• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PUTUSAN PENGADILAN PADA KASUS NO

A. Kasus Posisi

Saham merupakan bukti penyertaan modal seseorang dalam sebuah perusahaan, yang bunyi dari Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yaitu Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasaran perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaanya.

Setiap saham haruslah memiliki nilai nominal ini berlaku mutlak karna UUPT melarang suatu perusahaan untuk menerbitkan saham tanpa nilai nominal. Namun demikian, tidak ada ketentuan berapa nilai nominal untuk masing-masing saham tersebut. Jadi untuk suatu saham dapat mempunyai nilai nominal misalnya Rp.

1000.000.- atau Rp. 500.000-, dan sebagainya. Kecuali untuk perusahaan terbuka dimana nilai nominal sahamnya sudah ditentukan oleh peraturan dibidang pasar modal dan harus seragam untuk semua perusahaan.99

Batas minimal modal yang ditentukan dalam pendirian perseroan terbatas adalah Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Namun apabila sebuah perseroan terbatas hendak melakukan penawaran umum dipasar modsl maka persyaratanya

99 Munir Fuady, Pasar Modal Modren (Tinjauan Hukum), (Citra Aditiya Bakti: Bandung, 1996), hal. 83.

adalah sahamnya harus dimiliki sekurang-kurangnya 300 pemegang saham dan juga harus memiliki modal setor sekurang-kurangnya Rp. 3000.000.000,- (tiga milyar rupiah). Jadi apabila perseroan tertutup akan menambah modalnya melalui pasar modal maka harus memenuhi persyaratan tersebut jika tidak maka perusahaan tersebut tidak dapat melakukan penawaran umum adapun yang mengatur pengurangan saham anatra lain:

1. Saham perseroan dikeluarkan atas nama pemiliknya, perseroan hanya diperkenankan mengeliarkan saham atas nama pemiliknya dan perseroan tidak boleh mengeluarkan saham atas tunjuk.

2. Persyaratan kepemilikan saham dapat ditetapkan dalam anggaran dasar dengan memperhatikan persyaratan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Dalam hal persyaratan kepemilikan saham sebagaimana dimaksud pada huruf b, telah ditetapkan dan tidak dipenuhi pihak yang memperoleh kepemilikan saham tersebut tidak dapat menjalankan hak selaku pemegang sham dan saham tersebut tidak dapat menjalankan hak selaku pemegang saham dan saham tersebut tidak diperhitungkan dalam korum yang harus dicapai sesuai dengan ketentuan UUPT dan anggaran dasar.

Mengenai nilai nominal saham dalam Pasal 49 UUPT dinyatakan bahwa:

a) Nilai saham harus dicantumkan dalam mata uang rupiah b) Saham tanpa nilai nominal tidak dapat dikeluarkan

c) Ketentuan sebagaimana dimakksud pada ayat (2) tidak menutup kemungkinan diaturnya pengeluaran saham tanpa nilai nominal dalam peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal.100

Tergugat 2 dan tergugat 4 telah secara sukarela dan dengan tanpa paksaan dari pihak manapun menyerahkan saham-saham tanpa dapat ditarik kembali untuk digadaikan sebagai jaminan atas fasilitas pinjaman yang telah diterima tergugat 4 dari tergugat 1. Bahwa Penggugat dalam gugatan pada intinya mendalilan bahwa pada tanggal 15 Pebruari 2002 setelah timbul keadaan kegagalan pembayaran kembali telah terjadi jual beli saham antara tergugat 1 sebagi penerima kuasa dari Penggugat maka segala akibat dan tanggung jawab hukum tidak melekat pada tergugat 1 dengan tergugat 3 sebagimana Akta Jual Beli Nomor 22 tanggal 15 Pebruari 2002 dan Akta Berita Acara Rapat Pelaksanaan Eksekusi Gadai Saham Nomor 23 tanggal 15 Pebruari 2002 yang dibuat dihadapan turut tergugat dalam teransaksi jual beli saham dimaksud kapasitas tergugat 1 adalah hanya sebagai Penerima Kuasa dari Penggugat dengan demikian penggugat seharusnya yang dipilih Penggugat untuk digugat dan bukan tergugat 1hal mana sesuai dengan prinsip pemberian perjanjian kuasa yang diatur dalam ketentuan Pasal 1792 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “Pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan” dengan adanya jual beli saham tersebut Penggugat yang dulunya telah

100Nindyo Pramono, Hukum Bisnis Aktual (Bunga Rampai), (Citra Aditya Bakti: Bandung, 2006), hal. 139.

sukarela menggadaikan kini merasa dirugikan. Mengingat Penggugat merasa bahwa sebagai pemilik 74,2% saham dari Tergugat 2 tidak mengetahui adanya jual beli saham tersebut, dengan keadaan ini maka seharusnya Tergugat 2 dijadikan Tergugat dalam perkara perdata yang terpisah terlbih dahulu oleh Penggugat dalam konteks hubungan hukum pemegang saham dan Perseroan Terbatas sebelum Penggugat dapat memiliki hubungan hukum langsung dengan tergugat 1 karena tergugat 2 dan Penggugat merupakan pihak yang telah secara sukarela dan tanpa paksaan dari pihak manapun setuju dan sepakat menggadaikan saham-saham kepada Penggugat sebagi jaminan dari pinjaman tergugat 4. Majelis hakim yang terhormat dengan ini telah terbukti dengan jelas bahwa dalam perkara tergugat 2 yang seharusnya wajib untuk digugat terlebih dahulu oleh Penggugat dan dibuktikan terlebih dahulu kesalahan-kesalahan hukumnya bukan malah Penggugat yang kini secara gegabah mengajukan gugatan langsung kepada tergugat 1 sebagi penerima kuasa dari Penggugat yang secara jelas telah bertindak dalam koridor hukumnya. Dalam hal ini Penggugat seharusnya menggunakan hukum yang diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas mengenai kepemilikan saham dalam suatu Perseroan Terbatas yang telah menggantikan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 sejak 16 Agustus 2007 kususnya dalam Pasal 52 ayat (1) jo Pasal 51 yang menyatakan bahwa “Saham merupakan benda bergerak dan memberikan hak-hak menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS, menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi, menjalankan hak lainnya berdasarkan Undang-Undang ini, dan di Pasal 51 UUPT

dimilikinya” sedangkan didalam Pasal 61 dan Pasl 97 ayat (6) UUPT setiap pemegang saham yang telah mempunyai syarat-syarat tertentu dapat mengajukan suatu gugatan terhadap Perseroan atau:

1. “Setiap pemegang saham dalam hal ini Penggugat berhak mengajukan gugatan terhadap Perseroan atau Tergugat 2 ke Pengadilan Negeri apabila dirugikan karena tindakan Perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan wajar sebagi akibat keputusan RUPS Direksi dan/atau Dewan Komisaris”.

2. Gugatan sebagaiman dimaksut pada ayat 1 tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan.

Dalam Pasal 97 ayat (6)) UUPT yang menyatakan bahwa “Atas nama Perseroan pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaianya menimbulkan kerugian pada Perseroan”. Pokok gugatan yang diajukan Penggugat sama dengan perkara yang telah diperiksa oleh Pengadilan dalam hal ini terdapat perkara dengan pokok perkara yang sama yang teregister dibawah Nomor 1411/Pdt.G/2007/PN Jak.

Sel. tertanggal 24 September 2007 yang sekarang sudah putus pada tingkat di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta sebagimana Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta sebagaimana Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor 382/Pdt/2008/PT. DKI tertanggal 03 Desember dengan Penggugat yang juga mengaku sebagai pemegang saham dari Tergugat 3 dengan Tergugat salah satunya adalah Tergugat 1 dan Tergugat 2 yang dalam pokok gugatannya, Penggugat dalam perkara ini telah

sama-sama berdasarkan sebagai pemilik saham tergugat 2 dan tergugat 1 sebesar 10 % total saham yang dikeluarkan dan telah disetor penuh oleh tergugat 2 dan tergugat 1.

Penggugat kemudian mendalilkan dengan kepemilikan saham di tergugat 2 dan tergugat 1, yang mana tergugat 2 dan tergugat 1 adalah pemilik saham 99. 9%, tergugat 4 dan tergugat 2 adalah memiliki saham masing-masing sebesar 40% di PT.

Tergugat 3 dan Tergugat 4 sehingga penggugat berkepentingan atas dijaminkanya saham penggugat di tergugat 2 dan tergugat 1 untuk tergugat 4.

Bahwa penggugat adalah sebagai penjamin hutang Tergugat 4 pada Tergugat 1 sesuai dengan perjanjian gadai saham milik Penggugat. Dalam perjanjian tersebut penggugat memberi kewenangan penuh pada tergugat 1 untuk menjual saham Penggugat jika tergugat 4 wanperestasi. Sesui dengan perjanjian walaupun tergugat 4 telah diberi tenggang waktu, tergugat 4 tetap tidak memenuhi kewajibanya/wanprestasi tergugat 1 telah mensomasi Tergugat 4 dengan tembusan kepada penggugat dalam Pasal 5 a share Pledge Agreement diperjanjikan bahwa Penggugat setuju saham-saham miliknya dijual secara tertutup kalau tergugat 4 wanprestasi. Penjualan saham-saham Penggugat telah dilaksanakan dihadapan Notaris yang turut Tergugat. Penjualan saham-saham tersebut dilakukan setelah keluar penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memberi ijin tergugat 1 menjual saham-saham penggugat. Bahwa permohonan ijin menjual saham-saham Penggugat oleh Tergugat 1 dengan itikad baik karena dalam somasi kepada tergugat 4 telah ditembuskan kepada Penggugat dan karena itu Penggugat telah mengetahui

Jakarta Selatan tentang ijin penjualan saham ada empat penetapan oleh Pengadilan Tinggi adalah keliru karena Pengadilan Tinggi tidak berwenang membatalkan penetapan Pengadilan Negeri dan yang berwenang adalah Mahkamah Agung. Bahwa adanya surat Mahkamah Agung tanggal 03 Maret 2006 Nomor 01/Tuada.Pdt/III/2006 yang hanya bersifat pengawasan, tidak membatalkan penjualan saham-saham Penggugat untuk melunasi hutang Tergugat 4 kepada Tergugat 1. Menimbang bahwa berdasarkan perimbangan diatas, lagi pula ternyata bahwa putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan Undang-Undang maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi Penggugat tersebut harus ditolak.

Menimbang bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ditolak, demikianlah diputuskan bahwa oleh karena permohonan kasasi dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini. Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi. Tersebut demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari kamis tanggal 23 September 2010.

B. Pertimbangan Hukum dalam Putusan Hakim Nomor 1130/K/Perdata 2010 Dalam anggaran dasar dapat diatur Persyaratan-persyarata pemindahan hak atas saham, yang bunyi dari Pasal 57 angka (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas yaitu:

a. Keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham dengan klasifikasi tertentu atau pemegang saham lainya.

b. Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Organ Perseroan.

c. Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.101

Sedangkan Pasal 58 angka (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas yaitu:

“Dalam Anggaran Dasar mengharuskan pemegang sham penjual menawarkan terlebih dahulu sahamnya kepada pemegang saham lain, dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) terhiyung sejak tanggal penawaran dilakukan ternyata pemegang saham tersebut tidak membeli, pemegang saham penjual dapat menawarkan dan menjual sahamnya kepada pihak ketiga”.

Karena setiap perubahan anggaran dasar dalam perseroan berperan penting untuk siapa yang memberikan suara yang seperti tertera didalam Pasal 52 angka Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas yaitu:

1. Saham memberikan hak kepada pemiliknya:

a. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS

b. Menerima pembayaran deviden dan sisa kekayaan hasil likuidasi c. Menjalankan hak lainya berdasarkanUndang-Undang ini

2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku setelah saham dicatat dalam daftar pemegang saham atas nama pemiliknya.

3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan huruf c tidak berlaku bagi klasifikasi saham tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang ini.

4. Setiap saham memberikan kepada pemiliknya hak yamg tidak dapat dibagi.

5. Dalam hal 1 (satu) saham dimiliki oleh lebih dari 1 (satu) orang maka hak yang timbul dari saham tersebut digunakan dengan cara menunjuk 1 (satu) orang sebagai wakil bersama.

Dalam putusan terhadap peralihan saham secara diam-diam studi kasus nomor 1130 K/Pdt/2010 bahwa menimbang bahwa atas surat gugatan tersebut, tergugat 1, tergugat 2, tergugat 3, tergugat 4, dan turut tergugat telah mengajukan eksepsi menyangkut kompetensi absolut dan kopetensi relatif pada tanggal 30 Oktober 2008, menimbang bahwa atas eksepsi tergugat 1, tergugat 2, tergugat 3, tergugat 4, dan turut tergugat tersebut, majelis hakim telah menjatuhkan putusan sela tanggal 8 Januari 2009 yang amarnya berbunyi sebagai berikut:

a. Menolak eksepsi kopetensi absolut dari tergugat 1 dan eksepsi kopetensi relatif dari tergugat 1, tergugat 2, tergugat 3, tergugat 4 dan turut tergugat.

b. Menyatakan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berwenang mengadili perkara ini.

c. Memerintahkan untuk melanjutkan pemeriksaan perkara ini.

d. Menangguhkan biaya perkara hingga putusan akhir.

Bahwa pokok gugatan yang diajukan penggugat sama dengan perkara perkara yang telah diperiksa oleh Pengadilan. Dalam hal ini terdapat perkara dengan pokok perkara yang sama yang teragister dibawah No. 1411/Pdt..G/2007/PN Jakarta Selatan

tertanggal 24 September 2007 yang sekarang sudah putus pada tingkat di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No. 382/Pdt/2008/PT.DKI tertanggal 03 Desember 2008, dengan penggugat yang juga mengaku sebagai pemegang saham dari tergugat 3, dengan tergugat salah satunya adalah tergugat 1, dan tergugat 2, yang dalam pokok gugatanya penggugat dalam perkara tersebut telah sama-sama mendasarkan sebagai pemilik saham tergugat 2, turut tergugat 1, dalam perkara tersebut sebesar 10 % dari total saham yang dikeluarkan dan telah disetor penuh oleh tergugat 2, turut tergugat 1.

Yang mana tergugat 2, turut tergugat 1. Penggugat kemudian mendalilkan dengan kepemilikan saham di tergugat 2, turut tergugat 1, yang mana tergugat 2 (turut tergugat 1) adalah pemiliksaham sebesar 99.9 % tergugat 4 (turut tergugat 2), dan tergugat 4 (turut tergugat 2) adalah memiliki saham masing-masing sebesar 40 % di turut tergugat 3, dan tergugat 4 sehingga penggugat berkepentingan atas atas dijaminkanya saham penggugat di tergugat 2 (atau tergugat 1) untuk tergugat 4 (turut tergugat 2).

Mahkama Agung memutuskan Bahwa penggugat adalah sebagi penjamin hutang Tergugat 4 pada Tergugat 1 sesuai dengan perjanjian gadai saham milik Penggugat. Dalam perjanjian tersebut Penggugat memberi kewenangan penuh pada tergugat 1 untuk menjual saham Penggugat jika tergugat 4 wanperestasi. Sesui dengan perjanjian walaupun tergugat 4 telah diberi tenggang waktu, tergugat 4 tetap tidak memenuhi kewajibanya/wanprestasi tergugat 1 telah mensomasi Tergugat 4 dengan tembusan kepada penggugat dalam Pasal 5 a share Pledge Agreement

kalau tergugat 4 wanpestasi. Penjualan saham-saham Penggugat telah dilaksanakan dihadapan Notaris yang turut Tergugat. Penjualan saham-saham tersebut dilakukan setelah keluar penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memberi ijin tergugat 1 menjual saham penggugat. Bahwa permohonan ijin menjual saham-saham Penggugat oleh Tergugat 1 dengan itikad baik karena dalam somasi kepada tergugat 4 telah ditembuskan kepada Penggugat dan karena itu Penggugat telah mengetahui bahwa Tergugat 4 wanprestasi. Bahwa pembatalan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tentang ijin penjualan saham ada empat penetapan oleh Pengadilan Tinggi adalah keliru karena Pengadilan Tinggi tidak berwenang membatalkan penetapan Pengadilan Negeri dan yang berwenang adalah Mahkamah Agung. Bahwa adanya surat Mahkamah Agung tanggal 03 Maret 2006 Nomor 01/Tuada.Pdt/III/2006 yang hanya bersifat pengawasan, tidak membatalkan penjualan saham-saham Penggugat untuk melunasi hutang Tergugat 4 kepada Tergugat 1.

Menimbang bahwa berdasarkan perimbangan diatas, lagi pula ternyata bahwa putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan Undang-Undang maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi Penggugat tersebut harus ditolak. Menimbang bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ditolak, demikianlah diputuskan bahwa oleh karena permohonan kasasi dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini.

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang Nomor 48 Tahun 2009 Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang

bersangkutan. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi. Tersebut demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari kamis tanggal 23 September 2010.

C. Analisis Kasus Nomor 1130/K/Perdata 2010

Menurut Pasal 61 undang-undang perseroan terbatas nomor 40 tahun 2007 berbunyi sebagai berikut:

1. Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap perseroan ke Pengadilan Negeri apabila dirugikan karena tindakan perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan wajar sebagai akibat keputusan RUPS , Direksi dan/atau Dewan Komisaris.

2. Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepengadilan negri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan perseroan.

Dalam hal keputusan persero mrugikan pemegang saham, ada kemungkinan hal itu merugikan perseroan secara keseluruhan, tetapi ada juga yang mukin hanya merugikan kepentingan pemegang saham tertentu saja. Dalam perusahaan kelompok hal ini dimungkinkan dalam perusahaan induk sebagai pemegang saham mayoritas perusahan anak tidak dirugikan oleh keputusan perseroan, namun pemegang saham minoritas dalam perusahaan anak tersebut dirugikan. Bila terjadi demikian maka pemegang saham minoritas dalam perusahaan anak tersebut dirugikan. Bila terjadi demikian maka pemegang saham minoritas dapat menggugat perseroan atas kepentingan pribadi pemegang saham minoritas tersebut. Pemegang saham juga

berhak meminta kepada perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan perseroan yang merugikan pemegang saham atau perseroan, berupa:

a. Perubahan anggaran dasar;

b. Peralihan atau penjaminan keayaan perseroan yang mempunyai nilai lebih dari 50% (lima puluh persen) kekayaan bersih perseroan; atau

c. Penggabungan, peleburan, pengambil alihan atau pemisahan.102

Sementara praktek dan yurisprudensi pun tidak mempunyai kekuatan yang cukup kekuatan dan tidak cukup kekuatan dan tidak cukup bersemangat untuk mengembangkanya. Regulasi lewat peraturan pasar modal walaupun sudah mulai terformulasi, tensinya masih rendah dan masih kurang terfokus dan kurang rinci.

Konsekuensi logisnya, trik-trik bisnis yang merugikan investor, tanpa ada kekuatan legal yang dapat menjaringnya.

Salah asatu yang menjadi tugas hukum dimanapun adalah mengupayakan terwujutnya prinsip keadilan terhadap lalu lintas interaksi masyarakat. Bahkan ini merupakan tugasnya yang utama, disamping tugasnya yang lain seperti mencapai kepastian hukum, ketertiban, tools of social engineering dan sebagainya.

Implementasi prinsip keadilan tersebut sering muncul dalam bentuk perlindungan golongan yang lemah posisi dan atau bargaining powernya dari eksploitasi golongan kuat. Perlindungan terhadap golongan pemegang saham

102 Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 tahun 2007 (Yogyakarta:Graha Ilmu, 2008). Hal. 39-40.

minoritas merupakan salah satu kristalisasi kedalam hukum perseroan. Dari segi hierarki legal, pengaturan lewat regulasi eksekutif tersebut sudah jauh berbicara dari apa yang sepantasnya dibicarakan oleh peraturan setingkat. Apa yang namanya Keputusan atu Peraturan Menteri, Peraturan atu Keputusan Bapepam atau bahkan Peraturan/Keputusan Bursa Efek Jakarta, peringkatnya jauh dibawah suatu undang-undang. Karena itu regulasi lewat peraturan administratif tersebut tidak boleh mengatur materi kelas berat yang hanya boleh diatur oleh peraturan setingkat undang-undang.103

Pemegang saham independen adalah pemegang saham yang tidak mempunyai benturan kepentingan sehubungan dengan suatu teransaksi tertentu dan atu bukan merupakan pihak trafiliasi dari Derektur. Komisaris atau pemegang saham utama yang mempunyai benturan kepentingan atas transaksi tersebut tertentu. Ketentuan dalam pasal 82 UUPM dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Bapepam nomor IX.J.I tentang benturan kepentingan teransaksi tertentu yang merupakan Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor Kep-84/PM/1996 tanggal 24 Januari 1996, sebagi mana diubah dengan keputusan Ketua Bapepam nomor Kep-32/PM/2000 tanggal 22 Agustus 2000 (Peraturan Bapepam No. IX.E.I). Definisi transaksi yang terdapat dalam Peraturan Bapepam nomor IX.E.I adalah aktivitas atu kontrak dalam jangka memberikan dan atau mendapat pinjaman, memperoleh, melepaskan atau menggunakan aktiva, jasa atu efek suatu perusahaan atau perusahan terkendali atau mengadakan kontrak sehubungan dengan aktivitas tersebut. Seperti pengaturan go

private di Kanada yang mengatakan bahwa: ”Umumnya di Kanada suatu transaksi go private adalah suatu aksi yang dilaksanakan menurut Undang-Undang yang merupakan suatu korporasi yang disatukan, yang menyebabkan keuntungan suatu pemegang saham mengambil bagian keamanan (keamanan yang dipengaruhi) pada korporasi untuk diakhiri tanpa persetujuan pemegang saham dan tanpa penggantian karena diambil bagian keenam nilai yang dikeluarkan oleh korporasi dari suatu lembaga.

Berdasarkan angka 9 Peraturan Bapepam nomor IX.E.I. maka pengaturan pelaksanan RUPS pertama dan kedua yaitu suatu transaksi yang mengandung benturan kepeningan dapat dilakukan jika memperoleh persetujuan para pemegang saham independent dalam RUPS independent yang mewakili lebih dari 50% (lima puluh persen) saham yang dimiliki oleh pemegang saham independent dan transaksi dimaksud disetujui oleh pemegang saham independent yang mewakili lebih dari 50%

(lima puluh persen) saham yang dimiliki oleh pemegang saham independent. Dalam hal kuorum rapat tidak terpenuhi, maka rapat kedua dapat mengambil keputusan dengan syarat dihadiri oleh pemegang saham independen yang mewakili lebih dari 50% (lima puluh persen) saham yang dimiliki oleh pemegang saham independent yang hadir. Dalam hal korum untuk rapat kedua juga belum terpenuhi, rapat ketiga dapat mengambil keputusan setelah terpenuhinya persyaratan sebagaimana diatur dalam angka 10 Bapepam nomor IX.E.I. Pemberian suara dari pemegang saham independent dapat dilakukan langsung oleh pemegang saham independent atau wakil yang diberi kuasa. Sedangkan dalam angka 10 Peraturan Bapepam nomor IX.E.I.

diatur mengenai rapat ketiga hanya dapat diadakan setelah memperoleh persetujuan Bapepam. Persetujuan dimaksud didasrkan atas pertimbangan bahwa penyelenggaraan rapat sebagaimana diatur dalam angka 9 Peraturan Bapepam nomor IX.E.I. telah memenuhi persyaratan sebagi berikut:

a. Pengumuman kepada masyarakat telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam angka 11 peraturan ini; dan

b. Rapat dan prosudur pemberian kuasa telah dilaksanakan dengan memperhatikan kepentingan pemegang saham independent.

Rapat ketiga hanya dapat menyetujui transaksi tang dimaksud apabila disetujui pemegang saham independent yang memiliki lebih dari 50% (lima pulh persen) saham yang dimiliki oleh pemegang saham independent yang hadir. Apabila suatu transaksi yang tidak memperoleh persetujuan RUPS dalam rapat yang telah mencapai kuorum kehadiran sebagaimana diatur dalam angka 9 Peraturan Bapepam nomor IX.E.I. , maka rencana transaksi tersebut tidak dapat diajukan kembali dalam jangka waktu 12 bulan sejak tanggal keputusan penolakan.104

Bentuk umum lain yang dapat digunakan sebagai perlindungan terhadap pemegang saham minoritas dalam rangka buy back adalah hak dari pemegang saham untuk meminta pertanggung jawaban dari Direksi terhadap kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik yang timbul akibat pembelian kembali yang

Bentuk umum lain yang dapat digunakan sebagai perlindungan terhadap pemegang saham minoritas dalam rangka buy back adalah hak dari pemegang saham untuk meminta pertanggung jawaban dari Direksi terhadap kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik yang timbul akibat pembelian kembali yang