MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 18/PUU-VI/2008
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG
KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN
PEMBAYARAN UTANG (PASAL 29, PASAL 55 AYAT
(1), PASAL 59 AYAT (1), DAN PASAL 138)
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR 1945
ACARA
MENDENGAR KETERANGAN PEMERINTAH, DPR-RI
DAN AHLI DARI PEMOHON (III)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 18/PUU-VI/2008 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138) terhadap Undang-Undang Dasar 1945
PEMOHON
M. Komarudin, dkk ACARA
Mendengar Keterangan Pemerintah, DPR-RI dan Ahli dari Pemohon (III) Selasa, 26 Agustus 2008, Pukul 10.00 – 13.00 WIB
Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Prof. Dr. H. Moh. Mahfud MD, S.H. (Ketua) 2) Prof. Abdul Mukhtie Fadjar, S.H., M.S. (Anggota) 3) Maruarar Siahaan, S.H. (Anggota) 4) Dr. H.M. Arsyad Sanusi, S.H., M. Hum (Anggota) 5) Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. (Anggota) 6) Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H. (Anggota) 7) Prof. Dr. Maria Farida Indrati, S.H., M.H. (Anggota) 8) H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H. (Anggota) 9) Dr. Muhammad Alim, S.H. M.Hum (Anggota)
Pihak yang Hadir: Pemohon :
- M. Komarudin. (Ketua Umum Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia)
- Krisno (Wakil Ketua)
- Muhammad Hafidz (Sekretaris Umum Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia)
- Kristianto (Pelaksana Tugas Harian Tangerang) Kuasa Hukum Pemohon :
- Dr. Andi Muhammad Asrun, S.H., M.H. Pemerintah :
- Syamsudin Manan Sinaga (Dirjen Adm Hukum Umum, Dept Hukum dan HAM)
- Sugiri (Kepala Biro Hukum Dept Keuangan)
- Mualimin Abdi, S.H., M.Hum (Kasubdit Penyiapan Keterangan Pemerintah dan Pendampingan Persidangan)
DPR-RI :
- Nursyamsi Nurlan, S.H. (Komisi III DPR-RI) - Toto (Sekretariat DPR)
Ahli dari Pemohon : - Dr. Rizal Ramli
1. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Sidang Pleno Perkara Nomor 18/PUU-VI/2008 dengan ini saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Saudara-Saudara sekalian, untuk pertama kali saya undang atau saya persilakan Pemohon untuk memperkenalkan diri dan memperkenalkan tim yang hadir.
2. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. A. MUHAMMAD ASRUN, S.H., M.H.
Terima kasih, Yang Mulia.
Saya Muhammad Asrun, Kuasa Hukum dari Pemohon, dan pada hari ini hadir beberapa orang dari Pemohon Prinsipal. Dari 139 orang Pemohon Prinsipal dan sesuai dengan konfirmasi tiga orang ahli akan hadir tapi baru satu yang sampai di tempat yaitu Bapak Dr. Rizal Ramli dan selanjutnya dari Pemohon Prinsipal saya persilakan memperkenalkan diri.
Terima kasih.
3. PEMOHON : KOMARUDIN Terima kasih, selamat pagi,
Nama saya Komarudin, saya selaku Ketua Umum dari ISBI, terima kasih.
4. PEMOHON : MUHAMMAD HAFIDZ
Saya Muhammad Hafidz, selaku Sekretaris Umum Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia.
5. PEMOHON : KRISTIANTO
Saya Kristianto, Pelaksana Tugas Harian di Tangerang, terima kasih.
SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB
6. PEMOHON : KRISNO
Saya Krisno, Wakil Ketua, terima kasih.
7. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. A. MUHAMMAD ASRUN, S.H., M.H.
Di belakang adalah para Pemohon Prinsipal, Yang Mulia. Terima kasih.
8. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Selanjutnya yang mewakili Pemerintah, silakan.
9. PEMERINTAH : MUALIMIN ABDI, S.H., M.Hum (KASUBDIT PENYIAPAN KETERANGAN PEMERINTAH DAN PENDAMPINGAN PERSIDANGAN, DEPT HUKUM DAN HAM)
Terima kasih, Yang Mulia.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua.
Yang Mulia, mohon maaf kuasa substitusi dari Menteri Hukum dan HAM, Bapak Dirjen Administrasi Hukum Umum dalam perjalanan, karena beliau yang akan membacakan opening statement Pemerintah. Kemudian di samping kanan saya Bapak Sugiri dari Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan, jadi mohon maaf agak terlambat sedikit nanti Pak Syamsudin.
Terima kasih Yang Mulia, saya sendiri Mualimin Abdi. Terima kasih.
10. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Silakan dari DPR.
11. DPR-RI : NURSYAMSI NURLAN
Assalamu’alaikum wr. wb.
Terima kasih Yang Mulia.
Saya Nursyamsi Nurlan, mewakili Dewan Perwakilan Rakyat di samping delapan kuasa yang lain, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Dan bersama saya ada Saudara Toto dari Sekretariat DPR, terima kasih.
Wassalamu’alaikukm wr. wb.
12. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
diri satu persatu. Selamat datang Bapak Dirjen, tadi sudah diperkenalkan bahwa yang akan datang nanti Bapak Syamsudin sebagai Dirjen yang akan mewakili Pemerintah.
Saudara-Saudara sekalian,
Pada hari ini persidangan digelar untuk mendengarkan keterangan Pemerintah, lalu keterangan DPR, dan mendengar pendapat ahli yang hari ini adalah Bapak Rizal Ramli, masih ada yang datang lagi?
13. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. A. MUHAMMAD ASRUN, S.H., M.H.
Ternyata ada, Dr. Surya. Dalam perjalanan Dr. Suwandi, yang baru hadir ini Dr. Surya, dalam perjalanan Dr. Suwandi Cahaya.
Terima kasih.
14. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Baik, sudah dalam perjalanan? Kalau begitu sumpahnya nanti saja biar sekaligus ya.
Sekarang langsung mendengarkan dari Pemerintah dahulu, begitu. Baik saya persilakan Pemerintah untuk menyampaikan keterangan. Tetapi Pemohon atau kuasanya diminta untuk menyampaikan dulu pokok-pokok permohonannya agar nanti tanggapannya itu terkait langsung yang diberikan oleh Pemerintah maupun DPR, silakan.
15. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. A. MUHAMMAD ASRUN, S.H., M.H.
Terima kasih Yang Mulia.
Yang kami bacakan ini adalah ringkasannya dari permohonan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
Kepada yang terhormat,
Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia di Jakarta.
Perihal: permohonan uji material Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1) dan Pasal 138 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
Saya Muhammad Asrun, adalah advokat pada Muhammad Asrun, berdasarkan surat kuasa terlampir bertindak untuk dan atas nama Pemohon M. Komarudin dan kawan-kawan (Ikatan Federasi Buruh Seluruh Indonesia) dengan ini mengajukan permohonan uji material Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1) dan Pasal 138 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Pasal 28D ayat (1)
dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Permohonan ini diajukan dengan alasan-alasan sebagai berikut: Pertama, kepailitan adalah suatu keadaan bagi harta pailit debitur pailit yang pengurusannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan yang punya buruh yang cukup banyak kemudian dinyatakan pailit. Pailitnya sebuah perusahaan tentu akan berdampak secara langsung kepada nasib buruh yang bekerja di perusahaan tersebut. Dan nasib buruh yang bekerja pada perusahaan yang dinyatakan pailit ditentukan oleh kurator berdasarkan ketentuan Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.
Kedudukan hukum.
Pemohon adalah perseorangan yang bergabung dalam wadah Federsi Ikatan Serikat Buruh Indonesia (FISBI) dan Pengurus FISBI dengan tujuan memperjuangkan kepentingan buruh sebagaimana diperlihatkan dalam anggaran dasar FISBI. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pemohon memiliki kedudukan hukum atau legal standing untuk memperjuangkan kepentingan buruh dalam hal jaminan pemberian upah dan hak-hak finansial lainnya terkait dengan status pailit dari perusahaan mereka.
Fakta hukum
Bahwa Pemerintah mendalilkan rumusan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 salah satunya adalah asas keadilan yang mengandung pengertian bahwa kentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang berkepentingan. Asas keadilan ini untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan-tagihan masing-masing terhadap debitur dengan tidak mempedulikan kreditur lainnya (penjelasan umum Undang-Undang Kepailitan).
Rumusan penjelasan Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tersebut justru telah dilanggar sendiri oleh ketentuan Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1) dan Pasal 138 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU yang memberikan kewenangan mutlak kepada kreditur pemegang hak tanggungan untuk mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan setelah 90 hari sejak putusan kepailitan itu diucapkan. Kewenangan pasal-pasal tersebut adalah bentuk kesewenang-wenangan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 28D Undang-Undang Dasar 1945.
Alasan-alasan Pemohon mengajukan permohonan hak uji material.
Pasal 29 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bertentangan
dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bertentangan dengan Pasal 28D ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Bahwa Pasal 28D ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 sudah memberikan dasar yang jelas dan tegas bahwa setiap warga negara secara konstitusional berhak mendapatkan pekerjaan serta mendapat imbalan yang adil dan layak. Sayangnya, hak buruh yang telah dijamin dalam bingkai konstitusi negara ini, dapat terancam dengan adanya kreditor separatis sebagai kreditor pemegang hak jaminan kebendaan, yang dapat bertindak sendiri seolah-olah tidak terjadi kepailitan, sebagaimana maksud dari ketentuan Pasal 55 ayat (1) Undang-undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Bahwa kreditor kepailitan digolongkan secara struktural yang terdiri dari kreditor separatis, kreditor preferen, dan kreditor konkueren, yang masing-masing kreditor tersebut berbeda kedudukannya serta juga membedakan besaran pembagian harta pailit.
Bahwa pada dasarnya, kedudukan para kreditor adalah sama (paritas creditorum) dan karenanya mereka mempunyai hak yang sama atas hasil eksekusi boedel pailit sesuai dengan besarnya tagihan mereka masing-masing. Namun demikian, asas tersebut mengenal pengecualian, yaitu golongan kreditur yang memegang hak agunan atas kebendaan dan golongan kreditur yang haknya didahulukan berdasarkan Undang-undang Kepailitan dan peraturan perUndang-undang-Undang-undangan lainnya.
Bahwa sudah banyak debitur yang berbentuk perusahaan berbadan hukum dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga dan hak-hak buruh atas upah dan pesangon tidak dapat terpenuhi, karena buruh menjadi kreditur preferen ketika ada pihak lain yang menjadi kreditur separatis yaitu kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau kebendaan lainnya. Dan pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau kebendaan lainnya mempunyai hak spesialis untuk menjual harta pailit yang telah menjadi objek gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau kebendaan lainnya.
Dengan diberlakukannya ketentuan Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004, maka buruh kedudukannya berada satu tingkat di bawah kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau kebendaan lainnya, sehingga menghapus nuansa perlindungan terhadap hak-hak buruh baik selama berlangsungnya hubungan kerja maupun saat berakhirnya hubungan kerja karena kepailitan. Dalam hal ini perlu dicermati apabila harta pailit yang diagunkan tidak seluruhnya, maka ada kemungkinan hak-hak buruh atas upah dan hak lainnya yang diatur oleh Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dapat dipenuhi dengan harta pailit yang tidak diagunkan. Namun, ketika seluruh harta pailit
diagunkan, maka kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau kebendaan lainnya, berhak melakukan eksekusi dan penjualan terhadap harta pailit tersebut dan berdampak pada hilangnya hak-hak buruh atas upah/imbalan yang layak, sebagaimana kasus yang dialami oleh Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia P.T. Sindoll Pratama-Jakarta Utara (Mei 2006), yang melibatkan 1.045 buruh dengan Pengusaha P.T. Sindoll Pratama yang mengagunkan kepada Bank Negara Indonesia (BNI) seluruh mesin-mesin perusahaan, bangunan, dan tanah perusahaan bahkan aset pribadi komisaris dan direktur utama berupa empat rumah dan satu rumah toko/ruko yang kemudian, dilelang dan terjual oleh Bank Negara Indonesia pada bulan Mei 2007 dan Agustus 2007, tanpa satu rupiahpun buruh menerima haknya atas upah/imbalan yang layak.
PETITUM
Berdasarkan uraian tersebut, Pemohon memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk memeriksa dan memutus Permohonan Hak Uji Materiil Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, dengan amar putusan sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
2. Menyatakan materi muatan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bertentangan dengan Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3. Menyatakan bahwa materi muatan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Demikian Yang Mulia, terima kasih.
16. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD. MD, S.H. .
Cukup jelas saya kira, saya persilakan dari Pemerintah untuk memberikan keterangan.
17. PEMERINTAH : SYAMSUDIN MANAN SINAGA (DIRJEN ADMINISTRASI HUKUM UMUM, DEP HUKUM DAN HAM)
Yang kami hormati Pemohon atau kuasanya, yang kami hormati para ahli.
Perkenankan kami sebelum membacakan opening statement
mengucapkan selamat kepada Ketua Mahkamah Konstitusi Dr. Mahfud MD atas terpilihnya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Opening statement Pemerintah atas permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar 1945.
Sehubungan dengan permohonan pengujian atau constitutional review ketentuan Pasal 29, Pasal 45 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang dimohonkan oleh Dr. Andi Asrun S.H., M.H., dan Dewi Triani S.H. selaku kuasa hukum dari M. Komaruddin dan Muhammad Hafidz sebagai ketua umum dan sekretaris dewan pimpinan pusat Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia dan Agung Purnomo dan kawan-kawannya sebagai mantan buruh P.T. Sindoll Pratama untuk selanjutnya disebut sebagai para Pemohon. Sesuai dengan registrasi di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-VI/2008 tanggal 18 Juli 2008 perkenankan Pemerintah menyampaikan penjelasan singkat atau opening statement sebagai berikut:
Pokok permohonan
Merujuk pada permohonan para Pemohon, pada dasarnya para Pemohon menganggap hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan dengan berlakunya ketentuan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang karena menurut para Pemohon ketentuan a quo dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut:
a) Bahwa penyelesaian perselisihan melalui jalur pengadilan hubungan industrial dihapuskan oleh ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang karena selama berlangsung kepailitan, tuntutan untuk memperoleh pemenuhan piutang dari harta pailit dan perkaranya sedang berjalan harus dinyatakan gugur demi hukum dengan diucapkannya putusan pernyataan pailit terhadap debitur.
b) Bahwa dengan diberlakukannya ketentuan Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang maka buruh kedudukannya berada satu tingkat di bawah kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya sehingga menghapus nuansa perlindungan terhadap
hak-hak kerja atau buruh baik selama berlangsungnya hubungan kerja maupun saat berakhirnya hubungan kerja karena kepailitan.
Atas hal-hal tersebut menurut para Pemohon ketentuan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dianggap bertentangan dengan ketentuan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 dan karenanya dianggap merugikan hak dan atau kewenangan konstitusionalnya.
Tentang kedudukan atau legal standing para Pemohon.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menyatakan Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu: a) Perorangan Warga Negara Indonesia;
b) Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalan undang-undang;
c). Badan hukum publik atau privat atau; d). Lembaga negara.
Ketentuan di atas dipertegas dalam penjelasannya, bahwa yang dimaksud dengan hak konstitusionalnya adalah hak-hak yang diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sehingga agar seseorang suatu atau pihak dapat diterima sebagai Pemohon yang memiliki kedudukan atau legal standing dalam permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 maka terlebih dahulu harus menjelaskan dan membuktikan:
a. kualifikasinya adalah dalam permohonan a quo sebagai disebut dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi;
b. Hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dalam kualifikasi yang dimaksud yang dianggap telah merugikan oleh berlakunya undang-undang yang diuji;
c. Kerugian hak dan atau kewenangan konstitusional Pemohon sebagai akibat berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian.
Lebih lanjut Mahkamah Konstitusi sejak Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 serta putusan-putusan selanjutnya telah memberikan pengertian dan batasan secara kumulatif tentang kerugian hak dan atau kewenangan konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu undang-undang menurut Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi harus memenuhi lima syarat, yaitu:
a. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu undang-undang yang diuji;
c. Bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik atau khusus dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;
d. Adanya hubungan sebab akibat atau causal verband antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji;
e. Adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.
Atas hal-hal tersebut di atas, maka menurut Pemerintah perlu dipertanyakan kepentingan para Pemohon apakah sudah tepat sebagai pihak yang menganggap hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, juga apakah terdapat kerugian konstitusional para Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik atau khusus dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi dan apakah ada hubungan sebab akibat atau causal verband
antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. bahwa Pemohon Komarudin dan Muhammad Hafidz selaku Ketua Umum dan Sekretaris DPP Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia—Pemohon nomor satu dan nomor dua, pertanyaannya menurut Pemerintah siapa yang sebenarnya dirugikan atas keberlakuan undang-undang a quo? Apakah para Pemohon sendiri sebagai Ketua dan Sekretaris DPP Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia? Seluruh Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia yang ada di Indonesia atau seluruh buruh yang bekerja di berbagai perusahaan di daerah Indonesia? Kemudian apakah Pemohon mendapatkan kuasa khusus dari para buruh yang tidak mendapatkan upah karena perusahaan tempat bekerja dinyatakan pailit? Menurut Pemerintah yang semestinya dilakukan oleh Pemohon yaitu Pemohon I dan Pemohon II adalah memperjuangkan para anggotanya untuk memperoleh hak-hak secara layak dan benar misalnya tentang kenaikan upah, upah lembur, asuransi kesehatan, cuti, dan kesejahteraan lainnya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan maupun peraturan perundang-undangan lainnya sehingga menurut Pemerintah permohonan para Pemohon tidak tepat dan keliru dan karenanya tidak memenuhi kualifikasi sebagaimana ditentukan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi maupun berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi yang terdahulu yaitu Putusan Nomor 2/PUU-VI/2008 tanggal 6 Mei 2008.
2. bahwa Pemohon Agung Purnomo dkk-nya selaku mantan buruh P.T. Sindoll Pratama yang dalam hal ini Pemohon III sampai dengan Pemohon 140, pertanyaannya adalah apakah benar para Pemohon
tersebut sebagai pihak yang tidak mendapatkan hak-haknya yaitu upah atau pendapatan lainnya karena perusahaan tempat mereka bekerja dinyatakan pailit atau Pemohon dalam posisi yang sedang melakukan upaya hukum yaitu gugatan di pengadilan untuk menuntut hak-haknya? Menurut Pemerintah hal ini penting untuk dipertanyakan agar kedudukan hukum atau legal standing Pemohon menjadi jelas karena relevansinya. Menurut Pemerintah Pemohon tidak dapat menguraikan secara jelas tentang kedudukannya maupun kerugian hak dan atau kewenangan konstitusionalnya yang terjadi atas keberlakuan ketentuan atas undang-undang Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Berdasarkan hal-hal tersebut Pemerintah berpendapat bahwa tidak terdapat dan atau telah timbul kerugian hak dan atau kewenangan konstitusional para Pemohon atas keberlakuan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Karena itu kedudukan hukum atau legal standing
para Pemohon dalam permohonan pengujian ini tidak memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum pada Pasal 51 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi maupun berdasarkan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi terdahulu. Karena itu menurut Pemerintah adalah tepat dan sudah sepatutnyalah jika Ketua atau Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi secara bijaksana menyatakan para Pemohon tidak dapat diterima atau niet ontvankelijk verklaard.
Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi,
Menurut Pemerintah ketentuan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak merugikan hak dan atau kewenangan konstitusional para Pemohon dengan penjelasan sebagai berikut:
1. bahwa ketentuan a quo dimaksudkan atau bertujuan dalam rangka pelaksanaan asas perlindungan dan kepastian hukum bagi kreditur, baik kreditur konkueren atau kreditur bersaing, kreditur separatis maupun kreditur preferen dalam hubungan penyelesaian utang piutang melalui kepailitan.
2. bahwa perbedaannya bahwa buruh tersebut melakukan gugatan di luar proses kepailitian misalnya gugatan ke pengadilan negeri, maka buruh tersebut memposisikan dirinya sebagai kreditur konkueren atau kreditur bersaing, menurut Pemerintah hal demikian menjadi pilihan resiko.
3. bahwa setelah debitur yaitu perusahaan tempat buruh bekerja dinyatakan pailit, tetapi di pihak lain terdapat tututan hukum dari pihak lain, misalnya tuntutan hukum dari buruh tetap dapat dilaksanakan. Maka menurut Pemerintah hal tersebut dapat mengganggu sistem
penyelesaian utang piutang melalui mekanisme kepailitian yang justru dapat menimbulkan kerugian dan ketidakpastian bagi kreditur itu sendiri. 4. bahwa ketentuan Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pada dasarnya menentukan bahwa kreditur separatis atau kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak guna atas kebendaan lainnya dapat melaksanakan haknya seolah-olah tidak ada kepailitan, sedangkan ketentuan Pasal 28D ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 mengatur tentang setiap orang untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja, hubungan antara buruh dan majikan dengan demikian tidak terdapat relevansi atau tidak terkait masalah konstitusionalitas keberlakuan ketentuan a quo.
5. bahwa ketentuan Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengatur bahwa kreditur separatis harus melaksanakan haknya dalam jangka waktu paling lambat dua bulan setelah dimulainya keadaan pensiun. Menurut Pemerintah ketentuan tersebut tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 karena dengan alasan-alasan tersebut di atas juga ketentuan a quo dalam rangka memberikan kepastian hukum bagi penyelesaian hutang-piutang melalui kepailitan. Dengan demikian menurut Pemerintah ketentuan Pasal 59 ayat (1) tidak serta merta menghilangkan atau menutup hak kreditur lainnya termasuk hak buruh bagi pemegang kreditur preferen.
Dari uraian di atas menurut Pemerintah ketentuan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah memberikan kepastian hukum dan telah memberikan hak kepada seseorang dalam hal ini kreditur secara proporsional dan secara adil. Juga ketentuan tersebut memberikan perlindungan jaminan hukum terhadap kreditur termasuk buruh atau pekerja sebagaimana diamanatkan oleh ketentuan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945.
Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Konstitusi,
Selain hal-hal tersebut di atas Pemerintah juga dapat menyampaikan bahwa permohonan para Pemohon tidak tegas, tidak jelas dan kabur atau obscuur libel utamanya dalam mengkonstruksikan adanya kerugian dan atau kewenangan konstitusional atas berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji karena di satu sisi para Pemohon mendalilkan ketentuan a quo dianggap bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, tetapi di sisi lain para Pemohon menganggap ketentuan a quo bertentangan kontradiksi atau disharmoni dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Padahal faktanya menurut Pemerintah dalam menyelesaikan masalah ketenagakerjaan jika perusahaan atau majikan debitur tempat buruh bekerja tersebut dinyatakan pailit maka
kedua undang-undang tersebut bersifat saling mendukung dan saling melengkapi, Pasal 39 ayat (1) dan ayat (2) beserta penjelasannya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Di sisi lain menurut Pemerintah apabila anggapan para Pemohon tersebut benar adanya yang menyatakan telah terjadi pertentangan, kontradiksi, atau disharmoni antara undang-undang yang satu dengan undang-undang yang lain, antara Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan maka hal tersebut sama sekali tidak terkait dengan konstitusionalitas keberlakuan suatu undang-undang dan hal demikian menjadi kewenangan pembuat undang-undang yang dalam hal ini DPR dan Presiden untuk melakukan pengharmonisasian dan atau melakukan perubahan melalui mekanisme legislative review.
Yang Mulia Ketua atau Majelis Hakim Konstitusi,
Keterangan Pemerintah tertulis secara lengkap dalam tahap finalisasi dalam waktu dua hari ke depan Pemerintah akan menyerahkan melalui Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi sebanyak 12 eksemplar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keterangan lisan yang disampaikan Pemerintah pada hari ini, Selasa, 26 Agustus 2008.
Demikian Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi, atas perkenaan perhatiannya diucapkan terima kasih.
Jakarta, 26 Agustus 2008 Kuasa Hukum Presiden RI;
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Menteri Keuangan RI, dan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Demikian, terima kasih.
18. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H. Terima kasih wakil dari Pemerintah.
Jadi benar kami tunggu dalam dua hari ya, dua hari dari sekarang bukan dua hari lagi. Karena biasanya Hakim ini langsung sibuk mempelajari untuk dibawa ke RPH, kalau terlalu lama juga agak menghambat. Saya persilakan wakil dari DPR, silakan ke podium. Kalau bisa langsung ke pokok perkara atau disingkat-singkat, yang penting jelas.
19. DPR-RI : NURSYAMSI NURLAN, S.H. (KOMISI III DPR-RI) Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Yang Mulia, Hakim Ketua serta Wakil dan Majelis yang dihormati, Para Pemohon dan Ahli serta Pemerintah,
Para hadirin yang saya hormati,
Sebelum kami menyampaikan keterangan Dewan Perwakilan Rakyat RI kami ingin memyampaikan ucapan selamat kepada Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dan hakim-hakim yang lain yang sudah dilantik, mudah-mudah menjadi semangat baru dalam menegakkan hukum dan demokrasi yang konstitusional di RI.
Keterangan DPR-RI atas permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 dalam Perkara Nomor 18/PUU-VI/2008.
Dengan hormat, berdasarkan surat keputusan pimpinan DPR-RI Nomor 19/PIM/III/2006-2007 tentang penugasan anggota Komisi III DPR-RI sebagai Kuasa Hukum DPR-RI untuk mewakili DPR-RI dalam menghadapi sidang-sidang di Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan keputusan pimpinan DPR-RI Nomor 37/PIM/IV/2007-2008 dan surat khusus pimpinan DPR-RI Nomor HK.00/5975/DPR-RI/2008 tanggal 22 Agustus 2008 telah memberikan kuasa kepada Anggota Komisi III DPR-RI;
1. Trimedya Panjaitan, S.H., M.H., nomor anggota A301; 2. Pataniari Siahaan, nomor anggota A311;
3. Dr. Azis Syamsudin, nomor anggota A446;
4. Drs. Agun Gunandjar Sudarsa, nomor anggota A470; 5. Lukman Hakim Saefuddin, nomor anggota A45; 6. H. Patrialis Umar, S.H., nomor anggota A138; 7. H. Imam Ansori Saleh, S.H., nomor anggota A223; 8. H. Nursyamsi Nurlan, S.H., nomor anggota A03.
Dalam hal ini baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri bertindak untuk dan atas nama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang selanjutnya disebut DPR-RI. Sehubungan dengan surat Nomor 362.18/MK/VII/2008 tanggal 15 Agustus 2008 perihal sidang pleno yang disampaikan Ketua Mahkamah Konstitusi RI kepada Ketua DPR-RI untuk menghadiri dan menyampaikan keterangan di persidangan Mahkamah Konstitusi terkait dengan permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang diajukan oleh M. Komarudin dan Muhammad Hafidz selaku Ketua Umum dan Sekretaris Umum Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia dan Saudara Agung Purnomo dan kawan-kawan dalam hal ini diwakili oleh Kuasa Hukumnya Dr. A. Muhammad Asrun, S.H., M.H. dan Dewi Triyani, S.H. yang berkantor pada Muhammad Asrun & partner law firm, beralamat di gedung PGRI Jalan Tanah Abang III Nomor 24 Jakarta Pusat untuk selanjutnya disebut Pemohon.
Dengan ini DPR RI menyampaikan keterangan terhadap permohonan pengujian atas Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 dalam Perkara Nomor
18/PUU-VI/2008 yaitu, kami tidak membacakan permohonan Pemohon juga pasal-pasal yang dianggap melanggar Undang-Undang Dasar, kami langsung pada keterangan DPR RI. Bahwa terhadap dalil-dalil Pemohon a quo DPR RI menyampaikan keterangan sebagai berikut:
1. Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon
Kualifikasi yang harus dipenuhi oleh Pemohon sebagai pihak telah diatur dalam ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa Pemohon adalah pihak yang menganggap hak atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu:
a. perorangan Warga Negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara RI yang diatur dalam undang-undang;
c. badan hukum publik atau privat; d. lembaga negara.
Hak dan atau kewenangan konstitusional yang dimaksud ketentuan Pasal 51 ayat (1) tersebut dipertegas dalam penjelasannya bahwa yang dimaksud dengan hak konstitusional adalah hak-hak yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Ketentuan penjelasan Pasal 51 ayat (1) ini menjelaskan bahwa hanya hak-hak yang secara eksplisit saja yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 saja yang dimaksud dengan hak konstitusional. Oleh karena itu, menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi agar seseorang atau suatu pihak dapat diterima sebagai Pemohon yang memiliki kedudukan hukum (legal standing) dalam permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945, maka terlebih dahulu harus menjelaskan dan membuktikan:
a. kualifikasinya sebagai Pemohon dalam permohonan a quo
sebagaimana diatur dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi;
b. hak dan atau kewenangan konstitusionalnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) yang dianggap telah dirugikan oleh berlakunya undang-undang.
c. Kerugian hak dan atau kewenangan konstitusional Pemohon sebagai akibat berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian.
2. Batasan mengenai kerugian konstitusional
Mahkamah Konstitusi RI telah memberikan pengertian dan batasan tentang kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu undang-undang harus memenuhi lima syarat (vide Putusan Perkara Nomor 006/PUU-III/2005 dan Putusan Perkara Nomor 010/PUU-IIII/2005) yaitu sebagai berikut:
a. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945;
b. bahwa hak konstitusional Pemohon itu dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu undang-undang yang telah diuji;
c. bahwa kerugian konstitusional pemohon yang dimaksud bersifat spesifik atau khusus dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi; d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan
berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji;
e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.
Apabila kelima syarat tersebut tidak dipenuhi oleh Pemohon dalam mengajukan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 maka Pemohon tidak memiliki kualifikasi kedudukan hukum (legal standing) sebagai Pihak. Terhadap kedudukan hukum atau legal standing
permohonan a quo DPR RI perlu mempertanyakan terlebih dahulu adakah kerugian konstitusional Pemohon yang dirugikan dengan berlakunya Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Hak konstitusional yang dimaksud oleh Pemohon secara garis besarnya adalah hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum dan hak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. Oleh karenanya menurut Pemohon ketentuan permohonan a quo bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Dalam hal ini terhadap permohonan Pemohon a quo secara formal perlu dipertanyakan terlebih dahulu mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon.
1. Apakah Pemohon sudah memenuhi kualifikasi sebagai pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 dan penjelasannya UU Mahkamah Konstitusi serta memenuhi lima syarat atau vide Putusan Mahkamah Konstitusi Perkara Nomor 006/PUU-III/2005 dan Perkara Nomor 010/PUU-IIII/2005 yang menganggap hak dan atau kewenangannya konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang?
2. Apakah terdapat kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi dan apakah ada hubungan sebab akibat (causal verband) atas berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji?
Berdasarkan pada ketentuan Pasal 51 ayat (1) dan penjelasan UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan persyaratan menurut Putusan Mahkamah Konstitusi Perkara Nomor 006/PUU-III/2005 dan Perkara Nomor 010/PUU-IIII/2005, DPR-RI berpendapat bahwa tidak ada sedikit pun hak konstitusional Pemohon yang dirugikan dengan berlakunya Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dengan penjelasan sebagai berikut:
- Pemohon dalam permohonan a quo menyatakan bahwa keberadaan ketentuan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tidak menjamin kepastian hukum yang adil bagi buruh serta perlakuan yang sama di hadapan hukum dan hanya memberikan peluang serta memberikan hak-hak istimewa kepada kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau hak kebendaan lainnya yang akan menghapus nuansa perlindungan terhadap hak-hak buruh, baik selama berlangsungnya hubungan kerja maupun saat berakhirnya hubungan kerja karena kepailitan sehingga dianggap bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945.
Terhadap dalil-dalil Pemohon a quo DPR-RI berpendapat sebagai berikut, 1. Bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa
tujuan pembentukan Pemerintahan Negara Indonesia adalah untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, melindungi kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
2. Bahwa DPR-RI bersama-sama Pemerintah mempunyai tugas untuk membuat undang-undang yang merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional adalah pembangunan hukum nasional. Mewujudkan masyarakat adil, sejahtera, berdasarkan Konstitusi demi terwujudnya kerangka sistem hukum nasional yang antara lain dilakukan melalui pembentukan hukum baru yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan perekonomian nasional. Salah satu produk hukum untuk menjamin kepastian, ketertiban, perlindungan hukum yang berdasar kepada keadilan dan kebenaran yang diperlukan saat ini adalah Peraturan mengenai Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
3. Bahwa Penjelasan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menyebutkan beberapa asas yaitu:
a. Asas Keseimbangan; mengandung pengertian bahwa undang-undang ini memuat ketentuan mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan baik oleh kreditur maupun debitur yang tidak beritikad baik.
b. Asas Kelangsungan Usaha; mengandung pengertian bahwa undang-undang ini membuat ketentuan yang memungkinkan perusahaan debitur yang prospektif tetap dilangsungkan.
c. Asas keadilan; mengandung pengertian bahwa ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang berkepentingan. Asas keadilan ini juga ditujukan untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap debitur dengan tidak mempedulikan kreditur yang lainnya.
d. Asas integrasi; mengandung pengertian bahwa sistem hukum formal dan hukum materialnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.
4. Bahwa berkaitan dengan hal tersebut di atas perlu dipertanyakan dan dibuktikan terlebih dahulu kepentingan Pemohon yang mengatasnamakan diri sebagai Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia, organisasi atau lembaga swadaya masyarakat. Apakah sudah sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku? Memang benar dalam permohonannya Pemohon menyatakan bahwa Federasi Ikatan Buruh Indonesia telah tercatat sebagai serikat pekerja atau serikat buruh di kantor Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotamadya Jakarta Barat, melalui surat bernomor 258/07773, tanggal 8 Februari 2006 dengan nomor bukti pencatatan nomor 299/III/S.P/II/2006 vide Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja atau Serikat Buruh yang berbunyi, “serikat pekerja atau serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja atau serikat buruh yang telah terbentuk memberitahukan secara tertulis kepada instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat untuk dicatat”. Dalam pembentukannya serikat pekerja atau serikat buruh dibentuk oleh pekerja atau buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan. Mengenai serikat pekerja, serikat buruh di luar perusahaan disebutkan di dalam ketentuan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang tentang Serikat Pekerja atau Serikat Buruh yang berbunyi, “serikat pekerja atau serikat buruh di luar perusahaan adalah serikat pekerja atau serikat buruh yang didirikan oleh para pekerja atau buruh yang tidak bekerja di perusahaan”. Di dalam permohonannya, Pemohon II status pekerjaannya adalah wiraswasta/Sekretaris Umum Federasi Serikat Ikatan Buruh Seluruh Indonesia.
Menurut kamus Bahasa Indonesia wiraswasta berarti jenis usaha berdikari atas dasar percaya kepada diri sendiri (tanpa mengharapkan belas kasihan orang lain). Jadi wiraswasta adalah usaha dengan landasan berdiri di atas kaki sendiri. Dengan definisi sebagaimana tersebut di atas maka wiraswasta tidak dapat dikategorikan sebagai pekerja atau buruh karena sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja atau Serikat Buruh berbunyi, “Pekerja/Buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.” Dengan
demikian Pemohon a quo in casu sebagai wiraswasta tidak mempunyai kedudukan hukum sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi juncto
Putusan Perkara Nomor 006/PUU-III/2005 dan Perkara Nomor 10/PUU-III/2005.
Pemohon Nomor satu dan nomor dua yang mengatasnamakan Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia walaupun menurut penjelasannya sudah tercatat sebagai serikat pekerja di kantor Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotamadya Jakarta Barat tidak dapat dikatakan sebagai badan hukum privat sebagaimana diisyaratkan dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi karena pencatatan tidak berfungsi sebagai pengesahan suatu perkumpulan sebagai badan hukum. Untuk memperoleh kedudukan sebagai badan hukum suatu perkumpulan harus mendaftarkan ke Direktorat Perdata Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia, oleh karena Pemohon nomor satu dan nomor dua tidak mempunyai persyaratan legal standing karena bukan badan hukum privat.
5. Bahwa jika Pemohon merasa hak-hak konstitusionalnya dirugikan dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang maka hal itu perlu dipertanyakan, siapa sebenarnya dirugikan? Apakah Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia itu sendiri, para pengurusnya, atau buruh atau (pekerja dalam hal ini)? Pertanyaan serupa juga berlaku bagi para Pemohon perseorangan karena status Saudara Agung Purnomo dan kawan-kawan, Pemohon nomor 3 sampai dengan nomor 139 yang menyatakan bahwa mereka semuanya mantan buruh maka secara esensial mereka tidak lagi memenuhi kriteria selaku perseorangan Warga Negara Indonesia yang hak dan kewajiban konstitusionalnya dirugikan dengan berlakunya dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 karena kedudukan mereka tidak lagi sebagai pekerja atau buruh sebagaimana ditentukan Pasal 95 ayat (4) juncto Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, oleh karena itu mereka tidak lagi mempunyai posisi sebagai kreditur preferen. Dengan demikian mereka tidak mempunyai legal standing untuk mengajukan permohonan pengujian undang-undang a quo.
Dalam hal adanya kerugian sebagaimana diajukan oleh Pemohon dalam permohonan a quo disebutkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau KUHPerdata pada Pasal 1132, 1133, dan 1134 yang berbunyi sebagai berikut; Pasal 1132 KUHPerdata berbunyi, “barang-barang yang menjadi jaminan bersama bagi semua kreditur terhadapnya hasil penjualan barang-barang itu dibagi menurut perbandingan piutang masing-masing kecuali di antara para kreditur itu berdasarkan alasan yang sah untuk didahulukan. Pasal 1133 KUHPerdata berbunyi, “hak untuk didahulukan di antara para kreditur bersumber kepada hak istimewa kepada gadai dan hak hipotek”. Pasal 1134 KUHPerdata
berbunyi, “hak istimewa adalah satu hak yang diberikan oleh undang-undang kepada seorang kreditur yang menyebabkan ia berkedudukan lebih tinggi daripada yang lainnya semata-mata berdasarkan sifat piutang itu gadai dan hipotek lebih tinggi daripada hak istimewa kecuali dalam hal undang-undang dengan tegas menentukan kebalikannya”. Dari ketentuan pasal tersebut dapat diketahui bahwa pemegang gadai dan hipotek mempunyai hak lebih tinggi daripada yang lainnya, oleh karena itu ketentuan Pasal 55 dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah sejalan dengan kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam permohonannya Pemohon mengajukan pengujian terhadap perlindungan hak-hak buruh, mengenai hal itu dapat ditegaskan bahwa hak-hak buruh termasuk dalam rezim ketenagakerjaan yang tidak dapat dikaitkan dengan rezim kepailitan karena telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam hal suatu perusahaan dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan niaga maka hal ini termasuk dalam wilayah rezim kepailitan sehingga akibat hukum dapat dari putusan pailit tersebut berlaku Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Oleh karena itu harus dibedakan dan tidak dapat dicampuradukkan dalam memahami Undang-Undang Ketenagakerjaan merupakan rezim ketenagakerjaan dengan Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang merupakan rezim kepailitan. Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada kerugian yang dialami Pemohon dalam perkara a quo sehingga permohonan Pemohon dalam hal ini telah keliru dalam melakukan pengujian Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Berdasarkan hal tersebut DPR memohon kepada Pemohon melalui Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menjelaskan dan membuktikan secara sah terlebih dahulu apakah benar Pemohon pihak yang hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan. DPR-RI berpendapat bahwa tidak terdapat dan atau telah timbul kerugian terhadap hak dan atau kewenangan kontitusional yang dialami Pemohon
a quo dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004. Oleh karena itu kedudukan hukum atau legal standing Pemohon dalam permohonan pengujian undang-undang a quo tidak memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi dan batasan menurut Putusan Mahkamah Konstitusi Perkara Nomor 006/PUU-III/2005 dan Perkara Nomor 10/PUU-III/2005 terdahulu.
Berdasarkan dalil-dalil tersebut DPR-RI mohon agar Ketua atau Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat secara bijaksana menyatakan permohonan Pemohon ditolak (void) atau setidak-tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). Namun jika Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain berikut ini
disampaikan keterangan DPR-RI mengenai materi pengujian Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tersebut.
2. Pengujian materi atas Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Pemohon dalam permohonan a quo menyatakan bahwa keberadaan ketentuan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak menjamin kepastian hukum yang adil bagi buruh serta perlakuan yang sama di hadapan hukum dan hanya memberikan peluang serta hak-hak istimewa kepada kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau kebendaan lainnya yang akan menghapus nuansa perlindungan terhadap hak-hak buruh baik selama berlangsungnya hubungan kerja maupun saat berakhirnya hubungan kerja karena kepailitan sehingga dianggap bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Terhadap hal-hal yang dikemukakan permohonan tersebut DPR-RI berpendapat atau memberikan keterangan sebagai berikut:
1. Bahwa pada tanggal 22 April 1998 telah ditetapkan suatu Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang atau Perppu Nomor 1 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang tentang Kepailitan yang kemudian ditetapkan menjadi undang-undang dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut ditetapkan dengan pertimbangan bahwa Undang-Undang tentang Kepailitan yang ada, Failissement of Verordening Staablad 1905 217 jo. Staatblad 1903 648 merupakan peraturan perundang-undangan peninggalan Pemerintah kolonial Belanda sudah tidak sesuai lagi dengan ketentuan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan hukum di bidang perekonomian khususnya untuk penyelesaian hutang piutang.
2. Bahwa keberadaan tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 1998 yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan dinilai sudah tidak sesuai lagi, maka sejalan dengan perkembangan di bidang perekonomian diperlukan adanya suatu pengaturan tentang kepailitan dengan cakupan yang lebih luas lagi maka dibentuk suatu peraturan tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran hutang yang baru dan sesuai dengan kebutuhan hukum di masyarakat yaitu lahirnya Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
3. Bahwa ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
sama sekali tidak bertentangan dan justru sejalan dengan maksud dan tujuan dari Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 karena Pasal 28D ayat (1) tersebut pada dasarnya mengatur tentang asas persamaan hak hukum serta hak atas pengakuan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil bagi setiap Warga Negara Indonesia.
4. Bahwa Pemohon dalam memahami Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 telah keliru sehingga menimbulkan pemahaman yang tidak sesuai dengan makna esensi yang dimaksud dalam pasal tersebut. Mohon dipahami bahwa kesamaan kedudukan setiap warga negara dalam hukum seperti yang diatur dalam Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk memberikan kewenangan kepada setiap warga negara untuk melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa memperhatikan segi moralitas, norma-norma hukum lain, hak individu atau orang lain, serta kewenangan lembaga negara. Suatu kepastian hukum yang adil akan mewujudkan pengakuan jaminan dan perlindungan hak dari setiap warga negara itu sendiri sebagaimana tertera dalam Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 harus dilakukan secara bertanggung jawab, beretika moral serta tunduk pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku seperti yang diatur dalam Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan, “dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan atas penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”.
5. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 tersebut di atas tentang keharusan pelaksanaan hak dan kebebasan yang dimiliki oleh setiap warga negara dapat dilakukan secara jujur, bermoral, dan bertanggung jawab serta tidak mengorbankan kepentingan dan hak-hak hukum orang banyak yang juga sangat penting untuk mendapatkan pengakuan dan penghormatan.
6. Bahwa suatu perusahaan swasta in casu debitur pailit maupun perusahaan BUMN misalnya P.T. Bank Negara Indonesia in casu
kreditur separatis yang berbadan hukum juga memerlukan payung hukum berupa hak atas pengakuan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum dan bukan hanya merupakan hak hukum yang semata-mata dimiliki oleh para buruh atau pekerja in casu Pemohon saja, tetapi juga merupakan hak yang dimiliki oleh perusahaan berbadan hukum itu sendiri.
7. Bahwa semua perusahaan berbadan hukum juga memerlukan hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil unrtuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum terhadap nasabah dari P.T. Bank Negara Indonesia misalnya yang jumlahnya bukan dalam hitungan ribuan orang saja tetapi mencapai ratusan ribu bahkan jutaan orang sebagai nasabah pada P.T. Bank Negara Indonesia yang meletakkan kepercayaan, harapan, dan masa depannya pada Bank Negara Indonesia itu sendiri.
8. Bahwa ketentuan Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak bertentangan dan justru sejalan dengan tujuan dengan Pasal 28D ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi, “setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”.
9. Bahwa pada dasarnya pemberlakuan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang adalah dalam upaya untuk menciptakan kepastian hukum dalam penyelesaian hukum dalam penyelesaian konflik hutang piutang antara debitur dan kreditur di Indonesia. Sebagaimana diatur Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bahwa seorang dalam hal debitur mempunyai lebih dari satu orang kreditur dan tidak membayar minimal satu hutang yang telah terbukti secara sederhana telah jatuh tempo dan dapat ditagih maka pengadilan niaga akan memutuskan debitur tersebut pailit dimana sebagai konsekuensi dari kepailitan itu harta dari debitur pailit itu akan berada dalam status sita umum (public attachment) yang pengurusan dan pembebasannya dilakukan seorang atau lebih kurator untuk dibagi-bagikan kepada seluruh kreditur, debitur pailit tersebut sesuai dengan kelasnya seperti yang diatur dalam Pasal 1132, 1133, 1134, dan 1139 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
10. Bahwa ketentuan Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 yang memberikan hak kepada kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan sudah sejalan dan sudah sesuai dengan ketentuan dalam:
a. Pasal 6 Undang-Undang Nomor 4/1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah,
b. Pasal 27 Undang-Undang Nomor 42/1999 tentang Jaminan Fidusia,
c. Pasal 1133 dan Pasal 1150 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
KUHPerdata merupakan hukum pokok di bidang keperdataan, sehingga undang-undang lain yang mengadopsi dalam ketentuan undang-undang Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dilarang untuk mengatur hal yang serupa dengan ketentuan yang bertentangan.
11. Bahwa persyaratan yang berlaku dalam menetapkan pailit sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundan Kewajiban Pembayaran Utang tidak didasarkan pada keadaan berhenti membayar atau pun ketidakmampuan untuk membayar hutang-hutangnya akan tetapi hanya (....)
20. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.
Saudara, bisa agak dipersingkat, tapi tetap tidak mengurangi makna substantifnya, pokok-pokoknya saja, silakan.
21. DPR-RI : NURSYAMSI NURLAN, S.H. (KOMISI III DPR-RI) Baik.
Akan tetapi hanya didasarkan pada tidak dibayarnya hutang yang telah terbukti jatuh tempo dan dapat ditagih. Dengan kata lain dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang sepanjang debitur terbukti tidak membayar atau tidak masalah apakah debitur tidak membayar karena tidak mau atau pun tidak mampu atau pun debitur tersebut masih sehat atau telah insolvent maka debitur tersebut dapat menyatakan pailit oleh pengadilan niaga.
12. Bahwa berdasarkan Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menegaskan bahwa debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar lunas sedikitnya atau satu hutang yang telah jatuh tempo waktu dan dapat ditagih dinyatakan pailit dengan keputusan pengadilan baik atas kemauannya sendiri maupun atas permohonan satu atau pun lebih krediturnya.
Ini substansi semua Majelis,
Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang berbunyi sebagai berikut, “dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja atau buruh merupakan hutang yang didahulukan pembayarannya”. Berdasarkan ketentuan pasal di atas posisi pekerja adalah seperti kreditur. Sehingga dengan demikian dalam kasus terjadinya kepailitan maka hak-hak buruh pun sama dengan hak-hak kreditur-kreditur lainnya.
Dengan demikian, pekerja maupun kreditur lainnya mempunyai hak yang sama dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Dengan demikian secara konstitusional hak-hak buruh tidak dirugikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Namun permasalahannya perlu diperjelas posisi pekerja sebagai kreditur dalam kualifikasi, apakah sebagai kreditur preferen dengan privilege atau hak istimewa atau prioritas, kreditur separatis, kreditur yang memiliki jaminan atau kreditur konkueren, kreditur pada umumnya. Adanya hak-hak yang diistimewakan tersebut pada dasarnya sesuai dengan sifat piutang sebagaimana yang telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Pasal 1131 KUHPerdata mengatakan bahwa “segala kebendaan si berutang/kreditur baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada diketahui di kemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan”. Bunyi pasal tersebut menurut Prof. R. Subekti, S.H. dalam bukunya yang berjudul, “Jaminan-jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia”, berarti bahwa semua kekayaan seseorang dijadikan jaminan untuk semua kewajibannya yaitu semua hutangnya. Inilah yang oleh hukum Jerman dikatakan haftung. Kalau seseorang mempunyai suatu hutang maka jaminannya adalah semua kekayaannya. Kekayaan ini dapat disita dan dilelang dan dari hasil lelang itu dapat diambil suatu jumlah untuk membayar hutangnya kepada kreditur.
Nanti kami anggap saja apa yang kami baca ini satu kesatuan apa yang kami serahkan, kami sampai kepada petitum. Bahwa berdasarkan pada dalil-dalil tersebut di atas DPR-RI memohon kiranya Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi memberikan amar putusan sebagai berikut:
1. Menyatakan Pemohon a quo tidak memiliki kedudukan hukum atau legal standing, sehingga permohonan a quo harus dinyatakan tidak dapat diterima atau NO.
2. Menolak permohonan a quo untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan permohonan a quo tidak dapat diterima.
3. Menyatakan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
4. Menyatakan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tetap memiliki kekuatan hukum mengikat.
Apabila Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, kami mohon putusan yang seadil-adilnya et a quo et bono.
bahan pertimbangan bagi Hakim Mahkamah Konstitusi untuk mengambil keputusan.
Sekian, wassalam’alaikum wr. wb.
22. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.
Terima kasih Saudara dari DPR yang mewakili Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bagian dari lembaga legislatif berdasar Undang-Undang Dasar. Berikutnya kita akan mendengarkan ahli. Yang hadir saat ini adalah Bapak Dr. Rizal Ramli dan Dr. Surya Candra, betul? Bapak Dr. Rizal Ramli ini hadir sebagai ahli Pak, bukan sebagai Komite Indonesia Bangkit, juga bukan sebagai kolega kita, kolega saya dulu di kabinet, jadi Bapak sebagai ahli di sini. Kemudian Bapak Surya Candra juga sebagai ahli. Sesuai dengan ketentuan undang-undang, Bapak berdua akan disumpah dulu, untuk itu dipersilakan mengambil tempat dan rohaniwan dipersilakan juga mempersiapkan diri. Dua-duanya beragama Islam? 23. KUASA HUKUM PEMOHON: Dr. A. MUHAMMAD ASRUN, S.H.,
M.H.
Satu Islam, satu Kristen, Katolik ya. 24. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.,
Baik, yang Islam dulu yang akan disumpah oleh Hakim Dr. Arsyad Sanusi.
25. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SYANUSI, S.H., M.Hum. Saudara Saksi ahli, ikuti lafal sumpah yang saya ucapkan,
Bismillahirrahmaanirrahim,
Demi Allah, saya bersumpah, sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.
26. AHLI DARI PEMOHON : Dr. RIZAL RAMLI
Demi Allah, saya bersumpah, sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.
27. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.,
Saudara Surya Candra, silakan maju, Saudara beragama Kristen protestan atau Katolik? Ibu Maria, silakan Ibu Maria.
28. HAKIM KONSTITUSI : Prof. Dr. MARIA FARIDA INDRIATI, S.H., M.H.
Ya, ikuti lafal saya.
Saya berjanji, sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya, semoga Tuhan menolong saya.
29. AHLI DARI PEMOHON : Dr. SURYA CANDRA, S.H., LL.M., Ph.D Saya berjanji, sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya, semoga Tuhan menolong saya.
30. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.,
Baik, persyaratan undang-undang bahwa Saudara ahli harus disumpah sudah selesai. Selanjutnya Pemohon, apakah Saudara akan membimbing keterangan ini dengan pertanyaan-pertanyaan atau mempersilakan secara bebas kepada ahli untuk menyampaikan pandangan-pandangan secara umum terhadap substansi permohonan ini?
31. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN, S.H., M.H.
Kami telah mempersiapkan beberapa pertanyaan, mungkin nanti berkembang dengan pendapat pribadi, dipersilakan saja begitu.
32. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.,
Baik, Saksi Dr. Rizal Ramli bisa ke mimbar kalau mau.
33. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI. MUHAMMAD ASRUN, S.H., M.H.
Saudara Ahli, pertama-tama konfirmasi atau pendapat setuju atau tidak terhadap pendapat yang kami utarakan.
Saudara Ahli, Majelis Hakim yang terhormat, bahwa Undang-Undang Kepailitan ini adalah keberlanjutan dari Perppu Nomor 1 Tahun 1998 yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 yang merupakan satu mata rantai dari perjanjian IMF dengan pemerintah Indonesia. Jadi ruhnya di sana itu, jadi paketnya adalah katakanlah kerja atau perjanjian dengan IMF. Dimana bahwa pada saat itu dirasakan perlu satu perubahan hukum acara untuk menyatakan pailit atau tidak pailit seseorang di muka pengadilan. Karena itu dinyatakan
hukum acaranya adalah hukum acara sederhana. Jadi lahirnya Undang-Undang Kepailitan ini terkait dengan krisis ekonomi yaitu keinginan dari pemodal asing agar modal mereka terlindungi dalam transaksi bisnis di Indonesia. Karena itu yang dimintakan adalah bagaimana memudahkan proses pailit sehingga modal asing ini atau modal asing yang ikut di dalam perusahaan patungan di Indonesia menjadi terlindungi, itu intinya. Jadi ini yang konfirmasi pertama kami mintakan, oleh karena latar belakangnya adalah melindungi kepentingan pemodal, maka kepentingan buruh itu yang merupakan adalah aset produksi, maka tidak didahulukan atau tidak disamakan kepentingan dengan kreditur separatis. Sebagai seorang ahli ekonomi politik, pertama-tama saya minta pendapat Anda tentang persoalan yang kami kemukakan?
Kami persilakan.
34. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H. Silakan Ahli!
35. AHLI DARI PEMOHON : Dr. RIZAL RAMLI Terima kasih, Pak Ketua.
Namun sebelumnya kami ingin mengucapkan selamat kepada Pak Ketua dan Pak Wakil Ketua dan Anggota Majelis Konstitusi yang baru. Mudah-mudahan pimpinan dan anggota Mahkamah Konstitusi ini betul-betul merupakan bagian dan upaya untuk Indonesia lebih baik.
Nah, kami sebetulnya terus terang tadi waktu mendengarkan keterangan dari wakil Pemerintah dan DPR. Yang Mulia, kami agak prihatin, karena kok saya—mohon maaf DPR, Pemerintah lebih banyak hanya membela kepentingan pemilik modal ketimbang untuk adil untuk semua pihak. Jadi kami ingin menjelaskan di dalam kesempatan yang pendek ini apa sebetulnya latar belakang daripada Undang-Undang Kepailitan. Seperti Bapak Ibu ketahui kita mengalami krisis moneter dan ekonomi pada akhir 1997 dan pada awal tahun 1998 Pemerintah Indonesia menandatangani sejumlah agreement di bawah tekanan dari dunia internasional dan IMF apa yang disebut sebagai letter of intent
yang ditandatangani oleh Camdessu, managing director IMF pada waktu itu berlipat tangan di depan mantan Presiden Soeharto.
Nah, banyak sekali daripada letter of intent itu lebih dari seratus poin lebih itu yang justru pada saat Indonesia sedang kesulitan, sedang kepepet, dipaksakan pikiran-pikiran aliran berpikir new liberal di dalam ekonomi Indonesia sekaligus terutama tujuannya untuk memberikan pengamanan terhadap kepentingan modal-modal asing. Padahal modal asing itu dilindungi secara ganda dan multiple di dalam berbagai kasus. Nanti saya ada paper sepuluh tahun krisis evaluasi tentang apa yang terjadi pada waktu krisis itu sebagaimana banyak policy dan kebijakan yang tidak memihak kepada kepentingan nasional kita. Paper itu
dipublikasikan di jurnal ilmiah di luar negeri dan mudah-mudahan bisa jadi referensi untuk Yang Mulia, untuk melihat latar belakang berbagai macam undang-undang dan ekonomi pada saat krisis tersebut. Ada dua hal penting:
1. kalau di media massa dikatakan IMF memberikan pinjaman atau bantuan kepada RI senilai lebih dari 20 miliar Dollar itu adalah pinjaman, bukan bantuan.
2. Segera setelah penandatanganan pinjaman tersebut, Pemerintah Indonesia dan dibujuk untuk menandatangani apa yang disebut sebagai
Frankfurt agreement yaitu seluruh kewajiban BUMN Indonesia maupun perusahan-perusahaan swasta Indonesia di bank asing harus segera diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, dicicil dan dibayar. Jadi dalam bahasa sederhana Yang Mulia, agreement itu bagaikan terima uang dari kantong kiri kalau bentuk pinjaman IMF, begitu itu selesai kita tandatangani di kantong kanan untuk segera membayar kewajiban kepada bank-bank asing. Sebetulnya bank-bank asing atau perusahaan-perusahaan asing yang melakukan investasi di Indonesia sebelum mereka melakukan investasi atau memberikan pinjaman mereka telah terlebih dahulu melakukan studi, melakukan due dilligence, memahami resikonya bahkan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi resiko termasuk untuk membayar asuransi. Adalah tidak wajar dan tidak masuk akal begitu terjadi sesuatu, Indonesia diwajibkan untuk mengambil alih utang-utang yang dibuat pada waktu itu secara voluntary. Artinya kalau mereka bersedia mengambil untung harusnya mereka juga bersedia mengambil resiko jika terjadi kerugian. Tetapi karena sistem keuangan internasional yang memang tidak adil justru RI dan secara tidak langsung rakyat Indonesia harus mengambil alih hutang-hutang tersebut dan terlebih dahulu memenuhi kewajibannya kepada bank-bank asing. Sebetulnya pinjaman IMF itu tidak lain dan tidak bukan upaya untuk menyelamatkan bank-bank asing. Apa yang di dalam literatur ekonomi dikenal sebagai moral hazard.
3. Kemudian Undang-Undang Kepailitan. Pada waktu itu tentu di bawah tekanan dan di bawah persetujuan beberapa pejabat Indonesia yang bahasa aktivisnya merupakan antek dari dunia internasional menandatangani berbagai undang-undang yang lebih mengutamakan kepentingan pihak asing daripada pihak nasional maupun pihak Indonesia.
Sebetulnya setelah sepuluh tahun krisis ekonomi Indonesia relatif sudah normal, perusahaan-perusahaan asing bahkan dibayar duluan dan kerugiannya sangat sedikit daripada krisis ekonomi karena Pemerintah mengambil alih kewajibannya kepada kreditur-kreditur asing dan usaha besar juga sudah jauh lebih baik, tetapi undang-undang yang dibuat di dalam kondisi yang relatif tidak normal tersebut sangat masih disayangkan masih berlanjut. Pada Undang-Undang tentang Kepailitan itu kreditur dibagi dalam beberapa kelompok. Satu apa yang disebut kreditur separatis, saya juga Yang Mulia kaget mendengar separatis ini,