Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 135
Analisis Struktural Objektif dan Nilai Moral dalam Cerita Bersambung Pedhalangan Putri Puspa Cendhana Karya Yun Sugeng Widodo Adi
Majalah Panjebar Semangat
Oleh: Sutari Nimastuti
program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa [email protected]
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan aspek-aspek analisis struktural objektif pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi, (2) mendeskripsikan nilai moral pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah berupa kutipan pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup tiga hal yaitu teknik pustaka, teknik simak dan teknik catat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama, dengan menggunakan alat–alat tulis dan kartu data. Teknik keabsahan data menggunakan teknik pengujian kredibilitas data dalam penelitian ini adalah validitas semantis.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik content analysis. Teknik penyajian hasil analisis data menggunakan teknik informal. Hasil penelitian yang ditemukan Hasil penelitian yang ditemukan aspek-aspek analisis struktural objektif pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi adalah (1) Tema (Percintaan) berjumlah 1 indikator, (2) Tokoh dan Penokohan berjumlah 8 indikator (Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan), (3) Alur Maju berjumlah 5 indikator (Tahap Penyituasian, Tahap Pemunculan Konflik, Tahap Konflik, Tahap Klimaks, Tahap Penyelesaian), (4) Latar (Latar Tempat, Latar Waktu dan Latar Sosial) berjumlah 3 indikator, (5) Sudut Pandang Pengarang (Orang Ketiga Serba Tahu ) berjumlah 1 indikator. Hasil analisis nilai moral pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi adalah (1) Hubungan Manusia Dengan Tuhan (Berserah diri, Berdoa) berjumlah 2 indikator, (2) Hubungan Manusia Dengan Sesama Diri Sendiri (Niat Baik, Ramah, Berfikir Cedas, Sedih, Bijaksana, Rela Berkorban, Pantang Menyerah, Yakin) berjumlah 8 indikator, (3) Hubungan Manusia Dengan Manusia Lain (Sikap Tolong Menolong atau Kerjasama, Keakraban atau Persahabatan, Memuji atau menyanjung Orang Lain, Tulus ) berjumlah 4 indikator, (4) Hubungan Manusia Dengan Lingkungan berjumlah (Mencintai Lingkungan, Menjaga Flora dan Fauna) 2 indikator.
Kata Kunci : struktural objektif, nilai moral Putri Puspa Cendhana.
Pendahuluan
Hasil karya-karya sastra Indonesia bermacam-macam bentuk dan vareasi yang
dimilikinya, salah satunya yaitu cerita bersambung atau yang disingkat menjadi
cerbung. Cerita bersambung adalah cerita rekaan yang dimuat dalam bagian demi
bagian secara berurut-urut. Cerita bersambung ini biasanya diterbitkan pada surat
kabar harian atau majalah. Hasil Karya sastra penggemar masyarakat salah satunya
yaitu cerita bersambung (cerbung), salah satunya penyajian cerita yang bertahap.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 136
Cerita bersambung (cerbung) tersebut berjudul Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi, dimuat dalam majalah Panjebar Semangat edisi nomor 34, Setu Kliwon, 21 Agustus 2004 sampai nomor 40, Setu Paing, 2 Oktober 2004, sebanyak 7
episode.
Karya sastra tersebut berbentuk cerita bersambung (cerbung), untuk dianalisis. Penulis akan mengkaji tentang bidang sastra salah satunya dalam sebuah hasil karya sastra berbentuk analisis dan nilai moral. Analisis struktural sastra bermacam-macam seperti objektif, eskpresif, mimietik, pragmatic. Penulis akan menganalisis struktural objektif sastra. Penulis kemukakan alasan mengenai penelitian yaitu Cerita Putri Puspa Cendhana menarik untuk diteliti karena menampilkan 1) cerita bersambung (cerbung) dalam fersi jagat pewayangan yang berbeda dengan cerita bersambung yang lainnya, 2) banyak mengandung pesan-pesan atau nilai-nilai yang dapat diterapkan kehidupan jaman sekarang, 3) selain itu bahasa dalam cerita cerbung tersebut dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya bidang sastra Jawa dalam bentuk bahasa Jawa kuno ataupun kawi.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penlitian yang berupa data analisis dalam bentuk kata-kata, gambar, dan bukan angka. Penulis mengkaji tentang analisis struktural objektif dan nilai moral . Struktural objektif arti lain unsur intrinsik (intrinsic) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra, misalnya: peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain (Burhan Nurgiyantoro, 2012: 23). Kajian tentang nilai moral diartikan sesuatu yang dikaitkan dengan sesuatu tindakan yang langsung berkenan dengan nilai pribadi manusia atau masyarakat manusia (Soenarjati, 1989: 26-27).
Data dalam penelitian ini adalah berupa kutipan pada cerita bersambung pedhalangan
Putri Puspa Cendhana. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
mencakup tiga hal yaitu teknik pustaka, teknik simak dan teknik catat. Instrumen
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 137
penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah (Arikunto, 2010: 203). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama, menggunakan alat-alat tulis dan alat rekam. Teknik keabsahan data menggunakan teknik pengujian kredibilitas data dalam penelitian ini adalah validitas semantis. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik content analysis. Teknik penyajian hasil analisis data menggunakan teknik informal. Metode penyajian informal yaitu perumusan dengan kata-kata biasa walaupun dengan terminologi yang teknis sifatnya (Sudaryanto, 1993 : 145).
Hasil Penelitian
1. Analisis Struktural Objektif pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi
Penyajian hasil analisis struktural objektif pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, lattar, sudut pandang pengarang.
a. Tema adalah makna yang terkandung dalam sebuah cerita. Tema pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi berjumlah 1 indikator.
Adapun salah satu contoh adalah sebagai berikut.
”Ilmu punaka ingkang kedah kuwula regem, papan pundi ingkang pantes dados jodho kawula?” (PPC 2, hal. 31)
Terjemahan:
Ilmu apa yang pantas saya genggam, tempat mana yang pantas jadi jodoh saya?’
Kutipan di atas menunjukkan tema yaitu percintaan. Hal tersebut tampak pada kata papan pundi ingkang pantes dados jodho kawula tempat mana yang pantas jadi jodoh saya. Pada kutipan di atas disimpulkan bahwa pada tema cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi yaitu mengkisahkan tentang percintaan.
b. Tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya sastra. Sedangkan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan dalam
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 138 sebuah cerita.Tokoh dan penokohan pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi berjumlah 8 indikator. Tokoh utama dan tokoh tambahan yaitu tokoh utama Raden Nagatatmala, sedangkan tokoh tambahan yaitu Dewi Mumpuni, Prabu Karungkula, Prabu Wottani Jaya, Bathara Yamadipati, Bathara Anantaboga, Bathara Naradda, Buta Candhala. Adapun salah satu contoh adalah sebagai berikut.
1.) Raden Nagatatmala
“Dhuh rama pepundhen kawula wonten ing jana loka, sampun terwaca dhawuh paduka, pramila keng putra nyuwun tambahe pangestu sageda mesthik sekar cepaka mulya arum-marume bawana.”(PPC 2, hal 32)
Terjemahan:
Duh ayah leluhur kami tempat di jalan bumi, sudah terbaca perintah beliau, dengan itu sang putra meminta tambahan doa restmu agar bisa mendapatkan bunga cempaka yang indah harumnya dibumi.
Pada kutipan di atas disimpulkan bahwa Raden Nagatatmala mempunyai sifat patuh.
2.) Dewi Mumpuni
“Heh manungsa aywa murang tata, kena apa sira wawan rembug marang ingsun tanpa migunakake basa krama?”(PPC 7, hal 32)
Terjemahan:
‘Hei manusia yang tidak punya aturan, kenapa kamu berdialog denganku tidak memakai bahasa krama?.
Pada kutipan di atas disimpulkan bahwa Dewi Mumpuni mempunyai sifat pemarah dan lain-lain.
c. Alur adalah rangkaian cerita yang disusun oleh penulis mengenai peristiwa-peristiwa yang berdasarkan hubungan sebab akibat. Tema dalam Cerita Bersambung Putri Puspa Cendhana adalah alur maju. Alur maju berjumlah 5 indikator. Tahap penyituasian, tahap pemunculan konflik, tahap konflik, tahap klimaks, tahap penyelesaian. Adapun ada salah satu contoh:
1.) Tahap Penyituasian adalah tahap awal yang berisi penjelasan tempat terjadinya peristiwa yang mendukung suatu cerita.
“Suwarane gendhing lemebu ing talingan maweh katentremaning wardaya. Gendhing purwane kandha dumadi saka pitung tataran gegambarane panguripan. Gendhing patalon matalu-talu wiwit cucurbawuk, srikaton, anom, suksma ilang, ayak-ayakan, slepengan, tinutup gendhing sampak sasmitane awak.” (PPC 1, Hal.31)
Terjemahan:
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 139
‘Suaranya musik terdengar di telinga membuat kenyamanan hati. Musik awalan mengatakan ada tujuh tingkatan gambaran kehidupan. Musik patalon pertama- tama mulai cucurbawuk, srikaton, anom, suksma ilang, ayak-ayak, slepengan, di tutup musik berhenti pertandanya raga. Penggambaran kehidupan manusia, di dalam cerita jagat pewayangan ada tujuh macam tingkatan gambaran kehidupan.
Pada kutipan diatas menunjukkan salah satu alur, yaitu alur pada tahap penyituasian.
2.) Tahap pemunculan konflik adalah tahap timbulnya suatu perilaku bertentangan dari pelaku.
“Sanghyang Anantaboga ing madya ratri kang tuhu ginrumut ing swarane asepi kang nyenyet anggalibet iku disowani kang putra Rahadyan Nagatatmala. Janma sakloron wawan gunem ngglayem. Yen mawas gelat- gelite caturan sajak lagi ana perkara kang ruwet.”
Terjemahan:
‘Kala malam itu yang sepi sunyi Sanghyang Anantaboga didatangi sang putra Rahadyan Nagatatmala. Sepertinya mereka berdua ada hal penting harus dibicarakan. Kelihatan awas gerak-geriknya berbicara seperti lagi ada masalah yang menggganjal.’ (PPC 2, Hal.31)
Pada kutipan diatas menunjukkan adanya tahap pemunculan konflik ketika Raden Nagatatmala berbicara dengan ayah. Perbincangan itu menggambarkan bahwa Raden Nagatagmala sedang mengalami rasa gelisah dalam benak hati dan pikirannya.
3.) Tahap konflik adalah tahap situasi semakin panas antara pelaku-pelaku dalam cerita mulai berkonflik.
“Solahe macan tansaya rongeh lan goreh menggeh-menggeh. Tanpa ba-bi-bu laju wae ngrangsang Raden Nagatatmala. Satemah dadi perang tandhing sardhula umangsah satriya utama. Sardhula iku nglumba manaut lan nggrawut manungsa mungsuhe kuwi. “(PPC 3, Hal.32)
Terjemahan:
‘Tingkah laku harimau semakin menjadi dan tidak tenang terengah-engah.
Tanpa ba-bi-bu maju saju melawan Raden Nagatatmala. Menjadikan perang melawan macan lawan satriya utama.’
Tahap konflik dalam kutipan cerita Putri Puspa Cendhana ini dimulai pada
penggambaran pertarungan antara Nagatatmala dengan harimau. Ketika
Nagatatamala melakukan pertapaanya di dalam hutan Alas Loka Jalma, kertika
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 140
itu harimau tanpa ba-bi-bu melawan Raden dan menjadi perang tandhing antara harimau dengan satriya utama.
4.) Tahap klimaks adalah situasi puncak ketika konflik berada dalam puncak hingga pelaku mendapatkan posisinya nasib sendiri-sendiri.
“Pancen sawise bisa ngalahake Prabu Karungkula kae Sang Hyang Yamadipati bisa kelakon dhaup karo bathari Dewi Mumpuni kang tuhu sulistya ing warna kuwi.
Nanging asline kemantenan iku malah kaya dene racun tumprap saklorone.”
Terjemahan:
‘Memang setelah bisa mengalahkan Prabu Karungkula itu Sang Hyang Yamadipati bisa keturutan menikah dengan Bathari Dewi Mumpuni yang sangat cantik sekali. Akan tetapi aslinya penganten baru itu malah seperti racun bagi keduanya.’(PPC 7, Hal. 31)
Kutipan diatas menunjukkan tahap klimaks, tampak pada penggambaran kisah Hyang Yamadipati akhirnya dapat menikah dengan Dewi Mumpuni. Akan tetapi, bagi keduanya menjadi racun dalam hatinya.
5.) Tahap Penyelesaian adalah penyelesaian cerita.
“Ing Kayangan Kasapta Raden Nagatatmala nuli matur marang Sang Hyang Anantaboga. Kadhawuhan yen Bathari Mumpuni iku pancen jodhone Nagatatmala. Kayu cendhanasari iku nuli kapuja dadi wanita kang blegere lan rupane ngepleki Sang Dewi Mumpuni.” (PPC 7, Hal. 32)
Terjemahan:
‘Di Kayangan Kasapta Raden Nagatatmla ndalu bicara pada Sang Hyang Anantaboga. Perintahnya memang Bathari Mumpuni irtu memang jodoh Nagatatmala. Kayu cendhanasari itu lalu berubah menjadi wanita yang badan dan wajahnya seperti Sang Dewi Mumpuni.’
Kutipan di atas menunjukkan tahap penyelesaian. Hal tersebut tampak pada kata “yen Bathari Mumpuni iku pancen jodhone Nagatatmala”.
Kesimpulan di atas, penggambaran tahap penyeselesaian akhir kisah cerbung Putri Puspa Cendhana adalah Dewi Mumpuni memang jodoh Raden Nagatatmala.
d. Latar atau Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun suatu peristiwa. Latar dalam Cerita Bersambung Putri Puspa Cendhana dibagi menjadi 3 indikator yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Adapun salah satu contoh:
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 141 1.) Latar tempat adalah terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, misalnya desa, jalan, sungai, hutan, kota, kecamatan, dan sebagainya. Latar tempat pada cerita bersambung Putri Puspa Cendhana adalah sebagai berikut.
“Sireping gendhing patalon mbarengi miyose Sang Prabu Karungkala ing Bale Paseban praja Medhang Panataran.”(PPC 1, hal.31)
Terjemahan:
‘Lambat laun musik gamelan patalon bersamaan kedatangan Sang Prabu Karungkula di Bale Paseban negara Medhang Panataran.’
Kutipan di atas menunjukkan latar tempat yaitu Bale Paseban menunjukkan bahwa Bale Paseban adalah sebuah tempat untuk ruang pertemuan antara Raja dan punggawa kerajaan di dalam sebuah Keraton atau Kerajaan.
2.) Latar Waktu adalah menyarankan pada masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, misalnya taun, musim, hari, jam. Latar waktu pada cerita bersambung Putri Puspa Cendhana adalah sebagai berikut.
”Ing dina kuwi pasuryane Prabu Karungkula katon sintru kaya kurang tilem ing wanci wengi.”(PPC 1, Hal.31)
Terjemahan:
‘Di hari itu wajah Prabu Karungkula kelihatan lesu seperti kurang tidur di malam hari.
Pada kutipan diatas menunjukkan salah satu latar waktu yaitu kalimat wanci wengi. Wanci wengi dapat diartikan waktu malam hari.
3.) Latar Sosial adalah menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan social masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi, misalnya kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir dan bersikap. Latar sosial dalam cerita bersambung Putri Puspa Cendhana sebagai berikut.
“Sang Prabu Wottani Jaya lenggah ngedangkrang ing kursi dhenta ingadep sanggyaning nayaka praja Bumi Patanen pepak andher jejeran.(PPC 1, Hal.31) Terjemahan:
‘Sang Prabu Wottani Jaya duduk dikursi sigasana menghadap semua para punggawa kerajaan Bumi Patanen penuh duduk berjejeran.
Kutipan di atas menunjukkan latar social. Hal tersebut tampak pada
kutipan “Sang Prabu Wottani Jaya lenggah ngedangkrang ing kursi dhenta”.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 142
Dapat disimpulkan bahwa seorang Prabu mempunyai kewibawaanya untuk memimpin sebuah Kareajaan atau Keraton.
e. Sudut Pandang Pengarang adalah cara pandagan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, san berbagai peristiwa dalam sebuah karya fiksi. Sudut pandang pengarang dalam Cerita Bersambung Putri Puspa Cendhana yaitu sudut pandang orang ketiga serba tahu. Sudut Pandang orang ketiga serba tahu adalah pengarang berada diluar cerita, dan biasanya pengarang menjadi pengamat yang maha tahu, bahkan berdialog langsung pada pembaca. Sudut pandang pengarang dibagi menjadi 1 indikator. Adapun ada salah satu kutipan:
“Dakcaketi eseme sepet madu. Bareng digandheng lha kok malah gumuyu. Katon bungah dyah ayu Dewi Mumpuni. Wong loro banjur mabur ing tengahing wiyati. Kuciwane iku mung ngimpi! (PPC 4, Hal.3)
Terjemahan:
Kudekati senyum manis madu. Setealah ku pegang la kok malah ketawa. Kelihatan senang dyah ayu Dewi Mumpuni. Berdua lalu terbang di tengah awan. Kecewanya itu hanya mimpi!.
Pada kutipan diatas menunjukkan sudut pandang pengarang yaitu orang ketiga serba tau. Digambarkan seorang pengarang berada diluar cerita akan tetapi maha tahu.
2. Nilai Moral pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi
Hasil nilai moral pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi, yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan,
hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan lingkungan.
a. Hubungan Manusia dengan Tuhan adalah manusia adalah makluk yang religious, artinya manusia adalah makluk yang berakhlak dan beragama. Hubungan manusia dengan Tuhan pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana berjumlah 2 indikator yaitu berserah diri dan berdoa. Adapun salah satu contoh adalah sebagai berikut.
1.) Berserah Diri adalah sikap pasrah kepada sang pencipta(Tuhan.)
“Kakang Lurah Dhadhapan, yen mangkono daktetepke niat kajat ingsun maneges karsane Gusti iku muhung nyuwun tuntunan ing panguripan kang anut marang keyakinan lan kapitayan tunggal.”(PPC 3, Hal.31)
Terjemahan:
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 143
‘Kakang Lurah Dhadhapan, kalau begitu ku tetapkan niat hati saya berserah diri pada Gusti untuk meminta tuntunan kehidupan yang berjalan pada keyakinan dan hanya satu.
Pada kutipan diatas menunjukkan berserah diri, pada kutipan” niat kajat ingsun maneges karsane Gusti” niat untuk berserah diri pada Tuhan dalam keyakinan agama yang dianut.
2.) Berdoa adalah menyampaikan sesuatu yang diinginkan dalam hati dengan cara beribadah kepada sang pencipta(Tuhan).
“Mungkur saking Bumi Kasapta kuwi ing sadalan-dalan sang bagus Nagatatmala ndremimil maos donga kawilujengan murih bisa kasembadan ingkang sinedya.”(PPC 2, Hal.32)
Terjemahan:
‘Setelah dari Bumi Kasapta itu sepajang jalan sang bagus Nagatatmala kusyuk membaca doa keselamatan agar bisa tercapai apa yang diinginkannya.
Pada kutipan di atas nilai moral yang terkandung pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana dapat disimpulkan mengajarkan untuk selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan adalah pencipta jagat alam semesta ini.
b. Hubungan Manusia dengan diri sendiri adalah persoalan manusia ditunjukkan dengan sifat sifat individu. Hubungan manusia dengan diri sendiri pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana berjumlah 8 indikator yaitu niat baik, ramah, berfikir cerdas, sedih, bijaksana, real berkorban, pantang menyerah, yakin. Adapun salah satu contoh adalah sebagai berikut.
1.) Niat Baik adalah suatu sikap niat tulus dari dalam hati manusia.
“Kyai Lurah Dhadhapan banjur kluyur-kluyur golek senjata pamungkas. Baline nggawa Nila Kawak Rupa Ijo dicaoske sang bagus Nagatatmala.”(PPC 3, hal. 32)
Terjemahan:
‘Kyai Lurah Dhadhapan terus berlari-lari mencari senjata pamungkas. Pulangnya membawa Nila Kawak Rupa Ijo diberikan pada bagus Nagatatmala.
Pada kutipan di atas nilai moral yang terkandung cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana dapat disimpulkan menegaskan seseorang berniat baik dalam dirinya sendiri. Seperti Kyai Lurah Dhadhapan berniat baik untuk menolong Raden Nagatatmala yg sedang menghadapi mungsuh.
2.) Ramah adalah suatu sikap yang lemah lembut kepada seseorang.
“Kyai Dhudha Manangmunung dalah anak-anake gupuh ngacarani tamu kang nembe rawuh. Age-age tamu agung iku ngacarani pinarak jroning wisma lenggah klasa tuwa.”(PPC 2, Hal.32)
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 144 Terjemahan:
‘Kyai Dhudha Manangmunung bersama anak-anaknya gugup menyambut tamu yang baru saja datang. Cepat-cepat tamu agung itu disuruh masuk dalam wisma duduk tikar tua.’
Pada kutipan di atas nilai moral yang terkandung cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana dapat disimpulkan seseorang mempunyai sikap ramah dalam penyambutan seorang tamu yang berkunjung dalam rumah Kyai Dhudha Manangmunung di persilahkan masuk dalam rumah duduk beralaskan sebuah tikar tua.
3.) Berfikir Cerdas adalah suatu pemikiran yang pandai.
“Kanjeng Rama Sang Hyang Anantoboga ingkang tuhu mahambeg paramarta. Saking piatur pralambang punika wau ceplosipun hayawan punika bilih rikalanipun piyik dipun loloh embokipun. Nanging sareng sampuntuwuh elaripun jangkep lajeng gesang mandiri saking pambudidayanipun piyambak.”(PPC 2, hal.32)
Terjemahan:
‘Kanjeng Ayahanda Sang Anantaboga yang tuhu luhur. Dari perkataan perlambang itu tadi utarakan seperti anak burung diberi makan sang induk. Tetapi setelah tumbuh besar terus bisa mandiri dari usahanya sendiri.’
Pada kutipan di atas memperlihatkan bahwa nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri (berfikir cerdas) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana. Perkataan tersebut Nagatatmala berfikir, perkataan tersebut memperlambangkan seekor anak burung yang diberi makan sang induk, akan tetapi setelah tumbuh besar terus bisa mandiri dari usahanya sendiri.
4.) Sedih adalah ungkapan rasa dalam hati yang pedih.
“Bathara Yamadipati kerep rengeng-rengeng lon-lonan tembang panalangsaning ati kang kapedho tan rarasmara. Lara-larane sang ati, ora kaya atut kamantyan.”(PPC 7, Hal.31)
Terjemahan:
‘Bathara Yamadipati sering bernyanyi menyanyikan lagu sedihnya hati yang kecewa tidak dicintai. Sakit-sakitnya ati, tidak seperti dengan kenyataan.’
Pada Kutipan di atas memperlihatkan bahwa nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri (sedih) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana.
Penggambaran suasana sedih yang dirasakan Bathara Yamadipati dengan menyanyikan lagu sedih kecewa karena cinta.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 145 5.) Bijaksana adalah sikap yang adil dalam mengambil sebuah keputusan.
“prajurit iku dienggo mbentengi praja lan ngayomi kawula dasih. Aja banjur malah kuwalik, dupek prakosa degsiya marang kawula.”(PPC 1, Hal 31)
Terjemahan:
‘prajurit itu buat melindungi rakyat dan perhatian pada seorang wanita. Jangan terus kebalik, walau kuat menyiksa sama sesama.’
Kutipan di atas memperlihatkan bahwa nilai moral hunbungan manusia dengan diri sendiri (bijaksana) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana. Perkataan itu sangat bijaksana ketika Prabu Karungkula memberikan nasehat pada punggawa kerajaan. Bahwa seorang prajurit itu harus melindungi rakyat dan kaum wanita, jangan terbalik merasa kuat menyiksa sama sesama.
6.) Rela berkorban adalah rasa sepenuh jiwa dan raga untuk membela kebenaran entah hidup dan mati.
“Sang Bagus Nagatatmala laju wae humadeg saka panggonaning khalwat. Ing sedya kudu bisa ngayomi para punakawan iku saka galake macan abang kang brangasan kasebut.”(PPC 3, Hal.32)
Terjemahan:
‘Sang Bagus Nagatatmala terus saja berhenti dari menjalani pertapaannya. Siap siaga harus bisa melindungi punakawan dari marahnya harimau merah yang menyeramkan tersebut.’(PPC 3, Hal.32)
Kutipan diatas memperlihatkan bahwa nilai moral hunbungan manusia dengan diri sendiri (rela berkorban) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana. Penggambaran suasana Nagatatmala rela berkorban untuk bisa melindungi punakawan dari marahnya harimau merah yang menyeramkan.
7.) Pantang Menyerah adalah rasa kegigihan yang tinggi, apapun yang terjadi tetap berjuang dan berusaha.
“Ora antara suwe lakune wis tekan gunung Bratatawani. Aneng kono temenan ana geni murub mintir-mintir ijo rupane gandane wangi marakake lega ing dhadha.
Putusane rembug Raden Nagatatmala enggal wae marani Agni Pratala Asmara kuwi.
Nuli age-age njupuk geni kang nyalawedi kuwi.(PPC 4, hal.32) Terjemahan:
‘Tidak lama kemudian perjalanan sampailah gunung Bratatawani. Ada disitu bener akan api menyala secercik berwarna hijau harum baunya semerbak bisa menenangkan
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 146 di dada. Putusnya diskusi Raden Nagatatmala cepat saja menghampiri Agni Pratala Asmara itu. Lalu cepat-cepat mengambil api yang menyeramkan itu.’
Kutipan di atas memperlihatkan bahwa nilai moral hunbungan manusia dengan diri sendiri (pantang menyerah) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana. Hal ini menunjukkan bahwa Nagatatmala pantang menyerah untuk mendapatkan Agni Pratala Asmara yang berada di pucuk Gunung Bratatawani.
8.) Yakin adalah suatu rasa percaya diri yang tinggi dalam berfikir positif.
“Ing Kahayangan Bumi Kasapta Raden Nagatatmala nuli matur marang Sang Hyang Anantoboga. Kadhawuhan yen Bathari Mumpuni iku pancen jodhone Nagatatmala.”(PPC 7, Hal.32)
Terjemahan:
‘Di Kayangan Bumi Kasapta Raden Nagatatmala lalu bicara pada Sang Hyang Anantaboga. Diutusnya kalau Bathari Mumpuni itu memang jodohnya Nagatatmala.’
Kutipan diatas memperlihatkan bahwa nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri (yakin) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana.
Nagatatmala mempunyai rasa yakin bahwa Bathari Mumpuni adalah jodohnya.
c. Hubungan Manusia dengan manusia lain adalah manusia tidak berdiri sendiri dalam melakukan segala kegiatan ada di dunia ini. Hubungan manusia dengan manusia lain dalam cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana berjumlah 4 indikator yaitu sikap saling tolong-menolong, keakraban, memuji, dan tulus. Adapun salah satu contoh adalah sebagai berikut.
1.) Saling Tolong-menolong adalah sikap saling membantu dengan sesama makluk hidup untuk meringankan suatu beban atau kesulitan yang terganjal.
“Raden Nagatatmala dijarwani yen sajroning urip iku goleka geni katresnan sarta nyingkirana awu-awune pagesangan. Sabanjure satriya lan punakawan kacatur iku lumaku mangulon mawa laras srikaton.”(PPC 2, Hal.32)
Terjemahan:
‘Raden Nagatatmala diberitahu kalau dalam hidup itu carilah api cinta juga menghilangkan abu-abu menyala. Setelah itu satriya dan sekawan punakawan berjalan ke arah barat dengan lagu srikaton.’
Kutipan memperlihatkan bahwa adanya nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain (sikap tolong menolong dan kerja sama) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana. Dalam penggambaran cerita, Raden Nagatatmala mengumbara mencari pusaka untuk mendapatkan jodohnya. Siakp saling tolong
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 147 menolong antara Raden Nagatatmala dan Punakawan sangat terlihat dalam menjalani pengumbaraannya.
2.) Keakraban adalah sikap mudah membaur pada sesama manusia dalam suatu lingkungan.
“Yen saweneh wanodya kumpul padha wadone, adate kang dirembug gayeng yaiku bab priya bagus idhamane ati. Mangkono uga antarane Bathari Mumpuni lan Emban Dewi Laras Angin. “(PPC 5, Hal.32)
Terjemahan:
‘Kalau ada wanita kumpul ssesama wanita, adatnya yang selalu dibahas yaitu masalah priya bagus pepujaan hati. Sama halnya antara Bathari Mumpuni dan Emban Dewi Laras Angin.’
Kutipan memperlihatkan bahwa adanya nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain (keakraban dan persahabatan) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana. Dari kalimat tersebut kita dapat mengambil nilai moral atau amanatnya, yaitu keakraban adalah hubungan seseorang dengan dicocoki yang mengerti kita rasakan. Hubungan sejak dini hingga dewasa yang selalu setia dengan mendampinginya.
3.) Memuji atau menyanjung orang lain adalah suatu rasa yang timbul untuk menghibur atas suatu apresiasi luapan dalam jiwa.
“Dewa birawa jlonggrang-jonggrang iku tansah kepencut marang candrane Bathari Mumpuni. Kang sripat-sripit lambehane, kang pindha merak kasimpir kolar-kalir.
Gandes luwes wiragane kang tuhu anglam-lami ati. Sendhet singset lan besus angadi busana. Dhasar ayu masih kenya tan kuciwa. Dakceketi eseme sepet madu.”(PPC 4, Hal.31)
Terjemahan:
‘Dewa berewok gebyar-gebyar itu tansah tertarik pada diri Bathari Mumpuni. Yang lemah lembut tingkah lakunya, yang cantik seperti burung merak. Pantas luwes solah bawanya yang membuat hati deg-degan. Badan singset dan rapi memakai busana.
Memang cantik masih prawan tidak mengecewakan. Kudekati senyumnya manis madu.’
Kutipan memperlihatkan bahwa adanya nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain (memuji atau menyanjung orang lain) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana. Dari kalimat tersebut kita dapat mengambil nilai moral atau amanatnya, yaitu seseorang yang sedang jatuh cinta itu rasanya selalu memuji orang yang dicintainya.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 148 4.) Tulus adalah suatu naluri yang baik terdapat dalam hati manusia.
“Para punakawan kacatur melu tugur nglungguhi jejere batur kang kudu wani dadi mbat-mbataning pitutur sarta wani ndadhani sakebehing dhapur dur angkara kang ngrindu bandara. Anggone padha tugur uga karangkepan budidaya tafakur andedonga kang nyipta lan ngreksa bawana.”(PPC 3, Hal.31)
Terjemahan:
‘Para sekawan punakawan ikut menunggu setia sebagai membantu yang harus berani jadi tempat ungkapan diskusi juga berani membenarkan semua barang kejahatan yang membuat ribetnya bandaranya. Ketika semua menunggu juga berlapis budidaya tafakur berdoa pada sang pencipta bumi ini.
Dalam kutipan di atas terlihat bahwa menunjukkan nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain. Hal yang mencerminkan nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain, terdapat dalam kutipan yang berbunyi punakawan kacatur melu tugur nglungguhi jejere batur kang kudu wani dadi mbat-mbataning pitutur sarta wani ndadhani sakebehing dhapur dur angkara kang ngrindu bandara Dalam kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana terdapat nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain yaitu sifat ketulusan seorang Punakawan yang selalu setia mendampingi bendaranya kemanapun dan dimanapun beliau berada.
d. Hubungan manusia dengan lingkungan adalah menjelaskan bahwa manusia hidup di alam semesta ini, dan manusia lahir dalam suatu lingkungan, juga beradaptasi bersama alam semesta ini. Hubungan manusia dengan lingkungan dalam cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana berjumlah 2 indikator yaitu mencintai lingkungan dan menjaga flora dan fauna. Adapun ada salah satu contoh kutipan sebagai berikut.
1.) Mencintai lingkungan adalah menjaga dan melestarikan sesuatu yang tumbuh dan berkembang di alam semesta ini.
“Mula ing praja Bumi Patanen kono ana lemah sakilan kang mluwa tanpa tanduran. Tanggul lan galengan kang anggeligir iku wae uga ditanduri katon ijo royo ngrembaka maweh gambira. Ing papan kang inggil dalah ing pereng- pereng lepen kabeh tinanjeban tetuwuhan kang godhonge ledhung-ledhung katiup samirana kaya diuja.”(PPC 1, Hal.31)
Terjemahan:
‘Para punggawa beserta masyarakat semua selalu budidaya agar tercocok tanam jadi maju. Jadi di negara Bumi Patanen situ ada tanah sekilan tidak ada yang kosong tanpa tanaman. Tanggul dan jalan kecil yang bergilir itu juga ditanami kelihatan hijau segar subur. Di tempat yang tinggi juga tebing-tebing sungai semua ditanami tanaman yang daunnya tertiup angin seperti bernyanyi.’
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 149 Kutipan di atas memperlihatkan bahwa adanya nilai moral hubungan manusia dengan lingkungan (mencintai lingkungan) yang terdapat dalam cerbung Putri Puspa Cendhana. Menjaga akan mengolah tanah dijadikan laha untuk bercocok tanam.
2.) Menjaga Flora dan Fauna adalah merawat, melindungi akan tumbuh tumbuhan dan hewan yang hidup di alam semstas ini.
“Sang Bagus nuli nyaket ing ngadepe wit angsoka akembang jingga seta.”(PPC 3, Hal.32)
Terjemahan:
‘Sang Bagus terus medekat di bawah pohon soka berkembang jingga putih.’
Dalam kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pada cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana terdapat nilai moral hubungan manusia dengan lingkungan yaitu Raden Nagatatmala menjaga lingkungannya dengan mendekat dibawah pohon soka yang berwarna jingga putih. Menjaga flora dan fauna agar tetap lestari.
Simpulan
Hasil penelitian yang ditemukan analisis struktural cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun Sugeng Widodo Adi meliputi (1) tema berjumlah 1
indikator, (2) tokoh dan penokohan berjumlah 8 indikator, (3) alur berjumlah 5
indikator, (4) latar berjumlah 3 indikator, dan sudut pandang pengarang berjumalah 1
indikator. Nilai moral cerita bersambung pedhalangan Putri Puspa Cendhana karya Yun
Sugeng Widodo Adi meliputi (1)Hubungan manusia dengan Tuhan berjumlah 2
indikator, (2) Hubungan manusia dengan diri sendiri berjumlah 8 indikator, (3)
Hubungan manusia dengan manusia lain berjumlah 4 indikator, dan (5) Hubungan
manusia dengan lingkungan berjumlah 2 indikator.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 150 Daftar Pustaka