BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Perilaku Kelompok Penyimpangan Positif
Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang diandalkan pemerintah untuk mendatangkan devisa dan menyedot lapangan kerja. Kegiatan penambangan merupakan suatu kegiatan yang meliputi eksplorasi, eksploitasi, pengolahan/pemurnian dan pengangkutan mineral bahan tambang. Perusahaan tambang batu gamping dalam skala kecil maupun skala besar yang banyak ditemukan di Karst Citatah telah memperkerjakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.
Ketersediaan bahan galian di Desa Gunung Masigit sangat beragam (Tabel 4). Keragaman tersebut disatu sisi akan meningkatkan sumber mata pencaharian bagi masyarakat, namun dari sisi lain, jika dilakukan eksploitasi secara berlebihan mengakibatkan terganggunya sumber mata air disekitar kawasan yang disebabkan karena kegiatan pertambangan batu gamping yang dilakukan dengan sistem terbuka.
Tabel 4 Jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian dan pertambangan di Desa Gunung Masigit
Sektor Profesi Masyarakat
Pertanian -Petani (323 orang) -Buruh tani (685 orang) Pertambangan dan bahan
galian C -Penambang galian C kerakyatan (6 orang) -Pemilik usaha pertambangan skala kecil dan besar (3 orang)
-Buruh usaha tambang (90 orang) Industri kecil -Tukang batu (24 orang)
Industri menengah dan besar
-Karyawan perusahaan swasta (1.780 orang) Sumber: Laporan Desa Gunung Masigit 2011
Tabel 4 menerangkan bahwa, sektor yang paling penting yang terdapat di Desa Gunung Masigit berupa pertanian dan pertambangan. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya pada lahan di Karst Citatah baik langsung ataupun tidak langsung seperti di sektor pertanian dan pertambangan. Jumlah penduduk yang bekerja pada sektor tambang bisa lebih besar dari jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian karena, sektor pertambangan
mencakup buruh, pemilik tanah, sopir truk, karyawan perusahaan, sampai distributor.
Data yang menyebutkan secara pasti mengenai jumlah masyarakat yang bekerja pada sektor tambang memang belum tercatat. Menurut Yunianto (2008), berdasarkan data dari Kecamatan Cipatat, jumlah penduduk sampai Juli 2008 berjumlah 114.647 jiwa, dengan mata pencaharian sebagai petani 11.274 orang, buruh tani 4.160 orang, buruh pabrik 10.036 orang, TNI/POLRI 91 orang, dan PNS 412 orang. Data penduduk yang bekerja sebagai penambang tidak tercatat, namun sudah termasuk dalam data buruh pabrik di atas. Kondisi tersebut menegaskan bahwa sektor tambang begitu penting bagi masyarakat dan telah menyerap tenaga kerja yang signifikan sehingga, perilaku masyarakat Desa Gunung Masigit terhadap Karst Ciatatah terbatas pada pemanfaatan sumberdaya batu gamping Citatah karena memberikan potensi yang besar terhadap perekonomian masyarakatnya.
Sektor tambang sangat potensial dalam meningkatkan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitarnya, namun terdapat beberapa individu yang tergabung dalam kelompok masyarakat melakukan tindakan-tindakan positif terhadap lingkungannya. Kelompok ini memiliki kemampuan memanfaatkan sumberdaya lain yang ada disekitar tempat tinggalnya untuk kepentingan hidupnya. Berikut beberapa bentuk kegiatan perlindungan yang dilakukan:
5.1.1 Penanaman di Areal Bekas Pertambangan
Kondisi topografi Desa Gunung Masigit yang sebagian besar merupakan perbukitan dan lereng gunung menyulitkan masyarakat untuk meningkatkan penghasilannya dari sektor pertanian sehingga mereka lebih banyak memanfaatkan potensi bahan tambangnya. Batu gamping merupakan sumberdaya alam yang tersedia dalam jumlah besar dan langsung dapat dimanfaatkan. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa, walaupun kegiatan penambangan tetap berlangsung, namun terdapat suatu kelompok yang melakukan kegiatan penanaman pada areal bekas pertambangan di sekitar Gunung Masigit dan Gunung Pawon sebagai upaya untuk mereklamasi kawasan yang pernah rusak oleh aktivitas penambangan. Kegiatan ini dilakukan oleh kelompok masyarakat
yang terg tanaman y guajava), untuk jeni mahoni (S Ke kelompok dalam ko mampu b tanaman d secara sim Apabila s dipersilahk yang bisa pohonnya
Gambar 2
gabung dala yang ditana
nangka (Ar is pepohona Swietenia m egiatan pen k ini karena omunitas te berkoordina dan mereka mbolis ditit sudah bisa kan meman a dijadikan
.
2 Perkebun pisang
(a)
am kelomp am berupa j rtocarpus h an seperti al ahagani) (G nanaman ya
a merupakan ersebut. Ke asi dengan a sebagai pe tipkan kepa
dimanfaatk nfaatkannya bahan bak
nan masyara
pok tani, p jenis buah-b heterophyllu
lba (Albazia Gambar 2).
ang dilakuk n perilaku elompok ya
pemerinta enggerak te ada kelomp kan, baik bu a, baik buah ku kerajinan
akat melipu (c)
paguyuban buahan sep us) dan jagu
a falcatari),
kan menunju yang berbe ang melaku ah dan LS
eknisnya. P pok ini untu
uahnya ma h-buahan ya n, tanpa lup
uti: (a) Kebu
dan penci erti jambu ung (Zea m , jati (Tecto
ukkan peril eda dari ma ukan penan SM sebagai Pohon-pohon
uk dirawat aupun kayun ang bisa diju pa menanam
un jagung,
inta alam.
klutuk (Psi mays). Sedan ona grandis)
laku kreatif ayoritas ind naman ini i pemberi n yang dita t dan dipeli nya, masya ual atau kay m kembali
(b) cabe da (b)
Jenis idium ngkan ), dan
f dari dividu
juga bibit anam, ihara.
arakat yunya bibit
an (c)
5.1.2 Pembersihan di Areal Situs Goa Pawon
Goa Pawon merupakan situs budaya yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Bandung Barat, seperti yang terdapat dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perlindungan Lingkungan Geologi pasal 18 ayat 3. Selain itu Goa Pawon juga telah diatur dalam Peraturan Bupati Bandung Barat Nomor 7 Tahun 2010 tentang Perlindungan Kawasan Situs Goa Pawon dan Lingkungannya (Gambar 3). Tujuan dari Perda ini adalah:
d. Memanfaatkan kawasan Situs Goa Pawon sebagai kawasan benda cagar budaya dan situs sehingga perlu adanya perlindungan dan pemeliharaan dengan cara penyelamatan, pengamanan, perawatan, dan pemugaran
e. Menjamin kelestarian sumberdaya alam, benda cagar budaya, keanekaragaman hayati dan tata ruang
f. Menjamin ketersediaan dan keamanan sumberdaya alam, flora dan fauna baik untuk masa kini maupun di masa-masa yang akan datang.
Gambar 3 Lokasi perlindungan Gunung Masigit dan Goa Pawon Kebijakan tentang keberadaan situs Goa Pawon sebagai benda cagar budaya dan objek wisata prasejarah dapat meningkatkan partisipasi kelompok masyarakat dalam menjaga dan melindungi lingkungan Goa Pawon. Kelompok ini
Sumber: Lampiran Perbup No. 7 tahun 2010
mengatakan, wisata Goa Pawon mampu memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar dengan berjualan dan menjadi pemandu wisata di area Goa Pawon. Oleh karena itu, setiap minggunya dilakukan kegiatan pembersihan yang dikoordinasi oleh Kepala Desa yang bertujuan untuk menjaga warisan prasejarah, juga dapat meningkatkan kenyamanan bagi pengunjung yang datang.
5.1.3 Aksi Larangan Penambangan di Karst Citatah
Kegiatan pro-konservasi lainnya yang ditunjukkan oleh kelompok ini adalah melakukan kegiatan penyematan pita berwarna merah dan putih sepanjang 750 meter dengan lebar 110 cm yang diletakkan di sekeliling puncak Gunung Masigit. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang telah ditutup dari praktik penambangan berdasarkan Pergub No. 20 tahun 2006 tentang Perlindungan Karst Jawa Barat, yang ditindak lanjuti dengan perbub No. 7 tahun 2010 tentang Pelestarian Cagar Budaya. Hal ini sebagai bentuk larangan dalam melakukan aktifitas penambangan batu gamping (Gambar 4). Kegiatan ini merupakan kerja sama dengan Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC), KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang di hadiri oleh Gubernur Jawa Barat. Kegiatan ini menunjukkan bukti kepedulian masyarakat untuk kelestarian kawasan Karst Citatah terhadap kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan batu gamping Citatah.
Hasil wawancara dengan koordinator pelaksana kegiatan (komunikasi pribadi, Deden 39 tahun), dari 9 gunung batu di Karst Citatah, Gunung Masigit merupakan salah satu yang dihentikan kegiatan pertambangannya. Harapannya
Gambar 4 Papan larangan penambangan
semua gunung di Citatah tidak lagi ditambang secara sporadis. Deden menambahkan, dengan adanya larangan-larangan yang dilakukan oleh pihak pemerintah ataupun stakeholder yang didukung oleh masyarakat sekitar, harapannya bisa mengurangi kerusakan yang terjadi di Karst Citatah dan juga, agar pihak pemerintah cepat tanggap dalam memberikan alternatif perkerjaan kepada masyarakat yang memang menggantungkan hidupnya pada batu gamping untuk meningkatkan perekonomiannya.
Tindakan-tindakan positif yang dilakukan oleh kelompok masyarakat Desa Gunung Masigit menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan perilaku dimana kelompok minoritas ini melakukan tindakan-tindakan yang positif terhadap keberadaan Karst Citatah. Kelompok ini disebut dengan kelompok penyimpangan positif karena sesuai dengan pernyataan Dodge (1985), penyimpangan positif merupakan tindakan-tandakan yang dianggap unggul (superior) karena melebihi pengharapan yang umum dilakukan oleh suatu komunitas kearah yang positif.
Dalam setiap masyarakat atau komunitas, ada individu-individu tertentu yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan dan perilaku-perilaku spesial atau tidak umum, memungkinkan mereka mempunyai cara-cara yang lebih baik untuk mengatasi masalah-masalah dibandingkan dengan tetangga-tetangga mereka yang memiliki sumber yang sama serta mengahadapi resiko yang serupa (Zuldesni 2009).
5.2 Sikap dan Persepsi Kelompok Penyimpangan Positif
Pada dasarnya persepsi, sikap dan perilaku seseorang merupakan suatu hubungan yang saling berkaitan. Gambar 5 menerangkan bahwa, persepsi seseorang mempengaruhi sikapnya. Meskipun sikap seseorang seharusnya mencerminkan perilakunya, namun karena adanya faktor eksternal yang berpengaruh, maka perilaku belum tentu mencerminkan sikap seseorang. Sikap adalah pola pikir pada seseorang setelah melihat sesuatu hal. Sikap sangat penting dalam kehidupan sosial, seperti tercermin dengan banyaknya tulisan dan penelitian tentang sikap masyarakat (Faturochman 2006). Sikap terbentuk karena keadaan yang pernah dialami. Masyarakat penambang di Desa Gunung Masigit pada umumnya memanfaatkan sumberdaya batu gamping untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Anggapan bahwa hanya batu gampinglah satu-satunya
sumberdaya yang tersedia (Gambar 6) yang bisa langsung memberikan nilai ekonomi didasarkan atas kemudahan untuk mendapatkan dan mengolahnya. Sikap kelompok masyarakat penambang ini berbeda dengan kelompok penyimpangan positif yang beranggapan bahwa masih banyak sumberdaya lain yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif profesi disektor non-tambang.
PERSEPSI SIKAP PERILAKU
Faktor eksternal
(Sumber: Riendriasari 2007 dalam Sunkar 2007) Gambar 5 Hubungan antara persepsi, sikap dan perilaku
Kelompok Penambang Kelompok Penyimpangan Positif
Gambar 6 Persepsi, sikap dan perilaku masyarakat penambang dan kelompok penyimpangan positif
Gambar 6 menunjukkan, adanya perbedaan persepsi, sikap dan perilaku kelompok masyarakat penambang dengan kelompok penyimpangan positif. Bagi kelompok penambang, hanya batu gamping sumberdaya yang ada di sekitar mereka yang bisa dimanfaatkan. Persepsi ini membentuk pola sikap yang tercermin dalam perilakunya yaitu memanfaatkan sumberdaya batu gamping secara terus menerus. Berdasarkan wawancara dengan kelompok penambang,
Persepsi
Anggapan bahwa hanya gamping yang ada di sekitar mereka
Sikap
Hanya gamping yang bisa dimanfaatkan
Perilaku
Menambang secara terus menerus
Persepsi
Anggapan bahwa tidak hanya gamping yang ada di sekitar mereka
Sikap
Tidak hanya gamping yang bisa dimanfaatkan
Perilaku
Melakukan kegiatan selain menambang
sebagian b pengolah penamban
Fa melakukan masyaraka seseorang pengetahu pendidikan tergolong Sekolah D 0% dan 1 pendidikan Tabel 5 D
ket Da pendidikan diperoleh pada ting masyaraka Walaupun kelompok formal yan perlindung
besar mere gamping ngan karena aktor lain y
n aktifitas atnya yang
yang tida uan yang ren
n formal m rendah den Dasar (SD)/
11,54 untuk n tertinggi p istribusi res
terangan *:
alam peng n dengan hasil α = 0, gkat keper at dalam p n tingkat p k penyimpan
ng rendah, gan dan pel
63%
17.
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
S
pena
eka sudah j dengan ka a tuntutan ke yang mem
penambang tergolong ak pernah ndah (Tabe masyarakat p
ngan persent /Sederajat, k SMA/Se pada SMA/
sponden ber
Kelompok gujian pen
menggunak ,05 < Asym rcayaan 95
pemanfaata endidikan ngan positi
namun kelo estarian terh
37.1
.14%
53.85%
SD SM
mbang no
enuh denga ata lain, m ebutuhan hi mpengaruhi
gan adalah rendah. Su mengenyam el 5). Hasil p penambang tase 62,86%
37,14% da derajat. Un Sederajat d rdasarkan ti
penyimpan ngaruh per
kan uji Kr mp.Sig = 0,22
5% tidak an Karst C
masyarakat if yaitu sam ompok peny
hadap Karst
14%
25.71%30.77%
MP/Sederajat
on tambang
an pekerjaa mereka terp
dup.
masyaraka tingkat pe udah menja m bangku penelitian m g dan kelom
% dan 53,85 n 30,77% u ntuk masyar
engan perse ingkat pend
ngan positif rilaku mas ruskal-Wall 26. Maka H terdapat h Citatah terh t penamban ma-sama m yimpangan t Citatah.
0 45.71%
11.54%
SMA/Sederajat
alih profe
an sebagai paksa mela
at penamba endidikan d adi anggapa pendidikan menunjukka mpok penyi
% untuk tin untuk SMP rakat non t entase 25,71
idikan form
f
syarakat te lis pada ta H0 diterima d
hubungan hadap ting ng tergolon memiliki tin positif mel
0 11.43%
3.85
Perguruan Tin
esi*
penambang akukan akt
ang untuk dan pengeta an umum b n akan mem
an bahwa ti impangan p ngkat pendi P/Sederajat,
tambang, ti 1% dan 11,4 mal
erhadap ti araf nyata dengan kata
antara per gkat pendid ng sama de ngkat pendi
lakukan tind
5%
nggi
g dan tifitas
tetap ahuan bahwa miliki ngkat positif dikan serta ngkat 43%.
ngkat 0,05 a lain, rilaku dikan.
engan dikan dakan
Perubahan perilaku kelompok penyimpangan positif merupakan keniscayaan yang mesti dilakukan dalam perubahan kehidupan manusia seiring dengan kebutuhan manusia itu sendiri menuju kehidupan yang lebih layak.
Perubahan perilaku kelompok penyimpangan positif menuntut keterlibatan masyarakat sehingga kelestarian sumberdayanya akan tetap terjaga (Triadi 2008).
5.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kelompok Penyimpangan Positif
Perbuatan disebut menyimpang apabila perbuatan itu dianggap melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Penyimpangan bukanlah kualitas dari suatu tindakan yang dilakukan seseorang, melainkan konsekuensi dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh penentu kebijakan terhadap pelaku tindakan tersebut (Triadi 2008). Hasil wawancara mengindikasikan bahwa, kelompok penyimpangan positif di Karst Citatah terbentuk melalui interaksi sosial yang cukup tinggi antara individu-individu anggota masyarakatnya. Mereka pada akhirnya membentuk kelompok kecil dalam masyarakat untuk melakukan tindakan perlindungan terhadap Karst Citatah.
Adanya kebijakan untuk menutup areal pertambangan dalam rangka perlindungan Karst Citatah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk beralih profesi. Ketika lahan tempat mereka biasa melakukan pengeboran, pembakaran maupun penggilingan batu gamping ditutup, maka kelompok penambang mencari lahan lain yang masih bisa dilakukan aktifitas penambangan. Sedangkan kelompok penyimpangan positif lebih memilih untuk berhenti sebagai penambang dan mencari alternatif pekerjaan lain yang tingkat resikonya jauh lebih rendah.
Kelompok penyimpangan positif memenuhi kebutuhan hariannya dari pekerjaan di sektor non-tambang. Beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk beralih profesi serta melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak positif terhadap lingkungan Karst Citatah adalah umur, pengalaman, kepemilikan lahan, akses terhadap sumberdaya, faktor sosial dan faktor ekonomi.
5.3.1 Um Tin penyimpan masyaraka kecil pad penyimpan sedangkan Tabel 6 D
ketera Pe dengan m menunjuk dengan ka Karst Cita untuk bera Ad karena tin sudah tida tidak sang pengebora dalam men usia terseb tabel diata usia 36-45
0.0 10.0 20.0 30.0 40.0
mur
ngkatan u ngan posit at penamba da usia ≥
ngan positi n yang palin
istribusi res
angan *: Ke ngujian ko menggunaka kkan hasil b ata lain, te atah terhada alih profesi.
danya kece ngkat kema ak maksima ggup lagi an, pembaka
ndapatkan b but tidak p as dapat dila
5 tahun (Ta
5.71%0 0
00%
00%
00%
00%
00%
15 – 20 t
Pen
usia masy tif berbeda ang pada u
50 tahun f, persentas ng kecil pad sponden ber
elompok pen orelasi anta
an uji Kr bahwa, α = erdapat hub ap tingkat .
enderungan ampuan ata al lagi. Has untuk mel aran dan la batu gampin produktif la
ahat bahwa, abel 7). Ra
25.71% 22.8 17.14%
2
0
th 21 ‐ 25 th 25
nambang
yarakat p a-beda (Ta usia 21-25 t n yaitu 2 se terbesar da usia 15-2 rdasarkan ti
nyimpangan ara perilaku ruskal-Wall
= 0,05 > A bungan peri umur. Arti
masyaraka au kondisi sil wawanca lakukan pe
in-lain kare ng yang tin gi dalam m , rata-rata m ahardjo (199
86% 2.86%
22.86% 22.86%
7.69%
3.8
5 ‐ 30 th 31 ‐ 35
Non tambang
penambang, abel 6). P tahun yaitu 2,86%. Ber adalah pad 0 tahun dan ingkatan um
n positif u terhadap lis dengan Asymp.Sig
ilaku masy nya, umur
at untuk b fisik masy ara menunj ekerjaan-pek
ena diyakini nggi serta re melakukan p masyarakat b 99) menyat
14.25% 8.
% 20%
85%
30.77%
th 36 ‐ 40 th 4
g alih pro
, non-tam Persentase u 25,71%, d
rbeda deng a kisaran u n 21-25 tahu mur
tingkat um n taraf ny
= 0,001. M yarakat dala mempenga
beralih pro yarakat dal ukkan, 73,0 kerjaan yan i memiliki t esiko yang b
praktik pen beralih prof takan bahw
57%2.86% 17.14%
11.43 30.77%
11.
41 ‐ 45 th 46 ‐ 50
ofesi*
mbang ma terbesar u dan yang p gan masya usia 36-45 t
un yaitu 0%
mur masya yata α = Maka di am pemanf aruhi masya
ofesi diseba lam menam 08% masya ng berat se
tingkat kesu besar. Selai nambangan.
fesi pada re wa, rentang
2.86%
3%
2.86%
.54% 15.38%
0 th >50 th
aupun untuk paling arakat tahun,
%.
arakat 0,05 itolak faatan arakat
abkan mbang arakat eperti ulitan in itu, Dari ntang umur
mempengaruhi bidang pekerjaan, selain juga mempengaruhi persepsi seseorang terhadap lingkungannya.
Tabel 7 Lama kelompok penyimpangan positif beralih profesi.
Umur Lama Bekerja
1-2 th 3-4 th 5-6 th 7-8 th 9-10 th 15 – 20 th
21 - 25 th
26 - 30 th 7,69%
31 - 35 th 3,85%
36 - 40 th 30,77%
41 - 45 th 30,77%
46 - 50 th 11,54%
>50 th 15,38%
Kelompok penyimpangan positif berasosiasi dengan lingkungan sekitar membutuhkan waktu yang cukup lama serta di pengaruhi oleh faktor objek/sasaran. Rata-rata kelompok penyimpangan positif beralih profesi ke profesi sekarang telah berlangsung selama 5-6 tahun. Mereka beranggapan, apabila tetap melakukan kegiatan penambangan dengan tingkat resiko yang besar akan menyebabkan gangguan terhadap kesehatannya, dan tidak akan meningkatkan pendapatannya karena faktor usia membuat pekerjaan mereka tidak maksimal.
Lain hal nya dengan masyarakat penambang, mereka menganggap bahwa pengalaman dalam menambang akan bertambah dengan bertambahnya usia sehingga bisa meningkatkan pendapatan. Selain itu, tidak adanya pilihan pekerjaan lain dan tidak adanya sumberdaya lain yang dapat dimanfaatkan.
Disamping itu, usia juga mempengaruhi kinerja bahwa semakin tua seseorang maka menganggap dirinya semakin berpengalaman dalam bekerja.
5.3.2 Kesehatan
Kegiatan penambangan tidak selamanya menguntungkan tetapi juga dapat merugikan salah satunya mengganggu kesehatan. Kesehatan masyarakat Desa Gunung Masigit sedikit mengkhawatirkan karena banyak penyakit yang diderita masyarakat (Tabel 8).
Tabel 8 Jumlah dan jenis penyakit yang diderita masyarakat
Jenis Penyakit Jumlah Penderita Perawatan
Jantung 2 orang RS
Lever 1 orang Rumah/RS/Puskesmas Paru-paru 56 orang Rumah/RS/Puskesmas
Stroke 5 orang Rumah/RS
Diabetes melitus 6 orang Rumah/RS/Puskesmas
Ginjal 4 orang Rumah/RS/Puskesmas ISPA 26 orang Rumah/Puskesmas ASMA 27 orang Rumah/Puskesmas Sumber: Laporan Desa Gunung Masigit 2010
Data di atas menjelaskan bahwa, jumlah penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat Desa Gunung Masigit adalah paru-paru dan asma. Hal ini disebabkan karena udara yang terhirup telah tercemar oleh asap pembakaran batu gamping dan kendaraan operasional pengangkut batu gamping. Kondisi ini sama hal nya dengan masyarakat penambang batu gamping di kawasan Karst Gunung Sewu. Sesuai dengan pernyataan Ko (2004), banyak masyarakat menderita penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh debu yang dihasilkan dari pembakaran batu gamping.
5.3.3 Pengalaman
Sehari-hari masyarakat yang tinggal di sekitar Karst Citatah merupakan bagian dari denyut aktivitas yang berlangsung di kawasan ini. Mereka secara otomatis menyaksikan apa yang terjadi di lingkungannya dan secara sadar atau tidak, merasakan dampak yang ditimbulkan dari aktifitas yang mereka lakukan.
Pada saat penambang belum sebanyak sekarang, masyarakat beranggapan bahwa batu gamping bisa memberikan kehidupan tanpa mengganggu kelestarian. Lambat laun mereka semakin sadar bahwa, menambang tidak bisa dilakukan secara terus menerus karena dapat merusak lingkungan Karst Citatah sehingga, perilaku kelompok penambang dianggap negatif karena merusak sumberdaya batu gamping yang menyebabkan terjadinya perubahan kondisi Karst Citatah yang sangat signifikan (Gambar 7).
Gambar 7 La bahwa ke merugikan pengalama lampau ya Hasil waw ketika bek puncak bu tangan. U mempenga pernyataan individu te
5.3.4 Fa D didominas semak bel
Perubahan 2005 dan ain halnya egiatan tam n salah satu an individu ang membu wancara den
kerja sebag ukit karst k Untuk itu, p aruhi perila n Umar (2 erhadap ling
aktor Akses Desa Gunu si oleh per lukar. Namu
(
n Kondisi L (c) tahun 2 bagi kelom mbang tida
unya terhad masyaraka uat mereka ngan individ ai penamba ketika men
pengalaman akunya terh 2009), per gkungannya
s terhadap ung Masigi sawahan da un hal ini y
Sumb a)
ingkungan 2011.
mpok peny k selamany dap lingkun atnya dalam a jera dalam du masyarak ang, pernah ngambil bat n masa lal hadap kebe rilaku seseo a dimasa lal
Sumberda it memiliki an beberap ang menjad
ber: Distanbun (
Karst Citat yimpangan ya mengun ngan. Hal m artian, ada m melakuk kat (komuni h terjadi kec tu gamping lu masyarak
eradaan Ka orang dipe lu.
aya
i topografi pa tanaman
di faktor pen
nhut Bandung (c)
ah (a) tahun positif yan ntungkan m ini disebab anya kejadia kan kegiatan
ikasi pribad celakaan ya g yang men kat Desa G arst Citatah engaruhi ol
i yang ber palawija m nghambat m
2011 g Barat
n 2003 (b) ng berangg melainkan bkan oleh f an-kejadian n penamba di) menyebu
aitu terjatuh nyebabkan
Gunung M h sesuai de
leh pengal
rbukit-bukit masyarakat masyarakat u
(b)
tahun gapan dapat faktor masa angan.
utkan, h dari
patah Masigit engan laman
t dan serta untuk
beralih profesi karena tidak semua masyarakat mempunyai lahan untuk dikelola sebagai alternatif profesi non tambang. Beberapa dari individu masyarakat yang mempunyai akses terhadap kawasan telah melakukan pengolahan lahan seperti lahan pertanian (Tabel 9). Kelompok penyimpangan positif yang merupakan individu kreatif menganggap tidak hanya batu gamping sebagai sumber penghasilan melainkan masih banyak sumberdaya non tambang yang bisa dimanfaatkan (Tabel 10).
Tabel 9 Nilai komoditas tertinggi hasil SDA Desa Gunung Masigit
Potensi Sumberdaya Luas Pemanfaatan Tanaman Pangan Padi ladang (131 ha)
Jagung (130 ha)
Buah-buahan 1,8 ha Jambu klutuk (4,1 ton/ha) Apotik hidup 5,5 ha jahe (2,75 ton/ha) Hasil hutan kayu Kayu jati (1.200 m3/tahun)
Peternakan ayam kampung (2.854 ekor dari 474 orang pemilik) domba (2.110 dari 422 orang pemilik)
Perikanan - Sumber: Laporan Desa Gunung Masigit 2010
Tabel 10 Potensi SDA Desa Gunung Masigit
Potensi Non-tambang Luasan
Persawahan 141,2 ha
Perkebunan 100,6 ha
Ladang 453,3 ha
Hutan 26 ha (hutan produksi)
Sumber: Laporan Desa Gunung Masigit 2010
Tabel 9 dan 10 menerangkan bahwa terdapat beberapa komoditas SDA selain tambang yang berpotensi untuk dikembangkan. Kegiatan pengolahan lahan dalam kaitannya dengan usaha pertanian, dilakukan kelompok penyimpangan positif di lahan yang teraliri sungai Ci Nyusuan dan Ci Bukur yang diolah sebagai lahan persawahan dengan memanfaatkan sumber mata air yang terdapat di kaki Gunung Pawon. Sedangkan hasil tanaman palawija yang menjadi andalan masyarakat Desa Gunung Masigit adalah jagung dan buah-buahan yang bisa dikembangkan lebih lanjut adalah jambu klutuk. Beberapa diantaranya sudah mulai mengusahakan pengolahan jambu biji menjadi dodol jambu biji. Dari sektor peternakanpun memperlihatkan potensi yang cukup baik dimana, ayam kampung dan domba merupakan hewan ternak primadona di desa tersebut.
Peningkatan komoditas non-tambang akan merangsang masyarakat agar tidak selalu bergantung kepada bahan tambang. Namun sejauh ini pengelolaan
tersebut belum optimal. Salah satu kendalanya adalah tidak semua warga memilik lahan sendiri. Hasil wawancara, hasil dari kegiatannya belum bisa mencukupi dibandingkan dengan kegiatan tambang (buruh). Untuk itu perlu kerjasama antar kelompok tani lintas desa mulai dari segi pra-penanaman sampai pemasaran atau bahkan diciptakan industri rumah tangga kreatif untuk mengakomodir hasil tersebut.
5.3.5 Faktor Sosial
Faktor sosial mempengaruhi perilaku masyarakat dalam melakukan suatu tindakan seperti pandangan humanistik yaitu perilaku yang ditentukan oleh aspek internal individu seperti faktor pengalaman turun-temurun (Umar 2009).
Kelompok penyimpangan positif melakukan tindakan yang positif terhadap kawasan karena adanya dorongan dari orang lain dan juga karena kemauan sendiri. Menurut Ahimsa dkk. (2003), masyarakat seperti ini termasuk kedalam kelompok masyarakat yang sikap dan perilakunya dipengaruhi oleh lingkup hidupan sosialnya yang lebih luas. Adanya interaksi antara beberapa individu dari masyarakat yang melakukan tindakan-tindakan positif dengan anggota masyarakat lainnya akan memberikan dorongan untuk terlibat dalam kegiatan serupa. Ketika seseorang berhasil dalam melakukan suatu kegiatan-kegiatan yang dianggap positif terhadap lingkungan, maka akan menimbulkan ketertarikan individu lain untuk melakukan hal yang sama. Hal ini disebut sebagai pengaruh sosial dalam belajar perilaku (Social Cognitive Theory) dimana seorang individu menjadi acuan bagi individu lain dalam hal apapun yang dilakukannya.
5.3.6 Faktor Ekonomi
Masyarakat Desa Gunung Masigit pada umumnya sangat mau dan ingin beralih dari profesi sebagai penambang. Profesi yang mereka inginkan pada umumnya adalah mencari pekerjaan yang bersih dalam artian, kondisi fisiknya tidak kotor-kotoran dan resiko yang ditimbulkan tidak besar serta gaji yang lebih besar dari sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai penambang kurang dari Rp. 500.000,00/bulan dengan persentase sebesar 48,57% (Tabel 11). Sedangkan pendapatan masyarakat
non-tamba pendapata kelompok persentase dipengaru serta hany hasil pen Gombong Tabel 11 D
Pe masyaraka Asymp.Si 95% terda terhadap t nyaman d untuk mem cocok dan besarnya mengangg
Ha bersedia m keterampi
ang (PNS, an lebih d k penyimpan e 69,23%. R uhi oleh pek
ya mengand nelitian Rie
Selatan.
Distribusi R
keterangan ngujian Kru at terhadap
g = 0,005.
apat hubun tingkat pend dengan pro
menuhi keb n mempunya resiko yan gap itu sebu asil wawanc
meninggalk lan lainnya
0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
50.00%
60.00%
70.00%
80.00%
wirausaha dari 1.000.
ngan positif Rendahnya kerjaan yang dalkan pada
endriasari (
Responden B
n * : Kelomp uskal-Walli p tingkat p
Maka d ngan perilak
dapatan. Ar fesi sebaga butuhan hid ai keahlian ng menganc uah resiko pe cara menun kan kegiata a yang dap
48.57%
31.43%
penamba kecil <500.00
dan berda .000,-/bulan f, tingkat pe tingkat pe g sebagian satu pekerj (2007) pad
Berdasarkan
pok penyim is untuk me pendapatan ditolak deng ku masyara rtinya, bagi ai penamba dup sehari-h
diprofesi ya cam apabil ekerjaan me njukkan ba an penamb pat menghas
2
% 20%
ang
00 sedang
agang) suda n dengan endapatanny ndapatan k besar tidak aan saja seb da masyara
n Tingkat Pe
mpangan pos engetahui p n menunjuk gan kata lain kat dalam masyarakat ang karena
harinya dan ang baru. M la terus m ereka sehari ahwa, 71,43 bangan asal silkan alter
20%
28.57%
51.43
non tambang g 500.000‐1.000.
ah tergolon persentase ya tergolong kelompok p k tetap, lama
bagaimana d akat penam
endapatan
sitif
engaruh pe kkan bahw n, pada ting pemanfaata t penamban
tingkat pe n juga, belu Mereka tidak menambang,
i-hari.
3% masyara lkan diberi rnatif penda
15.23 6
3%
al .000 besaalih
ng besar de e 51,43%.
g sedang de enambang a masa kerj ditunjukkan mbang di
erilaku kelom wa α = 0,0
gkat keperca an Karst C ng, mereka s endapatan c um tentu m k memperdu
karena m
akat penam i pekerjaan apatan. Seb
3%
69.23%
15.38%
lih profesi ar >1.000.000 h profesi*
engan Dan engan dapat anya, n oleh Karst
mpok 05 >
ayaan itatah sudah cukup mereka ulikan mereka
mbang n dan
belum
berprofesi sebagai penambang, sebagian masyarakat pernah bekerja sebagai pegawai restoran, sopir, penambang pasir dan jasa angkutan roda dua, yang diyakini bahwa penghasilan yang didapat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena rata-rata anggota keluarga masyarakat penambang berjumlah 4-6 orang. Sedangkan bagi kelompok penyimpangan positif, alasan mereka untuk beralih karena mempunyai profesi ganda misalnya menyediakan jasa angkutan roda dua (ojek) dan pendistribusian air minum sehingga tingkat pendapatannya lebih tinggi dari kelompok penambang.