1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pemilihan umum merupakan satu unsur penting dari pelaksanaan sistem demokrasi yang meletakkan kedaulatan rakyat sebagai dasar pembentukan lembaga-lembaga politik demokrasi seperti badan legislatif maupun badan eksekutif. Pemilihan umum menjadi tolak ukur berjalannya proses demokratisasi, karena itu pemilihan umum harus dilaksanakan secara jujur, adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia sesuai dengan kaidah-kaidah universal penyelenggaraan pemilu yang demokratis. Berdasarkan Putusan MK Nomor 14/PUU-XI/2013 tentang Pelaksanaan Pemilu yang menjadi dasar pelaksanaan pemilu serentak, karena mahkamah konstitusi membuat norma baru berkaitan dengan sistem p dan memposisikan sebagai negative legislator1. Dasar tersebut kemudian melahirkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 tentan Pemilu (UU Pemilu).
Hadirnya UU Pemilu rupayanya menghadirkan politik transaksional dalam kontestasi pemilu. Hal ini dapat dilihat dari beberapa tahapan yakni:
a) Pada saat mengajukan calon-calon anggota legislatif; b) Pada saat mengajukam calon-calon Presiden dan calon Wakil Presiden karena ketentuan Presidential Treshold; c)Setelah diketahuinya hasil Putaran
1 . Markus H. Simarmata. 2017. Mencari Solusi Terhadap Keraguan Sistem Pemilihan Umum Yang Tepat Di Indonesia. Bandung. Jurnal Legislasi Indonesia. Vol. 14 No. 03. Hal. 285
2 Pemilihan Umum Presiden; d) Pada saat pembentukan kabinet2. Politik transaksional ini akan menghambat proses demokrasi dan juga akan membentuk penggelembungan koalisi dengan parpol yang memenuhi presidential treshold, sehingga tidak heran pada pemilu serentak tahun 2019 banyak partai partai kecil maupun besar yang tidak memenuhi presidential treshold akhirnya berkoalisi. Hal ini akan berpengaruh pada hasil pemilu, dimana hasil pemilu mencerminkan fungsi yang dikehendaki sebagaimana
prespektif Aurel Croissant yang mengemukakan tiga fungsi pokok pemilu. Pertama, fungsi keterwakilan (representativeness), dalam arti kelompok-kelompok masyarakat memiliki perwakilan ditinjau dari aspek geografis, fungsional dan deskriptif. Kedua, fungsi integrasi, dalam arti tercapainya penerimaan partai terhadap partai lain dan masyarakat terhadap partai. Ketiga, fungsi mayoritas yang cukup besar untuk menjamin stabilitas pemerintah dan kemampuanya untuk memerintah (governability)3.
Hasil pemilu yang merupakan politik transaksional akan menyebabkan elemen fungsi pemilu tidak terpenuhi, terutama dalam stabilitas pemerintahan. Penggabungan pemilu legislatif dan pemilu eksekutif memaksa partai-partai politik membangun koalisi sejak dini.
Mereka sadar, keterpilihan calon pejabat eksekutif yang mereka usung akan memengaruhi keterpilihan calon-calon anggota legislatif. Hal ini akan mendorong koalisi besar yang memunculkan politik transaksional sehingga pacsa pemilu terdapat koalisi besar yang akan menguasi jabatan eksekutif (Presiden) dan kursi kursi parlemen (DPR). Konsekuensi logis dari hal
2 . Khirul Huda, Zulfa. 2018. Pemilu Presiden 2019 : Antara Kontestasi Politik dan Persaingan Pemicu Perpecahan Bangsa. Semarang. Jurnal Volume 4 No. 3. Fakultas Hukum Universitas Negri Semarang. Hal. 12
3 . Joko J. Prihatmoko. 2008. Mendemokratiskan Pemilu dari sistem sampai elemen teknis.
Malang. Pustaka Belajar. Hal. 4-5.
3 tersebut adalah akan terbentuknya pemerintahan tanpa pengawasan yang tegas. Padahal berdasarkan Pasal 20 A ayat (1) UUD 1945 DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Apabila terjadi konfigurasi politik transaksional maka akan melemahkan fungsi pengawasan DPR.
Hal tersebut senada dengan prespektif Mahfud MD bahwa politik sebagai independent variable secara ekstrem dibedakan atas politik yang demokratis dan politik yang otoriter, untuk mengtahui konfigurasi politik bersifat demokratif atau otoriter maka dapat melihat indikator sistem politik yakni4 :
a). Konfigurasi Politik Demokratis :
1. Parpol dan Parlemen kuat, menentukan haluan atau kebijakan negara
2. Lembaga Eksekutif netral
3. Pers bebas, tanpa sensor dan pembredelan b). Konfigurasi Politik Otoriter
1. Parpol dan Parlemen lemah, di bawah kendali eksekutif 2. Lembaga Eksekutif intervensionis
3. Pers terpasung, diancam sensor dan pembredelan
Oleh karena itu lemahnya fungsi pengawasan yang dimiliki oleh DPR diakibatkan gemuknya koalisi, sehingga akan melemahkan parpol dan parlemen, artinya seluruh kebijakan dari Presiden akan mudah di loloskan tanpa pengawasan yang ketat sehingga mencirikan konfigurasi politik otoriter. Lebih lanjut Mahfud MD menegaskan bahwa hubungan kauaslitas konfigurasi tersebut memang benar sepanjang menyangkut hukum publik
4 Mahfud MD. 2018. Politik Hukum di Insonesia. Depok. Rajawali Pers. Hal. 7-8.
4 yang berkaitan dengan gezagsverhouding (hubungan kekuasaan)5. Hal ini akan berhubungan dengan cheks and balances antara cabang kekuasaan.
Prinsip checks and balances tidak dapat dipisahkan dari masalah pembagian kekuasaan. Sebagamana ditulis oleh Robert Weissberg, “A principle related to separation of powers is the doctrine of checks and balances. Whereas separation of powers devides governmental power among different officials, checks and balances gives each official some power over the others”6. Pelaksaan cheks and balances di tujuan agar tidak terjadi abuse of power, tidak optimalnya fungsi pengawasan dari DPR akan memperlemah prinspis cheks and balances yang telah di bangun sejak reformasi, agar tidak terlulang sejarah pemerintahan yang sentralistik tanpa pengawasan seperti era Orde Baru. Salah satu cara penerapan cheks and balances adalah dengan pengawasan langsung dari satu lembaga terhadap lembaga negara lainnya, seperti eksekutif diawasi oleh legislatif.
Pengawasan eksekutif oleh legislatif harus diperkuat demi wujudkan pemerintahan yang stabil. Mengingat pada masa Orde Baru lembaga legislatif yang mempunyai fungsi pengawasan secara optimal. Hal ini berakibat timbulnya pemerintahan yang tidak bersih. Hal ini bisa terjadi karena dua fakor yakni: a) Konfogurasi politik yang berlaku; b) Sistem pemilihan umum yang dianut dan dilaksanakan7. Pasca pemilu serentak dua
5 Ibid Hal 8.
6 Sunarto. 2016. Prinsip Checks And Balances Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Masalah - Masalah Hukum. Jakarta. Jilid 45 No. 2. Hal.46
7 Sri Soemantri M.. 2014. Hukum Tata Negara Indonesia Pemikiran dan Pandangan. Bandung.
PT Remaja Rosdakarya. Hal. 238.
5 faktor tersebut terindikasi. Pertama, Sistem pemilu serentak yang menghasilkan “gemuk koalisi”. Kedua, konfigurasi politik di parlemen yang dikuasai koalisi parpol eksekutif. Hal ini pernah terjadi pada Orde Baru dimana penyebab lemahnya fungsi pengawasan di Orde Baru adalah konfigurasi politiknya. Salah satu di antaranya adalah lembaga Dewan Pembina Golongan Karya (Golkar) yang diketuai oleh seorang tokoh yang menjadi Presiden Republik Indonesia. Dewan Pembina inilah yang mengontrol kinerja kader-kader Golkar dalam lembaga legislatif8. Hal tersebut dewasa ini terulang dimana Presiden Republik Indonesia berasal dari PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dan Ketua DPR RI juga berasal dari partai yang sama. Hal ini juga berlaku apabila pimpinan DPR bukan dari PDIP namun bagian dari koalisi yang mendukung eksekutif.
Hal tersebut akan menghambat fungsi pengawasan karena baik eksekutif dan legislatif berasal dari partai yang sama dan memiliki tujuan yang sama. Hal ini akan menyebabkan kekuasaan yang otoriter karena tidak ada parlemen penyeimbang (oposisi) untuk mengawasi kebijakan eksekutif.
Selain itu antara DPR dan Presiden terdapat hubungan yang secara garis besar dapat nyatakan dalam dua hal, yaitu hubungan yang bersifat kerjasama, dan hubungan yang bersifat pengawasan. Kedua lembaga itu harus bekerjasama dalam pembuatan undang undang.
8 Ibid, Hal. 238.
6 Hal yang masih perlu menjadi perhatian adalah bagaimana agar dalam praktek, DPR lebih berperan dalam pengajuan rancangan undang- undang. Sebab selama ini inisiatif untuk membuat rancangan undang- undang hampir semuanya datang dari pemerintah atau Presiden. Hubungan antara Presiden dan DPR yang bersifat pengawasan, tampak bahwa pengawasan yang dilakukan oleh DPR terhadap kebijakan pemerintah.9 Dengan demikian, akan berdampak pada sistem im yang di anut oleh Indonesia. Hal ini tentu berpotensi melemahkan atau justru menguatkan sistem presidensil.
Selain itu dalam UU Pemilu tidak terdapat pemaknaan yang jelas mengenai pemilu serentak. Hal ini dapat di lihat dalam ketentuan pasal 167 ayat (3) UU No. 7 Tahun 2017 yang menyebutkan “Pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan
secara nasional”. Serta ketentuan Pasal 347 ayat (1) UU No. 7 Tahun 2017
“Pemungutan suara Pemilu diselenggarakan secara serentak.“ Kedua Pasal tersebut menyebutkan frasa dilaksanakan serentak, namun frasa tersebut tidak memiliki penjelasan lebih baik dalam batang tubuh maupun dalam bab penjelasan UU Pemilu.
Ketidak lengkapan penjelasan tersebut kemudian diajukanlah judicial review oleh PERLUDEM (Perkumpulan Untuk Pemilu dan
9 Moh. Mahfud MD. 2000. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia: Studi tentang Interaksi Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan. Jakarta. Rineka Cipta. Hal. 147
7 Demokrasi) pada tahun 2019. Permohonan tersebut kemudian melahirkan putusan Putusan MK Nomor 55/PUU-XVII/2019.
Berdasarkan problematika di atas maka penulis tertarik mengangkat judul “ANALISIS MAKNA DAN MODEL PEMILU SERENTAK DALAM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO.55/PPU- XVII/2019 DAN IMPLIKASI HUKUM PENERAPAN PEMILU SERENTAK TERHADAP SISTEM PRESIDENSIL DI INDONESIA”
B. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas penulis fokuskan pembahasan masalah kedalam 2 (dua) rumusan masalah untuk menghindari melebarnya penelitian yang penulis lakukan, adapun dua rumusan masalah tersebut sebagaimana berikut :
1. Bagaimana pemaknaan dan model pemilu serentak yang konstitusional berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi No.55/PPU-XVII/2019 ?
2. Apa implikasi hukum penerapan pemilu serentak terhadap sistem pemerintahan presidensil di Indonesia ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang sebagaimana penulis kemukakan diatas, maka tujuan penulisan penelitian hukum ini adalah :
1. Untuk memahami dan mengetahui makna dan model pemilu serentak dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No.55/PPU-XVII/2019
8 2. Untuk mengetahui dan memahami implikasi hukum penerapan pemilu
serentak terhadap pelaksanaan sistem presidensil di Indonesia
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis
Penelitian ini penulis harapkan bermanfaat bagi pribadi keintelektualan penulis dalam ranah hukum ketatanegaraan sekaligus menambah khazanah ke ilmuan terkait permasalahan yang telah pemnulis angkat sebagai tema besar penelitian hukum ini.
2. Bagi Pemerintah
Penelitian ini penulis harapkan bermanfaat bagi perbaikan penerapan sistem pemilu serentak yang dapat menyaring wakil wakil rakyat agar lebih obyektif guna menjalankan fungsi masing masing lembaga perwakilan serta memperkuat sistem presidensil
E. Kegunaan Penelitian
Berdasar pada tujuan yang telah penulis paparkan sebagaimana diatas maka penulis harapkan penelitian ini memberikan kegunaan sebagai berikut :
1. Secara Teoritis penelitian ini diharapkan dapat membantu mengembangkan ilmu Hukum Tata Negara yang berfokus pada Hukum tentang Pemilu di Indonesia. Terlebih dalam menjawab implikasi penerapan pemilu serentak terhadap sistem pelaksanaan sistem presidensi di Indonesia yang akan menunjukan pola hubungan
9 antara Presiden dan DPR pasca pemilu serentak . Penelitian ini penulis harapkan dapat pula menjadi pemantik bagi akademisi untuk melakukan kajian-kajian terkait penerapan pemilu serentak
2. Secara Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangsih pemikiran terhadap penelitian selajutnya sehingga menjadi konsep baru maupun norma baru yang dapat diterapkan pada sistem ketatanegaraan di Indonesia.
F. Metode Penelitian
Penelitian hukum normatif (normative law research) pada penelitian ini merupakan studi kasus normatif salah satunya adalah mengkaji Undang-Undang. Pokok kajian dari penelitian normatif yaitu hukum yang secara konsep sebagai norma atau kaidah yang berlaku di masyarakat dan menjadi acuan perilaku masyarakat. Fokus penelitian normatif yaitu pada inventaris hukum positif, asas dan doktrin hukum, penemuan hukum dalam perkara in conreto, taraf sinkronisasi, sejarah hukum dan sistematik hukum. Berdasarkan hal tersebut, pada penelitian ini digunakan metode hukum normatif untuk meneliti dan membahas skripsi ini sebagai metode penelitian hukum. Penggunaan metode penelitian normatif ini berupaya agar penulisan skripsi ini dilatar belakangi kesesuaian teori dengan metode yang dibutuhkan dalam penulisan.10 Dalam melakukan penelitian hukum tentunya ada beberapa pendekatan yang digunakan. Beranjak dengan
10 Peter Mahmud Marzuki. 2010. Penelitian Hukum. Jakarta. Kencana. Hal. 93
10 pendekatan tersebut peneliti akan mendapatkan informasi informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabanya.
Metode penelitian berpengaruh pada analisa terhadap permasalahan yang nantinya dijawab secara ilmiah oleh penulis.
(a) Metode Pendekatan
Pada penelitian ini, terdapat beberapa pendekatan yang dengan pendekatan tersebut peneliti berusaha untuk mendapatkan informasi dari aspek-aspek mengenai isu yang sedang dicoba cari jawabannya.
Metode pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan peraturan perundang-undangan (statue aproach) dan (Conseptual Approach).
Pendekatan konseptual (Conseptual Approach), pendekatan konsep dimaksudkaan untuk menganalisa bahan hukum sehingga dapat diketahui makna yang terkandung pada istilah-istilah hukum.11 Hal itu dilakukan sebagai usaha untuk memperoleh makna baru yang terkandung dalam istilah-istilah yang diteliti, atau menguji istilah hukum tersebut dalam teori dan praktek.12 Suatu penelitian normatif tentu harus menggunakan pendekatan perundang-undangan, karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral suatu penelitian.
11 Hajar M. 2015. Model-Model Pendekatan Dalam Penelitian Hukum dan Fiqh. Pekanbaru. UIN Suska Riau. Hal.41
12 Sunaryati Hartono. 1994. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Bandung.
Alumni. Hal. 131-141
11 Pendekatan masalah merupakan salah satu cara untuk meyelesaikan masalah atau isu hukum yang sedang dihadapi dengan tujuan untuk menyelesaikan penelitian atau penulisan ini.
Berdasarkan sebagaimana masalah yang telah diurikan diatas untuk mengkaji secara holistik dan kompherensif.
(b) Jenis Bahan Hukum
Dalam penulisan penelitian hukum ini penulis menggunakan beberapa bahan hukum, yaitu bahan hukum primer bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier13, sebagaimana berikut :
a. Bahan Hukum
Primer Bahan hukum primer ialah bahan hukum yang bersifat utama atau sebagai dasar utama dalam penulisan penelitian ini. Adapun bahan hukum primer yang digunakan dalam penulisan penelitian ini terdiri dari :
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2) Undang-Undang nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu.
3) Undang-Undang nomor 13 Tahun 2019 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (selanjutnya disebut UU MD3)
4). Putusan MK No. 55/PUU/XVII/2019 tentang Pemilu Serentak
13 Soerjono Soekanto. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta UI Press Cet. 3. Hal. 164
12 b. Bahan Hukum Sekunder.
Bahan hukum sekunder ialah bahan hukum yang digunakan untuk mendukung bahan hukum primer dalam menganalisa suatu permasalahan . Bahan hukum sekunder berasal dari buku-buku, jurnal, dokumen-dokumen terkait dengan permasalahan, dan sumber informasi dari internet yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan-bahan yang digunakan sebagai bahan pelengkap dalam membantu menjelaskan dan mempermudah pemahaman bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum tersier ntara lain kamus dan ensiklopedia.
(c) Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan bahan hukum yang dilakukan adalah model studi kepustakaan dan studi dokumen. Studi kepustakaan melakukan pengkajian informasi cetak maupun online dari berbagai sumber yang dibutuhkan dalam penelitian normatif ini,penelitian yang didasari pada perundang undangan yang dijadikan sebagai obyek oleh penulis yang dikaji secara kompherensif dan holistik yang kemudian disusun sebaik mungkin untuk menyelesaikan penulisan ini.
13 Sedangkan studi dokumen menganalisa dan melihat dokumen- dokumen hukum.14
(d) Analisa Bahan Hukum
Penulis akan memulai analisa dengan teknik deskriptif kuantitatif, yaitu suatu metode untuk memperoleh gambaran singkat perihal permasalahan yang akan dikaji berdasarkan analisa yang diuji dengan norma-norma, kaiah-kaidah serta regulasi yang bekaitan dengan masalah yang dibahas. Hasil Analisa bahan hukum akan diinterpretasikan menggunakan metode interpretasi : (a) sistematis: (b) gramatikal: dan (c) teologis.15
Untuk memilih interpretasi sistematis dilakukan guna menentukan sistematika hukum yang terdapat dalam penelitian ini.
Untuk menginterpretasikan secara sistematis yaitu dengan meneliti naskah hukum yang ada. Jika di jelaskan adalah pasal suatu Undang- Undang, maka ketentuan yang sama dalam satu asas dalam peraturan lainnya juga harus dijadikan acuan. Untuk menafsirkan ini harus dicari ketentuan yang ada di dalamnya agar saling terhubung dan hubungan yang terjadi dapat menentukan maknanya. Namun, dalam hubungan tatanan hukum yang ter kodifikasi, dirujuk pada sistem yang memungkinkan dapat tersistematis dan dapat diasumsikan.
Selanjutnya interpretasi gramatikal yaitu metode penafsiran hukum
14 Ibid, Hal. 167.
15 Jimly Asshiddiqie. 1997. Teori & Aliran Penafsiran Hukum Tata Negara. Jakarta. Ind. Hill. Co.
Hal. 17-18
14 pada makna teks yang di dalam kaidah hukum dinyatakan.
Penafsiran dengan cara demikian bertitik tolak pada makna menurut pemakaian bahasa sehari-hari atau makan teknis-yuridis yang lazim atau dianggap sudah baku.16
Interpretasi gramatikal dalam penelitian ini terkait dengan makna teks tujuan penerapan pemilu serentak. Sedangkan, interpretasi teleologi yang merupakan yang metode penafsiran yang difokuskan pada penguraian atau formulasi kaidah-kaidah hukum menurut tujuan dan jangkauannya. Tekanan tafsiran pada fakta bahwa kaidah hukum terkandung tujuan atau asas sebagai landasan dan bahwa tujuan atau asas tersebut memengaruhi interpretasi.
Dalam penafsiran demikian juga diperhitungkan konteks kenyataan kemasyarakatan yang aktual.17
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian hukum ini terdiri dari 4 (empat) bab yang dimulai dari bab 1 sampai bab 4 yang diuraikan sebagaimana berikut :
BAB I : Pendahuluan. Bab satu (1) merupakan uraian terhadap latar belakang, yakni memuat problematika hukum terhadap penerapan pemilu serentak. Rumusan masalah yang hendak diturunkan dari latar belakang memuat suatu masalah yang akan diangkat dan dibahas. Adapun tujuan
16 Visser’tHoft. 2001. PenemuanHukum (Judul Asli: Rechtvinding). Penerjemah B. Arief Shidarta.
Bandung. Laboratorium Hukum FH Universitas Parahiyangan. Hal. 25
17 Ibid. Hal. 30
15 penelitian, manfaat penelitian, kegunaan, metode dan sistematika penelitian untuk mempermudah penyusunan penelitian hukum ini.
BAB II : Tinjauan Pustaka Dalam bab ini penulis akan memamparkan landasan teori, konsep, atau kajian teori berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti meliputi teori :Sistem Presidensial, Konsep Demokrasi, Konsep Negara Hukum dan Konsep Pemilu.
BAB III : Pembahasan. Bab tiga (3) merupakan pemaparan yang menjadi pokok bahasan sebagai objek kajian dalam penulisan. Fokus pembahasan dalam bab ini meliputi, Pertama, terkait pemaknaan dan model pemilu serentak dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No.55/PPU- XVII/2019 dan yang kedua mengenai implikasi hukum pelaksanaan pemilu serentak terhadap sistem presidensil di Indonesia.
BAB IV : Penutup. Bab empat (4) ini merupakan bab terakhir dalam penulisan ini yang berisikan kesimpulan dari pembahasan bab tiga (3) dan berisikan saran atau solusi yang ditawarkan penulis untuk rekomendasi permasalahan yang diteliti.
16