• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bukittinggi, 14 Juli 2020 Penulis. Jera Putri NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Bukittinggi, 14 Juli 2020 Penulis. Jera Putri NIM"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul: “Jual Beli Aluang-Aluang Menurut Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam)”, yang ditulis oleh Jera Putri, NIM. 1216.007, Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktek jual beli aluang-aluang yang dilakukan oleh masyarakat di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung dan untuk mengetahui kedudukan hukum jual beli aluang- aluang yang dilakukan oleh masyarakat di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung dalam konteks Hukum Islam. Pembahasan judul ini dilatarbelakangi oleh fenomena dari lapangan yang penulis lihat bahwa maraknya masyarakat melakukan transaksi jual beli dengan cara aluang-aluang (perantara) yang memperjualbelikan semua hasil dari pertanian seperti kelapa, jengkol, jagung, ayam, pinang, dan lain-lain sebelum sampai datang ke pasar.

Untuk mendapatkan bahan-bahan dalam penulisan ini, penulis mengadakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif, dan didukung dengan penelitian pustaka sebagai tinjauan teoritis (library research).

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada para informan, yaitu kepada aluang-aluang (perantara) maupun petani yang berada di Pasar Balai Selasa, kemudian data yang penulis peroleh dari lapanga diolah dan dianalisa menggunakan metode induktif, deduktif, dan komperatif.

Dari analisa tersebut dapat penulis simpulkan bahwa Aluang-aluang (perantara) di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, secara langsung membeli barang dagangannya ke lahan pertanian dan dibayar dengan harga yang tidak sesuai harga pasaran, karena tidak adanya kejujuran aluang-aluang dalam penetapan harga dan adanya kecenderungan aluang-aluang yang suka mengambil keuntungan yang berlipat ganda dari hasil transaksi jual beli tersebut sehingga satu pihak merasa dirugikan (terzolimi). Akan tetapi sebagian aluang-aluang sudah melakukan transaksi jual beli sesuai dengan ajara Islam.

Sedangkan hukum jual beli yang dilakukan oleh Aluang-aluang di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam boleh dilaksanakan karena hukum jual beli itu adanya barang yang akan diperjualbelikan, dapat dimiliki, dapat dimanfaatkan, adanya penjual dan pembeli, dan lain-lain. Akan tetapi dalam penetapan harga masih terdapat kecurangan dan ketidak adilan dalam melakukan transaksi jual beli. Hal ini bisa saja diakibatkan karena ketidaktahuan atau kurang pahamya masyarakat tentang aturan jual beli yang ada dalam Islam. Akan tetapi kegiatan jual beli melalui aluang-aluang yang sesuai dengan aturan Islam maka itu dibolehkan, dan adapun jual beli aluang-aluang yang tidak dibolehkan seperti mengandung gharar karena adanya ketidak jujuran dalam melakukan transaksi jual beli. Jual beli seperti inilah yang banyak dilakukan dalam kalangan masyarakat maka dari itu perlu diluruskan sesuai dengan hukum Islam.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat beserta salam disampaikan agar tercurahkan buat Nabi Muhammad SAW. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum (SH) pada Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini.

Sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Ibu Dr. Ridha Ahida , M.Hum beserta Bapak-bapak Wakil Rektor, Bapak Dr. Asyari, M.i, Bapak Dr.

Novi Hendri, M.Ag, dan Bapak Dr. Miswardi, M.Hum, yang telah memberikan fasilitas, kepada penulis selama menjalai pendidikan di IAIN Bukittinggi.

2. Dekan Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Bapak Dr. Ismail, M.Ag, beserta Bapak-Bapak Wakil Dekan, Bapak Nofiardi, M.Ag, Bapak Dr. Busyro, M.Ag, dan Bapak Fajrul Wadi, S.Ag, M.Hum, serta Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah (Muamalah), Bapak Beni Firdaus, SHI, MA, yang telah fasilitasi penulis dalam menjalani pendidikan dan bimbingan skripsi ini.

3. Pembimbing Skripsi Penulis, Bapak Dr. Busyro, M.Ag dan Bapak Beni Firdaus, SHI, MA, selaku Pembimbing I dan II yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini, serta orang tua penulis, Bapak Bujang dan Ibu Darwanis, dan seluruh keluarga yang telah memberikan bantuan dukungan material dan moral.

4. Pimpinan beserta staf perpustakaan yang telah mengizinkan penulis untuk mengakses buku-buku dan referensi yang dibutuhkan dalam mengumpulkan

(4)

data-data dan informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Tidak lupa penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Wali Nagari Kampung Pinang, Nagari Pasar Balai Selasa beserta staf dan seluruh masyarakat Nagari Pasar Balai Selasa yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di sana.

5. Seluruh pihak yang telah membantu, baik moril maupun materil, seperti teman- teman, kuliah yang seperjuangan, dan siapa saja yang telah ikut andil dalam penyelesaian skripsi ini.

Akhir kata, penulis berharap kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah).

Bukittinggi, 14 Juli 2020 Penulis

Jera Putri NIM. 1216.007

(5)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Aktivitas jual beli bagi umat Islam sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa dilakukan sehari-hari. Selain jual beli kegiatan muamalah lainnya seperti pinjam-meminjam, utang-piutang, sewa-menyewa, dan sebagainya juga sering dilakukan. Dalam memahami dan melaksanakan sistem jual beli dan bentuk- bentuk muamalah lainnya yang Islami ternyata bukan hanya bermanfaat bagi kaum muslimin secara individu, tetapi secara komunal berguna untuk menghindari bala’ (ujian yang buruk), musibah, fitnah, dan meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Orang yang melakukan aktivitas jual beli wajib mempelajari hukum- hukum jual beli. Terlebih lagi bagi seseorang pedagang, dia harus mengetahui yang halal dan haram.1 Islam adalah agama yang sempurna yang menitik beratkan pada masalah ‘aqidah dan syari’ah. Di samping menjelaskan pada hubungan antara hamba dengan Rabb-nya, Islam juga menjelaskan berbagai macam aturan hubungan antara sesama manusia, termasuk di dalamnya muamalah dan sistem perekonomian, khususnya jual beli.

Dengan di tetapkannya aturan aturan dari Allah, terkandung penjelasan bahwa Islam mendorong agar beramal dan mencintai pekerjaan dengan berbagai macam profesi yang di perbolehkan, sebagai upaya untuk menjaga jiwa dan memakmurkan alam ini. Islam menetapkan muamalah, sistem jual beli

1 Syekh Abdurrahman as-Sa’di, dkk, Fiqh Jual Beli, (Jakarta Selatan: Senayan Publishing, 2008). Hal. i

(6)

dan adab- adabnya, juga memberikan hak kepada setiap orang yang berhak secara adil, mengarahkan setiap orang menuju pekerjaan yang sesuai dengan tabiatnya, dalam rangka memakmurkan alam ini dengan berbagai jalan kehidupan yang di bolehkan.2

Usaha yang dilakukan untuk mencari rezki yang halal adalah dengan jalan bermuamalah, dalam hal ini bermuamalah yang penulis maksud adalah jual beli. Jual beli adalah akad mu’awadhah, yaitu akad yang dilakukan oleh dua pihak, di mana pihak pertama menyerahkan barang dan pihak kedua menyerahkan imbalan, baik berupa uang maupun barang.

Ketentuan tentang jual beli ini dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an antara lain terdapat dalam Qs. An-Nisa’ ayat 29 yaitu:

⧫



❑⧫◆



❑➔→⬧

⬧◆❑

→⧫

⧫





❑⬧

⧫

⧫

⧫⬧



◆

❑➔⬧

→





⧫



☺◆



Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.

Di dalam transaksi jual beli, agar jual beli seseorang dapat dikatakan sah menurut syara’ maka harus terpenuhi syarat dan rukunnya. Di samping itu hendaknya mengetahui jual beli yang dilarang dalam syariat. Di antara jual beli

2 Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrazaq ad-Duwaisy, Fatwa-Fatwa Jual Beli, (Bogor:

Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2004). Hal. 1

(7)

yang dilarang itu adalah Jual beli yang mengandung unsur kezaliman, seperti berdusta, mengurangi takaran, timbangan dan ukuran.

Para ulama dan seluruh umat Islam sepakat tentang kebolehannya jual beli, karena hal ini sangat dibutuhkan oleh manusia pada umumnya. Dalam kenyataan sehari-hari tidak semua orang memiliki apa yang dibutuhkannya.

Dengan jalan jual beli, maka manusia saling tolong- menolong untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.3

Allah SWT berfirman dalam Qs. al- Baqarah ayat 275



⧫❑➔→⧫

❑⧫



⧫❑❑→⧫



☺

❑→⧫



⧫⧫

⬧



▪☺

⬧



❑⬧

☺

⧫



❑⧫

◆



⧫

⧫▪◆

❑⧫

☺⬧

◼◆

⬧→❑⧫



◼▪

⧫⬧

⬧⬧

⧫

◼

◼◆

◼



⧫◆

⧫

⬧⬧

⬧



➔



→



Artinya: “Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;

mereka kekal di dalamnya”.

3 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Amzah, 2013). Hal 177-179

(8)

Penjelasan dari ayat di atas adalah orang yang suka mengambil riba mengatakan bahwa jual beli itu sama dengan riba. Sekilas praktik jual beli dan riba memang hampir mirip karena sama-sama adanya tambahan ziyadah yaitu nilai lebih dari pokoknya. Hanya saja, jual beli disebut margin dalam pertukaran barang dengan uang. Sedangkan riba adalah kelebihan dari pokok pinjaman uang atau nilai lebih dari pertukaran barang ribawi. Ayat ini kemudian menegaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, dengan pengertian bahwa pada jual beli ada pertukaran atau penggantian yang seimbang yaitu barang dari pihak penjual kepada pembeli. Sedangkan pada riba tidak ada penyeimbangan langsung kecuali kesempatan pemanfaatan uang.4

Allah swt mensyari’atkan jual beli untuk memberikan kelapangan kepada hamba-hamban-Nya. Setiap individu dari bangsa manusia memiliki kebutuhan berupa makanan, pakaian, dan lainnya yang tidak dapat dikesampingkan selama dia masih hidup. Dan dia tidak dapat memenuhi sendiri semua kebutuhan itu karena dia terpaksa mengambilnya dari orang lain. Tidak ada cara yang lebih sempurna dari pada pertukaran.5

Unsur-unsur atau rukun jual beli yang harus dipenuhi meliputi ijab dan qabul, orang yang berakad (penjual dan pembeli), dan benda- benda yang di akadkan.6 Dan syarat barang yang diperjual belikan (ma’qud ‘alaih) meliputi barang itu ada atau tidak ada di tempat, tetapi pihak penjual menyatakan

4 Dwi Suwiknyo, Kompilasi Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi Islam, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2010) cet.1. Hal. 127-129

5 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2009). Hal. 36

6 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Amzah, 2010). Hal. 179

(9)

kesanggupannya untuk mengadakan barang itu, dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia, milik seseorang boleh diserahkan saat akad berlangsung atau pada waktu yang disepakati bersama ketika transaksi berlangsung.7

Di samping memperhatikan rukun dan syarat dalam melakukan jual beli, jual beli juga ada yang dibolehkan (shahih) dan ada yang dilarang (ghair shahih), jual beli yang dilarang juga ada yang batal dan ada pula yang terlarang tapi sah.

Salah satu Jual beli ghair shahih adalah jual beli yang syarat dan rukunnya tidak terpenuhi sama sekali, atau rukunnya terpenuhi tetapi sifat atau syaratnya tidak terpenuhi. Seperti jual beli yang dilakukan oleh orang yang memiliki ahliyatul ada’ kamilah (sempurna), tetapi barang yang dijual masih belum jelas (majhul).

Apabila rukun dan syaratnya tidak terpenuhi maka jual beli tersebut jual beli yang batil. Akan tetapi, apabila rukunnya terpenuhi, tetapi ada sifat yang dilarang maka jual belinya disebut jual beli fasid.

Jual beli yang digolongkan kepada ghair shahih, yaitu jual beli yang rukun dan syaratnya terpenuhi, tetapi jual belinya dilarang karena ada sebab diluar akad. Jual beli semacam ini termasuk jual beli yang makruh. Seperti:

1. Jual beli ketika adzan awal shalat Jum’at.

2. Jual beli najsy (bai’ an-najsy).

3. Jual beli barang yang sedang ditawarkan oleh orang lain.

4. Mencegat para pedagang sebelum sampai ke pasar.

5. Menjual barang ke daerah lain, apabila di daerah itu sedang musim paceklik.8 Setiap orang yang terjun dalam dunia bisnis harus memahami dan

7 Abdul Rahman Ghazaly, dkk, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Kencana, 2010). Hal. 75

8 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Amzah, 2010). Hal. 201-203

(10)

mengetahui larangan maupun kebolehan transaksi yang dilakukan, diantaranya bentuk jual beli yang dilarang yaitu jual beli dengan menghadang dagangan diluar kota/ pasar. Hal tersebut dilarang karena dapat merugikan salah satu pihak yang tidak mengerti harga dan dapat mengganggu kegiatan pasar meskipun akadnya sah.9

Penyebab dilarangnya jual beli adakalanya berkaitan dengan komitmen terhadap akad seperti Jual beli yang dilakukan mengandung riba, dan Jual beli mengandung kecurangan. Kedua hal tersebut menjadi penyebab paling banyak terjadi dalam realitas kehidupan sekarang ini dan berakibat rusaknya perjanjian jual beli.

Di antara itu bentuk transaksi jual beli yang terjadi di Pasar Balai Selasa, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam adalah Jual beli aluang- aluang.

Aluang- aluang itu adalah orang yang menjadi perantara dalam melakukan transaksi jual beli, di mana orang tersebut melakukan transaksi tidak hanya di Pasar saja melainkan juga pergi ke rumah-rumah para petani agar menjual hasil pertaniannya kepada orang tersebut.

Menjual hasil pertanian kepada aluang- aluang menjadi suatu alternatif, sebab kalau dijual kepada aluang- alaung si petani langsung mendapatkan uang dari hasil pertaniannya, sedangkan kalau dibawa ke pasar belum tentu langsung mendapatkan uang dari hasil pertanian. Dengan jual beli seperti itu bisa meringankan beban masyarakat agar tidak jauh-jauh lagi untuk menjual hasil taninya ke pasar dan juga menjadikan suatu jalan alternatif bagi masyarakat yang

9 Sadono Soekirno, Pengantar Teori Ekonomi Mikro, Cet. Ke- 15 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001). Hal. 42

(11)

tinggal di pedesaan atau di perkampungan agar hasil taninya cepat terjual.10 Namun permasalahan yang timbul adalah bahwa si penjual belum mengetahui harga pasar dan hanya berpatokan kepada informasi harga dari aluang- aluang saja.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik dengan permasalahan ini untuk diangkatkan menjadi sebuah skripsi, maka judul penelitian ini adalah:

“Jual Beli Aluang-Aluang Menurut Tinjauan Hukum Islam” (Studi Kasus di

Pasar Balai Selasa, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah yang muncul dan yang akan diselesaikan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana praktek jual beli aluang-aluang di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung.

2. Bagaimana hukum jual beli aluang- aluang di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung ditinjau dari Hukum Islam.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui bagaimana praktek jual beli aluang- aluang yang dilakukan oleh masyarakat di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung.

b. Untuk mengetahui kedudukan hukum Jual Beli aluang- aluang yang dilakukan oleh masyarakat di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung dalam

10 Supriadi Wadirman, Wawancara Pribadi, Pasar Balai Selasa, tanggal 25 Mei 2019

(12)

konteks Hukum Islam.

2. Kegunaan Penelitian a. Kegunaan Teoritis

Penulis berharap dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan tentang pemahaman atau persepsi pedagang tentang jual beli aluang- aluang ini.

b. Kegunaan Praktis

1) Untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan Strata Satu (S1) dalam Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah (Muamalah) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

2) Bagi akademis semoga hasil penelitian ini dapat membantu dalam menambah wawasan dan referensi keilmuan terkait dengan Jual Beli dalam Hukum Islam.

3) Bagi masyarakat diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman tentang pengetahuan secara umum tentang jual beli dan pemahaman pedagang terhadap jual beli aluang- aluang.

D. Tinjauan Kepustakaan

Sejauh penelusuran penulis, belum banyak yang membahas tentang jual beli ini. Oleh karena itu penulis beranggapan bahwa penelitian ini masih layak untuk dilakukan. Di antara karya tulis yang penulis temukan adalah:

Pertama, Skripsi Siti Nur’aini tahun 2003 yang berjudul “Praktek Calo Terhadap Penumpang Bus Ditinjau dari Hukum Islam (Studi Kasus di Terminal

(13)

Aur Kuning Bukittinggi)”, yang meneliti tentang Bagaimana pandangan hukum Islam dalam jual beli tiket bus melalui agen di Terminal Aur Kuning Bukittinggi, Bagaimana pandangan hukum Islam dalam jual beli tiket bus melalui calo (agen tidak resmi) di Terminal Aur Kuning Bukittinggi, Jadi kesimpulannya: jual beli tiket bus kepada calon penumpang yang dilakukan oleh resmi di terminal Aur Kuning Bukittinggi hukumnya boleh, karena telah memenuhi rukun dan syaratnya dan jual beli tiket bus yang dilakukan oleh calo (agen tidak resmi) di Terminal Aur Kuning Bukittinggi hukumnya haram, karena penjualan tiketnya tidak sesuai dengan tarif yang telah dikeluarkan oleh Pemda Bukittinggi.11

Kedua, Skripsi Isnawati tahun 2011 yang berjudul “Kesalahan dan Kecurangan Juala Beli Sayur Mayur di Pasar Padang Lua (Studi Terhadap Faktor Penyebab dan Upaya Pecegahan)”, yang meneliti tentang: bagaimana bentuk kecurangan dalam pelaksanaan transaksi jual beli sayur mayur yang terdapat di Padang Lua, faktor- faktor penyebab terjadinya kecurangan- kecurangan jual beli sayur mayur yang terdapat di Padang Lua, dan bagaimana cara mencegah terjadinya kesalahan dan kecurangan tersebut. Jadi kesimpulannya, bentuk- bentuk kecurangan yang dilakukan di Padang Lua masih dilakukan masyarakat, faktor penyebab terjadinya kesalahan dan kecurangan jual beli sayur mayur di pasar Padang Lua berasal dari dua pihak yaitu dari pihak pedagang dan pihak pengurus pasar, untuk mencegah terjadinya kesalahan dan kecurangan dalam transaksi sayur mayur Padang Lua dengan pemerintah, tokoh agama, dan

11 Siti Nur’aini, “Praktek Calo Terhadap Penumpang Bus Ditinjau dari Hukum Islam (Studi Kasus di Terminal Aur Kuning Bukittinggi)”, (Bukittinggi: STAIN Sjech M.Djamil Djambek (Skripsi), 2003), hal. 7-8

(14)

masyarakat.12

Ketiga, Skripsi Rara Berthania tahun 2017, yang berjudul “Kedudukan Makelar dalam Transaksi Jual Beli Kendaraan Bermotor di Tinjau dari Hukum Islam”. Yang meneliti tentang: Bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap profesi makelar, jenis akad yang paling tepat dalam transaksi jual beli kendaraan bermotor melalui makelar, dan bagaimana proses penyelesaian sengketa ketika terjadi wanprestasi antara makelar dan pihak pembeli. Jadi kesimpulannya:

Hukum Islam memperbolehkan adanya profesi makelar, karena makelar adalah profesi dalam bentuk jasa dengan prinsip dasar tolong menolong, profesi makelar termasuk kedalam tiga jenis akad yaitu: Ijarah, Jualah, dan Wakalah, penyelesaian sengketanya apabila terjadi wanprestasi maka jalan yang harus ditempuh adalah jalur di luar pengadilan (non litigasi).13

Dari beberapa telaah pustaka di atas, dapat diketahui persamaan dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Dari skripsi yang sebelumnya berbeda dengan judul skripsi penulis yang akan diteliti Penelitian ini membahas terkait bagaimana praktek jual beli aluang-aluang di Pasar Balai Selasa, selain itu disini juga membahas terkait bagaimana hukum jual beli aluang-aluang di Pasar Balai Selasa menurut tinjauan hukum Islam. Oleh sebab itu skripsi dengan judul Jual Beli Aluang- aluang Menurut Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam) ini diharapkan dapat

12 Isnawati, “Kesalahan dan Kecurangan Juala Beli Sayur Mayur di Pasar Padang Lua” (Studi Terhadap Faktor Penyebab dan Upaya Pecegahan), (Bukittinggi: STAIN Sjech M.Djamil Djambek (Skripsi), 2011), hal. 11

13 Rara Berthania, “Kedudukan Makelar dalam Transaksi Jual Beli Kendaraan Bermotor di Tinjau dari Hukum Islam”, (Bandar Lampung: Universitas Lampung, (Skripsi), 2017), hal.5

(15)

mengembangkan maupun menguatkan karya ilmiah lain yang menyangkut dengan jual beli.

E. Penjelasan Judul

Untuk memudahkan penulis dalam memahami proposal ini dan menghindari kesalahpahaman terhadap judul proposal ini, maka penulis memandang perlu untuk menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul di atas yaitu:

Jual beli adalah Akad yang dilakukan oleh dua pihak, di mana pihak pertama menyerahkan barang dan pihak kedua menyerahkan imbalan, baik berupa uang maupun barang.14

Aluang- aluang adalah sebuah istilah khusus yang dipergunakan oleh Masyarakat Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung dalam melakukan transaksi jual beli.

Hukum Islam adalah Hukum yang bersumber dari ajaran Islam, atau aturan yang ditetapkan Allah atas hambanya, baik berkaitan hubungan manusia dengan Allah dan sebaliknya.15

Jadi yang dimaksud dengan jual beli ini secara keseluruhan adalah jual beli yang dilakukan oleh masyarakat berdasarkan hukum Islam di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam.

F. Metode Penelitian

Adapun penelitian ini penulis lakukan secara kualitatif. Yang dimaksud

14 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Amzah, 2010), Hal. 177

15 Soerjono Soekanto, Suatu Pengantar Sosiologi, (Jakarta; Radar Jaya Offcet, 1982). Hal. 4

(16)

dengan metode kualitatif adalah penelitian yang berupa menggambarkan keadaan- keadaan atau suatu fenomena yang ada di tengah-tengah masyarakat dengan kata- kata atau kalimat kemudian dipisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Metode ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Penelitian yang penulis pakai untuk karya ilmiah ini ada 2 jenis penelitian yaitu pertama, penelitian lapangan (field researsh), yaitu mengumpulkan data langsung dari lokasi penelitian. Hal ini karena penulis ingin meneliti praktek jual beli aluang-aluang di Pasar Balai Selasa Kec. Lubuk Basung Kab. Agam. Kedua, penelitian kepustakaan atau hukum normatif (Library research) yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku, jurnal, majalah, tesis, kitab fiqh muamalah dan sumber-sumber lainnya. Hal ini penulis ingin meneliti hukum jual beli aluang-aluang di Pasar Balai Selasa Kec. Lubuk Basung Kab. Agam.16

2. Teknik Pengumpulan Data

Sebagaimana lazimnya sebuah karya ilmiah memerlukan data yang akurat dan tepat sehingga keberadaannya dapat diterima secara ilmiah. Berhubung penelitian ini adalah penelitian ilmiah maka sumber yang dipakai dalam mengumpulkan data adalah:

a. Wawancara

Pengumpulan data dengan wawancara yang penulis maksud adalah penulis mengajukan pertanyaan langsung kepada orang-orang yang terkait dengan

16 Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003). Hal.

90

(17)

pelaksanaan jual beli aluang-aluang.

Dalam melakukan wawancara, penulis mengambil perwakilan pada setiap masing-masing kelurahan. Pedoman wawancara berfungsi sebagai pengendali, agar proses wawancara tidak kehilangan arah.17

b. Observasi

Adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau prilaku objek sasaran.18 Observasi ini penulis lakukan untuk melihat dan mengetahui bentuk tradisi jual beli aluang-aluang yang dilakukan oleh masyarakat Pasar Balai Selasa.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data berdasarkan data primer yaitu dari Kitab- kitab Fiqh Mu’amalah, sedangkan data

sekunder di peroleh dari lapangan.

3. Metode Analisis Data

Berdasarkan sifat atau bentuk dari penelitian ini, maka data-data yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif, yakni dengan menggunakan teori- teori dalam ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan penelitian ini dan dikaitkan dengan fakta-fakta dilapangan. Karena penelitian ini merupakan

17 Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1997), Cet-1. Hal. 83

18 Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan teknik penyusunan Skripsi, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006). Hal. 104

(18)

penelitian lapangan, maka metode analisisnya adalah dari hal-hal yang bersifat khusus kemudian ditarik kepada hal-hal yang bersifat umum atau disebut dengan induktif.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-masing bab menampakkan titik berat yang berbeda-beda, dapat dirincikan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan judul, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II Jual beli, bab ini akan mengulas tentang pengertian jual beli, dasar hukum jual beli, rukun dan syarat jual beli, macam- macam jual beli, bentuk jual beli yang sah tetapi dilarang, manfaat dan hikmah jual beli.

Bab III Simsar, bab ini akan mengulas tentang Pengertian simsar, rukun dan syarat sah simsar, dasar hukum simsar, hukum samsarah dalam Islam, macam- macam transaksi yang dilarang dalam simsar, prinsip- prinsip Islam dalam perdagangan, dan manfaat samsarah.

Bab IV Tinjauan hukum Islam terhadap aluang-aluang di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung, bab ini membahas mengenai monografi Pasar Balai Selasa, Praktek Jual Beli Aluang-aluang di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam, Jual beli Aluang-aluang di Pasar Balai Selasa Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam ditinjau dari Hukum Islam.

Bab V Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.

(19)
(20)

15 BAB II JUAL BELI A. Pengertian Jual Beli

Secara etimologi jual beli disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual, mengganti, dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Lafal al-bai’ dalam terminologi fiqh terkadang dipakai untuk pengertian lawannya, yaitu lafal al- Syira yang berarti membeli. Dengan demikian, al-bai’ mengandung arti menjual sekaligus membeli atau jual beli. Menurut Hanafiah pengertian jual beli (al-bai’) secara definitif yaitu tukar menukar harta benda atau sesuatu yang diinginkan dengan dengan sesuatu yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat.

Adapun menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, bahwa jual beli (al-bai’) yaitu tukar menukar harta dengan harta pula dalam bentuk pemindahan milik dan kepemilikan. Dan menurut Pasal 20 ayat 2 Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah, bai’ adalah jual beli antara benda dan benda, atau pertukaran antara benda dengan uang.19

Untuk lebih memahami pengertian jual beli penulis akan mengemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama fikih, Menurut Taqi’al-Din Ibn Abi Bakr Ibn Muhammad al-Husayni, jual beli adalah pertukaran harta dengan harta yang diterima dengan menggunakan ijab dan qabul dengan cara yang diizinkan oleh syara’. 20

19 Mardani, Fiqh Ekonomi Syari’ah: Fiqh Muamalah, ( Jakarta: Kencana, 2013), hal. 101

20 H. Idri, Hadis Ekonomi Ekonomi Dalam Perspektif Hadis Nabi Edisi Pertama, (Rawamangun: Prenada Media, 2015), hal. 156

(21)

16 Menurut Sayyid Sabiq jual beli adalah:

ِن ْوُذْآَمْلا ِهْج َوْلا ىَلَع ِض َوِعِب ِكْلِم ُلْقَن ْوَا ,ى ِضا َرَّتلا ِلْيِبَس ىَلَع ِلاَمِب ِلاَم ُةَلَداَبُم .ِهْيِف

Artinya: “Jual beli adalah pertukaran harta dengan harta atas dasar saling rela atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat di benarkan.21

Adapun Menurut Abu Muhammad Mahmud al-‘Ayni, pada dasarnya jual beli merupakan penukaran barang dengan barang yang dilakukan dengan suka sama suka, sehingga menurut pengertian syara’, jual beli adalah tukar menukar barang atau harta secara suka sama suka.22 Jadi menurut beberapa ulama di atas bahwa jual beli adalah tukar menukar barang dengan maksud untuk saling memiliki secara suka sama suka.

Jual beli adalah tukar menukar barang. Hal ini telah dipraktekkan oleh masyarakat primitif ketika uang belum digunakan sebagai alat tukar menukar barang, yaitu dengan sistem barter yang dalam terminologi jual beli disebut dengan bai’al-muqqayyadah.23 Jadi jual beli adalah transaksi yang sejak lama dilakukan oleh masyarakat kita bahkan nenek moyang kita.

Dari pengertian di atas dapat penulis tarik kesimpulan bahwa jual beli adalah alat tukar menukar barang dengan uang, uang dengan emas, emas dengan perak, dan lain-lain. Barang yang diperjualbelikan itu dapat dimiliki, di manfaatkan, dan barang tersebut suci bukan barang yang haram diperjualbelikan.

21 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid 12, (Bandung: PT. Alma’arif, 1987), hal. 45

22 H. Idri, Hadis Ekonomi Ekonomi Dalam Perspektif Hadis Nabi Edisi Pertama, hal. 156

23 Mardani, Hukum Ekonomi Syari’ah di Indonesia, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2011), hal. 168

(22)

17

Dalam jual beli terdapat pertukaran benda yang satu dengan benda yang lain menjadi penggantinya. Akibat hukum dari jual beli adalah terjadinya pemindahan hak milik seseorang kepada orang lain atau dari penjual kepada pembeli.24 Jadi jual beli adalah memberikan barang atau benda yang dijual kepada pihak yang membeli, dan si pembeli memberikan berupa alat tukar yang sepadan dengan barang atau benda tersebut.

Benda dapat mencakup pengertian barang dan uang, sedangkan sifat benda tersebut harus dapat dinilai, yakni benda-benda yang berharga dan dapat dibenarkan penggunaannya menurut syara’. Benda itu adakalanya bergerak (dapat dipindahkan) dan adakalanya tetap (tidak dapat dipindahkan), ada yang dapat dibagi-bagi, adakalanya tidak dapat dibagi-bagi, ada harta yang ada perumpamaannya (mitsli) dan tak ada yang menyerupainya (qimi) dan yang lain- lainnya. Penggunaan harta tersebut dibolehkan sepanjang tidak dilarang syara’.25 B. Dasar Hukum Jual Beli

Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam al-Qur’an, sunah Rasulullah Saw, dan ijma’ yang berbicara tentang jual beli, antara lain:

1. Al-Qur’an

a. QS al- Baqarah ayat 275

◆



⧫

⧫▪◆

❑⧫

...



24 Muhammad Asro dan Muhammad Kholid, Fiqh Perbankan, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), hal. 103-104

25 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 69

(23)

18

Artinya: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...”

b. Qs. al- Baqarah ayat 198

▪⬧

→◼⧫





❑⧫⬧

⬧



→◼▪

... 



Artinya: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu”).

c. Qs. an- Nisa’ ayat 29

 ...



❑⬧

⧫

⧫

⧫⬧



 ...



Artinya: “...kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama- suka di antara kamu....”

2. Sunnah

a. Hadis yang diriwayatkan oleh Rifa’ah Ibn Rafi’

ُّلُك َو ِهِدَيِب ِلُج َّرلا ُلَمَع :َلاَقَف ؟ُبَيْطَأ ِبْسكْلا ُّيَأ :ملسو هيلع الله ىلص ُّيِبَّنلا َلًىُس )مكاحلاو ُرا َّزبلا هاور( . ِر ْو ُرْبَم ِعْيَب

Artinya: “Rasulullah Saw. ditanya salah seorang sahabat mengenai pekerjaan (profesi) apa yang paling baik, Rasulullah saw menjawab: Usaha tangan manusia sendiri dari dan setiap jual beli yang diberkati”.

(HR. Al-Bazzar dan Al-Hakim).26

b. Hadis dari al-Baihaqi, Ibn Majah dan Ibn Hibban, Rasulullah menyatakan

)ىقهيبلا هاور( ِضا َرَت ْنَع ُعْيَبْلا اَمَّنِإ

Artinya: “Jual beli itu didasarkan atas suka sama suka”.27

3. Ijma’

26 Imam Al-Hafidz ibnu Hajar Al-‘Asqalany, Bulughul Maram Five in One, penterjemah Lutfi Arif, dkk (Jakarta Selatan: PT. Mizan Publika, 2012), hal. 456

27 Rachmat Syafi’i, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hal. 69

(24)

19

Salah satu sumber hukum Islam yaitu ijma’. Ijma’ adalah kesepakatan para ulama atas suatu masalah.28 Dalam masalah jual beli ini, Ulama sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan, bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya tanpa bantuan dari orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.29

C. Rukun dan Syarat Jual Beli

Rukun jual beli menurut Hanafiyah adalah ijab dan qabul, ijab dan qabul adalah perbuatan yang menunjukkan kesediaan dua pihak untuk menyerahkan milik masing- masing kepada pihak lain, dengan menggunakan perkataan atau perbuatan.30

Menurut Jumhur Ulama menetapkan empat macam rukun jual beli yaitu:

para pihak yang bertransaksi (penjual dan pembeli), siqhat (lafal ijab dan qabul), barang yang diperjualbelikan, dan nilai tukar pengganti barang.31

Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah, unsur atau rukun jual beli ada 3 macam yaitu:

a. Pihak-pihak. Pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian jual beli terdiri atas penjual, pembeli, dan pihak lain yang terlibat dalam perjanjian tersebut.

b. Objek. Objek jual beli terdiri atas benda yang berwujud dan benda yang tidak berwujud, yang bergerak maupun benda yang tidak bergerak, dan yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar. Syarat objek yang diperjualbelikan

28 Narsun Haroen, Ushul fiqh 1, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1996), hal. 51

29 Rachmat Syafi’i, Fiqih Muamalah, hal. 75

30 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Penterjemah Abdul Hayyie al- Kattani,dkk (Jakarta: Gema Insani, 2011) Jilid V, hal. 28

31 Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Kontemporer, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2016), hal. 25

(25)

20

adalah sebagai berikut: barang yang dijualbelikan harus ada, barang yang dijualbelikan harus dapat diserahkan, barang yang dijualbelikan harus berupa barang yang memiliki nilai/ harga tertentu, barang dijualbelikan harus halal, barang yang dijulbelikan harus diketahui oleh pembeli, kekhususan barang yang dijulbelikan harus diketahui, penunjukan dianggap memenuhi syarat langsung oleh pembeli tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, dan barang yang dijual harus ditentukan secara pasti pada waktu akad. Jual beli dapat dilakukan terhadap: barang yang terukur menurut porsi, jumlah, berat, atau panjang, baik berupa satuan atau keseluruhan, barang yang ditakar atau ditimbang sesuai jumlah yang ditentukan, sekalipun kapasitas dari takaran dan timbangan tidak diketahui, dan satuan komponen dari barang yang dipisahkan dari komponen lain yang telah terjual.

c. Kesepakatan. Kesepakatan dapat dilakukan dengan tulisan, lisan dan isyarat, ketiganya mempunyai makna hukum yang sama.32

Dari uraian rukun jual beli di atas dapat penulis tarik kesimpulannya adalah dalam melakukan transaksi jual beli harus timbal balik seperti, adanya penjual dan pembeli, adanya barang yang akan diperjualbelikan, akad (ijab dan qabul) baik dilakukan akad dengan perbuatan maupun akad dengan perkataan atau kata-kata.

Adapun syarat-syarat sahnya jual beli yang dipaparkan oleh ulama mazhab di antaranya sebagai berikut:

a. Menurut mazhab Hanafi syarat jual beli ada empat kategori; Pertama, Orang

32 Mardani, Fiqh Ekonomi Syari’ah: Fiqh Muamalah, hal. 102

(26)

21

yang berakad harus mumayyiz dan berbilang, Kedua, Sighatnya harus dilakukan di satu tempat, harus sesuai, dan harus didengar oleh kedua belah pihak, Ketiga, Objeknya dapat dimanfaatkan, suci, milik sendiri, dapat diserah terimakan, Keempat, Harga harus jelas.

b. Menurut mazhab Maliki syarat jual beli ada tiga kategori; Pertama, orang yang melakukan akad harus mumayyiz, cakap hukum, berakal sehat, dan pemilik barang, Kedua, pengucapan lafadz harus dilaksanakan dalam satu majelis, antara ijab dan qabul tidak terputus, Ketiga, barang yang diperjual belikan harus suci, bermanfaat, diketahui oleh penjual dan pembeli, serta dapat diserah terimakan.33

c. Menurut mazhab Syafi’iyah syarat jual beli ada tiga kategori; Pertama, orang yang berakad harus mumayyiz, berakal, kehendak sendiri, beragama Islam, Kedua, objek yang diperjual belikan harus suci, dapat diserahterimakan, dapat dimanfaatkan secara syara’, hak milik sendiri, berupa materi dan sifat- sifatnya dapat dinyatakan secara jelas, Ketiga, ijab dan qabul tidak terputus dengan percakapan lainnya, harus jelas, tidak dibatasi periode tertentu.

d. Menurut mazhab Hanbali syarat jual beli ada tiga kategori; Pertama, orang yang berakad harus baligh dan berakal sehat (kecuali barang- barang yang ringan), adanya kerelaan, Kedua, sighatnya harus berlangsung dalam satu majelis, tidak terputus dan akadnya tidak dibatasi dengan periode waktu, Ketiga, objeknya berupa harta, milik para pihak, dapat diserahterimakan,

33 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu,..., hal. 58-59

(27)

22

dinyatakan secara jelas, tidak ada halangan syara’.34

D. Macam- Macam Jual Beli

1. Jual beli berdasarkan pertukarannya secara umum dibagi menjadi empat macam yaitu:

a. Jual beli salam (pesanan)

Jual beli salam adalah jual beli melalui pesanan, yakni jual beli dengan cara menyerahkan terlebih dahulu uang muka kemudian barangnya diantar belakangan. Di mana hadis nya yang berbunyi:

مهو ةنيدملا مّلسو هيلع الله ىّلص ّيبّنلا مدق :لاق امهنع الله يضر ساّبع نبا نع ليك يف فلسيلف رمش يف فلسأ نم :لاقف ،نيتنّسلاو ةنّسلا رامثلا يف نوفلسي

.هيلع ٌقفّتم .مولعم لجأ ىلإ ،مولعم نزوو ،مولعم

:ّيراخبللو نم

فلسأ يف .ئيش

Artinya: “Dari Ibnu Abbas r.a berkata, “Nabi Saw datang ke Madinah dan penduduknya biasa meminjamkan buahnya untuk masa setahun dan dua tahun. lalu beliau bersabda, “Barang siapa meminjamkan buah maka hendaknya ia meminjamkannya dalam takaran, timbangan, dan masa tertentu”. (Muttafaq Alaih). Menurut riwayat Al-Bukhari dengan lafazh:“Barang siapa meminjamkan sesuatu”.35

b. Jual beli muqayadhah (barter)

Jual beli muqayadhah adalah jual beli dengan cara menukar barang dengan barang, seperti menukar baju dengan sepatu.

c. Jual beli muthlaq

jual beli muthlaq adalah jual beli barang dengan sesuatu yang telah disepakati sebagai alat pertukaran, seperti uang.

34 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu,..., hal. 70-71

35 Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, (Jakarta: Darus Sunnah, 2013), Jilid 2, hal. 427

(28)

23 d. Jual beli alat penukar dengan alat penukar

Jual beli alat penukar dengan alat penukar adalah jual beli barang yang biasa dipakai sebagai alat penukar dengan alat penukar lainnya, seperti uang perak dengan uang emas. 36

2. Berdasarkan segi harga, jual beli dibagi pula menjadi dua bagian sebagai berikut:

a. Bai’ Musawamah (jual beli dengan cara tawar menawar), yaitu jual beli di mana pihak penjual tidak menyebutkan harga pokok barang, akan tetapi menetapkan harga tertentu dan membuka peluang untuk ditawar. Ini bentuk asal bai’.

b. Bai’ Amanah, yaitu jual beli di mana pihak penjual menyebutkan harga pokok barang lalu menyebutkan harga jual barang tersebut. Jual beli jenis ini terbagi menjadi empat macam yaitu sebagai berikut:

1) Bai’ Murabahah (jual beli yang menguntungkan), yaitu pihak penjual menyebutkan harga pokok barang dan laba. Misalnya: pihak penjual mengatakan , “Barang ini saya beli dengan harga Rp.10.000,- dan saya jual dengan harga Rp.11.000,- atau saya jual dengan laba 10% dari modal”.

2) Bai’ al-Wadh’iyyah (jual beli rugi), yaitu pihak penjual menyebutkan harga pokok barang atau menjual barang tersebut di bawah harga pokok.

Misalnya: penjual berkata, “Barang ini saya jual dengan harga Rp.10.000,- dan akan saya jual dengan harga Rp.9.000,- atau saya potong dengan 10%

36 Rachmat Syafi’i, Fiqih Muamalah, ..., hal. 101-102

(29)

24 dari modal”.

3) Bai’ Tauliyah (Jual beli yang tidak menguntungkan), yaitu penjual menyebutkan harga pokok dan menjualnya dengan harga tersebut.

Misalnya: penjual berkata, “barang ini saya beli dengan harga Rp.10.000,- dan saya jual sama dengan harga pokok”

4) Jual beli al-musawah, penjual menyembunyikan harga aslinya, tetapi kedua orang yang akad saling meridai, jual beli seperti inilah yang berkembang sekarang.37

E. Bentuk- Bentuk Jual Beli yang Dilarang

Jual beli yang dilarang terbagi dua: Pertama, jual beli yang dilarang dan hukumnya tidak sah (batal), yaitu jual beli yang tidak memenuhi syarat dan rukunnya. Kedua, jual beli yang hukumnya sah tetapi dilarang, yaitu jual beli yang telah memenuhi syarat dan rukunya, tetapi ada beberapa faktor yang menghalangi kebolehan proses jual beli:

1. Jual beli terlarang karena tidak memenuhi syarat dan rukun. Bentuk jual beli yang termasuk dalam ketegori ini sebagai berikut:

a. Jual beli barang yang zatnya haram, najis, atau tidak boleh diperjual belikan.

Barang yang najis atau haram dimakan haram juga untuk diperjual belikan seperti babi, berhala, bangkai, dan khamar (minuman yang memabukkan).

Dalam hadis disebutkan:

مّلسو هيلع الله ىّلص الله لوسر عمس هّنأ امهنع الله يضر الله دبع نب رباج نعو ةّكمب وهو حتفلا ماع لوقي ِرْي ِزْن ِخْلا َو ِةَتْيَمْلا َو ِرْمَخْلا َعْيَب َم َّرَح ُهَل ْوُس َر َو َالله َّنِإ

ِماَنصَلأْا َو امب نهدتو نفّسلا امب ىلطت اهّنٍاف ةتيلا موحش تيأرأ الله لوسراي ،ليقف

37Mardani, Fiqh Ekonomi Syari’ah: Fiqh Muamalah, hal. 109-110

(30)

25

هيلع الله ىّلص الله لوسر لاق ّمث ٌما رح وه لا لاقف ؟سّنلا امب حبصتسيودولجا هوعاب ّمش هولمج اهموحش مهيلع م ّرح اّمل الله ّنإ دوهيلا الله لتاق كلذ دنع مّلسو هنمث اولكًاف (

هيلع ٌقفّتم )

Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah Saw, bersabda di Makkah pada tahun penaklukan Kota Makkah,

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang jual beli minuman keras, bangkai, babi dan berhala”. Ada orang bertanya, “Ya Rasulullah , apa pendapat Anda tentang lemak bangkai karena ia biasa digunakan untuk mengecat perahu, meminyaki kulit, dan dipakai untuk menyalakan lampu?” Beliau bersabda, “Tidak, ia haram,”

kemudian setelah itu, Rasulullah Saw, bersabda, “Allah melaknat orang-orang Yahudi karena ketika Allah mengharamkan atas mereka (jual-beli) lemak bangkai mereka malah memprosesnya dan menjualnya, lalu mereka memakan hasilnya.” (Muttafaq ‘Alaih).38 Adapun bentuk jual beli yang dilarang karena barangnya yang tidak bisa diperjualbelikan adalah air susu ibu dan air mani (sperma) binatang. Para ulama fiqh berbeda pendapat dalam masalah jual beli air susu ibu. Imam Syafi’i dan Imam Malik membolehkan dengan mengambil analogi dan alasan seperti air susu hewan. Adapun Imam Abu Hanifah melarangnya, alasannya karena air susu merupakan bagian dari dading manusia yang haram diperjual belikan.39

Larangan jual beli mani (sperma) binatang dimana sabda Rasulullah saw:

نع ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر ىهن :لاق رباج نع هاور( لحفلا بارض

)ئاسنلاو ملسم

Artinya: “Dari Jabir, Rasulullah saw telah melarang menjual air mani (sperma) binatang ternak”. (HR. Muslim dan Nasa’i).

Di mana jual beli seperti yang dijelaskan di atas dilarang karena mengandung kesamaran. Tetapi boleh mengawinkan binatang ternak dengan jalan meminjam pejanta tanpa ada keharusan pembayaran.

b. Jual beli yang belum jelas

38 Imam Al-Hafidz ibnu Hajar Al-‘Asqalany, Bulughul Maram Five in One, penterjemah Lutfi Arif, dkk, hal. 457

39 Rachmat Syafi’i, Fiqih Muamalah, hal. 81

(31)

26

Sesuatu yang bersifat spekulasi atau samar-samar haram untuk diperjualbelikan, karena dapat merugikan salah satu pihak, baik penjual maupun pembeli. Yang dimaksud samar-samar adalah tidak jelas, baik barangnya, harganya, kadarnya, masa pembayaran, maupun ketidakjelasan yang lainnya.

Jual beli yang dilarang karena samar-samar atara lain:

1) Jual beli buah-buahan yang belum tampak hasilnya. Misalnya menjual putik mangga untuk dipetik kalau telah tua/masak nantinya, termasuk didalamnya adalah larangan menjual pohon secara setahun. Sabda Nabi saw:

الله يضر رمع نبا ثي دح مّلسو هيلع الله ىّلص ِالله َل ْوُس َر َّنَأ :ام هنَع

ِنَع ىَهَن

ىَّتَح ِراَمِّثلا ِعْيَب عاتبملاو عئابلا ىهن اهحا لص ودبي

Artinya: “Dari Ibnu Umar r.a. dia telah berkata: Sesungguhnya Rasulullah Saw melarang menjual buah- buahan sampai betul-betul masak. Larang ini ditujukan kepada penjual dan pembeli”.40

2) Jual beli barang yang belum tampak. Misalnya, menjual ikan dikolam/laut, menjual ubi/singkong yang masih ditanam, menjual anak ternak yang masih dalam kandungan induknya. Berdasarkan sabda Nabi saw;

مّلسو هيلع الله ىّلص الله لوسر نع :امهنع الله يضر رمع نب الله دبع ثي دح ةلبحلا لبح غيب نع ىهن هّنأ

Artinya: “Diriwayatkan dari Abdillah bin Umar r.a. dia telah berkata: “Dari Nabi Saw bahwa beliau, melarang jual beli Habalul-habalah (menjual janin dalam kandungan)”.41

c. Jual beli bersyarat

Jual beli yang ijab kabulnya dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual beli atau ada unsur yang merugikan dilarang

40 KH. Ahmad Mudjab Mahlli, H Ahmad Rodli Hasbullah, Hadis-Hadis Muttafaq

‘Alaih Bagian Munakahat dan Mu’amalah, (Jakarta: Kencana, 2004), hal.97-98

41 KH. Ahmad Mudjab Mahlli, H Ahmad Rodli Hasbullah, Hadis-Hadis Muttafaq

‘Alaih Bagian Munakahat dan Mu’amalah, hal. 92

(32)

27 oleh agama.

d. Jual beli yang menimbulkan kemudaratan

Segala sesuatu yang dapat menimbulkan kemudaharatan, kemaksiatan, bahkan kemusyrikan dilarang untuk diperjualbelikan, seperti jual beli patung, salib, dan buku- buku bacaan porno. Memperjualbelikan barang-barang tersebut dapat menimbukan perbuatan-perbuatan kemaksiatan.

e. Jual beli karena dianiaya, segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram, seperti menjual anak binatang yang masih membutuhkan (bergantung) kepada induknya. Menjual binatang seperti ini, selain memisahkan anak dari induknya juga melakukan penganiayaan terhadap anak binatang tersebut.

f. Jual beli Muhaqalah, yaitu menjual tanam-tanaman yang masih di bawah atau di ladang. Hal ini dilarang agama karena jual beli ini masih samar-samar (tidak jelas) dan mengandung tipuan.

g. Jual beli Mukhadharah, yaitu menjual buah- buahan yang masih hijau (yang belum pantas dipanen). Seperti menjual rambutan yang masih hijau, mangga yang masih kecil-kecil.42

h. Jual beli Mulamasah, yaitu jual beli secara sentuh menyentuh. Hal ini dilarang agama karena mengandung tipuan dan kemungkinan akan menimbulkan kerugian dari salah satu pihak

i. Jual beli Munabadzah, yaitu jual beli secara lempar- melempar. Setelah terjadi

42 Rachmat Syafi’i, Fiqih Muamalah, ..., hal. 83-84

(33)

28

lempar-melempar terjadilah jual beli. Hal ini dilarang agama karena mengandung tipuan dan tidak ada ijab dan qabul.

j. Jual beli Muzabanah, menjual buah yang basah dengan buah yang kering. Jual beli seperti ini dilarang oleh agama karena dapat merugikan satu pihak saja seperti pemilik padi yang kering. Dalam hadis yang berbunyi:

صّخر مّلسو هيلع الله ىّلص الله لوسر ّنأ :امهنع للهايضر تباث نب ديز ثي دح .رمّتلا نم اهص رخباهعيبي نأ ةّي رعلا بح اصل

Artinya: Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit r.a. dia telah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Saw memberi keringanan kepada pemilik kurma basah untuk menjualnya dengan taksiran kurma kering”.43

2. Jual beli terlarang karena ada faktor lain yang merugikan pihak- pihak terkait.

a. Jual beli dari orang masih tawar- menawar

Apabila ada dua orang yang masih tawar menawar atas suatu barang, maka terlarang bagi orang lain membeli barang itu, sebelum penawaran pertama diputuskan.

b. Jual beli dengan menghadang dagangan diluar kota/ pasar. Maksudnya menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar dapat membelinya dengan harga murah, sehingga ia kemudian menjual di pasar dengan harga yang juga murah. Tindakan ini dapat merugikan para pedagang lain, terutama yang belum mengetahui harga pasar.

c. Membeli barang dengan memborong untuk di timbun, kemudian akan dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut. Jual beli seperti ini dilarang karena menyiksa pihak pembeli disebabkan mereka tidak memperoleh barang keperluannya saat harga masih standar.

43 KH. Ahmad Mudjab Mahlli, H Ahmad Rodli Hasbullah, Hadis-Hadis Muttafaq

‘Alaih Bagian Munakahat dan Mu’amalah, hal. 99

(34)

29

d. Jual beli barang rampasan atau curian. Jika si pembeli sudah tahu bahwa barang itu barang curian/rampasan, maka keduanya telah bekerja sama dengan perbuatan dosa.44

F. Etika Jual Beli

Jual beli memiliki beberapa etika dalam melakukan transaksi jual beli di antaranya sebagai berikut:

1. Tidak boleh berlebihan dalam mengambil keuntungan

Penipuan dalam jual beli yang berlebihan dilarang dalam semua agama Islam karena hal tersebut termasuk kedalam penipuan yang diharamkan dalam semua agama. Dengan demikian jual beli yang mengandung unsur penipuan yang berlebihan dan bisa dihindari maka harus dihindari. Ulama Malikiyah menentukan batas penipuan yang berlebihan itu adalah sepertiga ke atas, karena jumlah itulah batas maksimal yang dibolehkan dalam wasiat dan selainnya.

Dengan demikian keuntungan yang baik dan berkah adalah keuntungan sepertiga ke atas.45

2. Berinteraksi yang jujur, yaitu dengan menggambarkan barang dagangan dengan sebetulnya tanpa ada unsur kebohongan ketika menjelaskan macam, jenis, sumber, dan biayanya.

3. Bersikap toleran dalam berinteraksi, yaitu penjual bersikap mudah dalam menentukan harga dengan cara menguranginya, begitu pula pembeli tidak terlalu keras dalam menentukan syarat-syarat penjualan dan memberikan harga

44 Rachmat Syafi’i, Fiqih Muamalah, ..., hal. 85-87

45Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Penterjemah Abdul Hayyie al- Kattani,dkk, ..., hal. 27

(35)

30 lebih.

4. Menghindari sumpah meskipun pedagang itu benar, hal ini dianjurkan untuk menghindari sumpah dengan nama Allah dalam jual beli, karen itu termasuk cobaan bagi nama Allah. Allah berfirman dalam Qs.al-Baqarah ayat 224

◆

❑➔➔





→☺



⬧

❑→⬧◆

❑⬧➔◆

✓⧫



◆



⧫



Artinya: “Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan Mengadakan ishlah di antara manusia, dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

5. Memperbanyak sedekah; disunnahkan bagi seorang pedagang untuk memperbanyak sedekah sebagai penebus dari sumpah penipuan, penyembunyian cacat barang, melakukan penipuan dalam harga, ataupun akhlak yang buruk, dan sebagainya.

6. Mencatat utang dan mempersaksikannya; hal ini dianjurkan untuk mencatat transaksi dan jumlah utang, begitu juga mempersaksikan jual beli yang akan di bayar di belakangan dan catatan utang. Berdasarkan firman Allah dalam Qs. al- Baqarah ayat 282

⧫



❑⧫◆

⬧

⧫⬧



◼





◼❑⬧

...

⧫◆





→

...



Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak

(36)

31

secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar, ... dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu), ...”46

G. Manfaat dan Hikmah Jual Beli 1. Manfaat Jual Beli

a. Jual beli dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang menghargai hak milik orang lain.

b. Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan atau suka sama suka.

c. Masing-masing pihak merasa puas. Penjual melepas barang dagangannya dengan ikhlas dan menerima uang, sedangkan pembeli memberikan uang dan menerima barang dagangan dengan puas pula. Dengan demikian, jual beli juga mampu mendorong untuk saling bantu antara keduanya dalam kebutuhan sehari- hari.47

d. Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram (batil). Allah swt berfirman dalam Qs. An-Nisa’ ayat 29

⧫



❑⧫◆



❑➔→⬧

⬧◆❑

→⧫

⧫





❑⬧

⧫

⧫

⧫⬧



.... 



Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”.

46Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Penterjemah Abdul Hayyie al- Kattani,dkk, ..., hal. 28

47 Rachmat Syafi’i, Fiqih Muamalah, ..., hal. 87

(37)

32

e. Penjual dan pembeli mendapat rahmat dari Allah swt, Rasulullah bersabda:

ِالله َل ْوُس َر َّنَأ امهنع الله ىضر ِاللهِدبَع ِنْبا ِرِباَج ْنَع هيلع الله ىّلص

مّلسو :َلاَق

ى َرَتْشاَذِا َو َعاَباَذِإ اَحْمَس َلاُج َر َالله َم ِح َر )ىذمرتلاو ىراخبلا هاور( ىَضَتَقااَذِا َو

Artinya: “Dari Jabir bin Abdillah r.a bahwasannya Rasulullah saw, bersabda: “Allah menyayangi seseorang yang bermurah (hati) ketika menjual, ketika membeli, dan ketika memutuskan”. (HR.

Bukhari dan Tirmizi).48

f. Menumbuhkan ketentraman dan kebahagian

Keuntungan dan laba dari jual beli dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan hajat sehari-hari. Apabila kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi, maka diharapkan ketenangan dan ketentraman jiwa dapat pula tercapai.

2. Hikmah Jual Beli

Allah swt mensyariatkan jual beli sebagai pemberian keluangan dan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya, karena semua manusia secara pribadi mempunyai kebutuhan berupa sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan seperti ini tak pernah putus selama manusia masih hidup. Tak seorang pun dapat memenuhi hajat hidupnya sendiri, karena itu manusia dituntut berhubungan satu sama lainnya. Dalam hubungan ini, tak ada seseorang memberikan apa yang ia miliki untuk kemudian ia memperoleh sesuatu yang berguna dari orang lain sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.49

Jika akad telah berlangsung, segala rukun dan syaratnya dipenuhi, maka konsekuensinya; penjual memindahkan barang kepada pembeli dan pembelipun memindahkan miliknya kepada penjual sesuai dengan harga yang disepakati, setelah itu masing-masing mereka halal menggunakan barang yang pemiliknya

48 Al Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari Juz III, Penterjemah Ahmad Sunarto (Semarang: CV. Asy Syifa’, 1992). hal. 472

49 Rachmat Syafi’i, Fiqih Muamalah, ..., hal. 88-89

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa kesenian tradisi di Minangkabau disebut pamenan anak nagari karena merupakan kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di

Retribusi Daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang sangat penting bagi daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. untuk itu

Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang bersifat deskriptif untuk mendapatkan tingkat ansietas pada siswa yang akan menghadapi ujian nasional tahun 2016

seorang atlit harus mampu menguasai diri agar tidak terpancing emosi saat bertanding atau berlomba, mereka harus mampu menjaga diri agar tidak melakukan hal- hal yang bisa

Kepala Bagian Pracetak, mempunyai tugas untuk mengawasi dalam pembuatan plate cetak yang materinya berasal dari editor yang akan dipakai pada proses produksi mencetak di

Hasil dari produksi biogas ini digunakan masyarakat sebagai bahan bakar alternatif pengganti gas LPG untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari – hari dan sehingga dapat

Seiring dengan bergulirnya era globalisasi yang berlangsung cepat dan momentum implementasi kebijakan Otonomi Daerah sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 23

04-2-BA/7318/KPU-Kab/11/2020 tanggal 14 Februari 2020 tentang Penetapan Hasil Seleksi Wawancara Galon Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan dalam Pemilihan Bupati dan