BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
A.
A. Latar BelakangLatar Belakang Menurut t
Menurut teori keperawatan, sehat dan sakit jieori keperawatan, sehat dan sakit jiwa merupakan suatu rentangan yang sangatwa merupakan suatu rentangan yang sangat dinamis dari kehi
dinamis dari kehidupan seseorang. Penyakit kritis dan terminal sangat besar peranyadupan seseorang. Penyakit kritis dan terminal sangat besar peranya terhadap psikologis seseorang yang
terhadap psikologis seseorang yang mengalaminya. Penyakit kritis dan terminal sangat kecilmengalaminya. Penyakit kritis dan terminal sangat kecil persentase unt
persentase untuk hidup oleh sebauk hidup oleh sebab itu psikologib itu psikologis penderita kebanyakan mengalamis penderita kebanyakan mengalami ketidakseimbangan.
ketidakseimbangan.
Pada penderita penyakit k
Pada penderita penyakit kritis dan tritis dan terminal erminal dapat mdapat menimbulkan respon Bio-psiko-Sosio danenimbulkan respon Bio-psiko-Sosio dan Spiritual ini akan meliputi respon kehilangan : Kehilangan Kesehatan, Kehilangan
Spiritual ini akan meliputi respon kehilangan : Kehilangan Kesehatan, Kehilangan
Kemandirian, Kehilangan Situasi, Kehilangan Rasa Nyaman dll. Dan keadaan tersebut dapat Kemandirian, Kehilangan Situasi, Kehilangan Rasa Nyaman dll. Dan keadaan tersebut dapat memper
memperburuk status kesehatan kliburuk status kesehatan klien.en. Perawat adalah profesi yang di
Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan indivifokuskan pada perawatan individu, keluarga, dan masyarakatdu, keluarga, dan masyarakat sehingga
sehingga mereka dapat mencapai, mempertmereka dapat mencapai, mempertahankan, atau memulihkan ahankan, atau memulihkan kesehatan yangkesehatan yang optimal dan kualitas hidup dari l
optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai mati. Bagaimana peran perawat dalamahir sampai mati. Bagaimana peran perawat dalam menangani pasie
menangani pasien yang sedang menghadapi n yang sedang menghadapi proses sakaratul mautproses sakaratul maut?? Peran perawat sangat konprehensif dalam menangani pasi
Peran perawat sangat konprehensif dalam menangani pasi en karena peran perawat adalahen karena peran perawat adalah membimbing rohani pasien yang merupakan bagian in
membimbing rohani pasien yang merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan kesehatantegral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya memenuhi kebutuhan biologis-psikologis-sosiologis-spritual (APA, 1992 ),
dalam upaya memenuhi kebutuhan biologis-psikologis-sosiologis-spritual (APA, 1992 ), karena pada dasarnya setiap diri manusia
karena pada dasarnya setiap diri manusia terdapat kterdapat kebutuhan dasar spiritual ( Basiebutuhan dasar spiritual ( Basic spiritualc spiritual needs, Dadang Hawari, 1999 ). Pentingnya bimbingan spi
needs, Dadang Hawari, 1999 ). Pentingnya bimbingan spi ritual dalam kesehatan telahritual dalam kesehatan telah
menjadi ketetapan WHO yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah menjadi ketetapan WHO yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari peng
satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984).ertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984).
Sebagai perawat tidak lepas dengan masalah yang harus diselesaikan oleh peran perawat Sebagai perawat tidak lepas dengan masalah yang harus diselesaikan oleh peran perawat baik secara indepen
baik secara independen maupun dependen, sebagai den maupun dependen, sebagai contoh masalah secara umum yangcontoh masalah secara umum yang biasa di hadapi adalah Klien tidak dapat mengidentifikasi respon pengingkaran terhadap biasa di hadapi adalah Klien tidak dapat mengidentifikasi respon pengingkaran terhadap kenyataan. Klien tidak dapat mengidentifikasi
kenyataan. Klien tidak dapat mengidentifikasi perasaan cemas, Klien tidak mau membinaperasaan cemas, Klien tidak mau membina hubungan dengan kel
hubungan dengan keluarga dan petugas, Klien tidak dapat menerima ruarga dan petugas, Klien tidak dapat menerima realiealitas/tas/keadaan dirinyakeadaan dirinya saat
saat ini dllini dll..
Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus menunjukkan sikap professional Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus menunjukkan sikap professional dandan tulus dengan pendekatan yang baik pada saat pasien mengalami fase pengingkaran perawat tulus dengan pendekatan yang baik pada saat pasien mengalami fase pengingkaran perawat harus dapat m
harus dapat menghadirkan fakta. enghadirkan fakta. Kesadaran diri yang kuat dan perilaku yang iKesadaran diri yang kuat dan perilaku yang i deal dipdeal diperlukanerlukan perawat dalam terapi.
perawat dalam terapi. B.
B. Rumusan MasalahRumusan Masalah
Untuk memudahkan pembaca memaham
Untuk memudahkan pembaca memahami makalah i makalah ini, maka kami akan ini, maka kami akan membatmembatasiasi pembahasan dalam makalah yang sederhana ini. Sehi
pembahasan dalam makalah yang sederhana ini. Sehingga maksud dan tujuan kami sampaingga maksud dan tujuan kami sampai kepada pembaca. Adapun batasan masalah yang akan kami paparkan m
kepada pembaca. Adapun batasan masalah yang akan kami paparkan melipueliputi definisi dariti definisi dari penyakit kritis dan term
penyakit kritis dan terminalinal, bagaimana psikodin, bagaimana psikodinamika penyakit kritis dan terminal, apa sajaamika penyakit kritis dan terminal, apa saja macam t
macam tingkat kesadaran/pengertian pasien dan ingkat kesadaran/pengertian pasien dan keluarganya terhadap kematian dankeluarganya terhadap kematian dan
bagaimana proses asuhan keperawatan yang ditujukan untuk klien yang mengalami penyaki bagaimana proses asuhan keperawatan yang ditujukan untuk klien yang mengalami penyaki tt kritis dan terminal.
kritis dan terminal.
C.
a.
a. Tujuan Tujuan UmumUmum
Mahasiswa mampu menerapkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan Asuhan Mahasiswa mampu menerapkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Penyakit Kritis dan Terminal.
Keperawatan Pada Klien dengan Penyakit Kritis dan Terminal. b.
b. Tujuan Tujuan KhususKhusus Dengan makalah i
Dengan makalah ini dihani diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan dan memahami tentrapkan mahasiswa dapat menjelaskan dan memahami tentang:ang: 1.
1. Konsep dasar Konsep dasar penyakit krpenyakit kritis dan titis dan terminalerminal 2.
2. PsikodiPsikodinamika namika penyakit penyakit kritis kritis dan tdan teminal.eminal. 3.
3. Macam Macam tingkat kesadartingkat kesadaran/pengertian pasien dan keluarganya terhadap kan/pengertian pasien dan keluarganya terhadap kematianematian 4.
4. Asuhan keperawatan kAsuhan keperawatan klien dengan penyakit kritis lien dengan penyakit kritis dan tdan terminalerminal
D.
D. Metode PenulisanMetode Penulisan Penul
Penulisan ini isan ini menggunakan metode stmenggunakan metode studi pustaka yang diperoleh dari buku-bukuudi pustaka yang diperoleh dari buku-buku perpustakaan dan i
perpustakaan dan internetnternet..
BAB II BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN A.
A. Penyakit TerminalPenyakit Terminal Kondisi
Kondisit tt terminal adalah suatu proses yang progresif merminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian berjalan melaenuju kematian berjalan melalui suatului suatu tahapan proses penurunan f
tahapan proses penurunan fisik, psikososial isik, psikososial dan spiritual bagi dan spiritual bagi indiviindividu (Carpenito, 1995).du (Carpenito, 1995). Perawatan term
Perawatan terminal dainal dapat dimulai pada minggu-minggu, hari-hari dan jaminan terakhir pat dimulai pada minggu-minggu, hari-hari dan jaminan terakhir kehidupan dimana bertujuan:
kehidupan dimana bertujuan: 1.
1. MemperMempertahankan tahankan hiduphidup 2.
2. MenurunkaMenurunkan n stressstress 3.
3. Meringankan dan mMeringankan dan mempertahankan empertahankan kenyamanan selama mkenyamanan selama mungkin (Weisman)ungkin (Weisman)
Secara umum kematian adalah sebagian proses dari kehidupan yang dialami oleh siapa Secara umum kematian adalah sebagian proses dari kehidupan yang dialami oleh siapa sa
tidak hanya pasien akan juga keluarganya bahkan pada mereka yang merawat dan mengurusnya.
Penderita yang akan meninggal tidak akan kembali lagi ke tengah keluarga, kenyataan ini sangat berat bagi keluarga yang akan ditinggalkannya Untuk menghindari hal diatas
bukan hanya keluarganya saja yang berduka bahkan klien lebih tertekan dengan penyakit yang dideritanya.
1. Jenis-Jenis Penyakit Terminal
Adapun yang dapat dikategorikan sebagai penyakit terminal adalah:
1. Penyakit kronis seperti TBC, Pneumonia, Edema Pulmonal,Sirosis Hepatis, 2. Penyakit Ginjal Kronis, Gagal Jantung dan Hipertensi
3. Kondisi Keganasan seperti kanker otak, kanker paru-paru, kanker pankreas, kanker liver, leukemia
4. Kelainan Syaraf seperti Paralise, Stroke, Hydrocephalus dll 5. Keracunan seperti keracunan obat, makanan, zat kimia
6. Kecelakaan/Trauma seperti Trauma Kapitis, Trauma Organ Vital (Paru-Paru atau jantung) ginjal, dll.
2. Manifestasi Klinik Fisik
a. Gerakan pengindaran menghilang secara berangsur-angsur dimulai dari ujung kaki dan ujung jari.
b. Aktivitas dari GI berkurang. c. Reflek mulai menghilang.
d. Suhu klien biasanya tinggi tapi merasa dingin dan lembab terutama pada kaki dan tangan dan ujung-ujung ekstremitas.
e. Kulit kelihatan kebiruan dan pucat f. Denyut nadi tidak teratur dan lemah. g. Nafas berbunyi, keras dan cepat ngorok. h. Penglihatan mulai kabur.
i. Klien kadang-kadang kelihatan rasa nyeri. j. Klien dapat tidak sadarkan diri.
Psikososial
Sesuai dengan fase-fase kehilangan menurut seorang ahli E. Kuber Ross mempelajari respon-respon atas menerima kematian dan maut secara mendalam dari hasil
penyelidikan/penelitiannya yaitu: a. Respon kehilangan
Rasa takut diungkapkan dengan ekspresi wajah (air muka), ketakutan, cara tertentu untuk mengulurkan tangan.
Cemas diungkapkan dengan cara menggerakkan otot rahang dan kemudian mengendor. Rasa sedih diungkapkan dengan mata setengah terbuka atau menanggis.
b. Hubungan dengan orang lain
Kecemasan timbul akibat ketakutan akan ketidak mampuan untuk berhubungan secara interpersonal serta akibat penolakan.
3. Fase-Fase Kehilangan dan respon cemas yang berhubungan dengan penyakit terminal
Masuknya klien ke dalam ancaman peran sakit pada rentang hidup-mati mengamcam dan mengubah hemostatis. Lebih dari rasa takut yang nyata tentang kematian dan pengaruh terhadap anggota keluarga yang dirawat dirasakan oleh keluarga. Banyak faktor yang mempengaruhi klien dalam perawatan penyakit terminal, apabila
seseorang sudah divonis/prognosa jelek, ia tiak akan bisa menerima begitu saja tentang apa yang ia hadapi sekarang.
Elizabeth Kubbler Ross menggambarkan 5 tahap yang akan dilalui klien dalam menghadapi bayangan akan kematian/kehilangan yang sangat bermanfaat untuk memahami kondisi klien pada saat ini, yaitu:
a. Tahap pengingkaran atau denial
Tahap peningkatan atau denital adalah ketidakmampuan menerima, kehilangan untuk membatasi atau mengontrol nyeri dan dystress dalam menghadapinya. Gambaran pada tahap denial yaitu:
Tidak percaya diri Shock
Mengingkari kenyataan akan kehilangan Selalu membantah dengan perkataan baik Diam terpaku
Binggung, gelisah
Lemah, letih, pernafasan, nadi cepat dan berdebar-debar Nyeri tubuh, mual
b. Tahap anger atau marah
Tahap anger atau marah adalah kekesalan terhadap kehilangan. Gambaran pada tahap anger yaitu:
Klien marah-marah Nada bicara kasar Suara tinggi
Tahap tawar menawar atau bargaining adalah cara coping dengan hasil-hasil yang mungkin dari penyakit dan menciptakan kembali tingkat kontrol. Gambaran pada tahap ini yaitu:
Sering mengungkapkan kata-kata kalau, andai. Sering berjanji pada Tuhan.
Mempunyai kesan mengulur-ulur waktu. Merasa bersalah terus menerus.
Kemarahan mereda.
d. Tahap depresi
Tahap depresi adalah ketiada usaha apapun untuk mengungkapkan perasaan atau reaksi kehilangan. Gambaran pada tahap ini yaitu:
Klien tidak banyak bicara. Sering menanggis.
Putus asa.
e. Tahap acceptance atau menerima
Tahap acceptance atau menerima adalah akhir kli en dapat menerima kenyataan dengan kesiapan. Gambaran pada tahap ini yaitu:
Tenang/damai.
Mulai ada perhatian terhadap suatu objek yang baru. Berpartisipasi aktif.
Tidak mau banyak bicara. Siap menerima maut.
Tidak semua orang dapat melampaui kelima tahap tersebut dengan baik, dapat saja terjadi, ketidakmampuan menggunakan adaptasi dan timbul bentuk-bentuk reaksi lain. Jangka waktu periode tahap tersebut juga sangat individual.
Penerimaan suatu prognosa penyakit terminal memang berat bagi setiap indivi du. Ini merupakan suatu ancaman terhadap kehidupan dan kesejahteraan pada individu tersebut. Dari ancaman tersebut timbul suatu rentang respon cemas pada indivi du, cemas dapat dipandang suatu keadaan ketidakseimbangan atau ketegangan yang cepat mengusahakan koping.
Rentang respon seseorang terhadap penyakit terminal dapat digambarkan dalam suatu rentang yaitu harapan, ketidakpastian dan putus asa.
a. Harapan
Mempunyai respon psikologis terhadap penyakit terminal. Dengan adanya
harapan dapat mengurangi stress sehingga klien dapat menggunakan koping yang adekuat.
b. Ketidakpastian
Penyakit terminal dapat mengakibatkan ketidakpastian yang disertai dengan rasa tidak aman dan putus asa, meskipun secara medis sudah dapat dipastikan
akhirnya prognosa dapat mempercepat klien masuk dalam maladaptif.
c. Putus asa
Biasanya ditandai dengan kesedihan dan seolah-olah tidak ada lagi upaya yang dapat berhasil untuk mengobati penyakitnya. Dalam kondisi ini dapat membawa klien merusak atau melukai diri sendiri
4. Bantuan yang dapat diberikan oleh perawat a. Bantuan emosional
Pada Fase Denial
Perawat perlu waspada terhadap isyarat pasien dengan denial dengan cara mananyakan tentang kondisinya atau prognosisnya dan pasi en dapat
mengekspresikan perasaan-perasaannya. Pada Fase Marah
Biasanya pasien akan merasa berdosa telah mengekspresikan perasaannya yang marah. Perawat perlu membantunya agar mengerti bahwa masih me rupakan hal yang normal dalam merespon perasaan kehilangan menjela ng kamatian. Akan lebih baik bila kemarahan ditujukan kepada perawat sebagai orang yang dapat dipercaya, memberikan ras aman dan akan menerima
kemarahan tersebut, serta meneruskan asuhan sehingga membantu pasien dalam menumbuhkan rasa aman
Pada Fase Tawar Menawar
Pada fase ini perawat perlu mendengarkan segala kelu hannya dan mendorong pasien untuk dapat berbicara karena akan mengurangi rasa bersalah dan takut yang tidak masuk akal
Pada Fase Depresi
Pada fase ini perawat selalu hadir di dekatnya dan mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh pasien. Akan lebih baik jika berkomunikasi secara non verbal yaitu duduk dengan tenang disampingnya dan mengamati reaksi-reaksi non verbal dari pasien sehingga menumbuhkan rasa aman bagi pasien.
Pada Fase Penerimaan
Fase ini ditandai pasien dengan perasaan tenang, damai. Kepada keluarga dan teman-temannya dibutuhkan pengertian bahwa pasien telah menerima
keadaanya dan perlu dilibatkan seoptimal mungkin dalam program pengobatan dan mampu untuk menolong dirinya sendiri sebatas kemampuannya.
b. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Fisiologis Kebersihan Diri
Kebersihan dilibatkan agar mampu melakukan kerbersihan diri sebatas kemampuannya dalam hal kebersihan kulit, rambut, mulut, badan, dsbg. Mengontrol Rasa Sakit
Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada kli en dengan sakit terminal, seperti morphin, heroin, dsbg. Pemberian obat ini di berikan sesuai dengan tingkat toleransi nyeri yang dirasakan klien. Obat-obatan lebih baik diberikan Intra Vena dibandingkan melalui Intra Muskular/Subcutan, karena kondisi system sirkulasi sudah menurun.
Membebaskan Jalan Nafas
Untuk klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan lebih baik dan
pengeluaran sekresi lendir perlu dilakukan untuk membebaskan jalan nafas, sedangkan bagi klien yang tida sadar, posisi yang baik adalah posisi sim dengan dipasang drainase dari mulut dan pemberian oksigen
Bergerak
Apabila kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu untuk bergerak, seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi tidur untuk mencegah decubitus dan
dilakukan secara periodik, jika diperlukan dapat digunakan alat untuk menyokong tubuh klien, karena tonus otot sudah menurun
Nutrisi
Klien seringkali anorexia, nausea karena adanya penurunan peristaltik. Dapat diberikan annti ametik untuk mengurangi nausea dan merangsang nafsu makan serta pemberian makanan tinggi kalori dan protein serta vitamin. Karena terjadi tonus otot yang berkurang, terjadi dysphagia, perawat perlu menguji reflek
menelan klien sebelum diberikan makanan, kalau perlu diberikan makanan cair atau Intra Vena/Invus.
Eliminasi
Karena adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat terjadi konstipasi, inkontinen urin dan feses. Obat laxant perlu diberikan untuk mencegah
konstipasi. Klien dengan inkontinensia dapat diberikan urinal, pispot secara teratur atau dipasang duk yang diganjti setiap saat atau dilakukan kateterisasi. Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar perineum, apabila terjadi lecet, harus diberikan salep
Perubahan Sensori
Klien dengan dying, penglihatan menjadi kabur, klien biasanya
menolak/menghadapkan kepala kearah lampu/tempat terang. Klien masih dapat mendengar, tetapi tidak dapat/mampu merespon, perawat dan keluarga harus bicara dengan jelas dan tidak berbisik-bisik.
c. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Sosial
Klien dengan dying akan ditempatkan diruang isolasi, dan untuk memenuhi kebutuhan kontak sosialnya, perawat dapat melakukan:
Menanyakan siapa-siapa saja yang ingin didatangkan untuk bertemu dengan klien dan didiskusikan dengan keluarganya, misalnya: teman-teman dekat, atau anggota keluarga lain.
Menggali perasaan-perasaan klien sehubungan dengan sakitnya dan perlu diisolasi. Menjaga penampilan klien pada saat-saat menerima kunjungan kunjungan teman-teman terdekatnya, yaitu dengan memberikan klien untuk membersihkan diri dan merapikan di ri. Meminta saudara/teman-temannya untuk sering mengunjungi dan mengajak orang lain dan membawa buku-buku bacaan bagi klien apabila klien mampu membacanya.
d. Bantuan memenuhi kebutuhan spiritual
Menanyakan kepada klien tentang harapan-harapan hidupnya dan rencana-rencana klien selanjutnya menjelang kematian.
Menanyakan kepada klien untuk mendatangkan pemuka agama dalam hal untuk memenuhi kebutuhan spiritual.
Membantu dan mendorong klien untuk melaksanakan kebutuhan spiritual sebatas kemampuannya.
B. Penyakit Kritis
Kritis adalah penilaian dan evaluasi secara cermat dan hati-hati terhadap suatu kondisi krusial dalam rangka mencari penyelesaian/jalan keluar atau suatu keadaan penyakit kritis dimana memungkinkan sekali klien meninggal, Misalnya Gangguan kesadaran (koma, meninggal), keadaan hampir meninggal /sakaratul maut, kanker stadium lanjut. Keperawatan kritis adalah merupakan salah satu spesialisasi di bidang keperawatan yang secara khusus menangani respon manusia terhadap masalah yang mengancam hidup.
Perawat kritis adalah perawat profesional yang bertanggung jawab untuk menjamin pasien yang kritis dan akut beserta keluarganya mendapatkan pelayanan keperawatan yang optimal.
Respon Klien terhadap penyakit kritis dan terminal.
Penyakit kronik dan keadaan terminal dapat menimbulkan respon Bio-Psiko-Sosial-Spiritual ini akan meliputi respon kehilangan:
a. Kehilangan Kesehatan
Klien merasa takut, cemas dan pandangan tidak realistis, aktifitasnya terbatas. b. Kehilangan Kemandirian
Ditunjukkan melalui berbagai perilaku, bersifat kekanak-kanakan, ketergantungan. c. Kehilangan Situasi
Klien merasa kehilangan situasi yang dinikmati sehari-hari bersama keluarga / kelompoknya.
e. Kehilangan Rasa Nyaman
Gangguan rasa nyaman muncul sebagai akibat gangguan fungsi tubuh seperti : panas, nyeri, dll.
f. Kehilangan Fungsi Fisik
Contoh : klien gagal ginjal harus dibantu melalui haeimodialisa. g. Kehilangan Fungsi Mental
Klien mengalami kecemasan dan depresi, tidak dapat berkonsentrasi dan berfikir efisien sehingga klien tidak dapat berfikir secara rasional.
h. Kehilangan Konsep Diri
Klien dengan penyakit kronik merasa dirinya berubah mencakup bentuk dan fungsi tubuh sehingga klien tidak dapat berfikir secara rasional (body image) peran serta
identitasnya. Hal ini akan mempengaruhi idealisme diri dan harga diri menjadi rendah.
i. Kehilangan peran dalam kelompok dan keluarga
C. Psikodinamika penyakit kritis dan teminal. 1. Dinamika Individu
a. Protes dan pengingkaran
Pada fase ini klien mengekspresikan rasa tidak percaya pada kenyataan “mengapa kejadian ini menimpa saya?”
Pada fase ini terjadi proses perubahan konsep diri, ini terjadi selama kondisi klien dalam keadaan stress tetapi Setelah keadaan ini berlalu klien mulai masuk
kedalam fase berikutnya.
b. Depresi cemas dan marah
Pada fase ini emosi klien mulai meningkat. Depresi, cemas dan marah muncul ketika klien tidak mampu mengatasi masalahnya dan merasa tidak berdaya “bagaimana mengatasi masalah ini?” .
Manifestasi depresi : sedih, kadang-kadang menangis, bingung ketergantungan, tidak dapat mengambil keputusan, tidak punya harapan. Kecemasan yang diala mi pasien dialihkan menjadi kemarahan yang diproyeksikan pada diri sendiri,
keluarga dan petugas.
c. Pelepasan dan reinvestasi
Klien mulai mengidentifikasi peningkatan keadaan cemas, depresi dan perasaan marahnya. Klien mulai mengumpulkan kekuatan yang dimili ki untuk mengurangi respon yang memperberat keadaan stress, apabila penyakit ini terjadi progressif fase ini akan berlangsung siklik.
Disini klien mulai ada kerja sama. Klien mulai melepaskan dari obyek yang hilang, mulai membina hubungan dan penyesuaian diri terhadap realita.
2. Dinamika keluarga
Respon keluarga bersama dengan respon emosi klien : pengingkaran, marah, cemas dan depresi.
3. Dinamika lingkungan
Dengan kesadaran bervariasi menimbulkan dinamika bagi klien STIGMA SOSIAL ketidakmampuan melakukan aktivitas sosial perubahan peran dalam kelompok sosial merupakan hambatan dalam melaksanakan fungsi sosial secara normal.
D. Macam Tingkat kesadaran/pengertian pasien dan keluarganya terhadap kematian Strause et all (1970), membagi kesadaran ini dalam 3 tipe:
1. Closed Awareness/Tidak Mengerti
Pada situasi seperti ini, dokter biasanya memilih untuk tidak memberitahukan tentang diagnosa dan prognosa kepada pasien dan keluarganya. Tetapi bagi perawat hal ini sangat menyulitkan karena kontak perawat lebih dekat dan sering kepada pasien dan keluarganya. Perawat sering kal dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan
langsung, kapan sembuh, kapan pulang, dsbg.
2. Matual Pretense/Kesadaran/Pengertian yang Ditutupi
Pada fase ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk menentukan segala sesuatu yang bersifat pribadi walaupun merupakan beban yang berat baginya 3. Open Awareness/Sadar akan keadaan dan Terbuka
Pada situasi ini, klien dan orang-orang disekitarnya mengetahui akan adanya ajal yang menjelang dan menerima untuk mendiskusikannya, walaupun di rasakan getir. Keadaan ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk berpartisipasi dalam merencanakan saat-saat akhirnya, tetapi tidak semua orang dapat melaksanaan hal tersebut.
]
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PENYAKIT KRITIS DAN TERMINAL
A. Pengkajian
Pengkajian pada klien yang sakit terminal, meliputi : 1. Pengkajian Tingkat Kesadaran
a. Closed Awareness
Suatu keadaan dimana klien dan keluarga tidak sadar akan kemungkinan kematian, tidak dapat mengerti mengapa kli en sakit dan mereka yakin akan sembuh.
Suatu kondisi dimana klien, keluarga dan tenaga kesehatan telah mengetahui prognosis penyakit dalam keadaan terminal, namun mereka berusaha untuk tidak membicarakan atau menyinggung tentang penyakitnya.
c. Open Awarenes
Suatu keadaan dimana klien dan orang sekitarnya mengetahui akan adanya kematian dan merasa tenang untuk mendiskusikannya walaupun itu dirasakan sulit, pada keadaan ini klien diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam menentukan saat terakhirnya.
Pengkajian yang harus dilakukan dari tingkat kesadaran ini, adalah : 1. Kaji apakah klien dan keluarga sadar bahwa klien dalam keadaan terminal? 2. Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien dan keluarga dalam tingkatan closed
awareness, mutual pretense, open awareness
3. Kaji dalam tahap manakah pada proses kematian tersebut?
4. Kaji support sistem klien, misalnya keluarga atau orang terdekat?
5. Apakah klien masih mengekspresikan sesuatu yang belum diselesaikan, finansial, emosional, legal?
6. Apakah koping yang positif pada klien?
2. Pengkajian Tanda – Tanda Klinis Menjelang Kematian Tanda klinis menjelang kematian adalah :
a. Kehilangan tonus otot, sehingga terjadi :
Relaksasi otot muka, sehingga dagu menjadi turun.
Kesulitan dalam berbicara, proses menelan, hilangnya reflek menelan. Gerakan tubuh yang terbatas (tidak mampu bergerak).
Penurunan kegiatan GI Tract seperti nausea, vomiting, perut kembung, konstipasi. Penurunan kontrol spinkter urinari dan rectal.
b. Kelambatan dalam sirkulasi, berupa : Kemunduran dalam sensasi.
Sianosis pada daerah ekstrimitas.
Kulit dingin, mula-mula daerah kaki, tangan, telinga dan kemudian hidung. c. Perubahan – perubahan tanda – tanda vital berupa :
Nadi lambat dan lemah (saat ajal nadi cepat dan kecil).
Penurunan tekanan darah (saat ajal tekanan darah sangat rendah). Pernafasan cepat, dangkal, tidak teratur atau pernafasan dengan mulut. d. Gangguan sensori berupa :
Penglihatan kabur (saat ajal pupil melebar). Gangguan dalam penciuman dan perabaan.
Pupil melebar, tidak mampu bergerak, kehilangan refleks – refleks, nadi cepat dan kecil, pernafasan cheyne stokes dan ngorok, tekanan darah sangat rendah, mata dapat tertutup dan agak terbuka.
4. Pengkajian Tanda – Tanda Mati Secara Klinis:
Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total, tidak adanya gerakan dari otot khususnya pernafasan, tidak ada refleks, gambaran mendatar pada EKG.
5. Pengkajian Individu atau Anggota Keluarga Pada Saat Klien Dengan Dying: a. Reaksi kehilangan, ditandai dengan dada merasa tertekan, bernafas pendek dan rasa
tercekik.
b. Faktor yang mempengaruhi terhadap reaksi kehilangan :
Arti dari kehilangan yang tergantung kepada persepsi individu tentang pengalaman kehilangan.
Umur berpengaruh terhadap tingkat pengertian dan reaksi terhadap kehil angan serta kematian.
Kultur pada setiap suku/bangsa terhadap kehilangan berbeda-beda.
Keyakinan spiritual, anggota keluarga dengan sakaratul maut melakukan praktek spiritual dengan tata cara yang dilakukan sesuaI dengan agama dan keyaki nannya.
Peranan seks, untuk laki-laki diharapkan kuat dan tidak memperlihatkan kesedihan dan perempauan dianggap wajar atau dibolehkan untuk mengekspresikan perasaannya atau kesedihannya (menangis) sepanjang tidak mengganggu lingkungan sekitar (menangis dengan meraung – raung atau merusak).
Status sosial ekonomi, berpengaruh terhadap sistem penunjang, sehingga akan berpengaruh pula terhadap rekasi kehilanga akibat adanya kematian.
6. Pengkajian Terhadap Reaksi Kematian dan Kehilangan, Berduka Cita: a. Karakteristik dari duka cita :
Individu mengalami kesedihan dan merupakan reaksi dari shock dan keyakinannya terhadap kehilangannya.
Merasa hampa dan sedih.
Ada rasa ketidak nyamanan, misalnya rasa tercekik dan tertekan pada daerah dada. Membayangkan yang telah meninggal, merasa berdosa.
Ada kecenderungan mudah marah. b. Tingkatan dari duka cita :
Shock dan ketidak yakinan, karena salah satu anggota keluarga akan meninggal, bahkan menolak seolah-olah masih hidup.
Berkembangnya kesadaran akan kehilangan dengan perilaku sedih, marah pada diri sendiri atau pada orang lain.
Pemulihan, dimana individu sudah dapat menerima dan mau mengikuti upacara keagamaan berhubungan dengan kematian.
Mengatasi kehilangan yaitu dengan cara mengisi kegiatan sehari – hari atau berdiskusi dengan orang lain mengenai permasalahannya.
masih hidup dan berusaha menekan segala kejelekan dari almarhum.
Keberhasilan, tergantung dari seberapa jauh menilai dari obyek yang hilang, tingkat ketergantungan kepada orang lain, tingkat hubungan sosial dengan orang lain dan banyaknya pengalaman kesedihan yang pernah dialami.
B. Diagnosa keperawatan
1. Ansietas/ ketakutan individu dan keluarga, yang berhubungan diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup
2. Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang la in
3. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan
keluarga,takut akan hasil ( kematian ) dengan lingkungnnya penuh dengan stres ( tempat perawatan )
4. Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dal am menghadapi ancaman kematian
Secara umum kriteria hasil yang diharapkan pada pasien dengan penyakit kritis dan terminal adalah sebagai berikut:
1. Klien atau keluarga akan :
a. Mengungkapkan ketakutan yang berhubungan dengan gangguan
b. Menceritakan pikiran tentang efek gangguan pada fungsi normal , tanggung jawab peran dan gaya hidup
2. Klien akan :
a. Mengungkapkan kehilangan dan perubahan
b. Mengungkapkan perasaan yang berkaitan kehilang dan perubahan c. Menyatakan kematian akan terjadi
3. Anggota keluarga akan melakukan hal berikut :
Mempertahankan hubunag erat yang efektif, yang dibuktikan dengan cara berikut: a. Menghabiskan waktu bersama klien
b. Memperthankan kasih sayang , komunikasi terbuka dengan klien c. Berpartisipasi dalam perawatan
4. Anggota keluarga atau kerabat terdekat akan:
a. Mengungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien
b. Mengungkapkan kekawtirannnya mengenai lingkungan tempat perawatan
c. Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selama perawatan klien
5. Klien akan mempertahankan praktik spritualnuya yang akan mempengaruhi penerimaan terhadap ancaman kematian
Tujuan :
1. Klien dapat mengidentifikasi respon pengingkaran terhadap kenyataan 2. Klien dapat mengidentifikasi respon pengingkaran terhadap kenyataan
3. Klien dapat mengidentifikasi perasaan cemas klien mau membina hubungan dengan keluarga dan petugas
4. Klien dapat menerima realitas/keadaan dirinya saat ini
5. Menghilangkan atau mengurangi rasa kesendirian, takut dan depresi 6. Mempertahankan rasa aman, harkat dan rasa berguna
7. Membantu klien menerima rasa kehilangan 8. Membantu kenyamanan fisik
9. Mempertahankan harapan (faith and hope)
No Dx Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Klien atau keluarga akan : 1. Mengungkapkan
1. Bantu klien untuk mengurangi
ansietasnya :
Berikan kepastian dan kenyamanan
Tunjukkan perasaan tentang pemahman dan empti, jangan menghindari
pertanyaan
Dorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan pengobtannya Identifikasi dan dukung mekaniosme koping efektif
R/ Klien yang cemas mempunyai penyempitan lapang persepsi denagn penurunan kemampuan untuk belajar. Ansietas cendrung untuk
memperburuk masalah. Menjebak klien pada lingkaran peningkatan
ansietas tegang, emosional dan nyeri fisik
1 ketakutannya yang berhubungan dengan gangguan 2. Menceritakan tentang efek gangguan pada fungsi normal, tanggungn jawab, peran dan gaya hidup
2. Kaji tingkat ansietas klien : rencanakan pernyuluhan bila
tingkatnya rendah atau sedang Beberapa rasa takut didasari oleh informasi yang tidak akurat dan dapat dihilangkan denga memberikan informasi akurat.
3. Dorong keluarga dan teman untuk
mengungkapkan ketakutan-ketakutan mereka
4. Berikan klien dan keluarga kesempatan dan penguatan koping positif
R/ Klien dengan ansietas berat atauparah tidak menyerap pelajaran
R/ Pengungkapan memungkinkan untuk saling berbagi dan
memberiakn kesempatan untuk memperbaiki konsep yang tidak benar
R/ Menghargai klien untuk koping efektif dapat
menguatkan renson koping positif yang akan datang
Klien akan: 1. Mengungkapakan kehilangan dan perubahan 2. Mengungkapakan perasaan yang 1. Berikan kesempatan pada klien da keluarga untuk mengungkapkan perasaan, didiskusikan kehilangan secara terbuka , dan gali makna pribadi dari kehilangan.jelaskan bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat
R/Pengetahuan bahwa tidak ada lagi pengobatan yang dibutuhkan dan bahwa kematian sedang menanti dapat
menyebabkan
menimbulkan perasaan ketidak berdayaan, marah dan kesedihan yang dalam dan respon berduka yang lainnya. Diskusi terbuka dan jujur dapat membantu klien dan anggota keluarga menerima dan mengatasi situasi dan respon mereka terhdap situasi tersebut
R/ Stategi koping positif membantu penerimaan dan
2 berkaitan kehilangan dan perubahan 3. Menyatakan kematian akan terjadi Anggota keluarga akan mempertahankan hubungan erat yang efektif , yang
dibuktikan dengan cara:
Menghabiskan
waktu bersama klien Memperthankan kasih sayang , komunikasi terbuka dengan klien Berpartisipasi dalam perawatan 2. Berikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang terbukti yang
memberikan
keberhasilan pada masa lalu
3. Berikan dorongan pada klien untuk
mengekpresikan atribut diri yang positif
4. Bantu klien
mengatakan dan menerima kematian yang akan terjadi, jawab semua pertanyaan dengan jujur 5. Tingkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian, menghilangkan ketidak nyamanan dan dukungan pemecahan masalah R/ Memfokuskan pada atribut yang positif
meningkatkan penerimaan diri dan penerimaan
kematian yang terjadi
R/ Proses berduka, proses berkabung adaptif tidak dapat dimulai sampai
kematian yang akan terjadi di terima
R/ Penelitian menunjukkan bahwa klien sakit terminal paling menghargai tindakan keperawatan berikut : a. Membantu berdandan b. Mendukung fungsi kemandirian
c. Memberikan obat nyeri saat diperlukandan
d. meningkatkan
kenyamanan fisik ( skoruka dan bonet 1982 )
Anggota kelurga atau kerabat terdekat akan :
1. Mengungkapkan akan
1. Luangkan waktu
bersama keluarga atau orang terdekat klien dan tunjukkan
pengertian yang empati
2. Izinkan keluarga klien atau orang terdekat untuk
mengekspresikan perasaan, ketakutan dan kekawatiran.
R/ Kontak yang sering dan mengkomunikasikan sikap perhatian dan peduli dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan pembelajaran R/ Saling berbagi memungkinkan perawat untuk mengintifikasi ketakutan dan kekhawatiran kemudian merencanakan intervensi untuk mengatasinya
3 kekhawatirannya mengenai prognosis klien 2. Menungkapkan kekhawatirannnya mengenai lingkungan tempat perawatan 3. Melaporkan fungsi keluarga yang
adekuat dan kontiniu selama perawatan klien
3. Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU dan tindakan keperawatan dan kemajuan
postoperasi yang dipikirkan dan berikan informasi spesifik
tentang kemajuan klien
4. Anjurkan untuk sering berkunjung dan
berpartisipasi dalam tindakan perawatan
5. Konsul dengan atau berikan rujukan
kesumber komunitas dan sumber lainnya
membantu
mengurangi ansietas yang berkaitan
dengan ketidak tahuan
R/ Kunjungan dan partisipasi yang sering dapat meningakatkan interaksi keluarga berkelanjutan R/ Keluarga denagan masalah-masalah seperti kebutuhan financial ,
koping yang tidak berhasil atau konflik yang tidak selesai memerlukan sumber-sumber tambahan untuk membantu mempertahankankan fungsi keluarga 4
Resiko terhadap distres spiritual yang
berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi atau
ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian Klien akan
mempertahankan praktik spritualnuya yang akan mempengaruhi
penerimaan terhadap
1. Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek atau ritual keagamaan atau spiritual yang diinginkan bila yang memberi kesemptan pada klien untuk melakukannya
2. Ekspesikan pengertian dan penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan dan praktik religius atau spiritual klien
3. Berikan privasi dan ketenangan untuk ritual spiritual sesuai
kebutuhan klien dapat dilaksanakan
4. Bila anda menginginkan
tawarkan untuk berdo a
R/ Bagi klien yang
mendapatkan nilai tinggi pada do,a atau praktek spiritual lainnya , praktek ini dapat memberikan arti dan tujuan dan dapat menjadi sumber
kenyamanan dan kekuatan
R/ Menunjukkan sikap tak menilai dapat membantu mengurangi kesulitan klien dalam mengekspresikan keyakinan dan prakteknya R/Privasi dan ketenangan memberikan lingkungan yang memudahkan refresi dan perenungan
R/ Perawat meskipun yang tidak menganut agama atau keyakinan yang sama dengan klien dapat
ancaman ema an
bersama klien lainnya atau membaca buku ke agamaan
5. Tawarkan untuk menghubungkan
pemimpin religius atau rohaniwan rumah sakit untuk mengatur
kunjungan
membantu klien memenuhi kebutuhan spritualnya
R/ Jelaskan ketidak setiaan pelayanan ( kapel dan injil RS ) Tindakan ini dapat membantu klien
mempertahankan ikatan spiritual dan
mempraktikkan ritual yang penting ( Carson 1989 )
D. Implementasi
No Dx Implementasi Evaluasi
1
1. Membantu klien untuk mengurangi ansientasnya :
a. Memberikan kepastian dan kenyamanan
b. Menunjukan perasan tentang pemahaman dan empati ,jangan menghindari kenyataan
c. Mendorong klien untuk
mengungkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan pengobatannya.
d. Menditifikasi dan mendorong mekanisme koping efektif
2. Mengkaji tingkat ansientas klien .merencanakan penyuluhan bila tin katn a rendah atau sedan
S :
Klien mengungkapkan ketakutannya akan masalah pengobatannya
O:
Klien merasa nyaman dan mulai mengekpresikan perasaannya pada perawat
A:
Ansietas berkurang sebagian
P:
Tindakan perawatan dilanjutkan ke tahap berikutnya
3. Mendorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan atau pikiran mereka
4. Memberikan klien dan keluarga dengan kepastian dan penguatan prilaku koping positif
5. Memberikan dorongan pada klien unyuk menggunakan teknik
relaksasi seperti paduan imajines dan pernafasan relaksasi
2
1. Memberikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk
mengungkapkan perasaan, diskusikan kehilangan secara
terbuka dan gali makna pribadi dari kehilangan. Jelaskan bahwa
berduka adalah reaksi yang umum dan sehat.
2. Memberikan dorongan
penggunaan strategi koping positif yang terbukti memberikan
keberhasilan pada masa lalu 3. Memberikan dorongan pada klien
untuk mengekpresikan atribut diri yang positif
4. Membantu klien menyatakan dan menerima kematian yang akan terjadi,jawab semua pertanyaan dengan jujur
5. Meningkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian ,
menghilangkan ketidak nyamanan dan dukungan
S:
Klien menyatakan bahwa ia siap menghadapi kematian yang akan terjadi kepadanya
O :
Klien tampak tenang A :
Klien tidak merasa sedih dan siap menerima kenyataan
P :
Tindakan perawatan dihentikan
1. Meluangkan waktu bersama
keluarga / orang terdekat klien dan tunjukkan pengertian yang empati 2. mengizinkan keluarga klien / orang
terdekat untuk mengekspresikan perasaan ,ketakutan dan
kekhwatiran
3. Menjelaskankan lingkungan dan peralatan ICU
S :
Anggota kelurga atau kerabat terdekat mengungkapkan akan
kekhawatirannya mengenai prognosis klien
O :
Klien sadar bahwa setiap apa yang diciptakan Allah SWT akan kembali kepadanya
.
keperawatan dan kemajuan post operasi yang dipikirkan dan
memberikan informasi spesifik tentang kemajuan klien
5. Menganjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan keperawatan 6. Mengkonsul atau memberikan
rujukan ke sumber komunitas dan sumber lainnya
A :
Rasa takut akan terjadinya kematian berkurang
P:
Tindakan perawatan dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
1. Menggali apakah klien menginginkan untuk
melaksanakan praktik atau ritual keagamaan atau spiritual yang diizinkan bila ia memberikan kesempatan pada klien untuk melakukannya
2. mengekpresikan pengertian dan penerimaan anda tentang
pentingnya keyakinan dan praktik religius atau spiritual klien
3. Memberikan privasi dan
ketenangan untuk ritual, spiritual sesuai kebutuhan klien dan dapat dilaksanakan
4. Menawarkan untuk menghubungi religius atau rohaniwan rumah sakit untuk mengatur kunjungan menjelaskan ketersediaan
pelayanan misalnya : Al qur’an dan ulama bagi yang beragama islam
S:
Klien meminta kepada perawat untuk mengingatkannya jika masuk waktu sholat.
O:
Klien selalu ingat kepada Allah dan selalu bertawakkal
A:
Klien mempertahankan praktik spiritualnya
P:
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Kondisit terminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik, psikososial dan spiritual bagi individu (Carpenito, 1995).
Fase-Fase Kehilangan dan respon cemas yang berhubungan dengan penyakit terminal:
1. Tahap pengingkaran atau denial 2. Tahap anger atau marah
3. Tahap tawar menawar atau bargaining 4. Tahap depresi
5. Tahap acceptance atau menerima
Kondisi Kritis adalah penilaian dan evaluasi secara cermat dan hati-hati terhadap suatu kondisi krusial dalam rangka mencari penyelesaian/jalan keluar atau suatu keadaan penyakit kritis dimana memungkinkan sekali klien meninggal, Misalnya Gangguan
kesadaran (koma, meninggal), keadaan hampir meninggal/sakaratul maut, kanker stadium lanjut.
Adapun beberapa diagnosa yang dapat diangkat dari kasus klien dengan penyakit kritis dan terminal adalah:
1. Ansietas/ ketakutan individu dan keluarga, yang berhubungan diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup
2. Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang la in
3. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan
keluarga,takut akan hasil ( kematian ) dengan lingkungnnya penuh dengan stres ( tempat perawatan )
4. Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dal am menghadapi ancaman kematian
B. Saran
Diharapkan bagi keluarga klien yang mengalami penyakit kritis dan terminal dapat bekerjasama untuk melakukan tindakan penyembuhan terhadap klien dengan
menciptakan lingkungan yang mendukung penyembuhan, keluarga dapat mengerti dan memahami tentang informasi mengenai proses penyakit, keluarga dapat mengenali kebutuhan klien, serta dapat memberikan motivasi dan perhatian lebih kepada klien. 2. Untuk tenaga keperawatan
Diharapkan kepada tenaga keperawatan dapat lebih memahami mengenai penyakit kritis dan terminal, dan dapat memberikan informasi yang sejelas-jelasnya kepada pihak keluarga maupun klien mengenai proses penyakit serta prosedur tindakan
penyembuhan.
Selain itu diharapkan kepada tenaga keperawatan dapat bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya untuk memberikan tindakan yang lebih intensif kepada klien dengan penyakit kritis dan terminal guna mencapai tujuan tind akan asuhan keperawatan.
3. Untuk mahasiswa
Hendaknya dengan makalah ini, mahasiswa dapat mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit kritis dan terminal sehingga nanti mahasiswa dapat mengaplikasikannya dalam dunia keperawatan.
KATA PENGANTAR
Assalamuallaikum.Wr.Wb
Alhamdulilah hirabbilalamin,dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat dan hidayah-Nya maka dengan ini kami dapat menyelesaikan makalah proposal Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) kami yang berjudul “Gangguan Stimulasi Persepsi Sensori (Halusinasi)” dengan tepat waktu guna memenuhi tugas pada mata kuliah Ilmu Keperawatan Jiwa.
Kami menyadari bahwa makalah kami banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari sisi isi tulisan maupun sistem penulisan, maka dari itu kami mohon maaf dan mengucapkan terima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Semoga apa yang kami sajikan pada makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Wassalamualaikum, Wr.Wb
Tim Penyusun
DAFTAR PUSTAKA
Purnamaningsih, wahyu dan inakarlina. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha Medika Press : Jogjakarta
Suliswati, dkk. 2005. Konsep Dasar KeperawatanKesehatan Jiwa. EGC : Jakarta
Carpenito, L. J. 1998. “Buku Saku Diagnosa Keperawatan”, Ed. 6, EGC : Jakarta
Pusdiknakes Depkes RI. 2000. “Tindakan Keperawatan Pada Sakaratul Maut” Jilid I Edisi 1. Pusdiknakes: Jakarta.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT KRITIS DAN TERMINAL
Makalah disampaikan dalam mata kuliah Ilmu Keperawatan Jiwa
Oleh Kelompok III:
1. Arimbo Janzen (1080200010)
2. Desi Marfuah (1080200014)
4. Febri Afdal (1080200102) 5. Ican Kumbara (1080200044) 6. Khatamanisa Suyuthie (1080200066) 7. Noprizan Sahendra (1080200072) 8. Rosmi Apriyanti (1080200109) 9. Tehdi Eril (1080200112) 10. Yulian Syaputra (1080200117) 11. Septian Marzoni (0980200071)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KE SEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU T.A 2012-2013 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI...ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan penulisan...2
D. Metode penulisan...2
BAB II PEMBAHASAN A. Penyakit Terminal...3
B. Penyakit Kritis...9
C. Psikodinamika penyakit kritis dan teminal...11
D. Macam Tingkat kesadaran/pengertian pasien dan keluarganya terhadap kematian...12
BAB III ASKEP A. Pengkajian ...13
B. Diagnosa...16
C. Intervensi...17
D. Implementasi dan Evaluasi...22
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan...25
B. Saran ...25 DAFTAR PUSTAKA