• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ETIKA PRODUKSI DALAM BISNIS SYARIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II ETIKA PRODUKSI DALAM BISNIS SYARIAH"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

17 A. Definisi Etika Produksi Syariah

Tujuan manusia dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Yang menjadi masalah adalah kebahagiaan yang bagaimana dan bagaimana mencapainya?

salah satu cara untuk mencapainya adalah merumuskan aturan (norma), etika, moral pribadi dan masyarakat yang menentukan apa yang baik dan apa yang buruk. Jadi semua manusia diharapkan melakukan yang baik dan menghindari yang tidak baik sehingga terciptalah keteraturan yang membuat kehidupan manusia berjalan teratur dan manusia diharapkan akan merasakan kebahagiaannya.

Pernah pada masa Rasulullah SAW, orang-orang biasa memproduksi barang untuk mendapatkan kebahagiaannya dan beliau pun mendiamkan aktivitas mereka asalkan sesuai dengan cara dan sistem yang baik, karena diamnya beliau menunjukan adanya pengakuan (taqrir) beliau terhadap aktivitas berproduksi mereka. Status taqrir dan perbuatan Rasulullah SAW itu sama dengan sabda beliau, artinya sama-sama merupakan dalil syara‟.20

Oleh karena itu mencari keuntungan dalam suatu bisnis (produksi) merupakan suatu perkara yang jaiz (boleh) dan dibenarkan syara‟. Bahkan ada beberapa hadits dari Rasulullah SAW, yang menunjukan bolehnya mengambil laba hingga 100% dari modal. Misalnya, hadits yang terdapat pada riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya (IV/376), Imam Bukhari (Fathul Bari VI/632), Abu Daud (no.3384) dan Ibnu Majjah (no. 2402) dari penuturan Urwah Ibnu Ja‟d Al-Bariqi ra.

Namun demikian Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddinnya (II/72) menganjurkan perilaku ihsan dalam berbisnis sebagai sumber keberkahan, yakni mengambil keuntungan rasional yang lazim berlaku pada bisnis tersebut di tempat itu. Beliau juga menegaskan bahwa siapa pun yang qana‟ah (puas)

20Abdul Aziz, Analisis Mikro dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), 56

▸ Baca selengkapnya: pengawasan atas mutu suatu barang hasil produksi, selayaknya meliputi pengetahuan hal-hal apa saja?

(2)

dengan kadar keuntungan yang sedikit maka niscaya akan meningkatkan volume penjualannya. Selain itu dengan meningkatnya volume penjualan dengan frekuensi yang berulang-ulang (sering) maka justru akan mendapatkan keuntungan yang banyak dan akan menimbulkan berkah.21

Dalam Al-Qur‟an telah ditunjukan suatu bisnis yang mashlahat bagi manusia dan tidak akan menimbulkan madhorot bagi yang melakukannya, yaitu pada surah As-Shaaf ayat 10-12 :





























































































“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (10). (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (11).

niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar (12)”. (Q.S. Ash-Shaaf: 10-12).

Menurut penjelasan dari Tafsir Jalalain adalah (Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian) dapat dibaca tunjiikum dan tunajjiikum, yakni tanpa memakai tasydid dan dengan memakainya (dari azab yang pedih) yang menyakitkan; mereka seolah-olah menjawab, mengiyakan (10). Lalu Allah melanjutkan firman-Nya: (Yaitu kalian beriman) artinya kalian tetap beriman (kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui) bahwasanya hal ini lebih baik bagi kalian, maka kerjakanlah (11). (Niscaya Allah akan mengampuni) menjadi jawab dari syarat yang diperkirakan keberadaannya;

21Veitzal Rivai, dkk. Islamic Business and Economic Ethics, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 272- 273

(3)

lengkapnya, jika kalian mengerjakannya, niscaya Dia akan mengampuni (dosa- dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan memasukkan kalian ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn) sebagai tempat menetap. (Itulah keberuntungan yang besar) (12).22 (Q.S. Ash-Shaaf : 11-12).

Berwirausaha atau bisnis merupakan salah satu unsur penting dalam mewujudkan kebahagiaan. Hampir semua orang terlibat dalam bisnis, termasuk memberli barang atau jasa untuk bisa hidup atau setidak-tidaknya bisa hidup dengan lebih nyaman. Diseluruh dunia hampir tidak ada lagi kelompok- kelompok yang „berdikari‟, sehingga tidak membutuhkan produk atau jasa orang lain, malah bisa dikatakan makin maju suatu masyarakat maka makin besar pula ketergantungan terhadap orang lain.23

Bisnis juga merupakan suatu unsur mutlak yang harus ada dalam masyarakat modern. Bisnis tidak dapat dilepaskan sari aturan-aturan main yang selalu harus diterima dalam pergaulan sosial, termasuk juga aturan-aturan moral (norma). Namun demikian, kadang-kadang kehadiran etika dalam bidang bisnis masih diragukan, hal itu tampak dengan timbulnya kode-kode etik yang disusun oleh semakin banyak perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

Kini telah terbentuklah keyakinan yang cukup mantap bahwa bisnis tidak terlepas dari segi-segi moral, bisnis tidak hanya berurusan dengan angka penjualan (sales figures) atau adanya profit pada akhir tahun anggaran, jadi good bussines memiliki juga suatu makna moral.24

Akan tetapi dalam menjalankan suatu bisnis, seseorang tidak akan mampu menjalankannya tanpa adanya mitra bisnis karena kemitraan merupakan salah satu strategi mencari kekayaan. Dari As-Saib bin Syuraik, dia berkata: “Aku mendatangai Rasulullah SAW, lalu para sahabat menyanjungku. Rasulullah SAW kemudian bersabda: Aku lebih tahu dari pada kalian tentang dirinya (Saib). Aku berkata: Engkau benar, demi bapak dan ibuku Engkau adalah

22Jalaluddin Asy-Syuyuthi dan Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy, Tafsir Jalalain, (Tasikmalaya : Pesantren Persatuan Islam 91, 2010), Q.S[61]: 10-12

23M.Suyanto, Muhammad Business Strategy and Ethics, (Yogyakarta: Andi Offset, 2008), 182-183

24K.Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (yogyakarta: Kanisius, 2000), 376-377

(4)

mitra usahaku dan Engkau adalah sebaik-baik mitra, Engkau tidak membujuk dan tidak membantah”. (Abu Daud).25

Dari riwayat diatas perlu diketahui bahwa keagungan akhlak (etika) Rasulullah SAW diakui oleh Allah SWT, sahabat-sahabatnya serta lawan- lawannya, bahkan semua yang menghina pun pada hakikatnya sama-sama mengakuinya.26

Menyempurnakan akhlak (etika) merupakan salah satu tujuan Rasulullah SAW diutus oleh-Nya, oleh karena itu permasalahan ini di atur oleh agama.

Akan tetapi agama kerap kali dianggap sebagai pandangan hidup yang di nomor duakan setelah kehidupan duniawi karena sebagian ajarannya banyak mengulas perkara kehidupan setelah mati. karena itulah maka agama lebih sering dilihat dalam aspek sakralitas dan ritualnya dari pada ritual sosialnya yang menyentuh masyarakat. Secara historis agama telah banyak mendorong nilai-nilai emansipasi bagi pemeluknya, dimana sejarah telah mencatat bahwa agama juga menempatkan dirinya sebagai penggerak perubahan masyarakat.

Peran agama sebagai penggerak perubahan inilah yang jarang dikemukakan. Seorang sosiolog terkemuka asal Perancis, Emile Durkhem dalam Muhni (1994) mendefinisikan agama sebagai, Religion is an interdependent whole composed of beliefs and rites related to sacred things, unites adherents in a singel community known as a church. (suatu sistem yang terkait antara kepercayaan dan praktik ritual yang berkaitan dengan hal-hal kudus, yang mampu menyatukan pengikutnya menjadi satu kesatuan masyarakat dalam satu norma keagamaan).27

Dalam Al-Qur‟an surah Qashshas ayat 77 telah dijelaskan bahwa :28























































25M.Suyanto, Muhammad Bussines Strategy dan Ethics, (Yogyakarta: Andi Offset, 2008), 175

26Sofyan S.Harahap, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Salemba Empat, 2011), 70

27A.Muhtadi Ridwan, Geliat Ekonomi Islam, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), 103-106

28Abdullah Zaky Al-Kaaf, Ekonomi dalam Perspektif Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), 102- 103

(5)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Al-Qashshas: 77).

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa (Dan carilah) upayakanlah (pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kalian) berupa harta benda (kebahagiaan negeri akhirat) seumpamanya kamu menafkahkannya di jalan ketaatan kepada Allah (dan janganlah kamu melupakan) jangan kamu lupa (bagianmu dari kenikmatan duniawi) yakni hendaknya kamu beramal dengannya untuk mencapai pahala di akhirat (dan berbuat baiklah) kepada orang-orang dengan bersedekah kepada mereka (sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat) mengadakan (kerusakan di muka bumi) dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat.

(Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan) maksudnya Allah pasti akan menghukum mereka.29

Ayat ini menurut asalnya merupakan nasihat terhadap kapitalis materialistis Qarun yang hidup pada zaman Nabi Musa a.s. yang di dalamnya juga terkandung makna ibadah maupun muamalah yang pada dasarnya semuanya telah diatur di dalam Islam. Sehingga menjadi suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk memperbaiki setiap gerak-geriknya terutama dalam beretika.

Perlu diketahui bahwa etika berkaitan dengan nilai kejiwaan seseorang, hendaknya setiap pribadi muslim harus mengisinya dengan kebiasaan- kebiasaan yang positif. Etika mempunyai nilai moral yaitu suatu pandangan batin yang bersifat mendarah daging. Jadi dengan merasakan bahwa hanya dengan menghasilkan pekerjaan yang terbaik bahkan sempurna, maka nilai- nilai Islam yang diyakininya dapat diwujudkan. Karenanya etika bukan sekedar

29Jalaluddin Asy-Syuyuthi dan Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy, Tafsir Jalalain, (Tasikmalaya : Pesantren Persatuan Islam 91, 2010), Q.S[28]: 77

(6)

kepribadian atau sikap, melainkan lebih mendalam lagi yaitu berupa martabat, harga diri dan jati diri seseorang.30

Etika bersama agama berkaitan erat dengan manusia, tentang upaya pengaturan kehidupan dan perilakunya. Islam meletakan Al-Qur‟an sebagai dasar kebenaran, sedangkan filsafat barat meletakan akal sebagai dasar.

Jelas sekali bahwa antara agama dan etika tidak dapat dipisahkan, tidak ada agama yang tidak mengajarkan etika/moralitas. Kualitas keimanan (spiritualitas) seseorang ditentukan bukan saja oleh kualitas peribadatan (kualitas hubungan manusia dengan Tuhan), tetapi juga kualitas moral/etika (kualitas hubungan manusia dengan manusia lain dalam masyarakat dan dengan alam) dan dapat dikatakan bahwa nilai ibadah menjadi sia-sia tanpa dilandasi oleh nilai-nilai moral.

Akhirnya tingkat keyakinan dan kepasrahan kepada Allah SWT, tingkat/kualitas peribadatan dan tingkat/kualitas moral seseorang akan menentukan gugus/hierarki nilai kehidupan yang telah dicapai. Tujuan semua agama adalah untuk merealisasikan nilai tertinggi, yaitu hidup kekal di akhirat (agama Hindu menyebut Moksa, agama Budha menyebut Nirwana). Dari sudut pandang semua agama, pencapaian nilai-nilai kehidupan duniawi (nilai-nilai yang lebih rendah) bukan merupakan tujuan akhir, tetapi hanya merupakan tujuan sementara atau tujuan antara, dan hanya dianggap sebagai media atau alat (means) untuk mendukung pencapaian tujuan akhir (nilai tertinggi kehidupan).31

Dari uraian diatas ada persinggungan makna antara etika, moral dan norma dalam bisnis syariah maupun konvensional yang terkadang digunakan secara tumpang-tindih dan membingungkan. Untuk itu perlu ada pendefinisian sehingga jelas perbedaan antara hal-hal tersebut.

30Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islami, (Jakarta: Gema Insani, 2004), 16

31Sukrisno Agoes dan I Cenik Ardana, Etika Bisnis dan Profesi, (Jakarta: Salemba Empat, 2013), 29-30

(7)

1. Perbedaan Etika, Norma dan Moral a. Definisi Etika

Menelusuri asal usul etika tidak lepas dari asli kata ethos dalam bahasa Yunani yang berarti kebiasaan (custom) atau karakter (character). Dalam bahasa lain seperti dalam permaknaan dan kamus Webster berarti “the distinguishising character, sentiment, moral nature or guiding beliefs of a person, group or institution” (karakter istimewa, sentimen, tabiat, moral atau keyakinan yang membimbing seseorang, kelompok atau institusi).

Dalam makna yang lebih tegas Achmad Charris Zubair mendefinisikan etika secara teminologis bahwa etika merupakan studi sistematis tentang tabiat konsep nilai, baik, buruk, harus, benar, salah dan lain sebagainya dan prinsip-prinsip umum yang membenarkan kita untuk mengaplikasikannya atas apa saja. Disini etika dapat dimaknai sebagai modal dasar moralitas seseorang dan disaat bersamaan juga sebagai gurunya dalam berperilaku.32

Secara terminologis arti kata etika sangat dekat pengertiannya dengan istilah dalam Al-Qur‟an yakni al-khuluq, untuk mendeskripsikan konsep kebajikan Al-Qur‟an juga menggunakan sejumlah terminologi diantaranya khair, „adl, haq, ma‟ruf dan taqwa.

Namun yang jelas etika ini berpedoman pada pemahaman manusia menurut kemampuan rasionalnya menentukan mana yang baik dan yang buruk, dalam Islam kebenaran dan baik-buruk jelas berasal dari Allah SWT, bahkan seorang didikan komunis Presiden Vladimir Putin telah menyadari bahwa moral tidak dapat dipisahkan dari keyakinan agama.33

Karena etika berkaitan dengan nilai kejiwaan seseorang, hendaknya setiap pribadi muslim harus mengisinya dengan kebiasaan- kebiasaan yang positif dan ada semacam kerinduan untuk menunjukan

32Faisal Badroen, dkk. Etika Bisnis dalam Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), 4-5

33Sofyan S.Harahap, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Salemba Empat, 2011) 21

(8)

kepribadiannya sebagai seorang muslim dalam bentuk hasil kerja serta sikap dan perilaku yang menunju atau mengarah kepada hasil yang sempurna.

Etika juga bisa diartikan sebagai studi sistematis tentang tabiat, konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah atau sebagainya dengan prinsip-prinsip umum yang dapat diaplikasikan atas apa saja.

Sehingga etika dapat membuat seseorang menyadari bahwa apa yang tidak diperbolehkan sesungguhnya tidak baik.

Tidak hanya sadar akan yang tidak baik, tetapi dengan mempelajari etika manuisa akan paham mengapa sesuatu dilarang dan mengapa tidak. Oleh karena itu tidak mengherankan jika salah seorang mujadid Mesir yakni Imam Syahid Hasan Al-Banna menempatkan al- fahmu (pemahaman) sebagai salah satu pilar dalam menyokong amal.34

b. Definisi Moral

Moral berasal dari bahsa Latin „mos‟ (bentuk jamaknya yaitu

„mores‟) yang berarti adat dan cara hidup. Mores dalam bahasa inggris merupakan sebutan umum bagi keputusan moral, standar moral dan aturan-aturan berperilaku yang berangkat dari nilai-nilai etika.

Hal itu tidak saja dalam keputusan, standar, dan aturan-aturan aktual yang ada dalam masyarakat, tetapi juga meliputi keputusan- keputusan ideal yang dibenarkan dengan alasan yang rasional.35

34Veithzal Rivai, dkk. Islamic Business and Economic Ethics, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 277

35Faisal Badroen, dkk. Etika Bisnis dalam Islam, (Jakarta: Kencana, 2007) 6-7

(9)

Gambar 2.1 Skema Moral

Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia dipilih oleh majalah TIME sebagai Person of The Year 2007 karena dikenal sebagai pemimpin yang dapat membawa atau mengembalikan Rusia kembali kepada kejayaanya sebagai negara superpower, ketika ditanya soal peran

“keyakinan” dalam kepemimpinanya dia menjawab:

“Pertama dan paling penting, kita harus dipandu oleh akal sehat (common sense). Namun akal sehat harus didasarkan pertama-tama pada prinsip moral. Sekarang ini tidak akan mungkin memiliki moralitas yang terpisah dari nilai-nilai agama”.

Moral yang selama ini berlaku di Barat hanya didasarkan pada rasio manusia yang berakar pada pemikiran manusia tanpa diikat oleh moralitas yang berakar pada keyakinan atau agama. Itu yang membuat skandal-skandal dan berbagai kecurangan selalu saja terjadi dan dapat ditutupi atau dilepaskan oleh jerat hukum karena dapat diputarbalikan dengan kelihaian mantik atau pengacara populer.36

Misalnya ada yang mengatakan bahwa pandangan perempuan dan laki-laki memiliki pemikiran yang berbeda, secara tradisional digunakan sebagai pembenaran untuk menaklukan satu sama lain.

Aristoteles mengatakan bahwa perempuan tidak serasional lelaki, dan

36Sofyan S.Harahap, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Salemba Empat, 2011) 43-44

Etika

Pandangan Moral Persoalan Moral

Pernyataan Moral

1. Pernyataan tentang tindakan manusia 2. Pernyataan tentang

manusia sendiri.

(10)

karenanya perempuan secara alami diatur oleh lelaki, Kant menyetujuinya dengan menambahkan bahwa karena alasan ini para perempuan “kepribadiannya kurang beradab” dan tidak layak bersuara dalam kehidupan umum. Rousseau mencoba memperhalusnya dengan menekankan bahwa lelaki dan perempuan hanya berbeda dalam keutamaannya, tetapi tentu saja pada akhirnya keutamaan kaum lelakilah yang cocok untuk kepemimpinan, sementara keutamaan perempuan cocok untuk keluarga dan rumah tangga.

Dengan latar belakang seperti ini, tidaklah mengherankan jikalau pengembangan gerakan perempuan antara tahun 1960 dan 1970-an menolak sama sekali pandangan yang membedakan secara psikologis antara perempuan dan lelaki. Konsep tentang lelaki sebagai rasional dan perempuan sebagai yang emosional ditolak dan dianggap sebagai stereotip belaka. Alam tidaklah membedakan baik secara mental maupun moral antara keduanya demikian dikatakan, maka ketika tampaknya tidak ada perbedaan semacam ini, hal itu karena perempuan dikondisikan oleh suatu sistem yang menindas untuk bertindak secara “feminim”.37

c. Definisi Norma

Menurut Achmad Charris Zubaik, norma merupakan alat ukur dan standar yang mempunyai kekuatan yang dapat mengarahkan anggota kelompok, mengontrol dan mengatur perilaku-perilaku sebagaimana mestinya, yang menjadikan kaidah dan aturan bagi sebuah pertimbangan dan penilaian.

Norma juga sering diartikan sebagai aturan-aturan yang disepakati bersama dengan ketentuan-ketentuan serta konsekuensi bagi yang melanggarnya dengan tujuan teciptanya kebahagiaan.

Fuad Farid Ismail dan Abdul Hamid Mutawalli merumuskan nilai sebagai standar atau ukuran (norma) yang kita gunakan untuk mengukur segala sesuatu. Selanjutnya dikatakan bahwa ada

37James Rachels, Filsafat Moral, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 285-286

(11)

bermacam-macam hukum nilai sesuai dengan jenis-jenis nilai tersebut, juga sesuai dengan beragamnya perhatian kita mengenai segala sesuatu. Ada nilai materialis yang berkaitan dengan ukuran harta pada diri kita, ada nilai kesehatan yang mengungkapkan tentang signifikansi dalam pandangan kita, ada nilai ideal yang mengungkapkan tentang kedudukan keadilan dan kesetiaan dalam hati kita serta ada nilai-nilai sosiologis yang menunjukan signifikansi kesuksesan dalam kehidupan praktis dan nilai-nilai lain.38

Jadi ringkasannya bahwa norma adalah nilai yang menjadi milik bersama, tertanam, dan disepakati semua pihak dalam masyarakat yang berangkat dari nilai baik, cantik atau berguna yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan kemudian menghadirkan ukuran atau norma, yang artinya norma bermula dari penilaian.39

Gambar 2.2 Skema Norma 2. Definisi Produksi

Istilah produksi sering digunakan dalam term membuat sesuatu. Secara khusus produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah suatu barang atau jasa. Dalam istilah yang lebih luas dan fundamental, produksi dapat diartikan sebagai pengubahan bahan-bahan dari sumber-sumber menjadi hasil yang diinginkan oleh konsumen, hasil itu dapat berupa

38Sukrisno Agoes dan I Cenik Ardana, Etika Bisnis dan Profesi, (Jakarta: Salemba Empat, 2009), 28

39Faisal Badroen, dkk. Etika Bisnis dalam Islam, (Jakarta: Kencana, 2007)7-8

Norma

Moral

Penilaian

(12)

barang atau jasa, jadi produksi adalah setiap usaha untuk menaikan atau menimbulkan faedah.40

Dalam literatur lain dijelaskan bahwa produksi berarti menghasilkan barang atau jasa. Menurut ilmu ekonomi, pengertian produksi adalah kegiatan menghasilkan barang maupun jasa atau kegiatan menambah nilai kegunaan atau manfaat suatu barang.41

Produksi dalam istilah konvensional adalah mengubah sumber-sumber dasar kedalam barang jadi, atau proses dimana input diolah menjadi output. Dalam istilah ini kebanyakan mengaitkannya dengan konsep efisiensi ekonomis, yaitu usaha yang meminimalkan biaya produksi dari beberapa tingkat output selama periode yang dibutuhkan. Efisiensi dalam proses produksi tergantung pada proporsi dari berbagai jenis input yaitu tenaga kerja, bahan dasar dan produktivitas masing-masing tenaga kerja.

Bagaimana dengan pemahaman produksi dalam ajaran Islam, Islam mendorong para pemeluknya untuk berproduksi dan menekuni aktivitas ekonomi dalam segala bentuknya seperti pertanian, peternakan, industri, perdagangan dan sebagainya. Islam memandang setiap amal perbuatan yang menghasilkan benda atau kekayaan yang bermanfaat bagi manusia atau yang memperindah kehidupan mereka dan menjadikannya lebih makamur dan sejahtera. Bahkan Islam memberkati perbuatan duniawi ini dan memberi nilai tambah sebagai nilai ibadah kepada Allah SWT dan berjuang di jalan-Nya.

Dengan bekerja, setiap individu dapat memenuhi hajatnya hidup dirinya, hajat hidup keluarganya, berbuat baik kepada kerabatnya, bahkan dapat memberikan pertolongan kepada masyarakat disekitarnya. Hal ini merupakan keutamaan-keutamaan yang dihargai oleh agama dan tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan harta. Sementara itu, tidak ada jalan untuk mendapatkan harta kecuali dengan berproduksi atau bekerja. Oleh karena

40Abdul Aziz, Analisis Mikro dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), 56

41Eko Suprayitno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam,(Yogyakarta: UIN-Malang Press, 2008), 157

(13)

itu, tidaklah mengherankan dalam Al-Qur‟an terdapat nash-nash yang mengajak berproduksi dan bekerja.

Pemahaman produksi dalam Islam memiliki arti bentuk usaha keras dalam pengembangan faktor-faktor sumber yang diperbolehkan secara syariah dan melipatgandakan pendapatan dengan tujuan kesejahteraan masyarakat, menopang eksistensi serta meninggikan derajat manusia.

Pemahaman ini juga terkait dengan efisiensi produksi, namun tidaklah sebagaimana dalam konsep konvensional yang terkait meminimalisasi input biaya termasuk input tenaga kerja. Efisiensi dalam produksi Islam lebih dikaitkan dengan penggunaan prinsip produk yang dibenarkan syariah. Dengan kata lain efisiensi produksi terjadi jika menggunakan prinsip-prinsip produksi sesuai syariah Islam.42

3. Definisi Syariah

Menurut Fuad Farid Ismail dan Abdul Hamid Mutawilli menjelaskan bahwa syariah adalah satu bentuk ketetapan Ilahi yang mengarahkan mereka yang berakal dengan pilihan mereka sendiri terhadap ketetapan Ilahi tersebut kepada kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.

Sedangkan menurut Abdul Kadir Muhammad memberikan dua rumusan syariah, pertama menyangkut hubungan antara manusia dengan suatu kekuasaan luar yang lain dan lebih dari pada apa yang dialami oleh manusia, dan kedua apa yang disyariatkan Allah SWT dengan perantara para Nabi-Nya, berupa perintah dan larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan di akhirat.43

Secara harfiah kata “syariah” berarti jalan, dan lebih khusus lagi jalan menuju ke tempat air. Dalam pemakaian religiusnya, syariah berarti jalan yang digariskan Allah SWT menuju kepada keselamatan atau lebih tepatnya jalan menuju Allah SWT. Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi

42Lukman Hakim, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, (Jakarta: Erlangga, 2012), 64-65

43Sukrisno Agoes dan I Cenik Ardana, Etika Bisnis dan Profesi, (Jakarta: Salemba Empat, 2009), 25

(14)

Muhammad SAW disebut syariah karena merupakan jalan menuju Allah SWT dan menuju keselamatan abadi.

Syariah digunakan dalam arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas, syariah dimaksudkan sebagai keseluruhan ajaran dan norma-norma yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang mengatur kehidupan manusia baik dalam aspek kepercayaannya maupun dalam aspek tingkah laku praktisnya. Singkatnya syariah adalah ajaran-ajaran agama Islam itu sendiri, yang dibedakan menjadi dua aspek ajaran tentang kepercayaan (akidah) dan ajaran tentang tingkah laku (amaliah). Dalam hal ini, syariah dalam arti luas identik dengan syara‟ (asy-syar) dan ad-din (agama Islam).

Dalam arti sempit, syariah merujuk kepada aspek praktis (amaliah) dalam arti luas, yaitu aspek yang berupa kumpulan ajaran atau norma yang mengatur tingkah laku konkret manusia. Syariah dalam arti sempit inilah yang lazimnya diidentikan dan diterjemahkan sebagai hukum Islam.

Hanya saja, syariah dalam arti sempit tidak saja meliputi norma hukum itu sendiri, tetapi juga norma etika atau kesusilaan, norma sosial dan norma keagamaan (seperti ibadah) yang diajarkan Islam.44

Syariah juga bisa didefinisikan sebagai ketentuan-ketentuan Allah SWT yang menjadi sarana dan sistem khalifah fil ardh dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dari penjelasan tersebut Yusuf Al-Qardhawi memasukan model ijtihad istishlahi di dalam syariah.

Ijtihad istishlahi yaitu suatu bentuk ijtihad untuk menemukan hukum yang didasarkan pada kemaslahatan yang tidak disebutkan secara tegas dalam nash. Faktor-faktor yang dimaksud antaranya adalah kajian terhadap pengetahuan modern dan ilmu-ilmunya, perubahan sosial politik dan tuntutan zaman serta kebutuhannya. Demikianlah sikap Al-Qardhawi dalam melihat berbagai ijtihad yang muncul pada era modern ini.45

Banyak pemikiran-pemikiran tentang etika produksi diantaranya sebagai bekal seseorang untuk berbuat the right thing yang didasari oleh ilmu,

44Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah, (Jakarta: Rajawali Press, 2010), 4-5

45Ahmad Rajafi, Masa Depan Hukum Bisnis Islam di Indonesia, (Yogyakarta: LKIS, 2013), 38

(15)

kesadaran dan kondisi yang berbasis moralitas, namun terkadang etika produksi dapat berarti juga etika manajerial (management ethics) atau etika organisasional yang disepakati oleh sebuah perusahaan.

Sedangkan etika dalam pemikiran islam dimasukan dalam filsafat praktis (al-hikmah al-amaliyah) bersama politik dan ekonomi. Berbicara tentang bagaimana seharusnya etika dengan moral, etika adalah nilai baik dan buruk dari perbuatan manusia (akhlak) sedangkan etika adalah ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk (ilm al-akhlak). Dalam filsafat, etika sering disamakan dengan Filsafat Moral.

Selain itu, etika produksi juga dapat diartikan sebagai pemikiran atau refleksi tentang perbuatan baik, buruk, terpuji, tercela, benar, salah, wajar, tidak wajar, pantas, tidak pantas dari perilaku seseorang dalam membuat produk atau produsen.46

Jadi, etika produksi syariah adalah seperangkat nilai tentang baik, buruk, benar dan salah dalam dunia produksi berdasarkan pada prinsip-prinsip moralitas yang telah diatur dalam Al-Qur‟an dan Hadits. Dalam arti lain etika produksi syariah berarti seperangkat prinsip dan norma dimana para produsen harus sungguh-sungguh padanya dalam bertransaksi, berperilaku dan berelasi guna mencapai manfaat atas produk yang dihasilkannya dengan selamat dunia maupun akhirat.

B. Etika Produksi Dalam Bisnis Syariah

Istilah produksi sering digunakan dalam term membuat sesuatu. Secara khusus produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah suatu barang atau jasa. Dalam istilah yang lebih luas dan lebih fundamental, produksi dapat diartikan sebagai pengubahan bahan-bahan dari sumber-sumber menjadi hasil yang diinginkan oleh konsumen. Hasil itu dapat berupa barang atau jasa.

Jadi, produksi adalah setiap usaha untuk menaikkan atau menimbulkan faedah.47

46Faisal Badroen, dkk. Etika Bisnis dalam Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), 15

47Abdul Aziz, Analisis Mikro dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), 56

(16)

Kegiatan produksi berarti membuat nilai manfaat atas suatu barang atau jasa, produksi dalam hal ini tidak diartikan dengan membentuk fisik saja, sehingga kegiatan produksi mempunyai fungsi menciptakan barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam waktu, harga dan jumlah yang tepat. Oleh karena itu, dalam proses produksi biasanya perusahaan menekankan agar produk yang dihasilkan mengeluarkan biaya yang murah, melalui pendayagunaan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan, didukung dengan inovasi dan kreativitas untuk menghasilkan barang dan jasa tersebut, misalnya berproduksi dengan cara tradisional, tetapi sekarang dengan pemanfaatan teknologi yang tepat guna.48

Jika kegiatan produksi ini berstandar dunia, maka harus berdasarkan standar dunia yang diakui misalnya ISO 9000 tentang peningkatan kualitas produksi ataupun ISO 14000 tentang peningkatan pola produksi berwawasan lingkungan, membangun pabrik atau perusahaan yang ramah lingkungan (go green) dengan sasaran pada keselamatan kerja, kesehatan dan lingkungan yang maksimal dengan limbah nol.

Langkah-langkah yang dimaksud adalah berdasarkan kode etik yang mencangkup tanggung jawab dan akuntabilitas korporasi yang diawasi ketat oleh asosiasi-asosiasi perusahaan dan masyarakat umum. Hukum harus dijadikan sarana pencegahan bagi pelaku bisnis, maksudnya perilaku pelaku bisnis yang dapat membahayakan masyarakat dalam memproduksi barang dan jasa harus dijerat dengan norma-norma hukum yang berlaku sehingga masyarakat umum tidak dirugikan dan pemerintah juga ikut membina pelaku- pelaku bisnis di Indonesia agar memiliki moral dan etika bisnis yang baik sehingga diharapkan dapat bermanfaat.49

1. Tujuan Produksi

Tujuan produksi menurut perspektif fiqh ekonomi khalifah Umar bin Khattab adalah sebagai berikut :50

48Ahmad Qadri, Etika Bisnis dalam Al-Qur‟an, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), 63

49Agus Arijanto, Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), 52

50Lukman Hakim, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, (Bandung: Erlangga, 2012), 70-72

(17)

a. Merealisasikan keuntungan seoptimal mungkin

Maksud tujuan ini berbeda dengan pemahaman ahli kapitalis yang berusaha meraih keuntungan sebesar mungkin, tetapi ketika berproduksi memerhatikan realisasi keuntungan dalam arti tidak sekedar berproduksi rutin atau asal berproduksi. Sebagaimana dalam suatu riwayat dari Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abi Dunya bahwa Umar pernah berpesan kepada para pedagang agar beralih dari aktivitas yang tidak merealisasikan keuntungan. Kata beliau. “Barang siapa yang memperdagangkan sesuatu sebanyak tiga kali, namun tidak mendapatkan sesuatu pun didalamnya, maka hendaklah beralih darinya kepada yang lainnya”.

b. Merealisasikan kecukupan individu dan keluarga

Seorang muslim wajib melakukan aktivitas yang dapat merealisasikan kecukupannya dan kecukupan orang yang menjadi kewajiban nafkahnya. Sebagaimana dalam suatu kisah ketika Umar menikahkan putranya yang bernama Ashim, beliau memberikan bantuan nafkah kepadanya selama sebulan, kemudian dicabutnya dan kemudian diperintahkan untuk melakukan aktivitas yang akan membantu dalam menafkahi dirinya dan keluarganya, seraya berkata kepadanya, “Aku telah membuatmu dari buah-buahan kebunku di Al- Aliyah, maka pergilah kamu dan petiklah dia, lalu kamu jual.

Kemudian kamu berdirilah disamping seseorang pedagang di kaummu. Jika dia menjual, berserikatlah dengannya, lalu hasilnya kamu jadikan nafkah untuk dirimu dan keluargamu”.

c. Tidak mengandalkan orang lain

Umar r.a. tidak membolehkan seseorang yang mampu bekerja untuk menadahkan tangannya kepada orang lain dengan meminta- minta dan menyerukan kaum muslimin untuk bersandar kepada diri mereka sendiri, tidak mengharap apa yang ada ditangan orang lain.51 Beliau berkata, “Hendaklah kamu melepaskan apa yang ada ditangan

51Herimanto dan Winarno, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), 47

(18)

manusia, sebab tidaklah sesorang melepaskan dari sesuatu yang ditangan manusia melainkan tercukupkan darinya dan hindarilah ketamakan, karena sesungguhnya tamak adalah kemiskinan”.

d. Melindungi harta dan mengembangkannya

Harta memiliki peranan besar dalam Islam, sebab dengan harta, dunia dan agama tidak bisa ditegakkan. Tanpa harta, sesorang tidak akan istiqomah dalam agamanya dan tidak tenang dalam kehidupannya. Dalam fiqh ekonomi Umar r.a. terdapat banyak riwayat yang menjelaskan urgensi harta dan juga harta yang sangat banyak dibutuhkan untuk penegakkan berbagai masalah dunia dan agama.

Sebab, di dunia harta adalah sebagai kemuliaan dan kehormatan, serta lebih melindungi agama seseorang. Di dalamnya terdapat kebaikan bagi sesorang dan menyambung silaturrahmi dengan orang lain.

Karena itu Umar r.a. menyerukan kepada manusia untuk memelihara harta dan mengembangkannya dengan mengeksplorasinya dalam kegiatan-kegiatan produksi.

Umar r.a. mengatakan. “Niagakanlah harta anak yati, jangan sampai dia termakan oleh zakat”. Dan beliau berpendapat, bahwa harta yang sedikit akan tetap ada bila dipelihara dan dikembangkan, sedangkan harta yang banyak akan jabis jika tidak dikembangkan.

Beliau mengatakan, “Wahai manusia, perbaikilah hartamu yang telah dikaruniakan oleh Allah Ta‟ala kepadamu. Sebab sedikit dalam kehati-hatian lebih baik dari pada banyak dalam kecerobohan”.

e. Mengeksplorasi sumber-sumber ekonomi dan mempersiapkannya untuk dimanfaatkan

Sesunggunhnya Allah Ta‟ala telah mempersiapkan bagi manusia di dunia ini banyak sumber ekonomi, namun pada umumnya tidak memenuhi hajat insani bila dieksplorasi oleh manusia dalam kegiatan produksi yang mempersiapkannya agar layak dimanfaatkan52, hal itu

52Ulber Silalahi, Asas-Asas Manajemen, (Bandung: Refika Aditama, 2013), 261

(19)

telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam banyak ayat Al-Qur‟an, seperti firman-Nya dalam surah Al-Mulk ayat 15 :































“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Q.S. Al-Mulk (67) : 15).

Dalam tafsir jalalain diterangkan bahwa (Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian) mudah untuk dipakai berjalan di atas permukaannya (maka berjalanlah di segala penjurunya) pada semua arahnya (dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya) yang sengajadiciptakan buat kalian. (Dan hanya kepada-Nyalah kalian dibangkitkan) dari kubur untuk mendapatkan pembalasan.53

Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk bekerja di segala penjuru bumi untuk dimanfaatkan sebagian dari rezeki yang dikaruniakan-Nya di bumi ini. Dimana rezeki yang diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi ini lebih luas dari pada yang terbesit dalam benak kita tentang kata rezeki itu sendiri. Rezeki bukan hanya harta yang didapatkan sesorang ditangannya untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangannya, namun mencakup segala sesuatu yang dititipkan oleh Allah Ta‟ala di muka bumi ini berupa jalan dan kandungan rezeki itu.

f. Pembebasan dari belenggu ketergantungan ekonomi

Produksi merupakan sarana terpenting dalam merealisasikan kemandirian ekonomi. Bangsa yang memproduksi kebutuhan- kebutuhannya adalah bangsa yang mandiri dan terbebas dari belenggu ketergantungan ekonomi bangsa lain. Sedangkan bangsa yang hanya

53Jalaluddin Asy-Syuyuthi dan Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy, Tafsir Jalalain, (Tasikmalaya : Pesantren Persatuan Islam 91, 2010), Q.S[67]: 15

(20)

mengandalkan konsumsi akan selalu menjadi tawanan belenggu ekonomi bangsa lain. Sesungguhnya kemandirian politik dan peradaban suatu bangsa tidak akan sempurna tanpa kemandirian ekonomi.54

g. Taqarrub kepada Allah SWT

Bahwa seorang produsen muslim akan meraih pahala dari sisi Allah SWT disebabkan aktivitas produksinya, baik bertujuan untuk memperoleh keuntungan, meralisasikan kemapanan, melindungi harta dan mengembangkannya, atau tujuan lain selama ia menjadikan aktivitasnya tersebut sebagai sarana pertolongan dalam menaati Allah SWT. Dalam suatu riwayat Umar r.a. berkata, “Wahai kaum muslimin, demi Allah, sungguh bila aku mati diantara dua kaki untaku di kala aku mencari hartaku di muka bumi dari sebagian karunia Allah, adalah lebih aku sukai dari pada aku mati di atas tempat tidurku”. Dalam peristiwa lain beliau berkata, “Wahai manusia, perbaikilah penghidupanmu, sebab di dalamnya terdapat kebaikan bagimu dan menyambungkan silaturahmi kepada selain kamu”.

(Riwayat Abi Ad-Dunya).

Jadi, tujuan produksi dalam ekonomi Islam bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas per unit barang atau jasa dalam rangka memperoleh keuntungan (laba) atau jumlah keseluruhan produksi melainkan bahwa tujuan produksi adalah untuk membantu pengadaan barang atau jasa yang dibutuhkan dan diperlukan oleh umat agar bisa dimanfaatkan dengan baik serta mendapatkan keuntungan yang baik lagi halal. Intinya ridha Allah dan syukur atas nikmat-Nya adalah asas dalam melaksanakan produksi guna melaksanakan anjuran-Nya untuk ber- fastabiqul khairaat fil khair wal hasanah.55

54Moeheriono, Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Rajawali Press, 2012), 301

55AbdulAziz, Analisis Mikro dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), 63

(21)

2. Faktor-Faktor Produksi

Kegiatan produksi tentunya memerlukan unsur-unsur yang dapat digunakan dalam proses produksi yang disebut faktor produksi yang bisa digunakan dalam proses produksi adalah sebagai berikut :56

a. Faktor Produksi Alam Kekayaan alam meliputi :

1) Tanah dan keadaan iklim 2) Kekayaan hutan

3) Kekayaan dibawah tanah (tanah pertambangan)

4) Kekayaan air, sebagai tenaga penggerak, untuk pengangkutan, sebagai bahan sumber bahan makanan (perikanan), sebagai sumber pengairan, dan lainnya.57 Keadaan alam, khusus tanah dipengaruhi oleh : luas tanah, mutu tanah dan keadaan iklim. Sumber-sumber alam merupakan dasar untuk kegiatan disektor pertanian, kehewanan, perikanan dan sektor pertambangan. Sektor-sektor itu lazim disebut produksi primer (industri pabrik dipandang sebagai produksi sekunder).

Semua itu adalah untuk perhiasan dunia dan sebagai bekal untuk kelangsungan hidup manusia di dunia. Secara hakiki manusia dituntut untuk bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, oleh karena itu manusia diberi kemampuan untuk mengolah semua yang ada di alam serta harus membuktikan rasa syukur untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur‟an surah Al-Kahfi ayat 7 :58

























56Eko Suprayitno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), 161-165

57AbdulAziz, Analisis Mikro dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), 57

58Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islami, (Jakarta: Gema Insani, 2002), 25

(22)

“Sesungguhnya kami Telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Q.S.Al-Kahfi : 7).

Dalam tafasir jalalin diterangkan bahwa (Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi) berupa hewan, tumbuh-tumbuhan, pepohonan, sungai-sungai dan lain sebagainya (sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka) supaya Kami menguji manusia, seraya memperhatikan dalam hal ini (siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya) di dunia ini; yang dimaksud adalah siapakah yang lebih berzuhud/menjauhi keduniaan.59

b. Tenaga Kerja (Sumber Daya Manusia)

Tenaga adalah usaha jasmani atau rohani untuk memuaskan suatu kebutuhan dengan tujuan lain dari pada kesenangan yang diperoleh dari usaha tadi. Misalnya main bola untuk kesenangan sport bukan merupakan tenaga, akan tetapi kalau main bola itu untuk mencari penghidupan (profs) maka main bola itu merupakan tenaga dalam arti kata ekonomi.60

Yang termasuk tenaga kerja yaitu semua yang bersedia dan sanggup bekerja. Golongan ini meliputi yang bekerja untuk kepentingan sendiri, baik anggota keluarga yang tidak menerima bayaran berupa uang maupun mereka yang bekerja untuk gaji dan upah. Juga yang menganggur, tetapi yang sebenarnya bersedia dan mampu untuk bekerja. Berikut penggolongan tenaga kerja berdasarkan umur tenaga kerja dan tingkatannya (kualitasnya) :61

1) Berdasarkan umur tenaga kerja, dibagi menjadi tiga yaitu : a) Penduduk dibawah usia kerja (dibawah 15 tahun) b) Golongan antara 15-64 tahun

59Jalaluddin Asy-Syuyuthi dan Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy, Tafsir Jalalain, (Tasikmalaya : Pesantren Persatuan Islam 91, 2010), Q.S[18]: 7

60AbdulAziz, Analisis Mikro dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), 56

61Eko Suprayitno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), 162-163

(23)

c) Golongan yang sebenarnya sudah melebihi umur kerja, diatas 65 tahun.

2) Berdasarkan tingkatannya (kualitasnya), terbagi menjadi tiga yaitu :

a) Tenaga kerja terdidik (skilled labour), adalah tenaga kerja yang memperoleh pendidikan baik formal maupun non- formal. Seperti guru, dokter, pengacara, akuntan, psikologi dan peneliti.

b) Tenaga kerja terlatih (trained labour), adalah tenaga kerja yang memperoleh keahlian berdasarkan latihan dan pengalaman. Seperti montir, tukang kayu, tukang ukit, sopir dan teknisi.

c) Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih (unskilled and untrained labour), adalah tenaga kerja yang mengandalkan kekuatan jasmani dari pada rohani. Seperti tenaga kuli pikul, tukang sapu, pemulung dan buruh tani.

Islam mendorong setiap muslim untuk selalu berkerja keras serta bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga dan kemampuannya dalam bekerja. Dorongan utama seorang muslim dalam bekerja adalah bahwa aktivitas kerjanya itu dalam pandangan Islam merupakan bagian dari ibadah, karena hasil yang diperoleh seorang muslim dari kerja kerasnya dinilai sebagai penghasilan yang mulia. Tidaklah di antara kamu makan suatu makanan lebih baik dari pada memakan dari hasil keringatnya sendiri.

Oleh karena itu seorang muslim dalam menjalankan setiap pekerjaan haruslah bersungguh-sungguh dan penuh semangat. Dengan kata lain harus dengan himmatul „amal (etos kerja) yang tinggi, karena

(24)

seorang muslim adalah seorang pekerja lebih (smart worker), mempunyai disiplin yang tinggi, produktif dan inovatif.62

c. Modal

Modal berlainan dengan tanah dan air, karena modal merupakan derived faktor, karena terjadi pada kerjasama antara tenaga dan alam.

Modal ialah setiap hasil yang digunakan untuk produksi lebih lanjut.

Oleh sebab itu barang-barang konsumsi dan pemberian alas seperti tanah tidak termasuk faktor produksi modal.63

Dalam Islam selalu menganjurkan apapun sebagai modal yang menjadi sumber kehidupan manusia di dunia, karena materi bisa menjadi skala prioritas dan menjadi perhatian untuk mencapai kehidupan di akhirat kelak.64

Modal menurut pengertian ekonomi adalah barang atau hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lebih lanjut.

Misalkan orang membuat jala untuk mencari ikan. Dalam hal ini jala merupakan barang modal, karena jala merupakan hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lain (ikan). Di dalam proses produksi, modal dapat berupa peralatan-peralatan dan bahan-bahan.

Menurut pengertian lainnya, modal yaitu barang-barang yang dihasilkan untuk dipergunakan selanjutnya dalam produksi barang- barang lain. Barang-barang modal terutama terdiri atas peralatan yang sangat berguna dalam proses produksi. Peralatan tersebut meliputi : mesin-mesin, alat-alat besar, gedung-gedung dan sebagainya. Setiap waktu ada persediaan barang-barang yang ditanam di gudang-gudang atau toko-toko dan sudah siap dijual. Semua bahan-bahan mentah dan barang-barang selesai yang ada dalam persediaan tadi disebut stok

62Jusmaliani, Bisnis Berbasis Syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), 79-80

63AbdulAziz, Analisis Mikro dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), 57

64Sofyan S.Harahap, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Salemba Empat, 2011), 82

(25)

(investory). Modal dapat dibedakan menurut kegunaan dalam proses produksi dan bentuk modal tersebut, yaitu :65

1) Kegunaan dalam proses produksi

a) Modal tetap adalah barang-barang modal yang dapat digunakan berkali-kali dalam proses produksi. Seperti gedung dan mesin-mesin pabrik.

b) Modal lancar adalah barang-barang modal yang habis sekali pakai dalam proses produksi. Seperti bahan baku, bahan sampingan atau bahan pembantu.

2) Bentuk modal

a) Modal konkret (nyata) adalah modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses produksi. Seperti mesin, bahan baku dan gedung pabrik.

b) Modal abstrak (tidak nyata) adalah modal yang tidak dapat dilihat tetapi mempunyai nilai dalam perusahaan. Seperti nama baik perusahaan dan merk produk.

d. Pengelolaan (manajerial)

Pengusaha berperan mengatur dan mengkombinasikan faktor- faktor produksi dalam rangka meningkatkan kegunaan barang atau jasa secara efektif atau efisien.66 Tugas pengelolaan adalah untuk mengatur ketiga faktor produksi diatas untuk kerja sama dalam proses produksi. Peranan pengelolaan (skill), yaitu memimpin usaha-usaha yang bersangkutan, mengatur organisasinya dan menaikan mutu tenaga manusia untuk mempergunakan unsur-unsur modal dan alam dengan sebaik-baiknya.67

Dalam penjabarannya, seorang manajerial yang bercirikan Islami memiliki kesadaran bahwa setiap transaksi yang dilakukannya sama

65Eko Suprayitno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), 163-164

66Ulber Silalahi, Asas-Asas Manajemen, (Bandung: Refika Aditama, 2013), 38

67Ulber Silalahi, Asas-Asas Manajemen, (Bandung: Refika Aditama, 2013), 312

(26)

sekali tidak pernah terlepas dari niat dan semangat ibadah dalam rangka mencari ridha Allah SWT.68

Beberapa pengertian skill meliputi :69

1) Managerial skills atau entrepreneurial skills

Skill ini bermaksud kemampuan untuk mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya.

2) Technological skills atau technical skill

Skill ini berhubungan dengan keahlian yang khusus bersifat ekonomis teknis yang diperlukan untuk kegiatan ekonomi dan produksi.

3) Organizational skills

Skill ini dimaksudkan keceradasan untuk mengatur berbagai usaha. Hal ini berkaitan dengan hal-hal didalam lingkungan sebuah perusahaan (hal-hal intern dari perusahaan) maupun dengan kegiatan-kegiatan didalam rangka masyarakat seperti usaha menyusun koperasi, bank-bank dan lainnya.

3. Penetapan Harga

Harga merupakan hal yang terpenting dalam sebuah bisnis, barang yang dijual harus ditentukan harganya sehingga seluruh pihak akan memperoleh keuntungan dari pemberian harga yang pas, dari mulai karyawan, pemilik bisnis sampai para pemegang saham juga mendapatkan hasil yang memuaskan karena strategi penetapan harga yang pas.

Menurut Alex S.Nitisemito, harga diartikan sebagai nilai suatu barang atau jasa yang diukur dengan sejumlah uang berdasarkan nilai tersebut seseorang atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimiliki kepada pihak lain.

Adapun faktor harga dalam memproduksi barang/jasa bagi muslim yang dimasukan oleh Ibnu Khaldun dalam rencana-rencana ekonomi, ia memandang mengetahui peluang, menciptakan barang produksi ataupun

68Jusmaliani, Bisnis Berbasis Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 83

69Eko Suprayitno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), 165

(27)

pengetahuan masalah harga jual dan beli itu termasuk ke dalam rencana- rencana ekonomi. Apalagi dalam perjuangan ekonomi modern sekarang ini, bukanlah keringat tubuh manusia yang menjadi titik puncak dalam berbisnis, akan tetapi kepandaian dan ilmu pengetahuan perekonomianlah yang bisa menjadikan seseorang sukses dengan bisnisnya terutama mengetahui tentang strategi penentuan harga yang sesuai.70

Berikut beberapa macam strategi penentuan harga yang dapat mempengaruhi psikologi konsumen, yaitu :71

a. Prestige Pricing atau Harga Prestis

Strategi harga Prestige Pricing adalah menetapkan harga yang tinggi demi membentuk image kualitas produk yang tinggi yang umumnya dipakai untuk produk shopping dan speciality. Contoh roll royce, rolex, guess, gianni versace, prada, vertu dan lain sebagainya.

b. Odd Pricing atau Harga Ganjil

Strategi harga Odd Pricing adalah menetapkan harga ganjil atau sedikit dibawah harga yang telah ditentukan dengan tujuan secara psikologis pembeli akan mengira produk yang akan dibeli lebih murah. Contoh barang yang tadinya dihargai Rp.100.000,- diubah menjadi Rp.99.990,- dimana konsumen mungkin akan melihat Rp.99.990,- lebih murah dari pada Rp.100.000,-.

c. Multiple-Unit Pricing atau Harga Rabat

Strategi harga Multiple-Unit Pricing adalah memberikan potongan harga tertentu apabila konsumen membeli produk dalam jumlah yang banyak. contoh jika harga sebungkus indomie goreng pedas adalah Rp.1.500,- maka konsumen cukup membayar Rp.1.000,- perbungkus apabila membeli satu dus isi 40 bungkus indomie.

d. Lining Pricingatau Harga Lini

Strategi harga Lining Pricing adalah memberikan cakupan harga yang berbeda pada lini produk yang berbeda. Contoh bioskop 21

70Abdullah Zaky Al-Kaaf, Ekonomi dalam Perspektif Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), 82

71E. Jerome McCarthy dan William D. Perreault Jr., Dasar-Dasar Pemasaran, (Jakarta: Erlangga, 1993), 353

(28)

memberikan harga standar untuk konsumen bioskop jenis standar dan mengenakan harga yang lebih mahal pada konsumen bioskop 21 jenis premier.

e. Leader Pricing atau Pemimpin Harga

Strategi harga Leader Pricing adalah menetapkan harga lebih rendah dari pada harga pasar atau harga normal untuk meningkatkan omset penjualan atau pembeli. Contoh biasanya ritel jenis hipermarket memberikan promosi harga yang lebih murah dari pada harga normal.

4. Proyeksi penentuan keuntungan (laba)

Ijtihad Yusuf Al-Qaradawi mengenai profit atau keuntungan, bahwasanya Islam tidak membolehkan pengikut-pengikutnya untuk berbisnis (mendapatkan profit) sesuka hatinya dan dengan jalan apa saja yang dikehendaki, tetapi Islam memberi garis pemisah antara mana yang dibolehkan dan mana yang tidak. Garis pemisah ini berdiri diatas landasan kulli (menyeluruh) yang menyatakan bahwa semua jalan untuk berbisnis yang tidak menghasilkan manfaat (profit) kecuali dengan jalan menjatuhkan orang lain adalah tidak dibenarkan.72

Ada beberapa ketentuan dalam menentukan keuntungan (laba),73 yaitu : a. Menghitung harga pokok penjualan (HPP) atau modal pokok

Cara menghitung modal pokok penjualan merupakan hal pertama yang harus dilakukan untuk mengetahui keuntungan usaha selanjutnya. Contoh menggunakan harga pokok penjualan burger dengan resep ala krusty krab adalah sebesar Rp.1.400,-

b. Menentukan harga jual

Menentukan harga jual tergantung pada keinginan pemilik dan segmentasi pasarnya. Contoh kali ini harga jual ditentukan dari harga umum yang ada di pasaran, harga pasaran untuk burger adalah Rp.6.000,-

c. Menghitung keuntungan kotor

72Ahmad Rajafi, Masa Depan Hukum Bisnis Islam di Indonesia, (Yogyakarta: LKIS, 2013), 44

73E. Jerome McCarthy dan William D. Perreault Jr., Dasar-Dasar Pemasaran, (Jakarta: Erlangga, 1993), 371

(29)

Keuntungan kotor adalah hasil keuntungan dari perhitungan penjualan dikurangi modal pokok akan tetapi belum dikurangi biaya operasional. Contoh :

keuntungan burger/buah = Rp.6.000 – Rp.1.600 = Rp.4.600,-/buah bila sehari-hari dapat menjual 50 buah berger, berapa keuntungan kotor yang didapat setiap hari dan setiap bulannya?

Keuntungan burger 50 buah/hari adalah Rp.4.600 x 50 = Rp.230.000/hari

Sedangkan keuntungan burger rata-rata/bulan adalah Rp.230.000 x 30 = Rp.6.900.000,-.

d. Menghitung total biaya operasional

Biaya operasional usaha adalah biaya-biaya lain yang dibutuhkan untuk usaha selain bahan baku, biaya operasional contohnya antara lain :

1) Biaya bahan bakar (gas) = Rp. 34.000,- 2) Biaya upah kerja = Rp.500.000,- 3) Biaya transportasi = Rp.150.000,- 4) Biaya kerusakan atau tidak terjual = Rp. 42.000,- Total biaya operasional = Rp.726.000,- e. Menghitung keuntungan bersih

Keuntungan bersih adalah hasil dari keuntungan yang sudah dikurangi seluruh biaya operasional. Cara perhitungannya adalah : Keuntungan bersih = total keuntungan kotor/bulan-total biaya operasional setiap bulan.

Contoh dengan keuntungan kotor Rp.6.900.000,- setiap bulan dikurangi biaya operasional setiap bulannya adalah Rp.726.000,- maka hasilnya keuntungan bersihnya sebesar Rp.6.174.000,-.

f. Alokasi hasil keuntungan bersih

Keuntungan bersih memang mutlak menjadi hak pemilik usaha, tapi akan lebih baik jika hasil keuntungan bersih juga ada

(30)

pengelolaannya sehingga usaha kita akan terasa lebih sehat, akan tetapi kita sendiri yang berhak menentukannya.

Pertimbangannya bila semakin besar presentase pengambilan modal investasi, maka usaha akan lebih cepat balik modal. Perkecil presentase kebutuhan konsumtif diawal usaha karena presentase untuk konsumtif bisa lebih besar ketika pengembalian modal investasi sudah selesai. Berikut adalah tips-tips presentse untuk alokasi hasil keuntungan bersih usaha ;

1) Untuk pengembalian modal investasi = 30-50%

2) Untuk penyusutan alat = 10-20%

3) Untuk pengembangan usaha = 10-20%

4) Untuk kebutuhan konsumtif = 10-15%

5. Ditribusi pendapatan

Distribusi menjadi posisi penting dari teori ekonomi Islam karena pembahasan distribusi bukan saja berkaitan dengan aspek ekonomi tetapi juga aspek sosial dan aspek politik. Sedangkan pendapatan diartikan sebagai suatu aliran uang atau daya beli yang dihasilkan dari penggunaan sumber daya properti manusia.

Dalam Al-Qur‟an banyak dijelaskan bahwa Islam mengatur distribusi kekayaan termasuk pendapatan kepada semua masyarakat dan tidak menjadi komoditas diantara golongan orang kaya saja. Selain itu untuk mencapai pemerataan pendapatan kepada masyarakat secara obyektif, Islam menekankan perlunya membagi kepada masyarakat melalui kewajiban membayar zakat, mengelurakan infaq serta adanya hukum waris dan wasiat. Aturan ini diberlakukan agar tidak terjadi konsetrasi harta pada sebagian kecil golongan saja. Hal ini berarti pula agar tidak terjadi monopoli dan mendukung distribusi kekayaan serta memberikan latihan moral tentang pembelanjaan harta secara benar.

(31)

a. Zakat

Zakat merupakan pungutan atau pajak wajib yang dikumpulkan oleh negara Islam dari si kaya dan di distribusikan atau dikeluarkan kepada si miskin.

Selain memiliki arti penting religius, zakat memainkan peranan amat penting dalam kehidupan sosial-ekonomi kaum muslimin. Zakat adalah batu penjuru bagi struktural finansial agama Islam. Zakat tidak hanya memberi dana yang diperlukan oleh negara Islam bagi kegiatan-kegiatan kesejahteraannya disektor-sektor seperti pendidikan, kesehatan dan lainnya, melainkan juga memungkinkannya memenuhi semua kewajibannya dalam hubungannya dengan warganya yang fakir dan miskin.

Zakat juga dapat mencegah terjadinya konsentrasi kekuatan ekonomi di tangan sedikit orang serta menjamin distribusi kekayaan yang lebih adil dan merata. Zakat mengawasi tumbuhnya ketimpangan sosial dan menjembatani celah antara si kaya dan si miskin. Jadi, aspek distributifnya membawa keadilan sosial ke dalam masyarakat dan melindungi masyarakat itu dari revolusi berdarah dan pergolakan politik yang pada umumnya memang merupakan akibat dari semakin melebarnya celah anatara mereka.74

b. Infaq dan Sedakah

Jika zakat dan sedekah wajib lainnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kelompok miskin, maka negara dapat memungut pajak atau mendorong kaum kaya untuk menyumbang secara sukarela dan dengan baik hati untuk menghapus kemiskinan dan kebutuhan.

Sedekah sukarela yang dilakukan untuk mencapai ridha Allah di pahalai di dunia ini dan di akhirat nanti. Ini juga membantu mengalirkan kekayaan dari si kaya di dalam masyarakat kepada kaum

74Muhammad Sharif Chaudury, Prinsip Dasar Sistem Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana, 2012), 85

(32)

miskin dan mereka yang memerlukan. Demikianlah tujuan keadilan distributif dan sosial yang dicapai melalui sedekah sukarela ini.75 C. Volume Penjualan

Kemajuan suatu perusahaan atau suatu usaha merupakan suatu yang sangat luar biasa yang diperoleh perusahaan atau usaha tersebut. Adanya pemilihan promosi yang tepat dan diversifikasi produk saat siklus produk merupakan merupakan hal yang sangat krusial untuk menentukan maju atau mundurnya suatu usaha. Tidak lepas dari itu semua, tingkat penjualan yang terjadi merupakan titik kunci atau indikator suatu perusahaan dapat bertahan atau tidaknya dalam dunia usaha.

Menurut Basu penjualan dapat diartikan sebagai “Ilmu dan seni yang mempengaruhi pribadi yang dilakukan oleh penjualan untuk mengajak orang lain agar membeli barang atau jasa yang ditawarkan”.

Menurut Shandy mengatakan bahwa “Menjual merupakan aktivitas atau kegiatan yang dapat menguntungkan apabila rencana atau bagian dari menjual tersebut sudah menjadi aksi”.

Penjualan merupakan tujuan utama dilakukannya kegiatan suatu usaha dalam menghasilkan barang atau jasa dan mempunyai tujuan akhir yaitu menjual barang atau jasa tersebut kepada masyarakat. Oleh karena itu, penjualan memegang peranan penting bagi perusahaan agar produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut dapat terjual dan memberikan penghasilan bagi perusahaan. Penjualan yang dilakukan oleh perusahaan bertujuan untuk menjual barang atau jasa yang diperlukan sebagai sumber pendapatan untuk menutup semua ongkos guna memperoleh laba.76

Kegiatan penjualan merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan oleh perusahaan dengan memasarkan produknya baik berupa barang atau jasa.

Kegiatan penjualan yang dilaksanakan oleh perusahaan bertujuan untuk

75Muhammad Sharif Chaudury, Prinsip Dasar Sistem Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana, 2012), 102

76Veithzal Rivai, dkk., Islamic Business and Economic Ethics, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 274- 275

(33)

mencapai volume penjualan yang diharapkan dan menguntungkan untuk mencapai laba maksimum bagi perusahaan.

Berikut ini pengertian volume penjualan yang dikemukakan oleh Rangkuti, bahwa volume penjualan adalah pencapaian yang dinyatakan secara kualitatif maupun kuantitatif dari segi fisik atau volume atau unit suatu produk.

Volume penjualan merupakan suatu yang menandakan naik turunnya penjualan dan dapat dinyatakan dalam bentuk unit, kilo,ton atau liter.

Volume penjualan merupakan jumlah total yang dihasilkan dari kegiatan penjualan barang, semakin besar jumlah penjualan yang dihasilkan perusahaan, semakin besar kemungkinan laba yabg akan dihasilkan perusahaan. Oleh karena itu, volume penjualan merupakan salah satu hal penting yang harus dievaluasi untuk kemungkinan perusahaan agar tidak rugi. Jadi volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan utama perusahaan dan bukannya untuk kepentingan volume penjualan itu sendiri.

Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa volume penjualan adalah total penjualan yang dinilai dengan unit oleh perusahaan dalam periode tertentu untuk mencapai laba yang maksimal sehingga dapat menunjang pertumbuhan perusahaan.

Terdapat beberapa indikator dari volume penjualan yang dikutip dari Phillip Kotler,77 yaitu :

1. Target penjualan

Dalam menentukan target penjualan, ekonom muslim berorientasi pada jangka panjang, maksudnya seorang muslim yang mempunyai sebuah paradigma berpikir yang didasarkan pada ajaran Islam yang melihat bahwa target penjualan dapat menjangkau makna yang lebih luas, tidak hanya pencapaian aspek yang bersifat materi keduniaan/profit, tetapi sampai menembus batas cakrawala yang bersifat rohani keakhiratan/manfaat.78

Faktor utama yang menjadi peranan penting untuk diketahui sebelum menentukan target penjualan adalah sebagai berikut :

77M.Nur Rianto Al-Arif dan Euis Amalia, Teori Mikro Ekonomi, (Jakarta: Kencana, 2010), 197

78Veithzal Rivai, dkk., Islamic Business and Economic Ethics, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 280

Referensi

Dokumen terkait

Dalam proses produksi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan tema school bullying ini copywriter terfokus pada beberapa hal yang menjadi point penting, seperti penggunaan setiap kata

Suatu penelitian yang pernah dilakukan oleh Boyatzis (1999:20) dan Chermiss (1998:91) terhadap beberapa subjek penelitian dalam beberapa perusahaan maka hasil yang didapat

Berdasarkan atas penyebab ketimpangan regional dan tingkat ketimpangan pendapatan antar wilayah dari tahun ke tahun cenderung melebar maka dapat diambil suatu kerangkan

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang karena kehendak-Nya, penulis dapat mengerjakan laporan Tugas Akhir ini dengan judul “Rancang Bangun Papan Skor Bulu Tangkis

Menurut penelitian Maulida (2005) dengan hasil uji Kruskal wallis menunjukkan bahwa penambahan tepung tulang ikan madidihang memberikan pengaruh yang nyata

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah- Nya penelitian ini dapat terselesaikan dengan judul” Analisis Pengaruh Citra Toko terhadap Keputusan

Grafik berikut konsisten dengan model data SKOS walau string yang sama digunakan sebagai notasi dan label preferred (Semantic Web Deployment Working Group,

Karena narkotika termasuk dalam suatu kejahatan yang serius dan terbilang cukup sulit pengungkapannya, Maka penggunaan teknik pembelian terselubung dan penyerahan di bawah