• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jaringan Dunia Islam dan Islam di Nusant

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jaringan Dunia Islam dan Islam di Nusant"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

Jaringan Dunia Islam dan Islam di Nusantara

Oleh: Rahmat Hidayat (F02116027)

A. Latar Belakang

Islam yang ada di Nusantara adalah sebuah keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan

konteks Islam di kawasan dunia lainnya. Bahkan pula jika keunikan tersebut dibandingkan dengan

Islam di kawasan Arab. Keunikan tersebut dapat diurai dalam beberapa hal: jumlah pemeluknya

yang terbanyak, adanya pelbagai aliran ideologi, adanya pelbagai macam kultur-budaya, adanya

pelbagai macam ajaran, mampu berdampingan dengan budaya asli, dan lain sebagainya.

Keunikan-keunikan tersebut menjadikan Islam di Nusantara sejak dulu sangat menarik untuk

dipandang banyak orang. Islam di Nusantara dengan pelbagai macam pernak-perniknya tersebut

menarik minat banyak kalangan terdidik untuk mempelajari dan mengkajinya. Mereka mengkajinya

dari pelbagai aspek keilmuannya masing-masing.

Para pengkaji tersebut tidak hanya dari internal Islam, pula dari eksternal Islam yang terdiri

dari kalangan akademisi perguruan tinggi-perguruan tinggi luar negeri. Mereka bahkan menjadikan

bahan kajian tersebut menjadi karya monumental yang mengokohkan dirinya sebagai bagian

ilmuwan berkelas dunia. Dalam kalimat yang sederhana, hal itu bermakna bahwa Islam di

Nusantara telah memberikan manfaat kepada banyak pihak.

Salah satu pernak-pernik yang sangat menarik tersebut antara lain mengenai sejarah masuknya

Islam di Nusantara dan bagaimana perkembangannya. Dalam hal perkembangan Islam, pada titik

inilah Islam di Nusantara diibaratkan laksana sebuah intan, yang pantulan cahayanya berpendar ke

berbagai arah, bergerak dengan dinamisasi yang luar biasa. Dinamisasi yang wujudnya pemikiran

dan pergerakan tersebut terjadi bahkan hingga hari ini. Sayangnya masih banyak muslim di

Nusantara yang belum memahami sejarah peradabannya sendiri, dan oleh karena itulah menjadi

penting disusunnya makalah ini.

B. Perkembangan Islam di Nusantara

1. Sejarah Islamisasi Nusantara

Pada umumnya penyebaran Islam di Nusantara berlangsung melalui dua proses. Pertama,

penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam kemudian menganutnya. Dan kedua,

orang-orang asing Asia, seperti Arab, India dan Cina yang beragama Islam bertempat tinggal secara

permanen di satu wilayah, melakukan perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal.

Kedua proses ini dimungkinkan terjadi secara bersamaan.1 Baik orang pribumi maupun para

(2)

pendatang tersebut saling berakulturasi, bermasyarakat, dan di situlah proses Islamisasi berjalan

dengan otomatis.

Secara lebih spesifik Islamisasi di Nusantara merupakan suatu proses yang sangat penting

dalam sejarah dan juga yang paling tidak jelas faktanya.2 Ketidakjelasan ini antara lain terletak pada

pertanyaan kapan Islam datang, dari mana Islam berasal, siapa yang menyebarkan Islam di

Nusantara pertama kali dan lain sebagainya.3 Hal tersebut terjadi dengan lumrah disebabkan

perbedaan data dari masing-masing peneliti, perangkat ilmu yang digunakan4, serta perbedaan

waktu penelitian itu dikerjakan. Juga daerah pijakan awal yang dijadikan obyek penelitian, di mana

Nusantara ini dibagi dalam beberapa pulau besar yang sangat berbeda kultur masyarakatnya,

sehingga dapat memunculkan pula perbedaan pandangan dalam diri peneliti.

Lebih jauh Azyumardi Azra menjelaskan bahwa tiga masalah pokok yang menjadi faktor

diskusi intens dan perdebatan panjang tersebut antara lain; tempat asal kedatangan Islam, para

pembawanya dan waktu kedatangannya. Berbagai teori dan pembahasan yang berusaha menjawab

ketiga masalah pokok ini jelas belum tuntas, tidak hanya kurangnya data yang dapat mendukung

suatu teori tertentu, tetapi juga karena sifat sepihak (subyektif) dari berbagai teori yang ada.5

Hasan Mu’arif Ambary mensinyalir bahwa ketidakjelasan tentang Islamisasi di Nusantara dapat

ditunjukkan pada bukti-bukti tertua kehadiran orang atau komunitas muslim awal. Di antara

beberapa bukti tersebut antara lain di Leran Gresik (1082 M), di Barus, Sumatera Utara (1206 M),

Pasai, Aceh (1297 M), dan Troloyo, Mojokerto (1368 M).6 Bukti-bukti arkeologis yang berlainan itu

membuat perdebatan tentang kapan Islam datang ke Nusantara semakin meruncing.

a. Awal Masuknya Islam di Nusantara

Meskipun banyak perdebatan tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara, secara umum

terdapat hanya dua perbedaan pendapat tentang kapan pertama kali Islam datang ke Nusantara.

Pertama, diasumsikan terjadi pada abad ke 7 H/ 13 M berdasarkan beberapa argumentasi,

antara lain:

 Tesis yang berpijak dari laporan Marcopolo yang berkunjung ke Nusantara pada abad ke 7

H/ 13 M sebagai utusan kekaisaran Cina dan menegaskan adanya Kesultana Islam Samudra

Pasai ketika ia sampai di Aceh melalui pelabuhan kecil di Pantai Utara Sumatera. Marcopolo

mendapati jika penduduk disekitar pelabuhan tersebut beragama Islam yang diduga kuat

2 Kalimat Ricklefs ini dikutip oleh Nor Huda, Islam Nusantara: Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) hlm. 31

3 Ibid

4 Secara umum perangkat ilmu yang dipakai dalam penelitian ini adalah sejarah, sosial dan arkeologi

5 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2013) hlm. 2

(3)

diIslamkan oleh pedagang-pedagang dari Coromandel, India, yang sejak awal beragama

Islam. Tesis ini didukung oleh Winstedt.

 Islam masuk ke wilayah Nusantara setelah jatuhnya Baghdad pada 656 H/ 1258 M, dimana

ketika itu banyak ulama Arab bermigrasi (hijrah) ke wilayah Timur, untuk mengamankan

diri dari ancaman tentara Mongol. Diduga kuat penduduk di Pantai Utara Sumatera

menganut Islam adalah berasal dari para “muhajir” dari Baghdad tersebut. Tesis ini sangat

didukung kuat oleh C. Snouck Hurgronje.

 Masyarakat Islam sudah ada di wilayah Nusantara setelah kedatangan para sufi pada abad ke

7 H. Oleh orientalis John, tesis ini mendapatkan pembenaran melalui argumentasi bahwa

melalui tasawuflah, dalam hal ini tarekat, spirit perjalanan dakwah mereka menguat.

Sebagaimana perjalanan yang dilakukan sufi Ibnu Arabi dan al-Jili.7

Asumsi pertama ini mendapat beberapa sanggahan kuat. Antara lain: berita Marcopolo

menunjukkan pula bahwa sebelum ia datang ke Pasai, di daerah tersebut Islam sudah menyebar

dan dianut penduduk yang ada di situ; bahkan adanya Kerajaan Islam Samudra Pasai

menandakan bahwa sebetulnya Islam sudah kuat di daerah tersebut; hijrahnya sufi Baghdad ke

Nusantara di abad 7 H/ 13 M tidak didukung bukti tertulis yang kuat; dan benar memang jika

tasawuf merupakan aliran utama para pembawa Islam di Nusantara, namun belum mengerucut

menjadi lembaga tarekat.8

Sanggahan tersebut menjadikan asumsi pertama tersebut menjadi meragukan. Fakta

terbantahkan dengan bukti-bukti yang sangat meyakinkan. Akan terlihat berbeda ketika melihat

asumsi selanjutnya disebabkan kuatnya argumentasi yang mendukungnya.

Dan kedua, yang mengasumsikan bahwa Islam hadir di Nusantara sejak abad pertama

Hijriyah atau tujuh Masehi.9 Asumsi ini berdasarkan beberapa argumentasi:

 Adanya catatan resmi Kekaisaran Dinasti Tang (618 M) yang secara tersurat

memberitahukan tentang sudah masuknya Islam di wilayah Timur Jauh, yakni Cina dan

sekitarnya semenjak abad pertama Hijriyah. Yang dimaksud wilayah Timur Jauh selain Cina

adalah gugusan kepulauan Nusantara yang pada masa itu sudah berhubungan dagang dan

diplomatik dengan Cina. Dimana penduduk Nusantara yang telah memeluk Islam sudah

menguasai ilmu perdagangan yang didapat dari orang Arab yang memang hilir mudik

mendatangi Nusantara. Boleh dikata, kepentingan Cina datang ke Nusantara adalah

menyerap ilmu dari orang-orang Arab. Selain itu pula, di Nusantara sendiri sudah ada

7 Alwi Shihab, Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi: Akar Tasawuf di Indonesia,terjemahan Muhammad Nursamad (Depok: Pustaka IIMaN, 2009) hlm. 6-7

(4)

peradaban yang maju, yakni Kerajaan Sriwijaya yang oleh orang Arab dikenal dengan

sebutan “Negeri Maharaj”.

 Adanya laporan Cina lainnya yang memberitahukan jika bangsa Arab telah mengirim utusan

kepada sebuah kerajaan di Jawa yang dikenal dengan sebutan Ho Long, sekitar tahun 640,

666 dan 674 Masehi. Dalam catatan itu keduanya, bangsa Arab dan Kerajaan Ho Long,

sering saling mengirim utusan untuk mengetahui tentang kemajuan masing-masing. Dari

penelitian sejarah diketahui jika yang dimaksud Kerajaan Ho Long yang dimaksud itu

adalah Kerajaan Kalingga, sebuah kerajaan yang sudah dikenal adil dan sejahtera, yang

terletak di Jawa Timur, seperti yang dijelaskan Hamka yang sudah dikutip Alwi Shihab. Di

Kerajaan Kalingga tersebut dipimpin oleh seorang ratu penguasa yang diduga kuat sudah

memeluk Islam, namanya Ratu Sima.10

 Adanya peninggalan sejarah berupa iskripsi makam lama yang terletak di Leran, Gresik,

Jawa Timur. Makam tersebut bertulisankan tahun 431 H/ 1039 M di batu nisannya, yang

disimpulkan oleh beberapa sejarahwan sebagai bukti bahwa Islam telah hadir di Nusantara

sebelum tahun pada batu nisan tersebut, atau semenjak abad-abad awal Hijriah. Seperti yang

ditegaskan Morrison dan Drewes.11

Kelihatannya asumsi yang kedua inilah yang mendapat kata sepakat oleh banyak

sejarahwan. Di samping karena disokong argumentasi yang lebih kuat, juga diperkuat pula

dengan penjelasan-penjelasan dalam subtema selanjutnya.

b. Pembawa Islam Awal di Nusantara

Ada banyak versi tentang siapa yang pertama kali membawa Islam di Nusantara. Jika

diuraikan dengan lebih lengkap maka ada empat teori tentang siapa saja yang menjadi

pembawa Islam di Nusantara ini, antara lain:

1.) Teori India

Teori ini antara lain dikemukakan oleh Pijnappel, Snouck Hurgronje, Moquette dan

Fatimi. Dalam teori ini diuraikan bahwa Islam pertama kali datang ke Indonesia berasal dari

anak benua India, sekitar abad ke-13.

Pijnappel, seorang ahli dari Universitas Leiden, mengajukan bukti adanya persamaan

mazhab Syafi’i antara di Anak Benua India dengan Indonesia. Orang-orang Arab yang

bermazhab Syafi’i berimigrasi dan menetap di Gujarat dan Malabar kemudian membawa

Islam ke Nusantara.12 Jadi merekalah, orang-orang Arab yang bermukim di Gujarat dan

Malabar disinyalir sebagai pembawa Islam awal ke Nusantara.

10 Pada sumber yang lain disebutkan nama lain dari Kalingga antara lain Sima atau Simo, Kalanggara, Keling atau Holing. Kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Bali. Ahmad Y. Samantho, Atlantis Nusantara: Berbagai Penemuan Spektakuler yang Makin Meyakinkan Keberadaannya (Jakarta: Phoenix, 2015) hlm. 302

(5)

Teori tersebut mendapat bantahan dan kemudian direvisi oleh C. Snouck Hurgronje.

Menurutnya Islam yang menyebar di Nusantara ini, yang dulu dikenal dengan sebutan

Hindia Belanda, berasal dari wilayah Malabar dan Coromandel, kota-kota pelabuhan yang

ada di India selatan. Lebih spesifik, penduduk Deccan-lah yang menjadi pelantar awal

perdagangan antara negeri-negeri Islam dan penduduk di Nusantara.13 Mereka kemudian

menetap dan bertempat tinggal, biasanya ada di wilayah pesisir yang kemudian

menyebarkan Islam secara akulturasi.

Setelah peristiwa tersebut, barulah berdatangan orang-orang Arab yang menyebut diri

mereka sayyid atau syarif yang merupakan para keturunan Nabi Muhammad. Mereka datang

untuk meneruskan Islamisasi dengan membawa pula keahlian ilmu organisasi dan

keintelektualan, sehingga mereka banyak yang berposisi sebagai ulama, penguasa-penguasa

agama dan sultan yang bertindak sebagai penegak pembentukan negeri-negeri baru.14

Kedatangan para sayyid atau syarif ke Nusantara terjadi pada abad ke-12 yang merupakan

periode paling mungkin sebagai permulaan penyebaran Islam di Nusantara.15Dari merekalah

penduduk Nusantara banyak memperoleh proses transformasi ilmu-ilmu agama.

Sebagaimana Pijnappel dan Hurgronje, J.P Moquette juga berkesimpulan yang sama.

Dia berpendapat bahwa tempat asal Islam adalah dari Gujarat, India. Pendapat ini ia

dapatkan berdasarkan pengamatannya pada bentuk batu nisan di Pasai, Aceh, yang berangka

17 Dzulhijjah 831 H/ 27 September 1428. Dia juga mengamati bentuk batu nisan pada

makam Maulana Malik Ibrahim (w. 822 H/ 1419) di Gresik, Jawa Timur. Dua batu nisan

tersebut disinyalir sama bentuknya seperti batu-batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat.16

Ada dua ciri khas dari dua batu nisan tersebut yang mirip atau sama dengan yang ada di

Cambay, Gujarat. Dua ciri khas itu, oleh Hasan Muarif Ambary disebutkan antara lain

berbahan marmer dan bertuliskan huruf kufi.17 Di Jawa, disamping makam Maulana Malik

Ibrahim yang menggunakan tulisan gaya kufi, makam Fatimah binti Maimun juga demikian,

tapi dengan tahun yang berbeda, 475 H/ 1082.18 Jadi temuan arkeologis inilah yang menjadi

argumentasi pokok dari pendapat Moquette.

13 Nor Huda, Islam Nusantara... hlm. 32 14 Ibid hlm. 33

15 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama... hlm. 3 16 Nor Huda, Islam Nusantara... hlm. 33

17 Kufi adalah salah satu jenis kaligrafi Arab tertua yang berasal dari kota Kufah di Irak. Merupakan kaligrafi yang digunakan di semenanjung Arab sebelum Islam datang. Semua penulisan mushaf al-Qur’an sebelum abad ke-4 H menggunakan huruf ini yang dulu disebut maysaq. Ciri khas huruf ini terletak pada panjangnya huruf dal, shad, tho’, kaf dan ya’. Penjelasan ini didapat dari artikel “Kaligrafi Kufi” di https://kaligrafi-islam.blogspot.co.id/2015/05/kaligrafi-kufi. Dijelaskan dalam buku yang lain, huruf kufi dikembangkan di Kufah, Irak semenjak paroh kedua abad ke-8 Masehi. Jenis huruf tersebut dikembangkan dari huruf-huruf Aramaic dan Syriac. Ismail Raji al-Faruqi, Seni Tauhid

(6)

Pandangan Moquette tentang teori batu nisan tersebut coba ditentang oleh Fatimi dalam

karyanya “Islam Comes to Malaysia”. Dia berargumen bahwa keliru mengaitkan seluruh

batu nisan di Pasai termasuk batu nisan Malik al-Salih dengan batu nisan yang ada di

Gujarat. Menurut penelitiannya, bentuk dan gaya batu nisan Malik al-Salih sangat berbeda

dengan yang ada di Gujarat, bahkan tidak sama dengan batu-batu nisan lainnya di

Nusantara. Dia berpendapat bahwa justru batu nisan di Pasai tersebut sama dengan yang ada

di Bengal, India. Yang artinya dari Bengal itulah Islam awal datang ke Nusantara. Dia pun

mengkritik teori batu nisan dari teotirikus sebelumnya, yang ia katakan mengabaikan adanya

makam Fatimah binti Maimun yang ada di Leran, Gresik.19 Kritikan tersebut menunjukkan

jika teori India ini belumlah mapan, sebab masih banyak kelemahan sejarah yang mendapat

penentangan dari beberapa sejarawan lainnya.

2.) Teori Arab

Teori Arab dimulai dengan kritikan Morrison yang menganggap teori India salah

kaprah. Morrison menjelaskan bahwa memang benar batu-batu nisan yang ada di beberapa

makam di Nusantara itu sama seperti yang ada di Gujarat, namun tidak bisa disimpulkan jika

Islam berasal dari wilayah tersebut. Lebih jauh ia menyatakan bahwa selama Islamisasi di

Samudra Pasai, Malik al-Salih yang merupakan raja pertama, wafat pada 698 H/ 1297,

padahal saat itu, di sekitar tahun-tahun itu, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu dan

wilayah Cambay sendiri pada tahun 699 H/ 1298 dalam kekuasaan Muslim.20 Ketidaktepatan

teori India terletak pada tidak samanya momentum mapannya Islam di Samudra Pasai

sebelum Malik al-Salih wafat dan saat itu Cambay belumlah menganut Islam.

Teori yang dikemukakan Marrison kelihatan mendukung pendapat yang dipegang

Arnold. Menulis jauh sebelum Morrison, Arnold berpendapat bahwa Islam dibawa ke

Nusantara antara lain dari Coromandel dan Malabar. Ia menyokong teori ini dengan

menunjuk kepada persamaan mazhab fikih di antara kedua wilayah tersebut. Mayoritas

muslim di Nusantara adalah pengikut mazhab Syafi’i yang juga dominan di Coromandel dan

Malabar, seperti disaksikan ‘Ibn Bathuthah ketika ia mengunjungi kawasan ini.21

Menurut Arnold, para pedagang dari Coromandel dan Malabar mempunyai peran

penting dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini

mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu-Indonesia di mana mereka ternyata

tidak hanya terlibat dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam.22

19 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama... hlm. 4 20 Ibid hlm. 5

(7)

Mengenai pendapatnya tentang asal Islam Nusantara dari Arab, Arnold berpendapat

bahwa pedagang Arab membawa Islam ketika mereka menguasai perdagangan Barat-Timur

sejak abad ke-7 M dan ke-8 M. Dapat diduga bahwa mereka juga menyebarkan Islam ke

Nusantara. Dia juga menyatakan bahwa sebuah sumber Cina menyebutkan bahwa menjelang

seperempat ketiga abad ke-7 M ada seorang Arab yang menjadi pemimpin pemukiman Arab

Muslim di pesisir barat Sumatera. Mereka juga melakukan kawin campur dengan penduduk

setempat, sehingga muncullah komunitas muslim.23

Muhammad Hasan al-Aydrus, seorang sejarawan Universitas Uni Emirat Arab, lebih

menspesifikasi, bahwa orang Arab yang menyebarkan Islam di Nusantara adalah para syarif

atau sayyid Hadramaut yang merupakan keturunan Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa. Ia

merupakan cucu dari Imam Ja’far as-Shadiq yang juga keturunan Sayyidina Ali r.a dan

Fatimah r.a, namun paham yang ia anut bukanlah Syiah, melainkan Sunni dan bermazhab

Syafi’i. Dialah penyebar paling awal paham Sunni di Hadramaut.24

Para keturunan Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa menyebarkan Islam di Nusantara dalam

rangka hijrah yang kedua pada abad ke-14 Masehi,25 yang lebih memantapkan lagi dakwah

Islam di wilayah Asia Tenggara.26 Menurut Alwi Shihab, diantara keturunan Imam

al-Muhajir Ahmad bin Isa yang menyebarkan Islam di Nusantara pada periode kedua itu adalah

Wali Sanga.27 Memang mereka golongan alawiyin, namun dalam budaya Jawa mereka

dikenal dengan sebutan Sunan.

Adapun para keturunan Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa lainnya yang sekarang masih

hidup dan tinggal di Nusantara ini antara lain, klan Qadri, Muthahhar, Haddad,

al-Basyaiban, Khaneman, al-Aydrus, bin Syahab, bin Syeikh Abu Bakar, as-Saqaf, Bafaqih,

Jamalullail, al-Habsy, asy-Syatiri, al-Baidh, Aidid? dan al-Jufri. Mereka menyebar ke

seantero Nusantara. Salah satunya seperti terlihat pada makam Sayyid Sulaiman di

Mojoagung yang bertuliskan Kyai al-Allamah Mansur bin Thaha bin Muhamad Baqir bin

Mujahid bin Ali Asghar bin Ali Akbar bin Sulaiman bin Abdurrahman bin Umar bin

23 Ibid

24 Muhammad Hasan al-Aydrus, Penyebaran Islam di Asia Tenggara: Asyraf Hadramaut dan Peranannya terjemahan Ali Yahya (Jakarta: Lentera Basritama, 1997) hlm. 24

25 Dijelaskan dalam buku al-Aydrus tersebut bahwa ada dua kali hijrah para syarif Hadramaut ke Asia Tenggara. Pertama, pada masa Bani Umayah, karena para syarif lari dari Irak, setelah penindasan Bani Umayah terhadap Alawiyin yang berhaluan syiah. Tujuan mereka pada hijrah pertama ini adalah pulau-pulau di Filipina. Kedua, hijrahnya para keturunan Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa menuju negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Nusantara.

26 Ibid hlm. 33

(8)

Muhammad bin Ahmad Abi Bakar asy-Syaibani.28 Pekuburan tersebut terletak di Dusun

Betek Desa Mancilan Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang.

Teori Arab ini juga dipegang oleh Crawfurd, walaupun ia menyarankan bahwa interaksi

penduduk Nusantara dengan kaum muslim yang berasal dari pantai timur India juga

merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara itu Keijzer

memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar pertimbangan kesamaan

kepemelukan penduduk muslim di dua wilayah itu yang bermazhab Syafi’i.29

Adapun kalangan sejarawan dan budayan nusantara lebih condong dengan teori Arab

ini. Tercermin pada tahun 1963 mereka pernah mengadakan Seminar Masuknya Islam di

Indonesia yang dihelat dari tanggal 17 sampai 20 Maret di kota Medan. Dalam seminar

tersebut diputuskan beberapa poin; 1. Dari sumber-sumber yang kami telaah maka kami

mengerti bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali pada abad pertama Hijriyah. 2.

Daerah pertama yang dimasuki Islam adalah pantai Sumatera bagian Utara. Setelah

terbentuknya masyarakat Islam dan setelah mendapatkan kebebasan dalam bidang politik

maka raja Muslim pertama adalah di daerah Aceh. 3. Orang-orang Indonesia setelah itu

mempunyai peran dakwah Islamiyah, dan lain sebagainya.30 Nampaknya dilihat dari kuatnya

argumentasi baik mengenai para pembawa Islam, daerah mana pertama kali sebagai pijakan

dan kapan Islamisasi tersebut berlangsung, teori Arab ini lebih dapat diterima.

3). Teori Persia

Teori ini dikemukakan oleh P.A. Hoesein Djajadiningrat yang mengemukakan bahwa

Islam masuk ke Nusantara pada abd ke-13 M di Sumatera yang berpusat di Samudra Pasai.

Dia mendasarkan argumentasinya pada persamaan budaya yang berkembang di kalangan

masyarakat Islam Indonesia dengan budaya yang ada di Persia.31

Diantara bukti-bukti tersebut yaitu: adanya peringatan 10 Muharram atau Asyura yang

merupakan tradisi yang berkembang dalam masyarakat syiah untuk memperingati hari

kematian Husain di Karbala. Tradisi yang diperingati dengan membuat bubur syura. Di

Minangkabau bulan Muharram disebut bulan Hasan-Husain, di Sumatera tengah disebyat

bulan Tabut, dengan mengarak keranda yang diatasnamakan keranda Husain; adanya

persamaan antara al-Hallaj, tokoh sufi Iran dengan ajaran Syeikh Siti Jenar mengenai

wahdat al-wujud (panteisme) atau dalam istilah Jawa dikenal dengan manunggaling kawula

gusti; persamaan dalam sistem mengeja huruf Arab bagi pengajian al-Qur’an tingkat awal

dimana Jabar (Iran) sama dengan Fathah (Arab), Jer (Iran) sama dengan Kasrah (Arab), Pes

28 Ibid hlm. 39

29 Azumardi Azra, Jaringan Ulama... hlm. 8

(9)

(Iran) sama dengan Dhammah (Arab); adanya persamaan batu nisan yang ada di makam

Malik al-Salih di Pasai dan Malik Ibrahim di Gresik yang dipesan dari Gujarat. Munurut

Hoesein Djajadiningrat bahwa Gujarat adalah daerah di India yang dipenuhi dengan paham

syiah.32

Meskipun demikian teori Persia ini juga memandang adanya pengaruh mazhab Syafi’i

di Indonesia yang berasal dari Malabar, yang merupakan mazhab dominan yang dianut.

Teori ini juga sesuai dengan pendapat Muens. Dia berpendapat bahwa pada abad ke-5 M,

pada masa raja-raja Sasanid, banyak orang-orang Persia yang berada di Aceh. Dia juga

mengatakan bahwa sebenarnya kata “Pasai” itu berasal dari kata “Persia”. Muens juga

mengemukakan alasannya bahwa ketika Ibn Bathuthah datang ke Aceh, terdapat dua ulama

yang berasal dari Persia, yaitu Tadjuddin al-Syirazi dan Sayyid Syarif al-Asybahani.33

4). Teori Cina

Teori ini menyatakan bahwa Islamisasi di Nusantara berasal dari Cina yang terjadi pada

abad ke-9 M. Pada abad itu banyak orang muslim Cina terutama wilayah Kanton serta

wilayah Cina selatan lainnnya antara lain Zhangzhou dan Quanzhou yang mengungsi ke

Jawa, Sumatera dan Kedah. Hal ini terjadi karena pada masa Huan Chou terjadi

penumpasan terhadap penduduk Kanton dan wilayah Cina selatan lainnya yang

penduduknya beragama Islam. Mereka berusaha mengadakan revolusi politik terhadap

kekaisaran Cina pada abad ke-9 M.34

Di samping adanya pengungsi Cina di Jawa pada abad ke-9 M, pada abad ke-8 sampai

11 M sudah ada pemukiman Arab muslim di Cina dan Campa. Memang sudah terjadi

hubungan perdagangan yang cukup lama antara orang-orang Cina dengan orang-orang Jawa.

Suatu hal yang wajar jika pada abad ke-11 M telah terdapat komunitas muslim di Jawa

seperti makam Islam dan keramik Cina di situs Leran.35 Hal itu menandakan bahwa Leran

saat itu menjadi daerah pusat perdagangan penting di Jawa Timur.

Catatan H.J. de Graf lebih spesifik lagi memberitahukan tentang pentingnya unsur Cina

dimasukkan sebagai penyebar Islam awal di Nusantara. De Graf menyunting sebuah catatan

pada literatur Jawa klasik (Catatan Tahunan Melayu) yang memperlihatkan betapa

pentingnya orang-orang Cina bagi pengembangan Islam di Nusantara. Dalam catatan

tersebut termaktub sejumlah tokoh-tokoh besar seperti Sunan Ampel atau Raden Rahmat,

yang dalam catatan Cina dikenal sebagai Bong Swi Hoo dan Raja Demak atau Raden Fatah

32 Ibid hlm. 41 33 Ibid

(10)

yang dikenal dengan sebutan Cina sebagai Jin Bun, keduanya disinyalir adalah keturunan

Cina.36

Pendapat tersebut juga disepakati Denys Lombard yang menjelaskan jika pengaruh Cina

terlihat pada peninggalan budaya. Beberapa peninggalan budaya atau kebiasaan Cina

tersebut antara lain berupa makanan, pakaian, bahasa, seni bangunan dan sebagainya.37

Sampai sekarang budaya bangsa Cina itu masih bisa ditemui. Seperti adanya ukiran padas

masjid kuno di Mantingan Jepara, menara masjid di Pecinan Banten, konstruksi pintu

makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi,

konstruksi Masjid Demak terutama soko tatal penyangga masjid dan lambang kura-kura,

dan lain sebagainya. Di Jakarta ada beberapa masjid peninggalan Cina muslim antara lain

Masjid Kali Angke dan Masjid Kebun Jeruk.38

Empat teori di atas telah menambah khazanah sejarah bagi Islam di Indonesia. Walau begitu

tentu diharapkan ada beberapa klausul yang bisa dijadikan patokan agar tidak terjadi

kebingungan sejarah. Seperti yang disampaikan Azyumardi Azra yang mengusulkan empat

tema pokok dari resiko kebingungan dimaksud. Pertama, Islam dibawa langsung dari Arabia;

Kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyair profesional, yakni mereka yang

memang khusus bermaksud menyebarkan Islam; Ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah

para penguasa; dan Keempat, kebanyakan para penyebar Islam profesional ini datang ke

Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13 Masehi.39 Tema pokok yang digagas Azra tersebut seperti

menyimpulkan bahwa memang sejak abad 1 Hijriah, Islam sudah mulai disebarkan di

Nusantara. Akan tetapi dalam periode pertama itu, penyebaran Islam belum bisa dikatakan

mapan. Baru pada abad ke-12 dan ke-13 Masehi, proses penyebaran Islam menjadi lebih

profesional dibanding periode sebelumnya itu.

2. Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara

Islam dimulai di Nusantara ini melalui kehadiran individu-individu dari Arab atau

penduduk asli sendiri yang memeluk Islam. Dengan ikhtiar dakwah akhirnya Islam bisa

menyebar ke beberapa wilayah Nusantara. Setelah itu terbentuklah fase selanjunya yaitu

hadirnya kerajaan-kerajaan Islam.

Diantara kerajaan-kerajaan penting itu antara lain: Kerajaan Malaka (803-917 H/

1400-1511 M), Kerajaan Aceh (920-1322 H/ 1514-1904 M), Kerajaan Demak (918-960 H/

1512-1552 M), Kerajaan Banten (960-1096 H/ 1512-1552-1684 M), Kerajaan Goa Makasar (1078 H/ 1667

36 Nor Huda, Islam Nusantara... hlm. 38 37Ibid

(11)

M.), Kerajaan Maluku.40 Kerajaan-kerajaan tersebut mempunyai andil besar dalam hal proses

dakwah Islam di wilayah tersebut. Biasanya diwujudkan dengan cara membuka perdagangan

dengan negeri-negeri lain sehingga, membuka pula pintu masuk arus pendakwah Islam.

C. Genealogi Keilmuan, Keterkaitan Dunia Islam dan Nusantara

Pembahasan tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara, tentu akan terasa hambar ketika

tidak ditelisik bagaimana proses transformasi keilmuan Islam. Dalam proses dakwah tentu tidak

akan bisa melepaskan diri pada upaya pemahaman keilmuan Islam semacam tauhid, fiqh dan

tasawwuf. Oleh sebab itu perlu dikemukakan sebuah hipotesis bahwa tidak akan mungkin para

pendakwah Islam yang datang ke Nusantara tidak membawa pula ilmu-ilmu ke-Islaman yang sudah

mereka kuasai sejak awal. Dari merekalah keilmuan Islam dipelajari oleh para muslim awal dan

merupakan awal sebuah keterkaitan antara dunia Islam dan muslim Nusantara yang berjalan sampai

sekarang.

Mengapa ilmu atau intelektualitas yang menjadi ide utama pembahasan tentang peradaban

Islam di Nusantara? Bukan pada bidang politik Islam, misalnya?

Hamid Fahmy Zarkasy, seorang intelektual Islam kontemporer, putra dari KH. Imam Zarkasy,

pendiri dan pioneer majunya Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo, pernah mengutip Ibnu

Khaldun. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Ikhtiar Membangun Kembali Peradaban Islam yang

Bermartabat”, Fahmi Zarkasy menyatakan bahwa menurut Ibnu Khaldun substansi dari tanda

wujudnya peradaban Islam adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri,

aritmatika, astronomi, optic, kedokteran, dan lain sebagainya.41 Sebuah bangsa akan diakui tinggi

peradabannya apabila penguasaan akan ilmu pengetahuan terjaga dengan baik. Hal tersebut

sepertinya menjadi kesepakatan umum sampai detik ini.

Adapun yang menjadi faktor berkembangnya aktivitas dan kreativitas keilmuan itu adalah

agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Islam banyak yang menyepakati bahwa agama

adalah asas peradaban, sebab tidak mungkin agama melahirkan kebiadaban. Beberapa sarjana

dimaksud yang menyepakati pendapat ini adalah Sayyid Quthb, Muhammad Abduh, Syed

Muhammad Naquib al-Attas, dan lain sebagainya.42 Jawaban ini dapat dijadikan locus idea pada

tulisan ini bahwa ketika peradaban Islam dielaborasi dari sisi keilmuan, baik ilmu pengetahuan

maupun ilmu-ilmu agama, Islam akan mendapat pengakuan yang sangat luas. Apabila dikerucutkan

bahwa sejarah peradaban Islam di Indonesia bisa dielaborasi dalam spektrum sejarah intelektual

40 Rahayu Permana, Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia artikel internet

41 Laode M. Kamaludin (ed.), On Islamic Civilization: Peradaban Islam yang Sempat Padam (Semarang: Unissula Press, 2010) hlm. 19

(12)

atau sejarah sosialnya. Sejarah Intelektual sendiri akan bersangkut paut dengan genealogi

keilmuannya, menyangkut pula keterkaitan dunia Islam dan Islam di Nusantara.

Genealogi yang dimaksud dalam bahasan ini lebih dititikberatkan pada silsilah atau asal

muasal transmisi keilmuan Islam yang didapat muslim di Nusantara. Para ulama di Nusantara yang

menguasai ilmu tauhid, fiqih, filsafat dan tasawuf tentu memperoleh penguasaan ilmu-ilmu tersebut

dari proses belajar yang panjang dari guru-guru tertentu. Mereka berguru bertahun-tahun, merantau

sampai menyeberang benua dan berpisah dengan keluarga dalam rentang waktu yang lama. Namun

hal tersebut merupakan proses kelanjutan setelah proses dakwah Islam awal yang belum melahirkan

muslim par exellence, sebab transmisi ilmu terjadi secara sederhana.

Fenomena sederhananya proses pengajaran itu disebabkan oleh tidak banyaknya waktu guru

mengajar muridnya. Waktu terbanyak mereka curahkan pada upaya perjuangan melawan para

penjajah yang datang silih berganti. Sebagaimana Nurcholish Madjid mensinyalir setelah Majapahit

jatuh pada tahun 1478 dan Malaka jatuh pada kekuasaan Portugis pada tahun 1511, disusul

berdatangannya penjajah Eropa lainnya, membuat para pendakwah Islam dan muslim pribumi

sendiri – dan bahkan di Asia Tenggara pada umumnya – tidak bisa membagi waktu dalam hal

konsolidasi pemikiran dan budaya.43 Sehingga saat itu belumlah muncul muslim par excellence

yang lahir dari proses pendidikan di Nusantara sendiri.

Lebih jelasnya proses transmisi keilmuan itu terdiri dua fase:

Pertama, yang terjadi di dalam negeri. Geneologi transmisi keilmuan ini diawali dengan

berdatangannya para syarif atau sayyid dari Hadramaut di Nusantara sekitar abad ke 1 Hijriyah,

seperti kesimpulan Azyumardi Azra. Para syarif atau sayyid tersebut disamping mendakwahkan

Islam, mengajak agar orang-orang pribumi memeluk Islam, tentu juga banyak sekali ilmu-ilmu

keIslaman dasar yang mereka ajarkan. Sehingga muslim nusantara sudah mengenal ilmu tauhid,

fiqih dasar dan lain sebagainya. Bisa disebut bahwa muslim awal di Nusantara tersebut hanya

menguasai ilmu-ilmu keIslaman untuk amal keseharian saja.

Silsilah model yang pertama ini diawali dengan peristiwa hijrahnya Imam al-Muhajir Ahmad

bin Isa (lahir 273 H) dari Irak menuju Hadramaut disebabkan adanya ancaman pembantaian oleh

orang-orang Qaramitha terhadap penduduk Baghdad. Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa adalah cucu

dari Imam Ja’far al-Sadiq yang merupakan canggah dari Sayyidina Ali r.a. Namun bukan Syiah

sebagai aliran yang dianut oleh Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa, melainkan Ahlu Sunnah Wa

Al-Jamaah yang fiqihnya bermazhab Syafi’i. Bahkan dalam catatan sejarah, beliau inilah penyebar

awal mazhab Syafi’i kepada penduduk Hadramaut.44 Setelah dari Hadramaut itulah dimulailah

43 Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia (Jakarta: Paramadina, 1995) hlm. 24

(13)

perjalanan panjang dakwah, menyebar ke Gujarat India dan juga kawasan Asia Tenggara, termasuk

pula Indonesia.

Di antara anak turun Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa yang mendakwahkan Islam di Nusantara

adalah Wali Sanga. Data tersebut diketahui dari garis silsilah yang merupakan hasil penelitian

Sayyid Zein bin Abdullah al-Kaf dan termaktub dalam buku yang berjudul “Khidmat al-Asyirah”.

Dalam garis silsilah tersebut Wali Sanga, seluruhnya, adalah dua atau tiga keturunan ke atas dari

Jamaludin Husain Akbar yang merupakan keturunan ketiga (cucu) dari Adzamat Khan (Gujarat).

Adapun Adzamat Khan adalah keturunan kedelapan dari Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa. Jika

ditulis lengkap, maka nama lengkapnya menjadi Adzamat Khan bin Alwi bin Muhammad bin Ali

bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa.45

Corak dakwah yang disampaikan Wali Sanga adalah tasawuf yang merujuk pada ajaran Imam

al-Ghazali dan fiqihnya menganut mazhab Syafi’i. Gambaran besar mengenai karya apa yang sudah

dihasilkan Wali Sanga dan bagaimana konsep dakwah kepada penduduk Nusantara saat itu terekam

dalam sebuah artikel yang ditulis Prof. Wijayakoesno, lalu dikutip Alwi Shihab, memberitahukan

bahwa ada sebuah buku karya Sunan Bonang yang berjudul “Primbon”.46

Buku tersebut berisi hakikat pemikiran dan mazhab yang dianut Wali Sanga baik akidah,

syariat dan tasawuf. Diriwayatkan, seperti dalam artikel tersebut, Sunan Bonang mendiktekan kitab

tersebut kepada muridnya yang bernama Syaikh Abd al-Bari. Dalam kitab tersebut diajarkan

pandangan atau pemikiran yang mengajak kepada tauhid, menjauihi syirik, dan mengingkari

kesesatan-kesesatan yang terdapat dalam kepercayaan-kepercayaan kebatinan dan kepercayaan

lainnya yang sesat.47

Pertama-tama yang diuraikan dalam kitab tersebut tentang makna tauhid yang murni, sifat-sifat

Allah swt dan nama-nama-Nya. Kemudian diterangkan bahwa manusia mempunyai kebebasan

berikhtiar, persis dengan konsep Asy’ariyah. Pada bagian penutup pengarang menjelaskan bahwa

seharusnya manusia selalu berupaya agar perilakunya sesuai lahir dan batin dengan syariat Allah

Swt, berbuat berdasarkan cinta kepada Rasulullah Saw dan didorong hasrat untuk mengikuti

Sunnahnya.48 Ajaran-ajaran itulah yang mereka sampaikan kepada penduduk pribumi saat itu,

dengan kondisi keterbelakangannya. Adapun sebab Wali Sanga adalah keturunan para syarif

Hadramaut, hal ini menandaskan tentang hubungan keterkaitan antara Hadramaut sebagai

perwakilan dunia Islam, dengan Islam yang ada di Nusantara.

Dan kedua, penduduk pribumi melakukan proses pencarian ilmu ke luar Nusantara. Pada model

inilah Islam di Nusantara mampu melahirkan ulama Islam par exellence. Yang mengawali proses ini

(14)

adalah dua orang ulama, Abd Rauf bin Ali Jawi Fansuri Sinkili dan Muhammad Yusuf

al-Maqassari. Keduanya merupakan muslim Nusantara yang belajar di Haramayn (Makkah dan

Madinah). Keduanya belajar kepada ulama besar saat itu, Ibrahim al-Kurani.49 Bahkan keduanya

merupakan jaringan ulama yang ada di selingkup Ibrahim al-Kurani. Rata-rata seluruh cabang ilmu

keIslaman dipelajari ulama Nusantara yang belajar di Haramayd. Akan diikuti pula ulama-ulama

Nusantara lainnya untuk belajar di Haramayn. Ketua PBNU yang sekarang KH. Said Aqil Siraj juga

lulusan Arab Saudi, mulai S1 di Universitas King Abdul Aziz, S2 dan S3 di Universitas Ummul

Qura.50 Bahkan sampai sekarangpun masih banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di

universitas-universitas di Arab Saudi.

Selain Arab Saudi, banyak pula mahasiswa yang mengenyam pendidikan agama di negara lain

di wilayah Asia Selatan. Banyak yang pelajar Indonesia yang belajar agama di Yaman, Pakistan,

Iran, Suriah, Turki dan beberapa negara Islam lainnya. Sayang sekali dalam tulisan ini tidak banyak

terekam, padahal faktanya sangatlah banyak pula tentang siapa-siapa mereka yang pernah belajar di

negara-negara tersebut. Beberapa yang terekam, antara lain Prof. Komaruddin Hidayat pernah

belajar di Departmen of Philosophy, Institute of Social Sciences Middle East Technical University

(METU), Ankara, Turki, juga Prof. Amin Abdullah juga belajar di universitas yang sama. Di Iran,

yang terekam adalah Ammar Fauzi Heryadi yang pernah menulis sebuah artikel “Logika Tindakan:

Membangun Sistem Nilai Religius” dimuat pada Jurnal Al-Huda. Dalam profil singkatnya, Ammar

Fauzi Heryadi pernah mengenyam pendidikan di Hawzah Ilmiyah Qum, Iran.51

Di wilayah Afrika, khususnya Mesir, Sudan, Maroko dan Tunisia, juga banyak para sarjana

Islam di Nusantara yang pernah mengenyam pendidikan dalam waktu yang lama. Diantara

cendekiawan muslim kesohor Nusantara yang lulusan Afrika antara lain Prof. Quraish Shihab

(al-Azhar, Mesir), Prof. Rom Rowi (al-(al-Azhar, Mesir), Prof. Ahmad Zahro (Sudan), dan lain-lainnya.

Tentu masih banyak para sarjana Islam di Nusantara tamatan Afrika tersebut.

Adanya fakta tentang transmisi ilmu dimana sarjana di Nusantara belajar ke negara-negara

Islam lainnya tersebut menunjukkan pula adanya keterkaitan di bidang lainnya. Misalnya, dalam

bidang diplomasi, perdagangan, pendidikan (seperti diterangkan), budaya dan politik. Mengenai

politik, Indonesia bersama negara-negara Islam lainnya berkumpul dalam sebuah wadah organisai

bernama Organization of the Islamic Cooperation atau dalam istilah Indonesia disebut Organisasi

Konferensi Islam (OKI), berdiri pada 25 September 1969. Berdirinya organisasi ini sebagai respon

peristiwa pembakaran Masjid al-Aqsa di Yerusalem pada 21 Agustus 1969.52 Indonesia juga pernah

berposisi sebagai pimpinan OKI.

49 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama... hlm. 103 50 Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Said_Aqil_Siroj/

51 Ammar Fauzi Heryadi, Logika Tindakan: Membangun Sistem Nilai Religius dalam Jurnal Al-Huda volume II, nomor 8 (Jakarta: Islamic Center, 2002) hlm. 89

(15)

D. Capaian Peradaban Islam di Nusantara

Nusantara merupakan salah satu peradaban kuno yang ada di dunia ini. Peradaban ini dibangun

sejak sebelum masehi dengan bukti adanya sebuah kerajaan kuno yang bernama Kerajaan Kandis

yang berkuasa di wilayah Lubuk Jambi, Riau. Kerajaan ini meninggalkan jejak-jejak arkeologis

yang berada di tengah hutan adat Lubuk Jambi. Jejak arkeologis tersebut berwujud batu-batu kuno

diduga sebagai pagar batas kerajaan, tiang batu diduga sebagai menara kerajaan dan gua yang

diduga sebagai pintu gerbang kerajaan.53

Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang ditemukan oleh para arkeolog dan sejarahwan.

Jika ditelusuri lebih lanjut, kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Nusantara, dari berbagai suku dan

agama, dimulai Kerajaan Kandis sampai terakhir Kesultanan Langkat di Sumatera Utara yang

berdiri pada 1877, maka ada sejumlah 75 kerajaan. Kerajaan-kerajaan tersebut menyebar ke

seantero Nusantara dengan berbagai wujud peradabannya masing-masing.54 Data lebih lengkap bisa

dibaca pada buku yang ditulis Ahmad Y. Samantho berjudul “Atlantis Nusantara” yang diterbitkan

Phoenix Jakarta.

Akan halnya tentang peradaban Islam di Nusantara yang juga ada sejak abad 1 Hijriyah atau 7

Masehi, terang sekali ia berdampingan erat dengan peradaban asli Nusantara. Selama ini yang kita

ketahui bahwa hadirnya Islam tidak pernah mengeliminir bahkan mengganti peradaban yang sudah

ada di daerah dakwah Islam. Islam sebagai budaya dan ajaran selalu berdampingan erat, dan bisa

dikatakan pula beberapa ada yang saling bersinkretik. Keduanya saling berakulturasi dengan mesra,

sebab memang dakwah Islam di Nusantara bernuansa kedamaian.

Karena berdampingan itulah, pemandangan sampai detik ini menunjukkan bahwa budaya asli

daerah masih mengada dan lestari. Begitu pula dengan Islam sebagai peradaban juga menampakkan

wajahnya dengan cantas. Lalu apa saja wujud peradaban Islam yang ada di Nusantara yang muncul

mulai abad 17 Masehi sampai dengan sekarang ini? Jawabannya diuraikan di bawah ini.

Ulama Kesohor di Nusantara

1. Ulama Nusantara Abad ke 17 dan 18 M

 Hamzah Fansuri

Tidak diperoleh data sejarah yang lengkap mengenai kapan Hamzah Fansuri dilahirkan,

juga tentang guru-guru yang mengajarnya. Data yang diperoleh memberitahukan bahwa ia

berasal dari desa yang bernama Syahru Nawi di Siam, atau Thailand sekarang. Ia hidup dan

tinggal di Nusantara di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Kerajaan Aceh antara

tahun 1550 – 1605 M.55

53 Ahmad Y. Samantho, Atlantis Nusantara... hlm. 329-331 54 Ibid hlm. 313-316

(16)

Dia dikenal sebagai pengusung ajaran tasawuf falsafi tentang wahdah al-wujud yang

diperkenalkan oleh Ibn ‘Araby. Dia pernah belajar ke Persia, India, dan Haramayn (Makkah

dan Madinah). Dalam karya-karyanya ia banyak menyebut sufi-sufi kesohor lainnya seperti

Abu Yazid al-Busthami, al-Junaid al-Baghdadi, al-Hallaj, al-Ghazali, dan lain-lainnya. Ia

sangat menguasai ajaran-ajaran para sufi tersebut.56

Hanya ada 3 karya Hamzah Fansuri yang berhasil dilacak para sejarahwan antara lain,

Kitab Asrarul ‘Arifin, Kitab Syarabul ‘Asyiqin dan Kitab al-Muntaha. Seluruh kitab-kitab

tersebut membicarakan tentang tauhid, makrifat dan suluk, seperti pemahaman Ibn Araby.

Karya-karya tersebut diklaim sebagai karya tasawuf pertama kali dari ulama Nusantara.57

Mengapa data tentang Hamzah Fansuri yang tidak banyak diketahui? Ternyata memang

di zaman kesultanan di Aceh saai itu, pemerintah tidak mempunyai i’tikad untuk menulis

riwayat tentang Hamzah Fansuri dalam catatan kesultanan yang berjudul Hikayat Aceh.

Salah satu faktor utama tidak diterakannya nama Hamzah Fansuri adalah sikap kritisnya

kepada pemerintahan dan para bangsawan saat itu yang suka berfoya-foya dan mengadakan

pesta.58 Kelak, ajaran dan citra Fansuri yang sebetulnya luar biasa, ditentang habis-habisan

oleh ar- Raniri.

 Nuruddin ar-Raniri

Nama lengkapnya Nur Din bin Ali bin Hasanji Hamid as-Syafii Asyariy

al-Aydrusi. Ia dilahirkan di Ranir, sebuah kota pelabuhan kuno di pantai utara Gujarat, India

pada tahun yang tidak diketahui. Meninggal dunianya pada hari Sabtu, 22 Dzulhijjah 1068 H

atau 21 September 1658 M.

Ia merupakan seorang muhajir dari Hadramaut, seorang yang diduga seketurunan

dengan seorang sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin Auf r.a. Mungkin juga nenek

moyangnya adalah al-Humayd yang dihubungkan dengan nama Abu Bakar Abd Allah bin

Zubair al-Asadu al-Humaydi yang merupakan murid dari Imam Syafi’i.59

Pendidikan dasarnya ia selesaikan di tempat kelahirannya, Ranir, Gujarat. Kemudian ia

meneruskan pendidikan agamanya di kota Tarim, Hadramaut yang merupakan kawah

candradimuka para ulama Nusantara. Dia pernah belajar ke beberapa guru antara lain,

Syaikh Abu Hafs Umar ibn Abdullah Basyaiban al-Alawi yang menganugerahkannya ijazah

memasuki tarekat Rifaiyah, ajaran tasawuf banyak ia peroleh dari Sayyid Muhammad

al-Idrus al-Alawi. Ia merupakan penganut tasawuf Sunni yang berkiblat kepada al-Ghazali.60

56 Ibid hlm. 142 57 Ibid hlm. 144 58 Ibid hlm. 147

59 Abuddin Nata, Sejarah Sosial Intelektual Islam dan Institusi Pendidikannya (Depok: Rajagrafindo Persada, 2012) hlm. 234

(17)

Kedatangannya ke Aceh dan juga sebagai awal bertempat tinggal di daerah tersebut

pada 1637 M pada masa Sultan Iskandar II. Pendapat yang lain adalah kedatangannya

sebelum tahun tersebut, yang tercantum dalam buku karyanya as-Shirat al-Mustaqim,

sebuah buku yang berbahasa Indonesia.61

Diantara karya-karya yang sudah dihasilkannya antara lain, As-Shirat al-Mustaqim,

Durrah al-Fara’idh fi Syarh al-‘Aqaid, sebuah kitab penjelas dari kitab Syarh ‘Aqaid

al-Nasafiyah (karya Imam Sa’duddin al-Taftazani), Hidayah Habib fi Targhib wa

al-Tarhib fi al-Hadits dalam bahasa Arab, Bustan Salathin fi Dzikr Awwalin wa

al-Akhirin (sebuah buku sejarah lengkap tentang Aceh yang dibahas juga sejarah nabi, wali,

raja-raja, sejarah Melayu, tentang akal, firasat, sifat-sifat perempuan dan cerita-cerita aneh),

Nubdzah fi Da’wah al-Dzill (yang membahas tasawuf tentang sesatnya paham panteisme),

Lathaif al-Asrar tentang tasawuf, Asrar al-Insan fi Ma’rifah al-Ruh wa al-Bayan (tentang

manusia dan Allah swt, ruh dan hakikatnya, ditulis dengan bahasa Indonesia), Al-Tibyan fi

Ma’rifah al-Adyan fi al-Tasawwuf tentang bantahan para pendukung Fansuri yang

menjadikan pula hujjah putusan hukuman mati kepada mereka.62 Dan masih ada 21 kitab

lagi yang dapat dibaca pada buku “Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi” karya Alwi

Shihab.

Mengenai pertentangannya dengan Hamzah Fansuri dan pengikutnya yang

menyebarkan ajaran panteisme Ibnu Araby, diceritakan bahkan ar-Raniri beserta

pengikutnya sampai membakar buku-buku karya Fansuri dan membunuh banyak sekali

pengikutnya. Sebagai bentuk penentangan ajaran yang dikatakannya sesat.63

Walaupun begitu jasa ar-Raniri terhadap Islam di Nusantara sangatlah besar. Dialah

peletak dasar pembaruan Islam yang ia bawa dari Haramayn. Jasanya kepada bangsa

Indonesia secara umum juga sangatlah besar sebab dia berperan sangat besar terhadap

perkembangan bahasa Melayu sebagai lingua franca di wilayah Melayu dan Indonesia.

Bahkan dialah yang disinyalir sebagai pujangga (sastrawan) Melayu pertama.64

 Abd al-Rauf al-Sinkili

Nama lengkapnya Abd al-Rauf bin ‘Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili, seorang Melayu

dari daerah Fansur atau Sinkel sekarang, sebuah wilayah di pantai barat laut Aceh. Rinkes

61 Ibid

62 Ibid

63 Ibid hlm. 138

(18)

seperti diungkapkan Azra meneliti bahwa al-Sinkili lahir pada 1024 H/ 1615 M65 dan

meninggal pada 1105 H/ 1693 M66 yang artinya umur al-Sinkili sekitar 78 tahun.

Riwayat pendidikannya dimulai di desa kelahirannya untuk menempuh pendidikan

dasar. Selanjutnya ia teruskan ke Banda Aceh berguru kepada Hamzah Fansuri dan Syamsu

al-Din al-Sumatrani. Kemudian proses belajar itu ia teruskan di Arabia dengan berguru

kepada banyak syeikh. Dalam bidang hadis dan fiqih ia berguru kepada Ibrahim bin Abd

Allah bin Jam’an. Ibrahim al-Kurani, Isa al-Maghribi dan Ibn Abd al-Rasul al-Barzanji

merupakan guru-guru lainnya yang mengajar al-Sinkili.67 Khusus tentang Ibrahim al-Kurani,

oleh banyak syeikh lainnya, ia dikenal sebagai mujaddid di abad itu, 11 Hijriah, karena

penguasaan dan pemahaman akan ilmu-ilmu keIslaman, fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir dan

hadis. Yang memberikan kebanggaan bagi muslim Nusantara bahwa genealogi keilmuan

Islam Nusantara bersambung kepada seorang mujaddid tersebut.

Beberapa karya yang sudah ia hasilkan antara lain Mir’at al-Thullab fi Tasyi; Ma’rifat

al-Ahkam al-Syariyah li al-Malik al-Wahhab (fiqih), Tarjuman al-Mustafid yang disinyalir

sebagai fiqih muamalat pertama di wilayah Melayu dan Indonesia, Mawa’iz al-Badi’ah

(kumpulan hadis qudsi)68, ‘Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufridin (biografi

keilmuannya dan tasawuf), Kifayat al-Muhtajin ila Masyrab al-Muwahhidin al-Qailin bi

Wahdat Wujud (tentang mistisisme).69

Jasa besar dari al-Sinkili adalah penguatan keilmuan Islam dari Arab yang ia usung ke

Nusantara, yang juga dikatakan sebagai usaha pembaruan. Cara yang ia pakai berbeda

dengan ar-Raniri yang cenderung radikal-revolusioner, al-Sinkili menggunakan cara yang

damai ketika menghadapi paham-paham yang dianggapnya sesat.

 Muhammad Yusuf al-Maqassari

Nama lengkapnya adalah Muhammad Yusuf bin Abd Allah Abu Mahasin Taj

al-Khalwati al-Maqassari, yang dilahirkan di Makasar pada 1037 H/ 1627 M dan meninggal

pada 1111 H/ 1699 M. Menurut Azra, membicarakan al-Maqassari sangat luas

jangkauannya, sebab ia telah melalui banyak wilayah dan negara, antara lain Sulawesi

Selatan, Jawa Barat, Arabia, Srilanka dan Afrika Selatan. Dialah salah satu ulama Nusantara

yang domain aktivitasnya begitu luas, lintas benua.70 Karena jangkauan yang sangan luas ia

kemudian dikenal dengan sebutan da’i kelana.

65 Ibid hlm. 239

66 Abuddin Nata, Sejarah Sosial... hlm. 237 67 Ibid

68 Ibid hlm. 238

(19)

Diantara banyak gurunya yang tersebar di Haramayn, Damaskus, Hadramaut, dan lain

sebagainya adalah Ibrahim al-Kurani merupakan guru utamanya. Hubungannya begitu

dekat, sampai pernah al-Maqassari ditugaskan gurunya itu untuk menyalin beberapa kitab

antara lain al-Durrat al-Fakhirah dan Risalah fi al-Wujud.71

Tidak banyak karya-karya yang terekam dari al-Maqassari selain Safinat al-Najah

(fiqih). Yang jelas ia menduduki jabatan khalifah di tiga tarekat yang berbeda;

Naqsabandiyah, Qadiriyah dan Khalwatiyah.72

 Abd al-Shamad al-Palimbangi

Nama lengkapnya Abd al-Shamad bin Abd Allah al-Jawi al-Palimbangi, lahir di

Palembang pada 1116 H/ 1704 M dan meninggal pada 1203 H/ 1789 M. Beberapa guru yang

mengajarnya di Mekkah dan Madinah antara lain Syeikh Muhammad Samman, Muhammad

bin Sulayman al-Kurdi, Abd al-Mun’im al-Damanhuri, Ibrahim al-Rais, Muhammad Murad,

Muhammad al-Jauhari dan Atha Allah al-Mashri.73

Di antara karya-karya yang sudah dihasilkannya antara lain Hidayah al-Salikin, Siyar

al-Salikin, Zahrat al-Murid fi Bayan Kalimat al-Tauhid, Tuhfah al-Raghibin fi Bayan

Haqiqat Imam Mu’minin, Nasihat Muslimin wa Tadzkirat Mu’minin fi Fadhail

Jihad fi Sabilillah, Urwat Wutsqa wa Silsilat Uli al Ittiqa, Ratib Abdus Shamad

al-Falimbani dan Zad al-Muttaqin fi Tauhid Rabbil Alamin.

Al-Palimbangi dikenal sebagai ulama ahli tasawuf yang pernah mengirimkan surat

nasihat kepada Hamengku Buwono I dan Pangeran Singosari untuk menjalankan Jihad di

jalan Allah untuk meneruskan perjuangan para sultan Mataram melawan Belanda. Seperti

tercatat di dalam kitabnya Nasihat Muslimin wa Tadzkirat Mu’minin fi Fadhail

al-Jihad fi Sabilillah.74 Merupakan sebuah bukti bahwa ulama dulu tidak hanya menyampaikan

ilmu, tapi juga ikut berjuang dan menyemangati perjuangan tersebut.

 Muhammad Arsyad al-Banjari

Ia bernama lengkap Muhammad Arsyad bin Abd Allah al-Banjari. Ia dilahirkan di

Martapura, Kalimantan Selatan. Dia lahir pada tahun 1710 dan meninggal dunia pada tahun

1812 M. Ketika ia dewasa meneruskan pendidikan keagamaannya ke Makkah dan Madinah.

Diantara guru-gurunya antara lain Palimbangi, Abd Wahab Bugis dan Syeikh Abd

al-Rahman al-Misri.75

Arsyad al-Banjari dikenal sebagai pengarang buku fiqih Perukunan Melayu – di

samping ada karya-karya lainnya yang menjadi pegangan selama 200 tahun. Ia dikenal

71 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama... hlm. 277 72 Nor Huda, Islam Nusantara... hlm. 187 73 Abuddin Nata, Sejarah Sosial... hlm. 246

(20)

pula menguasa tasawuf, ilmu hisab dan ilmu falak. Selain Perukunan Melayu ia juga

mengarang kitab Sabil al-Muhtadin.76

2. Ulama Nusantara Abad ke 19 dan 20 M

 Ahmad Ripangi

Ia dilahirkan di Kendal, Semarang pada tahun 1786 M dan meninggal dunia pada tahun

1859 M. Syeikh Ahmad Ripangi belajar di Mekkah dan Madinah selama 8 tahun, disamping

juga melaksanakan haji. Setelah kepulangannya ke tanah air ia bertempat tinggal di

Kalisasak, Kabupaten Batang Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai ulama yang tidak mau tunduk

pada Belanda yang akibatnya ia pernah diasingkan ke Ambon hingga kematiannya di sana.77

Diantara karya-karya intelektualnya antara lain kitab Husn Mathalib, Asn

al-Maqashid, Jam’ al-Masail, Bayan al-Hawaij dan Ri’ayat al-Himmat. Ia merupakan

pengobar semangat perjuangan nasional pasca Belanda memadamkan Perang Diponegoro

pada 1825 sampai 1826 M.78

 Nawawi al-Bantani

Nawawi al-Bantani dilahirkan pada 1230 H/ 1813 M di Banten, Jawa barat dan

meninggal pada 1314 H/ 1887 M. di Makkah dimakamkan di Ma’la, berdekatan dengan

makamnya Siti Khadijah r.a. Ia sejak kecil dikenal sangat senang untuk mempelajari banyak

ilmu, antara lain ilmu kalam, nahwu, tafsir dan fiqih.79

Setelah dewasa ia meneruskan pencarian ilmunya ke Makkah dan Madinah ketika

usianya masih 15 tahun. Ia juga pernah belajar di Suriah dan Mesir. Diantara guru-gurunya,

antara laim Sayyid Ahmad bin Sayyid Abd Rahman al-Nahrawi, Sayyid Ahmad Dimyati,

Syeikh Khatib Sambas al-Hambali ada seorang guru yang bernama Sayyid Ahmad bin Zaini

Dahlan,80 yang dikenal sebagai gurunya para ulama Indonesia.81

Adapun murid-muridnya ketika ada di Makkah yang berasal dari Nusantara antara lain

KH. Hasyim Asy’ari, KH. Khalil Bangkalan, KH. Ilyas Serang dan KH. Tubagus

Muhammad Asnawi. Serta murid-murid lainnya yang tidak tercatat di dalam sejarah.82

Karena kealimannya iapun dijuluki sebagai Syeikh al-Hijaz oleh ulama-ulama Arab saat itu.

76 Ibid

77 Ibid hlm. 245 78 Ibid

79 Abuddin Nata, Sejarah Sosial... hlm. 252 80 Ibid

81 Diantara para murid Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan lainnya yang berasal dari Nusantara antara lain Kiai Muhammad bin Abdullah al-Suhaimi, Kiai Muhammad Saleh Darat, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Sayyid Utsman bin Yahya al-Batawi, Tuan Husni Kedah, Syekh Ahmad Yunus Lingga, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Datuk Haji Ahmad, Syekh Abdul Hamid Kudus, Kiai Muhammad Khalil Maduri, Haji Usman bin Abdullah Minangkabawi, Syekh Arsyad Thawil al-Bantani, Syekh Muhammad al-Fathani bin Syekh Abdul Qadir, dll. Lihat Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, Menolak Mazhab Wahabi: Ulasan Kritis Kesalahan dan Penyelewengan Aliran Wahabi terjemah oleh Agus Khudori (Jakarta: Turos, 2015) hlm. 212

(21)

Ada banyak karya-karya intelektualnya yang berhasil ia susun, antara lain Tafsir Marah

Labid li Kasyfi ma’a al-Qur’an al-Majid (tafsir), Syarah Fath al-Qarib al-Mujib, Syarah

Kitab al-Jurumiyah, Lubabul Bayan (balaghah), Syarah Dhariat al-Yaqin, Syarah al-Durr

al-Farid, Syarah Bidayat al-Hidayah, Nashaih al-Ibad, dan lain sebagainya.83

 KH. Saleh Darat

Nama lengkapnya Muhammad Shalih bin Umar al-Samarani atau dikenal sebagai Kiai

Saleh Darat. Ia lahir di Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara pada

tahun 1820 dan wafat pada tahun 1903. Ia memiliki andil besar dalam upaya penyebaran

Islam di pantai utara Jawa, khususnya Semarang.84

Ayah dari Kiai Saleh Darat bernama Kiai Haji Umar, juga merupakan ulama terkemuka

yang dipercaya Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Hindia Belanda. Sejak kecil

Kiai Saleh Darat sudah mengenyam pendidikan agama yang tekun, dari guru satu ke guru

yang lain dan mempelajari banyak kitab. Diantara nama guru-gurunya tersebut antara lain

KH. Syahid Waturaja, KH.M. Sahid (cucu Syeikh Ahmad Mutamakkin, Kajen), KH.

Muhammad Salih bin Asnawi, Kiai Iskak di Damaran, Kiai Abu Abdillah Muhammad

al-Hadi bin Baquini, dan lain-lainnya. Sementara muridnya sendiri juga banyak sekali, salah

satunya adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan, pendiri

Muhammadiyah dan RA. Kartini.85

Adapun gelar “Darat” sendiri merupakan nama panggilan disebabkan ia tinggal di darat,

tepatnya pantai utara, Semarang di Jawa Tengah. Sampai kini nama Darat masih abadi

disematkan pada dua desa yang ada di wilayah tersebut, Desa Nipah Darat dan Darat Tirto.86

Banyak sekali karya yang sudah ia hasilkan, antara lain Tarjamah Sabil al-Abid ‘ala

Jauhar al-Tauhid, Tafsir Faid al-Rahman, Majmu’ah al-Syariah al-Kufiyah li al-Awwam,

Kitab Munjiyat, Kitab Hikam (namanya sama dengan Hikam yang ditulis Ibn Athaillah

al-Sakandari dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, juga sudah diterbitkan), Kitab

Lataif al-Taharah, Kitab Manasik Haji, Kitab Pasalatan, Kitab Asrar al-Salah, dan lain

sebagainya.87

 KH. Mahfudz al-Tirmisi

Ia lahir di Pacitan Jawa Timur pada 12 Jumadil Ula 1258 H/ 1868 M dan meninggal

dunia di usia muda sekitar 51 tahuin di Makkah pada tahun 1338 H/ 1919 M. Dalam

83 Muhammad Syamsu, Ulama Pembawa... hlm. 246

84 Aguk Irawan MN, Penakluk Badai: Novel Biografi KH. Hasyim Asy’ari (Depok: Global Media Utama, 2012) hlm. 84 85 Ibid

86 Ibid

(22)

peristiwa pemakamannya itu dihadiri ribuan pelayat yang mengantarkan jenazahnya ke

pekuburan keluarga Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata di Makkah.88

Sejak kecil ia sudah mengenyam pendidikan agama dari keluarganya. Pada usia yang

masih dini, 6 tahun, ia dibawa ayahnya ke Makkah. Selama di Makkah itulah ia

diperkenalkan oleh ayahnya banyak sekali kitab. Sampai kemudian di kala ia telah dewasa,

ia dibawa kembali oleh ayahnya ke tanah air dan dimasukkan ke pesantrennya Kiai Saleh

Darat di Semarang.89

Selain Kiai Saleh Darat, beberapa guru dari Mahfudz al-Tirmasi antara lain KH. Abd

Allah ayahnya, Muhammad al-Munsyawi, Syeikh Umar bin Barakat al-Sami, Syeikh

Mustafa bin Muhammad bin Sulaiman, Allamah al-Habib Sayyid Husain bin Muhammad

bin Husein al-Habsy, dan lain sebagainya. Guru-guru tersebut berasal dari Nusantara sendiri,

Makkah dan Madinah.90

Banyak sekali karya intelektual yang sudah ia hasilkan. Karya-karya tersebut tidak

hanya membicarakan fiqih, tapi juga tauhid, tafsir, hadis dan tasawuf. Kitab-kitab tersebut

antara lain Siqayah Mardliyah fi Asma Utub Fiqhiyah Syafiiyah, Minhaj

al-Khairiyah fi Arbain Haditsan min Ahadits Khair al-Bariyah, al-Khal’ah al-Fikriyah bin

Syarh al-Minhaj al-Khairiyah, Muhibah Dzi al-Fadhl ala Syarh Muqaddimah Bafadhal,

Kifarat Mustafid fima Ala min Asanid, Fawaid Tirmisiyah di Asanid Qura’at

al-Asy’ariyah, al-Budur al-Munir fi Qiraah al-Imam Ibn Katsir, dan masih banyak yang

lainnya. Al-Tirmisi dapat digolongkan ulama Nusantara yang sangat produktif dalam

berkarya. Menunjukkan pula betapa dalam penguasaan bahasa Arabnya dan pemahaman atas

ilmu-ilmu agama.91

 KH. Khalil Bangkalan

Ia lahir di Bangkalan Madura pada tahun 1235 H/ 1819 M dan meninggal dunia pada

tahun 1343 H/ 1925 M. Sejak kecil ia mencerap ilmu agama dari ayahnya yang bernama H.

Abd Latif. Di usia muda ia sudah bisa menghafal alfiyah karangan Ibn Malik (w. 1212 M),

konon membacanya dengan cara membalik kitab.92

Ketika ia telah dewasa, ia berangkan ke Makkah dan Madinah untuk meneruskan

belajar agama. Diantara guru-guru yang mengajarnya adalah Nawawi al-Bantani, Syeikh

Abd al-Karim (dalam bidang bahasa, fiqih dan tasawuf), Mahfuz al-Tirmisi dan lain-lainnya.

Adapun murid juga banyak sekali yang menjadi ulama disegani, antara lain KH. Hasyim

Asyari, K. Manaf Abd Karim, Lirboyo, KH. M. Munawir, pendiri Pesantren Krapyak, K.

88 Abuddin Nata, Sejarah Sosial... hlm. 254 89 Ibid

90 Ibid

91 Ibid hlm. 257

(23)

Maksum pendiri Pesantren Lasem, K. Wahab Hasbullah pendiri Pesantren Tambak Beras,

dan lain-lainnya.

Dalam proses lahirnya Nahdlatul Ulama, peran KH. Kholil Bangkalan sangatlah besar.

Sebagai guru dari KH. Hasyim Asy’ari, ia telah memberikan dorongan spirit dan merupakan

juga sebuah visi jangka panjang tentang pentingnya dibentuk organisasi yang didalamnya

menghimpun ulama dan umat Islam yang berpaham tradisional. Kemudian lahirlah NU di

tangan KH. Hasyim Asy’ari.

 KH. Hasyim Asy’ari

Ia lahir di Gedang Jombang pada tahun 1287 H/ 1871 M dari ayah yang bernama Kiai

Asy’ari yang berasal dari Demak, dan meninggal dunia pad 26 Juli 1947. Kiai Asy’ari

adalah keturunan ke 8 dari Jaka Tingkir atau Sultan Pajang, seorang putra Raja Brawijaya

VI. Oleh karenanya, jika dalam terminolgi Jawa, kedudukan KH. Hasyim Asy’ari adalah

sebagai seorang bangsawan Jawa.93

Sejak kecil ia sudah dididik dengan cara pesantren oleh Kiai Usman. Pada tahun 1876

M ia dibawa kedua orang tuanya ke Keras, sebuah desa di Kecamatan Diwek bagian selatan.

Hingga pada usia 15 tahun ayahnya telah memberikan dasar-dasar ilmu agama. Ia dikenal

cerdas dan gampang mencerna keterangan dari ayahnya dan gurunya yang lain.94

Diusia yang masih belia itu, 15 tahun, ia sudah mengunjungi dan bermukim di 5

pesantren di Jawa Timur, seperti Pesantrennya Kiai Ya’qub di Siwalan Panji Buduran

Sidoarjo, Pesantrennya KH. Kholil di Bangkalan, Pesantren Langitan Tuban yang diasuh

KH. Abdul Hadi, Pesantrennya KH. Shaleh Darat di Semarang.95 Diduga pula KH. Hasyim

Asyari pernah bermukim pula di sebuah pesantren di Dusun Prapen Kelurahan Kranggan di

Mojokerto, namun belum ada data yang valid.

Ia pula pernah belajar ke Makkah pada guru-guru yang sudah kesohor, antara lain

Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Mahfuz al-Tirmisi, Syeikh Ahmad Khatib, Syeikh Abd.

Al-Hamid al-Darustani dan Syeikh Muhammad Syuaib al-Maghribi.96 Ketika di pesantren

Kiai Soleh Darat dan berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib al-Sambas itulah bersama KH.

Ahmad Dahlan, sebagai kawan dan sama-sama sebagai murid dua syeikh tersebut. Dalam

novelnya Aguk Irawan MN, ada sebuah bab yang menunjukkan begitu akrabnya dua tokoh

besar Nusantara ini. Sangat mesra seperti adik dan kakak, bab tersebut berjudul “Kang Mas

Kiai Ahmad Dahlan.”97

93 Ibid hlm. 262 94 Ibid

(24)

Apa yang sudah dihasilkan dari sosok yang digadang sebagai “Hadratus Syeikh” ini

sungguh sangat besar bagi bangsa Indonesia. Di samping karya intelektualnya, juga yang

paling puncak adalah bersama kiai yang lain ia mendirikan Nahdlatul Ulama pada 31 Januari

1926, yang akan diuraikan di bab tersendiri. Adapun karya intelektual yang sudah

dihasilkannya antara lain Tibyan fi Nahy an Muqathaah Arham wa Aqarib wa

al-Ikhwan (tata cara silaturahmi), Mukaddimah Qanun Asasi li Jam’iyah Nahdlat

al-Ulama (undang-undang NU), Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Mashab al-Aimmah al-Arbaah

(mazhab empat), Mawaiz (beberapa nasihat), Arbain Haditsan Tataallaq bi Mabadi’

Jam’iyah Nahdlatul Ulama (40 hadis), al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin,

Risalah ahl Sunnah wa al-Jamaah fi Hadits al-Mauta wa Syarat as-Sa’ah wa Bayan

Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah, al-Risalah fi al-‘Aqaid,98dan masih banyak lainnya.

3. Ulama Moderen Nusantara

Berbeda dengan apa yang diuraikan pada penjelasan sebelumnya, pada subtema ini akan

diuraikan para ulama moderen atau pembaru Islam. Ulama yang telah meresapi semangat

pembaruan dari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla. Ketiganya merupakan pengusung

gerakan Islam moderen di Timur Tengah. Ada yang mensinyalir, bahwa gerakan Islam

moderen atau pembaru Islam di Nusantara mengikut pula gerakan Wahabi yang diusung

Muhammad bin Abd al-Wahab di Hijaz. Namun hal tersebut dikritik oleh Suaidi Asy’ari,

dalam bukunya, Nalar Politik NU dan Muhammadiyah: Over Crossing Java Sentris, yang

menyatakan bahwa sangat berbeda gerakan pembaru di Indonesia dengan gerakan yang

diusung Muhammad bin Abd al-Wahab. Perbedaan tersebut terletak pada sikap tolerannya

para ulama pembaru dan organisasinya terhadap muslim di Nusantara yang banyak berbeda,

sedangkan Muhammad bin Abd al-Wahab cenderung intoleran bahkan kejam terhadap

perbedaan yang merupakan keniscayaan.99 Sehingga menjadi tidak berlaku lagi

pensinyaliran tersebut, sebab gerakan pembaruan Islam di Nusantara memang sangatlah

berbeda.

Lebih lengkapnya para ulama pembaru tersebut antara lain:

 Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Ia adalah seorang pelopor pembaruan Islam di Minangkabau. Ia dilahirkan di Bukit

Tinggi pada tahun 1855 dan meninggal dunia pada tahun 1916. Sejak kecil ia bersekolah

rendah pada lembaga sekolah Hindia Belanda. Baru pada usia 11 tahun ia dibawa ke

Makkah dan belajar agama di sana.100

98 Ibid hlm. 483-485

Referensi

Dokumen terkait

tidak hanya masalah keakhiratan tapi juga pembekalan dunia seperti politik, budaya maupun kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan temuan penelitian bahwa penyuluh

Peta masuknya islam di indonesia... Teori-teori masuknya islam di

Tanah Papua secara geografis terletak pada daerah pinggiran Islam di Nusantara, sehingga Islam di Papua luput dari kajian para sejarahwan lokal maupun asing, kedatangan Islam di

Islam nusantara merupakan representasi model keislaman masyarakat Indonesia. Ia tidak hanya relevan dengan konteks Indonesia, tetapi juga relevan dalam menjawab

Azra,   Azyumardi,  Jaringan  Ulama Timur  Tengah  dan  Kepulauan  Nusantara  Abad  XVII  dan  XVIII:  Melacak  Akar‐akar  Pembaruan  Pemikiran  Islam  di 

(Sampai saat ini, penolakan terhadap terminologi Islam Nusantara banyak bermunculan, tidak hanya di kalangan masyarakat awam, namun juga di lingkungan akademik. Padahal, Islam

Tradisi-tradisi di Indonesia yang sudah mengakar kuat saat Islam masuk ke Indonesia telah direspons oleh ulama penyebar Islam ke Nusantara dalam tiga kerangka itu

Perbicaraan tentang dunia Islam hari ini merujuk bukan hanya kepada negara-negara yang terbentang dari Afrika Utara ke Asia Tenggara tetapi juga kepada komuniti Muslim yang ada