• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN

PENELITIAN TUGAS AKHIR

PENGARUH PERLAKUAN BELERANG TERHADAP KECEPATAN INFEKSI PATOGEN Ganoderma boninense

DI PEMBIBITAN KELAPA SAWIT

DONY RANDA 12011465 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN

SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN

MEDAN

2016

(2)

2

LAPORAN

PENELITIAN TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan Diploma IV pada Program Studi Budidaya Perkebunan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian

Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan

PENGARUH PERLAKUAN BELERANG TERHADAP KECEPATAN INFEKSI PATOGEN Ganoderma boninense

DI PEMBIBITAN KELAPA SAWIT

DONY RANDA 12011465 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN

SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN

MEDAN

2016

(3)

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR MAHASISWA STIPAP

Judul Penelitian : PENGARUH PERLAKUAN BELERANG

TERHADAP KECEPATAN INFEKSI

PATOGEN Ganoderma boninense DI PEMBIBITAN KELAPA SAWIT

 Nama lengkap : DONY RANDA

NIM : 12011465

Program studi : BUDIDAYA PERKEBUNAN

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Guntoro, SP., MP. M.Yusuf Dibisono, SP., MP.

Mengetahui,

Ketua Ka. PS BDP

Wagino, SP., MP. Guntoro, SP., MP.

(4)

ii

Pembimbing Tugas Akhir : 1. Guntoro, SP., MP.

2. M. Yusuf Dibisono, SP., MP.

Tim Penguji : 1. Ir. P. Sembiring

2. Aulia Juanda Djs, S.Si., M.Si.

Telah diuji pada tanggal 3 Oktober 2016

(5)

iii

RINGKASAN

DONY RANDA. PENGARUH PERLAKUAN BELERANG TERHADAP KECEPATAN INFEKSI PATOGEN Ganoderma boninense DI PEMBIBITAN KELAPA SAWIT. Tugas Akhir Mahasiswa STIPAP Program Studi Budidaya Perkebunan dibimbing oleh Guntoro,SP.,MP. dan M.Yusuf Dibisono,SP.,MP.

Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang penting di Indonesia. Kelapa sawit harus diremajakan setiap 25 tahun atau sesuai dengan kebijakan perusahaan itu sendiri. Tampak bahwa dari generasi ke generasi intensitas penyakit akar makin meningkat. Seringkali Ganoderma boninense sudah muncul di pembibitan kelapa sawit. Sampai saat ini sudah banyak usaha untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang, tetapi mengalami kegagalan. Belerang dapat digunakan sebagai fungisida yang bersifat non sistemik yang bekerja dengan menghambat respirasi cendawan patogen.

Penelitian tugas akhir ini dilakukan di kebun penelitian STIPAP. Waktu Penelitian dilaksakan selama 6 bulan dimulai pada bulan Februari sampai dengan bulan Juli 2016. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode RAK Non Faktorial dengan perlakuan sebagai berikut, jumlah ulangan 5 ulangan, jumlah plot perlakuan 4 x 5 = 20 plot, jumlah bibit perplot 3 bibit, jumlah kebutuhan bibit 3 x 20 = 60 bibit, pengujian parameter disusun pada daftar sidik ragam dan dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5% dan 1%.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan belerang berpengaruh nyata terhadap lilit batang, tinggi tanaman, jumlah daun, keparahan dan kejadian penyakit. Perlakuan belerang mampu menekan tingkat keparahan penyakit dan kejadian penyakit hingga 80% pada keparahan penyakit dan 73.37% pada kejadian penyakit dan perlakuan terbaik secara umum terdapat pada perlakuan B2 yaitu dengan dosis 100 gram.

Kata kunci : Ganoderma boninense, Pembibitan Kelapa Sawit, Belerang

(6)

iv DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

RINGKASAN ... iii

DAFTAR ISI ... iv

KATA PENGANTAR ... vii

RIWAYAT HIDUP ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Urgensi Penelitian... 2

1.3. Tujuan Khusus ... 3

1.4. Target Temuan ... 3

1.5. Kontribusi ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Botani dan Morfologi Kelapa Sawit ... 4

2.1.1. Akar ... 4

2.1.2. Batang ... 5

2.1.3. Daun ... 5

2.1.4. Bunga ... 5

2.1.5. Buah ... 6

2.2. Pembibitan Kelapa Sawit ... 6

2.2.1. Pembibitan Satu Tahap ... 7

2.2.2. Pembibitan Dua Tahap ... 7

2.3. Bioekologi Ganoderma boninense ... 8

2.4. Gejala Penyakit Busuk Pangkal Batang ... 11

2.5. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit BPB ... 13

2.6. Pengendalian G. boninense ... 14

(7)

v

2.7. Belerang ... 15

BAB 3 METODOLOGI ... 17

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ... 17

3.2. Alat dan Bahan ... 17

3.3. Metode Penelitian... 17

3.4. Pelaksanaan Penelitian ... 18

3.5. Pengamatan dan Indikator ... 20

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22

4.1. Lilit Batang ... 22

4.2. Tinggi Batang ... 24

4.3. Jumlah Daun ... 26

4.4. Keparahan Penyakit ... 28

4.5. Kejadian Penyakit ... 30

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 32

5.1 Kesimpulan ... 32

5.2 Saran ... 32

DAFTAR PUSTAKA ... 31

LAMPIRAN ... 33

1 Denah Penelitian ... 36

2 Pengamatan Lilit Batang Tanaman (cm) Pertama ... 37

3 Pengamatan Lilit Batang Tanaman (cm) Kedua ... 38

4 Pengamatan Lilit Batang Tanaman (cm) Ketiga ... 39

5 Pengamatan Lilit Batang Tanaman (cm) Keempat ... 40

6 Pengamatan Lilit Batang Tanaman (cm) Kelima ... 41

7 Pengamatan Lilit Batang Tanaman (cm) Keenam ... 42

8 Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Pertama ... 43

9 Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kedua ... 44

10 Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Ketiga ... 45

11 Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Keempat ... 46

12 Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelima ... 47

13 Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Keenam ... 48

(8)

vi

14 Pengamatan Jumlah Daun (helai) Pertama ... 49

15 Pengamatan Jumlah Daun (helai) Kedua ... 50

16 Pengamatan Jumlah Daun (helai) Ketiga ... 51

17 Pengamatan Jumlah Daun (helai) Keempat ... 52

18 Pengamatan Jumlah Daun (helai) Kelima ... 53

19 Pengamatan Jumlah Daun (helai) Keenam ... 54

20 Skor Kerusakan Akar ... 55

21 Keparahan Penyakit (%) ... 56

22 Kejadian Penyakit (%) ... 57

23 Pengukuran pH Tanah ... 58

24 Dokumentasi Penelitian ... 58

(9)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik dan tepat waktu.

Penyusunan Tugas Akhir yang berjudul Pengaruh Perlakuan Belerang Terhadap Kecepatan Infeksi Patogen Ganoderma boninense di Pembibitan Kelapa Sawit merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan.

Dalam penulisan Tugas Akhir ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

1. Khusus dan teristimewa, terimakasih saya ucapkan kepada kedua orang tua saya tercinta Ayahanda Aiptu Tukiran dan Ibunda Dong Mauhur Purba.A.Md. yang telah berkerja keras untuk dapat selalu memberikan dukungan moral, material dan spiritual demi keberhasilan studi saya, serta saudara kandung saya Desy Ariani dan Dian Triguna yang selalu menjadi motivasi bagi saya agar selalu semangat.

2. Bapak Wagino,SP.,MP. selaku Ketua STIP-AP.

3. Bapak Guntoro,SP.,MP. selaku Ketua Progam Studi Budidaya Perkebunan sekaligus Dosen Pembibing I yang di sela-sela kesibukannya selalu meluangkan waktu untuk mendukung, membimbing, mengarahkan dan memberikan saran-saran kepada saya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

4. Bapak M.Yusuf Dibisono,SP.,MP selaku Dosen Pembibing II yang selalu memberikan pengarahan, dan sarannya kepada saya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

5. Seluruh teman-teman kelas BDP E 2012 yang telah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri yang selalu memberi semangat dan bantuan dalam pelaksanaan Tugas Akhir ini.

(10)

viii

6. Seluruh teman baik saya di Boado Cess Crew, Kepompong dan Kos Rumah Biru. Terkhusus kepada Indra Kusuma Jafa, Aguslan Rizky Siregar, Mhd Ikramulloh Fikri, Mhd Azhari, Mhd Alfin Panjaitan, Ricky Hidayat, Jefri, Jamaluddin HSB, Hendrik Dharmansyah, dan yang teristimewa Ivo Rizka Lestari Marpaung.

7. Team Dosen, Staf kampus STIP-AP beserta jajaran. yang telah banyak membantu dalam proses belajar mengajar dan memberikan ilmu pengetahuannya kepada saya.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini belum sempurna, untuk itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya khususnya dalam Budidaya Kelapa Sawit. Akhir kata penulis mengucapkan sekian dan terimakasih.

Medan, November 2016

Penulis

(11)

ix

RIWAYAT HIDUP

Dony Randa dilahirkan pada tanggal 20 Maret 1994 di Kota Takengon Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari Ayahanda Aiptu Tukiran dan Ibunda Dong Mauhur Purba,A.Md.

Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Negeri 122351 Kota Pematangsiantar pada tahun 2006 kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kota Pematangsiantar dan lulus pada tahun 2009 dan lulus dari SMA Negeri 2 Kota Pematangsiantar pada tahun 2012 di jurusan IPA. Pada tahun 2012 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan pada Program Studi Budidaya Perkebunan.

Selama masa perkuliahan, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) sebanyak dua kali. Pada PKL I dilakukan pada tahun 2014 di kebun Sei Kopas yang berlokasi di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara milik PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) yang berlangsung selama lima minggu, dan di kebun Merbau Selatan yang berlokasi di kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatra Utara milik PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) yang berlangsung selama tiga minggu.

Selanjutnya penulis melakukan PKL II pada tahun 2015 di PT. Rambang Agro Jaya dan PT. Tempirai Palm Resources, yang merupakan anak dari Perusahaan Agri Capital. yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan yang berlangsung selama 2 bulan. Pada tahun 2016 penulis melaksanakan kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PPM) selama tiga minggu di Durian IV Mbelang, Kecamatan Sinembah Tanjung Mulia Hulu, Kabupaten Deli Serdanng, Sumatera Utara. Penulis dalam ruang lingkup kemahasiswaan aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar sehari-hari serta aktif dalam kehidupan berorganisasi pada kurun waktu selama empat tahun.

(12)

x

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

2.1 Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit ... 8

3.1 Kriteria Skor Kerusakan Akar ... 20

4.1 Rataan Perkembangan Lilit Batang Tanaman ... 22

4.2 Rataan Perkembangan Tinggi Batang Tanaman ... 24

4.3 Rataan Perkembangan Jumlah Daun ... 26

4.4 Persentase Keparahan Penyakit Tanaman ... 28

4.5 Persentase Kejadian Penyakit Tanaman ... 30

(13)

xi

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

2.1 Pohon Kelapa Sawit... 4

2.2 Tubuh Buah G. boninense ... 10

2.3 Akumulasi daun tombak dan pengeringan pelepah ... 12

2.4 Tanaman kelapa sawit yang tumbang akibat G. boninense ... 13

4.1 Grafik Rata-rata Lilit Batang ... 23

4.2 Grafik Rata-rata Tinggi Tanaman ... 25

4.3 Grafik Rata-rata Jumlah Daun ... 27

4.4 Grafik Rata-rata Keparahan Penyakit ... 29

4.5 Grafik Rata-rata Kejadian Penyakit ... 31

(14)

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kelapa sawit merupakan tanaman komoditas perkebunan yang cukup penting di Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah.

Komoditas kelapa sawit, baik berupa bahan mentah maupun hasil olahannya.

Prospek pasar bagi olahan kelapa sawit cukup menjanjikan, karena permintaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup besar, tidak hanya dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Karena itu, sebagai Negara tropis yang masih memiliki lahan yang cukup luas, Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit, baik melalui penanaman modal asing maupun skala perkebunan rakyat. Minyak kelapa sawit mempunyai kemampuan daya saing yang cukup kompetitif dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, karena produktivitas per hektarnya cukup tinggi dan juga ditinjau dari aspek gizinya minyak kelapa sawit tidak mengandung kadar kolesterol yang tinggi (Lubis, 2008).

Kebun kelapa sawit harus diremajakan setiap 25 tahun atau sesuai dengan kebijakan perusahaan itu sendiri. Dengan demikian di kebun-kebun lama pada saat ini terdapat tanaman generasi ke-2 atau ke-3. Tampak bahwa dari generasi ke generasi intensitas penyakit akar makin meningkat. Untuk Timur jauh, termasuk Indonesia, busuk pangkal batang adalah penyakit yang terpenting dalam perkebunan kelapa sawit Indonesia. Arti dari penyakit ini makin lama makin meningkat. Pertama karena adanya usaha besar-besaran untuk memperluas kebun kelapa sawit di Indonesia. Kedua, dari generasi ke generasi persentase tanaman sakit semakin meningkat. Penanaman kelapa sawit yang ditanam sesudah kelapa sawit atau kelapa akan mendapat serangan yang lebih berat dari busuk pangkal batang. Kalau dulu dianggap sebagai penyakit kebun tua, sekarang penyakit ini terdapat juga di kebun yang masih muda (Semangun, 2000).

(15)

2

Seringkali Ganoderma boninense sudah muncul di pembibitan kelapa sawit.

Oleh karena itu strategi yang diterapkan adalah menggunakan media pembibitan yang bebas G. boninense (Susanto, 2012). Di Sumatera Utara, di kebun kelapa sawit yang setengah umur (lebih kurang 15 tahun) kadang dari setengah pohonnya mati. Memang dalam hal ini kerugian hasil tidak sampai 50, karena adanya peningkatan hasil dari pohon-pohon di sekitar tempat yang kosong. Karena adanya kompensasi ini, produksi kebun hanya akan sedikit terpengaruh bila 10-20 dari pohonnya mati (Turner, 1981). Ada dua macam kerugian yang disebabkan oleh , kerugian langsung dan tidak langsung.

Kerugian langsung berhubungan dengan produksi yang rendah karena kematian tanaman, sedangkan kerugian tidak langsung berhubungan dengan penurunan berat buah dari buah kelapa sawit. yang menyerang tanaman membuat berat batang tanaman menjadi berkurang yang pada akhirnya membuat tanaman menjadi tidak berbuah (Susanto, 2011).

Belerang dapat digunakan sebagai fungisida yang bersifat non sistemik yang bekerja dengan menghambat respirasi cendawan patogen. Sampai saat ini sudah banyak usaha untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang, tetapi mengalami kegagalan. Pengendalian tersebut meliputi pengendalian secara kultur teknis, mekanis dan kimiawi. Kegagalan pengendalian banyak disebabkan oleh sifat patogen yang tular tanah sehingga apabila dikendalikan dengan fungisida maka kemungkinan tidak efektif karena sifat fisik dan kimia tanah (Susanto dan Prasetyo, 2008).

1.2 Urgensi Penelitian

Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang semakin pesat mengakibatkan para pekebun harus memahami serangan penyakit busuk pangkal batang yang dapat merugikan secara ekonomi. Penyakit busuk pangkal batang salah satu jenis penyakit yang disebabkan infeksi jamur G.

boninense yang menyerang bagian akar dan pangkal batang di tanaman kelapa sawit. Akar dan pangkal batang merupakan bagian yang terpenting

(16)

3

dalam proses penyerapan air, mineral dan unsur hara dari dalam tanah sekaligus penopang tanaman kelapa sawit agar tetap tegak berdiri.

Sudah lama diketahui bahwa belerang sangat penting untuk tanaman dan hewan. Walaupun masih banyak yang harus dipelajari, sudah diketahui bahwa belerang itu sangat penting untuk banyak reaksi dalam tiap sel makhluk hidup. Belerang adalah unsur dari asam amino, metionin dan sistin.

Oksidasi belerang sangat mempengaruhi keasaman tanah. Untuk tiap atom belerang yang dioksidasi dihasilkan dua ion hidrogen. Sifat belerang yang mengasamkan ini dimanfaatkan untuk menurunkan pH pada tanah (Buckman, Brady., 1982).

Menurut Susanto et al. (2013) sifat kimia tanah yang mempengaruhi laju infeksi G. boninense di dalam tanah ialah pH. Untuk itu peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh belerang terhadap laju infeksi patogen G. boninense di pembibitan kelapa sawit.

1.3 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan belerang terhadap laju infeksi patogen G.boninense di pembibitan kelapa sawit.

b. Untuk mengetahui efektifitas dosis belerang terhadap laju infeksi patogen G.boninense di pembibitan kelapa sawit.

1.4 Target Temuan

Menemukan pengaruh perlakuan belerang terhadap laju infeksi G. boninense di pembibitan kelapa sawit.

1.5 Kontribusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi masukan bagi agroindustri perkebunan kelapa sawit dalam mengendalikan penyakit busuk pangkal batang.

(17)

4 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani dan Morfologi Kelapa Sawit

Dalam dunia botani, setiap tumbuhan diklasifikasikan untuk memudahkan identifikasi secara ilmiah. Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman yang menghasilkan minyak nabati terbanyak yang berasal dari benua Afrika.

Klasifikasi kelapa sawit Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Klas : Monocotyledonae Ordo : Palmales

Famili : Palmae Subfamili : Cocoidae Genus : Elaeis

Species : Elaeis guineensis Jacq

Gambar 2.1 : Pohon Kelapa Sawit Sumber : id.wikipedia.org (2016)

(18)

5 2.1.1 Akar

Kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil dan mempunyai akar serabut.

Akar pertama yang muncul dari biji yang berkecambah disebut radikula (bakal akar) dan plumula (bakal batang). Selanjutnya akar ini akan mati dan kemudian disusul dengan tumbuhnya sejumlah akar yang berasal dari pangkal batang. Akar ini disebut akar serabut atau Radic adventica (Wahyuni, 2007).

Akar tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai penyerap unsure hara dalam tanah dan respirasi tanaman. Selain itu, sebagai penyangga berdirinya tanaman sehingga mampu menyokong tegaknya tanaman. (Fauzi. dkk, 2008).

2.1.2 Batang

Kelapa sawit merupakan tanaman monokotil, yaitu batangnya tidak mempunyai kambium dan umumnya tidak bercabang. Batang berfungsi sebagai struktur tempat melekatnya daun, bunga, dan buah. Batang juga berfungsi sebagai organ penimbun zat makanan yang memiliki sistem pembuluh yang mengangkut air dan hara mineral dari akar. Tanaman yang masih muda batangnya tidak terlihat karena tertutup oleh pelepah daun (Fauzi. dkk, 2008).

Batang kelapa sawit tumbuh tegak lurus (phototropi) dibungkus oleh pelepah daun (frond base). Karena sebab tertentu dapat juga timbul percabangan meskipun sangat jarang sekali (Lubis, 2008).

2.1.3 Daun

Daun kelapa sawit berupa dan tunggal dengan susunan tulang-tulang daun menyirip. Pada tanaman muda kelapa sawit mengeluarkan 30 daun (pelepah) per tahun dan pada tanaman tua antara 18-24 pelepah. Jumlah daun yang dipertahankan di tajuk pada tanaman dewasa adalah 40-46 buah. Selebihnya dibuang pada saat panen atau penunasan (Wahyuni, 2007).

(19)

6

Daun kelapa sawit memiliki rumus daun 1/8. Lingkaran atau spiralnya ada yang berputar kekiri dan kekanan tetapi kebanyakan putar kekanan.

Pengenalan ini penting diketahui agar kita dapat mengetahui letak daun ke-9, ke-17, dan lain- lain yang dipakai sebagai standar pengukuran pertumbuhan maupun pengambilan contoh daun pengamatan lainnya (Lubis, 2008).

2.1.4 Bunga

Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu. Artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman serta masing-masing terangkai dalam satu tandan. Rangkaian bunga jantan terpisah dengan dengan bunga betina. Setiap rangkaian bunga muncul dari pangkal pelepah daun (ketiak daun). Setiap ketiak daun hanya menghasilkan satu infloresen (bunga majemuk). Sebelum bunga mekar dan masih diselubungi seludang, sudah dapat dibedakan bunga jantan dengan bunga betina, yaitu dengan melhat bentuknya (Fauzi, dkk. 2014). Perbandingan bunga betina dan bunga jantan (sex ratio) sangat dipengaruhi oleh pupuk dan air. Jika tanaman kekurangan pupuk atau kekurangan air, bunga jantan akan lebih banyak keluar.

Produktivitas tanaman menjadi baik jika unsur hara dan air tersedia dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Kecukupan unsur hara dan air didasarkan oleh analisis tanah, air, dan daun sesuai dengan umur tanaman (Sunarko, 2009).

2.1.5 Buah

Umumnya yang ditanam adalah varietas nigrescens dengan warna buah ungu kehitaman saat mentah. Buah akan matang 5-6 bulan setelah penyerbukan dan warnanya berubah menjadi orange. Berat tandan dan ukuran buah bervariasi tergantung umur tanaman, kesuburan tanah dan pemeliharaan.

Dalam 1 tandan ada 600-2000 buah, panjang buah 3-5 cm, berat perbuah 13- 30 gr. Pada suatu rangkaian buah di bagian dalam tandan, ukuran buah lebih kecil dari yang berada diluar. Buah matang lepas dari tandan disebut brondolan (Tim Pengembangan Materi, 2010).

(20)

7 2.2 Pembibitan Kelapa Sawit

Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit, yang sangat menentukan keberhasilan pertanaman. Melaluai tahap pembibitan ini diharapkan akan menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi cekaman lingkungan saat pelaksanaan transplanting. Untuk menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas diperlukan pengolahan yang intensif selama tahap pembibitan (Sulistyo, 2010).

Pertumbuhan awal bibit merupakan periode kritis yang sangat menentukan keberhasilan tanaman dalam mencapai pertumbuhan yang baik di pembibitan (Pahan, 2011).

Ada dua sistem pembibitan yang dikenal sebagai sistem pembibitan tahap ganda atau double stage system karena dilakukan dalam dua tahap yaitu lebih dahulu kecambah dipelihara dan ditanam di kantong plastik kecil sampai berdaun 3 atau berumur 3 bulan, kemudian dipindahkan ke tahap berikutnya yaitu pada kantong plastik yang lebih besar selama lebih kurang 9 bulan.

Pada usia ini bibit sudah siap ditanam di lapangan. Tahap pertama tadi disebut pembibitan awal atau pre nursery dan tahap yang kedua disebut pembibitan utama atau main nursery. Sistem lainnya adalah sistem satu tahap atau single stage system atau pembibitan tahap tunggal. Dikatakan tunggal karena kecambah langsung ditanam ke kantong plastik besar, jadi tidak dibesarkan dahulu (Lubis, 2008).

Pertumbuhan jumlah daun, tinggi dan diameter batang bibit kelapa sawit dapat dilihat pada tabel 2.1

(21)

8

Tabel 2.1 Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit.

Umur (bulan)

Jumlah Daun (helai)

Tinggi (cm)

Diameter Batang (cm)

1 4,0 20 1,3

2 4,5 25 1,5

3 5,5 32 1,7

4 8,5 40 1,8

5 10,5 52 2,5

6 11,0 59 2,7

7 11,5 64 3,0

8 12,0 73 3,6

9 14,0 88 4,5

10 16,0 110 5,5

11 17,0 120 5,8

12 18,0 130 6,0

Sumber : LPP, 2010

2.2.1 Pembibitan Satu Tahap

Ada beberapa keuntungan penerapan pembibitan satu tahap antara lain, tidak memerlukan polibag kecil atau penaung karena bibit langsung dipelihara di MN dan tidak ada shok yang kadang dijumpai saat bibit dipindahkan ke MN (Darmosarkoro. dkk, 2008).

(22)

9

Pembibitan satu tahap ini membutuhkan areal yang lebih luas pada periode 3 – 5 bulan pertama dan membutuhkan lebih banyak sarana irigasi (Setyamidjaja, 2006).

2.2.2 Pembibitan Dua Tahap

Sistem pembibitan dua tahap memiliki beberapa keuntungan antara lain, pemeliharaan PN lebih mudah dan intensif karena bibit PN terkumpul di bedengan kecil, selama bibit di PN terdapat cukup waktu untuk mempersiapkan pembibitan utama seleksi yang ketat saat pindah ke MN dapat mengurangi penggunaan tanah dan polibag di MN, bibit lebih terjamin karena ada proses seleksi secara bertahap selama di PN maupun MN dan kemungkinan kecambah/bibit mati, sakit, dan rusak lebih kecil (Darmosarkoro. dkk, 2008).

Pembibitan awal (pre nursery) merupakan tempat kecambah kelapa sawit ditanam dan dipelihara hingga berumur tiga bulan. Selanjutnya, bibit tersebut akan dipindahkan ke pembibitan utama (main nursery). Pembibitan awal dilakukan selama 2-3 bulan (Sunarko 2009). Setelah bibit berumur 2,5 bulan – 3 bulan, mulai dilakukan seleksi bibit yang tumbuh kerdil dan abnormal dibuang demikian juga bibit yang ganda, harus dipisahkan. Sementara bibit yang kondisinya bagus dipindahkan ke pembibitan utama setelah mempunyai tiga sampai empat daun dan tinggi bibit 18 – 20 cm (Pardamean, 2011).

Pembibitan awal dimulai dari persiapan areal, membuat bedengan, menabur pasir, meracun serangga, pembuatan naungan, mengumpulkan tanah, mengisi polibag, menyusun di bedengan, seleksi kecambah dan menanam kecambah.

Kemudian dilakukan perlakuan pemeliharaan seperti penyiraman, penyiangan, drainase, pemupukan, konsolidasi bibit, pengendalian hama dan penyakit hingga seleksi (Tim Pengembangan Materi, 2010)

Pembibitan utama (main nursery) memerlukan lahan yang luas karena bibit ditanam dengan jarak tanam yang lebih lebar. Di lokasi pembibitan ini harus tersedia sumber air yang mencukupi kebutuhan dan instalasi penyiraman

(23)

10

(springkler irrigation). Areal pembibitan harus terbuka, bebas dari gulma, dan terhindar dari gangguan hewan-hewan liar dan hewan peliharaan (Setyamidjaja, 2006).

Pembibitan utama dimulai dari persiapan areal, memancang, mengumpulkan tanah, mengisi polibag, menyusun polibag, menanam bibit. Kemudian dilakukan perlakuan perawatan seperti penyiraman, penyiangan, pemberian mulsa, konsolidasi, pembuatan parit drainase, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, memutar polibag hingga seleksi (Tim Pengembangan Materi, 2010).

2.2. Bioekologi Ganoderma boninense

G. boninense tergolong dalam kelas Basidiomycetes penyebab utama penyakit akar pada tanaman berkayu dengan menguraikan lignin yang mengandung selulosa dan polisakarida.

Klasifikasi G. boninense Kingdom : Fungi

Kelas : Basidiomycota Ordo : Polyporales Famili : Ganodermataceae Genus : Ganoderma

Spesies : Ganoderma boninense

(24)

11

Gambar 2.2 : G. boninense Sumber : Susanto (2011)

G. boninense sebenarnya lebih dikenal sebagai obat herbal khususnya di China, Korea dan Jepang. G. boninense merupakan keluarga Basidiomycetes yang tersebar luas, penyebab penyakit akar putih pada tanaman keras, dengan mengkomposisikan lignin yang mengandung selulose dan polisakarida.

Tidak hanya itu saja, sekarang ini G. boninense menjadi penyakit tanaman yang sangat merugikan misalnya di tanaman kelapa sawit dan akasia (Susanto dan Prasetyo, 2008).

Penyakit busuk pangkal batang (BPB) kelapa sawit pertama kali ditemukan pada tahun 1915 di Zaire (Kongo) dan penyakit ini dianggap tidak menimbulkan kerugian yang berarti (Turner, 1981). Busuk pangkal batang kelapa sawit yang disebabkan oleh G. boninense merupakan penyakit yang paling destruktif di perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia.

Patogen ini tidak hanya menyerang tanaman tua, tetapi juga yang masih muda. Saat ini, laju infeksi penyakit busuk pangkal batang berjalan semakin cepat, terutama pada tanah dengan tekstur berpasir (Susanto et al. 2013).

G.boninense merupakan cendawan Basidiomycota yang bersifat tular tanah dan sebagai penyebab utama penyakit akar putih pada tanaman berkayu dengan menguraikan lignin. Sebagian besar siklus G.boninense ada di dalam tanah atau jaringan tanaman (Susanto et al. 2013).

Penyebaran penyakit yang paling utama adalah dengan kontak antara akar tanaman sehat dan sakit. Penyebaran yang kedua melalui basidiospora langsung ke tanaman kelapa sawit, serta yang ketiga melalui inokulum sekunder yaitu basidiospora tumbuh pada tunggul tanaman dan selanjutnya terjadi kontak akar antara tanaman sehat dan sumber inokulum tersebut. Pada saat ini banyak dilaporkan bahwa pada tanah yang relatif miskin unsur hara cenderung mempunyai kejadian penyakit yang lebih besar (Susanto, 2011).

2.3 Gejala Penyakit Busuk Pangkal Batang

(25)

12

Gejala utama penyakit adalah terhambatnya pertumbuhan, warna daun menjadi hijau pucat dan busuk pada batang tanaman. Pada pembibitan dan tanaman belum menghasilkan, gejala awal ditandai dengan penguningan tanaman atau daun terbawah diikuti dengan nekrosis yang menyebar ke seluruh daun. Gejala- gejala ini mirip dengan gejala yang disebabkan defisiensi hara, kekeringan, tanaman didaerah tergenang, atau gejala serangan rayap. Oleh sebab itu perlu diperhatikan informasi tambahan untuk mendiagnosa penyakit ini (Susanto, 2012).

Dapat diasumsikan jika gejala pada daun terlihat, maka setengah batang kelapa sawit telah hancur oleh G. boninense. Pada tanaman belum menghasilkan, saat gejala muncul, tanaman akan mati setelah 7 sampai 12 bulan, sedangkan tanaman dewasa akan mati setelah 2 tahun. (Lubis, 2008).

Pada tanaman muda, daun yang mengering tetap pada posisinya, sedangkan pada tanaman dewasa atau tua pelepah patah pada pangkalnya dan menggantung di sekeliling batang. Satu atau beberapa badan buah jamur terbentuk sekaligus pada pangkal batang dan pangkal akar, mula – mula sebesar kancing baju, berwarna putih dan berkembang membentuk lempengan dengan posisi horizontal, permukaan atasnya coklat mengkilat, sedangkan permukaan bawahnya putih kelabu dengan banyak pori halus yang menghasilkan banyak sekali basidiospora (Purba, 2009).

(26)

13

Gambar 2.3 : Akumulasi daun tombak dan pengeringan pelepah Sumber : Susanto dan Prasetyo (2008)

Saat gejala pada tajuk muncul, biasanya setengah dari jaringan didalam pangkal batang sudah mati oleh G. boninense. Sebagai tambahan, gejala internal ditandai dengan busuk pangkal batang muncul. Dalam jaringan yang busuk, luka terlihat dari area berwarna coklat muda diikuti dengan area gelap seperti bayangan pita, yang umumnya disebut zona reaksi (Semangun, 2000).

Secara mikroskopik, gejala internal dari akar yang terserang G.boninense sama dengan batang yang terinfeksi. Jaringan korteks dari akar yang terinfeksi berubah menjadi coklat sampai putih. Pada serangan lanjutan, jaringan korteks menjadi rapuh dan mudah hancur. Jaringan stele akar terinfeksi menjadi hitam pada serangan berat. Hifa umumnya berada pada jaringan korteks, endodermis, perisel, xilem dan floem. Tanda lain dari penyakit ialah munculnya tubuh buah atau basidiokarp pada pangkal batang kelapa sawit (Susanto, 2011).

Gejala ditandai dengan mati dan mengeringnya tanaman dapat terjadi bersamaan dengan adanya serangan rayap. Dapat diasumsikan jika gejala pada daun terlihat, maka setengah batang kelapa sawit telah hancur oleh G.

(27)

14

boninense. Pada tanaman belum menghasilkan, saat gejala muncul, tanaman akan mati setelah 7 sampai 12 bulan, sementara tanaman dewasa akan mati setelah 2 tahun. Saat gejala tajuk muncul, biasanya setengah dari jaringan didalam pangkal batang sudah mati oleh G. boninense. Sebagai tambahan, gejala internal yang ditandai dengan busuk pangkal batang muncul. Dalam jaringan yang busuk, luka terlihat dari area berwarna coklat muda diikuti dengan area gelap seperti bayangan pita, yang umumnya disebut zona reaksi resin (Semangun, 2000).

Gambar 2.4 : Tanaman kelapa sawit yang tumbang akibat G. boninense Sumber : Susanto (2012)

Tidak hanya di tanah mineral, di tanah gambut perkembangan penyakit G.

boninense juga lebih cepat. Laju infeksi yang lebih cepat ini diduga akibat peran mekanisme lain penyebaran G. boninense yang melalui basidiospora).

Gejala penyakit G. boninense yang muncul di tanah gambut pun tidak hanya busuk pangkal batang tetapi juga busuk pangkal atas (Susanto et al., 2008).

2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit BPB

Kejadian penyakit bervariasi antar daerah di Indonesia. Kejadian penyakit BPB sangat tinggi pada lahan bekas tanaman kelapa di suatu daerah, tetapi tidak pada daerah lain. Ada tiga cara penyebaran jamur yang mungkin yaitu

(28)

15

melalui kontak akar, spora dan inokulum sekunder di dalam tanah (Susanto dan Prasetyo, 2008).

Teknik persiapan lahan, baik lahan bukaan baru eks hutan, lahan konversi dari karet atau kelapa, ataupun lahan peremajaan ikut mempengaruhi perkembangan penyakit, sisa-sisa tumbuhan atau tanaman menjadi alas makan, serta tempat berkembang biak dan bertahan hidup G. boninense dilapangan. Di Indonesia kasus berat G. boninense terdapat di daerah pesisir dengan jenis tanah alluvial atau gambut maupun di pedalaman dengan jenis tanah podsolik. Secara umum kasus di daerah pesisir lebih berat dibandingkan dengan di pedalaman (Purba, 2009).

2.5 Pengendalian G. boninense

Penelitian yang mendalam sudah banyak dilakukan namun sampai sekarang belum banyak memberi hasil. Pemakaian berbagai jenis fungisida, belerang pada tanah, tindakan kultur teknis dan lain-lain juga sudah cukup banyak dilakukan. Pengendalian yang dapat dianjurkan sementara ini adalah membersihkan sumber infeksi sebelum tanam. Akar tanaman tua hendaknya terbongkar atau terangkat keatas. Pembakaran batang dan akar mengurangi kemungkinan infeksi. Menghindari pelukaan pada batang atau akar sehingga penggarukan dengan garuk untuk pemberantasan gulma perlu dihindarkan pada area infeksi (Lubis, 2008).

Prinsip yang diterapkan dalam mengendalikan penyakit G. boninense ini adalah mengendalikan sedini mungkin dan pada semua stadia budidaya kelapa sawit serta menggabungkan semua teknik pengendalian yang ada saat ini. Sebenarnya secara teori pengendalian G. boninense dapat dilaksanakan dengan baik jika sumber inokulum yang berupa akar terinfeksi dan batang kelapa sawit dapat ditiadakan. Pengendalian dimulai dari pra replanting, replanting, pembibitan, penanaman, TBM dan TM. Teknik yang diterapkan merupakan pengendalian dengan tanaman yang toleran yang didukung pengendalian secara fisik dan mekanik, pengendalian hayati, dan pengendalian secara kultur teknis (Susanto, 2012).

(29)

16

Upaya menekan laju penyakit BPB dapat juga dilakukan melalui penggunaan sistem tanam hole in hole. Sistem tanam ini bertujuan mengurangi sumber inokulum Ganoderma hingga seminimal mungkin pada titik pe-nanaman bibit kelapa sawit (Priwiratama. dkk, 2014)

2.6 Belerang

Unsur belerang merupakan unsur hara makro esensial yang diserap tanaman dalam jumlah yang hampir sama dengan unsur P. Sumber belerang bagi tanaman berasal dari pelapukan mineral tanah, gas belerang atmosfer dan dekomposisi bahan organik (Hanafiah, 2005).

Belerang ialah unsur dari asam amino, metionin dan sistin, sehingga kekurangan belerang mengakibatkan hara belerang menjadi buruk. Oksidasi belerang adalah proses yang mengasamkan. Untuk tiap atom belerang yang dioksidasi dihasilkan dua atom hidrogen. Akibat pemberian belerang yang mengasamkan ini dimanfaatkan untuk menurunkan pH pada tanah tertentu dan juga untuk mengendalikan penyakit pada tanaman (Buckman dan Brady, 1982).

Seperti nitrogen, belerang merupakan salah satu unsur penting dari beberapa asam amino yang merupakan komponen esensial protein tanaman maupun hewan. Jadi belerang berperan penting dalam hal pembentukan protein (Hasibuan, 2006).

Belerang merupakan fungisida non sistemik yang digunakan sebagai protektan dan bersifat sebagai fungisida dan akarisida. Belerang bersifat non- specific thiol reactant dan bekerja dengan menghambat respirasi cendawan (Djojosumarto, 2008).

Kelebihan belerang mempengaruhi sintesis protein, karena berkurangnya sintesis asam amino yang mengandung belerang. Hal ini mengakibatkan pula pengumpulan asam amino yang tidak mengandung belerang pada jaringan

(30)

17

tanaman. Kelebihan belerang lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman bagian atas daripada bagian akar. Gejala yang dapat diamati seperti tanaman menguning, pertumbuhan tanaman kerdil, batang kurus, kaku dan rapuh (Hasibuan, 2006).

BAB 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan STIPAP Medan. Penelitian ini dilaksakan dari bulan Februari sampai dengan bulan Juli 2016.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang akan digunakan adalah:

 Polibag ukuran 30 x 40 berwarna hitam

 Cangkul

(31)

18

 Meteran kain

 Serta peralatan lain yang dibutuhkan untuk penelitian.

Bahan yang akan digunakan adalah:

 Bibit tanaman kelapa sawit berumur 2 bulan

 Bahan tanah top soil bekas tanaman kelapa sawit yang terserang G.

boninense yang diambil dari Desa Perlanaan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun

 Bubuk Belerang

 Polibag berwarna hitam dengan ukuran 30 x 40 cm

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode RAK Non Faktorial dengan perlakuan yang diteliti adalah sebagai berikut:

B0 : Tanpa perlakuan

B1 : Pemberian belerang dengan dosis 50 gram per polibag B2 : Pemberian belerang dengan dosis 100 gram per polibag B3 : Pemberian belerang dengan dosis 150 gram per polibag

Dengan bibit yang dibutuhkan sebanyak 4 x 5 = 20 bibit, dimana setiap plot terdiri dari 3 tanaman utama dengan 5 ulangan.

Jumlah ulangan : 5

Jumlah plot : 4 x 5 = 20 Jumlah tanaman per plot : 3

Jumlah sampel tanaman : 60

Adapun model linier yang digunakan adalah model linier RAK non faktorial dengan rumus umum sebagai berikut (Sastrosupadi, 2000) :

𝑌𝑖𝑗 = 𝜇 + 𝜏𝑖 + 𝛽𝑗 + 𝜀𝑖𝑗

(32)

19 Dimana 𝑖 = 1,2, … , 𝑡 dan j = 1,2, … , 𝑟 Dengan:

𝑌𝑖𝑗 = Pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j 𝜇 = Mean populasi

𝜏𝑖 = Pengaruh aditif dari perlakuan ke-i 𝛽𝑗 = Pengaruh aditif dari blok ke-j

𝜀𝑖𝑗 = Pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-i dan kelompok ke-j Pengujian parameter disusun pada daftar sidik ragam dan dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5 % dan 1 %.

3.4 Pelaksanaan Penelitian a. Persiapan areal penelitian

Areal tempat pembibitan dibersihkan dari segala vegetasi, sampah atau kotoran, batu – batuan dan tumbuhan pengganggu lainnya, kemudian dilakukan pengukuran luas tempat penelitian, setelah itu tanah diratakan sehingga polibeg dapat disusun rapi dan tidak miring. Tempat penelitian bebas mendapat cahaya matahari dan tanahnya tidak tergenang air.

b. Persiapan media tanam

Tanah yang digunakan adalah tanah Top soil yang berasal dari lahan kelapa sawit yang telah terinfeksi G. boninense. Tanah berasal dari Desa Perlanaan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun.

c. Pengisian tanah kedalam polibag dan aplikasi perlakuan belerang

Tanah yang terinfeksi G. boninense dimasukkan dalam polibeg berukuran 30 x 40 cm dengan berat tanah 10 kg kemudian dicampur dengan belerang dengan dosis masing-masing perlakuan.

d. Penanaman bibit kelapa sawit

(33)

20

Bibit ditanam setelah 2 minggu masa inkubasi tanah. Bibit ditanam dari polibag ke polibag besar, dengan cara polibag kecil terlebih dahulu dipotong dibagian samping untuk pelepasan polibag. Kemudian disekeliling bibit dipadatkan dengan tanah agar bibit menjadi kokoh dan tidak mudah tumbang.

e. Penyiraman

Penyiraman tanaman dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore dan disesuaikan dengan kondisi cuaca pada hari penyiraman.

f. Penyiangan gulma

Pada kegiatan penyiangan dilakukan sesuai dengan keadaan pertumbuhan gulma diareal penelitian. Gulma yang tumbuh disekitar atau di dalam polybag dicabut dengan tangan (manual).

g. Pembongkaran

Setelah bibit ditanam selama 6 bulan dilakukan pembongkaran tanpa merusak perakaran untuk keperluan pengamatan.

3.5 Pengamatan dan Indikator

a. Lilit batang tanaman (cm)

Pengukuran lilit batang dilakukan di pangkal batang menggunakan meteran kain. Pengukuran dilakukan tiap bulan sekali selama enam bulan.

b. Tinggi tanaman (cm)

Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dari pangkal batang diatas permukaan tanah sampai ujung daun. Daun tersebut ditegakkan lalu

(34)

21

diukur dengan meteran. Pengukuran dilakukan setiap bulan sekali selama enam bulan.

c. Jumlah Daun (helai)

Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan menghitung daun yang sudah terbuka dan yang setengah terbuka. Pengamatan dilakukan selama 6 bulan dengan interval satu kali dalam sebulan.

d. Keparahan Penyakit (%)

Perkembangan jamur G. boninense diamati dengan membongkar polibag dan mengamati perakaran bibit kelapa sawit enam bulan setelah penanaman. Persentase bercak nekrotik pada akar digunakan untuk menentukan tingkat keparahan penyakit dengan metode skor 0 hingga 4, dengan metode skoring tercantum pada Tabel 3.2.

Tabel 3.1 Kriteria skor

Skor Area Nekrosis

0 0 ≤ 𝑥 < 1 % Nekrotik yang ada bukan karena infeksi G.boninense 1 1 ≤ 𝑥 < 20 % Nekrotik yang terjadi berkembang hingga kurang dari 20 % 2 20 ≤ 𝑥 < 40 % Nekrotik yang terjadi berkembang 20 – 40 %

3 40 ≤ 𝑥 < 60% Nekrotik yang berkembang 40 – 60 %

4 𝑥 > 60 % Nekrotik yang terjadi berkembang hingga lebih dari 60 %

Sumber : Risanda, 2007

Keparahan penyakit dihitung menggunakan rumus (Townsend dan Heuberger, 1943) :

𝐾𝑝𝑃 = 4𝑖=0Z x N ni x vi x 100%

Keterangan :

KpP = keparahan penyakit (%) n = jumlah akar nekrotik

(35)

22

v = nilai skor dari masing-masing kategori N = jumlah akar yang diamati

Z = nilai skor tertinggi e. Kejadian penyakit (%)

Kejadian penyakit diamati setelah tanaman dibongkar dengan menganalisa nekrotik akar. Kejadian penyakit dihitung menggunakan rumus (Abbott, 1942) :

𝐾𝑃 = 𝑎+𝑏𝑎 × 100 % Keterangan :

KP = kejadian penyakit (%) a = jumlah tanaman sakit b = jumlah tanaman sehat

Gambar

Gambar 2.1 : Pohon Kelapa Sawit  Sumber : id.wikipedia.org (2016)
Gambar 2.3 : Akumulasi daun tombak dan pengeringan pelepah  Sumber  : Susanto dan Prasetyo (2008)
Gambar 2.4 : Tanaman kelapa sawit yang tumbang akibat G. boninense  Sumber : Susanto (2012)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Layanan Purna Jual secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Tingkat Kepuasan Konsumen, Layanan Purna Jual secara

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji terdapat atau tidak terdapat peningkatan yang signifikan hasil belajar psikomotorik dan kemampuan berpikir kritis peserta

Kauneusihannekuvat sekä ”ennen ja jälkeen” -kuvat onnistuneista operaatioista toimi- vat kannustimena asiakkaan ihanneruumista vastaavan mielikuvan muodostamiseksi (Kin-.. Näin

kayu ( Manihot utilisima ) dalam bahan cetak alginat tidak menimbulkan perubahan nilai deformasi permanen, kemungkinan disebabkan proses penambahan pati ubi kayu (

four bar parallel linkage diperbesar. Rangka mekanisme kuping dibuat dengan adanya perbesaran diagram kinematik, karena pada rangka mekanisme belakang tidak mempunyai cukup

Analisis Perbandingan Komposisi Laporan Keuangan UMKM bertujuan untuk (1) mengetahui gambaran umum UMKM sektor jasa, perdagangan dan produksi di wilayah Depok.(2)

Upotreba bakra kao katalizatora u reakciji 1,3-dipolarne cikloadicije azida i alkina omogućava selektivnu sintezu 1,4-disupstituiranog regioizomera 1,2,3-triazola,

utama yang menyebabkan sintasan pada kantong benih ikan dengan perlakuan arang aktif serbuk lebih tinggi dibandingkan bentuk granula. Penggunaan arang aktif