• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Yuridis Terhadap Peralihan Kepemilikan Saham Secara Diam-Diam (Studi Pada Putusan No.1130 K Pdt 2010)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tinjauan Yuridis Terhadap Peralihan Kepemilikan Saham Secara Diam-Diam (Studi Pada Putusan No.1130 K Pdt 2010)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang berdasarkan hukum.1 Sebagai sebuah negara

hukum, Indonesia menjunjung tinggi supermasi hukum yang terefleksi dalam

penegakan hukum (enforcement of law) dan keadilan berdasarkan Undang-Undang

Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945.2 Pemberlakuan peraturan di

Indonesia dilakukan dengan cara pembentukan oleh legislatif dan eksekutif kemudian

disahkan oleh kepada eksekutif3serta berdasarkan aturan peralihan.4

Pemberlakuan peraturan berdasarkan aturan peralihan membawa kepada

pemberlakuan hukum kolonial pada masa penjajahan ke dalam masa merdeka ini.

Peraturan tersebut antara lain Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdta) dan

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD).5 KUHD yang cenderung memakai

istilah hukum dagang sudah banyak ditinggalkan oleh para pakar (Sarjana). Hal ini

1 Lihat pada pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”.

2

Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata Dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2008), hal.2.

3Lihat pasal 20 Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.

4Aturan peralihan pra amandemen UUD 1945 menyatakan, Pasal III; segala Badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum di adakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini. Aturan peralihan pasca amandemen UUD 1945 menyatakan, pasal I aturan peralihan segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama sebelum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.Aturan peralihan baik pra maupun pasca amandemen menunjukkan adanya upaya untuk menjaga agar tidak terjadi kerukunan hukum dan Lihat Titik Triwulan Tutik.Op.cit,hal.4.

(2)

disebabkan karena pengaturan mengenai pedagang dan perdagangan sendiri telah

dicabut sejak tanggal 17 Juli 1938 denganstaatblad1938 No. 276, dengan mengubah

isi pasal 2-56 yang sekarang kita jumpai dengan istilah pengusaha dan perusahaan.

Oleh karena itu, para sarjana banyak yang cenderung kepada penggunaan istilah

hukum perusahaan.7

Hukum perusahaan adalah bentuk aturan-aturan yang diciptakan untuk

menjalankan kegiatan perusahaan. Perusahaan8walaupun dikenal dalam KUHD, akan

tetapi pengertian mengenai perusahaan tidak disebutkan didalamnya. Hal ini

mengakibatkan munculnya penafsiran mengenai pengertian perusahaan.9 Di

Indonesia pengertian perusahaan yang semula tidak ditemukan dalam KUHD dapat

dilihat pada pasal (1) huruf B Undang-Undang No. 3 tahun 1982 tentang Wajib

Daftar Perusahaan sebagai berikut :

“Perusahaan yang bersifat tetap dan terus menerus didirikan bekerja serta

berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia dengan tujuan memperoleh

keuntungan/laba”.

6 H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Pengetahuan Dasar

Hukum Dagang,(Jakarta: Dambatan, 2003), hal. 15.

7 Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis: Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 30-31.

8 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 7 bahwa menurut Molengraaff, perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak keluar untuk memperoleh penghasilan, dengan cara memperdagangkan atau menyerahkan barang atau mengadakan perjanjian perdagangan dan Chidir Ali, Badan Hukum,

(Bandung: Alumni, 1987), hal. 79 bahwa menurut Polak suatu usaha dapat dimasukkan dalam pengertian perusahaan harus mengadakan pembukuan, yaitu perhitungan mengenai laba dan rugi.

(3)

Perusahaan sebagai salah satu produksi perekonomian dapat dibedakan menjadi

2 bentuk yaitu :

1. Perusahaan bukan badan hukum

2. Perusahaan badan hukum

a. Perusahaan bukan badan hukum terdiri dari:10

(i) Perusahaan dagang

(ii) Persekutuan perdata

(iii)Persekutuan firma

(iv)Persekutuan komanditer

b. Perusahaan badan hukum terdiri dari :

(i) Perseoran terbatas

(ii) Yayasan

(iii) Koperasi

Dari keseluruhan bentuk perusahaan, Perseoran Terbatas (PT) merupakan yang

paling banyak diminati oleh investor lokal maupun investor asing.11 Banyaknya

peminat terhadap perseoran terbatas membawa kepada pengaturannya yang juga terus

berkembang agar sesuai dengan perkembangan ekonomi dan dunia usaha yang

semakin pesat baik secara nasional maupun internasional.12

10Mulhadi,Op. cit,hal. 32-68

11Hadijan Rusli,Perseoran Terbatas dan Aspek Hukumnya,(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996) hal. xi dan Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseoran Terbatas(Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002) hal. 14

(4)

PT sebagai badan hukum13 atau dahulu dikenal dengan Naamloze

Vennootschaap(NV) memiliki ciri-ciri sebagai berikut14:

a. Adanya harta kekayaan yang terpisah

b. Mempunyai tujuan tertentu

c. Mempunyai kepentingan sendiri

d. Ada organisasi yang teratur

Keempat ciri-ciri diatas menunjukkan keleluasaan yang menjadi penyebab

ketertarikan para investor terhadap PT. Diantara ke empat ciri PT, adanya harta

kekayaan yang terpisah menjadi bagian yang paling menarik. Adanya harta kekayaan

yang terpisah mengandung maksud bahwa PT. memiliki harta yang terpisah dari para

pemegang saham.

Pemegang saham adalah pemilik perusahaan. Pemegang saham adalah mereka

yang ikut serta didalam perseoran dengan menyetor sejumlah uang tertentu ke dalam

diundangkannya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 maka Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tidak berlaku lagi.

13Penyebutan PT sebagai badan hukum pada KUHD tidaklah jelas adanya. Pada pasal 36 ayat 1 KUHD dinyatakan PT tidak mempunyai suatu firma dan tidak memakai nama salah seorang atau lebih pada Perseoranya. Namun diambil nyalah nama perseoran itu dari tujuan perusahaannya semata-mata.Penyebutan PT sebagai badan hukum jelas terlihat pada UU No. 1 dan 95 pasal 1 angka 1 dan pada pasal 1 angka 1 UU No. tahun 2007. Pasal 1 angka 1 UU No. 1 tahun 1995, Perseoran Terbatas adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Pasal 1 angka 1 UU No. 40 Tahun 2007, Perseoran Terbatas yang selanjutnya disebut Perseoran adalah badan hukum yang merupakan persekutuan Modal, didirikan berdasarkan perjanjian melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

14 Ridwan Syahrani, dalam Freddy Haris dan Teddy Anggoro,Hukum Perseoran Terbatas:

(5)

PT.15 Saham merupakan bagian terpenting dari suatu PT, hal itu disebabkan karena

saham merupakan modal perseoran yang paling utama pada saat PT tersebut

didirikan. Saham pada dasarnya digunakan untuk beberapa hal, yaitu :16

a. Dalam rangka pendirian perusahaan

b. Pemenuhan modal dasar

c. Peningkatan modal dasar

Berdasarkan cara pengalihannya saham dibagi atas :17

1. Saham atas unjuk (bearer stock), adalah pada saham tersebut tidak tertulis nama

pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lain.

Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah yang diakui

sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam Rapat Umum Pemegang

Saham.

2. Saham atas nama (registered stock), adalah saham dengan nama pemilik yang

ditulis secara jelas dan cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.

Dalam kepemilikan saham memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap

penentuan kebijakan yang akan diambil dalam sebuah PT.18 Disamping itu

kepemilikan terhadap saham memiliki manfaat sebagai berikut:19

15Pasal 32 ayat 1 UU No. 40 Tahun 2007 menyatakan modal dasar perseoran paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (Lima puluh juta rupiah) dan pasal 33 ayat 1 UU No. 40 Tahun 2007 menyatakan paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 ditempatkan dan disetor penuh.

16M. Irsan Nasarudin,Aspek Hukum Pasar Modal,(Jakarta: Kencana, 2008), hal. 188. 17 Tjipttono Darmadji, Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), hal. 8.

(6)

a. Dividen merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan

kepada pemilik saham.

b. Capital gain merupakan keuntungan yang diperoleh dari selisih jual dengan

harga belinya.

c. Manfaat non-finansial adalah timbulnya kebanggaan dan kekuasaan

memperoleh hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan.

Terjadinya peralihan saham berarti adanya peralihan atas semua hak dan

kewajiban yang dimiliki pemegang saham yang sebelumnya kepada pemegang saham

yang baru. Menurut Rusdin berdasarkan cara peralihannya, saham dibagi menjadi 2,

yaitu :20

1. Saham atas unjuk (Bearer Stock), ialah saham yang tidak ditulis nama

pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lain.

2. Saham atas nama (Registered Stock), ialah saham yang ditulis dengan jelas siapa

pemiliknya, dimana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu; dengan

dokumen peralihan dan kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku

perusahaan khusus memuat daftar nama pemegang saham. Apabila terjadi

kehilangan, pemegang saham tersebut dengan mudah mendapat penggantinya.

(7)

Dalam proses peralihan21 saham dapat terjadi dan dimulai berdasarkan

keputusan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) atau sejak semula sudah

ditentukan dalam anggaran dasarnya. Peralihan kepemilikan saham harus memenuhi

prosedur yang mengacu pada itikad baik teruama mengacu pada prinsip Good

Corporate Governence.

Peralihan saham yang dilakukan dalam sebuah PT adalah melalui jual beli.

Namun terdapat perbedaan antara PT tertutup dengan PT terbuka.PT tertutup dalam

melakukan jual beli saham dilakukan dengan melakukan penetapan dalam anggaran

dasar dan ditentukan dengan kebijakan para pemegang saham. Hal ini berbeda

dengan PT terbuka dimana melakukan penjualan saham melalui pasar modal yang

artinya penawaran saham ditujukan kepada publik. Dalam proses penjualan saham

pada pasar modal PT yang bersifat terbuka melakukan tindakan berupa penawaran

tender (Tender Offer). Penawaran tender ini dilakukan melalui media massa untuk

memperoleh Efek Bersifat Ekuitas dengan cara pembelian atau pertukaran dengan

21Pasal 55 UU No. 40 tahun 2007, menyatakan dalam anggaran dasar perseoran ditentukan cara pemindahan hak atas saham sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 56 UU No. 40 Tahun 2007 :

1. Pemindahan hak atas saham dilakukan dengan akta pemindahan hak

2. Akta pemindahan hak sebagimana dimaksud pada ayat 1 atau salinannya disampaikan secara tertulis kepada perseoran.

3. Direksi wajib mencatat pemindahan hak atas saham, tanggal dan hari pemindahan hak tersebut dalam daftar pemegang saham atau daftar khusus sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat 1 dan ayat 2 dan memberitahukan perubahan susunan pemegang saham kepada menteri untuk dicatat dalam daftar perseoran paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pencatatan pemindahan hak.

4. Dalam hal pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat 3 belum dilakukan, menteri menolak permohonan persetujuan atau pemberitahuan yang dilaksanakan berdasarkan susunan dan nama pemegang saham yang belum diberitahukan tersebut.

(8)

Efek lainnya. Dalam penawaran tender tidak serta merta selalu terjadi dengan tahapan

yang bersih akan tetapi sering pula terjadi penyimpangan dalam proses penawaran

tender untuk memperoleh untung yang besar.22

Tidak hanya terbatas pada hal tersebut, dalam sebuah PT terutama yang bersifat

terbuka dapat terjadi peralihan saham secara diam-diam dimana bentuk peristiwanya

adalah terdapat seorang pemegang saham mendapati sahamnya telah dibagi-bagi oleh

direktur utama kepada keluarganya yang mana dalam proses peralihan saham seakan

terjadi jual beli kepada keluarganya.

Oleh karena itu, peneliti memandang perlu suatu penelitian lebih lanjut

mengenai peralihan kepemilikan saham pada sebuah perseoran terbatas, maka

dilakukan penelitian dengan judul : “Tinjauan Yuridis Terhadap Peralihan Kepemilikan Saham Secara Diam-Diam (Studi Pada Putusan No. 1130/K/Pdt/2010)”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka dapat

dirumuskan beberapa masalah, sebagai berikut :

1. Bagaimana pengalihan hak atas saham pada Perseroan Terbatas?

2. Bagaimana akibat hukum saham yang dialihkan secara diam-diam pada

Perseoran Terbatas?

3. Bagaimana putusan pengadilan pada kasus Putusan Nomor 1130/K/Pdt/2010?

(9)

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengalihan hak atas saham pada perseroan terbatas.

2. Untuk mengetahui akibat hukum saham yang dialihkan secara diam-diam pada

perseoran terbatas.

3. Untuk mengetahui putusan pengadilan pada kasus Putusan Nomor

1130/K/Pdt/2010.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapakn dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis,

yaitu :

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan atau

data informasi pengembangan ilmu pengetahuan tentang peralihan kepemilikan

saham pada perseroan terbatas.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai kerangka

acuan dalam proses peralihan kepemilikan saham pada perseroan terbatas.

E. Keaslian Penulisan

Berdasarkan pemeriksaan dan penelusuran yang telah dilakukan oleh peneliti di

perpustakaan Universitas Sumatera Utara khususnya di Magister Kenotariatan,

(10)

1130/K/Pdt/2010)”, belum pernah dilakukan dalam pendekatan dan perumusan masalah yang sama, walaupun ada beberapa topik mirip, namun jelas berbeda dengan

penelitian ini.

Ada ditemukan beberapa, penelitian sebelumnya tentang perseroan terbatas,

namun topik permasalahan dan bidang kajiannya berbeda dengan penelitian ini,

penelitian tersebut antara lain :

1. Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Dalam Tindak Pidana Korupsi,

Oleh Edi Yunara/NIM 982105007,

2. Peranan Risk Management (Manajemen Risiko) Dalam Tugas dan Tanggung

Jawab Direksi Perseoran Terbatas ditinjau dari UU No. 10 Tahun 1998 tentang

Perbankan dan UU No. Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT), oleh

Andy/NIM. 107005059,

3. Analisis Juridis Business Judgement Rule sebagai Wujud Perlindungan Terhadap

Direksi Suatu Perseoran Terbatas (PT), oleh Christian Orchard/NIM. 047011009,

4. Wewenang dan Tanggung Jawab Direksi dalam Prinsip Corporate Opportunity,

yang ditinjau dari Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseoran Terbatas

(PT), oleh Maria N. Sihombing/NIM. 097011062,

5. Tinjauan Yuridis mengenai Perbuatan Pemberian Kuasa dari Direksi kepada

Komisaris dalam Hal Meminjam Kredit pada PT. Bank Mestika Dharma, oleh

(11)

6. Analisis Yuridis terhadap Kedudukan Direksi Badan Usaha Milik Negara dalam

rangka Penerapan Prinsip Good Corporate Governance dalam Pengelolaan

Perusahaan, oleh Syophia Nely/NIM. 067011092.

F. Kerangka Teoritis dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian.

Artinya, teori hukum harus dijadikan dasar dalam memberikan preskripsi atau

penilaian apa yang seharusnya memuat hukum. Teori hukum tidak hanya sebatas

dapat digunakan untuk menjelaskan fakta atau peristiwa hukum yang terjadi

melainkan teori hukum juga dapat digunakan sebagai pisau analisis pembahasan

tentang peristiwa atau fakta hukum yang diajukan dalam masalah penelitian.23

Saham merupakan salah satu surat berharga yang paling popular selain obligasi

dan reksadana di dalam pasar modal. Didalam sebuah saham sangat melekat hak

kebendaan.

Hak kebendaan yang terdapat dalam saham terdiri atas:24

a. “Hak atas saham dapat dialihkan atau dipindahkan”

Hal ini dapat dilihat dalam pasal 55 hingga pasal 59 UU No. 40 Tahun 2007, yang mengatur bahwa hak yang melekat pada saham tersebut dapat dialihkan kepada setiap orang atau pihak, selama dan sepanjang dilakukan menurut ketentuan dan tata cara yang ditetapkan dalam UU No. 40 Tahun 2007.

23Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad,Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan

Empiris,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 46

(12)

b. Saham bersifatindividualiteit

Sifat ini mengandung maksud bahwa yang dapat dimiliki sebagai kebendaan adalah segala sesuatu yang menurut hukum dapat ditentukan terpisah.Dalam UU No. 40 Tahun 2007 ditentukan, setiap lembar saham dengan nilai nominal terkecil mempunyai dan memberikan hak yang tidak terbagi kepada pemiliknya.Sehingga setiap pemegang atau pemilik dari pecahan nilai nominal saham tidak mempunyai hak suara perseorangan, kecuali jika pemegang atau pemilik pecahan nilai nominal saham kemudian bergabung bersama-sama dengan pemegang pecahan nilai nominal saham lainnya yang sejenis hingga memiliki nilai nominal sebesar satu nominal saham dari kualifikasi tersebut.Dalam hal tersebut, terhadap mereka diberikan hak sebagai pemegang satu lembar saham. Dengan demikian, tampak bahwa setiap lembar saham dengan nilai nominal terkecil yang diakui perseroan terbatas dalam anggaran dasarnya adalah suatu benda tersendiri yang memberikan hak kebendaan yang utuh pada saham tersebut sesuai dengan ketentuan yang mengaturnya, yaitu baik yang diatur secara umum dalam KUH Perdata, secara khusus dalam UU No. 40 Tahun 2007 dan UU No. 8 Tahun 1995.

c. Hak atas saham bersifat menyeluruh

Saham memberikan hak kepemilikan yang utuh bagi setiap

pemiliknya.Kepemilikan atas setiap lembar saham dengan nilai nominal terkecil yang diakui dalam anggaran dasar perseroan adalah kepemilikan menyeluruh dari seluruh hak yang melekat pada saham tersebut dan dapat melaksanakan hak-hak yang diberikan oleh UU No. 40 Tahun 2007 kepada setiap pemiliknya. Dalam hal seseorang bermaksud untuk mengakibatkan beralihnya seluruh ha katas saham tersebut, termasuk dividen yang mungkin diterima dikemudian hari dan risiko kerugian yang dapat terjadi pada harta kekayaan perseroan yang merupakan modal bersama dari para pemegang saham tersebut.

d. Hak atas saham tak dapat dipisah-pisahkan (onsplitsbaarheid)

(13)

e. Hak atas saham mengikuti bendanya (droit de suite)

Hak kebendaan yang mengikuti bendanya, merupakan ciri utama atau paling pokok dari hak kebendaan.Dengan hak kebendaan yang mengikuti bendanya ini, seorang pemegang hak kebendaan dilindungi.Ke tangan siapapun kebendaan yang dimiliki dengan hak kebendaan tersebut beralih atau dikuasai, pemilik dengan hak kebendaan tersebut berhak untuk menuntutnya kembali dengan atau tanpa disertai dengan ganti rugi.Ketentuan tentang hal ini dapat dilihat dalam pasal 60 UU No. 40 Tahun 2007 yang menentukan bahwa meskipun saham tersebut telah digadaikan namun hak suara atas saham tetap ada pada pemilik saham tersebut.

f. Hak atas saham dapat memberikanJura In Re Aliena(yang terbatas)

Jura in aliena berasal dari bahasa latin, yaitu suatu hak kebendaan yang terbatas yang dimiliki oleh seorang atau suatu badan hukum tertentu diatas suatu benda dengan hak kebendaan yang lebih luas atau lebih tinggi tingkatannya. Dalam hal ini dapat terjadi bahwa diatas suatu benda terdapat hak kebendaan yang terbatas.Contohnya, hak jaminan kebendaan dalam bentuk gadai adalah suatu pemberian hak kebendaan yang terbatas atas benda bergerak tentu yang digadaikan, sedangkan terhadap benda yang digadaikan tersebut terdapat hak kebendaan dalam bentuk hak milik pada pemilik kebendaan tersebut.Hak milik tersebut memberikan kepada pemiliknya hak untuk menjaminkan benda tersebut dalam bentuk gadai.Jadi, atas suatu kebendaan mungkin diletakkan lebih dari satu jenis hak kebendaan, hak kebendaan yang keberadaannya melekat pada keberadaan atau eksistensi dari hak kebendaan yang lebih luas atau lebih tinggi tingkatannya tersebut dinamakan Jura in re aliena.Hak kebendaan ini juga masih dapat melahirkan atau menciptakan, menjelama lebih lanjut menjadi benda, yang selanjutnya dapat lagi diberik hak kebendaan terbatas”.

Dalam penguasaan saham yang merupakan benda bergerak atau untuk

memperoleh benda dan hak kebendaan yang melekat pada benda yang diperoleh

tersebut dapat terjadi :25

1. Akibat perbuatan hukum, dimana dalam hal pendakuan dan penyerahan

berdasarkan suatu peristiwa perdata untuk pemindahan hak milik yang

dilakukan oleh orang yang berhak untuk berbuat bebas terhadap barang itu.

(14)

2. Akibat peristiwa hukum sebagai akibat perlekatan, karena daluarsa, karena

pewarisan, baik menurut undang-undang maupun menurut surat wasiat dan

dengan penunjukan.

Dalam mengkaji kepemilikan terhadap saham dapat digunakan 3 teori, yaitu:26

1. Teori perjanjian (overeenkomst theorie)

2. Teori tentang tanggung jawab (responsibility theory)

3. Teori ligitimasi yaitu teori hukum surat-surat berharga

Teori perjanjian (overeenkomst theorie) mengatakan; yang menjadi dasar

hukum mengikatnya adalah suatu perjanjian, yang merupakan perbuatan hukum

dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya dengan satu orang atau lebih

sesuai dengan pengertian dari Pasal 1313 KUH Perdata tentang perjanjian.27

Perjanjian mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan

perundang-undangan, artinya perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan mengikat mereka

sebagai Undang-undang apabila perjanjian yang dibuat memenuhi syarat-syarat

sahnya perjanjian dalam Pasal 1320 KUHPerdata dan Pasal 1338 KUHPerdata,

sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “semua

perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang

membuatnya”, Ayat (2) : “perjanjian-perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain

dengan sepakat kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh

Undang-26

“http://ww.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-254-8905289-bab%2oi.pdf”,diakses 10 Oktober 2012.

(15)

undang dinyatakan cukup untuk itu”, Ayat (3) “perjanjian-perjanjian itu harus

dilaksanakan dengan itikad baik”.28

Makna yang terkandung dari Pasal 1338 Ayat (1) dari kalimat “semua

perjanjian yang dibuat secara sah” menunjukkan asas kebebasan berkontrak, pada

kalimat “bagi mereka yang membuatnya” menunjukkan asas personalitas.

Prinsip pacta sunt servanda, para pelaku harus melaksanakan

kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakatinya dan dituangkan dalam kontrak.

Teori tanggung jawab (responsibility theory), berdasarkan teori ini, tanggung

jawab dilihat dari hubungan hukum para pihak di dalam perjanjian, dimana dalam

setiap hubungan hukum antara para pihak diawali dengan suatu perikatan atau

perjanjian pembebanan jaminan atas saham apabila debitur wanprestasi, debitur

dianggap wanprestasi apabila dia tidak melakukan apa yang disanggupi untuk

dilaksanakan sebagai kewajibannya untuk memenuhi prestasinya.

Melaksanakan apa yang dijanjikan tetapi tidak sebagaimana dijanjikan,

melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat, atau melakukan sesuatu yang

menurut kontrak atau perjanjian tidak boleh dilakukan. Akibat dari wanprestasi itu

biasanya dapat dikenakan sanksi berupa ganti rugi, pembatalan kontrak, peralihan

resiko, maupun membayar biaya perkara.29

28http://ideapahlevi.blogspot.com/2012/10/perserikatan-perdata-beserta-analisa.html,(diakses tanggal 15 Oktober 2012).

29 http://asro.wordpress.com/2011/09/26/kontrak-3-asas-hukum-kontrak/, (diakses tanggal 15

(16)

Dalam hubungan para pihak akan menimbulkan hak dan kewajiban

masing-masing pihak dan juga timbul tanggung jawab masing-masing-masing-masing. Pada umumnya setiap

orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.Dengan demikian bertanggung

jawab dalam pengertian hukum, berarti adanya keterikatan, ini berarti tanggung

jawab hukum (legal responsibility) dimaksudkan sebagai keterikatan terhadap

ketentuan-ketentuan hukum, dalam hal ini keterikatan saham Perseroan Terbatas yang

dibebankan jaminan gadai.

Teori legitimasi (teori hukum surat-surat berharga) menyebutkan, seseorang

yang secara nyata memegang sepucuk saham atas tunjuk atau saham blanko dengan

itikad baik, maka ia dilegitimasi oleh hukum bahwa ia adalah orang yang berhak atas

saham tersebut. Berdasarkan teori legitimasi, maka dengan legitimasi ia dinyatakan

sebagai “eigenaar” dari saham dimana sebelumnya ia hanyalah “houder”. Houder

menurut Nindyo Pramono diterjemahkan sebagai pemegang saham, serta menurut

Algra dan Gokkel dikenal tiga istilah yang erat kaitannya dengan persoalan pemilikan

atau penguasaan suatu benda, yaituHouder, Bezitten, danEigendom. Houder artinya

sebagai pemegang benda secara nyata, apabila memegang benda secara nyata dengan

maksud untuk memiliki, maka ia dikatakan sebagaibezitten(menguasai).

2. Landasan Konsepsi

Penggunaan konsep dalam suatu penelitian adalah untuk menghindari

penafsiran yang berbeda terhadap kerangka konsep yang dipergunakan penulis dalam

merumuskan konsep dengan menggunakan model defenisi operasional. Adapun

(17)

1. Peralihan, yaitu : pergantian, perlintasan (dari keadaan yang satu pada keadaan

yang lain), pertukaran, perubahan bentuk atau raut luar.30 Penggunaan

pengertian yang tepat adalah peralihan merupakan pergantian dari kesadaran

yang satu pada keadaan yang lain.

2. Kepemilikan adalah pemelikan yang mencakup pada pengelolaan31

3. Saham adalah kertas berharga yang merupakan tanda bahwa pemiliknya ikut

penyertaan modal suatu perusahaan.32

4. Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan Modal,

didirikan berdasarkan perjanjian melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar

yang seluruhnya terbagi dalam saham

G. Jenis Dan Sifat Penelitian

Penelitian merupakan salah satu cara yang tepat untuk memecahkan masalah,

selain itu penelitian juga dapat digunakan untuk menemukan, mengembangkan dan

menguji kebenaran. Dilaksanakan untuk mengumpulkan data guna memperoleh

pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban atas pokok-pokok permasalahan yang

dirumuskan, sehingga diperlukan rencana yang sistematis, metodelogi merupakan

suatu logika yang menjadi dasar suatu penelitian ilmiah. Oleh karenanya pada saat

melakukan penelitian seseorang harus memerhatikan ilmu pengetahuan yang menjadi

30Departemen Pendidikan Nasional.Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), hal. 40.

31Ibid,hal. 915

(18)

induknya.33 Pada penelitian hukum ini, saya menjadi bidang ilmu hukum sebagai

landasan ilmu Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseoran Terbatas dan

putusan Mahkamah Agung No. 1130 K/Pdt/2010.

Penelitian normatif merupakan prosedur penelitian untuk menemukan

kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Penelitian

normatif selalu mengambil isu dari hukum sebagai sistem norma yang digunakan

untuk memberikan justifikasi presfektif tentang suatu peristiwa hukum. Penelitian ini

dilakukan dengan maksud memberikan argumentasi hukum, sebagai dasar penentu

apakah suatu peristiwa sudah benar salah serta bagaimana sebaiknya peristiwa itu

menurut hukum.34

Sifat penelitian ini adalah deskriptif normatif, merupakan metode yang di pakai

untuk menggambarkan suatu kondisi atau keadaan yang sedang berlangsung yang

tujuan nya agar dapat memberikan data mengenai objek penelitian sehingga mampu

menggali hal-hal yang bersifat ideal, kemudian dianalisis berdasarkan teori hukum

atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.35dalam tesis ini metode deskriptif

noematif digunakan untuk memberi gambaran atau suatu fenomena yang

berhubungan dengan peralihan kepemilikan saham pada perseroan terbatas yang

ditinjau berdasarkan undang-undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

dan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

33Soemitro Ronny Hanintijo,Metodologi Penelitian Hukum dan Juru Materi,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 2006), hal. 9

34Soemitro Ronny Hanintijo,Op.cit,hal. 146

(19)

1. Sumber Bahan Hukum

Penelitian hukum normatif yang menitik beratkan pada studi kepustakaan dan

berdasarkan pada sekunder, maka bahan hukum yang di gunakan dapat di bagi ke

dalam beberapa kelompok, yaitu:

1. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-perundangan yang

relevan dengan permasalahan dan tujuan penelitian, antara lain:

a. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

b. Undang-Undang No 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

2. Bahan hukum sekunder, merupakan bahan hukum yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat dalam kumpulan

pustaka yang bersifat sebagai penunjang dari bahan hukum primer, yang terdiri

dari:

a. Buku-buku

b. Jurnal-jurnal

c. Majalah-majalah

d. Artikel-artikel

e. Dan berbagai tulisan lainnya

3. Bahan hukum Tertier yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai bahan

hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti;

a. Kamus Hukum

(20)

2. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data mempunyai hubungan erat dengan sumber data, karena

dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya

dianalisis sesuai kehendak yang diharapkan. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam

penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan (library

research).36 Melalui pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan,

literatur-literatur, tulisan-tulisan pakar hukum, dokumen resmi, publikasi dan hasil penelitian

yang berkaitan dengan penulisan ini.

3. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke

dalam kategori-kategori dan satuan uraian dasar, sehingga ditemukan tema dan dapat

dirumuskan hipotesis kerja, seperti yang disaran oleh data.37 Analisis data yang akan

dilakukan secara kualitatif,38 Kegiatan ini diharapkan akan dapat memudahkan

penulis dalam menganalisis permasalahan yang akan dibahas, menafsirkan dan

kemudian menarik kesimpulan. Analisis kualitatif dilakukan terhadap paradigma

36

Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum(Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 112-113. Studi Kepustakaan dapat membantu peneliti dalam berbagai keperluan, misalnya : a) Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian dan yang sejenis dan berkaitan dengan permasalahan yang digunakan; c) sebagai sumber data skzjunder; d) Mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitiannya; e) mendapatkan indormasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat digunakan; f) Memperkaya ide-ide baru; dan g) Mengetahui siapa saja peneliti lain di bidang yang sama dan iaa pemakai hasil penelitian tersebut.

37 Analisis data menurut patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan stauan urafen oasar. Analisa berbeda dengan penafsiran yang memberikan arti yang sign ifikan terhadap hasil analisis menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan diantara dimensi uraian., dalam : Lexy J. Moleono, Metodologi Penelitian Kualitatif,

(21)

hubungan dinamis antara teori, konsep-konsep dan data yang merupakan modifikasi

yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada yang dikumpulkan. Hal ini

dilakukan sehubungan data yang dianalisis beraneka ragam, memiliki sifat dasar yang

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini sebagai prasyarat memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Ilmu serta dijadikan tambahan pengetahuan tentang tanggung jawab direksi terhadap pemegang

dikaitkan dengan UUPT bahwa RUPS untuk mengubah Anggaran Dasar dapat dilangsungkan jika dalam rapat paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari jumlah nseluruh saham dengan hak

RUPS merupakan tempat berkumpulnya para pemegang saham untuk membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan Perseroan yang pelaksanaannya mengacu Anggaran Dasar Perseroan

dikaitkan dengan UUPT bahwa RUPS untuk mengubah Anggaran Dasar dapat dilangsungkan jika dalam rapat paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari jumlah nseluruh saham dengan hak