• Tidak ada hasil yang ditemukan

askep aplikasi transkultural nursing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "askep aplikasi transkultural nursing"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MODEL TRANSCULTURAL IN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MODEL TRANSCULTURAL IN NURSINGNURSING PADA KASUS BALITA GIZI BURUK

PADA KASUS BALITA GIZI BURUK Disusun Oleh :

Disusun Oleh : Kelompok I Kelompok I

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA

PRODI KEPERAWATAN SUTOPO PRODI KEPERAWATAN SUTOPO

2010

2010

 – 

 – 

20112011 KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok Transcultural Nursing yang berjudul

menyelesaikan tugas kelompok Transcultural Nursing yang berjudul ―Asuhan Keperawatan―Asuhan Keperawatan dengan Model Keperawatan Transcultural in Nursing pada Balita Gizi Buruk― tepat pada dengan Model Keperawatan Transcultural in Nursing pada Balita Gizi Buruk― tepat pada waktunya. Makalah ini kami buat sebagai tugas mata kuliah Transcultural Nursing.

waktunya. Makalah ini kami buat sebagai tugas mata kuliah Transcultural Nursing. Akhirnya kami menyampaikanterimakasih yang sebesar-besarnyakepada :

Akhirnya kami menyampaikanterimakasih yang sebesar-besarnyakepada :

 Bu Siti Nurkholifah selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Transcultural NursingBu Siti Nurkholifah selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Transcultural Nursing

yang turut

yang turut membantu dan membimbing membantu dan membimbing kelompok kelompok kami sehingga kami sehingga dapat menyelesaikandapat menyelesaikan makalah ini di Prodi KeperawatanSutopo Surabaya

makalah ini di Prodi KeperawatanSutopo Surabaya

 Teman-teman yang turut memberi Teman-teman yang turut memberi saran dan saran dan kritik atas penyusunan makalah kritik atas penyusunan makalah ini.ini.

Materi makalah ini kami susun sedemikian rupa dengan mengakses melalui website (internet), Materi makalah ini kami susun sedemikian rupa dengan mengakses melalui website (internet), dengan metode kepustakaan juga. Makalah ini

dengan metode kepustakaan juga. Makalah ini kami kami susun sesuai dengan kemampuan susun sesuai dengan kemampuan kami dankami dan kami kerjakan dengan maksimal.

kami kerjakan dengan maksimal.

Kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini, sangat kami harapkan dari dosen, teman, mau pun Kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini, sangat kami harapkan dari dosen, teman, mau pun pihak lain yang menaruh perhatian terhadap kemajuan kami untuk lebih menyempurnakan dan pihak lain yang menaruh perhatian terhadap kemajuan kami untuk lebih menyempurnakan dan melengkapi makalah ini. Dan kami berharap, semua pihak dapat memanfaatkan makalah ini melengkapi makalah ini. Dan kami berharap, semua pihak dapat memanfaatkan makalah ini sebaik-baiknya. sebaik-baiknya. Surabaya, Oktober 2010 Surabaya, Oktober 2010 Penyusun Penyusun Daftar Isi Daftar Isi Halaman Judul Halaman Judul ……… ii

(2)

Kata Pengantar Kata Pengantar ……… iiii Daftar Isi Daftar Isi ………..……….. iii iii BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang ……… 11 1.2 Tujuan 1.2 Tujuan ……….………. 22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Model Keperawatan in Nursing

2.1 Teori Model Keperawatan in Nursing ……….………. 33 2.1.1 Model Keperawata

2.1.1 Model Keperawatan in Nursing ……….n in Nursing ………. 33 2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing

2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing ……….………. 33 2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing

2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing ………..……….. 55 2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing

2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing ………..……….. 66 2.1.5 Diagnosa keperawatan

2.1.5 Diagnosa keperawatan ………..……….. 88 2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan

2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan ……….………. 99 2.1.7 Evaluasi

2.1.7 Evaluasi ……….………. 99 2.2 Tinjauan Medis

2.2 Tinjauan Medis ……….………. 99 2.2.1 Pengertian Gizi Buruk 

2.2.1 Pengertian Gizi Buruk  ……… 99 2.2.2 Etiologi Gizi Buruk 

2.2.2 Etiologi Gizi Buruk  ……….………. 1212 2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk 

2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk  ……….………. 1212 2.2.4

2.2.4 Penatalaksanaan Penatalaksanaan ……….. 1414 2.2.5 Konsep askep pada balita gizi buruk 

2.2.5 Konsep askep pada balita gizi buruk  ……….………. 2121

BAB III ASKEP DENGAN MODEL KEPERAWATAN TRANSCULTURAL IN NURSING BAB III ASKEP DENGAN MODEL KEPERAWATAN TRANSCULTURAL IN NURSING 3.1 Pengkajian

3.1 Pengkajian ……… 24

(3)

3.2 Diagnosa Keperawatan 3.2 Diagnosa Keperawatan ……… 2929 3.3 Intervensi keperawatan 3.3 Intervensi keperawatan ..………....……….. 3030 BAB IV PENUTUP BAB IV PENUTUP 4.1 Simpulan 4.1 Simpulan ……….………. 3434 4.2 Saran 4.2 Saran ……….………. 3434 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA ……….………. 36 36

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MODEL TRANSCULTURAL IN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MODEL TRANSCULTURAL IN NURSINGNURSING PADA KASUS BALITA GIZI BURUK

PADA KASUS BALITA GIZI BURUK Disusun Oleh :

Disusun Oleh : Kelompok I Kelompok I

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA

PRODI KEPERAWATAN SUTOPO PRODI KEPERAWATAN SUTOPO

2010

2010

 – 

 – 

20112011 KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok Transcultural Nursing yang berjudul

menyelesaikan tugas kelompok Transcultural Nursing yang berjudul ―Asuhan Keperawatan―Asuhan Keperawatan dengan Model Keperawa

dengan Model Keperawatan Transcultural in Nursing pada Balita Gizi Buruk― tan Transcultural in Nursing pada Balita Gizi Buruk― tepat padatepat pada waktunya. Makalah ini kami buat sebagai tugas mata kuliah Transcultural Nursing.

waktunya. Makalah ini kami buat sebagai tugas mata kuliah Transcultural Nursing. Akhirnya kami menyampaikanterimakasih yang sebesar-besarnyakepada :

Akhirnya kami menyampaikanterimakasih yang sebesar-besarnyakepada :

 Bu Siti Nurkholifah selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Transcultural NursingBu Siti Nurkholifah selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Transcultural Nursing

yang turut

yang turut membantu dan membimbing membantu dan membimbing kelompok kelompok kami sehingga kami sehingga dapat menyelesaikandapat menyelesaikan makalah ini di Prodi KeperawatanSutopo Surabaya

makalah ini di Prodi KeperawatanSutopo Surabaya

 Teman-teman yang turut memberi Teman-teman yang turut memberi saran dan saran dan kritik atas penyusunan makalah kritik atas penyusunan makalah ini.ini.

Materi makalah ini kami susun sedemikian rupa dengan mengakses melalui website (internet), Materi makalah ini kami susun sedemikian rupa dengan mengakses melalui website (internet), dengan metode kepustakaan juga. Makalah ini

dengan metode kepustakaan juga. Makalah ini kami kami susun sesuai dengan kemampuan susun sesuai dengan kemampuan kami dankami dan kami kerjakan dengan maksimal.

(4)

Kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini, sangat kami harapkan dari dosen, teman, mau pun Kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini, sangat kami harapkan dari dosen, teman, mau pun pihak lain yang menaruh perhatian terhadap kemajuan kami untuk lebih menyempurnakan dan pihak lain yang menaruh perhatian terhadap kemajuan kami untuk lebih menyempurnakan dan melengkapi makalah ini. Dan kami berharap, semua pihak dapat memanfaatkan makalah ini melengkapi makalah ini. Dan kami berharap, semua pihak dapat memanfaatkan makalah ini sebaik-baiknya. sebaik-baiknya. Surabaya, Oktober 2010 Surabaya, Oktober 2010 Penyusun Penyusun Daftar Isi Daftar Isi Halaman Judul Halaman Judul ……… ii Kata Pengantar Kata Pengantar ……… iiii Daftar Isi Daftar Isi ………..……….. iii iii BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang ……… 11 1.2 Tujuan 1.2 Tujuan ……….………. 22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Model Keperawatan in Nursing

2.1 Teori Model Keperawatan in Nursing ……….………. 33 2.1.1 Model Keperawata

2.1.1 Model Keperawatan in Nursing ……….n in Nursing ………. 33 2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing

2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing ……….………. 33 2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing

2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing ………..……….. 55 2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing

2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing ………..……….. 66 2.1.5 Diagnosa keperawatan

2.1.5 Diagnosa keperawatan ………..……….. 88 2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan

2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan ……….………. 99 2.1.7 Evaluasi

2.1.7 Evaluasi ……….………. 99 2.2 Tinjauan Medis

2.2 Tinjauan Medis ……….………. 99 2.2.1 Pengertian Gizi Buruk 

(5)

2.2.2 Etiologi Gizi Buruk 

2.2.2 Etiologi Gizi Buruk  ……….………. 1212 2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk 

2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk  ……….………. 1212 2.2.4

2.2.4 Penatalaksanaan Penatalaksanaan ……….. 1414 2.2.5 Konsep askep pada balita gizi buruk 

2.2.5 Konsep askep pada balita gizi buruk  ……….………. 2121

BAB III ASKEP DENGAN MODEL KEPERAWATAN TRANSCULTURAL IN NURSING BAB III ASKEP DENGAN MODEL KEPERAWATAN TRANSCULTURAL IN NURSING 3.1 Pengkajian 3.1 Pengkajian ……… 24 24 3.2 Diagnosa Keperawatan 3.2 Diagnosa Keperawatan ……… 2929 3.3 Intervensi keperawatan 3.3 Intervensi keperawatan ..………....……….. 3030 BAB IV PENUTUP BAB IV PENUTUP 4.1 Simpulan 4.1 Simpulan ……….………. 3434 4.2 Saran 4.2 Saran ……….………. 3434 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA ……….………. 36 36 BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang

Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21, Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21, termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara (imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adaya pergeseran terhadap tuntutan (imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adaya pergeseran terhadap tuntutan asuhan keperawatan.

asuhan keperawatan.

Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat, Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat,

yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan. Perkembangan yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan. Perkembangan teori keperawatan terbagi menjadi 4 level perkembangan yaitu

teori keperawatan terbagi menjadi 4 level perkembangan yaitu metha theory, grand theory, midle range theory dan practice theory. metha theory, grand theory, midle range theory dan practice theory. Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah

Transcultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan Transcultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep

(6)

keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock.

mengakibatkan terjadinya cultural shock.

Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat

tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah beberapa mengalami disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika klien sedang mengalami nyeri. Pada beberapa daerah atau negara

ketika klien sedang mengalami nyeri. Pada beberapa daerah atau negara

diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak  diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak  atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan, dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan, maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.

pelayanan keperawatan yang diberikan.

Saat ini gizi buruk pada balita menjadi perdebatan dan isu menarik. Keadaan ini akibat dari Saat ini gizi buruk pada balita menjadi perdebatan dan isu menarik. Keadaan ini akibat dari ditemukannya kasus-kasus kelaparan (hoenger oedema/HO) pada orang dewasa dan marasmus ditemukannya kasus-kasus kelaparan (hoenger oedema/HO) pada orang dewasa dan marasmus atau kwashiorkhor pada anak balita yang sering dilaporkan oleh media cetak maupun elektronik. atau kwashiorkhor pada anak balita yang sering dilaporkan oleh media cetak maupun elektronik. Kejadian gizi buruk sebenarnya dapat dicegah apabila akar masalah di keluarga yang

Kejadian gizi buruk sebenarnya dapat dicegah apabila akar masalah di keluarga yang

bersangkutan dapat dikenali, sehingga masalah penanggulangannya dapat dilakukan secara lebih bersangkutan dapat dikenali, sehingga masalah penanggulangannya dapat dilakukan secara lebih mendasar melalui penanganan terhadap akar masalahnya.

mendasar melalui penanganan terhadap akar masalahnya.

Kendala secara umum adalah masih banyaknya anggapan oleh pemegang kebijakan bahwa Kendala secara umum adalah masih banyaknya anggapan oleh pemegang kebijakan bahwa

masalah gizi buruk merupakan masalah kesehatan yang harus diselesaikan oleh sektor kesehatan masalah gizi buruk merupakan masalah kesehatan yang harus diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Sehingga secara umum program penanganan gizi buruk lebih banyak menggunakan

saja. Sehingga secara umum program penanganan gizi buruk lebih banyak menggunakan pendekatan bidang kesehatan. Pendekatan secara ekonomi, pertanian, dan pendidikan belum pendekatan bidang kesehatan. Pendekatan secara ekonomi, pertanian, dan pendidikan belum banyak dilaksanakan. Sebagian besar pelaku program masih bertindak sendiri secara sektoral banyak dilaksanakan. Sebagian besar pelaku program masih bertindak sendiri secara sektoral dengan indikator pencapaian program yang diukur dengan indikator fisik dan kurang mendorong dengan indikator pencapaian program yang diukur dengan indikator fisik dan kurang mendorong perubahan perilaku. Harus disadari bahwa program penanganan gizi buruk di bidang kesehatan perubahan perilaku. Harus disadari bahwa program penanganan gizi buruk di bidang kesehatan lebih banyak bersifat darurat dan mendesak seperti bantuan pengobatan atau perawatan,

lebih banyak bersifat darurat dan mendesak seperti bantuan pengobatan atau perawatan, pemberian PMT pemulihan dan suplementasi zat gizi. Pada saat bantuan dihentikan, masalah pemberian PMT pemulihan dan suplementasi zat gizi. Pada saat bantuan dihentikan, masalah kekurangan gizi akan terjadi lagi karena ketidakmampuan keluarga terkait dengan daya beli dan kekurangan gizi akan terjadi lagi karena ketidakmampuan keluarga terkait dengan daya beli dan keadaan ekonomi keluarga.

keadaan ekonomi keluarga.

Permasalahan gizi buruk tak bisa terselesaikan tanpa ada penanganan yang serius dari Permasalahan gizi buruk tak bisa terselesaikan tanpa ada penanganan yang serius dari pemerintah, hal tersebut membuktikan rendahnya perhatian pemerintah terhadap sektor pemerintah, hal tersebut membuktikan rendahnya perhatian pemerintah terhadap sektor

kesehatan, baik kurangnya pusat kesehatan di daerah maupun di wilayah. Bagaimana masyarakat kesehatan, baik kurangnya pusat kesehatan di daerah maupun di wilayah. Bagaimana masyarakat bisa mewujudkan program Indonesia Sehat 2010 tanpa penanganan gizi buruk yang serius dari bisa mewujudkan program Indonesia Sehat 2010 tanpa penanganan gizi buruk yang serius dari pemerintah.

pemerintah. 1.2 Tujuan 1.2 Tujuan

(7)

Penulisan makalah ini memiliki tujuan antara lain sebagai berikut : Penulisan makalah ini memiliki tujuan antara lain sebagai berikut : 1)

1) Mengetahui model Mengetahui model keperawatan keperawatan in in nursing.nursing. 2)

2) Mengetahui asuhan Mengetahui asuhan keperawatan keperawatan dengan dengan model model transcultural transcultural in in nursing.nursing. 3)

3) Mengetahui asuhan Mengetahui asuhan keperawatan keperawatan pada pada balita balita gizi gizi buruk buruk dengan dengan model model keperawatan keperawatan inin nursing. nursing. BAB II BAB II TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Model Keperawatan Transcultural in Nursing 2.1 Teori Model Keperawatan Transcultural in Nursing 2.1.1 Model Keperawatan Transcultural in Nursing 2.1.1 Model Keperawatan Transcultural in Nursing

Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya padaproses belajar dan Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya padaproses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dankesamaan diantara budaya dengan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dankesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkanpada nilai budaya manusia, kepercayaan dan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkanpada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakanuntuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau tindakan, dan ilmu ini digunakanuntuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budayakepada manusia (Leininger, 2002).

keutuhan budayakepada manusia (Leininger, 2002).

Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensidari keperawatan, Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensidari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakankeperawatan. Tindakan Caring membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakankeperawatan. Tindakan Caring

dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalammemberikan dukungan kepada individu secara dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalammemberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinyadiberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan utuh. Perilaku Caring semestinyadiberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan,masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secaraumum pertumbuhan,masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secaraumum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan danbimbingan pada manusia dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan danbimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yanguniversal dimana ekspresi, struktur dan yang utuh. Human caring merupakan fenomena yanguniversal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satutempat dengan tempat lainnya.

polanya bervariasi diantara kultur satutempat dengan tempat lainnya. 2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing

2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing

1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yangdipelajari, dan dibagi 1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yangdipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak danmengambil keputusan.

serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak danmengambil keputusan.

2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu 2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu danmelandasi tindakan dan keputusan. tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu danmelandasi tindakan dan keputusan. 3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yangoptimal dari pemberian 3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yangoptimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinanvariasi pendekatan keperawatan yang

asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinanvariasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhanbudaya yang menghargai nilai budaya individu, dibutuhkan untuk memberikan asuhanbudaya yang menghargai nilai budaya individu,

kepercayaan dan tindakantermasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang kepercayaan dan tindakantermasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang danindividu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).

(8)

4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggapbahwa budayanya 4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggapbahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimilikioleh orang lain.

adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimilikioleh orang lain.

5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yangdigolongkan 5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yangdigolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.

menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.

6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan padamendiskreditkan asal muasal 6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan padamendiskreditkan asal muasal manusia.

manusia.

7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologipada penelitian 7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologipada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkankesadaran yang tinggi pada perbedaan etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkankesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskandasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan budaya setiap individu, menjelaskandasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan salingmemberikan timbal balik diantara keduanya.

orang, dan salingmemberikan timbal balik diantara keduanya.

8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,dukungan perilaku pada 8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadianuntuk memenuhi kebutuhan baik aktual individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadianuntuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkankondisi dan kualitas kehidupan manusia.

maupun potensial untuk meningkatkankondisi dan kualitas kehidupan manusia.

9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,mendukung dan 9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaanyang nyata atau antisipasi mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaanyang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupanmanusia.

kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupanmanusia.

10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,kepercayaan 10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukungatau memberi kesempatan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukungatau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untukmempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan individu, keluarga atau kelompok untukmempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidupdalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.

bertahan hidup, hidupdalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.

11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatanuntuk memaksakan 11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatanuntuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lainkarena percaya bahwa ide yang dimiliki kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lainkarena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripadakelompok lain.

oleh perawat lebih tinggi daripadakelompok lain. 2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing

2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing

Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagaicara pandang, Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagaicara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhankeperawatan yang sesuai keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhankeperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsepsentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, dengan latar belakang budaya terhadap empat konsepsentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrewand Boyle, 1995).

lingkungan dan keperawatan (Andrewand Boyle, 1995). 1. Manusia

1. Manusia

Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilaidan norma-norma Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilaidan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan danmelakukan pilihan. Menurut Leininger yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan danmelakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memilikikecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat (1984) manusia memilikikecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapundia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).

dimanapundia berada (Geiger and Davidhizar, 1995). 2. Sehat

(9)

Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisikehidupannya, terletak  Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisikehidupannya, terletak  pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatukeyakinan, nilai, pola kegiatan dalam

pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatukeyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untukmenjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang konteks budaya yang digunakan untukmenjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasidalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang dapat diobservasidalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang

samayaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yangadaptif (Andrew samayaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yangadaptif (Andrew and Boyle, 1995).

and Boyle, 1995). 3. Lingkungan 3. Lingkungan

Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhiperkembangan, Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhiperkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandangsebagai suatu totalitas kehidupan dimana kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandangsebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya salingberinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial klien dengan budayanya salingberinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik.

dan simbolik.

Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia sepertidaerah Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia sepertidaerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah didaerah Eskimo yang katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah didaerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada mataharisepanjang tahun. Lingkungan sosial hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada mataharisepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yangberhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau adalah keseluruhan struktur sosial yangberhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalammasyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu

kelompok ke dalammasyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu

harusmengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.Lingkungan harusmengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yangmenyebabkan individu atau kelompok  simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yangmenyebabkan individu atau kelompok  merasa bersatu seperti musik, seni,riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.

merasa bersatu seperti musik, seni,riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan. 4. Keperawatan

4. Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktikkeperawatan yang Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktikkeperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakangbudayanya. Asuhan keperawatan ditujukan diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakangbudayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuaidengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan memnadirikan individu sesuaidengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatanadalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasibudaya keperawatanadalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasibudaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).

dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991). a. Cara I : Mempertahankan budaya

a. Cara I : Mempertahankan budaya

Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangandengan kesehatan. Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangandengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikansesuai dengan nilai-nilai yang relevan Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikansesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehinggaklien dapat meningkatkan atau mempertahankan status yang telah dimiliki klien sehinggaklien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,misalnya budaya berolahraga setiap pagi.

kesehatannya,misalnya budaya berolahraga setiap pagi. b. Cara II : Negosiasi budaya

b. Cara II : Negosiasi budaya

Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untukmembantu klien Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untukmembantu klien

beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebihmenguntungkan kesehatan. Perawat membantu beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebihmenguntungkan kesehatan. Perawat membantu klienagar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung

klienagar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung

peningkatankesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yangberbau peningkatankesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yangberbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yanglain.

(10)

c. Cara III : Restrukturisasi budaya c. Cara III : Restrukturisasi budaya

Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimilikimerugikan status kesehatan. Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimilikimerugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gayahidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak  Perawat berupaya merestrukturisasi gayahidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak  merokok. Pola rencanahidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai merokok. Pola rencanahidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengankeyakinan yang dianut.

dengankeyakinan yang dianut.

2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing 2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing

Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskanasuhan keperawatan Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskanasuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahariterbit (Sunrise Model) seperti yang dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahariterbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar 1. Geisser (1991)menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan terdapat pada gambar 1. Geisser (1991)menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagailandasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew oleh perawat sebagailandasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew andBoyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahappengkajian, andBoyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahappengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 1. Pengkajian

1. Pengkajian

Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasimasalah kesehatan klien Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasimasalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger andDavidhizar, 1995). Pengkajian dirancang sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger andDavidhizar, 1995). Pengkajian dirancang  berdasarkan 7 komponen yang adapada ―Sunrise Model‖ yaitu :

 berdasarkan 7 komponen yang adapada ―Sunrise Model‖ yaitu : a. Faktor teknologi (tecnological factors)

a. Faktor teknologi (tecnological factors)

Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih ataumendapat penawaran Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih ataumendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanankesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat menyelesaikan masalah dalam pelayanankesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaanberobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuankesehatan, sakit, kebiasaanberobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuankesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi kliententang penggunaan dan

alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi kliententang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasipermasalahan kesehatan saat ini.

pemanfaatan teknologi untuk mengatasipermasalahan kesehatan saat ini. b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors) b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)

Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yangamat realistis bagi para Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yangamat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yangsangat kuat untuk menempatkan kebenaran di pemeluknya. Agama memberikan motivasi yangsangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan diatas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh atas segalanya, bahkan diatas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawatadalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klienterhadap penyebab perawatadalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klienterhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yangberdampak positif terhadap kesehatan.c. penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yangberdampak positif terhadap kesehatan.c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)

Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)

Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : namalengkap, nama panggilan, umur dan Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : namalengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, danhubungan klien dengan kepala keluarga.

danhubungan klien dengan kepala keluarga.

d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways) d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)

(11)

Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkanoleh penganut budaya yang Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkanoleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-normabudaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat dianggap baik atau buruk. Norma-normabudaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbataspada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :posisi penerapan terbataspada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yangdigunakan, kebiasaan makan, dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yangdigunakan, kebiasaan makan,

makanan yang dipantang dalam kondisisakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari makanan yang dipantang dalam kondisisakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaanmembersihkan diri.

dan kebiasaanmembersihkan diri.

e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors) e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)

Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segalasesuatu yang mempengaruhi Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segalasesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhankeperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang kegiatan individu dalam asuhankeperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikajipada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan denganjam

perlu dikajipada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan denganjam

berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, carapembayaran untuk klien yang berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, carapembayaran untuk klien yang dirawat.

dirawat.

f. Faktor ekonomi (economical factors) f. Faktor ekonomi (economical factors)

Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumbermaterial yang dimiliki untuk  Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumbermaterial yang dimiliki untuk  membiayai sakitnya agar segera sembuh.Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat

membiayai sakitnya agar segera sembuh.Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaanklien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh diantaranya : pekerjaanklien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh

keluarga,biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantoratau patungan keluarga,biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantoratau patungan antar anggota keluarga.

antar anggota keluarga.

g. Faktor pendidikan (educational factors) g. Faktor pendidikan (educational factors)

Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalammenempuh jalur pendidikan Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalammenempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggipendidikan klien maka keyakinan klien biasanya formal tertinggi saat ini. Semakin tinggipendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibuktiilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar

didukung oleh buktibuktiilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar

beradaptasiterhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji beradaptasiterhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenispendidikan serta kemampuannya untuk  pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenispendidikan serta kemampuannya untuk  belajar secara aktif mandiritentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali. belajar secara aktif mandiritentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali. 2.1.5 Diagnosa keperawatan

2.1.5 Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakangbudayanya yang dapat dicegah, Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakangbudayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensikeperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat diubah atau dikurangi melalui intervensikeperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosakeperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkulturalyaitu : tiga diagnosakeperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkulturalyaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,gangguan interaksi sosial gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural danketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan berhubungan disorientasi sosiokultural danketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.

dengan sistem nilai yang diyakini. 2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan 2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan

Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalahsuatu proses keperawatan Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalahsuatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalahsuatu proses memilih strategi yang tepat dan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalahsuatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalahmelaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien pelaksanaan adalahmelaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien

(12)

(Gigerand Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan (Gigerand Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan

transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankanbudaya yang dimiliki klien bila transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankanbudaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengankesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya budaya klien tidak bertentangan dengankesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurangmenguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yangdimiliki klien klien kurangmenguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yangdimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.

bertentangan dengan kesehatan.

a. Cultural care preservation/maintenance a. Cultural care preservation/maintenance

1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan 1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi

perawatan bayi

2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien 2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien 3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat 3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat b. Cultural careaccomodation/negotiation

b. Cultural careaccomodation/negotiation

1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien 1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien 2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan 2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan

3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan 3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan kliendan standar etik 

pengetahuan biomedis, pandangan kliendan standar etik  c. Cultual care repartening/reconstruction

c. Cultual care repartening/reconstruction

1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yangdiberikan dan melaksanakannya 1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yangdiberikan dan melaksanakannya 2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budayakelompok 

2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budayakelompok  3) Gunakan pihak ketiga bila perlu

3) Gunakan pihak ketiga bila perlu

4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatanyang dapat dipahami oleh 4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatanyang dapat dipahami oleh klien dan orang tua

klien dan orang tua

5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan. Perawat dan klien harus 5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan. Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budayamasingmasing melalui proses akulturasi, yaitu proses mencoba untuk memahami budayamasingmasing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan danperbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya mengidentifikasi persamaan danperbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka.

budaya mereka.

Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga

hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akanterganggu. Pemahaman budaya klien amat hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akanterganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilanmenciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat

mendasari efektifitas keberhasilanmenciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.

terapeutik. 2.1.7Evaluasi 2.1.7Evaluasi

(13)

Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadapkeberhasilan klien tentang Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadapkeberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengankesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak  mempertahankan budaya yang sesuai dengankesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak  sesuai dengan kesehatan atauberadaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan sesuai dengan kesehatan atauberadaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan denganbudaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhankeperawatan yang denganbudaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhankeperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

sesuai dengan latar belakang budaya klien. 2.2 Tinjauan Medis

2.2 Tinjauan Medis 2.2.1 Pengertian 2.2.1 Pengertian

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme,dan pengeluaran zat-zat melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme,dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Supariasa, 2002).

organ-organ, serta menghasilkan energi (Supariasa, 2002).

Gizi buruk adalah keadaan dimana asupan gizi sangat kurang dari kebutuhan tubuh. Umumnya Gizi buruk adalah keadaan dimana asupan gizi sangat kurang dari kebutuhan tubuh. Umumnya gizi buruk ini diderita oleh balita karena pada usia tersebut terjadi peningkatan energy yang gizi buruk ini diderita oleh balita karena pada usia tersebut terjadi peningkatan energy yang sangat tajam dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus/bakteri.Proses dan bentuk  sangat tajam dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus/bakteri.Proses dan bentuk  terparah akibat kekurangan gizi yang telah menahun dan berlangsung lama

terparah akibat kekurangan gizi yang telah menahun dan berlangsung lama ((www.VHRmedia.comwww.VHRmedia.com))..

Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan

diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan

kehidupan. Kekurangan zat gizi adaptif bersifat ringan sampai dengan berat. Gizi kurang banyak  kehidupan. Kekurangan zat gizi adaptif bersifat ringan sampai dengan berat. Gizi kurang banyak  terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun.

terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun. Menurut ahli gizi dari IPB,

Menurut ahli gizi dari IPB, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MSProf. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, standar acuan status gizi balita, standar acuan status gizi balita adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U), Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dan adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U), Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dan Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Sementara klasifikasinya adalah normal,

Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Sementara klasifikasinya adalah normal, underweight underweight  (kurus), dan gemuk.

(kurus), dan gemuk.

Untuk acuan yang menggunakan tinggi badan, bila kondisinya kurang baik disebut

Untuk acuan yang menggunakan tinggi badan, bila kondisinya kurang baik disebut stunted stunted  (pendek). Pedoman yang digunakan adalah standar berdasar tabel WHO-NCHS (National Center (pendek). Pedoman yang digunakan adalah standar berdasar tabel WHO-NCHS (National Center for Health Statistics).

for Health Statistics).

Menurut Prof. Ali, untuk membedakan balita kurang gizi dan gizi buruk dapat dilakukan dengan Menurut Prof. Ali, untuk membedakan balita kurang gizi dan gizi buruk dapat dilakukan dengan cara berikut. Gizi kurang adalah bila berat badan menurut umur yang dihitung menurut Skor Z cara berikut. Gizi kurang adalah bila berat badan menurut umur yang dihitung menurut Skor Z nilainya kurang dari -2, dan gizi buruk bila Skor Z kurang dari -3. Artinya gizi buruk kondisinya nilainya kurang dari -2, dan gizi buruk bila Skor Z kurang dari -3. Artinya gizi buruk kondisinya lebih parah daripada gizi kurang.

lebih parah daripada gizi kurang.

Balita penderita gizi kurang berpenampilan kurus, rambut kemerahan (pirang), perut Balita penderita gizi kurang berpenampilan kurus, rambut kemerahan (pirang), perut kadang-kadang buncit, wajah

kadang buncit, wajah moon facemoon facekarena oedema (bengkak) ataukarena oedema (bengkak) atau monkey facemonkey face(keriput), anak (keriput), anak  cengeng, kurang responsif. Bila kurang gizi berlangsung lama akan berpengaruh pada

cengeng, kurang responsif. Bila kurang gizi berlangsung lama akan berpengaruh pada kecerdasannya.

(14)

Status gizi pada balita dapat diketahui dngan cara mencocokkan umur anak (dalam bulan) Status gizi pada balita dapat diketahui dngan cara mencocokkan umur anak (dalam bulan)

dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila berat badannya kurang, maka status gizinya dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila berat badannya kurang, maka status gizinya kurang.

kurang.

Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh tergantung pada zat-zat gizi yang Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh tergantung pada zat-zat gizi yang kurang. Kekurangan gizi ini secara umum menyebabkan gangguan pada kurang. Kekurangan gizi ini secara umum menyebabkan gangguan pada • Pertumbuhan

• Pertumbuhan

Pertumbuhan anak menjadi terganggu karena protein yang ada digunakan sebagai zat pembakar Pertumbuhan anak menjadi terganggu karena protein yang ada digunakan sebagai zat pembakar sehingga otot-otot menjadi lunak dan rambut menjadi rontok 

sehingga otot-otot menjadi lunak dan rambut menjadi rontok  • Produksi tenaga

• Produksi tenaga

Kekurangan energi yang berasal dari makanan mengakibatkan anak kekurangan tenaga untuk  Kekurangan energi yang berasal dari makanan mengakibatkan anak kekurangan tenaga untuk  bergerak dan melakukan aktivitas. Anak menjadi malas, dan merasa lemas

bergerak dan melakukan aktivitas. Anak menjadi malas, dan merasa lemas • Pertahanan tubuh

• Pertahanan tubuh

Sistem imunitas dan antibodi menurun sehingga anak mudah terserang infeksi seperti batuk, Sistem imunitas dan antibodi menurun sehingga anak mudah terserang infeksi seperti batuk, pilek dan diare

pilek dan diare

• Struktur dan fungsi otak  • Struktur dan fungsi otak 

Kurang gizi pada anak adapt berpengaruh terhadap perkembangan mental. Kekurangan gizi Kurang gizi pada anak adapt berpengaruh terhadap perkembangan mental. Kekurangan gizi

dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen seperti perkembangan IQ dan motorik  dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen seperti perkembangan IQ dan motorik  yang terhambat

yang terhambat • Perilaku • Perilaku

Anak yang mengalami gizi kurang menunjukkan perilaku yang tidak tenang, cengeng dan apatis. Anak yang mengalami gizi kurang menunjukkan perilaku yang tidak tenang, cengeng dan apatis. 2.2.2 Etiologi

2.2.2 Etiologi

Penyebab dari gizi kurang antara lain : kebiasaan makan dimana makanan yang dikonsumsi Penyebab dari gizi kurang antara lain : kebiasaan makan dimana makanan yang dikonsumsi kurang mengandung kalori dan protein. Faktor social budaya dapat juga menjadi factor penyebab kurang mengandung kalori dan protein. Faktor social budaya dapat juga menjadi factor penyebab gizi buruk dimana adanya pantangan mengkonsumsi makanan tertentu, seperti anak tidak boleh gizi buruk dimana adanya pantangan mengkonsumsi makanan tertentu, seperti anak tidak boleh makan ikan karena takut kecacingan. Faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan gizi kurang makan ikan karena takut kecacingan. Faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan gizi kurang adalah penyakit metabolic, infeksi kronik atau kelainan organ tubuh lain.

adalah penyakit metabolic, infeksi kronik atau kelainan organ tubuh lain.

Dapat juga dibedakan menjadipenyebab langsung dan penyebab tidak langsung : Dapat juga dibedakan menjadipenyebab langsung dan penyebab tidak langsung :

1.

1. Penyebab langsungPenyebab langsung (1)

(15)

Asupan makanan yang kurang bisa berasal dari ketidakcukupan anak mendapatkan makanan Asupan makanan yang kurang bisa berasal dari ketidakcukupan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang dan pola makan yang salah. Makanan bergizi pada anak tidak hanya

bergizi seimbang dan pola makan yang salah. Makanan bergizi pada anak tidak hanya

mengandung karbohidrat dan protein saja, tetapi harus diimbangi dengan zat-zat lain seperti mengandung karbohidrat dan protein saja, tetapi harus diimbangi dengan zat-zat lain seperti lemak, vitamin (A, D, E, K, C, B1, B2, B5, B12), asam folat, mineral (kalium, natrium, iodium, lemak, vitamin (A, D, E, K, C, B1, B2, B5, B12), asam folat, mineral (kalium, natrium, iodium, magnesium,fosfor, dan lainnya). Jika kebutuhan akan zat-zat tersebut kurang atau bahkan tidak  magnesium,fosfor, dan lainnya). Jika kebutuhan akan zat-zat tersebut kurang atau bahkan tidak  terpenuhi, maka anak akan kekurangan gizi. Selain itu ditunjang dengan pola makan yang salah. terpenuhi, maka anak akan kekurangan gizi. Selain itu ditunjang dengan pola makan yang salah. Misalnya pada anak yang diasuh oleh neneknya yang masih memiliki kebiasaan turun temurun. Misalnya pada anak yang diasuh oleh neneknya yang masih memiliki kebiasaan turun temurun. Bayi yang baru lahir beberapa bulan sudah diberi makanan tambahan seperti pisang, nasi lumat, Bayi yang baru lahir beberapa bulan sudah diberi makanan tambahan seperti pisang, nasi lumat, atau bahkan ada kebudayaan yang tidak memperbolehkan anak mengkonsumsi daging, telur, atau bahkan ada kebudayaan yang tidak memperbolehkan anak mengkonsumsi daging, telur, santan, dan lainnya. Hal ini dapat menghilangkan kesempatan anak memperoleh zat gizi dari santan, dan lainnya. Hal ini dapat menghilangkan kesempatan anak memperoleh zat gizi dari lemak dan protein.

lemak dan protein. (2)

(2) Penyakit Penyakit infeksi infeksi yang yang diderita diderita oleh oleh anak anak 

Penyakit infeksi yang sedang diderita oleh anak menjadi penyebab terpenting kedua dari Penyakit infeksi yang sedang diderita oleh anak menjadi penyebab terpenting kedua dari kejadian gizi buruk. Apalagi di negara terbelakang dan sedang berkembang seperti Indonesia, kejadian gizi buruk. Apalagi di negara terbelakang dan sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan masih kurang serta ancaman endemitas penyakit tertentu dimana kesadaran akan kebersihan masih kurang serta ancaman endemitas penyakit tertentu khususnya penyakit infeksi seperti diare, TBC, campak, gastroenteritis. Ada keterkaitan antara khususnya penyakit infeksi seperti diare, TBC, campak, gastroenteritis. Ada keterkaitan antara penyakit infeksi dengan gizi buruk, yaitu kondisi infeksi kronik akan menyebabkan gizi buruk, penyakit infeksi dengan gizi buruk, yaitu kondisi infeksi kronik akan menyebabkan gizi buruk, dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan tubuh dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan tubuh sehingga anak mudah terkena penyakit infeksi.

sehingga anak mudah terkena penyakit infeksi. 1.

1. Penyebab tidak langsungPenyebab tidak langsung (1)

(1) Persediaan Persediaan makanan makanan di di rumahrumah

Persediaan makanan di rumah merupakan penyebab tidak langsung dari kejadian gizi buruk pada Persediaan makanan di rumah merupakan penyebab tidak langsung dari kejadian gizi buruk pada anak. Jika di dalam keluarga tidak memiliki persediaan makanan yang cukup untuk seluruh anak. Jika di dalam keluarga tidak memiliki persediaan makanan yang cukup untuk seluruh anggota keluarga, maka dapat dipastikan anggota keluarga akan kekurangan makanan. Terlebih anggota keluarga, maka dapat dipastikan anggota keluarga akan kekurangan makanan. Terlebih lagi jika di dalam keluarga terdapat anak balita yang sangat membutuhkan makanan bergizi lagi jika di dalam keluarga terdapat anak balita yang sangat membutuhkan makanan bergizi seimbang yang mengandung zat-zat gizi yang diperlukan untuk proses tumbuh kembang anak. seimbang yang mengandung zat-zat gizi yang diperlukan untuk proses tumbuh kembang anak. (2)

(2) Perawatan Perawatan anak anak dan dan ibu ibu hamilhamil

Perawatan pada anak juga mempengaruhi terjadinya gizi buruk. Jika seorang anak dirawat oleh Perawatan pada anak juga mempengaruhi terjadinya gizi buruk. Jika seorang anak dirawat oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan kebutuhannya tercukupi baik secara fisik  kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan kebutuhannya tercukupi baik secara fisik  maupun psikologis, maka anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. maupun psikologis, maka anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Anak akan tampak sehat dan terhindar dari kurang gizi atau bahkan gizi buruk. Selain itu Anak akan tampak sehat dan terhindar dari kurang gizi atau bahkan gizi buruk. Selain itu perawatan pada ibu sejak hamil juga mempengaruhi perkembangan bayi dalam kandungannya. perawatan pada ibu sejak hamil juga mempengaruhi perkembangan bayi dalam kandungannya. Jika seorang ibu tidak memperhatikan pemenuhan gizi selama hamil dan setelah melahirkan, Jika seorang ibu tidak memperhatikan pemenuhan gizi selama hamil dan setelah melahirkan, maka akan berdampak buruk bagi anaknya. Ibu yang mengkonsumsi makanan bergizi 4 sehat 5 maka akan berdampak buruk bagi anaknya. Ibu yang mengkonsumsi makanan bergizi 4 sehat 5 sempurna akan dapat menghindari kejadian gizi buruk pada anaknya kelak. Selain itu pemberian sempurna akan dapat menghindari kejadian gizi buruk pada anaknya kelak. Selain itu pemberian ASI secara eksklusif juga memberikan kontribusi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang ASI secara eksklusif juga memberikan kontribusi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang anak.

anak. (3)

(16)

Kejadian gizi buruk pada suatu wilayah akan cepat diketahui jika terdapat pelayanan kesehatan Kejadian gizi buruk pada suatu wilayah akan cepat diketahui jika terdapat pelayanan kesehatan yang memadahi seperti posyandu dan puskesmas. Tetapi jika pelayanan kesehatan tersebut tidak  yang memadahi seperti posyandu dan puskesmas. Tetapi jika pelayanan kesehatan tersebut tidak  dapat difungsikan sebagaimana mestinya, maka balita yang terkena gizi buruk tidak dapat

dapat difungsikan sebagaimana mestinya, maka balita yang terkena gizi buruk tidak dapat

dideteksi secara cepat, atau bahkan angka kejadian gizi buruk akan semakin meningkat jika tidak  dideteksi secara cepat, atau bahkan angka kejadian gizi buruk akan semakin meningkat jika tidak  segera mendapatkan penanganan.

segera mendapatkan penanganan. (4)

(4) Faktor Faktor ekonomiekonomi

Akar permasalahan yang sesungguhnya dari semakin meningkatnya angka kejadian gizi buruk  Akar permasalahan yang sesungguhnya dari semakin meningkatnya angka kejadian gizi buruk  adalah faktor ekonomi. Sejak terjadinya krisis ekonomi, banyak masyarakat yang menderita adalah faktor ekonomi. Sejak terjadinya krisis ekonomi, banyak masyarakat yang menderita kemiskinan dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Hal ini menyebabkan orang tua tidak memiliki kemiskinan dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Hal ini menyebabkan orang tua tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama kebutuhan pokok berupa kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama kebutuhan pokok berupa makanan bergizi bagi keluarga. Khususnya pada balita yang sangat membutuhkan zat gizi makanan bergizi bagi keluarga. Khususnya pada balita yang sangat membutuhkan zat gizi penting yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi, dan makanan tersebut merupakan penting yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi, dan makanan tersebut merupakan aset utama yang mendukung tumbuh kembang anak. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi aset utama yang mendukung tumbuh kembang anak. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi kurang gizi atau bahkan gizi buruk.

maka akan terjadi kurang gizi atau bahkan gizi buruk. 2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk

2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk 1.

1. Kurang kalori ( marasmus)Kurang kalori ( marasmus)

Marasmus adalah kekurangan energy pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh Marasmus adalah kekurangan energy pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak kurus dan keriput.

terpakai sehingga anak kurus dan keriput. 1)

1) Etiologi ::Etiologi

Penyebab utama dari kekurangan makanan yang mengandung kalori Penyebab utama dari kekurangan makanan yang mengandung kalori Penyebab umum:

Penyebab umum:

Kegagalan menyusui anak : ibunya meninggal Kegagalan menyusui anak : ibunya meninggal Tidak adanya makanan tambahan

Tidak adanya makanan tambahan 2)

2) Tanda & Tanda & gejalagejala

- Tampak sangat kurus, sehingga tulang terbungkus kulit - Tampak sangat kurus, sehingga tulang terbungkus kulit - Wajah seperti orang tua

- Wajah seperti orang tua - Cengeng

- Cengeng

- Kulit keriput , jari lemak subtikus sangat sedikit sampai tidak adaü Perut cekung - Kulit keriput , jari lemak subtikus sangat sedikit sampai tidak adaü Perut cekung - Sering disertai penyakit kronis; diare kronik 

(17)

3) Patofisiologi 3) Patofisiologi

Defisiensi kalori yang lama Defisiensi kalori yang lama Penghancuran jaringan lemak  Penghancuran jaringan lemak  (kebutuhan energy)

(kebutuhan energy)

Menghilangnya lemak dibawah kulit Menghilangnya lemak dibawah kulit Penciutan/pengecilan otot

Penciutan/pengecilan otot

Pelisutan tubuh yang menyeluruh Pelisutan tubuh yang menyeluruh

1.

1. Kurang protein ( kwashiorkor )Kurang protein ( kwashiorkor )

Kwashiorkor adalah penyebab utama dari kekurangan makanan yang mengandung protein Kwashiorkor adalah penyebab utama dari kekurangan makanan yang mengandung protein hewani. Penyakit ini biasanya diderita oleh golongan sosial

hewani. Penyakit ini biasanya diderita oleh golongan sosial

 ekonomi rendah.ekonomi rendah.

1) Etiologi : 1) Etiologi :

- Defisiensi asupan protein - Defisiensi asupan protein 2) Tanda & gejala

2) Tanda & gejala

- Kegagalan pertumbuhan tampak dengan berat badan rendah maupun ada edema - Kegagalan pertumbuhan tampak dengan berat badan rendah maupun ada edema - Edema pada kaki

- Edema pada kaki

- Wajah membulat dan sembab - Wajah membulat dan sembab - Pandangan mata sayu

- Pandangan mata sayu - Cengeng

- Cengeng

- Cracy papement - Cracy papement

- Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung mudah dicabut tanparasa sakit dan rontok  - Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung mudah dicabut tanparasa sakit dan rontok  - Pembesaran hati

- Pembesaran hati

- Otot mengecil, lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri dan dudukü Sering disertai infeksi - Otot mengecil, lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri dan dudukü Sering disertai infeksi anemia , diare.

(18)

1.

1. Kurang kalori dan protein ( marasmusKurang kalori dan protein ( marasmus  –  – kwashiorkor )kwashiorkor )

Etiologi, tanda dan gejalanya merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor. Etiologi, tanda dan gejalanya merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor. 2.2.4

2.2.4 Penilaian Penilaian Status Status GiziGizi

Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung (Soegianto, 2007): Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung (Soegianto, 2007): 1. Penilaian status gizi secara langsung

1. Penilaian status gizi secara langsung 1.

1. Antropometri Gizi:Antropometri Gizi:

Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.

komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.

Ada 2 tipe pengukuran antropometri yang digunakan untuk penilaian status gizi (Gibson, 1990): Ada 2 tipe pengukuran antropometri yang digunakan untuk penilaian status gizi (Gibson, 1990):

1.

1. Penilaian antropometri pertumbuhanPenilaian antropometri pertumbuhan

Pengukuran antropometri pertumbuhan yang secara luas digunakan adalah pengukuran tinggi Pengukuran antropometri pertumbuhan yang secara luas digunakan adalah pengukuran tinggi badan (TB), berat badan (BB).

badan (TB), berat badan (BB). Pengukuran pertumbuhan: Pengukuran pertumbuhan:

1.

1. Pengukuran lingkar kepalaPengukuran lingkar kepala 2.

2. Pengukuran panjang badan waktu terlentangPengukuran panjang badan waktu terlentang 3.

3. Pengukuran tinggi badanPengukuran tinggi badan 4.

4. Pengukuran tinggi lututPengukuran tinggi lutut 5.

5. Berat badan bayi dan anak kurang dari 2 tahunBerat badan bayi dan anak kurang dari 2 tahun 6.

6. Lebar sikutLebar sikut

Indeks yang dihubungkan dengan pengukuran pertumbuhan: Indeks yang dihubungkan dengan pengukuran pertumbuhan:

1.

1. Lingkar kepala terhadap umurLingkar kepala terhadap umur 2.

2. Berat badan (BB) terhadap umur (U)Berat badan (BB) terhadap umur (U) 3.

3. Berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB)Berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB) 4.

4. Tinggi badan (TB) terhadap umur (U)Tinggi badan (TB) terhadap umur (U) 5.

5. Penilaian antropometri komposisi tubuhPenilaian antropometri komposisi tubuh

Sebagian besar metode antropometri untuk menilai komposisi tubuh didasarkan pada model Sebagian besar metode antropometri untuk menilai komposisi tubuh didasarkan pada model dimana tubuh terdiri dari susunan kimia: massa lemak dan massa bebas lemak.

dimana tubuh terdiri dari susunan kimia: massa lemak dan massa bebas lemak. Pengukuran massa lemak:

Pengukuran massa lemak: 1.

1. Mengukur ketebalan lipatan kulitMengukur ketebalan lipatan kulit 2.

(19)

3.

3. Pengukuran Multiple SkinfoldPengukuran Multiple Skinfold 4.

4. Rasio lingkar pinggangRasio lingkar pinggang –  – pinggulpinggul 5.

5. Area lemak anggota badanArea lemak anggota badan 6.

6. Kalkulasi lemak tubuh dari pengukuran lipatan kulit dengan kepadatan tubuhKalkulasi lemak tubuh dari pengukuran lipatan kulit dengan kepadatan tubuh 1.

1. Test BiokimiaTest Biokimia

Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh (darah, urine, tinja, hati, dan otak). Metode yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh (darah, urine, tinja, hati, dan otak). Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.

lebih parah lagi. 1.

1. Pemeriksaan klinisPemeriksaan klinis

Pemeriksaan klinis adalah metode penilaian gizi yang didasarkan pada perubahan-perubahan Pemeriksaan klinis adalah metode penilaian gizi yang didasarkan pada perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, rambut, dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan

epitel seperti kulit, rambut, dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan

permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Metode ini digunakan untuk mengetahui tingkat status permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Metode ini digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda dan gejala atau riwayat penyakit.

gizi dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda dan gejala atau riwayat penyakit. 1.

1. Pemeriksaan Biofisik Pemeriksaan Biofisik 

Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan malihat perubahan struktur dari jaringan. kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan malihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik, cara Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik, cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

2. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung 2. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung a.

a. Survey Survey konsumsi konsumsi makananmakanan

Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat jumlah dan Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat jumlah dan  jenis zat g

 jenis zat gizi yang dizi yang dikonsumsi.ikonsumsi. 1.

1. Statistik vitalStatistik vital

Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisa data beberapa statistik  Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisa data beberapa statistik  kesehatan, seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat kesehatan, seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.

penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. 3. Pemantauan Pertumbuhan Anak Dengan KMS (Kartu Menuju Sehat) 3. Pemantauan Pertumbuhan Anak Dengan KMS (Kartu Menuju Sehat)

Kartu Menuju Sehat atau KMS merupakan metode untuk mengetahui pertumbuhan berat badan Kartu Menuju Sehat atau KMS merupakan metode untuk mengetahui pertumbuhan berat badan anak mulai lahir sampai usia lima tahun.

anak mulai lahir sampai usia lima tahun. Ketentuan KMS:

Referensi

Dokumen terkait

(engan membuat garis lurus, siswa dapat berlatih keseimbangan dengan disiplin. 2ola dari kertas atau bahan lain yang lunak... an'as, kuas, palet, cat air, dan cat minyak

AJAX merupakan singkatan dari Asynchronous JavaScript and XML. AJAX merupakan teknologi baru dalam dunia web yang menggunakan teknologi dari JavaScript untuk

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana sikap dan faktor yang mempengaruhi sikap konsumen perkotaan terhadap beras produksi lokal Kalimantan Barat.. Penelitian ini

Frekwensi sakit pada anak balita stunting tergolong tinggi meskipun durasinya hanya sekitar 2-3 hari, dan pola makan anak masih banyak yang tergolong kurang baik terutama

Putri sejati Putri Indonesia Harum namanya Ibu kita Kartini Pendekar bangsa Pendekar kaumnya Untuk merdeka Wahai ibu kita Kartini Putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya

Kata “Akal” tidak perlu disebutkan secara formal karena telah diketahui secara umum bahwa Al-Qur‟an dan Hadits menyuruh menggunakan akal jadi, mengapa orang islam

Inovasi atau pesan yang disampaikan oleh penyuluh serta pengaturan (regulation) yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya sebagian peternak yang mau mengikuti hal ini

Subsistem yang bertanggung jawab dalam pengelolaan linen adalah laundry (binatu), mulai dari perencanaan, pencucian linen kotor menjadi linen bersih, yang dapat membuat