173 Wahyu Kusdiyantono
06560033
BAB V
KONSEP RANCANGAN
Konsep yang digunakan dalam perancangan museum olah raga ini adalah Metafora dari Gerakan Shalat, dimana konsep ini merupakan hasil penggabungan antara:
Nilai gerakan shalat, yaitu: kebersamaan, kesucian, filsafat gerak, kiblat. Fungsi gerakan shalat saat sujud antara lain: adanya melancarkan aliran darah, menyejukkan.
Bentuk tubuh saat melaksanakan shalat (bentuk tubuh pada saat sujud), yang kemudian diaplikasikan ke dalam perancangan sebuah sarana public berupa Museum Olah Raga.
5.1 Konsep Tapak
5.1.1 Konsep aksesibilitas adalah merupakan penerapan dari nilai kebersamaan dan kesucian.
Konsep pencapaian tapak, direncanakan dengan melakukan pembedaan jalur sirkulasi menjadi 2 jalur, yaitu: melalui main entrance pada bagian sebelah barat site yang dapat dicapai melalui pedestrian sebagai sirkulasi pejalan kaki dan area parkir sebagai sirkulasi kendaraan. Pencapaian dua jalur ini lebih ditujukan untuk memudahkan pencapaian bagi pengguna bangunan.
Adapun konsep aksesibilitas di luar bangunan dalah sebagai berikut: a. Dengan tidak adanya pembeda antara golongan kaya dan golongan miskin
174 Wahyu Kusdiyantono
06560033
semua orang. Baik itu orang tua maupun muda dan normal, maupun orang cacat (penggunaan ramp dengan kemiringan yang cukup kecil, untuk pejalan kaki dengan penempatan bordes tiap ketinggian 1.2 m (meter) yang berfungsi sebagai tempat beristirahat sementara, untuk pengunjung berusia lanjut dan penderita cacat/ kelainan).
b. Konsep sirkulasi kendaraan menuju parkir dibuat semakin menurun, yang memiliki makna bahwasanya di hadapan Tuhan semua orang itu sama. Tidak ada pembeda antara golongan kaya dengan golongan miskin, sehingga kendaraan yang diumpamakan sebagai harta yang bersifat keduniawian dilepas ketika melakukan ibadah shalat
175 Wahyu Kusdiyantono
06560033 Gambar 5.1 Konsep aksesibilitas Menuju Bangunan
Sumber : Hasil analisis (2011)
5.1.2 Konsep view adalah merupakan penerapan dari kiblat.
Konsep pandangan ini disesuaikan dengan pandangan yang memiliki potensi bagi pengunjung, bangunan dan sekitarnya. Pandangan juga menentukan estetika bangunan, konsep pandangan dibagi menjadi dua yaitu pandangan ke dalam dan pandangan ke luar. Pandangan dalam tapak yang berpotensi hanya satu
176 Wahyu Kusdiyantono
06560033
arah, dan pandangan yang lain hanya mendukung dari pandangan tersebut. Sehingga, dari hasil analisa view bangunan lebih diarahkan menghadap ke arah barat tapak. Selain itu pandangan ke barat juga mendukung antara analisa pandangan dan analisa matahari, karena pandangan ke barat juga membelakangi arah sinar matahari. Selain itu, pandangan ke arah barat juga sesuai dengan arah
kiblat saat shalat untuk area kota Malang dan sekitarnya, yaitu menghadap ke arah
barat.
a) Konsep Pandangan Ke dalam Museum.
Bangunan Museum dibuat lebih tinggi dari permukaan jalan untuk memberikan adanya pembedaan fungsi bangunan, dengan bangunan sekitar nya yang memiliki fungsi sebagai fungsi permukiman dan fungsi perdagangan.
Gambar 5.2 View Ke Dalam Berupa Peninggian Kontur
Sumber : Hasil analisis (2011) b) Konsep Pandangan ke luar Museum
Konsep pandangan ke luar hanya digunakan pada area kantor pengelola saja, karena pada unit ruang kantor pengelola yang cenderung bersifat statis. Sedangkan pada ruang pameran pandangan ke luar tidak digunakan agar perhatian pengunjung tidak terpecah. Agar pandangan ke luar dapat digunakan secara maksimal, bukaan menggunakan material kaca terang agar dapat melihat objek
177 Wahyu Kusdiyantono
06560033
secara jelas. Sedangkan dari luar berfungsi sebagai shading device penghalang sinar berlebihan dari sinar matahari.
Gambar 5.3 Konsep Pandangan Keluar
Sumber : Hasil analisis (2011)
5.1.3 Konsep vegetasi adalah merupakan penerapan fungsi gerakan shalat yaitu menyejukkan/ refresh
Gambar 5.4 Konsep Vegetasi
(Sumber: Analisa 2011)
Vegetasi yang digunakan pada konsep ini adalah vegetasi pengarah, peneduh, Dimana vegetasi ini memiliki fungsi yang berbeda pada tiap ruang aktifitas dan zona. Vegetasi sebagai penghalang angin berada pada selatan tapak,
Pemaksimalan penggunaan bukaan Yang mengarah ke arah barat (kiblat)
Vegetasi peneduh
178 Wahyu Kusdiyantono
06560033
setidaknya mengurangi gerakan angin yang terlalu kencang. Jenis vegetasi yang digunakan yaitu vegetasi yang memiliki daun bertajuk karena daunnya yang lebat. Vegetasi pengarah, bentuk tiang lurus, tinggi, sedikit/tidak bercabang, tajuk bagus, penuntun pandang, pengarah jalan, pemecah angin. Vegetasi ini memberikan kesan vertikal dan berbaris mengikuti jalan, menggerakkan pengunjung mengikuti jalan
Gambar 5.5 Pohon pengarah dan Peneduh
Sumber : Analisa 2011
Tanaman peneduh, percabangan mendatar, daun lebat, tidak mudah rontok, 3 macam (pekat, sedang, transparan). Vegetasi ini sebagai penghasil oksigen dan penyerap karbon dioksida terbanyak karena dilihat dari fungsinya sebagai peneduh. Vegetasi ini diletakkan pada sisi jalan pada area pejalan kaki. Vegetasi ini yaitu pohon mahoni.
179 Wahyu Kusdiyantono
06560033
5.2 Konsep Ruang
5.2.1 Pengaturan hirarki koleksi adalah merupakan penerapan dari Nilai Filsafat gerak
Gambar 5.6 Konsep Penataan Koleksi Museum
Sumber : Hasil analisis (2011)
5.2.2 Sirkulasi pengunjung di dalam Museum merupakan penerapan fungsi gerakan shalat yaitu memperlancar aliran darah.
Konsep aksesibilitas di dalam bangunan adalah merupakan aplikasi dari fungsi dari gerakan shalat, yaitu pada saat sujud sirkulasi darah yang membawa oksigen menuju otak dan keseluruh tubuh yang dimetaforkan dengan arah aksesibilitas pengunjung dalam ruan
180 Wahyu Kusdiyantono
06560033 Gambar 5.7 Konsep Sirkulasi Pengunjung
181 Wahyu Kusdiyantono
06560033
5.3 Konsep Iklim 5.3.1 Matahari
Matahari membawa sinar dan panas, sehingga konsep bentukan bangunan adalah bisa mendapatkan bagaimana carana agar tiap ruang bisa mendapatkan pencahayaan alami, tanpa harus terasa panas.
5.3.2 Angin
Angin dimanfaatkan untuk menghapus panas dalam ruangan, melalui penggunaan bentukan lengkung yang bersifat aerodinamis sehingga angin tidak sampai di pentulkan, akan tetapi angin tersebut dibelokkan searah dengan arah bidang lengkung yang terkena angin secara langsung.
Gbr.5.8 Bentuk Terhadap Iklim.
182 Wahyu Kusdiyantono
06560033
5.4 Konsep Utilitas
5.4.1 Sistem Penyediaan Air Bersih
Kebutuhan air pada daerah tapak ini diperoleh dari air-air tanah (sumur bor) dan PDAM yang jaringanya mencakup jalan-jalan utama (saluran primer) dan sebagian jalan lingkungan (saluran sekunder). Air dari PDAM ditampung di bak penampungan air, kemudian oleh pompa penekan air dialirkan menuju roof tank, dan dengan gaya gravitasi air bersih mengalir ke tiap-tiap lantai.
Bagan 5.1 Diagram Sistem Penyediaan Air Bersih
(Sumber: Analisis, 2011)
5.4.2 Sistem Pembuangan air kotor dan pembuangan sampah. a. Dari kloset dan wastafel.
Bagan 5.2 Diagram Sistem Pembuangan Kloset dan Wastafel
183 Wahyu Kusdiyantono
06560033
b. Dari air hujan.
Bagan 5.3 Diagram Sistem pembuangan air hujan
(Sumber: Analisis, 2011) c. Pembuangan sampah
Pada beberapa titik tapak, terutama pada jaur sirkulasi utama dietakkan unitunit bak sampah, kemudian area pembuangan sampah sementara, yang kemudian dipindah oleh kereta sampah menuju tempat pembuanan akhir tapak.
Bagan 5.4 Diagram Sistem Pembuangan Sampah
(Sumber: Analisis, 2011) 5.4.3 Sistem Distribusi Listrik
Sistem jaringan PLN masuk ke ruang elektrikal dan dihubungkan dengan system ATS (Automatic Transfer System) yang mentranzformasi aliran genset secara otomatis jika terjadi pemadaman dari PLN. Selanjutnya dihubungkan
184 Wahyu Kusdiyantono
06560033
dengan panel distribusi utama kemudian ke panel-panel distribusi pada unit bangunan.
Bagan 5.5 Diagram Sistem Distribusi Listrik
(Sumber: Analisis, 2011). Sound sistem dan audio visual
Menggunakan sistem public adres untuk mengumumkan informasi di dalam bangunan, microphone dan speaker sebagai alat pengeras suara dalam aktivitas pameran dan pertemuan, simultaneous interpreter untuk mendengarkan suara dari penerjemah dalam aktivitas pertemuan, CCTV sebagai alat memantau keamanan bangunan, dan car calling untuk memanggil sopir dan mobilnya.
Sistem Komunikasi
Menggunakan telepon dengan sistem Private Automatic Branch Exchange (PABX) untuk komunikasi, baik internal maupun eksternal.
Bagan 5.6 Diagram Sistem Distribusi Listrik
185 Wahyu Kusdiyantono
06560033
5.4.4 Sistem Transportasi Bangunan a. Escalator dan lift.
Sistem transportasi vertikal menggunakan eskalator dan lift, yang meliputi lift passenger terletak di area lantai dan lift sevice. Selain itu juga terdapat tangga darurat yang tahan api, tahan panas, dan dilengkapi exhaust fan yang berfungsi menghubungkan tiap lantai dalam bangunan jika terjadi kebakaran.
Gambar 5.9 Sistem Transportasi Bangunan
(Sumber: Analisis, 2011)
b. Tangga manual dan ramp sebagai makna sosial kepada disable person (cacat)
Gambar 5.10 Sistem Transportasi Bangunan
186 Wahyu Kusdiyantono
06560033
5.4.5 Sistem Pengkondisian Udara
Sistem pengkondisian udara terbagi dua yaitu secara mekanis dan buatan. Secara mekanis adalah dengan exhaust fan dan focal fan pada ruang-ruang seperti dapur, tangga darurat dan ruang mesin. Sistem pengkondisian udara buatan dengan sistem AC sentral, dengan Air Handling Unit (AHU) di setiap lantai bangunan.
Bagan 5.7 Diagram Sistem Pengkondisian Udara
(Sumber: Analisis, 2011) 5.4.6 Sistem Keamanan
Sistem ini digunakan untuk mencegah terhadap gangguan keamanan pada Museum Olah Raga. Sistem ini diterapkan pada setiap ruang-ruang utama pusat pemasaran, dengan cara sebagai berikut:
1) Penggunaan/penempatan kamera CCTV pada tempat-tempat tertentu yang dimonitor dari ruang keamanan.
187 Wahyu Kusdiyantono
06560033 Bagan 5.8 Diagram Sistem Keamanan
(Sumber: Analisis, 2011) 5.4.7 Fire protection system
Sistem evakuasi (penyelamatan): yaitu cara yang diambil oleh penghuni untuk segera keluar melalui pintu-pintu darurat yang tersedia, yaitu :
a. Sirkulasi, lorong dan pintu darurat yang memenuhi syarat. b. Tangga darurat
c. Perlu adanya alat penerangan secara otomatis dan bersifat emergency, sebagai penunjuk arah tangga.
d. Perlu adanya Exhaust fan penghisap asap di depan tangga dan Pressure fan pemberi tekanan dalam ruang tangga.
Tipe alat pemadam dan pencegah kebakaran yang digunakan antar lain : Hydrant, yang ditempatkan pada daerah-daerah yang strategis dan mudah
dijangkau bila banguna terjadi kebakaran.
Spinkler, sistem ini ditempatkan pada plafond disepanjang koridor ruangan dan di dalam ruang pamer. Sprinkler ini akan bekerja otomatis apabila detektor panas (heat detecttor) menangkap adanya sinyal kebakaran.
188 Wahyu Kusdiyantono
06560033 Bagan 5.9 Diagram Sistem Hydrant & Sprinkler
(Sumber: Analisis, 2011)
Fire Alarm System, memberi tanda adanya bahaya kebakaran.
Gambar 5.11 : Fire Alarm (Sumber : Google Image Photo, 2011)
Fire Detection System, Pendeteksi bahaya kebakaran.
Gambar 4.12 : Fire detection
189 Wahyu Kusdiyantono
06560033 Springkler system, sistem penyemprot air otomatis saat terjadi kebakaran.
Gambar 5.13 Springkler
(Sumber : Google Image photo, 2011)
Halon gas, pada daerah yang tidak boleh menggunakan air untuk memadamkan kebakaran misalnya ruang arsip, dimana tabung halon diletakkan dan dihubungkan dengan kepala sprinkler. Ketika terjadi kebakaran, kepala sprinkler akan pecah dan gas halon secara otomatis mengalir keluar untuk memadamkan api. Selain gas ini, bisa juga memakai busa / foam, dry chemical seperti CO2.
Gambar 5.14 Dry Chemical
190 Wahyu Kusdiyantono
06560033
5.5 Konsep Sistem Struktur Bangunan.
Pemilihan konsep struktur pada Museum Olah Raga ini didasarkan pada bentuk bangunan, bahan pelapis atau penutup struktur, jumlah lantai, dan fungsi ruang :
1. Pondasi
Museum olah raga terletak di daerah persawahan sehingga kadar air di dalam tanah yang cukup tinmggi hanya terletak pada permukaan tanah.
a. Pondasi pancang.
Bangunan yang direncanakan adalah memiliki ketinggian 3 lantai, sehingga struktur pondasi yang digunakan adalah pondasi pancang, dimana pada tiap kolom terdiri dari satu atau lebih tiang pancang yang masing-masing diikat oleh poor (pile cap) kemudian dihubungkan dengan sloof ke titik kolom yang lain. Selain dari segi factor ketinggian bangunan, penggunaan pondasi tiang pancang ini dikarenakan penggunaan pondasi ini lebih praktis (karena merupakan bahan bangunan hasil fabrikasi) dan untuk panjangnya dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Gambar 4.15 Struktur tiang pancang
(Sumber : Ir.Arief Rahman S, ST Mata kuliah Teknologi Bahan)
191 Wahyu Kusdiyantono
06560033
b. Pondasi plat.
Penggunaan pondasi plat ini dikarenakan bangunan ini di bangun diatas lahan bekas lahan pertanian yang memiliki kadar air yang cukup tinggi pada permukaan tanah.
2. Struktur Dinding
Struktur dinding menggunakan struktur bata dan baja karena baja dapat dimodifikasi dalam berbagai bentuk. Sebagai penutup dinding adalah bata dan gipsum pada sekat struktur kolom praktis. Sedangkan pada penutup struktur kolom utama menggunakan batako ringan agar masa beban bangunan bisa sedikit lebih ringan dan batu bata.
Gambar 5.16 Struktur Dinding
(Sumber : Hasil analisis (2011)
Bahan interior
Bata
192 Wahyu Kusdiyantono
06560033
3. Stuktur pada basement menggunakan stuktur plat beton dengan lapisan atas aspal sebagai sirkulasi jalan kendaraan dan parkir.
Gambar 5.17 Struktur pada basement.
(Sumber : Analisa 2011) 4. Atap
Bentangan struktur yang digunakan dalam hall menggunakan struktur rangka ruang, Rangka pada langit-langit dan penyambungan baja ditampakkan sebagai elemen visual dalam ruang dan pada bagian atas nya menggunakan material kaca, untuk mendapatkan cahaya sinar matahari (pada bagian hall). Dan menggunakan material zinklume.
Pasir Urug Plat beton Aspal
193 Wahyu Kusdiyantono
06560033 Gambar 5.18 Struktur Rangka Ruang, Rangka Kabel Dan Rangka
(Sumber : Analis 2011)
5. Pada sistem utilitas a. Tangga Darurat
Pada sistem tangga darurat menggunakan matrial beton dengan tulangan baja, hal ini dikarenakan beton, memiliki daya tahan terhadap bahaya kebakaran cukup baik.
194 Wahyu Kusdiyantono
06560033 b. Escalator
Gambar 5.19 Sistem Transportasi Bangunan
(Sumber: Analisis, 2011) 5.6 Konsep Bentuk
Tangible metaphore yang diambil dan disajian dalam bentuk sketsa ini adalah dengan menggabungkan gerakan shalat yang terdiri dari posisi saat berdiri, ruku’ dan sujud untuk kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk bangunan 3D sebagai wujud bangunan. Sedangkan intangible metaphore diambil dari nilai yang terkandung dalam gerakan shalat tersebut. Dan kemudian diaplikasikan terhadap penataan masa bangunan dan sifat ruang sebagai bentuk metafora gerakan shalat yang bersifat abstrak.
Gambar 5.20 gerakan shalat sebagai konsep (Sumber : Analisa, 2011)
Pengambilan ide bentuk gerakan shalat ini, diperoleh dari melihat perubahan sudut terbesar yang terjadi dalam gerakan shalat adalah ketika kita
195 Wahyu Kusdiyantono
06560033
melakukan sujud. Selain itu diantara fungsi gerakan shalat yang lain, gerakan pada saat sujud adalah memiliki fungsi dan peranan yang paling besar baik bagi kesehatan tubuh maupun kecerdasan otak seseorang yang memiliki fungsi hamper sama dengan fungsi perancangan Museum ini yaitu sebagai sarana edukasi.
Selain itu gerakan pada saat sujud ini juga sering kita temukan pada ayat suci Al-Qur’an dan terdapat di 31(tiga puluh satu) surat dalam Al-Qur’an, atau sekitar 21.5 % dari jumlah surat yang tercantum dalam alqur’an yang berjumlah 144 surat, dan merupakan salah satu perintah dan anjuran Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwasannya posisi shalat pada saat sujud adalah memiliki fungsi yang cukup besar bagi manusia.
196 Wahyu Kusdiyantono
06560033 Gambar 5.21 Aplikasi Gerakan Saat Sujud Pada Bentuk
197 Wahyu Kusdiyantono
06560033
Kesimpulan konsep secara umum:
Gambar 5.22 Aplikasi Ide Bentuk Gerakan Sujud