• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Matriks EFAS

Berdasarkan matriks EFAS, factor-faktor eksternal bisnis elpiji, adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1. Matriks EFAS

Faktor-Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor

PELUANG - Pasar yang tumbuh cukup besar 0.1611 3.5 0.6

- Kenaikan harga di masa depan 0.1185 2.5 0.3 - Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke

masyarakat

0.1517 3.5 0.5

- Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas Elpiji 0.0758 3.1 0.2 - subsidi langsung dari pemerintah 0.0427 1.5 0.1

ANCAMAN - Minyak tanah sebagai barang subtitusi bersubsidi 0.1422 3.1 0.4

- bahan baku yang diimpor 0.0521 2.1 0.1 - Pemulihan ekonomi dalam negeri 0.0995 1.5 0.2 - Harga produk Elpiji yang berada di bawah harga pasar

internasional

(2)

- Apresiasi nilai dolar atas impor gas Elpiji 0.0853 2.2 0.2

TOTAL 1 2.70

Bobot dan rating pada matriks di atas ditentukan berdasarkan pada isian kuesioner. Dari matriks diperoleh total skor = 2.70 yang menunjukkan bahwa perusahaan sudah mempunyai strategi yang baik dalam mengantisipasi ancaman eksternal yang ada.

4.1.1. Peluang Kunci Eksternal Perusahaan

Kebutuhan Gas Elpiji di pasar nasional yang semakin meningkat merupakan salah satu peluang bagi Pertamina untuk memperluas pasar Gas Elpiji di dalam negeri. Selain itu, upaya pemerintah untuk mengurangi subsidi sekaligus menyamakan harga Gas Elpiji hingga setara dengan harga internasional, dapat dinilai sebagai salah satu faktor yang memberikan sisi positif lain bagi perkembangan pasar Gas Elpiji di Indonesia. Faktor terakhir yang dapat digolongkan menjadi peluang kunci Pertamina adalah kebijakan pemerintah yang mendukung upaya konversi pemakaian MinyakTanah menjadi Gas Elpiji.

4.1.2. Ancaman Kunci Eksternal Perusahaan

Kelangkaan bahan baku gas alam merupakan ancaman bagi Pertamina di masa depan. Jika Pertamina dan pemerintah tidak dapat mengatasi hal ini, dapat dipastikan jika program konversi minyak tanah menjadi Gas Elpiji tidak akan berjalan mulus. Apalagi seperti diketahui bahwa minyak tanah pun merupakan bahan bakar yang

(3)

mendapat subsidi dari pemerintah. Pemulihan ekonomi yang berjalan lambat dan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar merupakan ancaman lain yang harus dipertimbangkan oleh Pertamina.

4.1.3. Analisis Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFAS)

Nilai skor tertinggi pada matriks EFAS adalah 4.0 dan nilai terendah adalah 1. Pertamina memperoleh skor 2.70 pada matriks EFAS. Hal ini menunjukkan bahwa secara eksternal perusahaan ini memiliki peluang dan ancaman yang tidak begitu besar.

4.1.3.1. Analisis Bobot dan Rating

Metode analisis untuk model ini adalah dengan memilah-milah faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman Pertamina sebagai sebuah perusahaan.

4.1.3.2. Analisis Peluang dan Ancaman

Dari hasil kuesioner yang disebarkan oleh pewawancara dan direspon balik oleh responden, maka penulis telah berhasil memetakan beberapa peluang dan ancaman yang secara sadar dimiliki oleh perusahaan.

Peluang:

1. Pasar yang tumbuh besar.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir kenaikan kebutuhan Gas Elpiji setiap tahun bertambah. Permintaan pasar yang terus meningkat di tingkat

(4)

pasar regional menyebabkan peluang yang sangat besar bagi Pertamina untuk memasuki pasar regional. Pertamina membutuhkan impor Gas Elpiji sebesar 3-3,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan Gas Elpiji pada tahun 2009. impor dilakukan karena produksi kilang dalam negeri tidak mencukupi program konversi minyak tanah ke Gas Elpiji. Memperhatikan tingkat kebutuhan yang besar tersebut, maka konversi minyak tanah ke Gas Elpiji tidak bisa dilakukan sekaligus. Pemerintah telah menetapkan konversi dilakukan secara bertahap mulai tahun 2007 sampai 2012. Pertamina memperkirakan konversi bisa dicapai lebih cepat sehingga pada tahun 2009 target 5,71 ton bisa dicapai.

2. Kenaikan harga di masa depan.

Pertamina akan menaikkan harga Elpiji bagi konsumen rumah tangga. Kenaikan tersebut guna memperkecil kerugian pengadaan Gas Elpiji. Kenaikan ini agar harga Gas Elpiji sesuai harga keekonomian. Komsumsi Gas Elpiji nasional diperkirakan mencapai 1,08 juta metrik ton yang terdiri dari 85 persen konsumen rumah tangga dan 15 persen industri. Volume tersebut diperoleh dari produksi Pertamina 82 persen, kerjasama produksi bagi hasil 15-16 persen dan impor 3 persen. Diperkirakan dalam 3-5 tahun kedepan, konsumsi Gas Elpiji nasional bisa mencapai 2,5-3 juta pertahun. Sebagai gambaran, harga Gas Elpiji dipasar spot mencapai 750 dollar sampai 800 dollar AS per ton, sedangkan harga jual Gas Elpiji di dalam negeri Rp 4.250 per kilogram. Sedangkan harga keekonomian Rp 7.000 – Rp 8.000 per kg. Dengan demikian, Pertamina harus menanggung selisih harga Rp 3.000 – Rp

(5)

4.000 per kg, dikalikan volume penjualan sehingga semakin besar volume penjualan Gas Elpiji, maka semakin besar pula kerugian yang ditanggung Pertamina.

3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok Gas Elpiji ke masyarakat. Untuk menekan biaya investasi tangki timbun, Pertamina akan menggandeng pihak swasta untuk ikut membangun depo-depo Gas Elpiji guna memasok ke masyarakat. Dengan begitu, Pertamina tidak perlu mengeluarkan dana untuk investasi. Kompensasinya, swasta akan diberi jaminan pemakaian depo untuk pasokan Gas Elpiji. Satu depo diharapkan mampu menampung 600.000 ton Gas Elpiji per tahun. Selain kemitraan, perlu dilakukan penambahan penyalur Gas Elpiji. Tambahan penyalur Gas Elpiji antara lain dengan mengonversi agen minyak tanah, pangkalan minyak tanah, dan pengecer minyak tanah. Direktur Niaga dan Pengelolaan BBM Direktorat Jenderal Migas Er Soedarmo mengatakan pemerintah sudah menyiapkan tata niaga Gas Elpiji yang di subsidi. Distribusi dan penyediaan Gas Elpiji akan diatur melalui dua peraturan Presiden yaitu PP tentang penetapan harga jual Gas Elpiji tabung 3 kilogram dan penyediaan serta pendistribusian Gas Elpiji tabung 3 kilogram. Nantinya distribusi Gas Elpiji bersubsidi akan dilakukan melalui Skema kewajiban Publik (public service obligation/PSO). Dalam skema PSO ini penyediaan Gas Elpiji bersubsidi akan terbuka untuk semua badan usaha yang mampu, bukan hanya Pertamina

(6)

4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan Gas Elpiji.

Program konversi minyak tanah ke Gas Elpiji akan dilakukan. Pemerintah dengan membuat proyek percontohan diwilayah DKI Jakarta. Dalam hal ini, Pertamina akan membentuk tim khusus untuk mengawasi pelaksanaan konversi minyak tanah ke Gas Elpiji. Pemerintah mengharapkan adanya kesediaan dari masyarakat untuk barter kompor minyak tanah dengan kompor gas. Pelaksanaan konversi akan mempertimbangkan kedekatan dengan sumber bahan baku Gas Elpiji dan kemampuan fasilitas tangki timbun Gas Elpiji yang tersedia. Kota-kota itu adalah Medan, Batam, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bandar lampung, Jakarta, Cilegon, Bandung, Semarang, Yogjakarta, Surabaya, Denpasar, Ampenan, Balikpapan, Banjarmasin, dan Makassar.

5. subsidi langsung dari pemerintah.

Jika dilakukan perhitungan kasar, maka satu kilogram Gas Elpiji akan setara dengan dua liter minyak tanah harga minyak tanah subsidi Rp 2.000 atau setara dengan 2 kali Rp. 2.000, atau sama dengan Rp 4.000. Di lain hal, harga keekonomian Gas Elpiji Rp 7.000 – 8.000 per kilogram dengan subsidi langsung dari pemerintah sebesar Rp 3.000 – 4.000 per kilogram Gas Elpiji. Jika dibandingkan dengan harga minyak tanah subsidi yang nilainya sebesar Rp 2.000 dan harga keekonomian minyak tanah Rp 6.000, maka subsidi pemerintah untuk minyak tanah akan mencapai Rp 4.000 per liter minyak tanah. Jumlah minyak tanah yang dikonversi sebanyak 1,12 juta kiloliter

(7)

dengan 645.000 ton Gas Elpiji. Program konversi itu ditargetkan selesai pada tahun 2010 sehingga nantinya total jumlah minyak tanah yang dikonversi sebanyak 10 juta kiloliter dan digantikan dengan 5,71 juta ton Gas Elpiji. Dalam kaitan ini, opsi yang diberikan Pertamina ke Pemerintah adalah menaikan harga Gas Elpiji atau memberi subsidi langsung ke Pertamina. Pertamina juga berharap subsidi lansung dari pemerintah yang selama ini diberikan kepada pengguna minyak tanah bisa dialihkan kepelanggan Gas Elpiji.

Ancaman:

1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi.

Pertimbangan Pertamina dalam program ini adalah jika di suatu wilayah yang menjadi target konversi masih ada yang menggunakan minyak tanah bersubsidi dan tetap tidak mau beralih ke Gas Elpiji, maka pasokan minyak tanah pada wilayah itu pun akan dihentikan secara langsung. Sehingga nantinya, minyak tanah dijual dalam kemasan dengan harga non-subsidi bagi masyarakat yang masih membutuhkan. Pemerintah juga mengkhawatirkan kemungkinan tidak berkurangnya pemakaian minyak tanah dengan adanya kebijakan kenaikan harga Gas Elpiji yang rencananya akan dilakukan secara bertahap. Jika ternyata banyak masyarakat yang tetap enggan menggunakan kompor gas, maka pihak Pertamina mempertimbangkan untuk langsung menghentikan distribusi minyak tanah bersubsidi di wilayah-wilayah yang menjadi target konversi.

(8)

2. Langkanya pasokan bahan baku.

Pertamina membutuhkan impor Gas Elpiji sebesar 3-3,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan Gas Elpiji pada tahun 2009. Impor dilakukan karena produksi kilang dalam negeri tidak mencukupi program konversi minyak tanah ke Gas Elpiji. Perkiraan tambahan kebutuhan Gas Elpiji dalam negeri sebagai akibat rencana peralihan minyak tanah sebesar 10 juta kiloliter sekitar 5,7 ton. Apabila ditambah dengan komsumsi Gas Elpiji saat ini, total kebutuhan mencapai 6,8 juta ton. Kemampuan produksi kilang Gas Elpiji dalam negeri hanya sekitar 3 juta ton sehingga 50 persen dari kebutuhan 6,8 juta ton itu atau sekitar 3-3.4 juta ton harus tetap diimpor.

3. Pemulihan ekonomi dalam negeri.

Membaiknya kondisi ekonomi masyarakat juga mendorong peningkatan jumlah pemakai Gas Elpiji meski situasi pemulihan ekonomi saat ini yang masih dipenuhi ketidakpastian. Harga gas dipasaran dunia diproyeksikan akan lebih tinggi di masa mendatang oleh karena naiknya permintaan akan energi. Sementara itu, produsen gas akan berusaha mempertahankan produksinya pada tingkat yang sama. Merjer dan konsolidasi antar perusahaan minyak dan gas dunia masih akan berlanjut di masa depan dalam rangka peningkatan skala ekonomi yang pada akhirnya mencapai efisiensi biaya.

4. Harga produk yang berada dibawah harga pasar internasional. Harga jual Gas Elpiji nasional saat ini dapat dikatakan masih sangat murah jika dibandingkan

(9)

dengan harga jual di pasar internasional. Harga Gas Elpiji di pasar internasional mencapai 750 dolar sampai 800 dolar AS per ton, atau sekitar Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram. Hal ini sangat bertolak belakang dengan harga Gas Elpiji di pasar nasional yang hanya Rp 4.250 per kilogram.

5. Apresiasi nilai dolar atas impor Gas Elpiji.

Langkanya pasokan bahan baku gas secara langsung telah memaksa Pertamina untuk mengimpor impor Gas Elpiji sebesar 3-3,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan Gas Elpiji pada tahun 2009. Seiring dengan kondisi pemulihan ekonomi nasional yang tidak kunjung membaik dan begitu lemahnya nilai rupiah terhadap dolas AS, tentu saja akan semakin memberatkan posisi keuangan Pertamina jika harus terus-menerus melakukan impor atas bahan baku gas. Apresiasi atau ketidakstabilan nilai dolar terhadap rupiah merupakan ancaman yang secara tidak langsung akan memberatkan Pertamina di masa depan.

4.2. Matriks IFAS

Kondisi factor-faktor internal perusahaan garmen dilihat dari aspek kekuatan dan kelemahannya, yakni sebagai berikut:

(10)

Tabel 4.2. Matriks IFAS

Faktor-Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor

KEKUATAN - Pertumbuhan penjualan yang meningkat 0.1381 3.7 0.5

- Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi 0.1172 3.5 0.4

- Kinerja Keuangan Baik 0.0418 2.5 0.1

- Pemasaran perusahaan cukup optimal 0.0837 2.8 0.2 - Integrasi vertical yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas

Elpiji

0.0753 1.5 0.1

KELEMAHAN - Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas Elpiji 0.1548 3.8 0.6

- Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal 0.0795 3.0 0.2 - kapasitas tangki timbun gas Elpiji Nasional 0.0502 1.5 0.1 - Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan Elpiji 0.1172 2.5 0.3 - Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga gas Elpiji 0.1423 3.5 0.5

TOTAL 1 3.10

Bobot dan rating pada matriks di atas ditentukan berdasarkan pada isian kuesioner. Dari matriks diperoleh total skor = 3.10 yang menunjukkan bahwa perusahaan sudah mempunyai strategi yang baik dalam mengantisipasi ancaman internal yang ada.

4.2.1. Kekuatan Kunci Internal Perusahaan

Sebagai salah satu perusahaan nasional yang mengeksplorasi gas alam dan bahan tambang, maka saat ini Pertamina merupakan satu-satunya perusahaan yang dapat memproduksi dan menyediakan Gas Elpiji bagi masyarakat di Indonesia.

(11)

Melalui keunggulan mutlaknya ini, paling tidak terdapat tiga kekuatan kunci internal yang dimiliki oleh Pertamina. Pertama, model bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir, dimana hal ini memungkinkan bagi Pertamina untuk memiliki kapasitas dan kapabilitas yang dapat mengeksplorasi dan mengeksploitasi gas alam dan bahan tambang di bumi nusantara. Selain itu, jika membandingkan kualitas antara Gas Elpiji dan Minyak Tanah sebagai barang substitusi, sudah dapat dipastikan bahwa pemakaian Gas Elpiji sebagai bahan bakar akan lebih efisien dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan minyak tanah. Terakhir, upaya Pertamina untuk menggalakkan penggunaan Gas Elpiji dikalangan masyarakat umum, telah mendapat dukungan penuh dari Pemerintah pihak-pihak terkait yang menjalin hubungan kerjasama dengan Pertamina.

4.2.2 Kelemahan Kunci Internal Perusahaan

Kelemahan kunci internal perusahaan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu harga pasar, kemampuan teknis, dan jaringan distribusi. Dari sisi harga pasar, dapat diketahui bahwa harga Gas Elpiji yang berlaku saat ini sudah berada jauh dibawah harga Gas Elpiji internasional. Hal ini jelas menimbulkan masalah tersendiri bagi penerimaan pendapatan penjualan Gas Elpiji Pertamina. Kedua, dari sisi kemampuan teknis dapat terlihat masih banyaknya kendala yang secara prioritas harus segera dibereskan. Kapasitas tangki timbun yang belum dapat memenuhi pasokan produksi Gas Elpiji serta gangguan teknis yang kerap terjadi pada saat proses produksi merupakan salah satu yang perlu diperbaiki. Masalah lain yang

(12)

menjadi kelemahan Pertamina sebagai penyedia bahan bakar Gas Elpiji adalah lemahnya jaringan distribusi Gas Elpiji jika dipetakan secara nasional. Hal ini mengakibatkan langkanya pasokan Gas Elpiji pada daerah-daerah tertentu di Indonesia.

4.2.3. Analisis Matriks Internal Factor Evaluation (IFAS)

Nilai skor tertinggi pada matriks Internal Factor Evaluation (IFAS) adalah 4,0 dan nilai terendah adalah 1. Pada matriks ini, Pertamina memperoleh skor 3,10 dari 4,0 sebagai skor tertinggi. Hal yang dapat diinterpretasikan dari nilai ini bahwa secara internal perusahaan, Pertamina dapat digolongkan sebagai perusahaan nasional yang cukup kuat.

4.2.3.1. Analisis Bobot dan Rating

Metode analisis untuk model ini adalah dengan memilah-milah faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan Pertamina sebagai sebuah perusahaan.

4.2.3.2. Analisis Kekuatan dan Kelemahan

Dari hasil kuesioner yang disebarkan oleh pewawancara dan direspon balik oleh responden, maka penulis telah berhasil memetakan beberapa kekuatan dan kelemahan yang secara sadar dimiliki oleh perusahaan.

(13)

1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat. Sebagai satu-satunya pemain dalam industri Gas Elpiji maka Pertamina memiliki kekuatan untuk meraih pasar nasional yang belum terjangkau selama ini. Dengan dukungan dari pemerintah yang berkeinginan untuk mengkonversi minyak tanah ke Gas Elpiji pada 17 kota di Pulau Jawa dan luar Jawa, maka hal ini semakin memastikan kenaikan penjualan Gas Elpiji pada masa yang akan datang. Perkiraan ini cukup sesuai dengan bobot 0.15 dan rating 3.7 yang diberikan oleh para responden yang ada.

2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi. Materi bahan baku Gas Elpiji yang berbeda dengan Minyak Tanah sebagai produk substitusi telah menempatkan Gas Elpiji sebagai satu-satunya sumber bahan bakar yang ramah lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari hasil residu pembakaran kompor minyak tanah dan kompor gas yang selama ini terjadi di masyarakat. Komponen ini berhasil membawa rating pada titik 3.5 dengan bobot 0.11 dari hasil kuesioner yang didapatkan.

3. Kinerja keuangan yang baik. Jika dilihat dari sisi keuangan, Pertamina bukanlah perusahaan yang berdiri dalam satu atau dua tahun silam. Pengalaman Pertamina dalam hal eksplorasi dan eksploitasi minyak mentah dan bahan tambang telah membuktikan kemandirian dan ketangguhan Pertamina dalam hal keuangan. Hanya saja dengan adanya perbedaan antara harga Gas Elpiji di pasar nasional dan internasional, hal ini telah berimplikasi

(14)

pada kinerja keungan penjualan Gas Elpiji yang kurang memuaskan. Tampak bahwa responden memberikan bobot 0.04 dan rating 2.5 pada faktor ini. Namun dengan seiring rencana kenaikan harga secara bertahap hingga menyamai harga Gas Elpiji internasional, maka komponen ini dapat dipastikan akan semakin membaik.

4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal. Salah satu upaya untuk memperluas pasar pengguna Gas Elpiji adalah dengan melakukan konversi pemakai Minyak Tanah menjadi pemakai Gas Elpiji. Usaha perluasan pemasaran ini telah dilakukan sebelumnya dengan membentuk tim khusus yang akan mengawasia pelaksanaan konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji. Salah satu cara Pertamina adalah dengan melalui program pertukaran/barter kompor minyak tanah dengan kompor gas.

5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku Gas Elpiji. Sebagai salah satu perusahaan tambang nasional, Pertamina memiliki akses untuk mengksplorasi dan mengksploitasi gas alam sebagai bahan baku Gas Elpiji. Meski demikian, dengan adanya keterbatasan kapasitas dan kapabilitas kilang pengolahan gas alam, secara tidak langsung berdampak pada tersendatnya pasokan bahan baku ke kilang pengolahan Gas Elpiji. Meski tidak besar, faktor ini adalah faktor yang dapat memberikan kekuatan bagi kesinambungan proses penyediaan Gas Elpiji di masa depan. Responden memberikan bobot 0.08 dengan rating 1.5 untuk faktor ini.

(15)

Kelemahan:

1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku Gas Elpiji. Akibat dari keterbatasan kapasitas dan kapabilitas kilang pengolahan gas alam, maka untuk sementara pasokan bahan baku Gas Elpiji tidak dapat seluruhnya dipenuhi dari hasil eksplorasi dan eksploitasi gas dalam negeri. Untuk itu, maka Pertamina pun harus mengimpor Gas Elpiji untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Paling tidak, Pertamina membutuhkan tambahan impor Gas Elpiji sebesar 3 – 3,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan Gas Elpiji pada tahun 2009. Dalam hal ini, sebagai responden setuju dan memberikan bobot 0.16 dengan rating 3.8 untuk faktor ini.

2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal. Tata letak kota di Indonesia yang secara geografis dihubungkan oleh selat dan laut telah mengakibatkan masalah kritis dalan hal usaha distribusi Gas Elpiji secara nasional. Adanya daerah-daerah kecil yang letaknya jauh dari perkotaan serta kebutuhan Gas Elpiji yang berbeda pada setiap kota semakin melemahkan posisi Pertamina pada faktor ini.

3. Kapasitas tangki timbun Gas Elpiji nasional. Lokasi dan kapasitas tangki timbun yang berbeda-beda di setiap kota telah menghambat proses konversi minyak tanah menjadi Gas Elpiji secara tidak langsung. Untuk itu, saat ini pun Pertamina sedang mengarahkan usahanya untuk meningkatkan kemampuan

(16)

kapasitas timbun dari 15.960 LSP (Liter Setara Premium) menjadi 22.600 LSP atau naik 42 persen dari kapasitas semula.

4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan Gas Elpiji. Kelemahan yang dihadapi Pertamina saat ini diantaranya adalah sering terjadinya gangguan di kilang pengolahan Gas Elpiji. Akibatnya, produksi Gas Elpiji menurun sehingga pasokan Gas Elpiji ke konsumen pun tersendat. Pada akhirnya, terjadilah kelangkaan Gas Elpiji di masyarakat.

5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga gas Elpiji

Upaya internal agar pihak manajemen tumbuh dan berkembang ditengah situasi yang sebagian tidak mudah diprediksi, dimana kapabitas manajemen dalam siap bersanding (bekerjasama, aliansi strategis dengan karakteristik bisnis apapun) dan siap bertanding (bersaing dalam memperoleh berbagai benefit perusahaan) dalam menentukan harga gas Elpiji.

4.3. Matriks IE (Internal-Eksternal)

Dengan menggunakan hasil evaluasi dari matriks EFAS dan IFAS, maka didapatkan Skor Bobot Total untuk matriks IFAS sebesar 3.10 pada sumbu horisontal dan matriks EFAS sebesar 2.70 pada sumbu vertikal. Koordinat ini berada pada kuadran II dimana perusahaan sebaiknya menerapkan strategi Growth (Konsentrasi

(17)

Pertumbuhan dan Perkembangan Pasar dimana melalui strategi integrasi horizontal maka Pertamina dianjurkan untuk memperluas jaringan distribusi gas Elpiji yang saat ini wilayah cakupannya masih terbatas.

Strategi utama yang diterapkan oleh Pertamina adalah Horizontal Integration Strategy, yaitu usaha peningkatan pengawasan terhadap situasi persaingan yang semakin ketat. Melalui strategi ini, maka perusahaan dapat melakukan integrasi secara horizontal dengan membeli/mengakusisi perusahaan-perusahaan sejenis. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan kepemilikan dan/atau meningkatkan pengendalian atas para pesaing.

Strategi pendukung adalah dengan mempercepat proses pengembangan dan intensifikasi eksplorasi gas di kawasan captive market Pertamina dengan membangun infra struktur (pipa) guna memperluas pasar gas dan meningkatkan pangsa pasar gas Pertamina dengan membeli gas dari KPS dan menyempurnakan pola kemitraan dalam penjualan dan pemasaran produk Elpiji.

Strategi pendukung lain adalah dengan perluasan usaha Pertamina yang industrinya masih berhubungan satu sama lain atau satu jenis utama, seperti memperluas kegiatan-kegiatan perusahaan ke dalam lokasi geografis yang berbeda dengan mendirikan anak cabang atau pabrik di dalam dan luar negeri serta menambah rentang produk yang ditawarkan kepada pasar melalui diversifikasi produk.

(18)

Formula perhitungan skor responden untuk masing-masing faktor:

Skor = Bobot x Rating

Formula perhitungan total skor responden untuk masing-masing faktor:

Total Skor = Σ Skor

Strong 3.4-4.0 Average 2.0-2.99 Weak 1.0-1.99 Strong (3-4) GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi vertikal GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi horizontal RETRENCHMENT Turnaround Average (2-3) STABILITY Hati-hati GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi horizontal STABILITY Tak ada perubahan Profit Strategi

RETRENCHMENT Captive Company atau Divestment Low (1-2) GROWTH Difersifikasi Konsentrik GROWTH Difersifikasi Konglomerat RETRENCHMENT Bangkrut atau Likuidasi

(19)

2.90

Strong 3.4-4.0 Average 2.0-2.99 Weak 1.0-1.99 Strong (3-4) GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi vertikal GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi horizontal RETRENCHMENT Turnaround Average (2-3) STABILITY Hati-hati GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi horizontal STABILITY Tak ada perubahan Profit Strategi

RETRENCHMENT Captive Company atau Divestment Low (1-2) GROWTH Difersifikasi Konsentrik GROWTH Difersifikasi Konglomerat RETRENCHMENT Bangkrut atau Likuidasi

Gambar 4.1. Matrix Evaluasi Faktor-faktor Internal

Perhitungan skor responden untuk masing-masing faktor kritis:

A. PELUANG

1. Pasar yang tumbuh cukup besar:

Skor : 0,16 x 3.5 = 0,6

3.10 4.0 3.0 2.0 1.0 3.0 2.70 2.0 1.0

(20)

2. Kenaikan harga di masa depan:

Skor : 0,13 x 2.5 = 0,3

3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke

masyarakat:

Skor : 0,15 x 3.5 = 0,5

4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas elpiji

Skor : 0,08 x 3.1 = 0,2

5. subsidi langsung dari pemerintah:

Skor : 0,04 x 1.5 = 0,1

B. ANCAMAN

1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi:

Skor : 0,14 x 3.1 = 0,4

2. Langkanya pasokan bahan baku:

Skor : 0,05 x 2.1 = 0,1

(21)

3. Pemulihan ekonomi dalam negeri:

Skor : 0,1 x 1.5 = 0,2

4. Harga produk Elpiji yang dibawah harga pasar

internasional:

Skor : 0,07 x 2.1 = 0,1

5. Apresiasi nilai dolar atas impor gas elpiji:

Skor : 0,09 x 2.2 = 0,2

Total skor faktor-faktor strategi eksternal:

0,6 + 0,3 + 0,5 + 0,2 + 0,1 + 0,4 + 0,1 + 0,2 + 0,1 + 0,2 = 2,7

C. KEKUATAN

1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat:

Skor : 0,15 x 3.7 = 0,6

2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi:

Skor : 0,11 x 3.5 = 0,4

(22)

3. Kinerja keuangan yang baik:

Skor : 0,04 x 2.5 = 0,1

4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal:

Skor : 0,08 x 2.8 = 0,2

5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas

elpiji:

Skor : 0,08 x 1.5 = 0,1

D. KELEMAHAN

1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas elpiji:

Skor : 0,16 x 3.8 = 0,6

2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal:

Skor : 0,08 x 3.0 = 0,2

(23)

3. Kapasitas tangki timbun gas elpiji nasional:

Skor : 0,04 x 1.5 = 0,1

4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan elpiji:

Skor : 0,11 x 2.5 = 0,3

5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga Elpiji:

Skor : 0,14 x 3.5 = 0,5

Total skor faktor-faktor strategi internal

0,6+ 0,4 + 0,1 + 0,2 + 0,1 + 0,6 + 0,2 + 0,1 + 0,3 + 0,5 = 3,1

4.4. Matriks SWOT

(24)
(25)

Dengan menggunakan hasil evaluasi dari matriks SWOT, maka didapatkan dua strategi, yaitu strategi Penetrasi Pasar (Market Penetration) dan strategi Pengembangan Pasar (Market Development). Melalui strategi Penetrasi Pasar maka Pertamina seharusnya melakukan strategi peningkatan harga secara bertahap untuk mengurangi potensi kerugian yang semakin besar di masa depan.

Strategi utama dari SWOT yang dapat diterapkan adalah Market Penetration Strategy yang berusaha meningkatkan market share suatu produk atau jasa melalui usaha-usaha pemasaran yang lebih besar. Strategi ini dapat diimplementasikan baik secara sendiri-sendiri atau bersama dengan strategi lain melalui penambahan jumlah tenaga penjual, biaya iklan, alat untuk promosi penjualan, dan/atau usaha-usaha promosi lainnya. Tujuan strategi ini adalah meningkatkan pangsa pasar dengan usaha pemasaran yang maksimal dengan catatan dapat dilakukan jika pasar belum jenuh, pangsa pasar pesaing menurun, adanya korelasi yang positif antara biaya 4P pemasaran dan penjualan serta kemampuan bersaing yang meningkat.

Strategi pendukungnya adalah dengan meningkatan mutu Sumber Daya Manusia, sistem pelayanan dan teknologi informasi untuk peningkatan mutu pelayanan, serta mendorong peningkatan jumlah pemakai, mutu dan pelayanan gas Elpiji di masyarakat secara bertahap.

Sedangkan melalui strategi Pengembangan Pasar, maka Pertamina diharuskan untuk memperluas dan meningkatkan kerjasamanya dengan pihak swasta dalam mendistribusikan Gas Elpiji ke seluruh wilayah nusantara. Dengan kata lain, dalam analisis SWOT ini, Pertamina sebaiknya menggunakan kekuatan untuk

(26)

memanfaatkan peluang (strength + opportunities strategy) yang dapat diraih di masa depan.

Strategi kedua yang dapat diterapkan dari SWOT adalah Market Development Strategy yang bertujuan mengenalkan produk-produk atau jasa yang ada ke daerah-daerah yang secara geografis merupakan daerah-daerah baru. Pada dasarnya, aktivitas ini sudah sering dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dengan skala internasional, namun tentunya perusahaan pun akan mengalami penurunan jika hanya bermain di pasar lokal.

Strategi pendukungnya adalah dengan memperluas, memperkuat dan meningkatkan kandalan jaringan distribusi dan pasokan dalam skala nasional sekaligus meningkatkan kapasitas tangki timbun gas di wilayah-wilayah yang menjadi pusat distribusi Gas Elpiji. Dengan strategi ini maka Pertamina diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasarnya secara nasional.

4.5. Matriks Quantitative Strategies Planning (QSP)

Setelah pemaparan matriks-matriks input stage dan matching stage, berikut akan dipaparkan matriks untuk Decision Stage. Dengan menggunakan hasil evaluasi dari matriks EFAS – IFAS dan matriks SWOT maka didapatkan tiga strategi yang akan dipergunakan. Untuk matriks EFAS – IFAS maka perusahaan sebaiknya menerapkan strategi Growth (Konsentrasi melalui integrasi horizontal) atau Strategi Pertumbuhan. Sedangkan dengan matriks SWOT, maka didapatkan pula strategi

(27)

Penetrasi Pasar (Market Peneration) dan strategi Pengembangan Pasar (Market Development).

Formula perhitungan total skor kemenarikan/ total attractiveness score: Total Attractiveness Score = Weight x Attractiveness Score

Formula perhitungan total skor kemenarikan/ total attractiveness score pada

masing-masing faktor untuk setiap strategi yang dipilih:

(28)
(29)

Perhitungan total skor kemenarikan (TAS) untuk masing-masing faktor kritis pada Strategi Pertumbuhan (Market Growth):

A. PELUANG

1. Pasar yang tumbuh cukup besar: TAS : 0,16 x 4,00 = 0,64

2. Kenaikan harga di masa depan: TAS : 0,12 x 3,00 = 0,36

3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke masyarakat:: TAS : 0,15 x 3,00 = 0,45

4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas elpiji: TAS : 0,08 x 4,00 = 0,3

5. subsidi langsung dari pemerintah: TAS : 0,04 x 2,00 = 0,09

B. ANCAMAN

1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi: TAS : 0,14 x 4,00 = 0,57

(30)

2. Langkanya pasokan bahan baku: TAS : 0,05 x 3,00 = 0,16

3. Langkanya pasokan bahan baku: TAS : 0,1 x 2,00 = 0,20

4. Harga produk Elpiji yang dibawah harga pasar internasional: TAS : 0,07 x 3,00 = 0,21

5. Apresiasi nilai dolar atas impor gas elpiji: TAS : 0,09 x 3,00 = 0,26

C. KEKUATAN

1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat: TAS : 0,14 x 4,00 = 0,55

2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi: TAS : 0,12 x 4,00 = 0,47

3. Kinerja keuangan yang baik: TAS : 0.04x 3,00 = 0.13

(31)

4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal: TAS : 0,8 x 3,00 = 0,25

5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,08 x 2,00 = 0,15

D. KELEMAHAN

1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,15 x 4,00 = 0,62

2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal: TAS : 0,08 x 4,00 = 0,32

3. Kapasitas tangki timbun gas elpiji nasional: TAS : 0,05 x 2,00 = 0,10

4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan elpiji: TAS : 0,12 x 3,00 = 0,35

5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga Elpiji: TAS : 0,14 x 4,00 = 0,57

(32)

Total

Attractiveness Score

Strategi Pertumbuhan ( Market Growth ) =

0,64 + 0,36 + 0,45 + 0,30 + 0,09 +,057 + 0,16 + ,020 + 0,21 + 0,26 +

0,55 + 0,47 + 0,13 + 0,25 + 0,15 + 0,62 + 0,32 + 0,10 + 0,35 + 0,57 =

6,74

Perhitungan total skor kemenarikan (TAS) untuk masing-masing faktor kritis pada Strategi Penetrasi (Market Penetration):

A. PELUANG

1. Pasar yang tumbuh cukup besar: TAS : 0,16 x 3,00 = 0,48

2. Kenaikan harga di masa depan: TAS : 0,12 x 2,00 = 0,24

3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke masyarakat:: TAS : 0,15 x 3,00 = 0,45

4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas elpiji: TAS : 0,08 x 3,00 = 0,23

(33)

5. subsidi langsung dari pemerintah: TAS : 0,04 x 1,10 = 0,04

B. ANCAMAN

1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi: TAS : 0,14 x 3,00 = 0,43

2. Langkanya pasokan bahan baku: TAS : 0,05 x 2,00 = 0,10

3. Pemulihan ekonomi dalam negeri: TAS : 0,10 x 1,00 = 0,10

4. Harga produk Elpiji yang dibawah harga pasar internasional: TAS : 0,7 x 2,00 = 0,14

5. Apresiasi nilai dolar atas impor gas elpiji: TAS : 0,09 x 2,00 = 0,17

C. KEKUATAN

1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat: TAS : 0,14 x 4,00 = 0,55

(34)

2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi: TAS : 0,12 x 3,00 = 0,35

3. Kinerja keuangan yang baik: TAS : 0,04 x 2,00 = 0,08

4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal: TAS : 0,8 x 3,00 = 0,25

5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,08 x 1,00 = 0,08

D. KELEMAHAN

1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,15 x 4,00 = 0,62

2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal: TAS : 0,08 x 3,00 = 0,24

3. Kapasitas tangki timbun gas elpiji nasional: TAS : 0,05 x 1,00 = 0,05

(35)

4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan elpiji: TAS : 0,12 x 2,00 = 0,23

5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga Elpiji: TAS : 0,14x 3,00 = 0,43

Total

Attractiveness Score

Strategi Penetrasi ( Market Penetration )

= 0,48 + 0,24 + 0,45 + 0,23 + 0,04 + 0,43 + 0,10 + 0,10 + 0,14 + 0,17 +

0,55 + 0,35 + 0,08 + 0,25 + 0,08 + 0,62 + 0,24 + 0,05 + 0,23 + 0,43 =

5,27

Perhitungan total skor kemenarikan (TAS) untuk masing-masing faktor kritis pada Strategi Pengembangan Pasar (Market Development):

A. PELUANG

1. Pasar yang tumbuh cukup besar: TAS : 0,16 x 3,00 = 0,48

2. Kenaikan harga di masa depan: TAS : 0,12 x 2,00 = 0,24

(36)

3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke masyarakat: TAS : 0,15 x 2,00 = 0,30

4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas elpiji: TAS : 0,08 x 3,00 = 0,23

5. subsidi langsung dari pemerintah: TAS : 0,04 x 1,10 = 0,04

B. ANCAMAN

1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi: TAS : 0,14 x 3,00 = 0,43

2 Langkanya pasokan bahan baku: TAS : 0,05 x 2,00 = 0,10

3 Pemulihan ekonomi dalam negeri: TAS : 0,10 x 1,00 = 0,10

4 Harga produk Elpiji yang dibawah harga pasar internasional: TAS : 0,7 x 2,00 = 0,14

(37)

5 Apresiasi nilai dolar atas impor gas elpiji: TAS : 0,09 x 2,00 = 0,17

C. KEKUATAN

1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat: TAS : 0,14 x 3,00 = 0,41

2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi: TAS : 0,12 x 3,00 = 0,35

3. Kinerja keuangan yang baik: TAS : 0,04 x 2,00 = 0,08

4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal: TAS : 0,8 x 2,00 = 0,17

5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,08 x 1,00 = 0,08

D. KELEMAHAN

1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,15 x 3,00 = 0,46

(38)

2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal: TAS : 0,08 x 3,00 = 0,24

3. Kapasitas tangki timbun gas elpiji nasional: TAS : 0,05 x 1,00 = 0,05

4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan elpiji: TAS : 0,12 x 2,00 = 0,23

5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga Elpiji: TAS : 0,14x 3,00 = 0,43

Total

Attractiveness Score

Strategi Pengembangan pasar ( Market

Development )

= 0,48 + 0,24 + 0,30 + 0,23 + 0,04 + 0,43 + 0,10 + 0,10 + 0,14 + 0,17 +

0,41 + 0,35 + 0,08 + 0,17 + 0,08 + 0,46 + 0,24 + 0,05 + 0,23 + 0,43 =

4,74

Implementasi Strategi

Melalui matriks Quantitative Strategies Planning(QSP), dapat diketahui bahwa strategi Pertumbuhan (Market Growth), memiliki skor tertinggi, 6.74, jika

(39)

dibandingkan dengan strategi Penetrasi Pasar dan Pengembangan Pasar yang hanya mencapai 5.27 dan 4.74. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh Pertamina dengan strategi Pertumbuhan.

Mempercepat pengembangan Upside Potential gas, intensifikasi eksplorasi gas di kawasan captive market Pertamina, membangun infra struktur (pipa) untuk memperluas pasar gas dan meningkatkan market share gas Pertamina dengan membeli gas dari KPS

Memperluas jaringan distribusi dalam skala nasional sekaligus meningkatkan kapasitas tangki timbun gas di wilayah-wilayah yang menjadi pusat distribusi Gas Elpiji. Dengan strategi ini maka Pertamina diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasarnya secara nasional.

Mengembangkan Penyempurnaan pola kemitraan dalam penjualan dan pemasaran produk gas Elpiji.

Program konversi pemerintah atas minyak tanah menjadi Elpiji, seyogyanya harus didukung dengan pasokan jumlah gas Elpiji yang memadai pula. Kelangkaan gas Elpiji yang kerap terjadi seharusnya dapat diantisipasi dengan tindakan-tindakan pencegahan perbaikan dan pengaturan lalu lintas pengiriman gas Elpiji dari supplier ke distributor. Meski harga gas Elpiji saat ini masih dinilai lebih rendah daripada harga gas Elpiji secara internasional, namun hal tersebut tidak dapat menjadi alasan penurunan kualitas pelayanan atas gas Elpiji ke masyarakat. Dalam hal ini, para penyelenggara Negara, yaitu pemerintah dan Pertamina, harus memperkuat jaringan distribusi Gas Elpiji ke seluruh nusantara melalui pengaturan produksi dan distribusi Elpiji dengan lebih efektif, mulai dari produksi, pengapalan, pengiriman ke kilang

(40)

elpiji, penyimpanan di kilang, pengiriman ke stasiun pengisian bahan bakar dan terakhir pengiriman elpiji ke konsumen akhir/rumahan. Melalui dukungan pemerintah, maka Pertamina dapat bekerjasama dengan pihak swasta, dalam hal para agen dan sub agen Gas Elpiji, yang tersebar diseluruh wilayah nusantara. Untuk meningkatkan pangsa pasar Gas Elpiji dalam jangka waktu yang relatif lebih cepat. Pada lain hal, melalui program konversi kompor minyak tanah menjadi kompor Elpiji, maka secara tidak langsung, Pertamina telah mendapatkan pelanggan baru dari para pemakai kompor minyak tanah. Tujuan utama dari strategi ini adalah mempertahankan dan menambah pangsa pasar dalam jangka panjang.

Gambar

Tabel 4.1. Matriks EFAS
Tabel 4.2. Matriks IFAS
Gambar 4.1. Matrix Evaluasi Faktor-faktor Internal

Referensi

Dokumen terkait

terkait dengan pengajaran yang dilakukan oleh mahasiswa. Evaluasi yang diberikan guru pembimbing lebih kepada cara menghadapi siswa. Dalam melaksanakan praktik mengajar

(1) Pada saat keadaan darurat bencana, Kepala BNPB atau kepala BPBD, sesuai dengan lokasi dan tingkatan bencananya, meminta kepada instansi/lembaga terkait untuk mengirimkan

Dengan demikian maka diterima dan ditolak, sehingga kesimpulannya adalah ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Setelah dilakukan analisis data penelitian variabel UTAUT yang mempengaruhi minat mahasiswa melakukan akses ke dalam sistem informasi Akper Alkautsar dan variabel

Masalah kemudian muncul karena kurangnya koordinasi antara operasi domestic dan luar neger, yang mana terisolasi satu sama lain dalam bagian terpisah dari hierarki structural sehingga

• Detail komponen biaya dari sumberdaya yang dibutuhkan • Terdiri dari item belanja (MAK), volume, satuan, satuan.

Pemerolehan data sekunder diperoleh dari kepustakaan atau buku-buku yang berkaitan dengan keberadaan cendana bukan semata-mata menyangkut sengketa masyarakat dan

dengan mengisi formulir F1 dan F1 A, dengan membawa persyaratan atau dokumen yang harus dilengkapi Selanjutnya berkas tersebut langsung diberikan kepada MO