KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 i
KATA PENGANTAR
Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk Rancangan Peraturan Daerah (RANPERDA) Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Air Joman merupakan dokumen pendukung untuk penyusunan dokumen Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Air Joman. Untuk itulah Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Asahan melalui anggaran P-APBD tahun 2015 melaksanakan kegiatan penyusunan dokumen ini.
Pada Kesempatan ini kami juga masih menerima masukan dari berbagai pihak untuk penyempurnaan dokumen ini. Akhir kata, Pemerintah Kabupaten Asahan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan telah membantu kelancaran penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk RANPERDA RDTR ini.
Kisaran, 10 Desember 2015
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iv BAB I PENDAHULUAN ... 1 1. LATAR BELAKANG ... 1
2. MAKSUD DAN TUJUAN ... 2
3. DASAR HUKUM ... 2
4. RUANG LINGKUP ... 4
5. METODE DAN KERANGKA PROSES PELAKSANAAN ... 4
BAB II KERANGKA TEORI ... 9
2.1 KONSEP DASAR KLHS ... 9
2.2 DEFINISI KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) ... 10
2.3 KAIDAH KLHS ... 11
2.4 STRUKTUR KLHS ... 12
2.5 FOKUS KLHS ... 13
2.6 KLHS DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN... 13
2.7 KLHS DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN ... 14
2.8 KLHS DALAM PENATAAN RUANG ... 16
BAB III METODE PENELITIAN ... 17
3.1 Lingkup Kegiatan Ruang Lingkup Wilayah... 17
3.2 Ruang Lingkup Substansial ... 22
3.3 Keluaran ... 22
3.4 Peralatan, material, personil dan fasilitas dari Pengguna Anggaran ... 23
3.5 Peralatan dan material dari penyedia jasa konsultansi ... 23
3.6 Lingkup kewenangan penyedia jasa ... 23
3.7 Jangka waktu penyelesaian kegiatan ... 23
3.8 Personil ... 24
3.9 Jadwal tahapan pelaksanaan kegiatan ... 25
BAB IV LINGKUP KAJIAN ... 29
4.1 Gambaran Umum Kabupaten Asahan ... 29
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 iii
BAB 5 POLA TATA RUANG ... 39
5.1 PENGERTIAN RENCANA POLA RUANG ... 39
5.2 ZONA LINDUNG ... 41
5.2.1 Zona Perlindungan Setempat ... 41
5.2.2 Zona Rawan Bencana Alam ... 41
5.2.3 Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH) ... 42
5.3 ZONA BUDI DAYA ... 45
5.3.1 Zona Perumahan ... 45
5.3.2 Zona Perdagangan dan Jasa... 47
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 iv
DAFTAR TABEL
4.1 Letak dan Geografis ... 37 4.2 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk menurut Desa/Kelurahan di kecamatan AirJoman tahun 2013 ... 37 4.3 Luas Wilayah penggunaan lahan menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Air Joman tahun 2013 ... 38 4.4 Luas Tanaman perkebunan rakyat menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Air Joman tahun 2013 ... 39 5.1 Rencana Kebutuhan Serta luas taman RT dan taman RW di kawasan Perkotaan AirJoman tahun 2013-2033 ... 45 5.2 Rencana kebutuhan rumah di kawasan perkotaan AirJoman tahun 2013- 2033... 47 5.3 Rencana kebutuhan sarana perdagangan dan jasa di kawasan perkotaan AirJoman tahun 2013-2033 ... 49 5.4 Rencana kebutuhan sarana pendidikan di kawasan perkotaan AirJoman Tahun 2012-2032 ... 52 5.5 Rencana kebutuhan sarana kesehatan di kawasan perkotaan AirJoman Tahun 2014-2033 ... 54 5.6 Rencana kebutuhan sarana peribadatan di kawasan perkotaan AirJoman Tahun 2012-2032 ... 55 5.7 Rencana luas Zona di Kawasan perkotaan AirJoman sampai tahun 2033 .. 56
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 1
BAB I PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Sebagai tindak lanjut terbitnya Peraturan Daerah (Perda) Kbupaten Asahan tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kecamatan Air Joman, maka sesuai Undang-Undang (UU) No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, RTRW sebagai rencana umum tata ruang memerlukan rencana rinci tata ruang sebagai perangkat operasional berupa Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Dalam proses penyusunan atau penetapan Perda tentang RDTR Kecamatan Air Joman, sebagai bagian dari sebuah Kebijakan/Rencana/Program (KRP), untuk meyakinkan bahwa rencana atau kegiatan pembangunan tersebut tidak merusak lingkungan sekaligus menjamin keberlanjutan pembangunan itu sendiri, mengacu pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah wajib menyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
Definisi KLHS dirumuskan sebagai proses sistematis untuk mengevaluasi pengaruh lingkungan hidup dari, dan menjamin diintegrasikannya prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengambilan keputusan yang bersifat strategis. Sesuai amanat yang secara eksplisit tercantum di Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup terseut, penyusunan RDTR wajib disertai dokumen KLHS. Oleh karena itu, RDTR Kecamatan AirJoman yang dilaksanakan pada Tahun 2015 juga ini melakukan KLHS sesuai mandat undang- undang dan ketentuan lainnya.
BAB
1
Bab
1
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 2
2. MAKSUD DAN TUJUAN
Penyusun dokumen KLHS RDTR Kecamatan AirJoman Kawasan I dimaksudkan sebagai upaya pengkajian terhadap Kebijakan Rencana dan Program yang telah tertuang dalam RDTR Kecamatan AirJoman Kawasan I telah memenuhi kaidah lingkungan dalam konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Sedangkan tujuan penyusun dokumen KLHS RDTR Kecamatan AirJoman Kawasan I
adalah tersedianya dokumen KLHS sebagai pendukung RDTR Kecamatan AirJoman Kawasan I. Secara teknis tujuan penyusunan KLHS adalah untuk mengarusutamakan (mainstreaming) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di dalam kebijakan, rencana dan program yang tertuang dalam RDTR Kecamatan AirJoman Kawasan I yang disusun pada Tahun 2013 sehingga kebijakan, rencana dan program tersebut dapat disempurnakan sesuai dengan kaidah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009.
3. DASAR HUKUM
Beberapa peraturan perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum dalam penyusunan KLHS RDTR Kecamatan AirJoman Kawasan I adalah : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838);
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 3 4. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
6. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup Dalam Penataan Ruang Wilayah;
7. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis;
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kecamatan;
9. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau kegiatan yang wajib di lengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup;
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 4
4. RUANG LINGKUP Lingkup Wilayah
Lokasi pelaksanaan Penyusunan Dokumen KLHS adalah di Kecamatan AirJoman dan kawasan pendukungnya. Kajian Kebijakan, Rencana, dan/atau Program (KRP) dokumen KLHS yaitu KRP dalam RDTR Kecamatan AirJoman.
Lingkup Materi
Lingkup materi kegiatan adalah melakukan penyusunan KLHS dengan metode dan pendekatan yang dapat dipertanggung-jawabkan terhadap kebijakan, rencana dan program yang tertuang dalam RDTR Kecamatan AirJoman. Adapun lingkup materi sebagai berikut:
a. Pengkajian pengaruh RDTR terhadap kondisi lingkungan hidup di wilayah RDTR Kecamatan AirJoman meliputi :
1. Identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan 2. Identifikasi isu pembangunan berkelanjutan
3. Identifikasi RDTR
4. Telaahan pengaruh RDTR terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah
b. Perumusan alternatif penyempurnaan RDTR Kecamatan AirJoman c. Rekomendasi perbaikan RDTR dan pengintegrasian hasil KLHS.
5. METODE DAN KERANGKA PROSES PELAKSANAAN Metode Pengumpulan Data
Kegiatan pengumpulan data (survey) yang dilakukan mencakup 2 jenis kegiatan yang didasarkan pada jenis datanya, yaitu:
1. Survey Primer
Survey primer ini dilakukan untuk mendapatkan data-data atau informasi yang bersifat primer, yaitu data atau informasi yang didapat langsung dari lapangan. Teknik untuk mendapatkan data tersebut adalah dengan observasi, pengukuran, perhitungan serta wawancara. Kegiatan ini
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 5 terutama bertujuan untuk memperoleh gambaran keadaan yang spesifik di wilayah studi.
2. Survey Sekunder
Survey sekunder ini dilakukan untuk memperoleh data dan informasi yang bersifat sekunder, yaitu data-data yang dihasilkan atau dikumpulkan oleh dinas-dinas maupun instansi sektoral yang terkait. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan wawancara, questioner maupun dengan mereproduksi dari data yang ada.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengumpulan data untuk kegiatan penyusunan KLHS ini adalah:
Data dan informasi dapat diperoleh dari pemangku kepentingan seperti instansi pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga penelitian;
Data dan informasi dapat berupa data sekunder maupun primer;
Data dan informasi yang dikumpulkan yang diperlukan saja, khususnya yang terkait dengan isu strategis lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan yang telah disepakati;
Verifikasi data dan informasi perlu dilakukan untuk menjamin keabsahannya;
Informasi sekunder dapat digabungkan dengan data primer yang dikumpulkan melalui diskusi dengan masyarakat lokal yang memahami wilayah studi, misalnya dengan cara observasi lapangan, wawancara langsung, diskusi dengan stakeholder atau diskusi kelompok terfokus (FGD) dan survey.
Data dan informasi yang diperoleh dari survei primer dan sekunder, biasanya masih bersifat kasar, yang mana masih diperlukan adanya pengolahan lebih lanjut sehingga data dan informasi yang disajikan lebih informatif serta mudah dibaca dan dipahami. Adapun teknik pengolahan dan penyusunan data didasarkan pada jenis dan sifat data bersangkutan, antara lain :
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 6 1. Data yang sifatnya kuantitatif, diolah dan disusun dengan tabulasi, yang
dalam penyajian akhir berupa tabel-tabel, grafik maupun uraian.
2. Data yang bersifat kualitatif, diolah dan disusun secara diskriptif, yaitu berupa uraian yang menerangkan keadaan data tersebut.
3. Data yang sifatnya menunjukkan letak, diolah dan disusun dengan menggunakan peta-peta data.
4. Data yang sifatnya menunjukkan suasana, diolah serta disusun yang berupa foto- foto serta uraian-uraian.
Metode Analisis
Secara umum analisis yang digunakan dalam Penyusunan KLHS RDTR Kecamatan AirJoman dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.
1) Metode Kualitatif
Metode ini digunakan untuk menganalisa data yang berbentuk non numerik atau data yang tidak dapat diterjemahkan dalam bentuk angka-angka, misalnya data mengenai keadaan sosial masyarakat, politik, kebijaksanaan, budaya dan kondisi fisik alam khususnya yang terkait dengan isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan. Metode ini digunakan karena dianggap praktis dan mudah dipahami. Kekurangan metode ini kurang mampu menerangkan secara nyata dan sifatnya kadang-kadang terlalu umum bagi sebagian masalah. Metode ini dapat bersifat:
Deskriptif. Analisa yang memberikan gambaran pengertian dan
penjelasan
terhadap kondisi wilayah studi.
Normatif. Analisa mengenai keadaan yang seharusnya menurut
pedoman ideal atau norma-norma tertentu. Pedoman atau norma ini dapat berbentuk standar- standar, landasan hukum, batasan-batasan yang dikeluarkan oleh instansi tertentu.
Asumtif. Analisa dengan menggunakan asumsi-asumsi atau
anggapan-
anggapan tertentu yang dibuat berdasarkan kondisi tertentu dan diperkirakan dapat terjadi dalam waktu yang relatif lama pada wilayah studi, asumsi ini harus layak dan dapat diterima secara umum.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 7
Komparatif. Melakukan perbandingan antara berbagai kondisi dan
permasalahan untuk mendapatkan suatu karakteristik struktur wilayah studi. Misalnya membandingkan suatu masalah dengan masalah lain atau suatu kondisi dengan kondisi lain yang memiliki kesamaan sehingga dapat diperoleh karakteristik struktur wilayah yang jelas. 2) Metode Kuantitatif
Metode ini digunakan untuk memprediksi serta analisa lain yang sifatnya kuantitatif. Teknik yang digunakan, yaitu:
Proyektif; menganalisa bahwa kebijakan, rencana dan/atau program
bukanlah
sekedar untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan, melainkan juga untuk merencanakan dan mengendalikan langkah-langkah yang diperlukan sehingga menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan masa depan.
Ekonomi; menganalisa potensi dan masalah sektor ekonomi yang
terdapat di wilayah studi yang terkait dengan kebijakan, rencana dan/atau program, misalnya dampak sosial ekonomi yang mungkin ditimbulkan dari KRP tersebut.
Super-impose; menganalisis dengan melakukan overlay dari data,
misalnya
untuk mengetahui kemampuan lahan, dilakukan dengan melakukan overlay peta.
1.7. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan laporan Akhir penyusunan dokumen KLHS RDTR Kecamatan AirJoman mencakup 5 (lima) bab, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, ruang lingkup (lingkup wilayah, materi dan waktu), definisi operasional, serta sistematika penulisan laporan akhir.
BAB II KERANGKA TEORI
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 8 Kecamatan AirJoman, Tinjauan Kebijakan penataan ruang wilayah Kecamatan AirJoman, Gambaran Umum Wilayah Perencanaan, Identifikasi isu-isu pengembangan wilayah berkelanjutan dan rumusan tujuan penataan, prinsip-prinsip penataan ruang dan/atau program yang telah disepakati ditelaah.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang penapisan dan pengkajian pengaruh KRP terhadap Kondisi Lingkungan Hidup.
BAB IV LINGKUP KAJIAN
Bab ini menguraikan tentang alternatif tujuan penataan, prinsip penataan ruang, dan/atau program.
BAB V POLA TATA RUANG BAB VI REKOMENDASI
Bab ini menguraikan tentang Rekomendasi KRP RDTR Kecamatan AirJoman.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 9
BAB II KERANGKA TEORI
2.1 KONSEP DASAR KLHS
Kajian Lingkunga Hidu Strategis (KLHS) berkaita era denga Kebijakan, Rencana, dan Program (KRP) Strategis memiliki pengertian sebagai suatu perbuatan atau aktivitas yang dilakukan sejak awal proses pengambilan keputusan yang berakibat signifikan terhadap hasil akhir yang akan diraih. Dengan demikian, dalam konteks KLHS, aktivitas tersebut adalah suatu kajian yang sejak awal mempertimbangkan aspek lingkungan hidup dalam proses pengambilan keputusan di arah kebijakan, rencana, atau program. Sedangkan untuk Analisis Mengendai Dampak Lingkungan (AMDAL) mempertimbangkan aspek lingkungan hidup dalam kajiannya di tahap proyek, sehingga kajian tersebut tidak bersifat strategis. Kebijakan, Rencana, dan Program (KRP), memiliki perbedaan secara umum sebagai berikut (PeraturanMenteri Negara LingkunganHidup No 27 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis):
Kebijakan (policy) : arah atau tindakan yang diambil oleh pemerintah atau pemerintah daerah untuk mencapai tujuan
Rencana (plan) : hasil suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia
Program (programme) : instrumen kebijakan yang berisi satu kegiatan atau lebih yang dilaksanakan oleh instansi pmerintah atau lembaga non pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.
KLHS bertujuan untuk menghasilkan KRP yang berwawasan lingkungan hidup. Berbeda dengan proyek, pada aras ini terdapat proposal rinci perihal rancangan tapak,
Bab
2
Bab
2
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 10 desain rinci engineering atau teknis kegiatan pembangunan yang merefleksikan curahan investasi, pekerjaan konstruksi, dan berbagai langkah-langkah implementasi tujuan kebijakan, rencana, dan program tersebut (Deputi Bidang Tata Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan ESP2 - DANIDA 2007).
2.2 DEFINISI KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS)
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 09 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis, Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) merupakan upaya untuk mencari terobosan dan memastikan bahwa pada tahap awal penyusunan kebijakan, rencana dan/atau program, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sudah dipertimbangkan. Makna “strategis” berarti perbuatan atau aktivitas sejak awal proses pegambilan keputusan yang berakibat signifikan terhadap hasil akhir yang akan diraih. Pendekatan strategis dalam kebijakan, rencana, dan/ atau program adalah untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan, serta merencanakan dan mengendalikan langkah-langkah yang diperlukan sehingga menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan masa depan.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/ atau kebijakan, rencana, dan/ atau program.
Menurut pendapat DEAT dan CSIR (2000), KLHS adalah proses mengintegrasikan konsep keberlanjutan dalam pengambilan keputusan yang bersifat strategis. Sedangkan menurut Brown dan Therievel (1999), KLHS adalah suatu proses yang diperuntukan bagi kalangan otoritas yang bertanggung jawab atas pengembangan kebijakan/ pemrakarsa (pada saat formulasi kebijakan) dan pengambil keputusan (pada saat persetujuan kebijakan) dengan maksud untuk memberi pemahaman holistik perihal implikasi sosial dan lingkungan hidup dari
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 11 rancangan kebijakan, dengan fokus telaahan di luar isu-isu yang semula merupakan faktor pendorong lahirnya kebijakan baru.
2.3 KAIDAH KLHS
Untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan, kaidah-kaidah pelaksaan KLHS adalah sebagai berikut (Peraturan Menteri Dalam Negeri No 67 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan atau Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah) :
Fokus pada tujuan
Proses pelaksanaan kajian konsisten dengan kebutuhan dan tujuan yang telah disepakati pada awal pelaksanaan
Decision relevant atau relevan dengan keputusan
Proses pelaksanaan kajian berujung pada pengambilan keputusan yang sejalan dengan isu pembangunan berkelanjutan
Terpadu
Proses pelaksanaan kajian memastikan keserasian antar komponen lingkungan hidup, yaitu sosial budaya, ekonomi, dan ekologi
Transparan
Proses pelaksanaan kajian dilakukan dengan terbuka, dan dokumentasi hasil kajiannya menyajikan informasi yang jelas, mudah dimengerti, dan dapat diakses oleh publik
Partisipatif
Proses pelaksanaan kajian dilakukan bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan yang relevan
Akuntabel
Proses pelaksanaan kajian dilakukan secara professional, sesuai prosedur, terbuka, obyektif, seimbang dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan serta diverifikasi oleh pihak lain
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 12
Iteratif
Proses pelaksanaan kajian bersifat adapif dan terbuka untuk dikaji ulang, diperdalam analisisnya, dan dilakukan revisi
Evaluasi diri
Proses pelaksanaan kajian dilakukan dengan tidak diserahkan kepada pihak ketiga.
2.4 STRUKTUR KLHS
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, KLHS dilaksanakan dengan mekanisme:
a) Pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/ atau program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah
b) Perumusan alternatif penyemperunaan kebijakan, rencana, dan/ atau progra c) Rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan kebijakan, rencana,
dan/ atau program yang mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Struktur atau muatan yang dikaji dalam KLHS antara lain:
a) Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan
b) Perkiraan mengenai dampak dan resiko lingkungan hidup c) Kinerja layanan/ jasa ekosistem
d) Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam
e) Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim f) Tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 13 2.5 FOKUS KLHS
Definisi KLHS menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 09 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis adalah upaya untuk mencari terobosan dan memastikan bahwa pada tahap awal penyusunan kebijakan, rencana dan/atau program (KRP), prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sudah dipertimbangkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa dibandingkan instrumen pengelolaan lingkungan hidup lain, misalnya AMDAL, sasaran kajian KLHS lebih luas/makro karena telah menganalisis dampak pada tahap awal penyusunan KRP. Dengan kata lain, aspek lingkungan hidup dapat dimasukkan dalam kajian perencanaan sehingga mampu mengurangi dampak lingkungan pada saat proyek dilaksanakan.KLHS juga berfokus pada tataran konsep dan bukan pada tataran desain teknis yang bersifat fisik. AMDAL sendiri lebih menekankan pada aspek fisiknya.
Kata “strategis” dalam KLHS juga dapat diartikan secara konseptual berkaitan dengan akar permasalahan yang harus menjadi fokus kajian, yaitu proses dan hasil pengambilan keputusan. Pengertian “strategis” dalam KLHS pada umumnya berasosiasi pada hal-hal berikut (Partidario 1994):
a) Strategis dalam konteks pengambilan keputusan
b) Keberlanjutan proses pengambilan keputusan, yaitu proses penyempurnaan KRP secara terus menerus
c) Fokus pada manfaat hasil keputusan, merujuk pada beragamnya alternatif pilihan KRP dalam proses perencanaan pembangunan yag bersifat strategis
2.6 KLHS DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Implementasi berbagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup, terutama AMDAL mampu mengurangi dampak negatif proyek terhadap lingkungan. Meskipun demikian, instrumen tersebut bersifat lokal atau hanya pada lingkup lokasi proyek-proyek rancang-bangun. Secara konsep pembangunan menyeluruh, AMDAL belum mampu memberikan jalan keluar terhadap dampak yang sifatnya lebih kumulatif, tidak
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 14 langsung, dan sinergis. Oleh karena itu, keberadaan KLHS yang mengantisipasi dampak lingkungan pada tahap hulu atau pada tahap KRP dianggap mampu menutupi kekurangan tersebut. Karena sifat penanggulangannya di tahap awal yaitu tahap KRP, KLHS dapat bersifat lintas batas dan lintas sektor, serta lebih bersifat keberlanjutan karena mengatasi dampak di masa mendatang.
Dengan demikian, KLHS seharusnya dapat diartikan sebagai sebuah instrumen yang mampu menjadikan implikasi pelaksanaan KRP sebagai sebuah pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan sehingga keberlanjutan pembangunan dapat lebih terjamin (Annandale dan Bailey 1999). Secara substansial, KLHS merupakan upaya sistematis dan logis dalam memberikan landasan bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan melalui proses pengambilan keputusan yang berwawasan lingkungan.
2.7 KLHS DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Seperti yang telah disebutkan sejak awal, bahwa KLHS merupakan instrumen yang sejak tahap awal penyusunan KRP, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan telah dilibatkan. Hal ini yang membedakannya dengan AMDAL yang dikaji pada saat tahap proyek saja.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 15
Gambar 2.1 Relung KLHS pada Aras Kebijakan, Rencana, dan Program (Partidario 1996: 656, dengan modifikasi)
Saat ini terdapat beragam langkah pelaksanaan KLHS yang telah dikenal dan diterapkan selamaini .Setiap ragam memiliki ketepatan penggunaan pada kondisi tertentu dan kekuatan masing-masing.Umumnya langkah-langkah tersebut mencakup:
a) Penapisan adalah rangkaian langkah-langkah untuk menentukan apakah suatu KRP perlu dilengkapi dengan KLHS atau tidak. Penentuan KRP telah memenuhi criteria pelaksanaan KLHS dilakukan melalui kesepakatan pihak-pihak yang berkepentingan.
b) Pelingkupan adalah rangkaian langkah-langkah untuk menetapkan nilai penting KLHS, tujuan KLHS, isu pokok, ruang lingkup KLHS, kedalaman kajian dan kerincian penulisan dokumen, pengenalan kondisi awal, dan telah awal kapasitas kelembagaan. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan sistematis dan metodologis yang memenuhi kaidah ilmiah dan disertai konsultasi publik. c) Pengkajianadalahrangkaianlangkah-langkah untuk melakukan kajian ilmiah
dan/atau pengujian secara metodologis, pemetaan kepentingan, dialog dan konsultasi, serta penemuan pilihan-pilihan alternative rumusan maupun perbaikan dan penyempurnaan terhadap rumusan yang sudah ada. Langkah-langkah dalam tahap ini memiliki banyak sekali ragam,
baikdarisegipendekatandanmetodanya, proses,
maupunlingkupdankedalamankajiannyasebagaikonsekuensikebutuhanpengam bilankeputusandanketersediaanwaktudansumberdaya. Beberapa model KLHS tidakhanyamenganjurkanpenemuanpilihandanalternatif,
tetapijugamenekankanpengujiannya, sehinggaadabeberapalangkah yang bersifatberulang(iteratif) atausiklus.
d)
Perumusandanpengambilankeputusanadalahrangkaianlangkah-langkahpersetujuanrekomendasihasil KLHS
daninteraksiantarpihakberkepentingandalamrangkamempengaruhihasilakhir KRP. Beberapa model pelaksanaanKLHS menetapkankeputusanperbaikan KRP
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 16
sebagaihasilakhirnya, namunbeberapa model lain
menambahkanpenetapanrencanapengawasandanpemantauansebagaibagian yang tidakdapatdipisahkandalamkeseluruhan proses KLHS
2.8 KLHS DALAM PENATAAN RUANG
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 15 (2) menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melaksanakan KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke dalam penyusunan atau evaluasi :
a) Rencana tata ruang wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya, rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) dan rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) nasional, provinsi, dan kabupaten/ kota.
b) Kebijakan, rencana, dan/ atau program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/ atau resiko lingkungan hidup.
Hal ini menjelaskan bahwa KLHS memiliki kaitan erat terhadap penataan ruang. Selain itu pada dasar hukum yang sama, pasal 19 ayat (1) menyebutkan bahwa: untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat, setiap perencanaan tata ruang wilayah wajib didasarkan pada KLHS.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 17
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lingkup Kegiatan Ruang Lingkup Wilayah
Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan:
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
2. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
3. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
4. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. 5. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
6. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.
7. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
8. Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB
3
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 18 9. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata
ruang.
10. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang. 11. Penggunaan Lahan adalah fungsi dominan dengan ketentuan khusus yang
ditetapkan pada suatu kawasan, blok peruntukan, dan/atau persil.
12. Rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten/kota, yang merupakan penjabaran dari RTRW provinsi, dan yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kabupaten/kota, rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota, rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota, penetapan kawasan strategis kabupaten/kota, arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota, dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota.
13. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/kota.
14. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan yang selanjutnya disingkat RTBL adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.
15. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 19 16. Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disingkat BWP adalah bagian dari
kabupaten/kota dan/atau kawasan strategis kabupaten/kota yang akan atau perlu disusun rencana rincinya, dalam hal ini RDTR, sesuai arahan atau yang ditetapkan di dalam RTRW kabupaten/kota yang bersangkutan, dan memiliki pengertian yang sama dengan zona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. 17. Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disebut Sub BWP adalah bagian
dari BWP yang dibatasi dengan batasan fisik dan terdiri dari beberapa blok, dan memiliki pengertian yang sama dengan subzona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
18. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
19. Kawasan Strategis Kabupaten/Kota adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.
20. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
21. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
22. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 20 23. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari pemukiman, baik
perkotaan maupun pedesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.
24. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang layak, sehat, aman, dan nyaman.
25. Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yang satu dan unsur yang lain.
26. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh batasan fisik yang nyata seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran irigasi, saluran udara tegangan ekstra tinggi, dan pantai, atau yang belum nyata seperti rencana jaringan jalan dan rencana jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota, dan memiliki pengertian yang sama dengan blok peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
27. Subblok adalah pembagian fisik di dalam satu blok berdasarkan perbedaan subzona.
28. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik spesifik. 29. Subzona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi dan karakteristik
tertentu yang merupakan pendetailan dari fungsi dan karakteristik pada zona yang bersangkutan.
30. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
31. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disingkat KDH adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 21 diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
32. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan gedung dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
33. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah sempadan yang membatasi jarak terdekat bangunan terhadap tepi jalan; dihitung dari batas terluar saluran air kotor (riol) sampai batas terluar muka bangunan, berfungsi sebagai pembatas ruang, atau jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap lahan yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai, antara massa bangunan yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan tinggi listrik, jaringan pipa gas, dsb (building line).
34. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
35. Ruang Terbuka Non Hijau yang selanjutnya disingkat RTNH adalah ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras atau yang berupa badan air, maupun kondisi permukaan tertentu yang tidak dapat ditumbuhi tanaman atau berpori.
36. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi yang selanjutnya disingkat SUTET adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantar di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 278 kV.
Saluran Udara Tegangan Tinggi yang selanjutnya disingkat SUTT adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantar di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 70 kV sampai dengan 278 kV.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 22
3.2 Ruang Lingkup Substansial
Kegiatan ini adalah melakukan penyusunan KLHS dengan metode dan pendekatan yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap kebijakan, rencana dan program pembangunan di Ibu Kota Kecamatan AirJoman dan kawasan pendukung..
Penyusunan KLHS ini mencakup beberapa hal dibawah ini :
1. Identifikasi isu-isu dan permasalahan lingkungan hidup strategis yang diperkirakan akan saling berpengaruh terhadap kebijakan, rencana, dan program yang disusun.
2. Pengkajian program kebijakan, rencana, dan/ atau program terhadap kondisi lingkungan hidup di Ibu Kota Kecamatan AirJoman dan kawasan pendukung. 3. Perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/atau program. 4. Rekomendasi perbaikan untuk pengembalian keputusan kebijakan, rencana,
dan/ atau program yang mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan.
3.3 Keluaran
Output dari kegiatan ini adalah Dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis terhadap Ranperda Rencana Detail Tata Ruang Ibu Kota Kecamatan AirJoman 2014-2034. Dokumen yang disusun harus mengacu berdasarkan :
1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis.
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan di Daerah.
4. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 09 Tahun 2011 Tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 23
3.4 Peralatan, material, personil dan fasilitas dari Pengguna Anggaran
Pengguna jasa turut membantu dalam pekerjaan ini.
1. Data dan fasilitas yang disediakan oleh pengguna jasa dapat digunakan dan harus dipelihara oleh penyedia jasa.
2. Beberapa data hasil studi ataupun data lain yang pernah dilakukan oleh instansi pengguna jasa akan diberikan.
3. Akomodasi dan ruangan kantor berserta peralatan penunjang administrasi perkantoran wajib disediakan oleh penyedia jasa sedangkan dana operasional atas fungsionalisasi fasilitas tersebut dapat menggunakan dana pelaksanaan kegiatan sesuai ketentuan yang berlaku.
4. Pengguna jasa akan menyediakan kebutuhan lainnya secara terbatas yang diperlukan dalam proses kegiatan ini berdasarkan kesepakatan antara penyedia dan pengguna jasa.
3.5 Peralatan dan material dari penyedia jasa konsultansi
1. Penyedia jasa harus menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
2. Beberapa peralatan minimal yang diprioritaskan dimiliki oleh penyedia jasa antara lain komputer/laptop, printer, selain tenaga ahli yang sesuai.
3. Penyedia jasa harus mampu menghadirkan semua tim sebelum pekerjaan dimulai sebagaimana nama yang tercantum dalam dokumen perjanjian kerja dan menghadirkan ketua tim atau salah satu tenaga ahli yang dikuasakan sebagaimana nama yang tercantum dalam dokumen perjanjian kerja sebagai penyaji saat pembahasan laporan kemajuan.
3.6 Lingkup kewenangan penyedia jasa
Penyedia Jasa berwenang untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan dari pengguna Jasa dalam rangka membantu terlaksananya kegiatan ini.
3.7 Jangka waktu penyelesaian kegiatan
Untuk dapat menyelesaikan kegiatan Jasa Konsultasi Penyusunan Kajian
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 24
Kota Kecamatan AirJoman ini dijadwalkan dapat diselesaikan dalam waktu 45
(empat puluh lima) hari kalender sejak ditandatanganinya Surat Perintah Mulai Kerja.
3.8 Personil
Penyedia jasa harus membentuk Tim untuk melaksanakan pekerjaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) terhadap Ranperda Rencana Detail Tata Ruang Ibu Kota Kecamatan AirJoman Tahun 2014- 2034 yang secara fungsional dapat langsung berhubungan dengan pemberi tugas.
No. Tenaga Ahli Pendidika n
Jurusan Pengalaman a. Tenaga Ahli
1. Team Leader S1/S2 Semua
Jurusan
≥ 5 thn dan bersertifikasi Amdal
2. Ahli Arsitektur S1 Arsitektur ≥ 3 tahun 3. Ahli Perencanaan Wilayah/Planalogi S1 Pertanian / Kehutanan /planalogi ≥ 3 tahun b. Tenaga Pendukung 2. Surveyor/Enumerato r Min D3 Semua jurusan ≥ 2 tahun 3. Operator Komputer Min D3 Semua
jurusan
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 25
3.9 Jadwal tahapan pelaksanaan kegiatan
Jadwal tahapan pelaksanaan kegiatan adalah mulai dari penyusunan laporan pendahuluan, diskusi dengan pengguna jasa, survei lapangan, dan penulisan hasil interim report, laporan draft final dan final report.
Laporan Pendahuluan Laporan Antara (Interim Report) Draft Laporan Akhir
Laporan ini berisi metoda dan analisa yang akan digunakan, data-data dasar termasuk peta-peta yang memadai untuk analisa awal, rencana kerja dan pembagian tugas diantara tenaga ahli yang terlibat dan diserahkan sebanyak 5 (lima) eksemplar dengan ukuran A4. Laporan Pendahuluan tersebut harus diserahkan konsultan kepada Pemberi Kerja selambat-lambatnya 2(dua) minggu setelah dikeluarkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja). Laporan Antara ini berisi tentang :
Pendahuluan, berisikan latar belakang, tujuan dan sasaran, lingkup pekerjaan, dimensi perencanaan dan peraturan perundangan;
Tinjauan kebijaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan wilayah perencanaan;
Identifikasi gambaran umum dan karakteristik wilayah perencanaan;
Analisa pengembangan wilayah perencanaan.
Laporan Antara ini harus diserahkan konsultan kepada Pemberi Kerja (PPTK Kegiatan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Ranperda Rencana Detail Tata Ruang Ibu Kota Kecamatan AirJoman) selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari setelah dikeluarkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja) sebanyak 5 (lima) eksamplar.
Draft Laporan Akhir dalam Bahasa Indonesia beserta soft copy file (CD). Diserahkan selambat-lambatnya 5 (lima) minggu setelah SPMK diterbitkan.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 26
JADWAL KEGIATAN
NO URAIAN KEGIATAN I NOPEMBER I DESEMBER
I III IV I II
1 LAPORAN PENDAHULUAN X
2 LAPORAN ANTARA X
3 PRESENTASI LAPORAN ANTARA (FGD) X
4 DRAFT FINAL X
5 PRESENTASI DRAFT FINAL (KONSULTASI PUBLIK) X
6 FINAL REPORT X
3.10 Isu Strategis
Isu strategis yang berkembang saat ini dan perkiraan masa mendatang adalah merupakan tantangan Pemerintah Kabupaten Asahan yang perlu diatasi dan ditangani. Beberapa isu-isu strategis adalah:
1. Peningkatan kualitas pelayanan publik
Tantangan di era otonomi daerah ini adalah tata pemerintahan yang baik. Tata pemerintahan yang demokratis, transparan, dan akuntabel. Diantaranya yang berkembang saat ini dimasyarakat adalah pelayanan publik yang baik, cepat dan murah.
2. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang berlandaskan keimanan dan ketaqwaan
Akses terhadap kebutuhan pokok masyarakat saat ini masih belum merata, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Ketidakmampuan dalam memperoleh peluang kerja berakibat kemiskinan yang menjerat masyarakat, khususnya pendidikan. Pendidikan merupakan mata rantai peningkatan kualitas
Laporan Akhir
Laporan Akhir memuat laporan seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan dan diserahkan selambat-lambatnya tanggal terakhir perjanjian kerja sebanyak 5 (lima) buah buku laporan beserta CD sebanyak 5 (lima) keping.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 27 sumber daya manusia yang dilandasi iman dan taqwa. Hal ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengatasinya.
3. Peningkatan kuantitas dan kualitas kesehatan, infrastruktur, sarana dan prasarana lainnya.
Kuantitas dan kualitas Infrastruktur yang meliputi prasarana jalan, jembatan, kesehatan dan pendidikan akan menunjang peningkatan kualitas hidup manusia. Saat ini telah terjadi kesenjangan infrastruktur antara desa dan kota, yang mengakibatkan desa semakin tertinggal. Desa-desa yang berada di wilayah perbatasan dan jauh dari Ibukota Kabupaten Asahan memiliki infrastruktur yang rendah mengakibatkan aksesibilitasnya rendah. Oleh karena itu daerah-daerah ini menjadi sasaran pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana lainnya untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan mandiri.
4. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan
Aset pembangunan yang sangat penting adalah sumberdaya manusia atau masyarakat. Masyarakat harus didorong sebagai inisiator dan motivator pembangunan. Untuk itu masyarakat harus diberikan peluang dan kesempatan untuk ikut serta secara aktif dalam setiap kegiatan pembangunan, khususnya di daerahnya masing-masing.
5. Pengembangan budaya daerah dalam mendukung pembangunan yang berwawasan lingkungan menuju kehidupan masyarakat yang berbudaya, harmoni dalam keberagaman
Pengembangan budaya lokal merupakan amanat pembangunan di era otonomi daerah. Pembangunan budaya lokal yang dimaksudkan meliputi pengembangan dan pelestarian budaya daerah dan pengembangan objek wisata yang ada di Kabupaten Asahan. Kabupaten Asahan memiliki penduduk dengan berbagai suku dan juga memiliki banyak potensi objek wisata. Sehingga keterpaduan antara keduanya diharapkan dapat mendukung pembangunan lingkungan yang berwawasan lingkungan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih harmoni.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 28 6. Menciptakan kehidupan masyarakat yang tentram, tertib, aman, dan adil
Sebagaimana yang diinginkan masyarakat adalah kehidupan yang damai dan nyaman. Masyarakat menginginkan kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi dengan baik tanpa ada kesulitan dan ancaman apapun. Masyarakat dapat melaksanakan aktivitas ekonomi, sosial dan budayanya secara mudah. Maka dari itu menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Asahan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang tentram, tertib, aman dan adil, di tengah modernisasi teknologi dan ancaman kejahatan serta kriminal.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 29
BAB IV LINGKUP KAJIAN
4.1 Gambaran Umum Kabupaten Asahan
A. PERDAGANGAN (DATA Asahan dalam angka 2014)
Sampai tahun 2013 koperasi yang terdaftar sejumlah 533 buah dengan jumlah anggota 41.824 orang dan mempunyai simpanan anggota sebesar 122,76 milliar rupiah. Khusus untuk KUD yang diharapkan menjadi penggerak perekonomian desa jumlahnya menurun jika dibandingkan tahun 2012 yaitu 20 buah. Jumlah tersebut mampu menyerap 734 anggota dengan simpanan anggota sebesar 2,19 milliar rupiah dan volume usaha sebesar 86 milliar rupiah. Depot Pertamina Kisaran pada tahun 2013 telah menyalurkan sekitar 64,22 juta liter premium dan 48,57 juta liter solar kepada seluruh para pelanggannya yang terdiri dari SPBU, TNI/Polri dan konsumen lainnya di wilayah kisaran dan Tanjung Balai. Pada tahun 2013 volume ekspor Asahan mencapai 648.232 ton dengan nilai Rp. 1.978.754,41 juta. Komoditi utama ekspor Asahan adalah Karet dan Pelet Kayu Karet yang mencapai Rp. 1.632.749,99 juta dan Rp. 301.875 juta.
B. PERDAGANGAN (DATA Asahan dalam angka 2013)
Menurut tanda daftar perusahaan yang diterbitkan oleh Dinas Perinddag dan Penanaman Modal Kabupaten Asahan, sampai dengan tahun 2012 terdapat 638 perusahaan yang sebagian besar (64,11 persen) berbadan hukum PO dan yang bergerak di sektor rumah makan, hotel dan penginapan sebesar 48,28 persen. Sampai tahun 2012 koperasi yang terdaftar sejumlah 505 buah
BAB
1
BAB
4
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 30 dengan jumlah anggota 52 889 orang dan mempunyai simpanan anggota sebesar 274,76 milliar rupiah. Khusus untuk KUD yang diharapkan menjadi penggerak perekonomian desa jumlahnya meningkat jika dibandingkan tahun 2011 yaitu 27 buah. Jumlah tersebut mampu menyerap 734 anggota dengan simpanan anggota sebesar 1,99 milliar rupiah dan volume usaha sebesar 1,992 milliar rupiah.
Depot Pertamina Kisaran pada tahun 2012 telah menyalurkan sekitar 60,35 juta liter premium dan 52,36 juta liter solar kepada seluruh para pelanggannya yang terdiri dari SPBU, TNI/Polri dan konsumen lainnya di wilayah kisaran dan Tanjung Balai. Pada tahun 2012 volume ekspor Asahan mencapai 617 371 ton dengan nilai Rp 1 884 654,50 juta. Komoditi utama ekspor Asahan adalah Karet dan Pelet Kayu Karet yang mencapai Rp 1555 000,00 juta dan Rp 287 500,00 juta.
C. PERDAGANGAN (DATA Asahan dalam angka 2012)
Menurut tanda daftar perusahaan yang diterbitkan oleh Dinas Perinddag dan Penanaman Modal Kabupaten Asahan, sampai dengan tahun 2011 terdapat 682 perusahaan yang sebagian besar (66,71 persen) berbadan hukum PO dan yang bergerak di sektor angkutan, penggudangan dan komunikasi, keuangan, asuransi dan jasa persewaan sebesar 57,04 persen. Sampai tahun 2011 koperasi yang terdaftar sejumlah 491 buah dengan jumlah anggota 51 912 orang dan mempunyai simpanan anggota sebesar 699,75 milliar rupiah. Khusus untuk KUD yang diharapkan menjadi penggerak perekonomian desa jumlahnya tetap jika dibandingkan tahun 2008 yaitu 20 buah. Jumlah tersebut mampu menyerap 1622 anggota dengan simpanan anggota sebesar 1,908 milliar rupiah dan volume usaha sebesar 86,27 milliar rupiah.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 31 Depot Pertamina Kisaran pada tahun 2011 telah menyalurkan sekitar 56,17 juta liter premium dan 48,30 juta liter solar kepada seluruh para pelanggannya yang terdiri dari SPBU, TNI/Polri dan konsumen lainnya di wilayah kisaran dan Tanjung Balai. Pada tahun 2011 volume ekspor Asahan mencapai 577 740,98 ton dengan nilai Rp 1 804 269,38 juta. Komoditi utama ekspor Asahan adalah Karet dan Pelet Kayu Karet yang mencapai Rp 1 452 276,58 juta dan Rp264 753,60 juta.
1. PDRB
A. PDRB (DATA Asahan dalam angka 2014)
Pada tahun 2013 PDRB Kabupaten Asahan atas dasar harga berlaku (adhb) mencapai 17,525 triliun rupiah. Sektor pertanian merupakan kontibutor utama yang memberikan peranan sebesar 36,18 persen. Selanjutnya diikuti oleh sektor Industri (29,86 persen) dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 16,16 persen. Sedangkan sektor-sektor lainnya hanya menyumbang total kontribusi sebesar 17,80 persen. Berdasarkan harga konstan (adhk) tahun 2000, PDRB Kabupaten Asahan pada tahun 2013 mencapai 6,345 triliun rupiah. Pada tahun 2013 ini semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun 2012. Pada tahun yang sama pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asahan mencapai 5,83 persen, pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor Keuangan, Usaha Persewaan dan Jasa Perusahaan (10,25 persen). PDRB per kapita Kabupaten Asahan mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012. Berdasarkan harga berlaku naik dari Rp. 22.683.043 menjadi Rp. 25.705.159 sedangkan adhk 2000 juga mengalami peningkatan dari Rp. 8.844.690 tahun 2012 menjadi Rp. .306.698 pada tahun 2013.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 32
B. PDRB (DATA Asahan dalam angka 2013)
Pada tahun 2012 PDRBKabupaten Asahan atas dasar harga berlaku (adhb) mencapai 15,376 triliunrupiah. Sektor pertanian merupakankontibutor utama yang memberikanperanan sebesar 36,31 persen. Selanjutnya diikuti oleh sektor Industri (29,88 persen) dan sektor perdagangan,hotel dan restoran sebesar 16,13persen. Sedangkan sektor-sektor lainnyahanya menyumbang total kontribusi sebesar 17,68 persen. Berdasarkan harga konstan(adhk) tahun 2000, PDRB KabupatenAsahan pada tahun 2012 mencapai 5,995 triliun rupiah. Pada tahun 2012 ini semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun 2011. Pada tahun yang sama pertumb uhan ekonomi Kabupaten Asahan mencapai 5,57 persen,pertumbuhan terbesar terjadi padasektor Keuangan, Usaha Persewaan danJasa Perusahaan (10,27 persen). PDRB per kapita KabupatenAsahan mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2011. Berdasarkanharga berlaku naik dari Rp. 20 236 936menjadi Rp. 22 682 748 sedangkan adhk2000 juga mengalami peningkatan dariRp. 8 420 068 tahun 2011 menjadi Rp. 8845 000 pada tahun 2012.
2. PDRB (DATA Asahan dalam angka 2012)
Pada tahun 2011 PDRB Kabupaten Asahan atas dasar harga berlaku (adhb) mencapai 13,650 triliun rupiah. Sektor pertanian merupakan kontibutor utama yang memberikan peranan sebesar 36,29 persen. Selanjutnya diikuti oleh sektor Industri (30,20 persen) dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 16,00 persen. Sedangkan sektor-sektor lainnya hanya menyumbang total kontribusi sebesar 17,51 persen. Berdasarkan harga konstan (adhk) tahun 2000, PDRB Kabupaten Asahan pada tahun 2011 mencapai 5,679 triliun rupiah. Pada tahun 2011
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 33 ini semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun 2010. Pada tahun yang sama pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asahan mencapai 5,37 persen, pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor listrik, gas dan air minum (7,56 persen). PDRB per kapita Kabupaten Asahan mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010. Berdasarkan harga berlaku naik dari Rp. 17 854 521 menjadi Rp. 20 236 936 sedangkan adhk 2000 juga mengalami peningkatan dari Rp. 8 065 320 tahun 2010 menjadi Rp. 8420 068 pada tahun 2011.
3. PERINDUSTRIAN DAN ENERGI
A. PERINDUSTRIAN DAN ENERGI (DATA Asahan dalam angka 2014) 1. Perindustrian
Di Indonesia industri pengolahan dibagi menurut jumlah tenaga kerjanya yaitu berskala besar, sedang, kecil dan rumah tangga. Data industri besar dan sedang dikumpulkan oleh BPS sedangkan data industri kecil dan rumah tangga diperoleh dari dinas Kopperindag dan Penanaman Modal Kabupaten Asahan. Pada tahun 2013, perusahaan industri besar di Asahan berjumlah 17 perusahaan dan industri sedang berjumlah 81 perusahaan. Sedangkan jumlah industri kecil dan kerajinan rumah tangga pada tahun 2013 berjumlah 98 unit.
2. E n e r g i
Kebutuhan listrik penduduk Kabupaten Asahan sebagian besar dipasok oleh PLN Ranting Kisaran. Pada tahun 2013 di PLN Ranting Kisaran terdapat 59.050 pelanggan dengan jumlah daya tersambung sebesar 63.098.805 KVA. Pada tahun 2013, PDAM Kisarantelah menyalurkan air bersih khusus ke wilayah Kabupaten Asahan sebanya3.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 34 126.647 meter kubik. Jumlahpelanggan air bersih sebanyak 12.12pelanggan dan sebagian besar pelangganberasal dari rumah tangga denganjumlah air yang disalurkan mencap2.553.499 meter kubik.
B. PERINDUSTRIAN DAN ENERGI (DATA Asahan dalam angka 2013) 1. Perindustrian
Di Indonesia industri pengolahan dibagi menurut jumlah tenaga kerjanya yaitu berskala besar, sedang, kecil dan rumah tangga. Data industri besar dan sedang dikumpulkan oleh BPS sedangkan data industri kecil dan rumah tangga diperoleh dari dinas Kopperindag dan Penanaman Modal Kabupaten Asahan. Pada tahun 2012, perusahaan industri besar di Asahan berjumlah 16 perusahaan dan industri sedang berjumlah 100 perusahaan. Sedangkan jumlah industri kecil dan kerajinan rumah tangga pada tahun 2012 berjumlah 722 unit.
2. E n e r g i
Kebutuhan listrik penduduk Kabupaten Asahan sebagian besar dipasok oleh PLN Ranting Kisaran. Pada tahun 2012 di PLN Ranting Kisaran terdapat 62 285 pelanggan dengan jumlah daya tersambung sebesar 62 994405 KVA.
Pada tahun 2012, PDAM Kisaran telah menyalurkan air bersih khusus ke wilayah Kabupaten Asahan sebanyak 3681 384 meter kubik. Jumlah pelanggan air bersih sebanyak 15 172 pelanggan dan sebagian besar pelanggan berasal dari rumah tangga dengan jumlah air yang disalurkan mencapai 3 123 684 meter kubik.
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 35
3. PERINDUSTRIAN DAN ENERGI (DATA Asahan dalam angka 2012) 1. Perindustrian
Di Indonesia industri pengolahan dibagi menurut jumlah tenaga kerjanya yaitu berskala besar, sedang, kecil dan rumah tangga. Data industri besar dan sedang dikumpulkan oleh BPS sedangkan data industri kecil dan rumah tangga diperoleh dari dinas Kopperindag dan Penanaman Modal Kabupaten Asahan. Pada tahun 2011, perusahaan industri besar di Asahan berjumlah 19 perusahaan dan industri sedang berjumlah 97 perusahaan. Sedangkan jumlah industri kecil dan kerajinan rumah tangga pada tahun 2011 berjumlah 708 unit.
2. E n e r g i
Kebutuhan listrik penduduk Kabupaten Asahan sebagian besar dipasok oleh PLN Ranting Kisaran. Pada tahun 2011 di PLN Ranting Kisaran terdapat 66 639 pelanggan dengan jumlah daya tersambung sebesar 66 675 KVA. Pada tahun 2011, PDAM Kisaran telah menyalurkan air bersih khusus ke wilayah Kabupaten Asahan sebanyak 2608 536 meter kubik dengan nilai penjualan sekitar 581,5 juta rupiah. Jumlah pelanggan air bersih sebanyak 15171 pelanggan dan sebagian besar pelanggan berasal dari rumah tangga dengan jumlah air yang disalurkan
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 36
4.2 Kecamatan AirJoman
Berikut ini adalah gambaran umum kecamatan AirJoman sebagai salah satu pusat kegiatan kecamatan yang menjadi daerah khusus.
Tabel 4.1 Letak dan Geografis
Karakteristik Penjelasan
[1] [2]
1. Letak Wilayah Terletak di Asahan Bawah
2. Luas Wilayah 98,74 Km2
3.Letak astronomis Lintang Utara 2º00'00" - 3º00'00" Bujur Timur 99º00 - 100º00
4. Daerah Administratif Terdiri dari 6 Desa dan 1 Kelurahan 5. Ketinggian dari permukaan laut 5 – 7 meter
6. Batas – batas wilayah -Sebelah Utara dengan Kec.Silau Laut - Sebelah Selatan dengan Kec. Sei Dadap dan
Kec.Simp. Empat
- Sebelah Timur dengan Kota Tanjung Balai
- Sebelah Barat dengan Kec. Kisaran Timur dan Kec.
Rawang Panca Arga
7. Iklim Terdiri dari 2 musim yaitu Musim hujan
dan kemarau
8. Curah Hujan ± 1622 mm³/tahun
9. Keadaan Alam Dataran rendah, tanah liat putih, tanah liat merah
Sumber:Kantor Camat
Tabel 4.2 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan AirJoman tahun 2013
Desa/kelurahan luas penduduk Kepadatan
penduduk
(km2) % jumlah %
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
Binjai Serbangan 15,25 15,44 15.191 32,50 996
Air Joman 14,00 14,19 6.148 13,15 439
Air Joman Baru 12,00 12,15 4.367 9,34 364
Punggulan 7,00 7,09 9.235 19,76 1.319
Pasar lembu 10,20 10,33 3.514 7,52 344
Banjar 7,10 7,19 4.301 9,20 606
Subur 33,19 33,61 3.982 8,52 120
Kec. Air Joman 98,74 100,00 46.738 100,00 473 Sumber: BPS Asahan
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 37
Tabel 4.3 Luas Wilayah Penggunaan Lahan Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan AirJoman Tahun 2013
Desa/kelurahan Lahan pertanian
perkebunan Tegal/kebun Lading/huma Hutan
rakyat tambak
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
Binjai
Serbangan 982 - 106 - -
Air Joman 1.072 - 8 - -
Air Joman Baru 963 - 12 - -
Punggulan 347 - 73 - -
Pasar lembu 899 - 9 - -
Banjar 578 - 6 - -
Subur 3.113 - 11 - -
Kec.AirJoman 7.954 - 225 - -
Desa/kelurahan Lahan pertanian
Tambak/kolam Padang
rumput Sementara tidak diusahakan lainnya jumlah [1] [7] [8] [9] [10] [11] Binjai Serbangan - - - - 1.088 Air Joman - - - - 1.080
Air Joman Baru - - - - 975
LahPunggulan - - - - 420
Pasar lembu - - - - 908
Banjar - - - - 584
Subur - - - - 3.124
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 38
Tabel 4.4 Luas Tanaman Perkebunan Rakyat menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan AirJoman Tahun 2013
Desa/kelurahan Perkebunan
Karet (Ha) Kelapa
(Ha) Kelapa Sawit (Ha) Coklat (Ha)
[1] [2] [3] [4] [5]
Binjai
Serbangan - 128 998 16
Air Joman - 232 932 21
Air Joman Baru - 179 874 18
LahPunggulan - 136 291 19
Pasar lembu - 297 452 22
Banjar - 186 474 10
Subur - 11 281 6
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 39
BAB 5
POLA TATA RUANG
5.1 PENGERTIAN RENCANA POLA RUANG
Rencana pola ruang dalam RDTR merupakan rencana distribusi subzona peruntukan yang antara lain meliputi : zona hutan lindung, zona yang memberikan perlindungan terhadap zona dibawahnya, zona perlindungan setempat, perumahan, perdagangan dan jasa, perkantoran, industri, dan RTNH, ke dalam blok-blok. Rencana pola ruang dimuat dalam peta yang juga berfungsi sebagai zoning map bagi peraturan zonasi.
Rencana pola ruang berfungsi sebagai :
a) Alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial, ekonomi, serta kegiatan pelestarian fungsi lingkungan dalam BWP;
b) Dasar penerbitan izin pemanfaatan ruang; c) Dasar penyusunan RTBL; dan
d) Dasar penyusunan rencana jaringan prasarana. Rencana pola ruang dirumuskan berdasarkan :
a) Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dalam BWP; dan
b) Perkiraan kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan sosial ekonomi dan pelestarian fungsi lingkungan.
Rencana pola ruang dirumuskan dengan kriteria :
a) Mengacu pada rencana pola ruang yang telah ditetapkan dalam RTRW; b) Memperhatikan rencana pola ruang bagian wilayah yang berbatasan;
c) Memperhatikan mitigasi dan adaptasi bencana pada BWP, termasuk dampak perubahan iklim; dan
d) Menyediakan RTH dan RTNH untuk menampung kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Rencana pola ruang RDTR terdiri atas : a) Zona lindung yang meliputi:
1) Zona hutan lindung;
Bab
5
Bab
5
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 40 2) Zona yang memberikan perlindungan terhadap zona di bawahnya yang meliputi
zona bergambut dan zona resapan air;
3) Zona perlindungan setempat yang meliputi sempadan pantai, sempadan sungai, zona sekitar danau atau waduk, dan zona sekitar mata air;
4) Zona RTH kota yang antara lain meliputi taman RT, taman RW, taman kota dan pemakaman;
5) Zona suaka alam dan cagar budaya;
6) Zona rawan bencana alam yang antara lain meliputi zona rawan tanah longsor, zona rawan gelombang pasang, dan zona rawan banjir; dan
7) Zona lindung lainnya.
b) Zona budi daya yang meliputi :
1) Zona perumahan, yang dapat dirinci ke dalam perumahan dengan kepadatan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah (bila diperlukan dapat dirinci lebih lanjut ke dalam rumah susun, rumah kopel, rumah deret, rumah tunggal, rumah taman dan sebagainya); zona perumahan juga dapat dirinci berdasarkan kekhususan jenis perumahan, seperti perumahan tradisional, rumah sederhana/sangat sederhana, rumah sosial, dan rumah singgah;
2) Zona perdagangan dan jasa, yang meliputi perdagangan jasa deret dan perdagangan jasa tunggal (bila diperlukan dapat dirinci lebih lanjut ke dalam lokasi PKL, pasar tradisional, pasar modern, pusat perbelanjaan, dan sebagainya);
3) Zona perkantoran, yang meliputi perkantoran pemerintah dan perkantoran swasta;
4) Zona sarana pelayanan umum, yang antara lain meliputi sarana pelayanan umum pendidikan, transportasi, kesehatan, olahraga, sosial budaya, dan sarana pelayanan umum peribadatan;
5) Zona industri, yang meliputi industri kimia dasar, industri mesin dan logam dasar, industri kecil, dan aneka industri;
6) Zona khusus, yang berada di kawasan perkotaan dan tidak termasuk ke dalam zona sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampai dengan angka 5 yang antara lain meliputi zona untuk keperluan pertahanan dan keamanan, zona Instalasi
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 41 Pengolahan Air Limbah (IPAL), zona Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), dan zona khusus lainnya;
7) Zona lainnya, yang tidak selalu berada di kawasan perkotaan yang antara lain meliputi zona pertanian, zona pertambangan, dan zona pariwisata; dan
8) Zona campuran, yaitu zona budidaya dengan beberapa peruntukan fungsi dan/atau bersifat terpadu, seperti perumahan dan perdagangan/ jasa, perumahan, perdagangan/ jasa dan perkantoran.
5.2 ZONA LINDUNG
Tujuan dari penetapan zona lindung di Kawasan Perkotaan Air Joman selain untuk melindungi sumber daya alam atau buatan yang ada di dalamnya, juga ditujukan untuk mencegah berbagai kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan baik pada zona lindung maupun sekitarnya.
Rencana pemanfaatan zona lindung di Kawasan Perkotaan Air Joman berupa zona perlindungan setempat, zona rawan bencana alam dan zona RTH (Ruang Terbuka Hijau) kota.
5.2.1 Zona Perlindungan Setempat
Yang menjadi zona perlindungan setempat di Kawasan Perkotaan Air Joman adalah sempadan rel kereta api. Jalur sempadan rel kereta api adalah kawasan sepanjang kiri kanan rel kereta api. Perlindungan terhadap sempadan kereta api dilakukan untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api.
5.2.2 Zona Rawan Bencana Alam
Bencana alam yang mungkin terjadi di Kawasan Perkotaan Air Joman adalah bencana bahaya kebakaran terutama di kawasan permukiman kepadatan tinggi.
Zona rawan bahaya kebakaran di Kawasan Perkotaan Air Joman terdapat di kawasan permukiman dengan kepadatan tinggi terutama disepanjang Jl. Protokol yang didominasi oleh bangunan perdagangan jasa deret (ruko) dan rumah deret, yang tidak dilengkapi dengan gang kebakaran ataupun tangga darurat portable (dapat dipindah-pindah).
KLHS RANPERDA RDTR AIRJOMAN 2015 42 Bencana kebakaran sering terjadi di perkotaan disebabkan kurangnya kewaspadaan pemilik atau pengguna bangunan akan keselamatan bangunan, ditinjau dari:
Kualitas bangunan, yang materialnya terbuat dari bahan bangunan yang mudah menghantarkan api;
Kualitas dan sistem utilitas bangunan, instalasi elektrikal bangunan yang mudah terbakar dan tidak terisolasi dengan baik, sistem pengamanan kebakaran yang tidak baik;
Jarak antar bangunan yang rapat sehingga mudah menjalarkan api dari satu bangunan ke bangunan terdekat;
Tidak tersedianya akses jalan yang memenuhi syarat bagi mobil pemadam kebakaran;
Tidak tersedianya alat pemadam kebakaran atau hidran air yang memenuhi standar;
Tidak tersedianya ruang terbuka hijau di sekitar sebagai area evakuasi; Adapun upaya fisik yang dapat dilakukan adalah:
Memberlakukan bangunan yang tahan kebakaran;
Memanfaatkan atau memfungsikan fasilitas bangunan/gedung serba guna untuk tempat evakuasi pada tahap tanggap darurat;
Penataan bangunan melalui penerapan ketentuan jarak antar bangunan untuk antisipasi terhadap kemudahan penjalaran api ke bangunan lainnya;
Penataan dengan baik jaringan listrik dan pembatasan pembebanan pada tiang distribusi.
5.2.3 Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
Rencana zona RTH di Kawasan Perkotaan Air Joman berupa Taman Rukun Tetangga (RT), Taman Rukun Warga (RW) dan kuburan/pemakaman umum