10 2.1 Audit Internal
Audit internal merupakan suatu rangkaian proses dan teknis dimana karyawan suatu perusahaan mencari kepastian atas keakuratan informasi keuangan dan jalannya operasi sesuai dengan yang ditetapkan. Di samping meningkatkan keandalan informasi dan memastikan dipatuhinya kebijakan manajemen, lingkup pekerjaan audit internal juga meliputi perlindungan terhadap harta perusahaan dan penilaian terhadap apakah penggunaan sumber daya telah dilakukan secara ekonomis dan efisien (Hery, 2010:33).
Audit internal telah berkembang dari sekedar profesi yang hanya memfokuskan diri pada masalah-masalah teknis akuntansi menjadi profesi yang memiliki orientasi memberikan jasa bernilai tambah bagi manajemen. Audit internal terlibat dalam memenuhi kebutuhan manajemen, dan staf audit yang paling efektif meletakkan tujuan manajemen dan organisasi di atas rencana dan aktivitas mereka. Tujuan audit internal disesuaikan dengan tujuan manajemen, sehingga auditor internal itu sendiri berada dalam posisi untuk menghasilkan nilai tertinggi pada hal-hal yang di anggap menajemen paling penting bagi kesuksekan organisasi (Sawyer’s, 2012:31).
2.1.1 Pengertian Audit Internal
Definisi audit internal menurut Institute of Internal Auditors (IIA) dalam (Reding, Sobel, Head, and Salamasick 2013:1-3) adalah:
“An independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic, disclipined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control, and governance processes”.
Pengertian di atas apabila diterjemahkan sama halnya dengan Standar Profesi Audit Internal (2004:9) yaitu :
“Audit Internal adalah Kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif, yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian dan proses governance”.
Sedangkan pengertian audit internal menurut Tugiman (2006:11) menyatakan bahwa:
“Audit internal adalah suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan”.
Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian audit internal, dapat disimpulkan bahwa audit internal adalah profesi auditor dalam perusahaan atau organisasi dengan aktivitas independen, keyakinan objektif, dan konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi, mengantisipasi perubahan dalam lingkungan operasinya dan beradaptasi terhadap perubahan dalam struktur organisasi, proses dan teknologi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta
menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.
2.1.2 Tujuan Audit Internal
Tujuan utama dari audit internal adalah membantu semua anggota dalam suatu manajemen melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif dan efisien melalui penelaahan atas kegiatan operasi perusahaan yaitu berupa analisis, penilaian – penilaian, rekomendasi dan komentar- komentar mengenai penelaahan aktivitas.
Menurut Hery (2010:39) tujuan pemeriksaan intern adalah
“untuk membantu segenap anggota manajemen dalam menyelesaikan tanggung jawab mereka secara efektif, dengan memberi mereka analisis, penilaian, saran, dan komentar yang objektif mengenai kegiatan atau hal-hal yang diperiksa.
Sedangkan menurut Tugiman (2006:11) mengemukakan tujuan audit internal adalah sebagai berikut :
“Tujuan pemeriksaan internal adalah membantu agar para anggota organisasi agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif. Untuk itu, pemeriksa internal akan melakukan analisis, penilaian, dan mengajukan saran-saran. Tujuan pemeriksaan mencakup pula pengembangan pengawasan yang efektif dengan biaya yang wajar.”
Pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi harus memahami dengan jelas tujuan dari pelaksanaan audit internal. Diharapkan dengan adanya pemahaman mengenai tujuan, tugas, dan tanggung jawab dari audit internal, maka akan mendorong mereka (pihak-pihak yang memiliki otoritas tinggi) untuk memberikan dukungan sepenuhnya terhadap pelaksanaan fungsi audit internal.
2.1.3 Fungsi Audit Internal
Fungsi audit internal adalah sebagai alat bantu manajemen untuk menilai efisien dan keefektifan pelaksanaan struktur pengendalian intern perusahaan, kemudian memberikan hasil berupa saran atau rekomendasi dan memberi nilai tambah bagi manajemen yang akan dijadikan landasan mengambil keputusan atau tindak lanjut selanjutnya.
Menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:20) mengemukakan fungsi audit internal adalah sebagai berikut :
“Fungsi audit internal harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian internal yang efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisiensi, dan efektivitas pengendalain tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian internal secara berkesinambungan.”
Sedangkan menurut Tugiman (2006:11) fungsi audit internal adalah sebagai berikut :
“Fungsi audit internal adalah suatu fungsi penilaian bebas dalam suatu organisasi guna menelaah atau mempelajari dan menilai kegiatan-kegiatan perusahaan untuk memberikan saran-saran kepada manajemen agar tanggung jawabnya dapat dilaksanakan secara efektif.”
Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi audit internal adalah suatu fungsi penilaian bebas yang bertujuan untuk memastikan bahwa setiap fungsi di dalam manajemen sudah memenuhi fungsinya secara efektif. Audit internal membantu terlaksananya sistem pengendalain organisasi yang efektif dalam mencapai tujuan organisasi.
2.1.4 Kode Etik Audit Internal
Etika profesional dikeluarkan oleh organisasi profesi untuk mengatur perilaku anggotanya dalam menjalankan profesinya bagi masyarakat. Menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit (2004:28) kode etik adalah :
“Prinsip-prinsip yang relevan terhadap profesi dan praktek-praktek internal auditing, serta aturan”.
Pengertian kode etik Audit Internal menurut IIA (2013:5) :
“States the principles and expectations governing behaviour of individuals and organisations in the conduct of internal auditing. It describes the minimum requirements for conduct and behavioural expectations rather than specific activities ”.
Yang dialihbahasakan sebagai berikut :
“Prinsip-prinsip yang menyatakan harapan perilaku individu dan organisasi dalam pelaksanaan audit internal, yang menjelaskan persyaratan minimal untuk pengarahan dan perilaku yang diharapkan dalam kegiatan khusus”.
Ketentuan-ketentuan dalam kode etik meliputi prinsip-prinsip dasar yang ada dalam berbagai bidang praktek audit internal. Auditor internal bertanggung jawab untuk mempunyai perilaku yang baik sehingga nama baik dan integritasnya tidak dipertanyakan. Dalam hal adanya keterbatasan kemampuan teknis, anggota harus berusaha sekerasnya untuk dapat mengembangkan kemampuannya dalam menetapkan standar audit internal untuk kepentingan perusahaan, organisasi dan masyarakat.
2.1.5 Ruang Lingkup Audit Internal
Menurut pendapat (Hery,2010:78) lingkup dari audit internal adalah sebagai berikut :
“Lingkup pekerjaan audit internal meliputi pengujian dan evaluasi terhadap kecukupan dan keefektifan sistem pengendalian internal yang dimiliki oleh organisasi. Tujuan peninjauan terhadap kecukupan dan keefektifan suatu sistem pengendalian internal adalah untuk menentukan apakah sistem yang telah ditetapkan dapat memberikan kepastian yang layak bahwa tujuan dan sasaran organisasi dapat tercapai secara efisien dan ekonomis, serta untuk memastikan apakah sistem tersebut telah berfungsi dengan baik “.
Sedangkan ruang lingkup penugasan audit internal yang terdapat dalam Standar Profesi Audit (2014:21) adalah sebagai berikut :
“Ruang lingkup penugasan yang ditetapkan harus memadai untuk dapat mencapai tujuan penugasan dan harus mempertimbangkan sistem, catatan, personel, dan properti fisik yang relevan, termasuk yang berada di bawahh pengelolaan pihak ketiga”.
Lingkup pekerjaan audit internal menurut (Hiro Tugiman, 2006 : 41-47) adalah sebagai berikut:
1. Lingkup pekerjaan pemeriksaan (audit) internal, sebagaimana ditetapkan dalam standar ini, meliputi pemeriksaan apa saja yang harus dilaksanakan. Namun demikian, dimungkinkan pula diberikan pedoman umum oleh manajemen dan dewan tentang lingkup pekerjaan dan kegiatan yang akan diperiksa.
2. Tujuan peninjauan terhadap kecukupan suatu sistem pengendalian internal adalah menentukan apakah sistem yang ditetapkan telah memberikan kepastian yang layak atau masuk akal bahwa tujuan dan sasaran organisasi akan dapat dicapai secara ekonomis dan efisien.
3. Tujuan peninjauan terhadap kefektifan sistem pengendalian internal adalah pemastian apakah sistem tersebut berjalan atau berfungsi sebagaimana yang diharapkan.
4. Tujuan peninjauan terhadap kualiatas pelaksanaan kegiatan adalah memastikan apakah apakah sistem tersebut telah dicapai.
5. Tujuan utama pengendalian internal adalah meyakinkan : a. Keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi
b. Kesesuaian dengan berbagai kebijakan, rencana, prosedur dan ketentuan perundang- undangan
c. Perlindungan terhadap harta organisasi
d. Penggunaan sumberdaya yang ekonomis dan efisien.
e. Tercapainnya berbagai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
6. Pengendalian adalah berbagai tindakan yang dilakukan manajemen untuk mempertinggi kemungkinan tercapainnya berbagai tujuan dan sasaran. Manajemen akan merencanakan untuk menyusun dan mengatur pelaksanaan berbagai tindakan yang tepat untuk memberikan kepastian yang layak dan masuk akal bahwa berbagai tujuan dan sasaran organisasi dapat tercapai.
7. Manajemen bertugas merencanakan, menyusun, dan mengatur sedemikian rupa untuk memberikan kepastian yang layak dan masuk akal untuk berbagai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.
perencanaan, penyusunan, dan pengaturan untuk menentukan apakah terdapat kepastian bahwa berbagai tujuan dan sasaran dapat tercapai.
2.1.6 Standar Profesional Audit Internal
Menurut Hery (2010:73) standar profesional audit internal terbagi atas empat macam yaitu :
1. Independensi a. Mandiri
Audit internal harus mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang diperiksa. Audit internal dianggap mandiri apabila dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif.
b. Dukungan moral manajemen senior dan dewan
Audit internal harus memperoleh dukungan moral secara penuh dari segenap jajaran manajemen senior dan dewan (dewan direksi dan komite audit) agar dapat menyelesaikan pekerjaannya secara bebas dari berbagai campur tangan pihak lain.
Selanjutnya menurut Agoes (2012:34-35) pengertian independen bagi akuntan publik (eksternal auditor dan internal auditor) dibagi menjadi 3 (tiga) jenis independensi:
a. Independent in appearance (independensi dilihat dari penampilannya di struktur organisasi perusahaan).In appearance, akuntan publik adalah independen karena merupakan pihak di luar perusahaan sedangkan internal auditor tidak independen karena merupakan pegawai perusahaan.
b. Independent in fact (independensi dalam kenyataannya/dalam menjalankan tugasnya). In fact, akuntan publik seharusnya independen, sepanjang dalam menjalankan tugasnya memberikan jasa profesionalnya, bisa menjaga integritas dan selalu menaati kode etik, profesi akuntan publik dan standar profesional akuntan publik. Jika tidak demikian, akuntan publik in fact tidak independen. In fact internal auditor bisa independen jika dalam menjalankan tugasnya selalu mematuhi kode etik internal auditor dan jasa professional practice framework of internal auditor, jika tidak demikian internal auditor in fact tidak independen.
c. Independent in mind (independensi dalam fikiran).In mind, misalnya seorang auditor mendapatkan temuan audit yang memiliki indikasi pelanggaran atau korupsi atau yang memerlukan audit adjustment yang material. Kemudian dia berpikir untuk menggunakan audit findings tersebut untuk memeras auditee walaupun baru pikiran, belum dilaksanakan. In mind auditor sudah kehilangan independensinya
2. Kemampuan Profesional
a. Pengetahuan dan Kemampuan
Dalam setiap pemeriksaan, pimpinan audit internal harus menugaskan orang-orang yang secara keseluruhan memiliki pengetahuan dan kemampuan dari berbagai disiplin ilmu, seperti akuntansi, ekonomi, keuangan, statistik, pemrosesan data elektronik, perpajakan, dan
hukum, yang memang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan secara tepat dan pantas.
b. Pengawasan
Pimpinan audit internal bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap segala aktivitas pemeriksaan yang dilakukan oleh para stafnya.
c. Kemampuan berkomunikasi
Audit internal harus memiliki kecakapan dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, sehingga, sehingga mereka dapat secara jelas dan efektif menyampaikan berbagai hal, seperti tujuan pemeriksaan, evaluasi, kesimpulan, dan juga dalam hal memberikan rekomendasi. 3. Lingkup Pekerjaan
a. Pengujian dan Evaluasi
Lingkup pekerjaan audit internal meliputi pengujian dan evaluasi terhadap kecukupan dan keefektifan system pengendalian internal yang dimiliki oleh organisasi.
b. Keandalan Informasi
Audit internal harus mengkaji informasi dan menentuka apakah berbagai catatan perusahaan mengandung informasi yang akurat, dapat dibuktikan kebenarannya, tepat waktu, lengkap, dan berguna.
c. Kesesuaian dengan kebijakan, rencana, prosedur, dan ketentuan perundang-undangan
Manajemen bertanggung jawab untuk menetapkan system yang dibuat dengan tujuan memastikan pemenuhan berbagai persyaratan seperti kebijakan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan. d. Perlindungan Aktiva
Audit internal harus meninjau berbagai alat atau cara yang digunakan untuk melindungi aktiva perusahaan terhadap berbagai jenis kerugian seperti kerugian yang diakibatkan oleh pencurian, dan kegiatan yang ilegal.
4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan a. Perencanaan Kegiatan Pemeriksaaan
Audit internal harus terlebih dahulu melakukan perencanaan pemeriksaan dengan penetapan tujuan pemeriksaan dan lingkup pekerjaan, penentuan tenaga yang diperlukan, melakukan survei, penetapan program, dan menentukan bagaimana, kapan, dan kepada siapa hasil pemeriksaan disampaikan.
b. Rapat Manajemen
Audit internal harus melakukan rapat dengan manajemen yang bertanggungjawab terhadap pihak yang akan diperiksa.
c. Pengujian dan Pengevaluasian
Audit internal harus melakukan pengujian dan pengevaluasian terhadap semua informasi yang ada guna memastikan ketepatan dari informasi tersebut yang nantinya akan digunakan untuk pemeriksaan. d. Pelaporan Hasil Pemeriksaan
Audit internal harus melaporkan hasil pemeriksaan yang dilakukannya. Laporan yang dibuat haruslah objektif, jelas, singkat, konstruktif, dan tepat waktu.
e. Tindak Lanjut Pemeriksaan
Audit internal harus secara terus menerus meninjau dan melakukan tindak lanjut untuk memastikan apakah suatu tindakan perbaikan telah dilakukan dan memberikan berbagai hasil yang diharapkan.
2.1.7 Tahap-Tahap Pelaksanaan Audit Internal
Di dalam pelaksanaan audit internal terdapat tahap-tahap penting yang harus dilaksanakan agar dapat menghasilkan suatu infoormasi yang dibutuhkan oleh manajemen agar perusahaan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Auditor dalam melaksanakan auditnya memiliki langkah-langkah kerja. Langkah-langkah kerja tersebut dijelaskan oleh Hiro Tugiman (2006:53) sebagai berikut:
1. Perencanaan pemeriksaan mencakup :
a. Penetapan tujuan audit dan ruang lingkup pekerjaan.
b. Memperoleh informasi dasar (background information) tentang kegiatan yang akan diperiksa.
c. Penentuan berbagai tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan.
d. Pemberitahuan kepada pihak-pihak yang dipandang perlu.
e. Melaksanakan survei secara tepat untuk lebih mengenali kegiatan yang diperlukan, risiko-risiko, dan pengawasan-pengawasan, untuk mengidentifikasi area yang ditekankan dalam pemeriksaan, serta
untuk memperoleh berbagai ulasan dan sasaran dari pihak yang akan diperiksa.
f. Penulisan program pemeriksaan.
g. Memperoleh persetujuan bagi rencana kerja pemeriksaan.
2. Pengujian dan pengevaluasian informasi, pemeriksa internal haruslah mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan membuktikan kebenaran informasi untuk mendukung hasil pemeriksaan. Hal ini meliputi:
a. Mengumpulkan berbagai informasi tentang seluruh hal yang berhubungan dengan tujuan dan ruang lingkup kerja audit.
b. Informasi haruslah mencukupi, kompeten, relevan dan berguna untuk membuat dasar yang logis bagi temuan audit dan rekomendasi.
c. Prosedur pemeriksaan, termasuk teknik pengujian dan penarikan contoh yang dipergunakan harus terlebih dahulu diseleksi.
d. Proses pengumpulan, analisis, penafsiran, dan pembuktian kebenaran informasi haruslah diawasi.
e. Pemeriksa harus membuat kertas kerja pemeriksaan sebagai dokumen yang akan ditinjau atau direview oleh manajemen bagian audit internal.
3. Hasil pemeriksa intern harus dilaporkan.
4. Tindak lanjut hasil pemeriksaan, auditor internal harus terus menerus meninjau dan melakukan tindak lanjut (follow up) untuk memastikan bahwa terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan
tindakan yang tepat. Hal ini meliputi:
a. Tindak lanjut pemeriksa internal didefinisikan sebagai suatu proses untuk menentukan kecukupan, keefektifan, dan ketepatan waktu dari berbagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap berbagai temuan pemeriksaan yang dilaporkan.
b. Tanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut harus didefinisikan dalam ketentuan yang memuat tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab bagian audit internal
c. Manajemen bertanggung jawab menentukan tindakan yang perlu dilakukan sebagai tanggapan terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan.
2.2 Pengendalian Internal
Untuk mendapat pengertian yang lebih jelas mengenai sistem pengendalian internal dibawah ini dikemukakan beberapa pengertian, yaitu:
Krismiaji (2010:218) :
“Pengendalian Internal (Internal Control) adalah rencana organisasi dan metode yang digunakan untuk menjaga atau melindungi aktiva dan menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya.”
Pendapat lain dikemukakan Amin Widjaja Tunggal (2010:195)
“Pengendalian Internal adalah suatu proses yang yang dijalankan oleh Dewan Komisaris, Manajemen, dan Personal entitas lain yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: (a) keandalan pelaporan keuangan (b) Efektifitas dan efesiensi operasi, dan (c) Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.”
Selain itu pendapat lain diungkapkan oleh James Hall(2011:180)
“pembuatan dan pemeliharaan sistem pengendalian internal adalah kewajiban pihak manajamen yang penting. Aspek mendasar dari tanggung jawab penyediaan informasi pihak manajemen adalah untuk memberikan jaminan yang wajar bagi pemegang saham bahwa perusahaan dikendalikan dengan baik. Selain itu pihak manajemen bertanggung jawab untuk melengkapi pemegang saham serta investor dengan informasi keuangan yang andal dan tepat waktu.”
Berdasatkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Pengendalian Internal merupakan metode yang digunakan untuk menjaga atau melindungi aktiva suatu proses yang yang dijalankan oleh Dewan Komisaris, Manajemen, dan Personal entitas lain yang didesain untuk memberikan keyakinan dengan informasi yang andal dan tepat waktu.
2.2.1 Tujuan Sistem Pengendalian Internal
Suatu pengendalian yang efektif dan efesien sangat dibutuhkan oleh organisasi atau perusahaan, karena dengan adanya sistem pengendalian internal diharapkan semua yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan dengan baik. Menurut Mulyadi (2010:163)
“Tujuan Sistem Pengendalian Internal” adalah : 1. Menjaga kekayaan organisasi
2. Kekayaan fisik suatu perusahaan dapat dicuri, disalahgunakan atau hancur karena kecelakaan kecuali jika kekayaan tersebut dilindungi dengan pengendalian yang memadai. Begitu juga dengan kekayaan perusahaan yang tidak memiliki
2.2.2 Unsur Pengendalian Internal
Menurut Indra Bastian (2013 : 15) menjelaskan lima unsur pokok pengendalian internal yaitu:
1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengendalian menggambarkan keseluruhan sikap organisasi yang mempengaruhi kesadaran dan tindakan personil organisasi mengenai
pengendalian. Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu entitas antara lain:
1) Integritas dan nilai-nilai etika
Efekifitas pengendalian internal bersumber dari dalam diri orang yang mendesain dan melaksanakannya. Pengendalian internal yang memadai desainnya, namun dijalankan oleh orang-orang yang tidak menjunjung tinggi integritas dan tidak memiliki etika, akan mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan pengendalian internal.
Oleh karena itu, tanggung jawab manajemen adalah menjunjung tinggi nilai integritas – suatu kemampuan untuk mewujudkan apa yang telah menjadi komitmennya – dan juga nilai etikanya.
2) Komitmen terhadap kompetensi
Untuk mencapai tujuan entitas, personel di setiap tingkat organisasi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen atas pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. Dan paduan antara kecerdasan, pelatihan, dan pengalaman yang dituntut dalam pengembangan kompetensi dalam rangka pencapaian tujuan suatu entitas.
3) Dewan komisaris atau komite audit
Dalam perusahaan berbentuk perseroan terbatas, jika penunjukan auditor dilakukan oleh manajemen puncak, kebebasan auditor dapat dampak berkurang dipandang dari sudut pemegang saham. Hal ini karena manajemen puncak adalah pihak yang seharusnya dinilai kejujuran pertanggungjawaban keuangannya oleh auditor, padahal manajemen puncak menentukan pemilihan auditor yang ditugasi dalam audit atas laporan keuangan. Oleh karena itu, untuk menciptakan independensi auditor, perusahaan-perusahaan yang go public sebaiknya mengalihkan wewenang penunjukan auditor dari tangan manajemen puncak ke tangan dewan komisaris atau komite audit.
Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar yang menjadi parameter bagi perusahaan dan karyawannya. Filosofi merupakan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya tidak dikerjakan oleh perusahaan. Sedangkan gaya operasi mencerminkan ide manajer tentang bagaimana operasi suatu entitas harus dilaksanakan.
5) Struktur Organisasi
Organisasi dibentuk oleh manusia untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Struktur organisasi memberikan rerangka untuk perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pemantauan aktivitas entitas. Pengembangan struktur organisasi suatu entitas mencakup pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab di dalam suatu organisasi dalam mencapai tujuan organisasi.
6) Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab
Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab merupakan perluasan lebih lanjut dari pengembangan struktur organisasi. Dengan pembagian wewenang yang jelas, organisasi akan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan organisasi. Juga, pembagian wewenang yang jelas akan memudahkan pertanggungjawaban konsumsi sumber daya organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi.
7) Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Karyawan merupakan unsur penting dalam setiap pengendalian internal. Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, unsur pengendalian internal yang lain dapat dikurangi sampai batas minimum, dan perusahaan tetap mampu menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang dapat diandalkan.
2. Penaksiran Risiko Oleh Manajemen (Management Risk Assesment)
Penaksiran risiko manajemen untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum.
Penaksiran risiko manajemen harus mencakup pertimbangan khusus terhadap risiko yang dapat timbul dari perubahan keadaan, seperti:
1) Bidang baru bisnis.
2) Perubahan standar akuntansi. 3) Hukum dan peraturan baru.
4) Perubahan struktur organisasi yang baru.
5) Penurunan pengawasan terhadap pengendalian internal yang dapat disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. 3. Aktifitas Pengendalian (Control Activity)
Aktifitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberikan keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh manajemen dilaksanakan untuk mengurangi risiko dalam pencapaian tujuan entitas. Aktivitas pengendalian dapat dibagi atas beberapa kelompok:
1) Pengendalian pengolahan informasi a. Pengendalian umum
b. Pengendalian aplikasi a) Otorisasi memadai
b) Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan memadai c) Pengecekan secara independen
2) Pemisahan fungsi yang memadai
3) Pengendalian fisik atas kekayaan dan catatan 4) Review atas kinerja
4. Sistem Informasi dan Komunikasi Akuntansi (Accounting Information and Communication Systems)
Fokus utama kebijakan dan prosedur pengendalian yang berkaitan dengan sistem akuntansi adalah bahwa transaksi dilaksanakan dengan cara mencegah salah saji potensial asersi manajemen dalam laporan keuangan. Oleh karena itu, sistem akuntansi yang efektif dapat memberikan keyakinan yang memadai bahwa transaksi yang dicatat atau terjadi adalah sebagai berikut:
2) Telah dicatat, 3) Telah diotorisasi,
4) Telah dinilai secara wajar, 5) Telah digolongkan secara wajar,
6) Telah dicatat dalam periode yang seharusnya,
7) Telah dimasukkan ke dalam buku pembantu dan telah diringkas dengan benar.
5. Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan adalah proses penilaian kualitas kinerja pengendalian internal sepanjang waktu. Pemantauan dilaksanakan oleh personel yang semestinya melakukan pekerjaan tersebut, baik pada tahap desain maupun pengoperasian pengendalian, pada waktu yang tepat, untuk menentukan apakah pengendalian internal beroperasi sebagaimana yang diharapkan, dan untuk menentukan apakah pengendalian internal tersebut telah memerlukan perubahan karena terjadinya perubahan keadaan. Juga melakukan evaluasi tentang kelebihan dan kelemahan serta rekomendasi untuk memperbaiki pengendalian internal.
2.3 Good Corporate Governance (GCG)
Good Corporate Governance (GCG) telah menjadi sebuah istilah dan gerakan yang hangat dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai sebuah konsep yang makin populer, GCG ternyata tidak memiliki definisi tunggal. Dalam dunia bisnis, istilah GCG diartikan tata kelola perusahaan. Beberapa negara mendefinisikan GCG dengan pengertian yang agak mirip walaupun ada sedikit perbedaan istilah. Perusahaan-perusahaan yang memiliki corporate governance yang baik akan mempunyai akses yang lebih baik terhadap sumber dana internasional dibandingkan dengan mereka yang tidak mempunyai corporate governance yang baik (Hery, 2010:5).
2.3.1 Pengertian Good Corporate Governance
Menurut Wibowo (2004:85) pengertian Good Corporate Governance (GCG) adalah sebagai berikut :
“Sistem dan struktur untuk mengelola perusahaan dengan tujuan meningkatkan nilai pemegang saham (stakeholders value) serta mengakomodasi berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan”. Sedangkan definisi Good Corporate Governance menurut Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER – 01/MBU/2011 adalah:
“Prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha”.
Dari beberapa definisi yang telah dijelaskan, Good Corporate Governance secara umum diartikan sebagai suatu proses, aturan, ataupun alat yang digunakan perusahaan dalam mengelola perusahaan melalui cara yang sehat dan benar, serta digunakan untuk menjaga hubungan antara perusahaan dengan seluruh pemegang saham maupun non-pemegang saham yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban semua pihak yang terkait.
2.3.2 Teori Good Corporate Governance (GCG)
Menurut konsep Good Corporate Governance, adalah jawaban atas ketidak puasan ilmuwan keuangan atas kinerja teori agensi dalam tataran empirik. Bahan unsur-unsur yang membantu berlakunnya Good Corporate Governance
sendiri tidak lagi berasal dari teori agensi, yaitu: Pengelolaan perusahaan, dewan komisaris, pemegang saham, pemberi pinjaman, remunerasi, deviden, berjalannya pasar modal, berjalannya pasar tenaga kerja manajerial, dan market for corporate control, melainkan bertambahnnya dengan: informasi, transparansi, accountanbility, keterbukaan dan kerahasiaa, code of conduct, jaminan hukum, dan masih akan bertambah lagi dengan investor (individu dan institusi), hak-hak (hak bagi pemegang saham, hak bagi pemberi pinjaman, perangkat hukum, dan jaminan hukum) (Sutedi, 2012:13).
1. Agency Theory
Dalam perekonomian modern, manajemen, dan pengelolaan perusahaan makin banyak dipisahkan dan kepemilikan perusahaan. Hal ini sejalan dengan Agency Teory yang menekankan pentingnnya pemilik perusahaan (pemegang saham) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga tenaga profesional (disebut agency) yang lebih mengerti dalam menjalankan bisnis sehari-hari. Untuk memahami corporate governance, jalan yang paling dekat adalah dengan memahami teori agensi (agency theory). Teori ini memberikan wawasan analisis untuk bisa mengkaji dampak dari hubungan agen dengan principal atau principal dengan principal (Sutedi, 2012:13-14).
2. Shareholder Value Theory
Undang-undang yang memadai dan aturan dalam pengambilalihan perusahaan dapat menjadi alat supervise bagi prilaku direksi selain yang dilakukan oleh pemegang saham (melalui (RUPS); pemberi pinjaman (RUPO), bekerjannya market for corporate control, dewan komisaris, remunerasi bagi
eksekutif, dan kompensasi bagi karyawan). Direksi akan melakukan pengelolaan perusahaan dibantui oleh para manajer subordinatnya yang sekaligus menjaga direksi dari prilaku menyimpang dari keinginan pemegang saham karena nasib tim direksi, manajer, dan karyawan ini tergantung sukses atau tidaknnya mereka menjalankan perusahaan (Sutedi, 2012:29).
Menurut Asian Development Bank (ADB) dalam corporate governance harus ada unsur-unsur shareholders right, equal treatment of shareholders, adannya disclosure (keterbukaan), dan transparency (transparansi). Di sini tampak ada unsur tambahan, yaitu equal treatment atau keadilan (fairness) dan hak (right). Hasil kajian Emil Salim menyatakan, wilayah permasalahan corporate governance adalah sebagai berikut:
a. Dipisahkan pemilik dengan pengelolaan perusahaan; b. Struktur kepemilikan yang beraneka ragam;
c. Pengawasan dari pemegang saham;
d. Monitoreng kreditor, disiplin dan proteksi; e. Pasar untuk kontrol perusahaan;
f. Pengaturan pasar sekuritas; g. Persaingan pasar;
h. Keuangan korporasi.
Corporate governance mengandung prinsip-prinsip yang melindungi kepentingan perusahaan, pemegang saham, manajemen, board of directors, dan investor serta pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan (Sutedi, 2012:30). 3. Stakeholder Theory
Teori stakeholder, dalam pengertiannya yang umum menyatakan bahwa tujuan teori stakeholder value, secara jelas telah gagal untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dari penggan, pemasok, dan tenaga kerja. Profesor Jhon kay, dalam tulisannya yang berjudul Business of economics (1996,OUP), mencoba untuk menggambarkan pemikiran tentang teori stakeholder ini dengam memberikan perbandingan antara hukum perusahaan yang berlaku di Inggris dan hukum perusahaan yang berlaku di Eropa dan Jepang, sebagai berikut:
In continental Europe and in Japan, the corporation is an institution with personality, character, and aspiration of its own. Its objektives encompass the interest of a wide range of stakeholder groups – investors, employess, supplier, customers and manager – but cannot be equated with any of them. The corporation is therefore naturally perceived as a social institution, with public responsibilities, and a proper public interest in defining the way in which it is run and governed. In the Angl-American anvironment, the corporation is a private rather than a public body, defined by a set of relationsip between principal and agent. Shareholder- owners, too busy and to numerous to undertake the responbility themselves, hire salaride executives to manage their affairs (Sutedi, 2011:39).
2.3.3 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
Good Corporate Governance dapat dilaksanakan dengan baik maka diperlukan adanya prinsip-prinsip tertentu yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER – 01/MBU/2011 yaitu meliputi:
1. Transparansi (transparency), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan;
2. Akuntabilitas (accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif;
3. Pertanggungjawaban (responsibility), yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat;
4. Kemandirian (independency), yaitu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat;
5. Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak Pemangku Kepentingan (stakeholders) yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.
Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dikutip oleh Amin Widjaja Tunggal (2013:159) ada lima prinsip dalam Good Corporate Governance, yaitu :
1. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham 2. Perlakuan yang adil terhadap pemegang saham
3. Peranan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam corporate governance
4. Transparansi dan keterbukaan
Menurut Adrian Sutedi (2012:4) prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) secara umum adalah sebagai berikut:
1 Transparency (Tranparansi), yaitu mewajibkan adanya suatu informasi yang terbuka, tepat waktu, serta jelas dan dapat diperbandingkan yang menyangkut keadaan keuangan, pengelolaan perusahaan, da kepemilikan perusahaan.
2 Accountability (Akuntabilitas), yaitu menjelaskan peran dan tangungjawab, serta mendukung usaha untuk menjamin penyeimbangan yang diawasi oleh Dewan Komisaris.
3 Fairness (Kejujuran), yaitu menjamin perlindungan hak para pemegang saham dan menjamin terlaksananya komitmen dengan para insvestor. 4 Sustainability (Keberlanjutan), yaitu Ketika perusahaan negara exist dan
menghasilkan keuntungan, dalam jangka panjang mereka juga harus menemukan cara untuk memuaskan pegawai dan komunitasnya agar berhasil. Mereka harus tanggap terhadap lingkungan, memperhatikan hukum, memperlakukan pekerja secara adil, dan menjadi warga corporate yang baik. Dengan demikian akan menghasilkan keuntungan yang lama bagi stakeholder-nya.
Dari beberapa pendata tersebut dapat dijelaskan lima prinsip corporate governance sebagai berikut:
a. Kewajaran (fairness)
Merupakan prinsip agar pengelola memperlakukan semua pemangku kepentingan secara adil dan setara, baik pemangku kepentingan primer
(pemasok, pelanggan, karyawan, pemodal) maupun pemangku kepentingan sekunder (pemerintah, masyarakat, dan yang lainnya). Hal ini yang memunculkan stakeholders (seluruh kepentingan pemangku kepentingan), bukan hanya kepentingan stockholders (pemegang saham saja).
b. Transparansi
Artinya kewajiban bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan dalam proses keputusan dan penyampaian informasi. Keterbukaan dalam menyampaikan informasi juga mengandung arti bahwa informasi harus lengkap, benar, dan tepat waktu kepada semua pemangku kepentingan. Tidak boleh ada hal-hal yang dirahasiakan, disembunyikan, ditutup-tutupi, atau ditunda-tunda pengungkapannya. c. Akuntabilitas
Prinsip ini dimana para pengelola berkewajiban untuk membina sistem akuntansi yang efektif untuk menghasilkan laporan keuangan (financial statements) yang dapat dipercaya. Untuk itu, diperlukan kejelasan fungsi, pelakasanaan, dan pertanggungjawaban setiap organ sehingga pengelolaan berjalan efektif.
d. Pertanggungjawaban
Prinsip dimana para pengelola wajib memberikan pertanggungjawaban atas semua tindakan dalam mengelola perusahaan kepada para pemangku kepentingan sebagai wujud kepercayaan yang diberikan kepadanya. Prinsip tanggungjawab ada konsekuensi logis dari kepercayaan dan
wewenang yang diberikan oleh para pemangku kepentingan kepada para pengelola perusahaan.
e. Kemandirian
Artinya suatu keadaan dimana para pengelola dalam mengambil keputusan bersifat professional, mandiri, bebas dari konflik kepentingan, dan bebas dari tekanan/pengaruh dari manapun yang bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip pengelolaan yang sehat. Sebenarnya, tiga dari keempat prinsip GCG tersebut: transparansi, akuntabilitas dan tanggung jawab mempunyai arti yang sangat erat dan tumpang-tindih. Keempat prinsip ini merupakan jawaban langsung atas permasalahan/skandal yang dihadapi oleh dunia usaha, bukan hanya di Indonesia tetapi juga diseluruh dunia.
2.3.4 Manfaat dan Tujuan Good Corporate Governance
Menurut Hery (2010:5) manfaat yang dapat diperoleh perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance, yaitu sebagai berikut :
1. Good Corporate Governance secara tidak langsung akan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya perusahaan ke arah yang lebih efektif dan efisien, yang pada gilirannya akan turut membantu terciptanya pertumbuhan atau perkembangan ekonomi nasional.
2. Good Corporate Governance dapat membentu perusahaan dan perekonomian nasional dalam hal menarik modal investor dengan
biaya yang lebih rendah melalui perbaikan kepercayaan investor dan kreditor domestic maupun internasional.
3. Membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan/menjamin bahwa perusahaan telah taat pada ketentuan, hukum, dan peraturan. 4. Membantu manajemen dan Corporate Board dalam pemantauan
penggunaan asset perusahaan. 5. Mengurangi korupsi.
Menurut Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER – 01/MBU/2011 menjelaskan bahwa penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada BUMN, bertujuan untuk:
1. Mengoptimalkan nilai BUMN, agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional, sehingga mampu mempertahankan keberadaannya dan hidup berkelanjutan untuk mencapai maksud dan tujuan BUMN;
2. Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efisien, dan efektif, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Organ Persero/Organ Perum;
3. Mendorong agar Organ Persero/Organ Perum dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab social BUMN terhadap Pemangku Kepentingan maupun kelestarian lingkungan di sekitar BUMN;
5. Meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional. Trager dkk.(2003) dalam Agoes (2013), mengatakan bahwa paling tidak ada lima alasan mengapa penerapan Good Corporate Governance itu bermanfaat yaitu:
1. Berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh McKinsey&Company menunjukkan bahwa para investor institusional lebih menaruh kepercayaan terhadap perusahaan –perusahaan di Asia yang telah menerapkan Good Corporate Governance.
2. Berdasarkan berbagai analisis, ternyata ada indikasi keterkaitan antara terjadinya krisis financial dan krisis berkepanjangan di Asia dengan lemahnya tata kelola perusahaan.
3. Internasionalisasi pasar termasuk liberalisasi pasar financial dan pasar modal menuntut perusahaan untuk menerapkan Good Corporate Governance.
4. Good Corporate Governance sistem ini dapat menjadi dasar bagi berkembangnya sistem nilai baru yang lebih sesuai dengan lanskap bisnis yang kini telah banyak berubah.
5. Secara teoritis, praktik Good Corporate Governance dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Manfaat langsung yang dirasakan perusahaan dengan mewujudkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) adalah meningkatnya produktivitas dan efisiensi usaha. Manfaat lain adalah meningkatnya kemampuan operasional perusahaan dan pertanggungjawaban kepada publik.
Selain itu juga memperkecil praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta konflik kepentingan. Corporate governance yang baik dapat mendorong pengelolaan organisasi yang lebih demokratis (partisipasi banyak kepentingan), lebih accountable (adanya pertanggungjawaban dari setiap tindakan), dan lebih transparan serta akan meningkatkan keyakinan bahwa perusahaan dapat memberikan manfaat jangka panjang.
2.4 Hubungan Audit Internal dengan Penerapan Good Corporate Governance
Sesuai dengan definisi audit internal (SPAI, 2004:9) untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi, audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian, dan proses governance.
Dinyatakan pula dalam Standar Profesi Audit Internal (2014:17) fungsi audit internal harus menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan proses governance dalam mencaai tujuan-tujuan berikut:
1. Pengembangan etika dan nilai-nilai yang memadai di dalam organisasi. 2. Memastikan bahwa pengelolaan kinerja organisasi telah efektif.
3. Mengkomunikasikan informasi risiko dan pengendalian pada area yang sesuai dalam organisasi.
4. Mengkoordinasikan kegiatan dan mengkomunikasikan informasi secara efektif di antara dewan pengawas, auditor eksternal dan intern serta manajemen.
Antara audit internal dan Good Corporate Governance memiliki hubungan yang sangat erat dimana audit internal sebagai orang dalam bagian perusahaan yang mengetahui bagaimana kinerja sehari-hari di perusahaan harus dapat menerapkan tata kelola perusahaan yang baik guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Keberadaan audit internal sangat penting di dalam memastikan terlaksananya nilai-nilai etika dalam pencapaian Good Corporate Governance sehubungan dengan adanya berbagai macam kasus yang terjadi baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Ini menunjukan bahwa organisasi tersebut tidak melaksanakan prinsip-prinsip maupun mekanisme tata kelola perusahaan yang baik. Peran audit internal yang independen akan sangat penting dalam membantu penerapan Good Corporate Governance dalam suatu perusahaan.
2.5 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu No Penulis Judul Variabel/Dimensi Penelitian Hasil
Variabel Penelitian Sekarang 1 Ibnu Rachm an dan Wien Dyahri ni (2013) Jurnal Pengaruh Kompeten si Auditor Internal dan Kompeten si Komite Audit Terhadap Reliabilita s Laporan Keuangan
1. Kompetensi Audit Internal a.Pendidikan
b. Kemahiran c.Pengalaman
2. Kompetensi Komite Audit a.Tugas, wewenang, dan
tanggung jawab b. Independensi c.Keanggotaan d. Keahlian
e.Jumlah dan lamanya rapat yang dilakukan oleh komite audit selama setahun
3. Reliabilitas Laporan Keuangan a.Penyajian Jujur b. Substansi Mengungguli Bentuk c.Netralitas d. Pertimbangan Sehat e.Kelengkapan Hasil penelitian menunjukka n bahwa kompetensi auditor internal dan kompetensi komite audit secara simultan berpengaruh signifikan terhadap reliabilitas laporan keuangan 1. Kompetensi Auditor Internal a. Pengetahuan b. Keterampilan c. Pengalaman 2. Good Corporate Governance a.Transparansi b.Akuntabilitas c.Pertanggung jawaban d.Kemandirian e.Kewajaran 2 Felix Hendra Soetjipt a (2013) Jurnal Peranan Audit Intern dalam Penerapan Good Corporate Governan ce yang Efektif 1.Audit Intern
a.Independensi Audit Internal b.Kecakapan Profesional c.Program Audit
d.Pelaksanaan Audit e.Laporan Audit
f. Follow up (tindak lanjut) 2.Good Corporate Governance
a. Transparansi b.Kemandirian c. Akuntabilitas d.Pertanggung jawaban e. Kewajaran 1. Kompetensi Auditor Internal a. Pengetahuan b. Keterampilan c. Pengalaman 2. Good Corporate Governance a. Transparansi b. Akuntabilitas c. Pertanggung d. jawaban e. Kemandirian f. Kewajaran g.
Tabel 2.1 (Lanjutan)
No Penulis Judul Variabel/Dimensi Penelitian Hasil
Variabel Penelitian Sekarang 3 Megasa ri Pertiwi (2015) Skripsi Pengaruh Profesiona lisme Satuan Pengawas Intern Terhadap Implement asi Good Corporate Governan ce 1. Profesionalisme Satuan Pengawas Intern
a. Pelayanan kepada publik b. Pelatihan khusus berjangka
panjang
c. Taat pada kode etik
d. Menjadi anggota asosiasi dan menghadiri pertemuan-pertemuan
e. Pengujian pengetahuan para kandidat auditor internal bersertifikat
f. Lisensi oleh negara atau sertifikasi oleh dewan g. Keahlian dan kecermatan
profesional
2. Good Corporate Governance a. Transparansi b. Kemandirian c. Akuntabilitas d. Pertanggung jawaban e. Kewajaran Hasil menunjukan bahwa Profesionali sme Satuan Pengawas Intern berpengaruh terhadap Good Corporate Governance 1. Kompetensi Auditor Internal a.Pengetahuan b.Keterampilan c.Pengalaman 2. Good Corporate Governance a.Transparansi b.Akuntabilitas c.Pertanggung d.jawaban e.Kemandirian f.Kewajaran 4 Indah Ratnasa ri (2015) Skripsi Pengaruh Audit Internal Terhadap Penerapan Good Corporate Governan ce 1. Audit Internal a. Independensi b. Kemampuan Profesional c. Lingkup Pekerjaan d. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan
e. Manajemen Bagian Audit Internal 2. Good Corporate Governance a. Transparansi b. Akuntabilitas c. Tanggung Jawab d. Kemandirian e. Kewajaran Hasil menunjukan bahwa audit internal berpengaruh signifikan terhadap Good Corporate Governance 1. Kompetensi Auditor Internal a.Pengetahuan b.Keterampilan c.Pengalaman 2. Good Corporate Governance f.Transparansi a.Akuntabilitas b.Pertanggung c.jawaban d.Kemandirian e.Kewajaran Sumber : Data Diolah
2.6 Kerangka Pemikiran
Krisis moneter yang terjadi di Asia Tenggara sekitar tahun 1997 termasuk di negara Indonesia menjadikan Corporate Governance menjadi isu penting di kalangan eksekutif, Non Government Organization (NGO), konsultan korporasi, akademisi, dan pembuat kebijakan (pemerintah) di berbagai belahan dunia. Dari hal tersebut mengakibatkan operasi perusahaan tersendat, nilai hutang usaha swasta dan pemerintah membengkak dan investor asing maupun perusahaan asing enggan masuk ke Indonesia, dan banyaknya perusahaan yang mengalami kebangkrutan. Penyebab terbesar kebangkrutan tersebut adalah pengelolaan perusahaan yang buruk. Krisis yang melanda Indonesia ini tidak lepas dari pengaruh lemahnya penerapan Good Corporate Governance (Sedarmayanti, 2012:50).
Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER – 01/MBU/2011 tentang penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) menyatakan bahwa BUMN wajib menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten dan berkelanjutan dengan berpedoman pada Peraturan Menteri ini dengan tetap memperhatikan ketentuan, dan norma yang berlaku serta anggaran dasar BUMN. Good Corporate Governance adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha. Dalam hal ini Good Corporate Governance memiliki lima prinsip yang meliputi : Transparansi (transparency), Akuntabilitas (accountability), Pertanggungjawaban
(responsibility), Kemandirian (independency), Kewajaran (fairness). (Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER – 01/MBU/2011).
Dalam mencapai Good Corporate Governance dibutuhkan suatu sistem yang menunjang tercapainya Good Corporate Governance diantaranya adalah audit internal. Audit internal adalah kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif, yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian dan proses governance (SPAI, 2014:9).
Menurut Undang-undang RI Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara menyatakan bahwa pada setiap BUMN dibentuk audit internal atau Satuan Pengawasan Intern sebagai alat Good Corporate Governance yang merupakan aparat pengawas intern perusahaan yang dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada Direktur Utama.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka penelitian dapat digambarkan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut: (Gambar 2.1)
Gambar 2.1 Paradigma Penelitian 2.7 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara terhadap suatu masalah yang dihadapi, masih yang akan diuji kebenarannya lebih lanjut melalui analisis data yang relevan dengan masalah yang terjadi. Hipotesis penelitian ini adalah kompetensi auditor internal berpengaruh terhadap penerapan Good Corporate Governance pada BUMN yang berkantor pusat di Kota Bandung. Berdasarkan penjelasan dari kerangka penelitian, maka hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah :
Ho = 0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari audit internal terhadap Penerapan Good Corporate Governance.
H1 ≠ 0 : Terdapat pengaruh yang signifikan dari audit internal terhadap Penerapan Good Corporate Governance.
Audit Internal (X) Indikator : 1. Independensi 2. Kemampuan Profesional 3. Lingkup Pekerjaan 4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Good Corporate Governance (Y) Indikator : 1. Transparansi (transparency) 2. Akuntabilitas (accountability) 3. Pertanggungjawaban (responsibility) 4. Kemandirian (independency) 5. Kewajaran (fairness)