18
Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan PCK mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Cokroaminoto Palopo dalam hal penyusunan RPP. Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan Biologi yang telah memprogram Magang III pada tahun akademik 2018/2019 yang berumlah 27 orang. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan dokumen RPP yang telah dibuat oleh mahasiswa selama kegiatan Magang III. Kemudian RPP diamati dengan menggunakan lembar observasi. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dan ditabulasikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan PCK mahasiswa dalam pembuatan RPP berada pada kategori sangat baik (rata-rata 86.3)
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) MAHASISWA DALAM
PEMBUATAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RPP
Mutmainna ekawati, eva sohriati
Keywords :
© 2019 Universitas Cokroaminoto palopo
p-ISSN 2573-5163
e-ISSN 2579-7085
Correspondence Author :
Kampus 1 Universitas Cokroaminoto Palopo.
Jl.Latamacelling No. 19
PCK, RPP
Volume 4 Nomor 2, September 2019
Biogenerasi
Jurnal Pendidikan Biologi
http://www.e-journal.my.id
19
1. PENDAHULUANDunia pendidikan tidak terlepas dari peran seorang guru. Guru merupakan tokoh sentral yang diperlukan untuk memacu keberhasilan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru dipacu agar selalu memperkaya pengetahuan baik dalam bidang keilmuan maupun penerapannya. Guru dituntut untuk mampu bersikap profesional baik dalam penguasaan ilmu maupun perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Harlen & Holroyd (1997) menyatakan bahwa pengetahuan konten yang kuat dari seorang guru, akan memberikan pengaruh yang positif pada pembuatan keputusan yang berhubungan dengan perubahan strategi mengajar. Seorang guru yang memiliki pengetahuan konten yang baik akan mampu mengkonstruk elemen materi secara simultan dalam memori kerja, memperhatikan pengetahuan awal siswa dengan cara memberi arahan, materi tidak disampaikan sekaligus atau mempertimbangkan pengetahuan prasyarat.
Selain pengetahuan tentang konten (content knowledge), seorang guru harus memahami dan mampu mengintegrasikan pengetahuan konten ke dalam pengetahuan pedagogi (pedagogy knowledge) yaitu tentang kurikulum, pembelajaran, mengajar, dan karakteristik siswa. Pengetahuan-pengetahuan tersebut akhirnya dapat menuntun guru untuk merangkai situasi pembelajaran sesuai kebutuhan individual dan kelompok siswa. Pengetahuan seperti ini dinyatakan sebagai pengetahuan konten pedagogi/Pedagogical Content Knowledge atau disebut PCK (NRC, 1996). Salah satu kompetensi dalam pedagogi adalah kemampuan dalam menyusun perangkat pembelajaran seperti RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). RPP digunakan sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berisi Identitas, Alokasi Waktu, Materi Pokok, Kompetensi Inti, Indikator, Tujuan Pembelajaran, Materi Ajar, Langkah Pembelajaran, Media Pembelajaran, Penilaian, dan Sumber Belajar (Standar Proses Nomor 65 Tahun 2013). Jika seorang guru mampu mengkolaborasikan materi ajar dengan RPP, hal yang nantinya akan mengantarkan guru menjadi tenaga pendidik yang profesional. Keterampilan-keterampilan tersebut diharapkan mampu dikuasai oleh mahasiswa pendidikan atau calon guru.
Berdasarkan uraian di atas sangat diperlukan suatu kemampuan PCK calon guru untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Peneliti tergerak untuk melakukan penelitian tentang Kemampuan PCK (Paedagogical Content Knowledge) mahasiswa pendidikan biologi yang telah melakukan aktivitas Magang III.
2. KAJIAN PUSTAKA
Salah satu tugas pokok guru adalah mengajar. Perlu diketahui bahwa mengajar bukan hanya merupakan suatu proses mentransfer informasi dari guru ke siswa, melainkan merupakan suatu proses yang kompleks meliputi banyak aktivitas, kegiatan, dan tindakan yang harus dilakukan. Menurut Purwianingsih et al. 2010, seorang guru seharusnya mempunyai suatu pengetahuan tentang bagaimana mengajarkan suatu bahan ajar kepada siswanya. Pembelajaran yang merupakan upaya mengarahkan siswa untuk dapat menjangkau aspek konten, baik sintaks maupun substansi, tidak akan tercapai tanpa dibarengi adanya pengetahuan strategi pengajaran yang tepat yang diterapkan oleh guru. Guru yang ingin mengajar sains secara efektif harus lebih dari sekedar mengetahui tentang isi (konten) yang akan diajarkan dan beberapa cara pengajarannya. Guru tersebut juga harus paham dan mampu dalam mengintegrasikan pengetahuan konten ke dalam pengetahuan tentang kurikulum, pembelajaran, mengajar dan siswa. Pengetahuan-pengetahuan tersebut akhirnya dapat menuntun guru untuk merangkai situasi pembelajaran pada kebutuhan individu dan kelompok siswa. Pedagogical content knowledge atau yang disingkat PCK merupakan sebuah gagasan yang menyajikan pemahaman bahwa pendidik membutuhkan pengalaman tentang bagaimana mengajar konten tertentu dengan cara khusus agar pemahaman siswa tercapai.
PCK berakar dari keyakinan bahwa mengajar memerlukan lebih dari sekedar pemberian pengetahuan muatan subjek kepada siswa dan siswa belajar tidak sekedar hanya menyerap informasi tapi lebih dari penerapannya. Walaupun demikian, PCK bukan bentuk tunggal yang sama untuk semua guru yang mengajar area subjek yang sama, melainkan keahlian khusus dengan keistimewaan individu yang berlainan dan dipengaruhi oleh konteks/suasana mengajar, isi dan pengalaman. PCK mencakup kegiatan inti pengajaran, pembelajaran, kurikulum, penilaian, dan pelaporan yaitu yang mendukung kegiatan belajar siswa dan hubungan antara kurikulum, penilaian, dan pedagogi (Mishra & Koehler, 2009).
PCK pada masing-masing guru boleh berbeda, tetapi paling tidak merupakan titik temu pengetahuan professional guru dan keahlian guru. Untuk dapat mengenal dan menilai pengembangan PCKnya masing-masing, guru perlu memiliki pemahaman konseptual yang kaya tentang isi subjek tertentu yang mereka ajarkan. Pemahaman konseptual yang kaya ini berkombinasi dengan keahlian dalam pengembangan, penggunaan dan adaptasi prosedur mengajar, strategi dan pendekatan untuk digunakan dalam kelas, penggabungan tersebut dapat menghasilkan amalgam dari pengetahuan konten dan pedagogi yang dijelaskan oleh Shulman (1987) sebagai PCK. PCK dapat dilihat sebagai interseksi antara pedagogy knowledge (PK) dan content
20
knowledge (CK). Pedagogi berarti cara-cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk membantu siswa belajar dan memecahkan problem-problem sains (Enfield, 2007). Konten merupakan pengetahuan sains yang semestinya dikuasai oleh pengajar mencakup fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori (Dahar &Siregar, 2000).Terdapat beragam konsep mengenai PCK, tetapi para peneliti pendidikan telah sepakat bahwa PCK merupakan kumpulan pengetahuan yang terintegrasi dengan konsep, kepercayaan dan nilai yang dikembangkan guru pada situasi mengajar (Loughran et al, 2012); dan menurut Van Driel et al., 2010 merupakan pengetahuan pengalaman dan keahlian yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman di kelas. Dengan demikian calon guru biasanya memiliki PCK yang minim dibandingkan dengan guru yang berpengalaman (Lee et al, 2007).
Hubungan antara konten dan pedagogi dapat dijelaskan sebagai berikut. Pengetahuan konten mengharapkan guru dapat meng-hubungkan dan melihat hubungan antar konsep, sedangkan pengetahuan pedagogi mengharapkan guru menguasai cara-cara yang dapat membantu siswa belajar tentang problem sains. Pada aspek pengetahuan konten diharapkan guru dapat belajar dan mengajar dengan proses inkuiri, sedangkan pedagogi diharapkan guru dapat memberi pengalaman pada siswa untuk membuat atau melakukan proses inkuiri. Pernyataan-pernyataan di atas menunjukkan bahwa ada interseksi/irisan antara konten dengan pedagogi. Irisan inilah yang kemudian kita kenal dengan pengetahuan konten pedagogi (Pedagogical Content Knowledge) atau disingkat PCK (Enfield, 2007).
Menurut van Driel et al. (2010) PCK dianggap pengetahuan keahlian, didefinisikan sebagai pengetahuan terintegrasi yang menyajikan akumulasi kebijaksanaan guru mengenai praktek mengajar mereka. Sebagai pengetahuan keahlian menuntun aksi guru dalam praktek, meliputi pengetahuan guru dan keyakinan tentang berbagai aspek seperti pedagogi, murid, materi subjek dan kurikulum. Pengetahuan keahlian ini diperoleh dari pendidikan sebelumnya, latar belakang personal guru, konteks mengajar, dan melalui pengalaman mengajar yang sedang berlangsung. Oleh karena itu kebijaksanaan dari pengetahuan keahlian menghasilkan perilaku efektif pada sebagian guru yang memilikinya.
Pengenalan PCK seseorang menjadi jelas bila mengajar diluar area subjek keahlian. Bagaimanapun juga kemampuan guru akan kuat bila mengajar subjek spesialisnya, ketrampilan dan kemampuan diragukan segera bila isi pengajaran kurang dipahami. Ketika mengajar diluar area subjek keahlian seseorang, meskipun memiliki pengetahuan prosedur mengajar yang sangat maju (misalnya diagram Venn, peta konsep, diskusi interpretif dll) atau muatan pengetahuan yang sangat spesialis (misalnya spesialis dalam fisika, biologi atau kimia dll)
keterampilan guru dalam mengkombinasi isi pengetahuan dan pedagogi dalam cara yang bermakna segera akan tampak. Isu yang berasosiasi dengan aspek kesulitan topic tertentu, konsepsi alternative murid, ide besar yang penting, kaitan konseptual, pemicu belajar dll, tidak dikenal atau tidak dimengerti oleh guru bila pemahaman konten subjeknya kurang, dan dalam elemen praktek professional seperti PCK ditonjolkan perbedaan jelas antara pengetahuan pedagogi dengan pengetahuan konten sendiri.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selajutnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut kemudian disusunlah stamdar pendidikan nasional, terdiri atas: standar lulusan, standar isi, standar proses, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.
Dalam penyusunan sebuah perencanaan Pembelajaran guru harus mengacu pada standar pendidikan, terutama sekali Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 35 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kompetensi Lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang akan menjadi acuan bagi pengembangan kurikulum dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. penetapan pendekatan kompetensi lulusan didahului dengan mengindentifikasi apa yang hendak dibentuk, dibangun, dan diberdayakan dalam diri peserta didik sebagai jaminan yang akan mereka capai setelah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu. Pendekatan kompetensi lulusan menekankan pada kemampuan holistik harus dimiliki oleh setiap peserta didik. Hal itu akan membawa implikasi terhadap apa yang harus dipelajari oleh setiap individu peserta didik, bagaimana cara mengajarkan, dan kapan diajarkan (Rindawan, 2014).
21
3. METODOLOGI PENELITIAN3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Moleong (2010), mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati
.
3.2 Populasi dan Sampel
Penelitian ini dilaksanakan di Kampus I Universitas Cokroaminoto Palopo yaitu pada bulan April 2019 sampai dengan bulan Agustus 2019. Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Biologi semester VI yang telah melaksanakan program Magang III pada tahun pelajaran 2018/2019. Mahasiswa yang menjadi sampel pada penelitian ini berjumlah 27 orang.
3.3 Prosedur Penelitian
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi RPP yang telah dibuat mahasiswa pada saat melaksanakan program Magang III pada tahun ajaran 2018/2019. Adapun mekanismenya adalah sebagai berikut:
1. Peneliti mengumpulkan RPP yang telah dibuat oleh mahasiswa pendidikan Biologi semester VI yang memprogram Magang III. 2. Peneliti menganalisis RPP yang telah dikumpulkan dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah divalidasi.
3. Hasil analisis kemudian ditabulasikan dan dideskripsikan.
Data pada penelitian ini dianalis secara kualitatif dengan mengamati beberapa indikator kemampuan yang muncul pada RPP yang telah dibuat oleh mahasiswa.
Tabel 1. Analisis kemampuan PCK dalam pembuatan RPP
Aspek Indikator Kemampuan Persentase Kategori
Kesesuaian CK dan PK 1. Kesesuaian materi dengan strategi/metode/pendek atan 2. Kesesuaian materi dengan media 3. Kesesuaian materi dengan evaluasi 4. Kesesuai materi
dengan alokasi waktu
Kategori diadaptasi dari kriteria interprestasi skor (Arikunto, 2011) :
≤ 35 % : Tidak Baik 36% - 51% : Kurang Baik
52% - 67 % : Cukup
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut hasil pengamatan PCK mahasiswa dalam membuat RPP perindikator:
Gambar 1. Persentase PCK mahasiswa dalam pembuatan RPP
Gambar 1 menunjukkan persentase kemampuan mahasiswa dalam pembuatan RPP yang ditampilkan perindikator. Hasil menunjukkan bahwa dari keempat indikator yang diamati, tiga indikator yaitu Indikator 1, Indikator 2, dan Indikator 4 sudah berada pada ketegori Sangat Baik. Sedangkan untuk indikator 3 berada pada ketegori cukup. Indikator 1 yaitu kemampuan mahasiswa dalam memilih metode, pendekatan, atau model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran. Dari hasil analisis diperoleh persentase sebesar 93.7 untuk indikator ini. Kemudian untuk Indikator 2 diperoleh persentase sebesar 95.8. Persentase ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam memilih media yang sesuai dengan materi pembelaaran berada pada kategori Sangat Baik. Mahasiswa telah mampu mengkolaborasikan media pembelajaran dengan materi yang diajarkan. Hal ini terlihat dari pengamatan di RPP masing-masing mahasiswa. Kemudian untuk Indikator 4 diperoleh persentase sebesar 96.3 atau persentase tertinggi jika dibandingkan dengan ketiga indikator lainnya. Indikator ini berisi tentang pengamatan mengenai penentuan alokasi waktu untuk materi pembelajaran. Meskipun dari hasil analisis Indikator 4 merupakan indikator yang paling baik persentasenya, akan tetapi masih ditemukan beberapa mahasiswa yang masih tidak mampu mengalokasikan waktu pembelajaran yang terlihat dari pembagian alokasi waktu di kegiatan pembelajaran yang masih rancu.
Indikator 3 menunjukkan persentase terendah dari hasil analisis yaitu berada pada kategori cukup dengan persentase sebesar 59.9. Indikator 3 berisi pengamatan mengenai kemampuan mahasiswa dalam menyesuaikan materi dengan evaluasi pembelajaran. Subindikator untuk Indikator 3 yaitu: a) kesesuaian teknik penilaian dengan materi; b) kesesuaian variasi soal dengan materi, dan c) kesesuaian jenis soal dengan materi. Dalam RPP
0 50 100
93.7 95.8
22
mahasiswa tidak mencantumkan teknik evaluasi yang digunakan. pun jika ada, mahasiswa masih kurang tepat dalam membedakan tes dan nontes. Soal evaluasi dibuat kurang bervariasi dengan hanya membuat soal essai yang masih berputar di jenjang kognitif C1 sampai C3. Soal yang dibuat belum mampu mengakomodir kompetensi dasar ataupun tujuan belajar yang sebelumnya telah dirumuskan oleh mahasiswa.Tabel 2. Kategori Kemampuan PCK mahasiswa dalam Pembuatan RPP Aspek Indikator Kemampuan Persen tase Kateg ori Kesesu aian CK dan PK 1. Kesesuaian materi dengan strategi/metode /pendekatan 93.7 Sanga t Baik 2. Kesesuaian materi dengan media 95.8 Sanga t Baik 3. Kesesuaian materi dengan evaluasi 59.9 Cuku p 4. Kesesuaian materi dengan alokasi waktu 96.3 Sanga t Baik Rata-rata 86.3 Sang at Baik
Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam membuat perangkat evaluasi masih sangat kurang. Mahasiswa masih membutuhkan latihan untuk membuat alat evaluasi yang tepat yang sesuai dengan materi dan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Van Driel et al., 2010 dan Lee et al, 2007 yang menyatakan bahwa PCK merupakan pengetahuan pengalaman dan keahlian yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman di kelas. Dengan demikian calon guru biasanya memiliki PCK yang minim dibandingkan dengan guru yang berpengalaman. Untuk memperoleh kemampuan PCK yang baik harus dibarengi dengan pengalaman-pengalaman nyata yang nanti akan mahasiswa peroleh ketika sudah terlibat langsung dalam dunia belajar mengajar yang nyata dan berkelanjutan.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kemampuan PCK mahasiswa dalam pembuatan RPP dan kategori sangat baik. Mahasiswa telah mampu mengintegrasikan antara pengetahuan konten dan pedagogi pada beberapa indikator.
REFERENSI
Anwar, S. (2013). Pengolahan Bahan Ajar. Handout perkuliahan. Bandung: tidak diterbitkan.
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Borg, W. R. dan Gall, M. D. 1989. Educational Research An introduction. New York: Longman
Dikti. (2008). Pengembangan Bahan Ajar. Diakses pada tanggal 12 Februari 2018
dari halaman
www.dikti.go.id/files/atur/KTSP-SMK/11.pp
Duit, R. (2009). Bibliography - Students' and Teachers' Conceptions and Science Education. Diakses pada tanggal 26 Januari 2018 dari halaman
http://www.ipn.uni-kiel.de/aktuell/stcse/stcse.html.
Hadiyanti, N. &Widodo, A. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Materi Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Berbasis Pengetahuan Awal Siswa SMA. Jurnal Pembelajaran Biologi, Volume 2, Nomor 1, Mei 2015.
Hestenes, D. & Halloun, I. 1995. Interpreting the Force Concept Inventory. The Physics Teacher, 33(8), 502–506. Diakses dari halaman
http://www.physics.emory.edu/faculty/we eks/journal/hestenes-tpt95.pdf
Kusumah, F.H. 2013. Diagnosis Miskonsepsi Siswa Pada Materi Kalor Menggunakan Three-Tier Test .Educationist VII (1), pp. 11-20.
Nieberg, K & Gropengiesser, H. 2013. The Model of Educational Reconstruction: a Framework for the Design of Theory-Based Content Spesific Intervention. The Example of Climate Change. Netherland : SLO.
Moleong, L. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaa Rosdakarya. Jakarta. Pesman, H. (2005). Development of A Three-Tier
Test to Assess Ninth Grade Students’ Misconceptions about Simple Electric Circuits. Department of Secondary Science and Mathematics Education, Middle East Technical University, Turkey.
Posner, G.J. (1982). Accomodation of A scientific Conception: toward A Theory of Conceptual Change. Science Education 66 (2): 211-227.
Yusmaika, E. 2017. Pengembangan Model Rekonstruksi Pendidikan Pada Bahan