PENGETAHUAN MAHASISWA KEPANITERAAN KLINIK MENGENAI GAMBARAN ANOMALI GIGI MENGGUNAKAN RADIOGRAFI KEDOKTERAN GIGI DI FKG USU

70 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGETAHUAN MAHASISWA KEPANITERAAN

KLINIK MENGENAI GAMBARAN ANOMALI

GIGI MENGGUNAKAN RADIOGRAFI

KEDOKTERAN GIGI DI

FKG USU

LAPORAN HASIL PENELITIAN

Oleh:

Andi Pranata Tarigan

NIM: 100600155

Pembimbing :

drg. Cek Dara Manja., Sp. RKG

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi

Unit Radiologi Kedokteran gigi

Tahun 2017

Andi Pranata Tarigan

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi di FKG USU.

xi + 43 halaman

Kelainan perkembangan merupakan perbedaan dari apa yang dianggap sebagai keadaan normal dari proses perkembangan dan differensiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi di FKG USU.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 120 orang mahasiswa kepaniteraan klinik yang pernah merujuk untuk melakukan radiografi kedokteran gigi dalam melakukan perawatan gigi dengan menggunakan metode simple random sampling.

Hasil penelitian adalah pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi di FKG USU berbeda untuk tiap mahasiswa. Anomali terbanyak yang diketahui adalah mesiodens (65,8%), dilanjutkan gemination dan taurodonsia (64,2%), makrodonsia (60%), mikrodonsia (58,3%), fusi (54,2%), transposisi (53,3%), concrescence (53,3%), dilaceration (52,5%) dan dens in dente (44,2%).

Kesimpulan penelitian adalah pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi untuk kategori baik sebesar 57,5%, kategori sedang sebesar 39,2% dan kategori kurang sebesar 3,3%.

(3)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi

Medan, April 2017

Pembimbing: Tandatangan

drg. Cek Dara Manja., Sp.RKG

NIP. 19730713 200212 2 003

……….

(4)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini dipertahankan dihadapan tim penguji Pada tanggal Maret 2017

(5)

TIM PENGUJI

KETUA : drg. Cek Dara Manja., Sp.RKG

ANGGOTA : 1. Dr. drg. Trelia Boel.,M.Kes., Sp. RKG(K) 2. drg. Lidya Irani Nainggolan., Sp. RKG

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan kurnia- Nya yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi kewajiban penulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelaran Sarjana Kedokteran Gigi.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada ayahanda M. Tarigan dan ibunda tercinta Hj. Roslina br sembiring atas segala kasih sayang, doa, dan dukungan serta segala bantuan baik berupa moril ataupun materil yang tidak akan terbalas oleh penulis. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada abanganda Amri Syahputra Tarigan dan kakakanda Ayu mirsalia dan Fatmawati.

Dalam penulisn skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati dan penghargaan yang tulus, penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dr. Trelia Boel, drg., M. kes., Sp. RKG. (K) selaku dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan selaku Ketua Departemen Radiologi Kedokteran Gigi yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, petunjuk dan dorongan kepada penulis.

2. drg. Cek Dara Manja, Sp.RKG yang telah bersedia meluangkan waktunya, memberikan semangat, motivasi, bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

3. drg. Lidya Irani Nainggolan., Sp.RKG., drg. Dewi Kartika, dan drg. Maria Novita H. Sitanggang selaku staf di Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara atas segala masukan dan saran yang telah diberikan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.

4. drg.Yendriwati.,Mkes selaku penasihat akademik yang telah memberikan nasihat selama penulis menjalankan pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

(7)

5. Pegawai Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan Bapak Yugi selaku dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Bidang Statistik yang telah banyak membantu dalam penyempurnaan hasil penelitian ini.

6. Seluruh staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah membimbing dan memberikan ilmunya kepada penulis selama menjalani masa pendidikan.

7. Sahabat-sahabat tersayang (Arfin, Dwi, Azrai, Tika, Zeki, Along, Ardian, Ojan, Tomi, Ayu dan Nandra) yang selalu memberikan dukungan moril kepada penulis. Mentari Nabilla yang tidak hentinya memberikan semangat, dukungan, waktu, tenaga dan doa kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Teman- teman FKG 2010

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu dalam pengantar ini. Akhir kata dengan kerendahan hati, penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Medan, April 2017 Penulis

Andi Pranata Tarigan 100600155

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 2 1.3 Tujuan Penelitian ... 3 1.4 Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anomali gigi... 4 2.2 Jumlah gigi ... 4 2.2.1 Supernumerary teeth ... 5 2.2.2 Hypodonsia ... 6 2.3 Ukuran Gigi ... 7 2.3.1 Mikrodonsia ... 8 2.3.2 Makrodonsia ... 9

(9)

2.4 Erupsi Gigi ... 10

2.4.1 Transposisi ... 10

2.5 Kelainan Morfologi Gigi ... 11 2.5.1 Fusi ... 11 2.5.2 Concrescense ... 12 2.5.3 Gemination ... 13 2.5.4 Taurodonsia ... 15 2.5.5 Dilaceration ... 16 2.5.6 Dens in dente ... 17

2.6 Radiografi Kedokteran Gigi ... 18 2.6.1 Radiografi Intraoral ... 19 2.6.1.1 Radiografi Periapikal ... 19 2.3.2.3 Radiografi Oklusal ... 21 2.3.3 Radiografi Ekstraoral ... 26 2.3.4 Radiografi Panoramik ... 27 2.4 Kerangka Teori... 29 2.5 Kerangka Konsep ... 30

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian ... ...31 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ...

...31 3.3 Populasi dan Sampel ...

...31 3.3.1 Populasi ...

...31 3.3.2 Sampel ...

(10)

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... ...32 3.5 Metode Pengumpulan Data dan Pelaksanaan Penelitian ...

...33 3.5.1 Metode Pengumpulan Data ...

...33 3.5.2 Pelaksanaan Penelitian ...

...33 3.6 Pengolahan dan Analisis Data ...

...33 3.6.1 Pengolahan Data...

...33 BAB 4 HASIL PENELITIAN... 35

BAB 5 PEMBAHASAN... 37

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan... 42 6.2 Saran... 42 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Gambaran radiografi periapikal mesiodens ... 6

2. Hypodontia gigi premolar kedua pada rahang atas dan rahang bawah dan kaninus rahang atas ... 7

3. A. Radiograf periapikal memperlihatkan berkurangnya ukuran gigi pada molar ketiga yang mengalami mikrodonsia ... 9

B. Kelainan pegshape pada gigi insisivus lateralis yang mikrodonsia ...

4. A. Makrodonsia gigi molar menunjukan peningkatan

dimensi mesio distal dan mesio koronal-apikal ... 10 B. Makrodonsia insisivus sentralis menunjukan peningkatan

dimensi mesio distal dan koronal-apikal ... 10 5. Radiografi panoramik memperlihatkan transposisi bilateral dari kaninus

dan premolar pertama maksila ... 11

6. Fusi dari insisivus lateralis dan sentralis pada gigi permanen dan desidui ... ... 12

7. Concrescense merupakan penyatuan dua buah gigi pada bagian

Sementum ... ... 13 8. Gemination dari gigi insisivuslateralis mandibula menunjukkan

bifurkasi dari mahkota dan ruang pulpa ... ... 14

9. Radiografi periapikal memperlihatkan pembesaran ruang pulpa dan

posisi bifurkasi apikal pada gigi molar satu permanen ... ... 15

(12)

10. Dilaserasi pada akar gigi insisivus lateralis maksila dan akar gigi molar ketiga mandibula ... 16

11. Posisi dens in dente pada insisivus lateralis maksila posisi invaginasi berada pada daerah singulum dan mahkota gigi ... ... 18

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi ... 37

2. Tingkat pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik secara individu tentang penggunaan radiografi kedokteran gigi ... 38

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN

1. Kuisioner

2. Tabel Hasil Penelitian

3. Lembar Penjelasan Kepada Calon Subjek Penelitian

4. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) 5. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

6. Rincian Biaya Penelitian 7. Curriculum Vitae

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelainan perkembangan merupakan perbedaan dari apa yang dianggap sebagai keadaan normal dari proses perkembangan dan differensiasi. Kelainan perkembangan atau abnormalitas dapat diklasifikasikan menurut keparahannya.1 Anomali dari gigi geligi diklasifikasikan menurut kerusakan atau perubahan dalam jumlah, ukuran, bentuk, struktur dan erupsi. Kerusakan yang diperoleh gigi dapat juga berupa abrasi, atrisi dan erosi.1-3 Kelainan ini dapat terjadi akibat kongenital, genetik atau faktor lingkungan.3

Bermacam teknik radiografi ekstra oral telah dikembangkan dalam menetapkan hipotesa diagnosa dengan prinsip teknik dan indikasi yang tepat, dengan dilengkapi metode-metode diagnosa pencitraan terbaru.4 Radiografi Panoramik telah digunakan untuk tujuan diagnosa contohnya untuk lokasi molar ketiga, lesi intraosseous dan anomali perkembangan.5

Penelitian Tofangchiha et al (2013) pada masyarakat di Iran menggunakan radiografi panoramik diperoleh hasil bahwa impaksi gigi molar ketiga merupakan prevalensi anomali yang banyak terjadi (41,4 % pada wanita dan 36% pada pria), diikuti oleh kehilangan gigi (8,7% laki-laki dan 7,3% wanita), mikrodonsia (3,2%), makrodonsia (1%), supernumerary teeth (0,8%), fusi dan taurodontisme (0,2%).4 Penelitian Ghaznawi et al (1999) di Arab Saudi menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil bahwa hipodonsia merupakan prevalensi anomali terbanyak (9,41%) diikuti oleh taurodontisme (8,61%), mikrodonsia (5,35%) dan diastema (4,68%). Anomali-anomali lainnya memiliki prevalensi yang lebih rendah yaitu dibawah 0,20% pada transposisi dan 1,19% pada dilaserasi.4

Membandingkan hasil yang diperoleh dari penelitian berbeda dengan penelitian lain yang telah dilakukan menunjukkan bahwa prevalensi anomali ini terjadi pada frekuensi yang berbeda diantara bermacam negara komunitas di dunia.

(16)

Penelitian Gupta et al (2009) pada 1123 masyarakat India menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil bahwa rotasi merupakan prevalensi anomali yang paling banyak terjadi (10,24%), diikuti oleh erupsi ektopik (7,93%). Kelompok lainnya yang juga banyak memiliki prevalensi anomali adalah hypodonsia (4,19%), sinodonsia

(2,40%), mikrodonsia (2,58%), taurodontisme (2,49%), dens invaginatus ( 2,40%) dan talon cups (0,97%). Dentinogenesis imperfecta merupakan anomali dengan prevalensi yang paling jarang terjadi, yaitu hanya sekitar 0,9%. 6

Penelitian Patil et al (2013) di India menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil bahwa 1519 pasien (36,7%) memiliki setidaknya satu anomali gigi. Kelainan gigi kongenital memiliki prevalensi tertinggi yaitu 16,3% (673 pasien) diikuti oleh impaksi gigi 15,5% (641 pasien), gigi supernumerary 1,2%, mikrodonsia 1%, erupsi ektopik 0,7% dan transposisi 0,1%.7

Menurut penelitian yang dilakukan pada 1100 orang yang menjadi pasien di fakultas kedokteran gigi di universitas Selcuk pada tahun 2011 ditemukan bahwa dari total 34.169 gigi yang diteliti, 500 subjek memiliki paling tidak satu anomali gigi, 118 memiliki lebih dari satu anomali gigi. Impaksi merupakan anomali dengan prevalensi tertinggi yaitu 26,2 %.8

Dapat dilihat bahwa kelainan perkembangan atau anomali gigi memiliki prevalensi yang tinggi pada tiap kelompok masyarakat atau negara serta memiliki keragaman prevalensi dari tiap anomali. Karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokeran gigi di FKG USU.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang di uraikan di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimanakah pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi di FKG USU.

(17)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi di FKG USU.

1.4 Manfaat Penelitian

Secara teroritis diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi pada mahasiswa kepaniteraan klinik FKG USU.

Secara aplikatif diharapkan dapat menjadi acuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai gambaran anomali gigi yang akan mendukung diagnosis yang tepat pada mahasiswa kepaniteraan klinik FKG USU.

(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada tinjauan pustaka membahas mengenai anomali gigi dan radiografi kedokteran gigi.

2.1 Anomali Gigi Definisi Anomali Gigi

Nomali gigi adalah kelainan perkembangan, merupakan perbedaan dari apa yang dianggap sebagai keadaan normal dari proses perkembangan dan differensiasi. Kelainan perkembangan atau abnomalitas dapat diklasifikasikan menurut keparahannya.1,2,4 Anomali dari gigi geligi diklasifikasikan menurut kerusakan atau perubahan dalam jumlah, ukuran, bentuk, struktur dan erupsi. Kerusakan yang diperoleh gigi dapat juga berupa abrasi, atrisi, dan erosi.1,3 Kelainan ini dapat terjadi akibat kongenital, genetik atau faktor lingkungan.4 Anomali dari gigi geligi juga dapat disebabkan oleh kondisi lokal, kelainan gigi yang diwariskan atau manifestasi dari penyakit sistemik.1

2.2 Jumlah Gigi Definisi

Gigi terlihat menebal, termineralisasi, atau memiliki kelainan jaringan, dan lebih radiopak dapat terlihat di dalam radiografi. Gambaran menipisnya gigi, terdemineralisasi, lebih radiolusen juga dapat terlihat dalam sebuah radiografi. Gambaran radiografi terlihat radiolusen (hitam/gelap) dan radiopak (putih/terang) dapat dilihat menggunakan radiografi intraoral, panoramik dan radiografi ekstra oral.2,4

(19)

2.2.1. Supernumerary Teeth

Definisi

Supernumerary merupakan kelebihan jumlah gigi satu atau lebih dari jumlah normal gigi.1,3,9 Supernumerary teeth terjadi pada 1-4 % populasi, dapat terjadi baik pada gigi desidui maupun gigi permanen, namun paling sering terjadi pada gigi permanen.2 Kasus anomali supernumerary teeth dapat terjadi sendiri (non-sindromic) atau bersamaan dengan anomali lain (sindromic).4 Kasus multiple supernumerary teeth biasanya diasosiasikan dengan bermacam sindrom genetik, misalnya cleidocranial displasia dan sindrom Gardner. Anomali supernumerary ini dapat menghalangi erupsi gigi permanen.5,10,11

Sebagian besar kasus supernumerary terjadi pada rahang atas. 1,6 kasus anomali supernumerary sering kali dapat dideteksi baik pada pemeriksaan klinis maupun gambaran radiografis.6 Supernumerary sering kali didiagnosa sebagai anomali lain seperti bicuspids teeth.2 Penanganan gigi supernumerary tergantung dari banyak faktor, termasuk diantaranya efek potensial gigi ini terhadap perkembangan gigi normal, posisi gigi, jumlah dan komplikasi yang mungkin diakibatkan bila dilakukan tindakan pencabutan gigi tersebut.2 Sebagian besar kasus gigi

supernumerary dilakukan pencabutan dengan pertimbangan agar tidak menghalangi erupsi gigi permanen. Gambaran radiografi supernumerary biasanya berbeda.11,12

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi supernumerary biasanya berbeda dari penampakan struktur gigi normal. Gigi supernumerary berbentuk konikal. Ukuran gigi

supernumerary biasa lebih kecil dari gigi normal. Gigi supernumerary dapat dengan mudah diidentifikasi dengan cara menghitung dan mengidentifikasi keseluruhan gigi pada radiografi. Gigi supernumerary sering kali mengganggu erupsi gigi normal, maka radiografi sering kali mengungkap keberadaan gigi permanen yang gagal erupsi didekat gigi supernumerary.11,13

(20)

Gambar 1. Gambaran radiografi periapikal mesiodens12

2.2.2 Hypodontia

Definisi

Kehilangan gigi dapat juga disebut hypodontia, oligodontia dan anodontia

merupakan keadaan kehilangan gigi seluruh gigi secara kongenital, yang mencakup gigi desidui dan permanen.13 Kasus ini sangat jarang terjadi.1 Beberapa penulis membuat pembagian kehilangan gigi ini menjadi kehilangan gigi seluruhnya (anadonsia), kehilangan lebih dari 6 gigi (oligodonsia) dan kehilangan kurang dari 6 gigi (hipodonsia).1,12

Hipodonsia dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti infeksi lokal, radioterapi, kemoterapi atau obat-obatan.11 Pasien yang memiliki penyakit sistemik seperti down’sSyndrome dan ektodermal displasia juga sering mengalami hipodonsia atau anadonsia.1,12 Hipodonsia juga mungkin terjadi akibat kongenital ataupun genetik.1 Gigi yang paling sering mengalami hipodonsia adalah molar tiga, premolar, dan insisivus lateralis maksila. 1,13 Hipodonsia seringkali terjadi bersamaan dengan anomali gigi lain seperti mikrodonsia, transposisi dari gigi permanen, taurodontisme dan impaksi kaninus ektopik. 13

(21)

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi untuk mengidentikasi kehilangan gigi menggunakan radiografi dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan menghitung jumlah gigi yang ada. Kehilangan gigi atau tidak adanya gigi pada beberapa pasien dapat menyebabkan efek tekanan psikologis.2 Managemen penanganan pada kasus hipodonsia dapat berupa penggunaan prostetik untuk menggantikan gigi yang hilang, biasanya dikombinasikan dengan perawatan orthodonti. Gigi yang hilang secara kongenital dapat diganti dengan menggunakan protesa removeable, fixed removeable

atau implan.13 Pada kasus hipodonsia yang ringan dapat ditangani dengan penggunaan perawatan orthodonti. Pada kasus yang parah dapat ditangani dengan implan, restoratif atau prosedur prostetik.2

Gambar 2. Hypodontia gigi premolar kedua pada rahang atas dan rahang bawah dan kaninus rahang atas.12

2.3 Ukuran Gigi Definisi

Ukuran gigi adalah korelasi antara ukuran gigi (diameter mesiodistal X bukolingual) dengan tinggi gigi.2 Kelainan dalam ukuran gigi terbagi atas makrodonsia dan mikrodonsia.1-3 Abnormalitas dari ukuran gigi, bentuk dan jumlah dapat terjadi terpisah ataupun bersamaan. Kebanyakan gigi supernumerary juga memiliki kelainan bentuk dan ukuran.10

(22)

2.3.1 Mikrodonsia Definisi

Mikrodonsia berarti gigi memiliki ukuran yang lebih kecil dari ukuran gigi normal.1,3. Diagnosa mikrodonsia tidak dapat di aplikasikan pada kasus anomali geminasi, fusi atau magnification.1 Kondisi mikrodonsia lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan makrodonsia.1 Kasus mikrodonsia generalisata sangat jarang terjadi, biasanya terjadi pada pasien dengan dwarfisme pituitary.2 Kasus mikrodonsia paling sering terjadi pada gigi insisivus lateralis dan molar tiga.1,2

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi mikrodonsia biasanya ukuran yang kecil dan perubahan morfologi. Pada gigi molar yang mikrodonsia mungkin terjadi perubahan bentuk, terbentuknya empat sampai lima cups pada gigi molar mandibula dan empat sampai tiga cups pada gigi molar maksila.2 Pada gambaran radiografi mikrodonsia terlihat pembesaran ukuran baik pada gigi mikrodonsia yang sudah erupsi pada gigi mikrodonsia yang belum erupsi. Mikrodonsia dapat berdampak terbentuknya crowded sehingga mungkin menimbulkan impaksi gigi lainnya.2

Penanganan pada kasus mikrodonsia biasanya dilakukan perawatan konservatif atau prostetik untuk menciptakan bentuk gigi yang lebih mirip dengan gigi normal, terutama apabila gigi mikrodonsia ini terjadi pada gigi anterior yang cenderung mempengaruhi estetik. Pada kebanyakan kasus mikrodonsia tidak perlu dilakukan perawatan, namun apabila menimbulkan crowded ataupun maloklusi dapat dilakukan perawatan orthodonti.2

(23)

A B

Gambar 3 A. Radiograf periapikal memperlihatkan

berkurangnya ukuran gigi pada molar ketiga yang mengalami mikrodonsia B. Kelainan

pegshape pada gigi insisivus lateralis yang mikrodonsia12

2.3.2. Makrodonsia Definisi

Makrodonsia menggambarkan ukuran gigi yang lebih besar dari normal. Ketika gigi dalam ukuran yang normal namun terdapat pada rahang yang kecil dapat disebut juga dengan makrodonsia. Makrodonsia jarang terdapat pada semua gigi, tetapi lebih umum pada kelompok gigi tertentu atau pada satu gigi. Makrodonsia mungkin bisa terlihat pada penyakit pituitary gigantisme. Penyebab makrodonsia sampai sekarang belum diketahui. Makrodonsia kemungkinan memiliki hubungan dengan gigi berjejal, maloklusi dan impaksi.12

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi memperlihatkan ukuran yang lebih besar dari gigi yang erupsi maupun gigi makrodonsia yang belum erupsi. Gigi yang berjejal juga menyebabkan impaksi dari gigi lainnya. Bentuk dari gigi biasanya normal, namun dalam beberapa kasus terdapat morfologi yang terganggu.12

(24)

A B

Gambar 4. A.Makrodonsia gigi molar menunjukan peningkatan dimensi mesio distal dan mesio koronal-apikal

B.Makrodonsia insisivus sentralis menunjukan

peningkatan dimensi mesio distal dan koronal-apikal

2.4 Erupsi Gigi 2.4.1 Transposisi Definisi

Transposisi adalah kondisi dimana dua gigi saling bertukar posisi. Transposisi gigi yang sering terjadi adalah bertukarnya kaninus permanen dengan premolar pertama (lebih sering dari pada insisivus lateral). Premolar kedua juga mungkin terletak di antara molar pertama dan molar kedua. Transposisi pada gigi susu jarang ditemui. Transposisi dapat timbul disertai dengan hypodonsia ,supernumerary atau terdapat persisten gigi susu.

(25)

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi transposisi gigi mudah untuk dikenali dan tidak mempunyai diagnosa banding.12

Gambar 5. Radiografi panoramik memperlihatkan transposisi bilateral dari kaninus dan premolar pertama maksila12

2.5 Kelainan Morfologi Gigi 2.5.1 Fusi

Definisi

\ Fusi atau synodontia adalah kelainan morfologi gigi yang terjadi akibat penyatuan gigi-gigi yang sedang berkembang yang letaknya berdekatan. Beberapa penulis berpendapat bahwa fusi terjadi ketika dua gigi yang berkembang tumbuh berdekatan kemudian berfusi sebelum proses klasifikasi. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa tekanan fisik yang terjadi selama proses perkembangan menyebabkan kontak dari benih gigi yang berdekatan. Jumlah insidensi fusi pada gigi laki-laki dan perempuan adalah sama. Insidensi fusi lebih tinggi pada orang asia dibandingkan penduduk asli Amerika.2,14,15

Laki-laki maupun perempuan mengalami fusi dalam jumlah yang sama. Kejadian lebih tinggi di asia dan penduduk asli amerika. Fitur klinis mengakibatkan berkurangnya jumlah gigi di lengkung rahang. Meskipun lebih umum di antara gigi

(26)

yang hilang dan mungkin juga terjadi pada gigi permanen. Fusi adalah gigi yang pada umumnya berada di daerah anterior lebih baik (gigi permanen). Reaksi fusi dapat berkembang tergantung pada tahap odontogenesis dan sekitar gigi yang sedang berkembang, hasilnya pun dapat bervariasi.

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi fusi biasanya ditandai dengan dua ruang saluran akar yang terpisah dan ruang pulpa terlihat.2,15

Gambar 6. Fusi dari insisivus lateralis dan sentralis pada gigi permanen dan desidui2

2.5.2 Concrescense

Concrescence terjadi ketika akar dari dua atau lebih utama cementum yang menyatu dengan gigi permanen. Meskipun tidak diketahui penyebabnya, banyak para ahli menduga bahwa adanya pembatasan ruang selama pertumbuhan, trauma lokal, tekanan oklusal yang berlebihan, atau infeksi lokal setelah pertumbuhan memiliki peranan yang penting. Jika kelainan ini terjadi pada proses perkembangan, kelainan ini disebut “true concrescence”. Jika terjadi setelahnya, kelainan ini disebut “acquired concrescence”. 16,17

(27)

Gambaran radiografi

Gambaran radiografi concrescense biasanya ditandai dengan penyatuan gigi pada suatu akar.16,17

Gambar 7. Concrescense

merupakan penyatuan dua buah gigi pada bagian sementum12

2.5.3 Gemination

Definisi

\ Gemination adalah anomali perkembangan bentuk gigi yang timbul dari kegagalan usaha satu benih gigi tunggal untuk memisah, sehingga menghasilkan dua mahkota. Derajat pemisahan gigi geminasi bisa sempurna atau tidak tergantung pada invaginasi di mahkota atau di akar. Pemisahan yang sempurna pada gigi geminasi disebut dengan penggandaan, menghasilkan gigi supernumerari yang memberikan gambaran yang hampir sama dengan pasangannya, masing-masing gigi memiliki satu akar dan satu saluran akar. Junlah gigi dihitung menjadi dua gigi yang disebut dengan gigi supernumerari. Jika pemisahannya tidak sempurna, maka dihasilkan satu mahkota yang besar dan mimiliki satu saluran akar. Secara klinis berupa mahkota yang lebih besar gigi tetangganya dan jumlah gigi dikatakan normal karena tidak terjadi pengurangan jumlah gigi yang ada.18,19

(28)

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi menunjukkan jaringan keras pulpa dapat mengubah bentuk rongga dan gigi geminated. Besarnya radiopak enamel pada mahkota dan clefts invaginasi accentuates sehingga mereka biasanya akan bertambah dan dapat membagi langkah dalam kasus gemination. Gemination gigi premolar, Molar menunjukan sebuah gambar dengan sebuah mahkota gigi dan akar gigi yang bertambah menjadi dua 12,18,19

Gambar 8. Gemination dari gigi insisivusLateralis mandibula menunjukkan bifurkasi dari mahkota dan ruang pulpa12

2.5.4 Taurodonsia Definisi

Taurodonsia pada gigi adalah memanjang dan melebarnya kamar pulpa. Mahkota terlihat normal pada bentuk dan ukurannya, namun badan dan mahkota memanjang dan akar lebih pendek. Kamar pulpa melebar dari posisi yang normal pada mahkota, kemudian panjang dari badan mahkota bertambah sehingga menyebabkan penambahan jarak dari cemento enamel junction dan furkasi. Taurodonsia dapat timbul pada gigi permanaen dan gigi desidui (atau keduanya). Walaupun beberapa beberapa kasus hal ini dapat terlihat, tetapi hal ini biasanya terjadi pada molar dibandingkan dengan premolar. 20,21Gambaran radiografi dari gigi taurodontisia dapat terlihat.

(29)

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi yang terlihat adalah bertambahnya kamar pulpa seperti persegi panjang gigi normal. Mahkota gigi juga memiliki ukuran yang normal.9,20

Gambar 9. Radiografi periapikal memperlihatkan pembesaran ruang pulpa dan posisi bifurkasi apikal pada gigi molar satu permanen.12

2.5.5 Dilaceration

Definisi

Dilaceration adalah gangguan pada gigi yang menghasilkan pembentukan sebuah lengkungan tajam atau kurva gigi di mana terdapat dalam mahkota atau akar gigi. Meskipun perkembangan anomali ini kemungkinan besar di alam, salah satu dari yang tertua adalah bahwa konsep dilaceration merupakan akibat dari trauma mekanis ke calcifi ed bagian dari sebagian gigi yang dibentuk.22

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi memberikan yang terbaik cara mendeteksi sebuah radicular dilaceration. Kondisi paling sering terjadi pada rahang atas premolar. Salah satu atau lebih gigi mungkin akan terpengaruh Jika akar dilacerate mesially atau distal memeiliki kelainan akar gigi, kondisi ini jelas di sebuah periapikal radiografi).

(30)

Akan tetapi, ketika akar dilacerated ( buccally labially ) atau lingually, melewati x ray defl ected kira-kira sejajar dengan bagian akar dan akhir apikal mungkin bisa memiliki akar yang berlebih.22,23

Gambar 10. Dilaserasi pada akar gigi insisivus lateralis maksila dan akar gigi molar ketiga mandibula .

2.5.6 Dens in Dente

Definisi

Dens in dente adalah hasil dari masuknya permukaan luar gigi kedalam gigi. Hal ini dapat terjadi pada mahkota maupun akar pada perkembangan gigi dan dapat kamar pulpa dan saluran akar yang menyebabkan pada kelainan pada mahkota atau akar. Kelainan ini pada mahkota biasanya berasal dari anomali, enamel yang masuk pada papila dental. Pada gigi dewasa, kelainan ini menghasilkan adanya jaringan keras di antara karakteristik gigi (lapisan ke arah dalam gigi). Premolar pertama pada enamel mandibula dan molar kedua biasanya paling umum dijumpai sedikit perbedaan terjadinya kelainan ini pada orang asia dibandingkan dengan orang eropa . Terdapat sekitar 5% kelainan ini di antara ras tersebut jarang di temui pada ras kulit hitam. Tidak ada perbedaan pada wanita maupun pria untuk kecendrungan kelainan ini walaupun tidak ada data yang membutuhkan hal ini merupakan melibatkan faktor keturunan, Namun besar kemungkinan faktor keturunan berhubungan dengan hal ini.24

(31)

Gambaran klinis dens in dente dapat terlihat seperti pit pada ujung insisal atau singulium. Pit pada singulum bisa terlihat luas dan dalam ketika hal ini terjadi pada insisivus lateral pada kebanyakan kasus, dens in dente tidak terlalu besar, dan morfologi mahkota terlihat normal. Dens in dente biasanya dapat ditemui pada insisivus lateral pada rahang atas, frekuensi menurun pada insisivus sentral pada rahang atas, premolar dan kaninus dan paling sedikit terjadi pada gigi posterior.. Pit ini biasanya susah untuk dibersihkan, dan berakibat pada kondisi yang menyebabkan berkembangnya karies.24,25

Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi kebanyakan kasus dens in dente terlihat pada gambaran radiografi. Lapisan enamel terlihat lebih radiopak dan pada struktur yang mengelilingi gigi dan dapat dengan mudah di identifikasi terlihat gambaran radiolusen secara kongitudinal pada akar gigi. Pada kasus yang parah bentuk gigi berubah dan memiliki bentuk oval atau bulat dengan bagian interior yang radiolusen. Dens in dente bisa terlihat pada gambaran radiografi bahkan sebelum gigi erupsi.12,24,25

Gambar 11. Posisi dens in dente pada

insisivus

(32)

2.6 Radiografi kedokteran Gigi Definisi

Radiografi kedokteran gigi merupakan alat bantu yang sangat penting. Bagi dokter gigi. Hampir seluruh struktur yang berkaitan dengan perawatan yang tidak dapat di lihat dengan kasat mata dan dapat dilihat dengan radiografi sehingga banyak sekali hal yang bergantung pada radiografi.Radiografi kedokteran gigi adalah teknik yang dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran kelaianan pada rongga mulut untuk membantu dalam menegakan diagnosis, rencana perawatan,dan evaluasi hasil perawatan, gigi yang mengalami trauma.26

Beberapa teknik radiografi kedokteran gigi digunakan untuk melihat anomali gigi. Klasifikasi radiografi kedokteran gigi ada dua yaitu radiografi intra oral dan radiografi ekstra oral.

2.6.1 Radiografi Intraoral

Radiografi intraoral adalah radiografi yang meberikan gambaran kondisi gigi dan jaringan sekitar secara detailgambaran radiografi intraoral diperoleh dengan cara menempatkan film ke dalam rongga mulut dan kemudian dilakukan penyinaran. Radiografi intraoral terdiri atas beberapa jenis yaitu:26

2.6.1.1 Radiografi Periapikal

Radiografi periapikal adalah radiografi yang berguna untuk melihat gigi geligi secara individual mulai dari mahkota akar gigi dan jaringan pendukungnya. Setiap film biasanya menunjukkan 2-4 gigi dan memberikan informasi rinci tentang gigi dan sekitar tulang alveolar. Indikasi penggunaan radiografi periapikal antara lain adalah:26,27

1. Deteksi infeksi/inflamasi apikal. 2. Melihat keadaan jaringan periodontal.

3. Pemeriksaan pasca trauma pada gigi geligi yang melibatkan tulang 4. Penilaian terhadap keberadaan dan posisi gigi yang tidak erupsi. 5. Penilaian morfologi akar sebelum ekstraksi (pencabutan gigi).

(33)

Teknik yang digunakan pada radiorafi periapikal terdiri dari dua teknik yaitu teknik paralel dan bisekting. Kedua teknik ini dilakukan untuk meminimalisasi distorsi gambar, namun teknik paralel lebih sering digunakan karena menghasilkan gambar dengan distorsi yang lebih sedikit.26,27

1. Teknik Paralel

Pada teknik paralel, film diletakkan pada film holder di dalam mulut pada posisi paralel terhadap sumbu panjang gigi yang diperiksa. Tube head (cone) diarahkan dengan sudut yang tepat dengan gigi dan film. Film dan gigi tidak dapat berkontak langsung, sehingga digunakan jenis “long cone” untuk menghindari pembesaran hasil gambar. 26,27

Teknik paralel memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah : 26,27 a. Gambaran lebih geometris dan sedikit terjadi pembesaran gambar. b. Tulang zygomatic tampak berada di atas apex gigi molar rahang atas. c. Alveolar crest dapat terlihat dengan jelas.

d. Jaringan periapikal dapat tampak dengan jelas.

e. Mahkota gigi dapat tampak dengan jelas sehingga karies proksimal dapat terdeteksi.

f. Arah sinar X sudah ditentukan pada pertengahan film, sehingga dapat menghindari cone cutting.

g. Dapat membuat foto radiografis dengan posisi dan kondisi yang sama pada waktu yang berbeda.

Selain memiliki keuntungan, teknik paralel juga memiliki kerugian. Beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan dari teknik paralel, diantaranya adalah :

26,27

a. Penggunaan film holder dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, terutama untuk gigi regio posterior.

b. Penggunaan film holder butuh tenaga ahli.

(34)

d. Apeks gigi terkadang tampak sangat dekat dengan tepi film.

e. Sulit menggunakan film holder untuk regio 3 gigi molar rahang bawah. f. Tidak mendapatkan hasil radiografi yang baik bila menggunakan short cone.

g. Film holder harus disterilisasi dengan autoclave.

2. Teknik Bisekting

Teknik bisekting adalah teknik lain yang dapat dilakukan selain teknik paralel dalam pengambilan film periapikal. Teknik bisekting biasa digunakan pada kasus-kasus kelainan anatomi seperti torus palatinus besar, palatum sempit, dasar mulut dangkal, frenulum pendek, lebar lengkung rahang yang sempit atau pada pasien anak yang kurang kooperatif. Pada teknik bisekting, film diletakkan ke dalam rongga mulut dan diberikan blok gigitan untuk menahan film. Teknik ini dicapai dengan menempatkan reseptor sedekat mungkin dengan gigi dan meletakkan film sepanjang permukaan lingual/ palatal kemudain sinar x diarahkan tegak lurus (bentuk T) ke garis imajiner yang membagi sudut yang dibentuk oleh aksis panjang gigi dan bidang film. 26,27

Keuntungan dari teknik bisekting adalah teknik ini dapat digunakan tanpa film holder dan posisi yang cukup nyaman bagi pasien, sedangkan kerugian dari teknik bisekting ini adalah distorsi mudah terjadi dan masalah angulasi (banyak angulasi yang harus diperhatikan). 26,27.

2.6.1.2 Radiografi Oklusal

Radiografi oklusal adalah adalah salah satu teknik radiografi intraoral yang diambil menggunakan dental x-ray set dimana image diletakkan pada oklusal plane. Radiografi oklusal menggunakan film besar berukuran 7,7cm x 5,8cm agar dapat memperlihatkan daerah yang lebih luas pada rahang. 26,27

Radiografi oklusal adalah radiografi yang digunakan untuk melihat anatomi langit-langit atau dasar mulut. Pemeriksaan radiografi ini memperlihatkan gambaran tepi insisal dan permukaan oklusal dan lengkung gigi. Secara umum, radiografi

(35)

oklusal sangat berguna untuk melihat akar dan gigi supernumerary secara tepat, mengetahui gigi yang terimpaksi, serta mendeteksi sejauh medial dan lateral penyakit serta mendeteksi penyakit pada palatum atau dasar mulut.26,27

Indikasi radiografi oklusal diantaranya adalah: 26,27

1. Untuk melihat keadaan patologis sehubungan dengan gigi dan rahang pada arah buko-lingual(misal : kista, neoplasia)

2. Luasnya dari perubahan fraktur yang melibatkan mandibula & maksila 3. Untuk menentukan letak/posisi sisa akar, gigi impaksi atau gigi kelebihan (supernumerary) apakah terletak di dalam / luar lengkung gigi

4. Untuk melihat letak kelainan sialolithiasis (penyumbatan pada muara saluran kelenjar ludah rahang nawah)

5. Digunakan pada penderita trismus

2.6.2 Radiografi Panoramik

Radiografi Panoramik merupakan salah satu radiografi ekstraoral yang telah digunakan secara umum di kedokteran gigi untuk mendapatakan gambaran struktur wajah termasuk rahang atas dan rahang bawah serta struktur jaringan pendukungnya dan menunjukkan sebagian gambar sendi temporomandibular dengan distorsi minimal dari detail anatomi pada sisi kontralateral. Radiografi panoramik adalah sebuah radiografi dimana gambaran seluruh jaringan gigi ditemukan dalam satu film. Radiogarafi panoramik adalah efektif untuk mendiagnosa dan merencanakan perawatan.26,2

A.Indikasi dan kontraindikasi radiografi panoramik

Menurut panduan dari FDA mengenai pemeriksaan radiografi, pada tahun 1997, American academy of Pediatric Dentistry menegaskan rekomendasinya tentang penggunakan radiografi dalam proses pertumbuhan gigi dan masa remaja. Rekomendasi ini diikuti dengan pengambilan foto panoramik pada pasien apabila mereka berusia 5-7, 9-12 dan 16-18 tahun. 26,27

Indikasi pengambilan radiografi panoramik adalah : 26,27

(36)

2. Pemeriksaan pada pasien edentulus 3. Pemeriksaan tulang fasial post trauma 4. Evaluasi ukuran lesi tulang

Kontraindikasi pengambilan radiografi panoramik adalah : 26,27 1. Pemeriksaan karies

2. Pemeriksaan penyakit periodontal

B.Kelebihan dan kekurangan radiografi panoramik. Kelebihan radiografi panoramik sebagai berikut : 26,27 1. Gambar meliputi tulang wajah dan gigi

2. Dosis radiasi lebih kecil

3. Cocok untuk pasien yang susah membuka mulut 4. Waktu yang digunakan pendek biasanya 3-4 menit

5. Sangat membantu dalam menerangkan keadaan rongga mulut pada pasien diklinik

6. Membantu dalam menegakkan diagnostik yang meliputi tulang rahang secara umum dan evaluasi terhadap trauma, perkembangan gigi geligi pada fase gigi bercampur.

Kekurangan radiografi panoramik adalah sebagai berikut: 26,27

1. Detail gambar yang tampil tidak sebaik periapikal intraoral radiograph 2. Tidak dapat digunakan untuk mendeteksi karies kecil

3. Pergerakan pasien selama penyinaran akan menyulitkan dalam

(37)

2.7Kerangka Teori

Anomali Gigi

Jumlah Gigi Ukuran Gigi Erupsi Gigi Kelainan Morfologi gigi 1. Supernumerary teeth 2. Hypodontia Transposisi 1. Fusi 2. Concrescence 3. Gemination 4. Taurodonsia 5. Dilaceration 6. Dens in Dente 1. Mikrodonsia 2. Makrodonsia

Radiografi Kedokteran Gigi

Intra Oral

Periapikal Bitewing

Ekstra Oral

(38)

2.8 Kerangka Konsep Pengetahuan Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Radiografi Kedokteran Gigi Anomali Gigi

Mesiodens Makrodonsia Mikrodonsia Transposisi Taurodonsia Fusi Concrescence Gemination Dilaceration Dens in Dente

(39)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Rancangan penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan rancangan cross sectional.

3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di departemen penyakit mulut, konservasi, bedah mulut, periodonsia, pedodonsia, prostodonsia, orthodonsia dan dental public health pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli 2015.

1.3 Populasi Dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa kepaniteraan klinik di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan.

3.3.2 Sampel

Sampel penelitian adalah mahasiswa kepaniteraan klinik yang pernah merujuk untuk melakukan radiografi kedokteran gigi dalam melakukan perawatan gigi. Metode pemilihan sampel menggunakan metode simple random sampling.

Kriteria inklusi adalah mahasiswa kepaniteraan klinik yang bersedia untuk menjadi sampel penelitian.

Kriteria eksklusi adalah mahasiswa kepaniteraan klinik yang tidak hadir pada saat dilakukan penelitian.

(40)

Besar sampel penelitian diperoleh dengan perhitungan menggunakan rumus sebagai berikut: Keterangan rumus: n : Jumlah sampel Z : Derajat kepercayaan. (95% = 1,96) P : Proporsi populasi penelitian. (0,5) Q : Selisih antara populasi. (1-P) d : Selang kepercayaan. (10%) Cara Perhitungan sampel Minimum

Sampel yang diambil dalam penelitian adalah 120 orang.

3.4 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi adalah pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali yang terjadi pada gigi dilihat menggunakan radiografi kedokteran gigi. Pengetahuan tersebut diukur dengan menggunakan kuesioner, cara pengukurannya berdasarkan skor kuesioner dimana hasil ukurannya merupakan baik, cukup dan kurang dengan menggunakan skala ordinal.

(41)

3.5 Metode Pengumpulan Data dan Pelaksanaan Penelitian

3.5.1 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner di mana kuesioner diberikan secara langsung kepada sampel, yaitu mahasiswa kepaniteraan klinik dan diisi langsung oleh sampel.

3.5.2 Pelaksanaan Penelitian

a. Penyebaran kuesioner kepada sampel. b. Pengumpulan kuesioner.

c. Pengolahan dan analisis data.

3.6 Pengolahan dan Analisa Data

3.6.1 Pengolahan Data

1. Pengetahuan

Untuk mengukur pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik terhadap gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi dengan memberi skor terhadap kuesioner yang telah diberi bobot. Jumlah pertanyaan 10, dimana setiap pertanyaan yang dijawab akan diberi skor. Pemberian skor pada setiap pertanyaan adalah sebagai berikut:

a. Jawaban benar dengan alasan benar memiliki skor 2.

b. Jawaban benar dengan alasan kurang lengkap memiliki skor 1.

c. Jawaban benar dengan alasan salah atau tanpa alasan dan jawaban salah memiliki skor 0.

Berdasarkan seluruh pertanyaan total skor maksimal adalah 20, maka tingkat pengetahuan diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu:

a. Tingkat pengetahuan baik apabila total skor berada diantara >13. (>65%) b. Tingkat pengetahuan sedang apabila total skor berada diantara 7-13. (

35-65%).

(42)

2. Pengolahan data dilakukan secara manual, melalui proses: a. Penyuntingan data (editing)

Kegiatan ini dimaksudkan untuk meneliti kembali formulir data, mengecek kembali apakah data yang terkumpul sudah lengkap, terbaca dengan jelas dan tidak meragukan serta apakah ada kesalahan dan sebagainya.

b. Membuat lembaran kode (coding sheet)

Coding dilakukan untuk mengubah data yang telah terkumpul ke dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode.

c. Memasukkan data (data entry)

Mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak lembar kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.

d. Tabulasi

Membuat tabel- tabel data sesuai dengan tujuan penelitian.

(43)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan terhadap 120 orang mahasiswa kepaniteraan klinik pada salah satu Fakultas Kedokteran Gigi USU Medan. Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi di FKG USU Medan, terdapat pada tabel 1.

Tabel 1. Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi No. Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik Total Skor 2 1 0 n % n % n % 1 Mesiodens 120 79 65,8 39 32,5 2 1,7 2 Makrodonsia 72 60 44 36,7 4 3,3 3 Mikrodonsia 70 58,3 44 36,7 6 5 4 Transposisi 64 53,3 40 31,7 16 10 5 Taurodonsia 77 64,2 16 13,3 27 22,5 6 Fusi 65 54,2 42 35 13 10,8 7 Concrescence 64 53,3 48 40 8 6,7 8 Gemination 77 64,2 16 13,3 27 22,5 9 Dilaceration 63 52,5 50 41,7 7 5,8 10 Dens in dente 53 44,2 54 45 13 10,8

(44)

Tingkat pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik secara individu dapat dilihat pada tabel 2. Secara individu dikategorikan tingkat pengetahuan baik dengan persentase sebesar 57,5%, tingkat pengetahuan sedang sebesar 39,2% dan tingkat pengetahuan kurang sebesar 3,3%.

Tabel 2. Tingkat pengetahuan mahasiwa kepaniteraan klinik secara individu tentang penggunaan radiografi kedokteran gigi

Kategori n %

Baik 69 57,5

Sedang 47 39,2

Kurang 4 3,3

(45)

BAB 5 PEMBAHASAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan sampel mahasiswa kepaniteraan klinik FKG USU yang pernah merujuk untuk melakukan radiografi kedokteran gigi dalam melakukan perawatan gigi. Metode pemilihan sampel dilakukan dengan simple random sampling, dan metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner di mana kuesioner diberikan dan diisi langsung oleh sampel.

Hasil penelitian yang dilakukan pada 120 orang sampel, diperoleh bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik FKG USU mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi untuk kategori baik sebesar 57,5%, untuk kategori sedang 39,2%, dan kategori kurang sebesar 3,3%. Anomali gigi geligi adalah kelainan dari proses perkembangan dan differensiasi, dan anomali ini dapat diklasifikasikan menurut kerusakan atau perubahan dalam jumlah, ukuran, bentuk, struktur dan erupsi.1-4 Radiografi kedokteran gigi adalah teknik yang dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran kelaianan pada rongga mulut untuk membantu dalam menegakan diagnosis, rencana perawatan,dan evaluasi hasil perawatan, gigi yang mengalami trauma.Beberapa teknik radiografi juga digunakan untuk melihat anomali gigi, diantaranya radiografi periapikal, bitewing, oklusal, dan radiografi panoramik.26

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai mesiodens adalah sebanyak 65,8% mengetahuinya, dan hanya 1,7% yang tidak mengetahui anomali gigi ini. Supernumerary merupakan kelebihan jumlah gigi satu atau lebih dari jumlah normal gigi.1,3 Supernumerary teeth terjadi pada 1-4 % populasi.2 Penelitian Tofangchiha et al

(2013) pada masyarakat di Iran menggunakan radiografi panoramik diperoleh hasil bahwa prevalensi anomali supernumerary teeth adalah sekitar 0,8%,4 sedangkan penelitian Patil et al (2013) di India menggunakan radiografi panoramik menunjukkan prevalensi gigi supernumerary sebanyak 1,2%.7 Gambaran radiografi supernumerary

biasanya berbeda dari penampakan struktur gigi normal. Gigi supernumerary berbentuk konikal dan ukurannya lebih kecil dari normal. Gigi supernumerary dapat dengan mudah diidentifikasi dengan cara menghitung dan mengidentifikasi keseluruhan gigi

(46)

pada radiografi. Gigi supernumerary sering kali mengganggu erupsi gigi normal, maka radiografi sering kali mengungkap keberadaan gigi permanen yang gagal erupsi didekat gigi supernumerary.11,13

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai makrodonsia adalah sebanyak 60% mengetahuinya. Makrodonsia menggambarkan ukuran gigi yang lebih besar dari normal. Penelitian Tofangchiha et al (2013) pada masyarakat di Iran menggunakan radiografi panoramik diperoleh prevalensi makrodonsia adalah 1%.4 Gambaran radiografi makrodonsia memperlihatkan ukuran yang lebih besar dari gigi yang erupsi maupun gigi makrodonsia yang belum erupsi. Gigi yang berjejal juga menyebabkan impaksi dari gigi lainnya. Bentuk dari gigi biasanya normal, namun dalam beberapa kasus terdapat morfologi yang terganggu.12

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai mikrodonsia adalah sebanyak 58,3% mengetahuinya. Mikrodonsia berarti gigi memiliki ukuran yang lebih kecil dari ukuran gigi normal.1,3 Kasus mikrodonsia paling sering terjadi pada gigi insisivus lateralis dan molar tiga.1,2 Penelitian Tofangchiha et al (2013) menggunakan radiografi panoramik diperoleh prevalensi mikrodonsia pada masyarakat Iran sebesar 3,2%.4 Penelitian Ghaznawi et al (1999) di Arab Saudi menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil bahwa prevalensi mikrodonsia sebesar 5,35%.2 Selain itu, penelitian Gupta et al (2009) pada masyarakat India menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil bahwa prevalensi mikrodonsia mencapai 2,58%. Gambaran radiografi mikrodonsia biasanya ukuran yang kecil dan perubahan morfologi. Pada gigi molar yang mikrodonsia mungkin terjadi perubahan bentuk, terbentuknya empat sampai lima cups pada gigi molar mandibula dan empat sampai tiga cups pada gigi molar maksila.6 Pada gambaran radiografi mikrodonsia terlihat pembesaran ukuran baik pada gigi mikrodonsia yang sudah erupsi pada gigi mikrodonsia yang belum erupsi.6

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai transposisi adalah sebanyak 53,3% mengetahuinya. Transposisi adalah kondisi dimana dua gigi saling bertukar posisi. Transposisi gigi yang sering terjadi adalah bertukarnya kaninus permanen dengan premolar pertama (lebih sering dari pada insisivus lateral). Penelitian Ghaznawi et al (1999) di Arab Saudi menggunakan radiografi panoramik didapatkan

(47)

hasil bahwa transposisi memiliki prevalensi yang rendah, yaitu dibawah 0,20%.2 Penelitian Patil et al (2013) di India dengan radiografi panoramik juga menunjukkan prevalensi transposisi yang rendah, yaitu sebesar 0,1%.7 Gambaran radiografi transposisi gigi mudah untuk dikenali dan tidak mempunyai diagnosa banding.12

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai taurodonsia adalah sebanyak 64,2% mengetahuinya. Taurodonsia pada gigi adalah memanjang dan melebarnya kamar pulpa. Mahkota terlihat normal pada bentuk dan ukurannya, namun badan dan mahkota memanjang dan akar lebih pendek. Kamar pulpa melebar dari posisi yang normal pada mahkota, kemudian panjang dari badan mahkota bertambah sehingga menyebabkan penambahan jarak dari cemento enamel juction dan furkasi.20,21Penelitian Ghaznawi et al (1999) di Arab Saudi menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil bahwa taurodontisme merupakan anomali dengan prevalensi kedua terbesar yaitu 8,61%.2 Penelitian Gupta et al (2009) pada 1123 masyarakat India menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil prevalensi taurodontisme adalah sebesar 2,49%. Gambaran radiografi yang terlihat adalah bertambahnya kamar pulpa seperti persegi panjang gigi normal. Mahkota gigi juga memiliki ukuran yang normal.6,20

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai fusi adalah sebanyak 54,2% mengetahuinya. Fusi atau synodontia adalah kelainan morfologi gigi yang terjadi akibat penyatuan gigi-gigi yang sedang berkembang yang letaknya berdekatan. Jumlah insidensi fusi pada gigi laki-laki dan perempuan adalah sama. Insidensi fusi lebih tinggi pada orang asia dibandingkan penduduk asli Amerika.2,14,15Penelitian Tofangchiha et al

(2013) pada masyarakat di Iran menggunakan radiografi panoramik diperoleh hasil bahwa prevalensi fusi dan taurodontisme adalah 0,2%.4 Gambaran radiografi fusi biasanya ditandai dengan dua ruang saluran akar yang terpisah dan ruang pulpa terlihat.2,15

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai concrescence adalah sebanyak 53,3% mengetahuinya. Concrescence terjadi ketika akar dari dua atau lebih utama cementum yang menyatu dengan gigi permanen. Meskipun tidak diketahui penyebabnya, banyak para ahli menduga bahwa adanya pembatasan ruang selama pertumbuhan, trauma lokal, tekanan oklusal yang berlebihan, atau infeksi lokal setelah

(48)

pertumbuhan memiliki peranan yang penting. Jika kelainan ini terjadi pada proses perkembangan, kelainan ini disebut true concrescence. Jika terjadi setelahnya, kelainan ini disebut acquired concrescence.Gambaran radiografi concrescense biasanya ditandai dengan penyatuan gigi pada suatu akar.16,17

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gemination adalah sebanyak 64,2% mengetahuinya. Gemination adalah anomali perkembangan bentuk gigi yang timbul dari kegagalan usaha satu benih gigi tunggal untuk memisah, sehingga menghasilkan dua mahkota. Derajat pemisahan gigi geminasi bisa sempurna atau tidak tergantung pada invaginasi di mahkota atau di akar. Jika pemisahannya tidak sempurna, maka dihasilkan satu mahkota yang besar dan mimiliki satu saluran akar. Secara klinis berupa mahkota yang lebih besar gigi tetangganya dan jumlah gigi dikatakan normal karena tidak terjadi pengurangan jumlah gigi yang ada.18,19 Gambaran radiografi menunjukkan jaringan keras pulpa dapat mengubah bentuk rongga dan gigi geminated. Besarnya radiopak enamel pada mahkota dan clefts invaginasi accentuates sehingga mereka biasanya akan bertambah dan dapat membagi langkah dalam kasus gemination.12,18,19

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai dilaceration adalah sebanyak 52,5% mengetahuinya. Dilaceration adalah gangguan pada gigi yang menghasilkan pembentukan sebuah lengkungan tajam atau kurva gigi di mana terdapat dalam mahkota atau akar gigi. Meskipun perkembangan anomali ini kemungkinan besar di alam, salah satu dari yang tertua adalah bahwa konsep dilaceration merupakan akibat dari trauma mekanis ke calcified bagian dari sebagian gigi yang dibentuk.22 Penelitian Ghaznawi et al (1999) di Arab Saudi menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil bahwa prevalensi dilaserasi adalah 1,19%.2 Gambaran radiografi memberikan yang terbaik cara mendeteksi sebuah radicular dilaceration. Kondisi paling sering terjadi pada rahang atas premolar.22,23

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai dens in dente adalah sebanyak 44,2% mengetahuinya. Dens in dente adalah hasil dari masuknya permukaan luar gigi kedalam gigi. Pada gigi dewasa, kelainan ini menghasilkan adanya jaringan keras di antara karakteristik gigi (lapisan ke arah dalam gigi).24Gambaran klinis dens in

(49)

dente dapat terlihat seperti pit pada ujung insisal atau singulium. Pit pada singulum bisa terlihat luas dan dalam ketika hal ini terjadi pada insisivus lateral pada kebanyakan kasus, dens in dente tidak terlalu besar, dan morfologi mahkota terlihat normal.24,25 Penelitian Gupta et al (2009) pada 1123 masyarakat India menggunakan radiografi panoramik didapatkan hasil prevalensi terjadinya dens in dente adalah sebesar 2,40%. Gambaran radiografi kebanyakan kasus dens in dente terlihat pada gambaran radiografi. Lapisan enamel terlihat lebih radiopak dan pada struktur yang mengelilingi gigi dan dapat dengan mudah di identifikasi terlihat gambaran radiolusen secara congitudinal

pada akar gigi. Pada kasus yang parah bentuk gigi berubah dan memiliki bentuk oval atau bulat dengan bagian interior yang radiolusen. Dens in dente bisa terlihat pada gambaran radiografi bahkan sebelum gigi erupsi.6,24,25

Pentingnya pengetahuan mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi karena morfologi dibedakan dari mahkota, akar dan tingkat keparahan anomali tersebut. Meskipun kasus mengenai anomali gigi tidak umum, tetapi dokter gigi harus mampu membedakan, mendiagnosa, rencana perawatan, dan mengevaluasi hasil perawatan dengan baik, dengan tujuan untuk menjaga kesehatan mulut pasien.15,24 Kurangnya pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik dalam mengetahui dan mengenali gambaran anomali gigi menggunakan radiografi terutama gambaran anomali fusi, gemination, dan dens in dente, kemungkinan karena sangat sedikit atau jarang ditemukan gambaran anomali fusi, gemination, dan dens in dente tersebut di kepaniteraan klinik fakultas kedokteran gigi USU.

(50)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi untuk kategori baik sebanyak 69 mahasiswa (57,5%), kategori sedang sebanyak 47 (39,2%), dan kategori kurang sebanyak 4 (3,3%).

6.2 Saran

Sebaiknya mahasiswa kepaniteraan klinik mempelajari lebih dalam mengenai gambaran anomali gigi menggunakan radiografi kedokteran gigi terutama pada gambaran anomali fusi, gemination, dan dens in dente.

(51)

DAFTAR PUSTAKA

1. Dunlap C. Abnormalities of teeth. 2004; 1-10.

2. Ghaznawi H.I, Daas H., Saloko N.O. A clinical and radiographic survey of selected dental anomalies and conditions in a Saudi Arabian population. The Saudi Dent J.1999 ;1(11):8-13.

3. Pedreira E.N, Magalhaes M.C.G, Cardoso C.L, Taveira L.A, Freitas C.F.

Radiographic study of dental anomalies in Brazilian patients with

neuropsychomotor disorders. J Apply Oral Sci.2007 ;15(6): 524-8.

4. Tofangchiha M, Azimi S,Neirizi M. Frequency and distribution of dental anomalies in Iran : a radiographic survey. Int J of Exp Dent Sci. 2013; 2(1):14-7.

5. McMillan J.A, Feigin R.D, DeAngelis, Catherine D, Jones, JR, Douglas M. Oski’s pediatrics: principles and practice. Lippincott Williams And Wilkins. 2006:788-90. 6. Gupta S.K, Saxena P, Jain S, Jain D. Prevalence and distribusion of selected

developmental dental anomalies in an Indian population. J Oral Sci. 2011; 53(2): 231-8.

7. Patil S, Doni B, Kaswan S, Rahman F. Prevalence of dental anomalies in Indian population. J Clin Exp Dent. 2013;5(4);183-6.

8. Roger E, Hall JG, Everman BD, Solomon BD. Human malformations and related anomaly, Second Edition. Oxford University Press. 2005: 461-5.

9. Sener S, Bozdag G,Unlu N. Presence, distribution, and association of dental anomalies : a clinical and radiographical study. Clinical Dentistry and Research. 2011; 35(3):43-52.

10. Langland O.E, Langlains R.P, Preece J. Principle of dental imaging : abnormalities of teeth. Liipincott Wiliams&Wilkins.2002; 16:375-91.

11. White H.C and Pharoah M.J. Oral radiology principles and interpretation: dental anomalies. Mosby inc.2004; 1: 330-63.

(52)

12. Shahrani IA, Togoo RA, Qarni MAA. A review of hypodontia: classification, prevalence, etiology, associated anomalies, clinical implications and treatment options. World J of dentistry 2013; 4: 117-25.

13. Williams N, Bulstrode C, O’Connell P.R. Bailey and love’s short practice of surgery 25th Edition. CRC Press. 2008: 671-2

14. Nalin Thakker. Oral medicine and pathology : a guide to diagnosis and management. Jaypee Brothers Medical Publisher.2013; 1-24.

15. Faria M.I.A, Borges A.H, Carneiro S.M, Filho J.M.S, Segundo A.S, Filho A.M.S. Endodontic treatment of dental formation anomalies. Rev Odonto Cienc 2011; 26:88-91.

16. Foran D, Komabayashi T, Lin LM. Concrescence of permanent maxillary second and third molars : case report of non-surgical root canal treatment. J of Oral Science 2012; 54:133-6.

17. Sharma U, Gulati A, Gill NC. Concrescent triplets involving primary anterior teeth. Contemp Clin Dent 2013;4: 94-6.

18. Barberio GS, Dacosta S.V, Deoliveira T.M, & Machado M.A.A.M. Rare case of bilateral gamination in deciduous teeth. Int J Morphol 2013; 31: 575-7.

19. Gunduz K, Acikgoz K. An usual case of talon cusp on a geminated tooth. Braz Dent J 2006; 17: 343-6.

20. Guttal KS, Naikmasur VG, Bhargava P, Bathi RJ. Frequency of developemental dental anomalies in the indian population. Euro J of Dentistry 2010;4: 263-9.

21. Nagaveni NB. An unsual occurrence of multiple dental anomalies in a sningle nonsyndromic patient: a case report. Hindawi Publishing Corporation 2012: 1-4. 22. Miloglu O, Cakici F, Caglayan F, Yilmaz AB, Demirkaya F. The prevalence of root

dilacerations in a turkish population. Med Oral Patol Oral Cir Bukal 2010; 15: 441-4 .

23. Silva BF, Dantas LE, Beltrao RV, Rodrigues TL, Farias RL, Beltrao RTS. Prevalence assessment of root dilaceration in permanent incisors. Dental Press J Orthod 2012; 17: 97-102.

(53)

24. Neves FS, Bastos LC, Almelda SM, Boscolo FN, Neto FH, Campos PSF. Dense invaginatus: a cone beam computed tomography case report. J Health Sci Inst 2010; 28: 249-50.

25. More CB, Patel HJ. Dense invaginatus: a radiographyc analysis. Open access scientific reports 2012; 1: 1-4.

26. American Dental Association (ADA). Dental radiography examination :

recomendations for patient selection and limiting radiation.

27. Whaites E, Drage N. Essentials of Dental RadhiographyAnd Radiology. Elsevier Health Sciences. 2013: 300-10.

(54)
(55)

Lampiran 1

DEPARTEMEN RADIOLOGI

KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Klinik Departemen : No. Sampel Tanggal Jenis Kelamin : : : :

JUDUL PENELITIAN : PENGETAHUAN MAHASISWA KEPANITERAAN

KLINIK MENGENAI GAMBARAN ANOMALI GIGI MENGGUNAKAN

RADIOGRAFI KEDOKTERAN GIGI DI FKG USU MEDAN

ISI KOTAK DENGAN JAWABAN YANG BENAR MENURUT ANDA DAN JELASKAN ALASANYYA.

1. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 1 ?

a) Mesiodens

b) Makrodonsia

c) Mikrodonsia

d) Odontoma

e) Gemination

Jelaskan alasan saudara :

... ... ...

Gambar 1 2. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 2?

a. Makrodonsia

b. Mikrodonsia

c. Odontoma

d. Gemination

(56)

Jelaskan alasan saudara :

... ... ...

Gambar 2

3. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 3?

a. Makrodonsia

b. Mikrodonsia

c. Odontoma

d. Gemination

e. Mesiodens

Jelaskan alasan saudara :

... ... ...

Gambar 3

4. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 4? a. Transposisi

b. Mikrodonsia

c. Concrescence

d. Gemination

e. Laterodens Jelaskan alasan saudara :

(57)

... ...

Gambar 4

5. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 5?

a. Makrodonsia

b. Mikrodonsia

c. Odontoma

d. Gemination

e. Taurodonsia Jelaskan alasan saudara :

... ... ...

Gambar 5 6. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 6?

(58)

b. Mikrodonsia c. Fusi

d. Gemination

e. Mesiodens

Jelaskan alasan saudara :

... ...

Gambar 6

7. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 7 ?

a. Makrodonsia

b. Mikrodonsia

c. Odontoma

d. Gemination

e. Concrescense

Jelaskan alasan saudara :

... ... ...

(59)

Gambar 7

8. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 8?

a. Makrodonsia

b. Mikrodonsia

c. Odontoma

d. Gemination

e. Mesiodens

Jelaskan alasan saudara :

... ... ...

Gambar 8

9. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 9?

a. Makrodonsia

b. Mikrodonsia

c. Odontoma

d. Dilaceration

(60)

Jelaskan alasan saudara :

... ... ...

Gambar 9

10. Menurut anda anomali apakah yang terdapat pada gambar 9?

a. Makrodonsia

b. Mikrodonsia c. Dens in dente

d. Gemination

e. Fusi

Jelaskan alasan saudara :

... ... ...

(61)

NO Soal

Total Skor Kategori

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 1 2 2 2 2 0 2 2 0 2 2 16 Baik 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 0 16 Baik 3 2 1 1 1 2 1 0 0 1 1 10 Sedang 4 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 17 Baik 5 2 2 2 2 0 2 2 2 2 1 17 Baik 6 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 19 Baik 7 2 2 1 1 2 1 1 0 0 2 12 Sedang 8 2 2 1 2 2 2 1 0 2 1 15 Baik 9 2 2 2 2 2 2 1 2 2 0 17 Baik 10 2 1 1 1 2 1 1 2 1 0 12 Sedang 11 2 2 2 1 0 2 2 2 2 2 17 Baik 12 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 18 Baik 13 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Kurang 14 1 1 1 1 0 1 1 2 1 1 10 Sedang 15 2 1 1 1 0 0 0 0 0 0 5 Kurang 16 1 1 1 0 0 1 1 2 1 0 8 Sedang 17 1 1 0 0 0 0 1 2 0 1 6 Kurang 18 1 1 1 0 2 0 1 0 1 1 8 Sedang 19 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 Baik 20 2 2 2 2 2 2 2 0 1 1 16 Baik 21 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 Baik 22 2 2 2 2 2 0 2 2 2 1 17 Baik 23 1 1 1 1 0 2 2 0 2 2 12 Sedang 24 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 Baik 25 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 Baik 26 1 2 2 2 2 0 2 2 1 1 15 Baik 27 1 2 2 0 0 2 2 0 2 2 13 Sedang 28 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 Baik 29 0 1 1 0 2 0 1 2 0 1 8 Sedang Lampiran 2

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :