• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN KULIAH SISTEM HUKUM INDONESIA MATCH DAY 6 ILMU PENGERTIAN HUKUM (BEGRIFFENWISENSCHAFT)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAHAN KULIAH SISTEM HUKUM INDONESIA MATCH DAY 6 ILMU PENGERTIAN HUKUM (BEGRIFFENWISENSCHAFT)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN KULIAH SISTEM HUKUM INDONESIA MATCH DAY 6

ILMU PENGERTIAN HUKUM (BEGRIFFENWISENSCHAFT)

Mempelajari ilmu hukum sebagai ilmu pengertian hukum, maka materi yang akan dibahas mengenai hak dan kewajiban, keadilan, masyarakat hukum, subyek hukum, obyek hukum, perbuatan hukum, peristiwa hukum, hubungan hukum, dan akibat hukum. Berikut penjelasan singkat dari masing-masing materi tersebut.

1. HAK DAN KEWAJIBAN

Hukum dapat diidentikkan dengan hak dan kewajiban, hal ini dikarenakan secara substansi, hukum memang memberikan hak dan kewajiban kepada manusia. Pertanyaannya adalah “apa definisi hak?” dan “apa definisi kewajiban?”.

Hak adalah wewenang yang diberikan hukum obyektif (hukum yang berlaku umum) kepada subyek hukum. Wewenang yang diberikan kepada subyek hukum ini contohnya wewenang untuk memiliki tanah dan bangunan yang penggunaannya diserahkan kepada pemilik itu sendiri. Ia dapat berbuat apa saja terhadap tanah dan bangunan tersebut, asalkan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Kewenangan untuk berbuat itulah yang biasa disebut hak.1

Pada dasarnya, agak sulit untuk mencari definisi tunggal dari “hak”. Peter Mahmud Marzuki dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum, memberikan beragam definisi hak dari berbagai sudut pandang teori. Dalam pandangan teori berbasis hak, hak merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari hakikat kemanusiaan itu sendiri.2

Selanjutnya, terdapat 2 teori yang mencoba mendefinisikan hak melalui pendekatan teori hakikat hak. Teori yang pertama adalah teori kehendak dan yang kedua adalah teori kepentingan atau kemanfaatan. Teori kehendak dianut oleh mereka yang berpandangan bahwa tujuan hukum memberikan sebanyak mungkin kepada individu kebebasan apa yang dikehendakinya. Teori ini memandang bahwa pemegang hak dapat berbuat apa saja atas haknya. Sedangkan dari sudut pandang teori kepentingan atau kemanfaatan, Rudolf von Ihering sebagai salah satu penganutnya mendefinisikan hak sebagai kepentingan-kepentingan yang dilindungi hukum. GW Paton dalam menelaah kedua teori tersebut berpendapat bahwa esensi hak bukanlah kekuasaan yang dijamin oleh hukum, melainkan kekuasaan yang dijamin oleh hukum untuk merealisasi suatu kepentingan. Sejalan dengan

1 Baca Dudu Duswara Machmudin, 2010, Pengantar Ilmu Hukum Sebuah Sketsa, Refika Aditama,

Bandung, hlm. 53.

(2)

pandangan Paton, Meijers mendefinisikan hak sebagai suatu kewenangan seseorang yang diakui oleh hukum untuk menunaikan kepentingannya.3

Menarik juga untuk mendalami pandangan Ronald Dworkin tentang hak. Menurut Dworkin “rights are best understood as trumps over some background justification for political decisions that the state a goal for the community as a whole” (terjemahan bebas: hak paling tepat dipahami sebagai nilai yang paling tinggi atas justifikasi latar belakang bagi keputusan politis yang menyatakan suatu tujuan bagi masyarakat secara keseluruhan). Dworkin jelas-jelas menempatkan hak sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi oleh siapapun.4

Pada bagian akhir pembahasan mengenai pengertian hak, Peter Mahmud Marzuki menuliskan yang pada intinya dari pandangan-pandangan yang dikemukakan, kiranya pandangan Dworkin yang sesuai dengan hakikat hak itu sendiri. Pandangan Dworkin menguatkan argumentasi pernyataan Peter Mahmud Marzuki bahwa bukan hak diciptakan oleh hukum, melainkan hak yang memaksa adanya hukum. Keberadaan hak tidak dapat dilepaskan dari hakikat kemanusiaan itu sendiri yang adalah ciptaan Allah. Hak, dengan demikian, merupakan satu paket dalam penciptaan manusiasebagai makhluk yang mempunyai aspek fisik dan aspek eksistensial. Diakui atau tidak oleh hukum, hak itu tetap saja ada sebagai bagian dari keberadaan manusia itu sendiri.5

Mengenai macam-macam hak dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu:6

1. Eksistensi hak itu sendiri (hak orisinal dan hak derivatif)

Hak yang melekat pada manusia yang diciptakan satu paket oleh Allah dengan manusia disebut hak orisinal (contoh hak hidup, hak atas kebebasan, dan hak milik). Hak-hak orisinal inilah yang kemudian melahirkan Hak-hak derivatif, yaitu Hak-hak-Hak-hak yang merupakan bentukan hukum (contoh hak menghirup udara segar merupakan derivasi dari hak hidup, hak sewa merupakan derivasi dari hak milik, dan lain-lain)

2. Keterkaitan hak dengan kehidupan bernegara (hak dasar dan hak politik)

Hak dasar adalah hak-hak yang dimiliki setiap orang dan dijamin bebas dari suasana campur tangan negara. Hak-hak yang tertuang dalam Magna Charta, Virginia Bill of Rights, dan La Declaration des Droits des l’Hommes et du Citoyens seperti hak hidup bebas, hak kebebasan, hak keamanan, hak untuk melakukan semua yang tidak merugikan orang lain, dan lain-lain adalah hak-hak dasar.

3Ibid., hlm. 175-176. 4Ibid., hlm. 178. 5Ibid., hlm. 180. 6Ibid., hlm. 185-210.

(3)

W. Duk membedakan antara hak dasar yang bersifat klasik dengan hak dasar sosial. Pada hak dasar yang bersifat klasik, terdapat kewajiban bagi pemerintah untuk tidak melakukan apa-apa untuk melindungi manusia dan warga negara, maksudnya organ-organ pemerintah tidak boleh membuat aturan hukum atau aturan lainnya yang meniadakan hak-hak itu. Sedangkan pada hak-hak-hak-hak dasar sosial justru terdapat kewajiban pemerintah untuk melakukan segala sesuatu dalam melindungi manusia dan warganya. Kebebasan beragama merupakan salah satu contoh dari hak dasar yang bersifat klasik, sedangkan sejauh ini apa yang disebut sebagai hak dasar sosial dapat dikatakan sebagai tuntutan-tuntutan warga negara kepada penguasa. Tuntutan-tuntutan itu berupa bahwa semua organ pemerintah harus mewujudkan tujuan sebagaimana terdapat pada teks-teks tempat hak-hak dasar tersebut dituangkan. Akan tetapi ukuran dilaksanakannya apa yang tertuang dalam teks itu bukan berupa hasil yang dicapai, melainkan pemerintah telah berusaha dengan cara yang memadai dan dengan segenap usaha telah melaksanakannya.

Di samping memiliki hak dasar sebagai individu, warga negara juga mempunyai hak politik berupa untuk ikut serta baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan. Hak untuk dipilih atau memilih menjadi anggota parlemen adalah salah satu contoh dari hak politik ini.

3. Keterkaitan hak dengan kehidupan bermasyarakat (hak privat yang terdiri dari hak absolut dan hak relatif.

Hak-hak privat dibedakan antara hak absolut dan hak relatif. Pembedaan itu mengenai 3 hal, pertama, hak absolut dapat diberlakukan kepada setiap orang sedangkan hak relatif hanya berlaku untuk seseorang tertentu. Kedua, hak-hak absolut memungkinkan pemegangnya untuk melaksanakan apa yang menjadi substansi haknya melalui hubungan dengan orang lain. Sisi balik dari hak absolut ini adalah orang lain tidak boleh melakukan pelanggaran atas kesempatan yang dimiliki oleh pemegang hak tersebut. Sedangkan hak relatif menciptakan tuntutan/kewajiban kepada orang lain untuk memberikan sesuatu, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Ketiga, objek hak absolut pada umumnya benda (berwujud maupun tidak berwujud), sedangkan objek hak relatif adalah prestasi yaitu memberikan sesuatu, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Hak absolut dapat dibagi menjadi hak pribadi (contoh hak hidup, hak untuk diakui sebagai pencipta atas karyanya, dll), hak kekeluargaan (contoh hak kekuasaan orang tua, hak perwalian, dll), hak kebendaan (contoh hak milik, hak guna bangunan, hak pakai, dll), dan hak atas barang-barang tidak berwujud (contoh hak atas kekayaan intelektual).

Dalam pergaulan hidup sehari-hari, orang seringkali menyebut kata privasi (privacy), “apa privasi (privacy) itu?”. Dilihat dari segi karakternya, sebenarnya privasi (privacy) masuk

(4)

ke dalam bilangan hak dasar karena melekat pada aspek eksistensial manusia. Perbincangan mengenai privasi (privacy) baru marak dengan terbitnya tulisan Warren dan Brandeis The Right to Privacy pada Harvard Law Journal tahun 1890. Secara umum privacy diartikan sebagai the right of a person to be free from unwarranted publicity. Hak atas privacy meliputi kesendirian seseorang, komunikasi yang dilakukan oleh seseorang, data seseorang, dan persona seseorang. Dalam berbagai kasus yang terjadi, perkembangan teknologi adalah salah satu faktor penyebab terjadinya pelanggaran privacy. Kebebasan untuk mengakses informasi publik tidak boleh melanggar hak atas privacy.

Berbicara “hak”, tidak cukup hanya definisi dan macam-macamnya saja, persoalan penyalahgunaan hak (misbruik van recht, abus de droit) juga merupakan persoalan yang krusal untuk dibahas. Suatu adagium kuno berbunyi neminem laedit qui sui iure utitur (terjemahan bebas: tidak seorang pun dirugikan oleh penggunaan hak). Simak juga ungkapan Gaius, ahli hukum Romawi Kuno, yang mengatakan male enim nostro iure uti non debimus (terjemahan bebas: memang, kita tidak boleh menggunakan hak kita untuk tujuan tidak baik).7 Dari kedua ungkapan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan suatu hak

atau kewenangan harus merupakan suatu tindakan menurut hukum dan tidak merugikan orang lain. Korupsi adalah contoh paling populer untuk penyalahgunaan hak ini.

Berikutnya adalah pembahasan tentang “kewajiban”. Sederhananya kewajiban adalah beban yang diberikan oleh hukum kepada orang atau badan hukum. Misalnya kewajiban bagi seorang PNS untuk membayar pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.8 Literatur lain mengatakan bahwa yang dinamakan kewajiban

ialah suatu beban yang bersifat kontraktual.9 Penulis sendiri berpendapat bahwa kewajiban adalah segala sesuatu yang harus dilakukan oleh seseorang, tidak hanya yang diberikan oleh kaidah/norma hukum saja, tetapi juga beban untuk harus melakukan sesuatu yang diberikan oleh kaidah/norma agama, kaidah/norma kesusilaan, dan kaidah/norma kesopanan. Apabila seseorang tersebut tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut, seseorang tersebut akan mendapat sanksi/ganjaran sesuai dengan kaidah/norma yang dilanggarnya.

2. KEADILAN

Seperti halnya akan hak dan kewajiban, pembahasan mengenai keadilan akan menjadi pembahasan yang seolah-olah tidak pernah ada habisnya. Kehidupan seorang manusia tidak akan pernah lepas dari pertanyaan dan pernyataan “apakah saya sudah mendapatkan keadilan?”, “ini adil versi siapa, saya atau kamu?”, “ini sangat tidak adil!”,

7Ibid., hlm. 181. 8

Baca Dudu Duswara Mahmudin, op.cit., hlm 54.

(5)

“saya butuh keadilan”, kecaman-kecaman terhadap subyek lainnya tentang keadilan juga sering terlontar “ah wasitnya tidak adil, berat sebelah, pantas saja dia bisa menang”, “gimana sih ibu ini, koq kasih nilai saya D, padahal saya kan sudah ngumpulin tugas, ibu ini ndak adil” atau bahkan karena khilaf atau memang tipis imannya seseorang pernah mengatakan “Tuhan tidak Adil”, padahal kita ketahui bahwa Tuhan Maha Adil dan Tuhan tidak mungkin salah dalam memberikan sesuatu kepada hamba-Nya. Lantas apakah yang dinamakan adil atau keadilan itu?.

Pemaknaan terhadap adil atau keadilan memerlukan proses perenungan dan pemahaman yang tidak sebentar, seseorang bisa saja merasakan adil atau ketidak adilan dalam waktu yang berbeda atau bersamaan. Pencarian terhadap hakikat adil atau keadilan yang sebenar-benarnya akan terus berlangsung selama manusia tersebut hidup di dunia ini, barulah setelah di akhirat manusia tersebut akan merasakan adil yang se-adil-adilnya. Hanya Pengadilan Tuhan yang mampu memberikan itu.

Persoalan memikirkan makna keadilan ini telah lama menjadi obyek pemikiran setiap manusia. Paling umum adalah teori keadilan oleh Filsuf Aristoteles yang memperkenalkan teori etis dalam bukunya yang berjudul Rhetorica dan Ethica Nicomachea. Teori ini berpendapat bahwa tujuan hukum itu semata-mata untuk mewujudkan keadilan. Keadilan disini adalah ius suum cuique tribuere (slogan lengkapnya iustitia est constans et perpetua voluntas ius suum cuique tribuere) yang dapat diartikan “memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi bagian atau haknya”. Selanjutnya Aristoteles membagi keadilan menjadi 2, yaitu keadilan komutatif (keadilan yang memberikan kepada tiap orang menurut jasanya) dan keadilan distributif (keadilan yang memberikan jatah kepada setiap orang sama banyaknya tanpa harus mengingat jasa-jasa perseorangan).10

Dalam perkembangannya, macam keadilan ini tidak hanya terbatas pada keadilan komutatif dan distributif saja, tetapi juga ada yang disebut keadilan vindikatif (memberikan ganjaran atau hukuman kepada seseorang atau lebih sesuai dengan kesalahan yang dilakukannya), keadilan kreatif (memberikan perlindungan kepada seseorang yang dianggap kreatif dalam menghasilkan karya ciptanya), keadilan protektif (memberikan bantuan dan perlindungan kepada setiap manusia sehingga tidak seorang pun dapat diperlakukan sewenang-wenang), dan keadilan legalis (keadilan yang ingin diciptakan oleh undang-undang).11

10

Dudu Duswara Mahmudin, op.cit., hlm. 23-24.

(6)

3. MASYARAKAT HUKUM

Masyarakat hukum (rechts sociale) adalah sekelompok orang yang berdiam dalam suatu wilayah tertentu dimana di dalam kelompok tersebut berlaku serangkaian peraturan yang menjadi pedoman bertingkah laku bagi setiap anggota kelompok dalam pergaulan hidup mereka. Peraturan itu dibuat oleh kelompok itu sendiri dan berlaku bagi mereka sendiri.12

Pendapat lain menyatakan bahwa masyarakat hukum adalah himpunan berbagai kesatuan hukum (legal unity), yang satu sama lain terikat dalam suatu hubungan yang teratur. Kesatuan hukum membentuk masyarakat hukum itu dapat berupa individu, kelompok, organisasi, atau badan hukum negara, dan kesatuan-kesatuan lainnya. Sedangkan alat yang dipergunakan untuk mengatur hubungan antar kesatuan hukum itu disebut hukum, yaitu suatu kesatuan sistem hukum yang tersusun atas berbagai komponen. Pengertian ini merupakan refleksi dari kondisi objektif berbagai kelas masyarakat hukum, yang secara umum dapat diklasifikasikan atas 3 golongan utama, yaitu: masyarakat sederhana, masyarakat negara, dan masyarakat internasional.13

4. SUBJEK HUKUM

“Apa dan siapa subjek hukum itu?”.

Subjek hukum adalah pendukung hak, yaitu manusia dan atau badan yang menurut hukum berkuasa (berwenang) menjadi pendukung hak. Suatu subyek hukum mempunyai kekuasaan untuk mendukung hak. Subyek hukum adalah segala sesuatu yang menurut hukum dapat memiliki hak dan kewajiban atau sebagai pendukung hak dan kewajiban. Menurut macamnya ada dua subyek hukum, yaitu manusia (natuurlijke persoon) dan badan hukum (rechts person). Khusus mengenai badan hukum, menurut hukum badan hukum dapat dibedakan menjadi 2 yaitu badan hukum publik (desa, kabupaten/kota, provinsi, dan negara) dan badan hukum perdata (PT, koperasi, dan yayasan).14

5. OBJEK HUKUM

Objek Hukum ialah segala sesuatu yang berguna bagi subyek hukum dan dapat menjadi pokok suatu hubungan hukum yang dilakukan oleh para subyek hukum. Dalam bahasa hukum, obyek hukum dapat juga disebut hak atau benda yang dapat dikuasai/dimiliki subyek hukum.15

12Ibid.

, hlm. 31.

13 Lili Rasjidi dan I.B. Wyasa Putra, 2003, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Mandar Maju, Bandung, hlm.

152-153.

14 Baca Dudu Duswara Mahmudin, op.cit., hlm. 32-37. Baca juga Peter Mahmud Marzuki, op.cit., hlm.

241-244.

(7)

Hak sering kali diidentikkan dengan izin atau kewenangan atau kekuasaan. Pemahaman mengenai hak sebagai objek hukum dapat merujuk pada pembahasan hak (poin 1) dalam materi kuliah ini.

Adapun mengenai benda, pada dasarnya sudah diatur pada Buku II Kitab Undang-undang Hukum Perdata, akan tetapi teori umum mengenai klasifikasi benda adalah teori yang mengklasifikasikan benda bergerak dan benda tidak bergerak (Pasal 504 KUH Perdata) dan teori yang mengklasifikasikan benda yang berwujud (contoh tanah) dan benda yang tidak berwujud (contoh segala hak) (Pasal 503 KUH Perdata).

Suatu benda termasuk benda bergerak atau benda tak bergerak dapat dilihat dari:16 1. Sifatnya

Benda bergerak menurut sifatnya adalah benda yang dapat dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Misalnya: kursi, meja, pulpen, dan lain sebagainya.

Benda tak bergerak menurut sifatnya adalah benda yang tidak dapat dipindahkan. Misalnya: tanah, pohon, kebun, sawah, dan lain-lain.

2 Tujuannya

Benda tak bergerak menurut tujuannya ialah segala benda/barang yang pada sifatnya adalah termasuk ke dalam pengertian benda bergerak, namun senantiasa digunakan oleh pemiliknya dan menjadi alat tetap pada benda yang tidak bergerak. Misalnya di pabrik terdapat benda bergerak menurut sifatnya tapi menjadi benda tak bergerak yaitu penggilingan, apitan besi, tong, dan lain-lain.

3. Undang-undang

Benda tak bergerak menurut undang-undang adalah segala hak atas benda tak bergerak. Misalnya hak pakai hasil atas benda yang tak bergerak.

Benda bergerak karena ketentuan undang-undang adalah segala hak atas benda bergerak. Misalnya sero, hak pakai atas benda bergerak.

6. PERISTIWA HUKUM

Peristiwa hukum adalah peristiwa kemasyarakatan yang akibatnya diatur oleh hukum. Contoh perkawinan yang mengakibatkan adanya hak dan kewajiban suami-istri yang diatur oleh hukum perkawinan. Contoh lain, peristiwa transaksi jual beli barang, terdapat akibat yang diatur oleh hukum, yaitu adanya hak dan kewajiban diantara para pihak. Peristiwa hukum dapat dibedakan menjadi dua yaitu:17

16 A.Siti Soetami, 2001, Pengantar Tata Hukum Indonesia, Refika Aditama, Bandung, hlm. 40-41. 17 Baca Dudu Duswara Machmudin, 2010, Pengantar Ilmu Hukum, Refika Aditama, Bandung, hlm.

(8)

1. Peristiwa hukum karena perbuatan subyek hukum, adalah semua perbuatan yang dilakukan manusia atau badan hukum yang dapat menimbulkan akibat hukum. Contoh pembuatan surat wasiat atau peristiwa penghibahan barang.

Perbuatan subyek hukum sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

a) perbuatan subyek hukum yang merupakan perbuatan hukum (perbuatan subyek hukum yang akibat hukumnya dikehendaki pelaku, contoh: jual-beli, sewa-menyewa dll)

b) perbuatan subyek hukum yang bukan perbuatan hukum (perbuatan subyek hukum yang akibat hukumnya tidak dikehendaki pelaku, contoh perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) dan zaakwarneming (secara sukarela menigikatkan diri untuk mewakili dan menyelesaikan urusan orang lain dengan atau tanpa pengetahuan orang tersebut).

2. Peristiwa hukum yang bukan perbuatan subyek hukum, adalah semua peristiwa hukum yang tidak timbul karena perbuatan subyek hukum, akan tetapi apabila terjadi dapat menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu. Contoh kelahiran, kematian dan kadaluarsa (kadaluarsa aquisitief yakni kadaluarsa yang menimbulkan hak dan kadaluarsa extinctief yaitu kadaluarsa yang melenyapkan kewajiban).

Peter Mahmud Marzuki memiliki definisi dan pembagian peristiwa hukum yang agak berbeda dengan yang di atas. Sebelumnya Peter Mahmud Marzuki, membedakan terlebih dahulu antara fakta biasa dan fakta hukum. Fakta hukum adalah fakta yang diatur oleh hukum. Oleh karena fakta dapat dibedakan menjadi fakta biasa dan fakta hukum, demikian juga dengan peristiwa, yang dapat dibedakan menjadi peristiwa biasa dan peristiwa hukum. Peristiwa hukum adalah peristiwa yang diatur oleh hukum. Dilihat dari segi isinya, peristiwa hukum dapat terjadi karena:18

a. Keadaan tertentu, misalnya orang yang sakit gila menyebabkan pengadilan memutuskan bahwa orang tersebut harus ditempatkan di bawah pengampuan;

b. Kejadian alam, misalnya sebatang pohon disambar petir dan dan tumbang menimpa seorang pengantar surat yang sedang bertugas dengan mengendarai motor dan menewaskannya sehingga menimbulkan masalah asuransi dan tunjangan-tunjangan yang diterima keluarganya;

c. Kejadian fisik yang menyangkut kehidupan manusia, yaitu kelahiran, kematian, dan usia tertentu yang menyebabkan seseorang dianggap cakap untuk melakukan tindakan hukum.

(9)

Adanya orang gila, pohon disambar petir, kelahiran, pertumbuhan, dan kematian seseorang sebenarnya merupakan peristiwa biasa. Akan tetapi, karena peristiwa-peristiwa itu berkaitan dengan hak dan kewajiban subyek hukum, peristiwa-peristiwa-peristiwa-peristiwa itu menjadi peristiwa-peristiwa hukum.19

7. PERBUATAN HUKUM

Mengenai perbuatan hukum pada dasarnya dapat dipahami secara bersamaan ketika memahami peristiwa hukum. Terdapat peristiwa hukum yang terjadi dikarenakan perbuatan subyek hukum, perbuatan inilah yang dinamakan perbuatan hukum.

Peter Mahmud Marzuki menggunakan istilah tindakan hukum. Tindakan hukum adalah tindakan yang diatur oleh hukum, yaitu:20

a. Tindakan menurut hukum, misalnya jual beli, membuat testamen, melangsungkan perkawinan, dan lain-lain;

b. Tindakan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang, misalnya jual beli narkoba, menghilangkan nyawa orang lain, dan lain-lain.

c. Tindakan yang melanggar hukum, misalnya perbuatan merugikan orang lain, persaingan curang, dan lain-lain.

d. Tindakan karena tidak memenuhi kewajiban yang di dalam hukum hal itu disebut wanprestasi (default), misalnya tidak membayar utang, tidak mengirim barang yang dipesan oleh pembeli, dan lain-lain.

Dilanjutkan oleh Peter Mahmud Marzuki, dalam hukum berbuat sesuatu adalah melakukan perbuatan, sedangkan tidak berbuat adalah sesuatu yang seharusnya ia perbuat merupakan pengabaian (omission/nalaten). Pengabaian ini lebih berkonotasi kepada hukum public, khususnya hukum pidana. Misalnya membiarkan orang yang butuh pertolongan, seorang komandan polisi yang membiarkan anak buahnya melakukan tindakan yang menyalahi prosedur dalam sebuah situasi unjuk rasa. Perlu diketahui bahwa pengabaian ini hanya dilakukan oleh manusia, badan hukum tidak mungkin melakukan pengabaian, jikalau terdapat kejadian yang melibatkan badan hukum, maka personel dalam dalam badan hukum itulah yang dianggap melakukan pengabaian.21

Untuk dapat melakukan perbuatan hukum, diperlukan syarat-syarat tertentu. L.J. van Apeldoorn menyatakan bahwa subjek hukum adalah setiap orang yang mempunyai kemampuan untuk memegang hak. Kemampuan untuk memegang hak harus dibedakan dari kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum. Orang-orang yang masih di bawah umur dan mereka yang berada di bawah pengampuan adalah subjek hukum sehingga mereka

19Ibid. 20Ibid.

, hlm. 246-247.

(10)

mempunyai hak. Akan tetapi oleh hukum mereka dipandang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Sebenarnya semua orang dianggap mampu melakukan tindakan hukum kecuali untuk melakukan tindakan hukum kecuali undang-undang menetapkan lain. Saat sekarang, yang dinyatakan tidak cakap melakukan perbuatan hukum oleh hamper semua undang-undang adalah mereka yang masih belum cukup umur dan mereka yang ditempatkan di bawah pengampuan.22

Dilihat dari segi aturan yang mengatur perbuatan itu perbuatan hukum dapat dibedakan antara perbuatan hukum dalam ruang lingkup hukum privat dan perbuatan hukum dalam ruang lingkup hukum publik.23

8. HUBUNGAN HUKUM

Hubungan hukum adalah hubungan yang diatur oleh hukum, yang tidak diatur oleh hukum bukan merupakan hubungan hukum. Pertunangan dan lamaran misalnya, bukan merupakan hubungan hukum. Hubungan hukum dapat terjadi di antara sesama subjek hukum dan antara subjek hukum dengan barang. Dilihat dari sifat hubungannya, hubungan hukum dapat dibedakan antara hubungan hukum yang bersifat privat dan hubungan hukum yang bersifat publik. Untuk menentukan sifat hubungan hukum tersebut, indikatornya adalah hakikat hubungan itu. Arti penting mengetahui hakikat hubungan hukum adalah untuk mengetahui rezim hukum yang menguasai hubungan tersebut untuk kemudian menentukan pengadilan mana yang mempunyai kompetensi absolute untuk mneyelesaikan persengketaan yang mungkin saja timbul di kemudian hari. Apabila hakikat hubungan tersebut bersifat privat, siapapun yang menjadi pihak dalam sengketa tersebut, sengketa tersebut berada dalam kompetensi peradilan perdata, kecuali sengketanya mempunyai sifat khusus, misalnya kepailitan yang berkompeten mengadili adalah pengadilan khusus (di Indonesia adalah Pengadilan Niaga). Demikian juga apabila hakikat hubungan itu bersifat publik, yang mempunyai kompetensi untuk menangani sengketa adalah pengadilan dalam ruang lingkup hukum publik, apakah peradilan umum, peradilan administrasi, dan lain-lain.24 9. AKIBAT HUKUM

Peristiwa hukum dan perbuatan hukum menimbulkan akibat hukum, yaitu akibat yang diatur oleh hukum. Suatu peristiwa hukum dapat menimbulkan beberapa akibat hukum. Contoh peristiwa hukum tentang sebatang pohon yang disambar petir dan tumbang menimpa seseorang dan menewaskannya dapat menimbulkan dua akibat hukum, yaitu pewarisan hak milik orang yang meninggal tersebut dan kewajiban asuransi membayarkan santunan kepada keluarganya. Begitu pula perbuatan hukum dapat menimbulkan lebih dari

22Ibid., hlm. 249-250. 23Ibid.,

hlm. 251-253.

(11)

satu akibat hukum. Sebagai contoh, jual-beli menimbulkan akibat hukum pembeli wajib membayar dan berhak menerima barang yang telah dibelinya, sebaliknya penjual wajib menyerahkan barang dan berhak menerima pembayaran atas barang tersebut.25

MP7™

25Ibid., hlm. 250-251.

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deduktif aksiomatik, yaitu de- ngan menurunkan teorema yang telah ada dan pendeteksian pola yang kemu- dian diterapkan dalam

Dari pengertian yang telah diuraikan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa giro wadiah yad dhamanah merupakan suatu titipan dimana Muwaddi (penitip) harta

Berdasarkan kepada hasil estimasi maka dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa terdapat kaitan antara produktifitas (kelahiran pertama), prestasi peternak penerima

Agar-agar kering merupakan usaha makanan yang bahan dasarnya terbuat dari Rumput laut. Makanan ini untuk meningkatkan pemanfaatan pengolahan rumput laut menjadi produk yang

Variabel Lingkungan Kerja dan Motivasi Intrinsik secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai bagian sekretariat pada

“Waha i Daud, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi, maka jalankanlah hukum di antara manusia dengan (hukum syariat) yang benar (yang diwahyukan

Setelah kelompok polutan dari 5 cluster di urutkan berdasarkan kadar polutan yang terkandung dapat disimpulkan bahwa polutan mengalami kenaikan antara bulan Juni