• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFORMASI SHINTO PADA MASA TOKUGAWA (1603-1868).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "REFORMASI SHINTO PADA MASA TOKUGAWA (1603-1868)."

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

REFORMASI SHINTO PADA MASA TOKUGAWA (1603-1868)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan Jurusan Pendidikan Sejarah

OLEH

ARNI FEBRIANI

0800135

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Contoh Halaman Hak Cipta untuk Mahasiswa S1

REFORMASI SHINTO PADA MASA

TOKUGAWA (1603-1868)

Oleh

Arni Febriani

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

© Arni Febriani 2013

Universitas Pendidikan Indonesia

Oktober 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

(3)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ARNI FEBRIANI

REFORMASI SHINTO PADA MASA TOKUGAWA (1603-1868)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING :

Pembimbing I

Dr. Agus Mulyana, M.Hum NIP. 19660808 199103 1 002

Pembimbing II

Drs. Lely Yulifar, M. Pd NIP. 19641204199001 2 002

Mengetahui

Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah

(4)

i

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ABSTRAK

Skripsi berjudul “Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)” berisi mengenai, latarbelakang munculnya reformasi Shinto, proses reformasi, dan dampak reformasi Shinto terhadap bidang ekonomi, sosial-budaya, pendidikan dan politik pada masa Tokugawa (1603-1868). Masalah utama tersebut kemudian dibagi menjadi tiga pertanyaan penelitian, yaitu (1) Bagaimanalatarabelakang munculnya reformasi Shintopada masa Tokugawa (1603-1868)?; (2) Bagaimana proses reformasi Shinto, pada masa Tokugawa (1603-1868)?; (3)Bagaimanadampak Reformasi Shinto, Budha dan Konfuisanisme di Jepang dalam bidang ekonomi, sosial-budaya, pendidikan dan politik pada masa Tokugawa (1603-1868)?Metode yang digunakan adalah metode historis dengan melakukan empat langkah penelitian yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Sedangkan untuk pengumpulan data penulis melakukan teknik studi literatur yaitu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan kajian penulis. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan interdisipliner dengan mengambil pendekatan dari ilmu antropologi yaitu konsep kebudayaan, pendekatan ilmu sosiologi yaitu, peran, status dan pendekatan dari ilmu politik yaitu konsep kekuasaan dan pembagian yang dibahas dalam skripsi ini.Kedudukan agama Shinto, Budha dan Konfusianismemempunyai peranan dalam kehidupan masyarakat Jepang. Ajaran mengenai moral dan budi pekerti Budha berbaur dengan keselerasan hidup dengan alam yang diajarkan oleh Shinto dan kesederhanaan hidup Konfusius.

Pelajaran hidup yang berasal dari Shinto, Budha dan Konfusianisme bertransformasi menjadi nilai-nilai yang digunakan dalam bidang ekonomi, sosial-budaya, pendidikan dan politik. Pada zaman Tokugawa (1603-1868) ajaran Shinto, Budha dan konfusianisme ikut berperan penting dalam setiap kehidupan masyarakat Jepang. Kesederhanaan hidup dalam mencapai kemakmuran adalah ajaran Budha yang di terapkan dalam sistem ekonomi. Selain kemajuan ekonomi, Jepang sadar akan pentingnya pendidikan dalam mengejar ketertinggalan. Sekolah kuil (terakoya)yang dikhususkan untuk kelas petani. Dalam ajaran Shinto menyebutkan

(5)

i

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Abstract 1868) ? method used is the historical method to perform four steps namely heuristic research , criticism , interpretation and historiography . As for the authors undertook data collection techniques including reviewing literature sources relevant to the study authors . The approach used is an interdisciplinary approach by taking the approach of the concept of cultural anthropology , sociology approach , namely , the role , status and approach of political science and the concept of power sharing are discussed in the thesis ini.Kedudukan Shintoism , Buddhism and Konfusianismemempunyai role in life Japanese society . Teachings of morals and manners of living Buddha keselerasan blend with nature taught by Confucius Shinto and simplicity of life .

(6)

vi

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR ISI

ABSTRAK ...i

KATA PENGANTAR ...ii

UCAPAN TERIMA KASIH ...iii

DAFTAR ISI ...vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ...1

B. Identifikasi dan perumusan Masalah ...4

C. Tujuan Penelitian...4

D. Metode Penelitian ...4

E. Manfaat Penelitian...6

F. Teknik Pengumpulan Data ...6

G. Struktur Organisasi Skripsi ...6

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Reformasi ...9

2.2 Agama Shinto ...11

2.3 Pemerintahan Tokugawa ...14

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metodologi dan Pengumpulan Data ...25

3.2 Persiapan Penelitian ...27

3.2.1 Pengajuan Tema Penelitian ...27

3.2.2 Penyusunan Rancangan Penelitian ...28

3.2.3 Proses Bimbingan ...29

3.3 PelaksanaanPenelitian ...30

3.3.1 Heuristik ...30

3.3.2 Kritik Sumber ...31

3.3.2.1KritikEksternal ...32

(7)

vii

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868) Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3.3.3 Interpretasi ...35

3.3.4 Historiografi ...36

BAB IVPENGARUH REFORMASI SHINTO TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT JEPANG PADA MASA TOKUGAWA (1603-1868) 4.1 Latarbelakang Munculnya Agama Shinto di Jepang...39

4.2 Proses Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868) ...45

4.3 Dampak Reformasi Shinto di Jepang Dalam Sistem Ekonomi, Sosial-budaya, Pendidikan dan Politik Pada Masa Tokugawa (1603-1868) ...61

4.3.1 Sistem Ekonomi ...61

4.3.2 Sistem Sosial-budaya ...63

4.3.3 Sistem Pendidikan ...67

4.3.4 Sistem Politik ...70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...84

DAFTAR PUSTAKA ...88

LAMPIRAN-LAMPIRAN ...

(8)

1

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Jepang adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Letaknya di

ujung barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut Jepang, dan bertetangga

dengan Republik Rakyat Cina, Korea, dan Rusia. Jepang merupakan negara yang

dijuluki negara matahari dan negara bunga sakura, karena di negara Jepang

mayoritas masyarakatnya yang menyembah matahari sehingga disebut negara

matahari, sedangkan julukan negara bunga sakura di berikan karena banyak bunga

sakura yang tumbuh di Jepang.

Jepang adalah negara sekuler, yang tentu saja negara tidak ikut campur

dalam masalah ini. Berbicara masalah kehidupan beragama yang dianut oleh

masyarakat Jepang, memang sangat unik. Dalam setiap data pemerintah atau surat

resmi lain tentang identitas penduduk, identitas agama tidak dicantumkan dan juga

tidak pernah ditanyakan. Dalam lingkungan pendidikan , pelajaran agama dilarang

untuk diajarkan di semua sekolah negeri milik pemerintah, agama hanya dibahas

dalam konteks sejarah saja.

Sistem kepercayaan yang dianut oleh orang-orang Jepang yang selama

ini diketahui oleh masyarakat di dunia adalah Shinto atau Budha. Sebenarnya bila

kita meneliti lebih jauh lagi mengenai apa agama yang dianut oleh orang-orang

Jepang adalah hampir semua menyebutkan tidak tahu agama apa yang mereka

anut. Bila orang-orang luar banyak yang beranggapan bahwa orang Jepang

beragama Shinto, sebenarnya Shinto bukanlah suatu agama melainkan suatu

kebudayaan atau kebiasaan saja. Shinto tidak mengenal ajaran, kitab suci ataupun

nabi. Namun uniknya memiliki kuil atau tempat sembahyang. Bukan hanya Shinto

saja, melainkan semua agama bagi orang-orang Jepang hanyalah sekedar budaya

(9)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dengan dibukanya politik isolasi Jepang, Shinto memang bukan merupakan agama

lagi, tetapi sudah menjadi suatu kebudayaan.

Davis (1992: 68) mengemukakan bahwa “... Bagi orang-orang Jepang, agama bukanlah hal penting, bagi mereka hal yang terpenting adalah mengenai

prilaku dan sopan santun”. Bagi orang Jepang agama adalah suatu kebebasan. Mereka tidak mau terikat oleh sutu faham agama tertentu. Jadi tidak aneh apabila

masyarakat Jepang menjalankan berbagai ritual agama campur aduk tanpa ada

yang mempermasalahkannya.

Kehidupan religi pada masa Tokugawa (1603-1868) dimana ajaran

Budha sudah ditetapkan menjadi agama resmi negara, tetapi ajaran Shinto sebagai

agama asli Jepang masih tetap dipertahankan dan tetap dilaksanakan dalam

acara-acara tertentu, juga terdapat pembaharuan terhadap falsafah Jepang. Terdapat

beberapa sistem yang menganut aliran Konfusianisme. Pada masa ini masyarakat

Jepang menikmati masa kedamaian dan ketentraman dalam menjalankan

kehidupan. Agama Budha yang ditetapkan adalah aliran Budha Zen, Budha Zen

adalah meditasi pencarian pencerahan yang sederhana dan tidak terlalu mengikat

akan ketuhanan. Namun lebih menekankan pada keselarasan terhadap

keseimbangan dengan alam. Tidak terlepas juga pada ajaran falsafah kehidupan

orang Jepang yaitu Konfusianisme. Walaupun bukan merupakan suatu agama

namun masyarakat Jepang banyak menganut ajaran ini sebagai petunjuk jalan

hidup, termasuk semangat Bushido yang banyak diambil dari ajaran

Konfusianisme (Reischauer, 1982: 282)

Era keshogunan Tokugawa banyak dilakukan pembaharuan dan

formalisasi agama. Pada era Tokugawa ini agama Budha ditetapkan menjadi

agama Nasional. Pada masa ini muncul aliran Fukko Shinto atau Reformasi

Shinto, yaitu bertujuan untuk meneliti kembali ajaran Shinto asli Jepang, dengan

pembaharuan ini munculnya istilah Sonno Joi. Sonno joi adalah ungkapan

(10)

3

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ajaran Shinto tersebut menggunakan cara berpikir ajaran Budha dan konfusius,

sehingga lahirlah ajaran Shinto yang bercorak Budha dan Konfusius.

Konfusius dan Shinto banyak meminjam atau mengambil metafisik dan psikologis Budhisme, Budhisme dan Shinto banyak meminjam etika Konfusius, sedangkan Konfusius dan Budhisme telah di Jepangkan (Bellah, 1992: 79).

Ajaran Shinto, Budha dan Konfusianisme memang berkembang di

Jepang. Ketiga ajaran ini banyak di gunakan oleh masyarakat Jepang dalam

kebiasaan hidup sehari-hari. Kehidupan masyarakat masa Tokugawa banyak

didominasi oleh ajaran-ajaran agama Shinto, Budha dan Konfusianisme yang

dijadikan sebagai falsafah hidup. Ajaran tersebut berkembang dan mengakar

dalam kehidupan masyarakat Jepang hingga saat itu. Kepercayaan tradisional

yang masih dipegang teguh dan nilai-nilai magis yang dianggap sakral sangat

kental mewarnai kehidupan religi masyarakat Tokugawa. Disinilah penulis

tertarik untuk menulis mengenai Reformasi Shinto pada masa Tokugawa

(1603-1868).

Reformasi adalah perubahan terhadap suatu sistem, perubahan kearah

perbaikan sesuatu yang baru. Perubahan ini dapat meliputi segala hal, berupa

sistem mekanisme sosial, kebijakan, tingkah laku maupun kebiasaan. Reformasi

Shinto pada masa Tokugawa merupakan pembaharuan ajaran Shinto untuk

memurnikan kembali keaslian ajaran Shinto agar tidak terkontaminasi hal-hal

yang berasal dari luar. Pembaharuan ajaran Shinto tersebut menggunakan metode

atau cara-cara yang berasal dari agama Budha dan Konfusianisme, lahirlah ajaran

Shinto yang bercorak Budha dan Konfusianisme.

Orang Jepang meyakini bahwa tuhan Budha (Bodhisatwa) merupakan

jelmaan dari dewa Shinto, dan Konfusius merupakan guru kehidupan dan

pemikirannya dijadikan sebagai falsafah hidup orang Jepang. itulah yang

menyebabkan adanya penyatuan antara kebudayaan Shinto, Budha dan Konfusius

di Jepang. Mereka menganggap antara Shinto, Budha dan Konfusius adalah satu

(11)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

akulturasi. Ketiga ajaran tersebut di ibaratkan sebuah pohon, “Shinto adalah

batang, Budha adalah cabang, dan Konfusianisme adalah dedaunan” (Susilo,

2009:41). Tidak ada perselisihan antara Shinto, Budha dan Konfusianisme,

bangsa Jepang dapat menerima kepercayaan tersebut dan menerapkan nilai-nilai

budaya didalamnya.

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Berdasarkan pokok-pokok di atas, terdapat beberapa permasalahan yang

akan menjadi kajian dalam penulisan skripsi ini. Adapun permasalahan pokoknya

adalah “Bagaimana pengaruh reformasi Shinto terhadap kehidupan masyarakat Jepang pada masa Tokugawa (1603-1868)?” untuk merinci rumusan masalah tersebut dibatasi dalam beberapa pertanyaan penelitian berikut ini:

1. Bagaimana latarbelakang munculnya reformasi Shinto pada masa Tokugawa

(1603-1868)?

2. Bagaimana proses reformasi Shinto pada masa Tokugawa (1603-1868)?

3. Bagaimana dampak reformasi Shinto terhadap sistem ekonomi, sosial budaya,

pendidikan dan sistem politik pada masa Tokugawa (1603-1868)?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai penulis dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi latar belakang munculnya reformasi Shinto pada masa

Tokugawa (1603-1868).

2. menjelaskan proses reformasi Shinto pada masa Tokugawa (1603-1868).

3. Menjelaskan dampak dari reformasi Shinto terhadap sistem ekonomi, sosial

budaya, pendidikan dan sistem politik pada masa Tokugawa (1603-1868).

(12)

5

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Metode merupakan suatu prosedur, proses, atau teknik yang sistematis

dalam melakukan penyidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan

objek (bahan-bahan) yang diteliti (Sjamsuddin, 2007: 13). Metode penelitian yang

digunakan oleh penulis adalah metode historis. Metode historis adalah suatu

proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman peninggalan masa lampau

(Gotchlak, 1986: 32). Sehingga dalam hal ini penulis melakukan pengujian dan

analisis terhadap sumber-sumber yang berhubungan dengan kajian yang peneliti

bahas.

Adapun langkah-langkah yang akan penulis gunakan dalam melakukan

penelitian sejarah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Ismaun (2005: 48-50),

adalah sebagai berikut.

1. Heuristik yaitu tahap pengumpulan sumber-sumber yang dianggap sesuai

dengan topik yang dipilih. Cara yang dilakukan adalah mencari dan

mengumpulkan sumber, buku-buku, website, dan dokumen, juga artikel-artikel

yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji. Sumber penelitian sejarah itu

terbagi menjadi tiga yakni sumber benda, sumber tertulis, dan sumber lisan.

Topik yang penulis pilih berbentuk studi literatur sehingga sumber yang

diambil merupakan sumber tertulis yang berada di buku-buku, website,

dokumen, dan artikel-artikel.

2. Kritik adalah memilah dan memilih juga menyaring keotentikan

sumber-sumber yang telah ditemukan. Pada tahap ini penulis melakukan pengkajian

terhadap sumber-sumber yang didapat untuk kebenaran sumber.

3. Interpretasi adalah tahap memaknai atau memberikan penafsiran terhadap

fakta-fakta yang diperoleh dengan cara menghubungkan satu sama lainnya.

Pada tahapan ini penulisn mencoba menafsirkan fakta-fakta yang diperoleh

selama penelitian.

4. Historiografi adalah tahap akhir dari penulisan sejarah. Pada tahapan ini

(13)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

menyusun dalam bentuk tulisan dengan jelas dan gaya bahasa yang sederhana

juga menggunakan tata bahasa penulisan yang baik dan benar.

Dalam upaya mengumpulkan bahan untuk keperluan penyusunan skripsi ini,

penulis melakukan teknik penelitian dengan menggunakan studi literatur,

teknik ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang dapat menunjang

penelitian.

E.Manfaat Penelitian

manfaat dari penelitian ini adalah sebagai brikut:

1. Memperkaya penulisan sejarah dalam rangka mengembangkan wawasan

mengenai sistem religi dan kebudayaan pada masa Tokugawa (1603-1868)

2. Menambah wawasan mengenai ajaran Shinto pada masa Tokugawa

(1603-1868)

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik penelitian yang akan digunakan oleh penulis dalam mengkaji dan

menganalisis permasalahan yang diangkat adalah dengan studi literatur, yaitu

dengan cara meneliti dan mempelajari buku-buku yang berkenaan dengan

pengaruh reformasi Shinto pada masa Tokugawa (1608-1868) . Selain studi

literatur penulis juga menggunakan beberapa artikel yang berhubungan dalam

penelitian ini.

G. Struktur Organisasi Skripsi

Adapun sistematika dalam penulisan skripsi yang akan dilakukan oleh

penulis adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan. Bab ini berisi latar belakang masalah yang

(14)

7

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

“Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)”. Untuk memperinci

dan membatasi permasalahan maka dicantumkan perumusan dan batasan

masalah sehingga permasalahan dapat dikaji dalam penelitian ini. Pada

bagian akhir dari bab ini akan dimuat tentang metode dan teknik penelitian

yang akan dilakukan oleh penulis, juga sistematika penulisan yang akan

menjadi kerangka dan pedoman penulisan skripsi.

Bab II Kajian Pustaka. Dalam bab ini dijelaskan mengenai

sumber-sumber buku dan lainnya yang digunakan sebagai referensi yang dianggap

relevan.

Bab III Metode Penelitian. Dalam bab ini dipaparkan mengenai

serangkaian kegiatan serta cara-cara yang ditempuh dalam melakukan

penelitian guna mendapatkan sumber yang relevan dengan permasalahan

yang sedang dikaji oleh penulis. Adapun metode yang digunakan adalah

metode historis dan teknik yang digunakan adalah studi literetur.

Bab IV Pengaruh Reformasi Shinto Terhadap Kehidupan Masyarakat

Jepang Pada Masa Tokugawa (1603-1868). Bab ini penulis akan

mendeskripsikan mengenai hasil penelitian yang berhubungan dengan

permasalahan yang ada dalam rumusan masalah. Dalam bab ini memaparkan

mengenai pengaruh reformasi Shinto terhadap bidang ekonomi, sosial

budaya, pendidikan dan politik di Jepang pada masa Tokugawa (1603-1868).

Bab V Kesimpulan dan Saran. Bab ini merupakan bab terakhir dari

rangkaian penulisan karya ilmiah yang berisi tentang kesimpulan sebagai

jawaban dari pertanyaan yang diajukan dalam batasan masalah serta

rekomendasi yang dapat digunakan pembaca agar lebih baik dalam penulisan

(15)

25

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab III secara umum merupakan pemaparan mengenai metodologi yang

digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan berbagai sumber yang berupa data

dan fakta yang berkaitan dengan kajian mengenai Reformasi Shinto Pada Masa

Tokugawa (1603-1868). Metode yang digunakan adalah metode historis, dan

untuk teknik penelitian penulis menggunakan studi literatur. Sedangkan untuk

pendekatannya penulis menggunakan pendekatan multidisipliner.

3.1 Metodologi dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan oleh penulis dalam penulisan skripsi ini adalah

metode historis dengan studi literatur dan studi dokumentasi sebagai teknik

pengumpulan data. Metode historis dipilih sebagai penelitian karena tulisan ini

merupakan kajian sejarah yang data-datanya diperoleh dari jejak-jejak yang

ditinggalkan dari suatu peristiwa masa lampau. Metode historis menurut

Gottschalk (1986: 32) adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis

rekaman dan peninggalan dan menuliskannya berdasarkan fakta yang diperoleh.

Sementara itu, menurut Sjamsuddin (2007: 96) mengemukakan bahwa

paling tidak ada enam tahap yang harus ditempuh dalam penelitian sejarah, yaitu:

1. Memilih suatu topik yang sesuai.

2. Mengusut semua evidensi (bukti) yang relevan dengan topik.

3. Membuat catatan apa saja yang dianggap penting dan relevan dengan topik

yang ditemukan ketika penelitian sedang berlangsung.

4. Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan (Kritik

Sumber).

5. Menyusun hasil-hasil penelitian (catatan fakta-fakta) ke dalam suatu pola

yang benar dan berarti yaitu sistemtika tertentu yang telah disiapkan

(16)

26

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

6. Menyajikan dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian dan

mengkomunikasikannya kepada pembaca sehingga dapat dimengerti sejelas

mungkin.

Terdapat beberapa tahapan dalam penelitian sejarah menurut Ismaun (2005:

125-131) yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.

Adapunlangkah-langkah yang dipergunakandalampenelitiansejarahiniadalah :

1. Heuristik

Heuristikmerupakanupayapengumpulansumber-sumbersejarah yang

terkaitdenganmasalah yang akandikaji. Usaha-usaha yang

dilakukandalammengumpulkansumberiniyaknidenganmencarisumberlisanmau

puntulisan, browsing internet, dansumbertertulislainnya yang

relevanuntukpengkajianpermasalahan yang akandikaji.

Dalampenelitianinisumberberupasumbertulisan yang terdapat di buku-buku,

arsip-arsipdan internet yang berhubungandengan agama, ekonomi,

sosialbudaya, pendidikandanpolitik diJepangpadamasa Tokugawa.

2. Kritikdananalisissumber

Padatahapinipenulisberupayamelakukanpenilaiandanmengkritisisumber-sumber yang telahditemukanbaikdaribuku, arsip, laman internet,

maupunsumbertertulislainnya yang

relevan.Sumber-

sumberinidipilihmelaluikritikeksternalyaitucarapengujianaspek-aspekluardarisumbersejarah yang digunakandanmenggunakankritik internal

yaitupengkajian yang dilakukanterhadapisidarisumbersejarahtersebut.

3. Interpretasi

Interpretasimerupakantahapuntukmenafsirkanfakta-fakta yang

diperolehdengancaramengelolafakta yang

telahdikritisidenganmerujukbeberapahasilstudidokumentasiataupundarireferens

i yang mendukungkepadakajianpeneliti.

Padatahapinipenulismemberikanpenafsiranterhadapfakta-fakta yang

(17)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 4. Historiografi

MenurutSjamsuddin (2007:156),

historiografiadalahsuatusintesisdariseluruhhasilpenelitianataupenemuanberupasuat

upenelitian yang utuh.

Sehinggadalamhalinipenulismenyajikanhasiltemuannyapadatigatahap yang

dilakukansebelumnyadengancaramenyusunnyakedalamsuatutulisan.

Pengumpulan data yang

dilakukanolehpenulisdalammengkajidanmenganalisispermasalahan yang

diangkatadalahmenggunakan studiliteratur yang

mendukungsertarelevandenganpermasalahanbaikdilakukanmelaluistudikepustakaa

nmelaluibuku-buku yang memangrelevandengankajianpenelitian, jurnalilmiah,

maupun internet yang memangdipandangrelevandenganpermasalahan yang

hendakdiangkatolehpenulis.

Dalam penelitian ini, seluruh kegiatan penulis secara garis besar dapat

digolongkan dalam tiga tahap yaitu: persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian

dan laporan penelitian.

3.2 Persiapan Penelitian

Persiapan penelitian merupakan titik awal dalam suatu tahapan penelitian

yang harus dipersiapkan dengan matang. Tahap ini dilakukan dengan beberapa

langkah yaitu tahap penentuan dan pengajuan tema penelitian, penyusunan

rancangan penelitian serta bimbingan.

3.2.1 Pengajuan Tema Penelitian

Tahap ini merupakan tahap yang paling awal dalam melaksanakan suatu

penelitian. Pada tahap ini penulis melakukan proses memilih dan menentukan

topik yang akan dikaji. Penentuan tema dan judul skripsi ini dipengaruhi oleh

ketertarikan penulis terhadap mata kuliah Sejarah Asia Timur yang terdiri dari

(18)

28

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

adalah negara Jepang. Peniliti sangat tertarik dengan Kebudayaan Jepang.

Sehingga dari ketertarikan tersebut penulis berniat untuk menulis sebuah skripsi

yang bertemakan tentang kebudayaan Jepang pada masa Tokugawa. Setelah

adanya persetujuan judul tersebut, maka penulis menyusun suatu rancangan

penelitian dalam bentuk proposal.Berdasarkan ketertarikan tersebut, penulis

berniat untuk menulis sebuah skripsi yang bertemakan tentang kebudayaan

Jepang, khususnya pada masa Tokugawa (1603-1868).

Padaawalnya penulis tertarik dengan sistem religi yang ada di

Jepang,Namun ketika judul tersebut dikonsultasikan kepada dosen Ibu Yeni

Kurniawati, M.Pd selaku dosen mata kuliah sejarah Asia Timur, ternyata beliau

menyerankan judul yang penulis ajukan untuk lebih fokus arahannya. Ibu Yeni memberikan judul “Sistem Religi Jepang yang Berpengaruh Terhadap Semangat Bushido Pada Masa Restorasi Meiji”, tetapi penulis masih ragu dengan adanya sumber mengenai pembahsan tersebut maka judulnya masih dipertimbangkan.

Dengan berbagai konsultasi dan sharing dengan teman-teman maka penulis

menemukan judul yang sesuai dengan minat penulis. Setelah penulis menemukan

judul, maka penulis langsung mengkonsultasikan kepada dosen Bapak Drs. H.

Ayi Budi Santosa, M.Si selaku ketua TPPS (Tim Pertimbangan Penulisan

Skripsi), ternyata judul tersebut diterima, hanya harus lebih diperjelas dalam

masalah periode. Akhirnya, judul tersebutlah yang kemudian diseminarkan.

Setelah itu, penulis mulai mencari berbagai sumber yang berkaitan dengan

religi Jepang pada masa Tokugawa dan menuangkannya dalam bentuk proposal skripsi dengan judul “Pengaruh Akulturasi Shinto-Budha Terhadap Kehidupan Beragama Di Jepang Pada Masa Tokugawa (1603-1868)”.

3.2.2 Penyusunan Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian dalam bentuk proposal skripsi kemudian diserahkan

kepada TPPS untuk dipresentasikan dalam sebuah seminar yang dilaksankan pada

tanggal 21 Maret 2012. Meskipun tidak banyak dihadiri oleh para Dosen, namun

penulis tetap mendapatkan banyak masukan dari para dosen yang hadir.

(19)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

I, judul proposal yang sebelumnya “Pengaruh Akulturasi Shinto-Budha Terhadap Kehidupan Beragama Di Jepang Pada Masa Tokugawa (1603-1868)”, diganti

menjadi “Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868).Selain perbaikan

judul, masukan lain yang diterima oleh penulis dari pembimbing I adalah untuk

mengganti rumusan masalah yang disesuaiakan dengan judul.

Setelah disetujui, maka pengesahan penelitian ditetapkan melalui Surat

Keputusan Ketua Jurusan Pendidikan sejarah FPIPS UPI Bandung No.

025/TPPS/JPS/2012. Dalam surat keputusan tersebut, ditentukan pula

pembimbing I, yaitu Bapak Dr. Agus Mulyana, M.Hum dan Ibu Dra. Lely Yulifar,

M.Pd sebagai pembimbing II. Adapun rancangan penelitian yang diajukan

meliputi:

a. Judul Penelitian

b. Latar Belakang Masalah

c. Rumusan dan Batasan Masalah

d. Tujuan Penelitian

e. Tinjauan Pustaka

f. Metodologi dan Teknik Penulisan

g. Sistematika Penulisan

3.2.3 Proses Bimbingan

Bimbingan merupakan suatu kegiatan konsultasi yang dilakukan oleh

peneliti dengan dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II dalam

menyelesaikan permasalahan dalam penelitian. Proses bimbingan ini sangat

diperlukan oleh penulis untuk membantu penulis dalam menentukan kegiatan

penelitian, fokus penelitian serta proses penelitian skripsi ini. Proses bimbingan

ini memfasilitasi penulis untuk berdiskusi dengan Bapak Dr. Agus Mulyana,

M.Hum selaku pembimbing I dan Ibu Dra. Lely Yulifar, M.Pd selaku

pembimbing II mengenai permasalahan yang dihadapi selama penelitian ini

dilakukan.

Proses bimbingan dilakukan bab demi bab secara intensif sehingga penulis

(20)

30

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dilakukan setelah sebelumnya penulis menghubungi pembimbing dan kemudian

dibuat kesepakatan jadwal pertemuan antara penulis dengan pembimbing.

Kegiatan pertama bimbingan dilakukan pertama kali pada tanggal 31 Juli 2012

beberapa bulan setelah Seminar Proposal Skripsi penulis. Proses bimbingan ini

sangat berperan dalam penyusunan skripsi ini. Dari pembimbing tersebut, penulis

banyak memperoleh pengetahuan mengenai kelemahan dan kekurangan dalam

penelitian skripsi ini.

3.3Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian merupakan tahapan berikutnya setelah penulis

merancang dan mempersiapkan penelitian. Dalam penelitian skripsi ini, penulis

melakukan empat tahap penelitian, sebagai berikut:

3.3.1Heuristik

Heuristik berasal dari bahasa Yunani heurishein yang berarti menemukan

(Abdurahman, 2007: 64). Heuristik merupakan proses mencari dan

mengumpulkan fakta-fakta sejarah dari sumber-sumber yang relevan dengan

permasalahan yang dikaji penulis. Sama halnya dengan pendapat Helius

Sjamsuddin (2007:86), heuristik adalah suatu kegiatan mencari sumber-sumber

untuk mendapatkan data-data atau materi sejarah, atau evidensi sejarah yang

berhubungan dengan permasalahan yang dikaji oleh penulis.

Berkaitan dengan penelitian ini, proses heuristik yang dilakukan penulis

sudah dimulai kurang lebih sejak bulan Agustus 2012. Pada tahap ini, penulis

mencari dan mengumpulkan sumber tertulis yang berhubungan dengan, baik

berupa buku-buku, jurnal ilmiah, maupun artikel internet mengeni Akulturasi

Shinto-Budha di Jepang.

Dalam pencarian sumber-sumber ini, penulis mendatangi berbagai

perpustakaan. Adapun perpustakaan yang dikunjungi oleh penulis adalah sebagai

berikut: Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Perpustakaan

Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan Perpustakaan Universitas Indonesia Jakarta.

(21)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

melalui Browsing di internet sebagai tambahan pengetahuan serta wawasan

penulis mengenai penelitian yang dikaji. Penjelasan mengenai penemuan

sumber-sumber tersebut penulis paparkan sebagai berikut:

1. Penulis mengunjungi Perpustakaan Konfrensi Asia Afrika (KAA). Pada

perpustakaan ini penulis menemukan buku mengenai religi masyarakat

Jepang, salah satu pembahasannya adalah sistem kepercayaan yang

berkembang pada masa pemerintahan Tokugawa (1603-1868). Selain buku

tersebut, penulis juga menemukan buku yang berhubungan dengan

nilai-nilai kehidupan masyarakat Tokugawa. Dalam buku tersebut menjelaskan

mengenai ajaran agama Shinto dan Budha yang masuk ke dalam

aspek-aspek kehidupan masyarakat Tokugawa, dan tata cara dari ajaran ke dua

agama tersebut dipakai dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat

Jepang.

2. Penulis juga mengunjungi Perpustakaan Universitas Indonesia Jakarta. Di

perpustakaan ini penulis menemukan beberapa buku yang berhubungan

dengan pemerintahan Tokugawa. Penulis menemukan dua buku yang

berhubungan dengan karakteristik pemerintahan Shogun Tokugawa

(1603-1868). Ke dua buku tersebut secara garis besar menggambarkan mengenai

keadaan Jepang saat pemerintahan Tokugawa.

3. Perpustakaan ketiga yang di kunjungi penulis adalah Perpustakaan UPI.

Di Perpustakaan UPI ini, penulis menemukan banyak sekali

sumber-sumber yang berhubungan dengan agama, kebudayaan dan Pemerintahan

Tokugawa. Buku yang penulis temukan di Perpustakaan UPI memiliki

kajian yang berbeda-beda yang berhubungan dengan penelitian. Buku

yang pertama, penulis menemukan buku yang membahas mengenai agama

Budha yang ada di Jepang, buku ke dua mengenai kebudayaan dan

kepribadian orang Jepang, buku ke tiga mengenai kehidupan masyarakat

Edo (Tokugawa) di Jepang, dan untuk buku ke empat dan ke lima

membahas karakteristik pemerintahan Tokugawa baik dari segi ekonomi,

(22)

32

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1.3.2 Kritik Sumber

Tahap kedua setelah penulis mendapatkan sumber-sumber yang dianggap

relevan dengan penelitian yang dikaji, tahap selanjutnya adalah melakukan kritik

terhadap sumber-sumber yang telah ditemukan baik dari buku, dokumen,

Browsing internet, sumber tertulis, maupun dari penelitian serta sumber lainnya.

Menurut Sjamsuddin (2007:131) seorang sejarawan tidak akan menerima begitu

saja apa yang tercantum dan tertulis pada sumber-sumber yang diperoleh.

Melainkan ia harus menyaringnya secara kritis, terutama terhadap sumber

pertama, agar terjaring fakta-fakta yang menjadi pilihannya. Sehingga dari

penjelasan tersebut dapat ditegaskan bahwa tidak semua sumber yang ditemukan

dalam tahap heuristik dapat menjadi sumber yang digunakan oleh penulis, tetapi

harus disaring dan dikritisi terlebih dahulu keotentikan sumber tersebut.

Menurut Dudung Abdurahman (2007:68), bahwa verifikasi atau kritik

sumber ini bertujuan untuk memperoleh keabsahan sumber. Dalam hal ini,

dilakukan uji keabsahan tentang keaslian (autentisitas) yang dilakukan melalui

kritik ekstern dan keabsahan tentang kesahihan sumber (kredibilitas) yang

ditelusuri melalui kritik intern.

Sama halnya dengan pendapat di atas, Helius Sjamsuddin (2007:105)

menambahkan bahwa fungsi kritik sumber bagi sejarawan erat kaitannya untuk

mencari kebenaran. Pada tahap ini sejarawan dihadapkan pada benar dan salah,

kemungkinan dan keraguan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa kritik

sumber dikelompokkan dalam dua bagian yaitu kritik eksternal dan kritik internal.

Kritik eksternal menitikberatkan pada aspek-aspek luar sumber sejarah sedangkan

kritik internal lebih menekankan pada isi (content) dari sumber sejarah. Sejarawan

harus memutuskan apakah kesaksian atau data yang diperoleh dari berbagai

sumber itu dapat diandalkan atau tidak. Kritik yang dilakukan oleh penulis ialah

dengan cara melihat isi buku kemudian membandingkan dengan buku-buku yang

lain. Jika terdapat perbedaan isi dalam sebuah buku, maka penulis melihat buku

(23)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3.3.2.1. Kritik Eksternal

Kritik eksternal dilakukan untuk mengetahui sejauh mana otentisitas dari

sumber yang diperoleh. Selain itu, menurut DudungAbdurahman (2007: 68-69)

Aspek eksternal bertujuan untuk menilai otentisitas dan integritas

sumber.Aspek-aspekluartersebutbisadiujidenganpertanyaan-pertanyaanseperti:

kapansumberitudibuat? Di manasumberitudibuat?Siapa yang membuat? Dari

bahanapasumberitudibuat? Dan apakahsumberitudalambentukasli?Khusus

mengenai buku, penulis akan melakukan kritik yang berkaitan dengan fisik buku

dan melihat sejauh mana kompetensi dari penulis buku sehingga isinya dapat

dipertanggungjawabkan.

Dalam skripsi ini, langkah pertama yang dilakukan oleh penulis berkaitan

dengan kritik ekstern ini adalah melakukan kritik terhadap fisik buku itu sendiri.

Fisik yang dimaksud disini adalah dengan melihat tahun terbit buku, apakah

buku-buku tersebut diterbitkan bertepatan ataukah diluar rentang waktu dari peristiwa

yang sedang dikaji. Berdasarkan hasil kritik tersebut, ternyata buku-buku yang

digunakan oleh penulis ada yang tergolong kepada sumber primer maupun sumber

sekunder. Sumber primer contohnya adalah buku karya Robert N. Bellah berjudul

Religi Tokugawa (akar-akar budaya Jepang) buku tersebut diterbitkan pada tahun

1992, Sedangkan buku yang digolongkan kepada sumber sekunder diantaranya

adalah: buku Matsonusuke Nishiyama yang berjudul Edo Culture(daily life and

diversions in urban Japan 1600-1868) , buku Peter Duus yang berjudul modern

Japan, buku karya W. G Beasley yang berjudul The Modern History of Japanese,

buku Tokugawa Tsunaneri yang berjudul The Edo Inheritance, Manusia Jepang

ditulis oleh Edwin O. Reischauer, dan lain-lain. Sumber sekunder maupun primer

tersebut sangat membantu penulis dalam mengkaji berbagai permasalahan yang

diajukan.

Langkah kedua yang dilakukan oleh penulis berkaitan dengan kritik

eksternal ini adalah dengan melihat latar belakang penulis buku. Hal ini dilakukan

dalam rangka menilai apakah si penulis benar-benar kompeten dibidangnya atau

(24)

34

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

buku yang ditulis oleh Robert N. Bellah yang berjudul Religi Tokugawa

(akar-akar budaya Jepang). Bellah adalah seorang sosiologi berkebangsaan Amerika.

Bellah merupakan profesor sosiologi di Universitas Berkley California. Bellah

adalah orang terbaik dan mempunyai hubungan baik dengan pemerintahan

lembaga keagamaan di Amerika. Bellah aktif menulis buku-buku agama dan

kebudayaan yang saling berkaitan.

Kritik internal kedua penulis lakukan terhadap buku yang ditulis oleh

Edwin Reischauer yang berjudul ManusiaJepang.Reischauer adalah Profesor

Universitas di Harvard.Reischauer dilahirkandanbesar di

Jepang.sepanjanghidupnyadiamendalamisejarahdankebudayaanJepang.

Reischauer menjabatsebagaidutabesarAmerikaSerikat di Jepang

(1961-1966).Selainbukudiatas Reischauer jugamenulisbeberapabuku yang

berkaitandengannegaraJepang.

Berdasarkan hasil kritik eksternal tersebut, penulis berasumsi bahwa

buku-buku yang ditulis oleh Robert N. Bellah maupun Edwin O. Reischauer bisa

dipergunakan sebagai sumber untuk mempermudah penulis dalam menjawab

berbagai permasalahan dalam skripsi ini, karena kiprah mereka di bidang

kebudayaan dan agama bangsa Jepang sudah tidak diragukan lagi.

3.3.2.2.Kritik Internal

Kritik internal bertujuan untuk menguji reliabilitas dan kredibilitas

sumber. Menurut Ismaun (2005:50) kritik ini mempersoalkan isinya, kemampuan

pembuatannya, tanggung jawab dan moralnya. Isinya dinilai dengan

membandingkan kesaksian di dalam sumber dengan

kesaksian-kesaksian dari sumber lain. Untuk menguji kredibilitas sumber (sejauh mana

dapat dipercaya) diadakan penilaian intrinsik terhadap sumber dengan

mempersoalkan hal-hal tersebut. kemudian dikumpulkan fakta-fakta sejarah

melalui perumusan data yang didapat, setelah diadakan penelitian terhadap

evidensi-evidensi dalam sumber.

Berhubungan dengan tahap kritik atau verifikasi sumber ini, penulis dalam

(25)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

yang telah didapatkan pada proses heuristik. Contoh kritik yang dilakukan oleh

penulis adalah dengan melihat perbandingan dari buku-buku yang penulis

gunakan sebagai sumber dalam penulisan skripsi ini. Perbandingan isi sumber

tersebut penulis lakukan terhadap buku yang ditulis oleh Peter Duus yang berjudul

Modern Japan dengan buku yang ditulis oleh W. G Beasley yang berjudul The

Modern History of Japan. Dalam bukunya, Duus memang banyak menjelaskan

mengenai pemerintahan Tokugawa adalah praktek feodalisme, pembagian kelas

masyarakat Jepang, politik isolasi. Buku tersebut diperkuat oleh buku yang ditulis

oleh Beasley yang juga banyak menguraikan sistem feodalisme Jepang yang

dilakukan oleh para daimyo sebagai bawahan dari kaisar, dan pembagian kelas

sosial.

Kritik internal selanjutnya penulis gunakan untuk membandingkan isi

buku Religi Tokugawa (akar-akar budaya Jepang) karya Robert N. bellah dengan

buku Manusia Jepang karya Edwin Reischauer. Bellah mengungkapkan bahwa

pada masa pemerintahan Tokugawa banyak nilai-nilai ajaran Shinto dan Budha

yang bertransformasi kedalam kehidupan masyarakat jepang. Pendapat tersebut

juga didukung oleh pernyataan dari Reischauer, bahwa ajaran Shinto dan Budha

berperan penting dalam sistem pemerintahn Tokugawa. Selain ajaran Shinto dan

Budha Reischauer menjelaskan Konfusius merupakan salah satu elemen penting

dalam pemerintahan Tokugawa.

Dalam proses ini,

penulisjugaharuscermatdalammembandingkanisikeduabukutersebut.

Penulisharusmenilaiapakahbuku-bukutersebutbanyakmemuatunsursubjektivitaspenulisnyaatautidak. Hal

inipentingdilakukanuntukmeminimalisirtingkatsubjektivitasdalampenelitianini,

sehinggainterpretasipenulisakanlebihobjektif.

3.3.3 Interpretasi

Interpretasi merupakan langkah selanjutnya setelah dilakukan kritik dan

analisis sumber. Pada tahap interpretasi, penulis menafsirkan keterangan yang

(26)

sumber-36

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

sumber primer maupun sekunder dengan cara menghubungkan dan

merangkaikannya sehingga tercipta suatu fakta sejarah yang sesuai dengan

permasalahan penelitian.

Menurut Kuntowijoyo (2005:101) interpretasi atau penafsiran sering

disebut juga sebagai biang subjektivitas yang sebagian bisa benar, tetapi

sebagiannya salah. Dikatakan demikian menurutnya bahwa benar karena tanpa

penafsiran sejarawan data yang sudah diperoleh tidak bisa dibicarakan. Sedangkan

salah karena sejarawan bisa saja keliru dalam menafsirkan data-data tersebut.

Gottschalk dalam Ismaun (2005:56) menambahkan bahwa interpretasi atau

penafsiran sejarah itu memiliki tiga aspek penting, yaitu : pertama, analisis-kritis

yaitu menganalisis stuktur intern dan pola-pola hubungan antar fakta-fakta.

Kedua, historis-substantif yaitu menyajikan suatu uraian prosesual dengan

dukungan fakta-fakta yang cukup sebagai ilustrasi suatu perkembangan.

Sedangkan ketiga adalah sosial-budaya yaitu memperhatikan manifestasi insani

dalam interaksi dan interrelasi sosial-budaya.

Interpretasi sejarah atau yang biasa disebut juga dengan analisis sejarah

merupakan tahap di mana penulis melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang

diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori

disusunlah fakta itu dalam suatu interpretasi yang menyeluruh. Dalam hal ini ada

dua metode yamg digunakan yaitu analisis berarti menguraikan dan sintesis yang

berarti menyatukan. Keduanya dipandang sebagai metode utama di dalam

interpretasi (Kuntowijoyo, 2005:100).

Dalam kaitannya dengan penelitian skripsi yang berjudul Reformasi Shinto

Pada Masa Tokugawa (1603-1868) ini, interpretasi yang penulis lakukan adalah

melakukan penafsiran terhadap data-data dan fakta-fakta yang sudah diperoleh

dari hasil studi literatur. Contoh lain dalam interpretasi yang dilakukan oleh

penulis adalah mengenai agama Shinto di Jepang. Penulis tidak menemukan

sumber literatur yang menjelaskan latarbelakang munculnya agama Shinto di

(27)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

bahwa ada kemungkinan ajaran agama Shinto berasal dari Jepang, dan merupakan

ajaran asli bangsa Jepang.

3.3.4 Historiografi

Menurut Helius Sjamsuddin (2007:156), historiografi adalah suatu sintesis

dari seluruh hasil penelitian atau penemuan berupa suatu penelitian yang utuh.

Pada tahap ini seluruh daya pikiran dikerahkan bukan saja keterampilan teknis

penggunaan kutipan-kutipan dan catatan-catatan. Namun yang paling utama

adalah penggunaan pikiran-pikiran kritis dan analitis sehingga menghasilkan suatu

sintesis dari seluruh hasil penelitian dan penemuan dalam suatu penelitian utuh

yang disebut dengan historiografi.

Menurut Dudung Abdurahman (2007:76), historiografi merupakan cara

penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan.

Layaknya laporan penelitian ilmiah, penulisan hasil penelitian sejarah hendaknya

dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian dari awal

(fase perencanaan) sampai dengan akhir (penarikan kesimpulan).

Tahap historiografi yang dilakukan oleh penulis merupakan tahap akhir

dari tahap penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dari mulai tahap heuristik,

kritik, interpretasi sampai pada historiografi. Tahap historiografi ini akan penulis laporkan dalam sebuah tulisan berbentuk skripsi dengan judul “Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)”. Sedangkan untuk teknik penulisan, penulis

menggunakan sistem harvard seperti yang berlaku dan telah ditentukan dalam

buku Pedoman Penulisan Karya ilmiah UPI 2012.

Untuk mempermudah penulisan, maka disusun kerangka tulisan dan

pokok-pokok pikiran yang akan dituangkan dalam tulisan berdasarkan data-data

yang telah diperoleh. Sedangkan tahap akhir penulisan dilakukan setelah

marteri/bahan dan kerangka tulisan selesai dibuat. Tulisan akhir dilakukan bab

demi bab sesuai dengan proses penelitian yang dilakukan secara bertahap.

Masing-masing bagian atau bab mengalami proses koreksi dan perbaikan

(28)

38

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Untuk mempermudah penulisan, maka disusun kerangka tulisan dan

pokok-pokok pikiran yang akan dituangkan dalam tulisan berdasarkan data-data

yang telah diperoleh. Sedangkan tahap akhir penulisan dilakukan setelah

marteri/bahan dan kerangka tulisan selesai dibuat. Tulisan akhir dilakukan bab

demi bab sesuai dengan proses penelitian yang dilakukan secara bertahap.

Masing-masing bagian atau bab mengalami proses koreksi dan perbaikan

berdasarkan bimbingan dari dosen pembimbing skripsi.

Adapun dalam penulisan skripsi ini, penulis membaginya ke dalam lima

bab. Bab satu terdiri dari bab pendahuluan yang merupakan paparan dari penulis

yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan dan batasan masalah, tujuan

dan manfaat penelitian, metode dan teknik penelitian, sistematika penelitian. Bab

dua terdiri dari tinjauan pustaka. Bab ini memaparkan mengenai tinjauan

kepustakaan dan kajian teoritis yang berhubungan dengan permasalahan yang

akan dikaji. Tinjauan pustaka memaparkan mengenai sumber-sumber literatur

yang relevan dengan penelitian penulis. Bab tiga terdiri dari metodologi

penelitian. Pada bab ini penulis menguraikan langkah-langkah dan prosedur

penelitian yang dilakukan oleh penulis secara lengkap. Bab empat berisi hasil

penelitian dan pembahasan. Dalam hal ini penulis berusaha untuk

menggabungkan tiga bentuk teknik sekaligus yaitu deskripsi, narasi, dan analisis.

Bab lima membahas mengenai kesimpulan dari permasalahan-permasalahan yang

ada serta berisi tanggapan dan analisis yang berupa pendapat terhadap

(29)

84

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan kesimpulan dari penulisan skripsi yang berjudul “Reformasi Shinto di Jepang Pada Masa Tokugawa (1603-1868)”. Kesimpulan tersebut merujuk pada jawaban atas permasalahan penelitian yang telah dikaji

oleh penulis di dalam bab sebelumnya. Dalam bab ini juga memuat rekomendasi

yang dapat digunakan oleh pembaca.

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang penulis dapatkan dari hasil penulisan skripsi yang

berjudul “ Reformasi Shinto di Jepang Pada Masa Tokugawa (1603-1868)”

adalah sebagai berikut: Pertama, agama Shinto, Budha dan Konfusianisme adalah

ajaran yang berkembang dalam masyarakat Jepang. Sebelum agama Budha masuk

ke negara Jepang, masyarakat Jepang sudah mempunyai kepercayaan yang dianut

yaitu Shinto. Sebenarnya nama Shinto ada setelah agama Budha masuk ke Jepang,

ini dimaksudkan agar ajaran-ajaran Shinto tidak tertukar dengan ajaran agama

Budha. Pada masa pemerintahan Tokugawa, didominasi oleh paham Budhisme

yang tetapkan menjadi agama resmi negara. Namun ajaran Shinto sebagai agama

asli Jepang masih tetap dilaksanakan. Pada pertengahan pemerintahan Tokugawa

muncul aliran Fukko Shinto atau Reformasi Shinto, Tujuan utama dari reformasi

Shinto adalah meneliti kembali agama Shinto yang asli. Namun dalam penelitian

tersebut pada umumnya digunakan metode dan cara berpikir dari Buddhisme dan

konfusianisme, maka hasil- hasilnyapun lahirnya Shinto baru yang bercorak

Budhhisme dan konfusianisme. Dalam perkembangannya agama Shinto, Budha

maupun Konfusius dapat berjalan bersamaan dan saling melengkapi satu sama

lain.

Kedua, ajaran-ajaran Shinto, Budha dan Konfusius cukup berperan

(30)

85

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

berdasarkan perlindungan terhadap pemerintahan, dan Shinto sebagai

perlindungan terhadap alam dan kebudayaan, maka kehidupan secara luas

cenderung mengadaptasi dari kebudayaan Shinto, Budha dan Konfusianisme.

kebudayaan Jepang dengan sendirinya terjadi dan mengalami pembauran dengan

masyarakat Jepang, termasuk dalam hal filsafat hidup dan pola-pola dasar struktur

sosial yang menjadi dasar kehidupan rakyat Jepang. Hal ini tidak menjadikan

kebudayaan tradisonal hilang begitu saja, perkembangan ajaran Shinto dan Budha

berdampingan dan sederajat. Perpaduan ajaran-ajaran kepercayaan Jepang baik

agama Shinto, Budha maupun Konfusianisme memiliki karekteristik yang hampir

sama dalam hal falsafah hidup dan nilai-nilai moral. Kekuatan kebudayaan yang

dimiliki Jepang dijadikan suatu fondasi dalam setiap sistem-sistem nilai

kehidupan. Ajaran tentang kesederhanaan hidup (Shinto) dan menyatakan bahwa

kebahagian dunia ini tidak kekal, yang kekal hanyalah Budha (Jodo), dijadikan

pegangan oleh rakyat dalam menghadapi penderitaan dari penindasan para

penguasa feodal. Stratifikasi sosial yang diciptakan pemerintahan Tokugawa

berdasarkan ajaran Konfusianisme yang menyatakan “ bahwa manusia hidup sesuai dengan kodratnya”. Disisi lain ajaran Budha tentang kesetian terhadap On sebagai kosep tuhan, Onyang dimaksudkan disini adalah kaisar sebagai penguasa

pemerintahan. Seluruh rakyat harus patuh dan taat kepada kaisar. Konfusianisme

ikut berperan dalam politik Jepang, salah satu mazhab Konfusianisme adalah

menekankan peran dalam mengatur negara, artinya menciptakan dan memelihara

sebuah masyarakat yang tertib. Ajaran ini menekankan bahwa masyarakat

manusia harus mencerminkan kehadiran alam semesta yang tertib. Sesuai dengan

ajaran Shinto, manusia harus menjaga keselarasan dengan alam. Hal ini juga yang

mendasari Jepang sangat menjaga lingkungan alam.

Ketiga, Jepang merupakan negara yang cerdas dalam memadukan antara

modern dengan tradisional secara harmonis. Ini dapat dilihat dari sikap negara ini

yang tidak hanya mengutamakan kemajuan teknologi, namun juga mengutamakan

keunikan budaya yang tak akan tenggelam di tengah arus modernisasi. Budaya

(31)

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Shintoisme yang menjadi corak kehidupan sosial dan ekonomi,ajaran mengenai

kesederhanaan hidup dalam mencapai kemakmuran. Pengaruh ajaran Shinto,

Budha dan konfusianisme terhadap kebudayaan masa Tokugawa pada zaman

feodal terdapat perkembangan yang sangat menakjubkan dimana banyak tercipta

kebudayaan khas Jepang yang bahkan masih bertahan hingga saat ini.

Kebudayaan ini berkembang, tak hanya mendapat pengaruh dari budaya militer,

tetapi juga mendapat pengaruh dari budaya istana dan bangsawan. Sebagai

contoh, perkembangan nilai-nilai Bushido (moral militer) seperti sifat-sifat

kesederhanaan, sifat ekonomis, kesetiaan dan kesatria. Selain itu, kebudayaan

tradisional Jepang seperti seni upacara minum teh (saado), seni merangkai bunga

(kadou) dan seni membuat kue Jepang, drama Noh (nou), seni arsitektur puri,

musik samisen, drama boneka joururi, drama kabuki tumbuh pada masa. Dapat

dikatakan bahwa masa ini adalah masa keemasan perkembangan budaya

tradisional Jepang. Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik

religius bagi Jepang, sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada

kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik Negara, kemudian

agama Shinto bercampur dengan agama Budha demikian pula dengan agama

Konghucu (Konfusianisme) yang masuk ke Jepang langsung dari tanah asalnya

(Cina) pada abad ke-7. Sistem politik Jepang pada masa Tokugawa memang

banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dari Konfusianisme. Filsafat

Konfusianisme mengajarkan bahwa orang bijaksana harus memberikan pelajaran

kepada rakyat, doktrin inilah yang menyebabkan pemerintahan Tokugawa

menerapkan sisten otokrasi dalam menjalankan pemerintahan feodalnya.

5.2 Saran

Pertama, untuk lembaga UPI, tulisan ini dapat dijadikan sumber

bacaan untuk menambah pengetahuan mengenai kebudayaan Jepang. Untuk

Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, nilai-nilai yang terkandung dalam

reformasi dapat dijadikan pembelajaran bagi mahasiswa sebagai calon pendidik

(32)

87

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

yang ada di dunia. Untuk jurusan Pendidikan Sejarah, tulisan ini dapat

memperkaya penulisan dan sumber bacaan mengenai negara Jepang khususnya

mengenai reformasi Shinto di Jepang pada zaman Tokugawa (1603-1868), serta

dapat mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam reformasi kebudayaan ini.

Kedua, untuklingkungansekolah, nilai-nilai yang terkandung dalam

reformasikebudayaan pada pembelajaran Sejarah adalah mampu memahami

mengenai keberagaman kebudayaan di dunia, termasuk kebudayan Indonesia.

Materi mengenai reformasi ini terdapat dalam pembelajaran sejarah kelas XII

semester I, mengenai kebudayaan Hindu-Budha dan islam di Indonesia. Dalam

materi tersebut terdapat pembahasan mengenai perpaduan antarkebudayaan di

Indonesia yang menghasilkan suatu perubahan kebudayaan dan keberagaman.

Ketiga, bagi seluruh masyarakat, menjaga kelestarian budaya

bangsanya adalah suatu kewajiban. Dalam kehidupan masyarakat harus bisa

menjaga dan menghargai kebudayaan bangsanya, unsur-unsur budaya asing yang

masuk tidak dianggap sebagai kebudayaan yang dapat merusak kebudayaan yang

ada, tetapi bisa dianggap sebagai hal positif yang dapat memperkaya kebudayaan

sendiri. Keberagaman kebudayaan Indonesia yang terdiri dari agama, suku bangsa

dan adat istiadat yang berbeda-beda bisa hidup dengan harmonis tanpa

(33)

88

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :

Abdurrahman, D. (2007). Metode Penelitian Sejarah. Jakarta : PT. Logos Wacana Ilmu.

Anesaki, Masaharu (1963).History of Japanese Religion. Tokyo: bunkyo-ku Tokyo Japan.

Beasley, W. G. (2003). Pengalaman Jepang: Sejarah Singkat Jepang. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Bellah, N Robert. (1992). Religi Tokugawa. Jakarta: Gramedia.

Bunce, William K. (1995). Religion in Japan (Budhhism, Shinto, Christianity). Charles E. Turttle Company: Ruttland.

Dasuki, A. (1963). Sedjarah Djepang. Bandung: Balai Pendidikan Guru.

Dasuki, A. dan Rochyati, W. (1989). Sejarah Asia Timur: Seri C. Ciamis: STKIP Galuh Ciamis.

Davis, W. (1992). Japan Religion and society Paradigms of stucture and Change. New York Press.

Duus , P.(1998). Modern Japan. USA: houghton mifflin company.

Gotchlak, L. (1986). Mengerti Sejarah. Jakarta : UI Press.

Harooyunian, H. D. (1970). Toward Restoration. University of California Press.

Ismaun (2005). Sejarah Sebagai Ilmu. Bandung: Historia Utama Press.

Jansen, Marius B. (2002). The Making Of Modern Japan. Amerika: Harvard University Press.

Koentjaraningrat (2000). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kuntowijoyo. (2005). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lan, N J. (1961). Djepang Sepandjang Masa. Jakarta: Kinta Djakarta.

Matsonusuke, Nishiyama. (1997). Edo Culture (daily life and diversion in urban

Japan 1600-1868). University of Hawaii press.

Mattulada. (1979). Pedang dan Sempoa: Suatu Analisa Kultural Perasaan

(34)

89

Arni Febriani, 2013

Reformasi Shinto Pada Masa Tokugawa (1603-1868)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Reischauer, Edwin O. (1982). Manusia Jepang. Jakarta: Sinar Harapan.

Soekanto, Soerjono. (1987). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sjamsudin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak

Supardan, D. (2008). Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendekatan

Struktural. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Susilo. (2009). Spirit Jepang, Jogjakarta: Garasi.

Tsunaneri, Tokugawa. (2007). The Edo Inheritance. Tokyo: International House

of Japan.

UPI. (2012). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan

Indonesia.

Wiriaatmadja, R. (2004). Sejarah peradaban Cina. Bandung: Humaniora.

Yamamoto, Kosho. (1960). A History of Japanese Buddhism. Tokyo: Bukkyo

Dendo Kyokai, Tokyo

Sumber Internet:

Wikipedia. (2012) Agama Shinto. [online]. Tersedia:

(http://en.wikipedia.org/wiki/shinto). (27 Oktober 2012)

Wikpedia. (2012). Feodalisme. [online]. Tersedia: (http:// en.wikipedia.org/wiki/feodalisme). (27 Oktober 2012)

Wikipedia. (2012). Ranguku. [onine]. Tersedia: (http:// en.wikipedia.org/wiki/Rangaku). (27 Oktober 2012)

Ardika, Nyoman. (2011). Religi Yang Berkembang Pada Era Tokugawa dan

Meiji.[online]. Tersedia:

Referensi

Dokumen terkait

observational study of dogs being walked by their owners N s 402 , dogs which were walked together, and had opportunities to play with one another, played with their owners with

Didukung oleh Komite Audit yang telah melaksanakan tanggung jawabnya secara maksimal, Dewan Komisaris telah mereview Laporan Keuangan Perusahaan untuk tahun yang berakhir

Aktivitas yang dilakukan Komite Audit Perusahaan selama tahun 2010 adalah melakukan kunjungan perusahaan untuk memastikan kontrol internal telah berjalan dengan baik dan

on aggressive behaviour at maturity. Full-fed commercial laying strain LA males were used as a control. The behaviour of individual males, nine from each treatment group, towards

[r]

Pada saat kondisi daerah tangkapan air masik baik, dimana kawasan permiabel atau kedap masih sekitar 8.48 % (Purboseno, Bambang, Suripin, Hadi, 2013) debit outflow Waduk Rawa

representation of the features and processes which convey the property’s significance; a clear identification of value and proper conservation area is needed. suffers from

Risiko akan melaksanakan Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan Pengadaan Jasa Agen Penjual Dalam Rangka Penjualan Obligasi Negara kepada