untuk rumah Susun, tinggi langit- langit setidak- tidaknya setinggi orang ditambah 12 jari. Tempat pemujaan berbentuk pelangkiran ditempatkan di bagian hulu ruangan.
3. Tata Letak Dalam Membangun
Ketika rancangan rumah sudah selesai, dalam proses membangun rumah ada beberapa hal yang bisa menjadi patokan agar rumah lebih bersinergi positif.
Yaitu sebagai berikut:
a. Bangunan yang terletak di timur, lantainya lebih tinggi sebab menurut masyarakat Bali selatan umumnya, bagian timur dianggap sebagai hulu (kepala) yang disucikan. Dari segi fengshui pun mengatakan dengan tatanan seperti sinar matahari tidak terlalu kencang, dan air tidak sampai ke bagian hulu sehingga memberikan energi yang lebih positif. Bagunan yang cocok untuk ditempatkan diareal itu adalah tempat suci keluarga yg disebut merajan atau sanggah.
b. Dapur diletakan di arah barat (barat daya) dihitung dari tempat yang di anggap sebagai hulu (tempat suci) atau di sebelah kiri pintu masuk areal rumah, karena menurut konsep lontar Asta Bumi, tempat ini sebagai letak Dewa Api.
c. Sumur atau lumbung tempat penyimpanan padi jika bisa diletakan di sebelah timur atau utara dapur atau juga di sebelah kanan pintu gerbang masuk rumah karena melihat posisi Dewa Air.
d. Bangunan balai Bandung (tempat tidur) diletakan diarah utara,sedangkan balai adat atau balai gede ditempatkan disebelah timur dapur dan di selatan balai Bandung.Bangunan penunjang lainnya diletakkan di sebelah selatan balai adat.
4. Penentuan Pintu Masuk
Selain menemukan posisinya yang tepat untuk menangkap dewa air sebagai sumber rezeki, ukuran pintu masuk juga harus diatur. Jika membuat pintu masuk lebih dari satu, lebar pintu masuk utama dan lainya tidak boleh sama.
Termasuk tinggi lantainya juga tidak boleh sama. Lantai pintu masuk utama (di Bali berbentuk gapura/ angkul – angkul) harus dibuat lebih tinggi dari pintu masuk mobil menuju garasi. Jika dibuat sama, akan memberi efek kurang menguntungkan bagi penghuninya bisa boros atau sakit-sakitan. Akan sangat bagus bila di sebelah kiri (sebelah timur jika rumah mengadap selatan) diatur jambangan air (pot air) yang diisi ikan.
2.1.3. Bentuk Pola Pedesaan di Bali
Sebuah desa yang sederhana terdiri dari beberapa rumah milik keluarga, setiap rumahnya dikelilingi oleh dinding-dinding, berjajar di setiap sisi jalan lebar yang dibangun dengan baik yanr mengarah ke titik mata angin, dari gunung ke laut. (Eko Budihardjo, 1986)
Ada perbedaan yang jelas antara tempat tinggal dan bagian-bagian desa yang
„tidak hidup‟. Menerapkan konsep Tri Hita Karana, kuburan berada di bagian barat daya, area yang paling kotor; pura berada mengarah ke Gunung Agung, area yang paling sakral; dan tanah hunian menghiasi ruang perantara.
Desa adalah organisme bersatu, setiap individu adalah sel darah dan setiap institusi adalah organ. Jantung desa adalah alun-alun pusat, selalu terletak di pusat desa. Arah mata angina sangat berarti bagi orang Bali, dan persimpangan yang berfokus pada alun-alun merupakan tempat ajaib yang sangat penting. (lihat gambar 2.5)
Disekeliling dan di alun-alun merupakan tempat-tempat umum yang penting di dalam desa:
a. Pura desa (A)
b. Puri, rumah kepala desa (C) c. Pasar (F)
d. Wantilan, aula pertemuan (D)
e. Kul Kul, menara tinggi tempat menggantung alarm tomtoms untuk memanggil ke pertemuan, mengumumkan acara, atau bahaya (B)
f. Waringin, (E)
Gambar. 2.5. Tipikal Perkampungan Bali (Sumber: Eko Budihardjo,1986)
Waringin (E) juga penting bagi kehidupan desa, yang pernah ada, sebuah banyan raksasa, pohon suci umat Hindu, ditanam di alun-alun. Di bawah bayang-bayangnya terjadi pertunjukan dan tarian yang diberikan sehubungan dengan festival yang sering; pasar juga diadakan di sana, di desa-desa yang tidak memiliki tempat khusus pasar.
Di suatu tempat di pinggiran desa ke arah Barat Daya, adalah pemandian umum dan pemakaman dengan pura untuk orang mati. Tempat mandi khusus ini memiliki semburan air mewah dan dinding batu berukir rendah, dengan kompartemen terpisah untuk pria dan wanita.
Semua ruang terbuka: alun-alun. jalan-jalan, sebenarnya adalah sebuah area hidup yang luas di mana orang-orang bertemu satu sama lain di mana semua anak-anak bermain, dan juga tempat di mana pesta seremonial berlangsung.
Pola silang desa ini disebut Pempatan Agung, menciptakan empat lingkungan yang berorientasi ke daerah pusat. Oleh karena itu, bentuk seluruh desa disebut Nyatur Desa (empat lingkungan) atau Catur Muka empat wajah). Ada juga pola lain yang sedikit berbeda, Pola Aling-Aling, yang terlihat seperti bentuk swastika. Dalam pola ini, tidak ada jalan lurus terus menerus seperti halnya Pempatan Agung. Sedangkan bentuk paling sederhana dari desa Bali adalah pola Linear, yang sangat umum di daerah pegunungan atau berbukit.
Gambar. 2.6. Pola Tipikal Pempatan Agung kampung Bali (Sumber: Eko Budihardjo,1986)
2.2. Letak Geografis dan Kondisi Alam Kampung Bali
Kampung Bali merupakan pemukiman Masyarakat Bali yang ada di pedalaman Kabupaten Langkat. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa Langkat merupakan salah satu kabupaten yang berada di Dataran Tinggi Bukit Barisan, terletak di
berada pada koordinat 3° 14‟ – 4° 13‟ Lintang Utara dan 97° 52‟ – 98° 45‟ Bujur Timur. Kabupaten Langkat berada diketinggian 4-105 m dari permukaan laut.
Secara administrasi Kabupaten Langkat mempunyai batas sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Aceh Tamiang (Provinsi NAD) dan Selat Malaka
Sebelah Selatan : Kabupaten Karo
Sebelah Timur : Kabupaten Deli Serdang
Sebelah Barat : Kabupaten Aceh Tenggara/Tanah Alas (Provinsi NAD)
Gambar 2.7. Lokasi Kampung Bali Cipta Darma pada peta. (Sumber: Pribadi, 2018)
Ibukota dari Kabupaten Langkat adalah Stabat. Kabupaten Langkat memiliki luas 626.329 Ha sekarang ini Kabupaten Langkat terdiri dari 23 Kecamatan dan 277
desa/kelurahan. secara umum mayoritas penduduk Kabupaten Langkat adalah orang Melayu yang merupakan penduduk asli. Kemudian diikuti oleh suku Jawa, Karo, Batak Toba, Mandailing, dll. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat, Kabupaten Langkat Dalam Angka 2018, BPS Statistik of Langkat Regency, 2018).
Kampung Bali di Langkat merupakan wilayah dusun VI yang terletak di Desa Paya Tusam, Kecamatan Sei Wampu. Kecamatan Sei Wampu ini merupakan kecamatan yang bersebelahan langsung dengan Kota Stabat. Antara Kota Stabat dengan Kecamatan Sei Wampu ini dipisahkan oleh keberadaan Sungai Wampu.
Sungai Wampu adalah sebuah sungai yang mengalir melalui 2 kabupaten di Sumatera Utara, Indonesia, yaitu Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat. Di kabupaten Karo, hulu sungai ini dikenal dengan nama Lau Biang. Airnya yang jernih dan cukup deras, mengalir langsung dari hutan-hutan lebat Taman Nasional Gunung Leuser. Sungai Wampu memiliki lebar sekitar 150 m, untuk menyeberangi sungai wampu melalui Kota Stabat menuju ke kecamatan Sei Wampu dapat dilalui dengan dua cara, pertama dengan melalui jembatan sungai Wampu dan yang kedua dengan menaiki jasa angkutan penyebrangan sungai berupa getek.
Kampung Bali yang menjadi pemukiman masyarakat Bali sebelumnya merupakan wilayah dari Desa Bingai, namun setelah adanya pemekaran pada tahun 2001 terhadap Desa Bingai ini, maka Desa Bingai terbagi menjadi tiga desa. Ketiga desa tersebut adalah Desa Bingai, Desa Paya Tusam, dan Desa Setungkit.
Kampung Bali setelah pemekaran Desa Bingai masuk di dalam wilayah Desa Paya Tusam.
Jarak antara Kota Stabat dengan Kampung Bali sekitar 20 km. Perjalanan menuju ke Kampung Bali jika ditempuh dari Kota Stabat akan melewati beberapa pemukiman-pemukiman masyarakat yang di dominasi oleh mayoritas Masyarakat Melayu, perjalanan ini dalam prosesnya akan membelah jalan perkebunan kelapa sawit dan karet yang merupakan tanaman para warga setempat. Akses ini sekalipun dimungkinkan untuk kendaraan roda empat namun akan terasa sangat sulit karena kondisi jalan yang kurang baik. Hal ini lebih disebabkan karena akses jalan yang berbatu dan struktur tanah yang tidak rata. Tidak ada jalan yang jelas ataupun yang menjadi jalan umum dalam perjalanan menuju Kampung Bali dari Kota Stabat, karena jalan-jalan yang dilewati merupakan jalan-jalan perkebunan yang sengaja dibuka hanya untuk kepentingan perkebunan dan untuk menghubungkan satu pemukiman kepemukiman lain, keadaan ini membuat perjalanan menuju Kampung Bali dari Kota Stabat terlihat berliku-liku dan sedikit rumit. Masyarakat setempat setelah penyebrangan getek dari Kota Stabat masih banyak yang tidak mengetahui jalan menuju Kampung Bali. Karena akses jalan dari Kota Stabat menuju Kampung Bali bukanlah akses jalan utama Masyarakat Bali untuk keluar kampung menuju Kota, akses jalan utama masyarakat Kampung Bali untuk keluar kampung menuju Kota adalah melalui Desa Perhiasan yang merupakan desa dari Kecamatan Selesai menuju Kota Binjai. Akses jalan ini merupakan akses jalan yang baru dibuka untuk mempermudah masyarakat keluar dari kampung menuju ke Kota.
Kampung Bali dikelilingi oleh perkebunan pribadi milik warga, perkebunan ini didominasi oleh tanaman karet yang menjadi mata pencarian masyarakat.
Terdapat juga tanaman seperti sawit, kakao dan ada juga tanaman-tanaman liar lainnya. Tampilan wajah Kampung Bali sendiri menghadap Tenggara arah mata angin, apabila diamati dari jalan kedatangan menuju kampung dan pintu gerbang masuk. Setiap orang yang datang memasuki kampung harus terlebih dahulu lewat pintu gerbang untuk bisa memasuki Kampung Bali. Demikian juga warga yang berdiam di kampung itu yang hendak pergi untuk meninggalkan kampung harus melalui gerbang masuk meski memang tidak ada penjaga yang bertugas di gerbang masuk. Semakin kedalam memasuki kampung menuju arah Barat Laut maka kita akan menemukan Pura Penataran Agung Widya Loka Nata yang terletak di dataran tertinggi kampung, memang kampung Bali ini jika dilihat struktur tanahnya semakin memasuki kampung maka tanahnya semakin tinggi seperti menaiki bukit. Jalan-jalan di areal kampung yang menghubungkan rumah- rumah warga masih menggunakan jalan setapak, jalan-jalan ini terlihat bergelombang karena kondisi tanah diperkampungan yang pada dasarnya tidak rata, ditengah-tengah kampung ada sebuah titi dari kayu yang dibangun untuk melewati sebuah parit besar, parit ini dahulu memang sudah ada, namun menurut sumber dahulu lebar parit ini tidak sebesar seperti sekarang, karena kebutuhan sebagai saluran pembuangan air maka masyarakat memperbesar parit ini agar lebih maksimal fungsinya. Di tengah-tengah pemukiman masyarakat Kampung Bali juga akan banyak ditemui pohon sawit, tanaman ini ditanami secara sengaja oleh masyarakat untuk menambah penghasilan masyarakat.
Panorama alam Kampung Bali yang masih didominasi warna hijau memberi kenyamanan tersendiri bagi orang-orang yang rindu akan kehidupan tradisional perkampungan. Kampung Bali adalah pemukiman khas pedesaan yang masih memegang nilai-nilai luhur kebudayaannya. Kampung Bali sebagai desa tradisional ditandai dengan ciri-ciri umum antara lain: mata pencaharian penduduk relatif pada sektor pertanian, perbandingan antara lahan dan penduduk relatif besar, hubungan antar warga relatif akrab, pada umumnya tradisi leluhur masih di pegang kuat.
2.3. Latar Belakang Historis Kampung Bali
Meningkatnya jumlah penduduk akibat aktivitas ekonomi yang terus berkembang sehingga dapat mendorong pertambahan kebutuhan lahan yang dijadikan untuk daerah permukiman ataupun lahan usaha sehingga dapat menciptakan suatu daerah permukiman ataupun pola permukiman baru. Pola permukiman tersebut bersifat sebaran, dan lebih banyak berkaitan dengan faktor-faktor ekonomi, sejarah dan faktor budaya beserta dampaknya. Keberadaan Kampung Bali sendiri merupakan pemukiman yang ada akibat sebaran penduduk yang dilatarbelakangi karena faktor ekonomi. Perpindahan etnis Bali dari satu daerah kedaerah pedalaman di Langkat melewati kronologis sejarah, perpindahan ini mengubah wajah belantara menjadi pemukiman yang menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang baru. Masyarakat Bali sendiri merupakan pemeran terpenting dalam proses terbentuknya Kampung Bali.
2.3.1. Masyarakat Bali Sebelum di Kampung Bali
Pasca kolonial Indonesia telah menjadi sebuah negeri yang merdeka dan berdiri sendiri semenjak 17 Agustus 1945, keadaan ekonomi, politik dan kebudayaan di Indonesia tidak mengalami perubahan secara mendasar.
Keterbelakangan ekonomi banyak terjadi di pedesaan yang merupakan tempat di mana mayoritas rakyat Indonesia berada khusus untuk Kepulauan Jawa.
Pengangguran juga meluas di pedesaan sebagai akibat sempitnya lapangan pekerjaan. Umumnya masyarakat di daerah pedesaan menumpukkan ekonominya pada sektor pertanian, namun mayoritas kaum tani adalah kaum tani yang tidak memiliki lahan. Kalaupun ada yang memiliki lahan, maka kepemilikan lahan tersebut dalam jumlah yang sangat terbatas sehingga hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Keadaan ini terjadi karena lahan-lahan yang ada di desa rata-rata dikuasai oleh “tuan tanah”, tani kaya, dan orang kaya desa lainnya. Sehingga sedikit sekali kaum tani yang dapat memanfaatkan tanah bagi kehidupan mereka. Kemiskinan di pedesaan inilah yang menjadi salah satu sebab utama mengapa banyak penduduk desa terutama yang berusia muda melakukan migrasi baik ke Kota-Kota besar bahkan migrasi internasional ke negeri-negeri lain sebagai buruh migran.
Alasan utama para kaum urban tersebut adalah karena sedikitnya jumlah tanah yang mereka miliki, atau karena kurangnya tanah, sehingga pada kenyataannya, lebih dari 80% transmigran sama sekali tidak mempunyai tanah. Tidak dapat dipungkiri Masyarakat Bali yang tinggal di Pulau Bali juga mengalami keadaan ini. Kebutuhan akan lahan untuk usaha maupun pemukiman merupakan alasan utama yang memicu perpindahan masyarakat
Bali yang merasa kesusahan hidup dikampungnya sendiri, sehingga mereka melakukan perpindahan tempat tinggal dengan tujuan dasarnya untuk memperbaiki taraf hidup yang lebih baik (Muriel Charras. 1997).
Transmigrasi oleh masyarakat Bali telah dilakukan secara terorganisir, perpindahan ini telah dimulai setelah kemerdakaan, yaitu pada tahun 1953.
Antara tahun 1953 dan 1968, jumlah transmigran Bali mencapai 10,4% dari seluruh peserta transmigrasi. Selama periode tersebut, 84% orang Bali bertransmigrasi ke Sumatera. Jumlah transmigran yang diberangkatkan pertahun bervariasi antara dua tahun tercatat kurang dari 1.000 orang, lima tahun antara 1.000 hingga 3.000 orang, lima tahun antara 3.000 hingga 5.000 orang dan akhirnya, pada tahun 1963 sesudah meletusnya Gunung Agung, tercatat 12.000 pengungsi yang diberangkatkan (Muriel Charras. 1997).
Berikut adalah jumlah dan arah tujuan transmigran Masyarakat Bali:
Tabel 2.1. Jumlah dan arah tujuan transmigran Bali (Sumber: Muriel Charras, Dari Hutan Angker Hingga Tumbuhan Dewata, Transmigrasi Di Indonesia, Yogyakarta,
Gadjah Mada University Press)
tujuan
1953/1968 1969/1974 1975/1976 Sebelum 1978
Keluar
ga Jiwa Keluar
ga Jiwa Keluar
ga Jiwa Keluar
ga Jiwa
Sumatera 8.556 35.1
24 264 1.13
2 1 7
Kalimanta
n 333 1.35
7 501 2.22
2 4 18
Sulawesi 1.096 5.20
4 4.224 19.2
92 1.731 7.65 5
500- 1.000 Nusa
Tenggara 100 470 410 1.16
2 Jumlah 10.085 41.8
54 5.399 23.8
08 1.736 7.68 0 Rata-rata
per tahun
2.79 0
4.76 2
3.84 0
Masyarakat Bali yang yang menjadi pemeran utama dari pembukaan Kampung Bali di Langkat mengawali kedatangan mereka dengan bertransmigrasi dari Bali ke Sumatera. Dilihat dari Tahun keberangkatan transmigran ini yaitu tahun 1963, Perpindahan masyarakat Bali ini termasuk dalam jenis perpindahan yang terpaksa. Transmigrasi merupakan satu jalan keluar yang ditawarkan kepada para korban letusan Gunung Agung di tahun 1963. Namun secara harafiah transmigrasi ini tidak merupakan “paksaan”. Para korban bencana alam yang sedang kehilangan harta benda, serta sedang dilanda kebingungan itu memang mudah dipengaruhi dan diberi anjuran untuk bertransmigrasi (Muriel Charras. 1997). Namun tujuan transmigrasi yang mengutamakan keberlangsungan hidup masyarakat Bali ini secara sadar di putuskan oleh masyarakat itu sendiri, itulah sebabnya migrasi orang-orang Bali ini terlepas dari bentuk sistem yang menekan. Migrasi ini juga perlu lebih lanjut dijelaskan pada tahun 1963, kira-kira 145 keluarga, yang banyak diantaranya berasal dari Gianyar Propinsi Bali, telah dikirim untuk bekerja kontrak selama 6 tahun diperkebunan karet di Medan dan sekitarnya (Muriel Charras. 1997).
Orang Bali yang bermigrasi ke Medan, mengawali kedatangan mereka dengan menandatangani kontrak kerja di perkebunan Tanjung Garbus dan Bandar Selamat, perkebunan Tanjung Garbus dan Bandar Selamat merupakan perkebunan yang terletak di daerah Lubuk Pakam. Perkebunan yang ada di Tanjung Garbus dan Bandar Selamat ini merupakan perkebunan yang menghasilkan komoditi karet, kakao, gula dan tembakau. Orang Bali yang
bekerja diperkebunan tersebut memulai kontrak kerja mereka dari tahun 1963 sampai dengan 1969. Setelah kontrak kerja yang pertama diselesaikan ditahun 1969, mereka kemudian menerima perpanjangan kontrak kerja untuk 6 tahun berikutnya.
Sekalipun masyarakat Bali ini mendapatkan fasilitas rumah atau tempat tinggal dan gaji selama kontrak kerja sebagai pekerja perkebunan. Kehidupan masyarakat Bali yang bekerja diperkebunan ini dirasa sangat kurang memuaskan. Pendapatan dari hasil perkebunan ini bagi mereka masih dianggap tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Akibatnya banyak Masyarakat Bali yang bekerja diperkebunan ini mulai merasa tidak betah dan berfikir untuk mencari usaha yang lebih baik lagi demi meningkatkan taraf hidup.
Bentuk dari ketidakpuasan masyarakat Bali ini terbukti dengan adanya beberapa pekerja dari Masyarakat Bali yang melakukan pensiun muda pada masa itu, yaitu pada tahun 1972 dan 1973 (wawancara dengan Wayan Wite.
2018). Namun setelah pensiun masyarakat Bali ini bukannya mendapatkan kegiatan usaha yang lebih baik melainkan malah menjadi pengangguran.
Kebutuhan Ekonomi yang semakin meningkat memaksa orang-orang Bali tersebut untuk segera mengambil langkah-langkah agar dapat mempertahankan keberlangsungan hidup. Berbagai macam usaha dan cara dilakukan untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya. Sebahagian dari orang-rang Bali ini menggunakan sisasisa harta yang mereka miliki untuk melakukan kegiatan berdagang, akan tetapi hasilnya juga masih belum mencukupi kebutuhan hidup
mereka dan keluarga dikarenakan kurangnya pengetahuan akan teknik berdagang serta minimnya modal yang mereka miliki. Sebahagian masyarakat Bali ini ada juga yang pulang ke kampung halamannya di Pulau Bali dengan harapan bahwa situasi disana sudah berubah dan ada peluang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dengan bermodalkan pengalaman selama menjadi transmigran (wawancara dengan Dewa Putu Dana. 2018).
2.3.2. Proses Terbentuknya Kampung Bali
Kesejahteraan adalah hal yang utama bagi para masyarakat transmigran, tujuan masyarakat transmigran sendiri dengan melakukan migrasi cenderung lebih kepada peningkatan taraf hidup. Masyarakat Bali yang sudah tidak bekerja diperkebunan merasa sudah sangat jauh dari tujuan-tujuan tersebut.
Keterpurukan ekonomi melanda orang-orang Bali ini yang kemudian menghadapkan mereka kepada pilihan yang sulit. Pilihan yang ada pada saat itu mengharuskan mereka untuk segera mengambil keputusan demi kelangsungan hidup mereka, pilihan yang ada diantarnya adalah:
1. Bekerja lagi dengan pihak perusahaan perkebunan sebagai buruh lepas.
2. Mereka Kembali ke Pulau Bali dan memulai hidup baru disana, atau 3. Memiliki dan mengolah tanah sendiri dengan cara berpindah dan
mencari lokasi baru untuk tempat menetap.
Kehidupan semasa kontrak kerja di perusahaan perkebunan ini dinilai sangat kurang memenuhi kesejahteraan masyarakat Bali sehingga pilihan ini dianggap tidak tepat untuk dilakukan, sementara pilihan untuk kembali pulang
ke kampung halaman adalah pilihan sulit dikarenakan beberapa pertimbangan yaitu, mereka merasa malu karena ketika pulang belum memiliki harta yang cukup dan ditambah lagi dengan asumsi bahwa kampung halaman mereka yaitu Pulau Bali yang mereka rasa sudah padat penduduk dan penuh dengan persaingan, tentunya mereka merasa akan sulit untuk mencari lapangan pekerjaan disana (wawancara dengan Wayan Wite. 2018).
Akhirnya sebahagian dari masyarakat Bali ini memutuskan untuk memulai hidup mandiri dengan membuka lahan sendiri. Keputusan ini diikuti oleh beberapa masyarakat lainnya yang masih bekerja diperkebunan, mereka berencana untuk berhenti bekerja dari perkebunan dan mengikuti masyarakat yang ingin membuka lahan dan tempat tinggal sendiri. Pada tahun 1973 dengan bekal harta seadanya akhirnya orang-orang Bali yang berjumlah 56 kk tersebut mengusahakan tempat tinggal yang baru untuk keberlangsungan hidup mereka.
Keputusan untuk mencari lahan sebagai tempat tinggal yang merupakan upaya tuntutan masyarakat Transmigran yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1972 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Transmigrasi. Sebagaimana dalam pasal 8 berbunyi “Hak-hak transmigran untuk mendapatkan bantuan, bimbingan dan pembinaan diatur dengan pemerintah” (UU RI No. 3. 1972). Lebih lanjut mengenai tujuan masyarakat Bali memilih pilihan untuk berpindah tempat tinggal dan membuka lahan karena pemerintah dalam mendukung program transmigrasi memberikan fasilitas-fasilitas bagi para transmigran pada masa itu. Fasilitas
yang disediakan pemerintah antara lain adalah lahan, bantuan dana dan alat- alat pertanian. Setiap kepala keluarga yang mengikuti program transmigrasi rata-rata mendapatkan lahan garapan seluas 2 - 2,5 hektar dan juga mendapatkan bantuan dana sebagai modal untuk mengelola lahan tersebut sebesar 16 - 20 juta rupiah. Selain itu pemerintah juga menyediakan alat-alat pertanian dan brosur-brosur penyuluhan tentang cara mengelola lahan yang baik dan jenis tanaman budidaya apa yang cocok untuk ditanam pada lahan tersebut.
Masyarakat Bali yang sudah tidak bekerja di perkebunan Tanjung Garbus dan Bandar Selamat berkumpul untuk merencanakan perpindahan mereka. Mereka menggabungkan diri dengan PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) yang berada diKota Medan untuk memohon bantuan agar diusahakan tempat tinggal yang baru dan menerahkan proses pengurusan itu sepenuhnya kepada lembaga tersebut. PHDI menyetujui permohonan masyarakat Bali tersebut yang meminta diusahakan tempat tinggal yang baru untuk kelangsungan hidup mereka. PHDI mengambil alih rencana perpindahan ini dalam pengurusannya.
Tempat tinggal yang direncanakan untuk orang-orang Bali ini dinamakan Komplek Bali.
Langkah selanjutnya yang diambil oleh PHDI adalah dengan mengutus beberapa orang untuk meninjau daerah-daerah yang menjadi tujuan masyarakat Bali. Ditemukanlah pada masa itu beberapa daerah oleh utusan ini namun hasilnya belum ada yang cocok. Akhirnya ditemukan daerah
pertimbangan untuk menjadi tempat tinggal masyarakat Bali. Dikirim utusan sebanyak 11 orang yang merupakan dari masyarakat Bali tersebut untuk melakukan survey ke daerah pedalaman Kabupaten Langkat. Setelah dirasa cocok akhirnya PHDI mengurus segala keperluan untuk perpindahan masyarakat Bali ini menuju Kabupaten Langkat.
Kawasan yang menjadi tempat tinggal masyarakat Bali ini memiliki luas 180 ha. Status daerah tempat tinggal masyarakat Bali yang dirujukkan ini merupakan tanah negara bebas (TNB). tanah negara bebas adalah tanah negara yang langsung dibawah penguasaan negara, diatas tanah tersebut tidak ada satupun hak yang dipunyai oleh pihak lain selain negara. Tanah negara bebas bisa langsung dimohon oleh masyarakat kepada negara/ Pemerintah dengan melalui suatu prosedur yang lebih pendek daripada prosedur terhadap tanah negara tidak bebas (Rekky Saputera. 2010).
Sebelum berakhir tahun 1973 PHDI berhasil mengurus segala kebutuhan bagi masyarakat Bali yang akan membuka tempat tinggal didaerah Langkat tersebut, termasuk didalamnya segala urusan izin tanah dan tempat tinggal sementara bagi masyarakat dikawsan ini. Dengan demikian, maka terjadilah migrasi spontan dari Tanjung Garbus dan Bandar Selamat ke daerah pedalaman Kab. Langkat yang bernama Kampung Bali. Jadi lebih tepat disimpulkan bahwa masyrakat Bali yang berperan dalam pembukaan dan yang tinggal dikampung Bali sejak pertama kali bukanlah masyarakat yang datang langsung dari Bali melainkan masyarakat Bali yang sebelumnya sudah bekerja
dan tinggal di Sumatera yaitu di perkebunan Tanjung Garbus dan Bandar Selamat.
2.4. Awal Kehidupan Masyarakat Kampung Bali
Tahun 1974 masyarakat Bali telah bermukim di pedalaman Kab. Langkat.
Perpindah masyarakat yang terproses ini telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap perkembangan masyarakat Bali dari segala aspek kehidupan.
Alasan utama masyarakat Bali memilih kawasan ini sebagai tempat tinggal mereka hanya karena keseluruhan jumlah lahan yang disediakan sebagai tempat tinggal dan lahan pertanian nantinya dirasa mereka sudah cukup untuk dibagi kepada setiap kepala keluarga masyarakat Bali. Setiap keluarga mendapatkan sekitar 2 hektar tanah untuk di olah dan kerjakan sebagai penghasilan. Pertimbangan lainnya adalah karena kesuburan tanah dikawasan ini yang mereka rasa sudah baik untuk ditanami tanaman perkebunan yaitu karet dan sawit (wawancara dengan Wayan Wite. 2018).
Gambar. 2.8. Gambaran Peta Pemilihan Letak Kampung Bali Cipta Darma dengan Citra Satelit. (Sumber: Pribadi, 2018)
Dimasa awal-awal kehidupan masyarakat kampung, banyak sekali permasalahan- permasalahan yang mereka hadapi, tantangan dan kesulitan pada awalawal bermukimnya warga Bali ini sangat terasa bagi masyarakat sejak lima tahun pertama tinggal yaitu dari tahun 1974 sampai dengan 1979. Permasalahan yang paling utama pada masa awal berdirinya kampung Bali adalah masalah kesehatan.
Dalam urusan kesehatan pada masa itu bahkan ada warga yang meninggal karena tidak mendapatkan pengobatan yang layak, umumnya masyarakat hanya mengobati dengan cara-cara tradisional. Selanjutnya permasalah sandang dan pangan. Masyarakat di Kampung Bali pada masa awal berdirinya kampung kesulitan untuk mencari makan, menurut sumber yang diperoleh peneliti diakui
mereka bahwa tak jarang masyarakat kampung memakan ubi sebagai pengganti nasi, keadaan ini juga dipersulit karena tempat tinggal mereka yang mulai rusak karena alam (wawancara dengan Wayan Wite. 2018).
Banyaknya tantangan hidup yang berdatangan tak membuat masyarakat kampung menyerah dan putus asa. Bahkan dimasa awal-awal tinggal di Kampung Bali masyarakat Bali berusaha mengutamakan beberapa aspek yang menunjang peningkatan kehidupan masyarakat.
2.4.1. Agama
Masyarakat Bali yang tinggal dan menetap di kampung Bali keseluruhannya beragama Hindu Dharma atau Agama Tirtha (Agama Air Suci) yaitu agama Hindu yang merupakan sinkretisme unsur-unsur Hindu aliran Siwa, Waisnawa, dan Brahma yang dipadukan dengan kepercayaan lokal masyarakat Bali. Dalam masyarakat Bali berlaku sistem Catur Varna yang memiliki pengertian empat pembagian kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan keterampilan (karma) seseorang, serta kualitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya yang ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi pekerjaan. Empat golongan yang kemudian dikenal dengan nama Catur Varna itu ialah Brahmana (pendeta), Ksatria (tentara), Waisya (pedagang), dan Sudra (pekerja/buruh). Dalam perjalanan kehidupan di masyarakat dari masa ke masa pelaksanaan sistem Catur Varna cenderung berbaur mengarah kepada sistem yang tertutup yang disebut Catur Wangsa (Turunan Darah). Dalam hal
ini Catur Varna menunjukkan pengertian golongan fungsional sedangkan Catur Wangsa menunjukkan Turunan Darah, (wawancara dengan Dewa Putu Dana. 2018).
Kematangan masyarakat Hindu yang tinggal di kampung Bali ini ditandai dengan perencanaan pembangunan Pura sebelum mereka tinggal di kampung Bali. Pada masa awal-awal terbentuknya kampug Bali kematangan ini direalisasikan dengan dibangunnya Pura Penataran Agung Widya Loka Nata yang didirikan pada tanggal 16 November 1976. Walaupun dengan kondisi ekonomi yang belum stabil pada masa itu, tidak menutup kemungkinan pembangunan pura terselesaikan. Bagi masyarakat Hindu Bali agama adalah hal yang paling diutamakan. Karena mereka beranggapan semakin taat mereka menjalanakan agamanya maka kehidupan yang baik dan ideal menurut mereka akan terwujud.
Pembangunan pura ini pada prosesnya dilakukan dengan cara bergotong royong dengan melibatkan seluruh anggota masyarakat. Setiap anggota masyarakat yang terdiri dari orang tua dan anak mengambil bagiannya masingmasing dalam pengerjaan pura. Anak muda umumnya membawa bahan baku pembangunan pura ini yang didatangkan dari luar kampung dengan berjalan kaki. Baik perempuan maupun laki-laki terjun membawa bahan- bahan tersebut yang jaraknya sekitar 3 jam perjalanan. Keadaan ini menunjukkan solidaritas masyarakat yang masih sangat kental dalam sistem kepercayaan ditengah-tengah kehidupan masyarakat kampung pada masa awal berdirinya Kampung Bali (wawancara dengan Dewa Putu Dana. 2018).
2.4.2. Mata Pencaharian
Kawasan kampung Bali pada awalnya merupakan kawasan hutan tropis, pohon-pohon dalam hutan ini berdaun rindang dan lantai hutan gelap karena sinar matahari tidak dapat menembus daun-daun rindangnya. Pepohonan yang tumbuh didaerah ini rata-rata sudah berumur dengan batang yang besar-besar, sebut saja seperti pohon meranti dan jati, Tanah dan udara dalam hutan lembap karena uap airnya sukar naik terevaporasi ke atas. Tak jarang ditemukan pohon-pohon dalam hutan tersebut sering dibelit oleh tumbuhan sulur, seperti rotan dan tumbuhan-tumbuhan parasit. Kondisi alam yang masih sangat belantara ini tentunya menyulitkan kehidupan masyarakat dalam melangsungkan kehidupan.
Menurut salah satu sumber yang peneliti dapatkan, ia mengatakan bahwa tak jarang masyarakat Bali dalam kesehariannya memakan ubi yang dicampur dengan nasi. Hal ini dilakukan karena faktor keadaan, masyarakat masih belum berpenghasilan karena mereka masih dalam tahap awal pengerjaan lahan, akibatnya kondisi ekonomi yang sangat buruk menerpa masyarakat, sehingga masyarakat sangat kesulitan untuk membeli kebutuhan pokok (wawancara dengan Wayan Wite. 2018)
Pada dasarnya Masyarakat Bali adalah masyarakat dengan mata pencaharian sebagai petani. Orang Bali dalam memperjuangkan kehidupan bertumpu pada hasil perkebunan yang mereka olah. Hal ini pula yang tercermin dari
kehidupan masyarakat Bali yang tinggal di Kampung Bali sebagaimana mereka mengusahakan penghidupannya dengan bercocok tanam.
2.4.3. Pendidikan
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pentingya perananan pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat merupakan hal yang menunjang perkembangan sumber daya manusia yang berfungsi pada peningkatan sumber daya alam nantinya.
Pendidikan termasuk dalam permasalahan yang sangat dicemaskan oleh Masyarakat Kampung dimasa awal-awal berdirinya Kampung Bali. Belum adanya sekolah menjadi penghalang bagi anak-anak untuk belajar. Adapun sekolah letaknya sangat jauh dari kampung, Faktor geografis Kampung Bali tidak memungkinkan masyarakat kampung untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Akibatnya tidak ada anak-anak yang sekolah pada masa itu.
Umumnya anak-anak dimasa awal-awal terbentuknya Kampung Bali pekerjaannya sehari-hari hanyalah membantu orangtuanya berladang ataupun berkebun. Sampai akhirnya para orang tua berinisiatif membangun sebuah