BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
Penelitian ini menyajikan data tiga variabel, yaitu pemanfaatan sumber belajar, persepsi penggunaan metode diskusi, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret tahun 2013. Adapun data variabel yang diperoleh melalui :
1. Pemanfaatan sumber belajar yang berasal dari data skor angket responden.
2. Persepsi penggunaan metode diskusi yang berasal dari data skor angket responden.
3. Kemampuan berpikir kritis yang berasal dari data skor angket dari responden
1. Deskripsi Data Pemanfaatan Sumber Belajar
Data pemanfaatan sumber belajar mahasiswa diperoleh dengan metode angket yang terdiri dari 20 pertanyaan. Dari hasil analisis dan perhitungan diperoleh nilai tertinggi sebesar 59, nilai terendah sebesar 35, rata-rata sebesar 46,92, median sebesar 47, modus sebesar 45, standar deviasi sebesar 5,17086, dan varian sebesar 26,738. Untuk mempermudah memahami data pemanfaatan sumber belajar, maka data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan histogram dari distribusi frekuensi di bawah ini :
Tabel.4.1 Distribusi Frekuensi Data Pemanfaatan Sumber Belajar No. Interval Nilai
Tengah
Frekuensi Absolut
Frekuensi Relatif
1 35 – 38 36,5 1 2,5%
2 39– 42 40,5 8 20%
3 43 – 46 44,5 10 25%
4 47 – 50 48,5 12 30%
5 51 – 54 52,5 6 15%
6 55 – 58 56,5 2 5%
7 59 -62 60,5 1 2,5%
TOTAL 40 100%
48
commit to user
Gambar 4.1. Histogram Data Pemanfaatan Sumber Belajar
2. Deskripsi Data Persepsi Penggunaan Metode Diskusi
Data persepsi mahasiswa dalam penggunaan metode diskusi diperoleh dengan teknik angket yang terdiri dari 20 pertanyaan. Dari hasil analisis dan perhitungan diperoleh nilai tertinggi sebesar 65, nilai terendah sebesar 42, rata- rata sebesar 54,50, median sebesar 54, modus sebesar 52, standar deviasi sebesar 5,46785, dan varian sebesar 29,897.
Untuk mempermudah memahami data persepsi mahasiswa tentang penggunaan metode diskusi, maka data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan histogram dari distribusi frekuensi di bawah ini :
commit to user
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Data Persepsi Mahasiswa Tentang Penggunaan Metode Diskusi
No. Interval Nilai Tengah Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif
1 42 – 45 43,5 2 5%
2 46 – 49 47,5 4 10%
3 50 – 53 51,5 12 30%
4 54 – 57 55,5 10 25%
5 58 – 61 59,5 8 20%
6 62 – 65 63,5 4 10%
TOTAL 40 100%
Gambar 4.2. Histogram Data Persepsi Penggunaan Metode Diskusi
3. Deskripsi Data Kemampuan Berpikir Kritis
Data kemampuan berpikir kritis mahasiswa diperoleh dari angket. Dari hasil analisis dan perhitungan diperoleh nilai tertinggi sebesar 61 terendah sebesar 31, rata-rata sebesar 50,67, median sebesar 52, modus sebesar 56, standar deviasi sebesar 6,58821, dan varian sebesar 43,404. Untuk mempermudah memahami data kemampuan berpikir kritis, maka data disajikan
commit to user
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan histogram dari distribusi frekuensi di bawah ini :
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Berpikir Kritis No. Interval Nilai Tengah Frekuensi Absolut Frekuensi
Relatif
1 31 – 35 33 1 2,5%
2 36 – 40 38 1 2,5%
3 41 – 45 43 6 15%
4 46 – 50 48 10 25%
5 51 – 55 53 10 25%
6 56 – 60 58 10 25%
7 61–65 63 2 5%
TOTAL 40 100%
Gambar 4.3. Histogram Kemampuan Berpikir Kritis
commit to user
B. Pengujian Prasyarat Analisis 1. Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah data dari sampel penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan menggunakan teknik uji Lilliefors atau dalam program SPSS disebut juga dengan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria dari uji normalitas adalah, bahwa data berdistribusi normal jika nilai Lhitung < Ltabel atau nilai signifikansi > 0,05. Adapun ringkasan uji normalitas pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.4. Ringkasan Uji Normalitas
VARIABEL N HARGA L0
Sig KESIMPULAN Lhitung L0,05,40
1. Pemanfaatan Sumber Belajar
2. Persepsi Penggunaan Metode Diskusi
3. Kemampuan Berpikir Kritis
40
40 40
0,095
0,114 0,118
0,140
0,140 0,140
0,200
0,200 0,169
Normal
Normal Normal
Dari tabel di atas diketahui harga Lhitung masing-masing variabel lebih kecil dari Ltabel dan nilai signifikansi > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data sampel dari masing-masing variabel berdistribusi normal.
2. Uji Linieritas
Tujuan uji linearitas adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk hubungan antara satu variabel bebas dengan satu variabel terikat. Adapun ringkasan hasil uji linearitas dan keberartian regresi linear yang dilakukan menggunakan alat bantu program SPSS versi 16.0 pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.5. Ringkasan Uji Linearitas VARIABEL YANG
DIUKUR
HARGA F Sig KESIMPULAN
Fhitung Ftabel X1Y
X2Y
2,090 1,397
F0,05;16,22=2,131 F0,05;16,22=2,131
0,054 0,230
Linear Linear commit to user
Dari tabel diketahui bahwa hasil uji linearitas diperoleh harga Fhitung masing-masing variabel yang diukur lebih kecil dari Ftabel dan nilai signifikansi >
0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat dalam bentuk linear.
C. Pengujian Hipotesis 1. Analisis Regresi Linear Berganda
Sebelum melakukan pengujian hipotesis penelitian terlebih dahulu dilakukan analisis regresi linear berganda. Adapun ringkasan analisis regresi linear berganda yang dilakukan dengan alat bantu program SPSS 16.0 pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.6. Rangkuman Hasil Uji Regresi Linear Berganda
KOEFISIEN
REGRESI t Sig
Konstanta 11,320 1,056 0,298
Pemanfaatan Sumber Belajar 0,409 2,126 0,040
PersepsiPenggunaan Metode Diskusi 0,370 2,031 0,049 F hitung = 6,843
R2 = 0,270
Berdasarkan tabel di atas diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut: Y = 11,320 + 0,409X1 + 0,370X2
Adapun interpretasi dari persamaan regresi linear berganda tersebut adalah:
a. a = 11,320, menyatakan bahwa jika pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi tetap (tidak mengalami perubahan), maka nilai kemampuan berpikir kritis sebesar 11,320.
b. b1 = 0,409, menyatakan bahwa jika pemanfaatan sumber belajar bertambah sebesar 1 poin, maka kemampuan berpikir kritis mahasiswa akan mengalami peningkatan sebesar 0,409. Dengan asumsi tidak ada penambahan (konstan) pada nilai persepsi mahasiswa tentang penggunaan metode diskusi. commit to user
c. b2 = 0,370, menyatakan bahwa jika persepsi pennggunaan metode diskusi bertambah sebesar 1 poin, maka kemampuan berpikir kritis mahasiswa akan mengalami peningkatan sebesar 0,370. Dengan asumsi tidak ada penambahan (konstan) pada nilai pemanfaatan sumber belajar.
2. Pengujian Hipotesis Pertama (Uji t)
Bunyi hipotesis pertama yang diajukan adalah “ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS tahun 2013”.
Dari analisis regresi linear ganda diketahui bahwa koefisien regresi dari variabel pemanfaatan sumber belajar (b1) adalah sebesar 0,409 atau bernilai positif. Untuk mengetahui hubungan pemanfaatan sumber belajar dengan kemampuan berpikir kritis signifikan atau tidak, selanjutnya nilai koefisien regresi linear ganda dari b1 ini diuji signifikansinya. Langkah-langkah uji signifikansi koefisien regresi atau disebut juga uji t adalah sebagai berikut:
a. Hipotesis
H0 = β1 = 0: (tidak ada hubungan antara pemanfaatan sumber belajar dengan kemampuan berpikir kritis)
H0 = β1 ≠ 0: (terdapat hubungan antara pemanfaatan sumber belajar dengan kemampuan berpikir kritis)
b. Level of Significance ( = 5% ) c. Kriteria Pengujian
H0 diterima jika - t ( /2; n-k-1) ≤ t < t ( /2; n-k-1) atau signifikansi > 0,05 H0 ditolak jika - t ( /2; n-k-1) ≥ t > t ( /2; n-k-1) atau signifikansi < 0,05 ttabel = t (α/2, n-k-1) = t (0,025,37) =2,026
d. Perhitungan
Berdasarkan analisis memakai alat bantu SPSS 16.0 diperoleh nilai thitung sebesar 2,126 dengan signifikansi 0,040.
commit to user
e. Keputusan uji
H0 ditolak, karena thitung > ttabel, yaitu 2,126 > 2,026 dan nilai signifikansi <
0,05, yaitu 0,040.
Gambar 4.4. Grafik statistik uji t hubunganpemanfaatan sumber belajar dengan kemampuan berpikir kritis
f. Kesimpulan
Ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dengan kemampuan berpikir kritis.
3. Pengujian Hipotesis Kedua (Uji t)
Hipotesis penelitian kedua yang diajukan adalah “ada hubungan yang signifikan antara persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS tahun 2013”. Dari analisis regresi linear ganda diketahui koefisien regresi linear ganda dari variabel persepsi penggunaan metode diskusi (b2) adalah sebesar 0,390 atau bernilai positif. Untuk mengetahui hubungan persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan berpikir kritis signifikan atau tidak, selanjutnya nilai koefisien regresi linear ganda dari b2 ini diuji signifikansinya.
Langkah-langkah uji signifikansi koefisien regresi atau disebut juga uji t adalah sebagai berikut:
a. Hipotesis
H0 = β2 = 0: (tidak ada hubungan antara persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan bepikir kritis)
H0 = β2 ≠ 0: (terdapat hubungan antara persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan bepikir kritis)
Daerah terima H0 Daerah tolak H0
Daerah tolak H0
-2,026 0 2,026 2,126
commit to user
b. Level of Significance ( = 5% ) c. Kriteria Pengujian
H0 diterima jika - t ( /2; n-k-1) ≤ t < t ( /2; n-k-1) atau signifikansi > 0,05 H0 ditolak jika - t ( /2; n-k-1) ≥ t > t ( /2; n-k-1) atau signifikansi < 0,05 ttabel = t (α/2, n-k-1) = t (0,025,37) = 2,026
d. Perhitungan
Berdasarkan analisis memakai alat bantu SPSS 16.0 diperoleh nilai thitung sebesar 2,031 dengan signifikansi 0,049
e. Keputusan uji
H0 ditolak, karena thitung > ttabel, yaitu 2,031 > 2,026 dan nilai signifikansi <
0,05, yaitu 0,049
Gambar 4.5. Grafik Statistik Uji t Hubungan Persepsi Penggunaan Metode Diskusi dengan Kemampuan Berpikir Kritis
f. Kesimpulan
Ada hubungan yang signifikan antara persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan berpikir kritis.
4. Pengujian Hipotesis Ketiga (Uji F)
Hipotesis ketiga yang diajukan adalah “Ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS tahun 2013”. Dari analisis regresi linear ganda dapat diketahui bahwa koefisien regresi masing-masing variabel bebas bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi berhubungan secara signifikan dengan
Daerah terima H0 Daerah tolak H0
Daerah tolak H0
-2,026 0 2,026 2,031
commit to user
kemampuan berpikir kritis mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS tahun 2013. Untuk mengetahui hubungan tersebut signifikan atau tidak, selanjutnya dilakukan uji keberartian regresi linear ganda (uji F) adalah sebagai berikut:
a. Hipotesis
H0 : β1 = β2 = 0: (tidak ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan berpikir kritis)
H0 = β1 ≠ β2 ≠ 0: (terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan berpikir kritis)
b. Level of Significance ( = 5%) c. Kriteria Pengujian
H0 diterima jika Fhitung < F( ; k; n - k –1) atau signifikansi > 0,05 H0 ditolak jika F hitung > F( ; k; n - k –1) atau signifikansi < 0,05 Ftabel = F (α;k; n-k-1) = F (0,05; 2,54) = 3,251
d. Perhitungan
Berdasarkan analisis data memakai alat bantu program SPSS 16.0 diperoleh Fhitung sebesar 6,843 dengan siginifikansi sebesar 0,03
e. Keputusan uji
H0 ditolak, karena Fhitung > Ftabel, yaitu 6,843 > 3,251 dan nilai signifikansi <
0,05, yaitu 0,03
Gambar 4.6. Grafik Statistik Uji F Hubungan antara Pemanfaatan Sumber Belajar dan Persepsi Penggunaan Metode Diskusi dengan Kemampuan Berpikir Kritis
Daerah tolak H0
6,843 3,251
0
Daerah terima H0
commit to user
f. Kesimpulan
Ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan berpikir kritis
5. Koefisien Determinasi
Berdasarkan analisis data menggunakan alat bantu program SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,270. Arti dari koefisien ini adalah bahwa hubungan yang diberikan oleh kombinasi variabel pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi dengan kemampuan berpikir kritis adalah sebesar 27%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
6. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif
Dari hasil perhitungan diketahui bahwa variabel pemanfaatan sumber belajar memberikan sumbangan relatif sebesar 52%, dan sumbangan efektif 14,04%. Variabel persepsi penggunaan metode diskusi memberikan sumbangan relatif sebesar 48%, dan sumbangan efektif 12,96%. Dengan membandingkan nilai sumbangan relatif dan efektif nampak bahwa variabel pemanfaatan sumber belajar memiliki hubungan yang lebih signifikan dengan kemampuan berpikir kritis dibandingkan variabel persepsi penggunaan metode diskusi.
D. Pembahasan Hasil Analisis Data
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari persamaan regresi linier sebagai berikut Y = 11,320 + 0,409X1 + 0,370X2. Berdasarkan persamaan tersebut terlihat bahwa koefisien regresi dari masing-masing variabel independen bernilai positif, artinya variabel pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi secara bersama-sama berhubungan terhadap kemampuan berpikir kritis.
commit to user
1. Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar (X1) Dengan Kemampuan Berpikir Kritis (Y)
Hasil uji hipotesis pertama diketahui bahwa koefisien arah regresi dari variabel pemanfaatan sumber belajar (b1) adalah sebesar 0,409 atau positif.
Berdasarkan uji keberartian koefisien regesi linear ganda untuk variabel pemanfaatan sumber belajar (b1) thitung > ttabel, yaitu 2,126 > 2,026 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,040, dengan sumbangan relatif sebesar 52% dan sumbangan efektif 14,04%, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pemanfaatan sumber belajar berhubungan secara signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis.
Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat dikatakan bahwa semakin tinggi intensitas pemanfaatan sumber belajar mahasiswa maka akan semakin tinggi pula kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Sebaliknya semakin rendah pemanfaatan sumber belajar oleh mahasiswa, maka semakin rendah kemampuan berpikir kritisnya. Dengan kemampuan berpikir kritis yang tinggi maka semakin tinggi pula prestasi yang dapat dicapai mahasiswa. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dian Kristinawati (2007) dengan judul
“Hubungan Kemampuan Berpikir Kritis dan Disiplin Belajar Siswa dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Jurusan IPS SMA N I Wonogiri Tahun Ajaran 2006/2007”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Hubungan antara kemampuan berpikir kritis dengan prestasi belajar; (2) Hubungan antara disiplin belajar siswa dengan prestasi belajar; (3) Hubungan antara kemampuan berpikir kritis dan disiplin belajar siswa secara bersama-sama dengan prestasi belajar.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Ada hubungan positif antara kemampuan berpikir kritis dengan prestasi belajar mata pelajaran akuntansi kelas XI jurusan IPS SMA N 1 Wonogiri tahun ajaran 2006/2007.
Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang menunjukkan n = 45 dan taraf signifikansi 5 % diperoleh rx1y = 0,495 dan rtabel = 0,294. (2) Ada hubungan positif antara disiplin belajar siswa dengan prestasi belajar mata pelajaran akuntansi kelas XI jurusan IPS SMA N 1 Wonogiri tahun ajaran commit to user
2006/2007. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang menunjukkan n
= 45 dan taraf signifikansi 5 % diperoleh rx2y = 0,345 dan rtabel = 0,294. (3) Ada hubungan positif antara kemampuan berpikir kritis dan disiplin belajar siswa secara bersama-sama dengan prestasi belajar mata pelajaran akuntansi kelas XI jurusan IPS SMA N 1 Wonogiri tahun ajaran 2006/2007. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang menunjukkan dk = 2 lawan 43 dan taraf signifikansi 5 % diperoleh Fhitung = 18,552 dan Ftabel = 3,22.
Mulyasa (2003) menyatakan bahwa “Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dalam proses belajar mengajar” (hlm. 48) . Dengan pemanfaatan sumber belajar yang optimal, mahasiswa bisa mendapatkan informasi seluas-luasnya.
Dengan informasi dan pengetahuan yang luas, pastinya hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis seseorang. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa pemanfaatan sumber belajar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
2. Hubungan Persepsi Penggunaan Metode Diskusi (X2) Dengan Kemampuan Berpikir Kritis (Y)
Hasil uji hipotesis kedua diketahui bahwa koefisien regresi dari variabel persepsi penggunaan metode diskusi (b2) adalah sebesar 0,370 atau bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel persepsi penggunaan metode diskusi berhubungan secara signifikan dengan kemampuan berpikir kritis.
Berdasarkan uji t untuk minat belajar (b1) diperoleh thitung > ttabel, yaitu 2,031 >
2,026 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,049 dengan sumbangan relatif sebesar 48% dan sumbangan efektif 12,96%. Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat dikatakan bahwa semakin baik persepsi mahasiswa tentang penggunaan metode diskusi, maka akan semakin tinggi kemampuan berpikir kritisnya, demikian pula sebaliknya semakin buruk persepsi mahasiswa tentang penggunaan metode diskusi, maka akan semakin rendah pula kemampuan berpikir kritisnya.
commit to user
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Achmad Ilfan Rifa’I (2012) dengan judul: “Efektifitas Media Pembelajaran E-Learning SMA Matematika Dilengkapi Metode Diskusi dan Presentasi Terhadap Minat Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik SMA (Studi Eksperimen di MAN LAB UIN Yogyakarta)”. Dari populasi di sekolah yang diteliti diambil dua kelas sampel, yaitu satu kelas sebagai kelas eksperimen (X-C) dan satu kelas sebagai kelas kontrol (X-D).
Berdasarkan uji Mann Whitney, menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis kedua kelas berbeda. Hal ini ditunjukkan dari nilai sig yang kurang dari 0,05 yaitu 0,017. Kemudian dari nilai rata-rata posttes kemampuan berpikir kritis siswa, kelas eksperimen mempunyai nilai rata-rata yang lebih tinggi yaitu 72 dibandingkan kelas kontrol dengan nilai rata-rata 68, sehingga pembelajaran di kelas eksperimen dengan metode e-elarning dilengkapi metode diskusi dan presentasi lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dibandingkan dengan pembelajaran di kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional.
Slameto (2003) menyatakan bahwa, “Persepsi adalah proses menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia” (hlm.
102). Melalui persepsi, manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasa dan penciuman. Dengan demikian persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya.
Didalam proses persepsi, individu dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif atau negatif, senang atau tidak senang dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu di dalam situasi yang tertentu pula. Dalam hal ini keadaan yang dimaksud adalah dimana ketika seorang mahasiswa berinteraksi dengan dosennya yang sering lazim terjadi pada kegiatan belajar mengajar di dalam commit to user
kelas. Dalam proses tersebut mahasiswa akan memiliki penilaian terhadap apa- apa yang dilakukan oleh dosennya, yang penilaian inilah yang dinamakan dengan persepsi.
Persepsi menjadikan kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antar manusia. Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. Dengan demikian, jika semakin tinggi persepsi yang dimiliki mahasiswa tentang penggunaan metode diskusi yang dilakukan oleh dosen, maka akan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritisnya.
Diskusi merupakan suatu pengalaman belajar yang dapat diterapkan hampir dalam semua bidang studi, tentu saja disesuaikan dengan tujuan instruksional yang akan dicapai serta bahan pelajaran yang akan diajarkan.
Diskusi merupakan salah satu strategi belajar-mengajar yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep, memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir, percaya pada diri sendiri dan berani mengemukakan pendapatnya, berlatih bersikap kritis dan positif, serta mampu berinteraksi sosial. Dengan kata lain, diskusi merupakan salah satu metode pembelajaran yang memungkinkan tercapainya tujuan pengajaran yang komprehensif.
Suwarna dkk berpendapat, “Metode diskusi merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang mana guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah, mengemukakan pendapat, dan menyusun kesimpulan atau menemukan berbagai alternatif pemecahan masalah” (2006: 110) . Dalam metode diskusi para siswa berinteraksi secara verbal, melakukan tukar menukar informasi, saling mempertahankan pendapat, maupun mengajukan alternatif pemecahan masalah. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa persepsi mahasiswa tentang penggunaan metode diskusi berperan dalam peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Semakin baik persepsi mahasiswa tentang penggunaan metode diskusi, maka kemampuan berpikir kritisnya dimungkinkan akan meningkat. commit to user
3. Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar (X1) dan Persepsi Penggunaan Metode Diskusi (X2) DenganKemampuan Berpikir Kritis (Y)
Berdasarkan uji keberartian regresi linear ganda atau uji F diketahui bahwa nilai Fhitung > Ftabel, yaitu 6,843 > 3,251 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,03. Hal ini berarti pemanfaatan sumber belajar dan persepsi pengunaan metode diskusi secara bersama-sama berhubungan secara signifikan dengan kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat dikatakan bahwa kecenderungan peningkatan kombinasi pemanfaatan sumber belajar dan persepsi pengunaan metode diskusi akan diikuti peningkatan kemampuan berpikir kritis, sebaliknya kecenderungan penurunan kombinasi variabel pemanfaatan sumber belajar dan persepsi pengunaan metode diskusi akan diikuti penurunan akan kemampuan berpikir kritis.
Koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 0,270, arti dari koefisien ini adalah bahwa hubungan yang diberikan oleh kombinasi variabel pemanfaatan sumber belajar dan persepsi pengunaan metode diskusi adalah sebesar 27%, sedangkan 73% berhubungan dengan variabel lain. “Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi”
(Deswani, 2009: 119). Paul, Fisher, dan Nosich (1993), “Berpikir kritis adalah mode berpikir mengenai hal, substansi atau apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar- standar intelektual padanya” (Fisher, 2009: 04). Kemampuan berpikir kritis dapat ditingkatkan dengan berbagai cara, misal dengan disiplin belajar, pemanfaatan sumber belajar, penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran, dan lain sebagainya. Hal tersebut senada dengan pendapat Gokhale, “Pembelajaran kolaboratif melalui diskusi kelompok kecil juga direkomendasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis” (2005: 51).
Dengan berdiskusi siswa mendapat kesempatan untuk mengklarifikasi pemahamannya dan mengevaluasi pemahaman siswa lain, mengobservasi strategi berpikir dari orang lain untuk dijadikan panutan, membantu siswa lain yang kurang untuk membangun pemahaman, meningkatkan motivasi, serta commit to user
membentuk sikap yang diperlukan seperti menerima kritik dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun.
Hasil ini membuktikan bahwa pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS tahun 2013.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat di simpulkan bahwa dengan pemanfaatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Namun dari data yang diperoleh, peneliti berpendapat bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa tidak hanya berhubungan dengan pemanfatan sumber belajar dan persepsi penggunaan metode diskusi, melainkan juga dipengaruhi oleh variabel-variabel lainya yang tidak tercakup dalam penelitian ini.
commit to user