• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI TEORI PSIKOLOGI DAN ANTROPO (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLEMENTASI TEORI PSIKOLOGI DAN ANTROPO (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI TEORI PSIKOLOGI DAN ANTROPOLOGI SASTRA DALAM PENGKAJIAN PUISI

Makalah

Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Apresiasi Puisi

Dosen Pengampu: Maulfi Syaiful Rizal, M.Pd.

Disusun Oleh:

Rahmi Febriani 165110707111017

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Dalam perkembangannya, sastra terus mengalami kemajuan dan tak hanya menjadi monodisiplin yang terpaku pada satu disiplin ilmu. Dimulai oleh para pemikir formalis dan dilanjutkan dengan strukturalis, sastra dikaji secara intern sebagai entitas yang utuh dan otonom sebagai sebuah karya sastra. Namun demikian, terdapat banyak kelemahan dalam mengkaji sebuah karya sastra jika dilihat dari struktur dalamnya saja (intrinsik). Akhirnya, seiring bergulirnya waktu, pengkajian atau analisis karya sastra bergeser pada struktur luar (ekstrinsik). Karya sastra dipahami dalam kaitannya dengan latar belakang sosial yang menghasilkannya (Kutha Ratna, 2011:150). Maka, muncul interdisiplin ilmu dalam mengkaji karya sastra seperti psikologi sastra, sosisologi sastra dan antropologi sastra.

Kemunculan psikologi sastra diawali dengan hadirnya tesis bahwa penulisan sebuah karya sastra tidak terlepas dari emosi jiwa si pengarang. Bermula dari paradigma tersebut, akhirnya muncul kajian interdisipliner pada ranah yang lebih luas yakni kaitannya dengan masyarakat atau sosiologi sastra. Tak cukup sampai di situ, penemuan mutakhir mengatakan bahwa sastra di dalam masyarakat mampu mengevokasi keberagaman budaya, sehingga muncul interdisipliner antropologi sastra (Kutha Ratna, 2011:151). Pengkajian interdisiplin ini merambah pada keseluruhan jenis karya sastra, baik itu drama, prosa maupun puisi. Dalam hal ini, puisi menjadi fokus pembahasan karena eksistensinya sejak dulu hingga sekarang terus mengalami kemajuan. Namun, implementasi teori dalam pengkajian puisi ini akan dilakukan dengan interdisiplin psikologi dan antropologi sastra yang mana keduanya memiliki keterkaita-kontributif satu sama lain.

(3)

sastra yang akan menjadi model pengkajian ini adalah puisi. Proses penciptaan puisi yang dilatar belakangi atas berbagai dorongan dan peristiwa mendasari fokus pembahasan agar mendapatkan pengkajian yang intensif dan mendalam.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah difokuskan pada:

1. Bagaimana peranan teori Psikologi dan Antropologi Sastra dalam pengkajian sebuah karya sastra?

2. Bagaimana implementasi teori Psikologi dan Antropologi Sastra dalam pengkajian puisi?

TUJUAN

Berdasarkan fokus masalah di atas, tujuan pembuatan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui peranan teori Psikologi dan Antropologi Sastra dalam pengkajian sebuah karya sastra.

(4)

BAB II PEMBAHASAN

PSIKOLOGI DAN ANTROPOLOGI SASTRA

Kompleksitas dalam karya sastra tak bisa dimungkiri lagi, berkat kemajuan cara berpikir para ahli yang berkompeten di bidangnya menjadikan sastra sebagai disiplin ilmu yang tak kalah menarik untuk dikaji. Seiring perkembangannya, muncul model-model analisis interdisiplin untuk menjawab tantangan zaman bahwasanya relevansi sastra dalam kehidupan juga memiliki peranan yang berarti. Model analisis tersebut di antaranya adalah psikologi sastra, sosiologi sastra dan antropologi sastra. Namun, fokus pembahasan akan merujuk pada psikologi dan antropologi sastra atas pertimbangan bahwa terjalin relasi-kontributif antarkeduanya dalam membangun sebuah karya sastra.

Psikologi Sastra

Dunia psikologi tidak dapat dipisahkan dari tokoh psikologi yang paling kesohor yaitu Sigmund Freud. Tidak hanya dalam disiplin psikologi, Freud juga memberikan kontribusi cukup besar bagi dunia kesusastraan. Teori psikoanalisis yang dikembangkannya, dalam dunia sastra banyak digandrungi para pemerhati sastra sebagai landasan berpijak untuk mengkaji sebuah karya sastra. Maka, muncul istilah psikologi sastra yang secara definitif merupakan pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kejiwaannya (Kutha Ratna, 2011:16).

(5)

tentu melibatkan proses kreatif pengarang dan proses kreatif tersebut dipengaruhi oleh faktor psikologis pengarang. Lebih jauh lagi, karya yang dihasilkan juga turut memberikan pengaruh terhadap pembaca sebagai akseptor dari karya sastra yang diciptakan (psikologi pembaca). Hal ini diperinci kembali oleh Endraswara (2008:99) bahwa psikologi sastra memiliki tiga pendekatan yaitu: (1) pendekatan ekspresif yang mengkaji psikologi pengarang, (2) pendekatan tekstual yang mengkaji psikologi tokoh cerita, (3) pendekatan reseptif yang mengkaji psikologi pembaca.

Antropologi Sastra

Antropologi sastra adalah kajian dengan menggabungkan hakikat karya sastra dengan antropologi (Kutha Ratna, 2011:158). Antropologi sastra hadir sebagai mata rantai terakhir dari analisis interdisiplin setelah psikologi dan sosiologi sastra. Jika dicermati secara lebih mendalam, antropologi sastra seolah-olah merupakan gabungan antara psikologi sastra dan sosiologi sastra sehingga keberadaannya tidak menutup kemungkinan bahwa ilmu tersebutlah yang memiliki relevansi lebih besar daripada yang lainnya (Kutha Ratna, 2011:151).

(6)

Antropologi sastra memiliki kemampuan maksimal untuk mengungkap berbagai permasalahan, khusunya untuk hal-hal yang berkaitan dengan kearifan lokal, mitos, sistem religi, dan berbagai permasalahan kebudayaan lain. Oleh karena itu, eksistensinya sebagai interdisiplin perlu menjadi pertimbangan serius dalam dunia sastra. Menurut Kutha Ratna (2011:158), kemunculan interdisiplin antropologi sastra sedikitnya ditopang oleh tiga alasan, yaitu: a) kedua disiplin ilmu, yaitu antropologi, khususnya antropologi budaya dan sastra mempermasalahkan sistem simbol secara intens, khususnya sistem simbol bahasa, b) kedua disiplin ilmu tersebut mempermasalahkan relevansi manusia, sebagai manusia budaya, dan c) kedua disiplin ilmu itu mempermasalahkan sekaligus mengklaim tradisi lisan sebagai wilayah penelitian masing-masing.

IMPLEMENTASI TEORI PSIKOLOGI DAN ANTROPOLOGI SASTRA DALAM PENGKAJIAN PUISI

Perkembangan ilmu sastra pada awalnya menjadi salah satu disiplin yang paling terabaikan sekaligus paling lambat perkembangannya. Sastra sebagai buah karya yang dilatarbelakangi oleh proses imajinatif, kreatif bahkan fiktif dianggap lepas dari akar kehidupan masyarakat dan dengan kebudayaan secara keseluruhan. Akan tetapi, anggapan demikian nampaknya perlu direkonstruksi ulang. Pasalnya, sesuai dengan hakikat ilmu pengetahuan, dalam analisis karya sastra juga digunakan sarat mutlak berbagai peralatan untuk memeroleh kualitas objektivitas, seperti: teori, metode, instrumen, konsep, proposisi, dan sebagainya, maka analisis terhadap karya sastra tetap ilmiah (Kutha Ratna, 2011:174). Akan tetapi, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa objektivitas ilmu pengetahuan humaniora bersifat pemahaman bukan pembuktian laiknya ilmu eksak.

(7)

kemajuan peradaban manusia dari masa ke masa. Oleh karena itu, berdasarkan fokus pembahasan, puisi karya D. Zawawi Imron yang berjudul “Madura, Akulah Darahmu” lebih potensial untuk dikaji menggunakan teori psikologi dan antropologi sastra karena di dalamnya terkandung ciri-ciri antropologis yang ditopang oleh sisi psikis pengarang. Sebelum memasuki proses pengkajian, berikut adalah teks utuh puisi “Madura, Akulah Darahmu” karya D. Zawawi Imron.

Madura, Akulah Darahmu D. Zawawi Imron

Di atasmu, bongkahan batu yang bisu

Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa Biar berguling di atas duri hati tak kan luka

Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu Dan aku

Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah Bahwa aku sapi karapan

Yang lahir dari senyum dan airmatamu

Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah, Sebasah madu hinggaplah

Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua

Di sini

Perkenankan aku berseru:

Madura, engkaulah tangisku

(8)

Kubajak kau dengan tanduk logamku Di atas bukit garam

Kunyalakan otakku

Lantaran aku adalah sapi kerapan

Yang menetas dari senyum dan air matamu

Aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan Dan memetik bintang gemintang

Di ranting-ranting roh nenek moyangku

Di ubun langit kuucapkan sumpah: —Madura, akulah darahmu

1980

Kajian Psikologi Sastra

Puisi di atas merupakan satu dari sekian banyak puisi karya D. Zawawi Imron yang berhasil membuat namanya menjadi mentereng dalam dunia kesusastraan Indonesia. Puisi-puisi yang diciptakan unik dan khas dengan latar belakang penciptaan tentang kehidupan masyarakat desa terutama Madura, perenungan alam terutama sajak-sajaknya yang bertemakan laut dan kehidupan desa, ketuhanan termasuk bagaimana kehidupannya selama di pesantren. “Madura, Akulah Darahmu” merupakan salah satu karya Zawawi yang kental dengan unsur kebudayaan masyarakat Madura.

(9)

pergi ke kota setiap satu minggu sekali dan itu beliau lakukan secara rutin. Kemudian, setelah lulus dari Sekolah Rakyat (SR), disamping mulai aktif membuat karya sastra, beliau pernah melakoni perkerjaan serabutan seperti mengangkut kantong daun siwalan, mengumpulkan batu untuk pembuatan jalan, dan menjadi kuli angkat barang. Dalam hal pendidikan, meskipun beliau hanya lulusan SR, tapi semangatnya untuk mencari ilmu tak pernah luntur sedikitpun hingga beliau masuk pesantren menjadi guru mengaji sampai akhirnya menjadi juru dakwah yang dapat diterima oleh kalangan intelektual kampus ternama di Indonesia. Dapat dibayangkan bahwa jalan hidup yang ditempuh oleh Zawawi tidak selalu mulus, melalui proses panjang dan penuh liku, ini tergambar dalam larik “Yang lahir dari senyum dan airmatamu”.

Aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan Dan memetik bintang gemintang

Di ranting-ranting roh nenekmoyangku

Selanjutnya, penggalan larik di atas memiliki latar penceritaan di laut. Puisi-puisi yang lahir dari buah penghayatan Zawawi atas kehidupan dan alam sekitar telah memberikan banyak inspirasi dalam penulisan karya-karyanya. Sejak kecil, beliau sangat dekat dengan alam terutama laut. Itu mengapa, karya-karyanya banyak yang berlatar tempat di laut lepas begitu menggetarkan, beliau merasa bahwa irama ombak adalah irama jiwanya.

Sepintas tentang kehidupan masa lalu Zawawi dapat memberikan pemahaman tentang penggambaran watak pengarang yang terdapat dalam puisi “Madura, Akulah Darahmu”. Pengalaman hidup, keadaan lingkungan dan pergolakan batin yang dialami pengarang memengaruhi proses kreatif dalam penciptaan karya sastra. Proses kreatif adalah aktivitas yang sepenuhnya disadari oleh subjek, proses kreatif merupakan akumulasi pengalaman-pengalaman masa lampau seperti dilihat melalui kehidupan sekarang, hari ini (Kutha Ratna, 2011:15).

(10)

Puisi “Madura, Akulah Darahmu” karya Zawawi sarat akan nilai-nilai kebudayaan, falsafah hidup dan kosmologi etnis Madura yang selama ini mengalir dalam darah masyarakatnya. Penggambaran watak dan prinsip hidup seorang Madura nampak jelas digambarkan oleh Zawawi dalam puisi “Madura, Akulah Darahmu”. Dalam puisi tersebut, jika ditinjau dari kacamata psikologi pengarang, penggunaan kata “aku” bisa secara khusus merujuk pada diri Si Pengarang atau bahkan justru ditafsirkan sebagai makna plural. Artinya, “aku” di sini merujuk pada keseluruhan masyarakat Madura—yang diwakili oleh Si Aku. Madura, sebagai salah satu etnis di Jawa sangat menjunjung tinggi adat-istiadat yang selama ini ditradisikan oleh nenek moyangnya. Hal itu tergambar dalam penggalan bait di bawah ini:

Di atasmu, bongkahan batu yang bisu

Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa Biar berguling di atas duri hati tak kan luka Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu

Dua larik awal pada penggalan di atas merupakan metafora yang melukiskan keadaan tanah Madura. Sedangkan dua larik berikutnya adalah penggambaran tentang tabiat masyarakat Madura yang senantiasa mereksa kecintaannya terhadap tanah tempatnya berpijak. Pada bait lainnya, terdapat larik yang menyatakan “Madura, engkaulah tangisku” secara implisit mengandung makna rasa kepemilikan masyarakat Madura terhadap tanah yang dicintainya. Lebih jauh lagi disebutkan bahwa masyarakat Madura laiknya “Sapi Karapan”, yang mana dalam pengertian masyarakat setempat, sapi karapan adalah sapi khusus yang sengaja dipilih untuk menarik kereta yang kemudinya dikendalikan oleh joki atau penompak. Berikut adalah penggalan puisinya.

Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah Bahwa aku sapi karapan

Yang lahir dari senyum dan airmatamu

(11)

kebudayaan masyarakat Madura yang biasanya menghelat perlombaan karapan sapi pada akhir musim tanam tembakau dan sebagai pertanda berakhirnya musim kemarau sekaligus datangnya awal musim penghujan. Karapan sapi merupakan folklore setengah lisan yang hidup dalam kebudayaan Madura dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Dalam karapan sapi, masing-masing sapi akan beradu kecepatan sampai garis finish. Oleh karena itu, sapi yang dipilih merupakan sapi yang kuat, cepat, tangguh, berani, dan pantang menyerah. Representasi dari hal tersebut adalah masyarakat Madura itu sendiri, itu mengapa dalam puisinya, Zawawi menyebutkan bahwa ‘aku’ adalah ‘sapi karapan’ yang bermakna; memiliki kepribadian tangguh, berani dan pantang menyerah. Hal tersebut diperjelas pada bait berikutnya.

Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah, Sebasah madu hinggaplah

Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua

Bait puisi di atas menekankan sikap tangguh dan pantang menyerah masyarakat Madura. Kondisi geografis Madura yang dilingkupi oleh lautan menjadikan mayoritas masyakaratnya berprofesi sebagai pelaut ulung. Tempaan hidup yang dilalui selama di laut mampu mengonstruksi pola pikir dan pola perilaku yang tangguh dan pantang menyerah tersebut. Dalam folklore (lisan) etnis Madura terdapat peribahasa ‘abantal ombak, asapok angen’ yang berarti ‘berbantal ombak, berselimut angin’. Jelas, bahwa dalam keadaan apapun, seperti makna yang tersirat dalam larik “Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah, sebasah madu hinggaplah”, sebelum tujuan yang hendak dicapai belum terpenuhi maka orang Madura tidak akan menyerah. Kemudian, hal itu dipertegas kembali pada larik di bawah ini.

Aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan Dan memetik bintang gemintang

Di ranting-ranting roh nenek moyangku

(12)

Etnis Madura yang tinggal di Kecamatan Muncar pesisir Banyuwangi bagian selatan mempercayai bahwa Nyi Roro Kidul adalah roh leluhur penguasa laut selatan. Hal ini ditandai dengan adanya ritual Petik Laut atau dalam istilah Madura disebut Rokat Tase’ yang dilakukan oleh sebagian besar nelayan. Ritual ini rutin dilaksanakan setiap tahun tepatnya 15 Suro (penanggalan Jawa) agar kehidupan mendatang lebih baik dan selalu dilindungi oleh Nyi Roro Kidhul khususnya hasil dari melaut melimpah serta dihindarkan dari bencana yang terjadi di Laut (Wulandari, 2013:5). Mengingat etnis Madura—yang tinggal di pulau Madura—sangat kental akan keislamannya, dalam pengertian lain Rokat Tase’ dimaknai sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rizki yang diturunkan di laut untuk para nelayan dan masyarakat Madura pada umumnya. ‘Nenek moyang’ yang dimaksud dalam bait di atas adalah suatu bentuk ungkapan ‘menolak lupa’ bahwa tradisi melaut bagi masyarakat Madura sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka.

Bila musim labuh hujan tak turun

Yang menetas dari senyum dan air matamu

(13)

‘sapi kerapan’ yang dimiliki oleh etnis Madura semata-mata karena ‘didikan’ alam dan tuntutan hidup.

Di ubun langit kuucapkan sumpah: —Madura, akulah darahmu

(14)

BAB III PENUTUPAN

RINGKASAN

(15)

DAFTAR RUJUKAN

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Presindo.

Imron, D. Zawawi. 2000. Bantalku Ombak Selimutku Angin. Yogyakarta: Gama Media.

Kutha Ratna, Nyoman. 2011. Antropologi Sastra: Perkenalan Awal. Metasastra, 4(2). (Online) (https://scholar.google.co.id) diakses pada 13 November 2017.

Kutha Ratna, Nyoman. 2011. Antropologi Sastra: Peranan Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Siswanto, Wahyudi. 2013. Pengantar Teori Sastra. Malang: Aditya Media Publishing.

Wellek, Rene & Warren, Austin. 1977. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. 2016. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Referensi

Dokumen terkait

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kacang hijau dengan air serta perbandingan susu skim dan lama fermentasi terhadap karakteristik kefir susu

Anonim (2007), melaporkan biji aren mempunyai masa dormansi yang sangat lama yaitu bervariasi antara 6-12 bulan yang terutama disebabkan oleh kulit biji yang keras dan

Pada Tulisan Ilmiah ini penulis mencoba untuk membahas tentang pembuatan Website Grup Band dengan nama Alphasite, proses memadukan gambar dan teks ke dalam suatu halaman di

Tabel 6 Capaian Indikator Kinerja Sasaran Strategis Tahun 2016 dan

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan, dengan terlebih dahulu melakukan registrasi pada Layanan Pengadaan Secara

yang ada pada soal yang dibaca siswa. Hal itu ditunjukkan dengan adanya ungkapan ataupun tulisan siswa. Memilah informasi yang ada dalam soal Menuliskan atau

Pada penambahan kadar PS lebih tinggi, KKS-PS (20:80) kerapatan mulai turun, hal ini dikarena komposisi partikel yang minim dan rongga banyak diisi oleh perekat, sehingga

Isolat jamur yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan fusarium diidentifikasi berdasarkan ciri- ciri makroskopis dan mikroskopis dengan menggunakan buku