• Tidak ada hasil yang ditemukan

19 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "19 Universitas Kristen Petra"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

19 Universitas Kristen Petra 4. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum 18 Perusahaan pada Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur

Di bawah ini adalah gambaran umum mengenai usaha kecil yang bergerak di bisnis makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur yang merupakan objek dari penelitian, yaitu:

Tabel 4.1 Gambaran Umum Usaha Kecil Pada Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur

No. Nama Perusahaan Tahun Berdiri

Lokasi Perusahaan Bentuk Badan Usaha 1. Soto Pak Djayus Tahun

2001

Jl.Tenggilis 150A UD (Usaha Dagang) 2. Rawon Nguling Tahun

1987

Jl.Kendangsari Indstr41B UD (Usaha Dagang) 3. Es Teler Mini dan

Bakso

Tahun 1994

Jl. Raya Tenggilis UD (Usaha Dagang)

4. Sate Ayam Pak Seger Tahun 1980

Jl. Dharmawangsa 42 UD (Usaha Dagang) 5. Ayam Penyet Ria Tahun

2005

Jl. Sulawesi 42 UD (Usaha Dagang) 6. Tahu Telor Pak Jayen Tahun

1989

Jl. Raya Dharmahusada C-2

UD (Usaha Dagang) 7. Soto Ayam

Lamongan

Tahun 2003

Jl. Kertajaya Indah Timur

UD (Usaha Dagang)

8. Mie Mapan Tahun

1991

Jl. Rungkut mapan Tengah

UD (Usaha Dagang)

9. Sate Ayam Pak Brewok

Tahun 1997

Foodcourt Foodfest Pakuwon city

UD (Usaha Dagang) 10.

Sate Ayam Manyar Tahun 1981

Jl. Manyar Tirtoyoso UD (Usaha Dagang) 11.

Tungku Rempah Tahun 2008

Jl. Manyar Kertoarjo 38 UD (Usaha Dagang)

12.

Warung Bu Kris Tahun 2001

Jl. Manyar UD (Usaha Dagang)

(2)

20 Universitas Kristen Petra Tabel 4.1 Gambaran Umum Usaha Kecil Pada Bisnis Makanan Khas Jawa Timur

di Surabaya Timur (Sambungan) No. Nama Perusahaan Tahun

Berdiri

Lokasi Perusahaan Bentuk Badan Usaha 13.

Tahu Campur Lamongan

Tahun 1979

Jl. Kalasan No. 16 UD (Usaha Dagang) 14.

Tahu Campur Kalasan

Tahun 1975

Jl. Kalasan No. 22 UD (Usaha Dagang) 15.

Bakso Dan Es Teler Pak No

Tahun 1970

Jl. Pacar Keling No. 9 UD (Usaha Dagang) 16.

Rumah Baso Tahun 2008

Jl. Kali Rungkut UD (Usaha Dagang) 17.

DAPOT Tahun 2009

Jl.Rungkut Asri Tengah no.22

CV (Partnership) 18.

Wapand Tahun 2006

Jl.Raya Pandugo no.64- 70

PT (Corporation) Sumber : Data yang diolah

Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa kebanyakan responden diatas bentuk badan usahanya berbentuk UD yaitu 16 responden (88.89%)

4.2 Gambaran Individual 18 Perusahaan pada Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur

4.2.1 Depot Soto Pak Djayus

Berdiri pada tahun 2001 yang didirikan oleh Yati dan yang menjadi menu makanan utama adalah soto ayam kampung yang merupakan makanan khas Jawa Timur. Depot Soto Pak Djayus yang terletak di jalan Tenggilis 150A ini merupakan resep dari orang tua yang sudah membuka depot Soto Pak Djayus terdahulu. Bentuk badan usaha saat ini adalah perorangan dan prensentase modal sendiri sebesar 100%. Bentuk utama bisnis yang dijalani ini adalah menjual langsung kepada pelanggan.

4.2.2 Depot Rawon Nguling

Berdiri pada tahun 1987 yang didirikan oleh Ir.H.Taufik Dahlan dan bentuk usaha makanan ini berbentuk depot. Menu utama dari depot Rawon Nguling adalah rawon yang merupakan makanan khas Jawa Timur. Rawon

(3)

21 Universitas Kristen Petra Nguling ini yang terletak di jalan Kendangsari Industri 41B merupakan resep dari orang tua yang sudah membuka depot Rawon Nguling yang terdahulu di kota Nguling dan yang menjadi pusatnya. Bentuk badan saat ini adalah perorangan dan presentase modal sendiri sebesar 100%. Bentuk utama bisnis yang dijalani ini adalah menjual langsung kepada pelanggan. Sekarang sudah memiliki 3 cabang

4.2.3 Warung Es Teler Mini dan Bakso

Berdiri pada tahun 1994 yang didirikan oleh Edi Purwanto dan terletak di jalan Raya Tenggilis. Menu utama dari Warung Es Teler Mini dan Bakso ini adalah bakso yang merupakan makanan khas Jawa Timur. Edi Purwanto memulai usaha dengan modal yang sedikit dan terus berkembang sampai sekarang dengan laba yang cukup besar. Bentuk usaha saat ini adalah perorangan dan sekarang memiliki 2 cabang. Bentuk utama bisnis yang dijalani ini adalah menjual langsung kepada pelanggan.

4.2.4 Warung Sate Ayam Pak Seger

Sate Ayam Pak Seger ini pada awalnya didirikan oleh Ibu Muyiatin bersama dengan suaminya pada tahun 1980. Pertama kali jualan dengan berkeliling di daerah tempat tinggalnya namun seiring dengan berjalannya waktu yaitu sekitar tahun 2005 Sate Ayam Pak Seger sudah mampu berjualan di Ruko yang beralamat di Dharmawangsa 42. Setelah 2 tahun ke depan yaitu tahun 2007 Sate Ayam Pak Seger sempat buka Cabang di daerah Bratang, ternyata di daerah sana tidak ramai dikunjungi pelanggan. Pelanggan tetap datang ke Dharmawangsa dan pada akhirnya di daerah Bratang hanya 1 tahun dan ditutup oleh Ibu Muyiatin.

Pada saat ini Ibu Muyiatin telah memperkerjakan 10 orang untuk melayani pelanggan dan perhari bisa terjual kurang lebih 2000 tusuk.

4.2.5 Restoran Ayam Penyet Ria

Ayam Penyet Ria berdiri tahun 2005 di kelola oleh Pak Heru Hadi. S selaku manager dari Ayam Penyet Ria. Usaha ini adalah franchise yang memiliki menu utama Ayam Penyet. Pada awal berdiri memiliki 50 orang pekerja dan memiliki 25 menu makanan yang dapat di nikmati oleh pelanggan. Setelah

(4)

22 Universitas Kristen Petra berjalan 2 tahun Ayam Penyet Ria agak kurang di datangi oleh pelanggan dan akhirnya mengurangi jumlah pekerja menjadi 30 orang pekerja sampai dengan sekarang. Lokasi Ayam Penyet Ria di Sulawesi 42 dan telah memiliki 7 cabang yang tersebar di Surabaya.

4.2.6 Warung Tahu Telor Pak Jayen

Tahu Telor Pak Jayen berdiri tahun 1989 oleh Pak Mujayen. Awal usaha ini hanya coba-coba yang pekerjaan Pak Mujayen sebelumnya hanya seorang tukang rombeng. Awalnya Pak Mujayen berjualan dengan berkeliling di daerah komplek perumahan Dharmahusada selama bertahun-tahun. Kemudian memasuki tahun 2000 Pak Mujayen berdagang kaki lima dan membuat tenda untuk menetap di daerah dharmahusada, itu pun berjalan hingga 2008 dan ternyata Tahu Telor Pak Jayen cukup diminati oleh pelanggan. Awal usaha hanya terjual 50 piring/hari. Kemudian tahun 2009 Pak Mujayen menyewa halaman bengkel yang berlokasi di Raya Dharmahusada Blok C-2 untuk menetap. Pak Jayen mulai berjualan dari jam 18:30 – 23:00 dan pada saat ini Pak Jayen dapat menjual 250 piring/hari

4.2.7 Warung Soto Ayam Lamongan

Warung Soto Ayam Lamongan didirikan pada tahun 2003 oleh Pak Kolil dengan bentuk badan usaha Sole Proprietorship (perorangan, UD). Warung Soto Ayam Lamongan memulai usahanya hanya dengan 2 orang karyawan tetap dan modal kerja sebesar Rp. 25.000 tetapi dengan prinsip ketekunan yang dimiliki oleh Pak Kolil maka usaha Warung Soto Ayam Lamongan ini mulai sering didatangi oleh pelanggan dan dikenal banyak orang sehingga pada tahap growth usaha ini mampu memproduksi 150 porsi rata-rata per hari.

4.2.8 Depot Mie Mapan

Depot Mie Mapan ini mulai didirikan pada tahun 1991 oleh orang tua ibu Ingrid dan kemudian dikelola sendiri pada tahun 2000 dengan bentuk badan usaha Sole Proprietorship (perorangan, UD). Depot Mie Mapan pada tahap growth telah mencapai jumlah produksi per hari sebanyak 450 porsi dengan jumlah pelanggan

(5)

23 Universitas Kristen Petra 450 orang rata-rata per hari.Sampai saat ini Depot Mie Mapan telah membuka 1 cabang baru untuk menjangkau pelanggan yang masih belum terjangkau, akan tetapi untuk meningkakan persaingan dengan pesaing maka mulai menambah variasi menu makanan aneka penyet, sehingga sekarang ini produk utamanya adalah mie dan aneka makanan penyet.

4.2.9 Depot Sate Ayam Pak Brewok

Depot Sate Ayam Pak Brewok ini mulai didirikan pada tahun 1997 dan dikelola oleh. dengan bentuk badan usaha Sole Proprietorship (perorangan, UD) yang menjual langsung makanannya kepada pelanggan. Depot ini bergerak di bidang pengolahan makanan, nama produk utama yang diproduksi adalah Sate Ayam. Dalam memenuhi kebutuhan pasar semakin meningkat, kemudian mulai dibuka cabang satu persatu hingga total 4 cabang yang telah berdiri. Untuk meningkatkan nilai lebih kepada pelanggan maka Depot Sate Ayam Pak Brewok berusaha menambah variasi makanan berupa sate usus ayam dan sate jeroan ayam.

4.2.10 Depot Sate Ayam Manyar

Depot Sate Ayam Manyar didirikan oleh Ibu Chusna pada tahun 1981 dengan badan usaha yang dikelolanya berbentuk Sole Proprietorship (perorangan, UD). Depot Sate Ayam Manyar terletak di Jl. Manyar Tirtoyoso dengan status usaha sewa di halaman rumah penduduk. Asal usul usaha Depot Sate Ayam ini berasal dari warisan orang tua yang menggunakan modal sendiri dan saat itu hanya memiliki 5 karyawan tetap. Namun seiring dengan berkembangnya Depot Sate Ayam Manyar yang mampu memproduksi 150 porsi per hari pada tahap growth maka Ibu Chusna memutuskan untuk menambah karyawannya menjadi 6 orang karena melihat jumlah pelanggan yang semakin bertambah banyak juga.

4.2.11 Restoran Tungku Rempah

Restoran Tungku Rempah didirikan pada tahun 2008 oleh Ibu Paulina Hartono. Salah satu menu makanan khas Jawa Timur yang menjadi andalan di Restoran Tungku Rempah ini adalah tempe penyet yang terletak di Jl.Manyar

(6)

24 Universitas Kristen Petra Kertoarjo 38 dengan 100% prosentase modal sendiri pada tahap pre-startup sebesar Rp. 250.000.000. Restoran Tungku Rempah berbadan usaha Sole Proprietorship (perorangan, UD) yang memiliki 10 orang tenaga kerja tetap dan bentuk utama bisnis makanan ini adalah menjual langsung kepada pelanggan- pelanggannya.

4.2.12 Depot Bu Kris

Depot Bu Kris didirikan oleh Bapak Rendra pada tahun 2001 dengan berbadan usaha Sole Proprietorship (perorangan, UD). Depot ini terletak di Jl.

Manyar, beliau mendirikan usaha ini sendiri dengan modal 100% dari dirinya namun dengan semakin berkembangnya usaha ini maka Bapak Rendra membutuhkan modal yang jauh lebih besar, sehinggan 20% dari modalnya didapat dari keluarganya. Depot Bu Kris sampai pada tahap growth memiliki jumlah tenaga kerja tetap sebanyak 13 orang dengan jumlah pelanggan rata-rata per hari 200 orang.

4.2.13 Warung Tahu Campur Lamongan

Tahu Campur Lamongan didirikan pada tahun 1979 merupakan warung makan yang menjual tahu campur, warung makan ini berlokasi di Jalan Kalasan 16, kelurahan Pacar Keling, kecamatan Tambak Sari Surabaya. Warung makan ini didirikan oleh Pak Mat Andri yang jumlah produksinya mengalami peningkatan dari posisi start up sampai growth hingga 290 piring per harinya. Bentuk badan usaha Tahu Campur Lamongan ini adalah perorangan, UD (Sole Proprietorship) dan bentuk utama bisnis makanan ini adalah menjual langsung kepada pelanggan- pelanggannya.

4.2.14 Warung Tahu Campur Kalasan

Tahu Campur Kalasan didirikan pada tahun 1975 oleh H. Abdul Mahfud.

Beliau membangun usahanya dengan 100% modalnya sendiri sehingga beliau bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang terjadi pada warungnya dan juga keuntungan yang diperolehnya. Warung Tahu Campur Kalasan merupakan warung makan yang khusus menjual tahu campur sebagai makanan khas Jawa

(7)

25 Universitas Kristen Petra Timur. Warung makan ini berlokasi di Jalan Kalasan 22, kelurahan Pacar Keling, kecamatan Tambak Sari Surabayadengan bentuk badan usaha perorangan, UD (Sole Proprietorship) dan bentuk utama bisnis makanan ini adalah menjual langsung kepada pelanggan.

4.2.15 Warung Bakso dan Es Teler Pak No

Warung Bakso dan Es Teler didirikan tahun 1970 oleh Pak No.

Merupakan warung makan yang menjual bakso dan es teler yang berlokasi di jalan Pacar Keling No. 9, kelurahan Pacar Kembang, kecamatan Tambak Sari Surabaya. Warung Bakso dan Es Teler memiliki bentuk badan usaha perorangan, UD (Sole Proprietorship) dengan pelanggan rata-rata per hari pada posisi growth sebanyak 300 orang sehingga bentuk utama bisnis makanan yang dijalankan oleh Warung Bakso dan Es Teler ini adalah menjual langsung kepada pelanggan.

4.2.16 Restoran Rumah Baso

Restoran Rumah Baso ini pada awalnya didirikan oleh Ibu Rini bersama dengan rekannya pada tahun 2008 namun seiring dengan berjalannya waktu maka Restoran Rumah Baso dikelola sendiri oleh Ibu Rini. Restoran Rumah Baso ini terletak di Jl. Kali Rungkut yang lebih tepatnya ada di dalam supermarket

“Carrefour”. Restoran Rumah Baso yang ada di Surabaya ini merupakan cabang ke 3 yang dibukanya dan Restoran ini bergerak di bidang pengolahan makanan, nama produk utama yang diproduksi adalah Bakso, karena melihat minat dan selera masyarakat yang tinggi akan makanan bakso maka Restoran Rumah Baso juga mulai berkreasi dengan memberikan cita rasa yang baru dalam baksonya, salah satunya adalah mengisi baksonya dengan keju. Namun dengan berkembangnya restoran ini dan juga tuntutan masyarakat serta banyaknya pesaing maka Restoran Rumah Baso mulai menambah variasi menunya yang diantaranya seperti Es Teller, Es Campur, Sop Buntut, Nasi Goreng dan Pangsit Mie. Saat ini Restoran Rumah Baso sudah mengalami perkembangan yang pesat dengan jumlah karyawan tetap sebanyak 11 orang dan 2 cabang di Surabaya.

(8)

26 Universitas Kristen Petra 4.2.17 Depot DAPOT

Depot DAPOT didirikan oleh Ibu Maria Laurentia Evy pada tahun 2009 bersama dengan rekannya. Depot ini terletak di Jl.Rungkut Asri Tengah no. 22 Surabaya. Awalnya depot ini bermula dari hobby masak yang dimiliki oleh Ibu Maria Laurentia Evy, beliau memulai usaha di bidang kuliner sejak tahun 1992.

Dari catering, menerima pesanan, mengelola depot sampai menerima belajar kuliner untuk berbagai jenis macam kuliner yang ada sampai sekarang.

Keahliannya terus berkembang sesuai dengan hobby dan kreativitas yang terus ditingkatkan sehingga walaupun Depot ini baru saja dibuka, minat konsumen akan makanan yang dijualnya sangatlah besar. Ini terbukti dari ramainya Depot ini yang terus berkelanjutan, ditambah lagi dengan adanya menu baru dengan harga spesial yang menarik konsumen untuk selalu datang ke Depot DAPOT.

4.2.18 Restoran Wapand

Restoran Wapand didirikan oleh Bapak Yudha pada tahun 2006 dengan berbadan usaha PT (Corporation). Restoran ini terletak di Jl. Raya Pandugo No.

64-70, beliau adalah seorang mahasiswa ITS yang melihat adanya peluang usaha yang cukup besar di sekitar perumahan Pandugo serta memiliki konsep dan strategi yang menarik yang dimana restoran ini menyediakan layanan yang lengkap untuk tahapan sebagai restoran yang baru buka. Restoran Wapand mempunyai konsep Edutaiment yaitu Edukasi dan Entertaiment, Edukasi yang diberikan adalah bentuk kerjasamanya dengan beberapa penerbit buku seperti Erlangga dan Gramedia, sedangkan Entertaiment yang diberikan adalah berupa taman bermain untuk anak-anak, ditambah dengan adanya wisata kolam pancing serta menerima berbagai macam pesanan catering dan tempat untuk acara ulang tahun, pertemuan, pernikahan dan arisan. Awalnya Restoran Wapand fokus dengan makanan yang diolah sendiri namun seiring dengan berjalannya waktu maka Restoran Wapand mulai membuka tempatnya untuk juga disewakan pada orang lain untuk menjual makanan yang berbeda. Jumlah tenaga kerja Restoran Wapand sampai pada periode growth berjumlah 18 orang dan tentunya jumlah produksi yang terus meningkat tiap harinya.

(9)

27 Universitas Kristen Petra 4.3. Deskripsi Profil Pengusaha Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di

Wilayah Surabaya Timur

Profil pengusaha yang mengelola bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Surabaya Timur dilihat dari beberapa aspek yaitu jenis kelamin, kelompok usia, status perkawinan, jenjang pendidikan, orientasi budaya.

Tabel 4.2. Frekuensi Pengusaha Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah SurabayaTimur Berdasarkan Jenis Kelamin Pengelola

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

Pria 11 61.1

Wanita 7 38.9

Total 18 100.0 Sumber: data yang telah diolah

Dari tabel 4.2. dapat dilihat bahwa dari total 18 orang pengusaha bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Surabaya Timur, pengusaha yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 11 orang (61.1%). Pengusaha yang berjenis kelamin wanita sebanyak 7 orang (38.9%). Dari data tersebut maka disimpulkan bahwa kebanyakan pengusaha berjenis kelamin pria dalam bisnis makanan lebih mengenal tentang bisnis dan bagaimana cara mengelolanya.

Dari tabel 4.3. dapat dilihat bahwa dari total 18 orang pengusaha bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Surabaya Timur, pengusaha yang berusia kurang dari 25 tahun sebanyak 2 orang (11.1%) . Pengusaha yang berusia antara 25-35 tahun sebanyak 5 orang (27.8%). Pengusaha yang berusia antara 36-45 tahun sebanyak 6 orang (33.3%). Pengusaha yang berusia antara 46-55 tahun sebanyak 4 orang (22.2). Pengusaha yang berusia lebih dari 55 tahun 1 orang (5.6%). Disini dapat dilihat bahwa jumlah terbanyak pada usia 25 – 55 tahun. Dimana usia di bawah 25 tahun dan diatas 55 relatif sedikit dibanding yang lainnya.

(10)

28 Universitas Kristen Petra Tabel 4.3. Frekuensi Pengusaha Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah

Surabaya Timur Berdasarkan Kelompok Usia Pengelola Kelompok Usia Frekuensi Persentase

<25 tahun 2 11.1

25-35 tahun 5 27.8

36-45 tahun 6 33.3

46-55 tahun 4 22.2

>55 tahun 1 5.6

Total 18 100.0

Sumber : data yang telah diolah

Tabel 4.4. Frekuensi Pengusaha Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur Berdasarkan Status Perkawinan

Status Perkawinan Frekuensi Persentase

Tidak Kawin 2 11.1

Kawin 16 88.9

Total 18 100.0

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.4. dapat dilihat bahwa dari total 18 orang pengusaha bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Surabaya Timur, pengusaha yang kawin sebanyak 16 orang (88.9%). Pengusaha yang tidak kawin sebanyak 2 orang (11.1%). Disini yang tidak kawin memiliki usia yang relatif muda, dan yang telah menikah rata – rata usia mereka telah cukup matang / dewasa.

Dari tabel 4.5. dapat dilihat bahwa dari total 18 orang pengusaha bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Surabaya Timur, pengusaha yang berpendidikan SD sebanyak 3 orang (16.7%). Pengusaha yang berpendidikan SMP sebanyak 3 orang (16.7%). Pengusaha yang berpindidikan SMU sebanyak 4 orang. Pengusaha yang berpendidikan perguruan tinggi sebanyak 8 orang (44.4%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa jenjang pendidikan pengusaha terbanyak dari lulusan

(11)

29 Universitas Kristen Petra perguruan tinggi Jenjang pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir para pengusaha yang mendukung usaha mereka.

Tabel 4.5. Frekuensi Pengusaha Bisnis Makanan Khas Jawa TImur di Wilayah Surabaya TImur Berdasarkan Jenjang Pendidikan

Jenjang Pendidikan Frekuensi Persentase

SD 3 16.7

SMP 3 16.7

SMU 4 22.2

Perguruan Tinggi 8 44.4

Total 18 100.0

Sumber : data yang telah diolah

Tabel 4.6. Frekuensi Pengusaha Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur Berdasarkan Orientasi Budaya

Orientasi Budaya Frekuensi Persentase

Jawa 13 72.2

Madura 1 5.6

Tionghoa 4 22.2

Total 18 100.0

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.6. dapat dilihat bahwa dari total 18 orang pengusaha bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Surabaya Timur , pengusaha yang berorientasi budaya Jawa sebanyak 13 orang (72.2%). Pengusaha yang berorientasi budaya Madura sebanyak 1 orang (5.6%). Pengusaha yang berorientasi budaya Tionghoa sebanyak 4 orang (22.2%)

4.4. Deskripsi Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur

Profil bisnis makan khas Jawa Timur di wilayah Jawa Timur pada periode saat didirikan, startup dan growth dapat dilihat dari pay-back periode jumlah tenaga

(12)

30 Universitas Kristen Petra kerja tetap, jumlah tenaga kerja tidak tetap, jumlah produksi per hari, jumlah seluruh penjualan kotor per hari, modal kerja, asset tetap, jumlah variasi menu yang disajikan per hari, jumlah cabang, jumlah pelanggan per hari dan persentase modal sendiri, bentuk usaha makanan yang dikelola, bentuk badan usaha saat berdiri, bentuk badan usaha pada saat ini, bentuk utama bisnis makanan yang dijalani.

Tabel 4.7. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan/Pre-Startup, Startup dan Growth

berdasarkan PayBack Periode

Profil Bisnis N Minimum Maksimum Rata-rata Periode satu bulan pertama sejak

berdiri/pre-startup (dalam bulan) 18 0 0 0 Lama Periode balik modal/startup

(dalam bulan) 18 1 48 14.94

Lama Periode growth(dalam bulan) 18 0 0 0

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.7. dapat dilihat bahwa rata-rata payback period dari 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur adalah 14.94 bulan. Payback periode paling lama dibutuhkan waktu 48 bulan pada Rumah Baso dan Es Teler

Mini untuk balik modal. Sedangkan payback periode paling cepat berada pada dibutuhkan waktu 1 bulan di Tahu Telor Pak Djayen.

Dari tabel 4.8. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan dari 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi jumlah tenaga kerja tetap dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan sebesar 6.55%. Dari periode startup ke growth mengalami kenaikan sebesar 30.54%. Hal ini menunjukkan bahwa adanya penambahan tenaga kerja tetap yang direkrut oleh para pengusaha dari periode ke periode selanjutnya. Jumlah tenaga kerja tetap yang paling banyak berada pada periode saat didirikan/pre-startup

(13)

31 Universitas Kristen Petra sebanyak 50 orang dari restoran Ayam Penyet Ria. Pada awalnya Ayam Penyet Ria memang menetapkan standar jumlah tenaga kerja tetap yang banyak, hal ini ditujukan untuk memenuhi kapasitas restoran yang besar, dimana untuk melayani pengunjung yang banyak dibutuhkan kapasitas tenaga kerja yang banyak. Namun dari data diatas terlihat bahwa terjadi penurunan jumlah karyawan tetap dari periode pre-startup sampai ke periode growth di Ayam Penyet Ria. Hal ini dapat menggambarkan bahwa strategi pada awal Ayam Penyet Ria tidak berjalan baik atau perencanaan usahanya kurang tepat.

Tabel 4.8. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan/Pre-Startup, Startup dan Growth

berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja Tetap

Profil Bisnis N Minimum Maksimum Rata-rata Jumlah Tenaga Kerja Tetap Saat

Pre-Startup (dalam Orang) 18 1 50 8.39

Jumlah Tenaga Kerja Tetap Startup

(dalam Orang) 18 1 30 8.94

Jumlah Tenaga Kerja Tetap Growth

(dalam Orang) 18 5 30 11.67

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

Tabel 4.9. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan/Pre-startup, Startup dan Growth

berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja Tidak Tetap

Profil Bisnis N Minimum Maksimum Rata-rata Jumlah Tenaga Kerja Tidak Tetap Pre-

Startup (dalam Orang) 18 0 2 .514

Jumlah Tenaga Kerja Tidak Tetap Startup

(dalam Orang) 18 0 2 .686

Jumlah Tenaga Kerja Tidak Tetap Growth

(dalam Orang) 18 0 10 2.578

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

(14)

32 Universitas Kristen Petra Dari tabel 4.9. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan dari 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi jumlah tenaga kerja tidak tetap dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan sebesar 33.46%. Dari periode startup ke growth mengalami kenaikan sebesar 375.80%. Jumlah tenaga kerja tidak tetap yang paling banyak berada pada periode growth sebanyak 10 orang dari restoran Sate Ayam Pak Seger. Hal ini dapat dikarenakan pada periode growth restoran mengalami kenaikan jumlah pelanggan sehingga restoran menambah jumlah tenaga kerja tidak tetap pada saat- saat hari besar atau hari raya dimana jumlah pengunjung meningkat pada saat – saat tersebut. Dari tabel dapat disimpulkan bahwa sampai pada periode growth masih ada usaha kecil yang tidak mempekerjakan karyawan tidak tetap dikarenakan jumlah karyawannya sudah cukup untuk melayani pelanggan.

Tabel 4.10. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan/Pre-Startup, Startup dan Growth

Berdasarkan Jumlah Produksi Per Hari

Profil Bisnis N Minimum

Maksimu

m Rata-rata Jumlah produksi per hari Pre-

Startup (dalam porsi/piring)

1

8 10 500 110.78

Jumlah produksi per hari Startup (dalam porsi/piring)

1

8 30 300 165.83

Jumlah produksi per hari Growth (dalam porsi/piring)

1

8 140 500 266.67

Total Responden

1

8

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.10. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan dari dari 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi jumlah produksi dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan sebesar 62.02%. Dari periode startup ke periode growth mengalami kenaikan

(15)

33 Universitas Kristen Petra sebesar 92.14%. Hal ini menunjukkan bahwa ada kenaikan jumlah produksi dari tiap periode. Jumlah produksi per hari yang paling banyak berada pada periode growth sebanyak 500 porsi dari restoran sate ayam Pak Brewok. Dari data diatas

dapat disimpulkan bahwa dalam setiap peralihan periode dari pre-startup ke startup sampai ke growth mengalami jumlah peningkatan produksi minimum dan maksimum.

Tabel 4.11. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan, Startup dan Growth berdasarkan

Seluruh Penjualan Kotor Per Hari

Profil Bisnis N Minimum Maksimum Rata-rata Jumlah seluruh penjualan kotor

per hari Pre-Startup (dalam rupiah) 18 30000 12000000 1746056 Jumlah seluruh penjualan kotor

per hari Startup (dalam rupiah) 18 60000 4500000 1993889 Jumlah seluruh penjualan kotor

per hari Growth (dalam rupiah) 18 1100000 7000000 3578889

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.11. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi seluruh penjualan kotor per hari dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan sebesar 14.19%. Dari periode startup ke periode growth mengalami kenaikan sebesar 79.49%. Jumlah seluruh penjualan kotor per hari yang paling banyak berada pada periode pre-startup sebesar Rp. 12.000.000 dari restoran Ayam Penyet Ria. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa Ayam Penyet Ria mengalami penurunan omset penjualan jika dibandingkan pada saat penjualan pre-startup karena terjadi penurunan jumlah pelanggan dari periode pre-startup sampai periode growth.

(16)

34 Universitas Kristen Petra Tabel 4.12. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di

Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan, Startup dan Growth berdasarkan Modal Kerja

Profil Bisnis N Minimum Maksimum Rata-rata Modal Kerja Pre-Startup

(dalam rupiah) 18 50000 300000000 65025000 Modal Kerja Startup

(dalam rupiah) 18 50000 300000000 54511111 Modal kerja Growth (dalam

rupiah) 18 500000 300000000 56738889

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.12. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi modal kerja dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami penurunan sebesar 16.17%. Dari periode startup ke periode growth mengalami kenaikan sebesar 4.09%. Dari ke tiga periode tersebut(Pre-startup, Startup, Growth) yang memiliki modal kerja paling besar adalah restoran Soto Ayam Pak Djayus.

Tabel 4.13. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan, Startup dan Growth berdasarkan

Aset Tetap

Profil Bisnis N Minimum Maksimum Rata-rata Aset Tetap Pre-Startup

(dalam rupiah) 18 250000 200000000 37875000 Aset Tetap Startup (dalam

rupiah) 18 250000 220000000 42141667

Aset Tetap Growth (dalam

rupiah) 18 250000 250000000 47752778

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

(17)

35 Universitas Kristen Petra Dari tabel 4.13. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi aset tetap dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan sebesar 11.26%. Dari periode startup ke periode growth mengalami kenaikan sebesar 13.31%. Aset tetap paling banyak pada periode pre-startup sampai ke growth sebesar Rp. 200.000.000 dari restoran Mie Mapan. Bisnis dengan aset tetap terkecil yang tidak mengalami peningkatan dari periode pre-startup sampai ke growth yaitu Bakso dan Es Teler Mini.

Tabel 4.14. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan, Startup dan Growth berdasarkan

Jumlah Variasi Menu Yang Disajikan Per Hari

Profil Bisnis N Minimum Maksimum

Rata- rata Variasi Menu Pre-Startup

(dalam unit) 18 1 35 10.72

Variasi Menu Startup

(dalam unit) 18 1 55 15.33

Variasi Menu Growth

(dalam unit) 18 1 72 19.06

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.14. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi jumlah variasi menu yang disajikan per hari dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan sebesar 43.%. Dari periode startup ke periode growth mengalami kenaikan sebesar 24.33%. Variasi menu yang paling banyak berada pada periode growth sebanyak 72 variasi menu dari restoran Rumah Baso. Dari data diatas dapat disimpulkan semakin berkembang usahanya maka jumlah variasi menu makanan ditambah sebagai inovasi bisnis agar pelanggan tidak bosan.

(18)

36 Universitas Kristen Petra Tabel 4.15. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di

Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan, Startup dan Growth berdasarkan Jumlah Cabang

Profil Bisnis N Minimum Maksimum

Rata- rata Jumlah Cabang Pre-Startup

(dalam unit) 18 0 7 1.67

Jumlah Cabang Startup

(dalam unit) 18 0 7 2.00

Jumlah Cabang Growth

(dalam unit) 18 0 7 2.50

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.15. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi jumlah cabang dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan sebesar 14.19%. Dari periode startup ke periode growth mengalami kenaikan sebesar 79.49%. Jumlah cabang yang terbanyak dari 3 periode (pre-startup, startup, growth) adalah Ayam Penyet Ria dengan jumlah cabang sebanyak 7

cabang. Disini ada usaha yang tidak membuka cabang dari bisnis mereka yaitu Soto Ayam Lamongan, Tahu Tek Pak Djayen.

Dari tabel 4.16. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi jumlah pelanggan per hari dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan sebesar 82.39%. Dari periode startup ke periode growth mengalami kenaikan sebesar 65.91%. Jumlah pelanggan per hari yang paling banyak berada pada periode growth sebanyak 500 orang dari restoran Sate Ayam Pak Brewok.

(19)

37 Universitas Kristen Petra Tabel 4.16. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di

Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan, Startup dan Growth berdasarkan Jumlah Pelanggan Per Hari

Profil Bisnis N Minimum Maksimum

Rata- rata Jumlah Pelanggan Per hari

Pre-Startup (dalam Orang) 18 10 200 77.8 Jumlah Pelanggan Per hari

Startup (dalam Orang) 18 30 250 140.83 Jumlah Pelanggan Per hari

Growth (dalam Orang) 18 50 500 249.44

Total Responden 18

Sumber : data yang telah diolah

Tabel 4.17. Statistik Deskriptif Profil Bisnis dari Makanan Khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada Periode Saat didirikan, Startup dan Growth berdasarkan

Persentase Modal Sendiri

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.17. dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan 18 bisnis usaha makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dari segi persentase modal sendiri dari periode saat didirikan (pre-startup) ke periode startup mengalami kenaikan

Profil Bisnis N Minimum Maksimum

Rata- rata Persentase Modal Sendiri

Pre-Startup (dalam Orang) 18 35 100 84.44 Persentase Modal Sendiri

Startup (dalam Orang) 18 35 100 88.33 Persentase Modal Sendiri

Growth (dalam Orang) 18 35 100 92.50

Total Responden 18

(20)

38 Universitas Kristen Petra sebesar 4.61%. Dari periode startup ke periode growth mengalami kenaikan sebesar 4.72%.

Tabel 4.18. Frekuensi Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur Berdasarkan Bentuk Usaha Makanan Yang Dikelola Bentuk Usaha Frekuensi Persentase

Restoran 4 22.2

Depot 7 38.9

Warung Makan 7 38.9

Total 18 100.0

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.18. dapat dilihat bahwa dari total 18 bisnis makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur, jumlah terbanyak sebanyak 7 responden (38.9%) masing – masing berbentuk usaha depot dan warung makan, sedangkan yang paling sedikit respondennya berbentuk usaha restoran sebanyak 4 responden (22.2%)

Tabel 4.19. Frekuensi Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah SurabayaTimur Berdasarkan Bentuk Badan Usaha Pada Saat Berdiri Bentuk Badan Usaha

Saat Berdiri

Frekuensi Persentase

Sole proprietorship 15 83.3

Partnership 2 11.1

Corporation 1 5.6

Total 18 100.0

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.19. dapat dilihat bahwa dari total 18 orang profil bisnis makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur pada saat berdiri, jumlah terbanyak sebanyak 15 responden (83.3%) berbentuk badan usaha Sole proprietorship, Partnership 2 responden (11.1%), dan paling sedikit berbentuk badan usaha Corporation 1 responden (5.6%)

(21)

39 Universitas Kristen Petra Tabel 4.20. Frekuensi Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah

SurabayaTimur Berdasarkan Bentuk Badan Usaha Pada Saat Ini Bentuk Badan Usaha Saat Ini Frekuensi Persentase

Sole proprietorship 16 88.9

Partnership 1 5.6

Corporation 1 5.6

Total 18 100.0

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.20. dapat dilihat bahwa dari total 18 bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Surabaya Timur pada saat ini, jumlah terbanyak sebanyak 16 responden (88.9%) berbentuk badan usaha Sole proprietorship, Partnership 1 responden (5.6%), dan paling sedikit Corporation 1 responden (5.6%). Disini terjadi 1 peruabahan bentuk badan usaha dari Parnertship ke Sole proprietorship yaitu Rumah Baso

Tabel 4.21. Frekuensi Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur Berdasarkan Bentuk Utama Bisnis Makanan Yang Dijalani

Bentuk Utama Bisnis Frekuensi Persentase Menjual Langsung ke

Pelanggan

17 94.4

Kombinasi lainnya 1 5.6

Total 18 100.0

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.21. dapat dilihat bahwa dari total 18 bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Surabaya Timur, jumlah terbanyak sebanyak 17 responden (94.4%) yang menjual langsung dan paling sedikit berupa kombinasi lainnya 1 responden (5.6%). Kombinasi lainnya adalah bisnis catering.

(22)

40 Universitas Kristen Petra 4.5. Deskripsi Karakteristik Transisi Kewirausahaan (Entrepreneurial

Transition) Bisnis makanan Khas Jawa Timur Di Surabaya Timur

Karakteristik transisi kewirausahaan (Entrepreneurial Transition) bisnis makanan khas Jawa Timur di wilayah Jawa Timur dapat dilihat dari waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkan sebuah gagasan/peluang menjadi usaha kecil, dasar perencanaan usaha kecil, asal usul usaha, gagasan/peluang mendirikan usaha berasal, pihak yang lebih berperan mempersiapkan usaha.

Tabel 4.22. Tabulasi Silang Karakteristik Transisi Kewirausahaan Berdasarkan Waktu Yang Dibutuhkan dan Dasar Perencanaan Usaha Kecil

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.22 maka dapat disimpulkan bahwa dengan dasar perencanaan yang lebih baik tidak berpengaruh pada waktu yang dibutuhkan mewujudkan gagasan tersebut menjadi berdirinya usaha kecil. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah responden di tabel tersebar secara merata.

Dilihat dari Tabel 4.23. nampak bahwa dari total responden sebanyak 18 pemilik/pengelola makanan khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur, jumlah

Proses Transisi Kewirausahaan

Dasar perencanaan Usaha Kecil Total Tiba-tiba

tanpa perencanaan

Dengan perencanaan tidak tertulis

Rencanan Usaha Tertulis Sederhana

Rencana Usaha Tertulis

Standar

Waktu yang dibutuhkan

(dalam bulan)

< 1

Jumlah 0 1 1 2 4

% dari Total 0 5.6 5.6 11.1 22.2

1 - 3

Jumlah 1 0 2 0 3

% dari Total 5.6 0 11.1 0 16.7

4 - 6 Jumlah 0 0 2 1 3

% dari Total 0 0 11.1 5.6 16.7

7 - 9 Jumlah 0 0 0 1 1

% dari Total 0 0 0 5.6 5.6

10 - 12

Jumlah 0 2 0 0 2

% dari Total 0 11.1 0 0 11.1

> 12 Jumlah 1 3 1 0 5

% dari Total 5.6 16.7 5.6 0 27.8

Total Jumlah 2 6 6 4 18

% dari Total 11.1 33.3 33.3 22.2 100

(23)

41 Universitas Kristen Petra responden terbanyak yaitu 5 responden(27.8%) dari warisan orang tua yang kemudian dikelola oleh diri sendiri dan jumlah responden terbanyak ke dua yaitu 3 responden (16.7%) yaitu dari didirikan sendiri kemudian dikelola diri sendiri.

Hal tersebut menyatakan bahwa kebanyakan responden tersebut mengelola secara usaha mereka secara mandiri walaupun asal usul usahanya dari warisan orang tua.

Tabel 4.23. Tabulasi Silang Karakteristik Transisi Kewirausahaan Berdasarkan Asal Usul Usaha dan Pihak Yang Lebih Berperan Mempersiapkan (Perijinan,

Perjanjian, Kontrak, Sewa, Perekrutan, pembiayaan, Uji Coba) Untuk Pengoperasian Usaha

Sumber : data yang telah diolah

Dilihat dari tabel 4.24 nampak bahwa dari total responden sebanyak 18 pemilik/pengelola makanan khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur, jumlah responden terbanyak 6 responden (33.3%) pada team dan jumlah reponden paling sedikit 1 responden (5.6%). Ada 2 reponden yang tidak melakukan proses tersebut sebanya 2 responden(11.1%) pada missing data.

Proses Transisi Kewirausahaan

Pihak yang lebih berperan mempersiapkan Diri Sendiri Diri bersama

Partner

Diri bersama

Orang Tua Total

Asal- usul Usaha

Warisan Orang Tua

Jumlah 5 3 1 9

% dari Total 27.8 16.7 5.6 50 Didirikan

Sendiri

Jumlah 3 1 0 4

% dari Total 16.7 5.6 0 22.2 Didirikan

bersama orang tua

Jumlah 0 1 1 2

% dari Total 0 5.6 5.6 11.1 Didirikan

berpartner dengan orang

lain

Jumlah 1 2 0 3

% dari Total 5.6 11.1 0 16.7

Total

Jumlah 9 7 2 18

% dari Total 50 38.9 11.1 100

(24)

42 Universitas Kristen Petra Tabel 4.24. Frekuensi Karakteristik Transisi Kewirausahaan Berdasarkan Yang

Dilibatkan Dalam Proses Menciptakan Dan Menguji Konsep Produk Pihak yang dilibatkan Frekuensi Persentase

Sendiri 4 22.2

Orang tua / Partner 5 27.8

Team 6 33.3

Konsultan 1 5.6

Missing data 2 11.1

Total 18 100

Sumber : data yang telah diolah

Tabel 4.25. Frekuensi Karakteristik Transisi Kewirausahaan Berdasarkan Yang Dilibatkan Dalam Proses Menetapkan Lokasi Tempat usaha

Pihak yang dilibatkan Frekuensi Persentase

Sendiri 8 44.4

Orang tua / Partner 8 44.4

Team 1 5.6

Konsultan 1 5.6

Total 18 100

Sumber : data yang telah diolah

Dilihat dari tabel 4.25 nampak bahwa dari total responden sebanyak 18 pemilik/pengelola makanan khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur, jumlah responden terbanyak yaitu 8 responden (44.4%) pada diri sendiri dan 8 responden (44.4%) pada orang tua / partner, dan jumlah paling sedikit 1 responden (5.6%) pada team dan 1 responden (5.6%) pada konsultan.

Dilihat dari tabel 4.26 nampak bahwa dari total responden sebanyak 18 pemilik/pengelola makanan khas Jawa Timur di Wilayah Surabaya Timur, jumlah responden terbanyak 7 responden (38.9%) pada diri sendiri, dan jumlah responden paling sedikit 3 responden (16.7%) pada team. Ada 2 reponden yang tidak melakukan proses tersebut sebanya 2 responden(11.1%) pada missing data.

(25)

43 Universitas Kristen Petra Tabel 4.26. Frekuensi Karakteristik Transisi Kewirausahaan Berdasarkan Yang

Dilibatkan Dalam Proses Memilih dan Menetapkan Karyawan / Staff Pihak yang dilibatkan Frekuensi Persentase

Sendiri 7 38.9

Orang tua / Partner 6 33.3

Team 3 16.7

Missing data 2 11.1

Total 18 100

Sumber : data yang telah diolah

4.6. Deskripsi Kaitan antara Karakteristik Transisi Kewirausahaan (Entrepreneurial Transition) dengan Profil Pengusaha Bisnis makanan Khas Jawa Timur Di Surabaya Timur

Kaitan karakteristik transisi kewirausahaan dengan profil pengusaha bisnis makan khas Jawa Timur di wilayah Jawa Timur dapat dilihat dari jenjang pendidikan pengelola / pengusaha dan dasar perencanaan usaha kecil

Tabel 4.27. Uji Korelasi antara Jenjang Pendidikan Pengelola dengan Dasar Perencanaan Usaha Kecil

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.27 di atas diketahui bahwa korelasi (hubungan) jenjang pendidikan dengan dasar perencanaan usaha kecil memiliki nilai korelasi positif. Hal ini berarti bahwa jika jenjang pendidikan pengelola meningkat maka dasar perencanaan usahanya juga meningkat.

Secara statistik, korelasi antara jenjang pendidikan dengan dasar perencanaan usaha kecil adalah tidak signifikan, karena memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05.

.244 .330 18 Pearson Correlation

Sig. (2-tailed) N

Jenjang pendidikan pengelola

Dasar perencanaan

Usaha Kecil

(26)

44 Universitas Kristen Petra Tabel 4.28. Tabulasi Silang Deskripsi Kaitan antara Karakteristik Transisi Kewirausahaan dengan Profil Pengusaha Makanan Khas Jatim Berdasarkan

Jenjang Pendidikan Pengelola dan Dasar Perencanaan Usaha Kecil

Sumber : data yang telah diolah

Dilihat dari Tabel 4.28. tampak bahwa dari total responden sebanyak 18 pemilik/pengelola makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur, terdapat 3 reponden (16.7%) dengan pendidikan SD dimana dasar perencanaan usaha kecil secara perencanaan tidak tertulis sebanyak 2 responden (11.1%), dengan dasar perencanaan usaha kecil secara tertulis standar 1 responden (5.6%). Terdapat 3 responden(16.7%) dengan tingkat pendidikan SMP dimana dasar perencanaan usaha kecil secara tiba – tiba tanpa perencanaan 1 responden (5.6%), secara perencanaan tidak tertulis 1 responden (5.6%), memiliki rencana usaha tertulis standar 1 responden (5.6%). Terdapat 4 responden(22.2%) dengan tingkat pendidikan SMU dimana dasar perencanaan usaha kecil secara tiba – tiba tanpa perencanaan 1 responden(5.6%), secara perencanaan tidak tertulis 2 responden(11.1%), secara rencana usaha tertulis sederhana 1 responden(5.6%).

Terdapat pula 8 responden(44.4%) dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi dimana dasar perencanaan usaha secara tidak tertulis 1 responden(5.6%), secara

Proses Transisi Kewirausahaan

Dasar Perencanaan Usaha Kecil

Total Tiba-tiba

tanpa perencanaan

Dengan perencanaan

tidak tertulis

Memiliki Rencana Usaha Tertulis Sederhana

Memiliki Rencana Usaha Tertulis Standar

Jenjang pendidikan pengelola

SD Jumlah 0 2 0 1 3

% dari Total 0 11.1 0 5.6 16.7

SMP Jumlah 1 1 0 1 3

% dari Total 5.6 5.6 0 5.6 16.7

SMU Jumlah 1 2 1 0 4

% dari Total 5.6 11.1 5.6 0 22.2 Perguruan

TInggi

Jumlah 0 1 5 2 8

% dari Total 0 5.6 27.8 11.1 44.4

Total Jumlah 2 6 6 4 18

% dari Total 11.1 33.3 33.3 22.2 100

(27)

45 Universitas Kristen Petra perencanaan usaha tertulis sederhana 5 responden(27.8%), secara perencanaan tertulis standar 2 responden(11.1%).

Dari tabel 4.28. ini diperoleh kesimpulan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan pengelola maka semakin terencana pula dasar perencanaan usahanya hal tersebut tampak dari 8 responden yang memiliki jenjang pendidikan perguruan tinggi 7 responden diantaranya memiliki perencanaan tertulis baik sederhana maupun standar.

4.7. Deskripsi Kaitan antara Karakteristik Transisi Kewirausahaan (Entrepreneurial Transition) dengan Profil Bisnis makanan Khas Jawa Timur Di Surabaya Timur

Kaitan karakteristik transisi kewirausahaan dengan profil bisnis makanan khas Jawa Timur di Surabaya Timur dapat dilihat dari jumlah pelanggan per hari pada periode pre-startup, startup, growth dengan jenis peluang usaha.

Tabel 4.29. Tabulasi Silang Deskripsi Kaitan Antara Karakteristik Transisi Kewirausahaan dengan Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur Berdasarkan Jumlah Pelanggan Per Hari dan Jenis Peluang Usaha Yang Ingin Diwujudkan

Pada Periode Pre-starup

Proses Transisi Kewirausahaan Jenis peluang usaha yang ingin diwujudkan

Kebutuhan Pelanggan Perluasan Pasar Lainnya Total

Jumlah

pelanggan / pembeli (rata - rata per hari) Pre-S

10 Jumlah 0 1 0 1

% dari Total 0 5,6 0 5,6

15 Jumlah 1 0 0 1

% dari Total 5,6 0 0 5,6

30 Jumlah 1 0 0 1

% dari Total 5,6 0 0 5,6

40 Jumlah 1 0 1 2

% dari Total 5,6 0 5,6 11,1

45 Jumlah 1 0 0 1

% dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 3 0 0 3

50 % dari Total 16,7 0 0 16,7

Jumlah 0 1 0 1

60 % dari Total 0 5,6 0 5,6

Jumlah 1 1 0 2

80 % dari Total 5,6 5,6 0 11,1

(28)

46 Universitas Kristen Petra Tabel 4.29. Tabulasi Silang Deskripsi Kaitan Antara Karakteristik Transisi Kewirausahaan dengan Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur Berdasarkan Jumlah Pelanggan Per Hari dan Jenis Peluang Usaha Yang Ingin Diwujudkan

Pada Periode Pre-starup (sambungan)

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.29. jumlah pelanggan terbanyak pada periode Pre-startup sebanyak 200 pelanggan dengan peluang usahanya yang diwujudkan adalah pada kebutuhan pelanggan. Jumlah pelangan paling sedikit sebanyak 10 pelanggan dan jenis peluang usahanya adalah pada perluasan pasar. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas responden pada periode ini jenis peluang usahanya fokus pada kebutuhan pelanggan

Jumlah

pelanggan / pembeli (rata - rata per hari) Pre-S

Jumlah 2 1 0 3

100 % dari Total 11,1 5,6 0 16,7

Jumlah 1 0 0 1

150 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 2 0 0 2

200 % dari Total 11,1 0 0 11,1

Jumlah 13 4 1 18

Total % dari Total 72,2 22,2 5,6 100,0

(29)

47 Universitas Kristen Petra Tabel 4.30. Tabulasi Silang Deskripsi Kaitan Antara Karakteristik Transisi Kewirausahaan dengan Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur Berdasarkan Jumlah Pelanggan Per Hari dan Jenis Peluang Usaha Yang Ingin Diwujudkan

Pada Periode Startup

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.30. jumlah pelanggan terbanyak pada periode Startup sebanyak 250 pelanggan dan peluang usahanya yang diwujudkan adalah pada kebutuhan pelanggan. Jumlah pelangan paling sedikit sebanyak 30 pelanggan dan jenis peluang usahanya adalah pada perluasan pasar. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa jenis peluang usaha pada mayoritas responden di periode ini fokus pada kebutuhan pelanggan

Proses Transisi Kewirausahaan

Jenis peluang usaha yang ingin diwujudkan

Kebutuhan Pelanggan Perluasan Pasar Lainnya Total

Jumlah pelanggan / pembeli (rata - rata per hari) Startup

30 Jumlah 0 1 0 1

% dari Total 0 5,6 0 5,6

40 Jumlah 1 0 0 1

% dari Total 5,6 0 0 5,6

50 Jumlah 2 0 1 3

% dari Total 11,1 0 5,6 16,7

75 Jumlah 0 1 0 1

% dari Total 0 5,6 0 5,6

80 Jumlah 1 0 0 1

% dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 0 1 0 1

125 % dari Total 0 5,6 0 5,6

Jumlah 1 0 0 1

135 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 1 0 0 1

150 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 4 0 0 4

200 % dari Total 22,2 0 0 22,2

Jumlah 1 0 0 1

210 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 1 0 0 1

240 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 1 1 0 2

250 % dari Total 5,6 5,6 0 11,1

Jumlah 13 4 1 18

Total % dari Total 72,2 22,2 5,6 100,0

(30)

48 Universitas Kristen Petra Tabel 4.31. Tabulasi Silang Deskripsi Kaitan Antara Karakteristik Transisi Kewirausahaan dengan Profil Bisnis Makanan Khas Jawa Timur Berdasarkan Jumlah Pelanggan Per Hari dan Jenis Peluang Usaha Yang Ingin Diwujudkan

Pada Periode Growth

Sumber : data yang telah diolah

Dari tabel 4.31. jumlah pelanggan terbanyak sebanyak 500 pelanggan dan peluang usahanya yang diwujudkan adalah pada kebutuhan pelanggan. Jumlah pelagan paling sedikit sebanyak 50 pelanggan dan jenis peluang usahanya adalah pada perluasan pasar. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa jenis peluang usaha pada mayoritas responden di periode ini fokus pada kebutuhan pelanggan.

Dilihat dari tabel 4.29, 4.30, 4.31 di atas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan dari pengusaha peluang usaha yang diwujudkan fokus pada kebutuhan pelanggan

Proses Transisi Kewirausahaan

Jenis peluang usaha yang ingin diwujudkan

Kebutuhan Pelanggan Perluasan Pasar Lainnya Total

Jumlah pelanggan / pembeli (rata -

rata per hari) Growth

50 Jumlah 1 0 0 1

% dari Total 5,6 0 0 5,6

75 Jumlah 0 1 1 2

% dari Total 0 5,6 5,6 11,1

170

Jumlah 1 0 0 1

% dari Total 5,6 0 0 5,6

200 Jumlah 4 1 0 5

% dari Total 22,2 5,6 0 27,8

250 Jumlah 2 0 0 2

% dari Total 11,1 0 0 11,1

Jumlah 1 0 0 1

290 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 1 1 0 2

300 % dari Total 5,6 5,6 0 11,1

Jumlah 0 1 0 1

350 % dari Total 0 5,6 0 5,6

Jumlah 1 0 0 1

430 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 1 0 0 1

450 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 1 0 0 1

500 % dari Total 5,6 0 0 5,6

Jumlah 13 4 1 18

Total % dari Total 72,2 22,2 5,6 100,0

(31)

49 Universitas Kristen Petra dan sedikit fokus pada perluasan pasar. Dari periode ke periode jumlah pelanggan terbanyak dan paling sedikit pada semua bisnis mengalami peningkatan.

Tabel 4.32. Uji Korelasi antara Jenis peluang usaha yang ingin diwujudkan dengan Jumlah pelanggan (rata - rata per hari) periode Pre-Startup, Startup, dan

Growth

-.225 -.335 -.365

.369 .174 .137

18 18 18

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N

Jenis Peluang Usaha

Jumlah pelanggan

/pembeli (rata-rata

per-hari) Pre-S

Jumlah pelanggan/pe

mbeli (rata-rata per-hari) Start

Jumlah pelanggan

/pembeli (rata-rata

per-hari) Growth

Sumber : Data yang diolah

Dari tabel 4.32 di atas diketahui bahwa korelasi (hubungan) Jenis Peluang usaha dengan jumlah pelanggan dari periode Pre-starup sampai ke Growth memiliki koefisien korelasi yang negatif. Hal ini berarti item-item tersebut justru akan menurunkan jenis peluang usaha yang akan dipilih

Secara statistik, jenis peluang usaha tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan jumlah pelanggan dari periode Pre-startup sampai Growth karena memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05.

Referensi

Dokumen terkait

Maka dari itu penulis mengambil judul “Aplikasi Pengolahan data penerimaan kas dan pengeluaran kas pada CV.06 Production Palembang”, sehingga dapat memaksimalkan proses

Responden yang memiliki jumlah tanggungan sebanyak 3-5 orang sebanyak 48 responden (52%) dan sisanya sebanyak 19 responden (20%) responden memiliki tanggungan lebih dari 5 orang

Untuk mewujudkan Desa Mandiri Energi perlu diadakan pengkajian yang lebih lanjut terhadap potensi sumber energi terbarukan di desa Dompyong seperti potensi biogas.. Sugiyono,

Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai komitmen untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya air  Bappeda, Dinas PU, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Kehutanan, Dinas

1) Nama, tempat kedudukan serta alamat serikat pekerja/serikat buruh; Tempat untuk melaksanakan perundingan PKB dilakukan di kantor perusahaan yang bersangkutan atau di

Pekerjaan yang dilakukan penulis meliputi pengembangan web e-commerce yang sudah ada, pembuatan laporan pengawasan proyek, laporan tes redaman, laporan joint closure, laporan

Diameter gejala, keparahan penyakit dan kelas ketahanan bibit setelah uji konsentrasi AS dan inokulasi bakteri penyebab penyakit busuk lunak langsung pada daun yang

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, penulis ucapkan karena skripsi dengan judul “Pengaruh Tata Kelola Perusahaan dan Struktur Kepemilikan terhadap Efisiensi