BAB 1 PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Hemoglobin merupakan sejenis protein khusus yang terdapat dalam sel
darah merah dan merupakan 90% dari bagian setiap sel tersebut (Hoffbrand,
2006). Hemoglobin dijadikan sebagai indikator terjadinya anemia (Bakta, 2009 ;
WHO, 2011). Seseorang dianggap mengalami anemia, jika kadar hemoglobin
pada laki-laki berusia ≥ 15 tahun <13,0 g/dL dan pada wanita usia subur 15-49
tahun <12,0 g/dL (Riskesdas, 2013).
Menurut WHO (2008) prevalensi kejadian anemia di dunia antara tahun
1993 sampai 2005 sebanyak 24,8 persen dari total penduduk dunia (hampir 2
milyar penduduk dunia). Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (2013)
menunjukkan prevalensi anemia di Indonesia mencapai 21,7%, dimana 20,6%
kasus anemia terjadi di perkotaan. Prevalensi anemia untuk usia 15-24 tahun
adalah 18,4%. Data ini menunjukkan bahwa kadar Hb rendah atau anemia tidak
menutup kemungkinan ditemukan pada mahasiswa yang tinggal di perkotaan.
Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang paling sering dijumpai,
terutama di negara tropik atau negara dunia ketiga (Bakta, 2009). Saat ini, di
Indonesia anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah gizi utama
disamping kekurangan kalori-protein, vitamin A dan yodium (Raspati, 2010).
Anemia terutamanya menyebabkan gangguan fungsi pembentukan hemoglobin
yang merupakan alat transportasi oksigen ke seluruh tubuh termasuk jaringan
otak. Gangguan oksigenasi ke jaringan otak menyebabkan penurunan kemampuan
dan konsentrasi belajar anak semasa pembelajaran. Produktivitas, tingkat
kecerdasan, daya tangkap terhadap pembelajaran dan semua aktivitas mereka akan
terganggu dan akhirnya akan berdampak kepada penurunan prestasi belajar
(Depkes, 1998) dalam (Yulianasari, 2009) ; (Wijayanti, 2005) dalam Nordin
(2011).
Penelitian Soemantri (1982) tentang hubungan anemia kekurangan zat besi
dengan konsentrasi dan prestasi belajar menunjukkan bahwa ada peningkatan
prestasi belajar pada anak-anak sekolah dasar jika diberi suplemen besi.
Penelitian Polllitt (1989) tentang defesiensi besi dan prestasi sekolah siswa di
Thailand, menunjukkan nilai Bahasa Thailand , matematika dan IQ pada siswa
yang mengalami deplesi besi tanpa anemia lebih rendah dari pada siswa yang
tidak mengalami deplesi besi tanpa anemia. Penelitian yang sama oleh Halterman
(2001) menunjukkan nilai rata-rata nilai matematika anak-anak yang mengalami
defesiensi besi tanpa anemia lebih rendah dari anak-anak yang jumlah besinya
normal. Penelitian Sinaga (2005) pada SDN No.173728 Lobutua , Subiyono
(2010) pada siswa kelas VIII MTs Al Asror kecamatan Gunungpati dan Budiono
(2012) pada siswa kelas IV, V danVI di SDN 1 dan SDN 2 Mudal menunjukkan
ada hubungan antara status hemoglobin dengan prestasi belajar.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan kadar
hemoglobin dengan indeks pretasi kumulatif pada mahasiswa, mengingat
penelitian yang sama sudah banyak dilakukan pada anak sekolah tetapi untuk
dewasa masih sedikit. Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti menganggap
penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui perbandingan kadar
hemoglobin pada mahasiswa FK USU angkatan 2011 dengan IPK di atas 3 dan
IPK di bawah 3.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah :“Apakah ada perbedaan kadar hemoglobin pada
mahasiswa FK USU angkatan 2011 dengan IPK di atas 3 dan IPK di bawah 3?”
1.3Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbandingan kadar
hemoglobin pada mahasiswa FK USU angkatan 2011 dengan IPK di atas 3 dan
IPK di bawah 3.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui jumlah kadar hemoglobin mahasiswa FK USU
angkatan 2011.
2. Untuk mengetahui prestasi belajar mahasiswa FK USU angkatan 2011.
3. Untuk mengetahui apakah kadar hemoglobin mempengaruhi Indeks
Prestasi Kumulatif.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Kedokteran dan
diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam penerapan
ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
2. Bidang Akademis
Sumbangan dalam mengkaji kadar hemoglobin dengan pencapaian
prestasi sekolah.
3. Bidang Penelitian
Sebagai titik tolok penelitian lebih lanjut dalam hal kadar hemoglobin
dengan prestasi.
4. Bidang Pelayanan Kesehatan
Data penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan
pencegahan anemia dan akibatnya terhadap prestasi akademik melalui
pemeriksaan kadar hemoglobin.
5. Bagi FK USU
Sebagai masukan bagi pihak kampus dan mahasiswa FK USU dalam
meningkatkan IPK dan pentingnya mempertahankan kadar Hb agar tetap
normal agar prestasi tidak terganggu .