commit to user 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia pernah mengalami keterpurukan ekonomi yang paling suram dalam sejarah perekonomian yakni krisis ekonomi tahun 1998. Dalam waktu setahun, terjadi perubahan dramatis. Prestasi ekonomi yang dicapai dalam dua dekade, tenggelam begitu saja. Dampak dari krisis tersebut adalah berkurangnya kesejahteraan masyarakat dan kemunduran pembangunan nasional, yang juga menyebabkan berubahnya pola konsumsi masyarakat yang disebabkan baik oleh naiknya harga-harga barang maupun faktor lainnya.
Dalam aktivitas perekonomian suatu negara, konsumsi mempunyai peran penting di dalamnya dan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas perekonomian. Semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi tingkat perubahan kegiatan ekonomi dan perubahan dalam pendapatan nasional suatu negara. Konsumsi keluarga merupakan salah satu kegiatan ekonomi keluarga untuk memenuhi berbagai kebutuhan barang dan jasa. Dari komoditi yang dikonsumsi itulah akan mempunyai kepuasan tersendiri. Oleh karena itu, konsumsi seringkali dijadikan salah satu indikator kesejahteraan keluarga. Mizkat (2005) menyatakan bahwa kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dan cita-cita suatu negara.
Kebutuhan hidup manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhaan hayatinya saja akan tetapi
commit to user
2 menyangkut kebutuhan lainya seperti kebutuhan pakaian, rumah, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Adanya pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai dengan proses pemerataan akan mengakibatkan terjadinya kesenjangan antar keluarga. Di satu pihak rumah tangga dengan pendapatan yang lebih dari cukup cenderung mengkonsumsi secara berlebih di lain pihak rumah tangga miskin tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.
Penelitian yang dilakukan oleh M. Fikri, Amri Amir, dan Erni Achmad tahun 2014 menyimpulkan rata-rata kecenderungan mengkonsumsi (Marginal Propensity to Consume/MPC) masyarakat setelah krisis ekonomi mengalami
penurunan, yaitu sebelum krisis ekonomi sebesar 0,707 menjadi 0,623 setelah krisis ekonomi dan rata-rata kecenderungan mengkonsumsi (Average Propensity to Consume/APC) masyarakat Indonesia setelah krisis ekonomi
mengalami kenaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang akan selalu berhubungan dengan konsumsi, apakah itu untuk memenuhi kebutuhan akan makan, pakaian, hiburan atau untuk kebutuhan yang lain. Pengeluaran masyarakat untuk makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya tersebut dinamakan dengan pembelanjaan atau konsumsi. Pengeluaran konsumsi melekat pada setiap orang mulai dari lahir sampai dengan akhir hidupnya, artinya setiap orang sepanjang hidupnya melakukan kegiatan konsumsi. Oleh karena itu, kegiatan konsumsi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Berbagai jenis barang dan jasa diproduksi dan ditawarkan kepada masyarakat untuk digunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Munculnya kegiatan produksi disebabkan karena adanya kegiatan konsumsi. Sebaliknya,
commit to user
3 kegiatan konsumsi ada karena ada yang memproduksi. Karenanya, keputusan rumah tangga dalam berkonsumsi sangat mempengaruhi keseluruhan perilaku perekonomian baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Tingkat kesejahteraan suatu negara merupakan salah satu tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan pembangunan di negara tersebut dan konsumsi adalah salah satu penunjangnya. Makin besar pengeluaran untuk konsumsi barang dan jasa, maka makin tinggi tahap kesejahteraan keluarga tersebut. Konsumsi rumah tangga berbeda-beda antara satu dengan lainya dikarenakan pendapatan dan kebutuhan yang berbeda-beda pula.
Meningkatnya pendapatan memberi kemungkinan bagi masyarakat untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk disimpan sebagai kekayaan dimasa tua dalam bentuk tabungan atau deposito (uang kuasi).
Setiap orang atau keluarga mempunyai skala kebutuhan yang dipengaruhi oleh pendapatan. Kondisi pendapatan seseorang akan mempengaruhi tingkat konsumsinya. Makin tinggi pendapatan makin banyak jumlah barang yang dikonsumsi. Bila konsumsi ingin ditingkatkan sedangkan pendapatan tetap maka terpaksa tabungan yang digunakan, akibatnya tabungan akan berkurang. Tingginya konsumsi juga dipengaruhi oleh pendapatan, semakin besar pendapatan seseorang maka akan semakin besar pula pengeluaran konsumsi.
Pengeluaran konsumsi rumah tangga terdapat konsumsi minimum bagi rumah tangga, yaitu besarnya pengeluaran konsumsi yang harus dilakukan, walaupun tidak ada pendapatan. Pengeluaran konsumsi rumah tangga ini disebut pengeluaran konsumsi otonom (otonomous consumption).
commit to user
4 Secara umum dapat dikatakan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat adalah bersumber dari jumlah kebutuhan yang tidak terbatas.
Biasanya manusia merasa tidak pernah merasa puas dengan benda yang mereka peroleh dan prestasi yang mereka capai. Apabila keinginan dan kebutuhan masa lalu sudah dipenuhi maka keinginan yang baru akan muncul.
Konsumsi makanan yang masih rendah dan perumahan yang kurang memadai telah mendorong masyarakat untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi. Sukirno dalam Mizkat (2005) menyatakan bahwa di negara kaya sekalipun, seperti Jepang dan Amerika serikat masyarakat masih mempunyai keinginan untuk mencapai kemakmuran yang lebih tinggi dari yang telah mereka capai sekarang ini.
Pola konsumsi sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dapat pula dikatakan membaik apabila pendapatan meningkat dan sebagian pendapatan tersebut digunakan untuk mengkonsumsi non makanan, begitupun sebaliknya. Pergeseran pola pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dari makanan ke non makanan dapat dijadikan indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan anggapan bahwa setelah kebutuhan makanan telah terpenuhi, kelebihan pendapatan akan digunakan untuk konsumsi bukan makanan.
Kuntjoro dalam Vera Lisna dan Nila Rifai (2009) menggunakan data susenas 1978 menganalisis pola konsumsi penduduk Indonesia dan menyimpulkan sebagai berikut: (1) terdapat perbedaan pola konsumsi penduduk dari golongan pendapatan dan daerah yang berbeda, (2) proporsi
commit to user
5 anggaran belanja untuk sumber karbohidrat masih cukup tinggi, terendah 29% dan tertinggi 59% untuk penduduk berpendapatan rendah, (3) anggaran belanja protein hewani untuk sebagian besar penduduk pendapatan rendah relatif kecil, yaitu di bawah 21%, dan (4) penduduk luar Jawa-Bali lebih banyak makan ikan, dan proporsi anggaran belanja penduduk Jawa-Bali untuk daging lebih tinggi dari pada penduduk luar Jawa-Bali.
Masih dalam Vera Lisna dan Nila Rifai, Widjajanti dan Li (1996) telah melakukan analisis pola pengeluaran atau konsumsi pangan di daerah perkotaan dan pedesaan Indonesia tahun 1981-1993. Data yang digunakan berasal dari Susenas 1981, 1984, 1987, 1990, dan 1993. Hasil studi menyimpulkan bahwa (1) terdapat perbedaan pola pengeluaran pangan di Indonesia untuk daerah perkotaan dan pedesaan, pola tersebut telah mengalami perubahan antar waktu, (2) elastisitas pendapatan untuk sebagian besar kelompok pangan lebih besar di daerah pedesaan dari pada di perkotaan, (3) dalam priode analisis terdapat kecendrungan penurunan besaran nilai elastisitas pendapatan untuk biji-bijian khususnya di daerah perkotaan, dan (4) relatif tingginya nilai elastisitas pendapatan untuk kelompok bukan makanan pokok seperti untuk daging, telur dan susu dan buah-buahan baik di perkotaan maupun pedesaan mengisyaratkan adanya potensi yang besar bagi pasar komoditas-komoditas tersebut di Indonesia di masa mendatang.
HPS Rahman (2001) telah melakukan kajian pola konsumsi dan permintaan pangan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) diantaranya menyimpulkan: (1) Pola konsumsi dan pengeluaran rata-rata rumah tangga di
commit to user
6 wilayahi KTI memiliki struktur yang searah dengan pola yang terjadi secara nasional, Jawa, dan luar Jawa. Beberapa ciri yang serupa tersebut adalah pangsa pengeluaran pangan yang masih lebih besar (lebih dari 60%) dibanding pangsa pengeluaran non-pangan; diantara jenis pangan, pangsa beras terhadap struktur pengeluaran rumah tangga maupun dalam kontribusi konsumsi energi (40-60%) dan protein (36-49%) masih dominan; (2) Terdapat hubungan substitusi antara beras dan serealia lain, umbi-umbian, mie/terigu, makanan jadi, susu, kacang-kacangan dan minyak goreng. Namun demikian perubahan harga komoditas substitusi tersebut sangat kecil pengaruhnya terhadap permintaan beras. Hal sebaliknya terjadi, yaitu perubahan harga beras memiliki respon yang lebih kuat terhadap perubahan permintaan komoditas-komoditas tersebut; dan (3) Posisi beras sebagai pangan pokok telah menggeser pangan pokok non beras, yang ditunjukkan oleh besaran nilai elastisitas harga beras dibanding serealia lain atau umbi- umbian.
Pola konsumsi rumah tangga merupakan salah satu indikator kesejahteraan keluarga. Selama ini berkembang pengertian bahwa besar kecilnya proporsi pengeluaran untuk konsumsi makanan terhadap seluruh pengeluaran rumah tangga dapat memberikan gambaran kesejahteraan rumah tangga tersebut. Konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar dalam penggunaan PDB Indonesia (Direktorat Diseminasi Statistik BPS, 2009).
Namun demikian, selama periode 1999-2005, rumah tangga di perdesaan mengalami perubahan konsumsi dan pengeluaran yang mengarah
commit to user
7 pada pangan berbahan baku impor (Rachman dan Ariningsih, 2009). Tingkat konsumsi energi dan protein rumah tangga tersebut masih belum memenuhi standar kecukupan. Faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut diduga karena sangat intensifnya distribusi produk-produk pangan berbahan baku impor, seperti mie dan snack. Hal ini sejalan dengan hasil temuan Ariani dan Purwantini (2005) bahwa konsumsi beras rumah tangga di Propinsi Jawa Barat menurun setelah pasca krisis, sedangkan tingkat konsumsi mie instan meningkat. Pola konsumsi pangan pokok juga berubah dari pola beras menjadi pola beras-mie instan, baik menurut wilayah maupun kelompok pendapatan. Fakta ini yang diduga menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat (baik di tingkat nasional maupun di Propinsi Jawa Barat) mengalami penurunan sejak terjadinya krisis ekonomi.
Sayuti dalam Pratiwi (2010) menyebutkan bahwa motif konsumsi atau pola konsumsi suatu kelompok masyarakat sangat ditentukan pada pendapatan. Atau secara umum dapat dikatakan tingkat pendapatan yang berbeda-beda menyebabkan keanekaragaman taraf konsumsi suatu masyarakat atau individu. Namun, bila dilihat lebih jauh peningkatan pendapatan tersebut tentu mengubah pola konsumsi anggota masyarakat luas karena tingkat pendapatan yang bervariasi antar rumah tangga sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan mengelolanya. Dengan perkataan lain bahwa peningkatan pendapatan suatu komunitas selalu diikuti bertambahnya tingkat konsumsi semakin tinggi pendapatan masyarakat secara keseluruhan maka makin tinggi pula tingkat konsumsi.
commit to user
8 Kemudian hubungan konsumsi dengan pendapatan dijelaskan dalam teori Keynes yang menjelaskan bahwa konsumsi saat ini sangat dipengaruhi
oleh disposable income saat ini. Dimana disposable income adalah pendapatan yang tersisa setelah pembayaran pajak. Jika pendapatan disposibel tinggi maka konsumsi juga naik. Hanya saja peningkatan konsumsi tersebut tidak sebesar peningkatan disposable income. Selanjutnya menurut Keynes ada batas konsumsi minimal, tidak tergantung pada tingkat pendapatan yang disebut konsumsi otonom. Artinya tingkat konsumsi tersebut harus dipenuhi walaupun tingkat pendapatan nol, dan hal ini ditentukan oleh faktor di luar pendapatan, seperti ekspektasi ekonomi dari konsumen, ketersediaan dan syarat-syarat kredit, standar hidup yang diharapkan, distribusi umur, lokasi geografis (Nanga,2001).
Berdasarkan jumlah penduduk, Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi ketiga terbesar di Indonesia. Dari hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menyebutkan jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah sebanyak 32.382.657 jiwa terbanyak ketiga setelah Jawa Barat dan Jawa Timur yakni 43.053.732 jiwa dan 37.476.757 jiwa (BPS 2014). Dengan penduduk yang tinggi tentu saja menjadi hal yang menarik untuk melihat bagaimana pola konsumsi di provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari 33 kabupaten secara lebih mendalam baik konsumsi makanan maupun non makanan, dan konsumsi per kabupaten yang dipilah berdasarkan desa kota dan pola konsumsi masyarakat dengan golongan pengeluaran tertentu.
Berikut disajikan beberapa tabel yang melatarbelakangi penulis mengambil Jawa Tengah sebagai lokus penelitian.
commit to user
9
Tabel 1.1 Persentase Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Sebulan di Daerah Perkotaan Menurut Provinsi dan Kelompok Barang, 2007-2014
Kelompok
Barang Tahun DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa
Timur Banten
Makanan
2007 35,28 44,91 46,06 39,27 44,78 40,86
2008 36,34 46,64 48,09 40,4 45,99 41,99
2009 38,14 45,29 48,74 42,53 48,43 43,46
2010 38,94 48,65 48,64 41,28 49,41 41,8
2011 33,76 45,53 45,58 43,11 46,59 43,98
2012 36,99 49,64 49,79 45,07 46,37 48,93
2013 39,47 48,02 45,97 42,98 45,58 50,01
2014 36,48 44,59 46,86 38,04 47,15 47,67
Non Makanan
2007 64,72 55,09 53,94 60,73 55,22 59,14
2008 63,66 53,36 51,91 59,6 54,01 58,01
2009 61,86 54,71 51,26 57,47 51,57 56,54
2010 61,06 51,35 51,36 58,72 50,59 58,2
2011 66,24 54,47 54,42 56,89 53,41 56,02
2012 63,01 50,36 50,21 54,93 53,63 51,07
2013 60,53 51,98 54,03 57,02 54,42 49,99
2014 63,52 55,41 53,14 61,96 52,85 52,33
Sumber : Publikasi BPS Tahun 2015
Dari Tabel 1 terlihat bahwa Jawa Tengah untuk konsumsi makanan memiliki kecenderungan persentase rata-rata pengeluaran perkapita sebulan relatif lebih besar dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Persentase rata-rata pengeluaran makanan periode 2007-2014 cukup fuktuatif, dengan persentase tertinggi di tahun 2012 sebesar 49,79 persen dan terendah di tahun 2011 sebesar 45,58 persen.
Sedangkan persentase rata-rata pengeluaran non makanan perkapita sebulan relatif lebih kecil dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Pulau Jawa, dengan persentase tertinggi di tahun 2011 sebesar 54,42 persen dan terendah di tahun 2012 sebesar 50,21 persen.
commit to user
10
Tabel 1.2 Persentase Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Sebulan di Daerah Perdesaan Menurut Provinsi dan Kelompok Barang, 2007-2014
Kelompok
Barang Tahun DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa
Timur Banten
Makanan
2007 - 59,61 55,56 49,77 54,61 61,66
2008 - 58,97 56,49 50,67 55,33 61,12
2009 - 59,34 55,98 50,45 55,32 57,66
2010 - 60,5 56 52,88 56,52 59,38
2011 - 59,72 54,15 47,43 56,5 60,07
2012 - 61,51 55,54 51,91 58,46 60,23
2013 - 62,2 55,9 53,75 56,93 61,85
2014 - 58,53 55,91 59 57,27 61,42
Non Makanan
2007 - 40,39 44,44 50,23 45,39 38,34
2008 - 41,03 43,51 49,33 44,67 38,88
2009 - 40,66 44,02 49,55 44,68 42,34
2010 - 39,5 44 47,12 43,48 40,62
2011 - 40,28 45,85 52,57 43,5 39,93
2012 - 38,49 44,46 48,09 41,54 39,77
2013 - 37,8 44,1 46,25 43,07 38,15
2014 - 41,47 44,09 41 42,73 38,58
Sumber : Publikasi BPS Tahun 2015
Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase rata-rata pengeluaran perkapita sebulan daerah perdesaan di Provinsi Jawa Tengah memiliki kecenderungan yang lebih kecil dibandingkan Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten untuk konsumsi makanannya. Sehingga tentu saja konsumsi non makanan dari kedua provinsi tersebut lebih besar.
commit to user
11
Tabel 1.3 Distribusi Pembagian Pengeluaran per Kapita dan Indeks Gini, 2010-2014 Provinsi Jawa Tengah
Daerah Tahun
40%
Pengeluaran Rendah
40%
Pengeluaran Sedang
20%
Pengeluaran Tinggi
Indeks Gini
Kota
2010 17,57 36,99 45,44 0,38
2011 16,10 34,79 49,11 0,42
2012 16,00 34,53 49,48 0,42
2013 15,40 34,83 49,77 0,43
2014 15,62 34,89 49,49 0,43
Desa
2010 20,98 38,78 40,24 0,32
2011 19,96 37,46 42,58 0,34
2012 20,60 37,57 41,82 0,33
2013 21,03 37,96 41,00 0,32
2014 20,94 38,4 40,65 0,32
Sumber : Publikasi BPS
Tabel 3 menjelaskan bahwa distribusi pembagian per kapita dan Indeks Gini dari tahun 2010 sampai dengan 2014, terlihat bahwa daerah perkotaan dan perdesaan memiliki perbedaan yang cukup signifikan, bahwa pada daerah perkotaan 40 persen yang berpengeluaran rendah semakin menurun, demikian dengan yang 20 persen berpenghasilan tinggi dikota semakin meningkat, hal ini bisa dipahami karena perkembangan perekonomian lebih cepat di kota dibandingkan di desa. Tabel 3 juga menyajikan rasio gini (gini ratio) desa kota.
Gini Coefficient/Gini Ratio, yaitu suatu ukuran yang merefleksikan
ketimpangan pemerataan pendapatan. Ukuran tersebut diperkenalkan pertama kali oleh statistisi berkebangsaan Italia pada tahun 1912. (Todaro and Smith, 2012: 208). Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa gini ratio di desa dan kota perbedaannya cukup signifikan sehingga bisa di katakan bahwa desa lebih merata pembangunannya, sedangkan kota yang angkanya lebih besar merefleksikan bahwa pembangunan di kota cukup tidak merata
commit to user
12 kemakmurannya. Nilai gini ratio Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi-Provinsi lain di pulau jawa, kecuali Jawa Timur. Pada tahun 2013 nilai gini ratio Jawa tengah sebesar 0,387, sementara untuk provinsi lainnya adalah : 0,433 (DKI); 0,411 (Jabar); 0,439 (DIY); dan 0,399 (Banten), sedangkan Jawa Timur sebesar 0,364 [BPS, 2014]. Hal tersebut merefleksikan bahwa distribusi pendapatan dari hasil pembangunan ke semua penduduk di Jawa Tengah, relatif lebih merata dibandingkan dengan Provinsi lain di Pulau Jawa. Namun di sisi lain, persentase penduduk miskin Jawa Tengah lebih tinggi apabila dibandingkan dengan Provinsi lainnya, kecuali DIY.
Sumber : Publikasi BPS
Dari Gambar 1 di atas terlihat bahwa Indeks Konsumsi Rumah tangga dalam hal ini pengeluaran non makanan berupa perumahan di wilayah perdesaan secara umum masih lebih kecil di bandingkan dengan hampir dengan 3 provinsi lainnya yakni Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten, kecuali DI Yogyakarta.
commit to user
13 Dari fakta-fakta yang ada, penulis tertarik untuk menganalisis bagaimana sesungguhnya pola-pola pengeluaran masing-masing kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, sehingga dapat membandingkannya, dan jika mungkin melakukan pengelompokan kabupaten kedalam kategori yang menyatakan kualitas kabupaten tersebut.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, maka perumusan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pola konsumsi di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan desa kota?
2. Bagaimana pola konsumsi penduduk masing-masing kabupaten di Provinsi Jawa Tengah?
3. Apakah pola konsumsi masyarakat di masing-masing kabupaten memiliki hubungan dengan angka kemiskinan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai adalah:
1. Mengetahui pola konsumsi makanan dan non makanan di Provinsi Jawa Tengah di masing-masing berdasar klasifikasi desa kota.
2. Mengetahui pola konsumsi di masing-masing kabupaten di Provinsi Jawa Tengah.
3. Mengetahui bagaimana hubungan antara pola konsumsi dan tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah.
1.4 Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat yang dapat di ambil dari penelitian ini adalah:
commit to user
14 1. Bagi kalangan akademisi diharapkan dapat membantu mengetahui berbagai macam pola konsumsi dari berbagai kabupaten kota di Provinsi Jawa Tengah.
2. Dengan mengetahui pola konsumsi diharapkan masing-masing kabupaten khususnya di Provinsi Jawa Tengah dapat melihat dan mengontrol penduduk nya sehingga dapat dengan cepat meningkatkan tingkat kehidupan masyarkatnya untuk program yang dapat membantu mengeluarkannya dari jaring kemiskinan.
3. Bahan masukan bagi pemerintah terutama dalam rangka mengevaluasi kebijaksanan dan menyusun perencanaan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.