62 ANALISIS RETURN ON ASSETS, DEBT TO ASSETS RATIO, NET PROFIT
MARGIN TERHADAP PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI INDONESIA
Zaidan Harahap1
1Universitas Harapan Medan - Indonesia
Corresponding Author : Zaidan Harahap
Abstract: This study aims to determine the effect of return on assets, debt to assets ratio, net profit margin on profit flattening in manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2019-2021. This research is motivated because there are inconsistencies in the results of previous research on each independent variable to the dependent variable. The population in this study amounted to 171 manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2019-2021. This study used purposive sampling technique to obtain a research sample of 49 manufacturing companies. This study is a quantitative research with the type and source of data in the form of secondary data obtained from the site www.idx.co.id. data analysis method used in this study is descriptive statistical analysis, multicollinearity test and logistic regression analysis using SPSS program. The results showed that the return on assets had a negative and significant effect on profit flattening, debt to assets ratio had a negative and insignificant effect on profit flattening, net profit margin had a positive and insignificant effect on profit flattening. The results also showed that return on assets, debt to assets ratio and net profit margin simultaneously had a significant effect on profit flattening.
Keywords: Return on Assets, Debt to Assets Ratio and Net Profit Margin.
Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh return on assets, debt to assets ratio, net profit margin terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2021. Penelitian ini dilatarbelakangi karena terdapat inkonsistensi pada hasil penelitian terdahulu pada setiap variabel independen terhadap variabel dependennya. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 171 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2021. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling sehingga diperoleh sampel penelitian sejumlah 49 perusahaan manufaktur. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis dan sumber data berupa data sekunder yang diperoleh dari situs www.idx.co.id. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, uji multikolinearitas dan analisis regresi logistik dengan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa return on assets berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perataan laba, debt to assets ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap perataan laba, net profit margin berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap perataan laba. Hasil penelitian juga menunjukkan return on assets, debt to assets ratio dan net profit margin secara simultan berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
Kata kunci: Return On Assets, Debt To Assets Ratio Dan Net Profit Margin Perataan Laba.
A. PENDAHULUAN
Laporan keuangan adalah hasil dari kegiatan operasional yang dilakukan oleh perusahaan dalam suatu periode yang digunakan untuk memberikan informasi keuangan kepada pihak internal maupun eksternal perusahaan. Perhatian pihak - pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan terfokus pada informasi laba. Laba merupakan salah satu elemen potensial yang terdapat dalam laporan keuangan. Menurut Nafarin (2007:788), laba (income) adalah perbedaan antara pendapatan dengan biaya-biaya dan pengeluaran untuk periode tertentu. Laba berfungsi untuk menentukan prestasi perusahaan, selain itu laba juga penting sebagai informasi bagi pembagian laba, penentuan investasi, dan pembagian hasil.
63 Manajemen perusahaan berusaha agar laporan keuangan mereka terlihat baik agar mendapatkan investor yang banyak. Investor memperhatikan laporan keuangan pada bagian laporan laba rugi, terutama yang paling diperhatikan adalah laba perusahaan. Hal tersebut dikarenakan perusahaan dengan laba yang tinggi cenderung akan membagikan dividennya dalam jumlah yang besar. Pentingnya informasi mengenai laba yang dihasilkan perusahaan yang kemudian mendasari pihak manajemen untuk melakukan perilaku yang tidak semestinya (dysfunctional behavior).
Apabila terjadi penurunan laba atau bahkan mengalami kerugian, investor akan menjadi kurang tertarik pada perusahaan tersebut. Kondisi perusahaan yang tidak sehat sering kali ditutupi manajemen dengan menampilkan atau melaporkan kinerja keuangannya tetap baik dengan melakukan manajemen laba. Dalam kondisi tersebut, manajer dapat menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi laporan keuangan untuk memaksimalkan tujuannya.
Salah satu tindakan manajemen laba adalah dengan melakukan tindakan perataan laba.
Praktik perataan laba adalah salah satu tindakan yang dilakukan manajemen untuk meningkatkan market return (Michelson et. al, 2000). Tindakan tersebut sengaja dilakukan manajemen untuk mencapai posisi laba yang diinginkan dalam laporan laba rugi perusahaan guna menarik minat pasar dalam berinvestasi, karena perhatian investor sering kali hanya terpusat pada prosedur yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan informasi laba tersebut (Subekti, 2005). Di samping itu laba yang dilaporkan dalam posisi yang stabil akan memberikan rasa lebih percaya diri bagi pemilik perusahaan (Hepworth, 1953 dalam Michelson, 2000).
Tujuan lain dilakukannya perataan laba adalah untuk meningkatkan kepuasan pemegang saham melalui tingkat pertumbuhan dan stabilitas laba yang dilaporkan, memberikan rasa aman pada investor dan meningkatkan kemampuan investor untuk dapat meramalkan laba perusahaan pada periode berikutnya. Namun, dalam implementasinya perataan laba dapat menyebabkan pengungkapan laba yang menyesatkan. Apabila pihak eksternal tidak menyadari adanya praktik perataan laba maka laba hasil rekayasa dapat menyebabkan distorsi dalam pengambilan keputusan. Disisi lain dari pihak manajemen, praktik perataan laba menimbulkan kerugian yaitu harga saham perusahaan yang semula overvalued bisa menjadi undervalued apabila pihak eksternal mengetahui informasi yang disajikan manajer tidak benar.
Berikut ini beberapa fenomena perataan laba yang terindikasi melanggar prinsip- prinsip akuntansi secara umum oleh beberapa perusahaan manufaktur di Indonesia :
1. PT Kimia Farma Tbk
Permasalah yang terjadi di PT Kimia Farma Tbk terletak pada perlaporan laba besih perusahaan. Dimana PT Kimia Farma Tbk terbukti melakukan kesalahan pada laporan keuangan tanggal 31 Desember 2001 yang melaporkan adanya laba bersih sekitar Rp132 milyar, namun setelah dilakukan audit ulang ternyata laba perusahaan hanya sebesar Rp 99,56 milyar, lebih rendah sebesar Rp32,6 milyar atau 24,7% dari laba awal yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit industri bahan baku yaitu kesalahan berupa overstated persediaan barang sebesar Rp. 23,9 miliar, pada unit pedagang besar farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp. 8,1 miliar dan overstated penjualan Rp. 10,7 miliar. Tujuannya agar perusahaan mampu meningkatkan angka dividen yang dapat menarik perhatian investor dan PT. Kimia Farma tersebut dapat membagikan dividen sebesar 30%.
2. PT Indofarma Tbk.
PT. Indofarma Tbk pada tahun 2004 melakukan praktik perataan laba dengan menyajikan laba dengan overstated laba bersih senilai Rp. 28,780 milyar yang kenyataannya tidak ada sehingga dampak dari penilaian persediaan barang dalam proses yang lebih tinggi dari
64 yang seharusnya, sehingga harga pokok penjualan tahun tersebut understated. Target yang ingin dicapai dalam praktik ini adalah menaikkan laba agar laporan keuangan terlihat baik oleh investor.
3. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
Adanya penggelumbungan dana dalam laporan Hasil Investigasi Fakta PT Emst & Young Indonesia (EY) kepada manajemen baru AISA tertanggal 12 Maret 2019.
Penggelumbungan diduga terjadi pada akun piutang usaha, persediaan, dan asset tetap Grup AISA. Ditemukan fakta bahwa direksi lama melakukan penggelumbungan dana (overstatement) senilai Rp 4 triliun, kemudian ada juga temuan dugaan penggelumbungan pendapatan senilai Rp 662 miliar dan penggelumbungan lain senilai Rp 329 miliar pada pada pos EBITDA (Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) entitas bisnis makanan dari emiten tersebut. Temuan lain dari laporan EY tersebut adalah aliran dana Rp 1,78 triliun melalui berbagai skema dari Grup AISA kepada pihak-pihak yang diduga terafiliasi dengan manajemen lama. Dengan adanya penggelembungan pada pos akuntansi dan pendapatan, mengakibatkan upaya perusahaan merekayasa laporan keuangan dengan memanajemen laba dengan cara salah satunya adalah praktik perataan laba agar pada laporan keuangan terlihat relatif stabil dengan tahun sebelumnya. Hal ini dilakukan agar citra perusahaan tetap baik dan akan menarik pihak investor.
Praktek perataan laba yang dilakukan oleh manajemen tentunya tidak terlepas dari faktor yang mempengaruhinya. Dari beberapa faktor tersebut peneliti hanya terfokus kepada beberapa faktor yaitu return on assets, debt to assets ratio, ukuran perusahaan, dividend payout ratio dan net profit margin.
Return On Assets (ROA) menunjukkan ukuran efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aset yang dimilikinya. Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari segi penggunaan asset. Salah satu faktor pendorong perusahaan melakukan tindakan perataan laba adalah agar profit perusahaan terlihat baik. Faktor ROA terjadi pada PT Kimia Farma Tbk yang melakukan penggelembungan keuntungan Rp 32,6 milyar atau 24,7%, PT Indofarma Tbk yang nilai barang dalam proses lebih tinggi dari nilai yang seharusnya (overstead) yang mengakibatkan laba bersih juga mengalami overstead dan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk yang juga melakukan penggelembungan dana. Dimana ketiga perusahaan melakukan perataan laba dengan naiknya laba dari yang seharusnya oleh manajemen perusahaan agar efektivitas perusahaan terlihat bagus.
Debt to assets ratio (DAR) digunakan untuk mengukur bagian aset yang digunakan untuk menjamin keseluruhan kewajiban atau hutang. DAR biasanya digunakan oleh manajer untuk melakukan perataan laba agar perusahaan terlihat bagus kinerjanya dimata kreditur, sehingga kedepannya pihak kreditur akan lebih percaya dalam memberikan pinjaman kepada perusahaan. Kemampuan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk menutup kewajiban perusahaan meningkat dengan adanya aliran dana yang terafiliasi manajemen lama dan penggelembungan yang berdampak bahwa perusahaan tersebut melakukan perataan laba.
Net profit margin (NPM) merupakan suatu rasio yang digunakan untuk mengukur seluruh efisiensi seperti produksi pendanaan, pemasaran, maupun administrasi. NPM diperoleh dengan membagi laba setelah pajak dengan penjualan. Maka jika dikaitkan dengan fenomena yang telah diuraikan sebelumnya pada PT Indorfama Tbk dimana terjadi nilai barang dalam proses lebih tinggi dari nilai yang seharusnya (overstead) yang mengakibatkatkan harga pokok penjualan juga menurun.
Pada penelitian ini digunakan perusahaan manufaktur sebagai objek penelitian, hal ini dikarenakan perusahaan manufaktur merupakan kelompok perusahaan yang cukup besar
65 dan berkembang di Indonesia. Perusahaan manufaktur memiliki iklim persaingan yang sangat ketat. Selain itu dalam Bursa Efek Indonesia, perusahaan manufaktur merupakan emiten terbesar, sehingga pesaing perusahaan manufaktur pun sangat ketat. Dengan demikian perusahaan manufaktur perlu memperhatikan pendanaan yang akan diambil agar perusahaan tidak mengalami penurunan dalam memperoleh laba. Untuk itu, perusahaan harus memperkuat faktor internal agar dapat tetap berkembang dan bertahan dalam persaingan.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah asosiatif kausal (sebab akibat). Jadi, disini ada variabel yaitu variabel independen (mempengaruhi) dan variabel dependen (dipengaruhi).
Penelitian ini menjelaskan tentang pengaruh return on assets, debt to assets ratio, ukuran perusahaan, dividend payout ratio dan net profit margin terhadap perataan laba.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia periode 2019-2021. Perusahaan yang menjadi populasi dalam penelitian ini sebanyak 171 perusahaan. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel dalam penelitian ini didasarkan pada metode purposive sampling. Metode purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan. Berdasarkan kriteria yang diperolah sampel untuk penelitian ini sebanyak 49 perusahaan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan jumlah periode pengamatan selama 3 tahun sehingga data observasi berjumlah 147.
Jenis data yang digunakan dalam penelittian ini adalah data sekunder. Menurut Sugiyono (2018:137), Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh tidak berhubungan langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang sudah dipublikasikan di www.idx.co.id.
Metode Pengumpulan Data, Menurut sugiyono (2018:224), bahwa pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Metode pengumpulan data merupakan langkah yang strategis digunakan oleh peneliti yang bertujuan untuk mendapatkan data dalam penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data sekunder dengan dua tahap. Tahap pertama adalah melakukan studi pustaka dengan cara mengumpulkan jurnal, buku-buku, skripsi terdahulu dan bahan lain yang berhubungan dengan judul yang sedang diteliti. Tahap kedua adalah mengumpulkan dan menganalisis data sekunder atau data perusahaan berupa laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017- 2019 yang diperoleh dari situs www.idx.co.id.
Metode Analisis Data Menurut Sugiyono (2018 : 285) “Teknik analisis data berkenaan dengan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan pengujian hipotesis yang diajukan”. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan metode kuantitatif.
Sedangkan metode statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji multikolinearitas dan analisis regresi logistik dengan menggunakan program SPSS. Namun sebelum dilakukan pengujian, terlebih dahulu dilakukan perhitungan indeks Eckel (1981), untuk menentukan apakah perusahaan berstatus melakukan perataan laba atau tidak melakukan perataan laba.
66 C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Return on Assets Terhadap Perataan Laba
Koefisien regresi variabel return on assets sebesar -8,217 yang berarti peningkatan setiap persen return on assets, dengan asumsi variabel DAR, UP, DPR, dan NPM dianggap konstan, maka kecenderungan perusahaan dalam melaksanakan perataan laba semakin kecil dan dapat dilihat juga dari nilai sig variabel return on assets = 0,050 lebih kecil atau sama dengan 0,05, sehingga
return on assets berpengaruh signifikan terhadap perataan laba. Maka hipotesis penelitian ini menunjukkan bahwa return on assets berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perataan laba.
Return on Assets adalah perbandingan antara laba bersih setelah pajak yang diperoleh dengan total aset. Berdasarkan Putri dan Budiasih (2018) menemukan bahwa return on assets memiliki pengaruh yang positif dan signifkan terhadap praktik perataan laba yang berarti semakin tinggi tingkat return on assets maka akan semakin tinggi pula kecenderungan melakukan perataan laba. Hal tersebut berbeda dengan hasil penelitian yang menunjukkan pengaruh negatif. Maka apabila tingkat ROA tinggi maka dapat menurunkan peraataan laba, begitu pula dengan sebaliknya, apabila tingkat ROA rendah maka dapat menaikkan perataan laba. Semakin baik kinerja perusahaan dalam ROA maka tindakan perataan laba semakin menurun. ROA berpengaruh negatif terhadap perataan laba disebabkan oleh kurangnya motivasi yang dimiliki manajemen untuk melakukan perataan laba pada perusahaan dengan profit tinggi. Lain halnya dengan perusahaan yang ROA rendah, manajemen cenderung lebih termotivasi untuk meratakan labanya agar perusahaan yang dia pimpin dinilai positif oleh pihak eksternal. Fluktuasi laba yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan tersebut sehat dan memiliki kinerja yang baik walaupun tingkat ROA rendah.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari, dkk (2018) yang menyatakan Return on Assets berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perataan laba.
Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Asmara (2017) yang menyatakan Return on Assets tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
Pengaruh Debt to Assets Ratio Terhadap Perataan Laba
Koefisien regresi variabel debt to assets ratio sebesar -0,370 yang berarti peningkatan setiap persen debt to assets ratio, dengan asumsi variabel ROA, UP, DPR, dan NPM dianggap konstan, maka kecenderungan perusahaan dalam melaksanakan perataan laba semakin kecil dan dapat dilihat juga dari nilai sig variabel debt to assets ratio = 0,720 >
0,05, sehingga debt to assets ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
Maka hipotesis penelitian ini menunjukkan bahwa debt to assets ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap perataan laba.
Debt to Assets Ratio adalah perbandingan antara total kewajiban dengan total asset.
Menurut Sumarna (2017) menemukan bahwa debt to assets ratio memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prataan laba. Apabila variabel debt to asset ratio meningkat maka perataan laba akan menurun. Tidak adanya hubungan signifikan pada hasil penelitian ini menunjukkan besar kecilnya kemampuan perusahaan dalam pembayaran hutangnya tidak berdampak pada keinginan perusahaan untuk melakukan perataan laba. Hasil ini juga menunjukkan bahwa besarnya kemampuan perusahaan dalam pembayaran kewajiban jangka panjangnya tidak mampu menjelaskan pengaruhnya terhadap kelompok perataan laba dan bukan kelompok perataan laba.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Butar-butar dan Sudarsih (2012) yang menyatakan debt to assets ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
67 Sumarna (2017) yang menyatakan debt to assets ratio berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Perataan Laba
Koefisien regresi variabel net profit margin sebesar 9,641 yang berarti peningkatan setiap persen net profit margin, dengan asumsi variabel ROA, DAR, UP dan DPR dianggap konstan, maka kecenderungan perusahaan dalam melaksanakan perataan laba semakin besar dan dapat dilihat juga dari nilai sig variabel debt to assets ratio = 0,091 >
0,05, sehingga net profit margin tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
Ginantra dan Putra (2015) menemukan bahwa net profit margin berpengaruh positif dan signifikan terhadap perataan laba. Artinya investor cenderung melihat laba setelah pajak saja dalam mengambil suatu keputusan atas investasinya. Terjadilah bebagai hal yang memicu pihak internal perusahaan untuk meratakan keuntunganya, sehingga keuntungan perusahaan terlihat stabil dan baik. Tidak adanya pengaruh signifikan pada hasil penelitian dikarenakan fluktuasi net profit margin tidak mempengaruhi manajemen dalam melakukan praktik perataan laba kemungkinan karena variabel ini lebih menekankan atau lebih fokus kepada volume penjualan dan efisiensi biaya, kemungkian keuntungan perusahaan dari hasil penjualan lebih digunakan untuk membayar hutang- hutang perusahaan daripada untuk menambah modalnya serta investor cenderung mengabaikan informasi penjualan secara maksimal sehingga manajemen pun menjadi tidak termotivasi melakukan perataan laba melalui net profit.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Utomo (2018) yang menyatakan net profit margin tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ginantra dan Putra (2015) yang menyatakan net profit margin berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil Penelitian diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Return on assets berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perataan laba.
2. Debt to assets ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
3. Return on assets, debt to assets ratio, net profit margin secara simultan berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
Daftar Pustaka
Frastuti, Melia dan Saleh Sitompul. 2020. Reformasi Sistem Administrasi Pemerintahan, Penakhlukkan Di Darat Dan Dilautan Pada Era Bani Umayyah. Shar-E:
Jurnal Kajian Ekonomi Hukum Syariah. Vol. 6 No. 2 Juli 2020, Hal. 119-127.
Hanafi, Mamdouh, 2004. Manajemen Risiko, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
Handayani, D.B., Yanto, Heri, 2013. “Determinan Pengungkapan Enterprise Risk Management Pada Perusahaan Manufaktur Di Indonesia”, Jurnal Keuangan dan Perbankan. Volume 17 No 3, hal 333-342.
Hoyt, and Liebenberg, 2011. “The Value of Enterprise Risk Management”, Journal of Risk and Insurance, Volume 78 No 4, page 795-822.
IAI, 2016. “Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.60 (Revisi 2016)", Instrumen Keuangan: Pengungkapan, IAI, Jakarta.
Ichsan, R. N., Suparmin, S., Yusuf, M., Ismal, R., & Sitompul, S. (2021). Determinant of Sharia Bank's Financial Performance during the Covid-19 Pandemic. Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences, 4(1), 298-309.
68
Keputusan Direksi BEJ Nomor Kep-305/BEJ/07-2004 tentang peraturan nomor 1 – A tentang pencatatan saham efek ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh perusahaan tercatat.
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor Kep- 134/BL/2006 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan Bagi Emiten atau Perusahaan Publik.
Komite Nasional Kebijakan Governance, 2006. Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia, Jakarta.
Komite Nasional Kebijakan Governance, 2011. Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia, Jakarta.
Kumalasari, 2014. “Faktor - Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Luas Pengungkapan Manajemen Risiko”, Accounting Analysis Journal, Volume 3 No 1, hal 361-369.
Liahmad, Kartika Rusnidita, Yuni Putri Utami, Saleh Sitompul.2021. Financial Factors and Non-Financial to Financial Distress Insurance Companies That Listed in Indonesia Stock Exchange. Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI- Journal): Humanities and Social Sciences, 4(1), 1305-1312.
Meizaroh, dan Lucyanda, 2011. “Pengaruh Corporate Governance Dan Konsentrasi Kepemilikan Pada Pengungkapan Enterprise Risk Management”, Simposium Nasional Akuntansi XIV, Banda Aceh.
Nurhudawi, Saleh Sitompul. 2020. Analisis Return Saham Pada Perusahaan Pertambangan Batubara Di Bursa Efek Indonesia. Shar-E: Jurnal Kajian Ekonomi Hukum Syariah. Vol. 6 No. 2 Juli 2020, Hal. 108-116.
Nuryaman, 2009. “Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, Dan Mekanisme Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba”, Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Indonesia, SNA XI, Pontianak.
Prayoga, EB, and LS Almilia, 2013. “Pengaruh Struktur Kepemilikan Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Pengungkapan Manajemen Risiko”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Volume 4 No 1, hal 1-19.
Rahayu, S. et al. (2020). Effect Of Work To Family Conflict And Work Stress On Organizational Commitments With Work Satisfaction As Intervening Variables.
International Journal For Innovative Research In Multidisciplinary Field. Vol. 6, Issue 7, July – 2020: 10-17.
Razali, dkk, 2011. “The Determinants of Enterprise Risk Management (ERM) Practices in Malaysian Public Listed Companies”, Journal of Social and Development Sciences, Volume 1, No 5, page 202-207.
Rini dan Aida, 2006. “Pengaruh Kepemilikan Saham Minoritas (Publik) dan Kepemilikan Saham Mayoritas (Pemilik Saham Terbesar) Terhadap Kebijakan Dividen”, SN KNA Trisakti. Jakarta.
Rustiarini, Ni Wayan, 2012. “Corporate Governance, Konsentrasi Kepemilikan Dan Pengungkapan Enterprise Risk Management”, Jurnal Manajemen Keuangan, Akuntabilitas, Volume 11 No 2, hal 279-298.
Saham OK. www.sahamok.net (10 Oktober 2021)
Sari, Fuji Juwita, 2013. “Implementasi Enterprise Risk Management Pada Perusahaan Manufaktur Di Indonesia”, Accounting Analysis Journal, Volume 3 No 2, hal 163–
170.Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Cetakan Ke-15, Alfabeta, Bandung.
Sitompul, S. (2019). Pengaruh Motivasi Dan Kepemimpinan Terhadap Prestasi Kerja Pada PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan. Jurnal Ilmiah METADATA, 1(2), 93-105.
69
Sitompul, S. (2021). Pengaruh Pengetahuan Label Halal Dan Kesadaran Merek Terhadap Keputusan Pembelian Kosmetik Melalui Rekomendasi Kelompok Sebagai Variabel Moderating. Shar-E: Jurnal Kajian Ekonomi Hukum Syariah, Vol. 7 No. 1 (2021).
Sitompul, S. (2022). Hubungan Pengeluaran Biaya Operasional, Perputaran Persediaan Serta Pendapatan Terhadap Peningkatan Atau Penurunan Profitabilitas Pada PT. Global Agri Sejahtera. Jurnal Ilmiah METADATA, 1(4), 1487-1499.
Sitompul, S. 2018. Pengaruh ukuran perusahaan, kebijakan pendanaan, Risk based capital (RBC), pertumbuhan premi netto dan laba perusahaan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Universitas Sumatera Utara.
Sitompul, Saleh dan Nasution, Siti Khadijah. 2019. The Effect of Car, BOPO, NPF, and FDR on Profitability of Sharia Commercial Banks in Indonesia. E-ISSN: 2615-3076.
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal) : Humanities and Social Sciences. Vol. 2. No. 3.
Sitompul, Saleh dan Siti Khadijah. 2020. Analysis Net Profit, Dividend, Debt, Cash Flow, and Capital Net Working That Influence Investment Decisions on Manufacturing Companies. International Journal of Research and Review. Vol.7; Issue: 3; March 2020.
Sitompul, Saleh. (2022). Kecurangan (Fraud) Ditinjau Dari Sisi Kualitas Pelaksanaan Good Corporate Governance, Size Serta Kompleksitas Perbankan Perbankan Syariah.
Sintaksis: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol. 2, Issue 1, Februari – 2022: 26-36.
Sitompul, Saleh. et al. (2021). Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage dan Jumlah Anggota Komisaris Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility. Sintaksis: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol. 1, Issue 3, Oktober – 2021: 54- 56.
Sitompul, Saleh. et al. (2021). Pengenalan Dasar-Dasar Investasi Pada Guru-Guru Madrasah Al-Quba. E-Amal Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Vol. 1, Issue 3, September – 2021: 343-348.
Sitompul, Saleh. et al. (2021). The Influence Of Exchange Rate, Inflation, For The Results Of The Development Assets Of Islamic Banks. Vol. 4, Issue 3, March – 2021:
138-148.
Syifa’, Layyinatusy, 2013. “Determinan Pengungkapan Enterprise Risk Management Pada Perusahaan Manufaktur Di Indonesia”, Accounting Analysis Journal, Volume 2 No 3, hal 286–294.
Topan, 2015. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Manajemen Risiko Dengan COSO ERM Framework”, Jurnal Ilmiah Akuntansi, Volume 3 No 1, hal 32-48.
Wing Wahyu, 2017. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EViews. UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
Wiona, D. dan Nurbaiti, A., 2020. “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Konsentrasi Kepemilikan, Reputasi Auditor Dan Risk Management Committee Terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management” Jurnal Ilmiah Akuntansi, Volume 5 No 1, hal 01-24.