RESUME ALK
1. Common Size and Percentage Change
- Kalo mau cari Common size Balance Sheet, base nya adalah total aset (kas/total aset, utang usaha/total aset, dst).
- Kalo mau cari Common Size Income Statement, basenya adalah sales revenue yang udah neto (Sales revenue setelah dikurangi retur penjualan and diskon penjualan).
- % change =Nominal tahun akhir−Nominal tahun awal
Nominal tahun awal x 100%
- Misal : % change kas =Nominal kas tahun 2017− Nominal kas tahun 2016
Nominal kas tahun 2016 x 100%
2. Rasio Profitabilitas dan Risiko Wahlen
- Inget, angka rasio itu nggak akan berarti apa-apa kalo kamu nggak melakukan perbandingan. Perbandingan itu ada 2, kalo kamu ngebandingin rasio tahun 2012 sampe rasio tahun 2016 suatu perusahaan, itu namanya time series analysis. Jadi, kamu ngebandingin rasio satu perusahaan selama beberapa tahun. Perbandingan satunya lagi Namanya Cross sectional analysis, yaitu kamu ngebandingin rasio nya perusahaan A dengan rasio perusahaan lain dalam industry/sektor usaha yang sejenis.
- Secara garis besar, rasio itu ada 3 : rasio profitabilitas, rasio likuiditas, dan rasio solvabilitas.
Rasio profitabilitas itu digunakan untuk tau seberapa menguntungkan suatu perusahaan.
Rasio likuiditas itu digunakan untuk tau seberapa mampu perusahaan bayar hutang/kewajiban jangka pendeknya.
Rasio solvabilitas itu digunakan untuk tau seberapa mampu perusahaan untuk bayar seluruh hutangnya (that is, untuk mencegah kebangkrutan).
NO Jenis Rasio Interpretasi
Rasio Profitabilitas
1 ROA (persen)
Net Income + (1 − Tax Rate)(Interest Expense) + NCI earnings Average Total Assets
Tapi, ada juga rumus lain untuk ngitung ROA, yaitu Net Income/Average Total Assets.
Jadi, ya tergantung apa yang diketahui di soal aja.
Misal, ROA = 8%
Artinya, perusahaan mampu memberikan tingkat return/keuntungan sebesar 8% kepada seluruh shareholders’
dan debtholders’.
2 ROCE (persen)
Net Income − NCI earnings − Preferred stock dividends Average Common Shareholders′Equity
Inget, Common Shareholders’ Equity = Jumlah NCI di bagian ekuitas – nilai par saham preferen (share capital preferred)
Misal, ROCE = 8%
Artinya, perusahaan mampu memberikan tingkat return/keuntungan sebesar 8% kepada seluruh common shareholders’ (pemegang saham biasa)
Rasio Likuiditas Jangka Pendek
3 Current Ratio (desimal/persen)
Current Assets Current Liabilities
Misal, CR = 7,5
Artinya, perusahaan memiliki 7,5 rupiah dalam aset lancar nya untuk setiap 1 rupiah liabilitas lancar yang terutang.
4 Quick Ratio (desimal/persen)
Current Assets − Inventories Current Liabilities
Misal, CR = 7,5
Artinya, perusahaan memiliki 7,5 rupiah dalam aset lancar nya (tanpa persediaan) untuk setiap 1 rupiah liabilitas lancar yang terutang.
5 AR Turnover (kali)
Credit Sales Average AR
Misal, ART = 7,5
Artinya, piutang usaha perusahaan berputar sebanyak 7,5 kali dalam setahun yang mengindikasikan bahwa perusahaan mampu mencairkan piutang (mengubah piutang menjadi kas) sebanyak 7,5 kali dalam setahun.
6 Inventory Turnover (kali)
COGS Average Inventory
Misal, IT = 7,5
Artinya, persediaan perusahaan berputar sebanyak 7,5 kali dalam setahun yang mengindikasikan bahwa perusahaan mampu melakukan penjualan inventory sebanyak 7,5 kali dalam setahun.
7 Fixed Asset Turnover (kali)
Net Sales Average Fixed Assets
Misal, FAT = 7,5
Artinya, perusahaan mampu menghasilkan 7,5 rupiah penjualan dari setiap 1 rupiah aset tetap yang digunakannya/dimilikinya.
8 Account Payable Turnover (kali)
Purchases Average AP
Misal, APT = 7,5
Artinya, perusahaan mampu melakukan pembayaran hutang usaha kepada pemasok nya sebanyak 7,5 kali dalam setahun.
9 Operating Cash Flow to Current Liabilities Ratio (desimal/persen)
Cash Flow From Operations Average Current Liabilities
Misal, OCFCL = 0,7
Artinya, atas setiap 1 rupiah liabilitas lancar perusahaan, arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi hanya mampu mengcover sebesar 0,7 rupiah.
Rasio Solvabilitas Jangka Panjang
10 Debt Ratio. Ada 4, yaitu:
a. Liabilities to Assets Ratio (desimal/persen)
Total Liabilities Total Assets
Misal, LAR = 0,7
Artinya, 70% asset perusahaan didanai melalui liabilitas.
b. Liabilities to Shareholders’ Equity Ratio (desimal/persen)
Total Liabilities Total Shareholders′Equity
Misal, LSE = 2,3
Artinya, perbandingan antara liabilitas dan ekuitas yang digunakan perusahaan dalam struktur permodalannya adalah 2,3 banding 1. It means, perusahaan menggunakan liabilitas 2,3 kali lebih besar dibandingkan ekuitas.
c. Long-Term Debt to Long-Term Capital Ratio (desimal/persen)
Total Long Term Debt
Total Long Term Debt + Total Shareholders′Equity
Misal, LTD to LTC = 0,51
Artinya, dalam modal jangka panjang perusahaan (liabilitas jangka panjang + total ekuitas), 51% nya berasal dari liabilitas jangka panjang.
d. Long-Term Debt to Shareholders’ Equity Ratio (desimal/persen)
Total Long Term Debt Total Shareholders′Equity
Misal, LTDSE = 1,05
Artinya, perbandingan antara liabilitas jangka panjang dan ekuitas yang digunakan perusahaan dalam struktur permodalannya adalah 1,05 banding 1. It means, perusahaan menggunakan liabilitas jangka panjang 1,05 kali lebih besar dibandingkan ekuitas.
11 Interest Coverage Ratios (Net Income Basis) (desimal/persen)
Net Income + Interest Expense + Income Tax Expense + NCI Earnings Interest Expense
Misal, IC = 10,2
Artinya, net income perusahaan mampu mengcover/digunakan untuk melunasi beban bunga sebanyak 10 kali lipat dalam setahun.
Jadi, walaupun perusahaan punya beban bunga 5000, dia mampu lo bayar sampe 50.000.
12 Interest Coverage Ratios (Cash Flow Basis) (desimal/persen)
Cash Flow from Operations + Payments for Interest and Income taxes Cash Payment For Interest
Misal, IC = 10
Artinya, kas yang dihasilkan perusahaan dari aktivitas operasi mampu mengcover/digunakan untuk melunasi beban bunga sebanyak 10 kali lipat dalam setahun.
13 Operating Cash Flow to Total Liabilities Ratio
Cash Flow from Operations Average Total Liabilities
Misal, OCFTL = 0,2
Artinya, atas setiap 1 rupiah total liabilitas perusahaan, arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi hanya mampu mengcover sebesar 0,2 rupiah.
- Kalo kamu pengen interpretasi cuma untuk satu tahun, kamu bisa pake cara interpretasi di atas. Tapi, kalo misalnya kamu mau ngebandingin dua data, ada interpretasi tambahan.
Misal, current ratio PT A tahun 2016 3,45 sedangkan tahun 2017 4,10. (time series analysis) Kamu bisa buat 3 interpretasi :
a. Pada tahun 2016, PT A memiliki 3,45 rupiah dalam aset lancar nya untuk setiap 1 rupiah liabilitas lancar yang terutang.
b. Pada tahun 2017, PT A memiliki 4,10 rupiah dalam aset lancar nya untuk setiap 1 rupiah liabilitas lancar yang terutang.
c. Kemampuan perusahaan untuk membayar liabilitas lancarnya semakin meningkat pada tahun 2017 yang menandakan bahwa risiko likuiditas yang dihadapi perusahaan semakin berkurang.
Permisalan kedua, current ratio PT A tahun 2016 3,45 sedangkan current ratio perusahaan sejenis pada tahun 2016 4,10. (cross sectional analysis) Kamu bisa buat 3 interpretasi :
a. Pada tahun 2016, PT A memiliki 3,45 rupiah dalam aset lancar nya untuk setiap 1 rupiah liabilitas lancar yang terutang.
b. Pada tahun 2016, perusahaan lain yang sejenis memiliki 4,10 rupiah dalam aset lancar nya untuk setiap 1 rupiah liabilitas lancar yang terutang.
c. Kemampuan PT A untuk membayar liabilitas lancarnya berada di bawah kemampuan rata-rata perusahaan dalam industri sejenis. Artinya, risiko likuiditas perusahaan A lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri sejenis.
- Untuk rasio-rasio lain kamu bisa buat permisalan sendiri dan interpretasi sendiri. Asalkan kamu udah nguasai interpretasi dalam tabel diatas, kamu pasti bisa kalo mau ngasi interpretasi tambahan.
Kunci yang harus kamu pegang adalah :
• Semakin tinggi rasio-rasio likuiditas jangka pendek maka RISIKO LIKUIDITAS AKAN SEMAKIN RENDAH. Kenapa? Karena kemampuannya bayar hutang jadi semakin tinggi.
• Semakin tinggi Debt Ratio maka RISIKO SOLVABILITAS AKAN SEMAKIN TINGGI. Kenapa? Karena semakin tinggi porsi liabilitas (hutang) dalam permodalan perusahaan akan menyebabkan semakin tinggi kemungkinan perusahaan untuk gagal membayar seluruh hutangnya.
• Semakin tinggi Interest Coverage Ratio maka RISIKO SOLVABILITAS AKAN SEMAKIN RENDAH. Kenapa? Karena kemampuan perusahaan untuk bayar beban bunga semakin tinggi.
• Semakin tinggi Operating Cash Flow to Total Liabilities Ratio maka RISIKO SOLVABILITAS AKAN SEMAKIN RENDAH. Kenapa? Karena kemampuan perusahaan untuk bayar hutang pake kas dari aktivitas operasi semakin tinggi.
3. Rasio BBM
- Sebelum lanjut, inget lagi struktur laporan laba rugi : Penjualan
-/- HPP Laba Kotor
-/- SGA Expense atau Biaya Operasi Laba Bersih Operasi
+/+ Penghasilan Luar Usaha -/- Biaya Luar Usaha
Laba Bersih Sebelum Pajak
-/- Pajak Terutang Laba Bersih Setelah Pajak
No Jenis Rasio Rumus Interpretasi
Rasio Kinerja Operasional Dengan mengukur rasio GPM, OPM, PPM, CTTOR, NPM, pl, dan bl didapatkan gambaran yang utuh mengenai kegiatan/operasi perusahaan dalam suatu tahun pajak
1 Gross Profit Margin (GPM) Laba kotor / Penjualan Misal : GPM 25%
Dari seluruh penjualan yang dihasilkan perusahaan, hanya 25% yang tersisa setelah digunakan untuk menutup ongkos untuk menghasilkan atau memperoleh produk yang dijual.
Jadi intinya, 25% hasil penjualan adalah keuntungan kotor buat perusahaan, 75% nya itu untuk nutup biaya COGS.
2 Operating Profit Margin (OPM)
Laba bersih operasi /Penjualan
Misal : OPM 18%
Dari seluruh penjualan yang dihasilkan perusahaan, hanya 18% yang tersisa setelah digunakan untuk menutup seluruh biaya operasional (COGS + Beban Operasi) perusahaan.
Jadi intinya, 75% hasil penjualan itu untuk nutup COGS, 7% nya untuk nutup biaya SGA expense (Sales, General, and Administration Expense), sisanya keuntungan kotor buat kita.
3 Pretax Profit Margin (PPM) Laba bersih sebelum pajak / Penjualan
PPM menunjukkan tingkat laba bersih yang dihasilkan perusahaan baik dari kegiatan usaha maupun dari kegiatan luar usaha.
4 Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR)
PPh Terutang / Penjualan CTTOR menunjukkan proporsi hasil penjualan perusahaan yang digunakan untuk membayar Pajak Penghasilan.
5 Net Profit Margin (NPM) Laba bersih setelah pajak / Penjualan
Nilai NPM menunjukkan besarnya Laba Bersih yang dihasilkan perusahaan setelah memperhitungkan PPh yang terutang. Inilah tingkat keuntungan perusahaan yang sebenarnya setelah memperhitungkan seluruh biaya-biaya.
6 Dividend Payout Ratio (DPR)
Pembayaran Dividen Tunai : Laba bersih setelah pajak
Nilai DPR menunjukkan seberapa besar proporsi laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.
Rasio PPN (pn) Pajak Masukan yang dapat dikreditkan / Penjualan
Apa gunanya? Untuk memberikan gambaran seberapa besar input perusahaan yang merupakan objek PPN.
Notes: Tidak termasuk PM yang dikreditkan dari transaksi antar cabang.
Rasio Input Apa gunanya?
- Memberikan gambaran mengenai seberapa besar input yang diserap oleh suatu usaha untuk menghasilkan output.
- Memberikan indikasi adanya ketidakwajaran dalam pembebanan biaya.
- Memberikan gambaran mengenai potensi withholding tax yang mungkin masih dapat digali.
Inget ya, nominal yang kamu masukin ke rasio input ini hanya biaya-biaya yang ada di komponen HPP dan SGA Expense/Biaya Operasi. Misal, biaya gaji yang ada di HPP 5.000 dan biaya gaji di SGA expense 10.000 berarti biaya gaji yang kamu masukin ke hitungan adalah 15.000.
Misal yang kedua, biaya bunga di SGA expense 2.000 dan biaya bunga di Beban Luar Usaha 3.000 berarti biaya bunga yang kamu masukin ke hitungan adalah 2.000.
1 Rasio (g) Gaji/Penjualan Misal, g = 5%
Berarti, proporsi hasil penjualan yang digunakan untuk membayar biaya tenaga kerja adalah 5%.
2 Rasio (b) Bunga/Penjualan Misal, g = 5%
Berarti, proporsi hasil penjualan yang digunakan untuk membayar biaya bunga adalah 5%.
3 Rasio (s) Sewa + Royalti/Penjualan Misal, g = 5%
Berarti, proporsi hasil penjualan yang digunakan untuk membayar biaya sewa dan royalty adalah 5%.
4 Rasio (py) Penyusutan/Penjualan Misal, g = 5%
Berarti, proporsi biaya penyusutan dan amortisasi terhadap penjualan adalah 5%.
5 Rasio Input Lainnya (x) Biaya Operasi lainnya/Penjualan
Misal, g = 5%
Berarti, proporsi hasil penjualan yang digunakan untuk membayar biaya operasi lainnya (selain gaji, bunga, sewa, royalty, penyusutan) adalah 5%.
Rasio Aktivitas Luar Usaha
1 Rasio (pl) Penghasilan Luar
Usaha/Penjualan
Misal, pl = 5%
Berarti, proporsi penghasilan luar usaha hanya sebesar 5% jika dibandingkan dengan penjualan.
2 Rasio (bl) Biaya Luar Usaha/Penjualan Misal, bl = 5%
Berarti, proporsi beban luar usaha hanya sebesar 5% jika dibandingkan dengan penjualan.