• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGALIHAN HAK ATAS SAHAM PADA PERSEROAN

D. Akibat Hukum Peralihan Saham PT Secara Diam-Diam Pada

Pemindahan hak atas saham akan memberikan kosekuensi berubahnya status kepemilikan atas saham tersebut. Jadi boleh saja Pemilik saham sebelumnya sama sekali tidak memiliki hak di dalam perusahaan karena sahamnya telah dijual. Apabila pemengang saham menjual secara keseluruhan sahamnya. Ada 2 konsekuensi yang terjadi apabila saham dijual berdasarkan jumlah besaran sahamnya, yaitu :

1. Saham yang dijual adalah saham mayoritas

97 http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4e6c4329df0a0/bolehkah-pemegang-saham-pt-menarik-modal-secara-diam-diam (diakses tanggal 18 April 2014).

Saham yang dijual adalah saham mayoritas akan memberi dampak adanya perubahan dalam perusahaan. Kemungkinan besar pemilik modal baru akan merubah direksi lama menjadi direksi baru. Inilah bentuk dari pemilik saham mayoritas yang memiliki kekuasaan. Adanya perubahan pengendalian suatu perusahaan merupakan suatu akibat dimana adanya suatu pengambil alihan perusahaan (akuisisi) yang dilakukan oleh pemegang saham mayoritas. Akuisisi atau pengambil alihan perusahaan diatur dalam Pasal 125 UU PT. pengambil alihan perusahaan ini dapat dilakukan melalui direksi (Pasal 125 ayat (1) UU PT atau melalui pemegang saham (Pasal 125 ayat (7) UU PT. Dampak dari akuisisi ini adalah bagi pemegang saham yang sahamnya termasuk yang diambil alih, maka tidak mempunyai saham sehingga tidak mempunyai hak suara dalam RUPS maupun hak-hak lainnya sebagai pemegang saham. Sementara itu bagi pemegang saham yang sahamnya tidak diambil alih, maka masih mempunyai sahan sehingga masih mempunyai hak suara dan hak-hak lainnya sebagai pemegang saham.

Bahwa penggugat adalah pemilik saham tergugat II sebanyak 7.420 (tujuh ribu empat ratus duapuluh) lembar saham atau dalam persentase 74,2 % (tujuh puluh empat koma dua persen) sebagaimana terbukti dari akta pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham tergugat II nomor 15 tanggal 26 Pebruari 1998 dibuat diahadapan Agus Hashim Ahmad, S.H., Notaris di Jakarta. Bahwa tanpa pemberitahuan dan/atau peringatan terlebih dahulu yang diberikan secara patut dari tergugat I dan tanpa dilandasi oleh dasar hukum yang sah, pada tanggal 15 Pebruari

diam atau dibawah tangan. Bahwa berdasarkan uraian tersebut diatas, perbuatan tergugat III membeli saham-saham penggugat dari tergugat I juga nyata-nyata perbuatan melawan hukum karena telah bertentangan dan melanggar hukum yang berlaku, khususnya Pasal 1155 dan 1156 KUHPerdata. Sepatutnya tergugat III mengetahui dan menyadari bahwa pembelian saham-saham penggugat tidak dilakukan secara diam-diam atau dibawah tangan melainkan harus melalui penjualan dimuka umum atau penjualan secara lelang karna dasar tergugat I menjual saham-saham penggugat adalah adanya ikatan gadai saham-saham. Apabila penjualan akan dilakukan secara diam-diam atau dibawah tangan maka harus ada putusan pengadilan yang telah berkeuatan hukum tetap. Perbuatan melawan hukum yang dilakukan para tergugat terhadap penggugat sebagai mana telah diuraikan diatas telah menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap penggugat. Selain kerugian karna kehilangan kepemilikan atas saham-saham penggugat, penggugat juga telah kehilangan hak-haknya sebagai pemegang saham sebagaimana diatur dalam anggaran dasar perseroan tergugat II dan ketentuan hukum perseroan yang berlaku, diantaranya hak untuk memberikan suara dalam setiap rapat umum pemegang saham. Kerugian lainya yang diderita penggugat akibat perbuatan melawan hukum yang dilakukan para tergugat adalah penggugat tidak dapat memberikan pendapat dan saran terhadap kebijakan perseroan tergugat II demi kelangsungan usaha dan kemajuan tergugat II.98

2. Saham yang dijual adalah saham minoritas

98Putusan Nomor 1130 K/Pdt/2010 Mahkama Agung, hal. 7

Pemilik modal baru sama sekali akan menjadi pemegang saham yang disisihkan karena saham yang dimilikinya adalah saham yang minoritas. Pemilik saham minoritas seringnya akan selalu terpinggirkan karena kecilnya hak suara yang dimilikinya, oleh karena itu, pemilik saham minoritas ini perlu adanya perlindungan atas hak-haknya yang sering diabaikan.

Akibat hukum dari peralihan saham ke Pihak pembeli saham adalah tidak bertanggung jawab atas saham yang telah dijualnya tersebut. Hal ini karena saham yang telah dialihkan telah merubah status kepemilikan akan saham tersebut.

Mengingat saham yang diterbitkan dalam perseroan terbatas tertutup ini adalah saham yang diberikan atas nama, maka secara otomatis saham yang telah dijual akan berganti nama pula demi kepastian hukum tentang adanya peralihan kepemilikan tersebut. Bahkan Daftar Pemegang Saham sesuai dengan saham yang telah dijual yang telah dibukukan dalam perseroan telah diganti menjadi nama pemegang saham yang baru. Peralihan hak dan tanggung jawab akan suatu benda secara umum tetap terjadi dalam peralihan saham dalam perseroan ini.

Sedangkan bagi Pihak pembeli, akibat dari peralihan saham ini adalah Pihak pembeli memiliki hak dan tanggung jawab atas saham yang telah dibelinya, baik saham mayoritas atau saham minoritas. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa keuntungan yang sangat besar apabila Pihak pembeli membeli saham mayoritas tersebut, Pihak pembeli dapat mengelola secara langsung ke mana arah perusahaan. Kepemilikan saham ini harus diingat bahwa kekayaan Pihak pembeli

Pembelian saham secara otomatis akan mengurangi modal dalam kas namun memiliki modal yang ada diluar kas, akan tetapi kekayaan yang ada diluar kas ini akan langsung secara renteng memberikan dampak kepada kekayaan Pihak pembeli ketika saham yang dimiliki Pihak pembeli dalam suatu perusahaan merugi. Ciri dari badan hukum adalah terpisahnya kekayaan harta pribadi dengan modal yang ada dalam perusahaan, oleh karena itu Pihak pembeli tidak perlu ditakutkan akan hal-hal yang buruk seperti itu.

Dengan demikian, penguasaan saham merupakan penguasaan secara mutlak yang dimiliki Pihak pembeli melalui adanya peralihan saham tersebut. Saham yang diberi atas nama tersebut akan berganti nama menjadi nama Pihak pembeli berikut juga dengan daftar pemegang saham yang telah dibukukan oleh perusahaan akan mencantumkan nama pemengang saham baru.

Akibat hukum dari peralihan saham ke perorangan atau badan hukum adalah tidak bertanggung jawab atas saham yang telah dijualnya tersebut. Hal ini karena saham yang telah dialihkan telah merubah status kepemilikan akan saham tersebut.

Mengingat saham yang diterbitkan dalam perseroan terbatas tertutup ini adalah saham yang diberikan atas nama, maka secara otomatis saham yang telah dijual akan berganti nama pula demi kepastian hukum tentang adanya peralihan kepemilikan tersebut. Bahkan Daftar Pemegang Saham sesuai dengan saham yang telah dijual yang telah dibukukan dalam perseroan telah diganti menjadi nama pemegang saham yang baru. Peralihan hak dan tanggung jawab akan suatu benda secara umum tetap terjadi dalam peralihan saham dalam perseroan ini. Sedangkan bagi perorangan atau

badan hukum, akibat dari peralihan saham ini adalah perorangan atau badan hukum memiliki hak dan tanggung jawab atas saham yang telah dibelinya, baik saham mayoritas atau saham minoritas. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa keuntungan yang sangat besar apabila perorangan atau badan hukum membeli saham mayoritas tersebut, perorangan atau badan hukum tersebut dapat mengelola secara langsung ke mana arah perusahaan. Kepemilikan saham ini harus diingat bahwa kekayaan perorangan atau badan hukum secara pribadi tidak akan pernah disatukan dengan nilai saham yang telah dibeli.

BAB IV

PUTUSAN PENGADILAN PADA KASUS NO. 1130/K/Pdt/2010

A. Kasus Posisi

Saham merupakan bukti penyertaan modal seseorang dalam sebuah perusahaan, yang bunyi dari Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yaitu Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasaran perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaanya.

Setiap saham haruslah memiliki nilai nominal ini berlaku mutlak karna UUPT melarang suatu perusahaan untuk menerbitkan saham tanpa nilai nominal. Namun demikian, tidak ada ketentuan berapa nilai nominal untuk masing-masing saham tersebut. Jadi untuk suatu saham dapat mempunyai nilai nominal misalnya Rp.

1000.000.- atau Rp. 500.000-, dan sebagainya. Kecuali untuk perusahaan terbuka dimana nilai nominal sahamnya sudah ditentukan oleh peraturan dibidang pasar modal dan harus seragam untuk semua perusahaan.99

Batas minimal modal yang ditentukan dalam pendirian perseroan terbatas adalah Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Namun apabila sebuah perseroan terbatas hendak melakukan penawaran umum dipasar modsl maka persyaratanya

99 Munir Fuady, Pasar Modal Modren (Tinjauan Hukum), (Citra Aditiya Bakti: Bandung, 1996), hal. 83.

adalah sahamnya harus dimiliki sekurang-kurangnya 300 pemegang saham dan juga harus memiliki modal setor sekurang-kurangnya Rp. 3000.000.000,- (tiga milyar rupiah). Jadi apabila perseroan tertutup akan menambah modalnya melalui pasar modal maka harus memenuhi persyaratan tersebut jika tidak maka perusahaan tersebut tidak dapat melakukan penawaran umum adapun yang mengatur pengurangan saham anatra lain:

1. Saham perseroan dikeluarkan atas nama pemiliknya, perseroan hanya diperkenankan mengeliarkan saham atas nama pemiliknya dan perseroan tidak boleh mengeluarkan saham atas tunjuk.

2. Persyaratan kepemilikan saham dapat ditetapkan dalam anggaran dasar dengan memperhatikan persyaratan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Dalam hal persyaratan kepemilikan saham sebagaimana dimaksud pada huruf b, telah ditetapkan dan tidak dipenuhi pihak yang memperoleh kepemilikan saham tersebut tidak dapat menjalankan hak selaku pemegang sham dan saham tersebut tidak dapat menjalankan hak selaku pemegang saham dan saham tersebut tidak diperhitungkan dalam korum yang harus dicapai sesuai dengan ketentuan UUPT dan anggaran dasar.

Mengenai nilai nominal saham dalam Pasal 49 UUPT dinyatakan bahwa:

a) Nilai saham harus dicantumkan dalam mata uang rupiah b) Saham tanpa nilai nominal tidak dapat dikeluarkan

c) Ketentuan sebagaimana dimakksud pada ayat (2) tidak menutup kemungkinan diaturnya pengeluaran saham tanpa nilai nominal dalam peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal.100

Tergugat 2 dan tergugat 4 telah secara sukarela dan dengan tanpa paksaan dari pihak manapun menyerahkan saham-saham tanpa dapat ditarik kembali untuk digadaikan sebagai jaminan atas fasilitas pinjaman yang telah diterima tergugat 4 dari tergugat 1. Bahwa Penggugat dalam gugatan pada intinya mendalilan bahwa pada tanggal 15 Pebruari 2002 setelah timbul keadaan kegagalan pembayaran kembali telah terjadi jual beli saham antara tergugat 1 sebagi penerima kuasa dari Penggugat maka segala akibat dan tanggung jawab hukum tidak melekat pada tergugat 1 dengan tergugat 3 sebagimana Akta Jual Beli Nomor 22 tanggal 15 Pebruari 2002 dan Akta Berita Acara Rapat Pelaksanaan Eksekusi Gadai Saham Nomor 23 tanggal 15 Pebruari 2002 yang dibuat dihadapan turut tergugat dalam teransaksi jual beli saham dimaksud kapasitas tergugat 1 adalah hanya sebagai Penerima Kuasa dari Penggugat dengan demikian penggugat seharusnya yang dipilih Penggugat untuk digugat dan bukan tergugat 1hal mana sesuai dengan prinsip pemberian perjanjian kuasa yang diatur dalam ketentuan Pasal 1792 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “Pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan” dengan adanya jual beli saham tersebut Penggugat yang dulunya telah

100Nindyo Pramono, Hukum Bisnis Aktual (Bunga Rampai), (Citra Aditya Bakti: Bandung, 2006), hal. 139.

sukarela menggadaikan kini merasa dirugikan. Mengingat Penggugat merasa bahwa sebagai pemilik 74,2% saham dari Tergugat 2 tidak mengetahui adanya jual beli saham tersebut, dengan keadaan ini maka seharusnya Tergugat 2 dijadikan Tergugat dalam perkara perdata yang terpisah terlbih dahulu oleh Penggugat dalam konteks hubungan hukum pemegang saham dan Perseroan Terbatas sebelum Penggugat dapat memiliki hubungan hukum langsung dengan tergugat 1 karena tergugat 2 dan Penggugat merupakan pihak yang telah secara sukarela dan tanpa paksaan dari pihak manapun setuju dan sepakat menggadaikan saham-saham kepada Penggugat sebagi jaminan dari pinjaman tergugat 4. Majelis hakim yang terhormat dengan ini telah terbukti dengan jelas bahwa dalam perkara tergugat 2 yang seharusnya wajib untuk digugat terlebih dahulu oleh Penggugat dan dibuktikan terlebih dahulu kesalahan-kesalahan hukumnya bukan malah Penggugat yang kini secara gegabah mengajukan gugatan langsung kepada tergugat 1 sebagi penerima kuasa dari Penggugat yang secara jelas telah bertindak dalam koridor hukumnya. Dalam hal ini Penggugat seharusnya menggunakan hukum yang diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas mengenai kepemilikan saham dalam suatu Perseroan Terbatas yang telah menggantikan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 sejak 16 Agustus 2007 kususnya dalam Pasal 52 ayat (1) jo Pasal 51 yang menyatakan bahwa “Saham merupakan benda bergerak dan memberikan hak-hak menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS, menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi, menjalankan hak lainnya berdasarkan Undang-Undang ini, dan di Pasal 51 UUPT

dimilikinya” sedangkan didalam Pasal 61 dan Pasl 97 ayat (6) UUPT setiap pemegang saham yang telah mempunyai syarat-syarat tertentu dapat mengajukan suatu gugatan terhadap Perseroan atau:

1. “Setiap pemegang saham dalam hal ini Penggugat berhak mengajukan gugatan terhadap Perseroan atau Tergugat 2 ke Pengadilan Negeri apabila dirugikan karena tindakan Perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan wajar sebagi akibat keputusan RUPS Direksi dan/atau Dewan Komisaris”.

2. Gugatan sebagaiman dimaksut pada ayat 1 tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan.

Dalam Pasal 97 ayat (6)) UUPT yang menyatakan bahwa “Atas nama Perseroan pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaianya menimbulkan kerugian pada Perseroan”. Pokok gugatan yang diajukan Penggugat sama dengan perkara yang telah diperiksa oleh Pengadilan dalam hal ini terdapat perkara dengan pokok perkara yang sama yang teregister dibawah Nomor 1411/Pdt.G/2007/PN Jak.

Sel. tertanggal 24 September 2007 yang sekarang sudah putus pada tingkat di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta sebagimana Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta sebagaimana Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor 382/Pdt/2008/PT. DKI tertanggal 03 Desember dengan Penggugat yang juga mengaku sebagai pemegang saham dari Tergugat 3 dengan Tergugat salah satunya adalah Tergugat 1 dan Tergugat 2 yang dalam pokok gugatannya, Penggugat dalam perkara ini telah

sama-sama berdasarkan sebagai pemilik saham tergugat 2 dan tergugat 1 sebesar 10 % total saham yang dikeluarkan dan telah disetor penuh oleh tergugat 2 dan tergugat 1.

Penggugat kemudian mendalilkan dengan kepemilikan saham di tergugat 2 dan tergugat 1, yang mana tergugat 2 dan tergugat 1 adalah pemilik saham 99. 9%, tergugat 4 dan tergugat 2 adalah memiliki saham masing-masing sebesar 40% di PT.

Tergugat 3 dan Tergugat 4 sehingga penggugat berkepentingan atas dijaminkanya saham penggugat di tergugat 2 dan tergugat 1 untuk tergugat 4.

Bahwa penggugat adalah sebagai penjamin hutang Tergugat 4 pada Tergugat 1 sesuai dengan perjanjian gadai saham milik Penggugat. Dalam perjanjian tersebut penggugat memberi kewenangan penuh pada tergugat 1 untuk menjual saham Penggugat jika tergugat 4 wanperestasi. Sesui dengan perjanjian walaupun tergugat 4 telah diberi tenggang waktu, tergugat 4 tetap tidak memenuhi kewajibanya/wanprestasi tergugat 1 telah mensomasi Tergugat 4 dengan tembusan kepada penggugat dalam Pasal 5 a share Pledge Agreement diperjanjikan bahwa Penggugat setuju saham-saham miliknya dijual secara tertutup kalau tergugat 4 wanprestasi. Penjualan saham-saham Penggugat telah dilaksanakan dihadapan Notaris yang turut Tergugat. Penjualan saham-saham tersebut dilakukan setelah keluar penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memberi ijin tergugat 1 menjual saham-saham penggugat. Bahwa permohonan ijin menjual saham-saham Penggugat oleh Tergugat 1 dengan itikad baik karena dalam somasi kepada tergugat 4 telah ditembuskan kepada Penggugat dan karena itu Penggugat telah mengetahui

Jakarta Selatan tentang ijin penjualan saham ada empat penetapan oleh Pengadilan Tinggi adalah keliru karena Pengadilan Tinggi tidak berwenang membatalkan penetapan Pengadilan Negeri dan yang berwenang adalah Mahkamah Agung. Bahwa adanya surat Mahkamah Agung tanggal 03 Maret 2006 Nomor 01/Tuada.Pdt/III/2006 yang hanya bersifat pengawasan, tidak membatalkan penjualan saham-saham Penggugat untuk melunasi hutang Tergugat 4 kepada Tergugat 1. Menimbang bahwa berdasarkan perimbangan diatas, lagi pula ternyata bahwa putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan Undang-Undang maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi Penggugat tersebut harus ditolak.

Menimbang bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ditolak, demikianlah diputuskan bahwa oleh karena permohonan kasasi dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini. Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi. Tersebut demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari kamis tanggal 23 September 2010.

B. Pertimbangan Hukum dalam Putusan Hakim Nomor 1130/K/Perdata 2010 Dalam anggaran dasar dapat diatur Persyaratan-persyarata pemindahan hak atas saham, yang bunyi dari Pasal 57 angka (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas yaitu:

a. Keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham dengan klasifikasi tertentu atau pemegang saham lainya.

b. Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Organ Perseroan.

c. Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.101

Sedangkan Pasal 58 angka (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas yaitu:

“Dalam Anggaran Dasar mengharuskan pemegang sham penjual menawarkan terlebih dahulu sahamnya kepada pemegang saham lain, dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) terhiyung sejak tanggal penawaran dilakukan ternyata pemegang saham tersebut tidak membeli, pemegang saham penjual dapat menawarkan dan menjual sahamnya kepada pihak ketiga”.

Karena setiap perubahan anggaran dasar dalam perseroan berperan penting untuk siapa yang memberikan suara yang seperti tertera didalam Pasal 52 angka Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas yaitu:

1. Saham memberikan hak kepada pemiliknya:

a. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS

b. Menerima pembayaran deviden dan sisa kekayaan hasil likuidasi c. Menjalankan hak lainya berdasarkanUndang-Undang ini

2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku setelah saham dicatat dalam daftar pemegang saham atas nama pemiliknya.

3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan huruf c tidak berlaku bagi klasifikasi saham tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang ini.

4. Setiap saham memberikan kepada pemiliknya hak yamg tidak dapat dibagi.

5. Dalam hal 1 (satu) saham dimiliki oleh lebih dari 1 (satu) orang maka hak yang timbul dari saham tersebut digunakan dengan cara menunjuk 1 (satu) orang sebagai wakil bersama.

Dalam putusan terhadap peralihan saham secara diam-diam studi kasus nomor 1130 K/Pdt/2010 bahwa menimbang bahwa atas surat gugatan tersebut, tergugat 1, tergugat 2, tergugat 3, tergugat 4, dan turut tergugat telah mengajukan eksepsi menyangkut kompetensi absolut dan kopetensi relatif pada tanggal 30 Oktober 2008, menimbang bahwa atas eksepsi tergugat 1, tergugat 2, tergugat 3, tergugat 4, dan turut tergugat tersebut, majelis hakim telah menjatuhkan putusan sela tanggal 8 Januari 2009 yang amarnya berbunyi sebagai berikut:

a. Menolak eksepsi kopetensi absolut dari tergugat 1 dan eksepsi kopetensi relatif dari tergugat 1, tergugat 2, tergugat 3, tergugat 4 dan turut tergugat.

b. Menyatakan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berwenang mengadili perkara ini.

c. Memerintahkan untuk melanjutkan pemeriksaan perkara ini.

d. Menangguhkan biaya perkara hingga putusan akhir.

Bahwa pokok gugatan yang diajukan penggugat sama dengan perkara perkara yang telah diperiksa oleh Pengadilan. Dalam hal ini terdapat perkara dengan pokok perkara yang sama yang teragister dibawah No. 1411/Pdt..G/2007/PN Jakarta Selatan

tertanggal 24 September 2007 yang sekarang sudah putus pada tingkat di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No. 382/Pdt/2008/PT.DKI tertanggal 03 Desember 2008, dengan penggugat yang juga mengaku sebagai pemegang saham dari tergugat 3, dengan tergugat salah satunya adalah tergugat 1, dan tergugat 2, yang dalam pokok gugatanya penggugat dalam perkara tersebut telah sama-sama mendasarkan sebagai pemilik saham tergugat 2, turut tergugat 1, dalam perkara tersebut sebesar 10 % dari total saham yang dikeluarkan dan telah disetor penuh oleh tergugat 2, turut tergugat 1.

Yang mana tergugat 2, turut tergugat 1. Penggugat kemudian mendalilkan dengan kepemilikan saham di tergugat 2, turut tergugat 1, yang mana tergugat 2 (turut tergugat 1) adalah pemiliksaham sebesar 99.9 % tergugat 4 (turut tergugat 2), dan tergugat 4 (turut tergugat 2) adalah memiliki saham masing-masing sebesar 40 % di turut tergugat 3, dan tergugat 4 sehingga penggugat berkepentingan atas atas dijaminkanya saham penggugat di tergugat 2 (atau tergugat 1) untuk tergugat 4 (turut tergugat 2).

Mahkama Agung memutuskan Bahwa penggugat adalah sebagi penjamin hutang Tergugat 4 pada Tergugat 1 sesuai dengan perjanjian gadai saham milik Penggugat. Dalam perjanjian tersebut Penggugat memberi kewenangan penuh pada tergugat 1 untuk menjual saham Penggugat jika tergugat 4 wanperestasi. Sesui dengan perjanjian walaupun tergugat 4 telah diberi tenggang waktu, tergugat 4 tetap tidak memenuhi kewajibanya/wanprestasi tergugat 1 telah mensomasi Tergugat 4 dengan tembusan kepada penggugat dalam Pasal 5 a share Pledge Agreement

kalau tergugat 4 wanpestasi. Penjualan saham-saham Penggugat telah dilaksanakan dihadapan Notaris yang turut Tergugat. Penjualan saham-saham tersebut dilakukan setelah keluar penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memberi ijin tergugat 1 menjual saham penggugat. Bahwa permohonan ijin menjual saham-saham Penggugat oleh Tergugat 1 dengan itikad baik karena dalam somasi kepada tergugat 4 telah ditembuskan kepada Penggugat dan karena itu Penggugat telah mengetahui bahwa Tergugat 4 wanprestasi. Bahwa pembatalan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tentang ijin penjualan saham ada empat penetapan oleh

kalau tergugat 4 wanpestasi. Penjualan saham-saham Penggugat telah dilaksanakan dihadapan Notaris yang turut Tergugat. Penjualan saham-saham tersebut dilakukan setelah keluar penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memberi ijin tergugat 1 menjual saham penggugat. Bahwa permohonan ijin menjual saham-saham Penggugat oleh Tergugat 1 dengan itikad baik karena dalam somasi kepada tergugat 4 telah ditembuskan kepada Penggugat dan karena itu Penggugat telah mengetahui bahwa Tergugat 4 wanprestasi. Bahwa pembatalan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tentang ijin penjualan saham ada empat penetapan oleh