TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERALIHAN KEPEMILIKAN SAHAM SECARA DIAM-DIAM (STUDI PADA PUTUSAN NOMOR 1130/K/PDT/2010)
TESIS Oleh
LESTARI SEMBIRING MELIALA 107011100/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERALIHAN KEPEMILIKAN SAHAM SECARA DIAM-DIAM (STUDI PADA PUTUSAN NOMOR 1130/K/PDT/2010)
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
LESTARI SEMBIRING MELIALA 107011100/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
Judul Tesis : TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERALIHAN KEPEMILIKAN SAHAM SECARA DIAM-DIAM
(STUDI PADA PUTUSAN NOMOR
1130/K/PDT/2010)
Nama Mahasiswa : LESTARI SEMBIRING MELIALA Nomor Pokok : 107011100
Program Studi : Kenotariatan
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH)
Pembimbing Pembimbing
(Prof. Dr. Sunarmi, SH, MHum) (Dr.T.Keizerina Devi A,SH,CN,MHum)
Ketua Program Studi, Dekan,
(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)
Tanggal lulus : 25 Agustus 2014
Telah diuji pada
Tanggal : 25 Agustus 2014
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH Anggota : 1. Prof. Dr. Sunarmi, SH, MHum
2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : LESTARI SEMBIRING MELIALA
Nim : 107011100
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
Judul Tesis : TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERALIHAN
KEPEMILIKAN SAHAM SECARA DIAM-DIAM
(STUDI PADA PUTUSAN NOMOR 1130/K/PDT/2010)
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan,
Yang membuat Pernyataan
Nama : LESTARI SEMBIRING MELIALA Nim : 107011100
ABSTRAK
Indonesia merupakan Negara yang berdasarkan hukum. Sebagai sebuah Negara hukum, Indonesia menjunjung tinggi supermasi hukum yang terefleksi dalam penegakan hukum (enforcement of law) dan keadilan berdasarkan Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945. Pemberlakuan peraturan di Indonesia dilakukan dengan cara pembentukan oleh Legislatif dan Eksekutif kemudian disahkan oleh kepada Eksekutif, serta berdasarkan aturan peralihan. Tidak hanya terbatas pada hal tersebut, dalam sebuah Perseroan Terbatas dapat terjadi peralihan saham secara diam-diam dimana bentuk peristiwanya adalah terdapat seorang debitur mendapati sahamnya telah dijual tanpa oleh kreditur tanpa sepengetahuan sidebitur . Oleh karena itu, peneliti memandang perlu melakukan penelitian lebih lanjut mengenai peralihan kepemilikan saham pada sebuah Perseoran Terbatas. Adapun permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: pertama, bagaimanakah pengalihan hak atas saham pada Perseroan Terbatas. Kedua, bagaimanakah akibat hukum saham yang dialihkan secara diam-diam pada Perseoran Terbatas. Ketiga, bagaimanakah putusan pengadilan pada kasus putusan No.
1130/K/Pdt/ 2010.
Untuk mengkaji hal-hal tersebut diatas, dilakukan penelitian yang bersifat Deskriptif Analisis. Metode pendekatan penelitian adalah pendekatan Yuridis Normatif. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.
Dari hasil penelitian, maka dapat disimpulkan, pertama, pengalihan hak atas saham dilakukan melalui akta pengalihan hak. Hal tersebut diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Kedua, pengalihan secara diam-diam pada saham ini akan memberikan dampak adanya kepemilikan atas saham yang mana perorangan atau badan hukum lainya memiliki hak dan tanggung jawab atas saham yang telah dimilikinya. Ketiga, apabila Direksi di dalam menjalankan kewenangannya harusnya tidak melanggar prinsip kepercayaan sesuai standar pelanggaran dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya untuk mengurus perseroan, maka Direksi dapat memanfaatkan dari Hukum Korporasi di Amerika Serikat. Konsep ini mencegah pengadilan-pengadilan di Amerika Serikat untuk mempertanyakan pengambilan keputusan usaha oleh Direksi, yang diambil dengan itikad baik untuk pembelaan dirinya bila ia dipertanggungjawabkan dalam pengelolaan perseroan.
Kata Kunci: Pengalihan Hak Atas Saham, Peralihan Saham Secara Diam-Diam, Putusan No. 1130 K/Pdt/2010.
ii ABSTRACT
Indonesia is a State based on law. As a rule of law, uphold the supremacy of Indonesian law, as reflected in law enforcement (enforcement of law) and justice based on the Law of the Republic of Indonesia Year 1945. Enforcement of regulations in Indonesia is carried out by means of the establishment by the Legislature and the Executive and approved by the Executive , and based on the transition rules. Not only limited to this, especially in a Limited Liability Company that is open to a shift of shares in secret where the event is there a form of shareholder shares have been divided by the managing director to his family in the process of transition which occurs if shares buying and selling to his family. Therefore, researchers saw the need to do further research on the transfer of ownership of shares in a Perseoran Limited.
The issues raised in this study are: first, how the transfer of shares in limited liability companies. Second, how is the legal effect of shares transferred secretly to Perseoran Limited. Third, how is the decision of the court in the case of decision No.1130/K/Pdt/2010.
To examine the above matters, conducted research that is descriptive analysis.
Method research approach is normative juridical approach. This study uses secondary data consisting of primary legal materials, legal materials and secondary legal materials tertiary.
From the research, it can be concluded, first, the transfer of shares is done through a deed of transfer of rights. It is stipulated in Article 56 of Law No. 40 of 2007 on Limited Liability Company. Second, the transfer of tacit on this stock will have an impact over the ownership of shares in which an individual or other legal entity has the right and responsibility for its shares. Third, if the Board of Directors in carrying out its authority should not violate the principle of breach of trust by default in carrying out the duties and responsibilities for the care of the company, the Board of Directors may take advantage of the Law of Corporations in the United States. This concept prevents the courts in the United States to question the business decision-making by the Board of Directors, which is taken in good faith for the defense of himself when he was accounted for in the management of the company.
Keywords : Transfer of Rights Shares, Shares Transition Secretly, Decision No.
1130/K/Pdt/2010.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menciptakan dan menguasai langit dan bumi ini dengan sempurna, dan kepada-Nya jugalah hamba menyerahkan diri, serta atas Rahmat dan Karunia yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini dengan judul “Tinjauan Yuridis Terhadap Peralihan Kepemilikan Saham Secara Diam-Diam (Studi Pada Putusan No.
1130/K/Pdt/2010)”
Pembuatan Tesis ini adalah sebagai suatu persyaratan untuk kelak memperoleh gelar Sarjana Magister Kenotariatan (MKn) pada Program Magister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.Dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati, Penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc, (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin Lubis, S.H, M.S, CN, selaku Ketua Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
iv
4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H, CN, M.Hum, selaku Sekretaris Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus pembimbing yang telah memberi masukan kepada penulis;
5. Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, M.H, selaku komisi pembimbing utama yang selalu memberi perhatian, motivasi dan arahan kepada penulis;
6. Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan, perhatian, motivasi serta masukan serta kritik yang membangun kepada penulis;
7. Bapak-bapak dan Ibu-ibu staf pengajar serta para karyawan di Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
8. Kepada yang terhormat dan terkasih Bapak Milala Sembiring Meliala dan Ibunda Terkasih Tuty Ribindes Br Bangun beserta Bapak dan Ibu Mertua saya Mulia Perangin Angin dan Tuty Adriany Sembiring sebagai orang tua terbaik yang selalu tulus, sabar dan tabah dalam segala hal dari dulu, sekarang, esok dan seterusnya menjadi bagian dalam hidup penulis;
9. Kepada Suami tercinta Albert Bastanta Perangin-Angin terimakasih yang tulus buat doa, semangat serta motivasi yang tiada hentinya kepada Penulis untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
10. Kepada adik-adik saya Jorenta Sembiring Meliala , Madaraga Sembiring Meliala, dan Menaysa Mehulika Sembiring Meliala dan juga kepada kakak dan abang adik
ipar saya Selvia Natalia Perangin Angin, Hans Joy Tarigan , Josephin Tamaulina Perangin Angin terima kasih untuk doa dan dorongan semangatnya untuk menyelesaikan studi saya.
11. Teman-teman mahasiswa Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara angkatan 2010. Terimakasih untuk teman-teman terbaik, Leo Benny Sitinjak, juga untuk Teman-Teman ku di kelas A, kelas B, dan kelas C angkatan 2010, terimakasih atas kekompakannya selama ini, dan yang selalu memotivasi serta memberikan semangat dalam menyelesaikan Tesis ini.
12. Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan perhatiannya sehingga Penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan Tesis ini.
Penulis menyadari Tesis ini masih jauh dari sempurna, namun diharapkan semoga Tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Medan, Agustus 2014 Penulis,
Lestari Sembiring Meliala
vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Lestari Sembiring Meliala
2. Tempat, Tanggal Lahir : Kabanjahe, 02 April 1988
3. Pekerjaan : Wiraswasta
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Status : Menikah
6. Agama : Kristen
7. Alamat : Jl.Iskandar Muda No.101, Medan.
II. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Tahun 1994/2000 : SD Swasta Methodist-1 Kabanjahe 2. Tahun 2000/2003 : SMP Swasta Methodist-1 Kabanjahe 3. Tahun 2003//2006 : SMA Negeri 4 Medan
4. Tahun 2006/2010 : Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara
5. Tahun 2010 : Terdaftar sebagai Mahasiswi Pada Program Pascasarjana (S2) Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan sampai dengan saat ini.
III. KELUARGA
1. Nama Ayah : Milala Sembiring Meliala 2. Nama Ibu : Tuty Ribindes Br Bangun 3. Nama Adik : Jorenta Sembirng Meliala 4. Nama Adik : Madaraga Sembiring Meliala
5. Nama Adik : Menaysa Mehulika Sembiring Meliala 6. Nama Suami : Albert Bastanta Perangin Angin
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR ISTILAH ... ix
DAFTAR SINGKATAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 9
E. Keaslian Penulisan ... 9
F. Kerangka Teoritis dan Konsepsi ... 11
1. Kerangka Teori ... 11
2. Landasan Konsepsi ... 16
G. Jenis dan Sifat Penelitian ... 17
1. Sumber Bahan Hukum ... 19
2. Metode Pengumpulan Data... 20
3. Metode Analisis Data... 20
BAB II PENGALIHAN HAK ATAS SAHAM PADA PERSEROAN TERBATAS ... 22
A. Dasar Hukum Peralihan Saham Pada Perseroan Terbatas ... 22
B. Bentuk Peralihan Secara Diam-Diam Pada Perseroan ... 27
C. Bentuk Peralihan Kepemilikan Saham Pada Perseroan Terbatas ... ... 29
viii
BAB III AKIBAT HUKUM PERALIHAN SAHAM SECARA
DIAM-DIAM PADA PERSEROAN TERBATAS ... 36
A. Akibat Hukum Peralihan Saham Secara Diam-Diam Pada Perseroan Terbatas ... 36
1. Bentuk Peralihan Secara Diam-Diam Dalam Perseroan Terbatas ... 36
2. Mekanisme Peralihan Secara Diam-Diam Dalam Perseroan Terbatas ... 47
B. Penyebab Terjadinya Peralihan Saham secara Diam-Diam Pada Perseroan Terbatas ... 76
C. Akibat Hukum Dilakukanya Peralihan Saham Secara Diam- Diam Pada Perseroan Terbatas ... 79
D. Akibat Hukum Peralihan Saham PT Secara Diam-Diam Pada Putusan Nomor 1130/K/Pdt/2010 ... 86
BAB IV PUTUSAN PENGADILAN PADA KASUS NO. 1130/K/Pdt/2010 ... 92
A. Kasus Posisi ... 92
B. Pertimbangan Hukum dan Putusan Hakim No.1130/K/Pdt/2010 ... 98
C. Analisis Kasus No. 1130/K/Perdata 2010 ... 103
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 116
A. Kesimpulan ... 116
B. Saran ... 119 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR ISTILAH
A Creature of Low : Mahluk Hukum
Enforcement of Law : Penegakan Hukum
Bearer Stock : Saham Atas Unjuk
Capital gain : Keuntungan Yang Diperoleh Dari
Selisih Jual Dengan Harga Belinya Common Stocks/Ordinary Shares : Saham Biasa
Droit de Suite) : Hak Mengikuti Bendanya
Dividen : Keuntungan Perusahaan Yang
Dibagikan Kepada Pemilik Saham.
Eigenaar : Orang Yang Berhak Atas Saham
Houder/Bezitten/Eigendom : Pemegang Saham
Jura In Re Aliena : Hak Yang Terbatas Atas Benda
Legal Responsibility : Tanggung Jawab Hukum
Library Research : Pengumpulan Data Kepustakaan
Onsplitsbaarheid : Hak Tak Dapat Dipisah-Pisahkan
Overeenkomst Theorie : Teori Perjanjian
Responsibility Theory : Teori Tentang Tanggung Jawab
Registered Stock : Saham Atas Nama
Tender Offer : Penawaran Tender
Preference Shares : Saham Yang Memiliki
Keistimewaan
Preference : Saham Utama
Rate of Return : Tingkat Keuntungan Saham
x
DAFTAR SINGKATAN
KUHPdt : Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
KUHD : Kitab Undang-Undang Hukum Dagang
PT : Perseoran Terbatas
RUPS : Rapat Umum Pemegang Saham
UU : Undang Undang
UUPT : Undang Undang Perseroan Terbatas
DPS : Daftar Pemegang Saham
AD PT : Anggaran Dasar Perseroan Terbatas PD PT : Perubahan Data Perseroan Terbatas
PTSP BKPM : Pelayanan Terpadu Satu Pintu Badan Koordinasi Penanaman Modal
MENKUMHAM : Menteri Hukum dan Ham
RI : Republik Indonesia
UUPM : Undang Undang Pasar Modal
BAPEPAM-LK : Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
KUD : Koperasi Unit Desa
PN : Pengadilan Negeri
PTJ : Pengadilan Tinggi Jakarta
ABSTRAK
Indonesia merupakan Negara yang berdasarkan hukum. Sebagai sebuah Negara hukum, Indonesia menjunjung tinggi supermasi hukum yang terefleksi dalam penegakan hukum (enforcement of law) dan keadilan berdasarkan Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945. Pemberlakuan peraturan di Indonesia dilakukan dengan cara pembentukan oleh Legislatif dan Eksekutif kemudian disahkan oleh kepada Eksekutif, serta berdasarkan aturan peralihan. Tidak hanya terbatas pada hal tersebut, dalam sebuah Perseroan Terbatas dapat terjadi peralihan saham secara diam-diam dimana bentuk peristiwanya adalah terdapat seorang debitur mendapati sahamnya telah dijual tanpa oleh kreditur tanpa sepengetahuan sidebitur . Oleh karena itu, peneliti memandang perlu melakukan penelitian lebih lanjut mengenai peralihan kepemilikan saham pada sebuah Perseoran Terbatas. Adapun permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: pertama, bagaimanakah pengalihan hak atas saham pada Perseroan Terbatas. Kedua, bagaimanakah akibat hukum saham yang dialihkan secara diam-diam pada Perseoran Terbatas. Ketiga, bagaimanakah putusan pengadilan pada kasus putusan No.
1130/K/Pdt/ 2010.
Untuk mengkaji hal-hal tersebut diatas, dilakukan penelitian yang bersifat Deskriptif Analisis. Metode pendekatan penelitian adalah pendekatan Yuridis Normatif. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.
Dari hasil penelitian, maka dapat disimpulkan, pertama, pengalihan hak atas saham dilakukan melalui akta pengalihan hak. Hal tersebut diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Kedua, pengalihan secara diam-diam pada saham ini akan memberikan dampak adanya kepemilikan atas saham yang mana perorangan atau badan hukum lainya memiliki hak dan tanggung jawab atas saham yang telah dimilikinya. Ketiga, apabila Direksi di dalam menjalankan kewenangannya harusnya tidak melanggar prinsip kepercayaan sesuai standar pelanggaran dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya untuk mengurus perseroan, maka Direksi dapat memanfaatkan dari Hukum Korporasi di Amerika Serikat. Konsep ini mencegah pengadilan-pengadilan di Amerika Serikat untuk mempertanyakan pengambilan keputusan usaha oleh Direksi, yang diambil dengan itikad baik untuk pembelaan dirinya bila ia dipertanggungjawabkan dalam pengelolaan perseroan.
Kata Kunci: Pengalihan Hak Atas Saham, Peralihan Saham Secara Diam-Diam, Putusan No. 1130 K/Pdt/2010.
ii ABSTRACT
Indonesia is a State based on law. As a rule of law, uphold the supremacy of Indonesian law, as reflected in law enforcement (enforcement of law) and justice based on the Law of the Republic of Indonesia Year 1945. Enforcement of regulations in Indonesia is carried out by means of the establishment by the Legislature and the Executive and approved by the Executive , and based on the transition rules. Not only limited to this, especially in a Limited Liability Company that is open to a shift of shares in secret where the event is there a form of shareholder shares have been divided by the managing director to his family in the process of transition which occurs if shares buying and selling to his family. Therefore, researchers saw the need to do further research on the transfer of ownership of shares in a Perseoran Limited.
The issues raised in this study are: first, how the transfer of shares in limited liability companies. Second, how is the legal effect of shares transferred secretly to Perseoran Limited. Third, how is the decision of the court in the case of decision No.1130/K/Pdt/2010.
To examine the above matters, conducted research that is descriptive analysis.
Method research approach is normative juridical approach. This study uses secondary data consisting of primary legal materials, legal materials and secondary legal materials tertiary.
From the research, it can be concluded, first, the transfer of shares is done through a deed of transfer of rights. It is stipulated in Article 56 of Law No. 40 of 2007 on Limited Liability Company. Second, the transfer of tacit on this stock will have an impact over the ownership of shares in which an individual or other legal entity has the right and responsibility for its shares. Third, if the Board of Directors in carrying out its authority should not violate the principle of breach of trust by default in carrying out the duties and responsibilities for the care of the company, the Board of Directors may take advantage of the Law of Corporations in the United States. This concept prevents the courts in the United States to question the business decision-making by the Board of Directors, which is taken in good faith for the defense of himself when he was accounted for in the management of the company.
Keywords : Transfer of Rights Shares, Shares Transition Secretly, Decision No.
1130/K/Pdt/2010.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang berdasarkan hukum.1 Sebagai sebuah negara hukum, Indonesia menjunjung tinggi supermasi hukum yang terefleksi dalam penegakan hukum (enforcement of law) dan keadilan berdasarkan Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945.2 Pemberlakuan peraturan di Indonesia dilakukan dengan cara pembentukan oleh legislatif dan eksekutif kemudian disahkan oleh kepada eksekutif3serta berdasarkan aturan peralihan.4
Pemberlakuan peraturan berdasarkan aturan peralihan membawa kepada pemberlakuan hukum kolonial pada masa penjajahan ke dalam masa merdeka ini.
Peraturan tersebut antara lain Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdta) dan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD).5 KUHD yang cenderung memakai istilah hukum dagang sudah banyak ditinggalkan oleh para pakar (Sarjana). Hal ini
1 Lihat pada pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”.
2 Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata Dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2008), hal.2.
3Lihat pasal 20 Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.
4Aturan peralihan pra amandemen UUD 1945 menyatakan, Pasal III; segala Badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum di adakan yang baru menurut Undang- Undang Dasar ini. Aturan peralihan pasca amandemen UUD 1945 menyatakan, pasal I aturan peralihan segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama sebelum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.Aturan peralihan baik pra maupun pasca amandemen menunjukkan adanya upaya untuk menjaga agar tidak terjadi kerukunan hukum dan Lihat Titik Triwulan Tutik.Op.cit, hal.4.
5Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) merupakan aturan khusus (Lex Specialis) dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt) yang lahir dari hukum perikatan yang terdapat
disebabkan karena pengaturan mengenai pedagang dan perdagangan sendiri telah dicabut sejak tanggal 17 Juli 1938 dengan staatblad 1938 No. 276, dengan mengubah isi pasal 2-56 yang sekarang kita jumpai dengan istilah pengusaha dan perusahaan.
Oleh karena itu, para sarjana banyak yang cenderung kepada penggunaan istilah hukum perusahaan.7
Hukum perusahaan adalah bentuk aturan-aturan yang diciptakan untuk menjalankan kegiatan perusahaan. Perusahaan8walaupun dikenal dalam KUHD, akan tetapi pengertian mengenai perusahaan tidak disebutkan didalamnya. Hal ini mengakibatkan munculnya penafsiran mengenai pengertian perusahaan.9 Di Indonesia pengertian perusahaan yang semula tidak ditemukan dalam KUHD dapat dilihat pada pasal (1) huruf B Undang-Undang No. 3 tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan sebagai berikut :
“Perusahaan yang bersifat tetap dan terus menerus didirikan bekerja serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia dengan tujuan memperoleh keuntungan/laba”.
6 H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Pengetahuan Dasar Hukum Dagang, (Jakarta: Dambatan, 2003), hal. 15.
7 Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis: Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 30-31.
8 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 7 bahwa menurut Molengraaff, perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak keluar untuk memperoleh penghasilan, dengan cara memperdagangkan atau menyerahkan barang atau mengadakan perjanjian perdagangan dan Chidir Ali, Badan Hukum, (Bandung: Alumni, 1987), hal. 79 bahwa menurut Polak suatu usaha dapat dimasukkan dalam pengertian perusahaan harus mengadakan pembukuan, yaitu perhitungan mengenai laba dan rugi.
9Mulhadi, Hukum Perusahaan: Bentuk-bentuk Badan Usaha di Indonesia, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), hal. 8-10.
Perusahaan sebagai salah satu produksi perekonomian dapat dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu :
1. Perusahaan bukan badan hukum 2. Perusahaan badan hukum
a. Perusahaan bukan badan hukum terdiri dari:10 (i) Perusahaan dagang
(ii) Persekutuan perdata (iii)Persekutuan firma (iv)Persekutuan komanditer
b. Perusahaan badan hukum terdiri dari : (i) Perseoran terbatas
(ii) Yayasan (iii) Koperasi
Dari keseluruhan bentuk perusahaan, Perseoran Terbatas (PT) merupakan yang paling banyak diminati oleh investor lokal maupun investor asing.11 Banyaknya peminat terhadap perseoran terbatas membawa kepada pengaturannya yang juga terus berkembang agar sesuai dengan perkembangan ekonomi dan dunia usaha yang semakin pesat baik secara nasional maupun internasional.12
10Mulhadi, Op. cit, hal. 32-68
11Hadijan Rusli, Perseoran Terbatas dan Aspek Hukumnya, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996) hal. xi dan Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseoran Terbatas (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002) hal. 14
12 Pengaturan PT pada awalnya terdapat pada pasal 36-56 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan Maskapai Andil Indonesia Stb 1939 : 569 jo 717 kemudian dicabut dengan
PT sebagai badan hukum13 atau dahulu dikenal dengan Naamloze Vennootschaap (NV) memiliki ciri-ciri sebagai berikut14:
a. Adanya harta kekayaan yang terpisah b. Mempunyai tujuan tertentu
c. Mempunyai kepentingan sendiri d. Ada organisasi yang teratur
Keempat ciri-ciri diatas menunjukkan keleluasaan yang menjadi penyebab ketertarikan para investor terhadap PT. Diantara ke empat ciri PT, adanya harta kekayaan yang terpisah menjadi bagian yang paling menarik. Adanya harta kekayaan yang terpisah mengandung maksud bahwa PT. memiliki harta yang terpisah dari para pemegang saham.
Pemegang saham adalah pemilik perusahaan. Pemegang saham adalah mereka yang ikut serta didalam perseoran dengan menyetor sejumlah uang tertentu ke dalam
diundangkannya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 maka Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tidak berlaku lagi.
13Penyebutan PT sebagai badan hukum pada KUHD tidaklah jelas adanya. Pada pasal 36 ayat 1 KUHD dinyatakan PT tidak mempunyai suatu firma dan tidak memakai nama salah seorang atau lebih pada Perseoranya. Namun diambil nyalah nama perseoran itu dari tujuan perusahaannya semata- mata.Penyebutan PT sebagai badan hukum jelas terlihat pada UU No. 1 dan 95 pasal 1 angka 1 dan pada pasal 1 angka 1 UU No. tahun 2007. Pasal 1 angka 1 UU No. 1 tahun 1995, Perseoran Terbatas adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Pasal 1 angka 1 UU No. 40 Tahun 2007, Perseoran Terbatas yang selanjutnya disebut Perseoran adalah badan hukum yang merupakan persekutuan Modal, didirikan berdasarkan perjanjian melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang- Undang ini serta peraturan pelaksanaannya.
14 Ridwan Syahrani, dalam Freddy Haris dan Teddy Anggoro, Hukum Perseoran Terbatas:
kewajiban pemberitahuan oleh Direksi (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010) hal. 14-15.
PT.15 Saham merupakan bagian terpenting dari suatu PT, hal itu disebabkan karena saham merupakan modal perseoran yang paling utama pada saat PT tersebut didirikan. Saham pada dasarnya digunakan untuk beberapa hal, yaitu :16
a. Dalam rangka pendirian perusahaan b. Pemenuhan modal dasar
c. Peningkatan modal dasar
Berdasarkan cara pengalihannya saham dibagi atas :17
1. Saham atas unjuk (bearer stock), adalah pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lain.
Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah yang diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
2. Saham atas nama (registered stock), adalah saham dengan nama pemilik yang ditulis secara jelas dan cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.
Dalam kepemilikan saham memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap penentuan kebijakan yang akan diambil dalam sebuah PT.18 Disamping itu kepemilikan terhadap saham memiliki manfaat sebagai berikut:19
15Pasal 32 ayat 1 UU No. 40 Tahun 2007 menyatakan modal dasar perseoran paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (Lima puluh juta rupiah) dan pasal 33 ayat 1 UU No. 40 Tahun 2007 menyatakan paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 ditempatkan dan disetor penuh.
16M. Irsan Nasarudin, Aspek Hukum Pasar Modal, (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 188.
17 Tjipttono Darmadji, Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab, (Jakarta:
Salemba Empat, 2006), hal. 8.
18Sri Redjeki Hartono, Kapita Selekta Hukum Perusahaan, (Bandung: Mandar Maju, 2000),
a. Dividen merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemilik saham.
b. Capital gain merupakan keuntungan yang diperoleh dari selisih jual dengan harga belinya.
c. Manfaat non-finansial adalah timbulnya kebanggaan dan kekuasaan memperoleh hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan.
Terjadinya peralihan saham berarti adanya peralihan atas semua hak dan kewajiban yang dimiliki pemegang saham yang sebelumnya kepada pemegang saham yang baru. Menurut Rusdin berdasarkan cara peralihannya, saham dibagi menjadi 2, yaitu :20
1. Saham atas unjuk (Bearer Stock), ialah saham yang tidak ditulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lain.
2. Saham atas nama (Registered Stock), ialah saham yang ditulis dengan jelas siapa pemiliknya, dimana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu; dengan dokumen peralihan dan kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku perusahaan khusus memuat daftar nama pemegang saham. Apabila terjadi kehilangan, pemegang saham tersebut dengan mudah mendapat penggantinya.
19Repository.usu.id/bitstream/123456789/30102/3/ChapterII.Pdf, diakses 1 Oktober 2012.
20 Respository.upi.edu/operator/upload/t_nmb_0708032_chapter2.pdf, diakses 3 Oktober 2012.
Dalam proses peralihan21 saham dapat terjadi dan dimulai berdasarkan keputusan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) atau sejak semula sudah ditentukan dalam anggaran dasarnya. Peralihan kepemilikan saham harus memenuhi prosedur yang mengacu pada itikad baik teruama mengacu pada prinsip Good Corporate Governence.
Peralihan saham yang dilakukan dalam sebuah PT adalah melalui jual beli.
Namun terdapat perbedaan antara PT tertutup dengan PT terbuka.PT tertutup dalam melakukan jual beli saham dilakukan dengan melakukan penetapan dalam anggaran dasar dan ditentukan dengan kebijakan para pemegang saham. Hal ini berbeda dengan PT terbuka dimana melakukan penjualan saham melalui pasar modal yang artinya penawaran saham ditujukan kepada publik. Dalam proses penjualan saham pada pasar modal PT yang bersifat terbuka melakukan tindakan berupa penawaran tender (Tender Offer). Penawaran tender ini dilakukan melalui media massa untuk memperoleh Efek Bersifat Ekuitas dengan cara pembelian atau pertukaran dengan
21Pasal 55 UU No. 40 tahun 2007, menyatakan dalam anggaran dasar perseoran ditentukan cara pemindahan hak atas saham sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 56 UU No. 40 Tahun 2007 :
1. Pemindahan hak atas saham dilakukan dengan akta pemindahan hak
2. Akta pemindahan hak sebagimana dimaksud pada ayat 1 atau salinannya disampaikan secara tertulis kepada perseoran.
3. Direksi wajib mencatat pemindahan hak atas saham, tanggal dan hari pemindahan hak tersebut dalam daftar pemegang saham atau daftar khusus sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat 1 dan ayat 2 dan memberitahukan perubahan susunan pemegang saham kepada menteri untuk dicatat dalam daftar perseoran paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pencatatan pemindahan hak.
4. Dalam hal pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat 3 belum dilakukan, menteri menolak permohonan persetujuan atau pemberitahuan yang dilaksanakan berdasarkan susunan dan nama pemegang saham yang belum diberitahukan tersebut.
5. Ketentuan mengenai tata cara pemindahan hak atas saham yang diperdagangkan dipasar modal
Efek lainnya. Dalam penawaran tender tidak serta merta selalu terjadi dengan tahapan yang bersih akan tetapi sering pula terjadi penyimpangan dalam proses penawaran tender untuk memperoleh untung yang besar.22
Tidak hanya terbatas pada hal tersebut, dalam sebuah PT terutama yang bersifat terbuka dapat terjadi peralihan saham secara diam-diam dimana bentuk peristiwanya adalah terdapat seorang pemegang saham mendapati sahamnya telah dibagi-bagi oleh direktur utama kepada keluarganya yang mana dalam proses peralihan saham seakan terjadi jual beli kepada keluarganya.
Oleh karena itu, peneliti memandang perlu suatu penelitian lebih lanjut mengenai peralihan kepemilikan saham pada sebuah perseoran terbatas, maka dilakukan penelitian dengan judul : “Tinjauan Yuridis Terhadap Peralihan Kepemilikan Saham Secara Diam-Diam (Studi Pada Putusan No.
1130/K/Pdt/2010)”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah, sebagai berikut :
1. Bagaimana pengalihan hak atas saham pada Perseroan Terbatas?
2. Bagaimana akibat hukum saham yang dialihkan secara diam-diam pada Perseoran Terbatas?
3. Bagaimana putusan pengadilan pada kasus Putusan Nomor 1130/K/Pdt/2010?
22, www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi.../Go%20Private.pdf, (diakses tanggal 13 Desember 2012).
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengalihan hak atas saham pada perseroan terbatas.
2. Untuk mengetahui akibat hukum saham yang dialihkan secara diam-diam pada perseoran terbatas.
3. Untuk mengetahui putusan pengadilan pada kasus Putusan Nomor 1130/K/Pdt/2010.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapakn dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis, yaitu :
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan atau data informasi pengembangan ilmu pengetahuan tentang peralihan kepemilikan saham pada perseroan terbatas.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai kerangka acuan dalam proses peralihan kepemilikan saham pada perseroan terbatas.
E. Keaslian Penulisan
Berdasarkan pemeriksaan dan penelusuran yang telah dilakukan oleh peneliti di perpustakaan Universitas Sumatera Utara khususnya di Magister Kenotariatan, diketahui bahwa penelitian tentang “Tinjauan Yuridis Terhadap Peralihan
1130/K/Pdt/2010)”, belum pernah dilakukan dalam pendekatan dan perumusan masalah yang sama, walaupun ada beberapa topik mirip, namun jelas berbeda dengan penelitian ini.
Ada ditemukan beberapa, penelitian sebelumnya tentang perseroan terbatas, namun topik permasalahan dan bidang kajiannya berbeda dengan penelitian ini, penelitian tersebut antara lain :
1. Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Dalam Tindak Pidana Korupsi, Oleh Edi Yunara/NIM 982105007,
2. Peranan Risk Management (Manajemen Risiko) Dalam Tugas dan Tanggung Jawab Direksi Perseoran Terbatas ditinjau dari UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan UU No. Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT), oleh Andy/NIM. 107005059,
3. Analisis Juridis Business Judgement Rule sebagai Wujud Perlindungan Terhadap Direksi Suatu Perseoran Terbatas (PT), oleh Christian Orchard/NIM. 047011009, 4. Wewenang dan Tanggung Jawab Direksi dalam Prinsip Corporate Opportunity,
yang ditinjau dari Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseoran Terbatas (PT), oleh Maria N. Sihombing/NIM. 097011062,
5. Tinjauan Yuridis mengenai Perbuatan Pemberian Kuasa dari Direksi kepada Komisaris dalam Hal Meminjam Kredit pada PT. Bank Mestika Dharma, oleh Henny Suryani/NIM. 097011038,
6. Analisis Yuridis terhadap Kedudukan Direksi Badan Usaha Milik Negara dalam rangka Penerapan Prinsip Good Corporate Governance dalam Pengelolaan Perusahaan, oleh Syophia Nely/NIM. 067011092.
F. Kerangka Teoritis dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian.
Artinya, teori hukum harus dijadikan dasar dalam memberikan preskripsi atau penilaian apa yang seharusnya memuat hukum. Teori hukum tidak hanya sebatas dapat digunakan untuk menjelaskan fakta atau peristiwa hukum yang terjadi melainkan teori hukum juga dapat digunakan sebagai pisau analisis pembahasan tentang peristiwa atau fakta hukum yang diajukan dalam masalah penelitian.23
Saham merupakan salah satu surat berharga yang paling popular selain obligasi dan reksadana di dalam pasar modal. Didalam sebuah saham sangat melekat hak kebendaan.
Hak kebendaan yang terdapat dalam saham terdiri atas:24 a. “Hak atas saham dapat dialihkan atau dipindahkan”
Hal ini dapat dilihat dalam pasal 55 hingga pasal 59 UU No. 40 Tahun 2007, yang mengatur bahwa hak yang melekat pada saham tersebut dapat dialihkan kepada setiap orang atau pihak, selama dan sepanjang dilakukan menurut ketentuan dan tata cara yang ditetapkan dalam UU No. 40 Tahun 2007.
23Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 46
24Megarita, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Saham yang digadaikan, (Medan: USU
b. Saham bersifat individualiteit
Sifat ini mengandung maksud bahwa yang dapat dimiliki sebagai kebendaan adalah segala sesuatu yang menurut hukum dapat ditentukan terpisah.Dalam UU No. 40 Tahun 2007 ditentukan, setiap lembar saham dengan nilai nominal terkecil mempunyai dan memberikan hak yang tidak terbagi kepada pemiliknya.Sehingga setiap pemegang atau pemilik dari pecahan nilai nominal saham tidak mempunyai hak suara perseorangan, kecuali jika pemegang atau pemilik pecahan nilai nominal saham kemudian bergabung bersama-sama dengan pemegang pecahan nilai nominal saham lainnya yang sejenis hingga memiliki nilai nominal sebesar satu nominal saham dari kualifikasi tersebut.Dalam hal tersebut, terhadap mereka diberikan hak sebagai pemegang satu lembar saham. Dengan demikian, tampak bahwa setiap lembar saham dengan nilai nominal terkecil yang diakui perseroan terbatas dalam anggaran dasarnya adalah suatu benda tersendiri yang memberikan hak kebendaan yang utuh pada saham tersebut sesuai dengan ketentuan yang mengaturnya, yaitu baik yang diatur secara umum dalam KUH Perdata, secara khusus dalam UU No. 40 Tahun 2007 dan UU No. 8 Tahun 1995.
c. Hak atas saham bersifat menyeluruh
Saham memberikan hak kepemilikan yang utuh bagi setiap pemiliknya.Kepemilikan atas setiap lembar saham dengan nilai nominal terkecil yang diakui dalam anggaran dasar perseroan adalah kepemilikan menyeluruh dari seluruh hak yang melekat pada saham tersebut dan dapat melaksanakan hak-hak yang diberikan oleh UU No. 40 Tahun 2007 kepada setiap pemiliknya. Dalam hal seseorang bermaksud untuk mengakibatkan beralihnya seluruh ha katas saham tersebut, termasuk dividen yang mungkin diterima dikemudian hari dan risiko kerugian yang dapat terjadi pada harta kekayaan perseroan yang merupakan modal bersama dari para pemegang saham tersebut.
d. Hak atas saham tak dapat dipisah-pisahkan (onsplitsbaarheid)
Makna tidak dapat dipisah-pisahkan menunjuk pada suatu keadaan, misalnya seorang pemilik kebendaan tertentu tidak dimungkinkan melepaskan hanya sebagian hak miliknya atas suatu kebendaan yang utuh.Meskipun seorang pemilik diberikan kewenangan untuk membebani hak miliknya dengan hak kebendan lainnya yang bersifat terbatas tidak mungkin dapat diberikan untuk sebagian dari benda, melainkan harus untuk seluruh benda tersebut sebagai satu kesatuan.Dalam UU No. 40 Tahun 2007, hal tidak dapat dipisah-pisahkannya ha katas saham tampak dalam rumusan pasal 52 ayat 4.Setiap pemegang suatu saham dengan nilai nominal terkecil yang diakui dalam anggaran dasar perseroan merupakan satu- satunya yang berhak untuk bersuara dalam rapat umum pemegang saham perseroan, dalam hal karena suatu sebab, ha katas saham tersebut dikuasai atau dimiliki oleh lebih dari seorang.Dari rumusan pasal 52 ayat 4 UU No. 40 Tahun 2007 jelas bahwa ha katas saham tidak mungkin dapat dipecah-pecah pelaksanaannya.
e. Hak atas saham mengikuti bendanya (droit de suite)
Hak kebendaan yang mengikuti bendanya, merupakan ciri utama atau paling pokok dari hak kebendaan.Dengan hak kebendaan yang mengikuti bendanya ini, seorang pemegang hak kebendaan dilindungi.Ke tangan siapapun kebendaan yang dimiliki dengan hak kebendaan tersebut beralih atau dikuasai, pemilik dengan hak kebendaan tersebut berhak untuk menuntutnya kembali dengan atau tanpa disertai dengan ganti rugi.Ketentuan tentang hal ini dapat dilihat dalam pasal 60 UU No.
40 Tahun 2007 yang menentukan bahwa meskipun saham tersebut telah digadaikan namun hak suara atas saham tetap ada pada pemilik saham tersebut.
f. Hak atas saham dapat memberikan Jura In Re Aliena (yang terbatas)
Jura in aliena berasal dari bahasa latin, yaitu suatu hak kebendaan yang terbatas yang dimiliki oleh seorang atau suatu badan hukum tertentu diatas suatu benda dengan hak kebendaan yang lebih luas atau lebih tinggi tingkatannya. Dalam hal ini dapat terjadi bahwa diatas suatu benda terdapat hak kebendaan yang terbatas.Contohnya, hak jaminan kebendaan dalam bentuk gadai adalah suatu pemberian hak kebendaan yang terbatas atas benda bergerak tentu yang digadaikan, sedangkan terhadap benda yang digadaikan tersebut terdapat hak kebendaan dalam bentuk hak milik pada pemilik kebendaan tersebut.Hak milik tersebut memberikan kepada pemiliknya hak untuk menjaminkan benda tersebut dalam bentuk gadai.Jadi, atas suatu kebendaan mungkin diletakkan lebih dari satu jenis hak kebendaan, hak kebendaan yang keberadaannya melekat pada keberadaan atau eksistensi dari hak kebendaan yang lebih luas atau lebih tinggi tingkatannya tersebut dinamakan Jura in re aliena.Hak kebendaan ini juga masih dapat melahirkan atau menciptakan, menjelama lebih lanjut menjadi benda, yang selanjutnya dapat lagi diberik hak kebendaan terbatas”.
Dalam penguasaan saham yang merupakan benda bergerak atau untuk memperoleh benda dan hak kebendaan yang melekat pada benda yang diperoleh tersebut dapat terjadi :25
1. Akibat perbuatan hukum, dimana dalam hal pendakuan dan penyerahan berdasarkan suatu peristiwa perdata untuk pemindahan hak milik yang dilakukan oleh orang yang berhak untuk berbuat bebas terhadap barang itu.
2. Akibat peristiwa hukum sebagai akibat perlekatan, karena daluarsa, karena pewarisan, baik menurut undang-undang maupun menurut surat wasiat dan dengan penunjukan.
Dalam mengkaji kepemilikan terhadap saham dapat digunakan 3 teori, yaitu:26 1. Teori perjanjian (overeenkomst theorie)
2. Teori tentang tanggung jawab (responsibility theory) 3. Teori ligitimasi yaitu teori hukum surat-surat berharga
Teori perjanjian (overeenkomst theorie) mengatakan; yang menjadi dasar hukum mengikatnya adalah suatu perjanjian, yang merupakan perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya dengan satu orang atau lebih sesuai dengan pengertian dari Pasal 1313 KUH Perdata tentang perjanjian.27
Perjanjian mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan perundang- undangan, artinya perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan mengikat mereka sebagai Undang-undang apabila perjanjian yang dibuat memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian dalam Pasal 1320 KUHPerdata dan Pasal 1338 KUHPerdata, sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”, Ayat (2) : “perjanjian-perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh Undang-
26“http://ww.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-254-8905289-bab%2oi.pdf”,diakses 10 Oktober 2012.
27http://hukumadmissible.wordpress.com/tag/perjanjian/, (diakses tanggal 11 Oktober 2012).
undang dinyatakan cukup untuk itu”, Ayat (3) “perjanjian-perjanjian itu harus dilaksanakan dengan itikad baik”.28
Makna yang terkandung dari Pasal 1338 Ayat (1) dari kalimat “semua perjanjian yang dibuat secara sah” menunjukkan asas kebebasan berkontrak, pada kalimat “bagi mereka yang membuatnya” menunjukkan asas personalitas.
Prinsip pacta sunt servanda, para pelaku harus melaksanakan kesepakatan- kesepakatan yang telah disepakatinya dan dituangkan dalam kontrak.
Teori tanggung jawab (responsibility theory), berdasarkan teori ini, tanggung jawab dilihat dari hubungan hukum para pihak di dalam perjanjian, dimana dalam setiap hubungan hukum antara para pihak diawali dengan suatu perikatan atau perjanjian pembebanan jaminan atas saham apabila debitur wanprestasi, debitur dianggap wanprestasi apabila dia tidak melakukan apa yang disanggupi untuk dilaksanakan sebagai kewajibannya untuk memenuhi prestasinya.
Melaksanakan apa yang dijanjikan tetapi tidak sebagaimana dijanjikan, melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat, atau melakukan sesuatu yang menurut kontrak atau perjanjian tidak boleh dilakukan. Akibat dari wanprestasi itu biasanya dapat dikenakan sanksi berupa ganti rugi, pembatalan kontrak, peralihan resiko, maupun membayar biaya perkara.29
28http://ideapahlevi.blogspot.com/2012/10/perserikatan-perdata-beserta-analisa.html, (diakses tanggal 15 Oktober 2012).
29 http://asro.wordpress.com/2011/09/26/kontrak-3-asas-hukum-kontrak/, (diakses tanggal 15
Dalam hubungan para pihak akan menimbulkan hak dan kewajiban masing- masing pihak dan juga timbul tanggung jawab masing-masing. Pada umumnya setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.Dengan demikian bertanggung jawab dalam pengertian hukum, berarti adanya keterikatan, ini berarti tanggung jawab hukum (legal responsibility) dimaksudkan sebagai keterikatan terhadap ketentuan-ketentuan hukum, dalam hal ini keterikatan saham Perseroan Terbatas yang dibebankan jaminan gadai.
Teori legitimasi (teori hukum surat-surat berharga) menyebutkan, seseorang yang secara nyata memegang sepucuk saham atas tunjuk atau saham blanko dengan itikad baik, maka ia dilegitimasi oleh hukum bahwa ia adalah orang yang berhak atas saham tersebut. Berdasarkan teori legitimasi, maka dengan legitimasi ia dinyatakan sebagai “eigenaar” dari saham dimana sebelumnya ia hanyalah “houder”. Houder menurut Nindyo Pramono diterjemahkan sebagai pemegang saham, serta menurut Algra dan Gokkel dikenal tiga istilah yang erat kaitannya dengan persoalan pemilikan atau penguasaan suatu benda, yaitu Houder, Bezitten, dan Eigendom. Houder artinya sebagai pemegang benda secara nyata, apabila memegang benda secara nyata dengan maksud untuk memiliki, maka ia dikatakan sebagai bezitten (menguasai).
2. Landasan Konsepsi
Penggunaan konsep dalam suatu penelitian adalah untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap kerangka konsep yang dipergunakan penulis dalam merumuskan konsep dengan menggunakan model defenisi operasional. Adapun defenisi operasional yang digunakan, yaitu :
1. Peralihan, yaitu : pergantian, perlintasan (dari keadaan yang satu pada keadaan yang lain), pertukaran, perubahan bentuk atau raut luar.30 Penggunaan pengertian yang tepat adalah peralihan merupakan pergantian dari kesadaran yang satu pada keadaan yang lain.
2. Kepemilikan adalah pemelikan yang mencakup pada pengelolaan31
3. Saham adalah kertas berharga yang merupakan tanda bahwa pemiliknya ikut penyertaan modal suatu perusahaan.32
4. Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan Modal, didirikan berdasarkan perjanjian melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham
G. Jenis Dan Sifat Penelitian
Penelitian merupakan salah satu cara yang tepat untuk memecahkan masalah, selain itu penelitian juga dapat digunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran. Dilaksanakan untuk mengumpulkan data guna memperoleh pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban atas pokok-pokok permasalahan yang dirumuskan, sehingga diperlukan rencana yang sistematis, metodelogi merupakan suatu logika yang menjadi dasar suatu penelitian ilmiah. Oleh karenanya pada saat melakukan penelitian seseorang harus memerhatikan ilmu pengetahuan yang menjadi
30Departemen Pendidikan Nasional.Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), hal. 40.
31Ibid, hal. 915
32Gatot Supramono, Hukum Perseroan Terbatas yang baru, (Jakarta: Djambatan, 1996), hal.
induknya.33 Pada penelitian hukum ini, saya menjadi bidang ilmu hukum sebagai landasan ilmu Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseoran Terbatas dan putusan Mahkamah Agung No. 1130 K/Pdt/2010.
Penelitian normatif merupakan prosedur penelitian untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Penelitian normatif selalu mengambil isu dari hukum sebagai sistem norma yang digunakan untuk memberikan justifikasi presfektif tentang suatu peristiwa hukum. Penelitian ini dilakukan dengan maksud memberikan argumentasi hukum, sebagai dasar penentu apakah suatu peristiwa sudah benar salah serta bagaimana sebaiknya peristiwa itu menurut hukum.34
Sifat penelitian ini adalah deskriptif normatif, merupakan metode yang di pakai untuk menggambarkan suatu kondisi atau keadaan yang sedang berlangsung yang tujuan nya agar dapat memberikan data mengenai objek penelitian sehingga mampu menggali hal-hal yang bersifat ideal, kemudian dianalisis berdasarkan teori hukum atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.35dalam tesis ini metode deskriptif noematif digunakan untuk memberi gambaran atau suatu fenomena yang berhubungan dengan peralihan kepemilikan saham pada perseroan terbatas yang ditinjau berdasarkan undang-undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.
33Soemitro Ronny Hanintijo, Metodologi Penelitian Hukum dan Juru Materi, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2006), hal. 9
34Soemitro Ronny Hanintijo, Op.cit, hal. 146
35 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia pada Abad ke-20 (Bandung : Alumni, 1994), hal. 78
1. Sumber Bahan Hukum
Penelitian hukum normatif yang menitik beratkan pada studi kepustakaan dan berdasarkan pada sekunder, maka bahan hukum yang di gunakan dapat di bagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu:
1. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-perundangan yang relevan dengan permasalahan dan tujuan penelitian, antara lain:
a. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas b. Undang-Undang No 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.
2. Bahan hukum sekunder, merupakan bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat dalam kumpulan pustaka yang bersifat sebagai penunjang dari bahan hukum primer, yang terdiri dari:
a. Buku-buku b. Jurnal-jurnal c. Majalah-majalah d. Artikel-artikel
e. Dan berbagai tulisan lainnya
3. Bahan hukum Tertier yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti;
a. Kamus Hukum
b. Berbagai masalah hukum yang berkaitan dengan saham
2. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data mempunyai hubungan erat dengan sumber data, karena dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diharapkan. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan (library research).36 Melalui pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan, literatur- literatur, tulisan-tulisan pakar hukum, dokumen resmi, publikasi dan hasil penelitian yang berkaitan dengan penulisan ini.
3. Metode Analisis Data
Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam kategori-kategori dan satuan uraian dasar, sehingga ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja, seperti yang disaran oleh data.37 Analisis data yang akan dilakukan secara kualitatif,38 Kegiatan ini diharapkan akan dapat memudahkan penulis dalam menganalisis permasalahan yang akan dibahas, menafsirkan dan kemudian menarik kesimpulan. Analisis kualitatif dilakukan terhadap paradigma
36Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal.
112-113. Studi Kepustakaan dapat membantu peneliti dalam berbagai keperluan, misalnya : a) Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian dan yang sejenis dan berkaitan dengan permasalahan yang digunakan; c) sebagai sumber data skzjunder; d) Mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitiannya; e) mendapatkan indormasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat digunakan; f) Memperkaya ide-ide baru; dan g) Mengetahui siapa saja peneliti lain di bidang yang sama dan iaa pemakai hasil penelitian tersebut.
37 Analisis data menurut patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan stauan urafen oasar. Analisa berbeda dengan penafsiran yang memberikan arti yang sign ifikan terhadap hasil analisis menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan diantara dimensi uraian., dalam : Lexy J. Moleono, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 280
38Ibid, hal. 281
hubungan dinamis antara teori, konsep-konsep dan data yang merupakan modifikasi yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada yang dikumpulkan. Hal ini dilakukan sehubungan data yang dianalisis beraneka ragam, memiliki sifat dasar yang berbeda satu dengan lainnya.
BAB II
PENGALIHAN HAK ATAS SAHAM PADA PERSEROAN TERBATAS
A. Dasar Hukum Peralihan Saham Pada Perseroan Terbatas
Pengaturan umum mengenai Perseroan Terbatas diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Menurut Pasal 1 angka 1 UUPT, Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang, serta peraturan pelaksanaannya. Dari ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa saham merupakan bukti penyetoran modal kepada Perseroan. Menurut Pasal 7 ayat (2) UUPT, Bagian atas saham tersebut wajib diambil oleh para pendiri pada saat Perseroan tersebut didirikan. Para pendiri yang telah mengambil bagian sahamnya disebut sebagai pemegang saham.1
Pasal 55 Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 menyatakan bahwa “Dalam Anggaran Dasar Perseroan ditentukan juga cara pemindahan hak atas saham sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.
Pemindahan hak saham dilakukan dengan Akta Pemindahan Hak Atas Saham pasal 56 ayat (1) Akta Pemindahan Hak Atas Saham tersebut dapat di buat dalam bentuk akta dibawah tangan atau akta otentik (Akta Notaris).
Akta pemindahan hak atau salinannya disampaikan secara tertulis kepada Perseroan,
(Pasal 56 ayat 2). Direksi wajib mencatat pemindahan hak atas saham, tanggal, dan hari pemindahan hak tersebut dalam daftar pemegang saham atau daftar khusus. (pasal 56 ayat 3). Jika perubahan kepemilikan saham tersebut tidak dicatat dalam Daftar Pemegang Saham maka pemilik/pemegang hak yang baru (pembeli), belum mmepunyai hak-hak sebgaiamana dimaksud dalam Pasal 52 ayat 1 (Pasal 52 ayat 2), yaitu:
a. Hak untuk menghadiri dan mengelurkan suara dalam RUPS, b. Menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi, c. Menjalankan hak lainysa berdasarkan Undang-Undang Perusahan
Adanya akibat hukum sebagai mana dimaksud dalam pasal 52 ayat 2 UUPT tersebut tentunya harus sangat diperhatikan oleh Para Notaris dalam kaitan pembuatan akta-akta PT khususnya menyangkut pembuatan akta Jual Beli Saham.
Dalam Anggaran Dasar dapat diatur persyaratan mengenai pemindahan hak atas saham, yaitu :
a. Keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham klasifikasi tertentu atau pemegang saham lainnya;
b. Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Organ Perseroan; dan atau
c. Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
Pasal 57 ayat 1, disebutkan bahwa persyaratan tersebut tidak berlaku dalam hal pemindahan hak atas saham disebabkan peralihan hak karena hukum, kecuali keharusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berkenaan dengan pewarisan.
Pasal 57 ayat 2, disebutkan bahwa dalam hal anggaran dasar mengharuskan pemegang saham penjual menawarkan terlebih dahulu sahamnya kepada pemegang saham klasifikasi tertentu atau pemegang saham lainnya, dan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal penawaran dilakukan ternyata pemegang saham tersebut tidak membeli, pemegang saham penjual dapat menawarkan dan menjual sahamnya kepada pihak ketiga.
Pasal 58, disebutkan bahwa untuk melakukan pemindahan hak atas saham harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam UUPT maupun Anggaran Dasar Perseroan Terbatas, untuk melakukan pemindahan hak atas saham diperlukannya persetujuan dari Organ Perseroan, misalnya Persetujuan RUPS atau Persetujuan Dewan Komisaris, jika memang Anggaran Dasar Perseroan Terbatas menetapkan harus adanya persetujuan tersebut. Sehingga apabila Anggaran Dasar Perseroan Terbatas tidak menentukan diperlukannya persetujuan dari Organ Perseroan maka persetujuan tersebut tidak diperlukan.Hal tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 57 ayat 1 UUPT. Jika Anggaran Dasar Perseroan Terbatas mensyaratkan untuk pemindahan hak atas saham tersebut harus memperoleh persetujuan dari Organ Perseroan maka pemberian persetujuan pemindahan hak atas saham tersebut atau penolakannya harus diberikan secara tertulis dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal Organ Perseroan
menerima permintaan persetujuan pemindahan hak tersebut. (pasal 59 ayat 1) Jika jangka waktu tersebut telah lewat dan Organ Perseroan tidak memberikan pernyataan tertulis, Organ Perseroan dianggap menyetujui pemindahan hak atas saham tersebut.
(pasal 59 ayat 2) dalam pemindahan hak atas saham tersebut disetujui oleh Organ Perseroan, pemindahan hak harus dilakukan dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan diberikan.
Pasal 59 ayat 3, disebutkan bahwa Direksi wajib memberitahukan perubahan susunan pemegang saham kepada Menteri untuk dicatat dalam Daftar Perseroan.
Kapan Pemberitahuan Tersebut Harus Dilakukan, Pasal 56 ayat 3 UUPT memnetukan bahwa pemberitahuan tersebut wajib dilakukan oleh Direksi Perseroan paling lambat 30 (tiga puluh ) hari terhitung sejak tanggal pencatatan pemindahan hak atas saham tersebut dalam DPS.
Sehubungan dengan ketentuan tersebut maka pemberitahuan tersebut wajib dilakukan oleh Direksi Perseroan kepada Menteri paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak dicatat dalam DPS bukan sejak tanggal diadakannya RUPS untuk menyetujui pemindahan hak atas saham tersebut atau juga bukan sejak dibuatnya akta pemindahan hak. kapan direksi harus mencatat adanya pemindahan hak atas saham tersebut dalam dps UUPT tidak menentukan kapan Direksi wajib mencatat adanya pemindahan hak atas saham tersebut dalam DPS. Tidak adanya tenggang waktu yang mewajibkan Direksi untuk mencatat perihal pemindahan hak atas saham tersebut dalam DPS dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan hukum tersendiri.
Pasal 15 ayat 3 Per. Menkumham RI No M.HH-01.AH.01.01 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar dan Perubahan Data Perseroan Terbatas (PD PT), menentukan bahwa Dokumen Pendukung untuk pemberitahuan perubahan data dikarenakan adanya perubahan pemegang saham karena penglihan saham adalah:
1.Tembusan akta perubahan susunan pemegang saham yang meliputi nama dan jumlah saham yang dimilikinya dilengkapi dengan akta pemindahan hak atas saham yang diketahui oleh notaris sesuai dengan aslinya; dan
2. Ringkasan akta perubahan nama pemegang saham karena pengalihan saham.
(sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri tersebut … Lihat dibagian akhir tulisan ini).
Sebagaimana diuraikan di atas, untuk melakukan pemindahan hak atas saham diperlukan adanya persetujuan RUPS apabila AD PT yang bersangkutan mensyaratkan hal tersebut. Jika AD PT tidak mensyaratkan hal tersebut maka tentunya tidak perlu diadakan RUPS dan karenanya tidak ada akta Risalah RUPS.
Namun dengan adanya ketentuan Pasal 15 ayat 3 Peraturan Menkumham RI yang mensyaratkan adanya salah satu Dokumen Pendukung untuk penyampaian perubahan data karena pemindahan hak berupa “ Tembusan akta perubahan susunan pemegang saham yang meliputi nama dan jumlah saham yang dimilikinya dilengkapi”
disamping “, akta pemindahan hak atas saham yang diketahui oleh Notaris sesuai dengan aslinya”, mau tidak mau di dalam praktek sebelum dilakukannya pembuatan akta jual beli saham maka terlebih dahulu diadakan RUPS dan dibuatlah Risalah
RUPS yang didalamnya berisikan persetujuan penjualan saham sekaligus menyebutkan nama-nama para pemegang saham dan jumlah saham yang dimiliki.
Apabila kita berpegang pada ketentuan pasal 56 ayat 3 UUPT yang menentukan jangka waktu penyampaian pemberitahuan pemindahan hak atas saham kepada Menteri dihitung dari dicatatnya pemindahan hak tersebut oleh Direksi Perseroan dalam DPS maka seharusnya DPS merupakan salah satu dokumen pendukung yang wajib ada dan disampaikan untuk keperluan perubahan data dan juga menjadi dasar untuk melakukan input data dalam sistem SABH. Jika pemberitahuan kepada Menteri tersebut belum dilakukan, Menteri menolak permohonan persetujuan atau pemberitahuan yang dilaksanakan berdasarkan susunan dan nama pemegang saham yang belum diberitahukan tersebut, (pasal 56 ayat 4).39
B. Bentuk Peralihan Secara Diam-Diam Pada Perseroan Terbatas
Peralihan saham secara diam-diam adalah merupakan pemindahan/peralihan hak atas kepemilikan saham, tanpa persetujuan RUPS, atau Komisaris, atau keduanya. Maka bentuk peralihan secara diam-diam mengandung makna yaitu telah berubahnya status kepemilikan sebuah saham tanpa sepengetahuan/izin dari pemilik yang sah, ini biasanya dapat dilakukan seorang direksi.
Pengalihan saham biasanya memang diatur dalam anggaran dasar PT bahwa setiap pengalihan saham harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan RUPS, atau
39http://alwesius.blogspot.com/2011/10/pemindahan-hak-atas-saham-menurut-uu-no.html, (diakses tanggal 20 Juni 2014).
Komisaris, atau keduanya. Akan tetapi perlu juga diketahui bahwa kata biasanya disini menunjukkan bahwa hukum mengenai perihal ini tidak mewajibkan demikian.
Dibiarkan untuk diatur sendiri oleh para pendiri atau pemegang saham PT yang bersangkutan (ps.50 (2) Undang-Undang No.1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas atau UUPT"). Ketentuan tersebut juga diatur dalam anggaran dasar PT.
Dengan demikian, dapat dilihat apakah transaksi jual beli tersebut telah seluruhnya memenuhi ketentuan anggaran dasar PT dan hukum yang berlaku khususnya mengenai perjanjian jual beli (lihat ps.1457 KUH Perdata). Selain itu perlu dicatat bahwa PT mempunyai kepentingannya sendiri terlepas daripada kepentingan masing- masing pemegang sahamnya (lihat ps.2 UUPT). Kepentingan tersebut dituangkan dalam ketentuan maksud dan tujuan PT dalam anggaran dasar. Jadi setiap tindakan orang dalam ataupun orang luar PT yang tidak selaras dengan kepentingan PT menjadi tanggung jawab dari masing-masing pihak tersebut, dan bila manusia saja menjadi tanggung jawab pribadi. Setiap pemegang saham dapat menyalurkan kepentingannya masing-masing melalui RUPS, sebagai organ tertinggi dalam PT mempunyai kekuasaan yang tidak terbagi (ps.63 (1) UUPT). Mengingat pemegang saham akan memiliki hak suara sebanding dengan banyaknya modal (saham) yang ditanamkan, maka jumlah pemegang saham minoritas (yang bukan mayoritas), pada prinsipnya, harus mendapat perlindungan yang sewajarnya.40
40 http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl933/pengalihan-saham-diam-diam, (diakses tanggal 25 juni 2014)
Pasal 56 Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 juga menyatakan bahwa:
Ayat 1, Pemindahan hak atas saham atas nama dilakukan dengan akta pemindahan hak.
Ayat 2, Akta pemindahan hak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atau salinanya disampaikan secara tertulis kepada perseroan.
Ayat 3, Direksi wajib mencatat pemindahan hak atas saham atas nama, tanggal dan hari pemindahan hak tersebut dalam Daftar Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) dan ayat (2) dan memberitahukan perubahan susunan pemegang saham kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perseroan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pencatatan pemindahan hak.
Ayat 4, Dalam hal pemberitahuan sebagaimana dimksud dalam ayat (3) belum dilakukan, Menteri menolak permohonan persetujuan atau pemberitahuan yang dilaksanakan berdasarkan susunan dan nama pemegang saham yang belum diberitahukan tersebut.
Ayat 5, Ketentuan mengenai tata cara pemindahan hak atas saham yang diperdagangkan di pasar modal diatur dalam peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal.
C. Bentuk Peralihan Kepemilikan Saham Pada Perseroan Terbatas
Saham merupakan salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah Perseroan Terbatas. Saham merupakan tanda penyertaan modal dalam suatu