• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis keterkaitan sektor pertanian te

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis keterkaitan sektor pertanian te"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Definisi dan Ruang Lingkup Sektor Pertanian

Dalam penelitian ini, sektor-sektor perekonomian diklasifikasikan ke dalam 9 sektor perekonomian. Sembilan sektor perekonomian itu adalah sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan atau konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa.

Sektor pertanian memiliki cabang-cabang sektor atau sub sektor yang membentuk sektor pertanian tersebut. Sub sektor tersebut adalah sub sektor tanaman pangan, sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor peternakan dan hasilnya, sub sektor kehutanan dan sub sektor perikanan.

Pembagian sub sektor tersebut sama hal nya terkait definisi pertanian itu sendiri. Menurut BPS (2003), pertanian adalah semua kegiatan yang meliputi penyediaan komoditi tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Semua kegiatan penyediaan tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan itu dilakukan secara sederhana, yang masih menggunakan peralatan tradisional3.

3

(2)

13

Dengan demikian, sektor pertanian menjadi variabel dalam penelitian ini yang akan dilihat pengaruhnya terhadap kedelapan sektor lainnya dalam perekonomian Indonesia.

2.2. Konsep Perhitungan Pendapatan Nasional

Pembangunan dapat diartikan sebagai kapasitas dari sebuah perekonomian nasional yang kondisi ekonomi awalnya kurang lebih bersifat statis dalam kurun waktu yang cukup lama dapat menciptakan dan mempertahankan kenaikan pendapatan nasional. Diperlukan suatu ukuran dalam mengidentifikasi pembangunan suatu negara. Ukuran yang sering digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan pembangunan adalah Produk Domestik Bruto (PDB). PDB dalam bidang ekonomi adalah nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu yang sering dijadikan sebagai metode untuk menghitung pendapatan nasional4.

Dalam pemahaman ekonomi makro, PDB dapat dipelajari dengan pendekatan dari sisi penerimaan, pengeluaran, dan produksi. Menghitung nilai PDB dengan pendekatan pengeluaran dapat dinotasikan dalam bentuk PDB =

konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + (ekspor-impor). Konsumsi

adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, investasi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh sektor usaha, pengeluaran pemerintah adalah pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah serta ekspor dan impor adalah pengeluaran bersih atas perdagangan luar negeri. Menghitung nilai PDB dengan

4

(3)

14

pendekatan pendapatan juga dapat dinotasikan dalam bentuk PDB = sewa + upah

+ bunga + laba. Sewa adalah pendapatan pemilik faktor produksi tetap seperti

tanah, upah untuk tenaga kerja, bunga untuk pemilik modal, dan laba untuk pengusaha5.

Pendekatan produksi dapat digunakan untuk melihat peran suatu sektor dari sisi output, pendapatan, dan tenaga kerja. Nilai PDB juga dapat diperoleh dari penjumlahan nilai tambah (barang dan jasa akhir) dalam produksi barrang dan jasa dari berbagai sektor perekonomian6.

Selama hampir setengah abad, perhatian utama masyarakat perekonomian dunia tertuju pada cara-cara untuk mempercepat pertumbuhan pendapatan nasional. Meskipun demikian, selama perkembangan ilmu pengetahuan ekonomi, para teoritikus ilmu pengetahuan masa kini masih menyempurnakan makna, hakikat, dan konsep pertumbuhan ekonomi. Ini dipahami karena ketika banyak di antara negara-negara Dunia Ketiga berhasil mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi sesuai target mereka, namun gagal memperbaiki taraf hidup sebagian besar penduduknya. Hal ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam definisi pertumbuhan ekonomi yang dianut selama ini.

Nilai PDB belum dapat mencerminkan kondisi atau peran menyeluruh sektor-sektor ekonomi dalam perekonomian. Nilai PDB menunjukkan perkembangan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi untuk konsumsi akhir berupa konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi

5 Ibid. Hal. 18-19 6

(4)

15

dan ekspor impor. Nilai PDB juga diperoleh dari penjumlahan nilai tambah dalam produksi barang dan jasa dari berbagai sektor perekonomian. Nilai PDB tidak dapat melihat kontribusi suatu sektor terkait perannya dalam menyediakan barang dan jasa antara bagi sektor-sektor lain dalam perekonomian. Hal ini dipahami karena contohnya sektor pertanian dalam proses pembangunan ekonomi memiliki pengaruh terhadap sektor-sektor lain terkait penyediaan input antara bagi sektor lain atau pun sebaliknya penggunaan input antara dari sektor lain. Untuk itu, PDB bukan merupakan indikator tunggal untuk melihat peran menyeluruh suatu sektor.

2.3 Konsep Keterkaitan

Ada berbagai teori yang menjelaskan bagaimana keterkaitan antar sektor mempengaruhi perekonomian suatu negara. Keterkaitan ke belakang (backward

linkages) dan keterkaitan ke depan (forward linkages) merupakan alat analisis

yang digunakan untuk mengetahui tingkat keterkaitan suatu sektor dengan sektor lain dalam perekonomian. Keterkaitan ke belakang menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam pembelian terhadap total pembelian input yang digunakan untuk proses produksi, sedangkan keterkaitan ke depan menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam penjualan terhadap total penjualan output yang dihasilkannya7.

Keterkaitan antar sektor dapat terjadi paling tidak melalui empat media, yaitu:

7 Sahara dan D.S. Priyarsono. 2006. Modul MK Ekonomi Regional. Departemen Ilmu Ekonomi

(5)

16

1. Keterkaitan Produk

Merupakan keterkaitan yang terjadi melalui penggunaan produk suatu sektor sebagai bahan baku bagi sektor lain.

2. Keterkaitan Konsumsi

Keterkaitan yang tercipta karena suatu sektor dapat menemukan nilai tambah suatu produk dari sektor lain sehingga produk tersebut dikonsumsi oleh rumah tangga.

3. Keterkaitan Investasi

Keterkaitan ini tercipta karena nilai tambah dari suatu sektor dipergunakan untuk membeli barang-barang modal dalam rangka meningkatan produksi berbagai sektor.

4. Keterkaitan Fiskal

Merupakan keterkaitan yang tercipta karena pajak yang ditarik dari suatu sektor dipergunakan untuk membiayai investasi dan pelayanan pemerintah yang berperan dalam meningkatkan produksi sektor-sektor lainnya

Dalam hal ini, sektor pertanian dapat memiliki keterkaitan dengan sektor lain melalui ke empat media tersebut. Keterkaitan melalui empat media ini dapat dijelaskan dengan beberapa contoh yaitu:

1. Keterkaitan Produk

(6)

17

2. Keterkaitan Konsumsi

Suatu masyarakat mempunyai nilai selera yang tinggi terhadap suatu produk pertanian misalnya buah durian dan adanya produk olahan dari suatu industri yang mengolah durian tersebut menjadi produk baru berupa permen rasa durian menyebabkan permen durian laku dipasaran. Industri pengolahan mengambil keuntungan dengan menciptakan produk baru dari produk dasar durian yang sebelumnya memiliki nilai rasa yang tinggi di suatu masyarakat. Sehingga keterkaitan konsumsi durian oleh masyarakat menyebabkan meningkatnya konsumsi permen durian yang dihasilkan suatu industri.

3. Keterkaitan Investasi

Pendapatan yang besar ketika sektor pertanian mengalami peningkatan produksi dapat digunakan sebagai modal. Modal ini digunakan untuk tujuan investasi ke sektor non pertanian. Sehingga ada transfer modal dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. Contohnya ketika subsektor tanaman pangan meningkat dan menghasilkan pendapatan, pendapatan tersebut digunakan sebagai modal untuk berinvestasi ke sektor perdagangan. Investasi ke sektor perdagangan ini dipilih karena sektor ini dapat berperan sebagai tempat penyalur maupun pemasaran produk-produk tanaman pangan tersebut. Sehingga keterkaitan sektor pertanian terhadap sektor perdagangan dapat dikaitkan melalui media investasi.

4. Keterkaitan fiskal.

(7)

18

Pembangunan jalan raya untuk menghubungkan daerah pedesaan tempat dimana sektor pertanian melaksanakan aktivitasnya ke daerah perkotaan tempat dimana produk pertanian tersebut di pasarkan menyebabkan alur distribusi produk pertanian lancar. Dengan keadaan seperti itu, sektor perhubungan dan pengangkutan dapat berkembang seiring kebutuhan pelayanan pengangkutan produk pertanian. Sehingga keterkaitan antara sektor pertanian terhadap sektor pengangkutan melalui media keterkaitan fiskal dari pembangunan jalan raya tersebut dapat terjadi.

Uraian di atas menggambarkan beberapa contoh keterkaitan sektor pertanian terhadap sektor lainnya. Dalam perekonomian sebenarnya masih banyak hubungan keterkaitan antara sektor pertanian terhadap sektor lainnya. Akan tetapi setiap keterkaitan tersebut akan dapat dijelaskan melalui empat media yang disebutkan diatas.

Keterkaitan sektor pertanian terhadap sektor lain ternyata dapat mempengaruhi pertumbuhan atau pembangunan ekonomi. Alasannya adalah ketika sektor pertanian dapat menunjang pertumbuhan sektor lain melalui keterkaitan yang dimiliki maka secara agregat pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Kuznets (1964) menjelaskan pertanian di negara sedang berkembang merupakan suatu sektor yang sangat potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional yaitu8:

8 Kuznets dalam Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia

(8)

19

1. Kontribusi Produk

Ekspansi dari sektor-sektor ekonomi non pertanian sangat tergantung pada produk-produk sektor pertanian. Bukan saja untuk kelangsungan pertumbuhan suplai makanan tetapi juga untuk penyediaan bahan baku kegiatan produksi di sektor non pertanian. Misalnya industri pengolahan seperti industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi yang bahan inputnya berasal dari produk pertanian kapas, barang-barang dari kulit dan farmasi dari tanaman holtikultura.

2. Kontribusi Pasar

Kuatnya bias agraris dari ekonomi selama tahap-tahap awal pembangunan maka populasi di sektor pertanian (daerah pedesaan) membentuk bagian yang sangat besar dari pasar (permintaan) domestik. Sehingga permintaan produk-produk dari industri dan sektor-sektor lain sangat besar mengalir di daerah pedesaan.

3. Kontribusi Faktor-Faktor Produksi

(9)

20

4. Kontribusi Devisa

Sektor pertanian mampu berperan sebagai salah satu sumber penting bagi surplus neraca perdagangan baik melalui ekspor hasil-hasil pertanian atau peningkatan produksi komoditi pertanian menggantikan impor.

Dengan demikian pentingnya untuk memperlajari seberapa besar keterkaitan sektor pertanian terhadap sektor lain dan pengaruhnya terhadap pembangunan ekonomi memfokuskan penelitian ini dengan menggunakan Analisis Input Output. Dengan menggunakan analisis ini, dapat diketahui seberapa besar keterkaitan sektor pertanian terhadap sektor lainnya dalam perekonomian Indonesia.

2.4 Model Input Output

Model Input Output atau Tabel Input Output pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Wassily W. Leontif pada tahun 1930-an. Menurut BPS (2008)9 pengertian Tabel Input Output adalah suatu tabel yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa yang terjadi antar sektor ekonomi serta saling keterkaitan antara sektor yang satu dengan sektor yang lainnya dalam suatu wilayah pada suatu periode tertentu dengan bentuk penyajian berupa matriks. Isian sepanjang baris Tabel Input Output menunjukkan bagaimana output suatu sektor dialokasikan untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir, dan pada baris nilai tambah menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral.

9 Badan Pusat Statistik. 2008. Kerangka Teori dan Analisis Tabel Input Output. PT. Tionarayana

(10)

21

Sedangkan masing masing kolomnya menunjukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor dalam proses produksi. Dengan kata lain, penggunaan Tabel Input Output dapat menunjukkan bagaimana output dari suatu sektor ekonomi didistribusikan ke sektor-sektor lainnya dan bagaimana pula suatu sektor memperoleh input yang diperlukan dari sektor-sektor lainnya.

Analisis Input Output (Analisis I-O) menunjukkan bahwa dalam perekonomian secara keseluruhan mengandung keterkaitan dan ketergantungan sektoral, yang mana output suatu sektor merupakan input pada sektor lain dan sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang membawa mereka ke arah keseimbangan (equilibrium) antara permintaan dan penawaran dalam perekonomian secara menyeluruh.

Sebagai metode kuantitatif, Tabel Input Output memberikan gambaran secara menyeluruh tentang:

1. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor.

2. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektor-sektor produksi.

3. Struktur penyediaan barang dan jasa, baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar negeri.

(11)

22

Kegunaan dari Tabel Input Output menurut BPS (2008)10, antara lain: 1. Memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output, nilai tambah,

impor, penerimaan pajak, dan penyerapan tenaga kerja diberbagai sektor produksi.

2. Menyusun proyeksi variabel-variabel ekonomi makro.

3. Melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. 4. Mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap

pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.

5. Melihat konsistensi dan kelemahan berbagai data statistik yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai landasan perbaikan. Penyempurnaan, dan pengembangan lebih lanjut.

6. Menganalisis perubahan harga, yaitu melihat pengaruh langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output.

2.4.1 Asumsi Tabel Input Output

Data dalam Tabel Input Output merupakan rincian informasi tentang input output sektoral, sehingga mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. Suatu Model Input Output yang bersifat terbuka dan statis, maka transaksi-transaksi yang digunakan dalam penyusunan Tabel Input Output harus memenuhi asumsi dasar11, yaitu:

10 Ibid. Hal 7.

11

(12)

23

1. Keseragaman (Homogenitas)

Setiap sektor hanya memproduksi satu jenis output (barang dan jasa) dengan struktur input tunggal (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis antar output dari sektor yang berbeda.

2. Kesebandingan (Proportionality)

Kenaikan penggunaan input oleh suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan output yang dihasilkan.

3. Penjumlahan (Additivitas)

Jumlah pengaruh kegiatan produksi diberbagai sektor merupakan penjumlahan dari pengaruh pada masing-masing sektor tersebut.

2.4.2 Keunggulan dan Kelemahan Tabel Input-Output

Analisis I-O merupakan varian terbaik keseimbangan umum (general

equilibrium) yang memiliki tiga unsur utama. Unsur-unsur tersebut antara lain (1)

memusatkan perhatiannya pada perekonomian dalam keadaan ekuilibrium, (2) tidak berpusat pada analisis permintaan tetapi pada masalah teknis produksi, (3) analisis ini didasari pada penelitian empiris. Keunggulan dari Tabel Input Output Indonesia 2005 adalah12:

1. Kemampuannya untuk melihat sektor demi sektor dalam perekonomian secara rinci sehingga membuat analisis I-O cocok bagi proses perencanaan.

2. Kemampuannya untuk menganalisis keterkaitan dan hubungan antar sektor dalam suatu perekonomian.

12

(13)

24

Sedangkan keterbatasan Tabel Input Output Indonesia 2005 adalah13:

1. Koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap konstan selama periode analisis atau proyeksi. Teknologi dalam proses yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan karena koefisien teknis dianggap konstan. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas harga output.

2. Besarnya biaya yang harus dilakukan dalam penyusunan Tabel Input Output dengan menggunakan metode survey.

3. Semakin banyak agregasi yang dilakukan terhadap sektor-sektor yang ada akan menyebabkan semakin besar pula kecenderungan pelanggaran terhadap asumsi homogenitas dan akan semakin banyak informasi ekonomi yang terperinci tidak tertangkap dalam analisisnya.

2.4.3 Struktur Dasar Tabel Input-Output

Output yang diproduksi oleh suatu sektor ekonomi dapat didistribusikan kepada dua jenis pengguna, yaitu sektor produksi dan sektor konsumen akhir. Jenis pengguna pada sektor produksi, menggunakan output dari suatu sektor dijadikan input pada sektor lain dalam proses produksinya. Jenis pengguna untuk konsumen akhir menggunakan output dari suatu sektor dijadikan sebagain permintaan akhirnya.

Input antara dapat terjadi arus perpindahan barang dan jasa antar sektor. Artinya, bahwa dari sektor i ke sektor j terjadi perpindahan atau sebaliknya. Sama

13

(14)

25

halnya dalam sektor itu sendiri, perpindahan terjadi dari sektor i ke sektor j jika

i=j. Hal tersebut dapat dinotasikan dalam bentuk umum, sebagai berikut:

Xi =

n jxij

+

Fi ...(2.1) Keterangan: Xi = total output sektor i

xij = permintaan antara dari sektor i ke sektor j Fi = total permintaan akhir dari sektor i

i = 1,2,3,... j = 1,2,3,...

Jenis pengguna pada sektor produksi yang menggunakan output suatu sektor (sektor i) yang dialokasikan untuk memenuhi permintaan antara di sektor lain (sektor j) adalah xij. Maka total permintaan antara dapat dinotasikan sebagai berikut:

n=

j 1xij = xi1 + xi2 + ... + xij ...(2.2) Jadi pengguna untuk konsumen akhir (permintaan akhir) terdiri dari rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan pihak luar negeri. Permintaan akhir tersebut terdiri dari konsumsi rumah tangga untuk rumah tangga, investasi untuk perusahaan, pengeluaran pemerintah untuk pemerintah, dan ekspor dari luar negeri. Hal tersebut dapat dinotasikan sebagai berikut:

Fi = Ci + Ii + Gi + ... + Ei ...(2.3)

Keterangan: Fi = total permintaan akhir sektor i

Ci = konsumsi rumah tangga dari sektor i

Ii = investasi dari sektor i

Gi = pengeluaran pemerintah dari sektor i

Ei = ekspor dari sektor i

i = 1,2,3,...

(15)

26

pembiayaan faktor produksi seperti tenaga kerja, modal, lahan, dan sebagainya. Berdasarkan penggunaan faktor produksi, ada balas jasa dari input primer yang akan diterima. Balas jasa tersebut adalah nilai tambah dari proses produksi. Oleh karena itu, dalam prosesnya (input dan output) dapat dijabarkan dalam bentuk Tabel I-O yang terdiri dari suatu kerangka matriks yang berukuran i x j dimensi yang terbagi menjadi empat kuadran dan setiap kuadran mendeskripsikan suatu hubungan tertentu.

Tabel 2.1 Tabel Input Output

Alokasi Output

Susunan Input

Permintaan Antara Permintaan Akhir

Total

Gi = pengeluaran pemerintah sektor i

(16)

27

Berdasarkan asumsi kesebandingan, dapat dikatakan bahwa total output sektor i sama dengan total input sektor j (Xi=Xj).

Berdasarkan Tabel 2.1, isian sepanjang baris menunjukkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan, yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. Lain halnya untuk isian sepanjang kolom menunjukkan pemakaian input antara (xi1 + xi2 + ... + xij) dan input primer (Uj, Sj, Pj) oleh suatu sektor. Oleh karena itu, bentuk aljabar, bentuk notasi, dan bentuk matriksnya adalah sebagai berikut:

(17)

28

b) Sektor dalam kolom - Bentuk aljabar

x11 + x21+ ... + xi1 + V1 = X1

x12 + x22+ ... + xi2 + V2 = X2

. . . . . . . . . . . .

X1j + x2j+ ... + xij + Vj = Xj ...(2.5.i) Jika: Uj + Sj + Pj = Vj

- Bentuk notasi

n=

j 1

x

ij + Vi =Xi ...(2.5.ii)

Angka-angka pada Tabel I-O sebenarnya digunakan untuk menyempurnakan data nilai PDB menurut sektor produksi dan penggunaan. Berdasarkan Tabel I-O, nilai PDB sektoral dapat diperoleh dengan menjumlahkan nilai tambah bruto (kode I-O = 209) masing-masing sektor ditambah dengan pajak penjualan impor (kode I-O = 402) dan bea masuk (kode I-O = 403). Untuk memperbandingkan nilai PDB yang diperoleh dari Tabel I-O dengan nilai PDB, maka nilai pajak penjualan impor dan bea masuk barang impor harus digabungkan dalam sektor perdagangan. Nilai PDB menurut penggunaan dibandingkan dengan mengurangkan permintaan akhir dengan impor barang dan jasa.

Berdasarkan Tabel I-O Indonesia 2005, secara umum matriks tersebut terbagi menjadi empat kuadran14, yaitu:

14

(18)

29

1. Kuadran I (Intermediate Quadrant)

Kuadran I merupakan transaksi antara, yaitu transaksi barang dan jasa dalam proses produksi. Pada kuadran ini menunjukkan ketergantungan antar sektor produksi dalam suatu perekonomian dan dalam analisisnya memiliki peranan penting dalam melakukan proses produksi karena terdapat keterkaitan antar sektor ekonomi.

2. Kuadran II (Final Demand Quadrant)

Dalam kuadran II terdapat transaksi barang dan jasa dalam sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. Permintaan akhir adalah output suatu sektor yang langsung dipergunakan oleh rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan stok dan ekspor.

3. Kuadran III (Primary Input Quadrant)

Kuadaran III menunjukkan pembelian input yang dihasilkan diluar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah dan gaji), pajak tak langsung, surplus usaha dan penyusutan. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut.

4. Kuadran IV (Primary Input-Final Demand Quadrant)

(19)

30

2.5 Definisi dan Konsep Variabel dalam Tabel Input Output

Konsep dan definisi ini menjelaskan variabel-variabel yang terdapat dalam Tabel Input Output Indonesia. Konsep dan definisi ini dijelaskan menurut pengertian Tabel Input Output15.

a. Output

Output adalah nilai barang dan Jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi di dalam negeri (domestik) tanpa membedakan asal usul pelaku produksinya. Pelaku dapat berupa perusahaan atau perorangan dari dalam negeri ataupun perusahaan atau perorangan asing yang dihasilkan di dalam negeri. Unit usaha yang produksinya berupa barang output merupakan hasil perkalian kuantitas produksi barang yang bersangkutan dengan harga produsen per unit barang tersebut. Unit usaha yang bergerak dibidang jasa, outputnya merupakan nilai penerimaan dari jasa yang diberikan kepada pihak lain.

b. Transaksi Antara

Transaksi antara adalah transaksi yang terjadi antara sektor yang berperan sebagai konsumen dan produsen. Sektor yang berperan sebagai produsen merupakan sektor pada masing-masing baris. Sektor yang berperan sebagai konsumen ditunjukkan pada sektor yang terdapat di masing-masing kolom. Transaksi yang dicakup dalam transaksi antara hanya transaksi barang dan jasa yang terjadi dalam hubungannya dengan proses produksi. Isian sepanjang baris pada transaksi antara memperlihatkan alokasi output suatu sektor dalam memenuhi kebutuhan input sektor-sektor lain untuk keperluan produksi dan

15

(20)

31

disebut sebagai input antara. Isian sepanjang kolomnya menunjukkan input barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi suatu sektor dan disebut sebagai input antara.

c. Permintaan Akhir

Permintaan akhir adalah permintaan atas barang dan jasa untuk keperluan konsumsi, bukan untuk proses produksi.

1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

Pengeluaran ini merupakan pengeluaran yang dilakukan rumah tangga untuk semua pembelian barang dan jasa dikurangi dengan penjualan netto barang bekas. Barang dan jasa ini mencakup barang tahan lama dan barang tidak tahan lama, kecuali pembelian rumah tempat tinggal. Pengeluaran ini juga mencakup konsumsi yang dilakukan di dalam dan di luar negeri. Konsumsi penduduk di suatu negara yang dilakukan di luar negeri diperlukan sebagai impor untuk menjaga konsistensi data. Konsumsi oleh penduduk asing di domestik diperlakukan sebagai ekspor.

2. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

Pengeluaran ini mencakup semua pengeluaran barang dan jasa untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan administrasi pemerintah dan pertahanan, baik yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah.

3. Pembentukan Modal Tetap

(21)

32

4. Perubahan Stok

Perubahan stok merupakan selisih antara nilai stok barang pada akhir tahun dengan nilai stok barang awal tahun. Perubahan stok dapat digolongkan menjadi: (i) perubahan stok barang jadi dan setengan jadi yang disimpan oleh produsen, contohnya pada kasus peternakan yaitu perubahan ternak dan unggas serta barang-barang strategis yang merupakan cadangan nasional, (ii) perubahan stok bahan mentah dan bahan baku yang belum digunakan oleh produsen, (iii) perubahan stok di sektor perdagangan, yang terdiri dari barang-barang dagangan yang belum terjual.

5. Ekspor dan Impor

Ekspor dan impor barang dan jasa meliputi transaksi barang dan jasa antara penduduk suatu negara atau daerah dengan penduduk negara atau daerah lain. Transaksi tersebut terdiri dari ekspor dan impor barang dagangan, jasa angkutan, komunikasi, asuransi dan jasa lainnya. Transaksi ekspor barang ke luar negeri dinyatakan dengan nilai free on board (f.o.b). Free on board adalah suatu nilai yang mencakup semua biaya angkutan di negara pengekspor, bea ekspor dan biaya pemuatan barang sampai ke kapal yang mengangkutnya. Transaksi impor barang dari luar negeri dinyatakan atas dasar biaya pendaratan (landed cost). Biaya pendaratan terdiri dari cost insuraance

and freight (c.i.f) ditambah dengan bea masuk dan bea penjualan impor.

d. Input Primer

Input primer adalah balas jasa atas pemakaian faktor-faktor produksi yang

(22)

33

juga nilai tambah bruto dan merupakan selisih antara nilai output dengan nilai antara. Berikut ini adalah termasuk dalam input primer:

1. Upah dan Gaji

Upah dan gaji mencakup semua balas jasa dalam bentuk uang maupun barang dan jasa kepada tenaga kerja yang ikut dalam kegiatan produksi selain pekerja keluarga yang tidak dibayar.

2. Surplus Usaha

Surplus usaha adalah balas jasa atas kewiraswastaan dan pendapatan atas pemilik modal. Surplus usaha terdiri dari keuntungan sebelum dipotong pajak penghasilan, bunga atas modal, sewa tanah dan pendapatan atas hak kepemilikan lainnya. Besarnya nilai surplus usaha sama dengan nilai tambah bruto dikurangi dengan upah dan gaji, penyusutan dan pajak tak langsung netto.

3. Penyusutan

Penyusutan adalah biaya atas pemakaian barang modal tetap dalam kegiatan produksi. Nilai penyusutan dari suatu barang modal tetap dihitung dengan jalan memperkirakan besarnya penurunan nilai dari barang modal tersebut yang disebabkan oleh pemakaiannya dalam kegiatan produksi

4. Pajak Tak Langsung Netto

(23)

34

menutupi biaya produksi. Dengan demikian subsidi merupakan tambahan pendapatan bagi produsen dan sering disebut sebagai pajak tak langsung negatif. Subsidi pada umumnya dimaksudkan untuk mempertahankan tingkat harga tertentu dari suatu produk.

2.6 Analisis Input-Output

2.5.1. Analisis Keterkaitan (Linkage Analysis)

Analisis keterkaitan ini merupakan suatu konsep yang dijadikan dasar

perumusan strategi pembangunan ekonomi dengan melihat keterkaitan antar sektor dalam suatu sistem perekonomian. Konsep ini terdiri dari keterkaitan ke depan (forward linkage), menunjukkan keterkaitan antar sektor dalam penjualan terhadap total penjualan output yang dihasilkan dan keterkaitan ke belakang (backward linkage), menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam pembelian terhadap total pembelian input yang digunakan dalam proses produksi.

(24)

35

1. Keterkaitan Langsung ke Depan (Direct Forward Linkage)

Menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.

2. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan (Direct-Indirect

Forward Linkage)

Menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output sektor tersebut secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.

3. Keterkaitan Langsung ke Belakang (Direct Backward Linkage)

Menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total

4. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang (Direct-Indirect

Backward Linkage)

Menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.

2.6.2 Analisis Dampak Penyebaran (Dispersion Effect Analysis)

(25)

36

langsung dan tidak langsung dari seluruh sektor. Analisis dampak penyebaran ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Koefisien Penyebaran (Coeffisient on Dispersion)

Koefisien ini digunakan untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap pengembangan sektor-sektor lainnya melalui mekanisme transaksi pasar input. Artinya, bahwa kemampuan suatu sektor untuk meningkatkan pertumbuhan produksi sektor hulunya.

2. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion)

Kepekaan ini digunakan untuk mengetahui tingkat kepekaan suatu sektor terhadap sektor-sektor lainnya melalui mekanisme pasar output. Artinya, bahwa kemampuan suatu sektor untuk mendorong pertumbuhan produksi sektor hilirnya yang memakai input dari sektor ini.

2.6.3Analisis Pengganda (Multiplier Analysis)

Analisis pengganda digunakan untuk menghitung dampak yang

(26)

37

dijadikan sebagai faktor eksogen, sedangkan analisis tipe II merupakan model tertutup, yang mana faktor rumah tangga dijadikan sebagai faktor endogen.

a. Pengganda Output (Output Multiplier)

Pengganda output menentukan besarnya kelipatan perubahan output regional akibat perubahan permintaan akhir suatu sektor. Artinya, bahwa nilai total output yang dihasilkan oleh perekonomian akibat adanya perubahan suatu unit mata uang permintaan akhir sektor tersebut. Peningkatan permintaan akhir suatu sektor akan meningkatkan output itu sendiri dari sektor-sektor lain dalam perekonomian. Peningkatan output sektor-sektor lain tercipta akibat adanya dampak langsung dan tidak langsung (hubungan teknis antar sektor) dari peningkatan permintaan akhir. Pengganda ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu:

- Tipe I

Tipe ini digunakan untuk menganalisis perubahan output akibat permintaan akhir baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perekonomian suatu wilayah.

- Tipe II

Tipe ini digunakan untuk menganalisis perubahan output akibat permintaan akhir baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menambahkan efek induksi konsumsi dalam perekonomian suatu wilayah.

b. Pengganda Pendapatan (Income Multiplier)

(27)

38

dalam pengganda ini adalah pendapatan berupa upah dan gaji yang diterima rumah tangga, deviden, dan sebagainya. Pengganda ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu:

- Tipe I

Tipe ini digunakan untuk melihat pengaruh perubahan pendapatan rumah tangga sebagai eksogenus model sebesar Pengganda totalnya akibat perubahan permintaan akhir pada suatu sektor sebesar satu unit baik secara langsung maupun tidak langsung.

- Tipe II

Tipe ini digunakan untuk melihat pengaruh perubahan pendapatan rumah tangga sebagai endogenus model sebesar Pengganda totalnya akibat perubahan permintaan akhir pada suatu sektor sebesar satu unit baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menambahkan efek induksi konsumsi.

c. Pengganda Tenaga Kerja (Labour Multiplier)

(28)

39

- Tipe I

Tipe ini digunakan untuk melihat pengaruh penciptaan lapangan kerja akibat perubahan output suatu sektor sebesar satu satuan.

- Tipe II

Tipe ini digunakan untuk mengetahui pengaruh perubahan lapangan kerja akibat perubahan output suatu sektor sebesar satu satuan dan memasukan efek induksi konsumsi.

2.7 Penelitian Terdahulu

Penelitian dengan menggunakan Analisis Input Output telah banyak dilakukan. Penelitian dengan menggunakan analisis ini pada umumnya mempelajari bagaimana pengaruh suatu sektor dalam perekonomian, melihat keterkaitan antar sektor dalam perekonomian, dampak penyebaran sektor-sektor tersebut, serta efek pengganda yang ditimbulkan suatu sektor dalam perekonomian.

Penelitian yang menganalisis peran sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi dengan menggunakan alat Analisis Input Output sudah pernah dilakukan sebelumnya. Nugroho (2002)16 meneliti tahap industrialisasi sektor pertanian serta dampak investasi dan peranannya dalam perekonomian Propinsi Jawa Tengah. Penelitian tersebut menggunakan Tabel Input Output updating Jawa Tengah

16 Bramantyo Tri Adi Nugroho. 2003. Tahap Industrialisasi Sektor Pertanian Serta Dampak

(29)

40

Tahun 1998. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan sektor pertanian di Provinsi Jawa Tengah masih cukup besar walaupun sektor tersebut tidak menjadi sektor ungulan dalam Provinsi Jawa Tengah. Hal ini di buktikan dari pembentukan output sektor pertanian menduduki peringkat kedua. Nilai keterkaitan ke depan langsung maupun langsung dan tidak langsung lebih besar daripada keterkaitan ke belakangnya. Hal ini menunjukkan bahwa output pertanian lebih banyak digunakan sebagai input bagi sektor-sektor lain. Analisis pengganda sektor pertanian relatif rendah dibandingkan sektor lainnya. Analisis koefisien pertanian menunjukkan bahwa industrialisasi yang terjadi di sektor pertanian masih belum maju.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Nurlela (2003)17, melihat dampak investasi sektor pertanian terhadap perekonomian Provinsi Jawa Barat. Penelitian tersebut menggunakan Tabel Input Output Provinsi Jawa Barat Tahun 2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterkaitan ke depan sektor pertanian berada pada peringkat kedua dan keterkaitan kebelakang berada pada peringkat ke delapan dari sepuluh sektor perekonomian. Berdasarkan analisis dampak penyebaran, subsektor pertanian berada pada peringkat ke delapan (koefisien penyebaran) dan peringkat ketiga (kepekaan penyebaran) dari sepuluh sektor yang ada. Analisis pengganda menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki nilai relatif rendah untuk pengganda output, pengganda pendapatan, dan tenaga kerja.

17 Fitri Nurlela. 2003. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Provinsi Jawa

(30)

41

Penelitian-penelitian terdahulu untuk selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 2.2. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini terletak dari aspek cakupan wilayah penelitiannya. Penelitian-penelitian terdahulu cakupan wilayah penelitiannya pada tingkat provinsi sedangkan penelitian ini cakupan penelitiannya pada tingkat nasional. Ada beberapa penelitian terdahulu yang menganalisis sektor pertanian dengan cakupan wilayah penelitiannya sama dengan penelitian ini yaitu secara nasional, akan tetapi penelitian terdahulu menganalisis sektor pertanian dari permasalah yang berbeda.

(31)

42 Tabel 2.2 Penelitian-Penelitan Terdahulu

Nama Judul Tabel IO Hasil Penelitian Deskripsi

1. Dyah Ayu 1. Langsung ke Depan: 0,46

2. Langsung dan Tidak Langsung ke Depan: 2,02

3. Langsung ke Belakang: 0,25 4. Langsung dan Tidak Langsung ke

Belakang: 1,45 b) Analisis Penyebaran:

1. Penyebaran ke Depan: 1,06 2. Penyebaran ke Belakang: 0,76 c) Analisis Pengganda:

3. Pengganda Tenaga Kerja: Tipe I: 1,19

Tipe II: 1,27

d) Analisis Dampak Investasi menunjukkan bahwa sub sektor dari sektor pertanian yang memiliki nilai investasi yang baik adalah sub sektor perkebunan.

a) Nilai langsung dan tidak langsung ke depan sektor pertanian sebesar 2,02 berada pada urutan ketiga terbesar dari klasifikasi 10 sektor. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat mendorong pertumbuhan sektor hilirnya melalui penyediaan input jika dibandingkan dengan sektor-sektor lain. Kemudian, nilai langsung dan tidak langsung ke belakang sektor pertanian sebesar 1,45 berada pada urutan kesembilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian kurang mampu merangsang pertumbuhan sektor-sektor hulunya melalui penggunaan input jika dibandingkan dengan sektor-sektor lain.

(32)

43

hilirnya dibandingkan merangsang pertumbuhan seluruh sektor hulunya.

c) Analisis Pengganda menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki efek pengganda yang rendah baik pengganda output, pendapatan maupun tenaga kerja terhadap sektor-sektor lain. 1. Langsung ke Depan: 0,18

2. Langsung dan Tidak Langsung ke Depan: 1,26

3. Langsung ke Belakang: 0,09 4. Langsung dan Tidak Langsung ke

Belakang: 1,12 b) Analisis Penyebaran:

1. Penyebaran ke Depan: 0,92 2. Penyebaran ke Belakang: 0,81 c) Analisis Pengganda:

(33)

sektor-44

sektor lain.

b) Analisis penyebaran menunjukkan bahwa sektor pertanian lebih mampu untuk mendorong pertumbuhan sektor hilirnya dibandingkan merangsang pertumbuhan sektor

hulunya walaupun jika dibandingkan dengan sektor-sektor lain dampak penyebaran sektor pertanian masih sangat rendah.

c) Analisis Pengganda menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki efek pengganda yang rendah baik pengganda output, pendapatan maupun tenaga kerja terhadap sektor-sektor lain.

(34)

45

terdapat pada Provinsi Maluku Utara, NTT, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.

b) Analisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor perdagangan, hotel, restoran dalam perekonomian daerah menunjukkan bahwa tidak ada provinsi dalam penelitian yang memiliki keterkaitan total ke belakang dan keterkaitan total ke depan yang tinggi. Semua provinsi yang diteliti memiliki keterkaitan total ke belakang dan ke

a) Analisis Keterkaitan Perkebunan Kelapa Sawit:

1. Langsung ke Depan: 0,2

2. Langsung dan Tidak Langsung ke Depan: 1,3

3. Langsung ke Belakang: 0,32 4. Langsung dan Tidak Langsung ke

Belakang: 1,52

Analisis Keterkaitan Industri Kelapa Sawit: 1. Langsung ke Depan: 0,312

2. Langsung dan Tidak Langsung ke Depan: 1,47

3. Langsung ke Belakang: 0,64 4. Langsung dan Tidak Langsung ke

Belakang: 2,16

a) Analisis keterkaitan menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit dan industri kelapa sawit memiliki keterkaitan ke belakang dan kedepan yang tinggi baik langsung maupun langsung dan tidak langsung. Ini artinya, perkebunan kelapa sawit maupun industri kelapa sawit dapat mendorong dan merangsang pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya.

(35)

46

b) Analisis Penyebaran Perkebunan Kelapa Sawit:

1. Penyebaran ke Depan: 0,88 2. Penyebaran ke Belakang: 1,03

Analisis Penyebaran Industri Kelapa Sawit: 1. Penyebaran ke Depan: 1,00

2. Penyebaran ke Belakang: 1,47 c) Analisis Pengganda Perkebunan Kelapa

Sawit:

Analisis Pengganda Industri Kelapa Sawit: 1. Pengganda Output: berkembang maka sektor-sektor tersebut dapat mendorong dan merangsang pertumbuhan seluruh sektor dalam perekonomian. c) Analisis pengganda menunjukkan

(36)

47 2.8 Kerangka Pemikiran Operasional

Suatu pemahaman yang luas terhadap peran sektor pertanian, tidak hanya dilihat dari kontribusinya terhadap PDB (dimana PDB hanya menggambarkan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh sektor tersebut). Akan tetapi sektor pertanian dapat berperan terkait pengaruhnya terhadap sektor-sektor lain sebagai penyedia input (barang dan jasa) antara bagi sektor lain ataupun pengguna input antara dari sektor lain. Untuk itu penelitian ini difokuskan pada Analisis Input Output.

(37)

48

diharapkan dapat menciptakan sinergitas antara sektor-sektor tersebut dan pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Operasional Perekonomian Indonesia

Sektor Pertanian

Grimp 7.2

Microsoft Excel Exel 2007

Keterkaitan Sektor Pertanian Terhadap Sektor Lain dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian

Ekonomi Indonesia Analisis Keterkaitan

Tabel Input Output Indonesia 2005

Analisis Input Output

Analisis Penyebaran Analisis Multiplier

Gambar

Tabel 2.1 Tabel Input Output
Tabel I-O
Tabel IO Tabel IO
Tabel IO Bangka
+4

Referensi

Dokumen terkait

Effy Wardati

Sejalan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kepuasan kerja dengan komitmen organisasi, dimensi profesionalisme diduga dapat mempengaruhi hubungan

Merujuk pada beberapa uraian tersebut di atas, diharapkan keberhasilan Madrasah Aliyah Syarifuddin Desa Wonorejo Kecamatan Kedungjajang Kabupaten Lumajang Tahun

Dapat dilihat bahwa angka porositas terbesar terletak pada spesimen B yang merupakan hasil pengecoran dari almuniun yang menggunakan media pasir cetak dengan campuran pasir

Beberapa penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Dita Kurnia dalam penelitiannya Iklan dan Word of Mouth (WOM) mempengaruhi Minat Beli Mahasiswa Universitas

“Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto,

Berdasarkan penjabaran data diatas maka dilihat dari sisi geografis, wilayah menjadi sasaran dari kegiatan promosi yang dilakukan oleh Aktivasi Communication Terpadu dalam

Rataan pertambahan bobot badan (PBBH) landak jantan PI nyata lebih tinggi (P<0,05) dari landak betina, sebaliknya PBBH landak betina PII nyata lebih tinggi (P<0,05) dari