DISKRESI PEMERINTAH DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK: DISKRESI PEMERINTAH DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK:
PELUANG DAN TANTANGAN PELUANG DAN TANTANGAN
Pendahuluan Pendahuluan
Pe
Pelaylayanaanan n pupublblik ik yayang ng babaik ik didimamaksksududkakan n ununtutuk k memembmbererikikan an laylayananan an yyangang berorientasi
berorientasi kepuasan kepuasan dari dari masyarakat. masyarakat. tuntutan tuntutan adanya adanya pelayanan pelayanan publik publik di di tubuh tubuh birokrasibirokrasi Indonesia semakin hari semakin kompleks, hal ini juga sejalan dengan persoalan yang selalu Indonesia semakin hari semakin kompleks, hal ini juga sejalan dengan persoalan yang selalu melingkupi birokrasi tersebut. disisi lain, usaha untuk memperbaiki kondisi ini terus saja melingkupi birokrasi tersebut. disisi lain, usaha untuk memperbaiki kondisi ini terus saja dijalankan namun persoalan itu selalu ada layaknya persoalan ini telah menjadi semacam dijalankan namun persoalan itu selalu ada layaknya persoalan ini telah menjadi semacam kredo yang selalu muncul di realitas pelayanan pemerintahan.
kredo yang selalu muncul di realitas pelayanan pemerintahan. Me
Melallalui ui upupayaya a dedesensentratralilisasasi si kekewewenanangngan an yayang ng didilalakukukakan n InIndodonenesiasia, , dedengnganan melakukan gerak otonomi daerah kemudian mencoba untuk mendekatkan pelayanan kepada melakukan gerak otonomi daerah kemudian mencoba untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, dengan maksud agar birokrasi lebih responsif terhadap kondisi masyarakat yang masyarakat, dengan maksud agar birokrasi lebih responsif terhadap kondisi masyarakat yang dilayaninya. Undang-undang 3 tahun !!" tentang pemerintahan daerah kemudian mengatur dilayaninya. Undang-undang 3 tahun !!" tentang pemerintahan daerah kemudian mengatur kewen
kewenangan yang angan yang dimilidimiliki ki pemeripemerintah daerah ntah daerah dalam mengatur dan dalam mengatur dan mengumengurus rus rumah tanggarumah tangga pemerintahnnya
pemerintahnnya sendiri. sendiri. #alah #alah satu satu bentuk bentuk kewenangan kewenangan yang yang diberikan diberikan adalah adalah untuk untuk mengusahakan pelayanan publik yang lebih baik di tingkat pemerintahan daerah.
mengusahakan pelayanan publik yang lebih baik di tingkat pemerintahan daerah. $amun,
$amun, penyelenggaraan penyelenggaraan pelayanan pelayanan publik publik yang yang dilakukan dilakukan oleh oleh pemerintah pemerintah daerahdaerah saat ini juga masih dihadapkan pada sistem pemerintahan yang belum efektif dan efisien serta saat ini juga masih dihadapkan pada sistem pemerintahan yang belum efektif dan efisien serta kualitas sumber daya manusia aparatur yang belum memadai. %al ini terlihat dari masih kualitas sumber daya manusia aparatur yang belum memadai. %al ini terlihat dari masih banyaknya
banyaknya keluhan keluhan dan dan pengaduan pengaduan dari dari masyarakat masyarakat baik baik secara secara Iangsung Iangsung maupun maupun melaluimelalui media massa. Pelayanan publik kemudian dituntut sebagai usaha pemenuhan kebutuhan dan media massa. Pelayanan publik kemudian dituntut sebagai usaha pemenuhan kebutuhan dan hak-hak dasar masyarakat.
hak-hak dasar masyarakat. &irok
&irokrasi rasi pada pemerintahapada pemerintahan n daerah sebagai daerah sebagai penypenyelenggelenggara ara pelaypelayanan anan publpublik ik seringsering atau selalu dikeluhkan karena ketidak efisien dan efektif, birokrasi sering kali dianggap tidak atau selalu dikeluhkan karena ketidak efisien dan efektif, birokrasi sering kali dianggap tidak mampu melaku
mampu melakukan hal-hal yang kan hal-hal yang sesuai dan sesuai dan tepat, serta tepat, serta kinerkinerja ja birokbirokrasi yang rasi yang tidak ino'atitidak ino'atif f dan responsif, cenderung kaku oleh aturan yang ada bukan pada lingkungan masyarakat. %al dan responsif, cenderung kaku oleh aturan yang ada bukan pada lingkungan masyarakat. %al ini sangat memerlukan perhatian yang besar, seharusnya birokrasi dalam penyelenggaraan ini sangat memerlukan perhatian yang besar, seharusnya birokrasi dalam penyelenggaraan pelayanan
pelayanan publik publik itu itu memudahkan memudahkan masyarakat masyarakat menerima menerima setiap setiap pelayanan pelayanan yangyang diperlukannya.
diperlukannya.
(ecenderungan tersebut diatas memang saat ini yang selalu menyertai pelaksanaan (ecenderungan tersebut diatas memang saat ini yang selalu menyertai pelaksanaan pelayanan
pelayanan publik di publik di pemerintahan pemerintahan daerah, daerah, sebagian sebagian besar besar pelayanan pelayanan publik didaerah publik didaerah saat saat iniini masih memiliki kekompleksan sendiri dalam menghadapi persolan tersebut. Upaya reformasi masih memiliki kekompleksan sendiri dalam menghadapi persolan tersebut. Upaya reformasi birokrasi
diperhadapkan dengan etika aparatur birokrasi dan terutama adalah terkait diskresi yang dimiliki oleh aparatur daerah, dalam memenuhi fungsinya dalam pelayanan publik yang harus bertanggung jawab secara hukum, kemudian disisi lainnya memenuhi fungsinya untuk
melakukan pelayanan publik yang responsif, efektif dan efisien khususnya di daerah sebagai street level bureaucracy.
#alah satu kendala dalam pelayanan publik terutama didaerah saat ini, terkait kewenangan yang dimiliki aparat yang langsung bersentuhan dengan pelayanan pemenuhan kebutuhan publik. karena itu kemudian, terkadang aparatur tingkat bawah atau biasa disebut street level bureaucracy diperhadapkan oleh aturan yang ada untuk menyediakan pelayanan publik, yang tuntutannya sangat beragam dari masyarakat. sehingga cerminan pelayanan publik model demikian cenderung kurang fleksibel, tidak responsif dan cenderung kaku dengan aturan yang ada. Padahal pelayanan harus segera dilakukan terhadap berbagai karakteristik permasalah masyarakat.
#aat ini dikenal istilah diskresi atau kewenangan aparat birokrasi untuk menentukan keputusan diluar dari aturan baku yang ada. $amun seringkali kewenangan diskresi yang dimiliki oleh aparat pemerintah ini, bisa menjadi solusi alternatif dalam merespon kondisi dalam pelayanan publik, namun juga memiliki implikasi adanya penyimpangan kewenangan (abuse of power) jika diskresi yang dimilikinya tidak diiringi dengan adanya etika dan akuntabilitas.
$amun karena kompleksnya persoalan seputar pelayanan publik tersebut, saat ini kewenangan berupa diskresi tersebut seringkali menjadi tututan oleh pemerintah daerah. namun disisi lain, terkadang diskresi yang dilakukan tingkat pemerintah daerah kemudian bermasalah pada sisi hukum. Maka tidak hal ini berimplikasi dengan adanya keragu-raguan kepala daerah untuk segera menggunakan kewenangan diskresi yang dimilikinya, sebagai upaya pemenuhan layanan yang merupakan tuntutan masyarakatnya.
)iskresi yang dimiliki oleh seorang kepala daerah untuk menentukan keputusan didaerahnya, yang mana keputusan itu mendesak untuk dilakukan seringkali tidak dilakukan oleh kepala daerah bersangkuta. )isinyalir bahwa belum adanya payung hukum mengenai diskresi kepala daerah tersebut, ditakutkan oleh kepala daerah jika itu dilakukan maka akan berhadapan dengan aturan hukum yang berlaku. )isamping itu juga, karena kekhawatiran tersebut menjadikan kepala daerah cenderung mengikuti pada aturan yang baku, sehingga daerah seringkali dikatakan kurang responsif, tidak ino'atif dan tidak efektif efisien terutama hal ini dalam pelayanan publik di daerah.
)alam artikel ini kemudian akan lebih melihat kondisi peluang dan tantangan diskresi pemerintah daerah praktek pelayanan publik saat ini. disamping itu hal ini juga akan linear
dengan kewenangan yang dimiliki daerah dalam era otonomi daerah. hal ini akan menjadikan prospek pelayanan publik kedepan terutama didaerah, dalam menanggapi kekompleksan
tuntutan masyarakat yang akan dilayani.
Potret Pelayanan Publ! Saat In
*endahnya kinerja birokrasi publik sangat dipengaruhi oleh budaya paternalisme yang masih sangat kuat, yang cenderung mendorong pejabat birokrasi untuk lebih berorientasi pada kekuasaan daripada pelayanan, menempatkan dirinya sebagai penguasa, dan memperlakukan para pengguna jasa sebagai objek pelayanan yang membutuhkan bantuannya. )isamping itu, rendahnya kinerja juga disebabkan oleh sistem pembagian kekuasaan yang cenderung memusat pada pimpinan. #truktur birokrasi yang hirarkis mendorong adanya pemusatan kekuasaan dan wewenang pada atasan sehingga pejabat birokrasi yang langsung berhubungan dengan pada pengguna jasa sering tidak memiliki wewenang yang memadai untuk merespon dinamika yang berkembang dalam penyelenggaraan pelayanan.
(ewenangan untuk mengambil diskresi sangat terbatas. Pada pejabat birokrasi tidak berani mengembangkan kreati'itas dan ino'asi dalam penyelenggaraan pelayanan sehingga
kegiatan pelayanan publik menjadi sangat rule-driven dan rigid. %al ini menjadi salah satu sumber dari berkembangnya praktik-praktik (($ dalam penyelenggaraan pelayanan publik. tidak adanya sistem intensif yang tapat, yang mampu mendorong para pejabat birokrasi untuk efisien, responsif, dan profesional juga menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk kinerja birokrasi yang buruk +)wiyanto, dkk. !!.
)iskresi dalam penyelenggaraan pemerintah daerah, seringkali diperhadapkan dengan tuntutan akuntabilitas. )isisi lain kewenangan dalam bentuj diskresi yang dilaksanakan oleh pemimpin daerah dalam kapasitasnya sebagai daerah otonom, terkadang diperhadapkan oleh dua kemungkinan, yakni adanya ino'asi didaerah atau sebaliknya pemimpin daerah terjebak dalam kasus korupsi. #ehingga terbangun adanya dua sisi diskresi yang bisa saling kontraproduktif dengan kondisi yang ada.
(ecenderungan dua sisi diskresi ini kemudian menjadikan simber ketakutan sendiri bagi pemimpin daerah atau aparatur birokrasi daerah. #aat ini dapat dicermati bahwa diskresi pelayanan yang diberikan oleh instansi pemerintah demikian rendah. dapun berdasarkan identifikasi yang dilakukan terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya hal demikian, yaitu/
a. Manajemen yang berorientasi task oriented.
0aya manajemen yang terlalu berorientasi kepada tugas +task-oriented) menyebabkan pegawai menjadi tidak termoti'asi untuk menciptakan hasil yang nyata dan kualitas pelayanan yang prima. 1ormalitas dalam rincian tugas organisasi menuntut keseragaman yang tinggi. kibatnya para pegawai menjadi takut berbuat salah dan cenderung menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan +juklak dan petunjuk teknis +juknis, walaupun keadaan yang ditemui dalam kenyataan sangat jauh berbeda dengan peraturan-peraturan teknis tersebut +(umorotomo, !!2. danya ketakutan administrator publik untuk mengambil tindakan yang berbeda dari yang telah digariskan oleh aturan yang ada menjadi alasan yang kuat kenapa diskresi tidak dilakukan. idak seperti di negara lain yang lebih maju sistem administrasi publiknya.
b. danya budaya patron klien
&udaya patron-klien yang masih melingkupi pelaksanaan tugas dari administrator publik. &udaya birokrasi di Indonesia banyak mengadopsi budaya jawa yang hierarkis,
tertutup, sentralistis, dan mempunyai nilai untuk menempatkan pimpinan sebagai pihak yang harus dihormati. )alam konteks demokrasi pelayanan publik diIndonesia, hubungan tersebut diterjemahkan oleh bawahan sebagai mendahulukan kepentingan pimpinan diatas segalanya. +(usumasari, !!2. #esuai dengan akar budaya lama, raja adalah segalanya dan masyarakat adalah abdi. )alam konteks budaya paternalistik adalah berupa atasan yang memiliki kekuasaan yang besar dan sanggup memberikan apapun bagi bawahannya, sehingga bawahan akan memberikan apapun loyalitas dan pengabdian yang penuh bagi atasannya. #ehingga loyalitas yang seharusnya diberikan kepada masyarkat menjadi milik atasan.
%al ini akan sangat berpengaruh baik terhadap atasan maupun bawahan dalam memberikan pelayanan kepada publik. tasan akhirnya tidak memahami apa realitas sebenarnya yang terjadi pada masyarakat, pelayanan seperti apa yang mereka inginkan. (arena informasi yang masuk kepadanya hanya berupa informasi yang baik-baik saja dari bawahan agar atasan menjadi senang. #edangkan bagi bawahan, menjadikan atasan sebagai patron akan membuatnya tidak berani mengambil tindakan, rasa pakewuh, takut melangkahi dan akhirnya tidak melakukan tindakan apapun. )alam pelayanan publik sikap menganggap atasan sebagai segalanya menjadikan pelayanan menjadi tidak efisien. idak hanya menghabiskan energi waktu saja, dari segi biaya semakin besar rupiah yang harus dikeluarkan masyarakat.
c. Minimnya reward bagi administrator
Reward yang tidak jelas dari administrator publik ketika ia mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Reward disini dapat berupa penghargaan ataupun bentuk penghormatan, namun dapat juga diartikan sebagai mendapatkan insentif. idak adanya
sistem insentif yang secara efektif mampu mendorong para pejabat birokrasi untuk bekerja secara efisien dan profesional ikut memberikan kontribusi terhadap kegagalan birokrasi dalam membangun kinerja yang baik. +(usumasari, !!2. )alam diskresi beban berat yang pasti muncul terlebih dahulu adalah tidak sesuai dengan aturan. papun bentuknya yang dilakukan oleh administrator publik ketika kebijakan yang dia buat itu menghasilkan kebijakan yang akuntabel dan efisien terhadap pengguna jasanya, namun hal tersebut tidak sesuai dengan aturan yang telah ada, yang dia lakukan adalah salah.
Inilah pemahaman yang selalu muncul dalam benak para administrator ketika ia ingin melakukan diskresi, jangankan mendapatkan penghargaan atas hasil kerjanya. 4ang paling minimal ia akan mendapat sikap yang tidak enak dari teman sejawat ataupun dimarahi oleh atasan. 4ang lebih parah lagi ketika diskresi yang dilakukan oleh seorang administrator publik itu membawanya ke pintu penjara. %al yang sangat naif, ketika seorang memang berbuat untuk publik yang sebenarnya bukan malahan mendapat reward . #edangkan adminsitrator yang dalam tugasnya banyak 5melindungi atasan6 dan memperjuangkan kepentingan tertentu saja tidak mendapatkan punishment dari negara ini.
d. #umber )aya paratur +kompetensi
*endahnya kualitas pendidikan dari para administrator publik sangat berpengaruh terhadap pelayanan yang ia berikan. )iskresi itu penting untuk dilakukan jika administrator memahami apa yang ia lakukan. Untuk itu wacana keilmuan dari administrator baik melalui pendidikan formal ataupun informal juga merupakan suatu keharusan. (ebijakan peningkatan kualitas sumber daya manusia +#)M aparat birokrasi melalui dukungan pada studi lanjut aparat ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti #7 dan #, perlu mendapatkan prioritas sebagai bagian dari komitmen pengembangan pegawai. #elain itu, dengan mengikutsertakan pegawai pada program-program pelatihan mengenai dasar-dasar manajemen organisasi terbuka, kepemimpinan dan penerapan model organisasi adaptif diharapkan dapat meningkatkan penguasaan mereka akan konsep-konsep pelayanan publik yang baik. +)wiyanto, !!7.
D"!re" dala# Pelayanan Publ!
Istilah diskresi lebih banyak dikenal dalam ranah kajian penyelenggaraan hukum, namun saat ini diskresi kemudian dipakai juga dalam pembahasan mengenai pelaksanaan administrasi negara. (etika kondisi masyarakat yang semakin beragam terutama dalam tuntutannya terhadap pelayanan publik, maka diskresi kemudian diperlukan terutama didaerah untuk menciptakan putusan yang sebelumnya tidak diatur dalam peraturan yang ada. %ak diskresi adalah kebebasan bagi setiap kepala daerah untuk mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah.
Pengertian lain seperti dikemukakan oleh Prajudi dmosudirjo, diskresi adalah suatu kebebasan bertindak atau mengambil keputusan menurut pendapat sendiri, dan $ata #aputra memaknai diskresi, adalah suatu kebebasan yang diberikan kepada alat administrasi $egara mengutamakan keefektifan tercapainya suatu tujuan (doelmatigheid) daripada berpegang teguh kepada ketentuan hukum +#adjijono, !!8/ "-2.
Pemberian wewenang kepada pemerintah untuk bertindak bebas tersebut didasari pertimbangan, bahwa wewenang pemerintahan yang berdasarkan pada peraturan perundang-undangan tidak cukup untuk dapat berperan secara maksimal dalam melayani kepentingan masyarakat yang berkembang begitu pesat, dan dalam konsep ini kemudian pemerintah daerah dituntut untuk lebih responsif terhadap perubahan.
Praktek pelayanan publik saat ini mengalami situasi yang sulit, yakni sebagai upaya untuk keluar dari situasi frustatif antara besarnya permintaan pelayanan dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. )isamping itu, aparat birokrasi juga diperhadapkan dengan kondisi kepatuhan terhadap aturan yang ada. Untuk itu diperlukan adanya kewenangan untuk dapat keluar dalam situasi sulit tersebut, yang mana saat ini dikenal dengan istilah diskresi yang dimiliki oleh aparatur pemerintah daerah sebagai salah satu semangat yang dibawa oleh tujuan desentralisasi saat ini.
)iskresi ini biasanya dilakukan oleh para birokrat yang berada di le'el paling bawah yaitu street level bureaucrarcy. *endahnya kualitas pelayanan publik ini antara lain disebabkan rendahnya diskresi birokrasi terutama pada le'el pelaksana bawah + street-level bureaucracy sehingga pelayanan yang dihasilkan kurang fleksibel, dan tidak menjawab kebutuhan masyarakat secara riil. 9ipsky +7:8! menjelaskan bahwa birokrasi bawahan mempraktekkan pemberian diskresi atas dispensasi manfaat atau alokasi sanksi. erjadi konflik antara pembuat kebijakan dan birokrasi bawahan sebagai pelaksana kebijakan. )i
satu sisi para legislator dan pembuat kebijakan lainnya berupaya menciptakan tujuan-tujuan ideal ke dalam peraturan. )i sisi lainnya birokrasi bawahan berjalan dengan kepentingannya sendiri untuk memanfaatkan akses langsungnya terhadap klien. Maka diskresi peraturan yang dipraktekkan birokrat bawahan menjadi la;im.
)iskresi umumnya diartikan sebagai kemampuan administrator untuk memilih diantara alternatif dan memutuskan bagaimana suatu kebijakan + policy pemerintah harus diimplementasikan dalam situasi-situasi tertentu +*ourke 7:8" dalam +stuti, !77. #arana ini sangat penting untuk kesuksesan pembuatan kebijakan dan dirangkai ke dalam pembuatan konstitusi sebagai alat penyebaran baik power +kekuasaan dan konflik antar berbagai kepentingan +&ryner, 7:8< dalam +stuti, !77. )engan demikian diskresi jelas merupakan bagian dari proses administratif, dan diskresi yang memadai sangat diperlukan dalam
menjalankan kegiatan masing-masing.
)isisi lain, agar pelayanan menjadi sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat, untuk itu perlu dilakukan kebijakan operasional yang dapat dipandang sebagi suatu diskresi, yakni upaya untuk menyesuaikan kebijaksanaan dengan situasi yang telah berkembang +=ibawa, !!2. )iskresi secara konseptual merupakan suatu langkah yang ditempuh adminitrator untuk menyelesaikan suatu kasus yang tidak atau belum diaturdalam suatu regulasi yang baku. )alam konteks tersebut, diskresi dapat berarti suatu bentuk kelonggaran pelayanan yang diberikan oleh administrator kepada pengguna jasa. )alam implementasinya, tindakan diskresi diperlukan sebagai kewenangan untuk menginterpretasikan kebijakan yang ada atas suatu kasus yang belum atau tidak diatur dalam satu ketentuan yang baku +)wiyanto, !!.
)iskresi seolah menjadi hal yang terabaikan didalam memberikan pelayanan, padahal dalam periode masyarakat yang terus berkembang dan semakin dinamis ini, diskresi sudah menjadi suatu keharusan. #ekalipun disatu pihak hal ini menunjukkan kreati'itas dan daya tanggap birokrasi terhadap lingkungannya, di lain pihak diskresi sangat rentan bagi berlangsungnya penyimpangan +=ibawa, !!2. $amun prisipnya adalah sepanjang tindakan yang diambil tetap pada koridor 'isi dan misi organisasi serta tetap dalam kerangka pencapaian tujuan organisasi, maka pelanggaranatau tindakan penyimpangan prosedur ini
tidak perlu terlalu dipermasalahkan. +)wiyanto, !!.
Peluan$ dan Tantan$an D"!re"
>tonomi daerah telah mendorong demokratisasi tata kelola pemerintahan hingga kedaerah. *ealisasi otonomi daerah juga telah menghasilkan kepemimpinan daerah yang
lebih kredibel dan akuntabel. $amun dalam pelayanan publik, saat ini banyak penyelenggara pemerintahan yang mengambil sifat pasif dan kurang responsif terhadap pemenuhan
kepentingan publik yang berkaitan dengan jabatannya. mereka sering menjadi takut dan ragu dalam mengambil diskresi, kondisi seperti ini jika dibiarkan akan dapat menurunkan kreati'itas, semangat ino'asi, dan keberanian mengambil terobosan-terobosan demi kepentingan publik + http/??aparaturnegara.bappenas.go.id, diakses ! mei !73.
Pada gilirannya kemudian, penggunaan diskresi dalam penyelenggaraan pemerintah daerah akan menemukan sejumlah implikasi positif dan negatif terhadap proses pelayanan publik. (aitannya dengan hal ini adalah ino'asi yang hadir dari adanya diskresi pimpinan daerah, atau kemudian terjebak dalam penyalahgunaan kekuasaan yang berujung pada terciptanya kasus hukum. Ino'asi pemerintahan daerah dalam ranah pelayanan publik adalah bagian dari adanya diskresi yang dijalankan dengan baik didaerah.
)isadari bahwa dalam menjalankan diskresi ini, pejabat pemerintahan diperhadapkan pada pengaruhi situasi dan kondisi yang konkrit dan mengharuskan untuk bertindak. $amun
demikian penilaian yang diyakini setiap indi'idu sangatlah berbeda-beda tergantung dari pengalaman, pengetahuan, kecerdasan dan moralitas masing-masing. (ondisi ini menuntut adanya keprofesionalan seorang pemimpin menjalankan bentuk diskresi tersebut, tentunya hal ini juga menyangkut pandangan terhadap nilai moral yang ada dan juga standar hukum yang berlaku.
=ewenang untuk bertindak berdasarkan penilaiannya sendiri tersebut dalam rangka menjalankan kewajiban hukum dan kewajiban tugas, maka di dalam melakukan tindakan hukum wajib berpegang pada norma hukum maupun moral. $orma moral berkaitan dengan tindakan tersebut berdasarkan hati nuraninya, sedangkan norma hukum karena wewenang tersebut dijalankan atas dasar undang-undang (rechtmatigheid), sehingga dalam menilai suatu situasi konkrit diperlukan persyaratan-persyaratan bagi setiap aparat pemerintahan +#adjijono, !!8/8.
Pada tataran pemerintah daerah nantinya, saat ini Pengertian mengenai diskresi sebenarnya sudah tertuang dalam draft *UU dministrasi Pemerintahan, yakni keputusan dan?atau tindakan yang dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan, dalam hal peraturan perundang-undangan memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan?atau adanya stagnasi pemerintahan
$amun disisi lain, kondisi yang ada bahwa kepala daerah dinilai kurang responsif dalam berino'asi. %al ini diakibatkan rendahnya kepastian dalam penegakan hukum,
sehingga banyak kepala daerah ketakutan dalam penggunaan kebijakan diskresi yang sangat rentan menyeret kepala daerah atau pejabat daerah kedalam tindak pidana penyalahgunaan kewenangan atau kekuasaan yang dimilikinya.
Menurut Isran $oor +!7 *endahnya perlindungan hukum atas ino'asi atau kebijakan diskresi kepala daerah ini berimplikasi pada banyaknya penyelenggara pemerintahan yang mengambil sifat pasif dan kurang responsif terhadap pemenuhan kepentingan publik +http/??www.pikiran-rakyat.com?node?37", diakses ! mei !73. %al ini menjelaskan bahwa, adanya kecenderungan bahwa terdapat keraguan dari para kepala daerah dalam menjalankan haknya dalam diskresi, sekalipun itu kemudian berakibat baik untuk daerah.
kan tetapi, sejumlah kekhawatiran mengenai adanya diskresi di daerah ini terhadap proses pelayanan publik masih saja terus dicemaskan. )isatu sisi diskresi dapat menjadi jawaban terhadap adanya pelayanan publik yang stagnan, kaku, terlalu birokratis dan sejumlah patologi birokrasi lainnya. $amun disisi lain, juga penggunaan diskresi ini akan menyebabkan adanya penyalahgunaan kewenangan, perilaku korupsi, dan penyimpangan lainnya jika diskresi tersebut tidak dikawal dengan mekanisme akuntabilitas pemerintah daerah.
#ehingga jika kemudian kewenangan diskresi ini tidak dilakukan mekanisme pengawasan atau kontrol terhadap akuntabilitasnya, maka hal ini akan diperhadapkan berbagai masalah struktural maupun hukum. )imana diskresi yang dilakukan bisa saja menjadi bumerang bagi kepala daerah dalam sejumlah kasus korupsi. Menurut Mendagri 0awaman 1au;i, mengatakan diskresi itu ada batasannya dan diatur agar apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. da beberapa syarat, termasuk +melakukan ino'asi tidak melanggar hukum, #ejumlah kekhawatiran yang muncul dengan diaturnya hak diskresi tersebut, antara lain kepala daerah dapat menyalahgunakan wewenang dan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Penyalahgunaan kewenangan dan korupsi adalah hal yang paling krusial terhadap implikasi negatif diskresi, apalagi dengan adanya payung hukum mengenai diskresi pemerintah daerah dalam pelayanan publik tersebut. 0awaman 1au;i mengungkapkan modus baru korupsi yang sering menjadi batu sandungan bagi kepala daerah seperti menahan setoran pajak ke pusat dengan menyimpannya di rekening pribadi. @uga, modus meminjam dari kas daerah, mark-up maupun cash back dari rekanan proyek +http/??www.kemendagri.go.id, diakses 7 mei !73.
antangannya kemudian adalah bagaimana melihat diskresi tersebut dalam kerangka akuntabilitas pemerintah daerah. hubungan antara diskresi pemerintah daerah dan kaitanya dengan akuntabilitas pemerintah memang cukup kompleks. $amun menarik melihat kondisi yang menggambarkan keterkaitan antara diskresi pemerintah daerah dan akuntabilitas, yang dikemukakan 4ilma;, #erdar., 4akup &eris and *odrigo #errano &erthet +!7!A 2:-:3, dalam )e'elopment Policy *e'iew dengan artikelnya berjudul Linking Local Government iscretion and !ccountability in ecentralisation. Mengemukakan 3 dimensi yang akan
mempengaruhi bentuk akuntabilitas terkait diskresi yang dimiliki pemerintah daerah, yaitu / a. )iskresi Politik 9okal, yang mengemukakan pandangan bahwa untuk menciptakan
kondisi diskresi yang akuntabel dari pemerintah daerah harus memperhatikan beberapa hal yakni bagaimana pembagian kekuasaan eksekutif dan legislatif, model pemilihan umum di tingkat daerah untuk memilih pemimpin, dan fungsi partai politik di daerah. disisi lain juga penguatan dilakukan dengan membatasi masa jabatan pemimpin untuk menghindari budaya patronase politik dan membentuk
kontrol publik terhadap kinerja pemerintah daerah.
b. )iskresi dministratif, disisi desentralisasi administrasi perlu diperhatikan hal menyangkut aparatur pemerintah dalam hal kemampuan mengatur, diskresi untuk mengelola pelayanan, diskresi dalam pelayanan publik dan pengaturan kebijakan. )an untuk melakukan penguatan terhadap kondisi ini adalah memuat struktur kontrol publik sehingga lebih melembaga dan adanya informasi pelayanan yang bisa diakses oleh masyarakat.
c. )iskresi 1iskal +(euangan, dalam diskresi pada posisi ini menyangkut bagaimana pemerintah daerah mengatur pengeluaran, mengatur pendapatan daerah, mengelola fiscal gap antar daerah, dan Infrastruktur keuangan daerah. disamping itu untuk memperkuat hal ini maka perlu diperhatikan adanya manajemen yang efektif dan efisien dan juga keterbukaan informasi terhadap akuntabilitas penggunaan anggaran. #eperti yang dikemukakan diatas bahwa tantangannya kemudian dalam penerapan diskresi di daerah, hal tersebut kemudian menyangkut kapasitas yang dimiliki kepala daerah . #ekalipun kemudian banyak implikasi negatif yang hadir dengan adanya diskresi tersebut sudah selayaknya bahwa diskresi kemudian tidak meninggalkan ranah akuntabilitas. )iskresi yang disesuaikan dengan jalur hukum yang berlaku dan mengusahakan bagi kebaikan dalam pelaksanaan pelayanan publik didaerah, maka kedepan diskresi bisa menjadi solusi dalam permasalah pelayanan publik yang saat ini dinilai tidak responsif dan tidak ino'atif.
)isisi lain, )iskresi yang dimiliki (epala )aerah jangan dijadikan sebagai peluang para pejabat jadi kebal hukum. gar jelas dan tegas, serta tidak membuat peluang multi-tafsir, *UU Pemda harus mengatur jelas soal diskresi ini. @uru &icara (ementerian )alam $egeri *eydonny;ar Moenek, mengatakan dengan diskresi tersebut diharapkan dapat melindungi kepala daerah yang kreatif menerobos aturan perundangan, namun tak sampai bikin negara rugi +(oran *akyat Merdeka, Bdisi Minggu, 7: Mei !73 dalam (oranmediaConline.com.
Untuk itu, (epala daerah dalam mengambil kebijakan untuk melaksanakan urusan pemerintahan yang didesentralisasikan kepadanya, diperlukan adanya pengaturan diskresi kepala daerah agar penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan, pada saat kepala daerah menemukan adanya regulasi, norma, standar, prosedur, dan kriteria yang tidak jelas, kabur, multi-tafsir, atau bahkan tidak ada
ketentuannya.
#ejalan dengan itu oleh )irektur Bksekutif Pusat elaah dan Informasi *egional +PI*> #ad )ian Utomo, mengatakan pengaturan tentang diskresi kepala daerah ini mesti melibatkan beberapa ketentuan, diantaranya adalah Pengertian, definisi, atas diskresi kepala daerah menegaskan adanya ruang lingkup atau batas-batas wilayah dimana kebijakan kepala daerah yang bersifat diskresi dapat dirumuskan, ditetapkan, dan dijalankan. )engan demikian, tidak membuka adanya upaya diskresi diluar ruang lingkup yang ditentukan +http/??pattiro.org?DpE7:33, diakses 7 mei !73.
#ejumlah kekhawatiran dalam penerapan diskresi ini bagi kepala daerah memang cukup banyak, sekalipun kemudian alasan untuk memberikan ruang kreatifitas dan ino'asi dari pemerintah daerah dalam pelayanan publiknya didaerah, selama hal itu tidak bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku. %anya saja, jika kemudian diskresi ini
cenderung digunakan untuk hal-hal yang merugikan negara, maka kecenderungan diskresi ini akan merugikan negara bahkan bisa menjerat kepala daerah dalam praktek korupsi.
Untuk itu, pengaturan mengenai hak diskresi ini perlu diperhatikan dengan cermat. #ehingga dalam pelaksanaannya kemudian dapat digunakan kepada daerah sebagai i'o'asi dalam pemerintah daerah. Mendagri 0amawan 1au;i mengatakan, dikresi itu ada batasannya dan diatur agar apa yang dikeluarkan tidak terjadi. da beberapa syarat, termasuk +melakukan ino'asi tidak melanggar hukum. %al ini untuk menjawab, #ejumlah kekhawatiran yang muncul dengan diaturnya hak diskresi itu, antara lain kepala daerah dapat menyalahgunakan wewenang dan jabatan untuk kepentingan pribadi.
)itambahkan pula, Pada Pasal : *UU Pemda, yang saat ini masih dibahas di )P*, disebutkan bahwa dalam hal pelaksanaan ino'asi yang telah menjadi kebijakan pemda dan ino'asi tidak mencapai sasaran yang telah ditetapkan, aparatur daerah tidak dapat dipidana. $amun sejumlah pihak mengatakan, klausul itu bisa diasumsikan bahwa kepala daerah dapat kebal terhadap hukum dan bisa berlindung di balik alasan ino'asi atas perbuatan korupsi. #elain itu, pasal itu bisa digunakan sebagai upaya berlindung dari hukum bagi para kepala daerah +(oran *akyat Merdeka, Bdisi Minggu, 7: Mei !73?(oranmediaConline.com.
)engan melihat realitas tersebut diatas, dapat ditarik benang merah bahwa peluang dan tantangan diskresi berada pada kepala daerah, dalam hal ini kemudian bagaimana penafsiran kepala daerah terhadap kewenangan diskresi yang dimilikinya melakukan ino'asi dalam pelayanan publik didaerahnya. (ecenderungan ini lahir karena banyaknya persoalan yang muncul dari salah tafsirnya regulasi yang dibuat, terutama dalam mendukung ino'asi dan kreatifitas kepala daerah dalam menjalankan pemerintahannya. (ondisi ini juga perlu didukung dengan regulasi yang jelas, jika kemudian diskresi tersebut dilaksanakan didaerah sebagai upaya mengakomodasi kreatifitas kepala daerah dalam melakukan ino'asi dan tidak melanggar aturan yang ada.
Ke"#%ulan
)iskresi merupakan kewenangan yang dimiliki oleh kepala daerah untuk membuat keputusan berdasarkan penilaiannya sendiri. #ehingga sejumlah indikasi misalnya penyalahgunaan kewenangan dan korupsi seringkali mengikuti pelaksanaan diskresi tersebut oleh kepala daerah. namun disisi lain, diskresi bisa dilihat sebagai akomodasi kreati'itas dan ino'asi kepala daerah, sebagai upaya merespon kondisi dan situasi yang berkembang dimasyarakatnya. )imana hal ini kemudian ditujukan untuk memperbaiki layanan publik didaerah, disisi lain juga akan dapat menggenjot kreasi dan ino'asi pemerintah daerah dalam mensejahterakan masyarakatnya.
Peluang sekaligus tantangannya kedepan, bahwa dengan adanya diskresi yang diberikan kepada kepala daerah tentunya akan berhadapan dengan etika moral seorang aparat pemerintah. (arena diskresi disatu sisi dapat memberikan kelaluasaan kepada kepala daerah untuk melakukan ino'asi dalam pelayanan publik, yang sebelumnya belum diatur dalam regulasi atau peraturan yang ada sepanjang itu baik bagi daerah. dan sisi lain, bahwa peluang
adanya penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang yang berujung pada perilaku melenggar hukum bahkan maladministrasi akan sangat besar.
(edepannya perlu adanya syarat-syarat yang tegas dan jelas bagi perumusan dan penetapan kebijakan diskresi dari kepala daerah sangatlah penting, dan mutlak dibutuhkan. #ehingga peluang dan potensi untuk menyalahgunakan kewenangan diskresi dan juga tindak pidana korupsi dengan berlindung dibalik diskresi dapat direduksi dan dihindari. #elain itu perlu diperhatikan beberapa prinsip utama ketentuan diskresi yakni, diskresi masih dalam batasan ruang lingkup kewenangan kepala daerah bersangkutan, kemudian tidak
menimbulkan konflik kepentingan, dan implikasi negatif lainnya terkait kekuasaan kepala daerah. sudah sepatutnya diskresi kemudian dikaitkan dengan bentuk akuntabilitas pelaksanaan pelayanan publik oleh pemerintah daerah.
$amun tentunya, penggunaan diskresi ini mesti diperkuat dengan adanya regulasi yang jelas dan tegas, sehingga indikasi penyalahgunaanya bisa dihindari. Untuk itu, *UU Pemda yang sedang dibahas saat ini ditujukan untuk memasukkan aturan tentang diskresi bagi kepala daerah, dan aturan tentang diskresi tersebut wajib untuk mengatur mengenai
ketentuan-ketentuan mengenai pengertian, tujuan, prinsip, dan syarat-syarat dari penentuan diskresi. )isamping itu, kejelasan regulasinya juga diperlukan untuk menghindari adanya salah tafsir kepala daerah terhadap diskresi tersebut. erakhir bahwa dengan diskresi tersebut dalam kaitannya dengan pelayanan publik, akan dapat menjawab ekspektasi masyarakat terhadap produk layanan publik didaerah. )engan pelayanan yang memberikan tanggapan dan responsif terhadap kebutuhan didaerah, sehingga apa yang dicita-citakan desentralisasi dalam bentuk otonomi daerah yakni kesejahteraan masyarakat dapat dicapai dengan optimal.
Re&eren"
gus Purwanto, Brwan dan =ahyudi (umorotomo, dkk. !!2. "irokrasi #ublik dalam $istem #olitik $emi-#arlementer . 4ogyakarta/ Penerbit 0a'a Media
&appenas, iskresi %ebi&akan "anyak %epala aerah %urang Responsif , dalam http/??aparaturnegara.bappenas.go.id?new?berita-3:-diskresi-kebijakan--banyak-kepala-daerah-kurang-responsif-.html, diakses tanggal 7 Mei !73.
&erita (emendagri, 'iskresi %epala aerah (%ebal ukum) !da "atasnya' , dalam http/??www.kemendagri.go.id?news?!73?!"?"?diskresi-kepala-daerah-kebal-hukum-ada-batasnya diakses tanggal 7 Mei !73.
)wiyanto, gus +Bd, !!2, ewu&udkan Good Governance melalui #elayanan #ublik, 4ogyakarta/ 0adjah Mada Uni'ersity Press.
)wiyanto, gus dan &e'aola (usumasari. !!7. #olicy "rief * iskresi alam #emberian #elayanan #ublik. 4ogyakarta/ Fenter for Population and Policy #tudies, U0M.
)wiyanto, gus,dkk. !! +Fet.II. Reformasi "irokrasi #ublik di +ndonesia. 4ogyakarta/ 0adjah Mada Uni'ersity Press.
)wiyanto, gus, dkk. !!2. ewu&udkan Good Governance elalui #elayanan #ublik. 4ogyakarta/ 0adjah Mada Uni'ersity Press.
%ardiyansyah, !77. %ualitas #elayanan #ublik* %onsep, imensi, +ndikator dan +mplementasinya, 4ogyakarta/ 0a'a Media.
%umas MB$P$*&, encari itik emu #engertian iskresi dalam R !dpem, dalam http/??www.menpan.go.id?berita-terkini?:23-mencari-titik-temu-pengertian-diskresi-dalam-uu-adpem, diakses tanggal 7 Mei !73.
(oran *akyat Merdeka, Bdisi Minggu, 7: Mei !73 hal. 8, #emerintah dan #R iminta #er&elas ak iskresi %epala aerah, dalam rakyatmerdeka-online.com, diakses
tanggal 7 Mei !73.
Pattiro, )iskresi %arus )iatur dalam *UU Pemda agar Pejabat idak (ebal %ukum, dalam http/??pattiro.org?DpE7:33, diakses tanggal 7 Mei !73.
Pikiran *akyat, iskresi %epala aerah #erlu ilindungi ukum, dalam http/??www.pikiran-rakyat.com?node?37", diakses tanggal 7 Mei !73.
Pikiran *akyat, %ewenangan iskresi %epala aerah alam R o /0 apat #erbesar #otensi %orupsi, dalam http/??www.pikiran-rakyat.com?node?37" diakses pada 7
#adjijono, !!8. emahami "eberapa "ab #okok ukum !dministrasi, 4ogyakarta/ 9aks&ang Pressindo.
=ibawa, #amodra. !!". Reformasi !dministrasi, "unga Rampai #emikiran !dminstrasi egara1#ublik . 4ogyakarta/ 0a'a Media.
=idodo, @oko. !!7. Good Governance * elaah dari imensi !kuntabilitas dan %ontrol "irokrasi #ada 2ra esentralisasi dan 3tonomi aerah. #urabaya/ Insan Fendekia. 4ilma;, #erdar., 4akup &eris and *odrigo #errano &erthet, 9inking 9ocal 0o'ernment
)iscretion and ccountability in )ecentralisation, evelopment #olicy Review, !7!, 8 +3/ 2:-:3