ii
LAPORAN PRAKTIKUM
LAPORAN PRAKTIKUM
INDUSTRI TERNAK UNGGAS
INDUSTRI TERNAK UNGGAS
PEMELIHARAAN AYAM BROILER
PEMELIHARAAN AYAM BROILER
Disusun oleh : Disusun oleh : Kelompok XIV Kelompok XIV Arnita De
Arnita Dewi Nurawi Nurasri sri PT/0711PT/071166 Laksa
Laksa Ersa Ersa Anugratama Anugratama PT/07146PT/07146 Tika
Tika Amalia Amalia Solihah Solihah PT/07179PT/07179 Dita
Dita Fajri Fajri Astuti Astuti PT/07229PT/07229 Faridah
Faridah Fatmawati Fatmawati PT/07239PT/07239 Mila
Mila Arlinda Arlinda PT/07263PT/07263 Hanif
Hanif Nalas Nalas Wafi Wafi 16106220711610622071 Asisten Pendamping : I Gede Asnada Putra Asisten Pendamping : I Gede Asnada Putra LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS
DEPARTEMEN PRODUKSI TERNAK DEPARTEMEN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA YOGYAKARTA
2018 2018
ii ii
HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PENGESAHAN
Laporan praktikum Industri Ternak Unggas ini disusun untuk memenuhi Laporan praktikum Industri Ternak Unggas ini disusun untuk memenuhi syarat dalam mata kuliah Industri Ternak Unggas di Fakultas Peternakan syarat dalam mata kuliah Industri Ternak Unggas di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Laporan ini telah diperiksa dan disahkan oleh asisten pembimbing pada Laporan ini telah diperiksa dan disahkan oleh asisten pembimbing pada tanggal
tanggal 2018, 2018, dan dan dinyatakan dinyatakan sesuai sesuai dengan dengan ketentuan ketentuan dan dan syaratsyarat yang telah diterapkan.
yang telah diterapkan.
Yogyakarta, 2018 Yogyakarta, 2018
Asisten
Asisten PembimbiPembimbingng
I Gede Asnada P I Gede Asnada P
KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat melaksanakan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat melaksanakan acara
acara Praktikum Praktikum Industri Industri Ternak Ternak Unggas Unggas dan dan menyelesaikan menyelesaikan tugastugas penyusunan laporan ini.
penyusunan laporan ini.
Praktikum Industri Ternak Unggas dilaksanakan guna memenuhi salah Praktikum Industri Ternak Unggas dilaksanakan guna memenuhi salah satu syarat Mata Kuliah Industri Ternak Unggas. Ucapan terima kasih kami satu syarat Mata Kuliah Industri Ternak Unggas. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada:
sampaikan kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA. DEA. selaku dekan Fakultas Peternakan 1. Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA. DEA. selaku dekan Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
2. Prof. Dr. Ir. Sri Harimurti, SU., Prof. Ir. Wihandoyo, M.S., Ph.D., Dr.Ir. 2. Prof. Dr. Ir. Sri Harimurti, SU., Prof. Ir. Wihandoyo, M.S., Ph.D., Dr.Ir. Heru sasongko, M.P., drh. Bambang Ariyadi, M.P., Ph.D., dan Dr. Ir. Heru sasongko, M.P., drh. Bambang Ariyadi, M.P., Ph.D., dan Dr. Ir. Sri Sudaryati, M.S. selaku dosen pengampu mata kuliah Industri Sri Sudaryati, M.S. selaku dosen pengampu mata kuliah Industri Ternak Unggas.
Ternak Unggas.
3. Segenap asisten Industri Ternak Unggas yang telah membimbing 3. Segenap asisten Industri Ternak Unggas yang telah membimbing
dalam penyusunan laporan. dalam penyusunan laporan.
4. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang telah 4. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang telah
membantu penyusunan laporan ini membantu penyusunan laporan ini
Penyusun menyadari bahwa laporan Praktikum Industri Ternak Penyusun menyadari bahwa laporan Praktikum Industri Ternak Unggas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun membuka Unggas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun membuka diri atas masukan dan saran ataupun kritik yang membangun sehingga diri atas masukan dan saran ataupun kritik yang membangun sehingga mendorong penyusun untuk menyusun yang lebih baik. Penyusun berharap mendorong penyusun untuk menyusun yang lebih baik. Penyusun berharap laporan ini dapat menambah wawasan dan pengalaman serta memberikan laporan ini dapat menambah wawasan dan pengalaman serta memberikan manfaat khususnya mahasiswa Fakultas Peternakan UGM dan pembaca manfaat khususnya mahasiswa Fakultas Peternakan UGM dan pembaca pada umumnya.
pada umumnya.
Yogyakarta,
Yogyakarta, April April 20182018 Penyusun Penyusun
iv
DAFTAR ISI Halaman
LAPORAN PRAKTIKUM ... i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GRAFIK ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 2
Manfaat ... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
Produktivitas ... 3
Jenis-Jenis Litter ... 4
BAB III. MATERI DAN METODE ... 7
Materi ... 7 Alat ... 7 Bahan ... 7 Metode ... 7 Persiapan kandang ... 7 Pemeliharaan ... 8
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 10
Feed intake... 10
Water intake ... 11
Body weight ... 13
Gain... 15
Feed convertion ratio... 17
BAB V. KESIMPULAN ... 22
Kesimpulan ... 22
Saran ... 22
DAFTAR PUSTAKA ... 23
vi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
DAFTAR GRAFIK Grafik Halaman 1. Feed intake ... 11 2. Water Intake ... 13 3. Body weight ... 15 4. Gain ... 17
5. Feed convertion ratio ... 19
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Perhitungan Indeks Performans ... 25
2. Lembar Kerja ... 26
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ayam pedaging yang biasa disebut broiler merupakan ayam ras hibreed khusus sebagai penghasil daging dengan ciri khasnya pertumbuhannya sangat cepat. Selama 6 minggu ayam dapat mencapai berat hidup 1500 gram per ekor dan sudah dapat dipotong untuk menghasilkan daging. Pemberian pakan yang khusus dan pemeliharaan yang baik dapat dihasilkan ayam yang seragam pertumbuhan, penampakan, kesehatannya dan ukuran tubuhnya. Kondisi yang demikian akan menyebabkan karkas yang dihasilkannya juga dapat menjadi seragam.
Ayam broiler dipanen dan dipotong pada umur 8 sampai 10 minggu, bahkan ada yang menghendaki sampai umur 12 minggu karena pada umur-umur itu daging ayam broiler sudah kompak kenyal, peletakan dagingnya tebal, peletakan lemaknya sudah nyata dan mutu dagingnya mencapai paling tinggi. Antara berbagai golongan ayam ras, ayam broiler adalah yang paling cepat diproduksi dan dagingnya dapat menduduki kelas yang paling tinggi mutunya, dengan penampilan yang seragam baik mutu maupun ukurannya. Broiler yang dipotong pada umur yang tepat dapat menghasilkan daging yang empuk, tekstur kulit yang halus dan tulang dada yang masih lentur, dengan peletakan lemak yang belum banyak, namun dengan aroma daging yang sudah penuh.
Pemeliharaan ayam broiler di industri peternakan dapat menggunakan kandang dengan tipe closed house dengan alas litter. Sistem pemeliharaan ayam harus menggunakna jenis litter yang sesuai. Pemilihan bahan litter yang digunakan sebaiknya harus sesuai dengan target pemelihaaan dan mudah didapatkan oleh peternak. Pemeliharaan ayam broiler dengan memberi perlakuan perbedaan jenis litter yang digunakan yaitu untuk
2
mengetahui pengaruh jenis litter yang digunakan terhadap produktivitas ayam serta mengetahui jenis litter yang paling baik untuk digunakan sebagai alternatif dalam pemeliharaan ayam broiler.
Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum pemeliharaan ayam broiler dengan perbedaan jenis bahan litter adalah untuk mengetahui body weight, gain, FCR, dan Indeks Performans terbaik diantara berbagai jenis litter.
Manfaat
Manfaat dilakukannya praktikum pemeliharaan ayam broiler dengan perbedaan jenis litter adalah dapat mengetahui jenis liiter yang terbaik untuk memenuhi target pemeliharaan yang diinginkan.
BAB II
Tinjauan Pustaka
Produktivitas
Induk ayam lohman merupakan jenis strain yang dibesarkan untuk menghasilkan produksi telur yang tinggi dan menguntungkan. Garis keturunan hati - hati dipilih karena kemampuannya menghasilkan strain yang bagus (final stock). Dekade terakhir kualitas metode peternakan canggih telah meningkat secara signifikan, karena pengembangan sistem pengolahan data dan teori seleksi sistematis, sehingga mengubah kuantitatif yang modern genetika menjadi kenyataan. Ayam Lohman digunakan untuk teknik -teknik pembuatan galur murni untuk mendapatkan berbagai pengalaman dan pengetahuan, dan sebagai peringkat utama untuk pertanyaan kesehatan unggas yang meruapakan salah satu faktor yang menentukan untuk kinerja dan profitabilitas (Tierzucht, 2014).
Ayam ras pedaging merupakan hasil perkawinan silang dan sistem yang berkelanjutan sehingga mutu genetiknya bisa dikatakan baik. Mutu genetik yang baik akan muncul secara maksimal sebagai penampilan produksi jika ternak tersebut diberi faktor lingkungan yang mendukung, misalnya pakan yang berkualitas tinggi, sistem perkandangan yang baik, serta perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Broiler merupakan ternak yang paling ekonomis bila dibandingkan dengan ternak lain, kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam waktu yang relatif cepat dan singkat atau sekitar 4-5 minggu produksi daging sudah dapat dipasarkan atau dikonsumsi. Kondisi lingkungan memiliki efek pada kesejahteraan dan kinerja unggas. Faktor paling penting dalam lingkungan yaitu suhu, kelembaban, dan tingkat gas beracun di udara (Tierzucht, 2014). Berdasarkan PT. Ciomas Adisatwa (2016) bobot panen ayam Lohman MB 202 pada umur 4 minggu sebesar 1,48 kg.
4
Jenis-Jenis Litter
Material litter yang umum digunakan pada peternakan ayam, dimana masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, berkaitan dengan fungsinya sebagai insulator hawa dingin dari lantai dan kemampuannya dalam menyerap air yang berasal dari kotoran, maupun ceceran atau tumpahan air minum. Berikut beberapa jenis litter beserta fungsinya,potongan jerami, limbah mebel dan kulit padi. Potongan jerami padi dengan panjang 2 sampai 3 cm sangat baik bila dipakai sebagai litter , potongan jerami harus selalu dibalik untuk meningkatkan kemampuan dalam menyerap air, syarat dari pemakaian potongan jerami sebagai litter adalah harus bebas dari jamur dan pestisida. Limbah mebel, limbah mebel dari jenis kayu yang cukup lunak dan sangat sedikit sekali kandungan debunya sangat baik untuk dijadikan litter , secara umum limbah mebel mempunyai kemampuan menyerap air yang sangat tinggi, residu dari bahan kimia yang digunakan untuk mengawetkan kayu berbahaya untuk ayam atau dapat mewarnai kulit ayam. Kulit padi yang dihasilkan dari sisa penggilingan padi juga cukup baik untuk digunakan sebagai bahan litter , hanya saja bila dibandingkan dengan limbah mebel kemampuan menyerap airnya sangat terbatas, maksimal mampu menyerap air sebanyak 30%, oleh karena itu bila menggunakan kulit padi sebagai bahan litter harus sering diganti atau dikeluarkan bila sudah nampak lembab atau basah (Romindo, 2005).
Bahan litter yang digunakan harus mempunyai syarat-syarat antara lain ringan, mempunyai partikel yang sedang, daya serap air yang tinggi (higroskopis), cepat menjadi kering, lunak, mempunyai nilai konduksi panas yang rendah, dan mudah didapat (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Setyawati (2004), bahan litter yang berbeda jenisnya akan berbeda pula ukuran partikel litter , berat partikel litter nya, daya konduksi termal dan daya serapnya terhadap air. Lebih lanjut perbedaan tersebut menjadikan keadaan oksigen, debu dan kelembaban di dalam kandang akan bervariasi pula bila
menggunakan bahan litter yang berbeda dan akhirnya akan berpengaruh terhadap kondisi internal litter tersebut. Mugiyono (2001) dalam Setyawati (2004) menambahkan bahwa bahan litter yang baik adalah efektif sebagai absorban, bebas kotoran atau debu, tidak mudah habis, bebas racun, murah, mudah dibersihkan dan banyak tersedia.
Sekam padi dapat digunakan sebagai litter. Sekam padi memiliki kelebihan tidak menimbulkan bau karena mempunyai partikel besar dan sedikit berat, sehingga amoniak yang terbentuk di dalam kandang yang diakibatkan dari ekskreta broiler dapat diminimalisir sehingga frekuensi pernafasan broiler tidak terlalu tinggi (Rasyaf, 2004). Namun, daya serap air dari sekam padi lebih sedikit karena mempunyai kandungan air yang tinggi yaitu sekitar 16,30 % (Mugiono, 2003).
Limbah mebel merupakan hasil dari industri pengolahan kayu. Sifat yang dimiliki limbah mebel dapat menyerap air dari ekskreta. Bahan litter limbah mebel dapat lebih mudah menyerap air sehingga akan meminimalisir timbulnya bibit penyakit yang disebabkan oleh lantai yang basah dan lembab (Demirulus, 2006). Namun, penggunaan bahan litter limbah mebel dapat menimbulkan sedikit luka pada bagian dada broiler karena limbah mebel berpartikel besar dan sedikit kasar (Wank, 2005).
Jerami padi dapat digunakan sebagai bahan litter. Kelebihan jerami padi relatif tahan pada suhu panas dan mudah dalam pengelolaannya dan mengurangi kemungkinan lepuh dada (Rasyaf, 2004). Namun, jerami padi ini bersifat musiman sehingga pada saat musim panen selesai maka jerami akan sulit untuk diperoleh (Mugiono, 2003).
Ampas penyulingan daun cengkeh yang masih mengandung minyak atsiri selama pemeliharaan ayam broiler dapat menekan gejala koksidiosis. Penggunaan ampas penyulingan daun cengkeh sebagai litter dalam pemeliharaan ayam broiler bermanfaat sebagai bahan litter dapat menekan
6
gejala koksidiosis karena masih mengandung flavanoid dan saponin (Nurawaliah, 2014).
Ampas dari penyulingan daun serai merupakan limbah pertanian yang mengandung mintyak atsiri. Ampas penyulingan daun serai ini banyak digunakan sebagai bahan bakar dan sebagai pupuk. Minyak atsiri dapat digunakan sebagai anti bakteri, anti septik, dan anti mikrobia. Kelebihan penggunaan ampas daun serai sebagai litter yaitu dapat mengurangi kadar ammonia, dan mengurangi penyebaran penyakit (Nurawaliah, 2014)
BAB III
MATERI DAN METODE
Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum Industri Ternak Unggas adalah sikat, gunting, solasi, tempat pakan, tempat minum, suntikan, lampu 40 watt, timbangan, meteran, peniti, kertas, pembatas (sekat antar kelompok), selang, gelas ukur, cangkul, sabit, tang, koran, ember, timbangan digital, karung, kawat, spons, dan sapu lidi.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum Ternak Unggas adalah DOC broiler strain Lohmann MB 202 sebanyak 8 ekor, pakan berupa crumble, air gula, air tawar, vaksin ND I, vaksin ND II, vaksin gumboro, larutan dapar, aquades, limbah meubel, kulit kacang tanah, ampas daun serai, daun cengkeh, sekam padi, dan, tongkol jagung,
Metode Persiapan kandang
Metode yang dilakukan saat praktikum persiapan kandang adalah sebelum DOC dimasukkan ke dalam kandang dilakukan sanitasi terlebih dahulu di dalam kandang dan lingkungan kandang. Kandang dan sekelilingnya disemprot desinfektan (rodalon) agar virus atau bakteri di sekitar kandang mati dan ayam yang dipelihara tetap sehat. Pembersihan tempat pakan dan minum dilakukan dengan mencelupkan tempat pakan dan minum pada larutan rodalon agar lebih steril dan selanjutnya dilakukan fumigasi di dalam kandang. Dinding kandang dilapisi dengan menggunakan gedek, terpal dan karung agar DOC terlindung dari udara langsung terutama dimalam hari dan agar DOC tidak termangsa oleh garangan. Satu hari sebelum DOC masuk, pemanas harus sudah terpasang. Pemanas menggunakan lampu 40 watt. Dilakukan penyemprotan menggunakan
8
desinfektan pada seluruh bagian kandang yang benar-benar tertutup. Kandang ditutup rapat dengan menutup seluruh ventilasi kandang lalu pintu kandang ditutup rapat-rapat dan dibiarkan selama 2 hari sebelum DOC dimasukkan. Alas kandang diberi atau ditaburi dengan litter dengan menggunakan limbah mebel agar DOC merasa hangat.
Pemeliharaan
Pemberian pakan dan minum. Metode yang dilakukan saat praktikum pemberian pakan dan minum harian adalah DOC saat pertama masuk diberi minum berupa larutan gula agar energi dalam tubuh tidak terkuras habis. Pakan yang diberikan berupa crumble untuk 4 minggu pemeliharaan. Pemberian pakan dan minum pada minggu pertama diberikan 1 kali sehari pada sore hari jam 15.00 – 15.30 . pemeliharaan minggu kedua sampai panen pemberian pakan dan minum dilakukan setiap 2 kali sehari yaitu pagi jam 06.30 dan sore jam 15.30, untuk minum harus selalu ada dan dalam keadaan bersih. Pemberian pakan dilakukan dengan perhitungan yang telah ditetapkan pada tabel yang tersedia.
Vaksinasi. Metode yang dilakukan saat praktikum vaksinasi adalah vaksinasi dilakukan sebanyak 3 kali. Minggu pertama dilakukan vaksinasi ND I dengan metode tetes mata yang dilakukan dengan cara meneteskan vaksin yang sudah dicampur dengan pelarut ke bagian mata sesuai dengan aturan dari vaksin yang digunakan, yaitu sebanyak 1 tetes per ekor. Minggu kedua dilakukan vaksinasi gumboro, pemberian vaksin ini dengan cara mencampurkan vaksin ke dalam air minum dengan dosis yang dianjurkan yaitu dengan sebanyak 100 gr vaksin dicampur dengan 3 liter air. Vaksin ini dilakukan sebagai pencegahan penyakit gumboro. Minggu ketiga dilakukan vaksinasi ND II pada umur kurang lebih 21 sampai 30 hari karena pada umur tersebut ayam rentan terserang penyakit ND. Vaksinasi ND II dilakukan dengan cara injeksi atau suntik pada bagian intra muscular bagian dada
sebelah kiri. Ukuran vaksin ND II yaitu 1 : 2 (vaksin ND II : aquades), dan dosis yang dimasukkan ke dalam ayam yaitu 0,5 ml.
Pengambilan data
Metode yang dilakukan saat praktikum pengambilan data adalah Feed Intake, Water Intake, body weight, gain, FCR, dan Indeks Performan. FI atau Feed Intake adalah konsumsi pakan yang dibutuhkan ternak. Mendapatkan data FI dengan menjumlahkan seluruh konsumsi pakan dalam seminggu. FI didapatkan dengan menjumlahkan banyaknya pakan yang diberikan dikurangi dengan jumlah pakan yang tersisa, lalu dibagi jumlah ayam yang hidup (gram/ekor/hari). Gain adalah pertambahan bobot ayam setiap minggunya atau perharinya. Perhitungan gain dapat dilakukan dengan bobot akhir dikurangi dengan bobot awal. WI ( water intake) adalah konsumsi air minum pada ternak. Menghitung kebutuhan air minum ayam adalah air minum yang sisa dihitung dengan menggunkan gelas ukur. Body weight adalah bobot hidup ayam. Body weight didapat dengan menimbang ayam menggunakan timbangan elektrik yang tersedia. FCR ( feed conversion ratio) adalah jumlah konumsi pakan terhadap pertambahan berat badan. Cara menghitung FCR yaitu feed intake per gain. Indeks Performan adalah indeks produktifitas ayam yang digunakan untuk menghitung keberhasilan suatu usaha. Rumus yang dapat digunakan untuk mencari indeks performans yaitu sebagai berikut.
Indeks Performans =(−D)xBerat Badan rata−rata
10 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data produktivitas ayam broiler yang telah dipelihara dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Produktivitas Ayam Broiler
Parameter Perlakuan 1 2 3 4 5 6 Feed intake 2134,69 g 2062,72 g 1020,81 g 2119,63 g 1835,32 g 1212,43 g Water intake 7115 ml 4793,81 ml 5773,75 ml 5544 ml 1902,81 ml 5000 ml Body weight 1515,5 g 1417 g 1640 g 1640,7 g 1495,71 g 1652,37 g Gain 1470,75 g 1369,15 g 1597,5g 1603,14 g 1456,87 g 1647,25 g FCR 1,405 1,45 1,33 1,35 1,86 1,33 IP 318,38 305,38 440,39 380,32 251,6 453,81
Keterangan: Perlakuan 1 adalah litter sekam; perlakuan 2 adalah litter kulit kacang; perlakuan 3 adalah litter serai; perlakuan 4 adalah litter cengkeh, dan p er lakuan 5 adalah litter tongkol
jagung, dan perlakuan 6 adalah litter limbah mebel.
Feed intake.
Feed intake adalah jumlah pakan yang dimakan dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan data konsumsi pakan ayam broiler dengan perlakuan litter sekamsebanyak 2134,69 gram, perlakuan litter kulit kacang sebanyak 2062,72 gram, perlakuan litter serai sebanyak 1020,81 gram, perlakuan litter cengkeh sebanyak 2119,63 gram, perlakuan litter tongkol jagung sebanyak 1835,32 gram, dan perlakuan litter limbah mebel sebanyak 1212,43 g. Wiriawan et al., (2005) menyatakan bahwa feed intake ayam broiler yang dipelihara selama 5 minggu pada suhu 28ºC berada pada kisaran 2505,7 sampai 2646,8 gram/ekor. Anwar et al., (2016) menyatakan bahwa rata-rata konsumsi ayam broiler pada litter sekam adalah 101,35 g/ekor/hari atau 3040,5 g/ekor selama 28 hari dan konsumsi rata-rata ayam broiler pada litter limbah mebel adalah 109,12 g/ekor/hari atau 3055,36 g/ekor selama 28 hari .0 500 1000 1500 2000 2500 sekam kulit kacang
serai cengkeh tongkol jagung
serutan kayu Feed Intake
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan hasil praktikum tidak sesuai denga literatur. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan pada ayam antara lain temperatur/suhu, bentuk pakan, produksi, umur, jenis kelamin, temperatur air, dan jenis tempat minum. Manurung (2011) menyatakan bahwa faktor utama yang mempengaruhi konsumsi pakan ayam adalah genetik, ventilasi, sanitasi, kualitas pakan, jenis pakan, dan penyakit. Menyatakan bahwa faktor utama yan mempengaruhi konsumsi pakan ayam adalah genetic, ventilasi, sanitasi, kualitas pakan, jenis pakan, dan penyakit.
Grafik 1. Feed intake
Water intake
. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperolehhasil water intake pada litter sekam, kulit kacang, serai, cengkeh, tongkol jagung, dan limbah mebel secara berurutan yaitu 7115 ml, 4793,81 ml, 5773,75 ml, 5544 ml, 1902,81 ml, dan 5000 ml. Berdasarkan hasil praktikum, maka diketahui bahwa water intake tertinggi pada perlakuan litter sekam dan
12
water intake terendah pada perlakuan litter kulit kacang. Ahmad dan Elfawati (2008) menyatakan bahwa air minum ayam broiler yang dipelihara selama 5 minggu pemeliharaan sebanyak 4830 ml/ekor. Rasyaf (2008) menyatakan bahwa pakan yang basah dan mengandung air menurunkan water intake namun secara signifikan meningkatkan water intake pada ayam broiler, yang dikalkulasikan sebagai jumlah dari pemberian air minum dan air yang diberikan bersamaan dengan pakan. Thogyani et al. (2010) menjelasakan bahwa jumlah estimasi water intake ayam broiler sampai dengan usia panen 49 hari berkisar sekitar 237 ml per hari per ekor. Jumlah water intake ayam broiler pada litter sekam padi berkisar 7649 ml dan pada litter serutan kayu berkisar 7696 ml pada usia 32 hari (Shambu et al.,2008). Jumlah water intake ayam broiler sampai dengan usia panen 49 hari berkisar sekitar 237 ml per hari/ per ekor (Thogyani et al., 2010). Berdasarkan literatur yang ada, hasil praktikum tidak sesuai dengan literatur. Walukow (2017) menyatakan bahwa faktor -faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan ayam antara lain jenis dan bangsa unggas, umur, bobot badan. Jenis kelamin dan fase produksi
Performans pertumbuhan ayam, gain, feed intake, dan water intake sangat dipengaruhi oleh suhu. Konsumsi air secara signifikan menurun 10% ketika suhu dinaikan 100C (Zulfanita et al., 2 011). Faktor yang dapat
mempengaruhi konsumsi air yaitu suhu lingkungan, konsumsi pakan, komposisi pakan, bentuk pakan, genetik, umur, jenis kelamin, temperatur air, dan jenis tempat minum. Berdasarkan hasil dan literatur maka dapat diketahui semua perlakuan yang diberikan tidak sesuai dengan literatur. Hal ini dapat disebabkan suhu lingkungan yang rendah serta kandaungan air dalam pakan yang tinggi sehingga ayam hanya sedikit membutuhkan air minum. Manurung (2011) menyatakan bahwa faktor utama yan mempengaruhi konsumsi pakan ayam adalah genetik, ventilasi, sanitasi, kualitas air, penggunaan aditif, dan penyakit.
Grafik 2. Water Intake
B ody weig ht
. Body weight yang di dapat dari setiap perlakuan secara berturut-turut yaitu adalah berat badan yang diukur menggunakan timbangan. Body weight didapatkan dengan cara menimbang ayam dengan menggunakan timbangan dengan tingkat akurasi 0,1 kg (Ukwu et al., 2014). Berdasarkan data yang diperoleh saat praktikum, diketahui body weight berturut – turut dimulai dari yang tertinggi sesuai dengan bahan litter masing-masing yaitu limbah mebel 1652,375 gr, ampas penyulingan cengkeh 1640,7 gr, ampas penyulingan serai 1640 gr, sekam 1515,5 gr, tongkol jagung 1495,71 gr, dan kulit kacang tanah 1417 gr. Body weight tertinggi diperoleh pada pemeliharaan dengan bahan litter limbah mebel 1652,375 gr, sedangkan body weight terendah diperoleh pada pemeliharaan dengan bahan litter kulit kacang tanah 1417 gr. Hakim et al.(2014) menyatakan bahwa rata-rata bobot badan ayam broiler yang dipeliharaa pada litter kulit kacang tanah pada umur 28 hari yaitu 1616 gr per ekor. Hasil praktikum yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur.0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 sekam kulit kacang
serai cengkeh tongkol jagung
limbah mebel Water Intake
14
Bahan litter dari limbah mebel memberikan pertambahan bobot badan ayam broiler yang lebih baik dan parasit tungau jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan bahan litter dari sekam padi, jerami padi dan serbuk gergaji kayu (Setyawati, 2004). Bahan litter dari limbah mebel, jerami padi dan sekam padi tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan, konversi pakan dan daya hidup. Metasari (2014) menyatakan bahwa kualitas litter yang berasal dari limbah pertanian seperti tongkol jagung, kulit kacang tanah, sekam padi, limbah mebel, dan jerami padi tidak berbeda nyata terhadap amoniak litter. Hal inilah yang menunjang konsumsi ransum dan pertambahan berat tubuh yang relatif sama, sehingga berakibat pada konversi ransum yang tidak berbeda nyata. Ampas penyulingan cengkeh dan serai memiliki kandungan minyak atsiri. Adanya kandungan minyak atsiri dalam litter membuat konsumsi pakan tidak terganggu sehingga kebutuhan nutrien tercukupi, bahkan minyak atsiri dapat meningkatkan produksi enzim pencernaan, merangsang sirkulasi darah, mempunyai sifat antioksidan, menurunkan kadar bakteri patogen dan dapat meningkatkan status kekebalan (Bernes et al ., 2010). Minyak atsiri adalah suatu substansi alami yang telah dikenal memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Minyak atsiri dapat menghambat beberapa jenis bakteri merugikan seperti Escherichia coli , Salmonella sp, Staphylococcus aureus, Klebsiella dan Pasteurella (Agusta, 2000).
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh body weight tertinggi pada litter sekam, dan yang terendah pada litter kulit kacang tanah. Hasil ini tidak sesuai dengan literatur. Litter dengan bahan limbah pertanian seharusnya memberikan hasil yang tidak jauh berbeda. Seperti pada hasil body weight litter ampas penyulingan cengkeh dan serai yang hasilnya hampir sama. Berikut merupakan grafik body weight ayam broiler berdasar perlakuan yang diberikan.
Grafik 3. Body weight
Gain
. Gain atau pertambahan berat badan dapat dipengaruhi oleh kondisi ternak dan kecernaan ternak. Gain merupakan rata-rata kenaikan berat badan per hari yang diperoleh selama pemeliharaan dibagi lama pemeliharaan. Praktikum pemeliharaan ini bobot ayam ditimbang setiap minggu selama 4 minggu.Berdasarkan data yang diperoleh saat praktikum, urutan gain tertinggi sesuai dengan bahan llitter berturut-turut yaitu limbah mebel 1674,5 gr, ampas cengkeh 1603,14 gr, ampas serai 1597,5 gr, sekam 1470,75 gr, tongkol jagung 1456,78 gr, dan kulit kacang tanah 1369,15. Hasil gain tertinggi diperoleh pada pemeliharaan dengan bahan litter limbah mebel, sedangkan hasil gain terendah diperoleh pada pemeliharaan dengan bahan litter kulit kacang tanah. North dan Bell (1990) menyatakan bahwa kondisi internal litter akan mempunyai efek terhadap kelembapan dan temperatur di
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 Sekam Kulit Kacang Tanah Ampas Serai Ampas Cengkeh Tongkol Jagung Limbah Mebel Body weight
16
luar maupun di dalam kandang, bobot ayam, jumlah udara dalam kandang, konsumsi air, stres ayam, penyakit, dan perkembangan jamur di dalam kandang. Anwar et al . (2015) menyatakan bahwa litter sekam padi, limbah mebel, dan jerami padi diduga dapat menyerap amoniakyang mengakibatkan tidak berbeda nyata terhadap respon fisiologis frekuensi nafas broiler, sehingga broiler pada perlakuan sekam padi, limbah mebel, dan jerami padi dapat mengonsumsi jumlah ransum yang relatif sama. Hasil gain yang diperoleh pada saat praktikum tidak sesuai dengan literatur, karena diantara litter yang menggunakan limbah pertanian terdapat perbedaan yang nyata antara limbah mebel (limbah mebel) dengan kulit kacang tanah. Saputra et al . (2015) menyatakan bahwa penggunaan jenis litter yang berbeda akan memberikan kondisi yang berbeda pula baik dari ukuran partikel litter , berat partikel litter , suhu litter , daya konduksi termal, dan daya serapnya terhadap air sehingga memberikan kondisi internal litter yang berbeda. Hasil yang diperoleh berbeda dapat dipengaruhi oleh ukuran partikel litter dan daya serap air litter yang berbeda-beda. Anwar et al. (2015) menyatakan bahwa rata-rata pertambahan berat badan yang dipelihara dengan litter kacang tanah berkisar antara 80,51 gr per ekor per hari. Berikut merupakan grafik gain ayam broiler berdasar litter yang digunakan.
Grafik 4. Gain
Feed convertion ratio
(FCR). Konversi pakan atau feed convertion ratio (FCR) adalah perbandingan jumlah pakan yang dikonsumsi dengan bobot hidup sampai ayam itu dijual, sehingga semakin kecil angka konversi pakan menunujukkan semakin baik efisiensi penggunaan pakan. Apabila angka perbandingan kecil, berarti kenaikan bobot badan memuaskan atau ayam makan tidak terlalu banyak untuk meningkatkan bobot badannya (Abidin, 2002). Sidadolog (2001) menyatakan bahwa konsumsi pakan memepengaruhi nilai FCR, karena konsumsi pakan digunakan untuk pemeliharaan tubuh (maintenance), produksi dan pertambahan berat badan. Konsumsi pakan perlu diperhatikan supaya konsumsi pakan yang sedikit dapat menghasilkan produksi yang tinggi sehingga penggunaan pakan lebih efektif dan efisienKonversi pakan atau Feed Convertion Ratio (FCR) adalah perbandingan antara jumlah pakan (kg) yang dikonsumsi dengan pertumbuhan berat badan/gain (kg) sampai ayam itu dijual (Suprijatna, 2005) sehingga makin kecil angka konversi pakan menunjukkan semakin baik
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 Sekam Kulit Kacang Tanah Ampas Serai Ampas Cengkeh Tongkol jagung Limbah Mebel Gain
18
efisiensi penggunaan pakan. Bila angka perbandingan kecil berarti kenaikan berat badan memuaskan atau ayam makan tidak terlalu banyak untuk meningkatkan berat badannya (Sidadolog, 2001)
Feed convertion ratio (FCR) pemeliharaan ayam broiler dihitung setiap minggunya. Rata-rata feed convertion ratio (FCR) ayam dengan lantai kandang menggunakan kulit kacang 1,45, cengkeh 1,35, tongkol jagung 1,86, sekam 1,40, limbah mebel 1,33 dan ampas daun serai 1,33. Anwar et al. (2015) menyatakan bahwa FCR ayam broiler selama pemeliharaan dengan perlakukan penggunaan jenis litter sekam padi dan serutan kayu secara berturut-turut yaitu 1,31 dan 1,26. Berdasarkan hasil praktikum tersebut FCR dengan litter limbah mebel dan ampas daun serai hasilnya paling rendah diantara litter yang lain, sedangkan FCR dengan litter tongkol jagung hasilnya paling tinggi diantara litter yang lain. Mugiyono (2001) menyatakan bahwa penggunaan bahan “litter” yang berasal dari limbah industri pengolahan kayu (limbah mebel dan serbuk gergajian kayu)menghasilkan pertumbuhan dan bobot badan yang lebih baik dibanding dengan “litter” dari limbah padi (sekam padi). Hasil praktikum sudah sesuai dengan literatur yang ada.
Bahan litter berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban di dalam kandang (Rasyaf, 2003). Kondisi tersebut memberikan kenyamanan pada ayam karena litter dapat mengangatkan tubuh ayam sehingga aktifitas ayam lebih sedikit dari ayam dalam kandang wire yang beraktifitas lebih banyak. Mugiyono (2001) menyatakan bahwa limbah industri dapat memberikan kondisi optimal bagi kehidupan ayam broiler serta dapat memberikan tambahan riboflavin, vitamin B12 dan APF yang sangat diperlukan proses pertumbuhannya.Efeknya maka pakan yang dikonsumsi lebih efektif karena hanya digunakan untuk produksi daging. Konversi pakan ayam broiler strain CP 707 yang dipelihara pada suhu nyaman pada umur lima minggu adalah 1,62. Penelitian Santoso (2002) dalam Manurung (20111) menunjukan bahwa konversi pakan pada ayam broiler selama lima minggu pada kandang
litter sebesar 1,6. Lesson (2000) dalam Manurung (2011) menyatakan bahwa semakin dewasa ayam maka nilai konversi pakan akan semakin besar.Sholikin (2011) menyatakan bahwa, konversi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu genetik, bentuk pakan, temperatur, lingkungan, konsumsi pakan, bobot badan, dan jenis kelamin. Berikut grafik feed convertion ratio (FCR) ayam dengan lantai kandang yang berbeda:
Grafik 5. Feed convertion ratio
Indeks Performans. Salah satu kriteria yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pemeliharaan adalah dengan menghritung indeks performa. Indeks performa (IP) adalah suatu formula yang digunakan untuk mengetahui performa ayam broiler. Semakin besar nilai IP yang diperoleh,semakin baik prestasi ayam dan semakin efisien penggunaan pakan (Fadilah et al., 2007). Nilai indeks performa dihitung berdasarkan bobot badan siap potong, konversi pakan, umur panen, dan jumlah persentase ayam yang hidup selama pemeliharaan (Kamara, 2009).
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 Kulit Kacang Cengkeh Tongkol Jagung Sekam Limbah Mebel Ampas Daun Serai Tingkat FCR berdasarkan litter
20
Berdasarkan perhitungan indeks performan yang didapatkan saat praktikum untuk alas kandang atau “litter” kulit kacang yaitu sebesar 305,38, untuk alas sekam 318,38, litter serai 440,39, cengkeh 380,32, litter tongkol jagung 251,6, dan limbah mebel 453, 81. IP yang paling tinggi yaitu dari litter
limbah mebel. Cahyono (2004) menyatakan bahwa penggunaan bahan litter harus memperhatikan kriteria-kriteria teknis yaitu memiliki kadar air 20-25% agar mampu menyerap kadar air dengan baik, bahan tidak mudah menimbulkan debu, mudah didapat, harganya murah, dan tidak mengandung bahan tercemar serta tidak menggumpal.
Nilai Indeks Performan yang berada diatas 301 termasuk kategori sangat baik(Surjana, 2011). Selanjutnya Medion (2010) dalam Surjana (2011) menyatakan standar IP yang baik diatas 300, dan semakin tinggi nilai IP maka semakin berhasil peternakan ayam broiler tersebut. Dari hasil perhitungan Indeks Performan diatas, hasil yang sudah sesuai dengan literatur yaitu litter dengan alas kulit kacang, tongkol jagung, sekam, limbah mebel.
Grafik 6. Grafik Indeks Performan
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 Kulit Kacang Sekam Ampas Daun Serai Cengkeh Tongkol Jagung Limbah Mebel
Grafik Indeks Performan
Perbedaan sebaran angka FI, body weight , gain, dan FCR yang diperoleh berbeda untuk setiap jenis litter. Nurawaliah (2014) menyatakan bahwa penggunaan ampas penyulingan daun serai dan cengkeh sebagai litter dalam pemeliharaan ayam broiler bermanfaat untuk menekan gejala koksidiosis karena masih mengandung flavonoid dan saponin. Anwar et al . (2015) menyatakan bahwa pengaruh penggunaan litter limbah mebel, sekam, kulit kacang tanah, dan tongkol jagung tidak berbeda nyata terhadap angka FI, FCR, body weight, dan gain.
22 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum pemeliharaan ayam yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa feed intaketertinggiyaitu 2134,69 gram ayam pada kandang litter sekam. Water intake tertinggi yaitu sebanyak 7115 ml pada ayam kandang litter sekam. Body weight terbaik yaitu pada kandang litter limbah mebel yaitu 1652,375 gram. Gain terttinggi yaitu pada kandang litter seratan kayu sebanyak 1647,25 gram. FCR terbaik sebesar 1,33 pada kandang kandang litter serai dan kandang litter seratan kayu. IP terbaik yaitu pada kandang litter seratan kayu.
Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pemeliharaan ayam, sebaiknya peternak maupun industri ayam broiler memelihara ayam pada kandang dengan litter cengkeh atau kandang dengan litter limbah mebel. Kedua kandang tersebut menghasilkan body weight dan gain yang tinggi. Kedua kandang tersebut juga memiliki FCR yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad dan Elfawati. 2008. Performans ayam broiler yang diberi sari buah mengkudi (Morinda citrifolia). Jurnal Peternakan vol 1(5) hal 10-13. Anwar, R.,K. Nova., T. Kurtini. 2016. Pengaruh penggunaan litter sekam,
serutan kayu, dan jerami padi terhadap performa broiler di Closed House. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung.
Bernes, A. and E. Roura . 2010.Essential oils in poultry nutrition: Main effects and modes of action. Animal Feed Science and Technology. 158: 1 – 14.
Cahyono, B. 2004. Cara meningkatkan budidaya ayam ras pedaging. Cetakan ke-4. Yayasan pustaka nusantara. Jakarta
Hakim, M.R., B. Syamsuriadi, S. Banong, dan W. Pakiding. 2014. Respon berat badan ayam pedaging yang dipuaskan setelah menetas. Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan. Vol 3(3). Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Manurung, E. J. 2011. Performa ayam broiler pada frekuensi dan waktu pemberian pakan yang berbeda. Skripsi. Institut pertanian bogor.
Mugiyono, S. 2001. Pengaruh serasah terhadap tenampilan produksi dan kualitas ayam broiler.laporan penelitian fakultas peternakan unsoed. Purwokerto.
North, M. O. and D. D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. 4th edition. Van Nostrand Rainhold. New York.
Nurawaliah, S. 2014. Pemanfaatan ampas penyulingan daun nilam sebagai bahan litter pada pemeliharaan ayam broiler. Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi.
PT. Ciomas Adisatwa. 2016. Standar Performance Produksi Ayam Broiler Strain New Lohman (MB 202).
Rasyaf, M. 2008. Panduan Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.
Romindo. 2005. Manajemen Pemeliharaan Broiler . PT. Romindo Primavetcom, Jakarta.
Saputra, T.H., K. Nova, dan D. Septinova. 2015. Penggunaan berbagai jenis litter terhadap karkas, giblet, dan lemak abdominal broiler fase finisher di closed house. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu. Vol 3(1):38-44. Setyawati. 2004. Pengaruh penggunaan berbagai macam bahan litter untuk
24
status darah dan kondisi litter . Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro.
Sindoro, A. 2012. Pengaruh perbedaan jenis lantai kandang terhadap performan pertumbuhan ayam broiler. Skripsi. Fakultas Peternakan, UGM. Yogyakarta.
Sujana, Endang. 2011. Implementasi Teknologi semi closed house system pada performan ayam broiler di test farm sustainable livestock techno park, kampus fakultas peternakan universitas padjajaran, jatinangor. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner
Suprijatna, E. Umiyati, A. Ruhyat, K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Thogyani, M., Abasali G., Mehdard., sayed., effect of diferent litter material on performance and behavior broiler chicken
Tierzucht, L. 2014. Layer performance guide. Lohmann Tierzucht. German Wiriawan, K, G., M. Sriasih, dan I.D.P.Winata. 2005. Penampilan Ayam
LAMPIRAN
1. Perhitungan Indeks Performans IP = (−)
× 100%
= (−2,5) ,47
,45 28 × 100%
26 2. Lembar Kerja