• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGALIHAN HAK ATAS SAHAM PADA PERSEROAN

C. Akibat Hukum Dilakukanya Peralihan Saham Secara Diam-

Pemindahan hak atas saham akan memberikan kosekuensi berubahnya status kepemilikan atas saham tersebut. Pemilik saham sebelumnya sama sekali tidak memiliki hak di dalam perusahaan karena sahamnya telah dijual. Ini apabila pemengang saham menjual secara keseluruhan sahamnya. Ada 2 konsekuensi yang terjadi apabila saham dijual berdasarkan jumlah besaran sahamnya, yaitu :

1. Saham yang dijual adalah saham mayoritas

Saham yang dijual adalah saham mayoritas akan memberi dampak adanya perubahan dalam perusahaan. Kemungkinan besar pemilik modal baru akan merubah direksi lama menjadi direksi baru. Inilah bentuk dari pemiliki saham mayoritas yang memiliki kekuasaan. Adanya perubahan pengendalian suatu perusahaan merupakan suatu akibat dimana adanya suatu pengambil alihan perusahaan (akuisisi) yang dilakukan oleh pemegang saham mayoritas. Akuisisi atau pengambil alihan perusahaan diatur dalam Pasal 125 UU PT. pengambil alihan perusahaan ini dapat dilakukan melalui direksi (Pasal 125 ayat (1) UU PT atau melalui pemegang saham (Pasal 125 ayat (7) UU PT. Dampak dari akuisisi ini adalah bagi pemegang saham yang sahamnya termasuk yang diambil alih, maka tidak mempunyai saham sehingga tidak mempunyai hak suara dalam RUPS maupun hak-hak lainnya sebagai pemegang saham. Sementara itu bagi pemegang saham yang sahamnya tidak diambil alih, maka masih mempunyai sahan sehingga masih mempunyai hak suara dan hak-hak lainnya sebagai pemegang saham.

2. Saham yang dijual adalah saham minoritas

Pemilik modal baru sama sekali akan menjadi pemegang saham yang disisihkan karena saham yang dimilikinya adalah saham yang minoritas. Pemilik saham minoritas seringnya akan selalu terpinggirkan karena kecilnya hak suara yang dimilikinya, oleh karena itu, pemilik saham minoritas ini perlu adanya perlindungan atas hak-haknya yang sering diabaikan.

Modal Dasar paling sedikit Rp 50 juta (Ps 32 ayat (1) dan (2) UUPT No.

40/2007). Paling sedikit 25% dari modal dasar harus ditempatkan dan disetor penuh.

(Ps 33 ayat (1) UUPT. Modal ditempatkan dan disetor penuh dibuktikan dg bukti penyetoran yg sah & pengeluaran saham lebih lanjut utk menambah modal yg ditempatkan hrs disetor penuh. Bentuk setoran modal saham dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk lainnya (Ps. 34 ayat (1) UUPT 40/2007). Apabila saham dilakukan dalam bentuk lain selain uang, penilaian setoran modal saham ditentukan berdasarkan nilai wajar yg ditetapkan sesuai harga pasar atau oleh ahli yang tidak terafiliasi dg perseroan, dan jika mrpk benda tidak bergerak harus diumumkan dalam satu surat kabar atau lebih, dlm jangka waktu 14 hr setelah akta pendirian dittd atau setelah RUPS memutuskan penyetoran saham tsb. (Ps. 34 ayat (2) dan ayat (3) UUPT). Dalam praktik di Pasar Modal penyetoran saham dilakukan dengan cara:

dengan uang tunai, konversi hutang PS, kapitalisasi saham ditahan, surplus hasil aktiva tetap, inbreng saham perusahaan lain dan harta tetap. Bentuk setoran modal saham dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk lainnya (Ps. 34 ayat (1) UUPT 40/2007). Pembelian kembali saham, baik secara langsung maupun tdk langsung yang beretentangan dengan Psl 37 ayat (1) batal karena hukum dan pembayaran yang telah diterima oleh pemegang saham harus dikembalikan kepada perseroan, dan perseroan wajib mengembalikan saham yg telah dibeli tersebut kepada Perseroan.

Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas semua kerugian yang diderita Perseroan yangg beritikad baik akibat batal karena hukum tersebut (Ps. 37

Perseroan paling lama 3 tahun (Ps 37 ayat (4). Pembelian kembali saham atau pengalihannya lebih lanjut hanya boleh dilakukan berdasarkan persetujuan RUPS, kecuali ditentukan lain dalam Per-UU dibidang Pasar Modal (Ps 38 ayat (1) UUPT).

Saham yg dikuasai Perseroan karena pembelian kembali, peralihan karena hukum, hibah atau hibah wasiat tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan suara RUPS dan tidak diperhitungkan dalam menentukan jumlah kuorum yang harus dicapai sesuai dengan ketentuan UUPT dan/atau AD (Ps 40 ayat (1) UUPT). Saham yg dikuasai Perseroan tidak berhak mendapat deviden.94

Sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Pasar Modal, perusahaan publik adalah perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp.

3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.95

Dilakukanya Peralihan Saham Secara Diam-Diam Pada Perseroan Terbatas merupakan salah satu langkah yang dapat diambil oleh emiten atau perusahan publik untuk menaikan haraga sahamnya yang menurun drastis. Menurut Hasan Zein, mengenai penomena ramainya emiten atu perusahan publik yang melakukan peralihan Saham Secara diam-diam pada perseroan terbatas dipenghujung tahun1997, kembali menjadi sesuatu aktual saat ini.

94mptuu40_2007_versikhir.ppt&ei=cERQU53IGcKHrQfR4oHgCg&usg=AFQjCNH3mFOCA FtfOw-r07UTJHg0Jn3udQ&bvm=bv.65058239,d.bmk, (diakses Tanggal 3 Maret 2014).

95Pasal 1 butir 22 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal

Melakukan peralihan Saham Secara diam-diam pada perseroan terbatas dapat dilakukan oleh sebuah perseroan baik itu perseroan terbuka ataupun perseroan tertutup. Hanya saja apabila melakukan peralihan Saham Secara diam-diam pada perseroan terbatas yang bersetatus terbuka maka ada kemungkinan terjadi proses go private, karena melakukan peralihan saham secara diam-diam pada perseroan terbatas dapat menyebabkan penumpukan kepemilikan saham yang terpusat pada perusahaan sehingga akhirnya perusahan tersebut menjadi tidak memenuhi persyaratan untuk ikut serta dalam perdagangan bursa.

Jika kita ingin membahas mengenai perseroan terbuka, sudah pasti kita akan mengaitkanya kepada Undang-Undang Pasar modal. Dalam pasal 1butir 22 undang-undang ini menyebutkan bahwa perusahaan publik adalah perusahan yang sahamnya telah dimiliki sekurangnya 300 (tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp. 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah).

Berbeda penekanan terhadap definisi emiten yang lebih menekankan kepada asfek kegiatan, pengertian perusahaan publik seperti pasal 1 butir 22 UUPM lebih menekankan pada kuantitas penyebaran efek tersebut dimasyarakat dan aspek permodalan perusahaan. Perusahaan dapat menjadi perusahaan terbuka atau perusahaan publik tanpa harus melewati proses penawaran umum saham. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis apabila perusahaan tertutup telah berhasil menjual sahamnya kepada sekurang-kurangnya 300 (tiga ratus) pemegang sahamnya yang mana umumnya ialah karyawan perusahan itu sendiri.

Melakukan peralihan Saham Secara diam-diam pada perseroan terbatas memang bukan suatu langkah yang lazim diambil oleh sebuah organ perseroan apabila mengambil keputusan untuk mengubah setatus perusahan dari terbuka menjadi tertutup. Akan tetapi pihak-pihak yang terkait dengan perseroan pasti tahu benar bahwa jika melakukan peralihan Saham Secara diam-diam pada perseroan terbatas secara berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya go private secara tidak langsung. Pada umumnya melakukan peralihan saham secara diam-diam pada perseroan terbatas dilakukan untuk menjaga harga saham atau menaikan harga saham perseroan yang sedang mengalami penurunan. Jelas, hingga saat ini belum ada diketahui secara pasti ada perusahan yang melakukan peralihan saham secara diam-diam pada perseroan terbatas karena dapat mengakibatkan langsung perusahaan menjadi go private. Hanya saja akhirnya menjadi mengakibatkan perseroan tidak memenuhi persyaratan lagi untuk dapat ikut dalam pasar modal akibat aksi tersebut.

Hingga akhirnya dapat disimpulkan bahwa melakukan peralihan saham secara diam-diam pada perseroan terbatas memang dapat mengakibatkan perusahan tidak lagi dapat ikut dalam perdagangan pasar modal karena tidak memenuhi syarat yang diberikan oleh Bapepam sebagi lembaga yang berwenang dalam pasar modal, akan tetapi melakukan peralihan saham secara diam-diam pada perseroan terbatas bukanlah hal yang lazim dilakukan jika sebuah perusahaan dari terbuka menjadi tertutup.96

96Fitri Wahyuni, Analisis Terhadap Pembelian Kembali Saham sebagai Bentuk Pengambil Alihan Perseroan Terbuka Dan Go Private Perusahan, (Medan: Universitas Sumatera Utara, 2009),

Terkait dengan modal yang telah disetorkan. Modal yang telah disetorkan untuk menjadi modal dalam suatu perusahaan (PT) bukan lagi menjadi kepemilikan pribadi secara langsung dari penyetor modal, melainkan menjadi harta perusahaan.

Modal dasar PT ini kemudian terbagi dalam nominal saham Pasal 31 ayat [1] UUPT menyatakan bahwa dan diambil bagian oleh penyetor modal. Kepemilikan saham ini memberikan hak kepada pemiliknya untuk:

a. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS;

b. Menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi;

c. Menjalankan hak lainnya berdasarkan Undang-Undang ini (UUPT).

Dalam hal pemegang saham mengambil secara diam-diam modal yang telah disetorkan, Erman Rajagukguk, dosen pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia berpendapat bahwa perbuatan tersebut seharusnya batal dan dapat digugat secara perdata dengan gugatan. Hal ini karena akan ada kemungkinan pihak ketiga (kreditor) bisa saja keberatan bila terjadi pengurangan modal. Jadi, pemegang saham tidak boleh secara diam-diam maupun terang-terangan mengambil modal yang telah disetor tanpa persetujuan RUPS, Pasal 52 ayat [1] UUPT menyatakan bahwa dengan demikian, pemegang saham tidak berhak menarik kembali secara diam-diam modal yang telah disetorkan. Karena jika terjadi penarikan kembali atas modal yang telah disetorkan, maka akan terjadi pengurangan modal. Sedangkan pengurangan modal harus melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”). Keputusan RUPS untuk pengurangan modal Perseroan ini adalah sah apabila dilakukan dengan

memperhatikan persyaratan kuorum dan jumlah suara setuju terhadap adanya perubahan anggaran dasar Pasal 44 ayat [1] UUPT menyatakan bahwa: Mengenai syarat kuorum, selain itu, dalam Pasal 46 ayat (1) UUPT ditentukan bahwa pengurangan modal PT merupakan perubahan anggaran dasar yang harus mendapat persetujuan Menteri. Dan persetujuan Menteri ini baru diberikan apabila:97

a. Tidak terdapat keberatan tertulis dari kreditor dalam jangka waktu dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman pada 1 atau lebih surat kabar bahwa akan dilakukan pengurangan modal;

b. Telah dicapai penyelesaian atas keberatan yang diajukan kreditor; atau

c. Gugatan kreditor ditolak oleh pengadilan berdasarkan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

D. Akibat Hukum Peralihan Saham PT Secara Diam-Diam Pada Putusan