PENELITIAN PEMBINAAN/PENINGKATAN KAPASITAS
Judul Penelitian:
PENGARUH USABILITY, INFORMATION DAN SERVICE INTERACTION TERHADAP MINAT BELI PADA MUSLIMARKET.COM
Peneliti :
Nama : Rodame Monitorir Napitupulu NIP/NIDN : 198411302018012001/2030118403 ID Peneliti : 203011840302000
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN
TAHUN 2018
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kehidupan manusia saat ini sulit dipisahkan dari teknologi informasi dan internet. Dapat dikatakan bahwa seluruh aspek dalam kehidupan manusia kini bergantung pada seberapa cepat manusia mampu memperoleh informasi. Hal tersebut bukan hanya terjadi di Negara-negara maju seperti Jepang, Cina dan Amerika tetapi juga terjadi di Indonesia. Segala aktivitas kini tidak terlepas dari penggunaan internet. Internet menyediakan infrastruktur teknis yang memampukan kita online dan terhubung dengan masyarakat dunia dengan mengakses world wide web (www) dan saat menemukan apa yang dibutuhkan, kita bahkan dapat memesan barang atau jasa tersebut melalui website.
Keberadaan internet secara nyata telah memampukan konsumen melakukan transaksi pembelian produk atau jasa dari mana pun dan kapan pun. Internet telah mendobrak batasan ruang dan waktu. Tentu saja hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan pola belanja masyarakat di Indonesia dari belanja langsung ke toko menjadi belanja online melalui website. Pengguna internet dunia per 31 Desember 2017 mencapai 2.119.060.152 orang dimana 48,7 % dari total pengguna internet dunia tersebut berasal dari Asia. Di Asia sendiri, Indonesia adalah Negara dengan
jumlah pengguna internet tertinggi ke-3 setelah Cina dan India1 . Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 1.1
Gambar 1.1 Negara dengan Jumlah Pengguna Internet Tertinggi di Asia
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa penetrasi internet di Indonesia cukup tinggi. Hal tersebut tentu akan sejalan dengan peningkatan transaksi belanja online melalui website di Indonesia. Semua bidang bisnis kini melakukan perubahan pemasaran produk atau jasanya yaitu pemasaran elektronik (e-marketing). Website adalah salah satu media yang sangat baik dan penting dalam e-marketing. Perusahaan dalam berbagai bidang bisnis kini membangun website dalam memasarkan produk atau jasanya termasuk bisnis syariah.
1 World Internet Users Statistic, Asia Internet User per 30 Desember 2017, diakses melalui https://www.internetworldstats.com/stats3.htm#asia pada tanggal 25 April 2018 pukul 15.08 WIB
772000000
462124989
143260000 118626672 0
100000000 200000000 300000000 400000000 500000000 600000000 700000000 800000000 900000000
Cina India Indonesia Jepang
Pengguna Internet
Website adalah keseluruhan halaman-halaman web yang terdapat dalam sebuah domain yang mengandung informasi. 2 Pada dasarnya sebuah web terdiri dari banyak halaman dimana semuanya saling terhubung.
Hubungan tersebut dikenal dengan istilah hyperlink, sedangkan teks yang menjadi media penghubung dikenal dengan istilah hypertext. Jadi pada intinya, website berisi informasi yang dapat dilihat jika perangkat elektronik yang digunakan terhubung dengan internet. Dengan adanya internet, semua orang dapat mengelola informasi dari berbagai sumber yang tersedia di internet. 3
Proses pembelian dan penjualan produk atau jasa antara kedua belah pihak melalui internet dikenal dengan istilah e-commerce. Menurut Laudon dan Carol (2009), e-commerce adalah penggunaan internet dan website untuk bertransaksi bisnis. Sedangkan marketplace adalah istilah untuk fasilitator belanja online yang tidak memiliki inventarisasi barangnya sendiri. Dengan berbagai kesibukan masyarakat saat ini, bukan hanya masyarakat di kota besar saja tetapi juga seluruh wilayah hingga ke daerah mengalami kesulitan dalam membeli produk atau jasa langsung ke toko maka pelaku e-commerce maupun marketplace akan sangat berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Rata-rata pertumbuhan marketplace mendekati angka 100 % sedangkan e-commerce mancapai
2 Yuhefizar, HA Mooduto dan Rahmat Hidayat, Cara Mudah Membangun Website Interaktif Menggunakan Content Management System Joomla, Edisi Revisi, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2009), 2.
3 Wahana Komputer, Membangun Website Tanpa Modal, (Semarang: Penerbit ANDI, 2010), 1.
angka 289 % .4 Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan marketplace dan pelaku e-commerce di Indonesia sangat besar dan meningkat pesat.
Muslimarket.com adalah salah satu website belanja online muslim yang ada di Indonesia. Muslimarket.com merupakan website belanja online muslim terlengkap yang menyediakan berbagai kebutuhan seorang muslim mulai dari fashion, perabotan rumah tangga, kesehatan & kecantikan, gaya hidup, tas, sepatu, aksesoris, kebutuhan anak & bayi, batik dan perlengkapan ibadah. Selain itu muslimarket.com juga memberikan pelayanan bebas ongkos kirim dengan berbagai fasilitas pembayaran baik transfer maupun COD (cash on delivery) sehingga dapat memudahkan konsumen dalam melakukan transaksi pembelian.
Muslimarket.com memiliki nama domain yang mudah diingat.
Selain itu, dengan mendengar nama muslimarket.com sebenarnya masyarakat yang memahami artinya sudah dapat membayangkan barang apa saja yang ditawarkan didalamnya, terlebih lagi ada kata ‘muslim’ yang menggambarkan bahwa semua kebutuhan seorang muslim dapat dibeli melalui website muslimarket.com. Itulah sebabnya keberadaan muslimarket.com di Indonesia seharusnya dapat menjadi e-commerce berbasis syariah terbaik di Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim tertinggi di dunia. Sayangnya, pada hasil pengamatan awal peneliti dengan wawancara pada beberapa pengguna internet yang
4 comScore MMX Multi-Platform, Juni 2017, Indonesia dalam https://business.idntimes.com/economy/yoshi/pertumbuhan-e-commerce-indonesia-1/full diakses 17 Desember 2017 pukul 15.47 WIB
pernah melakukan pembelian produk melalui muslimarket, terdapat kekecewaan terutama karena lambatnya respon dalam melayani konsumen.
Hal ini mengindikasikan bahwa website muslimarket belum sepenuhnya optimal dalam melayani kebutuhan konsumen.
Selain itu, banyaknya pelaku e-commerce dan marketplace di Indonesia yang juga memberikan penawaran produk seperti muslimarket.com menjadi penyebab tingginya persaingan e-commerce dan marketplace. Pelaku e-commerce maupun marketplace berbasis syariah bersaing ketat dengan pelaku e-commerce maupun marketplace non syariah.
Itulah sebabnya website belanja online muslim seperti muslimarket.com harus meningkatkan dan memberdayakan website sebagai media pemasaran online yang efektif sehingga dapat meningkatkan jumlah konsumennya.
Muslimarket.com harus menampilkan website yang menarik dan mudah digunakan dan harus dapat menghilangkan ketidakbenaran informasi, ketertinggalan informasi, navigasi yang tidak sesuai, link rusak. Selain itu, harus mampu menjamin keamanan bertransaksi keuangan dan kecepatan respon dalam melayani konsumen. Itulah sebabnya, mengetahui pengaruh usability, information dan service interaction terhadap keputusan pembelian pada muslimarket.com sebagai e-commerce berbasis syariah di Indonesia menjadi penting untuk dilakukan.
B. Permasalahan
1. Identifikasi Permasalahan
Kemajuan bisnis syariah di Indonesia juga ditentukan oleh kemajuan pelaku bisnis syariah dalam memanfaatkan teknologi informasi dan internet.
Di era yang sudah serba canggih seperti sekarang ini, bisnis syariah juga merambah pada e-commerce. Perkembangan e-commerce berbasis syariah sendiri kini berkembang cukup baik di Indonesia. Hal tersebut tentu seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan internet. Website sebagai salah satu media pemasaran online dala berbisnis banyak dipilih karena berbagai keuntungan dan kelebihannya. Mulai dari kemudahan mengoperasikan website hingga keamanan dan jaminan produk sampai sesuai dengan diharapkan ikut meningkatkan faktor trust (kepercayaan) masyarakat Indonesia yang kini banyak menjadi online buyer (pembeli online).
Namun, sayangnya e-commerce berbasis syariah seperti muslimarket.com masih belum mampu meraih pasar dan bahkan belum cukup dikenal di masyarakat. Bahkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa pembeli online menunjukkan rasa kecewa karena website muslimarket.com dinilai belum optimal dalam memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggannya. Padahal seharusnya sebagai salah satu e-commerce penyedia berbagai kebutuhan muslim terbaik di Indonesia mampu memikat hati pelanggan dan calon pembeli di berbagai pelosok Indonesia karena nama domainnya yang mudah diingat dan produk-produk
muslim yang ditawarkannya berkualitas serta tersedianya jaminan keamanan bertransaksi.
Muslimarket.com dituntut untuk tampil menarik dan mudah digunakan juga harus dapat menghilangkan ketidakbenaran informasi, ketertinggalan informasi, navigasi yang tidak sesuai, link rusak. Selain itu, harus mampu menjamin keamanan bertransaksi keuangan dan kecepatan respon dalam melayani konsumen sehingga dapat meningkatkan minat beli masyarakat di Indonesia. Muslimarket.com harus mampu berpacu dengan e-commerce lainnya yang menawarkan produk yang sama sebagai wujud upaya untuk memenangkan persaingan bisnis. Terutama karena muslimarket.com dinilai berpotensi untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Belum lagi, muslimarket.com adalah satu-satunya e-commerce yang juga memberikan layanan berzakat secara online yang bekerjasama dengan Baznas dan Dompet Dhuafa. Inilah
2. Batasan Permasalahan
Penelitian ini membatasi fokus penelitian pada 3 instrumen pengukur kualitas website (Webqual 4.0) yaitu: Usability, Information dan Service Interaction. Dimana responden penelitian adalah mereka yang sudah pernah mengakses muslimarket.com.
3. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1) Apakah terdapat pengaruh usability terhadap minat beli pada muslimarket.com?
2) Apakah terdapat pengaruh information terhadap minat beli pada muslimarket.com?
3) Apakah terdapat pengaruh service interaction terhadap minat beli pada muslimarket.com?
C. Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh usability terhadap minat beli pada muslimarket.com.
2. Untuk mengetahui pengaruh information terhadap minat beli pada muslimarket.com.
3. Untuk mengetahui pengaruh service interaction terhadap minat beli pada muslimarket.com.
D. Signifikansi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pelaku bisnis berbasis syariah tentang pentingnya untuk memerhatikan kualitas website dimana website dimanfaatkan sebagai salah satu media pemasaran elektronik secara online atau disebut dengan e-marketing. E-commerce berbasis syariah harus mampu bersaing dengan e-commerce non syariah,
itulah sebabnya pada penelitian berbasis studi kasus di salah satu website belanja online muslim (www.muslimarket.com) ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kesadaran e-commerce berbasis syariah terhadap perlunya e-marketing yang efektif melalui pemanfaatan website, sehingga dapat turut memajukan ekonomi dan bisnis Islam.
E. Sistematika Penulisan
Penelitian ini disusun dalam 5 bab, dimana setiap bab terbagi menjadi beberapa subbab agar lebih memudahkan dalam memahami hubungan bab yang satu dengan bab lainnya. Sistematik penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan, berisi tentang latar belakang dan permasalahan sehingga penelitian menjadi penting untuk dilakukan. Selain itu juga berisi tentang tujuan, signifikansi dan sistematika penulisan.
Bab II Teori, berisi tentang kajian teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Teori- teori yang menjadi penguat keilmiahan penelitian ini.
Bab III Metode Penelitian, berisi tentang jenis penelitian, pendekatan penelitian, teknik penetapan responden dan teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini. Tahapan demi tahapan dijelaskan pada bab ini sehingga jelas alur penyelesaian masalah penelitian dengan metode analisis data yang dipergunakan.
Bab IV Hasil Penelitian, berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Pada bab ini, hasil akan digambarkan mulai dari gambaran karakteristik responden hingga hasil intepretasi analisis data yang dilakukan dalam menjawab tujuan penelitian.
Bab V Penutup, berisi tentang kesimpulan, implikasi dan saran.
BAB II TEORI A. Kajian Teori
a. E-commerce
E-commerce didefinisikan sebagai transaksi yang dilakukan melalui internet, baik itu berupa barang, jasa, informasi yang lainnya yang dapat ditransaksikan. 5 E-commerce meliputi: B2B (Business-to-Business), B2C (Business-to-Consumer) dan pengambilan informasi. 6 Sementara itu, ada juga yang mendefinisikan electronic commerce sebagai sebuah konsep yang sedang berkembang yang menggambarkan proses pembelian dan penjualan atau pertukaran produk, jasa dan informasi melalui telekomunikasi dan jaringan komputer termasuk internet. 7 Dimensi-dimensi e-commerce dapat dijelaskan melalui 3 dimensi yaitu:
produk, proses dan agen pengirima baik secara fisik maupun digital.
Selenglapnya dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini: 8
5 Brian C. Satterlee, E-Commerce, A Knowledge Base, (Amerika Serikat: iUniverse.com Inc., 2001), 1.
6 Ibid 2.
7 Mamta Bhusry, E-Commerce, (New Delhi: Laxmi Publication Pvt, Ltd., 2002), 3.
8 Amir Manzoor, E-Commerce An Introduction, (Amerika Serikat: Lambert Academic Publishing, 2010), 4.
Gambar 2.1 Dimensi-Dimensi E-Commerce
Selanjutnya Manzoor mengelompokkan e-commerce menjadi beberapa kategori diantaranya adalah: 9
1. Business-to-Business (B2B) 2. Business-to-Consumer (B2C)
3. Business-to-Business-to-Consumer (B2B2C) 4. Business-to-Government (B2G)
5. Consumer-to-Business (C2B) 6. Consumer-to-Consumer (C2C) 7. Business-to-Employee (B2E) 8. Government-to-Government (G2G) 9. Government-to-Business (G2B) 10. Government-to-Citizen (G2C)
9 Ibid, 8.
Perusahaan yang lama maupun yang baru dapat menyususn sebuah strategi konsep berbasis e-commerce. Strategi konsep untuk sektor e- commerce baru pada dasarnya dapat dijelaskan menjadi 2 jenis yaitu: 10 1. Perusahaan berupaya menciptkan sebuah produk atau jasa yang
benar-benar baru dimana sebuah teknologi baru dibutuhkan.
2. Perusahaan berupaya membuat sebuah eksekusi baru dari produk atau jsa yang telah ada sebelumnya misalnya: metode pengirimannya.
Diferensiasi adalah faktor kunci keberhasilan sebuah e-commerce baru.
11 Itulah sebabnya baik perusahaan lama maupun baru berkesempatan untuk memenangkan persaingan bisnis dengan strategi yang tepat.
Faktor-faktor keberhasilan kritis e-commerce dibagi menjadi 2 faktor yaitu: factor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor keberhasilan kritis e-commerce internal terdiri dari: 12
1. Jaminan Kualitas
Oleh karena pembeli tidak dapat melihat produk secara langsung maka jaminan kualitas menjadi penting ketika pembeli akan membeli produk tersebut. Hal ii menjadi kunci penting dalam e- commerce.
2. Pembelian Bantuan
10 Robert T. Plant, Ecommerce Formulation of Strategy, (Amerika Serikat: Prentice Hall, 2000), 5
11 Ibid, 5
12 Amir Manzoor, Op. Cit., 15.
Pembelian bantuan ini adalah dalam rangka meningkatkan jumlah produk dan jasa yang ditawarkan secara online misalnya dengan meningkatkan mekanisme penjualan, mesin pencarian (search engines), bantuan belanja online, jasa perantara dan tampilan dalam berbagai bahasa sehingga makin banyak penjual dan pembeli yang ingin bergabung menggunakan e-commerce.
3. Insentif Pembelian
Peningkatan e-commerce dapat memberikan banyak opsi inovasi, itulah sebabnya perusahaan sebaiknya memikirkan insentif apa yang diberikan kepada pelanggan ketika mereka membeli produk tersebut.
4. Peningkatan Kepercayaan dan Keamanan
Persepsi pelanggan terhadap privasi dan keamanan yang rendah, keduanya dapat menurunkan kepercayaan pelanggan terutama pada kategori e-commerce B2C da B2B. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kepercayaan dan keamanan agar pelangga mau bertransaksi.
5. Penanganan Informasi Pelanggan yang Efisien
Dengan semakin banyaknya informasi pelanggan yang terkumpul pada website e-commerce itu artinya perusahaan perlu menemukan cara untuk mengelol informasi tersebut degan efisien baik dengan menggunakan data warehouse, data mning dan agen intelijen secara
konstan terhadap pelanggan, sehingga dapat mengendalikan pemasaran dan aktivitas jasa.
6. Organisasi Inovatif
Diperlukan model bisnis baru dengan menggunakan teknologi informasi, karena jumlah model bisnis pada e-commerce tidak terbatas hanya pada imajinasi manusia saja.
7. Outsourcing
Outsourcing dapat dilakukan pada kegiatan utama seperti: distribusi, produksi dan sumber daya manusia. Outsourcing dapat membawa banyak keuntungan seperti mengurangi biaya dan menajdi lebih responsif terhadap perubahan pasar.
Sementara itu, faktor-faktor keberhasilan kritis e-commerce eksternal diantaranya adalah: 13
1. Penggunaan Internet
Faktor dominan yang memengaruhi pertumbuhan e-commerce di dunia adalah peningkatan jumlah pengguna yang terhubung dengan internet.
2. Perangkat Mobile dan Broadband
Semakin kekinian penetrasi broadband dan semakin kekinian penggunaan perangkat mobile juga akan meningkatkan e-commerce.
3. E-Retailer
13 Amir Manzoor, Op. Cit., 16.
Kehadiran e-retailer (pedagang eceran elektronik) adalah hal penting lainnya yang memengaruhi e-commerce.
4. Pembelian Jumlah Besar oleh Pembeli dan Penjual
Pembelian jumlah besar menjadi faktor dominan penentu keberhasailan sebuah usaha baru B2B. Karena pembelian jumlah besar mampu meningkatkan keuntungan, membuat pasar semakin efisien dan mengembangkan persaingan yang jujur dan kuat.
5. Persaingan
Pada e-commerce, mengurangi biaya pencarian dan meningkatkan kekuatan menawar pelanggan dapat mengurangi margin keuntungan jangka panjang bagi penjual karena meningkatkan jumlah transaksi.
Industri-industri akan memiliki persaingan yang tinggi dengan hambatan masuk yang rendah ketika akan bergabung di e- commerce.
6. Karakteristik Pelanggan
Pada pasar-pasar elektronis (e-market), pelanggan diperlukan untuk membuat seberapa besar usaha seperti: pencarian, analisis, dan pembuatan keputusan pembelian).
7. M-Commerce
Semakin meningkatnya pengguna telepon seluler yang diprediksi akan terus meningkat ke depannya, juga akan turut berperan dalam e-commerce.
8. Komunitas Virtual
Komunitas-komunitas virtual (maya) dapat meningkatkan aktivitas jual beli secara online. Komunitas-komunitas yang diatur secara professional dapat memfasilitasi e-commerce B2B dan B2C.
9. Sistem Pembayaran
Penggunaan e-cash (electronic cash) dan micropayment online sangat menarik dan dapat membuat sistem pembayaran B2B semakin baik. Sebuah standar internasional menjadi sebuah norma dan sistem tersebut dapat diimplementasikan pada skala besar sehingga pembayaran elektronik tersebut dalam diperluas secara global, memfasilitasi e-commerce.
10. Integrasi Teknologi
E-commerce B2B diharapkan dilanjutkan mendominasi bidang e- commerce di masa depan. Semakin banyak penjual semakin banyak pembeli dan semakin banyak jasa yang diharapkan muncul dan berkembang pesat. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (Informatioan and Communication Technology) adalah faktor kunci pertumbuhan e-commerce.
11. Undang-Undang E-commerce
Proses perundang-undangan berjalan lambat, terutama ketika beberapa Negara terlibat didalamya. Perkembangan perundang- undangan nonregulator menjadi faktor kunci pertumbuhan e- commerce dunia.
b. E-Marketing
Cara paling mudah untuk memahami e-marketing adalah memahami terlebih dahulu marketing (pemasaran). Pemasaran adalah proses dimana produk (barang dan jasa) dikembangkan dan dibawa ke pasar. 14 Terdapat 7 dasar pemasaran yang juga terkait dengan e-marketing, diantaranya adalah: 15
1. Citra Perusahaan
Setiap perusahaan memiliki citra, baiknya citra akan sangat membantu meningkatkan pasar sehingga produk perusahaan juga semakin dikenal. Sebaiknya, citra negatif atau citra buruk perusahaan akan menghambat keberhasilan perusahaan.
2. Positioning
Ketika citra perusahaan sudah dapat didefinisikan, hal penting yang harus dimulai pada pemasaran produk perusahaan adalah positioning. Positioning berhubungan dengan citra produk.
3. Citra Perusahaan dan Positioning
Banyak orang merasa bingung dengan citra perusahaan dengan positioning, citra produk. Kebanyakan perusahaan menurunkan setidaknya sedikit bagian dari citra perusahaan ke citra produk mereka.
14 Ira S. Kalb, E-Marketing, what went wrong and how to do it right, (California: K&A Press, 2002), 6.
15 Ibid, 9.
Hal lainnya yang perlu diketahui terkait e-marketing adalah sistem informasi pemasaran (marketing information system). Dalam hal ini, sistem informasi pemasaran bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, melaporkan dan mengambil tindakan pada informasi pasar kritis dalam rangka medapatkan target pasar yaitu apa yang mereka inginkan dan untuk memastikan kepuasan pelanggan. Internet mungkin adalah alat yang paling efektif yang pernah ditemukan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi pasar. 16
Organisasi umum e-marketing dapat dilihat pada Gambar 2.2. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa 4 poin penting yang memiliki peranan penting yaitu: Manajer Web/Online, Asisten Riset, Asisten Periklanan dan Riset Pemasaran. Beberapa perusahaan tugas pemasaran online dipisahkan dari saluran pemasaran lain dan aktivitas-aktivitas online dijalankan pada level Wakil Presiden. Terkadang di beberapa perusahaan diorganisasikan menurut garis produk. Copy writer, personalia grafis, fotografer dan yang lainnya terlibat dalam proses periklanan. Riset pemasaran kini berkembang ke dalam sistem informasi pemasaran dalam perusahaan yang berkembang.
16 Ibid, 12.
Gambar 2.2 Organisasi Umum E-Marketing Tujuan utama dari e-marketing adalah: 17
1. Menyediakan informasi dan atau mengumpulkan informasi dari pasar pada waktu yang ril atau berbasis waktu.
2. Meraih pasar yang lebih besar dengan cara yang yang efektif dan efisien.
3. Menciptakan suasana yang ramah, mengundang, terbuka dan meyakinkan pengunjung untuk kembali lagi untuk memuaskan keinginan dan hasratnya.
4. Memampukan pengunjung terhbung dengan website perusahaan lain untuk mampu memenuhi kebutuhan sehingga mendapatkan kepuasan.
5. Mengumpulkan pembelian produk termasuk jasa, ide dan produk intangible lainnya.
6. Memfasilitasi penjualan silang (cross-selling) ata penjualan barang dan jasa tambahan ketika pembeli membeli barang tertentu.
17 Ibid, 31.
7. Mengedukasi prospek, pelanggan dan public lainnya pada perusahaan dan produk.
8. Menciptakan daya tarik pada perusahaan dan produk.
9. Mendapatkan perhatian prospek.
10. Membuat proyek dengan gambar, kepribadian dan budaya yang diminati.
11. Membuat publik mengingat perusahaan, produk dan website.
12. Membuat publik menyimpan (bookmark) website. Membuat mereka menghabiskan waktu dan kembali lagi dan lagi.
13. Mengembangkan hubungan positif dengan target pasar dan anggota publik lainnya.
14. Menciptakan dan memperbaiki hubungan-hubugan dalam proses pemasaran.
15. Mengeliminiasi kesia-siaan dan inefisiensi dari proses pemasaran.
16. Mendiferensiasikan produk dan perusahaan dari persaingan.
17. Menebarkan benih sehingga jumlah yang dipanen meningkat yakni penjualan
18. Mengomunikasikan keuntungan-keuntungan dari produk dan perusahaan.
19. Membuat target pasar yang nyaman ketika mencari, membeli dan menggunakan produk perusahaan.
20. Menciptakan dan mendorong lahirnya ide, produk dan jasa baru.
21. Mendapatkan produk di tangan pelanggan dengan cara paling efektif.
22. Memberikan pelanggan apa yang mereka mau-nilai yang bagus.
23. Mengumpulkan umpan balik dari target pasar dan pengunjung website pada waktu yang ril.
24. Menciptakan pyramid word-of-mouth yang positif (viral marketing) tentang perusahaan dan produk.
25. Menciptakan kepuasan dan loyalitas pelanggan.
c. Kualitas Website
Menurut Dorothea (2004), konsep kualitas harus bersifat menyeluruh, baik produk maupun prosesnya. Kualitas produk meliputi kualitas bahan baku dan barang jadi sedangkan kualitas proses meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan proses produksi perusahaan manufaktur dan proses penyediaan jasa atau pelayanan perusahaan jasa. Itulah sebabnya kualitas sudah seharusnya dibangun sejak awal mulai dari penerimaan input hingga menghasilan output bagi pelanggannya. Menurut Rahmat (2010), website adalah keseluruhan halaman-halaman web yang terdapat dalam sebuah domain yang mengandung informasi. Oleh karena itu kualitas website adalah kualitas dari sebuah website mulai dari input hingga output yang dirasakan pelanggan secara menyeluruh pada semua halaman web yang terdapat pada domain yang mengandung berbagai informasi yang dibutuhkan pelanggan.
d. Webqual 4.0
Adapun Webqual 4.0 menilai kualitas website dengan dilihat dari 3 kategori yaitu : usability, information quality dan service interaction
quality. Webqual 4.0 adalah penyempuranan dari Webqual 1.0, Webqual 2.0 dan Webqual 3.0 sehingga Webqual 4.0 adalah alat analisis kualitas website yang terbaru dibandingkan ketiga sebelumnya. Berikut adalah kategori dan pertanyaan-pertanyaan pada Webqual 4.0 18: Tabel 2.1 Kategori dan Pertanyaan pada Webqual 4.0
Kategori Pertanyaan-Pertanyaan pada Webqual 4.0 Usability
(kegunaan)
1. Saya mendapati website mudah untuk dipelajari dan dioperasikan
2. Interaksi saya dengan website jelas dan dapat dipahami
3. Saya mendapati website mudah dinavigasikan 4. Saya mendapati website mudah untuk
digunakan
5. Website memiliki tampilan yang atraktif 6. Website memiliki desain yang sesuai
7. Website mengandung nilai kompetensi (memiliki daya saing)
8. Website mampu menciptakan pengalaman yang positif bagi saya
Information (informasi)
9. Menyediakan informasi yang akurat
10. Menyediakan informasi yang dapat dipercaya 11. Menyediakan informasi yang tepat waktu 12. Menyediakan informasi yang relevan
18 Barnes, S dan Vidgen, R, “An Integrative Approach to the Assessment of E-Commerce Quality”, Journal of Electronic Commerce Research, Vol.3 No.3, 2002, hlm. 116
13. Menyediakan informasi yang mudah dipahami 14. Menyediakan informasi yang terperinci 15. Menyajikan informasi dengan format yang
sesuai Service
Interaction
(interaksi layanan)
16. Memiliki reputasi yang baik
17. Terasa aman dalam menyelesaikan berbagai transaksi
18. Data pribadi terjaga
19. Menciptakan rasa personalisasi 20. Menyampaikan rasa kebersamaan
21. Membuat semakin mudah berkomunikasi dengan perusahaan
22. Saya merasa yakin bahwa barang atau jasa yang dikirim sesuai dengan yang dijanjikan Diterjemahkan oleh peneliti (2017)
e. Minat Beli
Minat beli merupakan keinginan yang muncul dalam diri seorang konsumen terhadap suatu produk sebagai dampak dari suatu proses pengamatan dan pembelajaran konsumen tersebut terhadap produk yang telah diamati atau dipelajari. Minat beli adalah rangkaian dari proses keputusan pembelian konsumen. Minat beli sering juga disebut sebagai niat pembelian. Dalam melakukan suatu niat pembelian, konsumen dapat membuat hingga enam sub-decision diantaranya: pilihan produk, pilihan merek, pilihan penjual, jumlah pembelian, waktu pembelian dan metode pembayaran.
Sementara itu, dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, minat diartikan sebagai keinginan, kehendak dan kesukaan. 19 Abdurrahman Saleh menyatakan bahwa minat merupakan sutu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai perasaan senang. 20 Ada juga yang mendefinisikan minat sebagai kecenderungan dan keinginan yang besar terhadap sesuatu yang terdiri dari suatu campuran perasaan senang, harapan, perasaan tertarik, pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauan dan kecenderungan- kecenderungan yang lain yang mengarahkan individu kepada pilihan atau motif. 21 Minat juga menunjukkan suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh dan memaksa. 22 Oleh karena itu minat mempunyai hubungan yang erat dengan dorongan- dorongan, motif-motif dan respon-respon emosional. 23
Minat beli (niat beli) terhadap suatu produk timbul karena adanya dasar kepercayaan terhadap produk yang diiringi dengan kemampuan untuk membeli produk. 24 Selain itu, minat beli terhadap suatu produk juga dapat terjadi dengan adanya pengaruh dari orang lain yang dipercaya oleh calon konsumen. Minat beli juga timbul apabila seseorang
19 Sofiyah Ramdhani, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Karya Agung, 2002), 400.
20 Abdul Rahman Saleh dan Muhib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), 263.
21 Michael Amstrong, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Elex Komputindo, 2005), 53.
22 Komaruddin, Kampus Perbankan, (Jakarta: Grafindo, 2000), 94.
23 Handoko dan Basu Swastha, Manajemen Pemasaran Analisis Perilaku Konsumen, (Yogyakarta:
BPFE, 2014), 205.
24 Bilson Simamora, 2011, Riset Pemasaran (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011), hlm.
106
sangat tertarik terhadap berbagai informasi seputar produk yang diperoleh melalui iklan, pengalaman orang lain yang telah menggunakannya dan kebutuhan mendesak terhadap produk tersebut.
Minat memiliki sifat dan karakter khusus sebagai berikut:25
1. Minat bersifat pribadi (individual), ada perbedaan antara minat seseorang dan orang lain.
2. Minat menimbulkan efek diskriminatif.
3. Erat hubungannya dengan motivasi, memengaruhi dan dipengaruhi motivasi.
4. Minat merupakan sesuatu yang dipelajari, bukan bawaan lahir dan dapat berubah tergantung pada kebutuhan, pengalaman dan mode.
Minat beli dapat diidentifikasi melalui indicator-indikator sebagai berikut:
26
1. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untk membeli produk.
2. Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain.
3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut.
Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
25 Umar Husein, Manajemen Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 2010), hlm. 45
26 Augusty Ferdinand, Metode Penelitian Manajemen, (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006), hlm. 129
4. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
Terdapat banyak faktor yang memengaruhi timbulnya minat terhadap sesuatu, secara garis besar dikelompokkan menjadi 2 yaitu: yang bersumber dari dalam individu yang bersangkutan dan yang berasal dari luar. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:
1. Faktor Budaya
Kebudayaan dinilai paling fundamental dalam menentukan keinginan atau perilaku seseorang.
2. Faktor Sosial
Terdiri dari semua kelompok acuan yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung
3. Faktor Pribadi
Kepribadian menjelaskan ciri seperti: kepercayaan diri, perbedaan, kondisi sosial, kemampuan pembelaan diri dan kemampuan beradaptasi.
4. Faktor Psikologi
Termasuk didalamnya adalah kepercayaan dan sikap pendirian.
Kepercayaan adalah pikiran deskriptif yang dianut seseorang mengenai suatu hal. Sedangkan pendirian adalah evaluasi kognitif yang
menguntungkan, perasaan emosional, dan kecenderungan tindakan yang mapan dari seseorang terhadap suatu objek. 27
Faktor-faktor lainnya yang juga melatarbelakangi minat adalah:
1. Faktor Kebutuhan dari Dalam
Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
2. Faktor Motif Sosial
Timbulnya minat dalam diri seseorang dapat didorong oleh motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, penghargaan dari lingkunga dimana dia berada.
3. Faktor Emosional
Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang dalam menaruh perhatian terhadap sesuatu atau objek tertentu. 28
Model Webqual 4.0 terhadap minat beli diilustrasikan dalam Gambar 2.3 di bawah ini:
27 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2000), 243.
28 Gito Sudarmo dkk, Perilaku Keorganisasian, (Yogyakarta: BPFE, 2000), 112.
H1 (+)
H2 (+)
H3 (+)
Gambar 2.3 Model Webqual 4.0 terhadap Minat Beli B. Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan analisis kualitas website sudah banyak dilakukan di Indonesia maupun di mancanegara.
Namun, analisis website pada pelaku e-commerce berbasis syariah masih terbatas. Penelitian terdahulu tersebut berasal dari jurnal, publikasi seminar nasional dan e-proceeding. Berikut adalah ringkasan dari beberapa penelitian terdahulu sebagai kajian pustaka pada penelitian ini :
Tabel 2. Ringkasan Penelitian Terdahulu Tahun 2015-2017 No. Nama
Peneliti dan Tahun
Judul Hasil Kesamaan
dengan Penelitian 1. Arifin,
Nugroho dan Hantono (2015)
Analisis kualitas layanan website Universitas
Hasanuddin dengan
Terdapat perbedaan (gap) antara persepsi aktual dan harapan ideal mahasiswa pada masing-masing
- Webqual 4.0 Usability
Information
Service Interaction
Minat Beli
metode Webqual 4.0 Modifikasi
dimensi kualitas layanan website.
2. Syaifullah dan Soemantri (2016)
Pengukuran
kualitas website dengan
menggunakan Webqual 4.0 (studi kasus : CV. Zamrud Multimedia
Network)
Variabel interaksi pelayanan memiliki pengaruh yang paling
dominan terhadap
kepuasan konsumen.
- Webqual 4.0 - Analisis
Regresi Berganda
3. Rendi
Maulana dan Kezia
Kurniawati (2014)
Pengaruh kualitas e-service terhadap
minat beli
konsumen (studi kasus pada website Koren Denim)
Terdapat pengaruh signifikan kualitas e- service terhadap ketertarikan pembelian konsumen pada website Koren Denim
- Analisis deskriptif - Minat beli - Analisis
regresi
4. Nur Resky Sari (2017)
Pengaruh kualitas website terhadap minat beli pada toko online Lazada Indonesia
menggunakan analisis jalur
Kualitas website
berpengaruh terhadap minat beli secara signifikan
- Webqual 4.0 - Minat beli
5. Nugroho dan Sari (2016)
Analisis pengaruh kualitas website
Usability dan service interaction berpengaruh
- Webqual 4.0
Tokopedia terhadap kepuasan pengguna menggunakan metode Webqual 4.0
positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna.
- Analisis deskriptif
6. Astuti dan Sari (2016)
Analisis kualitas website lazada Indonesia
berdasarkan metode Webqual 4.0 dan pengaruhnya terhadap kepuasan pengguna
Ketiga variabel Webqual 4.0 (usability, information dan service interaction) berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan pengguna website.
- Webqual 4.0 - Analisis
regresi berganda
7. Sastika (2016)
Analisis pengaruh kualitas website (Webqual 4.0) terhadap keputusan pembelian pada
website e-
commerce Traveloka
Variabel Webqual 4.0 berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
- Webqual 4.0
8. Ghafiki dan Setyorini (2017)
Pengaruh kualitas website terhadap keputusan
pembelian pada
Variabel kualitas website berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Variabel
- Webqual 4.0 - Analisis
deskriptif
situs
bukalapak.com
usability memiliki pengaruh paling besar terhadap keputusan pembelian.
- Analisis regresi berganda
9. Burnirma dan Wardhana (2017)
Analisis kualitas website tiket.com
Kualitas aktual yang dirasakan belum bisa memenuhi kualitas ideal yang diinginkan pengguna website.
- Webqual 4.0
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dimana penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian berdasarkan prosedur statistik atau dengan cara lain dari kuantifikasi untuk mengukur variabel- variabel penelitian. Pendekatan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang identik dengan pendekatan deduktif, yaitu berangkat dari pemasalahan umum (teori) ke khusus 29.
Penelitian kuantitatif dilakukan dengan mengumpulkan angka dimana data yang berupa angka tersebut kemudian diolah dan dianalisis untuk mendapatkan suatu informasi ilmiah dibalik angka-angka tersebut.
Pada penelitian kuantitatif, ilmu diposisikan sebagai cara terbaik memeroleh pengetahuan. Ilmu dimaknai sebagai sumber pengetahuan yang paling objektif. 30
B. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmiah dimana pengetahuan yang diperoleh dari pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah dan dibangun di atas toeri tertentu. Teori tersebut berkembang melalui penelitian ilmiah yaitu penelitian yang sistematik dan terkontrol berdasar atas data empiris. Teori tersebut kemudia dapat diuji dalam hal keajegan dan
29 Asnawi, Nur dan Masyhuri, Metode Riset Pemasaran (Malang: UIN Maliki Press, 2011), 19
30 Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif, Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder, Edisi Revisi, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011), 23.
kemantapan internalnya. Artinya jika penelitian diulang dengan langka- langkah yang sama pada keadaan yang sama maka akan diperolehlah hasil yang ajeg (konsisten) atau hampir sama dengan penelitian terdahulu. 31 C. Teknik Penetapan Responden
Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu: data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh hasil kuesioner elektronik yang dibagikan kepada masyarakat secara online. Sampel yang baik adalah yang lebih ekonomis dari tenaga, waktu dan biaya. 32 Itulah sebabnya sampel pada penelitian ini diperoleh melalui penyebaran kuesioner secara elektronik unttuk menjangkau responden yang lokasinya jauh dari peneliti sehingga sebaran kuesioner menjadi lebih luas dan diharapkan lebih mewakili hasil penelitian.
Sampel dalam penelitian sekaligus sebagai responden penelitian ditentukan secara sengaja (purposive sampling) dengan kriteria tertentu yaitu responden adalah mereka yang pernah membeli produk pada muslimarket.com. Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu dimana pemilihan responden sebagai sampel dengan memilih orang yang benar-benar mengetahui atau memiliki kompetensi dengan topik penelitian kita. 33
a. Populasi
31 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2015), 6
32 Nanang Martono, Op. Cit, 82.
33 Nanang Martono, Loc. Cit, 79.
Dimana populasi adalah seluruh pengguna internet di Indonesia saat ini yaitu: 143.260.000 orang.
b. Sampel
Sedangkan jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin34 dengan tingkat kesalahan 10 %.
𝑛 = N
1 + N𝑒2 Dimana :
n : jumlah sampel
N: jumlah populasi
e: batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Berdasarkan rumus tersebut, maka jumlah sampel pada penelitian ini adalah 99,99 atau dibulatkan menjadi 100 orang dari berbagai wilayah di Indonesia.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, data dari instansi pemerintah atau swasta yang memiliki hubungan dengan fokus penelitian.
D. Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul lalu kemudian diolah. Data yang berasal dari kuesioner elektronik penelitian akan terlebih dahulu diseleksi. Cara seleksinya adalah berdasarkan hasil uji validitas dan reliabiliasnya. Uji reliabilitas adalah pengujian untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan
34 Sevilla, Consuelo G. et. al (2007). Research Methods. Rex Printing Company. Quezon City.
reliabel dan handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengukuran uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara one shot (pengukuran sekali saja).
Disini pengukuran hanya dilakukan sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan ciri Cronbach Alpha > 0,60 Nunnaly.
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Pengukuran validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan corrected item-total correlation35. Kemudian data yang diperoleh akan dianalisis lebih lanjut dan komprehensif dengan analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. Pengolahan data akan dilakukan dengan bantuan Microsoft Excel dan SPSS versi 22.
a. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah metode dalam meneliti status kelompok, manusia, suatu objek, suatu set keadaan, suatu sistem pemikiran maupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Analisis deskriptif merupakan penggambaran suatu data yang akan dibuat sendiri maupun kelompok dimana penyajiannya dapat menggunakan pengukuran
35 Ghozali, Imam, Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Edisi ketiga, (Semarang:
Universitas Diponegoro), hlm. 49
tendensi sentral (mean, modus, median) dan pengukuran penyimpangan (range, standard deviation dan variance), juga dibahas tentang grafis dan diagram. Penelitian ini juga akan menggunakan analisis deskriptif untuk menjelaskan gambaran umum dari responden penelitian serta penilaian persepsi responden terhadap variabel yang diteliti.
Tahap-tahap pemeriksaan data sebelum dilakukan analisis regresi berganda adalah dengan beberapa uji yaitu 36:
1. Uji Normalitas Error: dapat dilakukan dengan melihat distribusi histogram, Normal PP Plot of Regression Standardized Residual dan pengujian hipotesis standardized residual melalui Unji Kolmogorov- Smirnov.
2. Uji Heteroskedastisitas: menggunakan metode grafik dimana jika pencaran data bbersifat acak dan tidak membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3. Uji Otokorelasi: dilakukan dengan uji Durbin Watson.
Tolak H0 jika
Nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model lebih besar daripada nilai Durbin Watson table batas bawah (dL), yang berarti terdapat masalah otokorelasi positif (d > dL).
Atau, nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model terletak di anatra nilai (4-dL < d < 4).
36 Yamin, Sofyan, Lien A. Rachmah dan Heri Kurniawan, Regresi dan Korelasi dalam Genggaman Anda: Aplikasi dengan Software SPSS, Eviews, MINITAB dan STATGRAPHICS, (Jakarta : Salemba Empat), hlm. 31
Terima H0 jika
Nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model terletak di antara nilai (4-dL < d< 4).
4. Uji Multikolinearitas: jika nilai VIF > 10 menunjukkan adanya gejala multikolinearitas dan jika nilai Index melebihi 30 menunjukkan adanya gejala multikolinearitas.
b. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi adalah analisis yang bertujuan untuk menunjukkan pengaruh matematis antara variabel respon dengan variabel penjelas.
Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel usability (X1), information (X2) dan service interaction (X3) terhadap minat beli (Y), dengan persamaan regresi berganda sebagai berikut :
𝑌 = 𝛽0 + 𝑏1𝑋1 + 𝑏2𝑋2 + 𝑏3𝑋3 + 𝑒 Dimana :
Y = Variabel dependen (Minat Beli) a = Konstanta
b1; b2; b3 = Koefisien regresi X1 = Usability
X2 = Information
X3 = Service Interaction E = error
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian dipaparkan dengan 2 bagian yaitu dimulai dari pemaparan gambaran karakteristik responden penelitian dan hasil analisis data.
Gambaran karakteristik responden dipaparkan dengan menggunakan grafik sehingga lebih mudah dalam memahaminya. Pada penelitian ini jumlah kuesioner elektronik yang telah diisi oleh responden dengan kurun waktu yang dijadwalkan, total ada sebanyak 102 buah. Namun karena ada 2 kuesioner elektronik yang isinya kurang lengkap maka tidak dipergunakan. Oleh karena itu, sesuai dengan ketetapan sampel pada penelitian maka jumlahnya tepat 100 responden.
Gambaran Karakteristik dan Perilaku Responden Penelitian
Berdasarkan Gambar 4.1, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian berdomisili di Sumatera Utara yakni sebanyak 35 orang lalu diikuti DKI Jakarta sebanyak 22 orang dan Jawa Barat sebanyak 17 orang. Sebaran domisili responden pada penelitian selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini.
Gambar 4.1 Sebaran Domisili Responden Penelitian
Berdasarkan Gambar 4.2, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian berjenis kelamin perempuan yakni sebanyak 75 orang, laki-laki sebanyak 25 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut ini.
Gambar 4.2 Jenis Kelamin Responden Penelitian
0 5 10 15 20 25 30 35 40
DI Aceh Sumut Bangka Belitung Pekanbaru Sumbar Sumsel DKI Jakarta Tangerang Jabar Jateng Jatim Bali
DI
Aceh Sumut Bangk
a Belitun
g
Pekan baru
Sumba
r Sumsel DKI Jakarta
Tanger
ang Jabar Jateng Jatim Bali
Series1 2 35 1 1 4 1 22 3 17 10 2 2
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Laki-Laki Perempuan
Laki-Laki Perempuan
Jumlah 25 75
Berdasarkan Gambar 4.3, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian berusia > 29 tahun yakni sebanyak 62 orang, diikuti oleh responden yang berusia 21-29 tahun sebanyak 31 orang lalu yang berusia < 20 tahun sisanya yakni 7 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut ini.
Gambar 4.3 Sebaran Usia Responden Penelitian
Berdasarkan Gambar 4.4, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian berprofesi sebagai karyawan swasta sebanyak 35 orang, diikuti oleh responden yang berprofesi PNS (Pegawai Negeri Sipil) sebanyak 24 orang lalu yang berprofesi pelajar/mahasiswa, sisanya sebanyak 20 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut ini.
0 10 20 30 40 50 60 70
< 20 Tahun 21-29 Tahun
> 29 Tahun
< 20 Tahun 21-29 Tahun > 29 Tahun
Jumlah 7 31 62
Gambar 4.4 Pekerjaan Responden Penelitian
Berdasarkan Gambar 4.5, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian yang berstatus menikah yakni sebanyak 61 orang, diikuti oleh responden yang berstatus belum menikah yakni sebanyak 39 orang.
Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.5 berikut ini.
Gambar 4.5 Status Responden Penelitian
0 5 10 15 20 25 30 35 40
Ibu Rumah Tangga Karyawan Swasta Wiraswasta (Pengusaha) PNS Pelajar/Mahasiswa Akademisi
Ibu Rumah Tangga
Karyawan Swasta
Wiraswasta
(Pengusaha) PNS Pelajar/Maha
siswa Akademisi
Jumlah 9 35 5 24 20 7
0 10 20 30 40 50 60 70
Menikah Belum Menikah
Menikah Belum Menikah
Jumlah 61 39
Berdasarkan Gambar 4.6, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian memiliki tanggungan 1 orang yakni sebanyak 63 orang, diikuti oleh responden yang memiliki tanggungan sebanyak 2 orang yakni sebanyak 23 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.6 berikut ini.
Gambar 4.6 Jumlah Tanggungan Responden Penelitian
Berdasarkan Gambar 4.7, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian berpendidikan terakhir Sarjana (S1) yakni sebanyak 47 orang, diikuti oleh responden yang berpendidikan terakhir SLTA/SMA yakni sebanyak 30 orang lalu yang berpendidikan terakhir Pascsarjana (S2) sebanyak 19 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.7 berikut ini.
0 10 20 30 40 50 60 70
1 orang 2 orang 3 orang
> 3 orang
1 orang 2 orang 3 orang > 3 orang
Jumlah 63 23 8 6
Gambar 4.7 Pendidikan Terakhir Responden Penelitian
Berdasarkan Gambar 4.8, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian berpendidikan < Rp 2.500.000 yakni sebanyak 40 orang, diikuti oleh responden yang berpenghasilan Rp 2.500.000-Rp 5.000.000 yakni sebanyak 39 orang lalu yang berpendapatan > Rp 5.000.000 sebanyak 21 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.8 berikut ini.
Gambar 4.8 Pendapatan per Bulan Responden Penelitian
0 10 20 30 40 50
SLTP/SMP SLTA/SMA Diploma Sarjana (S1) Pasca Sarjana (S2) Doktoral (S3)
SLTP/SMP SLTA/SMA Diploma Sarjana (S1) Pasca Sarjana (S2)
Doktoral (S3)
Jumlah 2 30 1 47 19 1
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
< Rp 2.500.000 Rp 2.500.000 - Rp 5.000.000
> Rp 5.000.000
< Rp 2.500.000 Rp 2.500.000 - Rp
5.000.000 > Rp 5.000.000
Jumlah 40 39 21
Berdasarkan Gambar 4.9, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian memiliki pengeluaran per bulan < Rp 2.500.000 yakni sebanyak 88 orang, diikuti oleh responden yang memiliki pengeluaran per bulan Rp 2.500.000-Rp 5.000.000 yakni sebanyak 11 orang, lalu yang memiliki pengeluaran per bulan > Rp 5.000.000 sebanyak 1 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.9 berikut ini.
Gambar 4.9 Jumlah Pengeluaran per Bulan Responden Penelitian Berdasarkan Gambar 4.10, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian memiliki pengeluaran per bulan untuk internet Rp 50.000 - Rp 100.000 yakni sebanyak 50 orang, diikuti oleh responden yang memiliki pengeluaran per bulan untuk internet Rp100.000 - Rp 150.000 yakni sebanyak 44 orang, lalu yang memiliki pengeluaran per bulan < Rp 50.000 sebanyak 6 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.10 berikut ini.
0 20 40 60 80 100
< Rp 2.500.000 Rp 2.500.000 - Rp 5.000.000
> Rp 5.000.000
< Rp 2.500.000 Rp 2.500.000 - Rp
5.000.000 > Rp 5.000.000
Jumlah 88 11 1
Gambar 4.10 Jumlah Pengeluaran untuk Internet per Bulan Responden Penelitian
Berdasarkan Gambar 4.11, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian memiliki akses internet dari rumah/tempat kerja/warung internet yakni sebanyak 70 orang, diikuti oleh responden yang memiliki akses internet dari rumah yakni sebanyak 17 orang, lalu yang memiliki akses internet dari tempat kerja sebanyak 9 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.11 berikut ini.
Gambar 4.11 Kepemilikian Akses Internet Responden Penelitian
0 10 20 30 40 50 60
< Rp 50.000 Rp 50.000 - Rp 100.000 Rp 100.000- Rp 150.000
< Rp 50.000 Rp 50.000 - Rp 100.000 Rp 100.000- Rp 150.000
Jumlah 6 50 44
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Dari Rumah Dari Tempat Kerja Dari Warung Internet Dari Rumah/Tempat Kerja/Warung
Internet
Dari Rumah Dari Tempat Kerja Dari Warung Internet
Dari Rumah/Tempat
Kerja/Warung Internet
Jumlah 17 9 4 70
Berdasarkan Gambar 4.12, diketahui bahwa mayoritas responden penelitian mengakses internet 2 kali atau lebih dalam sehari yakni sebanyak 96 orang, diikuti oleh responden yang penelitian mengakses internet sekali dalam sehari yakni sebanyak 2 orang, lalu yang penelitian mengakses internet sekali dua hari sebanyak 1 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.12 berikut ini.
Gambar 4.12 Frekuensi Akses Internet
Berdasarkan Gambar 4.13, diketahui bahwa latar belakang penggunaan internet mayoritas responden penelitian adalah mencari informasi yakni sebanyak 36 orang, diikuti oleh latar belakang penggunaan internet mengisi waktu senggang yakni sebanyak 22 orang, lalu latar belakang penggunaan internet mencari hiburan (game, musik, nonton film, dll) sebanyak 18 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.13 berikut ini.
0 20 40 60 80 100 120
2 kali atau lebih dalam sehari Sekali dalam sehari Sekali dua hari Kurang dari sekali dalam seminggu
2 kali atau lebih
dalam sehari Sekali dalam sehari Sekali dua hari Kurang dari sekali dalam seminggu
Jumlah 96 2 1 1
Gambar 4.13 Latar Belakang Penggunaan Internet Responden Penelitian Berdasarkan Gambar 4.14, diketahui bahwa frekuensi pembelian produk secara online mayoritas responden penelitian jarang yakni sebanyak 36 orang, diikuti oleh frekuensi pembelian produk secara online sering yakni sebanyak 32 orang, lalu frekuensi pembelian produk secara online sangat jarang sebanyak 27 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.14 berikut ini.
Gambar 4.14 Frekuensi Pembelian Produk Secara Online
0 5 10 15 20 25 30 35 40
Mengisi waktu senggang Mencari informasi Bersosialisasi di dunia maya (chatting,
facebook, dll)
Mencari hiburan (game, musik, nonton film, dll)
Belanja online
Mengisi waktu senggang
Mencari informasi
Bersosialisasi di dunia maya
(chatting, facebook, dll)
Mencari hiburan (game,
musik, nonton film, dll)
Belanja online
jumlah 22 36 16 18 8
0 5 10 15 20 25 30 35 40
Sangat Jarang Jarang Sering Sangat Sering
Sangat Jarang Jarang Sering Sangat Sering
jumlah 27 36 32 5