ANALISIS RHODAMIN B PADA LIPSTIK YANG DI JUAL DI BEBERAPA PASAR TRADISIONAL
Nur Afni Sulastina1, Melly Fitri2
Program Studi DIII Analis Kesehatan, STIKESMAS Abdi Nusa Palembang1 Program Studi SI Kesehatan Masyarakat, STIKESMAS Abdi Nusa Palembang2
[email protected]1 [email protected]2
ABSTRAK
Latar Belakang: Rhodamin B ditetapkan sebagai salah satu zat pewarna berbahaya oleh Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan No.239/MenKes/Per/V/1985 dan sesuai Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No.18 tahun 2015 tentang kosmetik, beberapa zat warna dilarang penggunaannya dalam sediaan kosmetik termasuk lipstik, antara lain Rhodamin B. Rhodamin B menyebabkan iritasi serta memberikan efek buruk pada bibir. Tujuan: Diketahuinya Rhodamin B pada lipstik yang dijual di beberapa pasar tradisional berdasarkan warna, tekstur dan harga. Metode:
Desain penelitian adalah deskriptif, tempat penelitian di 5 pasar tradisional, waktu penelitian bulan Maret-Mei 2021, 35 sampel lipstik dengan teknik samplingnya menggunakan purposive sampling, metode pemeriksaan dengan cara kromatografi kertas. Hasil: Dari 35 sampel yang diteliti, didapatkan 1 sampel (2,9%) lipstik positif Rhodamin B dan 34 sampel (97,1%) negatif Rhodamin B, berdasarkan warna lipstik didapatkan 1 sampel (2,9%) lipstik merah terang positif Rhodamin B dengan p value = 1,000 dan OR 0,944, berdasarkan tekstur lipstik didapatkan 1 sampel (2,9%) tekstur cair Rhodamin B dengan p value = 0,296 dan OR 0,941, dan berdasarkan harga lipstik didapatkan 1 sampel (2,9%) lipstik harga Rp.16.000-Rp.30.000 positif Rhodamin B p value = 1,000 dan nilai OR 1,050. Saran:
Diharapkan masyarakat agar lebih teliti memperhatikan kualitas produk lipstik yang digunakan dan tidak terpengaruh seperti harga lipstik, warna mencolok serta untuk Dinas kesehatan dan BPOM memberi penyuluhan ke pedagang kosmetika untuk menjual kosmetika yang memiliki Nomor Produk Kosmetik terdaftar di BPOM, memberi informasi bahaya Rhodamin B bagi kesehatan.
Kata Kunci: Rhodamin B, Lipstik, Kromatografi
ABSTRAK
Background: Rhodamine B is designated as one of the dangerous dyes by the Government of Indonesia through the Regulation of the Minister of Health No.239/MenKes/Per/V/1985 and according to the Regulation of the Head of BPOM No.18 of 2015 concerning cosmetics, some dyes are prohibited from being used in preparations. Cosmetics including lipstick, including Rhodamine B.
Rhodamin B causes irritation and adverse effects on the lips. Objective:To determine Rhodamine B in lipsticks sold in several traditional markets based on color, texture and price. Methods: The research design is descriptive, the research sites are in 5 traditional markets, the research time is March-May 2021, 35 lipstick samples with the sampling technique using purposive sampling, the examination method is by paper chromatography. Results: From the 35 samples studied, 1 sample (2.9%) was positive for Rhodamine B lipstick and 34 samples (97.1%) were negative for Rhodamine B, based on the color of the lipstick, 1 sample (2.9%) was positive bright red lipstick. Rhodamine B with p value = 1,000 and OR 0.944, based on lipstick texture, 1 sample (2.9%) of liquid texture was obtained.
Rhodamin B with p value = 0.296 and OR 0.941, and based on the price of lipstick, 1 sample (2.9%) of lipstick was obtained price Rp.16.000-Rp.30.000 positive Rhodamin B p value = 1,000 and OR value 1.050. Suggestion:It is hoped that the public will pay more attention to the quality of the lipstick products used and not be affected, such as the price of lipstick, striking colors and for the Health Service and BPOM to provide counseling to cosmetic traders to sell cosmetics that have a Cosmetic Product Number registered with BPOM, provide information on the dangers of Rhodamin B to health.
Keywords: Lipstick, Rhodamine B, Chromatography
PENDAHULUAN
Bagi perempuan memiliki penampilan yang cantik dan menarik merupakan hal yang sangat penting.
Kosmetik telah dikenal sejak zaman dahulu kala meski bentuk kosmetik zaman dahulu berbeda dengan masa sekarang. Pada zaman dahulu kosmetik digunakan untuk berbagai tujuan, di antaranya ritual agama, meningkatkan kesehatan, dan menambah aura kecantikan (Komarudin, Fauziah et al, 2019).
Berdasarkan Pasal 1 Angka 1 Peraturan Menteri Kesehatan RI No.1176/Menkes/PERNII/2010 tentang Notifikasi Kosmetika, yang dimaksud dengan kosmetik adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan/
atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (Marpaung 2016).
Kosmetik yang paling banyak dan tidak dapat ditinggalkan pemakaiannya adalah lipstik dan perona pipi atau yang dikenal dengan nama blush-on. Lipstik merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat
meningkatkan estetika dalam tata rias wajah, tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada bibir (Anggraini 2019). Bahan utama lipstik menurut Tranggono dan Latifa (2007), antara lain, minyak, lemak, lilin, acetoglyceride, zat pewarna, surfaktan, bahan pengawet, pewangi dan antioksidan. Sumber zat pewarna dalam lipstik terbagi dua macam yaitu, pewarna alami merupakan pewarna yang berasal dai alam seperti dari buah, akar, dan daun tanaman, sedangkan pewarna sintesis berasal dari reaksi antara dua atau lebih senyawa kimia (Anisa 2019).
Zat warna mempunyai peran dalam pewarnaan lipstik sehingga lipstik yang dihasilkan memberikan warna dan penampilan yang sangat menarik sehingga konsumen tertarik untuk menggunakannya.
Sesuai Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. 18 tahun 2015 tentang kosmetik, beberapa zat warna dilarang penggunaannya dalam sediaan kosmetik termasuk lipstik, antara lain Rhodamin B (Togatorop 2021).
Penggunaan Rhodamin B pada produk kosmetik mungkin karena harganya murah dibandingkan zat warna lain yang telah diizinkan, kemungkinan kedua adalah kurangnya pengetahuan produsen tentang zat warna apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan pada kosmetik (Sinuhaji 2019).
Penelitian yang dilakukan oleh Komarudin, Fauziah et al (2019) didapatkan bahwa Kadar Rhodamin B pada lipstik terbesar terdapat pada lipstik 1 dan terendah pada lipstik 2. Secara makroskopik lipstik 1 memiliki warna pink dan lipstik 3 pink kemerahan. Hasil penelitian ini menguatkan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Helmice and Utari (2017) dengan 10 sampel yang diujikan di antaranya 5 sampel di antaranya 5 sampel (A, B, C, D, E) yang tidak memiliki nomor produk kosmetik, dan 5 sampel (F, G, H, I, J) yang memiliki nomor produk kosmetik didapatkan hasil pada sampel A positif mengandung zat Rhodamin B dan negatif mengandung Rhodamin B pada sampel lainnya.
Pada era perdagangan bebas seperti saat ini banyak kosmetik yang beredar di pasaran dengan berbagai jenis merek, harga, dan kualitas. Keinginan wanita untuk tampil cantik banyak dimanfaatkan oleh pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab untuk meraih keuntungan lebih dengan memperdagangkan kosmetik yang tidak memenuhi persyaratan untuk diedarkan. Kebanyakan wanita sangat tertarik untuk membeli kosmetik dengan harga murah serta memiliki hasil yang cepat demi memperoleh wajah yang cantik (Priaji 2018).
Untuk mencapai tujuan tersebut tak sedikit wanita rela menghabiskan uang untuk membeli perlengkapan kosmetik dengan tujuan memoles wajahnya agar terlihat lebih cantik dan karna keinginan seseorang untuk memiliki kosmetik yang update dan bermerek dengan harga murah telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memproduksi kosmetik yang begitu mirip dengan aslinya akan tetapi dapat dimiliki dengan harga murah (Hasyim 2021).
Penelitian yang dilakukan oleh Ana dan Endang (2008) dalam (Maesaroh, Wijayanti et al (2021) didapatkan 5 sampel lipstik dengan harga ≤ Rp.5.000,00 dan 5 sampel dengan harga > Rp.5.000,00, hasil pada sampel lipstik pertama 4 sampel dinyatakan positif mengandung Rhodamin B dan 1 sampel dinyatakan negatif. Pada sampel kedua semua sampel lipstik dinyatakan negatif mengandung Rhodamin B.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti melihat gaya hidup masyarakat yang makin mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju mengakibatkan peningkatan penggunaan kosmetik terutama lipstik sangat digemari semua kalangan, tidak hanya orang dewasa, remaja, anak-anak juga sudah mencoba menggunakan lipstik tanpa mereka tahu apakah terdapat bahaya atau tidak pada
lipstik yang mereka gunakan. Masyarakat hanya mengikuti trend zaman sekarang, apalagi dengan harga yang murah mereka sudah dapat membeli lipstik dengan berbagai macam warna. Jika lipstik yang beredar terdapat zat pewarna maka akan mengakibatkan gangguan kesehatan seperti penyakit liver dan ginjal, sehingga peneliti ingin melakukan penelitian mengenai
“Analisis Rhodamin B Pada Lipstik Yang di Jual di beberapa Pasar Tradisional”.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif, dengan pendekatan cross- sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 35 sampel yang diambil dari 5 Pasar Tradisional kosmetik pinggiran, dikarenakan peneliti ada pertimbangan menurut beberapa kriteria. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan atas pertimbangan yang dibuat oleh peneliti yaitu kriteria warna, tekstur dan harga. Metode yang digunakan adalah metode kromatografi kertas. Prinsip pemeriksaan yaitu adanya pemisahahan substansi material (sampel) antara dua fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Bila sampel
lebih polar ke fase gerak maka akan terikut elusi. Komponen sampel campuran terpisah karena perbedaan afinitas terhadap air daripada fase diam. Penelitian deskriptif dengan analisa data dilakukan secara univariat dan bivariat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Mei tahun 2021. Waktu pengambilan data dilakukan pada tanggal 19-23 April 2021.
Dalam melaksanakan penelitian ada 4 prinsip-prinsip etika yakni (1) Menghindari, mencegah dan meminimalkan timbulnya bahaya, (2) Meminimalkan kerugian serta memaksimalkan keuntungan (3) Partisipan pada penelitian ini memiliki hak mengungkapkan secara penuh untuk bertanya, menolak, dan mengakhiri partisipasinya, dan (4) Memastikan penelitian ini tidak mengganggu privasi nara sumber.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang Rhodamin B pada lipstik yang di jual di beberapa Pasar Tradisional yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan tabulasi silang, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel 1.
Distribusi Frekuensi Rhodamin B pada Lipstik yang dijual di Beberapa Pasar Tradisional
No. Variabel Jumlah %
1 Hasil Pemeriksaan Rhodamin B
Positif 1 2,9
Negatif 34 97,1
2 Warna Lipstik
Merah terang 1 2,9
Merah muda 34 97,1
3 Tekstur Lipstik
Cair 1 2,9
Padat 34 97,1
4 Harga Lipstik
Rp 10.000-Rp 15.000 34 97,1
Rp 16.000-Rp 30.000 1 2,9
Jumlah 35 100
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa dari 35 sampel lipstik yang dijual di beberapa pasar tradisional, terdapat 1 sampel (2,9%) lipstik ditemukan Rhodamin B dan 34 sampel (97,1%) lipstik tidak ditemukan Rhodamin B. Untuk warna lipstik yang dijual, terdapat 1 sampel (2,9%) warna merah terang ditemukan Rhodamin B dan 34 sampel (97,1%) merah muda tidak ditemukan
Rhodamin B. Pada tekstur lipstik yang dijual, terdapat 1 sampel (2,9%) tekstur cair ditemukan Rhodamin B dan 34 sampel (97,1%) tekstur padat tidak ditemukan Rhodamin B. Harga lipstik yang dijual di beberapa pasar tradisional, terdapat 1 sampel (2,9%) dengan harga Rp 16.000-Rp 30.000 ditemukan Rhodamin B dan 34 sampel (97,1%) dengan harga Rp 10.000- Rp 15.000 tidak ditemukan Rhodamin B.
Tabel 2.
Keberadaan Rhodamin B pada Lipstik yang Dijual di Beberapa Pasar Tradisional Berdasarkan Warna
Warna
Rhodamin B Jum lah OR
(95%CI)
p value Positif Negatif
n % n % N %
Merah Terang 0 0 14 48,6 18 51,5 0,944
(0,744-1,056)
1,000
Merah muda 1 2,9 20 48,5 17 48,5
Total 1 2,9 34 97,1 35 100
Berdasarkan tabel 2 diperoleh hasil bahwa, dari 35 sampel berdasarkan warna
lipstik, pada warna merah terang terdapat 1 sampel (2,9%) ditemukan Rhodamin B dan
17 sampel (48,6%) tidak ditemukan Rhomanin B, sedangkan merah muda terdapat 0 sampel (0,0%) ditemukan Rhomanin B dan 17 sampel (48,5%) tidak ditemukan Rhomanin B.
Hasil analisis keberadaan antara formalin dengan warna lipstik diperoleh nilai p= 1,000 > (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna antara keberadaan formalin dengan lipstik yang dijual di beberapa pasar Tradisional. Dari analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio sebesar 0,944 (0,844- 1,056) artinya warna lipstik merah terang yang positif mengandung formalin memiliki resiko 0,944 kali lebih tinggi dibandingkan dengan warna merah muda yang negatif mengandung formalin.
Tabel 3.
Keberadaan Rhodamin B pada Lipstik yang Dijual di Beberapa Pasar Tradisional Berdasarkan Tekstur
Tekstur
Rhodamin B Jum lah OR
(95%CI)
p value Positif Negatif
n % n % N %
Cair 0 2,9 16 45,7 17 48,6 0,941
(0,836-1,060)
0,296
Padat 1 0 18 51,1 18 51,4
Total 1 2,9 34 97,1 35 100
Berdasarkan tabel 3 diperoleh hasil bahwa dari 35 sampel berdasarkan tekstur lipstik, pada tekstur cair terdapat 1 sampel (2,9%) ditemukan Rhodamin B dan 16 sampel (45,7%) tidak ditemukan Rhodamin B, sedangkan tekstur padat terdapat 0 sampel (0,0%) ditemukan Rhodamin B dan 18 sampel (51,4%) tidak ditemukan Rhodamin B.
Hasil analisis keberadaan antara formalin dengan tekstur lipstik diperoleh
nilai p= 0,296 > (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara keberadaan formalin dengan tekstur lipstik yang dijual di beberapa pasar tradisional. Dari analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio sebesar 0,941 (0,836-1,060) artinya tekstur lipstik cair yang positif mengandung formalin memiliki resiko 0,941 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tekstur lipstik padat yang negatif mengandung formalin.
Tabel 4.
Keberadaan Rhodamin B pada Lipstik yang dijual di Beberapa Pasar Tradisional Berdasarkan Harga
Harga
Rhodamin B Jum lah OR (95%CI)
p value Positif Negatif
n % n % N %
Rp 10.000 – Rp.15.000 0 0 14 40 14 40 1,050
(0,954- 1,155)
1,000 Rp 16.000 - Rp.30.000 1 2,9 20 57,1 21 60
Total 1 2,9 34 97,1 35 100
Berdasarkan tabel 4 diperoleh hasil bahwa, dari 35 sampel berdasarkan harga lipstik, pada harga Rp 10.000-Rp 15.000 terdapat 0 sampel (0%) ditemukan Rhodamin B dan 14 sampel (40%) tidak ditemukan Rhodamin B, sedangkan harga Rp 16.000-Rp 30.000 terdapat 1 sampel (2,9%) ditemukan Rhodamin B dan 20 sampel (57,1%) tidak ditemukan Rhodamin B.
Hasil analisis keberadaan antara formalin dengan harga lipstik diperoleh nilai p=1,000>(0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara keberadaan formalin dengan harga lipstik yang dijual di beberapa pasar Tradisional. Dari analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio sebesar 1,050 (0,954- 1,155) artinya harga lipstik Rp 16.000-Rp 30.000 yang positif mengandung formalin memiliki resiko 1,000 kali lebih tinggi dibandingkan dengan harga lipstik Rp.10.000 - Rp.15.000 yang negatif mengandung formalin.
PEMBAHASAN
Rhodamin B pada Lipstik yang dijual di Beberapa Pasar Tradisional
Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis Rhodamin B pada lipstik yang di jual di beberapa pasar tradisional didapatkan hasil dari 35 sampel lipstik terdapat 1 sampel (2,9%) lipstik ditemukan Rhodamin B. Berbeba dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mustika (2021) yaitu didapatkan dari 13 sampel pewarna lipstik yang dijual di desa Seri Bandung tahun 2021, terdapat 4 sampel (30,8%) yang positif mengandung Rhodamin B.
Hasil pengawasan selama semester II tahun 2016, BPOM menemukan adanya kosmetik tanpa izin edar di pasar tradisional di wilayah Jakarta. Pada umumnya kosmetik seperti lipstik dan perona mata yang dijual di pasar tradisional memiliki harga yang murah akan tetapi masih diragukan untuk kandungan dari produk kosmetik tersebut apakah aman ataukah mengandung bahan berbahaya yang dilarang seperti Rhodamin
B. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis zat warna yang digunakan pada sediaan kosmetik lipstik dan perona mata yang beredar untuk memastikan keamanannya agar masyarakat sebagai konsumen kosmetik dapat terhindar dari efek berbahaya zat warna yang dilarang (Komarudin, Fauziah et al, 2019).
Adapun asumsi peneliti bahwa masih ditemukannya Rhodamin B pada kosmetik dikarenakan masih banyak produsen nakal yang masih memakai pewarna Rhodamin B sebagai pewarna lipstik yang menarik dan jika tetap beredar zat pewarna di kosmetik, maka dapat mengakibatkan timbulnya suatu penyakit, seperti penyakit liver dan ginjal.
Rhodamin B pada Lipstik yang dijual Berdasarkan Warna
Berdasarkan hasil penelitian pada warna lipstik didapatkan dari 35 sampel lipstik terdapat 1 sampel (2,9%) lipstik warna merah terang ditemukan Rhodamin B. Hasil analisis keberadaan antara formalin dengan warna lipstik diperoleh nilai p=1,000>(0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara keberadaan formalin dengan lipstik yang dijual di beberapa pasar Tradisional.
Dari analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio sebesar 0,944 (0,844-1,056) artinya warna lipstik merah terang yang positif mengandung formalin memiliki resiko
0,944 kali lebih tinggi dibandingkan dengan warna merah muda yang negatif mengandung formalin.
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2019) didapatkan dari 9 sampel lipstik yang diteliti, 6 sampel lipstik berwarna merah terang (100%) positif Rhodamin B, sedangkan 3 sampel warna merah muda ditemukan 1 sampel (33,3%) positif Rhodamin B dan 2 sampel (66,7%) negatif Rhodamin B.
Rhodamin B adalah zat pewarna sintetis berbentuk serbuk Kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau dan dalam larutan berwarna merah terang berfluorensi, digunakan untuk histologi, pewarna kertas dan tekstil (Togatorop 2021). Zat pewarna berupa kristal-kristal hijau atau serbuk ungu kemerahan, larut dalam air dengan warna merah kebiruan dan sangat berfluorensi, menghasilkan warna yang menarik dengan hasil warna yang dalam dan sangat berpendar jika dilarutkan dalam air dan etanol (Rohman, 2017).
Berdasarkan asumsi peneliti bahwa terdapat 1 sampel (2,9%) warna lipstik merah terang ditemukan Rhodamin B, hal ini disebabkan oleh masyarakat yang membeli lipstik yang memiliki warna terang dengan harga murah dapat dijangkau oleh masyarakat dengan
ekonomi yang rendah namun dapat memberikan efek yang kurang baik pada kesehatan.
Rhodamin B pada Lipstik yang dijual Berdasarkan Tekstur
Berdasarkan hasil penelitian ini berdasarkan tekstur lisptik didapatkan hasil dari 35 sampel lipstik terdapat 1 sampel (2,9%) lipstik tekstur cair ditemukan Rhodamin B. Hasil analisis keberadaan antara formalin dengan tekstur lipstik diperoleh nilai p = 0,296>(0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara keberadaan formalin dengan tekstur lipstik yang dijual di beberapa pasar Tradisional. Dari analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio sebesar 0,941 (0,836-1,060) artinya tekstur lipstik cair yang positif mengandung formalin memiliki resiko 0,941 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tekstur lipstik padat yang negatif mengandung formalin.
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2019) yaitu didapatkan dari 9 sampel lipstik yang diteliti, 5 sampel dengan tekstur cair didapatkan 4 sampel (80%) positif Rhodamin B, 1 sampel (20%) negatif Rhodamin B, sedangkan 4 sampel tekstur padat di dapatkan 3 sampel (75%) positif Rhodamin B dan 1 sampel (25%) negatif Rhodamin B.
Peneliti berasumsi bahwa terdapat 1 sampel (2,9%) tekstur lipstik cair ditemukan Rhodamin B, hal ini disebabkan oleh lipstik cair cenderung lebih banyak dicari konsumen karena lebih tahan lama dan mudah digunakan dibandingkan lipstik padat, hal ini mungkin saja bisa menjadi faktor untuk memudahkan produsen dalam mencampurkan pewarna sintesis seperti Rhodamin B pada lipstik yang diproduksinya.
Rhodamin B pada Lipstik yang dijual Berdasarkan Harga
Berdasarkan hasil penelitian ini berdasarkan harga lisptik didapatkan hasil dari 35 sampel lipstik terdapat 1 sampel (2,9%) lipstik harga Rp 16.000-Rp 30.000 ditemukan Rhodamin B. Hasil analisis keberadaan antara formalin dengan harga lipstik diperoleh nilai p=1,000>(0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara keberadaan formalin dengan harga lipstik yang dijual di beberapa pasar tradisional.
Dari analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio sebesar 1,050 (0,954-1,155) artinya harga lipstik Rp 16.000-Rp 30.000 yang positif mengandung formalin memiliki resiko 1,000 kali lebih tinggi dibandingkan dengan harga lipstik Rp 10.000–Rp 15.000 yang negatif mengandung formalin.
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mustika (2021) didapatkan dari 13 sampel yang diperiksa terdapat 9 sampel (38%) dengan harga ≤ Rp 12.000 dan terdapat 1 sampel (20%) harga > Rp 12.000. Beberapa sifat berbahaya dari Rhodamin B bisa menyebabkan iritasi jika terkena mata, kulit menjadi iritasi, dan jika dikonsumsi akan memicu kanker pda manusia karena bersifat halogen mudah bereaksi dan reaktivitas yang tinggi mencapai kestabilan berikatan senyawa dalam tubuh (Togatorop, 2021).
Peneliti berasumsi bahwa terdapat 1 sampel (2,9%) harga lipstik Rp 16.000- Rp 30.000 ditemukan Rhodamin B, hal ini disebabkan oleh masyarakat hanya mengikuti trend zaman sekarang, dengan ekonomi yang rendah apalagi harganya yang murah mereka sudah dapat membeli lipstik dengan berbagai macam warna.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Rhodamin B pada lipstik yang di jual di beberapa Pasar Tradisional didapatkan hasil dari 35 sampel lipstik yang diteliti, terdapat 1 sampel (2,9%) lipstik ditemukan Rhodamin B.
2. Berdasarkan warna lipstik didapatkan hasil dari 35 sampel lipstik terdapat 1
sampel (2,9%) lipstik warna merah terang ditemukan Rhodamin B, dengan p value = 1,000 dan OR 0,944.
3. Berdasarkan tekstur lipstik didapatkan hasil dari 35 sampel lipstik terdapat 1 sampel (2,9%) tekstur lipstik cair ditemukan Rhodamin B, dengan p value = 0,296 dan OR 0,941.
4. Berdasarkan harga lipstik didapatkan hasil dari 35 sampel lipstik terdapat 1 sampel (2,9%) harga lipstik Rp.16.000- Rp.30.000 ditemukan Rhodamin B, dengan p value = 1,000 dan nilai OR 1,050.
Saran
1. Untuk Masyarakat
Masyarakat sebagai konsumen, sebelum membeli lipstik agar lebih teliti serta memperhatikan kualitas dari produk lipstik yang akan digunakan dan tidak terpengaruh seperti harga lipstik, warna mencolok.
2. Untuk Dinas kesehatan dan BPOM Agar memberi penyuluhan kepada pedagang kosmetika untuk menjual kosmetika yang memiliki nomor produk kosmetik yang terdaftar di BPOM, tidak mengandung Rhodamin B serta memberikan informasi bahaya Rhodamin B bagi kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, N. (2019). Identifikasi Zat Pewarna Rhodamin B pada Lipstik dan Perona Pipi Yang di Pasarkan di Pasar Tengah Bandar Lampung, UIN Raden Intan Lampung.
Anisa, K. (2019). Analisis Kandungan Rhodamin B dan Merkuri pada Kosmetik Perona Pipi dan Lipstik yang Tidak Terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan yang Diperjualbelikan di Pasar Kota Malang (Dikembangkan Menjadi Buku Saku pada Materi Struktur dan Fungsi Sel Penyusun Jaringan pada Tumbuhan dan Hewan Kelas Xi Sma), University Of Muhammadiyah Malang.
Arisanti, U. (2019). Identifikasi dan Penetapan Kadar Rhodamin B dalam Sediaan Kosmetik Perona Pipi di Pasar Bandarjo Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang, Universitas Ngudi Waluyo
Hasyim, N. F. (2021). Peredaran Kosmetik Tanpa Izin Edar dalam Perspektif Maslahah (Studi pada Pedagang Kosmetik di Pasar Maricaya Kota Makassar), Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Helmice, H. And n. w. Utari (2017). Identifikasi Zat Warna Rhodamin B pada Lipstik Berwarna Merah yang Beredar di Pasar Raya Padang. Jurnal Farmasi Higea, 8(1):
59-64
Khamid, M. N. And D. Christy (2019). Analisis Rhodamin B pada Lipstik yang Beredar di Pasar Boyolali dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis (Klt) dan Spektrofotometri Visibel. Stikes Dutagama Klaten, 11(1): 39-47
Komarudin, D., Et Al. (2019). Analisis Rhodamin B pada Sediaan Lipstik dan Perona Mata Secara Kckt. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 18(3): 88-92
Lestari. (2019). Gambaran Keberadaan Pewarna Sintesis (Rhodamin B) pada Lipstik yang di Jual di Pasar Tradisional Kertapati. STIKESMAS Abdi Nusa Palembang
Maesaroh, I., Et Al. (2021). Identifikasi Zat Rhodamin B pada Lipstik yang Beredar di Kecamatan Kuningan Kabupaten Kuningan. Jurnal Farmaku (Farmasi Muhammadiyah Kuningan), 6(2): 70-75
Marpaung, P. E. (2016). Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penjual Kosmetik Ilegal Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan di Kota Pontianak. Jurnal Hukum Prodi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Untan (Jurnal Mahasiswa S1 Fakultas Hukum) Universitas Tanjungpura, 5(1)
Mustika.(2021). Gambaran Keberadaan Sintesis (Rhodamin B) pada Lipstik yang di Jual di Pasar Desa Seri Bandung Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2021. STIKESMAS Abdi Nusa Palembang
Priaji, S. A. A. (2018). Perlindungan Hukum Terhadap Peredaran Kosmetik yang Merugikan Konsumen.
Sinuhaji, D. C. (2019). Identifikasi Rhodamin B pada Liptint Bermerek X yang Beredar di Pasar Usu Padang Bulan
Togatorop, W. (2021). Gambaran Kandungan Rhodamin B pada Lipstik Berwarna Merah yang Diperjualbelikan di Pasar Tradisional.