• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Limbah Industri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA A. Limbah Industri"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Limbah Industri

Air dikatakan tercemar apabila di dalamnya terdapat berbagai macam zat atau kondisi yang dapat menyebabkan menurunnya kualitas air yang sudah ditentukan, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu. Sumber pencemaran antara lain limbah rumah tangga, limbah industi, limbah rumah sakit, limbah pertanian, dan letusan gunung berapi. Bahan pencemar air diantaranya dikelompokkan menjadi sampah organik, senyawa anorganik, bahan pencemar penyebab penyakit, zat radioaktif, sedimen, bahan pencemar berupa kondisi (panas), dan sebagainya (Sudja et al. 2002).

Menurut Supriyadi (2013) limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, baik industri maupun domestik, juga dapat dihasilkan oleh alam atau yang tergolong tidak mempunyai nilai ekonomis. Berdasarkan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) tahun 1995, Bahan Berbahaya Beracun (B3) adalah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia. Apabila suatu perusahaan telah memenuhi baku mutu limbah, maka perusahaan tersebut telah berhasil melakukan pengelolaan limbah, disamping memenuhi peraturan yang berlaku.

Berbagai industri yang berpotensi menghasilkan B3 diantaranya industri tekstil, kulit, kertas, furnitur, percetakan, kimia, logam, dan berbagai industri pengolahan (Setiyono 2005).

Limbah adalah suatu barang yang habis digunakan atau bisa disebut sampah. Limbah dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

1. Berdasarkan senyawa

a. Limbah organik, yaitu limbah yang dapat diuraikan (biasanya dari makhluk hidup) dan mengandung unsur karbon. Contoh: kulit jagung, jantung pisang, daun, batang padi, kotoran hewan, dan lain – lain.

(2)

b. Limbah anorganik, yaitu limbah yang sulit atau bahkan tidak dapat diuraikan (bukan berasal dari makhluk hidup) dan tidak mengandung unsur karbon. Contoh: plastik, besi, baja, pakaian bekas, dan lain – lain.

2. Berdasarkan wujudnya

a. Limbah padat, adalah limbah yang berbentuk padat. Limbah jenis ini masih dibagi lagi menjadi berbagai jenis, yakni : garbage (sampah organik yang mudah membusuk), ashes (segala jenis abu), street sweeping (segala jenis bangkai terutama yang besar), industrial waste (benda-benda padat sisa yang merupakan sampah industri).

b. Limbah cair, adalah limbah yang berbentuk cair. Pembagian limbah cair : limbah cair domestik (rumah tangga), contoh: air sabun, tinja, sisa minyak goreng dan limbah cair industri (contoh: air cucian), rembesan dan luapan, (contoh: rembesan AC), serta air hujan.

c. Limbah gas, adalah limbah yang berwujud berupa gas. Contoh : Gas CO, O2, CO2, H2, NH3, SO2 dan sebagainya.

3. Berdasarkan sumbernya

a. Limbah domestik, yakni limbah yang ditimbulkan dari kegiatan pemukiman penduduk dan kegiatan usaha seperti pasar, restoran, dan lain – lain.

b. Limbah industri, yakni limbah yang merupakan hasil buangan industri.

c. Limbah pertanian, yakni limbah yang berasal dari kegiatan pertanian/perkebunan.

d. Limbah pertambangan, limbah yang berasal dari kegiatan pertambangan (Halim 2013).

Limbah industri tekstil merupakan limbah pencemar yang menghasilkan air limbah berwarna. Zat warna tekstil terdiri atas zat warna asam dan zat warna reaktif. Zat warna asam merupakan garam dari asam organik, sedangkan zat warna reaktif merupakan zat warna yang mengandung gugus yang bereaksi dengan gugus hidroksil atau amino (Parker 1993 cit. Barlianti et al. 2005).

Pencemaran air buangan limbah industri dapat menimbulkan dampak serius bagi manusia, hewan maupun tumbuhan. Logam berat yang terkandung dalam limbah

(3)

berdampak toksik bagi tanaman dan menurunkan nutrisi terutama nitrogen dan phosphor (Sudarmaji dan Yudastuti 2005).

Senyawa fosfat dalam air limbah dapat berupa senyawa ortofosfat, polifosfat,dan fosfat organik. Setiap senyawa tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Sumber utama pencemaran fosfat yaitu 10% dari proses alamiah, 7% industri, 11% detergen, 17% pupuk pertanian, 23% limbah manusia, dan 32% limbah peternakan. Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0,01 mg/l), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalga yang berlebih yang disebut “eutrophication”, sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut – lumut yang mati. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam air pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest). Saat siang hari pancaran sinar matahari ke dalam air akan berkurang, sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang (Yunarsih 2013).

B. Tanah Andisol

Andisol berasal dari bahasa Jepang “Ando” yang berarti hitam atau kelam dan kata “Sol” (Solum = Latin) yang artinya tanah. Tanah ini memiliki warna yang hitam (gelap), sangat porus, banyak mengandung bahan organik dan lempung tipe amorf, terutama tersusun atas alofan serta sedikit silica, alumina dan hidroxa-besi. Alofan sendiri terbentuk dari gelas vulkanik dan plagioklas serta feromagnesia. Tanah andisol memiliki kejenuhan basa rendah tetapi memiliki kapasitas penukaran kation dan anion yang tinggi (Darmawijaya 1997; Rachim dan Arifin 2011). Tanah andisol adalah tanah mineral yang 60% atau lebih dari solumnya, didominasi oleh sifat – sifat andik (Kertonegoro dan Siradz 2006).

Andisol adalah tanah yang berkembang dari bahan vulkanik seperti abu vulkan, batu apung, sinder, lava, dan/atau bahan vulkanoklastik yang fraksi koloidnya didominasi oleh mineral “short-range-order” atau ordo kisaran pendek,

(4)

seperti alofan, imogolit, ferihidrit, atau komplek Al-humus. Dalam keadaan lingkungan tertentu, pelapukan mineral aluminosilikat primer dalam bahan induk non-vulkanik dapat juga menghasilkan mineral “short-range-order”; sebagian tanah seperti ini juga masuk ke dalam andisol. Pembentukan bahan andisol terutama ditentukan oleh sifat bahan induknya dan berjalan sangat cepat akibat tingginya luas permukaan abu vulkan bahan induknya (Miller 1990).

Proses utama pembentukan Andisol adalah hidrolisis dan humifikasi.

Hidrolisis akan melapuk abu vulkan menjadi palagonit yaitu berupa suatu senyawa aluminium-silikat yang mengandung Ca, Mg, dan K. Senyawa ini kemudian akan berubah dengan cepat menjadi alofan. Hidrolisis merupakan proses penyerangan kisi – kisi kristal oleh ion hidrogen. Hasilnya berupa penggantian kation oleh hidrogen yang berakibat hancurnya struktur kristal.

Hidrolisis ini akan membebaskan basa-basa dan terbentuknya asam silikat, silikat, dan aluminium bebas. Silika dan alumunium hasil dekomposisi (pelapukan secara kimia) akan bersintesis dengan oksigen dan hidroksil membentuk mineral sekunder, seperti alofan amorf dan haloisit kristalin. Humifikasi merupakan proses perubahan bahan organik kasar menjadi humus. Alofan yang merupakan produk utama pelapukan abu vulkan bergabung dengan humus membentuk bahan yang berwarna kelam dan tahan terhadap pelapukan (Kaunang 2008).

Luas andisol di Indonesia mencapai 6,5 juta ha atau sekitar 3,4 % dari luas daratan dan merupakan areal pertanian yang penting, terutama untuk tanaman hortikultura dan perkebunan (Lembaga Penelitian Tanah 1972). Penetapan klasifikasi tanah tingkat seri, reaksi tanah (pH) dikelompokkan atas dua kelas, yaitu tanah masam pH ≤ 5,5 dan tanah tidak masam pH > 5,5 (Hardjowigeno 2003). Kebanyakan tanah Andisol memiliki pH antara 5-7 (antara asam dan basa).

Andisol seringkali ditemukan di lereng gunung karena terbentuk dari abu vulkan. Bahan abu sangat ringan, kerapatan bongkahan kurang dari 0,5 g.cm-3 (850 kg.m-3). Memiliki horison molik atau umbrik berwarna tua, seringkal di atas suatu horison B kambik. Tanah andisol memiliki sifat amorf, non-kristalin sehingga menyebabkan konsistensinya licin lekat. Andisol dapat menyerap

(5)

banyak air, memiliki KPK tinggi (35 – 54 mmol tiap 100 g) dan kandungan bahan organik 5 – 20%. Proses pembentukan tanah – tanah abu vulkanis di wilayah tropika basah meliputi : hidrolisis secara intensif, andosolisasi, irreversible drying, melaninsasi, dan pembentukan padas. Hidrolisis secara intensif pada awal pembentukan andisol menyebabkan pemecahan menjadi “palagonite” dan terbentuk alofan. Tanah yang mengandung alofan dapat terjadi irreversible drying, sehingga menyebabkan andisol yang dikeringkan mempunyai kandungan pasir dan debu lebih tinggi daripada yang tidak dikeringkan. Melanisasi tanah andisol menyebabkan terbentuknya warna hitam akibat kombinasi bahan amorf dan bahan organi yang resisten terhadap dekomposisi mikroorganisme.

Pembentukan padas pada andisol merupakan hasil mobilisasi dan translokasi silika menjadi duripan (Buringh 1991).

Andisol di Jawa umumnya berasal dari bahan induk andesit sampai basaltik, menyebabkan tanah – tanah di Jawa umumnya subur dibandingkan tanah – tanah disekitarnya. Tipikal tanah andisol di Jawa berada pada ketinggian 700 – 1500 mdpl, dengan iklim agak dingin dan lebih basah. Curah hujan tahunan antara 2000 mm hingga 7000 mm dengan temperature tahunan antara 18°C sampai 22°C.

Tanah andisol di Indonesia dibedakan menjadi andisol dataran rendah dan andisol dataran tinggi. (Munir 1996).

Andisol termasuk tanah yang produktif, akan tetapi sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal. Tanah ini mempunyai sifat yang unik dan khas seperti : berat jenis (bulk density) rendah, permeabilitas tinggi, struktur tanah stabil, kandungan Al/Fe aktif tinggi, fiksasi fosfat tinggi, dan muatan bervariasi (Shoji et al.1978). Sifat dan ciri kimia, fisika dan morfologi andisol ini berkaitan erat dengan mineral liat nonkristalin seperti alofan dan ferihidrit serta mineral liat parakristalin imogolit yang dijumpai pada tanah ini (Wada 1989).

Penelitian dari Fiantis et al. (2001) menunjukkan bahwa fraksi lempung pada tanah andisol di wilayah Sumatera Barat terutama mengandung alofan, halloysit, kristobalit, dan feldspar. Gibsit dan opalit silika juga ditemukan akan tetapi pada beberapa gunung saja. Fraksi pasir mengandung feldspar dan gelas vulkanik dengan agregat yang amorf hingga kriptokristalin. Bentuk permukaannya

(6)

umumnya berongga dan membulat. Penelitian Prowida (2003) menjelaskan bahwa tanah andisol di daerah Gunung Lawu terdiri dari mineral penyusun alofan (56,22%), gibsit (18,78%), feldspar (15,52%), kaolinit (10,13%), klorit vermikulit-montmorilonit (5,01%) dan metahdoisit (4,47%).

C. Adsorpsi

Adsorpsi merupakan proses pemisahan bahan dari campuran gas atau cair yang dipisahkan akibat ada gaya tarik antar permukaan adsorben padat pada permukaan tersebut. Adsorpsi sesuai digunakan untuk memisahkan bahan yang memiliki perbedaan konsentrasi. Kecepatan adsorpsi dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya : luas permukaan adsorben, konsentrasi, suhu, tekanan (untuk gas), ukuran partikel dan porositas adsorben, ukuran molekul bahan yang akan di adsorpsi, serta viskositas campuran yang akan dipisahkan (Lienda 2002 cit.

Endahwati dan Suprihatin 2011).

Adsorpsi (penjerapan) diartikan sebagai sejumlah reaksi kimia dan biologi yang terjadi pada antarmuka padat-cair. Adsorpsi mengacu pada konsentrasi bahan pada permukaan koloidal. Sedangkan istilah absorpsi (penyerapan) mengarah kepada pengambilan dan retensi (pemegangan) suatu bahan di dalam bahan lainnya. Istilah desorpsi digunakan untuk menyatakan proses pelepasan atau pemindahan bahan – bahan yang dijerap (adsorbat) pada bahan tempat terjadinya jerapan (adsorben) (Tan 1991).

Hubungan antara jumlah adsorbat yang terjerap dengan konsentrasi adsorbat dalam larutan pada keadaan kesetimbangan dan suhu tetap dapat dinyatakan dengan isoterm adsorpsi. Model kesetimbangan adsorpsi sistem tunggal adalah :

a. Model Isoterm Freundlich

Model Isoterm Freundlich menggunakan asumsi bahwa adsorpsi terjadi secara fisika (Al-Duri 1995). Model Isoterm Freundlich menurut Tan (1991) merupakan persamaan empirik, yang dinyatakan dengan persamaan :

(7)

Keterangan :

C : konsentrasi adsorbat pada keadaan setimbang x : jumlah teradsorp

k1, k2 : konstanta m : jumlah adsorben

b. Model Isoterm Langmuir

Model Isoterm Langmuir menggunakan pendekatan kinetika, yaitu kesetimbangan terjadi apabila kecepatan adsorpsi sama dengan kecepatan desorpsi. Asumsi yang digunakan pada persamaan Langmuir adalah :

1. Adsorpsi terjadi secara kimia

2. Adsorben merupakan sistem dengan tingkat energi homogen sehingga afinitas molekul terjerap sama untuk tiap lokasi

3. Adsorbat yang terjerap membentuk lapisan tunggal (monolayer) 4. Tidak ada interaksi antar molekul yang terjerap

5. Molekul yang terjerap pada permukaan adsorben tidak berpindah – pindah (Al-Duri 1995).

Persamaan Freundlich dapat ditulis sebagai berikut :

= K C1/n, dimana :

x : jumlah teradsorp

m : jumlah adsorben

C : konsentrasi larutan pada keadaan setimbang K dan n : konstanta

Persamaan diatas dapat juga ditulis sebagai berikut : log = log K + log C

Persamaan dalam bentuk log tersebut memberikan kurva garis lurus (Tan 1991).

c. Model Isoterm Sips

Model Isoterm Sips merupakan persamaan empirik yang disusun berdasarkan asumsi adsorpsi terjadi secara kimiawi dengan tingkat energi yang heterogen (Al-Duri 1995). Persamaan model isoterm Sips adalah :

qmaks, kS dan m merupakan konstanta Sips.

(8)

kS merupakan fungsi suhu dengan persamaan :

dengan kS,0 dan kS,∞ adalah konstanta. (Al-Duri 1995).

D. Alofan

Alofan merupakan hasil proses pelapukan terpenting dari pelapukan abu vulkanik. Alofan terbentuk dari proses hidrolisis intensif sehingga melapukkan mineral – mineral dengan melepaskan silika dan oksida – oksida. Basa – basa silika akan tercuci dalam fraksi koloid, silika, dan aluminium gelas dan berkombinasi dengan lemah membentuk tipe campuran tertentu dengan berbagai variasi komposisi mineralogi. Alofan dibedakan menjadi dua macam, yaitu Alofan A dan Alofan B. Alofan A memiliki susunan kimia yaitu SiO2.Al2O3.3H2O, sedangkan Alofan B memiliki susunan kimia SiO2.Al2O3.H2O. Secara umum reaksi pembentukan alofan dapat dituliskan dalam persamaan reaksi kimia :

2NaCaAl3Si5O16 + 17H2O + 6H+ ↔ 3Al2SiO4(OH)2H2O + 2Na2+2Ca2+ + 7H4SiO4

(Labradorit) (Alofan)

Tanah – tanah yang mengandung alofan mempunyai sifat irreversible drying yang berarti jika alofan mengering maka alofan tidak akan kembali seperti semula.

Partikel – partikel liat, debu dan kadang – kadang pasir mengalami perubahan dan terbentuk pseudosand (pasir semu) yang sulit didispersikan (Buringh 1991; Munir 1996).

Alofan merupakan salah satu mineral liat yang ditemukan pada lapisan tanah andisol. Alofan termasuk kelompok alumino-silikat alam yang bersifat amorf, komponen utamanya terdiri dari Si, Al, dan H2O. Molekul rasio SiAl mineral ini 1:1 atau 2:1, serta mempunyai struktur mineral yang acak dan terbuka atau berpori. Antara lembar tetrahedral dan oktahedral terdapat banyak daerah kosong sehingga molekul air dapat dengan mudah keluar masuk, dan anion seperti fosfat dan nitrat dapat terjerap. Alofan mempunyai daerah permukaan spesifik yang luasnya mencapai 1100 m2g-1. Luas permukaan yang besar ini mengakibatkan sistem koloid tanah menjadi sangat reaktif sehingga pertukaran kation, anion, jerapan air dan fiksasi menjadi lebih tinggi (Tan 1991).

(9)

Alofan adalah mineral aluminosilikat seperti lempung yang terdapat pada tanah andisol. Aluminosilikat non-kristal dan oksida Fe didalam tanah merupakan mineral penting dalam banyak reaksi tanah karena mempunyai daerah permukaan yang khas yang luas dan mempunyai banyak gugus fungsional aktif (Jara 2005).

Alofan alam yang dapat ditemukan pada tanah andisol memiliki daya serap tinggi untuk logam berat.

Jenis tanah andisol mengandung > 50% alofan yang berdaya jerap tinggi terhadap fosfat yaitu berkisar 300-2,500 mg P kg-1 tanah. Alofan (SiO2.Al2O3.nH2O) memiliki luas permukaan 100-800 m2 g-1, KTK 5-350 cmol kg-1, dengan rasio Si/Al antara 0,5 dan 1,0. Alofan dengan nisbah Si/Al sekitar 0.5 sangat reaktif terhadap fosfat (Fiantis et al. 2005; Pizarra et al. 2008; Elsheikh et al. 2009). Alofan merupakan mineral liat tanah yang paling reaktif karena mempunyai daerah permukaan khas yang sangat luas dan mempunyai banyak gugus fungsional aktif (Farmer et al. 1983). Adanya alofan memberikan sifat-sifat unik pada Andisol.

Penelitian dari Prowida (2003) membuktikan bahwa tanah andisol yang mengandung alofan alam dapat mengadsorb logam Zn. Alofan alam memiliki ikatan yang kuat atau bersifat irreversible sehingga memungkinkan terjadinya lapisan tunggal selama pengujian. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa energi adsorpsi dari alofan alam lebis besar dari 20,92 Kj/mol.

Menurut Sudihardjo et al. (1995) alofan di juga banyak ditemukan di tanah andisol wilayah Karst di Gunung Kidul seperti di bukit Gangsir, bukit Duleng, bukit Gadung, bukit Panjeran, dan sekitarnya. Bahan organik yang ada masih cukup tinggi > 3,15%, jumlah kation tertinggi terutama kation Ca2+ > 17 cmolkg-1. Pembentukan alofan pada daerah ini diduga langsung dari pelapukan kaca vulkan atau andesine yang diselaputi kaca vulkan.

E. Multi Soil Layering

Berdasarkan penelitian dari Sato et al. (2010), menyebutkan bahwa air limbah yang tidak termanfaatkan dapat diproses sedemikian rupa sehingga dapat digunakan kembali dengan sistem Multi Soil Layering (MSL). Prinsip dari MSL

(10)

sendiri merupakan sistem pemurnian air melalui pemanfaatan bahan alam yang mudah didapat seperti tanah pegunungan (Andisol), lalu dibentuk batu bata dengan ukuran sama disusun berlapis dengan zeolite serta diberi pipa aerasi pada bagian atasnya. Penggunaan bahan organik misalnya : serbuk gergaji, jerami padi, dan arang dapat dijadikan sebagai campuran dalam meningkatkan kemampun MSL (Masunaga 2007 cit. Elystia 2012).

Zeolit dan kerikil dapat digunakan untuk mengisi kekosongan antara tanah penghalang dan sisi kotak membentuk lapisan. Menurut Tahir et al. (1997) struktur MSL yang menggunakan zeolit dan tanah dengan ukuran tertentu sebagai unsur penyusunnya bertujuan untuk mencegah terjadinya penyumbatan.

Penggunaan zeolit pada MSL juga terbukti efektif untuk digunakan menurunkan kadar mangan dan besi, meskipun lebih baik penggunaannya untuk menurunkan kadar mangan dibandingkan besi. Ukuran zeolit juga berpengaruh terhadap kapasitas adsorpsi logam, ukuran yang semakin besar akan membuat daya adsorpsi semakin rendah (Rahman 2004).

Zeolit telah lama diketahui memiliki potensi dalam penggunaannya diantaranya berfungsi dalam mengabsorpsi, pemisahan, pertukaran ion, dan katalis. Zoelit juga efisien untuk dijadikan adsorben untuk logam berat yang meracuni tanah, sehingga penggunaannya dapat mengurangi akumulasi logam berat yang terbawa pada tanaman. Zeolit merupakan padatan kristalin yang mikroporus yang terdiri dari kerangka jaringan tiga dimensi dari SiO4 dan AlO4

tetrahedral yang berikatan dengan atom oksigen. Zeolit dapat berperan sebagai penukar ion seperti kation kalsium, natrium, magnesium, dan kalium yang berada pada tempat yang spesifik dan akan dipertukarkan dengan ion logam. Hal tersebut akan membentuk suatu ikatan kimia yang baru. Sekitar 40 jenis zeolit alam yang sudah diidentifikasi dan lebih dari 150 jenis zeolit yang telah disintesis.

Pemanfaatan zeolit untuk penghilangan logam berat lebih efektif apabila zeolit telah diaktivasi oleh sejumlah kation (Ruggieri et al. 2008; Peter et al. 2011)

Berdasarkan penelitian dari Pranoto et al. (2013) tanah andisol di beberapa gunung berapi di Indonesia seperti Papandayan, Arjuna, dan Wilis mengandung alofan. Alofan mampu mengadsorpsi logam berat dengan baik, Aktivasi alofan

(11)

dengan NaOH diperlukan untuk meningkatkan adsorpsi logam berat. Kadar logam berat seperti Fe, Mn, Cr, Cd, Cu, dan Pb terbukti dapat diturunkan persentasenya.

Pengolahan limbah industri yang mengandung logam berat seperti krom (Cr) pada umumnya memerlukan biaya yang cukup besar supaya kandungan logam berat yang ada menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan. Salah satu alternatif dalam upaya pendegradasian Cr (VI) adalah menggunakan serbuk besi.

Jumlah serbuk besi yang digunakan serta waktu reduksi mempengaruhi persentase pengambilan kembali krom (Sunardi dan Rosleini 2011).

Sistem MSL dapat dibagi menjadi dua zona yaitu zona aerobik dan zona anaerobik (Wakatsuki et al. 1993). Zona aerobik dalam system MSL berada pada bagian atas dari sistem, pada lapisan zeolit dan tempat bertemunya antara lapisan zeolit dan lapisan tanah. Pembusukan bahan organik dari limbah, fosfatfikasi dan nitrifikasi dapat berlangsung pada zona anaerobik yang berhubungan dengan lapisan campuran tanah, penting untuk penguraian nitrogen (N) melalui proses denitrifikasi seperti halnya penyediaan kandungan ion besi (Fe) kepada lapisan zeolit. Kondisi aerobik dan anaerobik dari sistem MSL harus diatur sebaik- baiknya agar semua polutan dapat diurai dan dipindahkan dengan efisien (Attananda et al. 1999).

F. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi BOD dan COD

Parameter yang dapat dikategorikan sebagai buangan organik adalah BOD (Biological Oxygen Demand), yaitu berdasarkan atas mg/L oksigen yang dikonsumsi oleh mikroba selama 5 hari. Parameter lain yang juga biasa digunakan yaitu COD (Chemical Oxygen Demand), yaitu berdasarkan pada proses oksidasi kimiawi oleh kalium kromat atau kaliu permanganat. Proses eliminasi fosfat dapat dilakukan secara kimia dan biologis. Proses tersebut juga dapat dilakukan secara terpadu untuk eliminasi BOD dan nitrogen. Apabila penanganan secara biologi tidak memungkinkan maka diperlukan tambahan metoda fisika – kimia (Fauzi 1992).

Biological Oxygen Demand (BOD) merupakan suatu pendekatan analisis empiris secara global pada proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air. Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan bekteri untuk

(12)

menguraikan (mengoksidasi) hampir semua zat organis terlarut dan sebagian zat- zat organis yang tersuspensi dalam air (Wibowo 2003). Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan parameter yang digunakan untuk menentukan bahan – bahan organik dalam air. COD merupakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan – bahan yang dapat teroksidasi dalam limbah cair oleh oksidator (Widayatno dan Sriyani 2008). Keberadaan bahan organik dan mikroorganisme dalam limbah buangan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya nilai BOD dan COD (Purnomo dan Surodjo 2012).

Penelitian Sato (2002) menunjukkan bahwa penggunaan aerasi secara terus menerus dapat mempengaruhi kinerja dari MSL. Aerasi yang digunakan dapat menurunkan pH MSL, menurunkan kadar nitrogen dan fosfor, serta menekan nilai COD dan BOD. Penelitian Endahwati dan Suprihatin (2011) menunjukkan bahwa penurunan kadar COD juga dipengaruhi laju aliran limbah yang masuk. Semakin besar laju alir air limbah maka efisiensi penyerapan oleh adsorben semakin kecil dan kurang efisien. Penyisihan COD dengan MSL berkisar 50-90%, sedangkan BOD berkisar 80-90% (Elystia 2012).

Referensi

Dokumen terkait

Limbah cair tahu khususnya didaerah palembang banyak dihasilkan dari industri rumahan dengan instalasi yang sederhana dan penanganan limbah yang belum

Perlu adanya penguraian kandungan organik dalam limbah cair tersebut dengan tujuan memecah senyawa komplek menjadi senyawa-senyawa organik yang lebih sederhana

Limbah cair industri pengolahan ikan memiliki karakteristik jumlah bahan organik terlarut dan tersuspensi yang tinggi jika dilihat dari nilai BOD dan COD.. Lemak dan minyak

kandungan amoniak dan senyawa nitrogen yang teradapat pada air limbah, diperlukan proses nitrifikasi dan denitrifikasi dalam proses pengolahan air limbah yang mana

Selain itu, pengolahan anaerobik UASB dapat mengolah air limbah dengan beban organik yang tinggi sesuai karakteristik air limbah pada peternakan sapi perah dan

Pada kolam ini limbah cair masih mengandung senyawa organik yang kompleks seperti lemak, karbohidrat, dan protein yang akan dirombak oleh bakteri anaerobik menjadi asam organik

Tetapi dalam tesis ini yang diinginkan adalah asam organik volatil yang merupakan produk antara dari proses pengolahan limbah secara anaerobik.. Dalam bagian berikut akan

Ginting (2010) menyatakan pupuk organik berasal dari penguraian bahan organik seperti daun-daun tanaman dan kotoran hewan. Pupuk organik memiliki beberapa macam,