PENDEKATAN ASESMEN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
Rahmaini
Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Sumatera Utara Medan e-mail: [email protected]
Abstract: The ability of Arabic teachers to develop an Arabic learning assessment based on the right approach is essential. This is important, in order to avoid the kind of monotonous and unsophisticated and diverse set of Arabic learning assessments. There are four types of approaches to learning Arabic learning approaches: (1) Discrete (2) Integrative (3) Pragmatic (4) Communicative. These four approaches have their own characteristics. This paper is prepared in a descriptive-analytical approach, and aims to describe the types of approaches in the assessment of Arabic learning as well as a comparative information material for Arabic teachers in exploring information related to the Arabic learning assessment approach.
Keyword: Approach, Assessment, Learning, Arabic, Discrete, Integrative, Pragmatic, Communicative.
Abstrak: Kemampuan guru bahasa Arab dalam menyusun asesmen pembelajaran bahasa Arab berdasarkan pendekatan yang tepat sangat diperlukan. Hal ini menjadi penting, untuk menghindari jenis asesmen pembelajaran bahasa Arab yang monoton dan tidak kreatif dan beragam. Ada empat jenis pendekatan asesmen pembelajaran bahasa Arab, yaitu pendekatan:
(1) Diskret (2) Integratif (3) Pragmatik (4) Komunikatif. Keempat pendekatan ini memiliki karakteristik masing – masing. Tulisan ini disusun dengan pendekatan deskriptif-analisis, dan bertujuan untuk memaparkan jenis – jenis pendekatan dalam asesmen pembelajaran bahasa Arab sekaligus menjadi bahan informasi perbandingan bagi guru bahasa Arab dalam menggali informasi yang terkait dengan pendekatan asesmen pembelajaran bahasa Arab.
Kata Kunci : Pendekatan, Asesmen, Pembelajaran, Bahasa Arab, Diskret, Integratif, Pragmatik, Komunikatif.
PENDAHULUAN
Berbicara tentang pembelajaran, ada beberapa istilah terkait, diantaranya adalah pendekatan, strategi, metode, dan teknik. Pengertian masing–masing istilah tersebut sering dikacaukan oleh banyak orang, antara satu salam lain dianggap sama, padahal masing–masingnya me- miliki konotasi yang berbeda.
Pendekatan lebih kepada landasan yang digunakan dalam proses pem- belajaran, yang dalam hal ini adalah ases- men pembelajaran bahasa Arab. Dalam proses pembelajaran, asesmen merupakan cara yang digunakan untuk mengetahui
tercapai atau tidaknya suatu standar kom- petensi yang telah dipelajari oleh siswa di setiap pembelajaran. Hal tersebut senada dengan pendapat ahli yang mengatakan bahwa tes merupakan prosedur yang di- gunakan untuk mengetahui atau meng- ukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
Tes bahasa dan pengajaran bahasa merupakan dua kegiatan yang ber- hubungan secara erat. Yang pertama merupakan bagian dari yang kedua. Tes bahasa dirancang dan dilaksanakan untuk memperoleh informasi mengenai hal
▸ Baca selengkapnya: anda dapat mencoba untuk menyusun draft rancangan pembelajaran dan asesmen sesuai dengan pendekatan tarl
(2)ihwal yang berkaitan dengan keefektifan pembelajaran bahasa yang dilakukan.
Keberhasilan proses belajar dan mengajar di kelas dapat dilihat dari sejauhmana penguasaan kompetensi yang telah dikuasai oleh siswa. Pada dasarnya hasil belajar siswa dapat dinyatakan dalam tiga aspek, yang biasa disebut dengan domain atau ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.1
Dalam proses asesmen, termasuk asesemen pembelajaran bahasa Arab, ada sejumlah pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan: (1) Diskret (2) Integ- ratif (3) Pragmatik (4) Komunikatif.
Tulisan ini ingin menguraikan semua jenis pendekatan asesemen pembelajaran bahasa Arab dimaksud. Tulisan ini ber- tujuan kiranya dapat menjadi bahan per- bandingan informasi bagi guru-guru bahasa Arab dalam memahami dan menerapkan asesmen pembelajaran di semua jenis dan jenjang pendidikan.
PEMBAHASAN
Pengertian Pendekatan
Istilah pendekatan berasal dari bahasa Inggris “approach” yang memiliki beberapa arti diantaranya diartikan dengan ’pendekatan’. Dalam dunia pem- belajaran, kata approach lebih tepat diarti- kan a way of beginning something ‘cara memulai sesuatu’. Karena itu, istilah pen- dekatan dapat diartikan cara memulai pembelajaran.
Dalam pengertian yang lebih luas, pendekatan mengacu kepada seperangkat asumsi mengenai cara belajar-mengajar.
Pendekatan merupakan titik tolak dalam memandang sesuatu, suatu filsafat atau keyakinan yang tidak selalu mudah mem- buktikannya.
Jadi, pendekatan bersifat aksio- matis. Aksiomatis artinya bahwa kebe- naran teori-teori yang digunakan tidak dipersoalkan lagi. Pendekatan pembela-
1Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hal. 276.
jaran (teaching approach) adalah suatu rancangan atau kebijaksanaan dalam me- mulai serta melaksanakan pengajaran suatu bidang studi atau mata pelajaran yang memberi arah dan corak kepada metode pengajarannya dan didasarkan pada asumsi yang berkaitan.2
Terkait dengan asesmen pembela- jaran bahasa Arab, terdapat sejumlah pen- dekatan yang hendaknya diperhatikan setiap guru bahasa Arab, sebagai berikut:
Jenis – Jenis Pendekatan dalam Asesmen Pembelajaran Bahasa Arab
Jenis–Jenis pendekatan pembela- jaran bahasa arab itu adalah :
1. Pendekatan Diskret
Dari segi isi atau tugas, asesmen dengan pendekatan ini menyangkut satu aspek kebahasaan saja pada satu kesem- patan pengetesan, misalnya aspek fono- logi, morfologi, sintaksis, atau kosa kata saja. Setiap satu butir soal hanya dimak- sudkan untuk mengukur satu aspek kebahasaan saja.
Dari segi model jawaban, tes dengan pendekatan ini berupa penjodohan (mat- ching), benar-salah (true-flase), pilihan ganda (multiple choiche), atau mengisi kotak kosong yang disediakan dengan jawaban yang sudah tersedia pada kolom lain. Dari segi penyekoran jawaban, model jawaban yang seperti itu sangat me- mudahkan guru atau korektor dalam memberikan penilaian. Penyekoran ber- dasarkan model jawaban seperti itu memiliki reliabilitas yang sangat tinggi.
Dengan bantuan komputer misalnya, penyekoran jawaban hampir 100% tidak diragukan lagi keakuratannya. Cara-cara baru seperti ini dalam penyusunan dan pelaksanaan tes bahasa oleh Brown (1980) disebut menggunakan prosedur- prosedur ilmiah.
Pendekatan diskret ini secara jelas mengadopsi prinsip-prinsip umum dalam
2 J.S. Badudu, Pintar Berbahasa Indonesia 1:
Petunjuk Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Per- tama, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hal. 17.
88 |
strukturalisme, behaviorisme, dan audio- lingualisme. Dari strukturalisme, prinsip yang diambil adalah (1) bahasa itu tuturan lisan dan bukan tulisan, dan (2) bahasa itu merupakan suatu sistem. Per- tama, prinsip bahwa bahasa itu tuturan lisan telah menyadarkan para ahli tes bahasa bahwa tuturan lisan adalah bahasa yang pertama dan utama dari manusia.
Karya sastra yang selama ini diagung- agungkan sebagai satu-satunya sumber pengetesan bahasa akhirnya disadari hanyalah rekonstruksi dari pemakaian bahasa yang sesungguhnya. Keyakinan baru akan prinsip ini kemudian membong- kar kebiasaan lama pengetesan bahasa yang melulu hanya menggunakan karya sastra semata. Kedua, prinsip bahwa bahasa itu merupakan sistem menunjuk- kan bahwa bahasa dipandang memiliki sub-sub unit yang saling berhubungan membentuk suatu struktur, mulai dari tingkat bunyi, kata, dan kalimat.
Bentuk tes diskret kebahasaan yang dapat dikembangkan:
Pertama adalah tes bunyi bahasa.
Tes bunyi bahasa dapat berupa mengenal bunyi bahasa, membedakan bunyi bahasa, melafalkan bunyi bahasa, melafalkan kata- kata, melafalkan pasangan kata, melafal- kan rangkaian kalimat, dan membaca teks.
Kedua adalah tes kosa kata. Tes ini bertujuan untuk mengungkapkan pengua- saan kosa kata, baik secara pasif reseptif maupun aktif produktif. Tes ini meliputi menunjukkan benda berdasarkan kata yang disebutkan, memperagakan ber- dasarkan kata yang disebutkan, memberi- kan padanan kata, memberikan sinonim kata, memberikan lawan kata, dan me- lengkapi kalimat.
Ketiga adalah tes tatabahasa. Tes ini meliputi pembentukan kata, pembentukan frasa, dan pembentukan kalimat. Variasi bentuk tes ini antara lain (a) pada pem- bentukan kata: menunjukkan asal kata, membentuk kata turunan, menyesuaikan bentuk kata; (b) pada pembentukan frasa:
menyusun kata-kata, melengkapi kata
menjadi frasa, membentuk frasa, men- jelaskan makna frasa; (c) pembentukan kalimat: mengenal kalimat, membentuk kalimat, menyusun kalimat, dan meng- ubah kalimat.
Pendekatan diskret bersumber pada pendekatan struktural dalam kajian kebahasaan. Dalam pendekatan struktural, bahasa dianggap sebagai sesuatu yang memiliki struktur yang tertata rapi, dan terdiri dari komponen-komponen bahasa, yaitu kompoonen bunyi bahasa, kosa kata,dan tata bahasa. Komponen- komponen itu tersusun secara berjenjang menurut suatu struktur tertentu.
Dalam struktur itu, bagian-bagian kecil bersama-sama membentuk bagian- bagian yang besar lagi, dan demikian selanjutnya, sampai terbentuknya bahasa sebagai struktur terbesar. Dalam tes bahasa, pendekatan diskret dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan ter- hadap satu jenis kemampuan berbahasa atau komponen bahasa.3 Dalam bukunya Imam Asrori yang berjudul Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab, menurut Oller (1979) tes diskret adalah, suatu tes yang hanya menekankan satu aspek kebahasa- an (misalnya tata bahasa) pada satu waktu. Artinya, kemampuan yang akan di- ukur adalah tunggal atau satu komponen saja.
Istilah lain yang semakna dengan tes diskret adalah tes atomistik. Tes atomistik mengukur butir – butir spesifik, misalnya tata bahasa, bunyi, dan kosa kata yang pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan penggunaan bahasa nyata. Tes atomistik ini memiliki beberapa ke- untungan yaitu:
a. Dengan mudah tes ini dapat disusun untuk mengukur berbagai jenis butir (mudah dan/atau sukar, pendek atau panjang).
b. Hasil tes atomistik dapat dengan mudah diproses secara statistik. Akan
3 Sri Wahyuni dan Abd. Syukur Ibrahim, Asesmen Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT.
Refika Aditama, 2007), hal. 5.
tetapi, di sisi lain tes ini juga memiliki kelemahan, antara lain tes ini dilak- sanakan dengan cara mengikat unsur – unsur bahasa.
Bentuk des diskret ini dilatar- belakangi oleh pandangan struktural dalam kajian kebahasaan. Dalam pan- dangan struktural, hakikat bahasa itu terdiri atas beberapa komponen yang saling terpisah. Implikasinya tes bahasa juga dinilai dari berbagai komponen secara terpisah, sehingga akan dijumpai tes fonem sendiri atau tes kosa kata sendiri, tes sintaksis sendiri yang terpisah dari komponen lainnya. Berikut ini contoh tes diskret pada komponen pengenalan bunyi bahasa arab (fonologi), pengenalan kosa kata, dan bentuk kata.
Contoh 1 (tes menyimak yang meng- ukur pembedaan bunyi yang mirip), seperti Kosa kata berikut ini yang bunyi awalnya berupa ع adalah :
(guru memperdengarkan kosa kata berikut:)
ﺃ - ﻢﻴﻠﺣ
ﻢﻴﻠﻫ - ﺏ
ﺝ - ﻢﻴﻠﻋ
ﺩ - ﻢﻴﻟﺃ
4
Contoh 2 tes kosa kata/mufradat : Pengenalan arti kata, arti kata !"#$ا adalah :
a. Masjid.
b. Perguruan tinggi.
c. Lab.bahasa.
d. Yayasan.
Contoh 3 tes bentukan kata/sharf : Mengubah (mentashrif) kata : seperti Isim fa’il dari kata َبَ( َ) adalah :
ﺃ - ﺏﺭﺎﺿ
ﺏ - ﺏﺍﺮﺿ
ﺝ - ﺏﻭﺮﺿ
ﺩ - ﺏﻭﺮﻀﻣ
Contoh tes tersebut mengukur satu aspek komponen kebahasaan saja. Pada contoh 1, kemampuan teste yang diukur
4 Imam Asrori, dkk., Evaluasi Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat Indonesia, 2014), hal. 43.
adalah bunyi yang mirip. Contoh 2 juga mengukur satu aspek kemampuan, yakni arti kata. Contoh 3 juga mengukur satu aspek kemampuan saja, yakni kemampuan mengenal perubahan bentuk kata dalam bahasa arab.
2. Pendekatan Integratif
Seiring dengan populernya Pen- dekatan Diskret, yang dikenal juga sebagai masa gerakan ilmiah atau struktural- psikomotrik dalam tes bahasa, muncul suatu pendekatan baru dalam tes bahasa yang mengoreksi pendekatan diskret.
Pendekatan baru tersebut oleh Carroll (1961) disebut pendekatan integratif. Jika dalam pendekatan diskret, aspek-aspek kebahasaan dan kemampuan berbahasa itu diperlakukan secara terpisah, maka dalam pendekatan integratif aspek-aspek bahasa dan kemampuan berbahasa itu dicakup secara bersamaan.
Jika dalam tes diskret hanya diujikan satu aspek kebahasaan saja pada satu waktu, maka dalam tes integratif berusaha diukur beberapa aspek kebahasaan secara bersamaan. Prinsip ini sesuai dengan pan- dangan psikologi Gestalt yang intinya
“bahwa tingkah laku itu dipelajari sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan atau
“gestalts”.
Berdasarkan pandangan ini, maka tes integratif tidak secara khusus mengeteskan salah satu aspek kebahasaan seperti fonologi, morfologi, sintaksis, atau kosa kata, atau salah satu dari kemam- puan berbahasa seperti membaca, me- nulis, berbicara, atau menyimak, melain- kan sebuah tes dalam satu waktu meliputi beberapa aspek kebahasaan dan kemam- puan berbahasa sekaligus. Pada tes integ- ratif, terdapat penggabungan dari aspek- aspek terkecil itu ke dalam satu butir tes.
Penggabungan itu dapat terjadi antar bagian dalam kemampuan bahasa atau berbahasa, atau bagian dalam kemampuan bahasa dengan bagian lain dalam kemam- puan berbahasa.
Tes bahasa dengan pendekatan integratif melakukan pengukuran pengua-
90 |
saan kemampuan berbahasa atas dasar penguasaan testi terhadap gabungan antara beberapa komponen bahasa dan kemampuan berbahasa. Mengubah bentuk suatu kalimat menjadi bentuk kalimat yang lain, misalnya, tidak saja menuntut kemampuan testi tentang pengetahuan struktur kalimat, melainkan juga memer- lukan penguasaan perubahan bentuk kata, dan bahkan makna kata yang merupakan bagian dari penguasaan kosa kata.
Dilihat dari sudut pembelajaran bahasa dewasa ini, tes integratif terlihat lebih menjanjikan daripada tes diskret.
Walau demikian, pemilihan tes haruslah disesuaikan dengan pendekatan, metode, dan teknik, bahkan juga bahan pem- belajaran, yang dipergunakan dalam pem- belajaran bahasa di kelas.
Jika dalam tes diskret pada satu waktu hanya mengevaluasi satu aspek kebahasaan saja, pendekatan integratif berusaha mengukur kemampuan siswa mempergunakan berbagai aspek keba- hasaan atau beberapa keterampilan ber- bahasa. Dengan demikian pendekatan integratif beranggapan bahwa bahasa merupakan penggabungan dari bagian- bagian atau komponen-komponen bahasa, yang bersama-sama membentuk bahasa.5
Evaluasi pembelajaran bahasa dengan pendekatan integratif dilakukan dengan cara mengukur penguasaan kemampuan berbahasa atas dasar penguasaan terhadap gabungan beberapa bagian dari komponen bahasa atau kemampuan berbahasa.
Tes integratif mempunyai landasan teori linguistik yang sama dengan tes diskret. Akan tetapi, dalam tes integratif terdapat penggabungan dari bagian- bagian terkecil pada suatu butir tes. Dapat dikatakan, bahwa tes integratif ini sebagai koreksi terhadap kelemahan yang ter- dapat dalam tes diskret.
Dengan demikian, pada tes integ- ratif ini, pihak teste dalam menjawab
5 Ibid., hal.6
suatu butir soal dituntut mengarahkan kemampuan kebahasaan dan keteram- pilan secara simultan. Yang termasuk tes integratif baik yang menyangkut aspek kebahasaan maupun keterampilan ber- bahasa adalah menyusun kalimat, menaf- sirkan wacana singkat yang dibaca atau didengar, memahami bacaan yang dibaca atau didengar, menyusun sebuah alinea berdasarkan kalimat-kalimat yang di- sediakan. Berikut ini dikemukakan contoh tes bahasa arab secara integratif.
Contoh 1 : Tes menulis secara ter- bimbing, misalnya: menyusun kata men- jadi kalimat :
ﺐﺗﺭ ﻟﺍ ﺕﺎﻤﻠﻜﻟﺍ ﺘﻟﺎ
ﺔﻠﻣﺎﻛ ﺔﻠﲨ ﻥﻮﻜﺘﻟ ﺔﻴ ﺓﺪﻴﻔﻣ
.
. ﻦﻜﺴﻳ ،ﺔﻠﻴﲨ ،ﺪﲪ ﺃ ، ﰲ ، ﺔﱠﻘﺷ . ١ ٢ .
، ﻡﻮﻴﻟﺍ ،ﺐﻨﻳﺯ ،ﺕﺎﺒﺟﻭ ،ﹸﻞﹸﻛﺄﺗ ﻲﻓ
.
Contoh 2. Memahami wacana yang disimak (fahmūl masmū’), seperti menen- tukan informasi tersurat dari teks lisan, misalnya:
ﻟﺍ ﺃﺮﻗﺍ ﻵﺍ ﺺﻨ ﰐ ﺓﺀﺍﺮﻗ ﺪﻴﺟ
،ﺓ ﰒ ﺐﺟﺃ ﻵﺍ ﺔﻠﺌﺳﻷﺍ ﻦﻋ ﺔﻴﺗ
!
"
ﰲ ﺕﺎﻳﺍﻮﳍﺍ ﺽﺮﻌﻣ ﱘﺮﻛﻭ ﻖﻴﻗﺭ ﺭﺍﺯ ﻥﺍﺪﻴﻣ
ﰲ ، ﳌﺍ ﺽﺮﻌ
ﻂﳋﺍ ﺡﺎﻨﺟﻭ ﻊﺑﺍﻮﻄﻟﺍ ﻊﲨ ﺡﺎﻨﺟ ﻙﺎﻨﻫ ﺕﺎﻳﺍﻮﳍﺍ ،ﰊﺮﻌﻟﺍ
ﺔﺿﺎﻳﺮﻟﺍ ﺡﺎﻨﺟﻭ ﱄﺰﻨﳌﺍ ﲑﺑﺪﺘﻟﺍ ﺡﺎﻨﺟﻭ ﺔﻓﺎﺤﺼﻟﺍ ﺡﺎﻨﺟﻭ .
١ . ؟ ﺕﺎﻳﺍﻮﳍﺍ ﺽﺮﻌﻣ ﺭﺍﺯ ﻦﻣ
٢ ﺃ . ؟ﺕﺎﻳﺍﻮﳍﺍ ﺽﺮﻌﻣ ﻦﻳ
٣ . ؟ﺕﺎﻳﺍﻮﳍﺍ ﺽﺮﻌﻣ ﰲ ﺍﺫﺎﻣ
Contoh 3. Tes qawâ’id (Nahwu), seperti menentukan kedudukan nahwu, misalnya:
ﻊﻗﻮﻣ ﺎﻣ ﺡﺎﻨﺟ ﺔﻠﲨ ﰲ "
ﻊﲨ ﺡﺎﻨﺟ ﺕﺎﻳﺍﻮﳍﺍ ﺽﺮﻌﻣ ﰲ
ﻊﺑﺍﻮﻄﻟﺍ : "
ﺃ ﱪﺧ -
ﺏ - ﻡﺪﻘﻣ ﺃﺪﺘﺒﻣ
ﺝ - ﺮﺧﺆﻣ ﺃﺪﺘﺒﻣ
ﺩ - ﺖﻌﻧ
Contoh tes 4, 5, dan 6 diatas bukan saja mengukur satu aspek kemampuan, melainkan mengukur lebih dari suatu kemampuan secara integratif. Seorang siswa tidak akan mampu menjawab
contoh tes 4 (menyusun kalimat), kalau dia hanya memodalkan kosa kata. Hal yang sama juga terjadi pada contoh tes 5, dalam hal ini siswa bukan hanya mengandalkan kosa kata dan struktur, tetapi juga mengandalkan kemampuan memahami teks yang diperdengarkan secaraa cermat. Meskipun contoh tes 6 ini lebih menekankan pengukuran kemam- puan tatabahasa (nahwu), akan tetapi dalam menjawab soal tersebut diperlukan kemampuan lain, yakni kemampuan kosa kata.
3. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik pada awal- nya digunakan dalam kaitannya dengan teori tentang kemampuan memahami ber- dasarkan kemampuan tata bahasa prag- matik (pragmatic expectancy grammar).
Kemampuan itu merupakan kemampuan untuk memahami teks atau wacana, tidak hanya dalam konteks linguistik melainkan juga dengan memanfaatkan kemampuan pemahaman unsur-unsur ekstra linguistik.
Dalam memahami wacana, seseorang tidak saja mengandalkan kemampuan linguistik dalam bentuk pemahaman ter- hadap bentuk dan susunan kalimat, frasa, kata-kata, dan unsur linguistik lain yang secara eksplisit terdapat dalam peng- gunaan bahasa. Pemahaman yang lebih dalam terdapat dalam konteks ekstra linguistik (exstralinguistic context), yaitu aspek-aspek pemahaman bahasa di luar apa yang diungkapkan secara eksplisit melalui bahasa, dan yang meliputi segala sesuatu dalam bentuk kejadian, pikiran, antar hubungan, perasaan, persepsi, ingatan, dan lain-lain.6
Kendala alamiah yang terdapat dalam suatu wacana pragmatik meng- haruskan pembaca atau pendengar untuk:
• Mengolah dan memahami wacana itu dengan segala macam kendala, yang bersifat linguistik maupun ekstra- linguistik, yang secara alamiah selalu
6 M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta Timur: PT. Bumi Aksara, 2012), hal. 24-25.
mewarnai setiap wacana yang di- ungkapkan,
• Memahami hubungan-hubungan prag- matik antara konteks linguistik dan ekstralinguistik.
Dalam hal itu kendala yang bersifat linguistik berupa kurangnya pemahaman terhadap susunan wacana, tata bahasa, atau kata-kata yang digunakan dalam wacana. Sedangkan kendala ekstra- linguistik berupa kurangnya pemahaman terhadap aspek-aspek diluar linguistik dalam bentuk abstraksi pengalaman hidup yang diperlukan untuk memahami isi wacana yang tengah dihadapi.
Penerapan pendekatan pragmatik dalam tes bahasa paling sering dikaitkan dengan Tes cloze, disamping dikte. Pada tahap ini beberapa ciri khas Tes cloze dapat digunakan sebagai sarana untuk mendes-kripsikan ciri-ciri tes pragmatik seperti disebutkan di atas. Pada umumnya Tes cloze terdiri dari teks bacaan sepanjang kira-kira 400-500 kata.
Kemudian ada beberapa kata yang dihapus. Kemampuan untuk menemukan dan menuliskan kata-kata yang sama dihapus berdasarkan teks yang masih tertinggal tersebut, ditafsirkan sebagai ceminan dari kemampuan untuk memahami teks secara keseluruhan ber- dasarkan kemampuan pragmatik yang meliputi kemampuan memahami bacaan, susunan bacaan, tata bahasa, dan kosa kata (kemampuan linguistik), serta pengetahuan tentang seluk-beluk bidang yang dibahas dalam teks bacaan (kemam- puan ekstralinguistik).
Pendekatan pragmatik adalah suatu pendekatan dalam evaluasi keterampilan berbahasa untuk mengukur seberapa baik siswa mempergunakan elemen-elemen bahasa sesuai dengan konteks komunikasi yang nyata. Pendekatan pragmatik meng- utamakan peranan penggunaan bahasa senyatanya dalam kajian terhadap bahasa, termasuk tes bahasa.
Pendekatan pragmatik mengkaitkan bahasa dengan penggunaan senyatanya,
92 |
yang melibatkan tidak saja unsur-unsur kebahasaan, seperti kata-kata, frasa, atau kalimat, tetapi unsur-unsur di luarnya juga yang selalu terkait dalam setiap bentuk penggunaan bahasa. Sesuai dengan pandangannya terhadap bahasa, bentuk- bentuk evaluasi pembelajaran bahasa dalam pendekatan pragmatik, dianggap sebagai tes yang memenuhi ciri-ciri pragmatik. Menurut Nurgiyantoro (1988) tes pragmatik ini muncul sebagai reaksi keras atas tes diskret yang dipandang memiliki banyak kelemahan. Tes diskret yang memecahkan unsur kebahasaan dan kemudian diteskan secara terisolasi bersifat terpisah dan sangat artifisial. 7
Berkaitan dengan hal ini, sebuah pendekatan tes yang disebut dengan pragmatik. Tes pragmatik mempunyai persamaan konseptual dengan tes kompetensi komunikatif. Sementara itu, memberikan penekanan tertentu dalam tes komunikatif. Aspek yang perlu diper- hatikan dalam tes bahasa komunikatif adalah adanya kaitan yang jelas antara tes bahasa dengan aspek –aspek nyata dalam komunikasi sebenarnya. Aspek nyata yang dimaksud bentuk komunikasi tertentu, yang terjadi antara orang tertentu, yang memiliki hubungan tertentu, mengenai suatu hal tertentu, pada suatu keadaan tertentu, serta dengan maksud dan tujuan tertentu.
Pertanyaan yang muncul adalah, apa bedanya dengan tes integratif yang juga mengukur kemampuan bahasa seseorang secara utuh. Tes integratif belum tentu pragmatik meskipun tidak tertutup kemungkinan juga bersifat pragmatik, tetapi tes pragmatik pasti integratif.
Dengan pengertian lain tes bahasa pragmatik telah mempresentasikan unsur – unsur tes integratif. Jenis tes bahasa yang bersifat pragmatik cukup beragam.
Oller (1979) mengemukakan bentuk tes bahasa pragmatik yaitu:
7 Ibid., hal.46
a. Dikte
Dikte merupakan salah satu bentuk tes pragmatik yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berbahasa siswa. Dalam dikte ini, diperdengarkan atau dibacakan suatu wacana untuk dituliskan oleh orang lain. Dalam bahasa Arab, dikte bukan saja mengukur kemam- puan memahami wacana yang disimak, melainkan juga mengukur kemampuan siswa untuk mentranskrip wacana ter- sebut dengan benar.
b. Tes cloze
Tes cloze merupakan salah satu contoh tes pragmatik. Dalam Tes cloze ini, teste diminta mengisi kata – kata yang dihilangkan dalam teks.
c. Pemahaman Parafrase
yang dimaksud dengan pemahaman parafrase adalah kemampuan teste untuk memilih satu parafrase yang paling benar dari beberapa parafrase alternatif yang tersedia yang maknanya paling sesuai dengan wacana yang disajikan, baik secara lisan maupun tertulis.
d. Jawaban Pertanyaan (Question Answering)
Jawaban pertanyaan merupakan salah satu contoh bentuk tes pragmatik yang meminta teste untuk memilih jawaban yang paling sesuai dengan per- tanyaan yang diperdengarkan secara lisan (baik secara langsung maupun mengguna- kan tape recorder). Alternatif jawaban (option) yang dimaksud terdapat dalam lembar jawaban (answer sheet).
e. Wawancara
Dalam tes bahasa, wawancara me- rupakan salah satu bentuk tes untuk mengukur kemampuan berbicara yang memiliki unsur – unsur pragmatik.
f. Menulis
Tes menulis merupakan salah satu contoh tes pragmatik. Tes ini mengukur kemampuan teste dalam menuangkan gagasan, pikiran, perasaan, maupun idenya dalam bentuk tulis.
g. Bercerita
Bercerita pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan kegiatan menulis. Kedua- nya merupakan suatu kegiatan untuk mengekspresikan suatu objek fenomena.
Perbedaannya, bercerita dalam konteks ini dilakukan secara lisan, tidak dalam bentuk tulis.
h. Terjemah
Terjemah merupakan salah satu bentuk tes bahasa yang memiliki unsur pragmatik. Tes terjemahan mengukur ke- mampuan teste untuk mentransfer suatu pikiran, ide, atau pesan dari bahasa sum- ber ke dalam bahasa sasaran. Proses transfer dari bahasa sumber ke bahasa sasaran merupakan suatu aktifitas yang kompleks, karena kegiatan ini melibatkan totalitas kognisi dan perfomansi pener- jemah yang bukan saja terbatas pada kemampuan berbahasa, melainkan juga memahami sosial budaya kedua bahasa.
4. Pendekatan Komunikatif
Karena Pendekatan Pragmatik bagai- manapun juga masih dipandang banyak memiliki kekurangan dan masih terjebak pada aspek usage dan bukan use dalam pengetesan bahasa, maka Savignon (1972;
1985), Morrow (1981), dan Carroll (1983) mengembangkan tes bahasa yang lebih komunikatif. Tes bahasa yang benar-benar komunikatif adalah tes bahasa yang meng- ukur performansi testi dalam komunikasi yang sesungguhnya yang di dalamnya ter- cermin kompetensi gramatikal, kom- petensi sosiolinguistik, dan kompetensi strategik.8
Dalam Pendekatan Komunikatif ini, peranan konteks diperluas, yakni dengan memperhatikan unsur-unsur yang meng- ambil bagian dalam terwujudnya suatu komunikasi yang baik. Oleh karena perlu dalam tes bahasa dengan pendekatan komunikatif perlu diadakan apa yang oleh Carroll (1983:19) disebut analisis kebutuhan komunikatif, yang terdiri atas:
8 Wayan Nurkancana & P. P. N, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional), hal. 29.
identifikasi partisipan, tujuan komunikasi, latar, pola interaksi, dialeg, aktivitas- aktivitas kejadian, dan sebagainya.
Dalam tes bahasa, penerapan pen- dekatan komunikatif berdampak terhadap beberapa segi penyelenggaraannya, ter- utama jenis dan isi wacana yang diguna- kan, kemampuan berbahasa yang dijadi- kan sasaran serta bentuk tugas, soal dan pertanyaannya. Semua itu harus ditentu- kan atas dasar ciri komunikatif, yakni hubungan dan kesesuaiannya dengan penggunaan bahasa dalam komunikasi senyatanya.
Penerapan kemampuan komunikatif pada tes bahasa komunikatif didasarkan pada rincian rumusan yang banyak digunakan, yang memahami kemampuan komunikatif itu sebagai kemampuan linguistik (linguistc competence), kemam- puan wacana (discourse competence), dam kemampuan strategis (strategic com- petence). Di tengah berbagai upaya untuk memahami dan mendefinisikan kemam- puan komunikatif yang masih dalam per- kembangan itu, kemampuan komunkatif yang dimaknai sebagai upaya untuk meng- gunakan kemampuan linguistik yang cocok dengan situasi nyata kiranya dapat digunakan. Secara umum tes bahasa komunikatif adalah tes yang mengedepan- kan penggunaan kemampuan komunikatif, yang tidak mengedepankan pengetahuan gramatikal. Secara umum pula tes bahasa komunikatif merupakan tes yang pengem- bangan dan penggunaannya didasarkan atas penerapan teori kemampuan bahasa komunikatif, meskipun bentuknya ter- gantung pada dimensi mana yang perlu diutamakan seperti konteks, keaslian (authenticity), atau simulasi bahasanya.
Faktor pragmatik/faktor penentu ada banyak jenisnya, misalnya siapa yang berkomunikasi, apa tujuan komunikasi, masalah yang dikomunikasikan, tingkat formalitas ketika komunikasi terjadi, dll.
Tes pragmatik mengukur kemampuan berbahasa pembelajar dalam konteks yang sesungguhnya. Namun, itu harus ada
94 |
kesesuaian dengan metode pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa haruslah menekankan pada kemampuan berbahasa, bukan sistem bahasa. Dengan begitu ada keselarasan antara model pembelajaran dan model penilaian.
Namun, pada praktiknya tidak mudah menguraikan pembelajaran bahasa yang benar-benar kontekstual dan komu- nikatif. Artinya pembelajaran “pengguna- an bahasa”, kemampuan berbahasa, masih saja artifisial, namun itu sudah lebih baik daripada yang benar-benar diskret dan terisolasi. Tes pragmatik yang masih berwujud penggunaan dalam konteks artifisial juga sudah lebih baik daripada yang benar-benar diskret yang hanya bertujuan mengukur pengetahuan tentang sistem bahasa.
Pendekatan komunikatif mendasar- kan pandangannya terhadap penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari senyatanya. Sebagai suatu pendekatan dengan orientasi psikolinguistik dan sosiolinguistik, pendekatan komunikatif mementingkan peranan unsur-unsur non kebahasaan, terutama unsur-unsur yang terkait dengan terlaksananya komunikasi yang baik. Pendekatan komunikatif mem- perluas konteks itu dengan memerhatikan unsur-unsur yang mengambil bagian dalam terwujudnya komunikasi yang baik.
Sebagai akibatnya, pendekatan komu- nikatif secara rinci mempersoalkan seluk beluk komunikasi (siapa yang berkomu- nikasi, bagaimana hubungan mereka yang melakukan komunikasi, apa maksud dan tujuan dilakukannya komunikasi, dalam keadaan bagaimana komunikasi terjadi, dan sebagainya) yang merupakan tujuan pokok penggunaan bahasa.
Dalam tes bahasa, penerapan pen- dekatan komunikatif berdampak terhadap beberapa segi penyelenggaraanya, ter-
utama jenis dan isi wacana yang diguna- kan, kemampuan berbahasa yang dijadi- kan sasaran, serta bentuk tugas, soal, atau pertanyaannya. Semua itu harus ditentu- kan atas dasar ciri komunikatifnya, yaitu hubungan kesesuaiannya dengan peng- gunaan bahasa dalam komunikasi.
Pendekatan pragmatik mempunyai persamaan dengan pendekatan komu- nikatif. Keduanya menekankan kemam- puan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa dalam situasi tertentu. Penilaian terhadap kemampuan siswa lebih ditekan- kan pada kemampuan menghasilkan dan atau memahami informasi dan bukan pada semata-mata ketetapan bahasa yang di- pergunakan.
SIMPULAN
Dalam asesmen pembelajaran bahasa Arab diperlukan pendekatan ter- tentu yang lebih sesuai dengan materi dan kondisi peserta didik agar tingkat kesulitan tidak menjadi suatu yang menakutkan bagi peserta didik. Strategi pembelajaran juga diperlukan dalam proses pembelajaran agar dapat men- ciptakan suasana belajar lebih hidup, dinamis, dan terjadi active learnming.
Penguasaan asesemen pembela- jaran sangat penting bagi setiap guru.
Setiap guru hendaknya mampu me- mahami dan mengaplikasikan konsep perencanaan, strategi, evaluasi, dan media dalam pembelajaran terutama pem- belajaran bahasa arab.
Keberhasilan proses belajar meng- ajar di kelas dapat dilihat dari sejauh mana penguasaan kompetensi yang telah dikuasai oleh seluruh siswa. Pada dasar- nya hasil belajar siswa dapat dinyatakan dalam tiga aspek, yang biasa disebut dengan domain atau ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik (keterampilan).
| DAFTAR BACAAN
Arifin, Zainal. (2013). Evaluasi Pembelajaran, Prinsip, Teknik, Prosedur, Cet. V. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Asrori, Imam. (2013). 1000 Permainan Penyegar Pembelajaran Bahasa Arab. Cet. III.
Malang: CV. Bintang Sejahtera.
Asrori, Imam. dkk. (2014). Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab. Cet. IV. Malang: Misykat Indonesia.
Badudu, J.S. (1996). Pintar Berbahasa Indonesia 1: Petunjuk Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Jakarta: Balai Pustaka.
Djiwandono, M. Soenardi. (2008). Tes Bahasa Pegangan Bagi Pengajar Bahasa. Cet. I.
Jakarta: Indeks.
Hamid, M. Abdul, (2010). Mengukur Kemampuan Bahasa Arab untuk Studi Islam. Cet. I, Malang UIN-Maliki Press.
Hermawan, Acep. (2011). Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sukardi, M. (2012). Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, Jakarta Timur: PT.
Bumi Aksara.
Wahyuni, Sri dan Abd. Syukur Ibrahim. (2007). Asesmen Pembelajaran Bahasa, Cet. I.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Wayan Nurkancana & P. P. N, Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.