• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radiografi Kedokteran Gigi - Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Pada Salah Satu Fakultas Kedokteran Gigi Di Malaysia Berdasarkan Tahun Kepaniteraan Klinik Mengenai Penggunaan Radiografi kedokteran gigi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radiografi Kedokteran Gigi - Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Pada Salah Satu Fakultas Kedokteran Gigi Di Malaysia Berdasarkan Tahun Kepaniteraan Klinik Mengenai Penggunaan Radiografi kedokteran gigi"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Radiografi Kedokteran Gigi

Dalam bidang kedokteran gigi, pemeriksaan radiografi memiliki peran yang sangat penting. Hampir semua perawatan gigi dan mulut membutuhkan data dukungan pemeriksaan radiografi agar perawatan yang dilakukan mencapai hasil yang optimal. 1,2

2.1.1 Definisi Radiografi Kedokteran Gigi

Radiografi kedokteran gigi adalah suatu teknik yang digunakan untuk mendapatkan gambaran keadaan atau kelainan yang tidak terlihat secara klinis di rongga mulut, memberikan hasil berupa foto ronsen dimana dapat memberikan gambaran yang bergradasi dari hitam sampai putih, membantu dalam menegakkan diagnosa dan menentukan rencana perawatan penyakit di rongga mulut. Radiografi merupakan langkah awal untuk mendeteksi keparahan penyakit. 2

2.2 Klasifikasi Radiografi Kedokteran Gigi

Radiografi kedokteran gigi ada dua macam yaitu radiografi intra oral dan radiografi ekstra oral. 2

2.2.1 Radiografi Intra Oral

(2)

Tipe radiografi intra oral yaitu :

a. Periapikal radiografi

Adalah pemeriksaan radiografi yang hanya menggambarkan beberapa gigi saja (2-4 gigi) secara individual beserta jaringan pendukung disekitarnya. Teknik yang digunakan adalah paralelling dan bisekting. Pemeriksaan radiografi bisekting merupakan teknik yang paling rutin dilakukan dalam radiografi kedokteran gigi, karena dianggap lebih mudah dan praktis dalam pelaksanaannya dibandingkan dengan teknik paralelling. 2

Pada pemeriksaan bisekting, film ditempatkan sedekat mungkin dengan gigi, sumbu panjang gigi membentuk sudut pada film. Posisi film tidak sejajar dengan sumbu panjang gigi dan sumbu film. Arah sinar tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk oleh sumbu panjang gigi dan sumbu film, konus yang digunakan adalah konus pendek. Sedangkan pada teknik paralelling, posisi film didalam mulut terhadap sumbu panjang gigi adalah sejajar dan arah sinar tegak lurus terhadap bidang film. 2

b. Interproksimal radiografi

Digunakan untuk memeriksa crown, crest tulang alveolar di maksila dan mandibula, serta daerah interproksimal gigi yang dilakukan sekaligus dalam satu film. Teknik ini dilakukan dengan cara menggigit sayap dari film untuk stabilisasi film didalam mulut dengan sudut antara bidang vertikal dengan konus sebesar 0-10 derajat. 2

c. Oklusal radiografi

(3)

2.2.2 Radiografi Ekstra Oral

Merupakan pemeriksaan radiografi yang lebih luas pada kepala dan rahang. Film yang digunakan berada diluar mulut. 1,3

Tipe radiografi ekstra oral yaitu :

a. Panoramik

Digunakan untuk melihat perluasan suatu lesi atau tumor, fraktur rahang dan fase gigi bercampur. Panoramik juga akan memperlihatkan daerah maksila dan mandibula yang lebih luas sekaligus dalam satu film. 3

b. Lateral Jaw

Digunakan untuk melihat keadaan disekitar lateral tulang muka, diagnosa fraktur dan keadaan patologis tulang tengkorak dan muka. 3

c. Lateral Cephalometric

Digunakan untuk melihat tengkorak tulang wajah akibat trauma suatu penyakit, serta kelainan pertumbuhan dan perkembangan. Teknik ini juga digunakan untuk melihat jaringan lunak nasofaringeal, sinus paranasal dan palatum keras. 3

d. Postero-anterior

Digunakan untuk melihat keadaan penyakit, trauma atau kelainan pertumbuhan dan perkembangan tengkorak. Teknik ini juga memberikan gambaran struktur wajah antara lain yaitu sinus frontalis dan ethmoidalis, fossanasalis, dan orbita. 3

e. Antero Posterior

Digunakan untuk melihat kelainan pada bagian depan maksila dan mandibula, gambaran sinus frontalis, sinus ethmoidalis, serta tulang hidung. 3

f. Proyeksi Water’s

(4)

g. Proyeksi Reverse-Towne

Digunakan untuk pasien yang kondilusnya mengalami perubahan tempat, serta melihat dinding postero lateral pada maksila.3

h. Proyeksi Submantovertex

Digunakan untuk melihat dasar tengkorak, posisi kondilus, sinus sphenoidalis, lengkung mandibula, dinding lateral sinus maksila dan arcus zigomatikus.3

2.3 Prosedur Penggunaan Radiografi Kedokteran Gigi

Prosedur yang harus dilalui dalam penggunaan radiografi kedokteran gigi adalah sebagai berikut:

1. Izin dari dokter/dokter gigi

Dalam melakukan radiografi kedokteran gigi, selain harus memiliki pengetahuan yang luas tentang radiografi juga diperlukan izin dari dokter/dokter gigi jaga yang menentukan penggunaan radiografi. Pada Fakultas Kedokteran/Kedokteran Gigi, selain berguna untuk membimbing mahasiswa kepaniteraan klinik dalam hal pemeriksaan klinis, izin dari dokter/dokter gigi jaga juga sangat berguna agar tidak terjadi penyalahgunaan nantinya dalam melakukan radiografi.4

2. Persiapan Proteksi Radiasi

a. Persiapan Operator :4

- Operator memakai pakaian pelindung

- Operator berdiri dibelakang dengan mengambil jarak menjauh dari sumber x-ray pada saat melakukan penyinaran

- Pastikan pasien tidak melakukan pergerakan pada saat penyinaran

- Matikan alat setelah selesai digunakan dan kembalikan posisi kepala pada tempatnya

(5)

b. Persiapan Pasien :4

- Untuk melakukan pemeriksaan dengan menggunakan sinar-x hanya dilakukan atas permintaan dokter atau dokter gigi

- Pemakaian filtrasi maksimum pada sinar primer

- Pemakaian voltage yang lebih tinggi sehingga daya tembusnya lebih kuat - Jarak fokus pasien jangan terlalu dekat, hal ini sesuai dengan hukum fokus

Kuadrat terbalik yaitu intensitas sinar-X berbanding terbalik dengan jarak pangkat dua

- Daerah yang disinar harus sekecil mungkin - Waktu penyinaran harus sesingkat mungkin - Melindungi alat kelamin sebisanya

- Pasien hamil, terutama pada trimester pertama tidak dibolehkan untuk melakukan radiografi

c. Persiapan Lingkungan :4

- Memastikan perangkat sinar-X digunakan dengan teknik yang baik

- Mengurangi efek maksimal dari kemungkinan kebocoran dengan menggunakan kepala tabung harus radiopak

- Filtrasi dari bekas sinar-X dengan mengatur ketebalan filter, dimana ketebalan filter tergantung pada tegangan operasi dari peralatan sinar-X.

d. Penggunaan Apron

(6)

3. Pemilihan Film dan Sensor

a. Pemilihan Film

Dibidang kedokteran gigi, terdapat dua jenis film yang digunakan yaitu : - Non-screen film (film intraoral)

Jenis film yang digunakan untuk film intra oral dimana dibutuhkan kualitas gambar yang baik dan detail anatomi yang jelas. Ukuran film yang sering digunakan antara lain 31 x 41 mm (untuk periapikal), 22 x 35 mm (bitewing) dan 57 x 76 mm (untuk foto oklusal). 4,5

Film ini dikemas dalam satu paket yang terdiri dari :

1. Pembungkus luar dari plastik lunak yang berfungsi untuk melindungi dari cairan saliva yang dapat mengkontaminasi film.

2. Kertas hitam yang berfungsi untuk melindungi film dari cahaya yang dapat merusak film, dan mencegah masuknya saliva ke film.

3. Lead foil terletak dibelakang film, yang berfungsi untuk mencegah adanya

sisa radiasi yang dapat melewati film menuju ke jaringan pasien. 4. Film, yang terdiri dari:

- Plastic base merupakan bahan dasar yang transparan dan terbuat dari

selulosa asetat dengan ketebalan ± 0,2 mm.

- Lapisan adhesif (gelatin) yang memfiksasi emulsi melekat pada bahan dasar.

- Lapisan pelindung (protective layer) yang berfungsi melindungi emulsi dari kerusakan mekanis.

- Emulsi kristal AgBr.

- Screen film (film ekstraoral)

Jenis film ini saat penggunaanya dikombinasikan dengan intensifying screens

(7)

Bagian-bagian screen film sebenarnya sama dengan bagian non-screen film, tapi screen film memiliki :

1. Emulsi AgBr pada film ini lebih sensitif terhadap cahaya biasa daripada sinar-X.

2. Terdapat beberapa emulsi yang produksinya sensitif terhadap cahaya biru, cahaya hijau, dan cahaya merah.

Tingkat sensitifitas tergantung dari jenis intensifying screen yang digunakan, yaitu :

- Standard emulsi AgBr (sensitif terhadap cahaya biru)

- Modifikasi emulsi AgBr dengan ultraviolet sensitizer (sensitif terhadap cahaya ultraviolet)

- Emulsi orthochromatic (sensitif terhadap cahaya hijau) - Emulsi panchromatic (sensitif terhadap cahaya merah) b. Sensor

Digital Imaging merupakan hasil interaksi sinar X dengan elektron dalam sensor pixel elektronik (elemen gambar), konversi data analog ke data digital, prosesing komputer, dan display gambar tampak pada layar komputer. Data didapat melalui sensor yang berkomunikasi dengan komputer. Digital imaging ini ada dua metode pengambilan gambarnya yaitu direk digital imaging dan indirek digital imaging. 4,5

- Direct Digital Imaging

(8)

- Indirect Digital Imaging

Metode indirect digital imaging menyiratkan gambar yang telah dipapar secara analog dan dikonversikan menjadi format digital. Teknik indirect digital

imaging menggunakan scan optikal untuk mengkonversikan gambaran analog ke

digital. Teknik ini membutuhkan scanner optical yang bisa memproses gambar transparan serta perangkat lunak yang sesuai untuk menghasilkan citra digital.Contoh

sensor gambar yang digunakan dalam metode ini adalah PSP (Photo stimuable

Phosphor Plates). Foto ini diambil di plat fosfor sebagai informasi analog dan diubah

menjadi format digital ketika plat diproses. PSP terdiri dari dasar poliester dilapisi

dengan emulsi halida kristal yang mengubah radiasi-X menjadi energi yang

tersimpan.5

4. Melakukan Exposure

Dalam melakukan eksposure, kita harus memperhatikan dosis radiasi, kV, dan mA yang akan diterima oleh pasien. White pada tahun 1990 yang mempublikasi ICRP mereferensikan nilai batas dosis dalam bidang kedokteran gigi. 4,5

Tabel 1. Dosis Efektif Dan Resiko Dari Setiap Teknik Radiografi Kedokteran Gigi. 4,7 Teknik sinar-x Dosis efektif (μSv) Dosis resiko terkena kanker

fatal (perjuta) Radiografi intra oral

(bitewing/periapikal)

1-8,3 0,02-0,6

Oklusal anterior maksila 8 0,4

Panoramik 3,85-30 0,21-1,9

Radiografi lateral sefalometri 2-3 0,34

Cross-sectional 1-189 1-14

CT-scan mandibula 364-1202 18,2-88

(9)

Menurut Eric Whaites (2007), dosis efektif pada pemeriksaan rutin gigi yaitu dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Dosis Efektif Pada Pemeriksaan Rutin Gigi. 7

Jenis Foto Dosis Efektif (μSv)

Lateral 0,01

Bitewing/periapikal 0,001-0,008

Oklusal 0,008

Panoramik 0,004-0,03

Lateral Cefalometri 0,002-0,003

CT mandibula 0,36-1,2

CT maksila 0,1-3,3

Skull/Kepala 0,03

2.4 Efek Dosis Radiasi Kedokteran Gigi

Dosis pasien dari radiografi biasanya sebesar yang diterima organ target, ukuran yang paling umum adalah paparan pada kulit atau permukaan. Paparan permukaan yang diperoleh secara langsung merupakan cara paling mudah untuk mencatat paparan pasien terhadap sinar X. Rincian jumlah yang kecil tetap dipakai untuk menghitung dosis yang diterima oleh organ yang berada atau dekatdengan titik pengukuran. 8

a. Dosis Aktif Sumsum Tulang

(10)

mSv/ film. Sebagai perbandingan dosis tulang aktif dalam 1 film thorax adalah0,03 mSv.8

b. Dosis Tiroid

Besarnya kelenjar tiroid merupakan faktor penting dalam menentukan besarnya dosis yang diterima. Pemeriksaan mulut komplit dengan film A21 memberikan dosis tiroid 0,94 mGy. Nilai ini 1/6 dari pemeriksaan radiografi sinar

servikal. Dosis tiroid dalam radiografi panoramik sekitar 74 μGy, 1% dari

pemeriksaan spina servikal.8

c. Dosis Kulit

Total dosis radiasi yang dapat menyebabkan eritema (reddening) pada kulit adalah 250 rads (2,5 Gy) dalam waktu 14 hari.8

d. Dosis Mata

Lebih dari 200.000 mrads (2 Gy) dosis yang dapat menyebabkan katarak atau pengaburan lensa mata. Kornea mata yang terkena radiasi pada saat dilakukan radiografi gigi adalah berkisar 60 mrads (0,0006 Gy).8

2.5 Efek Negatif Radiasi Sinar-X

Radiografi selain memiliki sifat yang menguntungkan juga memiliki beberapa efek yang berdampak buruk pada tubuh maupun lingkungan. Ketika menembus jaringan tubuh, radiasi sinar ionisasi menimbulkan kerusakan pada tubuh, terutama dengan ionisasi atom-atom pembentuk jaringan. Indikasi radiasi yang merusak dalam tingkat atom akan menimbulkan perubahan molekul, yang menimbulkan kerusakan seluler, serta menimbulkan fungsi sel abnormal atau hilangnya fungsi sel. 8,13

(11)

2.5.1. Efek non stokastik (Deterministik)

Efek non stokastik adalah dimana paparan akut dosis relative tinggi, efek yang timbul merupakan hasil kematian dari sel yang dapat menyebabkan gangguan fungsi jaringan dan organ tubuh, bahkan kematian, yang umumnya segera dapat teramati secara klinis setelah tubuh terpapar radiasi dengan dosis diatas dosis ambang. Selain itu, radiasi dapat tidak mematikan sel tetapi menyebabkan perubahan atau transformasi sel sehingga terbentuk sel baru yang abnormal. Contohnya adalah erythema, kerontokan rambut, pembentukan katarak, dan berkurangnya kesuburan. 8,13

a. Efek Radiasi pada Membran Mukosa Mulut

Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring akan mengikut sertakan sebagian besar mukosa mulut. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri pada saat menelan, mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Keadaan ini sering diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. 13

b. Efek radiasi pada jaringan dan organ.

Radiosensitivity pada jaringan atau organ tubuh diukur dengan adanya respon terhadap radiasi. Kehilangan moderat sel tidak mempengaruhi fungsi organ tubuh. Namun, dengan hilangnya sejumlah besar sel sehingga dapat mempengaruhi organisme. Tingkat keparahan perubahan ini tergantung pada dosis radiasi yang diberikan. 8,13

2.5.2 Efek stokastik

Terjadinya efek stokastik ini disebabkan karena fungsi dan dosis radiasi yang diterima oleh seseorang tanpa suatu nilai ambang. 8,13

a. Karsinogenesis

(12)

b. Kanker tiroid

Insiden karsinoma tiroid meningkat pada manusia setelah terpapar. Hanya sekitar 10% atau kurang dari individu yang terkena kanker dapat menyebabkan kematian. 8,13

c. Leukimia

Insiden leukimia (selain leukimia lumphocytic kronis) meningkat setelah terpapar radiasi pada sumsum tulang. Bagi individu yang terpapar pada usia dibawah 30 tahun, risiko untuk pengembangan leukimia adalah setelah sekitar 30 tahun. Bagi individu terpapar sebagai orang dewasa, risiko tetap ada sepanjang hidup. 8,13

d. Kanker kelenjar ludah

Insiden ini meningkat pada pasien yang melakukan terapi radiasi untuk penyakit kepala dan leher. Risiko tertinggi terjadi pada penderita yang melakukan terapi radiasi sebelum usia 20 tahun. 8,13

2.6 Proteksi Radiasi

Teknik pengawasan keselamatan radiasi dalam masyarakat umumnya selalu berdasarkan pada konsep dosis ambang. Setiap dosis betapapun kecilnya akan menyebabkan terjadinya proses kelainan, tanpa memperhatikan panjangnya waktu pemberian dosis. Karena tidak adanya dosis ambang ini, maka masalah utama dalam pengawasan keselamatan radiasi adalah dalam batas dosis tertentu sehingga efek yang akan ditimbulkannya masih dapat diterima baik oleh masyarakat. Oleh karena itu, setiap kemungkinan penerimaan dosis oleh pekerja radiasi maupun anggota masyarakat bukan pekerja radiasi harus diusahakan serendah mungkin. 9

Nilai batas dosis untuk seluruh tubuh yang bergantung pada pekerja radiasinya (dengan pengecualian pada wanita hamil dan wanita masa usia subur) adalah :9

(13)

2. Batas tertinggi penerimaan pada abdomen pada pekerja radiasi wanita dalam masa subur ditetapkan tidak lebih dari 13 mSv (1300 mrem) dalam jangka waktu 13 minggu dan tidak melebihi NBD pekerja radiasi.

3. Pekerja wanita yang mengandung harus dilakukan pengaturan agar saat bekerja dosis yang diterima janin terhitung sejak dinyatakan mengandung hingga saat kelahiran diusahakan serendah–rendahnya dan sama sekali tidak boleh melebihi 10 mSv (1000 mrem).

Nilai batas dosis yang ditetapkan oleh BAPETEN, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Bapeten No. 01/Ka-BAPETEN/V-99 yaitu mengenai penerimaan dosis yang tidak boleh dilampaui oleh seorang pekerja radiasi dan anggota masyarakat selama jangka waktu 1 tahun, tidak bergantung pada laju dosis tetapi tidak termasuk penerimaan dosis dari penyinaran medis dan penyinaran alam.10

Nilai batas dosis bukan batas tertinggi yang apabila dilampaui seseorang akan mengalami akibat merugikan yang nyata.Meskipun demikian setiap penyinaran yang tidak perlu harus dihindari dan penerimaan dosis harus diusahakan serendah-rendahnya. 10

Nilai batas dosis tersebut ditetapkan sebagai berikut :10

1. Nilai batas dosis bagi pekerja radiasi untuk seluruh tubuh 50 mSv per tahun 2. Nilai batas dosis untuk anggota masyarakat umum untuk seluruh tubuh 50 mSv per tahun.

3. Dalam penyinaran lokal pada bagian-bagian khusus dari tubuh, dosis rata-rata dalam tiap organ atau jaringan yang terkena harus tidak lebih dari 50 mSv (Depkes, 2006).

2.7 Program Belajar Fakultas Kedokteran Gigi di Malaysia

(14)

mahasiswa dididik supaya menganggap pasien bukan hanya dari kasus kedokteran gigi, melainkan menjadi seorang yang layak mendapat tempat dalam masyarakat. Fasilitas perawatan gigi umum dan spesialis dapat diberikan kepada semua yang membutuhkan perawatan di sini.11

Keterampilan klinis siswa dalam bidang kedokteran gigi mulai dikembangkan di laboratorium selama setahun dan setelah itu selama tiga tahun lagi di klinik-klinik di mana mereka akan merawat pasien-pasien di bawah pengawasan staf pengajar. Selain dari keterampilan klinis, siswa dibantu untuk mengembangkan sifat ingin tahu dan bakat mengkritik yang bisa memicu kesadaran dirinya sendiri mengenai kepentingan melanjutkan pembelajaran berkelanjutan dan penelitian.11

Proyek elektif yang diperkenalkan dalam kurikulum lima tahun merupakan salah satu cara untuk mengenalkan mahasiswa pada metode penelitian. Fakultas Kedokteran Gigi memiliki fasilitas-fasilitas untuk mencapai tujuan ini. Fakultas ini telah direncanakan untuk mengadakan fasilitas perawatan yang paling baik. Hal yang diutamakan dan menjadi prioritas adalah tentang kebenaran dalam menentukan diagnosis, perencanaan, perawatan, pencegahan dan pelayanan kedokteran gigi masyarakat.11

Periode minimum untuk program studi adalah lima tahun dimana siswa harus menyelesaikan:11

a. Bagian Pra-Klinis (tahun pertama dan kedua) dalam waktu dua tahun

b. Bagian Klinis (tahun ketiga, keempat dan kelima (akhir)) dalam waktu tiga tahun.

Periode maksimumnya adalah delapan tahun di mana mahasiswa diwajibkan menyelesaikan:

a. Bagian Pra-Klinis (tahun pertama dan kedua) selama tiga tahun

(15)

2.7.1 Pembagian Program Studi

2.7.1.1 Klinik

1. Tahun Pertama

Pada tahun ini pelajaran yang diberikan berkaitan langsung dengan praktek kedokteran gigi, yaitu:11

a. Penyakit Mulut yaitu kemampuan mengidentifikasi manifestasi mulut penyakit sistemik, dan hubungan antara perawatan kondisi mulut dan kedokteran gigi dengan pasien secara keseluruhan.

b. Ilmu Konservasi untuk pemeriksaan, analisis dan diagnosis kasus serta pengobatan gigi yang berkaries, trauma, dan haus.

c. Ilmu Prostodonti yang berhubungan dengan perawatan pasien dentulus dan edentulus.

d. Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat yaitu tentang sejarah kejadian, epidemiologi dan pencegahan penyakit mulut yang biasa, aspek kesehatan publik untuk perawatan kesehatan mulut.

(16)

f. Patologi Mulut yaitu tentang etiologi, patogenesis, diagnosis, prinsip pengobatan penyakit dan pembentukan abnormal untuk gigi, mukosa mulut, rahang dan struktur yang terkait.

g. Ilmu Periodontal yaitu tentang anatomi periodontium, etiologi, epidemiologi dan patogenesis penyakit periodontium. Pemeriksaan, diagnosis, rencana perawatan dan pengobatan awal penyakit periodontium radang kronis.

h. Ilmu Kesehatan Gigi Anak dan Ortodonti, dimana komponen ilmu kesehatan gigi anak adalah tentang perkembangan kedokteran gigi anak dari lahir, diagnosis, analisis dan perawatan gigi berkaries, maloklusi, trauma dan penyakit jaringan mulut yang dialami anak normal dan cacat. Komponen ortodonti yaitu pertumbuhan dan perkembangan rangka kraniofasial; oklusi normal dan maloklusi, etiologi, diagnosis, analisis kasus dan perawatan maloklusi.

2. Tahun Kedua

Dimana mata kuliah yang dipelajari berkaitan langsung dengan praktek kedokteran gigi, yaitu:11

- Bedah Mulut dan Maksilofasial - Radiografi Kedokteran Gigi

- Ilmu Penyakit Mulut Dan Periodontal - Ilmu Konservasi

- Ilmu Prostodontik

- Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat

- Ilmu Kesehatan Gigi Anak dan Ortodontik

- Proyek elektif (Tugas Akhir), dimana semua mahasiswa tahun keempat diwajibkan menjalani proyek elektif atau tugas akhir, di mana mahasiswa diberi kelonggaran untuk memilih dan menjalankan tugas akhir ini yang dibimbing oleh seorang staf akademik, dalam bidang yang diminati.

3. Tahun Ketiga

(17)

Gambar

Tabel 1. Dosis Efektif Dan Resiko Dari Setiap Teknik Radiografi Kedokteran Gigi. 4,7
Tabel 2. Dosis Efektif Pada Pemeriksaan Rutin Gigi. 7

Referensi

Dokumen terkait

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik pria dan wanita pada salah satu fakultas kedokteran gigi di Malaysia terhadap penggunaan radiografi kedokteran gigi pada tabel 5 (7-10),

USU/2013 dengan judul „ Pengetahuan Mahasiswa Non-Klinik pada Salah Satu Fakultas Kedokteran Gigi di Sumatera Barat Terhadap Prosedur Pemanfaatan. Radiografi

Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan dari komisi etik (Health Research Ethical Committee of North Sumatera) dengan nomor surat 187/KOMET/FK USU/2013 dengan judul gambaran

Hasil penelitian Emilia Mestika (2012), pada 80 mahasiswa kepaniteraan klinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara didapatkan sebesar 63,8% mahasiswa

Persetujuan dari Komisi Etik ( Health Research Ethical Committee of North Sumatera).. Persetujuan Melakukan Penelitian dari Salah Satu Fakultas Kedokteran Gigi di

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai sejauh mana pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik pada salah satu Fakultas Kedokteran Gigi di Malaysia

Pengetahuan Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Terhadap Prosedur Penggunaan Radiografi Dental Dalam Melakukan

GAMBARAN RADIOGRAFI ANATOMI NORMAL RONGGA MULUT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas