• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA STRATEGIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENCANA STRATEGIS"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

INTEGRITAS

KOMISI APARATUR SIPIL NEGARA (KASN)

RENCANA STRATEGIS 2015 - 2019

PROFESIONAL MELAYANI

(2)

DAFTAR ISI

Bab I Pendahuluan 1

1.1. Latar Belakang 1

1.1.1. Pertumbuhan Ekonomi dan Perangkap Pendapatan

Menengah 1

1.1.2. Reformasi Birokrasi 3

1.2. Gambaran Umum 8

1.2.1. Kondisi Aparatur Sipil Negara 9

1.2.2. Undang-Undang ASN 12

1.3. Potensi dan Permasalahan 18

1.3.1. Mandat Yang Diberikan kepada KASN 19 1.3.2. Dukungan dari Internal dan Eksternal

Pemerintah Terhadap KASN 19

1.3.3. Desentralisasi dan Demokratisasi 20 1.3.4 Penerapan Sistem Merit dalam Manajemen

SDM Aparatur 22

1.3.5 Kapasitas Kelembagaan KASN yang Terbatas 24

Bab II Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran 26

2.1. Visi KASN 27

2.2. Misi KASN 27

2.3. Nilai Dasar 28

2.4. Tujuan 29

Bab III Arah Kebijakan, Strategi Kerangka Regulasi dan

Kerangka Kelembagaan 31

3.1. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional 31

3.2 Arah Kebijakan dan Strategi KASN 34

3.3. Kerangka Regulasi 36

3.4 Kerangka Kelembagaan 37

3.4.1 Arah Kebijakan Kerangka Kelembagaan 38 Bab IV Target Kinerja dan Kerangka Pendanaan 42

4.1 Target Kinerja 42

4.2 Kerangka Pendanaan 43

Bab V Penutup 51

(3)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. : Proyeksi Ekonomi Indonesia 2

Tabel 1.2 : Daya Saing Ekonomi Indonesia 2

Tabel 1.3 : Pencapaian Target Reformasi Birokrasi 2010 – 2014 6 Tabel 1.4 : Persebaran ASN Berdasarkan Kualifikasi Pendidikannya di Pusat

dan Daerah Tahun 2015 9

Tabel 1.5 : Persentase Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja Kab/Kota

Menurut 20 Peringkat Terendah dan Tertinggi, 2013 10

Tabel 1.6 : Peran Komisi Aparatur Sipil Negara 17

Tabel 1.7 : Identifikasi Potensi dan Permasalahan, serta Tindak Lanjut,

Lingkungan Strategis Eksternal: Desentralisasi dan Demokratisasi 21 Tabel 1.8 : Identifikasi Potensi dan Permasalahan, serta Tindak

LanjutLingkungan Strategis Eksternal: Manajemen SDM Aparatur 23 Tabel 1.9 : Identifikasi Potensi dan Permasalahan, serta Tindak Lanjut,

Lingkungan Strategis Internal di KASN 25

Tabel 3.1 : Isu Strategis dan Agenda Prioritas Reformasi Birokrasi 33 Tabel 4.1 : Hubungan Visi, Misi, Program dan Kegiatan KASN 44

(4)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 : Desain Reformasi Birokrasi Jangka Panjang 5 Gambar 1.2 : Road Map untuk Menuju Birokrasi yang Bersih dan Akuntable 8

Gambar 1.3 : Pengisian Jabatan ASN 13

Gambar 1.4 : Posisi Kelembagaan KASN dalam Pengelolaan ASN 14 Gambar 1.5 : Pembagian Peran Instansi Pengelola ASN 15

Gambar 3.1 : Desain Kerja Organisasi KASN 40

(5)

LAMPIRAN

1. Matriks Kinerja dan Pendanaan KASN 2. Matriks Kerangka Regulasi

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) merupakan lembaga independen yang baru dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Pembentukan lembaga tersebut tentunya tidak terlepas dari upaya untuk meningkatkan kapasitas birokrasi pemerintah dalam menjawab tantangan global, yaitu daya saing ekonomi, dan mengatasi permasalahan domestik, yaitu pelayanan publik yang prima.

1.1.1. Pertumbuhan Ekonomi dan Perangkap Pendapatan Menengah

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama periode 2009 s.d. 2013, dengan tingkat inflasi yang terkendali, telah membawa Indonesia masuk ke dalam kelompok negara berpenghasilan menengah (Middle Income Countries atau MIC) (Egawa, 2013)[1].

Pergeseran status dari negara berpenghasilan rendah ke menengah tentunya membawa dampak pada peningkatan pendapatan -- kesejahteraan masyarakat. Namun akhir-akhir ini ekonomi Indonesia mengalami stagnasi. Masalah seperti ini juga dialami banyak negara berpenghasilan menengah (MIC), di mana mereka mengalami kesulitan untuk bersaing dengan low-wage countries, dan juga tidak mampu bersaing dengan high- technology countries (Paus, 2011)[3]. Fenomena tersebut dikenal dengan perangkap pendapatan menengah (Middle Income Trap atau MIT).

Indonesia dapat menghindari middle income trap dengan mengupayakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Saat ini besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia per kapita mencapai USD 4.790. Untuk beralih menjadi negara berpenghasilan tinggi maka tingkat PDB per kapita Indonesia harus melampaui USD11.750. Ini berarti ekonomi Indonesia harus tumbuh rata-rata 8% per tahun.

Pertumbuhan yang tinggi dapat dicapai melalui penguatan industri. Industri yang kuat akan secara langsung memperbaiki struktur neraca perdagangan dan pola penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan pendapatan per kapita (Bank Indonesia, 2013) [4].

(7)

Tabel 1.1. Proyeksi Ekonomi Indonesia

Untuk memperkuat sektor industri diperlukan investasi yang besar. Sayangnya, daya saing Indonesia agak rendah. Laporan World Economic Forum (WEF) menyebutkan bahwa posisi daya saing ekonomi Indonesia turun empat tingkat dari posisi 46 pada 2011 menjadi di posisi 50 pada 2012. Data tersebut juga menunjukkan bahwa daya saing Indonesia berada di bawah daya saing beberapa negara sekawasan, seperti Malaysia yang menempati posisi 25, Brunei di posisi 28, China di posisi 29, dan Thailand di posisi 38.

Selain itu, studi yang dilakukan World Bank (2013)[5] juga menunjukkan bahwa kemudahan berusaha (ease of doing business) di Indonesia masih berada pada peringkat 128 dari keseluruhan 185 negara yang disurvei. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa untuk kemudahan memulai bisnis (ease of starting a new business), Indonesia masih berada pada peringkat 166.

Tabel 1.2.

Daya Saing Ekonomi Indonesia

Negara Ranking

2010-2011 2011-2012

Swiss 1 1

USA 4 5

Singapura 3 2

(8)

Negara Ranking

2010-2011 2011-2012

Jepang 6 9

Malaysia 26 21

China 27 26

Thailand 38 39

Indonesia 44 46

India 51 56

Brazil 58 53

Rusia 63 66

Vietnam 59 65

Filipina 85 75

Pemerintah Indonesia telah berupaya untuk memperbaiki iklim investasi di berbagai daerah di Indonesia, antara lain melalui pembangunan infrastruktur, penyederhanaan prosedur bisnis serta perbaikan peraturan dan kebijakan terkait investasi.

Pemerintah juga sudah melaksanakan reformasi birokrasi dalam rangka mewujudkan birokrasi yang efisien, efektif, yang mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi.

1.1.2. Reformasi Birokrasi

Keinginan untuk merubah wajah birokrasi Indonesia sudah ada sejak lama.

Namun momentum yang tepat baru tiba ketika Indonesia memulai era reformasi pada tahun 1998. Kebijakan desentralisasi juga memperkuat dorongan untuk melakukan reformasi birokrasi. Sejak tahun 2000 telah banyak reform initiatives yang diperkenalkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

Satu dekade kemudian dampak yang ditimbulkan reformasi birokrasi ternyata belum banyak dirasakan. Berbagai indikator menunjukkan bahwa kondisi tata kelola pemerintahan pada tahun 2009 masih kurang menggembirakan. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia hanya 2,8 (dari skala 1-10). Jumlah Kementerian/Lembaga non Kementerian (K/L) yang memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masing-masing hanya 42% dan 2,7%. Indeks Integritas pelayanan publik yang disusun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk pelayanan publik di Pusat maupun Daerah masing-masing 6,6 dan 6,4 (skala 1-10).

(9)

Indonesia menempati peringkat ke-129 dari 181 negara untuk kemudahan berusaha (doing business) yang di-realese oleh International Finance Corporation (IFC). Indeks efektivitas pemerintahan dari Worldwide Governance Indicator Bank Dunia juga hanya - 0,28 (dari skala -2.5 s.d. 2.5).

Untuk mendorong percepatan reformasi birokrasi maka Pemerintah berdasarkan Keppres No. 14 Tahun 2010 membentuk Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional (KPRBN) yang diketuai Wakil Presiden dan Tim Reformasi Birokrasi Nasional yang dipimpin oleh Menteri PANRB. Kemudian, berdasarkan Keppres No. 23 tahun 2010, dibentuk pula Tim Penjamin Mutu atau Tim Quality Assurance (TQA) dan Tim Independen (TI).

Langkah pertama yang diambil KPRBN adalah menyiapkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 yang kemudian ditetapkan dengan Perpres 81 Tahun 2010. Dokumen tersebut menjelaskan latar belakang dan tujuan reformasi birokasi, sasaran serta strategi yang akan ditempuh dalam mewujudkan tujuan. Grand Design Reformasi Birokrasi merupakan living document. Berdasarkan dokumen tersebut, disusun Road Map Reformasi Birokrasi Nasional 2010-2014 yang kemudian ditetapkan dengan PermenPAN-RB Nomor 20 Tahun 2010. Dokumen ini memuat pedoman tentang langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melaksanakan reformasi birokrasi.

Sebagaimana ditetapkan dalam Grand Design Reformasi Birokrasi Nasional, tujuan yang ingin diwujudkan pada tahun 2025 adalah menjadi Birokrasi Kelas Dunia, melalui 3 tahapan sebagai berikut:

Tahap I : mewujudkan rule-based bureaucracy pada tahun 2013

Tahap II : mewujudkan Performance Based Bureaucracy pada tahun 2018 Tahap III: membentuk Dynamic Bureaucracy pada tahun 2025

(10)

Gambar 1.1

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, KPRBN telah menetapkan 4 sasaran Reformasi Birokrasi (Catur Tunggal), yaitu: (1) meningkatnya kualitas pelayanan publik;

(2) menurunnya penyimpangan dan korupsi-kolusi-nepotisme (KKN); (3) meningkatnya kualitas kebijakan publik; dan (4) meningkatnya efisiensi penggunaan sumber daya negara

Untuk mewujudkan sasaran tersebut, KPRBN telah pula menerapkan strategi sebagai berikut:

1. Upaya jangka pendek (fast track), yang diarahkan pada perbaikan kualitas pelayanan, khususnya yang dampaknya dinikmati langsung oleh masyarakat, seperti pelayanan perizinan, pelayanan kependudukan, kesehatan, dan pendidikan. Program- program fast track ditetapkan menjadi quick wins bagi masing-masing K/L dan Pemda.

2. Upaya jangka menengah dan panjang, yang bertujuan untuk menciptakan fondasi yang kuat bagi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik. Fondasi tersebut dibangun melalui penyempurnaan regulasi dan pelaksanaan 9 program percepatan Reformasi Birokrasi.

Adapun regulasi yang dipersiapkan dalam rangka mendorong percepatan reformasi birokrasi adalah:

a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok

(11)

Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999;

b. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah;

c. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, yaitu undang-undang baru yang bertujuan untuk mengatur penggunaan diskresi oleh pejabat negara; dan

d. Undang-Undang tentang Sistem Pengawasan Internal Pemerintah yang sampai saat ini masih dalam proses penyusunan.

Sedangkan 9 program percepatan reformasi birokrasi mencakup: (1) penataan struktur birokrasi; (2) penataan jumlah dan distribusi PNS; (3) sistem seleksi CPNS dan promosi PNS secara terbuka; (4) profesionalisasi PNS; (5) pengembangan sistem elektronik pemerintah (e-Government); (6) peningkatan pelayanan publik; (7) peningkatan transparansi dan akuntabilitas aparatur; (8) peningkatan kesejahteraan pegawai negeri; (9) efisiensi penggunaan fasilitas, serta sarana dan prasarana kerja PNS.

Sebagai bagian dari pelaksanaan RB juga telah dilakukan upaya perbaikan kualitas pelayanan publik melalui penerbitan UU No. 25/2009 Tentang Pelayanan Publik.

UU ini menjadi dasar bagi penyelenggaraan pelayanan publik sebagaimana keinginan masyarakat. Terbitnya UU pelayanan publik tersebut telah ditindaklanjuti dengan: (1) PP No. 96/2012 Tentang Pelaksanaan UU No. 25/2009 Tentang Pelayanan Publik; (2) PermenPAN dan RB No. 36/2012 Tentang Petunjuk Teknis Penyusunan, Penetapan, dan Penerapan Standar Pelayanan; dan (3) PermenPAN dan RB No. 38/2012 Tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik. Instrumen pendukung untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik juga dilakukan dengan penerapan standar pelayanan minimal, sesuai dengan PP No. 65/2005 Tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Tabel 1.3

Pencapaian Target Reformasi Birokasi 2010 - 2014

Target Indikator 2009

Baseline

2010 2011 2012 2013 2014 Target 2014 Birokrasi

yang bersih

Indeks Persepsi Korupsi*

2,8 3,0 32 31 34 50

(12)

Target Indikator 2009 Baseline

2010 2011 2012 2013 2014 Target 2014 dan bebas

korupsi, kolusi dan nepotisme

Opini BPK (WTP) (%)

Pusat 42,17 56 63 77 74 76 100

Daerah 2,73 3 9 16 27 35 67

Peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat

Integritas Pelayanan Publik

Pusat 6,64 6.2 7,1 6,86 7.37 7,22 8 Daerah 6,46 5,3 6,0 6,3 6,82 Na 8

Peringkat

kemudahan berusaha

122 121 129 116 120 114 75 Peningkatan

kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi

Indeks Effektivitas Pemerintahan

-0,29 -0,20 -0.25 -0,29 na Na 0,5 Instansi

Pemerintah yang Akuntabel

Pusat 47,40 63,3 82,8 95,1 94,0 5

98,7 6

100 Prov 3,8 31 33,3 75,8 84,8

5

87,8 8

80 Kab/

Kota

5,1 8,8 12,8 24,4 30,3 44,9 0

60

Sumber: Kementerian PANRB, 2015

Walaupun berbagai indikator menunjukkan ada perbaikan dalam tata kelola pemerintah, namun survey Bank Dunia tahun 2013 di beberapa negara menunjukkan bahwa efektivitas pemerintahan di Indonesia masih rendah. Berdasarkan penilaian terhadap kualitas pelayanan publik, kualitas Aparatur Sipil Negara, kualitas kebijakan publik, independensi dari tekanan politik dan kredibilitas pemerintah, disimpulkan bahwa tingkat efektivitas pemerintah Indonesia pada tahun 2012 baru hanya mencapai angka 44 dari skala 0-100, setara dengan Vietnam. Sementara itu Singapore mencapai angka 100, Malaysia 80, dan Thailand 61. Reformasi birokrasi memang merupakan kegiatan yang rumit dan dampaknya baru akan terlihat dalam jangka menengah dan panjang.

Di dalam RPJM 2014 – 2019, reformasi birokrasi masih tetap menjadi salah satu program prioritas. Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui reformasi birokrasi adalah pemerintahan yang berbasis kinerja pada tahun 2019. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, dirumuskan sasaran reformasi birokrasi sebagai berikut:

1. Birokrasi yang bersih dan akuntabel;

2. Birokrasi yang efektif dan efisien; dan

3. Birokrasi yang memiliki pelayanan publik berkualitas.

(13)

Rencana pelaksanaan reformasi birokrasi dijabarkan dalam peta jalan (road map) reformasi birokrasi yang akan menjadi panduan bagi pengelola reformasi birokrasi pada tingkat nasional maupun instansi pemerintah melakukan langkah-langkah konkrit memperbaiki kualitas birokrasi pemerintahan.

Gambaran umum road map menuju kondisi dimana birokrasi Indonesia menjadi birokrasi yang bersih dan akuntabel adalah sebagai berikut:

Gambar 1.2

Road Map untuk Menuju Birokrasi Yang Bersih dan Akuntabel

1.2. Gambaran Umum

Pegawai negeri sipil adalah merupakan aparatur negara yang memiliki peran sentral dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Untuk mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas dan pencapaian hasil-hasil pembangunan yang optimal, adil dan merata di segala bidang, mutlak diperlukan aparatur yang profesional, berdedikasi, amanah, serta kompeten pada bidangnya

(14)

1.2.1. Kondisi Aparatur Sipil Negara

Saat ini jumlah pegawai negeri sipil (PNS) sekitar 4.511.154 orang, yang terdiri dari 921.127 orang PNS Pusat dan 3.590.027 orang PNS Daerah. Disamping PNS masih terdapat ratusan ribu pegawai honorer, yang direkrut oleh masing-masing instansi, terutama di daerah.

Tabel 1.4

Persebaran ASN berdasarkan Kualifikasi Pendidikannya di Pusat dan Daerah Tahun 2015

No Jenjang Pendidikan

ASN

Pusat Daerah

1 Sekolah Dasar (SD) 10.490 43.538

2 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 15.464 65.759 3 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Kejuruan

1.199 3.409

4 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 222.937 878.600 5 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Kejuruan 18.872 85.487

6 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Keguruan 99 227

7 Diploma 1 14.734 36.174

8 Diploma 2 15.488 430.605

9 Diploma 3 82.723 351.458

10 Diploma 4 15.183 22.267

11 Strata 1 391,065 1.552.770

12 Strata 2 121.238 119.008

13 Strata 3 11.635 725

TOTAL 921.127 3.590.027

GRAND TOTAL ASN PUSAT DAN DAERAH : 4.511.154 Sumber: Badan Kepegawaian Nasional, 2015

Jumlah PNS apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia memang tidak terlalu besar, hanya sekitar 1,8 %. Namun, distribusi PNS tidak merata. Kota-kota besar umumnya mengalami kelebihan pegawai, sementara itu daerah pemekaran mengalami kesulitan dalam merekrut PNS dan mengisi jabatan yang ada. Mutasi antar daerah sulit dilakukan karena kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah telah menyebabkan terjadi fragmentasi dalam manajemen kepegawaian. Selain itu, kebijakan otonomi daerah telah pula membangkitkan rasa kedaerahan yang juga menghambat mutasi pegawai antar daerah.

(15)

Rekrutmen di masa lalu yang kurang didasarkan pada kebutuhan telah menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara kualiifikasi pegawai yang ada dan kualifikasi pegawai yang diperlukan. Saat ini banyak instansi pemerintah di pusat maupun daerah yang mengalami kelebihan tenaga administrasi dan kekurangan tenaga teknis seperti tenaga medis dan paramedis, guru bidang tertentu, penyuluh pertanian, pengawas jalan dan jembatan, dan lain-lain. Upaya untuk mengalihkan tenaga administrasi menjadi tenaga teknis bukan perkara yang mudah karena harus melalui pendidikan yang memerlukan waktu dan dana yang besar.

Pengangkatan 1.185.974 tenaga honorer secara langsung menjadi CPNS dalam rangka memenuhi kebutuhan akan pegawai di instansi pemerintah di pusat dan di daerah semakin memperburuk keadaan. Pegawai honorer umumnya direkrut tanpa melalui seleksi. Kebanyakan di antara mereka berpendidikan SLTA ke bawah dan dipekerjakan sebagai tenaga administrasi. Sementara itu, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan membutuhkan tenaga teknis dengan kualifikasi yang lebih tinggi.

Rekrutmen tenaga honorer dalam jumlah yang besar telah pula membawa konsekuensi meningkatnya belanja pegawai dalam APBD di banyak daerah. Berikut adalah 20 kabupaten/kota dengan prosentase belanja pegawai terhadap APBD di atas 50%.

Tabel 1.5

Prosentase Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja Kab/Kota menurut 20 Peringkat Terendah dan Tertinggi, 2013

No.

Urut

20 Peringkat Terendah Prosentase Belanja Pegawai

Terhadap Total Belanja (%)

20 Peringkat Tertinggi Prosentase Belanja Pegawai

Terhadap Total Belanja (%) Provinsi Kab/Kota 2013

(%) Provinsi Kab/Kota 2013 (%) 1 Sumatera

Selatan

Kab. Musi Rawas

Utara 1,27 Jawa Tengah Kab. Purworejo 70,75

2 Sulawesi Tenggara

Kab. Konawe

Kepulauan 3,14 Maluku Kota Ambon 70,43

3 Sumatera Selatan

Kab. Penukal Abab

Lematang Ilir 3,83 Jawa Barat Kab. Kuningan 69,23

(16)

No.

Urut

20 Peringkat Terendah Prosentase Belanja Pegawai

Terhadap Total Belanja (%)

20 Peringkat Tertinggi Prosentase Belanja Pegawai

Terhadap Total Belanja (%) Provinsi Kab/Kota 2013

(%) Provinsi Kab/Kota 2013 (%) 4 Sulawesi

Tenggara Kab. Kolaka Timur 6,60 Sumatera

Utara Kab. Simalungun 68,81

5 Papua Barat Kab. Tambrauw 12,30 DI.

Yogyakarta

Kab. Gunung

Kidul 68,76

6 Papua Kab. Mamberamo

Raya 15,91 Jawa Timur Kab. Magetan 68,53

7 Papua Kab. Puncak 17,03 Aceh Kab. Bireuen 68,42

8 Papua Barat Kab. Maybrat 21,33 Jawa Tengah Kab. Kebumen 67,85 9 Papua Barat Kab. Teluk Bintuni 21,81 NTT Kota Kupang 67,52

10 Kalimantan

Timur Kab. Kutai Timur 22,52 DI.

Yogyakarta

Kab. Kulon

Progo 67,52

11 Kalimantan Timur

Kab. Kutai

Kartanegara 23,60 Jawa Tengah Kab. Klaten 67,26

12 Papua Kab. Supiori 24,13 NTB Kab. Bima 67,02

13 Papua Kab. Lanny Jaya 24,55 Sumatera Utara

Kota Pematang

Siantar 66,80

14 Papua Barat Kab. Teluk

Wondama 24,89 Jawa Tengah Kab.

Karanganyar 66,72

15 Kalimantan

Utara Kab. Nunukan 25,04 Jawa Barat Kab. Sumedang 66,70

16 Kalimantan

Timur Kab. Kutai Barat 25,18 Jawa Timur Kab. Ponorogo 66,70

17 Kalimantan

Timur Kab. Paser 25,27 Jawa Timur Kab.

Tulungagung 66,60 18 Kalimantan Kota Bontang 25,75 Aceh Kab. Aceh Barat 66,28

(17)

No.

Urut

20 Peringkat Terendah Prosentase Belanja Pegawai

Terhadap Total Belanja (%)

20 Peringkat Tertinggi Prosentase Belanja Pegawai

Terhadap Total Belanja (%) Provinsi Kab/Kota 2013

(%) Provinsi Kab/Kota 2013 (%) Timur

19 Gorontalo Kab. Natuna 26,04 Jawa Tengah Kab. Wonogiri 66,17

20 Papua Kab. Nduga 26,25 Sumatera Barat

Kab. Padang

Pariaman 65,97

Manajemen PNS yang selama ini berlaku kurang efektif dalam mendorong peningkatan kinerja. Manajemen PNS, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, menganut sistem karier, yaitu sistem kepegawaian dimana untuk pengangkatan pertama pegawai didasarkan atas kecakapan, sedangkan dalam pengembangannya lebih lanjut lebih didasarkan pada masa kerja atau senioritas. Sistem karier yang didasarkan pada senioritas telah pula membawa implikasi tidak optimalnya kinerja instansi pemerintah karena kualifikasi dan kompetensi pejabat tidak sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi yang disyaratkan jabatan yang didudukinya. Selain itu, pegawai menjadi kurang termotivasi untuk meningkatkan kemampuan. Ketika sistem merit diperkenalkan, mereka belum siap untuk berkompetisi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah merevisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 dengan menerbitkan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 8 tahun 1974. Revisi terutama difokuskan pada dua hal, yaitu netralitas dan penerapan sistem prestasi disamping sistem karier.

Namun kebijakan tersebut masih dianggap kurang dapat menjawab tantangan ke depan, yaitu aparatur yang profesional, netral dan berorientasi pada kinerja. Untuk itu, kedua undang-undang tersebut kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.

1.2.2. Undang-Undang ASN

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme, netralitas, dan kinerja Aparatur Sipil Negara. Yang dimaksud dengan Aparatur Sipil Negara disini adalah seluruh pegawai yang bekerja di

(18)

pemerintahan. Selama ini pekerjaan di sektor pemerintahan belum dianggap sebagai suatu profesi dan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil belum dianggap sebagai profesi yang terhormat. Undang-Undang ini menempatkan aparatur sipil Negara sebagai suatu profesi yang dikembangkan berdasarkan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku.

Undang-Undang ASN membagi pegawai ke dalam dua kategori, yaitu: 1) Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang merupakan pegawai tetap; dan 2) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), yang diangkat untuk jangka waktu tertentu sesuai kebutuhan.

Keberadaan PPPK diharapkan dapat mempercepat proses transformasi menuju ke birokrasi yang berbasis kinerja.

Gambar 1.3 Pengisian Jabatan ASN

Undang-Undang ASN mengamanatkan penerapan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN. Yang dimaksud dengan sistem merit disini adalah kebijakan dan manajemen SDM yang adil serta didasarkan atas kualifikasi, kompetensi, dan kinerja tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis

(19)

kelamin, status pernikahan, umur, ataupun kondisi fisik. . Sistem merit menekankan pada ability, knowledge, skill and performance. Sistem merit merupakan lawan dari spoil system.

Penerapan sistem merit bertujuan untuk mendorong terwujudnya pegawai ASN yang profesional, netral, berintegritas dan berkinerja tinggi. Sistem merit juga dimaksud untuk mengurangi politisasi dalam manajemen ASN. Penerapan sistem merit juga diharapkan dapat mewujudkan transparansi dalam pembinaan karier, mendorong kompetisi yang sehat dan mengurangi primordialisme dalam rekrutmen, penempatan dan promosi jabatan.

Sesuai dengan prinsip merit, Undang-Undang ASN mengamanatkan diberlakukannya sistem remunerasi yang lebih adil, didasarkan pada kompetensi dan kinerja. Saat ini gaji dan tunjangan yang diterima PNS masih didasarkan pada jabatan sehingga kurang berfungsi sebagai pendrong kinerja. Selain itu, Sistem remunerasi yang berlaku sangat bervariasi dan berimplikasi pada pula melemahnya esprit de corps dan timbulnya kecemburuan antar instansi dan daerah.

Gambar 1.4

Posisi Kelembagaan KASN dalam Pengelolaan ASN PRESIDEN

LAN BKN KEMEN PANRB

KASN

Memegang kekuasaan tertinggi pembinaan dan manajemen ASN

1. Menjaga merit system 2. Monev Seleksi JPT 3. Menjamin Netralitas ASN 4. Laporan ke Presiden Merumuskan

kebijakan Mengelola

pegawai ASN Melaksanakan

Kajian dan diklat

LPNK Kementerian LNS

(20)

Gambar 1.5

Pembagian Peran Instansi Pengelola ASN

Komisi Aparatur Negara (KASN) merupakan lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Pasal 27 Undang-undang Nomor 5 tahun 2014. Lembaga tersebut berfungsi mengawasi pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN serta penerapan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN pada instansi Pemerintah. Lembaga tersebut mempunyai tugas: a. menjaga netralitas Pegawai ASN; b. melakukan pengawasan atas pembinaan profesi ASN; dan c.melaporkan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan manajemen ASN kepada Presiden.

Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan efisien dan efektif, pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 memberi kewenangan kepada KASN untuk: 1) Mengawasi setiap tahapan proses pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi, dimulai dari pembentukan panitia seleksi, pengumuman lowongan, pelaksanaan seleksi, pengusulan nama calon, penetapan, dan pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi; 2) Mengawasi dan mengevaluasi penerapan asas, nilai dasar serta kode etik dna kode perilaku Pegawai ASN;

3) Meminta informasi dari pegawai ASN dan masyarakat mengenai laporan pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN; 4) Memeriksa dokumen terkait pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN; dan 5)

(21)

Meminta klarifikasi dan/atau dokumen yang diperlukan dari instansi Pemerintah untuk memeriksa laporan atas pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN. Selanjutnya, berdasarkan hasil pengawasan, KASN berwenang memutuskan adanya pelanggaran kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN.

Rekomendasi KASN bersifat mengikat. Berdasarkan rekomendasi KASN, Pejabat Pembina Kepegawaian dan Presiden dapat memberi sanksi kepada Pegawai ASN yang melakukan pelanggaran.

Mengacu pada fungsi tersebut di atas, setidaknya terdapat 4 (empat) peran yang dapat dilakukan oleh KASN yang melekat dalam amanat penugasan KASN. Pertama, KASN berperan dalam melakukan monitoring dan evaluasi, KASN melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan sistem merit dalam keseluruhan aspek manajemen ASN, baik pada pengadaan dan seleksi, promosi dan mutasi, penilaian kinerja, pola karir, pengendalian jumlah dan distribusi pegawai, hingga penetapan pensiun ASN, menjaga netralitas ASN, mengawasi penerapan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku, dan melakukan pengawasan dalam rekrutmen Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT).

Kedua, peran KASN sebagai pengambil keputusan, KASN berwenang untuk mengambil keputusan tentang ada atau tidaknya pelanggaran dalam proses rekrutmen JPT maupun pelaksanaan kode etik dan kode perilaku. KASN dapat mengambil inisiatif langkah penanganan melalui penelusuran data dan informasi terhadap indikasi pelanggaran atau sebagai tindak lanjut pengaduan pelanggaran kode etik dan perilaku yang diterima KASN. Selain itu, KASN dapat mengambil upaya melakukan langkah- langkah pencegahan pelanggaran kode etik dan kode perilaku.

Ketiga, dalam melakukan pengawasan ini akan terkait dengan peran KASN selanjutnya yakni sebagai pemberi saran dan rekomendasi kebijakan. Dalam hal ini KASN dapat memberikan masukan kebijakan tentang manajemen ASN kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PANRB). Dalam pelaksanaan rekrutmen JPT, KASN akan berperan dalam memberikan pengawasan dan review terhadap pelaksanaannya sekaligus memberikan rekomendasi tindak perbaikan (corrective action) dan saran kebijakan jika terjadi pelanggaran kode etik dan kode perilaku dalam proses tersebut.

Keempat, peran KASN sebagai perlindungan merit diwujudkan dalam bentuk fasilitasi dan mediasi yang dilakukan oleh KASN untuk membantu menyelesaikan

(22)

sengketa terkait pengelolaan ASN, serta penegakan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN. Dengan demikian, peran KASN untuk mengawasi penerapan sistem merit dalam reformasi birokrasi sangat krusial, yakni guna memastikan dan menjamin terlaksananya sistem merit dalam pengelolaan sumber daya aparatur pemerintah.

Tabel 1.6

Peran Komisi Aparatur Sipil Negara Monitoring dan

Evaluasi

Pengambilan Keputusan

Perlindungan Saran/Rekomendasi Kebijakan

1. Melakukan monitoring dan evaluasi sistem merit dalam manajemen ASN 2. Pengawasan

rekrutmen JPT 3. Monitoring dan

evaluasi terhadap netralitas ASN.

4. Monitoring dan evaluasi

terehadap nilai dasar, kode etik dan kode perilaku

1. Dalam hal pengawasan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN, KASN mengambil keputusan untuk melakukan

penelusuran data dan informasi tentang dugaan pelanggaran nilai dasar, kode etik, dan kode perilaku, dan dalam seleksi JPT;

2. Sebagai tindak lanjut penyelidikan

terhadap pengaduan, KASN berwenang memutuskan ada atau tidaknya pelanggaran kode etik dan kode perilaku, maupun

1. KASN memberikan supervisi kebijakan reformasi

birokrasi kepada Menteri PAN RB terkait

manajemen ASN 2. Dalam rekrutmen

JPT, KASN memberikan supervisi dan review terhadap proses rekrutmen 3. Memberikan

saran dan masukan penyusunan kebijakan tentang Manajemen ASN kepada Presiden RI, Menteri

1. Memfasilitasi, mediasi dan advokasi sengketa terkait manajemen ASN dan pelanggaran terhadap nilai dasar, kode etik dan kode perilaku 2. Menyusun dan

menyampaikan laporan berkala tahunan dan laporan insidentil tentang masalah- masalah

mendesak terkait perlindungan sistem merit, penegakan nilai dasar, kode etik dan kode

(23)

Organisasi KASN terdiri dari: 1) Pimpinan KASN yang meliputi ketua, Wakil Ketua dan Anggota KASN, yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden; dan 2) Asisten KASN, yaitu pejabat dan diangkat pejabat dan diberhentikan Ketua KASN untuk membantu KASN dalam menjalankan fungsi, tugas, dan kewenangannya. Para Asisten KASN ditempatkan dalam kelompok kerja dan masing-masing kelompok kerja dikoordinasikan oleh seorang anggota KASN. Selain itu, KASN juga didukung secara teknis dan administratif oleh Sekretariat, yang dipimpin oleh Kepala Sekretariat. Pegawai Sekretariat adalah pegawai ASN yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

1.3. Potensi Dan Permasalahan

KASN harus dapat menyiapkan kelembagaan serta sumber daya manusia yang ada untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pengawasan terhadap pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku oleh pegawai ASN serta penjamin berlakunya prinsip merit dalam kebijakan dan manajemen ASN. Untuk itu berbagai potensi dapat dikembangkan dalam rangka mewujudkan KASN sebagai lembaga yang efisien, efektif dan terpercaya. Pada saat yang bersamaan, KASN harus dapat pula menyiapkan kelembagaan serta sumber daya yang ada di KASN untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan.

dalam seleksi JPT;

3. KASN juga dapat mengambil keputusan untuk melakukan

pencegahan terhadap pelanggaran nilai dasar, kode etik dan kode perilaku, dan seleksi JPT.

Negara PAN RB, dan PPK

4. Memberikan saran kebijakan kepada PPK dan Presiden tentang pelanggaran kode etik dan kode perilaku

perilaku, sesuai kebutuhan kepada PPK dan Presiden RI

(24)

1.3.1. Mandat yang diberikan kepada KASN.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara memberi mandat yang kuat kepada KASN. Tidak hanya ditugasi mengawasi pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku, KASN juga diberi mandat untuk mengawasi penerapan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN. KASN juga ditugasi menjaga netralitas pegawai ASN dan mengawasi pembinaan profesi ASN.

Dalam melaksanakan tugasnya KASN diberi kewenangan untuk mengawasi dan mengevaluasi penerapan asas, nilai dasar serta kode etik dna kode perilaku Pegawai ASN, meminta informasi dari pegawai ASN dan masyarakat mengenai laporan pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN; memeriksa dokumen terkait pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN; dan meminta klarifikasi dan/atau dokumen yang diperlukan dari instansi Pemerintah untuk memeriksa laporan atas pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN.

Khusus untuk pengisian jabatan pimpinan tinggi, KASN diberi kewenangan mengawasi setiap tahapan seleksi. Dalam melaksanakan pengawasan tersebut, KASN juga diberi kewenangan membuat rekomendasi yang bersifat mengikat dan harus dilaksanakan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dan Pejabat yang berwenang. Dalam hal mereka menolak melaksanakan rekomendasi tersebut, KASN dapat meminta Presiden untuk menjatuhkan sanksi kepada Pejabat Pembina Kepegawaian dan hukum disiplin bagi Pejabat yang Berwenang.

1.3.2. Dukungan dari internal dan ekternal pemerintah terhadap KASN.

Sistem merit sebenarnya sudah diamanatkan dalam Undang-Undang 43 Tahun 1999 tentang Perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok- Pokok Kepegawaian. Undang-Undang tersebut juga mengamanatkan pembentukan Komisi Kepegawaian Negara, namun lembaga tersebut tidak pernah terbentuk. Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 yang kemudian diterbitkan untuk menggantikan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1974 dan Undang-Undang 43 Tahun 1999 mengamanatkan pembentukan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN). Tujuannya adalah untuk memastikan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN dilaksanakan dan prinsip- prinsip merit diterapkan dalam kebijakan dan manajemen ASN.

Keberadaan KASN mendapat dukungan dari internal birokrasi maupun fihak- fihak yang berada di luar birokrasi pemerintah seperti kelompok profesi dan LSM yang mempunyai interest mengawasi jalannya pemerintahan. Bagi pegawai ASN keberadaan

(25)

KASN dapat mengurangi politisi birokrasi dan mendukung kelangsungan karier di pemerintahan. Sedangkan bagi pihak-pihak di luar birokrasi pemerintah, keberadaan KASN diharapkan dapat melahirkan Aparatur Sipil Negara yang profesional, netral dan bebas korupsi, yang mendukung terselenggaranya pemerintahan dan pembangunan secara efisien dan efektif.

1.3.3. Desentralisasi dan Demokratisasi

Pengelolaan aparatur sangat dipengaruhi oleh perubahan dalam sistem politik dan ketatanegaraan. Demokratisasi yang dimulai sejak tahun 1998 telah mendorong terjadinya desentralisasi kewenangan dari pusat ke daerah dan menyebabkan sistem pemerintahan yang tadinya tersentralisasi menjadi terdesentralisasi. Penyerahan berbagai urusan ke daerah telah memberi Pemerintah Daerah otonomi dalam mengatur urusan-urusan yang telah diserahkan kepada mereka.

Di bidang manajemen aparatur, Kepala Daerah diberi kewenangan mengangkat, menempatkan dan memberhentikan PNS. Dengan dilimpahkannya kewenangan mengelola pegawai ke Pemerintah Daerah, manajemen SDM di pemerintahan menjadi fragmented. Kondisi seperti itu kurang mendukung terjadinya mobilitas pegawai dari satu daerah ke daerah lain dan dari pusat ke daerah atau sebaliknya. Akibatnya, distribusi pegawai menjadi tidak sesuai kebutuhan. Ada instansi/daerah yang mengalami kelebihan pegawai, dan ada instansi/daerah yang mengalami kekurangan pegawai. Selain itu, otonomi daerah juga telah menimbulkan rasa kedaerahan yang kuat. Pemerintah Daerah cenderung merekrut pegawai dari penduduk setempat. Kondisi seperti ini juga menyulitkan daerah untuk merekrut tenaga-tenaga teknis yang umumnya berasal dari atau menempuh pendidikan di kota-kota besar.

Desentralisasi kewenangan pengelolaan kepegawaian kepada kepala daerah yang merupakan pejabat politik juga memberi peluang terjadinya intervensi politik dalam manajemen aparatur. Jabatan CPNS dan jabatan pimpinan seringkali dijadikan komoditas yang diperjual-belikan untuk tujuan politik. Jabatan di birokrasi pemerintah seringkali dijadikan alat oleh politisi untuk membangun sistem patron-client dalam rangka memperkokoh dan melanggengkan kekuasaan. Dengan kewenangan yang ada padanya, tidak jarang kepala daerah mengangkat CPNS dari keluarga para pendukungnya, walau kualifikasi dan kompetensi mereka tidak sesuai dengan kebutuhan. Banyak pula kepala daerah yang mempromosikan para pejabat yang tidak memenuhi persyaratan kualifikasi

(26)

dan kompetensi. Kecenderungan seperti ini tentunya mengganggu kinerja Pemerintah daerah.

Upaya mengatasi penyalahgunaan wewenang dalam rekrutmen CPNS, pemerintah telah memperkenalkan sistem seleksi terpusat yang transparan dengan menggunakan Computer Assisted Test (CAT). Guna mengurangi masalah ketidaksesuaian antara kualifikasi dan kompetensi pegawai yang dibutuhkan dan pegawai yang ada maka penetapan formasi CPNS didasarkan pada kebutuhan nyata. Untuk itu telah ditetapkan PermenPAN dan RB No. 26/2011 Tentang Pedoman Perhitungan Jumlah Kebutuhan PNS untuk Daerah; (5) PermenPAN dan RB No. 33/2011 Tentang Penyusunan Pedoman Analisis Jabatan. Sedangkan upaya untuk mendapatkan orang yang tepat di jabatan pimpinan di birokrasi pemerintah, Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 telah mengamanatkan diterapkannya seleksi terbuka dan obyektif. Untuk itu telah ditetapkan pula Peraturan Menteri PAN-RB nomor 13 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Secara Terbuka Di Lingkungan Instansi Pemerintah.

Untuk mengatasi politisasi birokrasi sudah dilakukan dengan menerbitkan PP No.

53/2010 Tentang Disiplin PNS. Peraturan tersebut memuat larangan dan sanksi bagi PNS untuk mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah, calon anggota DPR/DPD/DPRD.

Tabel 1.7

Identifikasi Potensi dan Permasalahan, serta Tindak Lanjut Lingkungan Strategis Eksternal: Desentralisasi dan Demokratisasi

POTENSI PERMASALAHAN TINDAK LANJUT

Desentralisasi kewenangan kepegawaian ke

Pemerintah Daerah dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas

penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

 Manajemen ASN menjadi fragmented

 Distribusi pegawai tidak sesuai kebutuhan

 Ada ketidaksesuaian antara kualifikasi

pegawai yang diperlukan dan yang ada

 Beban belanja aparatur pemerintah meningkat

 Mendorong kebijakan pengendalian jumlah dan distribusi ASN

 Mendorongrekrutmen sesuai kebutuhan

 Mendorong kewajiban instansi pemerintah menerapkan manajemen ASN berdasarkan sistem merit

(27)

 Pengendalian belanja pegawai

Menguatnya modal sosial dan modal budaya sebagai faktor pendukung

pencapaian tujuan pembangunan

Menguatnya semangat kedaerahan yang dapat melemahkan semangat kesatuan nasional

Mendorong kebijakan mobilitas ASN lintas daerah untuk memperkuat integrasi nasional

Meningkatnya pastisipasi politik

 Politisasi birokrasi mengakibatkan

kecenderungan loyalitas pada penguasa, dan menurunnya orientasi pencapaian kinerja dan pelayanan publik

 Melemahnya ikatan sosial akibat kontestasi politik

Menjamin netralitas dan pelaksanaan sistem merit dalam birokrasi

1.3.4. Penerapan Sistem Merit dalam Manajemen ASN

Penetapan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara merupakan upaya untuk mengatasi masalah rendahnya profesionalisme, integritas dan kinerja para pegawai ASN dengan memperkenalkan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN. Penerapan sistem merit juga diharapkan dapat mengurangi intervensi politik dalam kebijakan dan manajemen ASN.

Tantangan yang dihadapi untuk melaksanakan sistem merit cukup berat karena banyak perubahan mendasar yang harus dilakukan terhadap sistem yang selama ini berlaku. Pertama, berbagai peraturan pemerintah yang merupakan pelaksana Undang-

(28)

Undang Nomor 8 tahun 1974 dan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 perlu disesuaikan. Keterlambatan dalam penerbitan berbagai peraturan pelaksanan Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 dapat menjadi penghambat. Kedua, untuk melaksanakan sistem merit, setiap instansi di Pusat maupun Daerah perlu menata jabatan, menyusun deskripsi tugas serta standar kompetensi untuk setiap jabatan, menyusun indikator kinerja dan melaksanakan evaluasi kinerja secara berkala. Penyiapan berbagai kelengkapan tersebut tentunya memerlukan waktu dan biaya.

Sebagai komisi yang ditugaskan mengawasi penerapan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN, tantangan utama yang dihadapi KASN adalah mendapatkan dukungan dari pegawai ASN sendiri. Walaupun sebagai pegawai ASN mereka harus menaati peraturan perundang-undangan, namun tidak mudah bagi mereka untuk menerima perubahan dari sistem yang berbasis senioritas ke sistem yang berdasarkan merit di mana mereka harus berkompetisi dalam mencapai jenjang karier tertinggi. Tantangan lain yang dihadapi KASN adalah mendapatkan dukungan Pejabat Pembina Kepegawaian yang notabene pejabat politik. Penerapan sistem merit tentunya membatasi kewenangan mereka dalam mengangkat, menempatkan, mempromosikan dan memberhentikan pegawai.

Tabel 1.8

Identifikasi Potensi dan Permasalahan, serta Tindak Lanjut Lingkungan Strategis Eksternal: Manajemen SDM Aparatur

POTENSI PERMASALAHAN TINDAK LANJUT

Landasan hukum dan peraturan

perundangan yang jelas tentang manajemen ASN

 Perlunya penerbitan peraturan pelaksana UU ASN

 Mendorong penyelesaian peraturan pelaksana UU ASN

Adanya political will dan dukungan publik yang kuat untuk pengawasan SDM aparatur

 Pembagian peran antar lembaga yang terkait pengelolaan ASN

potensial tumpang tindih

 Penataan kewenangan, dan pembangunan sistem manajemen kerjasama pengelolaan ASN

(29)

Keinginan pegawai ASN untuk

meningkatkan kapasitas/ kualitas dan kinerja

 Politisasi birokrasi dan manajemen ASN yang didasarkan pertimbangan politik.

 Peningkatan kapasitas ASN sesuai kompetensi dan keahlian dalam berbagai bidang sesuai rencana karir.

 Pelaksanaan sistem merit dalam manajemen ASN secara efektif.

1.3.5. Kapasitas Kelembagaan KASN yang terbatas.

Sebagai lembaga yang usianya masih sangat muda, kapasitas kelembagaan KASN masih sangat terbatas. Tantangan yang dihadapi KASN adalah menyiapkan lembaga tersebut agar dalam jangka waktu pendek dapat berfungsi dengan efisien dan efektif, antara lain dengan merekrut sumberdaya yang kompeten, membangun sistem sesuai dengan kegiatan utama (bussines process) yang menjadi bagian dari amanat penugasan KASN, serta melengkapi prasarana dan sarana kerja yang berfungsi untuk memberikan dukungan kerja secara memadai.

Sesuai Keputusan Presiden Nomor 141/M/2014 tentang Pengangkatan Komisi Aparatur Sipil Negara, Anggota KASN terdiri dari 7 (tujuh) orang. Dalam menjalankan tugasnya Anggota KASN dibantu oleh Asisten KASN dan Pejabat Fungsional seperti Analis Kebijakan, Analis kepegawaian dan Auditor kepegawaian. Saat ini formasi asisten KASN baru terisi 5 dari 16 formasi yang telah ditetapkan. Posisi jabatan fungsional masih dalam proses pengisian. Penyelenggaran tugas dan fungsi KASN didukung secara administrasi oleh Sekretariat, yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No.

118/2014 tentang Sekretariat, Sistem dan Manajemen SDM, tata kerja, serta Tanggung jawab dan Pengelolaan Keuangan KASN, yang tanggal 18 September 2014. Sampai saat ini sebagian besar jabatan di Sekretariat juga masih dalam proses pengisian.

Dalam hal anggaran, KASN masih menjadi bagian dari satuan kerja Kementerian PANRB. Semua biaya bagi penyelenggaraan tugas KASN disediakan melalui DIPA Kementerian PANRB.

(30)

Tabel 1.9

Identifikasi Potensi dan Permasalahan, serta Tindak Lanjut Lingkungan Strategis Internal di KASN

POTENSI PERMASALAHAN TINDAK LANJUT

Kualitas SDM Komisi yang berpengalaman, qualified, dan

berintegritas

Perlunya membangun ketatalaksanaan (System Operating Procedures), basis data, dan Directory Panitia Seleksi (Pansel)

Menerapkan manajemen kinerja yang mencakup: indikator kinerja lembaga, unit kerja dan individu/pegawai, pengukuran dan evaluasi kinerjanya, serta penerapan penghargaan dan sanksi (reward and punishment) Tersedianya anggaran

yang cukup

Prasarana dan sarana pendukung yang belum memadai

 Mengelola kegiatan dan anggaran untuk mencapai dan meningkatkan kinerja lembaga dan unit kerja.

 Meningkatkan prasarana dan sarana, serta manajemen pengelolaan asset Landasan hukum

kelembagaan yang jelas

Kapasitas kelembagaan yang belum memadai

 Perlunya penataan struktur organisasi, perumusan tugas pokok dan fungsi, indikator capaian kinerja, dan dukungan sekertariat

 Sosialisasi kepada para pejabat dan staf di lingkungan KASN tentang upaya dan hasil-hasil penataan tersebut

 Peningkatan kapasitas staf melalui diklat dan short course.

(31)

BAB II

VISI, MISI DAN TUJUAN

Aparatur Sipil Negara (ASN) pada hakekatnya adalah profesi bagi seluruh pegawai yang bekerja di birokrasi pemerintah, berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), bekerja pada instansi pusat ataupun instansi daerah.

Pegawai ASN berkedudukan sebagai unsur aparatur Negara dan berfungsi sebagai: pelaksana kebijakan public; pelayan public; dan perekat pemersatu bangsa. Tugas pegawai ASN adalah:

melaksanakan kebijakan public yang dibuat dibuat Pejabat Pembina Kepegawaian; memberi pelayanan public secara professional dan berkualitas; dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian, pegawai ASN berperan sebagai perencana, pelaksana dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Untuk itu maka pegawai ASN harus professional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.

Pengembangan profesi ASN didasarkan pada nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN. Sementara itu, kebijakan dan manajemen ASN didasarkan pada prinsip merit. Untuk memastikan para pegawai ASN mentaati nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN dan kebijakan serta manajemen ASN didasarkan pada prinsip merit maka Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 mengamanatkan pembentukan KASN.

Dalam rangka memberikan arah dan sasaran yang jelas serta sebagai pedoman dan tolok ukur kinerja dalam pelaksanaan tugas KASN, maka disusun rencana strategis KASN untuk 2015- 2019. Rencana strategis KASN disusun dengan memperhatikan visi, misi dan program aksi pemerintahan Presiden-Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla, yang telah dirumuskan dalam Sembilan Agenda Prioritas, atau yang dikenal sebagai NAWACITA. Salah satu agenda prioritasnya adalah membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya.

Di dalam NAWACITA, salah satu agendanya adalah: memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya. Pemerintahan Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla berkomitmen menjalankan agenda reformasi birokrasi secara berkelanjutan melalui restrukturisasi organisasi birokrasi pemerintah, meningkatkan kompetensi aparatur, memperkuat monitoring dan supervisi atas kinerja pelayanan publik, dan mendorong masyarakat untuk mengawasi kinerja pelayanan publik. Selain itu, Visi dan Misi KASN ini merupakan hal yang tidak dapat dilepas-pisahkan dengan implementasi Grand Design Reformasi Birokrasi

(32)

2.1. Visi KASN

Sebagaimana diuraikan terdahulu, tujuan pembangunan bidang SDM aparatur adalah untuk mewujudkan aparatur sipil Negara yang professional, netral, berintegritas dan berkinerja tinggi. Untuk memastikan tujuan tersebut terwujud maka dibentuk KASN, yaitu lembaga independen yang berfungsi mengawasi pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN serta penerapan prinsip merit dalam kebijakan dan manajemen ASN. Nilai dasar, kode etik dan kode perilaku merupakan dasar pengembangan profesi ASN. Sementara itu, sistem merit diharapkan dapat mendorong peningkatan profesionalisme dan kinerja pegawai ASN.

Dengan mempertimbangkan mandat yang diberikan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara serta kondisi lingkungan strategis internal maupun eksternal KASN, telah ditetapkan visi KASN untuk tahun 2015 s.d. 2019 sebagai berikut:

Menjadi lembaga pengawas pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku serta sistem merit yang terpercaya dan berwibawa di Asia guna mewujudkan Aparatur Sipil Negara profesional yang berkinerja tinggi, berintegritas dan netral.

Adapun penjelasan tentang Visi tersebut diatas sebagai berikut:

Terpercaya : Menunjukkan sikap-sikap berdasarkan bukti, menerapkan prinsip-prinsip keadilan, netral dalam mengambil kebijakan, keterbukaan, akuntabilitas, serta taat aturan dan hukum.

Berwibawa : Memiliki peran penting untuk menegakkan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN serta penyelenggaraan sistem merit secara profesional dalam birokrasi nasional.

2.2. Misi KASN:

Untuk mewujudkan visi KASN, akan dilakukan tindakan-tindakan nyata sebagai misi KASN, sesuai dengan tugas, fungsi dan perannya. Misi KASN untuk tahun 2015 s.d.

2019 sebagai berikut:

1. Melakukan pengawasan pelaksanaan sistem merit dan nilai dasar kode etik serta kode perilaku pegawai pada semua instansi pemerintah di pusat dan daerah secara obyektif, independen dan profesional

(33)

2. Menjaga netralitas pegawai ASN dan pelaksanaan fungsi ASN sebagai pemersatu bangsa

Penjelasan tentang Misi KASN sebagai berikut:

1. Untuk memastikan pegawai ASN mentaati nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN dan kebijakan serta manajemen ASN didasarkan pada prinsip merit KASN perlu melakukan pengawasan, dengan menerima laporan terhadap dugaan pelanggaran dan melakukan penelusuran data dan informasi atas prakarsa sendiri terhadap dugaan pelanggaran. Dalam melakukan pengawasan KASN bersikap independen, profesional, obyektif dan independen. Hasil pengawasan dilaporkan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) di masing-masing instansi dan Presiden RI sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam pembinaan aparatur sipil Negara untuk tujuan pemberian sanksi maupun penyempurnaan pembuatan kebijakan di bidang SDM aparatur. Misi pertama ini merupakan merupakan bagian dari peran yang diharapkan dari KASN sebagai pembina profesi ASN dan sebagai pelindung sistem merit.

2. Salah satu tujuan UU ASN adalah mewujudkan pegawai ASN yang netral dan bebas dari pengaruh politik. Sebagaimana disebut dalam Pasal 9 ayat (2) UU 5/2014, Pegawai ASN harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik. Selanjutnya, dalam pasal 87 ayat (4) disebutkan bahwa PNS diberhentikan dengan tidak hormat karena menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.

Menjaga netralitas pegawai ASN merupakan salah satu tugas KASN.

2.3. Nilai Dasar KASN

Nilai-nilai dasar adalah hal-hal yang diakui sebagai kebenaran dalam pandangan seseorang dan mempengaruhi orang tersebut dalam berpikir, menilai sesuatu dan bertindak. Untuk menjadikan KASN lembaga pengawas yang terpercaya dan berwibawa, nilai dasar sebagai berikut perlu dikembangkan di lingkungan KASN: integritas, profesionalisme, kerjasama tim (team work), dan melayani. Penjelasan tentang masing- masing nilai dasar tersebut sebagai berikut:

(34)

1. Integritas:

Penyelenggaran tugas pengawasan oleh KASN dilandasi dengan sikap pribadi yang utuh dan selaras antara tata nilai yang diyakini (values), dengan perkataan dan tindak perilaku dalam pelaksanaan tugas-tugas sehari-hari.

2. Profesionalisme:

Melakukan tugas pengawasan dan menjamin sistem merit dalam birokrasi secara sungguh-sungguh, disiplin dan konsekuen dalam menyelesaikan tugas secara tuntas sehingga dapat mencapai sasaran dan tujuan pekerjaan sesuai target yang ditetapkan.

3. Kerjasama Tim:

Untuk melaksanakan tugas secara optimal, anggota, asisten dan seluruh pegawai KASN harus selalu melakukan komunikasi, koordinasi, dalam masing-masing unit kerja maupun lintas unit kerja di lingkungan KASN.

4. Melayani:

Dalam melaksanakan tugasnya, para personil KASN memberikan respon secara cepat, ramah dan akurat terhadap permintaan dari mitra kerja dan para pemangku kepentingan (stakeholders).

2.4. Tujuan KASN

Untuk mewujudkan visi dan misi diatas, pada periode 2015-2019, ditetapkan tujuan KASN, adalah:

1. Peningkatan kualitas implementasi sistem merit dalam manajemen ASN (non diskriminatif, profesional dan kinerja)

2. Peningkatan kepatuhan ASN terhadap nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN.

3. Penciptaan ASN yang netral, bebas dari pengaruh politik serta berfungsi sebagai perekat pemersatu bangsa

Tujuan tersebut di atas merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan sasaran reformasi birokrasi nasional pada periode 2015-2019, yakni untuk menciptakan: 1) birokrasi yang bersih dan akuntabel; b) birokrasi yang efektif dan efisien; dan 3) birokrasi yang melayani, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2015 Tentang
Road Map Reformasi Birokrasi 2015-2019.

(35)

Indikator kinerja utama untuk mengukur keberhasilan diuraikan dalam Bab IV tentang Target Kinerja dan Kerangka Pendanaan. Di bagian ini juga diuraikan indikator kinerja sebagai instrumen untuk mengukur keberhasilan program-program dan kegiatan yang telah dirancang.

(36)

BAB III

ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN

3.1. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional

Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla memberikan perhatian yang serius dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Pelaksanaan reformasi birokrasi 2015 – 2019 didasarkan pada salah satu agenda dari NAWACITA yakni agenda nomor 2 ”Membuat Pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya”.

1. NAWACITA

Dalam dokumen NAWACITA, tercakup 9 (sembilan) janji yang ingin diwujudkan Pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla, yaitu:

a. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara. 


b. Membuat Pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya. 


c. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah- daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

d. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.

e. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

f. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar 
internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit 
bersama bangsa-bangsa Asia lainnya. 


g. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. 


h. Melakukan revolusi karakter bangsa. 


i. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. 


(37)

2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015 - 2019

Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, sebagaimana ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 telah menetapkan Agenda Pembangunan Nasional untuk lima tahun ke depan.

a. Agenda Pembangunan Nasional

Dalam Buku I RPJM 2014-2019, dijabarkan lima agenda pembangunan nasional sebagai berikut:

1) Melanjutkan konsolidasi demokrasi untuk memulihkan kepercayaan publik

2) Meningkatkan peranan dan keterwakilan perempuan dalam politik dan pembangunan 3) Membangun transparansi dan akuntabilitas kinerja pemerintahan

4) Menyempurnakan dan meningkatkan kualitas Reformasi Birokrasi 
Nasional (RBN) 5) Meningkatkan partisipasi publik dalam proses pengambilan kebijakan 
publik 


Arah kebijakan dan strategi yang ditempuh untuk agenda Menyempurnakan dan meningkatkan kualitas Reformasi Birokrasi Nasional (RBN), meliputi:

1) Restrukturisasi kelembagaan birokrasi pemerintah, melalui strategi:

a) penyempurnaan desain kelembagaan pemerintah; 


b) penataan kelembagaan internal pemerintah pusat dan daerah; 


c) penguatan sinergitas antar lembaga baik di pusat maupun di 
daerah. 


2) Penguatan kapasitas pengelolaan reformasi birokrasi nasional, melalui strategi:

a) penguatan kelembagaan dan tata kelola pengelolaan RBN; 


b) penataan regulasi dan kebijakan di bidang aparatur negara; 


c) perluasan dan fasilitasi pelaksanaan reformasi birokrasi pada 
instansi pemerintah daerah; dan

d) penyempurnaan sistem evaluasi pelaksanaan reformasi birokrasi nasional.

3) Penerapan manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN), melalui strategi:

a) penetapan formasi dan pengadaan CPNS dilakukan dengan sangat selektif; 


b) penerapan sistem rekrutmen dan seleksi pegawai yang transparan, kompetitif, dan berbasis TIK; 


c) penguatan sistem dan kualitas penyelenggaraan diklat; 


d) penerapan sistem promosi secara terbuka, kompetitif, dan berbasis kompetensi didukung oleh makin efektifnya pengawasan 
oleh Komisi Aparatur Sipil Negara

(38)

(KASN); 


e) penerapan sistem manajemen kinerja pegawai; dan 
 f) penguatan sistem informasi kepegawaian nasional. 


b. Isu Strategis - Agenda Prioritas 2015-2019

Beberapa isu strategis lintas pembina sektor aparatur negara, sebagaimana dimuat dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015 – 2019, yang dijadikan arah kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Isu Strategis dan Agenda Prioritas Reformasi Birokrasi

No. Issu Strategis Agenda Prioritas Instansi Pembina/

Pelaksana 1 REFORMASI

BIROKRASI NASIONAL

(a) Penguatan payung hukum RBN 
 (b) Peningkatan kapasitas implementasi (c) Penyempurnaan pelaksanaan dan

peningkatan kualitasnya

(d) Akselerasi pelaksanaan RB di daerah (e) Quick Wins RB (a.l.Pilot Project pada

Quick Wins JKW-JK) 


a. Kemen PANRB b. Kemendagri c. K/L /Pemda 


2 AKUNTA-

BILITAS KINERJA

(a) PenyempurnaanSAKIP

(b) Implementasi SAKIP sebagai Pilar Manajemen Kinerja 


(c) Pelaksanaan MoU antara Kemen PPN dengan 
Kemen PAN dan RB

(d) Pelaporan kinerja instansi pemerintah secara terbuka 


a. Kemen PANRB b. BPKP

c. Bappenas d. Kemenkeu e. Kemenkominfo f. K/L /Pemda

3 PENGAWASAN (a) Penyelesaian RUU Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)


(b) Sinergi pengawasan internal dengan eksternal 


(c) Pengembangan sistem pengaduan nasional yang terintegrasi

(d) Peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM APIP 


a. Kemen PANRB b. BPKP

c. Kemendagri d. K/L /Pemda

4 KELEMBAGAAN

BIROKRASI

(a) Audit/ Review Organisasi K/L/Pemda (b) Desain kelembagaan birokrasi

(c) Penataan Kelembagaan untuk mendukung Prioritas Presiden Sumber: Bappenas

(39)

c. Pengarusutamaan 2015-2019

Kebijakan pengarusutamaan, sebagaimana dimuat dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015 – 2019, merupakan landasan operasional bagi seluruh pelaksanaan pembangunan, yang diarahkan untuk dapat tercermin dalam output pada kebijakan pembangunan. Pengarusutamaan diarahkan untuk memperkuat kapasitas birokrasi dan mendorong partisipasi masyarakat sipil, melalui: 1) Peningkatan keterbukaan informasi dan komunikasi publik;
2) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan; 3) Perluasan agenda Reformasi Birokrasi;
4) Peningkatan kualitas pelayanan publik.

3.2. Arah Kebijakan dan Strategi KASN

Kondisi lingkungan strategi, sebagaimana diuraikan pada Bab I, menyediakan tantangan yang cukup berat bagi pembangunan di bidang aparatur, seperti perkembangan ekonomi global yang yang harus diantisipasi birokrasi pemerintah agar Indonesia dapat menghindari jebakan lingkaran Negara berpenghasilan menengah, persaingan yang semakin ketat dalam memperebutkan investasi, implikasi dari demokratisasi dan desentralisasi yang membawa perubahan dalam hubungan antar lembaga Negara dan antara pusat dan daerah, serta tingkat efektivitas birorasi pemerintah yang masih rendah.

Di lain fihak, ditetapkannya reformasi birokrasi sebagai salah satu prioritas dalam pemerintahan Jokowi-JK, dukungan terhadap penerapan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN, juga merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan dalam membangun KASN menjadi lembaga pengawas yang dipercaya dan handal dalam mendukung terwujudnya birokrasi yang efisien dan efektif.

Memperhatikan konteks lingkungan strategis yang demikian, serta sesuai dengan visi, misi dan KASN untuk menjamin terwujudnya birokrasi Indonesia yang berdasarkan sistem merit, maka arah kebijakan yang akan ditempuh adalah:

1. Membangun kesadaran dan pemahaman serta kepatuhan terhadap nilai dasar, kode etik dan kode perilaku;

2. Menerapkan pengawasan yang efektif dan komprehensif terhadap pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku;

3. Melakukan penanganan pengaduan secara cepat, tepat dan tuntas;

4. Memfasilitasi penyelesaian sengketa melalui mediasi dan arbitrasi secara adil, transparan dan menyeluruh;

(40)

5. Melakukan kajian dan menyusun rekomendasi kebijakan dalam rangka penyempurnaan manajemen ASN;

6. Meningkatkan kapasitas kelembagaan KASN.

Untuk melaksanakan arah kebijakan ini, strategi yang akan ditempuh adalah:

1. Melaksanakan promosi dan advokasi implementasi sistim merit dan pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku;

2. Memprioritaskan pengawasan dan pemantauan pengisian JPT melalui seleksi terbuka di K/L dan Pemda;

3. Memprioritaskan penanganan pengaduan dan penyelidikan untuk kasus yang berdampak luas;

4. Membangun kerjasama lintas instansi terkait (BKN, Kemendagri, Bawaslu, KemenPANRB, APSC);

5. Melakukan mediasi untuk meningkatkan tindaklanjut rekomendasi;

6. Melakukan pengkajian dan pengembangan dalam rangka meningkatkan kualitas implementasi manajemen ASN.

Kebijakan sebagaimana diuraikan di atas diturunkan dalam bentuk rencana kegiatan dan kegiatan-kegiatan tersebut dikelompokkan dalam 3 (tiga program) sebagai berikut:

1) Program Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, yang secara garis besar meliputi bidang kelembagaan, tata laksanan, manajemen SDM, pengawasan, akuntabilitas kinerja dan pelayanan public dan penguatan peraturan perundang- undangan.

2) Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis KASN, yang bertujuan untuk menyediakan dukungan administrasi dan keuangan bagi pelaksanaan tugas dan fungsi KASN;

3) Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur yang bertujuan untuk menyediakan dukungan teknis pelaksanaan tugas dan fungsi KASN.

Selanjutnya, program-program tersebut diuraikan lebih lanjut menjadi kegiatan- kegiatan prioritas KASN yang akan dilakukan pada periode 2015-2019, sebagai berikut:

a. Kegiatan-kegiatan utama untuk melaksanakan Program Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, antara lain:

1) Promosi dan Advokasi Pelaksanaan Nilai Dasar, Kode Etik dan Sistem Merit;

2) Pengawasan dan Monitoring Evaluasi Implementasi Sistem Merit;

Gambar

Tabel 1.1. Proyeksi Ekonomi Indonesia
Gambar 1.3  Pengisian Jabatan ASN
Gambar  3.1  berikut  ini  menjelaskan  desain  mekanisme  kerja  kelembagaan  dalam  organisasi KASN

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sebagai habitat bidara laut di Bali (Gambar 2). Masing-masing tanaman contoh digali dan diekspose

Dari hasil simulasi dapat dilihat bahwa nozzle jenis flat fan nozzle dapat lebih memaksimalkan semprotan uap yang ada pada sootblower dibandingkan dengan menggunakan full

Membangun aparatur sipil Negara pemerintah provinsi Riau yang berlandaskan prinsip, nilai dasar, dan kode etik ASN melalui pengelolaan manajemen apartur sipil negara yang

Berdasarkan pemetaan KASN terhadap kegiatan ASN yang berpotensi melanggar netralitas menjelang pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2018 antara lain keikutsertaan dalam

Pada penelitian ini dibuat LiFePO4 menggunakan metode hidrotermal, yaitu metode yang dilakukan dengan proses kimia yang terjadi pada larutan dengan temperatur di

Berdasarkan laporan dan temuan Bawaslu serta jajaran terhadap ASN yang melanggar kode etik perilaku dan netralitas ASN sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5

Analisis kelayakan finansial pada usaha agroindustri tahu Bapak Henry dengan menggunakan perhitungan kriteria investasi, maka didapat nilai NPV sebesar Rp.121.502.767 (lebih besar

Ditambah dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi seluler dunia saat ini, ponsel menjadi media komunikasi yang paling tepat sasaran, efektif secara biaya,