• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SUPERVISOR KEPENDIDIKAN DAN KINERJA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II SUPERVISOR KEPENDIDIKAN DAN KINERJA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

19

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) A. Supervisor Kependidikan

1. Pengertian Supervisi Dan Supervisor Kependidikan

Di dalam institusi pendidikan, pengawasan lebih ditekankan pada kegiatan akademik. Istilah yang lebih tepat digunakan adalah supervisi. Secara etimologis supervisi (supervisi) berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata, yaitu super dan vision. Super berarti atas atau lebih, sedangkan vision berarti melihat atau meninjau. Dengan demikian supervisi dalam pengertian sederhana yaitu melihat, meninjau atau melihat dari atas, yang dilakukan oleh atasan (pengawas atau kepala sekolah) terhadap perwujudan kegiatan pembelajaran. Atas bermakna orang-orang yang memiliki kelebihan dari segi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman terhadap guru-guru, kepala sekolah dan staf.

(Abd.kadim Masaong, 2013: 2-3).

Dalam buku Piet A. Sahertian, memberi pengertian bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas- petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran. Ada yang melihat supervisi pendidikan dari pandangan yang demokratis, sehingga rumusan supervisi dijelaskan sebagai berikut: Supervisi adalah suatu usaha menstimulasi, mengkoordinasi dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran. Dengan demikian mereka dapat menstimulasi dan membimbing pertumbuhan tiap murid secara kontinyu serta mampu dan lebih cakap berpartispasi dalam masyarakat demokrasi modern. Berbeda dengan Mc Nerney

(2)

1951:1 yang melihat supervisi itu sebagai suatu prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran. Padahal ada pandangan lain yang melihat supervisi dari segi perubahan sosial yang berpengaruh terhadap peserta didik seperti yang dikemukakan Burton dan Bruckner (1955: 1), menurut mereka: supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Lebih luas lagi pandangan Kimball Wiles yang menjelaskan bahwa supervisi adalah bantuan yang diberikan untuk memperbaiki situasi belajar-mengajar yang lebih baik. Dijelaskan bahwa situasi belajar-mengajar di sekolah akan lebih baik tergantung kepada keterampilan supervisor sebagai pemimpin. (Piet A.Sahertian, 2000:17)

Pendapat lain dikemukan oleh Ahmad Fauzi (2013:77-78), supervisi adalah sutu teknik pelayanan yang bertujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jadi supervisi pendidikan adalah bantuan yang diberikan kepada personil pendidikan untuk mengembangkan proses pendidikan yang lebih baik dan upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Menyampaikan gagasan, prosedur dan bahan material untuk menilai dan mengembangkan kurikulum,

b. Mengembangkan pedoman, petunjuk, cara dan bahan penunjang lainnya untuk melaksanakan kurikulum,

c. Merencanakan perbaikan metode proses belajar mengajar secara formal melalui penataran, lokakarya, seminar, sanggar kerja, diskusi dan kunjungan dinas,

d. Membina dan mengembangkan organisasi profesi seperti: Musyawarah Guru Bidang Studi, Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja Penilai Sekolah (KKPS),

(3)

e. Membina, membimbing dan mengarahkan guru-guru kepada peningkatan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan melaksanakan proses belajar mengajar, dan

f. Menilai kurikulum, sarana-prasarana, posedur berdasarkan tujuan pendidikan.

2. Tugas dan Wewenang Supervisor Kependidikan a) Tugas Supervisor Kependidikan

Untuk memberikan kejelasan dan pemahaman yang memadai, maka fungsi supervise (pengawasan) pendidikan perlu dispesifikasi pada tugas-tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai tindak lanjut yang erat kaitannya dengan tugas dan kegiatan itu perlu ditelusuri kompetensi yang harus dimilki olrh seorang supervisor (pengawas) agar tugas dan kegiatannya dapat dilaksnakan dengan baik. Ben.M Haris (1985) mengemukakan10 bidang tugas supervisor yaitu:

1. Mengembangkan Kurikulum. Mendesain kembali (redesign)apa yangdiajarkan, siapa yang mengajar, bagaimana polanya, bila diajarkan, dan membimbing pengembangan kurikulum, menetapkan standar, merencanakan unit pelajaran, dan melembagakan mata pelajaran,

2. Pengorganisasian Pengajaran. Pengelolaan murid, staf, ruang belajar, dan bahan-bahan yang diperlukan untuk mencapai tujuan secara koordinatif dilaksanakan dengan efisien dan efektif,

3. Pengadaan Staf. Menyediakan staf pengajaran dengan jumlah yang cukup sesuai kompetensi bidang pengajaran dan melakukan pembinaan secara terus-menerus,

4. Menyediakan Fasilitas. Mendesan perlengkapan dan fasilitas untuk kepentingan pengajaran dan memilih fasilitas sesuai keperluan pengajaran. Jika di sekolah tidak tersedia fasilitas tersebut, direkomendasikan untuk disediakan oleh pemerintah,

(4)

5. Penyediakan bahan-bahan, memilih dan mendesain bahan-bahan yang digunakan dan diimplemenntasikan untuk pengajaran,

6. Penyusunan penataran Pendidikan. Merencanakan dan mengimplementasikan pengalaman-pengalaman belajar untuk memperbaiki kemampuan staf pengajaran dalam menumbuhkan pengajaran,

7. Pemberian Orientasi Anggota-anggota Staf. Member informasi pada staf pengajar atas bahandan fasilitas yang ada untuk melakukan tanggung jawab pengajaran,

8. Pelayanan Murid. Secara koordinatif memberikan pelayanan yang optimum dan hati-hati terhadap murid untuk mengembangkan pertumbuhan belajar,

9. Hubungan Masyarakat. Memberikanan menerima informasi dari masyarakat untuk meningkatkan pengajaran lebih optimum, dan 10. Penilaian Pengajaran Terhadap Perencanaan Pengajaran. Implementasi

pengajaran, menganalisis dan menginterpretasikan data, mengambil keputusan, dan melalukan penilaian hasil belajar murid, untuk memperbaiki pengajaran. (Syaiful Sagala, 2006: 245-246)

(5)

Kesepuluh tugas yang telah dikemukakan Harris dapat dikategorikan ke dalam tugas-tugas pendahuluan, tugas operasioal dan tugas pengembangan.

Tugas ini diilustrasikan Harris sebagai berikut:

TUGAS PENDAHULUAN

TUGAS OPERASIONAL

TUGAS

PENGEMBANG AN

Tabel 1.2 Tugas-tugas supervisor Pengembangan kurikulum

Penyediaan fasilitas Pengadaan staf

Pengorganisasian pembelajaran Orientasi anggota staf

Penyediaan bahan-bahan

Pelayanan yang berhubungan dengan peserta didik

Pengembangan hubungan masyarakat

Penataran pendidikan Penilaian pembelajaran

(6)

Mengacu pada pendapat Harris dapat disimpulkan bahwa tugas pengawas sangat luas dan kompleks, namun dalam pelaksanaannya harus lebih terfokus pada pengembangan kemampuan guru, sebab mereka merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, umpan balik setelah pelaksanaan supervisi mutlak diperlukan agar guru bisa mengetahui kelebihan dan kelemahnanya, sehingga mereka dengan segera dapat memperbaikinya.

(Abd.kadim Masaong, 2013: 11-12).

b) Wewenang Supervisor Kependidikan

Dewan sekolah yang dibentuk sesuai dengan jenjang dan jenis sekolah mempunyai wewenang sebagai berikut:

1. Menetapkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dewan

2. Bersama-sama sekolah menetapkan rencana strategis pengembangan sekolah

3. Bersama-sama sekolah menetapkan standar pelayanan sekolah

4. Bersama-sama sekolah membahas bentuk kesejahteraan personal sekolah

5. Bersama-sama sekolah menetapkan RAPBS 6. Mengkaji pertanggungjawaban program sekolah 7. Mengkaji dan menilai kinerja sekolah

8. Merekomendasikan kepala sekolah atau guru yang berprestasi dan memenuhi persyaratan profesionalisme serta administratif secara normatif sesuai dengan landasan hukum untuk promosi dan diajukan kepada pihak berwenang dalam hal ini kepada Dinas Pendidikan Kota atau Kabupaten

9. Menerima kepala sekolah dan guru yang dipromosikan oleh sekolah lain sesuai dengan persyaratan profesionalisme serta administratif secara normatif sesuai dengan landasan hukum untuk promosi, ditunjuk oleh pihak berwenang dalam hal ini Kepala Daerah melalui argumentasi dan rasional yang disepakati pihak dewan sekolah.

(7)

10. Merekomendasikan kepala sekolah atau guru yang melanggar etika profesionalisme serta administratif secara normatif sesuai dengan landasan hukum yang berlaku dan diajukan kepada pihak berwenang dalam ini Kepala Dinas Pendidikan Kota atau Kabupaten.

(Nanang Fattah, 2012: 153-154).

Dengan adanya wewenang tersebut bertujuan untuk menentukan langkah dan strategi dalam menentukan proedur kerja kepengawasan yang dimana pengawas perlu bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru agar dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut sejalan dengan arah pengembangan sekolah yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah.

3. Kepala Sekolah sebagai Supervisor Kependidikan a. Karaketristik Supervisor Kependidikan

Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Menurut Sergiovani dan Starrat (1993) dalam buku Piet.A Sahertian, menyatakan bahwa

“Supervision is a process designed to help teacher and supervisor leam more about their practice; to better able to use their knownledge and skills to better serve parents and schools; and to make the school a more effective learning community”. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari di sekolah; agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif.

Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja

(8)

tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikannya khususnya guru, di sebut supervise klinis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan professional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang efektif. Salah satu supervisi akademik yang popular adalah supervisi klinis, yang memiliki karakteristik sebaga berikut:

1) Supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kependidikan guru,

2) Aspek yang disupervisi berdasarkan usul guru, yang dikaji bersama kepala sekolah sebagai supervisor untuk dijadikan kesepakatan,

3) Instrumen dan metode observasi dikembangkan bersama oleh guru dan kepala sekolah,

4) Mendiskusikan dan menafsirkan hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru,

5) Supervisi dilakukan dalam suasana terbuka secara tatap muka dan supervisor lebih banyak mendengarkan serta menjawab pertanyaan guru daripada member saran dan pengarahan,

6) Supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yaitu pertemuan awal, pengamatan, dan umpan balik.

7) Adanya penguatan dan umpan balik dari kepala sekolah sebagai supervisor terhadap perubahan perilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan.

8) Supervisi dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan suatu keadaan dan memecahkan suatu masalah.

b. Prinsip-prinsip supervisi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya Peranan kepala sekolah dalam kegiatan supervisi sangatlah banyak.

Karena itu, sebaiknya pelaksanaan semua kegiatan supervisi tersebut, kepala sekolah melibatkan para stafnya sehingga seluruh kegiatan supervisi dapat dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Beberapa prinsip yang digunakan dalam mengadakan kegiatan supervisi adalah:

(9)

1) Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif sehingga menimbulkan dorongan semangat bekerja bagi para pegawai yang dinilai,

2) Supervisi hendaknya bersifat sederhana, realistis dan informal dalam pelaksaannya,

3) Supervisi harus bersifat objektif, tidak mencari-cari kesalahan, tidak bersifat otoriter dan mementingkan hubungan professional, bukannya berdasarkan hubungan pribadi atau kekuasaan, kedudukan, dan pangkat pribadi,

4) Supervisi bersifat preventif, yaitu mencegah timbulnya hal-hal yang berakibat buruk,

5) Supervisi bersifat korektif, yaitu memperbaiki penyimpangan dalam kegiatan organisasi sekolah,

6) Supervisi bersifat kooperatif, yaitu menemukan penyimpangan- penyimpangan yang ada dan berusaha memperbaikinya secara bersama-sama, dan

7) Supervisi harus memperhatikan kemampuan para anggota organisasi sehingga mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik. (Ngalim Purwanto, 117)

Semua yang diuraikan di atas sangat berperan dalam tercapainya perkembangan sekolah. Namun demikian, tujuan yang diharapkan tidak akan tercapai bila tidak didukung oleh kemampuan kepala sekolah yang bersangkutan dalam melakukan tugas supervisi, dukungan faktor lingkungan masyarakat sekitar sekolah, kecakapan para pegawai yang ada, kemampuan guru dalam memberikan pelajaran dan sebagainya. Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi berhasil tidaknya supervisi atau cepat-lambatnya hasil supervisi itu, antara lain:

1) Lingkungan masyarakat tempat sekolah itu berada,

2) Besar kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah, 3) Kedaaan guru-guru dan pegawai yang tersedia,

(10)

4) Tingkatan dan jenis sekolah, dan

5) Kecakapan dan keahlian kepala sekolah itu sendiri.

(Ngalim Purwanto,1998: 118)

c. Pembagian Tugas Pekerjaan Kepada Guru 1) Pembinaan Kurikulum Sekolah

Pembinaan kurikulum sekolah harus diperhatikan dalam kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah karena seluruh kegiatan supervisi dilakukan berdasarkan kurikulum sekolah. Oleh karena itu, pembinaan kurikulum harus diupayakan agar tidak tertinggal zaman serta memenuhi tuntutan seluruh personal organisasi dan masyarakat. Guru yang ditugaskan sebagai koordinator bidang kurikulum sekolah harus memiliki kecakapan dan kemampuan yang memadai di bawah pengawasan kepala sekolah.

Kepala sekolah dalam kedudukannya sebagai supervisor bertugas untuk membimbing para guru dalam menentukan bahan pelajaran yang dapat meningkatkan potensi siswa, memilih metode yang akan digunakan dalam proses belajar-mengajar, menyelenggarakan rapat dewan guru, dan mengadakan kunjungan kelas. Selain itu membimbing guru-guru dalam mengadakan penilaian cara dan metode yang digunakan. Untuk menjalankan semua kegiatan di atas, terdapat beberapa persyaratan di antaranya memiliki jiwa kepemimpinan, mengenal keadaan guru dan pegawai lainnya, membangkitkan semangat mereka dalam melaksanakan tugas-tugas mereka, memberikan kesempatan yang luas kepada mereka untuk mengembangkan kariernya dan menciptakan rasa kekeluargaan di antara mereka.

2) Pembagian Tugas kepada Guru

Kepala sekolah dapat melakukan pembagian tugas kepada guru-guru dengan cara penempatan sistem guru kelas, sistem guru bidang studi, dan sistem campuran antara keduanya. Semua sistem tersebut memiliki kelebihan dan

(11)

kelemahan masing-masing.Jadi, kepala sekolah dapat menentukan sistem mana yang memiliki banyak kelebihannya dan sedikit kekurangannya.

Sistem guru kelas ini adalah menempatkan satu orang guru untuk seluruh mata pelajaran. Dalam arti, setiap satu kelas memiliki satu orang guru.

Kelemahan dalam menggunakan sistem ini adalah menimbulkan kejenuhan pada guru kepada dia hanya bertatap muka dengan siswa yang sama dalam jangka waktu yang lama, di samping itu, guru tidak mengemabngkan ilmunya karena halnya hanya memegang kelas yang sama dalam jangka waktu yang relatif lama.

Selain itu, tidak semua guru mampu memberikan semua pelajaran yang ada, sheingga besar kemungkinan terjadi kesalahan-kesalahan dalam menggunakan metode dan cara mengajar. Adapun kelebihannya adalah guru dapat mengenal pribadi anak diidknya lebih jauh, sehingga ia dapat menerapkan sistem mengajar yang tepat kepada mereka. Selain itu, dia terhindar dari rasa jenuh dan terdorong untuk selalu meningkatkan ilmunya karena ia dituntut untuk mengajarkan beberapa mata pelajaran.

Sistem guru bidang studi ialah menempatkan guru pada beberapa kelas dan dia hanya bertanggung jawab terhadap satu mata pelajaran saja.Kelemahan dalam sistem ini adalah pengetahuan guru hanya berkembang dalam satu mata pelajaran saja, dia pun memiliki tugas yang banyak sehingga menyita seluruh perhatiannya dan penilaian yang diberikan kepadanya pun menjadi kurang objektif. Adapun kelebihannya adalah guru dapat mengajar dengan baik karena mata pelajaran yang diajarkannya sesuai dnegan bidang yang ditekuninya. Selain itu, ia terhindar dari rasa jenuh karena ia mengajar beberapa kelas.

Sistem yang terakhir adalah sistem campuran yang menggunakan kedua sistem yang disebutkan di atas. Dalam hal ini ada sebagian guru yang mengajar satu kelas tertentu, namun pada jam-jam tertentu, dia mengajarkan kelas lain sehubungan dengan kemampuan dan bakatnya dan juga yang mengajar mata pelajaran tertentu di beberapa kelas. Kelemahan dari sistem ini adalah adanya guru yang cenderung mengutamakan untuk mengajar mata pelajaran yang sesuai

(12)

dengan bakatnya. Selain itu, terjadinya persaingan tidak sehat di antara para guru. Namun kelemahan ini tidak begitu mempengaruhi potensi anak didik.Karena itu, dari ketiga sistem yang ada, sistem ini yang paling baik untuk diterapkan pada sistem pendidikan kita. (Yusak Burhanudin, 2005: 126-128).

d. Tujuan Supervisi Penddikan

Tujuan supervisi pendidikan ialah memperkembangkan situasi belajar dan mengajar yang lebih baik. Usaha ke arah perbaikan belajar dan mengajar ditujukan kepada pencapaian tujuan akhir dari pendidikan, yaitu pembentukkan pribadi yang maksimal.

Secara operasional, tujuan supervisi adalah sebagai berikut:

1) Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan, 2) Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar siswa,

3) Membantu guru dalam menggunakan sumber-sumber pengalaman belajar,

4) Membantu guru dalam menggunakan metode-metode dan alat-alat pembelajaran modern,

5) Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa,

6) Membantu guru dalam hal menilai kemajuan siswa dan hasil pekerjaan guru itu sendiri,

7) Membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka,

8) Membantu guru baru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diperolehnya,

9) Membantu guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber-sumber masyarakat dan

10) Membantu guru agar waktu dan tenaga tercurah sepenuhnya dalam pembinaan sekolahnya. (Rugaiyah dan Atiek Sismiati, 2013: 100)

(13)

e. Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Pengajaran

Supervisor pendidikan yang profesional menurut Anwar dan Sagala (2004:158) mempunyai fungsi-fungsi utama adalah:

a. Menetapkan masalah yang betul-betul mendesak untuk ditanggulangi, yang sebelumnya mengumpulkan informasi tentang masalah tersebut, dengan menggunakan instrument tertentu seperti observasi, wawancara, kuesioner dan sebagainya. Kemudian mengolah dan menganalisis data yang dikumpulkan dari data tersebut disimpulkan keadaan sebenarnya,

b. Menyelenggarakan infeksi, yaitu sebelumnya memberikan pelayanan kepada guru, supervisor lebih dulu perlu mengadakan infeksi sebagai usaha mensurvai seluruh sistem pendidikan yang ada.

c. Penilaian, yaitu usaha mengetahui segala fakta yang mempengaruhi kelangsungan persiapan, perencanaan dan program, penyelenggaraan dan situasi yang sebenarnya terjadi, maka ia pun harus melaksanakan penilaian terhadap situasi tersebut. Supervisor diharapkan tidak memfokuskan pada hal-hal yang negatif saja, tetapi juga hal-hal yang dinyatakan sebagai kemajuan,

d. Pembinaan atau pengembangan, yaitu lanjutan dan kegiatan memperkenalkan cara-cara baru. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menstimulasi, mengarahkan, member semangat agar guru-guru mau menerapkan cara-cara baru yang diperkenalkan sebagai hasil penemuan penelitian, termasuk dalam hal ini membantu guru0guru memecahkan kesulitan dan menggunakan cara-cara baru teknik pengajaran.

Secara umum, kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah sesuai dengan fungsinya sebagai supervisor antara lain adalah:

1) Membangkitkan dan merangsang guru-guru dan pegawai sekolah di dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya,

(14)

2) Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah termasuk meda intruksional yang diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses belajar mengajar,

3) Bersama guru-guru berusaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode mengajar yang lebih sesuai dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku,

4) Membina kerja sama yang baik dan harmonis di antara guru-guru dan pegawai sekolah lainnya,

5) Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan emngadakan diskusi-diskusi kelompok, menyediakan perpustakaan sekolah dan atau mengirim mereka untuk mengikuti penataran-penataran, seminar sesuai dengan bidangnya masing-masing, dan

6) Membina hubungan kerja sama antara sekolah dengan BP3 atau POMG dan instansi-instansi lain dalam rangka peningkatan mutu pendidikan para guru.

Dengan adanya fungsi-fungsi tersebut yang diilakukan oleh kepala sekolah dalam membina kualitas kinerja guru, diharapkan kualitas proses pembelajaran dan hasilnya akan meningkat.

Secara khusus dan lebih kongkret lagi, kegiatan-kegiatan yang mungkin dilakukan oleh kepala sekolah sebagai supervisor dapat dirumuskan sebagai berikut:

1) Menghadiri rapat atau pertemuan organisasi-organisasi professional, seperti PGRI, Ikatan Sarjana Pendidikan,

2) Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru- guru,

3) Mendiskusikan metode-metode dan teknik-teknik dalam rangka pembinaan dan pengembangan proses belajar-mengajar,

(15)

4) Membimbing guru-guru dalam penyusunan Program Catur Wulan atau Program Semester, dan Program Satuan Pelajaran,

5) Membimbing guru-guru dalam memilih dan menilai buku-buku untuk perpustakaan sekolah dan buku-buku pelajaran bagi murid-murid, 6) Membimbing guru-guru dalam menganalisis dan menginterpretasi

hasil tes dan penggunaannya bagi perbaikan proses belajar-mengajar, 7) Melakukan kunjungan kelas atau classroom visitation dalam rangka

supervise klinis.

8) Melakukan kunjungan observasi atau observation visit bagi guru-guru demi perbaikan cara mengajarnya,

9) Mengadakan pertemuan-pertemuan individual dengan guru-guru tentang masalah-masalah yang mereka hadapi atau kesulitan-kesulitan yang mereka alami,

10) Menyelenggarakan manual atau bulletin tentang pendidikan dalam ruang lingkup bidang tugasnya,

11) Berwawancara dengan orang tua murid dan pengurus BP3 atau POMG tentang hal-hal yang mengenai pendidikan anak-anak mereka.

f. Peranan Supervisor

Seorang supervisor dapat berperan sebagai :

1) Koordinator, ia dapat mengkoordinasi program belajar mengajar ,tugas-tugas anggota staf sebagai kegaiatan yang berbeda-beda diantara guru. Contoh konkretnya mengkoordinasi tugas belajar suatu mata pelajaran oleh berbagai guru.

2) Konsultan, ia dapat memberi bantuan, bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun kelompok.

Misalnya kesulitan dalam mengatasi anak yang sulit belajar yang menyebabkan guru sendiri sulit mengatasi dalam tahap belajar.

3) Pemimpin kelompok, ia dapat memimpin sejumlah staf guru dalm mengembangkan potensi kelompok, pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru-guru secara

(16)

bersama. Sebagai pemimpin kelompok ia dapat mengembangkan keterampilan dan kiat –kiat dalam bekerja untuk kelompok (working for the group) bekerja dengan kelompok (working with the group) dan bekerja melalui kelompok (working through the group).

4) Evaluator , ia dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang di kembangkan, ia juga belajar menatap dirinya sendiri ia di bantu dalam merefleksikan dirinya, yaitu konsep dirinya (self concept ) ide / cita-cita dirinya (self idea ), realitas dirinya (self reality ).

(Http://Peranan Supervisi Pendidikan - Artikel Pendidikan.htm//) Menurut Rifai (1982) peranan supervisi ada 7 macam :

1) Supervisi sebagai kepemimpinan

Supervisor sebagai pemimpin hendaklah mempunyai kemampuan menggerakkan atau mempengaruhi guru agar mau menigkatkan kemampuan profesionalnya, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih baik dan efektif. Tanpa adanya kepemimpinan dari supervisor, kegiatan supervisi tidak akan efektif.

2) Supervisi sebagai inspeksi

Supervisi dapat diawali dengan inspeksi. Tujuan inspeksi dalam hal ini adalah untuk mendapatkan data/ informasi mengenai pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilaksanakan guru. Berdasarkan data tersebut dapat ditentukan tindak lanjut yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan guru

3) Supervisi sebagai penelitian

Supervisi berperan sebagai penelitian, terutama untuk mengetahui objektivitas dan relevansi data dengan permasalahan yang ditemui pada waktu inspeksi.

4) Supervisi sebagai latihan dan bimbingan

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh melalui penelitian dapat ditentukan tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan untuk pembinaan atau peningkatan kemampuan guru dalam mengelolaan proses belajar

(17)

mengajar. Peningkatan kemampuan guru dilakukan melalui latihan- latihan atau bimbingan agar menjadi lebih efektif.

5) Supervisi sebagai sumber dan pelayanan

Dalam proses supervisi, supervisor dapat berperan sebagai sumber informasi, sumber ide, sumber petunjuk dalam berbagai hal dalam rangka peningkatan kemampuan profesional guru.

6) Supervisi sebagai koordinasi

Kepala sekolah sebagai supervisor harus memimpin sejumlah guru atau staf yang masing-masingnya mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Supervisor haruslah memberikan bantuana dan pembinaan kepada guru dan tetap menjaga agar setiap guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik dalam situasi kerja yang kooperatif.

7) Supervisi sebagai evaluasi

Untuk mengetahui kemampuan guru yang akan dibina perlu dilakukan evaluasi sehingga program supervisi cocok dengan kebutuhan guru.

Selain itu melalui evaluasi dapat pula diketahui kemampuan guru setelah mendapatkan bantuan dan latihan dari supervisor.

(Http:Kumpulan Makalah Oke PERANAN SUPERVISI PENDIDIKAN.htm//)

g. Tata Cara Pelaksanaan Supervisi

Siapa yang bertugas sebagai supervisor sekolah? Yang terutama bertugas sebagai supervisor sekolah ialah kepala sekolah yang bersangkutan. Pelaksanaan supervisi juga dibantu oleh wakil kepala sekolah sesuai dengan bidang tugasnya.

Ada beberapa tata cara yang perlu diperhatikan dalam melakukan tugas supervisi, yaitu:

1) Supervisi hendaknya dilaksanakan dengan persiapan dan perencanaan yang sistematis,

2) Supervisor hendaknya memberitahukan kepada orang-orang yang bersangkutan tentang rencana supervisinya,

(18)

3) Agar memperoleh data yang lengkap, supervisor hendaknya jangan hanya menggunakan satu macam teknik, melainkan beberapa macam teknik, seperti wawancara, observasi sekolah, kunjungan kelas, dan sebagainya 4) Laporan hasil supervisi hendaknya dibuat rangkap, satu lembar untuk

pejabat yang akan diberi laporan dan satu lembar lagi untuk sekolah yang disupervisi,

5) Penilaian dalam supervisi hendaknya dituangkan dalam format-format seperti checklist atau ratingscale,

6) Penilaian masing-masing komponen atau kegiatan yang dititikberatkan dari beberapa aspeknya, agar dicari rata-ratanya,

7) Kemudian berdasarkan nilai semua komponen, dibuat rekapitulasi dari seluruh hasil penilaian mengenai sekolah yang bersangkutan.

h. Alat Supervisi

Agar kegiatan supervisi dapat lebih lancar, sebaiknya didukung dengan pemakaian alat-alat bantu supervisi, untuk mempercepat peningkatan kecakapan dan kemampuan guru dalam menguasai profesi masing-masing. Alat-alat itu antara lain:

1) Perpustakaan, merupakan sumber informasi yang penting dalam membantu pertumbuhan profesional personil sekolah. Perpustakaan ini tidak hanya menyediakan buku-buku, tetapi juga koleksi lainnnya, seperti majalah, koran, slide, dan lain-lain,

2) Buletin supervisi, merupakan alat komunikasi yang efektif, berbagai penelitian, resensi buku-buku, dan kesimpulan pertemuan organanisasi profesional maupun perkembangan dalam berbagai bidang studi,

3) Pengembangan kurikulum, memberi kesempatan yang baik bagi guru untuk terlibat lebih jauh dalam perencanaan kurikulum. Dengan mengetahui kurikulum, guru dapat mempersiapkan diri untuk melakukan tugasnya dengan baik. Sebaliknya bila tidak melibatkan guru dalam pengembangan kurikulum sebagaimana berlaku, ini hanya menimbulkan

(19)

sikap konformitas, sehingga guru sekedarnya tanpa usaha mencari hal-hal baru, mengingat komformitas mematikan semangat kreativitas,

4) Penasehat ahli, yaitu mereka yang mendapat kepercayaan kepala sekolah untuk memberikan bantuan dalam menyelenggarakan masalah-masalah yang dihadapi oleh para guru. (Piet A. Sahertian, 2000:1104-108))

i. Teknik-teknik Supervisi

Kepala sekolah sebagai supervisor dapat dilakukan secara efektif antara lain melalui diskusi kelompok, kunjungan kelas, pembicaraan individual, dan simulasi pembelajaran.

Diskusi Kelompok. Diskusi kelompok merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersama guru-guru dan bisa juga melibatkan tenaga administrasi, untuk memecahkan berbagai masalah yang dipecahkan dalam diskusi kelompok, seperti peningkatan kemampuan tenaga kependidikan, dan masalah-masalah hasil temuan kepala sekolah pada kegiatan observasi di dalam atau di luar kelas.

Diskusi kelompok ini bisa juga dilaksanakan setelah selesai pembelajaran.

Hendaknya kegiatan ini tidak dilakukan pada jam efektif, seandainya terpaksa diskusi kelompok dan rapat ini dilaksanakan pada jam efektif, maka guru-guru harus memberikan tugas kepada para peserta didik sesuai dengan pokok bahasan yang dibahas pada saat itu, misalnya mengadakan pengamatan atau observasi.

Kunjungan Kelas. Kunjungan kelas dapat digunakan oleh kepala sekolah sebagai salah satu teknik untuk mengamati kegiatan pembelajaran secara langsung. Kunjungan kelas merupakan teknik yang sangat bermanfaaat untuk mendapatkan informasi secara langsung berbagai hal yang berkaitan dengan profesionalisme guru dalam melaksankan tugas pokoknya mengajar, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran, meda yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran, dan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, serta mengetahui secara lansgung kemampuan peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Berdasarkan hasil kunjungan kelas, kepala sekolah bersama guru bisa mendiskusikan berbagai permasalahan yang

(20)

ditemukan, mencari jalan ke luar atas permasalahan yang ditemukan dan menyusun program-program pemecahan untuk masa yang akan datang, baik yang menyangkut peningkatan profesionalisme guru maupun yang menyangkut pembelajaran.

Pembicaraan Individual. Pembicaraan individual merupakan teknik bimbingan dan konseling yang dapat digunakan oleh kepala sekolah untuk memberikan konseling kepada guru, baik berkaitan dengan kegiatan pembelajaran maupun masalah yang menyangkut profesionalisme guru.

Pembicaraan individual dapat menjadi strategis pembinaan tenaga kependidikan yang sangat efektif, terutama dalam memecahkan masalah-masalah yang menyangkut pribadi tenaga kependidikan.

Simulasi Pembelajaran. Simulasi pembelajaran merupakan suatu teknik supervise berbentuk demokrasi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah, sehingga guru dapat menganalisa penampilan yang diamatinya sebagai instropeksi diri, walaupun sebenarnya tidak ada cara mengajar yang paling baik.

Kegiatan ini dapat dilakukan kepala sekolah secara terprogram, misalnya sebulan sekali mengajar di kelas-kelas tertentu untuk mengadakan simulasi pembelajaran.

(E.Mulyasa, 2012: 252-256).

B. Kinerja Guru

1. Pengertian Kinerja Guru

Dalam bahasa Indonesia, pengertian kinerja disebut juga dengan prestasi kerja. Prestasi kerja atau kinerja mempunyai arti sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh sebuah pengetahuan serta sikap dan keterampilan, motivasi untuk menghasilkan suatu hal. Sedangkan prestasi kerja diartikan sebagai suatu pencapaian atas persyaratan pekerjaan tertentu yang tercermin dari output yang dihasilkan baik dari kuantitas atau mutunya.

(http://seputarpendidikan003.blogspot.co.id/2013/07/kinerja-guru.html//)

Kinerja yang dimaksudkan dan diharapkan memiliki kemampuan atau menghasilkan mutu yang baik dan tetap melihat jumlah yang akan diraihnya.

(21)

Suatu pekerjaan harus dapat dilihat secara mutu terpenuhi maupun dari segi jumlah yang sesuai dengan yang direncanakan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka kinerja dapat disimpulkan sebagai perilaku seseorang yang membuahkan hasil kerja tertentu setelah memenuhi sejumlah persyaratan. Berhubungan dengan konsep kinerja seperti yang telah dibahas di atas, selanjutnya akan dibahas persyaratan yang menentukan kinerja tersebut, yaitu masalah evaluasi kinerja. Sebab, hal inilah yang menentukan kinerja seseorang. Oleh karena itu, evaluasi kinerja ini harus dipahami oleh karyawan maupun pimpinan, agar keduanya saling puas dalam rangka mewujudkan kinerja secara optimal.

Definisi operasional tentang kinerja adalah skor yang didapat dari gambaran hasil kerja yang dilakukan seseorang atau dengan kata lain kinerja adalah unjuk kerja seseorang yang diperoleh melalui instrumen pengumpul data tentang kinerja seseorang. Unjuk kerja tersebut terkait dengan tugas apa yang diemban oleh seseorang yang merupakan tanggung jawab profesionalnya.

Dengan demikian, berdasarkan definisi operasional di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja mempunyai lima dimensi yaitu kualitas kerja, kecepatan atau ketepatan kerja, inisiatif dalam bekerja, kemampuan dalam bekerja, dan kemampuan mengkomunikasikan pekerjaan.

Dimensi Indikator

1. Kualitas Kerja  Menguasai bahan

 Mengelola proses belajar mengajar

 Mengelola kelas 2. Kecepatan atau

Ketepatan Kerja

 Menggunakan media atau sumber belajar

 Menguasai landasan pendidikan

 Merencanakan program pengajaran 3. Insiatif dalam

Kerja

 Memimpin kelas

 Mengelola interaksi belajar

(22)

Kinerja guru adalah segala upaya guru dalam mengembangkan kegiatan yang ada di sekolah menjadi kegiatan yang lebih baik, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan baik pula melalui suatu kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sesuai dengan target serta tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Whitmore secara sederhana mengemukakan, kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang. Pengertian yang menurut Whitmore nerupakan pengertian yang menuntut kebutuhan paling minim untuk berhasil. Oleh karena itu, Whitmore mengemukakan pengertian kinerja yang dianggapnya representative, maka tergambarnya tanggung jawab yang besar dari pekerjaan seseorang. Dengan demikian, menurut Whitmore kinerja adalah suatu perbuatan, suatu prestasi atau apa yang diperlihatkan seseorang melalui keterampilan yang nyata. Pandangan lain menurut King, yang menjelaskan kinerja adalah aktivitas seseorang dalam melaksanakan tugas pokok yang dibebankan kepadanya. Mengacu dari pandangan ini, dapat diinterpretasikan bahwa kinerja seseorang yang dihubungkan dengan tugas-tugas rutin yang dikerjakannya. Misalnya, sebagai seorang guru, tugas rutinnya adalah melaksankan proses belajar mengajar di sekolah. Hasil yang dicapai secara optimal dari tugas mengajar itu merupakan kinerja seorang guru. Berbeda dengan King, ahli lain Galton dan Simon, memandang bahwa kinerja atau

 Melakukan penilaian hasil belajar siswa 4. Kemampuan

Kerja

 Menggunakan berbagai metode dalam pembelajaran

 Memahami dan melaksanakan fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan

5. Komunikasi  Memahami dan menyelenggarakan administrasi sekolah

 Memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran

(23)

“performance”merupakan hasil interaksi atau berfungsinya unsur-unsur motivasi, kemampuan, dan persepsi pada diri seseorang.

UU Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 39 ayat (2) , menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Keterangan lain menjelaskan dalam UU No.14 Tahun 2005 bab IV pasal 20 (a) tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa standar prestasi kerja guru dalam melaksanakan tugas kerja profesionalnya, guru berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menila dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok guru tersebut yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar merupakan bentuk kinerja guru.

Berkaitan erat dengan kinerja guru di dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru perlu memiliki tiga kemampuan dasar agar kinerjanya tercapai sebagai berikut:

a. kemampuan pribadi meliputi hal-hal yang bersifat fisik seperti tampang, suara, mata atau pandangan, kesehatan, pakaian, pendengaran, dan hal yang bersifat psikis seperti humor, ramah, intelek, sabar, sopan, rajin, kreatif, kepercayaan diri, optimis, kritis, obyektif, dan rasional.

b. kemampuan sosial antara lain bersifat terbuka, disiplin, memiliki dedikasi, tanggung jawab, suka menolong, bersifat membangun, tertib, bersifat adil, pemaaf, jujur, demokratis, dan cinta anak didik.

c. kemampuan profesional sebagaimana dirumuskan oleh P3G yang meliputi 10 kemampuan profesional guru yaitu: menguasai bidang studi dalam kurikulum sekolah dan menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media dan sumber, menguasai landasan- landasankependidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan pendidikan, mengenal fungsi dan

(24)

program bimbingan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, memahami prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan mengajar.

2. Faktor yang Mempengaruhi dan Mendukung Kinerja Guru

Kinerja seseorang dapat ditingkatkan bila ada kesesuaian antara pekerjaan dengan keahliannya, begitu pula halnya dengan penempatan guru pada bidang tugasnya. Menempatkan guru sesuai dengan keahliannya secara mutlak harus dilakukan. Bila guru diberikan tugas tidak sesuai dengan keahliannya akan berakibat menurunnya cara kerja dan hasil pekerjaan mereka, juga akan menimbulkan rasa tidak puas pada diri mereka. Rasa kecewa akan menghambat perkembangan moral kerja guru.Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain:

a. Faktor personal/individual, meliputi unsur pengetahuan, keterampilan (skill), kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh tiap individu guru

b. Faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan team leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan dan dukungan kerja pada guru

c. Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan dan keeratan anggota tim d. Faktor sistem, meliputi sistem kerja, fasilitas kerja yang diberikan oleh pimpinan sekolah, proses organisasi (sekolah) dan kultur kerja dalam organisasi (sekolah).

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Surya (2004:10) tentang factor yang mempengaruhi kinerja guru: Faktor mendasar yang terkait dengan kinerja profesional adalah kepuasan kerja yang berkaitan erat dengan faktor (1) imbalan jasa (2) rasa aman (3) hubungan antar pribadi (4) kondisi lingkungan kerja (5) kesempatan untuk pengembangan dan peningkatan diri.

(25)

A. Tabrani Rusyan dkk (2000:17) menyatakan bahwa untuk mendukung keberhasilan Kinerja guru seperti diterangkan di atas, maka perlu berbagai faktor yang mendukung, di antaranya:

a. Motivasi Kinerja Guru

Dorongan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik bagi guru sebaiknya muncul dari dalam diri sendiri, tetapi upaya motivasi dari luar juga dapat juga memberikan semangat kerja guru, misalnya dorongan yang diberikan dari kepala sekolah kepada guru.

b. Etos Kinerja Guru

Guru memiliki etos kerja yang lebih besar untuk berhasil dalam melaksanakan proses belajar mengajar dibandingkan dengan guru yang tidak ditunjang oleh etos kinerja dalam melaksanakan tugasnya guru memiliki etos yang berbeda-beda. Etos kerja perlu dikembangkan oleh guru, karena: (a) Pergeseran waktu yang mengakibatkan segala sesuatu dalam kehidupan manusia berubah dan berkembang. (b) Kondisi yang terbuka untuk menerima dan menyalurkan kreativitas. (c) Perubahan lingkungan terutama bidang teknologi.

c. Lingkungan Kinerja guru

Lingkungan kerja yang dapat mendukung guru melaksanakan tugas secara efektif dan efisien, meliputi: (a) Lingkungan social-psikologis, yaitu lingkungan serasi dan harmonis antar guru, guru dengan kepala sekolah, dan guru, kepala sekolah, dengan staf TU dapat menunjang berhasilnya kinerja guru. (b) Lingkungan fisik, ruang kinerja guru hendaknya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1) Ruangan harus bersih, (2) Ada ruangan khusus untuk kerja, (3) Peralatan dan perabotan tertata baik, (4) Mempunyai penerangan yang baik, (5) Tersedia meja kerja yang cukup, (6) Sirkulasi udara yang baik, dan (7) Jauh dari kebisingan.

d. Tugas dan tanggung jawab guru

1) Tanggung jawab moral, guru harus memiliki kemampuan menghayati perilaku dan etika yang sesuai dengan moral Pancasila.

(26)

2) Tanggung jawab dan proses pembelajaran di sekolah, yaitu setiap guru harus menguasai cara pembelajaran yang efektif, mampu membuat persiapan mengajar dan memahami kurikulum dengan baik.

3) Tanggung jawab guru di bidang kemasyarakatan, yaitu turut mensukseskan pembangunan masyarakat, untuk itu guru harus mampu membimbing, mengabdi, dan melayani masyarakat.

4) Tanggung jawab guru di bidang keilmuan, yaitu guru turut serta memajukan ilmu dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.

5) Optimalisasi kelompok kerja guru

Berdasarkan penjelasan yang dikemukan di atas, faktor-faktor yang mnentukan tingkat kinerja guru dapat disimpulkan antara lain (1) tingkat kesejahteraan (reward system) (2) lingkungan atau iklim kerja guru (3) desain karir dan jabatan guru (4) kesempatan untuk berkembang dan meningkatkan diri (5) motivasi dan semangat kerja (6) pengetahuan (7) keterampilan (8) karakter pribadi guru.

3. Aspek Dan Jenis Kinerja

Ada beberapa aspek yang mendasar dan paling pokok dari pengukuran kinerja, yaitu sebagai berikut:

a. Menetapkan tujuan, sasaran dan strategi organisasi, dengan menetapkan secara umum apa yang diinginkan oleh organisasi sesuai dengan tujuan, visi, dan misinya,

b. Merumuskan indkator kinerja dan ukuran kinerja, yang mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung, sedangkan indikator kinerja mengacu pada pengukuran kinerja secara langsung yang berbentuk keberhasilan utama (critical success factors) dan indkator kinerja kunci (key performance indicator,

(27)

c. Mengukur tingkat capaian tujuan dan sasaran organisasi, menganalisis hasil pengukuran kinerja yang dapat diimplementasikan dengan membandingkan tingkat capaian tujuan dan sasaran organisasi, dan d. Mengevaluasi kinerja dengan menilai kemajuan organisasi dan

pengambilan keputusan yang berkualitas, memberikan gambaran atau hasil kepada organisasi seberapa besar tingkat keberhasilan tersebut dan mengevaluasi langkah apa yang diambil organisasi selanjutnya.

Dalam suatu organisasi dikenal ada 3 (tiga) jenis kinerja yang dapat dibedakan yaitu sebagai berikut:

a. Kinerja operasional (operation performance). Kinerja ini berkaitan dengan efektivitas penggunaan setiap sumber daya yang digunakan oleh perusahaan, seperti modal, bahan baku, teknologi, dan lain sebagainya, yaitu seberapa penggunaan tersebut secara maksimal untuk mencapai keuntungan atau mencapai visi dan misinya,

b. Kinerja administratif (administrative performance). Kinerja ini berkaitan dengan kinerja administratif organisasi, termasuk di dalamnya struktur administratif yang mengatur hubungan otoritas wewenang dan tanggung jawab dari orang yang menduduki jabatan.

Selan itu, berkaitan dengan kinerja mekanisme aliran informasi antar unit kerja dalam organisasi, dan

c. Kinerja strategik (strategic performance). Kinerja ini berkaitan atas kinerja perusahaan, dievaluasi ketetapan perusahaan dalam memilih lingkungannya dan kemampuan adaptasi perusahaan, khususnya secara strategi perusahaan dalam menjalankan visi dan misinya. (Moeheriono, 2009: 61-64)

4. Tugas Dan Kewajiban Guru

Guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru harus betul-betul membawa siswanya kepada tujuan yang ingin dicapai. Guru harus mampu mempengaruhi siswanya. Guru harus berpandangan luas dan kriteria bagi seorang guru ialah harus memiliki

(28)

kewibawaan. Kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang guru. Guru yang mempunyai kewibawaan berarti mempunyai kesungguhan, suatu kekuatan, sesuatu yang dapat memberikan kesan dan pengaruh. (Cece wijaya, Djaja Djadjuri dan A.Tabrani,1992:23).

Menurut Rusman, Seorang guru memiliki tugas yang sangat beragam, di samping mendidik, mengajar dan melatih, serta sebagai pengganti kedua orang tua di lingkungan sekolah. Akan tetapi tugas guru sesungguhnya sangatlah berat dan rumit, karena menyangkut nasib dan masa depan sebuah generasi manusia, karena itulah kita sering mendengar tuntutan dan harapan masyarakat agar guru harus mampu mencerminkan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat ideal di masa mendatang. Akibat tuntutan yang berlebihan seringkali menjadi cemoohan masyarakat ketika hasil kerjanya kurang memuaskan, dalam artian peserta didik mampu mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Mengingat demikian strategisnya tugas guru, maka guru harus memiliki kompetensi profesional yang memadai.

Menurut Nana Sudjana (2004:15), mengemukakan ada tiga tugas dan tanggung jawab guru yakni (1) guru sebagai pengajar (2) guru sebagai pembimbing, (3) guru sebagai administrator kelas. Guru sebagai pengajar lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran.

Dalam tugas ini guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, di samping menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkannya. Guru sebagai pembimbing member tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya.

Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai para siswa. Sedangkan tugas sebagai administrator kelas pada hakikatnya merupakan jalinan antara ketatalaksanaan pada umumnya.

Adapun kewajiban guru dalam Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PP-RI No.30, Th.1980, Bab II, pasal 2), setiap Pegawai Negeri Sipil wajib:

(29)

a. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah,

b. Mengutamakan kepentingan Ngara di atas kepentingan golongan- golongan atau diri sendiri, serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan Negara oleh kepentingan diri sendiri, golongan, atau pihak lain,

c. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat Negara, Pemerintah, dan Pegawai Negeri Sipil,

d. Mengangkat dan Menaati sumpah atau janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah atau janji jabatan berdasarkan peraturan perundnag-undangan yang berlaku,

e. Menyimpan rahasia Negara dan atau rahasia jabatan dengan sebaik- baiknya,

f. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan Pemerintah yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum,

g. Melaksanakan tugas kedinasannya dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab,

h. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Negara,

i. Memelihara dan meningkatkan keutuhan, kekompakan, persatuan, dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil,

j. Menaati peraturan kerja

k. Menjadi teladan sebagai warganegara yang baik dalam masyarakat, l. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik , dan lain

sebagainya.

(Samana, 1994: 119-120)

Sementara itu, tugas atau kewajiban guru menurut Undang-undang No.14 Tahun 2005 pasal 20 adalah sebagai berikut:

a. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran,

(30)

b. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,

c. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, atau latar belakang keluarga dan status ekonomi peserta didik dalam pembelajaran,

d. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika, dan

e. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Kutipan Undnag-undang tersebut menunjukkan bhawa kewajiban guru pada dasarnya merupakan kegiatan yang harus dilakukan guru dalam menjalankan peran dan tugasnya di sekolah, dimana aspek pembelajaran merupakan hal yang utama yang harus dilaksanakan oleh guru, di samping pengembangan profesional sebagai pendidik guna meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik serta sebagai pihak yang cukup dominan dalam proses pembelajaran. (Uhar Suharsaputra, 2013: 200).

5. Pengembangan Kinerja Guru

Pada hakikatnya kinerja guru adalah perilaku yang dihasilkan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar ketika mengajar di depan kelas, sesuai dengan kriteria tertentu. Kinerja seseorang guru akan tampak pada situasi dan kondisi kerja sehari-hari. Kinerja dapat dilihat dalam aspek kegiatan dalam menjalankan tugas dan cara atau kualitas dalam melaksanakan kegiatan atau tugas tersebut. Kinerja guru pada dasarnya merupakan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pengajar dan pendidik di sekolah yang dapat menggambarkan mengenai prestasi kerjanya dalam melaksanakan semua itu.

Kinerja guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya di sekolah, khususnya dalam proses pembelajaran dalam konteks sekarang ini, memerlukan pengembangan dan perubahan ke arah yang lebih inovatif. Kinerja inovatif seorang guru dalam upaya mencapai proses belajar mengajar yang efektif dan

(31)

fungsional bagi kehidupan seorang siswa jelas perlu dikembangkan. Upaya untuk mengembangkan hal-hal yang inovatif mesti menjadi concern guru dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan demikian, kreativitas dan kinerja inovatif menjadi penting terlebih lagi dalam konteks globalisasi dewasa ini yang penuh dengan persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga kinerja inovatif sebagaimana dikemukakan yang di maksud kinerja inovatif guru adalah kinerja yang dalam pelaksanaannya disertai dengan penerapan hal-hal yang baru dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Ciri kinerja atau tugas-tugas yang harus dikerjakan menggambarkan ciri atau kegiatan kinerja yang harus dilaksanakan oleh guru, sedangkan inovatif merupakan sifat yang menggambarkan kualitas bagaimana guru melaksanakan tugas dengan inovatif atau dengan memanfaatkan serta mengaplikasikan hal-hal yang baru, baik berupa ide, metode maupun produk baru dalam melaksanakan pekerjaan guna mengingkatkan kualitas pendidikan atau pembelajaran.

a. Guru dalam Proses Pembelajaran

Tabel.2.2 Model Elementer Proses Belajar Mengajar (Sumber Abin Syamsuddin Makmun, 2001: 155)

Gambar di atas menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran atau pendidikan terdapat tiga hal yang dilakukan oleh guru, yaitu: menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pengajaran atau mengajar, dan melakukan evaluasi atas hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

GURU U Mengajar

SISWA Belajar TUJUAN

Rencana Evaluasi

(32)

Menurut Muji Hariani dan Noeng Mujahir (1980:4-7) terdapat sejumlah kinerja (performance) guru atau staf pengajar dalam melaksanakan proses belajar mengajar, yang terpopuler di antara model-model tersebut di antaranya adalah

“Model Rob Norris, Model Oregon dan Model Standford”. Ketiganya terkenal dengan sebutan Standford Teacher of Appraisal Competence (STAC). Berikut ini akan dikemukakan secara singkat deskripsi ketiga model tersebut:

1) Model Rob Norris

Pada model ini ada beberapa komponen kemampuan mengajar yang perlu dimiliki oleh seorang staf pengajar atau guru yakni (a) kualitas- kualitas personal dan professional (b) persiapan pengajaran (c) perumusan tujuan pengajaran (d) penampilan guru dalam mengajar di kelas (e) penaampilan siswa dalam belajar dan (f) evaluasi

2) Model Oregon

Menurut model ini kemampuan mengajar dikelompokkan menjadi lima bagian (a) perencanaan dan persiapan mengajar (b) kemampuan guru dalam mengajar dan kemampuan siswa dalam belajar (c) kemampuan mengumpulkan dan menggunakan informasi hasil belajar (d) kemampuan hubungan interpersonal yang meiputi hubungan dengan siswa, supervisor, dan guru sejawat (e) kemampuan hubungan dengan tanggung jawab professional

3) Model Stanford

Model ini membagi kemampuan mengajar dalam lima komponen, tiga dari lima komponen tersebut dapat dapat diobservasi di kelas meliputi komponen tujuan, komponen guru mengajar dan komponen evaluasi.

(Syafruddin Nurdin dan Basyiruddin Usman, 2002: 91-92) b. Guru dalam Pengembangan Profesi

Pekerjaan sebagai guru merupakan pekerjaan profesional sehingga tepat untuk dikatakan sebagai suatu profesi.Sebagai suatu profesi pengembangan kemampuan dan peningkatan kompetensi merupakan hal penting yang dapat memebrikan kontribusi signifikan bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Dalam Undang-Undang No.14 tahun 2005 pasal 20 ayat

(33)

b disebutkan bahwa salah satu tugas guru adalah meningkatkan dan menegmbangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Hal ini mengandung arti bahwa kinerja guru dalam pengembangan profesi menjadi gambaranakan pelaksanaan tugas yang berorientasi ke depan sebagai dasar yang perlu untuk menghadapi berbagai tantangan perubahan sebaga akibat dari globalisasi.

6. Kompetensi Guru

Kompetensi dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Inggris competence yang berarti kecakapan dan kemampuan. Kompetensi adalah kumpulan pengetahuan, perilaku dan keterampilan yang harus dimiliki guru untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan. Kompetensi diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber belajar.

(Jejen musfah, 2011:27). Kompetensi adalah kemamampuan seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kompetensi juga diartikan sebagai kemampuan, kecakapan, dan keterampilan yang dimiliki seseorang berkenaan dengan tugas, jabatan maupun profesinya. Selain itu, kompetensi diartikan sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang dibakukan yang direfleksikan di dalam bertindak dan bertingkah laku. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompetensi pada dasarnya menyangkut kemampuan ranah (aspek) dasar manusia, yaitu ranah kognitif (intelegensi), afeksi (sikap), dan psikomotor (perilaku), dan transcendental (moral-religius). Menurut Mulyasa (2007), kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spiritual yang secara kafah membentuk kompetensi standar profesi guru yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang menddik, pengembangan pribadi dan profesionalitas.

Menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1

“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik

(34)

pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, dasar, dan menengah.”

Dalam Peraturan Kementerian Pendidikan Nasional RI Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Akademik dan Kompetensi Guru dijelaskan bahwa

“kualifikasi akademik guru SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK minimum diploma empat (D-4) atau sarjana (S1).” Dalam PMPN ini juga disebutkan bahwa “Guru harus menguasai empat kompetensi utama, yaitu pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi ini terintegrasi dalam kinerja guru.” (Jejen musfah, 2011:3-4)

Trianto (2011:21-22), pada setiap profesi setidaknya menyaratkan tiga kompetensi utama dalam tugas dan kewajibannya, yaitu kompetensi personal, sosial, dan profesional.

a) Kompetensi Personal

Kompetensi personal berkaitan langsung dengan rhomaterial personality. Artinya bahwa suatu personality profesi yang memiliki ketahanan diri (self-esteem) dalam menghadapi goncangan profesi.

Dalam ranah ini kompetensi kepribadian melingkupi kemampuan kepribadian seorang professional yang mantap, berakhlak mulia, berwibawa, dan menjadi teladan bagi lingkungan kerja dan masyarakat. Berkaitan dnegan hal tersebut sosok seorang profesional yang dikehendaki komunitas di lingkungan kerjanya, seorang professional yang berangkutan harus beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan Pancasila dan UUD 1945 serta memiliki kualifikasi sebagai tenaga profesi. Oleh karena itu, seorang profesional harus benar-benar memiliki kompetensi kepribadian yang mantap, baik sebagai hamba Tuhan maupun warga Negara yang konsisten dengan profesinya.

b) Kompetensi Sosial

Kompetensi Sosial adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan bawahan atau atasan, rekan kerja, orang tua dan masyarakat sekitar. Dalam kehidupan sosial seorang professional merupakan figure yang menjadi standar

(35)

(tolol ukur) bagi masyarakat untuk mengambil keteladanannya. Hal ini menuntut seorang professional berperan secara proposional dalam kehidupan masyarakat, sehingga ia harus memiliki kemampuan untuk hidup bermasyarakat dengan baik, dapat dilihat juga sejauh mana ia memiliki jiwa kepemimpinan baik dan sekaligus sebagai pemimpin dalam arti pemimpin nonformal di lingkungan kerja maupun sebagai anggota masyarakat.

c) Kompetensi Profesional

Kompetensi Profesional ialah kemampuan penguasaan materi bidang profesi secara luas dan dalam. Menurut Garry A. Davis dan Margaret A. Tomas dalam Trianto (2005), ciri-ciri professional antara lain: (1) memiliki kemampuan-kemampuan yang terkait dengan iklim di lingkungan tempat tugasnya seperti memiliki keterampilan interpersonal, memiliki hubungan baik dengan rekanan, menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam tugas dan lain sebagainya (2) memiliki kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen kerja, seperti memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani rekanan yang tidak punya perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan. Mampu bertanya (menguasai teknik bertanya) dan memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda dengan semua rekanan (3) memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan yang terdiri dari, mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon rekanan, mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap rekanan yang lamban dan kurang tanggap, mampu memberikan tindak lanjut terhadap sambutan rekanan yang kurang memuaskan (4) memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, yaitu mampu menerangkan skill performance secara inovatif, mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode terkini, dan mampu

(36)

memanfaatkan perencanaan secara kelompok untuk mencitakan dan mengembangkan metode dan strategi yang relevan.

Pendapat lain dikemukakan oleh Jejen Musfah (2011:30), dalam penjelasan Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional.

1) Kompetensi Pedagogis adalah kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan (b) pemahaman tentang peserta didik (c) pengembangan kurikulum atau silabus (d) perancangan pembelajaran (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis (f) evaluasi hasil belajar (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2) Kompetensi Kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang (a) berakhlak mulia (b) mantap, stabil, dan dewasa (c) arif dan bijaksana (d) menjadi teladan (e) mengevaluasi kinerja sendiri (f) mengembangkan diri dan (g) religius

3) Kompetensi Sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk (a) berkomunikasi lisan dan tulisan (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

4) Kompetensi Profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi (a) konsep, struktur dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait (d) penerapan konsep ilmuan dalam kehidupan sehari-hari dan (e) kompetensi secara pofesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

(37)

Adapun standar kompetensi guru SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK

NO Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Mata Pelajaran Kompetensi Pedagogik

1 Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual

1. Memahami karakteristik peserta didik yang berkaitan aspek fisik, intelektual, moral, sosial emosional, moral, latar belakang sosial-budaya.

2. Mengidentifikasi potensi peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu.

3. Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran yang diampu.

4. Mengidentifikasi kesulitan peserat didik usia dalam mata pelajaran yang diampu.

2 Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik

1. Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.

2. Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran yang diampu.

3 Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran atau bidang

1. Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.

2. Menentukan tujuan pembelajaran yang diampu.

(38)

pengembangan yang diampu

3. Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diampu.

4. Memiilih materi pelajaran yang diampu yang terkait dengan pengalaman belajaran dan tujuan pembelajaran.

5. Menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik peserta didik.

6. Mengembangkan indikator instrument penilaian.

4 Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik

1. Memahami prinsip-prinsip peracangan pembelajaran yang mendidik.

2. Mengembangkan komponen- komponen rancangan pembelajaran.

3. Menyusun rancangan pembelajara yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas, di laboratorium, maupun di lapangan.

4. Menggunakan media pembelajaran dan sumber belajar sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang diampu untuk mencapai tujuan pembelajaran secara utuh.

5. Mengambil keputusan transaksional dalam mata pelajaran yang diampu sesuai dengan situasi yang

(39)

berkembang.

5 Memanfaatkan teknologi informasi dan

komunikasi untuk kepentingan pembelajaran yang diampu

1. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran yang diampu.

6 Memfasilitasi

pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki

1. Menyediakan berbagai kegiatan pengembangan untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi belajar secara optimal.

2. Menyediakan berbagai kegiatan

pembelajaran untuk

mengaktualisasikan potensi peserta didik, termasuk kreativitas.

7 Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik

1. Memahami berbagai strategi berkomunikasi yang efektif, empatik dan santun baik secara lisan maupun tulisan dan atau bentuk lain.

2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang terbangun secara siklikal dari (a) penyiapan kondisi psikologis peserta didik, (b) memberikan pertanyaan atau tugas sebagai undangan kepada peserta didik untuk merespon, (c) respons peserta didik (d) reaksi guru terhadap respons peserta didik dan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

berarti dibidang keuangan daerah pada jenjang pemerintah provinsi.. SATGAS RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA IX- 5 e) Lain-lain Penerimaan yang

Berita Acara Penetapan Hasil Kualifikasi Pengadaan Jasa Konsultansi Nomor

Sepeda motor merk Krisma belum terkenal dimasyarakat luas, karena peredarannya masih terbatas dibeberapa

bermakna hukum negara (state law) tetapi hukum pemerintah (government law) yang lebih. merupakan hukum birokrasi

Pada tingkat pendapatan yang rendah, pengeluaran konsumsi umumnya dibelanjakan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok guna memenuhi kebutuhan jasmani.. Konsumsi

Dokumen ASAL adalah seperti dipaparan skrin – setiap dokumen cetakan bukan lagi dokumen kawalan PLV : Pegawai Latihan Vokasional.. PS :

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka yang menjadi fokus penelitian adalah analisis nilai-nilai budaya dalam memoar “Sokola Rimba” yang

[r]