RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah : SMA Negeri 8 Tanjung Jabung Barat Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : XII MIPA/ 1
Materi Pokok : Pola-pola Hereditas pada Makhluk Hidup Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
A. Kompetensi Inti
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku a. jujur, b. disiplin, c. santun, d. peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), e. bertanggung jawab, f. responsif, dan g. pro-aktif, dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional.
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang a. ilmu pengetahuan, b.
teknologi, c. seni, d. budaya, dan e. humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara: a. efektif, b. kreatif, c. produktif, d. kritis, e. mandiri, f. kolaboratif, g. komunikatif, dan h. solutif, dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah keilmuan.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
3.5 Menerapkan prinsip pewarisan sifat makhluk hidup berdasarkan hukum Mendel
IPK:
1. Mengonsepkan hasil persilangan yang berbeda dari hasil persilangan Mendel II dalam pewarisan sifat makhluk hidup
4.5 Menyajikan hasil penerapan hukum Mandel dalam perhitungan peluang dari persilangan makhluk hidup di bidang pertanian dan peternakan
IPK:
1. Mengumpulkan data tentang hasil percobaan hukum Mendel II dalam bidang pertanian dan peternakan
2. Menyajikan hasil pengamatan tentang hasil percobaan hukum mendel II dalam bidang pertanian dan peternakan
C. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan pembelajaran dengan model Discovery Learning, peserta didik dapat menerapkan prinsip hukum Mendel II dan memahami konsep Kriptomeri, Atavisme, Epistasis dan Hipostasis di bidang pertanian dan peternakan dengan menunjukan sikap disiplin, santun, percaya diri, bekerja sama, peduli, bertanggung jawab, dan proaktif.
D. Materi Pembelajaran
Faktual : Fenotip dan genotip dalam pewarisan sifat
Konseptual : Mendel II serta penyimpangan Semu Hukum Mendel Prosedural : Percobaan Hukum Mendel II
E. Metode Pembelajaran Pendekatan : Saintifik
Model : Discovery Learning
Metode : Tanya jawab, diskusi, ceramah terbimbing dan ekperimen F. Media/Alat dan Bahan Pembelajaran
Media : gambar persilangan monohibrid dan dihibrid Alat dan bahan : LCD, Proyektor, kancing genetika G. Sumber Belajar
Faidah Rahmawati, dkk, Biologi SMA kelas XII Program IPA puast perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Hal:
https://biologicasman1nusa.files.wordpress.com/2009/12/mod-genetika-vol-4- penyimpangan.pdf
H. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1 (2 x 45 Menit)
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi
waktu (menit) Pendahuluan - Guru mengucapkan Salam, berdoa dan menyanyikan
lagu wajib nasional
- Guru mengecek kehadiran peserta didik dan memberikan motivasi
- Mengkondisikan kesiapan peserta didik (Guru membagi peserta didik menjadi 6 kelompok) - Penyampaian tujuan dan manfaat pembelajaran
Apersepsi:
Guru memberikan pertanyaan :
“Apakah kesimpulan Mendel tentang Persilangan Dihibrid?
Motivasi:
Guru memberikan gambar yang berkaitan dengan penyimpangan semu hukum Mendel
10 Menit
Inti Stimulation (stimulasi/Pemberian rangsangan) 70
- Mengamati gambar yang berkaitan dengan penyimpangan hukum Mendel
Peserta didik dimotivasi dengan pertanyaan:
“ Bagaimana pendapat kamu tentang gambar tersebut? Mengapa jengger ayam tersebut
berbeda?bagaimana denga persilangan Mendel?
Problem statemen (pertanyaaan/identifikasi masalah) Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar
Data collection (penggumpulan data)
Pada tahap ini peserta didik mengumpulkan
informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang terdapat dalam lembar kerja peserta didik Data processing (penggumpulan data)
Pada tahap ini peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi dan mengolah data pada lembar kerja kelompok masing-masing
Verification (pembuktian)
Pada tahap ini salah satu kelompok mengkomunikasikan hasil diskusi kelompoknya, memverifikasi hasil pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber, dan di diskusikan Bersama kelompok lain (guru memberikan apresiasi kepada kelompok yang berani tampil)
Generalization (menarik kesimpulan)
Pada tahap ini peserta didik menyimpulkan tentang penyimpangan Semu Hukum Mendel diantaranya atavisme (interaksi gen), kriptomeri, epistasis dan hipostasis serta polimeri
1. Penutup Guru membimbing peserta didik untuk melakukan:
Menyimpulkan kembali hasil kerja tentang penyimpangan Semu Hukum Mendel diantaranya
10 Menit
atavisme (interaksi gen), kriptomeri, epistasis dan hipostasis serta polimeri
Refleksi , dengan bantuan guru, peserta didik
melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang mereka lakukan
Guru menyampaikan rencana pertemuan yang akan datang yaitu genetika
Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan mengajak peserta didik untuk bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah dan salam.
Penilaian Proses dan Hasil Belajar
Lampiran Pendukung
- Lampiran Materi Pembelajaran - Lampiran penilaian
- Lampiran LKPD
Kuala Tungkal, Juli 2022
Mengetahui Guru Mata Pelajaran Biologi
Plt. Kepala SMA Negeri 8 Tanjab Barat
EFFI RUBIYANTO, S.Pd., M.Si EFFI RUBIYANTO, S.Pd., M.Si NIP. 197007161996011001 NIP. 197007161996011001
No Aspek No.
IPK
IPK Teknik
Penilaian
Bentuk Penilaian 1. Pengetah
uan
3.4.5 Mengonsepkan hasil persilangan yang berbeda dari hasil persilangan Mendel II dalam pewaarisan sifat makhluk hidup
Tes tertulis PG
2. Keteramp ilan
4.4.1 Mengumpulkan data tentang hasil percobaan hukum Mendel I dan Mendel II dalam bidang pertanian dan peternakan
portofolio rubrik
4.4.2 Menyusun laporan tentang hasil percobaan hukum mendel I dalam bidang pertanian dan peternakan
portofolio rubrik
4.4.3 Menyajikan hasil pengamatan tentang hasil percobaan hukum mendel I dalam bidang pertanian dan peternakan
portofolio rubrik
Lampiran I
MATERI PEMBELAJARAN
Masalah penurunan sifat atau hereditas mendapat perhatian banyak peneliti. Peneliti yang paling popular adalah Gregor Johann Mendel yang lahir tahun 1822 di Cekoslovakia.
Pada tahun 1842, Mendel mulai mengadakan penelitian dan meletakkan dasar-dasar hereditas. Ilmuwan dan biarawan ini menemukan prinsipprinsip dasar pewarisan melalui percobaan yang dikendalikan dengan cermat dalam pembiakan silang.
Penelitian Mendel menghasilkan hukum Mendel I dan II. Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat beda, dengan tujuan mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi berikutnya.
Persilangan ini untuk membuktikan hukum Mendel I yang menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukkan sel gamet dapat memisah secara bebas.
Hukum Mendel I disebut juga dengan hukum segregasi.
Mendel melanjutkan persilangan dengan menyilangkan tanaman dengan dua sifat beda, misalnya warna bunga dan ukuran tanaman. Persilangan dihibrid juga merupakan bukti berlakunya hukum Mendel II berupa pengelompokkan gen secara bebas saat pembentukkan gamet. Persilangan dengan dua sifat beda yang lain juga memiliki perbandingan fenotip F2 sama, yaitu 9 : 3 : 3 : 1.
Berdasarkan penjelasan pada persilangan monohibrid dan dihibrid tampak adanya hubungan antara jumlah sifat beda, macam gamet, genotip, dan fenotip beserta perbandingannya. Persilangan monohibrid yang menghasilkan keturunan dengan perbandingan F2, yaitu 1 : 2 : 1 merupakan bukti berlakunya hukum Mendel I yang dikenal dengan nama Hukum Pemisahan Gen yang Sealel (The Law of Segregation of Allelic Genes).
Sedangkan persilangan dihibrid yang menghasilkan keturunan dengan perbandingan F2, yaitu 9 : 3 : 3 : 1 merupakan bukti berlakunya Hukum Mendel II yang disebut Hukum Pengelompokkan Gen secara Bebas (The Law Independent Assortment of Genes).
Dengan mengikuti secara saksama hasil percobaan Mendel, 3 baik pada persilangan monohibrid maupun dihibrid maka secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa gen itu diwariskan dari induk atau orang tua kepada keturunannya melalui gamet. Persilangan monohibrida adalah persilangan sederhana yang hanya memperhatikan satu sifat atau tanda beda. Sedangkan persilangan dihibrida merupakan perkawinan dua individu dengan dua tanda beda. Persilangan ini dapat membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. kenyataannya, seringkali terjadi penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot letal dan sebagainya
Alel/gen dominan dan resesif pada orang tua (1, P), anak (2, F1) dan cucu (3, F2) menurut Mendel. Hukum Pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya “Percobaan
mengenai Persilangan Tanaman”. Hukum ini terdiri dari dua bagian: 1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan 2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Hukum Segregasi (Hukum Mendel I)
Perbandingan antara B (warna coklat), b (warna putih), S (buntut pendek), dan s (buntut panjang) pada generasi F2. Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya. Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar di sebelah), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak secara visual dari luar).
Alel resesif (s atau b) yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.
Hukum Asortasi Bebas (Hukum Mendel II)
Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyaidua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak saling mempengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan e.g. tinggi tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling mempengaruhi. Seperti nampak pada Gambar 1, induk jantan (tingkat 1) mempunyai genotipe ww (secara fenotipe
berwarna putih), dan induk betina mempunyai genotipe RR (secara fenotipe berwarna merah). Keturunan pertama (tingkat 2 pada gambar) merupakan persilangan dari genotipe induk jantan dan induk betinanya, sehingga membentuk 4 individu baru (semuanya bergenotipe wR).
Selanjutnya, persilangan/perkawinan dari keturuan pertama ini akan membentuk indidividu pada keturunan berikutnya (tingkat 3 pada gambar) dengan gamet R dan w pada sisi kiri (induk jantan tingkat 2) dan gamet R dan w pada baris atas (induk betina tingkat 2). Kombinasi gamet-gamet ini akan membentuk 4 kemungkinan individu seperti nampak pada papan catur pada tingkat 3 dengan genotipe: RR, Rw, Rw, dan ww. Jadi pada tingkat 3 ini perbandingan genotipe RR , (berwarna merah) Rw (juga berwarna merah) dan ww(berwarna putih) adalah 1:2:1. Secara fenotipe perbandingan individu merah dan individu putih adalah 3:1. Kalau contoh pada Gambar 1 merupakan kombinasi dari induk dengan satu sifat dominan (berupa warna), maka contoh ke-2 menggambarkan induk-induk dengan 2 macam sifat dominan: bentuk buntut dan warna kulit.
Persilangan dari induk dengan satu sifat dominan disebut monohibrid, sedang persilangan dari indukinduk dengan dua sifat dominan dikenal sebagai dihibrid, dan seterusnya. Pada Gambar 2, sifat dominannya adalah bentuk buntut (pendek dengan genotipe SS dan panjang dengan genotipe ss) serta warna kulit (putih dengan genotipe bb dan coklat dengan genotipe BB).
Gamet induk jantan yang terbentuk adalah Sb danSb, sementara gamet induk betinanya adalah sB dan sB (nampak pada huruf di bawah kotak). Kombinasi gamet ini akan membentuk 4 individu pada tingkat F1 dengan genotipe SsBb (semua sama). Jika keturunan F1 ini kemudian dikawinkan lagi, maka akan membentuk individu keturunan F2. Gamet F1nya nampak pada sisi kiri dan baris atas pada papan catur. Hasil individu yang terbentuk pada tingkat F2 mempunyai 16 macam kemungkinan dengan 2 bentuk buntut: pendek (jika 6 genotipenya SS atau Ss) dan panjang (jika genotipenya ss); dan 2 macam warna kulit: coklat (jika genotipenya BB atau Bb) dan putih (jika genotipenya bb).
Perbandingan hasil warna coklat:putih adalah 12:4, sedang perbandingan hasil bentuk buntut pendek:panjang adalah 12:4. Perbandingan detail mengenai genotiipe SSBB:SSBb:SsBB:SsBb: SSbb:Ssbb:ssBB:ssBb: ssbb adalah 1:2:2:4: 1:2:1:2: 1.
Penyimpangan Semu Hukum Mendell
Dalam percobaan-percobaan genetika, para ahli sering menemukan ratio fenotip yang ganjil, seakan-akan tidak mengikuti hukum Mendel. Misalnya pada perkawinan antara 2 individu dg 2 sifat beda, ternyata ratio fenotip F2 tidak selalu 9:3:3:1. Tetapi sering dijumpai perbandingan-perbandingan 9:7, 12:3:1, 15:1, 9:3:4 dll. Bila diteliti betul- betul angka-angka perbandingan di atas, ternyata juga merupakan penggabungan angka- angka perbandingan Mendel. 9:7 = 9:(3+3+1), 12:3:1 = (9+3):3:1, 15:1 = (9+3+3):1, 9:3:4
= 9:3:(3+1). Oleh sebab itu disebut penyimpangan semu, karena masih mengikuti hukum Mendel.
1. Epistasis dan Hipostasis
Merupakan peristiwa dimana 2 faktor yang bukan pasangan alelanya dapat mempengaruhi bagian yang sama dari suatu organisme. Epistasis = sifat yang menutupi Epistasis dominan = bila faktor yang menutupi adalah gen dominan • Epistasis resesif
= bila faktor yang menutupi adalah gen resesif Hipostasis = sifat yang ditutupi Epistasis resesif Peristiwa epistasis resesif terjadi apabila suatu gen resesif menutupi ekspresi gen lain yang bukan alelnya. Akibat peristiwa ini, pada generasi F2 akan diperoleh perbandingan fenotipe 9 : 3 : 4.
Epistasis dan Hipostasis Adalah peristiwa dimana 2 faktor yang bukan pasangan alelanya dapat mempengaruhi bagian yang sama dari suatu organisme.
Epistasis = sifat yang menutupi • Epistasis dominan = bila faktor yang menutupi adalah gen dominan • Epistasis resesif = bila faktor yang menutupi adalah gen resesif Hipostasis = sifat yang ditutupi Epistasis resesif Peristiwa epistasis resesif terjadi apabila suatu gen resesif menutupi ekspresi gen lain yang bukan alelnya. Akibat peristiwa ini, pada generasi F2 akan diperoleh perbandingan fenotipe 9 : 3 : 4.
2. Interaksi Gen
Penyimpangan semu ini terjadi karena adanya 2 pasang gen atau lebih saling mempengaruhi dalam memberikan fenotip pada suatu individu. Peristiwa pengaruh mempengaruhi antara 2 pasang gen atau lebih disebut Interaksi Gen. Selain mengalami berbagai modifikasi perbandingan fenotipe karena adanya peristiwa aksi gen tertentu, terdapat pula penyimpangan semu terhadap hukum Mendel yang tidak melibatkan modifikasi perbandingan fenotipe, tetapi menimbulkan fenotipe-fenotipe yang merupakan hasil kerja sama atau interaksi dua pasang gen nonalelik. Peristiwa semacam ini dinamakan interaksi gen.
Peristiwa interaksi gen pertama kali dilaporkan oleh W. Bateson dan R.C.
Punnet setelah mereka mengamati pola pewarisan bentuk jengger ayam. Dalam hal ini terdapat empat macam bentuk jengger ayam, yaitu mawar, kacang, walnut, dan tunggal.
3. Kriptomeri
Peristiwa dimana suatu faktor dominan baru nampak pengaruhnya bila bertemu dg faktor dominan lain yang bukan alelanya. Faktor dominan ini seolah-olah sembunyi (kriptos) Contoh : Misalnya Linaria maroccana biru (AaBb) disilangkan dg Linaria maroccana merah (Aabb), sedangkan gen A adalah untuk antosianin dan gen B untuk sifat basa. Jika 2 gen dominan A dan B maka berwarna biru 1 gen dominan A maka berwarna merah 1 gen dominan B atau A dan B tidak ada maka berwarna putih
LAMPIRAN 3
PENILAIAN PENGETAHUAN KISI-KISI SOAL
KD/IPK Materi Kelas/
Semester
Indikator Butir Soal
Level Kognitif
Bentuk Soal
Nomor Soal 3.5 Menerapkan
prinsip
pewarisan sifat makhluk hidup berdasarkan hukum Mendel
IPK
1. Menentukan fenotip dan genotip hasil persilangan hukum Mendel I dan Mendel II
Hukum Mendel I dan
Mendel II XII/1
Disajikan pernyataan tentang persilangan dihibrid peserta didik dapat menentukan fenotip dan genotip dari hasil persilangan
C3 uraian 1
2. Menggunakan hukum Mendel I dan Hukum Mendel II dalam
pewarisan sifat makhluk hidup
Hukum Mendel I dan Mendel II
XII/1
Disajikan pernyataan tentang persilangan dihibrid peserta didik dapat menentukan perbandingan fenotip dan genotip dari hasil persilangan
C3 uraian
2
3. Mengonsepka n hasil persilangan yang berbeda dari hasil persilangan Mendel II dalam pewaarisan sifat makhluk hidup
Penyimpanga n Semu hukum Mendel
XII/1
Disajikan pernyataan tentang persilangan atavisme peserta didik dapat menentukan perbandinmgan yang
menyimpang dari mendel II
C3 uraian 3
KARTU SOAL Kartu Soal 1
Kartu Soal (PG) Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : XII/I
KD : 3.5 Menerapkan prinsip pewarisan sifat makhluk hidup berdasarkan hukum Mendel
IPK: Menentukan fenotip dan genotip hasil persilangan hukum Mendel I dan Mendel II Materi: Hukum Mendel I dan Mendel II
Level Kognitif : C4
Soal : Disilangkan buah mangga dengan bentuk bulat rasa manis (BBMM) dengan buah mangga yang memiliki bentuk kisut dan rasa manis (bbMm). Tentukanlah fenotip dan genotip hasil persilangannya?
Jawaban:
Fenotip : Bulat Manis x Kisut Manis (BBMM) (bbMm) Gamet BM bM dan bm Hasil Persilangan : BbMM (bulat manis)
BbMm (bulat Manis)
Kesimpulan: dihasilkan keturunan buanh mangga yang 100% bentuk bulat rasa manis (skor 10)
Kartu Soal (Uraian) Kartu Soal 2
Mata Pelajaran : Biologi Kelas/Semester : XII MIPA/I
KD : 3.5 Menerapkan prinsip pewarisan sifat makhluk hidup berdasarkan hukum Mendel IPK : Menggunakan hukum Mendel I dan Hukum Mendel II dalam pewarisan sifat makhluk
hidup
Materi : Hukum Mendel I dan Mendel II
Soal: Persilangan antara tikus jantan berbulu hitam lurus (HHLL) dengan tikus betina berbulu putih berombak (hhll) menghasilkan keturunan tikus jantan (F1) berbulu hitam lurus (HhLl). Apabila F1 disilangkan dengan induknya yang jantan akan diperoleh keturunan dengan perbandingan fenotip…
Jawab: fenotip : bulu hitam lurus X bulu putih berombak Genotip : HHLL (hhll)
F1 : bulu hitam lurus (HhLl) X hitam lurus (HHLL)
Gamet : HL, Hl, hL, hl HL
Hasil: HHLL (hitam lurus), HHLl (hitam lurus), HhLL (hitam lurus), HhLl (hitam lurus) jadi, semua keturunan hitam lurus (Skor
LAMPIRAN 3
LEMBAR KERJA SISWA (LKS) A. JUDUL : Penyimpangan Semu Hukum Mendel
B. Kompetensi Dasar : 3.5 Menerapkan prinsip pewarisan sifat makhluk hidup berdasarkan hukum Mendel
C. TujuanPercobaan
Setelah melakukan percobaan ini, peserta didik diharapakan:
1. Membuktikan penyimpangan semu Hukum Mendel; Kriptomeri, epistasis dan hipostasis
D. LandasanTeori
Penyimpangan Semu Hukum Mendel (Kriptomeri, Polimeri, Epistasis dan Hipostasis) - Nisbah genotip maupun fenotip yang dihasilkan oleh Mendel akan terpenuhi jika setiap sifat hanya ditentukan oleh alel dalam satu lokus. Alel dalam setiap lokus bersegregasi bebas dengan lokus lain, dan gen-gen terdapat pada inti.
Pada kasus-kasus tertentu, perbandingan fenotip 9 : 3 : 3 : 1 tidak dipenuhi, tetapi menghasilkan perbandingan fenotip yang berbeda, misalnya 9 : 3 : 4, 15 : 1, atau 12 : 3 : 1. Munculnya perbandingan yang tidak sesuai ini disebut penyimpangan semu hukum Mendel.
1. Kriptomeri
Kriptomeri merupakan interaksi komplementasi yang terjadi, karena munculnya hasil ekspresi suatu gen yang memerlukan kehadiran alel tertentu pada lokus lain. Contoh interaksi komplementasi ini, terjadi pada proses pembentukan warna bunga Linaria maroccana. Warna bunga ditentukan oleh kandungan antosianin dan keadaan pH sel. Kandungan antosianin pada bunga ditentukan oleh satu gen yang mempunyai dua alel dominan resesif (Misal A dan a).
Tanaman akan mengandung antosianin apabila mempunyai alel dominan A.
Gen pada lokus lain dapat menghasilkan senyawa yang menyebabkan sel berlingkungan asam atau basa. Lingkungan asam basa sel ini dikendalikan oleh sepasang alel dominan resesif pula (misalnya alel B dan b). Alel dominan B menyebabkan sitoplasma bersifat basa, sedangkan alel resesif b membuat sitoplasma bersifat asam.
Pada bunga Linaria maroccana terdapat tiga warna bunga yaitu merah, putih, dan ungu. Jika bunga Linaria maroccana berbunga merah galur murni disilangkan dengan bunga putih galur murni, maka akan diperoleh F1 yang semuanya berbunga ungu. Jika sesama F1 disilangkan, maka akan menghasilkan fenotip dengan perbandingan bunga ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4. Dari hasil penyilangan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
a. Fenotip warna bunga ungu memiliki pigmen antosianin dalam lingkungan basa dengan genotip A-B-.
b. Fenotip warna bunga merah memiliki pigmen antosianin dalam lingkungan asam dengan genotip A-bb.
c. Fenotip warna bunga putih tidak memiliki pigmen antosianin dengan genotip aabb.
E. Alat dan Bahan
1. Baling-baling genetika 2. Alat tulis
F. Prosedur Kerja
1. Buatlah sepasang baling-baling genetika. Berilah di bagian ujung kayu-kayunya kode, tandai dengan potongan kertas dan di tulis dengan spidol, kode-kodenya yakni, “AB”, “Ab”, “aB”, dan “ab”.
2. Pertemukanlah kedua ujung bagian kayu dengan kode sama (“AB” bertemu dengan “AB”) setelah itu putar secara bersamaan
3. Hentikan secara acak baling-baling tersebut, lalu catat di kertas yang sudah disiapkan
4. Ulangi langkah ketiga sebanyak Sembilan puluh lima (95) kali. Pastikan hasil dicatat dengan baik di atas kertas secara rapid an tersusun.
5. Setelah mendapat hasilnya secara keseluruhan. Masukkan hasil percobaan dalam tabel yang sudah dibuat sebelumnya
6. Tentukan perbandingan genotype dan fenotipenya
7. Siapkan 12 buah kancing genetika warna merah (dilambangkan dengan “M”).
kemudian letakkan pada toples A
8. Siapkan 12 buah kancing genetika warna putih (dilambangkan dengan ‘m”), kemudian letakkan pada kotak B
9. Ambil satu kancing dari kotak A dan satu kancing dari kotak B, kemudian pasangkan. Lakukan hal ini pada kancing lainnya secara berulang sampai seluruh kancing berpasangan
10. Apakah sekarang seluruh kancing sudah berpasangan merah-putih?
11. Masukkan 6 pasang kancing merah-putih itu pada kotak A, dan 6 pasang yang lain pada kotak B
12. Lepaskan semua kancing dari pasangannya
13. Setelah semua kancing terlepas, ambillah satu kancing dari kotak A dan satu kancing dari kotak B. Lakukan pengambilan ini secara berulang tanpa melihat isi kotak A dan B. Catat hasilnya pada tabel pengamatan.
G. Data Hasil Pengamatan
Tabel Pengamatan persilangan Kriptomeri
GENOTIPE FENOTIPE FREKUENSI JUMLAH
AABB Ungu ... ...
AABb Ungu ...
...
AAbb Merah ...
...
AaBB Ungu
...
...
AaBb Ungu
...
...
Aabb Merah ... ...
aaBB Putih ... ...
aaBb Putih ... ...
aabb Putih ... ...
·
Perbandingan fenotipe (Teori) :…...
· Perbandingan hasil pengamatan :...
· Perbandingan genotipe (Teori), ungu : merah : putih
H. Kesimpulan
...
...
...
...