KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN DAULAH BANI UMAYYAH Oleh: Muhammad Rozali
A. Pendahuluan
Daulah Umayyah mempunyai peranan penting dalam perkembangan masyarakat di bidang politik, ekonomi dan sosial. Hal ini didukung oleh pengalaman politik Muawiyah sebagai Bapak pendiri daulah tersebut yang telah mampu mengendalikan situasi dan menepis berbagai anggapan miring tentang pemerintahannya.1
Kekuasaan Daulah Umayyah dapat bertahan karena ditopang oleh paham kesukuan yang muncul sejak terjadinya tragedi terbunuhnya Utsman bin Affan. Kekuasaaan Daulah Umayyah ini selalu membawa bendera suku Quraisy yang tidak dapat dilepaskan, didukung pula dengan adanya pribadi tangguh dalam menghadapi berbagai kekacauan yang terjadi dan dapat mengontorol wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan. Pemerintahan ini juga mampu memposisikan paham kekuasaan absolute dalam batas yang masih terkontrol. Hal ini didukung oleh makin koopratifnya kelompok Islam yang lain terhadap pemerintah.
Sedangkan dalam kehidupan sosial, kekuatan yang berpaham keislaman pada masa Ali bin Abu Thalib berlawanan dengan paham kesukuan, pada masa Daulah Umayyah justru berpaling mendukung Muawiyah. Hal ini disebabkan karena Daulah Umayyah tidak menampakkan permusuhan dengan paham-paham keislaman, yang sesungguhnya merupakan
1 Sawiy.Khairudin Yujah, Perebutan Kekuasaan Khalifah, Minyingkap dinamika dan
strategi penguasa untuk menghindari terjadinya kekacauan
akibat berkembangnya paham kesukuan.2
Namun berdirinya Daulah Umayyah (661-750) tidak semata-mata peralihan kekuasaan, namun mengandung banyak implikasi, di antaranya adalah perubahan beberapa prinsip dan berkembangnya corak baru yang sangat mempengaruhi
imperium dan perkembangan umat Islam.3 Walau pada awalnya
Daulah Umayyah tidak mempunyai arah politik khilafah yang jelas, namun kelompok ini memiliki elastisitas dalam menghadapi perkembangan sosial. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan mereka bekoalisi dengan tiga kelompok lain, yaitu kekuatan kesukuan, gerakan oposan dan paham keislaman secara umum, yang tercermin dalam segala aspek, meliputi aspek
pemerintahan, aspek ekonomi dan sosial kemasyarakatan.4
Dari berbagai kemajuan yang dicapai Daulah Umayyah yang dimulai oleh pendiri daulah tersebut yakni Muawwiyah bin Abu Sufyan Shakhar bin Harb bin Umayyah bin Abd al-Syams bin
Abdu Manaf bin Qusay Abu Abd al-Rahman al-Qursy al-Umawy.5
Ia mempunyai kemampuan diplomasi yang sangat tinggi sehingga Nicholsan dalam bukunya Literaty History of The Arabs menyebutkan, “Muawiyah adalah seorang diplomat yang cakap dibanding dengan Ricelieu, politikus Prancis yang terkenal, lebih tepat lagi ia mencontohkan Muawiyah dengan Oliver Cromwell, politikus dan protector Inggris yang termasyur, yang pernah membubarkan parlemen”.6 Semua itu ternyata tidak mampu
membuat daulah tersebut langgeng, bahkan akhirnya jatuh
2Ibid,.
3 Ghazali. Adeng Muchtar, Perjalanan Politik Umat Islam dalam Lintasan Sejarah
(Bandung: Pustaka setia, 2004), Cet. I, h. 52.
4 Sawiy. Khairudin Yujah, Perebutan Kekuasaan..., h. 12.
5 Katsir. Abu al-Fada’ al-Hafidz ibn, al-Bidayah wa al-Nihayah (Cairo: Dar al-Hadits
1998), jil. 4, juz 8, h. 20.
menyisakan puing-puing kehancuran setelah munculnya kekuatan baru dari Bani Abbasiyah
B. Kemajuan Daulah Umayyah
Muawiyah mendirikan Daulah Umayyah pada tahun 41 H di Damaskus, dengan berdirinya pusat pemerintahan Islam yang baru tersebut berarti bergeserlah pusat pemerintahan Islam dari Madinah ke Damascus. Perpindahan ibu kota tersebut terjadi melalui proses yang panjang didukung oleh strategi politik yang dibangun oleh Muawiyah. Ia memperoleh pengalaman politik dalam masa yang cukup lama, yakni mulai masa Rasulullah Saw sampai masa khalifah yang terakhir.7
Dengan berdirinya Daulah Umayyah, maka sistem politik dan pemerintahan berubah. Pemerintahan khalifah tidak lagi dilakukan secara musyawarah sebagaimana proses pergantian khalifah-khalifah sebelumnya. Suksesi pemerintahan dilakukan secara turun-temurun melalui pemilihan, seorang khalifah tidak lagi harus sekaligus pemimipin agama sebagimana khalifah-khalifah sebelumnya. Urusan agama diserahkan kepada para ulama, dan ulama hanya dilibatkan dalam pemerintahan jika dipandang perlu oleh khalifah.8
Selama masa pemerintahan dan kekuasaan khalifah pertama (Muawiyah), Daulah Umayyah banyak mencapai keberhasilan, terutama penaklukan sejumlah kota penting di kawasan Asia Tengah, seperti Kabul, Heart dan Gazna. Dalam pemerintahan, ia mendirikan beberapa departemen yang mengurus masalah-masalah kepentingan umat, seperti pelayanan pos, pembagian tugas pemerintahan pusat dan
daerah, pemungutan pajak dan pengangkatan gubernur-gubernur di daerah.
Kalau ditelusuri lebih jauh daulah tersebut berkuasa hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang khalifah. Yang dimulai oleh Muawiyah bin Abu Sufyan dan diakhiri oleh Marwan bin Muhammad. Diantara mereka ada pemimpin-pemimpin besar yang berjasa di dalam berbagai bidang sesuai dengan kehendak zamannya, sebaliknya ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah. Adapun urutan khalifah Daulah Umayyah adalah sebagai berikut:
1. Muawiyah bin Abu Sufyan 2. Yazid bin Muawiyah
3. Muawiyah bin Yazid 4. Abdullah bin Zubair 5. Abdul Malik bin Marwan 6. Al-Walid bin Abdul Malik 7. Sulaiman bin Abdul Malik 8. Umar bin Abdul Aziz
9. Yazid bin Abdul Malik bin Marwan
10. Hisyam bin Abdul malik
11. Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik
12. Yazid An-Naqish, Abu Khalid bin al-Walid
13. Ibrahim bin Al-Walid bin Abdul Malik
14. Marwan bin Muhammad9
Empat orang khalifah memegang kekuasaan sepanjang 70 tahun, yaitu: Muawiyah, Abdul Malik, al-Walid I dan Hisyam. Sedangkan sepuluh khalifah sisanya hanya memerintah dalam jangka waktu 20 tahun saja. Para pencatat sejarah umumnya
9 Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa`; Sejarah Penguasa Islam: Khulafa`urrasyidin, Bani
sependapat bahwa khalifah-khalifah terbesar mereka ialah: Muawiyah, Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz.10
Kemajuan-kemajuan Daulah Umayyah selain melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, ada beberapa hal penting yang dicapai Daulah Umayyah, yaitu:
Menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi.
Mendirikan masjid agung di Damaskus.
Membuat mata uang bertuliskan kalimat syahadat.
Mendirikan rumah sakit di berbagai wilayah.
Menyempurnakan peraturan pemerintah dan
melakukan pembukuan Hadis.
Selain itu, pada masa Daulah Umayyah mengalami kemajuan intelektual dalam ilmu filsafat, sains, fiqih, perkembangan kebudayaan juga mengalami kemajuan dalam bidang bahasa dan sastra, musik dan kesenian, seni rupa, dan seni bangunan (Arsitektur). Peninggalan-peninggalan Daulah Umayyah yang tersebar dari timur sampai ke barat.
Masjid Agung Cordova11
10 Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999),
Cet. II, h. 72.
Mihrab Masjid Cordova
Masjid Agung Damascus12
Kubah as-Sakhrah13
12 Masjid Agung Damaskus atau yang lebih dikenal dengan Masjid Umayyah,
peninggalan Daulah Umayyah di Damaskus Syria, Masjid ini dibangun pada masa Khalifah al-Walid bin Abd al-Malik (88-97 H/705-715 M). Arsitekturnya telah memberi pengaruh bagi seni bina masjid di seluruh dunia. Dari masjid inilah, arsitektur Islam mulai mengenal lengkungan (horseshoe arch), menara segi empat, dan maksurah.
13 Masjid Kubah as-Sakhrah terletak di halaman Masjid al-Aqsha Palestina yang
Daulah Umayyah di zaman Muawiyah berkembang sangat pesat, banyak sekali wilayah-wilayah yang ditaklukkan. Disebelah timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afghanistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium dan Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Abd al-Malik, ia menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Baikh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand.
Pasukan Islam menyerang wilayah asia tengah pada tahun 41 H/661 M pada tahun 43 H/663 M mereka mampu menaklukkan Salistan dan menaklukkan sebagian wilayah Thakaristan pada tahun 45 H/665 M sampai ke India. Ekspansi kebarat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman al-Walid bin Abd al-Malik (705-715 M). Masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia, tidak ada pemberontakan dimasa pemerintahanya. Ia memulai kekuasaannya dengan membangun masjid Jami’ di Damaskus, membangun Kubatu Sakhrah dan memperluas Masjid Nabawi, disamping itu, ia juga melakukan pembangunan-pembangunan yang bersifat fisik dengan skala besar.
menjadi sasaran ekspansi. Selanjutnya ibu kota Spanyol Cordova, Seviet, Elvira, dan Toledo dengan cepat dapat dikuasai, karena pasukan Islam mendapat dukungan dari penduduk setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasanya. Pada masa inilah pemerintah Islam mencapai wilayah yang demikian luas dalam rentang sejarahnya.
Di zaman Umar bin Abd al-Aziz masa pemerintahannya diwarnai dengan banyak reformasi dan perbaikan. Ia banyak menghidupkan dan memperbaiki tanah-tanah yang tidak produktif, menggali sumur-sumur baru dan membangun masjid-masjid. Ia mendistribusikan sedekah dan zakat dengan cara yang benar hingga kemiskinan tidak ada lagi di zamannya. Sehingga tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat ataupun sedekah. Berkat ketakwaan dan kesalehannya, ia dianggap sebagai salah seorang Khulafaur Rasyidin.
Pada masa pemerintahannya, ia memulai serangan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Di samping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Daulah Umayyah ini. Pada masa ini sangat sedikit peristiwa perang yang terjadi. Dakwah Islam menjadi marak dengan metode penyampaian nasehat yang penuh hikmah sehingga banyak orang yang masuk Islam.
Hasyim dikenal sangat jeli dalam berbagai perkara dan pertumpahan darah. Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik ditimur maupun barat.
Wilayah kekuasaan Islam masa Daulah Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afghanistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan Purkmenia, Ulbek, dan Kilgis di Asia Tengah.
Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Daulah Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan berbagai bidang, seperti:
1. Mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda dengan peralatannya di sepanjang jalan. Ia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata. 2. Menetapkan bendera merah sebagai lambang negaranya
yang menjadi ciri khas kerajaan Umayyah.
3. Khalifah Abd al-Malik membangun sebuah kubah yang
megah dengan arsitektur barat yang dikenal dengan “The
Dome Of The Rock” (Kubah as-Sakhrah).
4. Pembuatan mata uang di zaman khalifah Abd al-Malik yang kemudian diedarkan keseluruh penjuru negeri Islam.
5. Pembuatan panti asuhan untuk anak-anak yatim dan panti jompo.
6. Pengembangan angkatan laut Muawiyah yang terkenal, ia membangun armada perang yang besar di laut dengan jumlah 1700 armada.14
7. Khalifah Abd al-Malik juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.
8. Khususnya dibidang Tashrik kemajuan yang diperoleh sedikit sekali, sebab kurangnya dukungan serta bantuan pemerintah waktu itu. Baru setelah masa khalifah Umar bin Abd al-Aziz kemajuan di bidang ini mulai meningkat, beliau berusaha mempertahankan perkembangan hadis yang hampir mengecewakan, karena para penghafal hadis sudah
banyak meninggal sehingga Umar bin Abd al-Aziz berusaha untuk membukukan Hadis.
Meskipun sering terjadi pergolakan dan pergumulan politik pada masa pemerintahan Bani Umayah, namun terdapat juga usaha positif yang dilakukan Daulah ini untuk kesejahteraan rakyatnya.
Diantara usaha positif yang dilakukan oleh para khilafah Daulah Umayyah dalam mensejahterakan rakyatnya ialah dengan memperbaiki seluruh sistem pemerintahan dan menata administrasi antara lain organisasi keuangan. Bertugas mengurusi masalah keuangan Negara yang dipergunakan untuk:
Gaji pegawai dan tentara serta gaji tata usaha Negara.
Pembangunan pertanian, termasuk irigasi.
Biaya orang-orang hukuman (tahanan) dan tawanan
perang
Perlengkapan perang.
Disamping usaha tersebut Daulah Umayyah memberikan hak dan perlindungan kepada warga Negara yang berada di bawah pengawasan dan kekuasaannya. Masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dan kesewenangan. Oleh karena itu daulah ini membentuk lembaga kehakiman. Lembaga kehakiman ini dikepalai oleh seorang Hakim (Qadhi al-Qudhah).
C. Kemunduran Daulah Umayyah
Untuk memelihara keutuhan dan mencegah perpecahan umat Islam karena suksesi kepemimpinan, sebagaimana yang pernah ia saksikan pada masa beberapa khalifah sebelumnya, Muawiyah mencalonkan putranya, Yazid sebagai putra mahkota yang akan menggantikan kedudukanya jika ia meninggal, pencalonan tersebut dilakukannya pada tahun 679 M. untuk mengamankan pencalonann itu, Muawiyah melakukan bebagai pendekatan kepada para pemuka masyarakat hingga seluruh lapisan masyarakat.15
Namun rencana tersebut mendapat tantangan dari beberapa pihak, terutama pemuka-pemuka masyarakat Hijaz, sepeerti Abdullah bin Umar, Abdul Rahmn bin Abu Bakar, Husein bin Ali, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Abbas. Penolakan mereka didasari atas suatu keinginan agar khalifah yang diangkat tidak melalui penunjukan, melainkan dengan musyawarah sebagaimana yang pernah diperaktekkan oleh khalifah-khalifah sebelumnya.16
Setelah Muawiyah wafat, Daulah ini harus berusaha keras mempertahankan posisinya yang goyah, kondisi politik tidak stabil, banyak kelompok masyarakat yang tidak puas dengan raja baru yang sebelumnya telah dinobatkan sebagai putra mahkota. Pengangkatan putra mahkota ini mengakibatkan munculnya gerakan-gerakan oposisi dari kalangan sipil yang menyebabkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkepanjangan.
Maka setelah Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia terhadapnya meskipun
15 Ensiklopedi Islam…, h. 248.
pada akhirnya terpaksa tunduk juga, kecuali Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Bersamaan dengan itu, Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsulidasi (penggabungan) kekuatan kembali. Perlawanan terhadap Daulah Umayyah dimulai oleh Husein bin Ali pada tahun 680 M. namun tentara Husein kalah dan dia sendiri terbunuh dalam pertempuran yang tidak seimbang, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya di kubur di Karbala.17
Perlawanan kaum Syi’ah tidak padam dengan terbunuhnya Husein, bahkan mereka menjadi lebih keras, lebih gigih dan tersebar luas. Banyak pemberontakan yang dipelopori kaum Syi’ah terjadi, diantaranya terjadinya pemberontakan Mukhtar di Kufah yang mendapat dukungan dari kaum Mawali pada tahun 685-687 M.18 selain itu Daulah Umayyah juga mendapat
tantangan dari kaum Khawarij, dan meskipun gerakan-gerakan anarkis yang dilancarkan baik dari pihak Syi’ah maupun dari Khawarij dapat dipatahakan oleh Yazid tetapi tidak berarti menghentikan gerakan oposisi dalam pemerintahan Daulah Umayyah.
Hubungan antara pemerintah dan golongan oposisi mulai membaik pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Ia berhasil menjalin hubungan baik dengan golongan Syi’ah, ia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lainnya untuk beribadah sesuai keyakinan dan kepercayaannya, pajak diperingan, kedudukan Mawali disejajarkan dengan muslim Arab.19 Sayang sekali angin kedamain yang berhembus dari
pesona kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang adil dan
17 Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, (Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2001), Cet. XII, h. 45.
bijaksana ini tidak berlangsung lama, hanya lebih kurang dua tahun memerintah kemudian beliau meninggal dunia. Penggantinya adalah Yazid bin Abd al-Malik (720-724 M) Khalifah ini jauh berbeda dengan khalifah sebelumnya, ia terlalu gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan rakyat, sehingga kerusuhan terus berlangsung hingga masa pemerintahan Hisyam bin Abd al-Malik (724-743 M). Bahkan di zaman ini mucul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahahn Daulah Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan Mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius dalam perkembangan berikutnya, kekuatan baru ini mampu menggulingkan Daulah Umayyah dan mengantinya dengan Daulah baru, yakni Daulah Abbasiyyah.
Sepeniggal Hisyam bin Abd al-Malik, khalifah-khalifah Daulah Umayyah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk.20 Hal ini makin memperkuat golongan oposisi.
Akhirnya pada tahun 750 M Daulah Umayyah digulingkan Bani
Abbasiyyah yang bersekutu dengan Abu Muslim al-Khurasani.21
Marwan bin Muhammad khalifah terakhir Daulah Umayyah, melarikan diri ke Mesir, ditangkap dan dibunuh disana.22
20 Hal ini ini terbukti ketika Khalifah Sulaiman bin Abd al-Malik mengirim sebanyak
delapan puluh ribu kekuatan darat ke Asia kecil di bawah pimpinan saudaranya Musallamah bin Abd al-Malik bin Marwan dan pasukan laut dibawah pimpinan Umar bin Hubairah, sedangkan Sulaiman bin Abd al-Malik sendiri bergabung dengan angkatan lautnya untuk memantau jarak yang dekat dengan angkatan daratnya hingga mereka dapat dipersatukan pada saat yang diperlukan. Ketika mereka mengepung suatu daerah yang bernama Amuria yang dikuasai oleh gubernur Romawi, Leo Azuri. Pada peristiwa itu Musallamah bin Abd al-Malik bin Marwan dan pasukannya mampu diperdaya oleh Leo Azuri sebanyak dua kali sehingga mereka membakar perbekalan sendiri dan hampir mati kelaparan. Akhirnya mereka kembali dengan kekelahan setelah mendapat kabar tentang wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abd al-Malik dan digantikan oleh Umar bin Abd al-Aziz yang memerintahkan mereka untuk pulang. Lihat: Sa’ad Karim al-Fiqi, Pengkhianat-pengkhianat Dalam Sejarah Islam (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2009), h. 71-72.
Dari berbagai kesuksesan dan kebesaran yang telah diraih oleh Daulah Umayyah ternyata tidak mampu menahan kehancurannya, akibat kelemahan-kelemahan internal dan semakin kuatnya tekanan dari fihak luar. Adapun hal-hal yang membawa kemunduran yang akhirnya berujung pada kejatuhan Daulah Umayyah dapat diidentifikasi antar lain sebagai berikut:
1. Pertentangan keras antara suku-suku Arab yang sejak lama terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Arab Utara yang
disebut Mudariyah yang menempati Irak dan Arab Selatan
Himyariyah yang berdiam di wilayah Suriah. Di zaman Umayyah persaingan antar etnis itu mencapai puncaknya, karena para khalifah cederung kepada satu fihak dan menafikan yang lainnya.
2. Ketidak puasan sejumlah pemeluk Islam non Arab. Mereka yang merupakan pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa yang dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”, suatu status yang menggambarakan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapat fasilitas dari penguasa Umayyah. Harapan mereka untuk mendapatkan tunjangan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Tunjangan tahunan yang diberikan kepada Mawali jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan Arab.
kekuasaan, bahkan dapat menggeser kedudukan Bani
Umayyah dalam memimpin umat.23
D. Kehancuran Daulah Umayyah
Secara Revolusioner, Daulah Abbasiyyah (750-1258 M) menggulingkan kekuasaan Daulah Umayyah. Kejatuhan Daulah Umayyah disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya meningkatnya kekecewaan kelompok Mawali terhadap Daulah Umayyah, pecahnya persatuan antara suku bangsa Arab dan timbulnya kekecewaan masyarakat agamis dan keinginan mereka untuk memilki pemimpin karismatik. Sebagai kelompok penganut Islam baru, mawali diperlakukan sebagai masyarakat kelas dua, sementara bangsa Arab menduduki kelas bangsawan. Golongan agamis merasa kecewa terhadap pemerintahan Daulah Umayyah karena corak pemerintahannya yang sekuler. Menurut mereka, Negara seharusnya dipimpin oleh penguasa yang memiliki integritas keagamaan dan politik. Adapun perpecahan antara suku bangsa Arab, setidak-tidaknya ditandai dengan timbulnya fanatisme kesukuan Arab utara, yakni kelompok Mudariyah dengan kesukuan Arab Selatan, yakni kelompok Himyariyah. Disamping itu, perlawanan dari kelompok Syi’ah merupakan faktor yang sangat berperan dalam menjatuhkan
Daulah Umayyah dan munculnya Daulah Abbasiyyah.24
Namun secara garis besar menurut Badri Yatim faktor yang menyebabkan Daulah Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran antara lain adalah:
23 Ali Mufrodi, Islam di Kawasan..., h. 83-84.
1. Sistim pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah merupakan sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana
2. Latar belakang terbentuknya Daulah Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa kaum Syi’ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti dimasa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti dimasa pertengahan kekuasaan Daulah Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Pada masa kekuasaan Daulah Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabua Utara (Bani Qays) dan Arabua Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Daulah Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan Mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puasa karena status Mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Daulah Umayyah
4. Lemahnya pemerintahan Daulat Daulah Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan, disamping itu, golongan agama yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang
5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Daulah Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas bin Abd. Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dikelas
duakan oleh pemerintahan Daulah Umayyah.25
Dari uraian kemunduran dan kehancuran Daulah Umayyah diatas, penulis melihat hal ini merupakan sunnatullah bahwa setiap kekuasaan dan peradaban akan mencapai puncak
kemajuannya, dan akan menelusuri jurang kehancurannya dikemudian hari.
D. Penutup
Dari pemaparan makalah ini banyak sekali hikmah atau pelajaran yang dapat penulis petik bahwa, setiap kekuasaan akan mengalami masa kejayaan, kemunduran dan kehancuran, alangkah jayanya suatu kekuasaan kalau ia dapat mengambil pelajaran untuk menggapai kejayaan berikutnya. Adapun kesimpulan penulis tentang kemunduran yang menyebabkan kehancuran Daulah Umayyah sebagai berikut:
1. Faktor-faktor yang membawa Daulah Umayyah mengalami kemunduran:
Munculnya fanatisme kesukuan dalam suku-suku
bangsa Arab.
Kuatnya pengaruh fanatisme golongan (Arabusme) yang memicu munculnya kecemburuan sosial dikalangan non Arab (Mawali).
Adanya perebutan kekuasaan di dalam keluarga besar
Daulah Umayyah.
Larutnya beberapa penguasa (khalifah) dalam
limpahan harta dan kekuasaan.
2. Faktor-faktor yang membawa Daulah Umayyah ke gerbang kehancuran:
Tidak adanya sistem pergantian pemerintah (khalifah)
yang baku yang bisa dijadikan patokan dalam pergantian khalifan.
Perselisihan dan pertentangan etnis antara suku Arab yang mengakibatkan para penguasa mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan.
Sikap hidup yang mewah dilingkungan keluarga Daulah
Umayyah.
Perhatian penguasa Daulah Umayyah terhadap
perkembangan agama sangat kurang.
Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas bin Abd. Al-Muthalib dan didukung oleh Bani Hasyim, kaum Syi’ah dan kaum Mawali.
3. Beberapa kalangan ada yang menyebut Muawiyah dengan julukan yang jauh dari akhlak Islami. Padahal walau bagaimanapun ia adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang telah banyak memberikan sumbangan terhadap Islam. Ia ikut di berbagai peperangan baik di zaman Rasul maupun Khulafa al-Rasidin. Meskipun demikian, hal itu wajar mengingat ia adalah manusia biasa yang kadang khilaf atau dipengaruhi orang-orang disekitarnya. Hal itu tidak bisa mengurangi keutamaanya sebagai seorang sahabat bahkan masih terbilang keluarga dekat Rasul.
Abu al-Fada’ al-Hafidz ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah. Cairo: Dar al-Hadits 1998.
Adeng Muchtar Ghazali, Perjalanan Politik Umat Islam dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka setia, 2004.
Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
Ensiklopedi Islam Vol. 3. Jakarta: Ichtiar Van Hoeve, 2003.
Hepi Andi Bustoni, 101 Sahabat Nabi. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002.
Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa; Sejarah Penguasa Islam: Khulafa`urrasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001.
Khairudin Yujah Sawiy, Perebutan Kekuasaan Khalifah,
Minyingkap dinamika dan sejarah politik kaum sunni. Yogyakarta: Safria Insani Press, 2005.