Vol 01, Ed 12, Juli 2021
BANGKITNYA ERA BANK DIGITAL DI
INDONESIA : PROSPEK DAN TANTANGAN Hal. 1 KORPORASI PETANI MASIH JAUH
PANGGANG DARI API Hal. 3
Penanggung Jawab
Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E., M.Si.
Pemimpin Redaksi Dwi Resti Pratiwi, S.T., MPM
Redaktur
Robby Alexander Sirait, S.E., M.E.
Damia Liana, S.E.
Nadya Ahda, S.E Editor
Ervita Luluk Zahara S.E.
Sekretariat Husnul Latifah, S.Sos.
Memed Sobari Musbiyatun Hilda Piska Randini, S.I.P.
Budget Issue Brief Ekonomi dan Keuangan ini diterbitkan oleh Pusat Kajian Anggaran,Badan Keahlian DPR RI. Isi dan hasil penelitian dalam tulisan-tulisan di terbitan ini sepenuhnya tanggung jawab para penulis dan bukan merupakan pandangan resmi Badan Keahlian DPR RI.
www.puskajianggaran.dpr.go.id puskajianggaran @puskajianggaran
Ekonomi dan Keuangan Budget Issue Brief Vol 01, Ed 12, Juli 2021 1
Seiring dengan perkembangan teknologi, tuntutan transformasi layanan keuangan ke ranah digital semakin meningkat dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama di tengah masa pandemi. Hal tersebut pula yang mendorong para pelaku jasa keuangan, khususnya perbankan, untuk berinovasi dalam memberikan layanan yang lebih berkualitas dan memberikan nilai tambah kepada nasabah. Bank Indonesia (2021) mencatat sepanjang tahun 2020 volume transaksi digital banking (phone, mobile, dan internet banking) meningkat sebesar 41,1% (yoy), bahkan pada periode Mei 2021 mengalami peningkatan sebesar 56% (yoy).
Transaksi melalui digital banking yang semakin meningkat berdampak pada perubahan perilaku masyarakat yang semakin jarang memanfaatkan layanan perbankan secara offline/fisik, sehingga bank pun mulai mengurangi sejumlah kantor dan beralih ke digital banking.
Fenomena tersebut terjadi hampir di seluruh negara, termasuk Indonesia.
Bahkan saat ini, perbankan telah bertransformasi menjadi bank digital dan neobank. Bank digital merupakan entitas bisnis yang menawarkan seluruh layanan aktivitas perbankan secara online atau saluran komunikasi elektronik secara interaktif yang sebelumnya hanya bisa dilakukan secara fisik di kantor cabang bank saja (LPPI, 2021). Umumnya, bank digital dioperasikan oleh bank konvesional/bank umum dan bukan bank individual sepenuhnya. Sementara itu, neobank merupakan entitas digital yang sepenuhnya terpisah dan tidak terkait dengan lembaga keuangan tradisional manapun (Forbes.com, 2021).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada dasarnya telah menerbitkan aturan terkait penyelenggaraan layanan perbankan digital oleh bank umum sebagaimana termuat dalam Peraturan OJK No 12/POJK 03/2018.
Namun aturan tersebut tidak memuat perizinan pendirian bank digital khususnya neobank, baik berupa persyaratan maupun asesmen yang dilakukan oleh otoritas. Adapun saat ini, aturan tersebut masih pada tahap finalisasi oleh OJK. Bila dilihat dari sisi negara yang sudah mengembangkan bank digital, memang belum semua negara mengeluarkan lisensi/perizinan khusus pendirian bank digital, sebagaimana tercantum dalam tabel 1.
Tabel 1. Mapping Perkembangan Penerbitan Perizinan Bank Digital Jenis Penerbitan
Perizinan Negara Contoh Bank
Memiliki perizinan/lisensi khusus pendirian bank digital
China MYBank, Suning Bank, WeBank Korea Selatan K Bank, Kakao Bank
Singapura Telah menerbitkan 21 lisensi bank digital Australia Voltbank
Bank digital beroperasi di bawah lisensi bank umum/konvensional
India Digibank by DBS
Jepang Rakuten Bank, Jibun Bank Sumber: McKinsey, Januari 2021
Komisi XI
BANGKITNYA ERA BANK DIGITAL DI INDONESIA:
PROSPEK DAN TANTANGAN
▪Peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan telah mendorong para pelaku jasa keuangan, terutama perbankan, untuk bertransformasi dalam memberikan layanan dan nilai tambah ke ranah digital.
▪Hingga periode Mei 2021, volume transaksi digital banking meningkat sebesar 56% (yoy) dibandingkan tahun 2020 yang meningkat sebsar 41% (yoy).
▪Peluang bisnis bank digital di Indonesia sangat tinggi. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2019 menyebutkan penetrasi pengguna internet sudah mencapai 73,7% dengan jumlah pengguna internet mencapai 196,7 juta jiwa.
▪Beberapa tantangan masih akan dihadapi bank digital: (1) belum ada payung hukum yang mendukung perkembangan digitalisasi perbankan;
(2) belum ada regulasi terkait perlindungan data dan sistem keamanan yang memadai.
▪Pemerintah perlu merevisi aturan yang menghambat perkembangan digitalisasi perbankan khususnya UU perbankan, membangun infrastruktur telekomunikasi dan informatika yang merata dan berkualitas.
HIGHLIGHT
PUSAT KAJIAN ANGGARAN Badan Keahlian DPR RI
Penanggung Jawab: Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E Redaktur: Robby Alexander Sirait · Dwi Resti Pratiwi· Nadya Ahda· Damia Liana · Ervita Luluk Zahara· Syafrizal Syaiful · Achmad Machsuni · Tohap Banjarnahor ·
Penulis: Dwi Resti P & Hikmatul Fitri
EKONOMI DAN KEUANGAN
bank digital. Sampai saat ini, bank digital yang telah beroperasi di Indonesia adalah dengan pola pertama yaitu Jenius milik Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), digibank (Bank DBS Indonesia), Tyme Digital (Bank Commonwealth), dan Wokee (Bank Bukopin). Sepanjang tahun 2020, tercatat dua bank digital baru dengan pola pertama, yakni Nyala (OCBC NISP) dan TMRW (UOB Indonesia). Adapun tiga bank digital dengan pola kedua juga tengah dipersiapkan untuk melayani kebutuhan publik.
Potensi dan Tantangan Bank Digital di Indonesia Peluang bisnis bank digital di Indonesia sangat tinggi, pasalnya jumlah pengguna internet di negeri ini terus tumbuh yang mencerminkan potensi pasar yang berskala besar. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi pengguna internet sudah mencapai 73,7%
dengan jumlah pengguna internet mencapai 196,7 juta jiwa pada tahun 2019. Angka tersebut meningkat hampir 15% dibandingkan tahun 2018. Begitu juga dengan peningkatan penggunaan layanan digital perbankan menunjukkan besarnya potensi nasabah yang beralih ke bank digital. Bank digital dapat memberikan pelayanan yang lebih efisien dan praktis dibandingkan bank konvensional, di antaranya biaya operasional yang rendah, sehingga memungkinkan bank digital menawarkan suku bunga yang kompetitif dan biaya administrasi yang lebih rendah, memberikan layanan lebih cepat, mudah, dan nyaman dalam berbagai layanan perbankan secara online. Hal tersebut dikarenakan pada umumnya bank digital maupun neobank telah berinvestasi lebih tinggi untuk pengembangan aplikasinya. Dengan teknologi artificial intelligence (AI) yang mumpuni, hal tersebut akan mampu memberikan analisis terhadap transaksi yang dilakukan nasabah dan memberikan panduan perencanaan keuangan yang lebih terstruktur dari hasil analisis tersebut (financial analytics and insights). Di samping itu, dengan semakin meningkatnya financial technology (fintech) lending dapat menjadi mitra kerjasama dengan bank digital untuk lebih meningkatkan inklusi keuangan dan menopang perekonomian. Hal ini dikarenakan keduanya merupakan jasa keuangan yang berbasis teknologi namun berbeda pangsa pasar dan model bisnis, sehingga dapat saling melengkapi, dimana keberadaan fintech lending dapat menambah jumlah pemberi pinjaman (lender) institusi jika berkolaborasi dengan bank. Adanya kolaborasi dengan fintech lending akan menambah basis pelanggan bagi bank digital. Adapun tantangan yang dihadapi ialah, pertama, belum ada payung hukum yang mendukung perkembangan digitalisasi
data pengguna. Kedua, belum ada regulasi terkait perlindungan data dan sistem keamanan yang memadai. Hal tersebut berpotensi mengakibatkan data pengguna disalahgunakan oleh pihak ketiga.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melaporkan sepanjang tahun 2020, terjadi 495 juta serangan siber atau meningkat 5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 228 juta serangan siber.
Adapun industri yang paling sering terkena insiden siber ialah layanan keuangan (17%) diikuti oleh retail (16%), dan transportasi (10%). Selain itu, untuk layanan perbankan digital khususnya dalam bentuk mobile banking, ancaman siber yang paling banyak ditemukan ialah pencurian data (32%) diikuti penyalahgunaan hak akses pada mobile banking (24%). Tantangan selanjutnya ialah infrastruktur dan jaringan telekomunikasi yang belum merata serta literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2019 menyebutkan bahwa, literasi keuangan nasional sebesar baru mencapai 38%. Jika dilihat persentase literasi keuangan berdasarkan sektor jasa keuangan, perbankan memiliki persentase tertinggi yakni 36,1% diikuti perasuransian. Dengan demikian, masih banyak ruang yang belum terisi dengan pengetahuan dan keyakinan soal layanan keuangan.
Rekomendasi
Melihat peluang dan tantangan yang ada, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah dan otoritas terkait dalam mendorong inovasi perbankan dalam bentuk bank digital.
Pertama, dengan tuntutan perkembangan zaman saat ini, pemerintah harus mendorong pengembangan ekosistem digital khususnya di perbankan melalui dukungan peraturan perundangan. Di antaranya, pemerintah perlu merevisi aturan yang menghambat perkembangan digitalisasi perbankan, khususnya UU perbankan yang harus sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman. Begitu juga terkait dengan keamanan transaksi digital, pemerintah dan DPR harus segera mengesahkan RUU Perlindungan Data Pribadi. Sejalan dengan hal tersebut, otoritas terkait khususnya OJK harus segera memfinalisasi POJK terkait bank digital yang direncanakan rampung semester I tahun ini. Kedua, dalam mempercepat transformasi digital, pemerintah harus membangun infrastruktur telekomunikasi dan informatika yang merata dan berkualitas. Ketiga, pemerintah, khususnya otoritas berwenang, perlu meningkatkan literasi dan edukasi keuangan kepada berbagai lapisan masyarakat.
www.puskajianggaran.dpr.go.id puskajianggaran @puskajianggaran
Ekonomi dan Keuangan Budget Issue Brief Vol 01, Ed 12, Juli 2021 3
Salah satu prioritas nasional yang hendak dicapai oleh pemerintah dalam RKP 2022 adalah memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan. Untuk mencapainya, salah satu strategi yang hendak dilakukan adalah melalui pembentukan korporasi petani, yang sebenarnya telah diwacanakan Presiden Jokowi sejak September 2017 dan telah masuk menjadi salah satu major project dalam RPJMN 2020-2024. Gagasan korporasi yang diharapkan Presiden adalah mengkonsolidasikan petani atau kelembagaan petani yang telah existing ke dalam sebuah entitas bisnis (korporasi) yang mampu menciptakan ekosistem bisnis petani dari hulu hingga ke hilir, termasuk pemasaran, pembiayaan dan pemanfaatan teknologi. Korporasi petani yang dibangun dari, oleh dan untuk petani harus mampu menguasai lini bisnis pertanian dari hulu hingga ke hilir dalam rangka meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing hasil pertanian guna mendorong peningkatan kesejahteraan petani. Hingga akhir tahun 2020, belum ada satupun piloting project korporasi petani yang terbentuk. Padahal, pemerintah menargetkan terbentuknya 5 piloting project di tahun 2020 dan 350 unit di tahun 2024 dalam RPJMN 2020- 2024. Dengan demikian, wajar jika disimpulkan bahwa gagasan korporasi petani masih jauh panggang dari api.
Masih jauh panggang dari api tersebut sebenarnya tidak terlepas dari
“tidak begitu seriusnya” pemerintah dalam mewujudkan gagasan korporasi petani menjadi sebuah kenyataan. Setidaknya, ada tiga hal yang dapat mengindikasikan ketidakseriusan tersebut. Pertama, belum terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) tentang Peningkatan Kesejahteraan Petani Berbasis Korporasi Petani. Padahal, Perpres tersebut merupakan salah satu aspek regulasi yang dibutuhkan sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2020-2024. Kedua, tidak ada penunjukkan dan penetapan Kementerian yang menjadi leading sector dan bentuk sinergitas antara Kementerian/Lembaga (K/L). Padahal, salah satu faktor penentu keberhasilan pembentukan korporasi apabila ditopang oleh dukungan pemerintah yang tersebar di berbagai K/L. Saat ini, dukungan yang telah diberikan dan dibutuhkan dalam pembentukan korporasi setidaknya tersebar di Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Dalam Negeri, Badan Standarisasi Nasional, Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan. Belum adanya penetapan leading sector dan bentuk sinergitas tersebut pada akhirnya berdampak pada penerjemahan masing-masing K/L atas implementasi korporasi petani yang diinginkan oleh Presiden. Ketiga, peran pemerintah dalam proses pembangunan korporasi petani cenderung hanya sebatas fasilitator. Hal tersebut, sekurang-kurangnya terlihat dari penetapan instansi pelaksana atas proyek grand design model bisnis dan
Badan Anggaran
KORPORASI PETANI MASIH JAUH PANGGANG DARI API
• Salah satu strategi pemerintah dalam RKP 2022 adalah pembentukan korporasi petani, yang sebenarnya telah digagas sejak 2017.
• Guna mewujudkan gagasan tersebut, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah, antara lain:
a. Menerbitkan Perpres tentang Peningkatan Kesejahteraan Petani Berbasis Korporasi Petani.
b. Menetapkan Kementerian yang menjadi leading sector dan bentuk sinergitas antar sektor.
c. Memastikan pemerintah terlibat langsung dalam pembentukan korporasi hingga korporasi berkembang menjadi matang dan kuat, dengan memperhatikan:
✓ Petani harus menjadi subjek pembentukan korporasi.
✓ Harus ada pendampingan hingga terbentuk model bisnis korporasi yang matang dan kuat.
✓ Didukung regulasi atau kebijakan yang memberikan perlindungan bagi petani, termasuk jaminan harga dan jaminan risiko bagi petani.
✓ Reformasi skema kredit pertanian.
✓ Pembentukan korporasi petani menggunakan model integrasi vetikal berbasis koperasi.
HIGHLIGHT
PUSAT KAJIAN ANGGARAN Badan Keahlian DPR RI
Penanggung Jawab: Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E., M.Si
Redaktur: Robby Alexander Sirait · Dwi Resti Pratiwi · Nadya Ahda · Damia Liana · Ervita Luluk Zahara
Penulis: Robby Alexander Sirait
EKONOMI DAN KEUANGAN
dalam RPJMN 2020-2024. Di mana instansi pelaksananya bukanlah salah satu kementerian, namun swasta.
Dalam rangka merealisasikan gagasan pembentukan korporasi petani di 2022 atau sekurang- kurangnya 1-2 piloting project, ketiga problem di atas harus menjadi prioritas untuk diselesaikan terlebih dahulu. Selain itu, masih terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah guna memastikan pembentukan korporasi memberikan dampak yang optimal bagi kesejahteraan petani. Pertama, petani harus menjadi subjek dari proses pembentukan korporasi. Dalam grand design pengembangan korporasi petani yang disusun Kementerian Pertanian pada 2019, salah satu prinsip pembentukan korporasi adalah gotong royong. Artinya, pembentukan harus berprinsip dari, oleh dan untuk petani. Penggunaan prinsip tersebut telah sesuai dengan amanah UUD NRI 1945 dan filosopi ideologi Pancasila. Namun, posisi petani sebagai subjek tidak terlihat secara eksplisit dalam grand design tersebut. Bahkan kecenderungannya masih menempatkan petani sebagai objek kebijakan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementan, Sudi Mardianto, yang menyatakan bahwa salah satu persiapan awal adalah sosialisasi dan pemahaman kepada petani, pelaku bisnis setempat, tokoh masyarakat, dan para penyuluh terkait model korporasi petani (Detik, 2020). Tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa petani dilibatkan dalam menyusun model bisnis yang tepat sesuai karakteristik petani. Kedua, pemerintah harus melakukan pendampingan pengembangan korporasi hingga terbentuk model bisnis korporasi yang matang dan kuat. Pendampingan tersebut sekurang- kurangnya meliputi aspek etos kerja, produksi dan pemanfaatan teknologi, manajerial, tata kelola korporasi yang baik, maupun profesionalisme. Hal ini didasarkan pada salah satu masalah terbesar petani adalah rendahnya kapasitas sumber daya manusia, entrepreneurial spirit, corporation mentality, dan pemanfaatan teknologi. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan yang berkelanjutan. Terlebih lagi, salah satu faktor kegagalan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat adalah lemahnya pendampingan. Ketiga, perlu adanya kebijakan atau regulasi yang memberikan jaminan harga yang tidak merugikan petani dan sistem penjaminan risiko yang didesain dari hulu hingga ke hilir. Hingga saat ini,
kelangkaan bibit, dan kelangkaan pupuk. Kondisi inilah yang menjadi penyebab lemahnya posisi petani dalam rantai ekonomi pertanian. Oleh karena itu, pembentukan korporasi harus juga dibarengi dengan adanya jaminan harga dan sistem penjaminan risiko yang memadai bagi petani. Keempat, perlu reformasi skema kredit pertanian agar lebih matching dengan karakteristik komoditas. Dalam praktiknya, skema kredit pembiayaan bagi petani dari lembaga formal belum match dengan karakteristik musim tanam dan panen komoditas. Di satu sisi, pembayaran pokok dan bunga pinjaman menggunakan skema bulanan. Di sisi lain, penghasilan petani mengikuti masa tanam dan panen tiap komoditas yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu ada reformasi skema kredit yang lebih matching dengan karakteristik siklus bisnis pertanian.
Kelima, adanya regulasi yang memberikan perlindungan bagi petani oleh negara, baik dari sisi kebijakan fiskal maupun aturan perundang-undangan.
Salah satu keberhasilan koperasi petani di Jepang mejadi korporasi yang kuat (Zen-Noh) adalah adanya perlindungan dan keberpihakan kuat yang diberikan oleh negara. Dalam Japan Agricultural Cooperative Law 1947, salah satu bentuk dukungan pemerintah yang diberikan adalah pembebasan pajak penghasilan, pemberian subsidi, dan pengecualian aturan UU anti monopoli bagi kegiatan usaha koperasi pertanian.
Selain itu, pemerintah Jepang juga melakukan kebijakan proteksionisme pertanian (sebelum Jepang bergabung dengan Trans Pacific Partnership), memberikan fasilitas kredit murah dan jaminan harga atas komoditas dan hasil olahan produk pertanian, serta menyediakan riset dan pengembangan produk dan teknologi pertanian yang kuat. Success story di Jepang ini harus menjadi rujukan pemerintah dalam membentuk korporasi petani yang kuat di Indonesia.
Keenam, pembentukan korporasi petani sebaiknya menggunakan model integrasi vetikal berbasis koperasi. Secara praktik, keberhasilan penerapan model integrasi vertikal dalam bisnis telah ditunjukkan oleh keberhasilan koperasi pertanian Jepang yang menjadi koperasi terkuat dan memiliki jangkaun luas ke pasar internasional. Koperasi pertanian di Jepang diorganisasikan dalam tiga jenjang, yaitu koperasi primer pada tingkat desa yang beranggotakan para petani dan peternak, koperasi pertanian sekunder di tingkat prefektur atau provinsi, dan di tingkat nasional yang dikenal dengan The JA Group atau Zen-noh.